1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini, perceraian kerap menjadi perbincangan dalam kehidupan bermasyarakat. Anak sering kali terlantar dikarenakan kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua, sehingga tidak jarang anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan kenakalan-kenakalan remaja. Anak merupakan generasi muda yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan merupakan sumber daya manusia (SDM) yang sangat potensial bagi pembangunan nasional.
Di kota Salatiga ada beberapa data yang sudah penulis dapatkan, dengan wawancara terhadap 2 (dua) orang anak perempuan yaitu Rani dan Angel yang masih di bawah umur, yang di pekerjakan sebagai pekerja seks komersial di lokasi wisata karaoke Sarirejo. Dari pengakuan Rani dan Angel ada beberapa faktor yang membuat mereka menjadi pekerja seks komersial. Dari pengakuan Rani1menjadi pekerja seks komersial di sebabkan oleh orangtua Rani berpisah yang sering di sebut brokenhome. Broken home yang di maksudkan adalah keluarga tak utuh adalah kondisi di mana keluarga mengalami perpecahan dan kurangnya komunikasi antar sesama,saling mempunyai kesibukan dan saling tidak mempedulikan anggota keluarga. Orangtua Rani berpisah sejak Rani umur 16 tahun, yang membuat Rani kurangnya perhatian dari kedua orangtuanya. Awalnya Rani mempunyai teman satu sekolah , Rani di pekerjakan oleh teman sekolahnya
1 SEMBIR,07-04-2019 wawancara dengan Rani dan Angel
2
menjadi pekerja seks komersial awalnya Rani tidak mau ternyata setelah berjalannya waktu Rani nyaman dengan pekerjaannya. disaat itulah Rani bekerjasebagai pekerja seks komersial, Rani merasakan adanya perhatian lebih dari lingkungannya yang sekarang ini membuat Rani nyaman dengan pekerjaannya sekarang.
Kekerasan fisik dapat diartikan sebagai tindakan yang menyebabkan rasa sakit atau potensi menyebabkan sakit yang dilakukan oleh orang lain, dapat terjadi sekali atau berulang kali. Kekerasan seksual adalah keterlibatan anak dalam kegiatan seksual yang tidak dipahaminya. Kekerasan seksual dapat berupa perlakuan tidak senonoh dari orang lain, kegiatan yang menjurus pada pornografi, perkataan-perkataan porno, dan melibatkan anak dalam bisnis prostitusi. Anak seharusnya mendapatkan hak dan perlindungan sebagaimana, hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, negara, dan pemerintah. Kebanyakan kaum perempuan atau pun anak di bawah umur yang sering jadi objek yang di pekerjakan sebagai PSK (pekerja seks komersial).
Adapun pengakuan dari Angel2yang alasannya beda dari pengakuan Rani sebelumnya. Angel menjadi pekerja seks komersial di sebabkan karena faktor ekonomi yang sangat minim dan paksaan orangtua nya sendiri. Angel umur 15 tahun adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan ayahnya sebagai tukang sapu jalan dan ibunya tidak bekerja. karena itu Angel dipaksa bekerja supaya bisa memenuhi tanggungan keluarganya. Orangtua Angel mempunyai tetangga sangat
2 SEMBIR,07-04-2019, wawancara dengan Angel dan Rani
3
kaya sekali dan mempunyai usaha karaoke dan tetangganya tersebut menawarkan kepada orangtuanya, untuk Angel bekerja disana dengan gaji yang lumayan banyak jumlahnya. Tanpa pikir panjang orangtua Angel menyuruh dan memaksa Angel untuk bekerja di sana. Akhirnya Angel terpaksa bekerja menjadi pekerja seks komersial di usaha karaoke yang dimiliki oleh tetangganya yang kaya tersebut untuk memenuhi tanggungan keluarganya.
Pengertian anak menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan3. Menurut Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, yang dimaksud anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah berumur delapan tahun tetapi belum mencapai umur delapan belas tahun dan belum pernah kawin (Pasal 1 ayat 1) sedangkan dalam Pasal 4 ayat (1) undang-undang ini menyebutkan bahwa batasan umur anak nakal yang dapat diajukan ke sidang anak adalah sekurang-kurangnya delapan tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum kawin.4 Sedangkan dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, anak didefinisikan sebagai seseorang yang belum mencapai umur dua puluh satu tahun dan belum pernah kawin.5 Di era globalisasi ini, semua orang berusaha meningkatkan status diri dan gaya hidupnya dengan ada beberapa mencapainya dengan menghalalkan segala cara. Oleh karena gaya
3 Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 atas Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002.
4 Lihat dalam Pasal 1 ayat (1) dan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.
5 Lihat dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.
4
hidup yang semakin tinggi, tidak sedikit anak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah dan melakukan berbagai cara untuk dapat menyamakan gaya hidupnya dengan orang lain. Karena desakan ekonomi dan pengaruh lingkungan beberapa diantara mereka melakukan perilaku yang menyimpang, salah satunya adalah bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Seseorang yang menjual jasa seksual disebut WTS sama dengan istilah Pekerja Seks Komersial (PSK)6. Koentjoroningrat, menjelaskan bahwa Pekerja Seks Komersial merupakan bagian dari kegiatan seks di luar nikah yang ditandai oleh kepuasan dari bermacam- macam orang yang melibatkan beberapa pria dilakukan demi uang dan dijadikan sebagai sumber pendapatan.7 Dari pengertian-pengertian tersebut jelas bahwa Pekerja seks komersial (PSK) merupakan orang yang pekerjaannya atau bekerja untuk melayani kebutuhan seksual bagi orang-orang yang membutuhkan, dengan tujuan komersial atau mencari keuntungan.
Dalam rangka tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945, diperlukan pembinaan dan pembimbingan secara terus- menerus demi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial serta perlindungan dari segala kemungkinan yang akan membahayakan anak atau generasi muda, bangsa di masa yang akan datang. Berdasarkan Undang- Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat (2) yang dimaksud dengan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan
6 H. Kondar Siregar, 2015, Model Pengaturan Hukum Tentang Pencegahan Tindak Prostitusi Berbasis Masyarakat Adat Dalihan Na Tolu, Perdana Mitra Handalan, Hal 1-3.
7 Koentjoro, 2004, On the Spot: Tutur Dari Sarang Pelacur. Yogyakarta: Tinta, Hlm. 36.
5
melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pasal 287 ayat (1) KUHP berbunyi:
“Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau umurnya tidak jelas, bahwa ia belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”.
Melihat sudut pandang pada anak-anak sebagai individu yang lemah maka di Indonesia Undang-Undang No 35 Tahun 2014 lahir untuk memastikan, bahwa anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan perlindungan hukum anak-anak sebagai korban di ekploitasi dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial . 8
B. Rumusan Masalah
1. Apa Faktor Anak Menjadi Pekerja Seks Komersial ?
2. Apa saja bentuk perlindungan hukum terhadap anak sebagai Pekerja Seks Komersial Anak?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadikan anak sebagai Pekerja Seks Komersial.
8 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Group, 2005,
h.31.
6
2. Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap anak di bawah umur sebagai Pekerja Seks Komersial Anak.
D. Manfaat penelitian
Manfaat Teoritis
Mengembangkan Ilmu Hukum pada umumnya dan Hukum Perdata pada khususnya.
Manfaat Praktis
Memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang perlindungan terhadap anak di bawah umur yang dipekerjakan sebagai Pekerja Seks Komersial.
E. Metode Penelitian 1) Jenis Penelitian
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian empiris. Penelitian empiris termasuk dalam bidang ilmu hukum yang di sebut incroceto untuk menyelesaikan kasus hukum , evaluasi apakah suatu hukum bertentangan dengan falsafah negara, atau tidak sesuai dengan teori dan sebagainya.
Penelitian hukum empiris di lakukan sebagaimana penelitian sosial.9 Soerjono Soekanto melihat dari segi “sifat penelitian”, menjadi penelitian deskriptif bertujuan untuk memaparkan atau memperoleh gambaran (deksripsi) tentang keadaan hukum yang berlaku di tempat tertentu dan
9 Rianto Adi, Aspek Hukum Dalam Penelitian, Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Cetakan Pertama, 2015, Jakarta, h.9
7
pada waktu tertentu atau mengenai gejala yuridis yang terjadi dalam masyarakat.10 Penelitian hukum empiris ini mengkaji hukum yang dikonsepkan sebagai perilaku nyata (actual behavior), sebagai gejala sosial yang sifatnya tidak tertulis, yang dialami setiap orang dalam hubungan hidup bermasyarakat11
2) Jenis Pendekatan Penelitian
Jenis Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis sosiologis. Pendekatan Yuridis sosiologis adalah mengidentifikasi dan mengkonsepsikan hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan yang nyata.12
F. Jenis Data
1. Data primerData primer adalah data yang diperoleh langsung di lapangan (field reserch) dari pihak yang melakukan pekerjaan tersebut. Dengan
mendatangi sumber data yang relevan dengan masalah penelitian yaitu anak di bawah umur yang di pekerjakan sebagai pekerja seks komersial di kota Salatiga.
2. Data sekunder
10 Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. Universitas Indonesia, Jakarta.1986.
hlm. 50.
11 Abdulkadir Muhammad. Hukum dan Penelitian Hukum. PT. Citra Aditya Bakti.
Bandung. 2004. hlm.54.
12 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Penerbit Universitas Indnesa Press, Jakarta 1986, h.51.
8
Data sekunder memberikan penjelasan tentang data primer .13 Data sekunder yang dimaksudkan penulis yaitu berupa buku-buku teks, dan jurnal-jurnal hukum yang sudah dijelaskan dalam bagian Pendahuluan dan latar belakang masalah.
G. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Studi Pustaka, yaitu penelitian dilakukan dengan membaca dan merangkai berbagai macam literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian yang kemudian dijadikan landasan teoritis.
b. Wawancara, yaitu proses memperoleh keterangan, pendapat, secara lisan dari seseorang dengan cara bertemu langsung dengan orang yang memberikan keterangan.
Dalam hal ini: Angel ,Rani , Anna , dan Ida, serta aparat sebagai pelaku perlindungan hukum yaitu Polisi Sektor Sidorejo, Instansi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA), Polisi Resort Salatiga , dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).
H. Unit Analisa
Faktor-faktor penyebab sebagai Pekerja Seks Komersial Anak dan mengetahui bentuk perlindungan hukum terhadap anak sebagai Pekerja Seks Komersial.
13 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, Cet XVI, Penerbit Rajawali Pers, Jakarta, 2014.