• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum tentang Lembaga Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hukum tentang Lembaga Negara"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Hukum tentang Lembaga Negara

Tugas Akhir

Nama Dosen: Dr. Hernadi Affandi, S.H., LL.M.

Oleh:

Purri Trirani 110110130308

Fakultas Hukum Universitas Padjajaran

2015

(2)

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Istilah Lembaga Negara di Indonesia mengacu pada bermacam-macam lembaga negara yang bekerja sama secara harmonis demi terciptanya Negara Indonesia yang tertib, aman, dan teratur.

Dalam pengertiannya, menurut Prof. Bagir Manan, lembaga negara adalah kumpulan lingkungan jabatan sebagai unsur penyelenggara organisasi negara, merupakan alat-alat kelengkapan yang menjalankan negara, serta dapat diartikan pula sebagai organ-organ negara baku atau badan konstitusional.

Adapun menurut Dr. Hernadi Affandi, SH.LL.M, lembaga negara adalah alat kelngkapan negara yang bersifat vital dan fundamental, yang diperlukan dalam penyelenggaraan negara dan keberadaannya diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Menurut Prof. Jimly asshiddiqie, Dalam setiap pembicaraan mengenai lembaga Negara, ada 2 (dua) unsur pokok yang saling berkaitan, yaitu organ dan fungsi. Organ adalah bentuk atau wadahnya, sedangkan fungsi adalah isinya. Organ adalah status bentuknya, sedangkan fungsi adalah gerakan atau bagaimana bekerjanya wadah sesuai dengan maksud pembentukannya. Dalam Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) organ dimaksud ada yang disebut secara eksplisit namanya dan ada pula yang disebut secara eksplisit hanya fungsinya. Ada pula organ baik namanya maupun fungsinya akan diatur dengan peraturan yang lebih rendah. Sebenarnya yang disebut atau disebut-sebut dalam UUD 1945, terdapat lebih dari 34 buah organ, jabatan, atau lembaga.

Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 disebutkan secara eksplisit, lembaga-lebaga negara yang diatur oleh UUD 1945, yaitu :

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) 2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 4. Presiden dan Wakil Presiden 5. Mahkamah Agung (MA)

6. Mahkamah Konstitusi (MK); dan 7. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Salah satu cabang dalam pembahasan mengenai lembaga negara adalah cabang kekuasaan legislatif. Dalam pembahasan mengenai legislatif, terdapat 3 (tiga) lembaga negara di dalamnya, yaitu MPR, DPR, dan DPD.

(3)

Mengacu pada pembahasan mengenai badan legislatif tersebut, tulisan ini akan mencoba membahas mengenai fungsi, tugas, dan wewenang salah satu lembaga legislatif di Indonesia, yaitu Dewan Perwakilan Daerah atau biasa disingkat DPD.

II. Identifikasi Masalah

1. Bagaimana fungsi, tugas, dan wewenang DPD sebagai bagian dari Badan Legislatif di Indonesia?

2. Apa Implementasi fungsi, tugas, dan wewenang DPD sebagai lembaga negara yang termasuk dalam Badan Legislatif?

3. Apakah DPD berperan penting dalam pembentukan aturan-aturan kenegaraan di Indonesia?

III. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan dari tulisan ini adalah untuk memenuhi tugas akhir dari mata kuliah Hukum tentang Lembaga Negara dari Yth. Bapak Dosen Dr. Hernadi Affandi, S.H., LL.M.

serta untuk mengetahui peran serta DPD dalam badan legislatif Indonesia yang dibahas melalui implementasi-implementasi fungsi, tugas, dan wewenangnya sebagai lembaga negara dalam badan legislatif Indonesia.

(4)

IMPLEMENTASI FUNGSI, TUGAS DAN WEWENANG DPD-RI

A. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia merupakan suatu lembaga negara yang termasuk dalam lingkungan lembaga legislatif. DPD lahir pada 1 Oktober 2004, lembaga ini merupakan lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi yang dipilih melalui pemilihan umum.

Sebelum tahun 2004, DPD dikenal dengan sebutan Utusan Daerah.1

DPD beranggotakan sedikitnya 132 Orang yang dipilih sebagai perwakilan dari suatu daerah dan dipilih melalui proses pemilu legislatif. Anggota DPD dari setiap provinsi adalah 4 orang.

Masa jabatan anggota DPD adalah 5 tahun. Adapun alat kelengkapan DPD adalah sebagai berikut:

1. Komite I

Membidangi otonomi daerah; hubungan pusat dan daerah serta antar-daerah;

pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah; pemukiman dan kependudukan; pertahanan dan tata ruang; serta politik, hukum, dan hak asasi manusia (HAM).

2. Komite II

Membidangi pertanian dan perkebunan; perhubungan; kelautan dan perikanan;

energy dan sumber daya mineral; kehutanan dan lingkungan hidup; pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan daerah tertinggal; perindustrian dan perdagangan;

penanaman modal; dan pekerjaan umum.

3. Komite III

Membidangi pendidikan; agama; kebudayaan; kesehatan; pariwisata; pemuda dan olahraga; kesejahteraan sosial; pemberdayaan perempuan dan ketenagakerjaan.

4. Komite IV

Membidangi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN); pajak; perimbangan keuangan pusat dan daerah; lembaga keuangan; dan koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah.

1 www.dpd.go.id

(5)

5. Panitia Perancang Undang-Undang

Panitia Perancang Undang-Undang (PPUU) merupakan Alat kelengkapan DPD yang bersifat tetap, bertugas menyiapkan Rancangan Undang-Undang inisiatif DPD yang akan disampaikan kepada DPR.

6. Panitia Urusan Rumah Tangga

Panitia Urusan Rumah Tangga (PURT) merupakan Alat kelengkapan DPD yang bersifat tetap, yang bertugas membantu pimpinan dalam menentukan kebijakan kerumah tanggaan DPD, termasuk kesejahteraan anggota dan pegawai Sekretariat Jendral.

7. Badan Kehormatan

Badan Kehormatan (BK) merupakan Alat Kelengkapan DPD yang bersifat tetap, yang bertugas melakukan penyelidikan dan verifikasi atas pengaduan terhadap anggota DPD. Selain itu, BK juga bertugas untuk mengevaluasi dan menyempurnakan pertauran DPD tentang tata tertib dan kode etik.

8. Panitia Hubungan Antar Lembaga DPD

Panitia Hubungan Antar Lembaga (PHAL) merupakan Alat Kelengkapan DPD, yang bertugas membina, mengembangkan, dan meningkatkan hubungan persahabatan dan kerjasama antara DPD dengan lembaga sejenis, lembaga pemerintah, maupun non-pemerintah, baik secara bilateral maupun multilateral.

9. Kelompok DPD di MPR

Kelompok DPD di MPR adalah bagian integral dari DPD yang merupakan anggota sebagai anggota MPR, yang bertugas mengkoordinasikan kegiatan Anggota DPD di MPR, meningkatkan kemampuan kinerja DPD dalam lingkup dan fungsi sebagai anggota MPR serta melakukan pendalaman hal-hal yang berkaitan dengan konstitusi dan hal-hal yang berkaitan dengan sistem ketatanegaraan.

10. Panitia Akuntabilitas Publik

Panitia Akuntabilitas Publik (PAP) merupakan alat kelengkapan DPD, yang bertugas melakukan penelaahan lanjutan terhadap temuan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan yang disampaikan kepada DPD.2

2 Ibid.

(6)

B. Fungsi, Tugas, dan Wewenang DPD-RI

Hal mengenai DPD tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tepatnya pada bab VIIA pasal 22C dan 22D. Pada pasal-pasal tersebut disebutkan garis besar penjelasan DPD dan tugas wewenang DPD.

Dalam praktiknya sebagai lembaga negara legislatif, DPD mempunyai berbagai macam tugas dan wewenang yang harus dilaksanakan guna terciptanya masyarakat yang adil, tentram, dan teratur.

Tugas dan wewenang DPD tercantum baik dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan dalam Undang-Undang MD3 atau yang mengatur mengenai MPR, DPR, DPRD, dan DPD.

Adapun fungsi, tugas, dan wewenang DPD Republik Indonesia adalah sebagai berikut:

Fungsi LEGISLASI (Pengaturan)

Dalam bentuk konkretnya, fungsi pengaturan ini terwujud dalam fungsi pembentukan undang-undang.fungsi pengaturan ini berkenaan dengan kewenangan untuk menentukan peraturan yang mengikat warga negara dengan norma-norma hukum yang mengikat dan membatasi.3

Fungsi legislatif menyangkut 4 (empat) bentuk kegiatan, yaitu:4 1. Prakarsa pembuatan undang-undang (legislative initiation) 2. Pembahasan rancangan undang-undang (law making process)

3. Persetujuan atas pengesahan rancangan undang-undang (law enactment approval)

4. Pemberian persetujuan pengikatan atau ratifikasi atas perjanjian atau persetujuan internasional, dan dokumen-dokumen hukum yang mengikat lainnya (binding decision making on international agreement and treaties or other legal binding documents)

Tugas dan wewenang DPD yang menyangkut fungsinya sebagai legislasi adalah:

1. DPD dapat mengajukan rancangan undang-undang (RUU) kepada DPR 2. DPD ikut membahas RUU

Dalam berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia, fungsi legislasi ini biasanya memang dianggap yang paling penting. Sejak dulu, lembaga parlemen atau lembaga perwakilan biasa dibedakan dalam tiga fungsi, yaitu: (a) fungsi legislasi; (b) fungsi pengawasan; (c) fungsi anggaran. Perbedaan ini, misalnya, dapat dilihat dalam

3 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. 2013. Hlm. 299

4 Ibid. hlm. 300

(7)

Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan anggota MPR, DPR, DPD, dan DPRD.5

Fungsi PERTIMBANGAN

Tugas dan wewenang DPD yang menyangkut fungsinya sebagai penimbang adalah: DPD memberikan pertimbangan kepada DPR.

Fungsi PENGAWASAN (control)

Diantara peraturan-peraturan yang dibuat, tentu dapat membawa dampak yang berbeda pada setiap warga negara. Terkadang ada pula peraturan yang dapat mengurangi hak dan kebebasan warga negara. Maka dari itu, diperlukan pengawasan dari rakyat terhadap implementasi aturan-aturan yang dibuat penyelenggara negara tersebut. Oleh karena itu, lembaga perwakilan rakyat diberikan kewenangan untuk melakukan kontrol dalam 3 (tiga) hal, yaitu: (i) kontrol atas pemerintahan (control of executive); (ii) kontrol atas pengeluaran (control of expenditure); (iii) kontrol atas pemungutan pajak (control of taxation).6

Tugas dan wewenang DPD yang menyangkut fungsinya sebagai pengawas adalah:

1. DPD dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan menyampaikan hasil pengawasannya kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

2. DPD menerima hasil pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan BPK.

 Fungsi PERWAKILAN (Representasi)

Fungsi parlemen sebagai lembaga perwakilan rakyat yang paling pokok sebenarnya adalah fungsi representasi atau perwakilan itu sendiri.7

DPD sebagai badan perwakilan mempunyai tugas mewakili rakyat untuk menyalurkan aspirasi-aspirasi untuk dijadikan pertimbangan dalam membuat aturan.

Dalam rangka pelembagaan fungsi representasi, dikenal adanya 3 (tiga) sistem perwakilan yang dipraktikkan di berbagai negara demokrasi. Ketiga fungsi itu adalah:

1. Sistem perwakilan politik (politic representation);

2. Sistem perwakilan territorial (territorial atau regional representation);

3. Sistem perwakilan fungsional (functional representation).8

5 Indonesia, Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan

Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, UU Nomor 22 Tahun 2003, LN Nomor 92 tahun 2003, TLN Nomor 4310

6 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., Op. cit. hlm. 302

7 Ibid. hlm.304

(8)

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Fungsi, tugas, dan wewenang DPD sebagai badan legislatif adalah:

 Fungsi Legislasi dengan tugas dan wewenang:

- Mengajukan rancangan undang-undang (RUU) kepada DPR - Ikut membahas RUU

 Fungsi Pertimbangan

- Memberikan pertimbangan kepada DPR

 Fungsi Pengawasan

- Melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang dan menyampaikan hasil pengawasannya kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti.

- Menerima hasil pemeriksaan keuangan negara yang dilakukan BPK.

2. Contoh Implementasi Fungsi, Tugas dan wewenang DPD

Komite III DPD RI Menggelar RDPU RUU Bahasa Daerah

Jakarta,dpd.go.id – Guna membahas RUU Inisiatif tentang Bahasa Daerah, Komite III DPD RI menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Prof.Dr.Gufran Ali Ibrahim, MS. Selaku Guru Besar Antropologi Linguistik Universitas Khairun, Ternate. RDPU (10/06/2015) yang berlangsung di Ruang Rapat Komite III DPD RI dipimpin oleh Fahira Idris, Wakil Ketua Komite III DPD

“ Kebutuhan UU mengenai Bahasa daerah semakin signifikan, hal ini RI.

dikarenakan UU no. 24 tahun 2009 masih bersifat terbatas, untuk itu diperlukan UU lain sebagai pemangku bahasa daerah, ” ujar Fahira Idris dalam pembukaan RDPU.

Prof.Dr.Gufran Ali Ibrahim, MS. Mengungkapkan bahwa “ Kondisi lanskap Bahasa di Indonesia sangat beragam, Terdapat 720 bahasa di Indonesia, sekitar 500 bahasa terdapat di wilayah Indonesia bagian Timur. Tingkat diversitas bahasa di timur Indonesia tinggi. Di Indonesia timur sekarang faktanya Melayu Lokal semakin menjadi bahasa pertama dan semakin

8 Ibid. hlm.305

(9)

tergerusnya bahasa etnik, hal ini disebabkan karena Ayah dan Ibu tidak lagi membiasakan menggunakan bahasa etnik di rumahnya.”

Selanjutnya Prof.Dr.Gufran Ali Ibrahim, MS. memaparkan ” terdapat tiga isu kebahasaan yang harus diperhatikan dalam perancangan UU bahasa yaitu kondisi bahasa – bahasa etnik yang semakin tergerus dan terancam punah, penggunaan Kolokuial Jakarta semakin luas dan menggerus ranah penggunaan Bahasa Indonesia, dan naiknya populasi warga urban pengguna Melayu Lokal.

Dikhawatirkan dalam beberapa waktu yang akan datang Kolokuial Jakarta akan menggerus bahasa Indonesia dan bahasa daerah lainnya, kejadian ini akan serupa dengan populernya bahasa Putonghua di Hongkong atau sekarang dikenal dengan Mandarin.”

Sebagai solusi dari permasalahan diatas, Prof.Dr.Gufran Ali Ibrahim, MS mengemukakan bahwa “ada tiga langkah penting yang dapat dilakukan dalam merancang UU mengenai bahasa, yaitu pemetaan ulang vitalitas bahasa etnik berdasar sebaran, daya hidup dan tingkat diversitas; pemetaan luasan sekaligus cakupan penggunaan Kolokuial Jakarta-Melayu Lokal; kebijakan dan regulasi preservasi bahasa etnik, kolokuial Jakarta-Melayu lokal untuk fungsi yang proporsional dalam penggunaannya.”

Menutup paparannya Prof.Dr.Gufran Ali Ibrahim, MS, berharap bahwa penyusunan RUU Bahasa Daerah ini dapat memiliki relasi penguatan komplementer dengan UU no. 24 tahun 2009 dan PP no. 57 tahun 2014 agar tidak bersifat tumpang tindih dan redundan. Selain itu diharapkan RUU ini juga dapat mendorong gerakan afirmasi belajar bahasa sendiri di kampung sendiri sehingga nantinya tercipta tindakan pemuliaan bahasa di Indonesia dengan Bahasa Indonesia sebagai pemuncak Indonesia, Kolokuial Jakarta-Melayu Lokal sebagai penguat kelas menengah urban, dan bahasa etnik sebagai reservoir kemajemukan.”

10 uni 2015

9

3. DPD dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam pembentukan undang-undang di Indonesia dinilai masih lemah, karena publik menilai DPD kurang mengambil kesempatan dalam mengajukan usulan-usulan perencanaan undang-undang. Seperti diatur dalam UUD 1945 pasal 22D ayat (1) sampai ayat (3) yang membahas mengenai tugas dan wewenang DPD, terdapat ketentuan yang mengatur mengenai kewenangan dalam mengajukan usulan rancangan undang-undang, pembahasan RUU, dan pengawasan terhadap pelaksanaan UU yang disahkan DPR tentunya hanya yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, dll. Bukti dari kelemahan DPD dalam hal ini adalah kurang andilnya anggota DPD RI dalam pembahasan mengenai UU yang dibahas oleh DPR, sehingga kinerja DPD di kelembagaan negara Indonesia dininai masih kurang berpengaruh.

9 http://www.dpd.go.id

(10)

Daftar Pustaka

Asshiddiqie, Jimly. 2013. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Jakarta: PT.

Rajagrafindo Persada.

Indonesia, Undang-Undang tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan

Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, UU Nomor 22 Tahun 2003, LN Nomor 92 tahun 2003, TLN Nomor 4310

http://www.dpd.go.id

Referensi

Dokumen terkait

Konsentrasi BAP dan 2,4-D serta interaksi keduanya tidak berpengaruh terhadap waktu terbentuknya kalus dan persentase eksplan berkalus, namun konsentrasi BAP

Siklus tekstil terdiri dari memproduksi serat alami dengan bantuan tangan manusia seperti ; industri tekstil tradisional (pemintalan, pertenunan). Tren, semua bidang

Rencana tindakan siklus II ini merupakan tindak lanjut dari pelaksanaan siklus I. Peneliti menyiapkan perangkat pembelajaran meliputi RPP, instrumen lembar observasi

11 001019 Universitas Brawijaya Kopertis 07 LENGKAP 12 001021 Universitas Pattimura Kopertis 12 BELUM LENGKAP 13 001025 Universitas Jember Kopertis 07 BELUM LENGKAP 14

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik pelayanan yang belum memenuhi harapan pelanggan dan memberikan saran tentang peningkatan kualitas pelayanan

Pada perencanaan Pelat Hollow Core harus direncanakan ukuran pelat yang memenuhi syarat-syarat yang sesuai dengan peraturan Beton Indonesia (SNI 2002) baik dalam saat beban

The high content of omega-3 and omega-6 fatty acids indicated that the algal oils of two strains was potential to be applied in health application, espe-

Di Indonesia melalui Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) pada tahun 2009 telah membuat Standar Akuntansi bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Dilihat dari