• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial."

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

vii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Isu global warming semakin mengemuka seiring dengan maraknya kasus pencemaran lingkungan di berbagai belahan dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengenalkan carbon accounting di Indonesia agar isu carbon di lingkungan menjadi lebih diperhatikan dan juga menganalisis pengaruh carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial pada perusahaan. Jenis data yang digunakan adalah primer. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 33 responden yang berasal dari perusahaan berperingkat proper hijau dan biru dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara antara carbon accounting terhadap kinerja manajerial. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara strategi dengan kinerja manajerial. Terdapat pengaruh yang signifikan antara antara carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial. Saran dari penulis adalah harus lebih banyak nya edukasi tentang masalah carbon accounting ini agar lebih banyak orang tahu dan akan bermanfaat luas baik bagi lingkungan,perusahaan,maupun diri sendiri dan masyarakat umumnya.

(2)

viii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

The issue of global warming is becoming more prominent due to rampant cases of environmental pollution in various parts of the world. This study aims to introduce carbon accounting in Indonesia so that the issue of carbon in the environment become more noticed and also analyze the effect of carbon accounting to managerial performance and strategy at the company. The data used is primary. Total population in this study were 33 respondents from companies rated proper green and blue by using purposive sampling method. Data analysis method used is multiple linear regression. The results showed that a significant effect between the carbon accounting to managerial performance. No significant effect between strategy and managerial performance. A significant effect between the carbon accounting and strategy on managerial performance. The advice from the author is there is must be more carbon accounting education about this problem so that more people know and will benefit both the environment area, the company, or to themselves and society in general.

(3)

ix Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR ... iii

PERNYATAAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR ... iv

KATA PENGANTAR ... v

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS ... 9

2.1 Kajian Pustaka ... 9

2.1.1 Akuntansi Manajemen Lingkungan/ EMA ... 9

2.1.2 Tujuan Akuntansi Manajemen Lingkungan ... 10

2.1.3 Manfaat Akuntansi Manajemen Lingkungan ... 13

2.1.4 Latar Belakang Akuntansi Karbon/ Carbon Accounting ... 14

2.1.5 Carbonomics ... 18

2.3.1 Pengaruh Carbon Accounting terhadap Kinerja Manajerial ... 31

2.3.2 Pengaruh Strategi terhadap Kinerja Manajerial ... 36

2.3.3 Pengaruh Carbon.Acc dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial .... 38

2.4 Model Penelitian ... 40

BAB III METODE PENELITIAN... 41

(4)

x Universitas Kristen Maranatha

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 66

4.1 Hasil Pengumpulan Data ... 66

4.1.7 Responden Berdasarkan Menempati Lama Jabatan Terakhir ... 71

4.1.8 Responden Berdasarkan Lama Kerja ... 71

4.1.9 Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 72

4.2 Analisi Deskriptif Variabel ... 72

4.2.1 Analisis Deskriptif untuk Variabel Carbon Accounting ... 72

4.2.2 Analisis Deskriptif untuk Variabel Strategi ... 75

4.2.3 Analisis Deskriptif untuk Variabel Kinerja Manajerial ... 76

4.3 Uji Instrumen Data ... 77

4.4.1 Uji Parsial antara Carbon Accounting dengan Kinerja Manajerial ... 83

4.4.2 Uji R2 antara Carbon Accounting dengan Kinerja Manajerial……...86

4.4.3 Uji Regresi antara Carbon Accounting dengan Kinerja Manajerial...87

4.4.4 Uji Parsial antara Strategi dengan Kinerja Manajerial ... 89

4.4.5 Uji R2 antara Strategi dengan Kinerja Manajerial………..92

4.4.6 Uji Regresi antara Strategi dengan Kinerja Manajerial...93

4.4.7 Uji Simultan Carbon.Acc dan Strategi dengan Kinerja Manajerial .. 95

4.4.8 Uji R2 Carbon.Acc dan Strategi dengan Kinerja Manajerial ... 98

4.4.9 Uji Regresi Carbon.Acc dan Strategi dengan Kinerja Manajerial .... 99

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 102

5.1 Simpulan ... 102

5.2 Keterbatasan Penelitian ... 102

(5)

xi Universitas Kristen Maranatha

(6)

xii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daftar Negara yang berpartisipasi dalam Protokol Kyoto ... 17

Tabel 3.1 Kriteria Peringkat Proper ... 43

Tabel 3.2 Daftar Sampel Perusahaan yang masuk Proper Hijau dan Biru... 47

Tabel 3.3 Tingkat Hubungan Uji R2 ... 65

Tabel 4.1 Hasil Pengumpulan Data ... 66

Tabel 4.2 Demografi Perusahaan Sampel ... 67

Tabel 4.3 Demografi Jenis Kelamin... 68

Tabel 4.4 Demografi Usia Responden ... 68

Tabel 4.5 Demografi Divisi Kerja Responden ... 69

Tabel 4.6 Demografi Jabatan Terakhir Responden ... 70

Tabel 4.7 Demografi Lama Jabatan Terakhir Responden ... 71

Tabel 4.8 Demografi Lama Kerja Responden... 71

Tabel 4.9 Demografi Pendidikan Terakhir Responden ... 72

Tabel 4.10 Analisis Deskriptif Carbon Accounting ... 73

Tabel 4.11 Analisis Deskriptif Strategi ... 75

Tabel 4.12 Analisis Deskriptif Kinerja Manajerial ... 76

Tabel 4.13 Uji Validitas ... 78

Tabel 4.14 Uji Reliabilitas ... 80

Tabel 4.15 Uji Normalitas ... 81

Tabel 4.16 Uji Multikolinearitas ... 82

Tabel 4.17 Uji Hipotesis Parsial Carbon.Acc dengan Kinerja Manajerial ... 84

Tabel 4.18 Uji R2 Carbon Accounting dengan Kinerja Manajerial ... 86

Tabel 4.19 Uji Regresi Carbon Accounting dengan Kinerja Manajerial ... 87

Tabel 4.20 Uji Hipotesis Parsial Strategi dengan Kinerja Manajerial ... 90

Tabel 4.21 Uji R2 Strategi dengan Kinerja Manajerial ... 92

Tabel 4.22 Uji Regresi Strategi dengan Kinerja Manajerial ... 93

Tabel 4.23 Uji Simultan Carbon.Acc dan Strategi dengan Kinerja Manajerial .... 96

Tabel 4.24 Uji R2 Carbon Accounting dan Strategi dengan Kinerja Manajerial .. 99

(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Latar Belakang Akuntansi Karbon/ Carbon ... 16

Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran ... 31

Gambar 2.3 Model Penelitian ... 40

Gambar 3.1 Daerah Penerimaan dan Penolakan H0 (Uji F) ... 63

Gambar 4.1 Analisis Deskriptif Carbon Accounting ... 74

Gambar 4.2 Analisis Deskriptif Strategi ... 75

(8)

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada era jaman modern seperti ini, ekonomi merupakan hal yang sangat penting untuk menunjang kehidupan manusia seluruhnya, dengan kegiatan ekonomi segala kehidupan yang ada di muka bumi ini berjalan, mungkin tanpa kegiatan ekonomi dunia ini istilahnya tidak akan berputar. Keterkaitan antara ekonomi dengan lingkungan merupakan hal yang sangat berhubungan. Masalah lingkungan semakin hari semakin menarik untuk dipelajari dan dipahami seiring meningkatnya keterkaitan antara aktivitas ekonomi dengan lingkungan. Lingkungan diakui atau tidak sangat memiliki peran yang cukup besar dalam mendukung aktivitas ekonomi termasuk bisnis perusahaan. Disisi lain aktivitas bisnis seringkali berdampak pada penurunan kualitas lingkungan. Hakikat perusahaan yang berorientasi pada laba menyebabkan penggunaan segala upaya oleh perusahaan untuk meningkatkan laba demi kelangsungan usahanya, masalah timbul ketika upaya perusahaan tersebut berdampak negatif terhadap lingkungan dan perusahaan tidak memperdulikannya (Wahyudi,M.I,2014).

(9)

BAB I PENDAHULUAN 2

Universitas Kristen Maranatha

seiring dengan maraknya kasus pencemaran lingkungan. Peristiwa tumpahan minyak di Amerika Serikat oleh perusahaan Exxon Valdez (1989) dan kebocoran gas di India oleh Bhopal Chemical (1984) menyadarkan masyarakat dunia akan buruknya pengelolaan lingkungan khususnya oleh perusahaan manufaktur. Di Indonesia sendiri salah satu kasus pencemaran lingkungan terbesar terjadi di kawasan laut timor yang diakibatkan meledaknya sumur minyak Montana milik

PT. TEP Australia (2009), sedangkan di Jawa Barat permasalahan lingkungan

akibat proses produksi perusahaan ditemukan di daerah Kabupaten Bandung. Komunitas Elemen Lingkungan menuntut agar pemerintah lebih mengawasi sejumlah industri tekstil di sekitar Majalaya untuk tidak membuang limbah ke sungai Citarum karena sering mengganggu kesehatan masyarakat sekitar (Tirtakusumah,2014).

Darwin (2007), melihat ada empat hal alasan isu lingkungan semakin signifikan. Pertama, ukuran perusahaan yang semakin besar. Semakin besar perusahaan, diperlukan akuntabilitas yang lebih tinggi dalam pembuatan keputusan berkaitan dengan operasi, produk dan jasa yang dihasilkan. Kedua, aktivis dan LSM bidang lingkungan hidup telah tumbuh dengan pesat di seluruh dunia termasuk Indonesia. Mereka akan mengungkap sisi negatif perusahaan yang terkait dengan isu lingkungan hidup dan akan menuntut tanggung jawab atas kerusakan lingkungan atau dampak sosial yang timbul oleh operasi perusahaan.

Ketiga, reputasi dan citra perusahaan. Perusahaan-perusahaan saat ini menyadari

(10)

BAB I PENDAHULUAN 3

Universitas Kristen Maranatha

sangat cepat. Isu lingkungan dan sosial yang berdampak negatif akan menyebar dan dapat diakses dengan mudahnya menggunakan teknologi informasi.

Fakta permasalahan pencemaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di Indonesia menyebabkan sebuah lingkungan bisnis harus mampu mempertahankan proses bisnisnya sehingga perusahaan harus menerapkan strategi yang sesuai demi tercapainya going concern perusahaan serta

sustainable development (Rustika, 2011). Untuk itu dalam penerapan strategi

perusahaan mengenai lingkungan dibutuhkan sebuah konsep yang menunjang tercapainya rencana penanganan lingkungan dan membantu para stakeholder untuk mendapatkan informasi mengenai kinerja lingkungan secara detail dan jelas dalam mengambil berbagai alternatif keputusan. Isu lingkungan global mengalami perkembangan pesat yang berimplikasi pada perubahan kebutuhan para

stakeholders. Hal tersebut menuntut akuntansi harus mampu menyajikan

informasi yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders. Dalam kaitannya dengan tuntutan tersebut, akuntansi juga telah mengalami perkembangan yang pesat sehingga dikenal ada akuntansi keuangan konvensional dan akuntansi lingkungan (Idris, 2012).

Akuntansi Manajemen Lingkungan atau yang sering disebut dengan

Enviromental Management Accounting (EMA) merupakan salah satu sub sistem

(11)

BAB I PENDAHULUAN 4

Universitas Kristen Maranatha

jumlah informasi yang relevan bagi mereka yang memerlukan, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu indikator pengambilan keputusan. Keberhasilan akuntansi lingkungan tidak hanya tergantung pada ketepatan dalam menggolongkan semua biaya –biaya yang dibuat perusahaan. Akan tetapi kemampuan dan keakuratan data akuntansi perusahaan dalam menekan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas perusahaan (Ikhsan,2009:6).

Salah satu manfaat yang mungkin terjadi dari penerapan EMA yaitu dapat diidentifikasi, diperkirakan lalu dianalisis berbagai macam biaya lingkungan sehingga dapat menciptakan inovasi yang berguna bagi perusahaan untuk mengurangi dampak lingkungan. Selain itu, penerapan EMA dapat membantu manajer lingkungan untuk menjustifikasi perencanaan produksi bersih dan mengidentifikasi cara-cara baru dalam penghematan biaya serta memperbaiki kinerja lingkungan pada waktu yang bersamaan. Penerapan lain dari EMA memberikan informasi kepada manajer dalam mengidentifikasi biaya-biaya lingkungan yang sering disembunyikan dalam sistem akuntansi umum (Ikhsan,2009; 30).

Isu carbon/ emisi sendiri merupakan salah satu fenomena yang terjadi di dalam EMA, maka itu pada tanggal 11 Desember 1997 di deklarasikanlah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim

(UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global yang

(12)

BAB I PENDAHULUAN 5

Universitas Kristen Maranatha

untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia dan untuk negara lainnya. Protokol ini merupakan komitmen dari 39 negara industri untuk memotong emisi GRK (Gas Rumah Kaca) mereka antara tahun 2008 sampai 2012 (Widosari, 2005).

Dengan adanya protokol kyoto tersebut maka memunculkan fenomena ilmu baru dalam akuntansi, yaitu carbon cost management merupakan era baru gagasan transaksi ekonomi berbasis ekologi, yang dinamakan akuntansi karbon (carbon accounting). Carbon accounting adalah proses perhitungan banyaknya carbon yang dikeluarkan proses industri, penetapan target pengurangan, pembentukan sistem dan program untuk mengurangi emisi carbon, dan pelaporan perkembangan program tersbut (Louis dkk dalam Dwijayanti., 2011).

Sebagaimana implikasi dari konsep carbon cost management, penerapan

carbon accounting juga akan berimplikasi secara luas pada profesi dan isu-isu

(13)

BAB I PENDAHULUAN 6

Universitas Kristen Maranatha

accounting (akuntansi karbon) di negara berkembang, khususnya di Indonesia,

dibutuhkan seperangkat perekayasaan akuntansi manajemen sebagai stimulan bagi aplikasi model carbon accounting. Terkait dengan hal tersebut, maka masalah yang perlu dikaji adalah sejuah mana aplikasi carbon accounting tersebut didukung oleh kesiapan dan kemauan untuk mengembangkan berbagai isu strategis dan perekayasaan dibidang akuntansi manajemen. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana faktor-faktor isu strategis akuntansi manajemen memberi dampak pada paradigma carbon accounting ( Ja’far dan Lisa, 2009).

Oleh karena argumen diatas, maka penulis berkeinginan melakukan penelitian yang mencakup Pengaruh Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial”. Dikarenakan sebelumnya belum ada penelitian yang menjelaskan tentang judul diatas, perkenankan saya mengambil hipotesis turunan dari pengaruh akuntansi manajemen lingkungan dan strategi terhadap inovasi. Dan juga analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja manajerial.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan penjelasan diatas, maka masalah yang akan diteliti oleh penulis dapat diidentifikasikan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh carbon ccounting terhadap kinerja manajerial? 2. Apakah terdapat pengaruh strategi terhadap kinerja manajerial?

(14)

BAB I PENDAHULUAN 7

Universitas Kristen Maranatha

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan oleh penulis diatas, maka tujuan penelitian yang penulis lakukan ini adalah:

1. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh carbon accounting terhadap kinerja manajerial

2. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh strategi terhadap kinerja manajerial

3. Untuk menguji dan menganalisis pengaruh carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial

4. Memberikan pemahaman yang seluas-luasnya tentang penerapan carbon

accounting bagi perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia

5. Meminimalisasi dampak-dampak lingkungan yang terjadi oleh adanya proses produksi yang dilakukan di perusahaan-perusahaan di Indonesia 1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang penulis lakukan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Penulis

(15)

BAB I PENDAHULUAN 8

Universitas Kristen Maranatha

2. Perusahaan

Diharapkan perusahaan-perusahaan mempunyai pengetahuan lebih luas terhadap carbon accounting itu sendiri agar dalam pelaksaan nya di dalam perusahaan itu sendiri lebih memberikan dampak yang lebih baik untuk perusahaan atau pun untuk lingkungan sekitar, dan juga bersinergi dengan strategi yang diterapkan perusahaan khususnya perusahaan dapat mengetahui apa saja fenomena yang mempengaruhi carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial itu sendiri,seperti apa yang penulis lakukan. Diharapkan pula perusahaan lebih fokus terhadap strategi-strategi yang menyangkut dengan carbon accounting untuk lebih ditingkatkan guna memperbaiki kinerja manajerial agar tujuan/ goals perusahaan dapat tercapai dengan diperhatikan nya kedua hal tadi. Contohnya dengan strategi terhadap lingkungan lebih diperhatikan misalnya pembuangan karbon, strategi perusahaan seperti apa menangani karbon tersebut apakah berpengaruh terhadap kinerja manajerial para stakeholder diperusahaan atau tidak. Seharusnya dengan strategi pembuangan karbon yang ada bisa meningkatkan kinerja manajerial perusahaan agar lebih optimal guna meminimalisir karbon yang ada pada perusahaan tersebut.

3. Masyarakat

Diharapkan agar masyarakat lebih mengetahui informasi tentang apa itu

carbon accounting khususnya dan strategi terhadap kinerja manajerial

(16)

9 Universitas Kristen Maranatha

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1.1 KAJIAN PUSTAKA

2.1.1 Akuntansi Manajemen Lingkungan/ Environmental Management Accounting (EMA)

Akuntansi manajemen lingkungan (Environmental Management Accounting) merupakan salah satu sub-sistem dari akuntansi lingkungan yang

menjelaskan sejumlah persoalan mengenai persoalan dampak-dampak bisnis perusahaan ke dalam sejumlah unit moneter. Akuntansi manajemen lingkungan juga dapat digunakan sebagai suatu tolak ukur dalam kinerja lingkungan. Pandangan bahwa akuntansi manajemen lingkungan secara dominan berhubungan terhadap penyediaan informasi untuk pengambilan keputusan internal yang konsisten dengan definisi US EPA (1995), dimana US EPA menjelaskan akuntansi manajemen lingkungan sebagai: “Suatu proses pengidentifikasian, pengumpulan dan penganalisisan informasi tentang biaya-biaya dan kinerja untuk membantu

pengambilan keputusan organisasi”.

The International Federation of Accountants (1998) dalam Ikhsan (2009)

(17)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 10

Universitas Kristen Maranatha

The United Nations Divisions for Sustainable Development (UNDSD) (2001)

dalam Ikhsan (2009) menyediakan suatu definisi yang lain dari akuntansi manajemen lingkungan. Definisi tersebut mengutamakan bahwa sistem akuntansi manajemen lingkungan menghasilkan informasi untuk pengambilan keputusan internal, dimana informasi dapat juga terfokus secara fisik atau moneter.

2.1.2 Tujuan Akuntansi Manajemen Lingkungan

Dalam dunia bisnis yang ideal, perusahaan-perusahaan cenderung akan menggambarkan aspek lingkungan dalam proses akuntansi mereka melalui sejumlah pengidentifikasian terhadap biaya-biaya, produk-produk, proses-proses, dan jasa. Meskipun sistem akuntansi konvensional memiliki peran penting dalam perkembangan dunia bisnis, akan tetapi sistem akuntansi konvensional yang ada tidak cukup mampu untuk disesuaikan pada biaya-biaya lingkungan dan sebagai hasilnya hanya mampu menunjukkan akun untuk biaya umum tak langsung. Akuntansi manajemen lingkungan (EMA) dikembangkan untuk berbagai keterbatasan dalam akuntansi tradisional. Beberapa poin berikut ini dapat menjadi alasan mengapa dan apa yang dapat diberikan oleh EMA dibandingkan dengan akuntansi manajemen tradisional:

(18)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 11

Universitas Kristen Maranatha

bahwa potensi untuk meningkatkan efisiensi muncul dari besarnya biaya lingkungan yang harus ditanggung.

2. Lemahnya komunikasi bagian akuntansi dengan bagian lain dalam perusahaan. Walaupun keseluruhan perusahaan mempunyai visi yang sama

tentang ‘biaya’, namun tiap-tiap departemen tidak selalu mampu

mengkomunikasikannya dalam bahasa yang dapat diterima oleh semua pihak. Jika di satu sisi bagian keuangan menginginkan efisiensi dan penekanan biaya, di sisi lain bagian lingkungan menginginkan tambahan biaya untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Walaupun ekoefisiensi bisa menjadi jembatan antar kepentingan ini, namun kedua bagian tersebut berbicara dari sudut pandang yang berseberangan.

3. Menyembunyikan biaya lingkungan dalam pos biaya umum (overhead). Ketidakmampuan akuntansi tradisional menelusuri dan menyeimbangkan akuntansi lingkungan dengan akuntansi keuangan menyebabkan semua biaya dari pengolahan limbah, perizinan dan lain-lain digabungkan dalam biaya overhead sebagai konsekuensinya biaya overhead menjadi

‘membengkak’.

(19)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 12

Universitas Kristen Maranatha

5. Ketidaktepatan perhitungan atas volume dan biaya atas bahan baku yang terbuang. Berapa sebenarnya biaya limbah? Akuntansi tradisional akan menghitungnya sebagai biaya pengelolaannya, yaitu biaya pembuangan atau pengolahan. EMA akan menghitung biaya limbah sebagai biaya pengolahan ditambah biaya pembelian bahan baku. Sehingga biaya limbah yang dikeluarkan lebih besar sebenarnya daripada biaya yang selama ini diperhitungkan

6. Tidak dihitungnya keseluruhan biaya lingkungan yang relevan dan signifikan dalam catatan akuntansi (Novia, 2011).

(20)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 13

Universitas Kristen Maranatha

1. Kemampuan secara akurat meneliti dan mengatur penggunaan arus tenaga dan bahan-bahan, termasuk polusi/ sisa volume, jenis-jenis lain dan sebagainya.

2. Kemampuan secara akurat mengidentifikasi, mengestimasi, mengalokasikan, mengatur atau mengurangi biaya-biaya, khususnya biaya yang berhubungan dengan lingkungan.

3. Informasi yang lebih akurat dan lebih menyeluruh dalam mendukung penetapan dari dan keikutsertaan di dalam program-program sukarela, penghematan biaya untuk memperbaiki kinerja lingkungan.

4. Informasi yang lebih akurat dan menyeluruh untuk mengukur dan melaporkan kinerja lingkungan, seperti meningkatkan citra perusahaan pada stakeholder, pelanggan, masyarakat lokal, karyawan, pemerintah dan penyedia keuangan. (Rustika,N, 2011).

2.1.3 Manfaat Akuntansi Manajemen Lingkungan

Menurut Ikhsan (2009) Terdapat beberapa alasan mengapa akuntansi manajemen lingkungan sangat bermanfaat bagi industri, yaitu:

1. Kemampuan secara akurat meneliti dan mengatur penggunaan arus tenaga dan bahan-bahan,termasuk polusi/ sisa volume, dan jenis-jenis lainnya. 2. Kemampuan secara akurat dalam mengidentifikasi, mengestimasi,

(21)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 14

Universitas Kristen Maranatha

3. Informasi yang lebih akurat dan lebih menyeluruh dalam mendukung penetapan dari dan keikutsertaan di dalam program-program sukarela, penghematan biaya untuk memperbaiki kinerja lingkungan.

4. Informasi yang lebih akurat dan menyeluruh untuk mengukur dan melaporkan kinerja lingkungan, seperti meningkatkan citra perusahaan pada stakeholder, pelanggan, masyarakat lokal , karyawan, pemerintah, dan penyedia keuangan.

2.1.4 Latar belakang Akuntansi Karbon/ Carbon Accounting

Dikutip oleh Widosari (2005) Munculnya carbon accounting

dilatarbelakangi oleh penandatangan Protokol Kyoto oleh beberapa negara di dunia. Protokol Kyoto merupakan sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau United Nations Framework Convention

on Climate Change (UNFCCC), sebuah persetujuan intemasional mengenai

pemanasan global. UNFCCC mengatur lebih lanjut ketentuan yang mengikat mengenai perubahan iklim ini. Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB, "Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandiagkan dengan tahun 1990, namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%. Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbondioksida, metan,

(22)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 15

Universitas Kristen Maranatha

selama masa lima tahun antara 2008-2012. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia. Pada bulan Desember 1997 di Kyoto, Jepang, Protokol Kyoto ditandatangani oleh beberapa negara dan tetap terbuka untuk ditandatangani/diaksesi sampai Maret 1999 oleh negara-negara lain di Markas Besar PBB, New York. Protokol ini merupakan komitmen dari 39 negara industri untuk memotong emisi GRK (Gas Rumah Kaca) mereka antara tahun 2008 sampai 2012. Ada tiga mekanisme yang diatur di dalam Protokol Kyoto, yaitu berupa:

a. Joint Implementation adalah kerja sama antara negara maju untuk

mengurangi emisi GRK yang dihasilkan oleh negara mereka masing-masing.

b. Clean Development Mechanism adalah win-win solution antara negara maju dan negara berkembang, di mana negara maju berinvestasi di negara berkembang dalam proyek yang dapat mengurangi emisi GRK dengan imbalan sertifikat pengurangan emisi (CER) bagi negara maju terse but.

(23)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 16

Universitas Kristen Maranatha

akan dihasilkan oleh produksi mereka (The Cap). Jika perusahaan tertentu dalam memproduksi barang atau jasa menghasilkan emisi C02 kurang dari batas maksimal (The Cap), mereka memiliki nilai kredit. Sebaliknya, jika perusahaan tertentu rnelebihi ambang batas emisi CO2 maka, mereka dapat membeli kredit dari perusahaan yang memiliki emisi di bawah ambang batas. Implikasi dari perdagangan karbon ini adalah munculnya manajemen biaya karbon (carbon cost

management), di mana ini merupakan efisiensi emisi C02 dalam penggunaan

bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik, biaya overhead lingkungan, serta isu-isu yang terkait dengan manajemen standar akuntansi karbon. Pada akhimya, implikasi dari carbon cost management ini adalah carbon

accounting, yang merupakan pengukuran, pencatatan dan pelaporan karbon yang

dihasilkan oleh perusahaan. (Ratnatunga, 2007; dalam Ja'far dan Kartikasari, 2009). Menurut Dwijayanti (2011) ini adalah alur latar belakang carbon

accounting:

Gambar 2.1

Sumber : Dwijayanti (2011) Protokol

kyoto

Carbon Cost Management

(24)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 17

Universitas Kristen Maranatha

Tabel 2.1

Daftar Negara yang berpartisipasi dalam Protokol Kyoto

Nama negara

Pembatasan emisi kuantitatif atau komitmen pengurangan ( persentase tahun dasar atau

(25)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 18

United States of America 93

*Negara-negara yang sedang menjalani proses transisi ke pasar ekonomi

SUMBER : UNFCCC (1998) http://unfccc.int/resource/docs/convkp/kpeng.pdf 2.1.5 Carbonomics

Menurut Ja’far dan Kartikasari (2009) salah satu rekomendasi dari

Protokol Kyoto adalah sistem ambang emisi dan perdagangan karbon. Perusahaan

(26)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 19

Universitas Kristen Maranatha

perdagangan karbon ini adalah jumlah karbon yang dapat dirasionalisasi dan model pasar perdagangan karbon yang dapat mempengaruhi strategi bisnis, kinerja keuangan dan nilai perusahaan. Untuk dapat mengarah pada gagasan perdagangan karbon, dibutuhkan pemahaman yang baik tentang elemen-elemen akuntansi bisnis dan keuangan, seperti permodalan, permintaan dan penawaran kredit karbon, nilai bisnis manejemen resiko, alokasi modal, dan bahkan jika mungkin adalah standar pelaporan keuangan yang secara khusus terkait dengan transaksi karbon. Sebagai tambahan, isu – isu tentang pajak yang terkait dengan pajak emisi karbon dan implikasi transfer harga perdagangan karbon perlu untuk diperhatikan.

Sekarang ini, di Eropa, fokus utamanya adalah laporan keuangan dan perpajakan. Sedikit sekali yang memfokuskan dalam hal profesi akuntansi yang terkait dengan akuntansi manajemen strategis termasuk penilaian pasar dan isu– isu tentang manajemen kinerja. Isu yang terkait dengan manajemen biaya karbon

(Carbon Cost Management) utamanya terkait dengan apakah pelaporan biaya

karbon bersifat mandatory atau voluntary, yang dalam hal tertentu sangat tergantung pada kompetisi industri suatu negara. Ketidakseimbangan dalam konsumsi sumber - sumber ekonomi dalam perspektif keberlanjutan lingkungan tidak hanya disebabkan oleh perspektif ekonomi semata tetapi rendahnya tingkat kesadaran untuk melakukan tindakan pencegahan global warming. Ada lima gas yang dapat menyebabkan efek global warming yaitu Carbondiokside, metan,

nitrous oxide, sulfur heksaflouride, dan HFC. Protokol Kyoto membatasi

(27)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 20

Universitas Kristen Maranatha

terkait langsung dengan aktivitas ekonomi dan manusia. Terkait dengan kegiatan ekonomi, Protokol Kyoto memberikan batasan investasi tekhnologi emisi CO2 yang rendah, perhitungan biaya dalam harga pokok produksi dan pembebanan biaya emisi karbon kepada pelanggan berdasarkan regulasi. (Ja’far dan Kartikasari, 2009)

2.1.6 Akuntansi karbon/ Carbon Accounting

Terkait dengan gagasan Carbonomics, Ja’far dan Kartikasari (2009) menambahkan dampak gagasan tersebut telah merambah di berbagai macam profesi, diantaranya adalah profesi akuntansi. Hal ini karena bidang akuntansi, terutama akuntansi manajemen, keuangan dan audit, baik langsung ataupun tidak langsung terkena dampak dari era carbonomics tersebut. Sebaliknya, kesiapan praktik strategis dibidang akuntansi manajemen akan mendorong percepatan kesiapan gaya hidup carbonomics dalam perusahaan. Dalam praktik akuntansi,

carbonomics jelas telah memberi dampak pada praktik akuntansi (carbon

accounting).

Carbon accounting adalah proses perhitungan banyaknya carbon yang

dikeluarkan proses industri, penetapan target pengurangan, pembentukan sistem dan program untuk mengurangi emisi carbon, dan pelaporan perkembangan program tersebut. (Louis dkk., dalam Dwijayanti, 2011). Dengan carbon

accounting, perusahaan dapat mengetahui tingkat emisi carbon yang

(28)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 21

Universitas Kristen Maranatha

Sedangkan menurut Warren (2008) dalam Dwijayanti (2011) mendefinisikan carbon accounting sebagai "assessing your organisation's carbon

emissions and setting targets for reduction" (proses pengukuran emisi carbon

yang dihasilkan perusahaan dan penentuan target pengurangan emisi). Menurut keputusan PBB dalam Pamela (2010) dalam Protokol Kyoto definisi akuntansi karbon adalah proses akuntansi yang dilakukan untuk mengukur jumlah karbondioksida setara yang akan dilepas ke atmosfer sebagai hasil dari proyek-proyek mekanisme fleksibel dibawah Protokol Kyoto. Akuntansi karbon merupakan bagian baru dari akuntansi lingkungan yang merupakan pelengkap dengan memberikan laporan mengenai emisi karbon gas yang dihasilkan perusahaan selama proses produk.

Dari beberapa pengertian tentang carbon accounting di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa carbon accounting adalah proses atau cara untuk mengukur emisi karbon, mengatur strategi dalam mengurangi emisi karbon, melakukan pencatatan atas biaya yang terjadi dari kegiatan tersebut serta melaporkannya pada

stakeholders. ( Ramadhani, 2015: dalam Dwijayanti, 2011), munculnya carbon

accounting dilatarbelakangi oleh penandatangan Protokol Kyoto oleh beberapa

negara di dunia. Protokol Kyoto merupakan sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau United Nations

Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sebuah persetujuan

(29)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 22

Universitas Kristen Maranatha

Ada beberapa langkah pengimplementasian carbon accounting dalam perusahaan yang disampaikan oleh Warren (2008) dalam Dwijayanti (2011), yaitu:

Mengukur emisi carbon perusahaan saat ini.

 Menentukan target pengurangan emisi.

 Membangun sistem untuk memantau emisi yang dikeluarkan dan

mengadakan audit emisi secara periodic.

 Melaporkan baik internal maupun eksternal mengenai program

pengurangan dan kemajuan dalam mencapai target.

Pada tahapan selanjutnya, era carbon accounting akan berkembang jika didukung oleh berbagai sistem dan perekayasaan akuntansi yang memadai. Pada era carbon accounting, sebuah gagasan untuk menghubungkan produk dengan efisiensi CO2 perlu mendapat dukungan dan perhatian secara serius, sebab suatu gagasan dalam efisiensi emisi CO2 adalah sebuah tindakan untuk penyelamatan dunia. Inilah makna penting carbon accounting dalam pengembangan profesi dan perekayasaan akuntansi dalam situasi dunia yang tengah dilanda kecemasan akibat

global warming (Ja’far dan Lisa, 2009).

Dwijayanti (2011) menyatakan bahwa dalam pelaporan carbon

accounting, ada empat kategori biaya yang bisa dimasukkan, yaitu:

 Biaya pencegahan

 Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk mencegah

(30)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 23

Universitas Kristen Maranatha

 Contoh : biaya pelatihan karyawan, biaya desain produk,

biaya pemilihan peralatan.  Biaya pendeteksian

 Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk

menemukan, mengurangi, dan mendeteksi banyaknya polusi udara yang dikeluarkan.

 Contoh : biaya inspeksi, biaya penetapan ukuran.

 Biaya kegagalan internal

 Biaya yang dikeluarkan jika polusi udara perusahaan

melebihi batas, tetapi belum memberi dampak secara eksternal.

 Biaya pengoperasian peralatan untuk mengatasi polusi,

biaya pemeliharaan peralatan untuk mengatasi polusi.

 Biaya kegagalan eksternal

 Biaya yang dikeluarkan jika polusi udara yang dihasilkan

perusahaan telah berdampak secara luas terhadap masyarakat sekitar, lingkungan, dan pihak-pihak ekstemal lainnya.

 Contoh : biaya klaim kesehatan akibat udara yang tercemar.

2.1.7. Strategi

(31)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 24

Universitas Kristen Maranatha

tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan (William dan Lawrence, 1995) . Strategi sebagai suatu rencana yang berskala besar dan berorientasi kepada masa depan untuk berinteraksi dengan lingkungan guna mencapai sasaran-sasaran perusahaan. Strategi adalah rencana lain suatu perusahaan. Meskipun rencana itu tidak secara persis merinci semua pemanfaatan SDM, keuangan, dan bahan di masa yang akan datang, ia memberikan kerangka untuk keputusan manajerial. Strategi mencerminkan kesadaran perusahaan mengenai bagaimana, kapan, dan dimana ia harus bersaing melawan siapa dan untuk maksud apa (Pearce dan Robinson, 2003).

(32)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 25

Universitas Kristen Maranatha

2.1.8. Kinerja Manajerial

Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. ( Hafiz, 2007)

Kandula (2006:5) mendefinisikan kinerja manajerial merupakan proses merancang dan melaksanakan strategi motivasi, intervensi, dan pengendali dengan tujuan untuk mengubah potensi baku sumber daya manusia dalam kinerjanya. Menurut Hasibuan (2005: 94) menjelaskan bahwa kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugas tugas yang diberikan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman, dan kesungguhan serta waktu.

Menurut Yan (2008) kinerja manajerial dapat diartikan sebagai: “ Kinerja

para individu anggota organisasi dalam kegiatan-kegiatan manajerial, antara lain perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, supervisi, pengaturan staff, negosiasi, dan representasi perwakilan “.

Oleh karena itu, berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja manajerial adalah hasil kerja dari individu di dalam organisasi yang melaksanakan tugas-tugas manajerial.

2.1.9. Dimensi Kinerja Manajerial

Menurut Wentzel (2002) dalam Hiras (2009;67) penilaian kinerja manajerial dapat diukur berdasarkan:

(33)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 26

Universitas Kristen Maranatha

sama sekali tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan manajerial semua tingkatan manajemen, baik manajemen puncak, menengah maupun tingkat dasar dari suatu struktur organisasi.

2. Investigasi, merupakan laporan dari setiap manajer pada pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya menjelaskan kinerja manajerial yang bersangkutan. Untuk menyusun laporan tersebut, manajer melaksanakan salah satu fungsi yakni investigasi. Dalam hal ini manajemem bertugas untuk mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan, rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan dan analisa pekerjaan.

3. Koordinasi, setiap fungsi manajerial membutuhkan sinkronasi akan tindakan individu yang timbul dari perbedaan dalam pendapat mengenai bagaimana cita-cita kelompok dapat dicapai atau bagaimana tujuan individu atau kelompok dipadukan. Koordinasi ini bisa dilakukan dengan tukar menukar informasi dengan bagian organisasi yang lain untuk mengaitkan dan menyesuaikan program, memberitahu departemen lain dan berhubungan dengan manajer lain.

4. Evaluasi, merupakan salah satu fungsi pokok manajemen yang digunakan untuk menilai dan mengukur proposal, kinerja, penilaian pegawai, penilaian catatan, penilaian laporan keuangan dan pemeriksaan produk. 5. Pengawasan, adalah pengukuran dan pembetulan terhadap kegiatan para

(34)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 27

Universitas Kristen Maranatha

mengembangkan bawahan, membimbing, melatih, memberikan tugas pada bawahan dan menangani keluhan.

6. Staffing, penataan staff merupakan faktor penting dalam pengelolaan sumber daya manusia agar para karyawan dapat dimanfaatkan secara efektif. Penataan staff adalah suatu proses yang terdiri dari spesifikasi pekerjaan (job description), pergerakan tenaga, spesifikasi pekerja, seleksi dan penyusunan organisasi untuk mempersiapkan dan melatih karyawan agar melaksanakan pekerjaan dengan baik. Penempatan staff hendaknya berdasarkan pada kemampuan dan minat karyawan.

7. Negosiasi, komunikasi merupakan faktor yang penting bagi seorang manajer untuk memahami perilaku agar dapat menangani karyawan secara efektif. Di samping itu, komunikasi merupakan satu cara untuk mendapatkan informasi yang sangat dibutuhkan seorang manajer dalam pengambilan keputusan. Namun, dalam pelaksanaannya komunikasi tidak selalu berjalan efektif. Berbagai macam gangguan (noise) menyebabkan pesan yang disampaikan dalam komunikasi tidak diterima dengan tepat. Oleh karena itu, untuk memperbaiki komunikasi, negosiasi dapat dilakukan. Bentuk negosiasi yang dapat dilakukan oleh manajer antara lain terjadi pada saat melakukan pembelian, penjualan, atau melakukan kontrak untuk barang dan jasa, menghubungi pemasok, tawar-menawar dengan wakil penjual maupun secara kelompok.

8. Pewakilan, manajer menciptakan hubungan dan menggunakan pendekatan

(35)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 28

Universitas Kristen Maranatha

unit kerjanya dan dapat mewakili organisasi secara keseluruhan. Perwakilan adalah fungsi manajemen untuk menghadiri pertemuan dengan perusahaan lain, pertemuan perkumpulan bisnis, pidato untuk acara kemasyarakatan, pendekatan ke masyarakat, dan mempromosikan tujuan umum perusahaan.

Sedangkan menurut Adhari (2013), kinerja terdiri dari beberapa dimensi. Antara lain:

1. Pengetahuan Komunikasi 2. Kualitas kerja manajerial 3. Inisiatif

4. Keterampilan interpersonal 5. Kreatifitas

6. Kemampuan dalam mengambil keputusan dalam memecahkan masalah Dari kedua pendapat diatas pada penelitian ini, dimensi kinerja manajerial diambil dari ( Wentzel, 2002 dalam Hiras, 2009:67), yaitu: Perencanaan, Investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pemilihan staff, negosiasi, dan perwakilan.

Sedangkan menurut Allen dalam Yayat (2011:20), mengatakan bahwa fungsi manajemen terdiri dari:

1. Management Leading (Memimpin)

(36)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 29

Universitas Kristen Maranatha

keputusan, mengadakan komunikasi, memberikan motivasi, memilih orang-orang dan mengembangkan orang-orang.

2. Management Planning (Merencanakan)

Management Planning meliputi beberapa kegiatan, yaitu meramalkan,

menetapkan maksud dan tujuan, mengacarakan, mengatur tata waktu, menyusun anggaran belanja, mengembangkan prosedur, serta menetapkan dan menafsirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan.

3. Management Organizing (Penyusunan Manajemen)

Management Organizing merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

manajer dalam mengatur dan menghubungkan pekerjaan yang dilakukan sehingga dapat dilaksanakan dengan efektif oleh orang lain.

4. Management Controlling (Pengawasan, Pengendalian, dan

Pengamatan)

Management controlling merupakan pekerjaan manajer dalam menilai

dan mengatur pekerjaan yang diselenggarakan dan yang telah selesai.

(37)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 30

Universitas Kristen Maranatha

1. Menyusun rencana untuk dijadikan sebagai pedoman kerja (planning) 2. Menyusun struktur organisasi kerja yang merupakan pembagian

wewenang dan tanggung jawab kepada semua personal dalam perusahaan (organizing)

3. Membimbing, memberi petunjuk, mengarahkan, serta mengambil keputusan-keputusan untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul (directing)

4. Menciptakan koordinasi dan kerja sama yang serasi antar semua bagian yang ada di dalam perusahaan (coordinating)

(38)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 31 - Terjadinya isu global warming di

dunia

Variabel:

 Carbon Accounting

 Strategi

 Kinerja Manajerial

 Apakah terdapat pengaruh Carbon Accounting terhadap Kinerja Manajerial

 Apakah terdapat pengaruh Strategi terhadap Kinerja Manajerial

 Apakah terdapat pengaruh Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial

 Jenis Penelitian : Asosiatif

 Populasi : Perusahaan Proper

2015 di Jawa Barat

 Sampel : Perusahaan yang terdaftar

Proper dengan peringkat Hijau dan Biru

 Metode Sampling : Purposive Sampling

 Teknik Pengumpulan data : Teknik Survey melalui metode kuisioner

 Metode Analisi Data : Regresi Linear Berganda

 Terdapat pengaruh Carbon Accounting terhadap Kinerja Manajerial

 Tidak terdapat pengaruh Strategi terhadap Kinerja Manajerial

 Terdapat pengaruh Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial

UMPAN BALIK

Sumber : Penulis (2016)

2.3. Pengembangan Hipotesis

2.3.1 Pengaruh Carbon Accounting terhadap Kinerja Manajerial

Dapat ditarik kesimpulan bahwa carbon accounting adalah proses atau cara untuk mengukur emisi karbon, mengatur strategi dalam mengurangi emisi karbon, melakukan pencatatan atas biaya yang terjadi dari kegiatan tersebut serta melaporkannya pada stakeholders. (Ramadhani, 2015: dalam Dwijayanti 2011), munculnya carbon accounting dilatarbelakangi oleh penandatangan Protokol

Kyoto oleh beberapa negara di dunia. Protokol Kyoto merupakan sebuah

(39)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 32

Universitas Kristen Maranatha

United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sebuah

persetujuan intemasional mengenai pemanasan global. UNFCCC mengatur lebih lanjut ketentuan yang mengikat mengenai perubahan iklim ini.

Ada beberapa langkah pengimplementasian carbon accounting dalam perusahaan yang disampaikan oleh Warren (2008) dalam Dwijayanti (2011), yaitu:

Mengukur emisi carbon perusahaan saat ini.

 Menentukan target pengurangan emisi.

 Membangun sistem untuk memantau emisi yang dikeluarkan dan

mengadakan audit emisi secara periodic.

 Melaporkan baik internal maupun eksternal mengenai program

pengurangan dan kemajuan dalam mencapai target.

Menurut Hafiz (2007) kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Yan (2008) menyimpulkan kinerja manajerial dapat diartikan sebagai: “Kinerja para individu anggota organisasi dalam kegiatan-kegiatan manajerial, antara lain perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, supervisi, pengaturan staff, negosiasi, dan representasi perwakilan“.

(40)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 33

Universitas Kristen Maranatha

terhadap kinerja manajerial perusahaan tersebut, apakah berpengaruh atau tidak terhadap kelangsungan kinerja manajerial di suatu perusahaan.

Isu global warming semakin mengemuka seiring dengan maraknya kasus pencemaran lingkungan. Peristiwa tumpahan minyak di Amerika Serikat oleh perusahaan Exxon Valdez (1989) dan kebocoran gas di India oleh Bhopal

Chemical (1984) menyadarkan masyarakat dunia akan buruknya pengelolaan

lingkungan khususnya oleh perusahaan manufaktur. Di Indonesia sendiri salah satu kasus pencemaran lingkungan terbesar terjadi di kawasan laut timor yang diakibatkan meledaknya sumur minyak Montana milik PT. TEP Australia (2009), sedangkan di Jawa Barat permasalahan lingkungan akibat proses produksi perusahaan ditemukan di daerah Kabupaten Bandung. Komunitas Elemen Lingkungan menuntut agar pemerintah lebih mengawasi sejumlah industri tekstil di sekitar Majalaya untuk tidak membuang limbah ke sungai Citarum karena sering mengganggu kesehatan masyarakat sekitar (Tirtakusumah,2014).

(41)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 34

Universitas Kristen Maranatha

0,005 dan arah keofisien positif, maka telah dibuktikan bahwa penerapan

Enviromental Management Accounting mempunyai hubungan positif terhadap

inovasi produk. Hasil ini menunjukan bahwa semakin tinggi suatu perusahaan menerapkan Enviromental Management Accounting (EMA), maka semakin tinggi pula perusahaan akan melakukan inovasi produk sebagai salah satu usaha untuk mengurangi dampak dan biaya lingkungan yang terjadi. Pengambilan hipotesis dari Akuntansi Manajemen Lingkungan yang penulis lakukan karena carbon

accounting merupakan ilmu turunan dari akuntansi manajemen lingkungan itu

sendiri sehingga penulis mengambil hipotesis dari judul tersebut.

Penelitian selanjutnya adalah yang dilakukan oleh Fransisca (2015)

dengan judul “ Pengaruh Akuntansi Pertanggungjawaban dan Partisipasi

Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial (Survei pada perusahaan Manufaktur di karawang)”, dengan sampel seluruh manajer yang bekerja pada perusahaan manufaktur bidang stamping di karawang, dengan memakai data primer melalui penyebaran kuisioner dan menggunakan metode analisis data yaitu analisis regresi berganda. Memperoleh hasil terdapat pengaruh yang signifikan antara akuntansi pertanggung jawaban terhadap kinerja manajerial, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara partisipasi anggaran terhadap kinerja manajerial, dan terdapat pengaruh yang signifikan antara akuntansi pertanggung jawaban dan partisipasi anggaran secara simultan terhadap kinerja manajerial.

(42)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 35

Universitas Kristen Maranatha

Media Exposure, tipe industri, profitabilitas, ukuran perusahaan, kinerja

lingkungan, leverage terhadap pengungkapan emisi karbon pada perusahaan di Indonesia. Pengukuran mengenai luas pengungkapan karbon yaitu dengan menggunakan checklist yang dikembangkan berdasarkan lembar permintaan informasi yang diberikan oleh CDP (Carbon Disclosure Project). Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2012. Sampel dari penelitian ini adalah perusahaan non keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010- 2012 dengan menggunakan metode purposive sampling. Terdapat 35 perusahaan pada tahun 2010, 37 perusahaan pada tahun 2011, dan 37 perusahaan pada tahun 2012 yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian. Uji asumsi klasik dilakukan untuk analisis data dan analisis regresi untuk pengujian hipotesis. Hasil dari penelitian Jannah (2014) menunjukkan bahwa Media Exposure, tipe industri, profitabilitas, ukuran perusahaan, dan Leverage berpengaruh terhadap pengungkapan emisi karbon perusahaan di Indonesia. Sedangkan kinerja lingkungan tidak berpengaruh terhadap pengungkapan emisi karbon perusahaan di Indonesia.

Menurut penulis, dengan adanya carbon accounting, perusahaan dapat mengetahui tingkat emisi carbon yang dihasilkannya, semakin minim emisi

carbon yang dihasilkan tetapi tingkat produksi meningkat, berarti kinerja

manajerial pada perusahaan tersebut dapat dikatakan bagus sesuai dengan strategi-strategi yang diterapkan perusahaan.

(43)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 36

Universitas Kristen Maranatha

HA1: Terdapat pengaruh positif carbon accounting terhadap kinerja

manajerial.

2.3.2 Strategi terhadap Kinerja Manajerial

Pada dasarnya, tujuan perusahaan menerapkan strategi prospektor adalah menjadi yang pertama di pasar, meski tidak semua upaya itu akhirnya bisa berhasil (Miles dan Snow, 1978 dalam Ferreira et al., 2009). Meskipun perhatian utama dari pengguna strategi prospektor adalah menjadi yang pertama di pasar, sekali produk mendapatkan penerimaan, maka perusahaan akan berusaha untuk meningkatkan efisiensi dalam produksi dan pengiriman produk. Dalam meningkatkan efisiensi produk, perusahaan akan menghubungkan dengan sumber daya yang dimiliki. Jika tidak, perusahaan akan sulit mencapai tujuan

profitabilitas nya. (Ferreira et al., 2010)

Menurut Kandula (2006:5) mendefinisikan kinerja manajerial merupakan proses merancang dan melaksanakan strategi motivasi, intervensi, dan pengendali dengan tujuan untuk mengubah potensi baku sumber daya manusia dalam kinerjanya. Maka dari itu strategi sangat diperlukan perusahaan untuk mencapai kinerja yang maksimal dengan mendukung kegiatan-kegiatan manajerial dengan strategi yang telah ditetapkan perusahaan.

(44)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 37

Universitas Kristen Maranatha

orang yang menjadi subyek penelitian (responden). Menggunakan metode survei, yaitu menggunakan metode wawancara langsung dengan responden dan dengan menggunakan kuesioner. Sampel pada penelitian ini adalah jumlah tenaga kerja minimal 5 orang termasuk anggota keluarga, umur perusahaan lebih dari 3 tahun. Pemilihan metode ini salah satunya dilatar belakangi keterbatasan waktu dan biaya penelitian, namun pertimbangan dan representasi populasi diharapkan tetap tidak terganggu. Metode analisis yang digunakan dalam studi kasus ini adalah The Structural Equation Modelling (SEM) dari paket software statistik AMOS digunakan dalam pengembangan model dan pengujian hipotesis. Hasilnya berpengaruh positif bahwa semakin tinggi perencanaan strategis yang diterapkan pada industri kecil tenun ikat Troso maka semakin baik kinerja manajerial perusahaan yang dihasilkan.

Menurut penulis, semakin tingginya strategi perusahaan terhadap keberlangsungan perusahaan kedepannya, untuk menghadapi persaingan yang lebih global maka perusahaan harus dapat meningkatkan kinerja manajerial yang mampu bersaing luas dengan para kompetitor, contohnya seperti perencanaan-perencanaan strategis seperti yang diterapkan dalam penelitian di atas pada industry kecil menengah tenun ikat di Troso.

Atas dasar hasil penelitian diatas, Hipotesis yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:

(45)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 38

Universitas Kristen Maranatha

2.3.3 Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial

Isu carbon/ emisi sendiri merupakan salah satu fenomena yang terjadi di dalam EMA, maka itu pada tanggal 11 Desember 1997 di deklarasikanlah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim

(UNFCCC), sebuah persetujuan internasional mengenai pemanasan global yang

berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbondioksida dan lima gas rumah kaca lainnya, atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga jumlah atau menambah emisi gas-gas tersebut, yang telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto bertujuan untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida,

metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC - yang dihitung sebagai

rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia dan untuk negara lainnya. Protokol ini merupakan komitmen dari 39 negara industri untuk memotong emisi GRK (Gas Rumah Kaca) mereka antara tahun 2008 sampai 2012 (Widosari, 2005).

Peneliti belum menemukan penelitian yang mengukur tentang pengaruh

carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial. Oleh karena itu

peneliti mencoba menggabungkan beberapa variabel tersebut karena mengetahui bahwa carbon accounting merupakan turunan ilmu dari akuntansi manajemen lingkungan sehingga memakai penelitian dari Novia Rustika (2011) yang berjudul

(46)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 39

Universitas Kristen Maranatha

terhadap inovasi (Studi empiris pada perusahaan manufaktur yang terdapat di Jawa Tengah)”. Sampel untuk responden dalam penelitian ini perusahaan manufaktur di Jawa Tengah dengan minimal 60 responden yang diperoleh dari mengalikan jumlah variabel dengan 10, Sumber data dari penelitian ini adalah skor rata-rata yang diperoleh dari pengisian kuesioner yang telah disebarkan kepada para responden, dengan uji hipotesis menggunakan analisis regresi linier berganda, sebagai jurnal utama untuk mendukung melakukan penelitian ini. Dengan memperoleh hasil nilai t=3,019 dengan signifikansi 0,005 (p<0,05). Dengan signifikansi yang lebih kecil dari 0,005 dan arah keofisien positif, makan telah dibuktikan bahwa penerapan Enviromental Management Accounting (EMA) mempunyai hubungan positif terhadap inovasi produk. Hasil ini menunjukan bahwa semakin tinggi suatu perusahaan menerapkan Enviromental Management

Accounting (EMA), maka semakin tinggi pula perusahaan akan melakukan inovasi

produk sebagai salah satu usaha untuk mengurangi dampak dan biaya lingkungan yang terjadi.

Menurut penulis, dengan adanya carbon accounting, perusahaan dapat mengetahui tingkat emisi carbon yang dihasilkannya, semakin minim emisi carbon yang dihasilkan tetapi tingkat produksi meningkat, berarti kinerja manajerial pada perusahaan tersebut dapat dikatakan bagus sesuai dengan strategi-strategi yang diterapkan perusahaan.

HA3: Carbon Accounting dan strategi berpengaruh positif terhadap

(47)

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 40

Universitas Kristen Maranatha

2.4. Model Penelitian

Gambar 2.3 H1

H3

H2 2.3 Pengembangan Hi

Sumber : Penulis (2016)

Carbon

Accounting

Strategi

(48)

102 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

PENUTUP

5.1. Simpulan

Berdasarkan dari hasil analisa dan pengolahan data pada penelitian tentang

Pengaruh Carbon Accounting dan Strategi terhadap Kinerja Manajerial”, maka

peneliti dapat membuat kesimpulan sebagai berikut:

- Terdapat pengaruh yang signifikan antara antara carbon accounting terhadap Kinerja Manajerial pada perusahaan perusahaan yang ditelit..

- Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara strategi dengan kinerja manajerial pada perusahaan-perusahaan yang diteliti.

- Terdapat pengaruh yang signifikan antara antara carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial pada perusahaan-perusahaan yang diteliti.

5.2. Keterbatasan Penelitian

- Dalam penelitian ini, masih sedikitnya penelitian terdahulu sehingga peneliti sulit dalam menemukan referensi – referensi teori, serta referensi lainnya untuk penelitian ini.

- Dalam penelitian ini, peneliti memiliki jumlah responden yang terbatas, yaitu hanya 33 orang responden. Untuk itu, peneliti menyarankan pada para peneliti lain untuk dapat mendapatkan responden dengan jumlah yang lebih besar.

(49)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 103

Universitas Kristen Maranatha

perushaaan, sehingga banyak perusahaan memberikan penolakan kepada peneliti.

- Masih minimnya ilmu carbon accounting yang penulis ketahui karena masih jarangnya yang membahas konsep ini di Indonesia.

5.3. Saran

- Untuk perusahaan-perusahaan yang diteliti

Menyarankan untuk tetap meningkatkan carbon accounting yang telah dilaksanakan agar kinerja manajerial pada perusahaan dapat terus meningkat juga, lalu untuk memperbaiki strategi-strategi yang kurang tepat sasaran agar dapat lebih bersinergi dengan carbon accounting untuk meningkatkan kinerja manajerial, karena dengan strategi yang tepat bukan tidak mungkin dapat mendukung kinerja manajerial perusahaan, tidak hanya didukung oleh carbon accounting, tetapi strateginya sendiri harus lebih tepat lagi.

- Untuk peneliti selanjutnya

Peneliti menyarankan untuk tetap concern terhadap kasus carbon

accounting ini di Indonesia agar setiap perusahaan dapat menjalankan

(50)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 104

Universitas Kristen Maranatha

berharap untuk peneliti selanjutnya dapat memperbaiki kekurangan penulis tersebut agar kelak penelitian ini ke depannya menjadi lebih baik.

- Untuk Masyarakat

Semoga dengan adanya penelitian ini, masyarakat luas lebih ikut andil lagi untuk menjaga dan peduli terhdapap lingkungan sekitar tujuan nya tidak lain tidak bukan hanya untuk keberlangsungan manusia di masa yang akan datang. Dan juga masyarakat luas lebih mengerti bahwa dengan adanya

carbon accounting dan strategi yang baik pada suatu perusahaan dapat

meningkatkan kinerja manajerial pada perusahaan tersebut.

- Peneliti menyarankan pada para peneliti lain untuk dapat mendapatkan responden dengan jumlah yang lebih besar agar data yang didapatkan lebih besar pula guna untuk keakuratan penelitian ini ke depan nya, karena dalam penelitian ini masih banyak kekurangan terutama dari hasil variabel strategi terhadap kinerja manajerial, mungkin di karenakan oleh kurangnya responden pada penelitian ini.

(51)

PENGARUH CARBON ACCOUNTING DAN STRATEGI

TERHADAP KINERJA MANAJERIAL

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh

Sidang Sarjana Strata 1 (S-1)

Oleh

MUHAMAD NUR ABDULAH

1051323

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BANDUNG

(52)

THE INFLUENCE OF CARBON ACCOUNTING AND

STRATEGY TO MANAGERIAL PERFORMANCE

A THESIS

In Partial Fulfillment of The Requirements for The Degree of

Bachelor of Science In Accounting

By

MUHAMAD NUR ABDULAH

1051323

BACHELOR PROGRAM IN ACCOUNTING

FACULTY OF ECONOMICS

MARANATHA CHRISTIAN UNIVERSITY

BANDUNG

(53)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya berkat rahmat, hidayah, dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang

berjudul “Pengaruh carbon accounting dan strategi terhadap kinerja manajerial”.

Tujuan dari penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk mengetahui bagaimana

carbon accounting dan strategi dapat mempengaruhi kinerja manajerial dalam suatu

perusahaan guna mencapai suatu tujuannya dan juga untuk memberikan masukan untuk perusahaan guna mengurangi dampak lingkungan yang dilakukan dari proses produksi yang mereka lakukan.

Motivasi dan keinginan peneliti adalah adanya rasa ingin tahu terhadap isu-isu carbon acccounting apakah telah diketahui luas oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia, dan apakah telah diterapkan atau belum, serta dampak dari carbon emisi tersebut bagaimana. Maka dari itu penulis ingin memperluas ilmu masyarakat luas terutama perusahaan-perusahaan guna lebih peduli terhadap lingkungan dengan cara menerapkan carbon accounting terserbut.

Tugas Akhir ini dapat terselesaikan berkat bimbingan, pengarahan, dan bantuan yang berharga dari berbagai pihak. Oleh karena itu ada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Allah SWT atas karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas akhir dalam

perkuliahan ini dimulai dari kuliah sampai menyelesaikan Tugas Akhir ini. 2. Ibu, Ayah, Kakak, dan Keluarga tercinta yang selalu memberikan doa,

bimbingan materi maupun materil selama penulis melaksanakan perkuliahan sampai menyelesaikan tugas akhir ini.

3. Bapak Candra Sinuraya S.E., M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu, dan pikiran di dalam memberikan bimbingan kepada penulis khususnya dalam Tugas Akhir ini.

4. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Maranatha Dr. Mathius Tandiontong, S.E., M.M., Ak., CA.

5. Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Kristen Marantha Ibu Elyzabet I. Marpaung, S.E., M.Si., Ak., CA.

6. Bapak Drs. Soddin Mangunsong, S.E., M.Si., Ak., CA. selaku Dosen Wali saya selama menempuh perkuliahan di Universitas Kristen Maranatha

7. Seluruh Dosen dan Staff Fakultas Ekonomi yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala ilmu dan pengarahan yang telah diberikan kepada penulis.

8. Kepada Astrid Mei Mega Putri yang selalu saya cintai karena telah banyak memberikan motivasi guna menyelesaikan Tugas Akhir ini

9. Kepada Patra terima kasih atas segala bantuan dan dukungannya.

10.Barok, Andi, Mz, Viosy, Andry, Ihsan, Gia, Irfan, Avrian, Ardy, Arisyi, Sandy, Ryan, dan kawan-kawan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terimakasih dukungannya.

11.Kepada Persib Bandung, Flowers City Casuals (RIP), Bandung Boys Club dan TS 6-8 yang juga telah banyak memberikan semangat.

(54)

vi

Mengingat terbatasnya pengetahuan dan pengalaman, penulis menyadari sepenuhnya bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna serta banyak kekurangan. Namun penulis senantiasa berusaha menyusun dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya. Penulis mengharapkan mendapatkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan Tugas Akhir ini.

Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah begitu banyak membantu penulis dalam membuat Tugas Akhir ini. Akhir kata, penulis berharap semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis sendiri khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Bandung, September 2016

Gambar

Gambar 4.3 Analisis Deskriptif Kinerja Manajerial ............................................
    Gambar 2.1
Tabel 2.1
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian diharapkan mencapai hasil yang memuaskan, baik ditinjau dari segi tercapainya tujuan perusahaan maupun bagi karyawan itu sendiri (Purba dan

Jenis perusahaan kami adalah perusahaan yang berusaha untuk menjaga produk atau jasa yang stabil dan dalam jenis yang terbatas, namun sementara itu juga melakukan gerakan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dan masukan bagi pihak manajemen perusahaan dalam mengambil keputusan agar lebih

“Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Kinerja Lingkungan Terhadap Carbon Emission Disclosure pada Perusahaan Non Jasa yang Terdaftar di BEI Tahun 2017”

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan validitas eksternal perusahaan dengan cara menambah sampel dari perusahaan manufaktur skala besar menjadi perusahaan

Jenis perusahaan kami adalah perusahaan yang berusaha untuk menjaga produk atau jasa yang stabil dan dalam jenis yang terbatas, namun sementara itu juga melakukan gerakan

Terkait pelaporan Carbon Accounting untuk diimplementasikan ke setiap perusahaan, sebenarnya hal ini masih sebatas perhatian dari para akuntan dan pengguna

ii PENGARUH PENERAPAN GREEN ACCOUNTING, INTELLECTUAL CAPITAL, KEPEMILIKAN MANAJERIAL DAN MANAJEMEN LABA TERHADAP KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN PERTAMBANGAN Oleh Ni Made