• Tidak ada hasil yang ditemukan

CRITICAL REVIEW Analisa Lokasi dan Kerua

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CRITICAL REVIEW Analisa Lokasi dan Kerua"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahhirabbil’alamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT, karena taklepas dari rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Analisis Lokasi dan pola Persebaran Pasar Modern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Bantul. Makalah ini disusun sebagai pemenuhan tugas I mata kuliah Analisa Lokasi dan Keruangan (RP 09-1209).

Penulis menyadari bahwa laporan ini tersusun dengan peran serta dariberbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Arwi Yg\udhi Koswara, ST. dan Ibu Velly Kukinul Siswanto, ST. MT. MSc. sebagai dosen mata kuliah, arahan dan bimbinganbeliau sangat membantu dalam penyusunan laporan ini.

2. Kedua orang tua dan keluarga yang telah mendukung selama masa studi diInstitut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

3. Rekan-rekan di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota yang selalumemberikan dorongan dan motivasi selama proses penyusunan makalah ini.

4. Penulis yang karyanya sangat bermanfaat sebagai referensi penyusunanmakalah, serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu – persatudalam muqaddimah singkat ini.

Seperti pepatah, tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan laporanini. Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam makalah ini.Untuk itu, kritik dan saran pembaca yang bersifat membangun sangat kami harapkan, Akhir kata, semoga karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surabaya, 10 Maret 2016

Penulis

(3)

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Review... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...11

2.1 Konsep Dasar Teori Lokasi...11

BAB III ANALISA...19

3.1 Alasan Pemilihan Lokasi...19

3.2 Faktor-Faktor Lokasi...19

3.3 Implikasi Teori Terhadap Lokasi...21

BAB IV PENUTUPAN...23

4.1 Lesson Learned...23

4.2 Kesimpulan...24

(4)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Review

1.1.1. Pendahuluan

Dewasa ini pasar modern banyak dikonsep sebagai one stop living dimana dalam satu pasar modern terdapat berbagai fasilitas seperti pusat belanja, rumah makan, fasilitas olahraga, dll. Kelebihan seperti suasana yang nyaman, bersih, produk yang berkualitas, serta dapat meningkatkan status sosial, yang ditawarkan oleh pasar modern menjadikan banyak masyarakat beralih dari pasar tradisional ke pasar modern. Pada tahun 2008 tercatat ada 11.866 gerai pasar modern dimana 83% berlokasi di pulau Jawa. DKI Jakarta, Jawa Barat, danterpilih Jawa Timur menjadi propinsi dengan jumlah pasar modern terbanyak. Menurut Pandin (2009) terkonsentrasinya pasar modern di pulau jawa ini tak lepas dari kondisi konsentrasi penduduk dan pusat perekonomian Indonesia berada di pulau ini.

Fakta dari sektor ritel ini menurut BPS pada Agustus tahun 2011 bahwa sektor ritel mampu menyerap 23,4 juta jiwa tenaga kerja dam merupakan penyerap tenaga kerja terbesar nomer dua. Fakta lain juga menunjukkan bahwa sektor ritel ini berkonstribusi penting dalam pembentukan GDP. Menurut KPPU (2012) sektor ritel ini diyakini sebagai pendorong perekonomian pasca krisis 1998.

(5)

Gambar 1.1.1.1 Peta Sebaran Pasar Modern dan Tingkat Kepadatan Penduduk Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul

Model penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yakni menggabungkan model alokasi ritel berbasis gravitasi dan model spatialautoregresive (SAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi ketergatungan spasial antara pusat perbelanjaan dengan faktor permintan ritel. Selain itu, informasi kepadadta ritel juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah yang mengalami aglomerasi.

Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pasar modern yang ada di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Bantul. Indentifikasi faktor-faktor dilakukan dengan menggunkan hubungan supply dan demand dari pasar modern serta interaksi kecamatan melalui pendekatan spasial.

1.1.2. Tinjauan Pustaka

Market Area

Market area merupakan teori lokasi dalam ekonomi regional yang pelopori oleh August Losch, (1954). Semakin jauh dari tempat tinggal, maka konsumen akan semakin enggan membeli karena biaya transportasi yang mahal Losch menyarankan agar lokasi produksi berada di dekat dengan pasar.

Faktor penentu market area menurut Sullivan (1996):

1. Skala Ekonomi

Peningkatan skala ekonomi akan meningkatkan market area sebuah toko. Dengan asumsi permintaan perkapita tetap, apabila skala ekonomi bertambah maka output pertokoan akan ikut bertambah sehingga setiap toko juga membutuhkan market area yang lebih luas.

2. Biaya Transportasi

Biaya transportasi berbanding terbalik dengan market area. Dengan asumsi permintaan perkapita tetap, apabila biaya transportasi mengalami penurunan maka terjadi peningkatan market area karena setiap toko membutuhkan wilayah yang lebih luas untuk penjualan produk/outputnya.

3. Permintaan Perkapita

(6)

Semakin bertambah jumlah penduduk, maka permintaan produk/output juga akan meningkat. sepeti permintaan perkapita, apabila kepadatan penduduk bertambah namun output pertoko tetap, maka setiap toko memiliki market area yang lebih kecil, sehingga akan berakibat pada bertambahnya jumlah toko. Sebaliknya, apabila kepadatan penduduk mengalami penurunan, maka market area akan bertambah luas.

5. Pendapatan

Hubungan pendapatan dengan market area bersifat ambigu karena pendapatan dapat menimbulkan akibat baik pada permintaan perkapita maupun kepadatan penduduk. luas daerah pasar (diukur dengan jumlah penduduk) dan berhubungan terbalik dengan jarak antara pusat daerah dengan pinggiran daerah pasar”.

1.1.3. Metode Penelitian

Jenis Dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan oleh peneliti adalah data sekunder dalam bentuk lintas wilayah (cross section) pada tahun 2011. Data yang digunakan meliputi:

1. Toko modern 7. Pasar tradisional yang dikelola pemerintah daerah 8. Informasi perbatasan dengan wilayah tetangg

Sumber data yang diambil oleh penulis antara lain: 1. Geographical Information System (GIS)

GIS digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan perbatasan Yogyakarta dengan wilayah tetangga.

2. Publikasi/laporan institusi dan instansi pemerintah

Publikasi/laporan institusi dan instansi pemerintah melalui media cetak maupun website digunakan untuk mendapatkan serta menelaah jenis data yang telah disebutkan di atas.

(7)

Googlemaps digunakan untuk melihat dan menjelaskan pola sebaran pasar modern jika dikaitkan dengan variabel peneliti memerlukan data posisi geografis gerai/toko/pasar modern.

Metode Analisis 1. Analisis Spasial

Berdasarkan hukum yang dikemukakan oleh Tobler tentang geografi, menyatakan bahwa segala sesuatu saling berhubungan satu dengan lainnya, tetapi sesuatu yang dekat lebih mempunyai pengaruh daripada sesuatu yang jauh (Anselin, 1998), metode spasial yang digunakan oleh peneliti adalah:

a. Geographical Information System (GIS) b. Ekonometri

Menurut Anselin (1999) dalam Hadiarta (2013), ekonometri digunakan untuk menganalisi efek spasial pada fenomena cross section. Analisis ini digunakan unuk menguji seberapa besar interaksi atau hubungan variabel independen maupun dependen di suatu lokasi terhadap variabel dependen di lokasi lain.

2. Model Regresi Klasik

Regresi linier adalah suatu metode statistika yang membentuk sebuah model hubungan antara variable respon (Y) dengan satu atau lebih variabel prediktor (X). 3. Model Regresi Spasial

Model regresi spasial yang digunakan oleh peneliti adalah atribut dari kedelapan data yang telah dijabarkan di jenis dan sumber data.

4. Spatial Lag Model (SLM)

Menurut Anselin,(1988) Spatial Lag Model adalah model spasial dengan pendekatan area yang memperhitungkan pengaruh spatial lag pada peubah dependen saja. Variabel dependen berkorelasi spasial antara variabel dependen di suatu lokasi dengan variabel dependen di lokasi lain.

5. Spatial Error Model (SEM)

Menurut Panjaitan (2012) Spatial error model (SEM) adalah model regresi spasial dimana ketergantungan spasial masuk melalui error. Model spatial error berasumsi bahwa erreor dari sebuah model berkorelasi spasial dengan error pada lokasi lain.

6. Matriks Pembobot Spasial

Matriks pembobotan Spasisal adalah matriksa ketergantungan yang menggambarkan hubungan antar dareah berdasarkan informasi jarak atau ketetanggaan. Pembentukan matrikas dapat menggunakan berbadai teknik pembobotan. Menurut Anselin (1999) dalam Hadiarta (2013) beberapa cara dalam mengidentifikasi bobot tersebut antara lain:

(8)

Contoh dalam kasus ini yakni batas wilayah administrasi dimana tetangga didefinisikan sebagai wilayah yang secara fisik berbatasan langsung terhadap batas administrasi wilayah lain.

Gambar 1.1.3.1. Matriks Pembobot Spasial Contiguity (Rooks Case, Bishops Case, Queen Case)

Gambar 1.1.3.2. Ilustrasi Matriks Pembobot Spasial Terdapat tiga tipe interaksi:

i. Benteng Catur (Rook Contiguity)

Persinggungan sisi (common side) wilayah satu dengan wilayah lain yang bertetanggaan. Dapa dilihat pada Gambar 1.1.3.2. bahwa wilayah 1 bersinggungan dengan wilayah dua, maka W12= 1 dan yang lain 0. Atau wilayah 3 yang bersinggungan dengan wilayah 4 dan 5 maka W34= 1 W35= 1 yang lain 0.

ii. Gajah Catur (Bishop Contiguity).

Persinggungan sudut (common vertex) wilayah 1 dengan wilayah tetangga yang lain Pada Gambar 1.1.3.2. dapat dilihat bahwa wilayah 2 bersinggungan titik dengan wilayah 3 maka W23=1 yang lain 0.

iii. Ratu Catur (Queen Contiguity)

Gabungan dari Rook Contiguity dengan Bishop Contiguity, dimana memperhatikan persinggungan antara titik sisi dengan titik sudut antar wilayah yang berbatasan. Pada Gambar 1.1.3.2. dapat dilihat bahwa wilayah W32=1 W34=1 W35=1 dan yang lain 0.

b. Distance (distance band dan k-nearest neighbors)

Menyatakan bahwa semakin jauh jarak maka semakin lemah hubungan ketetanggan, sehingga semakin kecil pengaruhnya.

(9)

Contoh kasus yang dapat diangkat adalah interaksi individu di wilayah lain yang didekati oleh jumlah migrasi penduduk. Semakin banyak penduduk yang melakukan perpindahan antar wilayah lain, maka akan semakin kuat hubungan ketetanggaannya, sehingga semakin besar juga pengaruhnya.

7. Pengujian Efek Spasial

Pengujian ini digunakan untuk mengetahui adanya efek spasial dependensi maupun heterogenitas pada model. Efek sapsial dependensi dapa diuji melalui uji Moran’s I dan Langrange Multiplier. Untuk heterogenitas dapat diuji dengan uji Breusch-Pagan.

a. Pengujian Indeks Moran

Koefisien Moran’s I atau indeks Moran digunakan untuk uji dependensi spasial atau autokorelasi antar amatan atau lokasi. Nilai autokorelasi spasial dikatakan kuat, apabila nilai tinggi dengan tinggi atau nilai rendah dengan rendah dari sebuah variabel berkelompok dengan daerah sekitarnya (common side).

b. Pengujian Largrange Multiplier Uji Breusch-Pagan (BP)

1.1.4. Temuan dan Analisis

Hasil Analisis Regresi yang Signifikan Mempengaruhi Jumlah Pasar Modern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul

Berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan oleh peneliti, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah pasar modern secara signifikan dapat diketahui dari hasil regresi klasik dengan menggunakan estimasi parameter Ordinary Least Square. Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.1.4.1.

(10)

Menurut hasil regresi klasik tersebut, jumlah pasar modern yang meningkat dipengaruhi oleh peningkatan kepadatan penduduk, panjang jalan yang diaspal, dan juga diprediksi meningkat apabila lokasi mendekati batas Kota Yogyakarta karena Yogyakarta merupakan pusat administrasi pemerintahan. Untuk jumlah pasar modern di Kabupaten Sleman, jumlahnya tergolong besar terutama di wilayah yang perekonomiannya tinggi.

Seperti fasilitas umum, pengembangan pasar modern juga memperhatikan kemudahan akses transportasi yang ditunjang oleh sarana infrastruktur jalan yang baik. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pasar modern berlokasi di lokasi yang padat penduduk serta ditunjang oleh akses trasnportasi yang baik pula.

Adapun variabel yang tidak mempengaruhi jumlah pasar modern di Yogyakarta adalah rasio penduduk 15 tahun ke atas, rasio penduduk berpendidikan minimal SMA, rasio kepala rumah tangga miskin, jumlah pasar tradisional, dan perbatasan dengan Kabupaten Sleman. Rasio rumah tangga miskin tidak mempengaruhi jumlah pasar modern dikarenakan kebanyakan penduduk Yogyakarta adalah kaum pendatang seperti mahasiswa, pelajar, dan wisatawan.

(11)

Perbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Bantul tidak signifikan dalam mempengaruhi jumlah pasar modern. Wilayah yang tidak berbatasan langsung dengan Yogyakarta namun berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman dan/atau Bantul memiliki pola beragam dikarenakan karakteristik daerah yang berbeda. Hal ini dikarenakan menurut penulis faktor kebijakan pemerintah Kabupaten Bantul yang melarang pendirian toko modern berstatus waralaba. Baru ketika tahun 2010, pemerintah Kabupaten Bantul mengeluarkan peraturan tentang penataan pasar modern melalui peraturan Bupati nomor 12 tahun 2010. Celah ini yang dimanfaatkan oleh pengembang untuk mendirikan pasar moern di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul.

Hasil Analisis Efek Spasial

Hasil Pembentukan Matriks Pembobot Spasial

Hubungan kedekatan (neighbouring) dalam matrik pembobot spasial W adalah sebagai penanda keterkataitan suatu wilayah dengan wilayah yang lain. Peneliti memilih queen contiguity sebagai skenario spatial weight matrixnya dikarenakan data observasi berupa data area (Polyon atau Lattice Data) yang menunjukkan lokasi berupa luasan. Adapun hasil dari analisis ini seperti yang dapat dilihat pada Gambar 1.1.4.1 adalah semakin dekat dengan pusat wilayah penelitian maka jumlah tetangga yang dimiliki semakin banyak. Sebaliknya semakin jauh dari pusat wilayah penelitian maka semakin sedikit jumlah tetangga.

Gambar 1.1.4.1 Connectivity Histogram

Hasil Pengujian Efek Spasial

(12)

autokorelasi spasial positif. Diagram Morran’s I scatterplot yang terdapat pada Gambar 1.1.4.2. menunjukkan pola yang mengelompok pada diagram I dan III, sehingga memiliki spasial autokorelasi yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa kecamatan yang memiliki jumlah pasar modern yang banyak, mengelompok dengan kecamatan yang memiliki jumlah pasar modern yang banyak juga, begitu pula sebaliknya.

Gambar 1.1.4.2 Diagram Morran’s I scatterplot

Menentukan Model Terbaik

Setelah melakukan analisis dengan berbagai model, peneliti mencoba menentukan model mana yang paling baik. Model yang baik menurut peneliti adalah model yang paling dapat merepresentasikan faktor-faktor apa saja yang benar-benar mempengaruhi oleh jumlah pasar modern. Untuk menadpatkan model mana yang terbaik, peneliti melakukan perbandingan terhadap antar model analisa yang telah dilakukan.

(13)

memiliki nilai AIC kecil dan nilai LL besar. Lebih jelasnya, hasil regresi ini dapat dilihat pada Tabel 1.1.4.2.

Tabel 1.1.4.2. Hasil Regresi Spatial Lag dan Spatial Error

Hasil analisis spatial error model peneliti menunjukkan bahwa terdapat 1 variabel yang tidak signifikan pada model klasik namun menunjukan signifikansi pada model spasial. Dalam model klasik faktor perbatasan dengan Kabupaten Bantul tidak termasuk faktor yang signifikan, namun dalam model spasial faktor ini memiliki signifikansi. Jadi faktor yang signifikansi mempengaruhi jumlah pasar modern dalam model spasial adalah kepadatan penduduk, panjang jalan yang diaspal, perbatasan kota Yogyakarta, dan perbatasan dengan Kabupaten Bantul.

Menurut hasil analisis peneliti, koefisien peubah kepadatan penduduk sebesar 0.317 berarti bahwa setiap kenaikan tingkat kepadatan penduduk sebesar 1% akan menambah jumlah pasar modern sebesar 0,317% dan error spasial antar daerah, dengan asumsi faktor lain dianggap konstans. Sedangkan variabel panjang jalan menunjukkan jika faktor tersebut mengalami kenaik sebesar 1% maka jumlah pasar modern juga akan naik sebesar 0,551%. Selain kedua faktor di atas, jumlah pasar modern akan turut meningkat apabila mendekati wilayah yang berbatasan dengan kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Peneliti menyatakan bahwa keempat variabel tersebut mempunyai hubungan yang positif dengan jumlah pasar modern.

Perbaandingan Model Klasik dan Spatial Error Model

Dalam perbandingan ini, peneliti mencoba mencara model mana yang terbaik antara model klasik dengan model spasial. Hasilnya dapa dilihat pada Tanel 1.1.4.3. Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa spatial error memiliki statistik yang lebih baik

dibanding model klasik. Hal ini dapat dilihat melalui nilai

R

2 , AIC, maupun L. Dalam

(14)

Tabel 1.1.4.3 Statistik Model Klasik dan Model SEM

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Teori Lokasi.

2.1.1. Market Area Teori oleh Losch (1940)

Market area merupakan teori lokasi dalam ekonomi regional yang pelopori oleh August Losch, (1954). .Ahli ekonomi dari Jerman, August Losch, memodifikasi dan melengkapi teori central place Christaller. Teori mendasarkan pemilihan lokasi optimal pada luas pasar yang dapat dikuasai (Market Area) dan kompetisi antar tempat.

Asumsi terori market area:

1. Konsumen tersebar secara relatif merata antar tempat, artinya teori ini cocok diberlakukan di daerah perkotaan dimana konsentrasi penduduk relatif merata 2. Produk homogen, sehingga persaingan akan sangat ditentukan oleh harga dan

ongkos angkut

3. Ongkos angkut persatuan jarak (ton/km) adalah sama. (No economic of long haul)

(15)

pedagan eskrim tersebut adalah memaksimumkan keuntungan yang dapat diperolehnya dari kegiatan penjualan.

Terdapat 5 tahapan pemilihan lokasi perusahaan pada ruang garis lurus, tahapan tersebut antara lain:

1. Kedua pedagang eskrim berada di ujung pantai.

2. Salah satu pedagang (A) mendorong gerobaknya mendekati pedagang B agar dapat menguasai pasar lebih besar dengan menguasai sebagian pasar pedagang B.

3. Pedagang B tidak tinggal diam, ia memindahkan gerobak dengan melangkahi gerobak pedagang A. Dengan demikian situasi menjadi terbalik dimana pedagang B menguasai pasar lebih besar daripada A.

4. Masing-masing pedagang berusaha untuk mencapai titik keseimbangan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak secara adil, dan titik keseimbangan diperoleh dengan berkumpul di tengah lokasi pasar. Pada tahap ini luas pasar A dan B sama

5. Pada tahap 4 lokasi yang terkonsentrasi di pusat pasar akan merugikan masyarakat yang bertempat tinggal jauh karena biaya transport yang dikeluarkan akan lebih banyak. Maka pedagang A dan pedagang B menggeser lokasi dagangnya ke tengah-tengah, sehingga masing-masing pasar pasar yang dikuasainya sama. Pada tahap ini lokasi dapat menguntungkan kedua belah pihak dan masyarakat karena luas pasar yang dapat dikuasai masih tetap sama besar.

Gambar 2.1.1.1 Pemilihan Lokasi Perusahaan pada Ruang Garis Lurus (Linier Space)

(16)

Angkut (td) yang diperlukan untuk membawa produk ke pasar. Ongkos angkut/km konstan dan konsumen tersebar relatif merata di semua tempat menjadi sangat penting.

Untuk memperjalan, maka kasus ini diilustrasikan pada kurva analisis. Diambil kasus permintaan untuk PT Semen Padang pada pabriknya yang terletak di Indarung, Kota Padang. Produk semen padang dipasarkan pada 2 konsentrasi pasar utama yaitu di kota Medan dan Pekanbaru. Harga jual pada masing-masing pasar adalah harga pabrik (Po) ditambah dengan ongkos angkut ke pasar yang bersangkutan. Dalam hal ini jarak kota ke Pekanbaru dilambangkan dengan dp dan ke kota Medan dengan dm. Sedangkan jumlah semen yang dimina di kota Pekanbaru adalah Qp dan untuk Medan Qm.

Berdasarkan informasi ini, maka fungsi permintaan sparial PT Semen Padang secara descrete dapat dilihat pada Grafik 2.1.1.1. Di sini terlihat bahwa kurva permintaan spasial memiliki bentuk yang sama dengan kurva permintaan bisaa, kecuali sumbu vertikal melambangkan harga jual di pasar sumbu horizontal melambangkan unsur produksi Q, yang besar kecilnya ditemtukan oleh ongkos angkut dari pabrik ke pasar

Grafik 2.1.1.1. Kurva Permintaan Spasial Deskrit

Kondisi ini merupakan titik keseimbangan di mana luas pasar A sama dengan luas pasar B. Persamaan ini juga dapat menunjukkan lokasi batas pasar, dimana konsumen dapat memilih apakah akan membeli barang di pabrik A atau pabrik B dengan harga jual sama.

(17)

perubahan, otomatis akan merubah pula kondisi equilibriumnya dan juga luas pasar yang dapat dikuasai oleh suatu perusahaan. Perubahan tersebut juga mempengaruhi harga jual produk sehingga daya saing produk untuk memasuki suatu area pasar akan mengalami perubahan dibandingkan dengan area pasar lainnya.

Grafik 2.1.1.2 Luas pasar dalam Kondisi Equilibrium

(18)

Grafik 2.1.1.3 Perubahan Luas Pasar sebagai Akibat Perubahan Ongkos Angkut

Hal lain yang juga dapat terjadi adalah bilamana pabrik suatu perusahaan mengalami perubahan. Mislnya, perusahaan B melakukan perubahan teknologi produksi dan meningkatkan sistem manajemen usaha yang diterapkan pada perusahaannya. Sebagai hasilnya kegiatan produksi dan manajemen usaha perusahaan menjadi lebih efisien yang tercermin dari penurunan biaya produksi pada lokasi pabrik.

(19)

Grafik 2.1.1.4 Perubahan Luas Pasar sebagai Akibat Perubahan Biaya Produksi

Melalui analisinya kemudian August Losch menghasilkan kesimpulan bahwa luas pasar dalam kondisi equilibrium adalah berbentuk Hexagonal (persegi enam). Dimana semua luas pasar sudah dapat dimanfaatkan secara maksimal.

(20)

Gambar 2.1.1.3. Luas Pasar dengan Persaingan Spasial

Gambar 2.1.1.4. Luas Pasar dengan Keseimbangan Menurut August Losch

Selain yang telah dijabarkan diatas, faktor penentu market area menurut Sullivan (1996) adalah sebagai berikut:

1. Skala Ekonomi

Peningkatan skala ekonomi akan meningkatkan market area sebuah toko. Dengan asumsi permintaan perkapita tetap, apabila skala ekonomi bertambah maka output pertokoan akan ikut bertambah sehingga setiap toko juga membutuhkan market area yang lebih luas.

2. Biaya Transportasi

Biaya transportasi berbanding terbalik dengan market area. Dengan asumsi permintaan perkapita tetap, apabila biaya transportasi mengalami penurunan maka terjadi peningkatan market area karena setiap toko membutuhkan wilayah yang lebih luas untuk penjualan produk/outputnya.

3. Permintaan Perkapita

Semakin permintaan perkapita meningkat maka permintaan produk/output juga akan meningkat. Apabila permintaan perkapita bertambah namun output pertoko tetap, maka setiap toko memiliki market area yang lebih kecil, sehingga akan berakibat pada bertambahnya jumlah toko. Sebaliknya, apabila permintaan perkapita mengalami penurunan, maka market area akan bertambah luas. 4. Kepadatan Penduduk

Semakin bertambah jumlah penduduk, maka permintaan produk/output juga akan meningkat. sepeti permintaan perkapita, apabila kepadatan penduduk bertambah namun output pertoko tetap, maka setiap toko memiliki market area yang lebih kecil, sehingga akan berakibat pada bertambahnya jumlah toko. Sebaliknya, apabila kepadatan penduduk mengalami penurunan, maka market area akan bertambah luas.

(21)

Hubungan pendapatan dengan market area bersifat ambigu karena pendapatan dapat menimbulkan akibat baik pada permintaan perkapita maupun kepadatan penduduk.

BAB III ANALISA 3.1 Alasan Pemilihan Lokasi

Dalam penelitian kali ini, peneliti mencoba menganalisis lokasi dan pola persebaan pasar modern. Lokasi yang dipilih oleh peniliti sebagai wilayah penelitian adalah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul. Hal ini dikarenakan Kabupaten Sleman dan Bantul berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Selain itu, pasar modern yang tersebar di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul memiliki pola persebaran cluster atau mengelompok dimana pengelompokan ini mengerucut ke arah Kota Yogyakarta.

Adanya pola persebaran pasar modern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul yang mengelompok dan mengerucut ke arah Kota Yogyakarta ini mengindikasikan bahwa adanya pegaruh hubungan antar wilayah ini yang menyebabkan terbentuknya persebaran pasar modern tersebut. Melalui fenomena tersebut, peneliti berupaya untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah pasar modern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul dengan menggunakan hubungan antara supply dan demand pasar modern dengan mempertimbangkan adanya interaksi antar kecamatan melalui pendekatan spasial. 3.2 Faktor-Faktor Lokasi

Berdasarkan serangkaian analisis yang dilakukan oleh peneliti, dihasilkan empat faktor yang signifikan dalam mempengaruhi jumlah dan persebaran. Faktor-faktor tersebut antara lain keoadatan penduduk, transportasi, wilayah perbatasan dengan Kota Yogyakarta, serta wilayah perbatasan dengan Kabupaten Bantul.

3.2.1. Faktor Kepadatan Penduduk

Dari hasil analisia persebaran yang telah dilakukan oleh peneliti dalam Gambar 1.1.1.1 dapat dilihat bahwa semakin coklat tua warna sutau wilayah pada peta tersebut menandakan bahwa semakin padat jumlah penduduk wilayah tersebut. Sedangkan titik-titik hijau menunjukkan letak dari pasar modern.

(22)

modern cenderung memilih lokasi pada wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, dengan kata lain kepadatan penduduk merupakan faktor dari adanya pasar modern. Hasil analisis penulis juga menunjukkan bahwa bahwa setiap kenaikan tingkat kepadatan penduduk sebesar 1% akan menambah jumlah pasar modern sebesar 0,317%

3.2.2. Faktor Transportasi (jumlah jalan yang diaspal)

Hasil analisa yang dilakukan oleh penulis menunjukkan pada jumlah dan persebaran pasar modern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan bantul juga dipengaruhi oleh faktor transportasi. Faktor transportasi yang dimaksud disini adalah panjang jalan yang diaspal. Menerut hasil analisis penelusi, seitap panjang jalan yang diasplal mengalami kenaikan sebesar 1% maka jumlah pasar modern juga akan naik sebesar 0,551%.

Jalan merupakan termasuk dalam sistem transportasi. Manfaat dari adanya transportasi salah satunya yakni menghilangkan kesenjangan jarak yang terdapat pada dua tempat atau lebih yang berbeda lokasi. Dengan hilangnya kesenjangan jarak maka mobiitas akan semakin mudah. Dalam kasus pasar modern, semakin baik sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan antara pasar modern dengan konsumennya maka konsumen akan lebih mudah menuju ke pasar modern tersebut.

3.2.3. Perbatasan dengan Kota Yogyakarta

Selain Kota Yogyakarta merupakan pusat administrasi provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, predikat Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan pariwisata terdapat banyak pasar modern karena untuk melayani banyaknya penduduk yang ada di Kota Yogyakarta.

3.2.4. Perbatasan dengan Kabupaten Bantul

Berdasarkan hasil analissis peniliti dari model spasial, perbatasan dengan Kabupaten Bantul juga menjadi faktor yang signifkan dalam mempengaruhi jumlah pasar modern. Dari Gambar 1.1.1.1 juga dapat dilihat bahwa tren persebaran pasar modern mengarah ke selatan atau ke perbatasan Kabupaten Bantul. Hali ini dikarenakan pada tahun 2010 pemerintah kabupaten Bantul mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan penataan toko modern melalui peraturan Bupati Bantul nomor 12 tahun 2010. Celah ini yang dimanfaatkan oleh pengembang untuk membangun bisnis di lokasi yang berbatasan dengan kabupaten Bantul.

(23)

Teori Market Area yang dicetuskan oleh Augus Losch pada tahun 1944 ini menekankan pada pemilihan lokasi optimal pada luas pasar yang dapat dikuasai (market area) dan kompetisi antra tempat. Teori ini digunakan untuk menentukan tempat yang strategis berdasarkan kekuatan persaingan antar tempat dan luas pasar yang dapat dikuasai suatu perusahaan dalam suatu kota. Pada kasus kalini wilayah yang dipilih adalah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul. Untuk

Perbandingan Asumsi Teori Market Area pada Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul

No. Asumsi Market Area Kondisi di Kota Yogyakarta,

Kabupaten Sleman dan Bantul 1 Konsumen tersebar secara relatif merata

(24)

haul)

Penampakan persebaran pasar modern yang terjadi di Kota Yogyakartan, Kabupaten Sleman, dan Bantul menunjukan bahwa persebaran pasar modern membentuk suatu aglomerasi yang cenderung mengerucut di Kota Yogyakarta. Selain itu jumlah pasar modern yang terdata sangat banyak sekali, terutama di Kota Yogyakarta. Kenampakan pasar modern ini akan dikaitkan dengan teori market area yang dicetuskan oleh Augus Losch sehingga dapat diketahui mengapa kenampakan persebaran pasar modern di wilayah studi dapat seperti itu.

Sullivan mengatakan bahwa market area dipengaruhi oleh beberapa hal, salah stunya adalah kepadatan penduduk, teori ini sejalan dengan hasil analisis peneliti dimana setiap kenaikan kepadatan penduduk sebesar 1% maka jumlah pasar modern akan menambah sebesar 0,317%. Berdasarkan data kepadatan penduduk yang didapatkan dari BPS, pada tahun 2012 Kota Yogyakarta memiliki angka kepadatan sebesar 12.123 jiwa/km2 , Kabupaten Sleman sebesar 1.939 jiwa/km2, sedangkan Bantul sebesar 1.831 jiwa/km2. Dari sini dapat diketahu bahwa Kota Yogyakarta memiliki kepadatan penduduk tertinggi yang kemudian diikuti oleh Kabupaten Sleman dan Bantul. Dari sini dapat diketahui bahwa wajar aglomerasi pasar modern mengerucut di Kota Yogyakarta, karena Kota Yogyakarta memiliki kepadatan penduduk paling tinggi.

Berdasarkan berita yang dikutip dari KR.jogja.com (2013) Disperindagkoptan Kota Yogyakarta menyatakn bahwa jumlah outlet toko modern yang terdapat di Yogyakarta sebanyak 75 outlet. Dari hasil verifikasi tersebut diketahui jumlah supermarket yang masih aktif adalah 19 dan mnimarket sebanyak 33. Namun hasil perhitungan yang dilakukan oleh Peneliti Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) Universitas Gajah Mada (UGM) Amirullah S. Hadi menyatakan jumlah outlet pasar modern yang ideal di Yogyakarta adalah sebesar 60 outlet. Dari data yang didapat jumlah outlet yang terdapat di Kota Yogyakarta sempat melewati jumlah ideal, serta dapat diketahui juga minimarket memiliki jumlah yang lebih banyak dari supermarket. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa semakin tinggi kepadatan penduduk maka market area akan semakin kecil, akibatnya jumlah outlet akan semakin banyak.

(25)

adalah sepanjang 200m. Jarak antar minimarket yang sama di Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa pasar modern yang ada di Yogyakarta berdasarkan Teori Marker Area memiliki lokasi yang equilibrium.

BAB IV PENUTUPAN 4.1 Lesson Learned

Melalui pembuatan makalah ini, reviewr mendaptakan banyak manfaat serta ilmu baru yang memperkaya wawasan. Ilmu yang didapatkan antara lain:

1. Dengan melakukan review terhadap juranal analisa lokasi dan pola sebaran pasar moodern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul, maka reviewer mendapatakan pengetahuan bahwa dalam menganalisis lokasi persebaran ritel dapat menggunakna dasar teori market area

2. Dapat mengetahui bahwa dalam melakukan analisis lokasi untuk retel dapat menggunakan analisis regresi klasik yang dilengkapi dengan analisis model spasial

3. Dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pola persebaran ritel serta yang dapat meningkatkan jumlah ritel pada suatu kota, dimana dalam studi kasus ini faktor yang mempengaruhi jumlah dan persebaran ritel adalah kepadatan penduduk, sarana prasarana transportasi yang menunjang, serta perbatasan dengan pusat kota

4. Dapat mengimplementasikan teori dengan lokasi studi kasus yang dipilih

4.2 Kesimpulan

Dewasa ini banyak masyarakat yang beralih dari pasar tradisional ke pasar modern dikarenakan banyaknya kelebihan seperti kenyamanan, produk yang berkualitas, hingga konsep onestop living yang ditawarkan oleh pasar modern. Penyebarannya pun pada tahun 2008 tercatat sebanayk 11.866 gerai dimana 83% tersebar di pulau Jawa.

Tak ketinggalan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul pun yang saling berbatasan ini merasakan persebaran pasar modern. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan melalui googlemaps terlihat banyak sekali jumlah dan persebaran pasar modern yang membentuk pola cluster mengerucut ke arah kota Yogyakarta.

(26)

Kabupaten Bantul. Hasil analisis regresi klasik dan spasial error model menunjukkan bahwa apabila kepadatan penduduk meningkat sebesar 1% maka jumlah ritel akan bertambah sebesar 0,317%, dan setiap 1% perbaikan jalan yang dilakukan akan memicu pertambahan pasara modern sebesar 0,551%. Selain itu perbatasan dengan Kota Yogyakarta memeberikan pengaruh yang signifikan terhadap penambahan pasar modern dikarenakn Kota Yogyakarta merupakan pusat kota dan pusat pemerintahan sehingga banyaknya mobilitas serta kepadatan penduduk merupakan pemicu banyaknya jumlah pasar modern. Sedangkan untuk Kabupaten Bantul, banyaknya jumlah pasar modern di perbatasan Kabupaten Bantul yang mengarah ke selatan dikarenakan kebijakan pemerintah Kabupaten Bantul yakni peraturan tentang penataan pasar modern yang diatur dalam perturan Bupati nomor 12 tahun 2010 dimanfaatkan sebagai pengembang untuk membuka cabang pasar modern baru.

Alasan Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Bantul dipilih sebagai wilayah studi dikarenakan ketiga wilayah tersebut saling berbatasan. Selain itu adanya pola persebaran pasar modern di ketiga wilayah tersebut yang membentuk pola cluster dan mengerucut ke arah Kota Yogyakarta mengindikasikan bahwa adanya hubungan dari ketiga wilayah tersebut dengan penambahan jumlah dan pola persebaran pasar modern. Melalui fenomena tersebut, reviewer berupaya mencari tahu penyebab munculnya pola seperti itu melalui teori analisis lokasi.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Wahyunigsih, Tri. 2015. Analisis Lokasi dan Pola Persebaran Pasar Modern di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Bantul. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan, 20015, vol.4, no. 2, 157-176

Tarigan, Robinson. 2004. Ekonomi Regional. Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara

Sjafrizal. 2012. Ekonomi Wilayah dan Perkotaan. Jakarta: Rajawali Pers

Gambar

Gambar 1.1.3.2. Ilustrasi Matriks Pembobot Spasial
Gambar 1.1.4.1 Connectivity Histogram
Gambar 1.1.4.2  Diagram Morran’s I scatterplot
Tabel 1.1.4.2. Hasil Regresi Spatial Lag dan Spatial Error
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perhitungan yang ada menunjukkan bahwadepensi spasial dapat dijelaskan oleh spatialerror model yang digunakan sebagai model terbaik untuk menjelaskan faktor- faktor