xii
B. Identifikasi Masalah Penelitian 12
C. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian 15
D. Tujuan Penelitian 16
E. Manfaat Penelitian 16
F. Asumsi Penelitian 17
BAB II KONSEP DASAR BIMBINGAN KELOMPOK BERDASARKAN PENDEKATAN PERKEMBANGAN, KARAKTERISTIK REMAJA, DAN PERNIKAHAN
19
A. Konsep Dasar Bimbingan 19
1. Latar Belakang Pentingnya Bimbingan dan Konseling 19
2. Pengertian Bimbingan dan Konseling 21
3. Tujuan Bimbingan dan Konseling 25
4. Fungsi Bimbingan dan Konseling 30
5. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling 33
6. Asas Bimbingan dan Konseling 35
7. Komponen Program Bimbingan dan Konseling 38 8. Pemetaan Tugas Konselor dalam Jalur Pendidikan Formal 49 9. Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik 51 10.Relevansi Tugas Perkembangan Remaja Pada Dimensi
Kesiapan Diri untuk Menikah dan Berkeluarga dengan Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling
55
11.Studi Terdahulu yang Relevan 59
B. Bimbingan Kelompok 64
C. Pendekatan Perkembangan 83
D. Karakteristik Remaja Siswa SMA 93
1. Pengertian dan Makna Remaja 93
2. Perkembangan Fisik, Emosi, Sosial, dan Intelektual Remaja
102
xiii
E. Konsep Dasar Pernikahan dan Berkeluarga 140
1. Romantika Pra Nikah 140
2. Ikhwal Pernikahan 152
3. Konsep Dasar Keluarga dan Tahapannya 162
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 166
A. Pendekatan dan Metode Penelitian 166
B. Definisi Operasional Variabel 168
1. Persiapan Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga 168 2. Faktor Penghambat Siswa Menghadapi Pernikahan dan
Berkeluarga
169
3. Model Bimbingan Perkembangan 169
C. Pengembangan Instrumen Pengumpul Data 171
1. Kisi–kisi Instrumen Pengumpul Data 171
2. Penimbangan Instrumen 173
3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen 173
D. Subjek Penelitian 182
E. Tahap-Tahap Penelitian 184
F. Teknik Analisis Data 188
BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 192
A. Temuan Penelitian 192
B. Pembahasan Temuan Penelitian 197
C. Validasi Rasional Model Bimbingan Kelompok Untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan Dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan Perkembangan
208
D. Hasil Uji Coba Lapangan Model Bimbingan Kelompok Untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan Dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan Perkembangan
212
1. Rangkuman Hasil Pengujian Data 212
2. Hasil Uji Coba Keefektifan Model 213
E. Pembahasan Hasil Uji Coba Keefektifan Model 219
F. Model Akhir yang Sudah Teruji 225
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 236
A. Kesimpulan 236
B. Rekomendasi 238
xiv LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I : Deksripsi Data Penelitian 247 Lampiran II : Model Bimbingan Kelompok Untuk Membantu
Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan Dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan
Perkembangan
378
Lampiran III : Pedoman Bimbingan Kelompok Untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan Dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan Perkembangan
390
Lampiran IV : Instrumen Penelitian 398
Lampiran V : Surat Keputusan Pembimbing Disertasi 406
xv
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
2.1 Tujuan Perkembangan Masa Remaja 113
2.2 Nilai-nilai Aqidah, Ibadah, dan Akhlakul Karimah 139 3.1 Kisi-kisi Instrumen Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan
Berkeluarga
171 3.2 Kisi-kisi Instrumen Pengungkap Faktor Penghambat Kesiapan
Siswa Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
172 3.3 Proses Penghitungan Uji Validitas Pernyataan Format A 176 3.4 Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi 178 3.5 Proses Penghitungan Uji Validitas Pernyataan Format B 180 3.6 Subjek Penelitian Pengembangan Model Bimbingan Kelompok
untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
183
3.7 Deskripsi Uji Model Bimbingan Perkembangan untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol
190
4.1 Profil Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga Secara Umum
193 4.2 Gambaran Aspek Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan
Berkeluarga Secara Umum
194 4.3 Gambaran Faktor-Faktor Penghambat Kesiapan Siswa
Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga Secara Keseluruhan
196 4.4 Rangkuman Hasil Pengujian Keefektifan Model Bimbingan
Kelompok untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Pernikahan dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan Perkembangan
212
4.5 Uji Normalitas Data Gain Kelas Eksperimen dan Kontrol 214 4.6 Uji Homogenitas Varias Data Gain Keseluruhan 214 4.7 Uji Homogenitas Varias Data Gain SMAN 4 Bandung 215 4.8 Uji Homogenitas Varias Data Gain SMAN 19 Bandung 215 4.9 Hasil Uji t Independen Gain Kelompok Eksperimen dan Kontrol 215 4.10 Hasil Uji t Independen Gain Per Aspek Kelompok Eksperimen
dan Kontrol
xvi
DAFTAR GRAFIK
Grafik Hal
4.1 Gambaran Profil Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga Secara Umum
193 4.2 Gambaran Aspek Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan
Berkeluarga Secara Umum
195 4.3 Gambaran Faktor-Faktor Penghambat Kesiapan Siswa
Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga Secara Keseluruhan
196 4.4 Perbandingan Hasil Gain Per Aspek Kelompok Eksperimen dan
Kontrol Secara Keseluruhan
217 4.5 Perbandingan Hasil Gain Per Aspek Kelompok Eksperimen dan
Kontrol SMAN 4 Bandung
218 4.6 Perbandingan Hasil Gain Per Aspek Kelompok Eksperimen dan
Kontrol SMAN 19 Bandung
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
2.1 Komponen Program Bimbingan dan Konseling 39 2.2 Perubahan Proporsi Tubuh Individu Mulai Usia 2 Bulan
sampai 25 Tahun
103
1 BAB I PENDAHULUAN
Pada Bab I dikemukakan latar belakang masalah, identifikasi masalah penelitian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan asumsi penelitian.
A. Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah masa yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian individu. Bagi sebagian orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun pengalaman itu.
dengan ketat karena dinilai belum siap menghadapi tantangan, sementara pada sisi yang lain remaja sedang berkeinginan kuat untuk mencari jati diri yang mandiri.
Pada masa remajalah terjadi perubahan-perubahan yang sangat berarti dalam segi fisiologis, emosional, sosial, dan intelektual. Stanley Hall (Hurlock, 1973: 113) menyebut masa remaja sebagai masa new birth dan storm and stress. Pada masa remaja akan ditemukan seorang yang seolah-olah baru terlahir karena banyaknya perubahan terutama pada segi fisik. Selanjutnya dikemukakan bahwa remaja dihadapkan pada tantangan-tantangan, kekangan-kekangan yang dapat membuat remaja merasa bingung. Lebih jauh lagi remaja tersebut digambarkan seperti orang yang tidak menentu, emosional, tidak stabil, dan sukar diramalkan.
Perubahan fisik pada remaja, terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembangnya emosi atau perasaan-perasaan dan dorongan-dorongan yang baru di mana sebelumnya tidak pernah di alami, seperti perasaan cinta, rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih intim dengan lawan jenis. Perasaan dan dorongan tersebut seringkali menjadi masalah besar yang membawa malapetaka bagi perkembangan remaja selanjutnya.
perkelahian, dan juga video porno yang dilakukan remaja serta penyimpangan perilaku seksual remaja sudah sangat mengkhawatirkan. Di Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 11 Desember 2008, halaman 3 diberitakan bahwa sekitar 62,7% remaja yang tercatat sebagai pelajar SMP dan SMA di Indonesia sudah tidak perawan lagi. Data tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2008 di 33 propinsi di Indonesia. Hal tersebut dikemukakan oleh Kepala Badan Koordinasi Keluarga Nasional (BKKBN), Sugiri Syarif, pada pembukaan Jambore Pusat Informasi dan Konsultasi (PIK) Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), dan Peringatan Hari AIDS Internasional tingkat Jawa Barat di Pancaniti, Kabupaten Cianjur, pada tanggal 10 Desember 2008. Dari hasil browsing Clara Istiwidarum Kriswanto, psikolog dari Jagadnita Consulting,
sebanyak 200 remaja putri melakukan seks bebas, setengahnya kedapatan hamil dan 90% dari jumlah itu melakukan aborsi.
dalam program KB Nasional, telah dilakukan. Misalnya, pencegahan HIV dengan promosi peningkatan pemakaian kondom dual proteksi, yaitu sebagai alat KB sekaligus berfungsi mencegah penularan infeksi menular seks, termasuk HIV-AIDS.
BKKBN juga menyiapkan jarum suntik sekali pakai yang digunakan untuk akseptor KB suntik sehingga mereka yang berjumlah 9 juta – 10 juta orang terhindar dari HIV. Selain itu, memberikan penyuluhan serta konsultasi kepada remaja dan generasi muda melalui berbagai forum di sekolah maupun di luar sekolah agar berperilaku positif, terhindar dari HIV-AIDS, narkoba, dan berperilaku seks bebas.
Hasil penelitian dan penelusuran Yayasan Priangan Jawa Barat di Bandung pada tahun 2004 menunjukkan tingginya kasus homoseksual terjadi di kalangan pelajar. Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 21% siswa SMP dan 35% siswa SMA disinyalir telah melakukan perbuatan homoseksual.
Penelitian lain dilakukan oleh Synovate Research tentang perilaku seksual remaja di empat kota besar, yaitu Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Medan. Survei ini mengambil 450 responden yang memiliki kisaran usia 15-24 tahun. Dari penelitian itu, Synovate mengemukakan bahwa sekitar 60% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan dan 35% sisanya dari film porno. Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja ini yang mendapatkan informasi seks dari orang tuanya. Selain itu, terungkap pula bahwa 44% responden mengaku sudah pernah memiliki pengalaman seks di usia 16-18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman itu didapat pada usia 13-15 tahun. (Ruspiyandy, 2008)
Hasil penelitian Pusat Studi Wanita Universitas Negeri Yogyakarta (PSW UNY) bekerjasama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan yang bertajuk “Persepsi Masyarakat tentang Fenomena Pornografi (Hubungan Seksual Pra Nikah)” di DIY menemukan adanya pergeseran moral masyarakat di Yogyakarta yang sangat memilukan. Dari 445 responden, terdapat 59,1% yang menganggap ciuman bahkan hubungan seksual pra nikah oke-oke saja. Alasan mereka enteng saja dan wajar jika seks bebas itu dilakukan asalkan atas dasar saling mencintai.
masih berusia 16 hingga 25 tahun. Kenyataan ini tentu saja sangat mengkhawatirkan, mengingat penyakit kelamin itu berpotensi menjadi ganas atau kanker. Data itu merupakan hasil survey terakhir yang dilakukan oleh Racmatdinata, Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung/ Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr. Hasan Sadikin Bandung. Menurut Rachmatdinata, penyakit ini merupakan salah satu dari penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). Penyakit ini sering disebut penyakit silent, karena penyakit ini tidak tampak tetapi ada.
made in Indonesia. Pornografi merupakan jaringan terorganisir dengan keuntungan 12,7 miliar dolar.
tempat kost (51,3%), di rumah (30%), di hotel (11,2%), di taman (2,5%), di tempat rekreasi (2,4%), di sekolah (1,3%), di mobil (0,4%), dan tidak diketahui (0,7%).
Konsekuensi dari permasalahan di atas akan menjadi bumerang bagi remaja itu sendiri di saat mereka akan menghadapi pernikahan dan berkeluarga. Setiap orang yang akan menikah menginginkan pasangan yang terbaik. Walaupun zaman sudah modern, laki-laki menghendaki calon istrinya masih suci. Demikian pula perempuan menghendaki laki-laki yang masih perjaka.
Data dari Pengadilan Agama Kota Bandung tahun 2009 menjelaskan bahwa selama tahun 2009 di Kota Bandung telah tercatat 18.977 pernikahan dan sebanyak 3.275 perceraian yang terdiri dari 10% berusia di bawah 20 tahun, 46% berusia 20-30 tahun, 35% berusia 30-40 tahun, dan 9% berusia di atas 40 tahun.
Kementrian Agama Republik Indonesia memberitakan pada tahun 2009 tercatat pernikahan sebanyak 2 juta, dan sekitar 10% diantaranya bercerai. Alasan perceraiannya antara lain karena faktor: a. ekonomi, b. perselingkuhan, c. usia muda, dan d. kekerasan dalam rumah tangga.
diri pada kegiatan belajar sebanyak 60% dan sisanya menyatakan bahwa saat ini untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis cukup dengan pacaran.
Ironisnya fakta di atas turut ditambah dengan iklim lingkungan kehidupan yang kurang sehat, seperti: maraknya tayangan pornografi di televisi dan DVD; penyalahgunaan alat kontrasepsi, minuman keras, dan obat-obat terlarang/narkoba yang tak terkontrol; ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga; dan dekadensi moral orang dewasa sangat mempengaruhi pola perilaku atau gaya hidup remaja yang cenderung menyimpang dari kaidah-kaidah moral (akhlak yang mulia), seperti: pelanggaran tata tertib sekolah/madrasah, tawuran, meminum minuman keras, menjadi pecandu narkoba atau NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya, seperti ganja, ekstasi, putau, dan sabu-sabu), kriminalitas, dan pergaulan bebas (free sex).
Upaya menangkal dan mencegah perilaku-perilaku yang tidak diharapkan seperti yang disebutkan, adalah dengan cara mengembangkan potensi remaja dan memfasilitasi mereka secara sistematik dan terprogram untuk mencapai standar kompetensi kemandirian. Upaya ini merupakan wilayah garapan bimbingan dan konseling yang harus dilakukan secara proaktif dan berbasis data tentang perkembangan remaja beserta berbagai faktor yang mempengaruhinya. Hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa 81% siswa yang menjadi responden membutuhkan layanan konseling individual untuk membantu mengatasi permasalahan mereka baik terkait dengan aspek akademik maupun non akademik. Dengan demikian, pendidikan yang bermutu, efektif atau ideal adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional atau kurikuler, dan bidang bimbingan dan konseling. Pendidikan yang hanya melaksanakan bidang administratif dan instruksional dengan mengabaikan bidang bimbingan dan konseling, hanya akan menghasilkan remaja yang pintar dan terampil alam aspek akademik, tetapi kurang memiliki kemampuan atau kematangan dalam aspek kepribadian.
dan konseling komprehensif didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah remaja. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai remaja, sehingga pendekatan ini disebut juga bimbingan dan konseling berbasis standar (standard based guidance and counseling). Standar dimaksud adalah standar kompetensi kemandirian peserta didik.
Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) meliputi beberapa aspek perkembangan yaitu landasan hidup religius, landasan perilaku etis, kematangan emosi, kesadaran tanggungjawab sosial, kesadaran gender, pengembangan pribadi, wawasan dan kesiapan karir, kematangan hubungan dengan teman sebaya, dan kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga (Depdiknas, 2007).
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Model bimbingan dan konseling perkembangan (Developmental Guidance and Counseling) ini memiliki empat komponen program yaitu: (1) layanan dasar
bimbingan, (2) layanan responsif, (3) layanan perencanaan individual, dan (4) dukungan sistem. Layanan dasar bimbingan merupakan kegiatan layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa mengembangkan perilaku efektif dan keterampilan hidup siswa. Perencanaan individual merupakan kegiatan layanan bimbingan yang bertujuan untuk membantu seluruh siswa membuat dan mengimplementasikan rencana-rencana pendidikan, karir, dan sosial pribadi siswa. Layanan responsif merupakan kegiatan layanan bimbingan yang bertujuan untuk memecahkan masalah atau memenuhi kebutuhan yang dirasakan sangat penting oleh siswa pada saat ini (Muro, J. J. dan Kottman, T., 1995). Dukungan sistem merupakan kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan. (Thomas Ellis, 1990 dalam Nurihsan, 1998).
Bimbingan perkembangan ini bersifat edukatif, pengembangan dan outreach. Edukatif karena titik berat layanan bimbingan ditekankan pada
intervensi, setting, metode, dan lama waktu layanan). Teknik bimbingan yang digunakan meliputi teknik-teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling (Muro, J. J. dan Kottman, T., 1995 : 5).
Berdasarkan studi pendahuluan di beberapa SMAN Kota Bandung, diketahui bahwa tugas-tugas perkembangan siswa belum sepenuhnya tercapai. Aspek tugas perkembangan yang menjadi kebutuhan prioritas layanan bimbingan konseling diantaranya mempersiapkan pernikahan dan berkeluarga.
Langkah-langkah bimbingan perkembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi kesiapan diri siswa dalam menghadapi pernikahan dan hidup berkeluarga; (2) mengeksplorasi berbagai permasalahan yang terkait dengan kesiapan diri siswa dalam menghadapi pernikahan dan berkeluarga; (3) mengintervensi perilaku konseli untuk mampu mempersiapkan diri dalam menghadapi pernikahan dan berkeluarga melalui pelayanan bimbingan kelompok; (4) melakukan evaluasi.
C. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang berkembang di atas, maka masalah utama yang diteliti adalah bagaimanakah mengembangkan model bimbingan kelompok yang efektif untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan?
Supaya lebih terfokus, maka pertanyaan dalam penelitian ini dijabarkan sebagai berikut ini:
1. Bagaimana tingkat kesiapan diri siswa SMA di Kota Bandung Tahun Ajaran 2009/ 2010 dalam menghadapi pernikahan dan berkeluarga? 2. Apa saja faktor penghambat ketidaksiapan siswa dalam menghadapi
pernikahan dan berkeluarga pada siswa SMA di Kota Bandung Tahun Ajaran 2009/ 2010?
D. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah menghasilkan suatu model bimbingan kelompok untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah menemukan hal-hal berikut: (1) tingkat kesiapan diri siswa SMA dalam menghadapi pernikahan dan berkeluarga; (2) faktor penghambat ketidaksiapan diri siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga; dan (3) keefektifan model bimbingan kelompok untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan.
E. Manfaat Penelitian
model produk penelitian ini dapat digunakan untuk penyelenggaraan layanan bimbingan perkembangan yang lebih terfokus pada aspek perkembangan kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga. Sedangkan bagi siswa SMA diharapkan lebih mandiri dan memiliki kesiapan serta bersikap positif terhadap nilai pernikahan dan berkeluarga.
F. Asumsi Penelitian
Penelitian tentang model bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga ini dilandasi asumsi-asumsi sebagai berikut:
1. Siswa Sekolah Menengah Atas pada umumnya berusia 15-18 tahun. Dalam rentang perkembangan individu berada pada fase remaja. Menurut Havighurst (1961) salah satu tugas perkembangan remaja adalah mempersiapkan diri untuk melakukan pernikahan dan berkeluarga.
2. Pelayanan bimbingan dan konseling perkembangan didasarkan kepada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi, dan pengentasan masalah-masalah konseli.
4. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi kemandirian peserta didik. Pada aspek perkembangan kesiapan diri untuk menikah dan berkeluarga pada tataran tujuan pengenalan untuk siswa SMA tercantum mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga. Pada tataran akomodasi tercantum menghargai norma-norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis. Pada tataran tindakan tercantum mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang pernikahan dan berkeluarga. 5. Pernikahan dan berkeluarga merupakan satu-satunya jalan yang halal
untuk hubungan manusia hidup bersama yang berjenis kelamin berbeda. 6. Model bimbingan kelompok melalui empat materi inti pelayanannya
166 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab III ini akan menguraikan pendekatan dan metode penelitian, definisi operasional variabel, pengembangan instrumen pengumpul data, subjek penelitian, tahap penelitian, dan teknik analisis.
A. Pendekatan dan Metode Penelitian
Terwujudnya model bimbingan kelompok berdasarkan pendekatan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga dengan pendekatan perkembangan merupakan tujuan akhir penelitian ini. Kerangka isi dan komponen model disusun berdasarkan kajian konsep, teori tentang persiapan menghadapi pernikahan dan berkeluarga, kajian konsep bimbingan perkembangan dan karakteristik perkembangan remaja, kajian hasil penelitian terdahulu yang relevan, analisis permasalahan persiapan menghadapi pernikahan dan berkeluarga, dan kajian empiris tentang kondisi aktual layanan bimbingan perkembangan di lapangan.
Sesuai dengan permasalahan yang diteliti, tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (research and development). Menurut Borg and Gall (2003: 271), dalam penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif secara terpadu dan saling mendukung yang dikenal dengan mixed method design sequence. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengkaji tingkat kesiapan
dengan melibatkan para guru BK dari SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 19 Kota Bandung, yaitu Ibu Dra. Rosdiana, Ibu Dra. Ati Rosmiati, Ibu Dra. Dewi Ramdhani, Ibu Dra. Chitta Istipadmini, Bapak Drs. Adang AI Susani, Ibu Heni Suhaeni, M. Pd., dan Bapak Nur Ali Maksum, S. Pd. Uji lapangan model dilakukan dengan desain pre-test dan post-test dengan metode quasi eksperimen untuk mendapatkan gambaran tentang efektivitas model bimbingan kelompok untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga.
B. Definisi Operasional Variabel
Berdasarkan identifikasi masalah, maka ada tiga variabel utama dari tema penelitian ini, yaitu persiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga, faktor penyebab ketidaksiapan siswa dan model bimbingan kelompok berdasarkan pendekatan perkembangan. Definisi operasional pengertian istilah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Persiapan Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
masyarakat yang harmonis, dan (c) mengekspresikan keinginannya untuk memperlajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga.
Dalam penelitian ini, persiapan menghadapi pernikahan dan berkeluarga didefinisikan sebagai kondisi kesiapan siswa dalam mengenal norma-norma pernikan dan berkeluarga, menghargai norma-norma pernikahan dan berkeluarga serta mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma-norma pernikahan dan berkeluarga.
2. Faktor Penghambat Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
Dalam penelitian ini, faktor penghambat kesiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga didefinisikan sebagai berbagai aspek yang menyebabkan terjadinya kondisi ketidaksiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga, yang meliputi (a) karakteristik siswa, yaitu penghargaan diri yang rendah, kurang motivasi dan apresiasi yang rendah; (b) faktor lingkungan sekolah, yaitu iklim sekolah yang negatif dan pengaruh teman sebaya yang negatif; (c) faktor lingkungan keluarga yaitu kurang keteladanan orang tua dan pola asuh yang salah; dan (d) lingkungan masyarakat yaitu gaya hidup, penghargaan terhadap norma dan budaya, serta pengaruh negatif budaya.
konsekuensi-konsekuensi dari tindakan, dan (d) aspirasi untuk mempresentasikan dunia nyata yang membutuhkan analisis.
Model bimbingan kelompok berdasarkan pendekatan perkembangan merupakan bimbingan yang dirancang dengan memfokuskan pada kebutuhan, kekuatan, minat, dan isu-isu yang berkaitan dengan tahapan perkembangan individu dan merupakan bagian penting dan integral dari keseluruhan program pendidikan. Bimbingan kelompok dengan pendekatan perkembangan didasarkan pada upaya pencapaian tugas perkembangan, pengembangan potensi dan pengentasan masalah-masalah konseli. Tugas-tugas perkembangan dirumuskan sebagai standar kompetensi yang harus dicapai konseli, sehingga model ini disebut juga bimbingan dan konseling yang berbasis standar (standard based guidance and counseling). Dalam pelaksanaannya, model ini menekankan
kolaborasi antara konselor dengan para personal sekolah lainnya (kepala sekolah, guru, dan staf administrasi), orang tua konseli, dan pihak-pihak terkait lainnya (seperti instansi pemerintah/ swasta dan para ahli psikolog dan dokter). Program bimbingan perkembangan ini meliputi: (a) pelayanan dasar bimbingan, (b) pelayanan responsif, dan (c) dukungan sistem. Bimbingan kelompok berada pada strategi pelayanan dasar disamping pelayanan yang lainnya seperti bimbingan kelas, pelayanan orientasi, dan lain sebagainya.
perencanaan dan keputusan yang tepat dalam membangun kehidupan pernikahan dan berkeluarga.
C. Pengembangan Instrumen Pengumpul Data 1. Kisi-kisi Instrumen Pengumpul Data
Kisi-kisi instrumen pengumpul data yang dirancang dalam penelitian ini adalah dalam bentuk angket yaitu: (a) angket pengungkap kesiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga (Format A); dan (b) angket pengungkap faktor penghambat kesiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga (Format B). Bentuk skala yang dipergunakan untuk Format A adalah: (SS) Sangat Sering, (S) Sering, (K) Kadang-kadang, dan (TP) Tidak Pernah, adapun untuk format B skala yang digunakan adalah adalah YA dan TIDAK. Berikut disajikan kisi-kisi instrumen kesiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga serta faktor-faktor penghambatnya.
Tabel 3.1
Kisi-kisi Instrumen Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
masyarakat yang
Adapun kisi-kisi instrumen pengungkap faktor penghambat kesiapan siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga diuraikan pada tabel 3.2 berikut ini.
Tabel 3.2
Kisi-kisi Instrumen Pengungkap Faktor Penghambat Kesiapan Siswa Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
VARIABEL ASPEK INDIKATOR JUMLAH
Faktor
2. Penimbangan Instrumen
Penimbangan instrumen dilakukan untuk memperoleh item angket yang layak pakai, setiap item yang dikembangkan (sebanyak 30 pernyataan untuk Format A dan 40 pernyataan untuk Format B). Instrumen penelitian ditimbang oleh tiga orang penimbang untuk dikaji secara rasional dari segi isi dan redaksi pernyataan, serta ditelaah kesesuaian item dengan aspek-aspek yang akan diungkap. Ketiga penimbang tersebut adalah Bapak Dr. Suherman, M.Pd., Bapak Dr. M. Solehuddin, M.Pd., dan Bapak Dr. H. Mubiar Agustin, M.Pd. Ketiganya adalah pakar bimbingan dan konseling yang memiliki keahlian dan pengalaman yang memadai dan berkualifikasi doktor bimbingan dan konseling. Setiap penimbang memberikan koreksinya terhadap item yang menurut penimbang kurang layak, baik secara konstruk maupun kebahasaannya, dilakukan revisi seperlunya sesuai dengan saran-saran penimbang tersebut. Langkah berikutnya, sebelum dilakukan uji coba instrumen, dihadirkan siswa kelas dua SMAN sebanyak lima belas orang dengan lima orang guru BK SMAN 4 dan SMAN 19 Bandung untuk melakukan uji keterbacaan terhadap setiap butir item dalam instrumen. Setiap masukan yang diberikan dijadikan bahan untuk perbaikan dan pengembangan instrumen yang dikembangkan.
3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen a. Pengujian Validitas Instrumen Format A
{
}{
}
rXY = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y X = Item soal yang dicari validitasnya
Y = Skor total yang diperoleh sampel
Adapun langkah yang dilakukan pada proses berikutnya adalah : 1) Mencari nilai t hitung
2) Proses pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan didasarkan pada uji hipotesa dengan kriteria sebagai berikut:
a) Jika t hitung positif, dan t hitung > t tabel, maka butir soal valid b) Jika t hitung negatif, dan t hitung < t tabel, maka butir soal tidak
valid
Sebagai contoh akan dihitung uji validitas untuk item soal nomor 1 Format A. a) Mencari atau menghitung koefisien korelasi product moment (rXY) dan t
hitung dari masing-masing item. Untuk koefisien korelasi product moment item soal nomor 1 adalah 0,31 dan nilai t hitung untuk item
nomor 1 adalah 9,42
b) Langkah selanjutnya setelah diperoleh t hitung adalah menentukan t tabel dengan df = n – 2 = 857 – 2 = 855, dengan nilai df = 855 maka pada nilai alpha 95% nilai t tabel adalah t(0,95;855) = 1,65
c) Dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel diperoleh bahwa t hitung < t tabel yaitu 9,42 < 1,65 dan oleh karena itu maka butir item/ soal nomor 1 adalah valid.
Tabel 3.3
Proses Penghitungan Uji Validitas Pernyataan Format A
Soal r
b. Pengujian Reliabilitas Instrumen Format A
atau konsistensi tes. Reliabilitas tes berarti bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen yang dipercaya atau reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka berapakalipun diambil, tetap akan sama.
Dalam pengujian reliabilitas instrumen, penulis menggunakan bantuan perhitungan program Ms. Excel 2007 dengan rumus statistika Alpa dan tahapannya sebagai berikut:
Menghitung nilai reliabilitas atau r hitung (r11) dengan menggunakan rumus Alpa sebagai berikut:
r = Reliabilitas tes yang dicari
=
∑
2i
σ Jumlah varians skor tiap-tiap item
∑
2i = Varians total
Sedangkan rumus untuk mencari varians semua item adalah:
Setelah diuji validitas, maka langkah selanjutnya adalah menguji apakah butir soal tersebut reliabel, untuk mengetahuinya digunakan bantuan perhitungan program Ms Exel 2007 dan diperoleh sebagai berikut:
Varian Total (δt ) = 120,41 Reliabilitas = 0,88 (Sangat Kuat)
Sebagai titik tolak ukur koefisien reliabilitas, digunakan pedoman koefisien korelasi sebagai berikut:
Tabel 3.4
Pedoman untuk Memberikan Interpretasi Koefesien Korelasi
INTERVAL KOEFESIEN TINGKAT HUBUNGAN
0,00 – 0,199 c. Pengujian Validitas Instrumen Format B
Proses pengujian validitas instrumen Format B dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut ini :
1. Menghitung koefisien korelasi biserial (γpbi), dengan menggunakan rumus seperti berikut:
γpbi = Koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab ya bagi item yang dicari validitasnya
Mt = rerata skor total
p = proporsi sampel yang menjawab ya q = proporsi sampel yang menjawab tidak 2. Mencari nilai t hitung
Setelah mendapatkan r hitung, kemudian untuk menguji nilai signifikansi validitas butir soal tersebut, peneliti menggunakan uji t yaitu dengan mengunakan rumus berikut:
2 N
r 1
r t
2 hitung
− − =
Keterangan:
r = Nilai koefisien korelasi N = Jumlah sampel
(Sugiyono, 2006:278)
Setelah diperoleh nilai thitung maka, langkah selanjutnya adalah menentukan ttabel dengan df = n – 2 = 857 – 2 = 857 dengan nilai df = 857 dan pada nilai alpha sebesar 95% didapat nilai t(0,95;857) = 1,65
3. Proses pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan didasarkan pada uji hipotesa dengan kriteria sebagai berikut:
• Jika t hitung positif, dan t hitung ≥ t tabel, maka butir soal valid
Sebagai contoh akan dihitung uji validitas untuk item soal nomor 1 a. Mencari atau menghitung koefisien korelasi biserial (γpbi) dan t hitung
dari masing-masing item. Untuk koefisien korelasi biserial item soal nomor 1 diperoleh Mp =26,73, Mt = 25,95, St = 4,60, p = 0,84 dan q = 0,16 maka diperoleh rhitung = 0,39 dan nilai t hitung untuk item nomor 1 adalah 12,54
b. Langkah selanjutnya setelah diperoleh t hitung adalah menentukan t tabel dengan df = n – 2 = 857 – 2 = 855, dengan nilai df = 855 maka pada nilai alpha 95% nilai t tabel adalah t(0,95;855) = 1,65
c. Dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel diperoleh bahwa t hitung > t tabel yaitu 12,54 > 1,65 dan oleh karena itu butir item/soal nomor 1 adalah valid.
d. Untuk perhitungan validitas butir soal yang lainnya digunakan bantuan perhitungan program Ms Excel 2003 (terlampir) dan dari 40 pernyataan diperoleh bahwa semua data adalah valid.
Tabel 3.5
Proses Penghitungan Uji Validitas Pernyataan Format B
13 174 28.70 25.95 4.60 0.20 0.80 0.30 9.28 1.65 Valid
d. Pengujian Reliabilitas Instrumen Format B
Dalam pengujian reliabilitas instrumen, digunakan bantuan perhitungan program Ms. Excel 2007 dengan rumus statistika K–R. 20 yaitu sebagai berikut:
r = Reliabilitas tes secara keseluruhan
p = Proporsi subjek yang menjawab item dengan ya q = Proporsi subjek yang menjawab item dengan tidak
Σ pq = Jumlah hasil perkalian antara p dan q N = Banyaknya item
S = Standar deviasi dari tes
(Arikunto , 2002:100) Setelah diketahui butir item yang valid maka langkah selanjutnya adalah menguji apakah item tersebut reliabel atau tidak, untuk mengetahuinya peneliti menggunakan bantuan perhitungan program Ms. Excel 2007 dan diperoleh sebagai berikut:
n = 857 S = 4,605 Σ pq = 6,271
2
11 2
40 4, 605 6, 271
40 1 4, 605
r = −
−
= 0,722 (kuat)
D. Subjek Penelitian
Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga. Proses pengembangan model terdiri dari empat tahap dengan subjek penelitian yang beragam. Pada studi pendahuluan, subjek adalah siswa kelas II SMA Negeri se Kota Bandung yaitu SMAN 2 Bandung, SMAN 4 Bandung, SMAN 6 Bandung, SMAN 15 Bandung, SMAN 16 Bandung, SMAN 18 Bandung dan SMAN 19 Bandung berjumlah 857 siswa yang ditentukan secara random melalui teknik two stage random sampling (Fraenkel, J. R. & Wallen, N. E., 1993).
Hafid, M. Pd. dan Dr. Ipah Saripah, M. Pd. Sedangkan pada tahap uji coba model, subjek penelitian adalah siswa kelas II SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 19 Kota Bandung berjumlah 60 siswa yang ditentukan secara purposive, yaitu yang capaian skor persiapan dirinya rendah dan sedang untuk menghadapi pernikahan dan berkeluarga. Pada masing-masing sekolah dibentuk kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan jumlah setiap kelompok sebanyak 15 orang siswa. Pertimbangan menentukan jumlah ini adalah berdasarkan perspektif bimbingan kelompok bahwa jumlah anggota kelompok yang efektif adalah 8-15 orang (Winkel, W. S., 1997; Natawidjaja, R., 1987).
Secara lebih rinci, subjek penelitian ini disajikan pada tabel 3.6 berikut. Tabel 3.6
Subjek Penelitian Pengembangan Model Bimbingan Kelompok untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri untuk Menghadapi Pernikahan dan
Berkeluarga 2. Studi Pendahuluan Siswa Kelas II:
f. SMAN 19 Bandung 157 857 3. Uji Coba Model Siswa Kelas II:
a. SMAN 4 Bandung
1. Kelompok Eskperimen 2. Kelompok Kontrol b. SMAN 19 Bandung
1. Kelompok Eskperimen 2. Kelompok Kontrol
15 15
15 15
3. Uji Rasional Model Pakar Bimbingan dan Konseling 2
E. Tahap-Tahap Penelitian
Sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, penelitian ini dilaksanakan dalam sembilan tahap kegiatan, yaitu: tahap 1 persiapan, tahap 2 merancang model hipotetik, tahap 3 uji kelayakan model hipotetik, tahap 4 perbaikan model hipotetik, tahap 5 uji coba terbatas, tahap 6 revisi hasil uji coba terbatas, tahap 7 uji lapangan model, tahap 8 merancang model akhir, dan tahap 9 diseminasi model. Rancangan kegiatan setiap tahap adalah sebagai berikut.
Tahap Pertama : Persiapan Pengembangan Model
Kegiatan penelitian pada tahap ini meliputi : a. Kajian konseptual dan analisis penelitian terdahulu.
b. Survey lapangan untuk memperoleh informasi kondisi objektif kesiapan diri siswa untuk menghadapi pernikahan dan berkeluarga.
mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan.
d. Mengkaji pendekatan dan strategi bimbingan dan konseling dalam menerapkan model.
Tahap Kedua : Merancang Model Hipotetik
Berdasarkan kajian teoretik, hasil-hasil penelitian terdahulu, hasil studi pendahuluan, berikutnya disusun Model Hipotetik Bimbingan Kelompok untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan Perkembangan.
Tahap Ketiga : Uji Kelayakan Model
Uji kelayakan model dilakukan untuk mendapatkan Model Bimbingan Kelompok untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga Berdasarkan Pendekatan Perkembangan yang memiliki keterandalan ini dilakukan kegiatan berupa :
a. Uji rasional model dengan mengidentifikasi masukan-masukan konseptual dari para pakar konseling.
b. Uji keterbacaan model, melibatkan siswa pada beberapa SMA Negeri di Kota Bandung dan Guru BK.
membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga.
d. Analisis kompetensi konselor yang diperlukan untuk menerapkan model. Tahap Keempat : Revisi Model Hipotetik
Berdasarkan hasil uji kelayakan model, kegiatan berikutnya adalah : a. Mengevaluasi dan menginventarisasi hasil uji kelayakan model. b. Memperbaiki redaksi dan isi model hipotetik.
c. Tersusun model hipotetik yang sudah direvisi. Tahap Kelima : Uji Coba Terbatas
Uji coba terbatas dilaksanakan untuk mendapatkan masukan kritis dari siswa sebagai subjek dalam membantu mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga. Kegiatan dalam hahap ini meliputi :
a. Menyusun rencana dan teknis uji coba terbatas. b. Menyiapkan konselor dan fasilitator.
c. Membagi siswa dalam dua kelompok kecil, masing-masing 15 orang, d. Melaksanakan uji coba terbatas.
e. Diskusi dan refleksi sebagai masukan untuk perbaikan model. Tahap Keenam : Revisi Hasil Uji Coba Terbatas
Tahap Ketujuh : Pengujian Lapangan
Pada tahap ini dilaksanakan uji lapangan model bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga, meliputi :
a. Menyusun rencana kegiatan uji lapangan. b. Melaksanakan uji lapangan.
c. Mendeskripsikan hasil pelaksanaan uji lapangan. Tahap Kedelapan : Merancang Model Akhir
Kegiatan penelitian pada tahap ini meliputi :
a. Mengevaluasi dan menganalisis hasil pengujian lapangan.
b. Merevisi dan merumuskan kembali model bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan hasil pengujian lapangan.
c. Tersusun model akhir yang dikemas dalam pedoman bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga.
Tahap Kesembilan : Diseminasi Model
Kegiatan pada tahap ini adalah mempublikasikan model pada khalayak profesi melalui forum ilmiah.
Gambar 3.1
Alur Proses Pengembangan Model
F. Teknik Analisis Data
1. Analisis Kelayakan Model Bimbingan Perkembangan Untuk Membantu
Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
Dimensi-dimensi Model Hipotetik bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga yang dianalisis yaitu : rumusan judul, penggunaan istilah, sistematika model, rumusan rasional model, rumusan tujuan model, rumusan asumsi model, rumusan komponen model, rumusan kompetensi konselor, kesesuaian antar komponen model, struktur intervensi, garis besar sesi intervensi 1- 6, teknik evaluasi dan
Berikut teknik yang digunakan dalam menganalisis kelayakan model, yaitu :
a. Uji rasional model melibatkan pakar bimbingan.
b. Uji keterbacaan (readability) model melibatkan siswa dan guru BK.
c. Uji kepraktisan (usebility) model bimbingan perkembangan untuk membantu siswa mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan berkeluarga dilakukan dalam diskusi terfokus, membahas :
1) Kontribusi model terhadap pencapaian tujuan pendidikan dan tujuan bimbingan dan konseling.
2) Peluang keterlaksanaan penerapan model. 3) Kesesuaian model dengan kebutuhan siswa. 4) Kemampuan konselor untuk menerapkan model. 5) Pemahaman pengelola model.
6) Keterjalinan kerja sama.
Diskusi terfokus untuk menganalisis kepraktisan model melibatkan guru BK dan siswa SMA Negeri Kota Bandung.
2. Analisis Efektivitas Model Bimbingan Kelompok untuk Membantu Siswa
Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
Berdasarkan Pendekatan Perkembangan
menghadapi pernikahan dan berkeluarga sebelum dan setelah mengikuti bimbingan dalam pengujian lapangan model.
Kelompok kontrol dan eksperimen adalah 60 siswa kelas II SMA Negeri 4 dan SMA Negeri 19 di Kota Bandung. Pengujian efektivitas model menggunakan disain kuasi eksperimen.
Tabel 3.7
Deskripsi Uji Model Bimbingan Kelompok untuk Membantu Siswa Mempersiapkan Diri Menghadapi Pernikahan dan Berkeluarga
Berdasarkan Pendekatan Perkembangan Pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Kelompok Prates Perlakuan Postes
Eksperimen O X O
Kontrol O - O
Selanjutnya, untuk membuktikan hipotesis penelitian berupa pengujian efektivitas model digunakan teknik uji beda rata-rata (t-test). Teknik analisis data statistik yang digunakan adalah statistika nonparametrik. Statistika nonparametrik adalah prosedur pengujian hipotesis yang normalitas distribusi tidak terpenuhi atau sering disebut dengan metode bebas distribusi (Furqon, 2004:235). Subyek penelitian (15 orang) ini tidak besar atau kurang dari 30 orang, maka teknik statistika non-parametrik menjadi alasan digunakan untuk analisis data.
setiap pasangan, dan (b) membuat range perbedaan di dalam urutan dengan memberikan harga absolutnya. Selanjutnya Furqon mengartikan lebih rinci lagi bahwa uji ini dapat membuat penilaian tentang “lebih besar dari” antara dua penampilan pada setiap pasangan, juga dapat membuat penilaian antara dua skor yang berbeda yang timbul dari setiap dua pasangan, dan dapat membuat penilaian antara dua skor yang berbeda yang timbul dari setiap dua pasangan dengan memberikan urutan range. Analisis data secara keseluruhan dilakukan menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS 14.0 for Windows.
236 BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Pada Bab V memuat kesimpulan dan rekomendasi A. Kesimpulan
Kesimpulan temuan penelitian proses pengembangan model bimbingan kelompok untuk membantu siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan dipaparkan sebagai berikut ini.
1. Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMAN kota Bandung memiliki kesiapan untuk menikah dan berkeluarga dengan kategori rendah dan sedang. Mereka merasa enggan membicarakan masalah menikah dan berkeluarga, karena belum memikirkan masalah tersebut yang dinilai masih jauh untuk dilakukan.
3. Temuan penelitian menunjukkan bahwa upaya siswa yang paling sering dilakukan dalam mengatasi faktor penghambat kesiapan untuk menikah dan berkeluarga dengan cara ”curhat” kepada teman atau jalan-jalan ke mall. 4. Temuan penelitian menunjukkan bahwa ada tiga aspek kesiapan siswa
menghadapi pernikahan dan berkeluarga yang perlu diperhatikan yaitu, pengenalan: mengenal norma-norma pernikahan dan berkeluarga; akomodasi:
menghargai norma-norma pernikahan dan berkeluarga sebagai landasan bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis; dan tindakan: mengekspresikan keinginannya untuk mempelajari lebih intensif tentang norma pernikahan dan berkeluarga.
B. Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan penelitian, rekomendasi utama studi ini adalah model bimbingan kelompok untuk membantu siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan. Rekomendasi ditujukan kepada berbagai pihak terkait sebagai berikut:
1. Konselor sekolah
Model bimbingan kelompok untuk membantu siswa menghadapi pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan di SMA Negeri Kota Bandung dapat digunakan sebagai model alternatif untuk pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Dalam implementasinya dapat bekerjasama dengan pihak-pihak yang terkait, misalnya dengan Mitra Citra Remaja (MCR) yang dikelola Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Pengadilan Agama, Kantor Urusan Agama, Aliansi Selamatkan Anak Indonesia, pakar bimbingan dan konseling keluarga, penasehat pernikahan, dokter ahli kandungan, dokter kulit dan kelamin, dan tokoh masyarakat. 2. Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Mengingat pentingnya pernikahan dan berkeluarga dalam menentukan kualitas kebahagiaan individu dan pembekalan kepada para calon konselor untuk menangani permasalahan pernikahan dan berkeluarga, maka kajian tentang materi tersebut perlu ditambah jumlah jam SKSnya.
3. Unit Pelaksana Teknis Layanan Bimbingan dan Konseling UPI
pernikahan dan berkeluarga berdasarkan pendekatan perkembangan kepada para konselor sekolah.
4. Peneliti selanjutnya
240
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur'an dan Terjemahnya, (1413 H). Medinah Munawwarah: Mujamma' Khadim Al Haramain asy Syarifain.
Alam, A. S. (2005). Usia Ideal Memasuki Dunia Perkawinan. Jakarta: Kencana Mas Publishing House.
Akbar, A. (1995) Merawat Cinta Kasih. Jakarta: Pustaka Antara.
Ali, M. dan Asrori, M. (2005). Perkembangan Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Ambron, S. R. (1981). Child Development. New York: Holt Rinehart & Winston.Amini, I. (1996). Bimbingan Islam untuk Kehidupan Suami Istri. Bandung: Al-Bayan.
Arikunto, S. (2002). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Ashriyah, I. (2009). Single Female. Bandung: ZIP Books.
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). (2005). Standar Kompetensi Konselor Indonesia
Ayyub, S. H. (2008). Fikih Keluarga: Panduan Membangun Keluarga Sakinah sesuai Syariat. Jakarta: Pustaka Kautsar.
Blocher, D. H. (1974). Developmental Counseling. New York: John Wiley &
Chaplin, J.P. (1979). Dictionary of Psychology. New York: Dell Publishing Co., Inc.
Cobia, D. C. dan Henderson, D. A. (2003). Handbook of School Counseling. New Jersey: Merrill Prentice Hall.
Creswell, W. J. (1994). Research Design: Qualitative & Quantitative Approach. London: SAGE Publications.
Delworth, U. & Hanson, G.R. Editor. (1978). New Direction for Student Services. Wiley Periodicals, Inc, A. Wiley Company.
Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan.
Faisal, S. (1990). Penelitian Kualitatif. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh. Fraenkel, J.R & Wallen, N.E. (1993). How to Design and Evaluate Research in
Education. New York: McGraw-Hill Inc.
Furqon. (2004). Statistika Terapan untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Gladding, S. T. (1995). Group Work: A Counseling Speciality. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.
Gunarsa, Y. dan Singgih, D. (1982). Psikologi untuk Keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung. (2010). 97 Persen Anak Usia 12-18 Tahun Sudah Melihat Film Porno. 24 Juni 2008. Halaman 18.
Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung. (2009). Usia Rata-rata PSK 16-17 Tahun. 26 Mei 2009. Halaman 18.
Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung. (2008). 62,7 Persen Siswi SMP dan SMA Tidak Perawan. 11 Desember 2008. Halaman 3.
Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung. (2008). 47 Persen Remaja Di Kota Bandung Mengaku Melakukan Hubungan Seks Pranikah. 7 Desember 2008. Halaman 18.
Hawari, D. (2006). Marriage Counseling (Konsultasi Perkawinan). Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Hawari, D. (1997). Al-Quran, Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Jiwa. Yogyakarta: Dana Bhakti Primayasa.
Havighurst, R. J. (1961). Human Development and Education. New York: David McKay.
Havighurst, R.J. (1953). Developmental Task and Education, New York: David McKay.
Hurlock, E.B. (1986). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Alih Bahasa oleh Istiwidayanti, Jakarta: Erlangga.
Hurlock, E. B. (1973). Adolescence Development. New York: McGraw-Hill Book Company.
Imtichanah, L. (2007). Pranikah Handbook. Bandung: Karya Kita.
Jalal, F dan Supriadi, D (Ed.). (2001). Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonom Daerah. Yogyakarta: Kerjasama DEPDIKNAS - BAPPENAS - ADICITA KARYANUSA.
Kartadinata, S. (2009). Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Makalah dalam Seminar dan Workshop Penyelenggaraan Bimbingan Konseling untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah Menengah. Bandung, 24-25 Maret 2009
Kartadinata, S. (2003). Kebijakan, Arah, dan Strategi Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Makalah Utama dalam Konvensi Nasional XIII Bimbingan dan Konseling di Bandung.
Kartadinata, S. (2003). Bimbingan dan Konseling Perkembangan: Pendekatan Alternatif Bagi Perbaikan Mutu dan Sistem Manajemen Layanan Bimbingan dan Konseling Sekolah. Jurnal Bimbingan dan Konseling Volume VI. No. 11 Mei 2003. Diterbitkan oleh ABKIN
Kartadinata, S. (2002). Pengembangan Perangkat Lunak Analisis Tugas Perkembangan Siswa dalam Upaya Peningkatan Mutu Layanan dan Manajemen Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Laporan Riset Unggulan Terpadu VIII. 2. FIP UPI
Makmun, A. S. (1994). Psikologi Kependidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Myricle, R.D. dan Witmer, J. (1972). School Counseling: Problems and Methods. California: Goodyear Publishing.
Myrick, R. D. (2003). Developmental Guidance and Counseling: A Practical Approach. Minneapolis, MN: Educational Media Corporation.
Manan, B. (2010). Hukum Materil Perkawinan di Lingkungan Peradilan Agama. Makalah dalam Seminar Nasional Hukum Materil Peradilan Agama antara Cita, Realitas, dan Harapan, Jakarta, 19 Februari 2010.
Moleong, J.L. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muchsin (2010). Aspek Pelanggaran Pidana dalam RUU Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan. Makalah dalam Seminar Nasional Hukum Materil Peradilan Agama antara Cita, Realitas, dan Harapan, Jakarta, 19 Februari 2010.
Muro, J. J. & Kottman, T. (1995). Guidance and Counseling in Elementary School and Middle School. Iowa: Brown and Benchmark Publisher.
Nasution, S. (1988). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Nasution, S. (1983). Sosiologi Pendidikan. Bandung: Jemmars.
Natawidjaja, R. (2009). Konseling Kelompok: Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi Press.
Natawidjaja, R. (1987). Pendekatan-pendekatan dalam Penyuluhan Kelompok I. Bandung: C.V. Diponegoro.
Natawidjaja, R. (1997). Konsep Dasar Penelitian. DEPDIKBUD IKIP Bandung. Nichols, Michael P. (2001). Family Therapy: Concepts and Methods. Boston:
Allyn & Bacon.
Nurdin, S. (1998). Kado Pernikahan Buat Generasiku. Bandung: Ash-Shiddiq Press. Penerbit Era Reformasi.
Nurihsan, J. dan Sudianto, A. (2003). Manajemen Bimbingan dan Konseling di SMA. Jakarta: Gramedia.
Nurihsan, J (2002). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Mutiara. Nurihsan, J. (1998). Bimbingan Komprehensif: Model Bimbingan dan Konseling
di Sekolah Menengah Umum. Disertasi. Program Pascasarjana IKIP Bandung.
Onedera, J. D. (Ed) (2008) The Rule of Religion in Marriage and Family Counseling. New York: Routledge Taylor and Francis Group.
Pearlin, L. I. dan Johnson, J. S. (1977). Marital Status, Life-strains, and Depression. American. Sociological Review (42): 704: 715.
Pikunas, J. (1976). Human Development: An Emergence Science. New York: McGraw-Hill Book.
Placebo, Majalah Kesehatan. Nomor 05. Edisi Februari 2009.
Prayitno. (2004). Anakku Penyejuk Hatiku. Bekasi: Pustaka Tarbiyatuna. Rachmat, J. (1986). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Karya CY.
Ruspyandy, D. (2008). Astaghfirullah, 35% Pelajar Bandung Homoseks, tersedia dalam http://swaramuslim.net., diakses pada 08 Juni 2008.
Sadarjoen, S. S. (2005). Konflik Marital. Bandung: Refika Aditama.
Saebani, B. A. (2007). Perkawinan dalam Hukum Islam dan Undang-Undang. Bandung: Pustaka Setia.
Santrock, J. W. (1995). Alih Bahasa Achmad Chusairi dan Juda Damanik. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga.
Scmidht, John 1. (2003) Counseling in School: Essential Services and Comprehensive Programs. Boston: Allyn & Bacon.
Shalih, S. F. (2008). Untukmu Yang Akan Menikah dan Telah Menikah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Sherman, R & Fredman, N. (1986). Handbook of Structured Techniques in Marriage and Family Therapy. New York: Brunner/ Mazel, Publisher.
Sofyan, S. S. (1981). Konseling Keluarga. Bandung: Publikasi Jur. BP IKIP Bandung
Strang, R. (1957). The Adolescence Views Himself. New York: McGraw-Hill Book.
Sugiyono. (1999). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sulaeman, D. dan Kartadinata, S. (1978). Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung: Publikasi Jur. BP FIP IKIP Bandung.
Supriatna, M. dan Agustin, M. (2008). Rochman Natawidjaja: Integritas Pribadi dan Karya Pendidikan, Penelitian, Bimbingan & Konseling dalam Dimensi Kesejagatan. Bandung: Fakultas PPB UPI.
Surachmad, W. (1980). Psikologi Pemuda. Bandung: Jemmars.
Surtiretna, N. (1997). Bimbingan Seks Bagi Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Surya, M. (2001). Bina Keluarga. Bandung: Yayasan Bhakti Winaya.
Surya, M. (1988) Dasar-dasar Konseling Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003.
Walsh, W. M. dan Giblin, N. J. (1988). Family Counseling in School Setting. Springfield, Illinois: Charles C. Thomas Publisher.
Winkel, W. S. (1982). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: PT. Grasindo.
Yusuf, Syamsu, L.N. (2006). Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah (SLTP dan SLTA). Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Yusuf, Syamsu, L.N. dan Nurihsan, J. (2006). Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Yusuf, Syamsu, L.N. (2000). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.