1
ANALISIS KELAYAKAN IMPLEMENTASI CLOUD COMPUTING DENGAN
METODE RANTI’S GENERIC IS/IT BUSINESS VALUE
PADA BADAN PENGUSAHAAN BATAM
Andi Maslan
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Universitas Putera Batam Program Studi Teknik Informatika
E-mail [email protected]
ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi Batam yang terus meningkat dan mampu bertahan saat krisis global melanda dunia, menempatkan Batam sebagai lokomotif pembangunan ekonomi nasional. Bahkan dengan kemampuan pertumbuhan tersebut, pemerintah menjadikan Batam sebagai kawasan bebas dan pelabuhan bebas (Free Trade Zone). E-Government merupakan ba gian good governance mengandung pengertian yaitu suatu nilai yang menjunjung tinggi keinginan rakyat, kemandirian, aspek fungsional dan pemerintahan yang efektif dan efisien. Solusi ya ng cukup mura h da n efisien pada penerapa n TI pada Lembaga Pemerintah khususnya Badan Pengusahaan Batam untuk dapat menunja ng aktivita snya saat ini ada la h denga n pengimplementasia n cloud computing. La ya na n cloud computing ini tergolong cukup mura h karena la ya na n ini menggunaka n meka nisme economies of scale, dima na semakin ba nyak ya ng ikut menggunaka n la ya na n tersebut, maka semakin ba ik da n mura h. P enelitian ini menga nalisis nilai ekonomi dari penerapan komputasi a wan di Badan Pengusahaan Batam. Analisis dila kukan, pertama dengan mengidentifika si dan mengukur relevansi ma nfaat SI/TI mengguna kan Ra nti’s IS/IT Generic Business Va lues dan kedua dengan menempatkan nilai-nilai yang diukur atau manfaat pada metode Economic Value Added (EVA), untuk mela kukan ana lisis keuangan. Komputasi a wan ma mpu memberika n solusi bagi ma salah yang diha dapi oleh Badan Pengusahaan Batam seperti dapat dilihat dari nilai EVA positif. Oleh karena itu, komputasi a wa n merupakan pendekatan ya ng berharga bagi Kota Batam untuk bergera k ma ju dalam mengimplementasikan teknologi.
2
1. Pendahuluan
Pertumbuhan ekonomi Batam yang terus meningkat dan mampu bertahan saat krisis global melanda dunia, menempatkan Batam sebagai lokomotif pembangunan ekonomi nasional. Bahkan dengan kemampuan pertumbuhan tersebut, pemerintah
menjadikan Batam sebagai kawasan bebas dan pelabuhan bebas (Free Trade Zone),
di mana pelaksanaannya sudah diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada 19 Januari 2009 lalu. Sebagai modal kemajuan Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) terhadap bidang teknologi informasi yaitu dengan tersebentuknya
Information Technology Center Batam (IT Center Batam). IT Center Batam adalah
fasilitas (Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dengan teknologi tinggi yang
dikembangkan oleh BP Batam sebagai bagian dari Proyek e-Goverment yang dimulai
Desember 2007, untuk inovasi bisnis melalui TIK dan wahana untuk profesional TIK melalui pelatihan-pelatihan teknis. Batam akan ditengarai sebagai pusat TIK di Indonesia dengan masa depan berorientasi internasional sebagai kota bisnis yang
menyediakan layanan TIK dan berbagai pelatihan TIK yang optimal di IT Center
yang memiliki infrastruktur jaringan informasi dan komunikasi broadband dengan
standar tinggi.
E-government merupakan bagian good governance mengandung pengertian yaitu suatu nilai yang menjunjung tinggi keinginan rakyat, kemandirian, aspek fungsional dan pemerintahan yang efektif dan efisien. Upaya untuk meningkatkan efisiensi dalam kegiatan pemerintahan salah satunya adalah melalui pemanfaatan dan pengembangan teknologi secara optimal dalam berbagai hal, seperti dalam pelayanan masyarakat yang diselenggarakan oleh pemerintah itu sendiri. Salah satu contoh
pemanfaatan teknologi tersebut adalah melalui e-government, atau pemerintahan
elektronik. E-government, melalui pemanfaatan teknologi dan informasi, dapat
mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi yang transparan dan memiliki
akuntabilitas di instansi pemerintah. E-Government juga dapat memperluas
partisipasi publik karena masyarakat lebih mungkin untuk terlibat dalam memberikan kritik dan saran terhadap penyelenggaraan pemerintahan, serta terlibat dalam upaya
pengambilan keputusan pemerintah. E-Government merupakan suatu sistem
teknologi informasi (TI) yang dikembangkan oleh pemerintah dalam memberikan pilihan kepada masyarakat, sehingga masyarakat bisa mendapatkan kemudahan mengakses informasi dan pelayanan publik.
Solusi yang cukup murah dan efisien pada penerapan TI pada Lembaga Pemerintah khususnya Badan Pengusahaan Batam untuk dapat menunjang
aktivitasnya saat ini adalah dengan pengimplementasian cloud computing. Layanan
cloud computing ini tergolong cukup murah karena layanan ini menggunakan
mekanisme economies of scale, dimana semakin banyak yang ikut menggunakan
layanan tersebut, maka semakin baik dan murah. Layanan yang ditawarkan misalnya
meliputi Infrastructure as a Service (IaaS), Platform as a Service (PaaS), dan
3
Cloud computing kedepannya akan menjadi suatu trend di bidang TI yang memberikan prospek cerah bagi para pelaku industri. Namun untuk mendapatkan performa yang optimal, diperlukan strategi yang tepat bagi lembaga pemerintahan di
Indonesia untuk mengadopsi teknologi Cloud Computing secara efektif dan efisien
demi mentransformasikan bisnis perusahaan ke arah yang lebih baik. Penelitian yang diusulkan ini bertujuan untuk merumuskan suatu kelayakan implementasi cloud computing pada lembaga pemerintah di Batam.
Untuk memastikan bahwa investasi TI atau cloud computing menghasilkan
manfaat seperti yang diharapkan, maka perusahaan harus memberikan perhatian pada manajemen investasi TI [2]. Penelitian ini mengambil studi kasus pada Badan Pengusahaan Batam karena beberapa alasan diantaranya, Badan Pengusahaan Batam memegang peranan yang cukup besar bagi perekonomian di Batam, Badan Pengusahaan Batam memiliki sistem yang lebih kompleks dibandingkan dengan Lembaga Pemerintahan Lainnya(misalnya memiliki IT Center yang melayani berbagai layan TI seperti E-KTP, e-procurement, atau secara keseluruhan adalah system E-goverment, dimana lebaga pemerintah lain t idak memiliki layanan yang selengkap di Badan Pengusahaan Batam), Badan Pengusahaan Batam memiliki beberapa layanan untuk masyarakat, sehingga akan lebih memudahkan dalam mengelola sistem, sudah terdapat regulasi yang jelas mengenai Badan Pengusahaan Batam, dan memiliki karakteristik system yang berbeda dalam mengelola pelayanan kepada masyarakat.
Investasi merupakan hal yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan, terutama pada saat bisnisnya sedang berada dalam tahap pembentukan dan pertumbuhan. Penilaian investasi TI merupakan kemampuan organisasi dalam mengidentifikasi dan mengkuantifikasi peningkatan keuntungan atau dampak positif yang diterima perusahaan dengan adanya implementasi TI dalam operasi bisnis perusahaan tersebut [1]. Pada sektor pemerintah dan lembaga non instasi, total biaya TI adalah 8,6% dari keseluruhan pendapatan perusahaan [2]. Sekarang ini para CEO dan manajemen TI tidak lagi fokus dalam pembiayaan TI, tetapi lebih kepada investasi TI yang dapat memberikan andil dalam perkembangan bisnis perusahaan.
Tata kelola TI merupakan bagian dari Good Corporate Governance (GCG).
Menurut Grembergen [2], fokus utama tata kelola TI adalah bagaimana organisasi melaksanakan, mengelola, dan mengoptimalkan sumber daya TI dalam mendukung tujuan perusahaan. Weill dan Ross [6] mengusulkan lima pilar utama atau domain dari Tata kelola TI yaitu: (1) Prinsip TI yang merupakan pernyataan tingkat tinggi tentang bagaimana TI digunakan dalam bisnis, (2) Arsitektur TI, (3) Infrastruktur TI, (4) Kebutuhan aplikasi bisnis, dan (5) Prioritisasi dan investasi TI yang merupakan keputusan tentang berapa banyak dan di mana investasi TI akan dilakukan,
termasuk persetujuan dan teknik justifikasi investasi TI. Information Technology
Governance Institute (ITGI) [3] merekomendasikan lima domain utama tata kelola TI, yaitu keselarasan strategis, pengukuran kinerja, pengelolaan sumber daya, manajemen risiko, dan penyampaian nilai penciptaan nilai yang berkaitan dengan
4
Penelitian akan mengidentifikasi dan mengukur relevansi manfaat SI/TI menggunakan
Ranti’s IS/IT Generic Business Valuesdan menempatkan nilai-nilai yang diukur atau
manfaat pada metode Economic Value Added (EVA), dengan melakukan analisis keuangan, dan bagaimana komputasi awan mampu memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi oleh Otorita Batam. Untuk memanfaatkan Kajian Kelayakan
implementasi cloud computing berdasarkan Ranti’s Generic IS/IT Business Value dan
Metode EVA pada setiap tahapan manajemen investasi TI guna meningkatkan kematangan manajemen investasi TI pada Badan Pengusahaan Batam atau Badan Pemerintah.
Penelitian dilaksanakan di Badan Pengusahaan Batam tepatnya di IT Center Batam. IT Center Batam adalah fasilitas TIK (teknologi informasi dan komunikasi) dengan teknologi tinggi yang dikembangkan oleh BP Batam sebagai bagian dari Proyek e-Government yang dimulai Desember 2007. Ini merupakan inovasi bisnis TIK dan wahana profesional TIK yang dilakukan melalui pelatihan-pelatihan teknis. Ada keyakinan yang kuat bahwa Batam akan ditengarai sebagai pusat TIK di Indonesia dengan masa depan dengan orientasi internasional serta kota bisnis yang menyediakan layanan TIK. Hal ini didukung dengan dimiliknya infrastruktur jaringan informasi dan komunikasi broadband dengan standar tinggi.
Konsep awal cloud computing muncul pertama kali p ada tahun 1960 oleh
John M cCarthy y ang meny atakan op ininy a: “Komp utasi suatu hari nanti akan
men jadi sebu ah utilitas umum”. Cloud computing y ang terdap at sekarang
memiliki kar akteristik y ang sama dengan biro jasa. Kata “cloud” men ggambarkan
internet sebagai „biro jasa‟ y ang meny ediak an jasa bagi p en gguna. Pada tahun
1995, Larry Ellison, p endiri Or acle, memunculk an id e “Networ k Computing” ny
a. Larry memunculkan ide tersebut untuk menggugat dominasi Micr osoft dengan
Windows 95, y ang kala itu menjadi raja sistem operasi desktop. Dia menawarkan
ide bahwa sebetulny a user tidak memerluk an berbagai softwar e (sistem op erasi,
pengolah data, dsb) untuk disisipkan ke dalam PC merek a. Hingga sin gkatnya p ada
awal abad ke 21, kehadiran berbagai teknik baru dalam pengemban gan softwa r e
terutama di area p emrogr aman berb asis web disertai p eningkatan kap asitas jaringan
internet, telah menjadikan situs-situs internet bukan lagi ber isi sekedar informasi statik. Tapi sudah mulai mengar ah ke aplikasi bisnis yang lebih kompleks.
Popularitas cloud computing makin menjulang pada awal tahun 2000. Marc
Benioff, mantan Wakil Presiden di Or acle, meluncurkan layanan Customer
Relationship Management (CRM) dalam bentuk Softwar e as a Ser vice (SaaS)
y akni : Salesfor ce. com. Peluncur an Salesfor ce mendapat sambutan gegap gempita,
terbukti dengan suksesnya aplikasi tersebut mengangkat popularitas cloud
computing. Dengan misi ”The End of Softwar e”, B enioff berhasil mewujudkan v isi
mantan bosnya di Or acle, Larry Elisson, tentang Networ k Computing menjadi
kenyataan. Tahun 2005, cloud computing menjadi lebih terkenal, dengan
munculny a nama-nama besar sep erti Amazon.com y ang meluncurk an Amazon
5
Blu eCloud Initiative. Tahun 2009 lalu, IBM meluncurk an LotusLive, sebuah lay anan
kolaborasi yang berbasis cloud. Micr osoft dan Apple tak mau ketinggalan.
Micr osoft meluncurk an Windows Azzur e, sebuah sistem operasi berbasis cloud, sedan gkan Apple meluncurk an MobileMe, sebuah layanan yang
memungkinkan pengguna produk Mac untuk melakukan sinkron isasi data k e dalam
cloud. Google, sebagai salah satu raksasa internet, ikut terjun dalam komp etisi
dengan meluncurk an Chr ome OS, sebuah sistem op erasi y ang dirancan g untuk
dapat bekerja dalam lingkungan cloud computing.
Terdapat tiga macam pemodelan layanan seperti yang dijelaskan dari cloud computing yaitu infra structure as a service (IaaS), platform a s a service
(PaaS), dan software a s a service (SaaS). Pada IaaS, beberapa server yang
diletakkan dalam cloud dengan alamat IP yang unik dan sejumlah harddisk untuk
menyimpan data. Pengguna menggunakan Application Program Interface (API)
untuk dapat mengakses, menyalakan dan mematikan, serta mengkonfigurasi virtual
server dan harddisk. PaaS pada cloud didefinisikan sebagai perangkat lunak yang
terhubung pada infrastruktur penyedia jasa layanan cloud computing.
Gambar 1. Cloud computing.
6
Gambar 3. Model Keseluruhan
Sumber : Jurnal Sistem Inf ormasi, Volume 7, Nomor 2, Oktober 2011
2. Metode Penelitian
Metodologi penelitian merupakan sesuatu yang berusaha membahas konsep teoristik berbagai metode, kelebihan dan kelemahan-kelemahannya yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yanng akan digunakan. Dalam hal ini metode lebih bersifat teknis pelaksanaan lapangan sedangkan metodologi lebih pada uraian filosofis dan teoritisnya. Oleh karena itu penetapan sebuah metodologi penelitian mengandung implikasi inheren di dalam diri filsafat yang dianutnya. Sebab filsafat ilmu yang melandasi berbagai metodologi penelitian yang ada. Maka dari itu dengan mengetahui metodologi penelitian yang digunakan, filsafat ilmu dan kajian teoritisnya, kelemahan dan kelebihannya diharapkan akan mampu memberikan
kesesuaian metodologi dengan fokus masalah penelitian (Jurnal Sistem Inf ormasi, Volume 7,
Nomor 2, Oktober 2011).
Ranti’s Generic IS/IT Business Value merupakan kerangka yang digunakan untuk mengidentifikasikan manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari suatu investasi
TI tanpa perlu membedakan antara manfaat tangible dan intangible yang selama ini
sering menjadi penghambat dalam pengkuantifikasian manfaat TI. Dengan
menggunakan metode kualitatif hermeneutic, nilai manfaat bisnis IS/IT
dikelompokkan menjadi 13 kategori yang kemudian dikelompokkan lagi menjadi 73
sub- kategori [8]. Metode EVA merupakan salah satu pengukur kinerja perusahaan
yang mencoba mengukur nilai tambah yang dicapai perusahaan yang dihitung dengan cara mengurangi biaya modal dari laba usaha setelah pajak sebelum beban bunga (net operating after tax) [9].
Metodologi EVA digunakan untuk mengukur tingkat kelayakan finansial
7
yang negatif menunjukkan bahwa nilai perusahaan menurun karena tingkat pengembalian investasi tersebut yang rendah dibanding dengan modal yang
dikeluarkan, atau bahkan merugi. Penelitian ini menerapkan kedua metode Ranti’s
Generic IS/IT Business Value dan EVA. Hasil perhitungan kuantifikasi yang
didapat melalui Ranti’s Generic IS/IT Business Value akan menjadi masukan pada
perhitungan nilai EVA. Hal ini digambarkan pada Gambar 3. Selain itu dilakukan juga suatu analisis tambahan yang berguna untuk mendukung hasil yang didapat dari perhitungan dengan menggunakan metodologi sebelumnya. Baik dari perbandingan nilai investasi maupun perbandingan nilai EVA.
3. Pembahasan Dan Hasil
Pengimplementasian investasi cloud computing pada Lembaga Pemerintahan
yang dilakukan meliputi jenis IaaS dan SaaS. Untuk implementasi awal lembaga pemerintah tidak perlu melakukan apa pun, dengan asumsi secara infrastruktur, Badan Pengusahaan Batam sudah memiliki koneksi internet. Implementasi ini
memungkinkan beberapa Badan Pengusahaan Batam untuk terkoneksi ke cloud
yang sama. Pola pemikiran jangka panjangnya adalah untuk mengintegrasikan beberapa Badan Pengusahaan Batam dalam satu lokasi (misalnya) dimana nantinya terdapat Lembaga Pemerintah yang memayungi setiap Badan Pengusahaan Batam tersebut, serta membantu Badan Pengusahaan Batam dalam kegiatan operasionalnya.
Implementasi cloud computing dengan kajian manfaat yang dianalisis berdasarkan
teknologi yang digunakan di IT Center Batam Center.
Dari semua keungulan dan kehadalan tentang teknologi yang digunakan dalam Badan Pengusahaan Batam, maka penelitian ini menganalisa kelayakan implementasi Cloud Computing berdasarkan analisis manfaat tentang penggunaan teknologi
Informasi yang ada di Badan Pengusahaan Batam dengan mengacu pada table Ranti’s
8
Dari hasil analisis dan wawancara dengan pihak Badan Pengusahaan Batam,
dari 73 manfaat yang ada dalam Ranti’s Generic IS/IT Business Value, terdapat 39
manfaat yang relevan terhadap pengimplementasian cloud computing pada Badan
Pengusahaan Batam. Beberapa manfaat yang bersifat redundan dan memiliki kriteria yang sama dapat memiliki perhitungan kuantifikasi yang sama.
Manfaat-manfaat tersebut kemudian dikelompokkan menjadi delapan kategori manfaat, dimana pembagian kategori manfaat dilakukan berdasarkan kuantifikasi dari masing-masing manfaat yang diidentifikasikan. Kedelapan kategori manfaat tersebut
Categories Sub-categories
7. Training cost per employee 8. Returning cost for incorrect delivery 9. Cost of money
10. Office supplies and printing cost 11. Subscription cost
19. Increasing employee satisfaction 3. Accelerating 27. Decision making process 4. Reducing Risk 28. Price miscalculation
29. Unrecoverable claim 13. Avoiding Cost 71. Reserved fund
9
adalah peningkatan produktivitas kerja, peningkatan pendapatan karena peningkatan mutu layanan, peningkatan pendapatan karena minimalisasi resiko keterlambatan pengumpulan laporan ke pemerintah, peningkatan pendapatan karena minimalisasi resiko piutang tak tertagih, peningkatan pendapatan karena peningkatan kualitas laporan, peningkatan pendapatan karena peningkatan kapasitas bisnis, dan peningkatan pendapatan karena minimalisasi biaya operasional serta pendapatan karena minimasi biaya pengadaan barang dan jasa. Kuantifikasi dilakukan dengan memperhitungkan fakta, informasi, dan asumsi yang bisa diambil dari hasil wawancara dan diskusi dengan nara sumber yang ada di Badan Pengusahaan Batam. Perhitungan dibagi menjadi dua, yaitu kualitatif, untuk perhitungan yang saat ini belum bisa dihitung secara kuantitatif karena faktor keterbatasan waktu maupun tingkat kompleksitas yang tinggi, dan kuantitatif perhitungan nilai manfaat.
Tabel II menunjukkan hasil kuantifikasi manfaat untuk kedelapan kategori manfaat yang telah diidentifikasikan dan total manfaat yang didapat. Untuk
implementasi cloud computing, tidak ada investasi awal yang harus dikeluarkan
oleh Badan Pengusahaan Batam. Syarat utamanya hanya koneksi jaringan internet
yang stabil untuk dapat terhubung dengan jaringan cloud penyedia jasa. Sedangkan
koneksi internet sudah terpasang sebelumnya sehingga tidak lagi diperlukan investasi awal untuk jaringan. Biaya operasional merupakan asumsi biaya operasional sehari-hari setelah dilakukan investasi. Asumsi diambil berdasarkan rata-rata biaya operasional yang dikeluarkan oleh Badan Pengusahaan Batam dikurangi total rata-rata
persentase penurunan biaya karena adanya arsitektur cloud computing. Total
Anggaran biaya Badan Pengusahaan Batam adalah sebesar Rp 6,673,208,000,-. Dari total keseluruhan biaya operasional, maka di ambil 15 % sebagai anggaran operasional dengan nilai sebesar Rp. 1.000.981.200,-
Tabel 2. Isian Anggaran BP Batam Tahun 2012
Sumber : Isian Anggaran Badan Pengusahaan Batam 2012
Total Nilai Manfaat Implementasi Cloud Computing Pada Badan Pengusahaan Batam
PROGRAM GENERIK
Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya BP-Batam
Data Center yang dikelola
1 Pengadaan Perangkat Server dan Backbone Jaringan BP- Batam Rp 813,400,000.00 2 Pengadaan dan Instalasi UPS Data Center Rp 1,549,839,000.00
3 Operasional Peralatan Sandi Rp 637,900,000.00
4 Pembangunan Sistem Keamanan Teknologi Informasi dan komunikasi Rp 755,800,000.00 5 Peningkatan Fasilitas Sarana Data Center Rp 2,916,269,000.00
Total Anggaran Biaya Operasional Rp 6,673,208,000.00 Rp 1,000,981,200
10
Tabel 3. Nilai Manfaat Implementasi Cloud Computing
Sumber : Hasil Olahan
Nilai manfaat diperoleh berdasarkan persentase, kwantifikasi manfaat diperoleh
berdasarkan Ranti’s Generic IS/IT Business Value.
Tabel 4. Perhitungan Nilai EBIT, NOPAT dan EVA
Dari perhitungan sebelumnya, maka didapat nilai EBIT adalah mengurangi pendapatan operasional dengan biaya operasional, sehingga pada persamaan 1:
EBIT = Rp 1.685.240.270,- - Rp 1.000,981.200,- = Rp 684.259.070,- (1)
Perhitungan NOPAT didapat dari nilai EBIT dikurangi pajak. Pajak yang harus dibayarkan oleh Badan Pengusahaan Batam setiap tahun adalah sebesar 25% (data diambil sesuai dengan peraturan Pemerintah Kota Batam dan angka yang disebutkan dari proses wawancara), sehingga perhitungan NOPAT-nya pada persamaan 2 adalah:
NOPAT = Rp 684.259.070,- (Rp 684.259.070,- * 25%) = Rp 513.194.302,- (2)
Karena nilai investasi terhadap cloud computing untuk Badan Pengusahaan
Batam tidak ada, maka nilai WACC tidak perlu dicari, karena berapa pun dikalikan dengan nol, hasilnya akan nol, sehingga, perhitungan EVA pada persamaan
3 adalah
EVA = NOPAT – (WACC * Invested Capital)
No Kwantifikasi Manfaat Jumlah
1 Meningkatkan produktivitas karena proses transaksi yang lebih cepat 45,000,000 2 Meningkatkan pelayanan eksternal. mutu layanan. dan keunggulan kompetitif 9,442,404 3 Peningkatan Pendapatan Karena Minimalisasi Resiko Keterlambatan Pengumpulan Laporan 1,875,000 4 Peningkatan Pendapatan Karena Minimalisasi Resiko Piutang Tak Tertagih 771,951,866 5 Peningkatan pendapatan karena minimalisasi resiko kehilangan karyawan potensial 52,875,000 6 Manfaat Peningkatan Pendapatan Karena Peningkatan Kapasitas Bisnis 442,500,000 7 Manfaat Peningkatan Pendapatan Karena Minimalisasi Biaya Operasional 261,096,000 8 Manfaat Peningkatan Pendapatan karena minimalisasi pengadaaan Barang dan Jasa 100,500,000
TOTAL Nilai Manfaat 1,685,240,270
EBIT TOTAL NILAI MANFAAT - ANGGARAN OPERASIONAL
EBIT 684,259,070
NOPAT NILAI EBIT - PAJAKS
NOPAT Rp513,194,302.13
EVA EVA = NOPAT – (WACC * Invested Capital)
11
= Rp 513.194.302,- (WACC * 0)
= Rp 513.194.302,- (3)
Analisis perbandingan investasi ini dilakukan sebagai analisis tambahan untuk mendukung analisis manfaat dan perhitungan EVA yang sudah dilakukan
dalam mengkaji manfaat ekonomis investasi sistem cloud computing. Perbandingan
dilakukan dengan dua skenario. Skenario A, Badan Pengusahaan Batam melakukan
investasi infrastruktur biasa (client – server). Skenario B, Badan Pengusahaan Batam
melakukan investasi cloud computing.
Setiap skenario terdiri dari dua bagian besar yaitu nilai investasi yang harus
ditanamkan dan biaya pemeliharaan (maintenance) yang harus dikeluarkan selama
lima tahun setelah investasi dilakukan. Perhitungan dihitung secara detil dengan memperhitungkan asumsi 30% untuk biaya pemeliharaan pada tahun pertama, dan 25% untuk biaya pemeliharaan untuk tahun-tahun berikutnya.
Harga cloud computing sendiri seharga $15 per pelayanan, dengan perhitungan
nilai kurs sebesar Rp 10.000,-, sehingga nilainya dalam rupiah adalah
12
Tabel 5. Rincian Perbandingan Nilai Investasi Dan Biaya Pemeliharaan Selama 5 Tahun Ke Depan Untuk Skenario A Dan B
Tabel 6 Biaya Pemeliharaan
Skenario Biaya (Rp) Jumlah Rata-rata Pelayanan
Tahun
Nilai Investasi Awal Rp 848,172,000 1,808
Tahun 1 Rp 352,560,000 1,808
Tahun 2 Rp 364,845,000 1,871
Tahun 3 Rp 377,520,000 1,936
Tahun 4 Rp 390,585,000 2,003
Tahun 5 Rp 404,235,000 2,073
Skenario B
Inisial Investasi Tidak Ada 1,808
Biaya Pemeliharaan:
- Tahun 1 Rp 271,200,000 1,808
- Tahun 2 Rp 280,650,000 1,871
- Tahun 3 Rp 290,400,000 1,936
- Tahun 4 Rp 300,450,000 2,003
- Tahun 5 Rp 310,950,000 2,073
Tahun Skenario A Skenario B
Tahun ke 1 195,000 150,000
Tahun ke 2 195,000 150,000
Tahun ke 3 195,000 150,000
Tahun ke 4 195,000 150,000
Tahun ke 5 195,000 150,000
13
Gambar 1. Grafik Perbandingan Masing-Masing Skenario
Tabel 7 Perhitungan Skenario A dan Skenario B
Pada skenario A, tren biaya pemeliharaan secara nominal semakin besar, namun jika dibandingkan dengan jumlah biaya yang semakin meningkat, hal ini membuat infrastruktur yang telah diimplementasi semakin ekonomis. Hal ini diperjelas pada tabel III yang menunjukkan bahwa harga infrastruktur per pelayanan dalam jangka waktu lima tahun setelah implementasi. Sedangkan pada skenario B, biaya meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah akun, namun tetap pada nilai yang sama. Hal ini menjadikan skenario B sudah ekonomis sejak pertama kali diimplementasi. Biaya pemeliharaannya pun lebih kecil dibandingkan dengan skenario A walaupun perbedaannya tidak terlalu signifikan.
Analisis perbandingan juga dilakukan untuk membandingkan nilai EVA terhadap masing- masing skenario. Gambar 5 dan table IV menunjukkan perbandingan perhitungan EVA terhadap skenario A dan skenario B. Berdasarkan hasil perhitungan. Nilai EVA pada skenario B lebih tinggi dibandingkan dengan nilai EVA pada skenario A, hal ini menunjukkan bahwa investasi pada skenario B lebih ekonomis dibandingkan dengan investasi pada skenario A.
Hasil analisis ini memperkuat gagasan bahwa implementasi cloud computing
Rp100.000.000 Rp200.000.000 Rp300.000.000 Rp400.000.000 Rp500.000.000 Rp600.000.000 Rp700.000.000 Rp800.000.000 Rp900.000.000
Skenario A
Skenario B
NOPAT =( Pendapatan Operasional -Biaya Operasional ) - Pajak NOPAT =( InPendapatan Operasional -Biaya Operasional ) - Pajak 684,259,069.50
Rp Rp 684,259,069.50
WACC x Invested Capital = Rp. 848.172.000 WACC x Invested Capital = Rp. 0
NOPAT = Invested Capital = NOPAT = Invested Capital =
-163,912,931 684,259,070
14
memang memiliki manfaat lebih bagi Badan Pengusahaan Batam dan layak untuk di implementasi.
4. Kesimpulan
Pengkombinasian metode EVA dan Ra nti’s Generic IS/IT Business Va lue‟s
Generic IS/IT Business Value sangat memudahkan dalam melakukan kajian manfaat
ekonomis dari suatu investasi TI. Untuk kerangka acuan bagi implementasi cloud
computing pada Badan Pengusahaan Batam, didapat 39 manfaat yang relevan dan menghasilkan delapan kategori manfaat besar. Hasil kuantifikasi yang didapat sebesar Rp 1.685.240.270,- kemudian menjadi masukan untuk salah satu komponen dalam perhitungan dalam metode EVA. Dikalkulasi dengan komponen EVA lainnya sesuai dengan rumus EVA, maka didapat nilai EVA adalah sebesar Rp 513.194.302,-. Hasil EVA yang positif menandakan bahwa implementasi tersebut dapat memberikan profit bagi perusahaan jika dijalankan. Dari hasil yang didapat pada analisis perbandingan, terlihat bahwa walaupun kedua investasi tersebut sama-sama
ekonomis, namun nilai sistem cloud computing tetap lebih ekonomis daripada
investasi infrastruktur biasa. Dari hasil yang didapat melalui perhitungan
kuantifikasi Ranti’s Generic IS/IT Business Value, EVA, dan analisis perbandingan,
dapat dilihat bahwa implementasi cloud computing layak untuk diterapkan pada
Badan Pengusahaan Batam.
Berdasarkan beberapa kesimpulan diatas peneliti memberikan beberapa saran,
maka untuk memacu manajemen dalam peningkatan pengimplementasian cloud
computing di Badan Pengusahaan Batam sebagai berikut :
1. Implementasi Cloud Computing atau secara keseluruhan sistem informasi
e-goverment perlu ditingkatkan, karena memberikan nilai positif terhadap peningkatan profit lembaga pemerintahan.
2. Untuk lembaga lain agar memperhatikan implementasi cloud computing, dan
segera beralih ke system cloud.
3. Untuk meningkatkan kinerja karyawan, suatu organiasi harus memperhatikan
perkembangan teknologi saat ini, karena sistem e-goverment (cloud computing)
merupakan hal yang sangat diperlukan dalam pelayanan masyarakat publik.
4. Untuk penelitian selanjutnya, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, kajian
manfaat implementasi cloud computing secara kuantitatif.
DAFTAR PUSTAKA
F. Bergeron, L. Raymond, & S. Rivard, “Ideal Patterns of Strategic Alignment
and Business Performance,” Journal of Information & Management, vol. 41,
pp. 1003-1020, 2004.
W.V. Grembergen, S.D. Haes, & H.V. Brempt, Building the Business Case
for CobiT® and Val IT™: Executive Briefing, ISACA, USA, 2009.
ITGI, Control Objectives for Information and related Technology (COBIT 4.1), IT
15
GAO, Information Technology Investment Management: A Framework for Assessing
and Improving Process Ma turity, United States General Accounting Office, Washington, 2004.
B. Ranti, “Identification of Information System/Information Technology Business
Value With Hermeneutic Approach: Cases in Indonesia,” Dissertation, Faculty
of Computer Science, Universitas Indonesia, Indonesia, 2008.
P. Weill & J.W. Ross, IT Governa nce: How Top Performers Ma nage IT Decision
Rights for Superior Results, Harvard Business School Press, Boston, 2004.
W.V. Grembergen & S.D. Haes, Enterprise Governance of Information Technology,
Springer, New York, 2009.
D.V. Over, Use of Information Technology Investment Management To Manage State Government Information Technology Investment, IGI Global, pp. 1-22, 2009.
R.S. Pressman, Software Engineering: A P ractitioner's Approach, 6th ed., Mc-Graw
Hill, 2005.
A. Dennis, B.H. Wixom, & D. Tegarden, System Analysis and Design with UML:
An Object-Oriented Approach, John Wiley & Sons, New Jersey, 2010.
J. Tambotoh, “The Implementation of Financial Feasibility Study to Increase the
IS/IT Investment Management Maturity Level. Case Study: PT. XYZ
(Persero),” Thesis, Faculty of Computer Science, Universitas Indonesia,
Indonesia, 2010.
Indrajit, R.E.O. 2006. Electronic Government Strategi Pembangunan dan Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital, Yogyakarta: Penerbit Andi.
Indrajit, Richardus Eko. 2005. E – Government In Action, Yogyakarta : ANDI
Indrajid, Richardus Eko. 2004. Electronic Government (Strategi Pembangunan dan
Pengembangan Sistem Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Digital). Yogyakarta: ANDI.
Darmadji, Pamela & Ranti ,Benny . Analisis Kelayakan Ekonomis Cloud Computing
Pada Lembaga Keuangan Mikro Di Indonesia Dengan Metode Ranti’s Generic
Is/It Business Value Dan Economic Value Added: Studi Kasus Pada Bank
Perkreditan Rakyat Di Jakarta. Jurnal Sistem Inf ormasi, Volume 7, Nomor 2,
Oktober 2011
Anto, R. Y. (2010, November 9). 83% P erusa ha a n Besa r Nilai Cloud
Computing Releva n. Dipetik November 2010, 2010, dari Bataviase: http://bataviase.co.id/node/451591
Fardani ,Adiska & Surendro, Kridanto. Strategi Adopsi Teknologi Informasi
Berbasis Cloud Computing Untuk Usaha Kecil Dan Menengah Di Indonesia.
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informa si 2011 (SNATI 2011) Yogyaka rta, 17-18 Juni 2011
Ranti, Benny dan Tambotoh Johan. Implementasi Kajian Kelayakan Finansial Untuk Meningkatkan Tingkat Kematangan Manajemen Investasi Teknologi Informasi. 15 Journal of Information Systems, Volume 6, Issues 2, October 2010
16
Pada Lembaga Keuangan Mikro Di Indonesia Dengan Metode Ranti’s Generic
Is/It Business Value Dan Economic Value Added: Studi Kasus Pada Bank
Perkreditan Rakyat Di Jakarta. Jurnal Sistem Inf ormasi, Volume 7, Nomor 2,