TESIS
OLEH
RAHMA WARDANI SIREGAR 177020012 / AR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
(STUDI KASUS : PASAR SUKARAMAI MEDAN)
TESIS
Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
OLEH
RAHMA WARDANI SIREGAR 177020012 / AR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
Panitia Penguji Tesis
Ketua Komisi Penguji : Amy Marisa, ST, M.Sc, PhD,
Anggota Komisi Penguji : 1. Hilma Tamiami Fachrudin, ST, M.Sc, PhD 2. Beny O. Y Marpaung, ST, MT, PhD, IPM 3. Dr. Ir Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc,IPM 4. Dr. Imam Faisal Pane, ST, MT, IPM
mendukung kelancaran aktivitas di pasar tradisional, para pengguna membutuhkan sarana fasilitas yang memadai sebagai penunjang aktivitas jual beli. Pasar tradisional Sukaramai Medan merupakan salah satu pasar tradisional di Kota Medan yang dibangun kembali oleh pemerintah akibat kebakaran. Pemerintah membangun kembali pasar sukaramai Medan dengan program yang digagas untuk merespon permasalahan pada umumnya yang terjadi pada pasar tradisional. Tetapi upaya pemerintah membangun kembali dengan program tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan keberhasilan. Hal ini terlihat dari aktivitas pengguna pasar yang ada di pasar sukaramai, tidak begitu ramai sebagaimana pasar tradisional di tempat lain. Selain itu, banyaknya retail yang tidak berfungsi atau tidak dipergunakan pedagang, sehingga pembeli enggan untuk berbelanja yang mengakibatkan pasar sukaramai menjadi sepi aktivitas oleh pembeli maupun pedagang. Tujuan pada penelitian ini untuk menganalisa aktivitas pengguna, serta menganalisa persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan. Pada penelitian ini, metode kualitatif deskriptif digunakan untuk menganalisa aktivitas pada pasar tradisional sukaramai Medan, sedangkan metode campuran (kuantitatif deskriptif dan kualitatif deskriptif) digunakan untuk menganalisa persepsi pengguna terhdap kondisi pasar tradisional sukaramai Medan. Hasil analisa menyatakan bahwa Aktivitas pengguna pada pasar tradisiona Sukaramai dimulai pada pukul 05.00WIB sampai dengan tutup pukul 19.00 WIB. Dikarenakan banyaknya kios dan los yang tutup menyebabkan jumlah pembeli yang datang tidak terlalu ramai. Sepinya pembeli yang berdatangkan mempengaruhi aktivitas pedagang yang cenderung singkat. Pembeli yang datang biasanya yang sudah memiliki pelanggan pedagang pada pasar Sukaramai sehingga waktu pembeli untuk berbelanja juga cenderung singkat dan tidak terlalu lama. Hal ini mengakibatkan sepinya aktivitas yang terjadi dipasar tradisional Sukaramai Medan.
Sementara itu, Berdasarkan persepsi pengguna menyatakan bahwa kondisi pasar tradisional termasuk pada kriteria kurang baik. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil dari pengamatan bahwa ruang-ruang yang ada pada pasar tradisional kurang nyaman bagi pengguna baik pedagang maupun pembeli. Penataan letak retail dan los yang belum tertata dengan baik sesuai klasifikasinya, besaran sirkulasi sekunder yang tidak memadai menyebabkan ketidaknyamanan pengguna pasar, beberapa sarana dan prasarana yang kurang mendukung kegiatan jual beli seperti penghawaan yang kurang maksimal sehingga menimbulkan udara yang panas, penyebaran fasilitas umum (toilet) yang tidak merata, kualitas air bersih yang tidak memadai untuk kelangsungan berdagang, serta kurangnya persediaan tempat sampah.
Hal-hal tersebut secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas pengguna pada pasar tradisional tersebut sehingga menyebabkan sepinya aktivitas pada pasar tradisional Sukaramai. Jadi, Untuk meningkatkan kelancaran kegiatan aktivitas di pasar tradisional Sukaramai Medan sebaiknya dilakukan pemeliharaan secara berkala, meningkatkan dan memperbaiki kondisi sarana maupun prasarana agar tercipta kenyamanan dan keamanan bagi pengguna pasar.
Kata kunci : Aktivitas, Fungsional, Pasar Tradisional
activities. In supporting the smooth running of activities in traditional markets, users need adequate facilities to support buying and selling activities. The Sukaramai Medan traditional market is one of the traditional markets in Medan City which was rebuilt by the government due to a fire. The government rebuilt the Medan voluntary market with a program that was initiated to respond to problems in general that occur in traditional markets. But the government's efforts to rebuild with the program have not been entirely successful. This can be seen from the activities of market users in the voluntary market, which are not as crowded as traditional markets in other places. In addition, there are many retailers that do not function or are not used by traders, so buyers are reluctant to shop, which results in the voluntary market being quiet for both buyers and traders. The purpose of this study is to analyze user activity, as well as to analyze user perceptions of the conditions of the Sukaramai Medan traditional market. In this study, the descriptive qualitative method was used to analyze the activities in the sub-district traditional market in Medan, while the mixed method (quantitative descriptive and descriptive qualitative) was used to analyze the user's perceptions of the conditions of the voluntary traditional market in Medan. The results of the analysis show that user activity at the Sukaramai traditional market starts at 05.00WIB until closing at 19.00 WIB. Due to the large number of stalls and booths that were closed, the buyers were not crowded. The lack of buyers who arrive affects traders' activity which tends to be short. Buyers who come are usually those who already have merchant customers in the Sukaramai market so that the time for buyers to be too inclined and not too long. This has resulted in less activity occurring in the traditional Sukaramai market, Medan. Meanwhile, based on the user's perception that traditional market conditions are categorized as unfavorable. This is based on the results of the results that the existing spaces in traditional markets are less comfortable for users, both buyers and buyers. The layout of retail and booths which are well ordered according to their classification, the insufficient amount of secondary circulation causes inconvenience to market users, some facilities and infrastructure that do not support buying and selling activities such as inadequate ventilation causing hot air, distribution of public facilities (toilets) uneven, inadequate quality of clean water for survival, and supplies of trash cans. These things indirectly affect the activities of users in the traditional markets, thus causing quiet activities in the Sukaramai traditional market. So, to improve the smooth running of activities in the Sukaramai traditional market in Medan, it should be done regularly, improve and improve the conditions of facilities or infrastructure in order to create comfort and safety for market users.
Key words: Activities, Functional, Traditional Markets
berkat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian tesis yang berjudul “Persepsi Pengguna Terhadap Kondisi Pasar Tradisional di Kota Medan (Studi kasus : Pasar Sukaramai Medan)”, yang disusun sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Teknik dalam Program Studi Teknik Arsitektur pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, dengan tulus dan kerendahan hati, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada Ibu Amy Marisa, ST, M.Sc, PhD dan Ibu Hilma Tamiami Fachrudin,ST, M.Sc, PhD selaku Dosen Pembimbing Tesis.
Atas kesediannya membimbing, memotivasi, memberikan arahan, dan waktu kepada saya sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan.
Dengan ini pula, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Ir.Nurlisa Ginting, M.Sc., PhD, IPM selaku Ketua Program Studi Magister Teknik Arsitektur Universitas Sumatera Utara, para dosen pengajar Magister Teknik Arsitektur Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan materi pengajaran yang bermanfaat selama proses perkuliahan dan staf pegawai yang telah banyak membantu dalam hal administrasi yang diperlukan.
Ucapan terimakasih yang tulus kepada Ayah dan Ibu saya tercinta yang sudah memberikan dukungan dan doa yang selalu dipanjatkan demi kelancaran setiap proses perkuliahan dan penyelesaian tesis ini. Serta kepada Putri saya tercinta, suami,
Nama : Rahma Wardani Siregar Tempat/ Tanggal Lahir : Medan / 29 Juni 1993
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Nikah
Agama : Islam
Alamat : Jl. Karet 21 No. 15 P.Simalingkar
Golongan Darah : A
PEKERJAAN
2015- Sekarang : Junior Arsitek pada PT. Merek Indah Lestari
PENDIDIKAN
1999-2005 : SD Negeri 068003 Medan
2005-2008 : SMP Negeri 1 Medan
2008-2011 : SMA Negeri 2 Medan
2011-2015 : S-1 Teknik Arsitektur Universitas Sumatera Utara
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
1.5 Batasan Penelitian ... 4
1.6 Sistematika Penulisan ... 4
1.7 Kerangka Berfikir ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Pasar Tradisional ... 7
2.1.1 Klasifikasi Pasar Tradisional ... 8
2.2 Aktivitas Pengguna Pada Pasar Tradisional ... 10
2.3 Aspek Fungsional Pada Perencanaan Pasar Tradisional ... 12
2.4 Rangkuman Teori ... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 24
3.1 Jenis Penelitian ... 24
3.2 Variabel Penelitian ... 24
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 25
3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 30
3.4 Populasi dan Sampel ... 32
3.5 Metode Analisa ... 34
BAB IV DESKRIPSI KAWASAN PENELITIAN ... 37
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42
5.1 Aktivitas Pengguna Pasar Tradisional Sukaramai ... 42
5.1.1 Aktivitas Pedagang ... 43
5.1.2 Aktivitas Pembeli ... 46
5.2 Persepsi Pengguna Pada Pasar Tradisonal Sukaramai Medan ... 47
5.2.1 Persepsi Pengguna Terhadap Zonasi Pada Pasar Tradisonal Sukaramai Medan ... 47
5.2.2 Persepsi Pengguna Terhadap Sirkulasi Pada Pasar Tradisonal Sukaramai Medan ... 53
5.2.3 Persepsi Pengguna Terhadap Sarana dan Prasarana Pada Pasar Tradisonal Sukaramai Medan... 58
6.2 Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ... 77
LAMPIRAN A ... 81
LAMPIRAN B ... 85
LAMPIRAN C ... 86
1.1 Kerangka Berfikir... 6
2.1 Pengelompokan Komoditas Pasar Tradisional yang Tidak Merata (kiri) dan Merata (kanan) ... 14
2.2 Dimensi Lebar Sirkulasi Utama dan Sekunder pasar yang Efektif ... 15
4.1 Peta Lokasi Pasar Tradisional Sukarama ... 37
4.2 Denah Besment Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 39
4.3 Denah Lantai 1 Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 40
4.4 Denah Lantai 2 Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 40
4.5 Denah Lantai 3 Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 41
4.6 Site Plan Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 41
5.1 Gambar Zona Aktivitas Pedagang Pasar Tradisional Sukaramai Medan 42 5.2 Analisa Zonasi Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 48
5.3 Denah Kios Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 49
5.4 Denah Los Pada Tradisional Sukaramai Medan ... 49
5.5 Kondisi Los Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 50
5.6 Analisa Zoning Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 52
5.7 Analisa Zoning Area Servis Pada Tradisional Sukaramai Medan ... 53
5.8 Analisa Sirkulasi Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 55
5.9 Analisa Besaran Koridor Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 56
5.13 Analisa Pencahayaan pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 62
5.14 Penerangan Buatan pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 62
5.15 Analisa Zona Fasilitas pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 63
5.16 Denah Toilet pada Lantai satu Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 64
5.17 Musholla pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 65
5.18 Area Parkir Rooftop Pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 66
5.19 Air Bersih pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 67
5.20 Saluran Drainase pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 68
5.21 Analisa Persampahan pada Pasar Tradisional Sukaramai Medan ... 69
5.22 Analisa Site Plan Ruang Bersama Pasar Tradisional Sukaramai Medan . 70 5.23 Ruang Bersama Pada Pasar Tradisonal Sukaramai Medan ... 71
2.1 Aktivitas Pengguna Pada Pasar Tradisional ... 11
2.2 Aspek Fungsional Pada Perencanaan Pasar Tradisional ... 20
2.3 Rangkuman Teori ... 23
3.1 Variabel Penelitian ... 25
3.2 Metode Pengumpulan Data ... 26
3.3 Hasil Uji Validitas Kuesioner Pembeli ... 31
3.4 Hasil Uji Validitas Kuesioner Pedagang ... 31
3.5 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner... 32
3.6 Jumlah Pembeli di Pasar Sukaramai Medan ... 33
3.7 Jumlah Pedagang di Pasar Sukaramai Medan ... 33
3.8 Skala Penilian Kondisi Pasar Tradisional ... 36
5.1 Aktivitas Pedagang ... 44
5.2 Persepsi Pengguna Terhadap Zonasi Pada Pasar Tradisional Sukaramai .. 48
5.3 Persepsi Pengguna Terhadap Sirkulasi Pada Pasar Tradisional Sukaramai... 54
5.4 Persepsi Pengguna Terhadap Sarana dan Prasarana Pada Pasar Tradisonal Sukaramai Medan ... 59
Pasar tradisional sangat berperan penting bagi kehidupan manusia, karena merupakan salah satu tempat proses jual beli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam proses jual beli, pasar tradisional memiliki interaksi sosial yang khas dibandingkan dengan pasar modern yaitu adanya proses tawar-menawar antara penjual dengan pembeli. Pasar tradisional memiliki beberapa elemen seperti kios-kios, gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh pedagang maupun pengelola pasar (Anggraini, 2017).
Ekomadyo (2012) mengatakan bahwa kondisi pasar tradisional yang berhasil adalah pasar yang ramai oleh aktivitas dan dengan tersedianya ruang-ruang yang nyaman, aksesibel, dan menjadi wadah aktivitas sosio-kultural. Dalam mendukung kelancaran aktivitas di pasar tradisional, para pengguna membutuhkan sarana fasilitas yang memadai sebagai penunjang aktivitas jual beli (Gitosudarmo, 2012).
Dalam mencapai keberhasilan kondisi pasar tradisional, aspek fungsional sangat berperan penting dalam kontribusi perencanaan pasar tradisional. Pada aspek fungsional tersebut mencakup beberapa elemen-elemen perencaaan seperti, zonasi, sirkulasi, serta sarana dan prasarana (Ekomadyo, 2012).
Di Indonesia pasar tradisional dapat ditemui di tiap daerah baik pedesaan aupun perkotaaan. Pasar tradisional juga memiliki keunggulan yaitu lokasi strategis yang dekat dengan permukiman agar mudah dijangkau pembeli, area perjualan yang luas,
keberagaman barang dagangan, harga yang relatif rendah, serta sistem tawar-menawar antara penjual dan pembeli (Anggreini, 2017). Selain keunggulanya, pasar tradisional juga memiliki beberapa kelemahan yang menjadi permasalahan pasar tradisional pada umumnya yaitu suatu tempat yang kumuh, kotor, becek, tidak terawat, dan mempunyai tingkat kualitas penggunaan sangat rendah. Penyebabnya pasar tradisional dikenola tanpa inovasi yang berarti dan mengakibatkan pasar menjadi tidak nyaman dan kompetitif (Ekomadyo, 2012).
Pada tahun 2010, kota Medan mengalami peristiwa kebakaran pada salah satu pasar tradisionalnya yaitu pasar tradisional Sukaramai yang terletak di jalan Arief Rahman Hakim, Sukaramai II, Kec. Medan Area, Kota Medan. Dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan kualitas kondisi pasar Sukaramai Medan, pemerintah membangun kembali pasar Sukaramai Medan pada tahun 2014 dengan program yang digagas untuk merespon permasalahan pada umumnya yang terjadi pada pasar tradisional. Tetapi upaya pemerintah membangun kembali pasar Sukaramai dengan tujuan tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan keberhasilan. Hal ini terlihat dari aktivitas pengguna pasar yang ada di pasar sukaramai, tidak begitu ramai sebagaimana pasar tradisional di tempat lain.
Berdasarkan hasil interview dari pengelola pasar Sukaramai Medan bahwa jumlah los dan rertail pada pasar tradisional Sukaramai Medan sebanyak 232 unit, sedangkan retail atau toko yang difungsikan oleh pedagang hanya sepertiga dari total unit retail dan los mengakibatkan pembeli enggan untuk berkunjung. Sehingga sepinya aktivitas di pasar tradisonal Sukaramai. Selain itu, kondisi atau keadaan pasar
tradisional sukaramai juga menjadi persoalan bagi pengguna, salah satunya lebar sirkulasi yang kurang memadai bagi pedaganag pada pasar sukaramai. Hal yang sama juga terjadi pada penelitian Sitompul (2012) yang menyatakan sebagian besar pasar yang terbangun dari program yang di gagas untuk merespon permasalahan pada pasar tradisional belum sepenuhnya berfungsi secara optimal, perancangan fisik bangunan menjadi salah satu penyebab pasar tradisional yang terbangun akhirnya sepi.
Sehubungan dengan permasalahan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan kajian terhadap kondisi pasar tradisional sukaramai medan yang ditinjau dari aspek fungsional. Serta menganalisa persepsi pengguna baik pedagang maupun pembeli terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai. Adapun hasil dari kesimpulan akhir akan menjadi masukan kepada pihak pemerintah agar dapat meningkatkan kualitas kondisi pasar tradisional yang terarah sesuai tujuan dan sebagaimana mestinya.
1.2 Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah aktivitas pengguna pada pasar tradisional Sukaramai Medan ? 2. Bagaimanakah persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional
Sukaramai Medan ? 1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah :
1. Menganalisa aktivitas pengguna pada pasar tradisional Sukaramai Medan.
2. Menganalisa persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai
Medan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diberikan dari penelitian ini terhadap aspek teoritis adalah sebagai tambahan untuk pengembangan ilmu pengetahuan tentang kondisi pasar tradisional ditinjau dari aspek fungsional
Selain manfaat dari aspek teoritis, manfaat praktis yang diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan informasi berupa kondisi pasar tradisional dari hasil penelitian sehingga diharapkan kepada pemerintah dapat merencanakan dan meningkatkan kualitas fisik pasar tradisional yang dapat berfungsi semestinya
1.5 Batasan Penelitian
Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Lokasi pada penelitian ini adalah pasar tradisional Sukaramai yang terletak di jalan Arief Rahman Hakim, Sukaramai II, Kec. Medan Area, Kota Medan.
2. Pada penelitian ini yang akan di kaji adalah aktivitas pengguna pada pasar tradisional. Pengguna yang di maksud adalah pedagang dan pembeli.
3. Peneliti juga melakukan penelitian terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan yang ditinjau dari persepsi pengguna. Pengguna yang di maksud adalah pedagang dan pembeli.
4. Kondisi pasar tradisional yang akan ditinjau adalah dari aspek fungsional.
1.6 Sistematika Penulisan
Adapun urutan pembahasan yang digunakan dalam menerangkan penelitian ini menggunakan sistematika sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
Bab ini merupakan bagian yang menjelaskan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, serta kerangka berfikir.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini merupakan bagian yang mengemukakan teori-teori tentangkondisi pasar tradisional yang ditinjau dari aspek fungsional, serta peraturan – peraturan pasar tradisional sehat yang menjadi landasan kajian yang digunakan oleh peneliti.
BAB III Metode Penelitian
Bab ini merupakan bagian yang menjelaskan metode yang digunakan dalam proses penelitian tersebut. Uraian pada bab ini berisi tentang jenis penelitian, variabel penelitian, metoda pengumpulan data, populasi dan sampel, serta metoda analisa data.
BAB IV Deskripsi Kawasan Penelitian
Bab ini menjelaskan kawasan kajian yang digunakan peneliti sebagai objek penelitian untuk memaparkan gambaran umum fokus penelitian.
BAB V Hasil dan Pembahasan
Bab yang menjelaskan hasil dan pembahasan dalam bentuk kajian dan analisa dari hasil observasi dan persepsi responden terhadap landasan teori dan rumusan temuan penelitian.
BAB VI Kesimpulan
Bab bagian yang menjelaskan kesimpulan dari hasil temuan dan saran yang didapat sebagai upaya pertimbangan perbaikan penelitian selanjutnya.
1.7 Kerangka Berfikir
Agar mempermudah dalam proses penelitian, penulisan menggunakan kerangka berfikir (Gambar 1.1)
Gambar 1.1 Kerangka Berfikir Latar Belakang
Ekomadyo (2012) mengatakan bahwa keberhasilan pasar adalah pasar yang ramai oleh aktivitas dan dengan tersedianya ruang-ruang yang nyaman, aksesibel, dan menjadi wadah aktivitas sosio- kultural. Pada tahun 2010, pasar tradisional Sukaramai Medan mengalami kebakaran dan dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas dan kualitas kondisi pada pasar Sukaramai Medan, pemerintah membangun kembali pasar Sukaramai Medan pada tahun 2014 dengan program yang digagas untuk merespon permasalahan pada umumnya yang terjadi pada pasar tradisional. Tetapi upaya pemerintah membangun kembali pasar Sukaramai dengan program tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan keberhasilan. Hal ini terlihat dari aktivitas pengguna pasar yang ada di pasar sukaramai, tidak begitu ramai sebagaimana pasar tradisional di tempat lain. Selain itu, banyaknya retail yang tidak difungsikan oleh pedagang sehingga pembeli enggan untuk berkunjung. Sehingga sepinya aktivitas di pasar tradisonal Sukaramai.
Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah aktivitas pengguna pada pasar tradisional Sukaramai Medan?
2. Bagaimanakah persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan?
Hasil dan Pembahasan Metode
1. Pada rumusan masalah yang pertama menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi dan interview 2. Pada rumusan masalah kedua
menggunakan metode kualitatif dengan observasi dan metode kuantitatif dengan penyebaran kuesioner.
Analisa
1. Menganalisa data yang didapat dari hasil pengumpulan data sekunder tentang aktivitas pengguna (pedagang dan pembeli) pada pasar tradisional, hasil observasi dan interview lalu disesuaikan dengan kajian pustaka.
2. Melakukan analisis data dari hasil pengumpulan data berupa kuesioner, observasi, data tentang kondisi pasar tradisional berupa zonasi, sirkulasi, serta sarana dan prasarana, kemudian disesuaikan dengan kajian pustaka
Tujuan Penelitian
1. Menganalisa aktivitas pengguna pada pasar tradisional Sukaramai Medan.
2. Menganalisa persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan.
Kesimpulan
Pasar tradisional merupakan salah satu tempat bertemunya penjual dan pembeli yang melakukan kegiatan bertransaksi secara langsung dengan adanya proses tawar menawar. Bangunannya terdiri dari kios-kios, los dan dataran terbukayang dibuka oleh pedagang maupun pengelola pasar. Pasar tradisional menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah sayur-sayuran, sembako, daging, kain, barang elektronik, serta jasa (Syahputra, 2018).
Menurut Arianty (2013), pasar tradisional identik dengan kondisi yang kumuh, jorok, dan umpek-umpekan, terlebih lagi ditambah dengan pelayanan dari pedagang yang sering memanipulasi terhadap kualitas dan kuantitas barang.
Sedangkan pasar modern mengedepankan konsep profesionalisme dan kualitas pelayanan untuk menarik konsumen sebanyak-banyaknya. Dengan desain tata bangunan yang mempertimbangkan keterpaduan, kenyamanan, penyediaan lahan parkir, ruang yang nyaman, kemudahan akses dengan transportasi umum, serta pelayanan dari pramuniaga yang memuaskan konsumen.
Dibalik kekurangannya, pasar tradisional juga memiliki keunggulan, yaitu dengan bersaing secara alamiah yaitu lokasi yang strategis, area perjualan yang luas, keberagaman barang dagangan, harga yang relatif murah, serta sistem tawar-menawar antara penjual dan pembeli. Proses tawar menawar inilah yang membuat antara pedagang dan pembeli memiliki ikatan sosial (Anggreini, 2017).
Pasar tradisional meruapakan pasar yang paling sederhana yang tidak memiliki peraturan yang ketat selain aturan antar pedagang saja.Kelonggaran pada peraturan pasar tradisional dapat memberi dampak tersendiri, baik itu negatif maupun positif bagi pedagang dan pembeli. Salah satunya ialah mudahnya akses penjual untuk masuk dalam pasar disamping harga relatif lebih murah. Pada umumnya pasar tradisional terletak dekat kawasan permukiman, agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar tersebut (Moersid, 2003)
2.1.1 Klasifikasi Pasar Tradisonal
Pasar tradisional merupakan pasar yang berisi barang-barang yang beraneka ragam. Dalam pasar tradisional tersebut terdapat beberapa klasifikasi pasar yaitu sebagai berikut (Zuliana, 2016):
1. Klasifikasi Berdasarkan Tingkatannya
Berdasarkan tingkatannya, pasar tradisional dibedakan menjadi beberapa kelas yaitu :
1. Kelas I; merupakan pasar tardisional dengan luas lahan dasaran minimal 2000m² dan memiliki komponen bangunan yang lengkap, dimana sistem arus barang dan orang terjadi baik di dalam maupun diluar bangunan, serta melayani perdagangan tingkat regional.
2. Kelas II; merupakan pasar tardisional dengan luas lahan dasaran minimal 1500m² dan memiliki komponen bangunan yang lengkap, dimana sistem arus barang dan orang terjadi baik di dalam maupun diluar bangunan, serta melayani perdagangan tingkat kota.
3. Kelas III; merupakan pasar tardisional dengan luas lahan dasaran minimal 1000m² dan memiliki komponen bangunan yang lengkap, dimana sistem arus barang dan orang terjadi baik di dalam maupun diluar bangunan, serta melayani perdagangan tingkat wilayah kota.
4. Kelas IV; merupakan pasar tardisional dengan luas lahan dasaran minimal 500m² dan memiliki komponen bangunan yang lengkap, dimana sistem arus barang dan orang terjadi baik di dalam maupun diluar bangunan, serta melayani perdagangan tingkat lingkungan 5. Kelas V; merupakan pasar tardisional dengan luas lahan dasaran
minimal 50m² dan memiliki komponen bangunan yang lengkap, dimana sistem arus barang dan orang terjadi baik di dalam maupun diluar bangunan, serta melayani perdagangan tingkat perkampungan dan blok.
2. Klasifikasi Berdasarkan Radius Pelayanannya
Berdasarkan radius pelayananya, pasar tradisional dibagi menjadi empat, jenis pasar yang dimaksud yaitu :
1. Pasar Regional; merupakan pasar tardisional yang terletak di lokasi yang luas dan strategis, jenis bangunan permanen dan memiliki kemampuan seluruh wilayah kota sampai luar kota.
2. Pasar Kota; merupakan pasar yang terletak dilokasi yang cukup luas dan strategis, jenis bangunan permanen dan memiliki pelayanan yang meliputi seluruh wilayah kota
3. Pasar Wilayah; merupakan pasar yang tempatnya cukup luas dan strategis, dan memiliki pelayanan yang meliputi beberapa lingkungan dalam satu wilayah tertentu
4. Pasar Lingkungan; merupakan pasar yang tempatnya strategis, dengan jenis bangunan permanen atau semi permanen, memiliki kemampuan pelayanan yang meliputi suatu wilayah permukiman.
1. Klasifikasi Berdasarkan Status Kepemilikan
Berdasarkan status kepemilikan, jenis pasar tradisional dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut :
1. Pasar Pemerintah, merupakan pasar yang dimiliki atau dikuasai oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah
2. Pasar Swasta, merupakan pasar yang dimiliki dan dikuasai oleh badan hukum yang diijinkan oleh pemerintah daerah
3. Pasar Liar, merupakan pasar yang segala aktifitasnya diluar kendali pemerintah daerah dan timbul karena kebutuhan masyarakat setempat 2.2 Aktivitas Pengguna Pada Pasar Tradisional
Menurut Zuliana (2016) pengguna adalah sebuah pihak yang merupakan elemen terpenting. Karena salah satu penyebab terjadinya ruang yaitu adanya kebutuhan ruang bagi para pengguna. Pengguna pada pasar tradisional adalah pedagang, pembeli, dan pihak pendukung seperti pengelola pasar dan petugas kebersihan (Marlina, 2008). Sedangkan menurut Damsar (1997), pengguna pasar yang
terlibat langsung dalam kegiatan dan aktivitas sehari-hari di pasar tradisional terbagi menjadi dua kelompok yaitu :
1. Pedagang; merupakan pihak individu atau kelompok yang mempersiapkan dan menjaga barang yang dijual. Serta melakukan kegiatan dengan menjual barang dan jasa yang menggunakan pasar sebagai tempat kegiatannya.
2. Pembeli atau konsumen pasar; adalah semua golongan yang datang dengan tujuan untuk mendapatkan apa yang menjadi kebutuhannya dengan pelayanan langsung.
Marlina (2008) mengatakan aktivitas pengguna pada pasar tradisional berbeda- beda, tergantung pada kelas sosial-ekonomi, latar budaya, usia, dan tujuan kedatangannya. Tujuan pengunjung mendatangi pasar tradisional dibedakan menjadi dua, yaitu berbelanja dan berekreasi. Sudut pendekatan pada studi aktivitas ini memandang pasar tardisional sebagai sistem aktivitas yang terdiri atas, pelaku aktivitas, bentuk aktivitas dan sifat aktivitas yang akan di jabarkan pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Aktivitas Pengguna Pasar Tradisional
Pelaku aktivitas Jenis aktivitas Sifat aktivitas
Pedagang 1. Menyiapkan barang dagangan 2. Transaksi jual-beli
3. Menyimpan barang dagangan 4. Menjaga barang dagangan 5. Menggunakan fasilitas umum
Rutin dan melakukan perpindahan Pembeli 1. Melakaukan tawar menawar
2. Transaksi jual beli
3. Menggunakan fasilitas umum pasar tradisional yang tersedia
Rutin dan melakukan perpindahan Sumber : Zuliana (2016)
2.3 Aspek Fungsional pada Perencanaan Pasar Tradsional
Ekomadyo (2012) mengemukakan bahwa pasar tradisional harus dirancang dan dibangun serius karena merupakan sentra perdagangan yang ideal dalam memenuhi kebutuhan kota. Pengaturan panjang, lebar, dan tinggi pasar merupakan unsur yang penting dalam pengaruh psikologis pengunjung. Ketiga unsur tersebut harus mempertimbankan jarak pandang pengunjung agar tercipta pasar yang nyaman.
Pasar tradisional yang berhasil adalah pasar yang ramai oleh aktivitas dan dengan tersedianya ruang-ruang yang nyaman, aksesibel, dan menjadi wadah aktivitas sosio-kultural. Dalam mencapai keberhasilan kondisi pasar tradisional, aspek fungsional sangat berperan penting dalam kontribusi perencanaan pasar tradisional (Ekomadyo, 2012).
Adapun kriteria perencanaan pasar tradisional yang di tinjau dari aspek fungsional terbagi menjadi tiga bagian yaitu, Zonasi, Sirkulasi, dan Sarana dan prasarana. Kondisi dari ketiga aspek fungsional inilah yang akan dianalisa pada pasar tradisional Sukaramai guna mengetahui bagaimana persepsi para penggunanya. Pada zonasi terdapat dua elemen yaitu tipe kios dan los dan zoning. Sedangkan pada sirkulasi terdiri dari efektifitas pemanfaatan ruang dan lebar koridor. Serta sarana dan prasarana yang terdiri dari beberapa elemen yaitu penghawaan, pencahayaan, utilitas air bersih dan air kotor, persampahan, dan ruang bersama yang dapat dilihat pada Tabel 2.2 (Ekomadyo, 2012).
2.3.1 Zonasi
Pada zonasi terdiri dari dua elemen yaitu tipe kios dan los dan penataan letak kios dan los.
1. Tipe Kios dan Los
Pada umumnya di pasar tradisional terdapat kios-kios atau los yang disediakan harus mempunyai tipe dan dimensi yang efisien sesuai dengan karakter komoditas jualan masing-masing. Biasanya kios-kios diperuntukan untuk jenis komoditi kering sedangkan los untk jenis komoditi basah (Ekomadyo, 2012).
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 519 tahun 2008, penggunaan material pada los pangan basah, harus memiliki permukaan yang bermaterial tahan karat. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2020, meja los harus memiliki permukaan yang rata, tepi meja berbentuk lengkung, mudah dibersihkan, dan dilengkapi dengan lubang pembuangan air sehingga tidak menimbulkan genangan. Meja tempat penjualan untuk zona basah harus memiliki tinggi minimal 60 cm dari lantai serta terbuat dari bahan tahan karat dan bukan dari kayu.
2. Penataan Letak Retail dan Los
Menurut Marlina (2008) komposisi yang baik dalam penataan letak retail adalah 50% kios dan 50% los (Gambar 2.1). Pengelompokan komoditas sejenis pada pasar akan meminimalisir pergerakan para pedagang illegal
serta menghilangkan dampak pergeseran zonasi yang telah terbentuk (Pradhipta, 2015)
Gambar 2.1 Pengelompokan KomoditasPasar yang Tidak Merata (kiri) dan Merata (kanan)
Sumber: Dewar dan Watson (1990)
Berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 tahun 2008 tentang pedoman penyelenggaraan pasar sehat, penataan letak retail dan los harus dikelompokkan sesuai jenis komoditi yang sesuai dengan sifat dan klasifikasinya. Pengelompokkan komodoti terbagi atas zona basah, zona kering, penjualan unggas hidup, pemotongan unggas, dan lain lain. Selain itu, jarak tempat penampungan dan pemotongan ungags dengan bangunan pasar utama minimal 10 meter atau dibatasi dengan tembok pembatas minimal ketinggian 1.5 meter.
2.3.2 Sirkulasi
Sedangkan pada sirkulasi terdiri dari efektifitas pemanfaatan ruang dan lebar koridor
1. Efektifitas Pemanfaatan Ruang
Dalam meningkatkan pemanfaatan ruang, proporsi luas ruang atau area yang bisa dijual (sellable) pada pasar tradisional harus mencapai 65% dari
Keterangan Gambar : Komoditas Sejenis Komoditas Tidak Sejenis
luas bangunan keseluruhan (Ekomadyo, 2012). Menurut Marlina (2008) seluruh kios dan los harus memiliki nilai strategis yang sama, tidak terdapat daerah mati, sehingga efektifitas komersial dapat tercapai. Untuk meraik nilai komersial tersebut, jalur sirkulasi harus menggunakan sistem double loaded (melayani dua sisi unit jual).
2. Lebar Koridor
Sirkulasi merupakan akses penting untuk mengarahkan kegiatan di dalam pasar agar memberikan tatanan yang efektif bagi penggunanya. Besaran koridor utama pada pasar tradisional adalah 3- 4 meter sedangkan besaran koridor sekunder 1,5- 2 meter (Gambar 2.2) (Dewar dan Watson, 1990).
Gambar 2.2 Dimensi Lebar Sirkulasi Utama dan Sekunder pasar yang Efektif Sumber : Dewar dan Watson (1990)
Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 tahun 2008 tentang penyelenggaraan pasar sehat, penggunaan material lantai koridor juga harus bersih, tidak lembab, dan berwarna terang. Lantai koridor harus memiliki permukaan yang rata, tidak licin, tidak retak, dan mudah dibersihkan.
(Sekunder)
(Utama)
2.3.3 Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah segala jenis peralatan, perlengkapan kerja, dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama atau pembantu dalam pelaksanaan yang sedang berlangsung di pasar tradisional. Untuk meningkatkan kegiatan pasar tradisional, sarana dan prasarana merupakan hal penting karena tersedianya sarana dan prasarana pasar dapat mendukung aktivitas perekonomian masyarakat. Aktivitas ekonomi akan terhambat jika sarana dan prasarna pasar tidak memadai (Rosni, 2017).
1. Penghawaan
Ruang-ruang pada pasar tradisional seharusnya segar dan tidak pengap.
Area publik dan sirkulasi harus dirancang dengan memaksimalkan sirkulasi udara silang. (Ekomadyo, 2012). Berdasarkan Peraturan Menteri Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2020, Bangunan harus memiliki ventilasi alami atau buatan sesuai dengan fungsinya.
Tamiami Fachrudin, H (2020) menyatakan pencahayaan alami dalam ruang, ventilasi alami dengan cara mengurangi penggunaan AC, penggunaan material yang mudah dirawat, orientasi bangunan menghadap ke Utara dan Selatan dan menggunakan shading pada bangunan merupakan konsep yang harus dipenuhi agar menciptakan suasana yang sejuk sehingga dapat membuat pengguna semakin nyaman serta dapat menghemat penggunaan energi listrik.
2. Pencahayaan
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2020, bangunan harus memiliki pencahayaan alami atau pencahayaan buatan, termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya dengan persyaratan tertentu untuk pencahayaan umum, area sekitar tangga, area toilet, dan kamar mandi. Pencahayaan pada area publik dan sirkulasi harus mengoptimalkan pencahayaan alami.
Sedangkan di dalam unit kios bisa menggunakan lampu untuk menerangi komoditas yang dijual (Ekomadyo,2012).
3. Fasilitas Umum
Pasar tradisional harus menyediakan fasilitas umum yang dapat mendukung fungsi pasar. Fasilitas umum yang harus disediakan ialah toilet, musholla, kantor pengelola, dan ruang serbaguna. Tempat ibadah dan tempat wudhu diletakkan pada lokasi yang mudah dijangkau dengan sarana yang bersih. (Ekomadyo,2012). Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2020, sarana dan prasarana letaknya harus mudah dicapai, tersedia area parkir yang proporsional dengan area pasar, tersedia pemisah yang jelas antara area parkir dengan wilayah ruang dagang, memiliki area yang rata, tidak menyebabkan genangan air dan mudah dibersihkan.
4. Utilitas Air Bersih dan Kotor
Berdasarkan keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 519 tahun 2008, penyediaan air bersih sangatlah penting bagi pedagang komoditas basah. Untuk efisiensi utilitas air bersih, zona-zona komoditas basah harus diletakkan berdekatan. Outlet air bersih harus disediakan ditiap unit daging dan ikan. Sedangkan untuk komoditas sayur atau buah satu outlet air bersih dapat digunakan bersama-sama.
Selain saluran air bersih, pasar tradisional harus menyediakan saluran pembuangan air kotor agar ruang-ruang pada pasar tradisional tetap bersih dan tidak becek. Saluran pembuangan air kotor harus disediakan pada zona komoditas basah serta fasilitas fisik pada zone basah harus dirancang untuk meminimalkan genagan air kotor (Ekomadyo,2012).
5. Persampahan
Setiap kelompok kios terdapat penampungan sampah sementara yang secara berkala akan dipindahkan ke tempat penampungan akhir oleh petugas kebersihan pasar. Setiap lorong atau kios terdapat tempat sampah kering dan basah, minimal setiap radius 10 meter. Tempat penampungan sampah harus disediakan dan ditempatkan terlindung dari aktivitas publik agar terciptanya pasar tradisional yang bersih dan terhindar dari polusi udara (Ekomadyo,2012).
6. Ruang Bersama atau Ruang Terbuka
Selain aktifitas jual beli, pasar tradisional dapat dijadikan sebagai ruang bersama atau serbagun bagi warga kota. Ruang bersama adalah suatu tempat dimana pengguna pasar dapat berkumpul untuk melakukan aktivitas sosial. Biasanya ruang bersama pada pasar tradisional bisa berupa ruang terbuka atau ruang tertutup. Ruang bersama atau serbaguna pada pasar tradisional harus tersedia baik secara permanen atau pun temporer untuk menampung aktivitas sosial, seni, dan pertunjukan dipasar bagi pengunjung dan pedagang (Ekomadyo, 2012).
Elemen Pasar Tujuan Kriteria
Zonasi
Tipe dan luas unit kios Menentukan tipe dan dimensi kios yang ergonomis dan efisien
Kios-kios yang disediakan harus mempunyai tipe dan dimensi yang sesuai dengan karakter komoditas jualan
Zoning / Penataan letak retail dan los
Menata zone komoditas untuk mengatur alur pengunjung guna meningkatkan aksesibilitas ke semua unit jual
Zone komoditas inti diletakkan di tempat paling sulit dijangkau dan berperan sebagai magnet yang menarik pengunjung untuk menghidupkan zone komoditas lainnya
Mengefisienkan penyediaan utilitas, terutama jaringan air bersih dan air kotor
Unit-unit jual yang membutuhkan utilitas air bersih dan air kotor harus diletakkan bereekatan
Memudahkan pengunjung untuk menemukan area berdasarkan komoditas
Zone komoditas tertentu harus diberi penanda tertentu agar memudahkan dikenal pengunjung
Sirkulasi
Efektifitas pemanfaatan ruang
Memperbanyak prporsi luas ruang yang bisa dijual (sell able area)
Luas sell able area seharusnya mencapai 65% dari luasan bangunan keseluruhan
Jalur sirkulasi menggunakan sistem double loaded (melayani dua sisi unit)
Lebar jalur Sirkulasi Menjamin semua unit pasar dapat dijangkau oleh pengunjung
Pintu masuk dan hierarki sirkulasi harus dirancang agar semua area pasar mudah dijangkau
Zone komoditas inti ditempatkan pada area tertentu agar dapat menarikpengunjung untuk menghidupkan zone komoditas lainnya
Unit-unit jual harus mendapatkan aksesibilitas visual yang memadai dari pengunjung
Sumber : Ekomadyo (2012); Marlina (2008); Pradiptha (2015)
Elemen Pasar Tujuan Kriteria
Sirkulasi
Lebar jalur sirkulasi
Memudahkan pengunjung untuk menjangkau lantai-lantai atas pasar
Lantai-lantai bisa dirancang dengan sistem split level untuk memeratakan aksesibilitas vertikal
Eskalator bisa disediakan untuk pasar dengan ketinggian 4 lantai atau lebih
Memudahkan orientasi pengunjung di dalam pasar
Jalur sirkulasi harus dirancang secara hierarki
Simpul-simpul sirkulasi harus disediakan pada jalur sirkulasi panjang
Sarana dan Prasarana
Penghawaan
Menciptakan ruang-ruang pasar yang segar dan tidak pengap
Area publik dan sirkulasi harus dirancang dengan memaksimalkan sirkulasi udara silang
Penghawaan di dalam unit jual bisa menggunakan sirkulasi udara buatan (kipas angin/AC)
Pencahayaan
Menciptakan ruang ruang pasar yang terang dan tidak terkesan gelap
Area publik dan sirkulasi harus dirancang dengan mengoptimalkan pencahayaan alami
Pencahayaan di dalam unit jual bisa menggunakan lampu terutama untuk menerangi komoditas yang dijual
Fasilitas umum
Menyediakan fasilitas umum yang mendukung fungsi pasar
Fasilitas umum minimal yang harus disediakan adalah KM/WC, musholla, kantor pengelola, dan ruang serbaguna
Fasilitas umum lain dapat ditambahkan sesuai karakter pasar setempat
Elemen Pasar Tujuan Kriteria
Sarana dan Prasarana
Utilitas air bersih Menyediakan sarana air bersih yang memadai bai pedagang komoditas basah
Zone-zone komoditas basah harus diletakkan berdekatan untuk efesiensi utilitas air bersih
Outlet air bersih garus disediakan di tiap unit daging/ikan, sedangkan untuk komoditas sayur/ buah satu outlet air bersih bisa digunakan bersama-sama Utilitas air kotor Menciptakan ruang-ruang pasar yang bersih dan
tidak becek
Saluran pembuangan air kotor harus disediakan pada zone komoditas basah
Fasilitas fisik pada zone basah harus dirancang untuk meminimalkan genangan air kotor
Persampahan Menciptakan pasar yang bersih dari sampah Tempat penampungan sampah harus disediakan dan ditempatkan terlindung dari aktivitas publik
Ruang Bersama Menjadikan pasar tradisional sebagai ruang sosio-kultural bagi warga kota
Ruang-ruang sosio-kultural, baik permanen atau temporer, harus tersedia untuk menampung aktivitas sosial atau seni pertunjukan rakyat di pasar
2.4 Rangkuman Teori
Berdasarkan kajian teori, peneliti merangkum referensi yang dijadikan sebagai landasan (Tabel 2.3) :
Tabel 2.3 Rangkuman Teori
Dimensi Aspek Atribut Sumber
Aktivitas pengguna
Jenis aktivitas penggguna
1. Aktivitas pedagang 2. Aktivitas pembeli
1. Marlina (2008) 2. Zuliana (2016) 3. Damsar (1997) Kondisi pasar
(Aspek fungsional )
Zonasi 1. Tipe dan luas kios/los 2. Penataan letak retail dan los
1. Dewar & Watson (1990);
2. Ekomadyo (2012);
3. Keputusan Mentri Kesehatan RI (2008);
4. Peraturan Mentri Perdagangan RI (2020);
5. Pradhipta (2015) Sirkulasi 1. Efektifitas pemanfataan
Ruang
2. Lebar jalur sirkulasi
1. Dewar & Watson (1990);
2. Ekomadyo (2012);
3. Keputusan Mentri Kesehatan RI (2008);
4. Marlina (2008) Sarana
&
Prasarana
1. Penghawaan 2. Pencahayaan 3. Fasilitas umum 4. Utilitas air bersih dan
kotor
5. Persampahan 6. Ruang bersama
1. Ekomadyo (2012);
2. Tamiami (2020);
3. Keputusan Mentri Kesehatan RI (2008)
4. Peraturan Mentri Perdagangan RI (2020);
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Pada penelitian ini terdapat dua rumusan masalah. Untuk rumusan masalah pertama yang bertujuan untuk menganalisa aktivitas pengguna pada pasar tradisional sukaramai medan menggunakan jenis penelitian dengan metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif berupa observasi langsung kekawasan penelitian dan melakukan interview untuk mendapatkan informasi tentang aktivitas pengguna, daftar pertanyaan wawancara dapat dilihat pada lampiran B.
Untuk rumusan masalah kedua yang bertujuan untuk menganalisa persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional menggunakan jenis penelitian dengan metode campuran (kuantitatif dan kualitatif). Metode penelitian kuantitatif berupa survey dengan menggunakan penyebaran kuesioner untuk mendapatkan persepsi pengguna (pedagang dan pembeli) terhadap kondisi pasar Sukaramai Medan. Metode penelitian kualitatif berupa observasi langsung ke kawasan penelitian untuk mendapatkan gambaran terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel pada penelitian inidilakukan dengan penerapan teori berdasarkan tinjauan pustaka. Pemilihan teori tersebut berdasarkan pada permasalahan – permasalahan yang akan diselesaikan. Adapun variable dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Variabel Penelitian
Variabel Sub Variabel Indikator
Aktivitas Pengguna
Jenis aktivitas pengguna
1. Aktivitas pedagang 2. Aktivitas pembeli Kondisi Pasar
(Aspek fungsional)
Zonasi 1. Tipe dan luas kios/los 2. Penataan letak retail dan los Sirkulasi 1. Efektifitas pemanfataan ruang
2. Lebar jalur sirkulasi Sarana
&
Prasarana
1. Penghawaan 2. Pencahayaan 3. Fasilitas umum
4. Utilitas air bersih dan kotor 5. Persampahan
6. Ruang bersama
3.3 Metode Pengumpulan Data
Setelah ditemukannya variabel dan indikator yang di dasarkan pada landasan teori untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini, maka dibutuhkan metode dalam pengumpulan data-data tersebut. Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.2
Tabel 3.2. Metode Pengumpulan Data Rumusan Masalah Metode
Penelitian Metode Pengumpulan
Data Sumber Data
Bagaimanakah aktivitas pengguna pada pasar
tradisional
Sukaramai Medan?
Metode penelitian Kualitatif
1. Pengamatan dan Observasi langsung
2. Melakukan dokumentasi pada pasar Sukaramai 3. Gambar ulang 2D denah 4. Melakukan interview untuk
mendapatkan informasi tentang aktivitas pengguna
1. Kawasan kajian atau pasar tradisional Sukaramai
2. Denah Bangunan kajian
3. Pedagang dan pembeli
Bagaimanakah persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan ?
Metode penelitian Kualitatif
dan Kuantitatif
1. Pengamatan dan Observasi langsung 2. Melakukan dokumentasi pada pasar Sukaramai 3. Gambar ulang 2D denah
pasar Sukaramai 4. Data sekunder tentang
pasar tradisional sukarmai berupa jumlah kios dan los, jumlah pedagang, dan jumlah pembeli 5. Penyebaran Kuisioner (dapat dilihat pada Lampiran A)
1. Kawasan kajian atau pasar tradisional Sukaramai 2. Denah Bangunan
kajian
3. Pengelola Pasar 4. Pedagang dan
Pembeli
Dalam rangka mengumpulkan data mengenai persepsi pedagang terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan, peneliti menyebarkan kuesioner. Adapun pernyataan yang dikemukakan dalam kuesioner tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kondisi kios atau los pada pasar sukaramai Medan telah memadai 2. Ukuran kios atau los telah memadai terhadap kebutuhan berdagang pada pasar Sukaramai Medan
3. Penataan letak kios atau los pada pasar sukaramai Medan telah sesuai berdasarkan pengelompokkan jenis dagangan
4. Posisi atau letak seluruh kios dan los pada pasar sukaramai Medan dapat dilewati oleh pengunjung
5. Bahan bangunan yang digunakan pada kios atau los serta ruang-ruang di pasar sukaramai Medan telah sesuai dengan kebutuhan pedagang
6. Kondisi lorong antara kior atau los pada pasar sukaramai Medan memadai untuk digunakan bersirkulasi
7. Lebar lorong-lorong pada pasar sukaramai Medan telah memadai untuk membawa barang dagangan ke kios atau los
8. Jalur atau akses untuk bongkar muat barang pada pasar sukaramai Medan telah sesuai dengan kebutuhan pedagang
9. Akses angkutan umum pada pasar sukaramai Medan mudah di jangkau 10. Udara pada kios, los atau ruang-ruang pada pasar sukaramai Medan terasa
sejuk
11. Penerangan cahaya matahari pada pasar sukaramai Medan pada telah memadai terhadap kebuthan pedagang
12. Cahaya lampu pada kios, los atau ruang-ruang pada pasar sukaramai Medan telah sesuai terhadap kebutuhan pedagang
13. Kondisi toilet umum pada pasar Sukaramai Medan dapat dipergunakan oleh pedagang
14. Kondisi musholla pada pasar Sukaramai Medan dapat dipergunakan oleh pedagang
15. Penyediaan air bersih pada pasar Sukaramai Medan dapat memenuhi kebutuhan berdagang
16. Posisi saluran air bersih pada pasar Sukaramai Medan mudah dijangkau oleh pedangang komoditas basah
17. Kondisi jalur pembuangan air kotor pada pasar sukaramai Medan telah memadai
18. Jalur pembuangan air kotor pada pasar sukaramai Medan telah sesuai terhadap kebutuhan berdagang
19. Kondisi tempat pembuangan sampah sementara pada pasar sukaramai medan telah memadai
20. Kondisi tong sampah yang tersedia pada pasar sukaramai Medan telah sesuai terhadap kebutuhan pedagang
21. Perletakan tong sampah pada pasar sukaramai Medan dapat dijangkau oleh pedagang
22. Ruang bersama pada pasar sukaramai Medan dapat digunakan oleh pedagang
Dalam rangka mengumpulkan data mengenai persepsi pembeli terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan, peneliti menyebarkan kuesioner. Adapun pernyataan yang dikemukakan dalam kuesioner tersebut adalah sebagai berikut:
1. Penataan letak kios dan los telah sesuai berdasarkan pengelompokkan jenis dagangan.
2. Posisi atau letak seluruh kios dan los dapat dilewati oleh pembeli
3. Kondisi lorong antara kior atau los pada pasar sukaramai Medan memadai untuk digunakan bersirkulasi
4. Lebar lorong-lorong pada pasar sukaramai Medan telah memadai 5. Semua kios dan los mudah diakses
6. Akses angkutan umum pada pasar sukaramai Medan mudah di jangkau 7. Udara pada kios, los dan ruang-ruang pada pasar tradisional sukaramai
Medan tidak pengap
8. Udara pada kios, los atau ruang-ruang pada pasar tradisional sukaramai Medan terasa sejuk
9. Adanya penerangan dari cahaya matahari pada pasar sukaramai Medan 10. Penerangan lampu pada kios, los dan ruang-ruang pada pasar sukaramai
Medan telah sesuai kebutuhan pembeli
11. Kondisi toilet umum pada pasar sukaramai Medan dapat dipergunakan oleh pembeli
12. Kondisi musholla pada pasar sukaramai Medan dapat dipergunakan oleh pembeli
13. Penyediaan air bersih dapat memenuhi kebutuhan pembeli
14. Kondisi tong sampah yang tersedia pada pasar sukaramai Medan telah memadai
15. Perletakan tong sampah pada pasar sukaramai Medan dapat dijangkau oleh pembeli
16. Lokasi tempat pembuangan sampah sementara pada pasar sukaramai Medan menganggu kenyamanan pembeli
17. Terdapat ruang terbuka pada pasar suklaramai Medan
18. Ruang terbuka pada pasar tradisional Sukaramai dapat dinikmati oleh pembeli
3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian
Uji validitas digunakan untuk mengetahui ketepatan instrumen yang digunakan sebagai alat ukur penelitian, dimana jika r hitung ≥ r tabel (uji dua sisi dengan signifikansi 0.05) maka instrumen memiliki korelasi signifikan terhadap skor total, sehingga bisa dinilai valid (Seputro, 2019). Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item pernyataan mempunyai nilai r hitung ≥ r tabel, maka seluruh butir pernyataan dinyatakan valid, sehingga seluruh item penyataan tersebut layak digunakan sebagai instrumen untuk mengukur data penelitian yang dapat dilihat pada Tabel 3.3 dan 3.4
Tabel 3.3 Hasil Uji Validitas Kuesioner Pembeli
Item Pertanyaan r hitung r tabel Keterangan
1 0,458 0,361 Valid
2 0,549 0,361 Valid
3 0,454 0,361 Valid
4 0,418 0,361 Valid
5 0,567 0,361 Valid
6 0,465 0,361 Valid
7 0,408 0,361 Valid
8 0,443 0,361 Valid
9 0,461 0,361 Valid
10 0,451 0,361 Valid
11 0,404 0,361 Valid
12 0,498 0,361 Valid
13 0,478 0,361 Valid
14 0,472 0,361 Valid
15 0,449 0,361 Valid
16 0,397 0,361 Valid
17 0,516 0,361 Valid
18 0,439 0,361 Valid
Tabel 3.4 Hasil Uji Validitas Kuesioner Pedagang
Item Pertanyaan r hitung r tabel Keterangan
1 0,444 0,361 Valid
2 0,557 0,361 Valid
3 0,449 0,361 Valid
4 0,413 0,361 Valid
5 0,561 0,361 Valid
6 0,475 0,361 Valid
7 0,409 0,361 Valid
8 0,390 0,361 Valid
9 0,465 0,361 Valid
10 0,453 0,361 Valid
11 0,408 0,361 Valid
12 0,500 0,361 Valid
13 0,467 0,361 Valid
14 0,466 0,361 Valid
15 0,517 0,361 Valid
16 0,393 0,361 Valid
17 0,518 0,361 Valid
18 0,434 0,361 Valid
19 0,473 0,361 Valid
20 0,376 0,361 Valid
21 0,371 0,361 Valid
22 0,439 0,361 Valid
Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui jawaban responden dari waktu ke waktu sehingga merujuk pada akurasi data yang akan diperoleh. Pengujian reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach :
Jika nilai alpha > dari 0,6 maka seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten memiliki reliabilitas yang kuat (Seputro A.B, dkk, 2020).
Tabel 3.5 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner
Instrumen Penelitian Nilai Cronbach Alpha Keterangan
Pembeli 0,885 Reliabel
Pedagang 0,802 Reliabel
Hasil uji reliabilitas menunjukkan bahwa nilai cronbach alpha > dari 0,6. Nilai Cronbach’s Alpha yang mencapai 0.8 dinilai sangat baik (Jarkas, 2013; Marisa dan Talarosa, 2020). Berdasarkan hasil uji reliabilitas tersebut semua butir pernyataan dalam instrument penelitian yang digunakan adalah reliabel (Tabel 3.5)
3.5 Populasi dan Sampel
Pada penelitian ini populasi yang dimaksud adalah pembeli dan pedagang yang berada di pasar tradisional Sukaramai Medan. Jumlah populasi pembeli diperoleh dari pengamatan langsung di lokasi pasar yang diamati selama seminggu pada tanggal 14 hingga 20 Oktober 2019, hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.6. Sedangkan jumlah retail
dan los untuk pedagang sebanyak 232 unit, namun retail dan los yang aktif atau digunakan pedagang sebanyak 87. Sehingga jumlah populasi pedagang pada pasar tradisional sukaramai medan adalah 87, hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.7
Tabel 3.6. Jumlah pembeli di pasar Sukaramai Medan
Hari Jumlah Pembeli
Senin 50
Selasa 57
Rabu 55
Kamis 50
Jumat 75
Sabtu 86
Minggu 95
Total populasi pembeli/ minggu 468
Tabel 3.7. Jumlah pedagang di pasar Sukaramai Medan Pedagang Jumlah Pedagang
Pedagang 87
Dalam hal ini jumlah pembeli di peroleh sebanyak 468 orang, maka untuk perhitungan sampel pembeli, peneliti menggunakan rumus Slovin yaitu sebagai berikut :
n = N/ 1+ (N x e²) = 468/ 1+ (468 x 0,1² ) = 82 ... (3.1) Keterangan
n = jumlah sampel
N = jumlah seluruh populasi e = toleransi eror
Dengan demikian jumlah sampel pembeli yang digunakan sebanyak 82 orang.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental Sampling. Accidental sampling merupakan teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, dimana pembeli yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel.
Sedangkan pedagang pada pasar tradisional sebanyak 87 orang. Jadi untuk perhitungan sampel pedagang , peneliti menggunakan rumus yang sama yaitu Slovin sebagai berikut :
n = N/ 1+ (N x e²)=87/ 1+ (87x 0,1² ) = 46 ... (3.2) Dengan demikian jumlah sampel pedagang yang digunakan sebanyak 46 orang.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling. Sedangkan untuk kegiatan interview (wawancara) guna mendukung hasil pengamatan untuk mengetahui aktivitas pengguna (pedagang dan pembeli) pada pasar tradisional Sukaramai, digunakan teknik purposive sampling dimana enam orang pedagang dari tiga zona (lantai) di wawancarai. Sementara itu, tiga orang pengunjung/ pembeli di wawancarai untuk mengetahui aktivitas mereka saat berada di pasar tradisional Sukaramai.
3.6 Metode Analisa
Pada rumusan masalah yang pertama metode yang digunakan untuk menganalisa data yang diperoleh adalah deskriptif kualitatif. Ada tiga alur kegiatan dalam analisa data, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan (Amirul, Hadi dan Haryono,2007). Yang pertama reduksi data yaitu mengumpulkan data sekunder tentang aktivitas pengguna pada pasar tradisional dan melakukan
kegiatan observasi langsung ke lapangan serta melakukan interview kepada pedagang dan pembeli untuk mendapatkan informasi tentang aktivitas pengguna;
keduamenganalisa data yaitu setelah semua data dikumpulkan, maka dilakukan pengelompokkan data untuk dianalisa. Menganalisa data yang didapat dari hasil observasi dan interview yang disesuaikan dengan kajian pustaka; ketiga penarikan kesimpulan, pada akhir analisa akan di susun kesimpulan tentang aktivitas pengguna pasar tradisional sukaramai medan.
Sedangkan untuk rumusan masalah yang kedua metode yang digunakan untuk menganalisa data yang diperoleh adalah deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif.
Pada metode desktiptif kuantitatif dalam melakukan analisa data, yaitu persiapan, tabulai, serta analisis (Sugiono ,2009). Sebelum analisa dilakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen penelitian (kuesioner) guna mengetahui apakah instrumen penelitian yang digunakan sudah baik dalam mengukur dan menghasilkan data yang valid. Proses selanjutnya yaitu memilih data (kuesioner yang terisi lengkap) yang akan digunakan untuk mendapatkan informasi tentang persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional Sukaramai Medan; Kedua adalah proses tabulasi, setelah hasil semua kuesioner dikumpulkan selanjutnya memberi skor/nilai di masing- masing jawaban mulai dari 5 (lima) untuk “sangat setuju” sampai dengan 1 (satu) untuk
“sangat tidak setuju; Ketiga adalah analisis, data yang telah diubah menjadi bentuk mean diolah untuk menghasilkan output berupa persepsi pengguna terhadap kondisi pasar tradisional sukaramai medan. Penilaian dilakukan dengan menggunakan krieria