• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman Teknis SLPHT Perkebunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pedoman Teknis SLPHT Perkebunan"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

  • Sekolah: Kementerian Pertanian
  • Mata Pelajaran: Perkebunan
  • Topik: Pedoman Teknis Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) Perkebunan
  • Tipe: pedoman teknis
  • Tahun: 2013
  • Kota: Jakarta

I. PENDAHULUAN

Bagian ini menjelaskan latar belakang pentingnya pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dalam meningkatkan produktivitas tanaman perkebunan. Ditekankan bahwa penggunaan pestisida kimia yang berlebihan dapat berakibat negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Oleh karena itu, pengendalian hama terpadu (PHT) menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan. Pedoman ini bertujuan untuk memberikan arahan bagi pelaksanaan Sekolah Lapang PHT (SL-PHT) di tingkat provinsi dan kabupaten, serta meningkatkan pengetahuan petani mengenai PHT.

1.1 Latar Belakang

Latar belakang menjelaskan dampak serangan OPT yang dapat mengurangi hasil produksi tanaman hingga 30%-40%. Penekanan pada pentingnya pengendalian hama yang berkelanjutan dan ramah lingkungan menjadi fokus utama, sehingga petani perlu dilatih dalam menerapkan prinsip-prinsip PHT.

1.2 Sasaran Kegiatan

Sasaran kegiatan SL-PHT adalah untuk melaksanakan pelatihan pada 194 kelompok tani di 24 provinsi dan 89 kabupaten. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap petani dalam menerapkan PHT secara mandiri.

1.3 Tujuan

Tujuan dari kegiatan SL-PHT adalah untuk meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola kebun mereka secara mandiri dengan menerapkan prinsip-prinsip PHT. Ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.

II. PENDEKATAN PELAKSANAAN KEGIATAN

Bagian ini menguraikan pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan SL-PHT, termasuk prinsip-prinsip administratif dan teknis. Pendekatan ini mencakup penetapan tim pelaksana, rencana kerja, serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait. Monitoring dan evaluasi juga menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana.

2.1 Prinsip Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan

Pendekatan ini menekankan pentingnya perencanaan yang baik dan koordinasi antara berbagai pihak. Setiap kegiatan harus diikuti dengan monitoring dan evaluasi untuk memastikan efektivitas pelaksanaan SL-PHT.

2.2 Spesifikasi Teknis

Spesifikasi teknis mencakup kriteria peserta dan pemandu lapang, lokasi kegiatan, serta metode yang digunakan selama pelatihan. Ini memastikan bahwa semua aspek teknis terpenuhi untuk mencapai tujuan pelatihan.

III. PELAKSANAAN KEGIATAN

Bagian ini menjelaskan rincian pelaksanaan kegiatan SL-PHT, termasuk ruang lingkup, pelaksana, dan penanggung jawab. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak untuk memastikan keberhasilan program, dengan fokus pada pengelolaan kebun yang efektif.

3.1 Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan SL-PHT mencakup petani perkebunan rakyat yang belum memiliki pengalaman dalam PHT. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan pelatihan yang komprehensif agar petani dapat menerapkan PHT dengan baik.

3.2 Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan

Pelaksana kegiatan SL-PHT adalah dinas provinsi dan kabupaten yang membidangi perkebunan. Koordinasi yang baik antara dinas dan pemandu lapang sangat penting untuk memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan lancar.

IV. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN

Pembinaan dan pengendalian dalam kegiatan SL-PHT sangat penting untuk memastikan semua proses terlaksana sesuai dengan rencana. Ini mencakup pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan dan memberikan dukungan kepada petani.

4.1 Pembinaan, Pengendalian, dan Pengawalan

Kegiatan pembinaan dilakukan secara terencana dan terkoordinasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan SL-PHT. Ini melibatkan semua pihak terkait untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

V. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN

Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pelaksanaan SL-PHT untuk menilai kemajuan dan hasil kegiatan. Laporan yang dihasilkan akan menjadi dasar untuk perbaikan di masa mendatang.

5.1 Monitoring

Monitoring dilakukan secara rutin untuk mengumpulkan data dan mengukur kemajuan pelaksanaan SL-PHT. Ini membantu dalam pengambilan keputusan dan penyesuaian strategi jika diperlukan.

5.2 Evaluasi

Evaluasi bertujuan untuk menilai kesesuaian antara pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang telah ditetapkan. Hasil evaluasi akan memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan di masa mendatang.

VI. PEMBIAYAAN

Pembiayaan untuk kegiatan SL-PHT bersumber dari APBN tahun anggaran 2014. Ini memastikan bahwa semua aspek kegiatan didanai dengan baik untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

VII. PENUTUP

Kegiatan SL-PHT diharapkan dapat meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola kebun mereka secara mandiri. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada dukungan semua pemangku kepentingan dan kerjasama yang baik.

Gambar

Tabel 1. Materi SL-PHT

Referensi

Dokumen terkait

Perkembangan usahatani PHT kapas di Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknik pengendalian yang direkomendasikan, para petani kooperator (petani PHT)

Beberapa permasalahan pokok dalam pelaksanaan program SL-PHT Kopi Rakyat, antara lain adalah: (1) Dalam Kelompok Petani Murni terdapat permasalahan gender, pelibatan wanita tani

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Tingkat Penerapan Teknologi PHT sebelum dan sesudah petani mengikuti SLPHT ; (2) Dampak Sekolah Lapangan

Karena karakteristik petani peserta SL-PTT kebanyakan sama, dimana kebanyakan petani yang mengikuti SL-PTT ini belum menerapkan teknologi PTT pada saat kegiatan SL-

Petani sasaran sebagai penerima bantuan adalah anggota kelompok tani yang telah diseleksi dan selanjutnya ditetapkan sebagai Calon Petani (CP) penerima bantuan dengan Surat

Penelitian dilakukan dengan mengikuti faktor- faktor yang berhubungan dengan persepsi petani terhadap program SL-PHT kakao dalam meningkatkan produtivitas dan

Permohonan KKP-E yang kegiatan usahanya mandiri yang dilaksanakan petani/ peternak/ pekebun secara individu atau Kelompok Tani, dapat langsung diajukan kepada

Perkembangan usahatani PHT kapas di Sulawesi Selatan, menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknik pengendalian yang direkomendasikan, para petani kooperator (petani PHT)