• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PEMBELAJARAN EKSPRESIF DALAM MENINGKATKAN INTEGRITAS USAHA PELAKU EKONOMI KREATIF: Studi pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Balatkop dan UMKM) Provinsi Jawa Barat.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "MODEL PEMBELAJARAN EKSPRESIF DALAM MENINGKATKAN INTEGRITAS USAHA PELAKU EKONOMI KREATIF: Studi pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Balatkop dan UMKM) Provinsi Jawa Barat."

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)

xi

1. Perspektif Pengembangan Model Pembelajaran Ekspresif (Expressive Learning)... 2. Pembelajaran Ekspresif sebagai Model Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah... 3. Pengembangan Model Pembelajaran Ekspresif

Berdasarkan Konsep Andragogi... B. Ekonomi Kreatif Sebagai Ekonomi Berbasis Pengetahuan

dan Budaya... 1. Pengertian dan Karakteristik Ekonomi Kreatif... 2. Lingkup Ekonomi Kreatif... C. Integritas Usaha ... ...

1. Integritas Usaha dan Sifat-sifat Pewirausaha... 2. Sumber-sumber bagi Pengembangan Integritas Usaha

(2)

xii

D. Penelitian yang Relevan... 98 BAB III PROSEDUR PENELITIAN...

A. Pendekatan Model Penelitian... B. Prosedur Penelitian... C. Subjek Penelitian... D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data……. ... E. Analisis dan Penafsiran Data... 2. Analisis Kebutuhan Model Pembelajaran

(3)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karunia Tuhan terbesar yang diterima manusia adalah kekuatan akal-pikiran. Inilah yang membuat manusia bukan saja dapat bertahan hidup, melainkan juga mampu meraih berbagai prestasi yang gemilang, sampai membangun peradaban. Dengan kekuatan akal-pikiran, setiap orang dapat senantiasa belajar untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan memperoleh manfaat darinya atau meraih keberhasilan. Belajar dalam arti menambah pengetahuan, memperluas wawasan, meningkatkan pemahaman, memperhalus sikap, memperkuat daya cipta, dan meningkatkan keterampilan mengenai berbagai hal yang berguna atau yang dibutuhkan.

(4)

Perbedaan antara mereka yang berhasil dan yang gagal terdapat dalam kualitas kegigihan usaha dan dalam ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan hidup. Namun bukan sekedar keinginan untuk dapat berhasil. Sedikit sekali orang yang mendapat kesuksesan secara kebetulan. Keberhasilan itu bukan keberuntungan. Hampir semua keberhasilan terjadi karena dirancang. Ini adalah pembelajaran instrumental.

Dari uraian di atas tampak betapa strategisnya belajar dan pembelajaran bagi keberhasilan usaha. Oleh karena itu, dalam perkembangan dunia saat ini, belajar dengan mekanisme yang tidak terbatas pada waktu dan ruang tertentu, telah menjadi kebutuhan yang ajeg dan tidak bisa dielakan lagi bagi setiap orang dan masyarakat untuk dapat terus berperan dalam tatanan dunia baru yang mengimplikasikan kebutuhan untuk peningkatan dan pelatihan ulang yang konsisten; pada era teknologi informasi yang melibatkan aspek penggunaan pengetahuan. Lebih dari itu, karena teknologi informasi telah mereduksi hambatan untuk memperoleh informasi, maka belajar dan belajar terus harus dilakukan dengan seluas-luasnya. Pada saat yang sama diperlukan pula usaha-usaha untuk memperluas inovasi pembelajaran agar setiap orang atau masyarakat dapat bersaing dengan meningkatkan produktivitas dan nilai tambah pada era masyarakat pengetahuan.

(5)

dipandang positif karena ia dapat memenuhi harapan pemenuhan kebutuhan sebagian anggota masyarakat saat ini. Fenomena tersebut adalah aktivitas eknomi kreatif (creative economy) yang kini tengah tumbuh dan berkembang secara dinamis di tengah-tengah masyarakat.

Berbagai kalangan memandang ekonomi kreatif ini sebagai peradaban gelombang keempat (the fourth wave) setelah era pertanian, era industri, dan era informasi. Sebagian orang menyebut gelombang keempat sebagai era konseptual (conceptual age). Ekonomi yang modalnya adalah kreativitas, budaya, dan warisan budaya. Negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan mengandalkan ekonomi kreatif ini sebagai penopang perekonomian negara mereka.

Ekonomi kreatif telah menciptakan lapangan kerja baru yang luas dan menghasilkan nilai ekonomi yang dahsyat. Lapangan kerja baru tercipta melalui eksplorasi hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Ekonomi kreatif ini memang memiliki peranan yang penting dan berkontribusi besar. Nilai uang yang beredar di sektor ekonomi kreatif global tahun 2007 mencapai sekitar US$ 2,2 triliun miliar. Pada tahun 2020 diprediksi pertumbuhan ekonomi kreatif akan lebih tinggi lagi, yaitu diperkirakan nilainya akan mencapai angka US$ 6,1 triliun miliar.

(6)

Tumbuh dan berkembangnya ekonomi kreatif patut disambut gembira. Ketika masyarakat menghadapi berbagai krisis sehingga banyak orang menghadapi kesulitan, ekonomi kreatif tampil sebagai suatu solusi yang cemerlang dengan memberikan peluang yang besar. Demikian pula ketika persaingan global semakin terasa dan mengancam usaha-usaha lokal, ekonomi kreatif dapat menjadi sarana yang tepat bagi pengembangan usaha ekonomi yang mampu berkompetisi dan tetap survival.

Mengingat pentingnya peranan ekonomi kreatif, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menugaskan kepada negara-negara anggotanya untuk mengembangkan ekonomi kreatif dalam rangka mencapai sasaran Pembangunan Millenium. Ditegaskan bahwa ekonomi kreatif dapat membantu menciptakan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, pelestarian keanekaragaman budaya, sastra, musik, pertunjukan, seni visual, sinema dan fotografi, radio dan televisi, kegiatan sosial budaya, olaharaga, dan permainan, serta lingkungan hidup dan alam.

(7)

ekonomi kreatif bukan ditentukan oleh bahan baku ataupun sistem produksinya, melainkan bergantung pada pemanfaatan kreativitas dan inovasi.

Kegiatan ekonomi kreatif merupakan kegiatan usaha ekonomi. Namun kegiatan ekonomi ini berbeda dengan kegiatan usaha ekonomi umumnya yang lebih menekankan pada prinsip rasionalitas atau menggunakan skema alat-tujuan (means-ends scheme) yang bersifat rasional. Kegiatan ekonomi kreatif menggunakan

prinsip-prinsip ekonomi dan pengembangan kreativitas. Kegiatan ekonomi kreatif memadukan aspek logis-rasional dengan daya afektif-emosional. Memanfaatkan kreativitas dan inovasi dalam ekonomi kreatif berarti mendayagunakan kemampuan atau kekuatan imajinasi untuk menciptakan suatu produk yang baru, atau menemukan bentuk produk baru, baik barang maupun jasa. Kecakapan ini ditunjang oleh kemampuan berpikir kreatif, yang mencakup kemampuan berimajinasi mengenai sesuatu yang sudah dikenal dengan cara berpikir yang baru atau yang berbeda; atau menggali pola-pola yang ada dan menemukan hubungan-hubungan di antara fenomena untuk memunculkan pola-pola baru. Dengan kata lain, melakukan ekspresi kerativitas.

(8)

dikembangkankan secara lebih sistematis dari model belajar personal dengan menekankan pada pengalaman ekspresif pelaku ekonomi kreatif.

B. Identifikasi dan Perumusan Masalah

Pelaku ekonomi kreatif merupakan pewirausaha. Dari sisi kewirausahaan ini kemajuan suatu bangsa antara lain ditentukan oleh jumlah unsur kiprah wiraausahawan. Menurut Purwana (2010), suatu bangsa dapat maju apabila jumlah entrepreuneur-nya paling sedikit mencapai 2% dari jumlah penduduk. Saat ini

Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta orang memiliki 400 entrepreuneur atau 0,18%. Sebagai perbandingan, Singapura memiliki 7,2%

entrepreuneur dan Amerika Serikat memiliki 2,14% entrepreuneur. Salah satu permasalahan krusial yang dihadapi Indonesia dalam menumbuhkembangkan kewiraausahaan adalah sulitnya membangun pewirausaha yang memiliki kesungguhan atau integirtas usaha.

(9)

proses dan output pendidikan memiliki relevansi yang tinggi dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan sektor ekonomi kreatif.

Dinamika belajar dan pembelajaraan yang dilakukan atau dalami oleh pelaku ekonomi kreatif, atau yang terkait dengan aktivitas ekonomi kreatif, selama ini lebih banyak merupakan aktivitas yang bersifat informal. Ia lebih tampak sebagai mekanisme yang bersifat umum dan alami untuk memenuhi kebutuhan belajar sejalan dengan tuntutan yang terus berkembang. Kalau ditelusuri secara lebih seksama, maka upaya-upaya yang ada umumnya adalah pengembangan usaha ekonomi yang dijalankan melalui pendidikan dan pelatihan konvensional. Ini artinya belum ada usaha yang sistematik untuk mengembangkan secara khusus model pendidikan, pelatihan, atau pembelajaran yang relevan dan efektif untuk menumbuhkembangkan usaha ekonomi kreatif.

(10)

Pengalaman atau perilaku dalam belajar dan pembelajaran dapat dibagi atas ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari percermatan selama ini pembelajaran lebih banyak menekankan pada aspek kognitif dan psikomotor. Sementara aspek afektif atau sikap kurang mendapat perhatian. Hal demikian terjadi pula dalam pembelajaran pada berbagai pendidikan, termasuk dalam pelatihan usaha. Padahal tindakan manusia tidak terutama didorong oleh pengetahuan dan keterampilannya, melainkan lebih digerakkan oleh aspek afeksi, khususnya emosi.

Khusus untuk pelaku ekonomi kreatif diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat mengoptimalkan usaha meningkatkan kapasitas dan keberhasilan pelaku ekonomi kreatif dalam berusaha dengan belajar melalui mengekpresikan kemampuan mencipta dan menata usaha secara langsung, atau model belajar berdasarkan kemampuan ekspresif. Pengalaman ekspresif tersebut dapat dikonstruksikan dengan memanfaatkan berbagai sumber, antara lain sistem nilai, motivasi, sikap, dan perilaku usaha yang dimiliki pelaku ekonomi kreaif.

(11)

yang mampu mengubah lingkungan sekitarnya dengan prestasi dan keunggulan mereka. .

Namun masalahnya adalah banyak orang yang memiliki masalah dengan integritas. Banyak orang cenderung melihat faktor di luar diri mereka sebagai penyebab penyimpangan dan kegagalan. Padahal pengembangan integritas merupakan tugas dalam diri tiap orang (Lupiyoadi, 2007).

Bagi seorang pewirausaha intergitas dapat bermakna berani mengambil resiko dengan perhitungan matang, tidak pernah menyerah, dan belajar dari kesalahan. Integritas usaha atau integritas kerja juga berarti bertindak konsisten sesuai dengan kebijakan dan kode etik usaha; memiliki pemahaman dan keinginan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan dan etika tersebut, dan bertindak secara konsisten walaupun sulit untuk melakukannya.

Dari permasalahan yang teridentifkasi di atas, studi ini dibatasi hanya pada salah satu permasalahan yang berkembang pada aspek pelatihan, yakni model pembelajaran ekspresif. Aspek-aspek yang berpengaruh atau yang terjalin di dalamnya dibatasi pada aspek-aspek sistem nilai, motivasi, sikap, dan perilaku yang dimiliki. Permasalahan dimaksud adalah mengenai pembelajaran yang perlu dan yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif. Rumusan permasalahannya adalah sebagai berikut: ”Bagaimanakah model belajar yang sistematis yang dapat meningkatkan integritas usaha melalui mengekpresikan

(12)

bersumber pada sistem nilai, motivasi, sikap dan perilaku usaha yang dimiliki pelaku

ekonomi kreatif”.

Permasalahan umum tersebut selanjutnya diuraikan menjadi masalah-masalah yang lebih khusus yang diformulasikan dalam bentuk pertanyan-pertanyaan penelitian sebagai berikut.

1)Bagaimanakah konstruksi konseptual model pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif dengan mengekpresikan keinginan dan kemampuan merancang kegiatan usaha berdasarkan sistem nilai, motivasi, sikap, dan perilaku usaha yang dimiliki?

2)Bagaimanakah model pembelajaran ekspresif dapat diimplementasikan dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif dengan mengekpresikan keinginan dan kemampuan merancang kegiatan usaha secara langsung berdasarkan sistem nilai, motivasi, sikap, dan perilaku usaha yang dimiliki?

3)Bagaimanakah efekitvitas model pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif dengan mengekpresikan keinginan dan kemampuan merancang kegiatan usaha secara langsung berdasarkan sistem nilai, motivasi, sikap, dan perilaku yang dimiliki?

(13)

C.Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pembelajaran ekspresif yang dapat meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif dengan mengekpresikan keinginan dan kemampuan merancang kegiatan peningkatan usaha berdasar pengalaman yang bersumber pada sistem nilai, motivasi, dan sikap serta perilaku yang dimiliki.

Adapun secara khusus penelitian memiliki tujuan sebagai berikut.

1) Mengembangkan bangunan konseptual model pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif

2) Mendapatkan gambaran mengenai penerapan model pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif.

3) Memperoleh gambaran mengenai efektvitas model pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif

4) Mendapatkan model akhir pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif.

D. Manfaat Penelitian

(14)

dalamnya tercakup model pembelajaran ekspresif (expressive learning). Model yang dikembangkan diharapkan mampu memberikan nuansa baru yang lebih inovatif dalam mendisain dan mengorganisasikan kegiatan belajar yang diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas kegiatan nyata aktivitas usaha ekonomi kreatif. Selain itu model ini juga diharapkan dapat memberikan inspirasi lebih lanjut bagi lahirnya model-model belajar dan pembelajaran baru dalam konsep pendidikan luar sekolah yang lebih adaptif dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan akan peningkatan kapasitas pengetahuan, sikap, dan keterampilan berusaha.

Secara praktis temuan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut.

1. Membantu memberikan gambaran dan alternatif kepada pelaku ekonomi kreatif dalam mengembangkan model pembelajaran ekspresif mulai dari mendiagnosis kebutuhan belajar, menetapkan tujuan belajar, mendisain dan menerapkan pengalaman belajar, serta mengevaluasi proses dan hasil kegiatan belajar

2. Memberikan masukan dan alternatif kepada pemerintah mengenai pola dan upaya pembinaan aktivitas usaha ekonomi kreatif melalui penerapan model pembelajaran ekspresif sebagai salah satu model belajar yang dapat diselenggarakan untuk meningkatkan sikap dan kecakapan berusaha pelaku ekonomi kreatif.

(15)

ekonomi kreatif dalam skala yang memungkinkan sehingga mereka dapat menolong diri sendiri dan orang lain.

4. Menggugah kesadaran para pengusaha menengah ke atas dan para praktisi usaha lainnya untuk berperan sebagai inovator dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui perintisan-perintisan usaha baru dan pelatihan dalam bidang ekonomi kreatif yang dapat mengarahkan para pencari kerja menjadi pencipta usaha yang lebih produktif dan prospektif.

5. Menyediakan sebagian bahan dan titik masuk bagi penelitian lebih lanjut mengenai pembelajaran pelatihan kewirausahaan, khususnya dalam rangka mengembangkan kompetensi pelaku usaha ekonomi kreatif.

E. Asumsi Penelitian

Penelitian ini bertolak dari asumsi-asumsi sebagai berikut.

1. Perpaduan antara pendidikan dan pengalaman merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan wirausaha. Terdapat faktor-faktor khusus dalam pembentukan sifat wirausaha, yaitu nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga, pengalaman pendidikan di sekolah, dan lingkungan masyarakat. Seorang pewirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan serta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Pendidikan di sini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir (Lupiyoadi, 2007:39). 2. Nilai atau sistem nilai terbentuk melalui pengalaman seseorang. Pengalaman itu

(16)

keyakinan, dan perilaku seseorang, dan memberikan pedoman untuk memilih perilaku atau tujuan dari perilaku mana yang lebih atau kurang diingini, sesuai dengan pola hirarki kepentingan nilai-nilai tersebut dalam diri tiap orang (Danandjaja, 1986).

3. Belajar sepanjang hayat sangat bergantung pada kemauan dan niat (motivasi). Dengan inilah seseorang menjadi pembelajar yang efektif dan maju, serta memiliki banyak pilihan untuk menentukan bagaimana diri sendiri dapat hidup pada era masyarakat pengetahuan (implementasi konsep belajar sepanjang hayat pada era masyarakat pengetahuan, knowledge society).

4. Belajar terjadi jika seseorang membutuhkan sesuatu, memperhatikan sesuatu, melakukan sesuatu, dan menerima sesuatu yang baru dalam hidupnya. Cara penerimaan atau pemerolehan pengetahuan dari suatu pengetsa (the etcher) melalui asosiasi, dari seperangkat sensasi atau rangsangan dengan yang lainnya (Mujiman,1981).

5. Manusia sebagai subjek memiliki gaya belajar yang berbeda yang terbentuk dari pengalaman, refleksi, konseptualisasi, dan afirmasi realitas, serta bertindak secara aktif untuk memenuhi rasa ingin tahunya (Hoxeng,1976; Hopson,dkk,1981). 6. Pendekatan pembelajaran humanis memandang manusia sebagai subyek yang

(17)

bersama secara kritis dan kreatif. Pendidik tidak bertindak sebagai guru melainkan sebagai fasilitator dan partner dialog. Pendekatan reflektif mengajak peserta didik untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Sedangkan pendekatan ekspresif mengajak peserta didik untuk mengekspresikan diri dengan segala potensinya (realisasi dan aktulisasi diri). Dengan demikian pendidik tidak mengambil alih tangungjawab, melainkan sekedar membantu dan mendampingi peserta didik dalam proses perkembangan diri, penentuan sikap dan pemilahan nilai-nilai yang akan diperjuangkannya (Riyanto, 2010).

7. Emosi berperan penting dalam pembelajaran (McGaugh, 1990; MacLean, 1990; Goleman, 2006). Emosi atau unsur rasa adalah penting dalam semua fungsi mental dan sangat besar kontribusinya terhadap atensi, persepsi, memori, dan pemecahan masalah (LeDoux, 1996). Keberhasilan seseorang (ataupun kelompok, masyarakat, bangsa), ditentukan oleh seberapa banyak bertindak, bukan oleh seberapa banyak pengetahuan dan keahliannya.

F. Definisi Operasional

(18)

pengembangan model, aspek-aspek sistem nilai, motivasi, sikap dan perilaku dilihat sebagai sumber bagi kegiatan ekspresif.

Untuk menjembatani kesenjangan antara tingkat konseptual-teoretis dengan tingkat observasional-empiris berikut ini dikemukakan definisi operasional, yaitu penjelasan yang melukiskan karakteristik fenomena yang dapat diamati dan diukur dari istilah-istilah kunci yang digunakan.

1. Pembelajaran ekspresif dimaksudkan kegiatan pembelajaran mengekpresikan keinginan dan kemampuan merancang suatu kegiatan untuk tujuan tertentu dengan menekankan pada dimensi katektik atau emosional. Dalam studi ini yang diteliti adalah kegiatan ekspresif pelaku ekonomi kreatif berdasarkan sistem nilai, motivasi, sikap, dan perilaku usaha.

2. Sistem nilai adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki seseorang yang menjadi dasar bertindak sesuai dengan preferensinya. Variabel sistem nilai pelaku usaha ekonomi kreatif yang diteliti adalah semangat usaha, kreativitas, kerja keras, kepercayaan pada diri sendiri, agama, kemandirian, keuletan, ketegaran/ketabahan, sikap bertanggung jawab, dan kedisiplinan.

(19)

4. Sikap dan perilaku usaha adalah kesiapsiagaan mental dan tinndakan-tindakan berpola yang sadar yang dilakukan oleh pelaku usaha dalam mencapai tujuan atau target usahanya. Variabel sikap dan perilaku usaha pelaku ekonomi kreatif yang diteliti adalah sikap dan perilaku menangkap kesempatan, berpandangan jauh ke depan, mengambil insiataif, menyelesaikann masalah secara kreatif, mengelola secara independen, beranggtung jawab, berjejaring, menjaga kebersamaan, kreatif mencipta, dan mengambil risiko dengan perhitungan.

5. Integritas usaha dimaksudkan sebagai konsistensi perilaku berupa kesungguhan usaha yang ditunjukkan pelaku usaha. Integritas usaha pelaku ekonomi kreatif diukur melalui komitmen untuk berhasil: konsistensi dalam memelihara nilai-nilai dan semangat usaha, kreativitas, kerja keras, kepercayaan pada diri sendiri, agama, kemandirian, keuletan, ketegaran/ketabahan, sikap bertanggung jawab, dan kedisiplinan.

G. Paradigma Penelitian

(20)

Namun keberhasilan seorang pewirausaha seperti pelaku ekonomi kreatif juga karena ia banyak menekankan pada belajar dari pengalaman (streestmart), dan bukan hanya belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart). Ekonomi kreatif dan banyak kegiatan positif lain bukanlah sesuatu yang lahir di atau dari dalam kelas pada sekolah formal, melainkan sebagai hasil usaha orang-orang kreatif dalam kontek kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Hal ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran ekonomi kreatif dapat lebih efektif jika dilakukan secara langsung dalam dunia nyata dalam praktek pengelolaan industri kreatif itu sendiri. Dengan kata lain diperlukan model belajar dalam kehidupan atau belajar dalam praktek di dunia kerja.

Lebih dari sekedar pewirausaha, pelaku ekonomi kreatif adalah seseorang yang berusaha menciptakan kesejahteraan dan nilai tambah melalui eksplorasi dan pengembangan gagasan, memadukan sumber daya, dan merealisasikan gagasannya secara dinamis dengan menjalankannya secara lebih holistik, imajinatif, difus, dan paralel. Pelaku ekonomi kreatif adalah orang yang kreatif dan inovatif yang mampu mewujudkan gagasannya untuk peningkatan kesejahteraan diri, masyarakat, dan lingkungannya.

(21)

Model pembelajaran ekspresif menekankan pada belajar sebagai upaya untuk meningkatkan sikap dan kemampuan yang telah dimiliki sesuai dengan tuntutan perkembangan dalam kehidupan masyarakat. Peningkatan sikap dan kemampuan ini dicapai melalui kegiatan belajar dengan mengalami atau berdasar pengalaman. Seseorang dikatakan belajar dari atau berdasarkan pengalaman bila ia mampu mengkaji pengalaman secara kritis. Namun karena kenyataan menunjukkan bahwa tindakan manusia tidak terutama digerakkan oleh logika, melainkan lebih oleh emosi, maka pengalaman belajar yang diperlukan adalah pengalaman belajar yang lebih menekankan pada dimensi afektif. Dengan kata lain pengalaman yang memprioritaskan pada dimensi katektik dari sisi orientasi motivasional dan dimensi apresiatif dari segi orientasi nilai.

Dengan demikian, pengalaman ekspresif di sini menunjuk pada dua makna. Pertama, dalam arti mengekspresikan atau menyatakan dengan mempraktekkan.

Dalam hal ini adalah mengekspresikan keinginan dan kemampuan merancang kegiatan peningkatan usaha ekonomi kreatif.

Kedua, kegiatan tersebut menekankan pada dimensi katektik atau emosional,

(22)

Gambar 1.1 Ekonomi Kreatif dan Pembelajaran Ekspresif

Pada tingkat praktik, integritas usaha pelaku ekonomi kreatif dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain sistem nilai, motivasi, sikap dan perilaku usahanya. Faktor-faktor tersebut terstrukturkan dengan jalinan sistem nilai menentukan motivasi. Motivasi menentukan sikap dan perilaku usaha. Sikap dan perilaku usaha pada gilirannya dilihat sebagai faktor yang menentukan integritas usaha.

Pada tingkat pembelajaran, aspek-aspek sistem nilai, motivasi, serta sikap dan perilaku usaha yang dimiliki pelaku ekonomi kreatif dianalisis sebagai sumber bagi kegiatan ekspresif. Kemudian secara lebih khusus dan fokus, karakteristik tertentu dari aspek sikap dan perilaku usaha ditransformasikan menjadi kegiatan atau pengalaman ekspresif. Secara visual hal ini dapat dilukiskan sebagaimana pada gambar 1.2.

PEMBELAJARAN EKSPRESIF

1. BELAJAR MENGEKSPRESI KAN

KEINGINAN DAN

KEAMAMPUAN MENCIPTA DAN MENATA USAHA

2. PENEKANAN PADA DIMENSI

(23)

Gambar 1.2 Sumber-sumber bagi Pembelajaran Ekspresif

Beberapa faktor yang dianggap memberi kontribusi terhadap proses pembelajaran pada pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif dapat dianalisis, antara lain kurikulum pelatihan, manajemen pelatihan, strategi pembelajaran pelatihan, dan evaluasi pelatihan. Komponen-komponen tersebut bersifat dinamis, artinya dapat berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta praktik usaha ekonomi kreatif. Hal ini mengingat pelaku ekonomi kreatif adalah pelaku usaha yang secara langsung tengah melakukan pengelolaan kegiatan usaha yang dikembangkannya.

Oleh karena itu, model konseptual pembelajaran pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif mengacu pada prinsip pembelajaran berbasis pengalaman ekspresif (expressive experiential based learning) yang dilandasi nilai-nilai budaya belajar dan bekerja. Bangunan model pembelajaran ini terterakan dalam bangun kurikulum,

SISTEM NILAI

MOTIVASI

SIKAP DAN PERILAKU

USAHA

KEGIATAN MENGEKSPRESIKAN

(24)

manajemen, strategi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran pelatihan. Dengan demikian penerapan model konseptual ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap integritas dan keberhasilan usaha pelaku ekonomi kreatif.

Berdasar hal di atas, maka paradigma penelitian tentang pengembangan model pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif ini dapat dilukiskan sebagaimana pada gambar 1.3.

(25)

103 BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

A. Pendekatan Model Penelitian

Penelitian ini didisain dengan menggunakan pendekatan”penelitian dan pengembangan”(research and development, R&D). Menurut Borg and Gall (1989:782), model penelitian dan pengembangan adalah “a process used develop and validate educational product”. Proses ini berlangsung secara siklus, mulai dari tahap

pengkajian topik yang ingin dikonstruksi, pengembangan model konseptual, penguji-cobaan di lapangan, sampai pada perbaikan model dengan mengoreksi kekurangan-kekurangan yang ditemukan.

Tujuan utama R & D bukanlah untuk merumuskan atau menguji teori, melainkan untuk mengembangkan produk-produk efektif bagi kepentingan kegiatan pendidikan dan kegiatan lainnya. Produk-produk yang dihasilkan dapat berupa materi pelatihan, bahan-bahan pelajaran, atau produk-produk lainnya. Produk R & D diuji-cobakan di lapangan dan kemudian direvisi hingga diperoleh tingkat keefektifan yang sesuai atau memenuhi kebutuhan, standar kriteria dan spesifikasi tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Ditegaskan, R & D berfungsi menjembatani penelitian pendidikan dengan dunia praktek ( Borg dan Gall, 1989).

Unesco menegaskan :

(26)

learning for the purposes of gaining a better undestanding of the development of students learning of science and technology (Unesco, 1993:38).

Penelitian ini juga biasa disebut ‘research based development’, yang mengemuka sebagai strategi dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selain untuk mengembangkan dan memvalidasi hasil-hasil pendidikan, model penelitian dan pengembangan juga bertujuan untuk menemukan pengetahuan-pengetahuan baru melalui ‘basic research’, atau untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan khusus tentang masalah-masalah yang bersifat praktis melalui riset terapan, yang digunakan untuk meningkatkan praktik-praktik pendidikan.

Dalam penelitian ini research and development digunakan untuk menghasilkan model pembelajaran ekspresif sebagai upaya untuk meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif, sehingga kemampuan dan hasil pelaku ekonomi kreatif dalam berusaha dapat meningkat.

(27)

Kajian penelitian yang digunakan dalam penelitan ini bersifat deskriptif analitik. Penelitian yang bersifat deskriptif secara garis besar memiliki dua tujuan; Pertama, untuk mengetahui potensi dan pengembangan sumberdaya yang ada, atau

frekuensi terjadinya aspek fenomena sosial tertentu. Kedua, untuk mendeskripsikan secara terperinci tentang fenomena sosial tertentu. Hipotesis dalam penelitian seperti ini tidak dirumuskan secara ketat dan bukan untuk diuji dengan statistik secara mendalam (Singarimbun dan Efendi, 1987:4).

Sedangkan secara analitik, analisis menggunakan metode yang bertujuan untuk menguji hasil secara statistik, dan hasilnya berfungsi untuk memperkuat jawaban deskriptif sesuai permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Secara umum kajian penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil pembelajaran yang telah dilaksanakan, yaitu untuk mengetahui perbedaan dalam performa peserta pelatihan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran.

B. Prosedur Penelitian

(28)

pembelajaran dalam kegiatan pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif, dan membuat skala pengukuran (instrumen penelitian); 3) mengembangkan prototipe awal untuk dijadikan model, 4) melakukan validasi model konseptual kepada para ahli atau praktisi; 5) melakukan ujicoba tahap I terhadap model awal; 6) merevisi model awal, berdasarkan hasil ujicoba dan analisis data, 7) melakukan ujicoba tahap II; 8) melakukan revisi akhir atau penghalusan model, apabila peneliti dan pihak terkait menilai proses dan produk yang dihasilkan model belum memuaskan; dan 9) membuat laporan penelitian

Dari sembilan langkah tersebut, agar lebih efektif dan efisien, maka pelaksanaan penelitian dibagi dalam empat tahap berikut.

1. Studi Pendahuluan

Pada studi pendahuluan peneliti melakukan pengumpulan data tentang profil pelaku usaha ekonomi kreatif di Jawa Barat, Profil Balai Pendidikan Dan Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Balatkop dan UMKM) Jawa Barat, dan kebutuhan model pembelajaran ekspresif bagi pelaku usaha ekonomi kreatif. Pengumpulan data dan informasi tentang profil pelaku usaha ekonomi kreatif di Jawa Barat diawali dengan penelusuran data tentang poptensi ekonomi kreatif Jawa Barat. Kemudian profil pelaku usaha ekonomi kreatif dilihat terutama dari apek-aspek sistem nilai, motivasi, sikap, perilaku usaha, dan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif.

(29)

meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif; berangkat ke lapangan, berkunjung ke lokasi-lokasi unit kegiatan ekonomi kreatif untuk mengamati secara langsung aktivitas ekonomi kreatif, dan mencermati kegiatan pembelajaran dalam pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif di Balai Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Barat. Penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mempelajari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan aktivitas tersebut. Dalam eksplorasi ini penulis mencari dan menemukan model empirik di lapangan mengenai model belajar pelaku ekonomi kreatif, sehingga dapat dideskripsikan:

1) kegiatan pembelajaran ekspresif dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif;

2) sistem pelatihan yang diterapkan pada Balai Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Balatkop dan UMKM) Provinsi Jawa Barat mulai dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, sampai pada kegiatan evaluasi

(30)

berdasarkan pengalaman, pendekatan humanistik,dan konsep-konsep serta teori-teori belajar lainnya yang relevan.

Selain itu pada studi eksploratoris ini dipelajari pula data-data sekunder dan laporan-laporan penyelenggaraan pelatihan yang pernah ada sebelumnya, serta melakukan pengamatan secara umum terhadap berbagai permasalahan dan kebutuhan pelatihan bagi pelaku ekonomi kreatif di lapangan.

Kegiatan ekplorasi dalam studi pendahuluan ini dibagi menjadi tiga tahapan berikut.

1) Persiapan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk mengadakan studi pendahuluan seperti pengurusan surat izin kelapangan, dan berbagai instrumen yang diperlukan dalam kegiatan penelitian. tahap persiapan juga dilakukan pengembangan instrumen identifikasi seperti pedoman wawancara dan daftar isian. Daftar isian diberikan untuk memperoleh data dan informasi yang berkenaan dengan identitas diri, karakteristik pelaku ekonomi kreatif seperti ;minat, bakat, keterampilan, masalah serta kebutuhan belajar calon sasaran program. Selain itu juga pedoman wawancara untuk instansi/dinas terkait. Instrumen yang dibuat kemudian dikonsultasikan dan direvisi berdasarkan masukan dari dosen pembimbing.

2) Survey pendalaman;

(31)

belajar dan konfirmasi hasil survey dengan calon instruktur pelatihan atau widyaiswara, dan dengan Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Barat. Tujuan survey pendalaman adalah untuk mengumpulkan dan memeriksa secara sistematis data mengenai kondisi objek penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dan ditafsirkan untuk memperbaiki kondisi yang telah ada. Setelah hasil survey mengenai gambaran umum kondisi pelaku ekonomi kreatif diperoleh, selanjutnya peneliti melakukan interview terhadap beberapa pejabat dan staf di lingkungan Balai. Dari hasil survey pendalaman ini dapat diperoleh keterangan tentang karakteristik pelatihan dan pembelajaran bagi pelaku usaha yang selama ini berjalan di Balai.

3) Analisis kebutuhan

(32)

dibutuhkan dalam mengembangkan kemampuan dan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif.

2. Penyusunan Disain Model Konseptual.

Bogdonis dan Salisburry dalam Local Government Management Systems. (2006) (2006:105) mengemukakan tiga model pengembangan dalam pembelajaran pelatihan, yaitu model prosedural, model konseptual, dan model teoretik. Model prosedural, disebut juga model deskriptif, menampilkan langkah-langkah yang harus diialukan dalam menghasilkan sebuah produk;. Model konseptual, yaitu model yqng bersifat menganalisis komponen-komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen. Model teoretik, yaitu model yang menunjukan hubungan perubahan antar peristiwa.

Dalam mengembangkan model pembelajaran ekspresif ini peneliti menggunakan model konseptual, yaitu dengan melakukan analisis deskripsi terhadap komponen-komponen yang dijadikan sebagai komponen model pembelajaran. Rancangan model konseptual merupakan kerangka atau dasar-dasar dari sebuah bangun model yang hendak disusun ke dalam model yang lebih operasional untuk di ujicobakan. Secara praktis pelaksanaan ujicoba mengarah pada pengelolaan program pembelajaran ekspresif untuk meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif.

(33)

Dengan demikian secara berkesinambungan hasil pembelajaran akan dapat dirasakan pelaku ekonomi kreatif dengan meningkatnya kemampuan dan keberhasilan usaha mereka. Oleh karena itu untuk pelaksanaan pembelajaran ekspresif selain diperlukan pengelolaan yang baik, juga perlu didukung berbagai faktor seperti; kemampuan instruktur atau nara sumber teknis, kurikulum yang tepat, sarana prasarana. Keberhasilan model pembelajaran ini tidak saja hanya pada meningkatnya integritas dan kemampuan usaha peserta, melainkan melalui keterlibatan peserta dalam setiap aktivitas pembelajaran dapat membantu peserta untuk; (1) menilai sikap dan perilaku usaha diri sendiri, (2) memecahkan masalah usaha yang dihadapi, serta (3) mampu merasakan apa yang sedang dirasakan pelaku usaha lain.

Penyusunan disain model konseptual pembelajaran ekspresif dilakukan berdasarkan hasil studi pendahuluan. Disain model dilakukan dengan langkah-langkah berikut.

1) Melakukan analisis komparasi antara kerangka teoretik dengan temuan model di lapangan.

2) Mengembangkan kerangka teoretik ke dalam model sistem yang akan dikembangkan.

3) Menetapkan fokus kajian pengembangan model, yang meliputi sistem pembelajaran pelatihan usaha kecil dan menengah, manajemen pengembangan model belajar dan strategi pembelajaran ekspresif, dan pola evaluasi pembelajaran dalam model pembelajaran ekspresif.

(34)

5) Menetapkan instrument penelitian dan pengembangan model,

6) Menyusun dan menetapkan kerangka model analisis dalam rangka penelitian dan pengembangan.

3. Verifikasi Model Konseptual

Verifikasi model konseptual dilakukan dengan pokok-pokok kegiatan sebagai berikut.

1) Melakukan validasi teoritis konseptual kepada para ahli

2) Melakukan kelayakan model konseptual kepada para ahli dan praktisi dari lembaga/dinas terkait.

3) Melakukan uji coba terbatas, mengenai terapan perangkat model yang representatif untuk diimplentasikan. Ujicoba dilakukan tanpa acara seremonial pembukaan. Instruktur dan peserta melakukan diskusi dan wawancara untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal dari peserta.

(35)

dengan cakupan dan relevansi isi model dengan praktik penyelenggaraan pelatihan.

4. Tahap Implementasi Model.

Implementasi model pembelajaran ekspresif dilakukan dengan menggunakan desain ekperimental semu atau experimental design satu kelompok dengan pre-test dan post-pre-test. ( Borg & Gall, 1989:536, dan Fraenkel & Wallen, 1993:128). Tujuan penggunaan desain ini untuk menguji keefektifan model dan validasi model konseptual yang telah dihasilkan secara empirik. Pengujian keefektifan model dilakukan terhadap model konseptual yang dikembangkan sehingga dapat menjadi model empirik atau model yang layak diterapkan.

Rumusan disain yang digunakan untuk menguji kefektifan model adalah dengan mengunakan disain penelitian. “One-Group Pretest-Posttest Design”. Dalam disain ini dilakukan pembandingan anatara hasil pre-test dengan hasil post-test ujicoba pada kelompok yang diujicobakan. Secara visual, model ekperimen yang digunakan dapat dilihat pada gambar 3.1.

O1 X O2

Observasi/tes sebelum perlakuan

Perlakuan Observasi/tes

sesudah perlakuan

(36)

Ekperimen terhadap kelompok sasaran pelaku ekonomi kreatif sebagai peserta belajar, dilaksanakan dengan menggunakan tiga tahapan berikut.

1) Perencanaan dan persiapan

Pada tahap ini dilakukan review atas hasil studi pendahuluan. Rambu-rambu pertanyaan dalam review antara lain apa yang harus dilakukan, tentang apa, siapa melakukan apa, dimana, kapan, dan bagaimana kegiatan itu dilakukan. Pada tahap ini peneliti bekerjasama dengan nara sumber dan peserta belajar. Kegiatan pada tahap ini menghasilkan: (a) gambaran yang jelas tentang model pembelajaran, (b) garis besar jadwal kegiatan pembelajaran dalam pelatihan, (c) rencana pihak-pihak yang akan dilibatkan dalam pengembangan model, (d) cara-cara yang akan digunakan dalam memonitor perubahan-perubahan yang terjadi selama pelaksanaan ekperimen, dan (e) gambaran awal tentang kejelasan data yang akan dikumpulkan.

2) Pelaksanaan dan observasi

(37)

(38)

3) Evaluasi

(39)

purposif. Tenaga pelatih teknis berasal dari Balatkop dan UMKM ditambah beberapa tenaga pelatih non teknis dari beberapa lembaga terkait.

Keseluruhan langkah atau prosedur yang ditempuh dalam pelaksanaan penelitian dan pengembangan model pembelajaran ekspresif tersebut, dapat dilihat dalam bentuk alur pada gambar 3.2.

(40)

C. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah pelaku ekonomi kreatif bidang fashion dan kerajinan yang menjadi peserta pelatihan pada Pelatihan bagi Pengusaha Kecil dan Menengah di Balai Pelatihan Tenaga Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Balatkop dan UMKM) Provinsi Jawa Barat. Penelitian menggunakan model eksperimen pretest-postest satu kelompok (one group pretest-posttest design) dengan satu macam perlakuan. Dengan desain ini kelompok subjek diukur, kemudian diberi perlakuan pembelajaran ekspresif, lalu diukur kembali. Jumlah peserta yang terpilih untuk mengikuti pelatihan dan sesuai persyaratan sebagai pelaku ekonomi kreatif adalah sebanyak 12 orang, dari 40 orang yang mengikuti pelatihan pada Balatkop dan UMKM Provinsi Jawa Barat.

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah berupa pengamatan partisipatif, studi dokumentasi, dan wawancara. Teknik penilaian digunakan dengan memberikan penilaian awal sebelum pembelajaran dan sesudah kegiatan pembelajaran secara keseluruhan.

(41)

sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus; (3) tiap situasi merupakan suatu keseluruhan; (4) suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata-mata; (5) peneliti sebagai instrument dapat segera menganalisis data yang diperoleh; (6) hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan data yang dikumpulkan pada suatu saat dan segera menggunakannya sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan atau penolakan; dan (7) manusia sebagai instrumen, respon yang aneh, dan menyimpang justru diberi perhatian.

1. Observasi Partisipatif

Dalam penelitian sosial dan penelitian pendidikan, observasi sangat lazim digunakan untuk memperoleh data atau informasi mengenai perilaku individu atau interaksi dalam kelompok. Kegiatan observasi ditekankan untuk membuat makna atas peristiwa atau kejadian dari situasi yang tampak dan memungkinkan untuk direfleksikan.

(42)

Dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi pada tingkatan partisipasi moderat. Dengan ini peneliti melakukan observasi mulai dari berperan sebagai penonton, sampai dengan sewaktu-waktu dapat dapat turut serta dalam situasi kegiatan yang sedang berlangsung. Observasi dilakukan selama penelitian berlangsung untuk mencermati beragam fenomena sejak tahap studi orientasi suasana lingkungan penelitian, implementasi, sampai evaluasi hasil. Observasi partisipan juga dilakukan terutama pada saat studi pendahuluan (eksplorasi) dan selama proses uji coba berlangsung, dan yang diobservasi adalah mekanisme yang telah ditetapkan dalam prosedur sistem implementasi.

Pada tahap pendahuluan observasi dilakukan untuk pengenalan dan pengumpulan informasi tentang aktivitas pembelajaran dalam pelatihan untuk pelaku ekonomi kreatif. Pada tahap pengembangan model, melalui observasi peneliti memperhatikan dengan cermat terutama sikap, perilaku, dan gerakan ekspresi diri seperti melalui pernyataan, pembicaraan, roman muka, gerak-gerik, dan interpretasi terhadap situasi dan interaksi sosial pelaku ekonomi kreatif. Untuk melengkapi hasil kuesioner dan hasil tes, melalui observasi ini peneliti mengungkap feneomena yang ditunjukkan pelaku ekonomi kreatif tentang: (a) konsistensi dalam memelihara nilai-nilai dan semangat pribadi, prinsip bisnis, dan dalam menegakkan visi usaha; dan (b) konsistensi dalam merancang dan menjalankan usaha, berani mengambil risiko, pantang menyerah, dan belajar dari kesalahan.

(43)

2. Wawancara

Tidak semua hal dapat diungkap melalui observasi. Hal-hal tersebut misalnya gejala-gejala yang bersifat sangat pribadi, perbuatan-perbuatan atau peristiwa-peristiwa masa lalu, dan rencana-rencana kegiatan di masa depan. Untuk memperoleh data seperti itu antara lain digunakan wawancara. Sebagai teknik pengumpulan data melalui tanya-jawab sepihak, wawancara dilakukan secara sistematis dan berdasarkan tujuan penelitian. Wawancara ini dimaksudkan untuk merekonstruksi mengenai kejadian atau situasi psikologis maupun sosial yang dialami pelaku ekonomi kreatif.

Dalam penelitian naturalistik wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang sangat penting. Teknik ini bukan saja sebagai teknik penngumpulan data yang berdiri sendiri, melainkan juga sebagai teknik penyerta pada saat melakukan observasi dan analisis dokumen (Bogdan dan Biklen, 1982). Terkait dengan ini pula, dalam pengggunaan teknik wawancara, dalam penelitian naturalistik peneliti harus berusaha mengetahui bagaimana responden memandang persoalan atau situasi dari segi perspektifnya, menurut pemikiran dan perasaan, yakni informasi “emic” (Nasution, 1988:71).

(44)

Faktor-faktor yang diungkap oleh peneliti melalui wawancara ini adalah sebagaimana yang diungkap melalui, dan sekaligus untuk melengkapi data yang diperoleh dari, observasi dan hasil tes.

3. Studi Dokumentasi

Dokumentasi dimaksudkan pengumpulan data melalui dokumen-dokumen yang dianalisis atau dipelajari untuk memperoleh jawaaban yang memuaskan. Termasuk ke dalam teknik ini adalah penggunaan peralatan audiovisual yang dapat membantu untuk melihat gambaran yang nyata. Untuk menentukan bobot data dilakukan tealaah internal dari segi keaslian dan telaah eksternal dari segi kredibilitas terhadap dokumen-dokumen yang ada. Bahan-bahan dokumen yang dipelajari antara lain berupa dokumen resmi, foto, rekaman peristiwa/kegiatan, dan lainnya. Banyak hal yang dapat digali dari bahan-bahan tersebut. Dengan dianalisis secara cermat, dokumen-dokumen tersebut dapat menambah kelengkapan dan keutuhan informasi.

E. Analisis dan Penafsiran Data

Sesuai model analisis data kualitatif, langkah-langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(45)

2) Display data, yaitu pengorganisasian seperangkat hasil reduksi ke dalam suatu bentuk tertentu sehingga terlihat sosoknya secara lebih utuh. Hal ini dapat berbentuk sketsa, sinopsis, matriks, network, atau chart.

3) Pengambilan keputusan dan verifikasi, yaitu pemaparan kesimpulan yang diperoleh dari display data. Hal ini penting mengingat data tidak akan memiliki makna apapun tanpa diinterpretasi. Menginterpretasi berarti memberikan makna terhadap temuan dan hasil analisis, menjelaskan pola-pola urutan, dan mengungkapkan hubungan-hubungan antardimensi dari substansi yang diuraikan. 4) Triangulasi data, yaitu pengumpulan dan pemeriksaan kebenaran data yang

diperoleh dari pihak lain. Proses ini dimaksudkan untuk mencek kebenaran data dengan cara membandingkannya dengan data yang diperoleh dari sumber lain. Sebagai ilustrasi, hasil wawancara dengan pelaku ekonomi kretaif dibandingkan dengan informasi mengenai hal yang sama yang diperoleh dari nara sumber teknis pelatihan.

(46)

teknik saturasi (kecukupan data) dan triangulasi, dengan tujuan untuk menguji apakah model yang diajukan layak untuk di implementasikan dan untuk menjaga keobjektifan temuan. Untuk menjaga validitas, reliabilitas dan objektifitas temuan, dapat dilakukan melalui pengujian: empat kriteria, yakni; credibility, dependability, confirmability dan transferability.

(47)

kebenaran, kepercayaan proses dan hasil penelitian ini diupayakan tidak manipulatif dalam arti mengungkapkan yang sesungguhnya.

Kriteria dependabilitas dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diandalkan (reabilitas). Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan langkah kegiatan

penelitian dengan tetap mempertahankan secara konsisten teknik pengumpulan data, dan konsistensi penggunaan konsep, proposisi dan teori selama penelitian dilaksanakan termasuk pada tahap proses penafsiran dan penarikan kesimpulan.

Kriteria konfirmabilitas dari hasil penelitian ini merupakan upaya meningkatkan keyakinan akan data penelitian yang diperoleh. Oleh karena itu, dilakukan kegiatan diskusi dengan teman sejawat tentang temuan dan draft hasil penelitian. Disamping itu, melakukan audit trial ke berbagai pihak termasuk kepada promotor, melakukan kerja secara sistematis dan melakukan pemeriksaaan secara teliti setiap langkah penelitian.

(48)

untuk dibandingkan dengan penelitian lain yang sejenis.

Selanjutnya analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis statistik nonparametrik atau dengan menggunakan uji Wilcoxon Match Pairs Test (Siegel dalam Sugiyono, 2004: 44). Uji ini untuk mengetahui perbedaan antara sebelum dan sesudah diberikan pelatihan. Kedua nilai, yaitu sebelum dan sesudah pelatihan dibandingkan dan dianalisis. Temuan dari perbandingan dua sampel yang berhubungan, diartikan sebagai sebuah sampel subjek yang sama yaitu peserta sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan.

Penggunaan teknik statistik ini didasarkan atas pertimbangan : (1) sampel penelitian tidak berasal dari populasi yang diambil secara acak atau sampel penelitiannya diambil secara purposive, (2) sampel ujicoba relatif kecil, sehingga dengan menggunakan uji wilcoxon diharapkan dapat diketahui dampak dari pembelajaran terhadap pengetahuan, keterampilan, dan sikap dari peserta pelatihan, yang hasilnya akan ditemukan dalam pembahasan.

(49)

Berdasarkan seluruh uraian diatas, melalui rumusan hipotesis yang digunakan, diduga akan terdapat dampak positif yang signifikan dari kegiatan pembelajaran terhadap kemampuan peserta. Hipotesis yang digunakan dalam menganalisis pengujian efektifitas pembelajaran dilakukan dengan melihat pada aspek yang diuji terhadap peserta, yang rumusannya sebagai berikut,

Ho: Tidak terdapat perbedaan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran.

Ha: Terdapat perbedaan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran.

Hasil observasi sebelum perlakuan dan hasil observasi sesudah perlakuan dibandingkan untuk melihat perbedaan kedua nilai tersebut. Perbedaan dihitung menggunakan uji dengan rumus:

dimana :

T = Jumlah jenjang/ranking yang terkecil

Kriteria pengujian: Terima Ho bila harga jumlah jenjang yang terkecil T dari perhitungan lebih besar dari T tabel.

T − T

Z =

(50)

217

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan

Secara umum penelitian ini telah mencapai tujuannya, yakni menghasilkan model pembelajaran ekspresif (expressive learning) untuk meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif. Integritas usaha yang ditunjukkan oleh motivasi dan komitmen untuk berhasil; konsistensi dalam memelihara nilai-nilai dan semangat pribadi, prinsip bisnis, dan dalam menegakkan visi usaha; dan konsistensi dalam merancang dan menjalankan usaha, berani mengambil risiko, pantang menyerah, dan belajar dari kesalahan.

Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian, dikaitkan dengan hasil penelitian dan pembahasannya, maka secara garis besar dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut.

1. Bangunan konseptual model pembelajaran ekspresif (expressive learning) yang dikembangkan dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif mencakup komponen:-komponen rasionel, tujuan, ruang lingkup, tahapan model, produk model, dan kriteria keberhasilan pengembangan model. Kerjasama yang dilakukan dalam pengembangan model telah memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam menguatkan kelayakan model pembelajaran ekspresif (expressive learning). Dalam penyempurnaan model hipotetik kontribusi yang sangat berarti

(51)

pelatihan kewirausahaan pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Koperasi (Balatkop dan UMKM) Provinsi Jawa Barat. Pengembangan model pembelajaran ekspresif (expressive learning) juga mengupayakan pengkondisian bagi implementasi model di lapangan, yang mencakup sosialisasi prinsip-prinsip model, ajakan kepada fasilitator, dan pemberian motivasi kepada peserta program, agar mau dan mampu menerapkan model pembelajaran ekspresif (expressive learning) dengan sebaik-baiknya.

2. Model pembelajaran ekspresif (expressive learning) yang dikembangkan dapat diimplementasikan dalam meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif, dan telah teruji kelayakannya melalui teknik penilaian ahli dan uji lapangan. Dari hasil analisis kualitas model yang dilakukan secara sistemik, yang mengkaji dan mendiskusikan isi, keterkaitan, dan prinsip-prinsip pengembangan model, secara khusus dapat disimpulkan bahwa; model pembelajaran ekspresif yang dikembangkan telah menghasilkan hubungan yang tepat antar komponen model. memiliki isi yang tepat dan mudah diimplementasikan di lapangan.

(52)

langkah-langkah yang dikembangkan dalam model pembelajaran ekspresif (expressive learning); dapat menerapkan model sesuai dengan prinsip-prinsip dan prosedur yang dirancang; dan menunjukkan kesungguhan dan motivasi yang tinggi terhadap pengembangan model pembelajaran ekspresif. Secara nyata dapat dilihat adanya peningkatan integritas usaha peserta belajar (penguasaan materi) sesudah penerapan model pembelajaran ekspresif (expressive learning). Ini artinya bahwa penerapan model pembelajaran ekspresif mampu meningkatkan performa pelaku ekonomi kreatif dalam motivasi dan komitmen untuk berhasil; konsistensi dalam memelihara nilai-nilai dan semangat pribadi, prinsip bisnis, dan dalam menegakkan visi usaha; dan konsistensi dalam merancang dan menjalankan usaha, berani mengambil risiko, pantang menyerah, dan belajar dari kesalahan. 4. Model akhir model pembelajaran ekspresif (expressive learning) memiliki

(53)

B. Rekomendasi

Berkaitan dengan analisis data, temuan penelitian, dan teori-teori yang digunakan sebagai landasan penelitian, dengan ini dikemukakan rekomendasi untuk penerapan model temuan dan untuk penelitian lebih lanjut.

1. Rekomendai untuk Penerapan Model Temuan

Model pembelajaran ekspresif (expressive learning) terbukti efektif untuk meningkatkan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif karena melalui model pembelajaran ini pelaku ekonomi kreatif dapat secara optimal mengekspresikan keinginan dan kemampuannya merancang kegiatan peningkatan usaha kreatif yang ditekuninya. Hal ini membuktikan bahwa model pembelajaran ekspresif (expressive learning) yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan jiwa wirausaha, khususnya

(54)

serta perilaku tertentu. istem nilai, motivasi, dan sikap serta perilaku usaha dimaksud diposisikan sebagai dasar atau sumber bagi kegiatan ekspresif yang mengarah pada upaya peningkatan integritas usaha pelaku ekonomi kreatif. Oleh karena itu sebelum melakukan penerapan model, terlebih dahulu perlu diperhatikan beberapa prinsip dan karaketristik teknis penerapan model pembelajaran ekspresif sebagai berikut. 1) Fungsionalisasi kegiatan perencanaan pembelajaran yang dikembangkan perlu didukung oleh analisis keutuhan belajar bagi peningkatan jiwa kewirausahaan, seperti integritas usaha. 2) Tujuan, materi, dan metode serta teknik pembelajaran perlu perlu dipelajari secara seksama oleh fasilitator atau nara sumber, dan dikomunikasikan kepada peserta belajar agar dipahami dengan baik oleh mereka 3) Pelaksanaan pembelajaran memerlukan dukungan yang memadai dari aspek startegi pendekatan maunpun teknik bagi partisipasi dan ekspresi peserta belajar secara optimal. 4) Pelaksanaan pembelajaran ekspresif memerlukan pengupayaan atau adaptasi teknis, teutama dalam hal waktu yang cukup leluasa bagi pelaksanaan langkah-langkah pokok pembelajaran (pemilihan topik afirmatif, refleksi, imajinasi dan disasin, dan pengembangan semangat) serta peralatan yang mendukung kegiatan ekspresi. 5) Evaluasi pembelajaran diarahkan untuk mengukur peningkatan integritas usaha, atau jiwa kewirausahaan, dengan kriteria utama pada aspek sikap dan motivasi.

(55)

pencerahan, atau pengembangan model-model pembelajaran yang pada konteks pendidikan sekolah khususnya pada lembaga-lembaga pelatihan yang penyelenggara pelatihaan bagi peningkatan kompetensi kerja atau berusaha. Pemerintah, dalam hal ini Kemendiknas, Kemenaker, Kemenkop dan UMKM, dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya yang menyelenggarakan fungsi penidikan dan pelatihan usaha, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya hendaknya terus melakukan pembinaan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan luar sekolah, antara lain dengan menerapkan dan mengembangkan model pembelajaran ekspresif (expressive learning) dalam program-program pelatihan yang diselenggarakan.

(56)

dan (2) mengembangkan mdel pengelolaan pembelajaran atau pelatihan yang berorientasi penguasaan sikap dan perilaku usaha.

2. Rekomendasi untuk Peneliti Lain

(57)
(58)

225

DAFTAR PUSTAKA

Abdulhak, I. dan Kamil, M (eds). (2009). Penelitian Tindakan dalam Pendidikan Nonformal. Bandung: SPS-UPI

Adiprigandari, S.S.A., dan Halim, R.E. (2006). “Menggali Konsep ‘Social Entrepreneurship”. Galang; Jurnal Filantropi dan Msyarakat Madani. 1,(4), 5 - 21.

Adiwikarta, S. (1988). Sosiologi Pendidikan: Isyu dan Hipotesis Tentang Hubungan Pendidikan dengan Masyarakat. Jakarta : Depdikbud.

Admin

. (

2007)

.

Produk Kreatif Bakal Gantikan Era Informasi. East Java Business Portal, 16 Juli 2007.

Ahimsa-Putra, H.S. (2008). Budaya Masyaraakat Adat di Era Budaya Global

(Perspektif Ekonomi Kreatif).[Online]. Tersedia:

http://www.melayuonline.com

Ahmed, M. (1975). The Economics of Nonformal Education: Resources, Cost and Benefits. New York: Praeger Publishers, Inc.

Allan, J. (1991). Bagaimana Memngembangkan Keterampoilan Manjerial And. Penerjemah: Agus Maulana. Jakarta: Binarupa Aksara.

Amin, M.A.S. (2006). “Membangun Ekonomi Kerakyatan yang Beradab di Era Globalisasi”. Governance; Sinergi Masyarakat, Swasta, dan Pemerintah ang Berkeadilan, 2, (6), 65-76.

Apps, J.W. (1979). Problems in Continuing Education. New York: McGraw Hill, Inc.

Aryana, I. P. (2007). “Pengembangan Peta Pikiran untuk Peningkatan Kecakapan Berpikir Kreatif Siswa”. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran. 40, (3), 670-693.

Atmodiwirio, S. (2002). Manajemen Pelatihan. Jakarta: Ardadidzya Jaya.

(59)

Bogdan.C.R.dkk. (1975). An Introduction to Qualitative Method. New York: John Wiley.

Bogdan and Biklen . (1982). Qualitative Research for Education; An Introduction to Theory and Method. Boston: Allyn and Bacon Inc.

Bonta, J.. (1979). Architecture and its Interpretations. New York.Rizzoli. Borg. W.R & Gall, M., D. (1989). Educational Research: An Introduction. Fifth

Edition. New York: Longman.

Borong,R.P. (2007). “Pentingnya Pendidikan Nilai dalam Membangun Karakter Kehidupan Bangsa”. Jurnal Studi Pembangunan Interdisiplin (Journal of Interdiciplinary Development Studies). 19, (2), 67-74.

Botkin, J.W.Dkk. (1984). No Limits to Learning. Bridging The Gaps. Oxford Pergamon Press.

Brooks, W.D. (1974). Speech Communication. Wm.C.: Brown Company Publisher. Brooks, W.D. and P. Emmert. (1977). Interpersonal Communication. Wm.C.: Brown

Company.

Brouwer, M.A.W. (1983). Psikologi Fenomenologis. Jakarta: P.T.Gramedia. Clark, B. ((1998). Growing Up Gifted. Columbus OH: Merril.

Coleman , J.C. and Hammen,C.L. (1974). Contemporary Psychology and Effective Behavior. Glenview: Scott Foresman and Co.

Cooley, C.H. (1964). Human nature and the Social Order. New York: Scocken Book. Coombs, P. (1968). The World Educational Crisis, New York: Oxford University

Press.

Cooperrider, D.L. dan Whitney D. (2001). A positive revolution in change: appreciative inquiry, dalam Robert T. Golembiewski (ed.). The handbook of organizational behavior, second edition, New York: Marcel Decker. Tersedia: http://www.taosinstitute.net/manuscripts/revolutioninchange.doc Cowie, A.P. (eds). (1994). Oxford Advanced Learners Dictionary. New York: Oxford

(60)

Danandjaja, A, A. (1986). Sistem Nilai Manajer Indonesia; Tinjauan Kritis Berdasar Penelitian. Jakarta: PT.Pustaka Binaman Pressindo.

Dardiri, H.A. (1966). Humaniora, Filsafat, dan Logika. Jakarta: C.V. Rajawali. Departemen Perdagangan.RI (2008). Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia

2025; Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009 – 2015. Jakarta.

Desiderato, O. (1976). Investigating Behavior:Principle of Psychology. New York: Haper & Row Publisher

Dirfanudin. (2006). “Pengembangan Bakat Kreativitas Anak”. Jurnal Teknodik. 10, (19), 173-187.

Djunaid, A.(2008). Membangun Mental Pengusaha. Jakarta; Yayasan Bina Kreasi Usaha Mandiri.

Drucker, F..P. (1996). Inovasi dan Kewiraswastaan; Praktek dan Dasar-dasar. Alih Bahasa Rasjid Naib. Jakarta: Erlangga.

Edratna, W. (2007). Karakteristik Pewirausaha Sukses. Jakarta: Intermedia

Edwards, A.T. (1969). Tecniques of Attitude Scale Construction. Vaakills:Peters and Simons Private.

Evers,H.D. (2001). Teori Masyarakat: Proses Peradaban dalam Sistem Dunia Modern. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

England, G.W., Dingra,O.P., & Agarwal, N.C. (1974). The Manager and The Man: A Cross Cultural Study of Managerial Values. Ohio: Ken State University Press.

Ferraro, G.P. (1990). The Culture of Dimension of International Review. new Jersey: Prentice Hall.

Fisher, B.A. (1970). Perspective on Human Communication. New York: McMillan Publishing Co.

Flippo, E.B. (1976). Principles of Personnel Management. Tokyo: McGaw-Hill Kogakusha, Ltd.

(61)

Ghiselin, B. (2000). Proses Kreatif. Jakarta: Gunung Agung.

Gibb, A. (2007). “Mendidik Pengusaha Masa Depan”. Jurnal Reformasi Ekonomi”..8, (1), 77-88.

Gibson, J.L., Ivancevich J.M., dan Donnelly,J.M. (1997). Organisasi; Perilaku, Struktur, Proses. Penerjemah : Agus Dharma. Jakarta: Erlangga.

Goleman, D. (2006). Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. Goman, C.,K. (2003). Creativity in Business; Mengubah Gagasan Menjadi

Keuntungan. Penerjemah: Boni Fatius S. Jakarta: PPM.

Guilford, J.P. 1959. The nature of human intelligence, New York: Mcgraw-Hill. Halpern, D.. (2005). Social Capital. Cambridge: Polity Press

Hamijoyo, S.S. (1985).Menjawab Tantangan Revolusi Teknologi:Sistem Pendidikan Komunikaasi Terpaadu. Makalah dalam Seminar Komunikasi Sosial dan Masyarakat Pantai. Makasar:Universitas Hasanudidin.

Harbison, F. dan Meyers. (1964). Education, Main Power and Economic Growth. New York: Mac Graw-Hill Book Company.

Haryono, R. (1999). Kunci Mencapai Sukses. Jakarta: Putra Pelajar

Hendra, Y. & Deny R. (2008), Spiritual Entrepreneur, Bandung: MQS Publishing, KPAD Geger Kalong.

Hofstede, G.H. (1980). Culture s Consequences: International Differences in Work-Related Values. London: Soge Publication.

Hopsons, B. dkk. (1981). Life-Skills Teaching. New York: McGraw-Hill.

Hoxeng J. dkk. (1975). Nonformal Education in Equador; An Approach to Nonformal Education. Massachusetts: University of Massachusetts.

(62)

Jelantik, A.A.M. (1999). Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Jensen, E. (2008). Brain Based Learning. Penerjemah: Narulita Yusron. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Johnson, D.P. (1981). Sociological Theory: Classical Founders and Contemporary Perspectives. new York: John Wiley & Sons, Inc.

Kao, J.J. (1991). The Entrepreneur. New York: Jossey Prentice Hall Cliff. Kasmir.(2008). Kewirausahaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Khoo. A. dan Tan, S. (2007). Master Your Mind Design Your Destiny. Jakarta: PT Indeks.

Kiyosaki, R.T. (2006). The Cashflow Quadrant, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Kliene, J.B.dkk. (1982). Managing Small Business. Illinois: Richard R.Irvin.

Kolb. D.A. (1996). David A. Kolb On Experiential Learning, Online, Tersedia: http://www.infed.org/biblio/b-explrn.htm..

Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning. New Jersey.: Prentice-Hall.

Kurtako, D.F.dkk. (1989). Entrepreneurship: A Contemporary Approach. San Francisco: The Dryden Press.

Lari, S.M. (2003). Mencapai kebahagiaan Hidup . Bandung: Pustaka Hidayah

Larkin, J.M. (2000). “The Ability of Internal Auditor to Identify Ethical Dilemmas”. Journal Of Bisiness Ethics. 23, 401-409.

LeDoux, J. (1996). The Emotional Brain. New York: Simon ang Schuster.

Local Government Management Systems. (2006) Menyiapkan Kegiatan/Pelatihan Partisipatif; Referensi Fasilitator. Jakarta: USAID.

(63)

Maksum. A. dan Ruhendi, L.Y. (2004). Paradigma Pendidikan Universal di Era Modern dan Post-Modern; Mencari Visi Baru atas Realitas Baru Pendidikan Kita. Yogyakarta: IRCiSoD.

Maslow, A. (1959). Farther Reaches of Human Nature. USA: Viking Compuss. McFarland, D.E. (1982). Management and Society: An Intitutional Framework. New

Jersey: Prentice-Hall, Inc.

McGaugh. J.L.(1990). Imvolvement of The Amigdaloid Complex in Neuromodulatory Influences on Memory Storage. Neuroscience and Biobehavioral Riviews 14.4, 425-31.

McKinnon,D.W. (1962). The Nature and Nurture of Creative Talent. American Psychologist, 17 (7) .

MacLean, P. (1990). Triune Brain in Education. New York: Plenium Press.

McMillan, J.H. and Schumacher, S. (2001).Research in Education. New York: Addison Wesley Longman, Inc.

Mead, G.H. (1934). Mind, Self, and Society: from the Standpoint of A Social Behaviorist. Chicago: University of Chicago Press.

Miner, J.B. (1996). Organizational Behavior: Performance and Productivity. New York: Random House, Inc.

Mujiman, H. (1981). Effectiveness of Learning Modules and Peers Tutors in Students Learning. Surakarta: Project Pamong.

Mulyana, E. (2007). Model Tukar Belajar (Learning Exchange) dalam Perspektif Pendidikan Luar Sekolah. Bandung: Mutiara Ilmu.

Musrofi, M. (2008). Creative Manager Entrepreneur; 93 Teknik Kreatif Otak Kanan dan Otak Kiri. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Musselman, V.A. dkk. (2004). Introduction to Modern Business. New Jersey: Prentice-Hall.

Gambar

Gambar 3.1: One-Group Pretest-Posttest Design

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN BERSYUKUR DAN PERILAKU PROSOSIAL TERHADAP EFIKASI DIRI PADA PELAKU USAHA MIKRO,.. KECIL, DAN MENENGAH (UMKM)

mengadakan penelitian tentang “ Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah di Night Market Ngarsopuro oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil. Menengah (UMKM) Kota Surakarta

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap persepsi pelaku dan pengetahuan akuntansi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) atas penyusunan laporan

Untuk mengurangi resiko usaha gulung tikar, pelaku UMKM sebagai kategori usaha paling terdampak Covid-19 harus memperhatikan perubahan biaya yang terjadi selama

Sedangkan waktu berjualan dalam kegiatan “Peken Banyumasan” sekitar pukul 15.00- 19.00 WIB setiap dua pekan sekali, mengambil filosofi pasar kaget, yaitu pasar tradisional

Selain research gap, juga terjadi fenomena gap dari latar belakang masalah yang telah diuraikan. Fenomena gap adalah kesenjangan yang terjadi di antara teori dan fakta

Penelitian ini Berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Dalam Mengambil Keputusan Investasi Di Surabaya,yang Dimoderasi Oleh

Rangkaian Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat Uraian Kegiatan Bentuk Kegiatan Waktu Jam Teori Praktek Tugas Mandiri Pembukaan Kegiatan Pengabdian pada Masyarakat oleh