Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
TM 4020 – PEROLEHAN HIDROKARBON NON-KONVENSIONAL
Prof. Ir. Doddy Abdassah, M.Sc., Ph.D.,IPU
Billal Maydika Aslam, S.T., M.T., SPEC
KULIAH MINGGU KE-2 SEGMEN #4 Pengukuran Kandungan Gas pada
Batubara
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Kandungan Gas pada Batubara (Gas Content)
❑
Pengukuran kandungan gas (gas content, G
c) pada
batubara bertujuan untuk
mengetahui volume gas yang tersimpan pada sampel
batubara
❑
Mayoritas gas pada batubara tersimpan dalam kondisi
teradsorpsi
Metode Pengukuran Langsung
• Volume gas diukur berdasar sampel core asli
• Pengujian dengan apparatus lab (mis Canister)
• Durasi minggu – bulan
• Relatif lebih akurat
Metode Pengukuran Tidak Langsung
• Volume gas diestimasi berdasar data adsorption isotherm, korelasi atau persamaan
• Umum dikorelasikan dengan data log
• Relatif lebih cepat
Metode Pengukuran Kandungan Gas :
Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas
❑
Terdapat beberapa metode pengukuran langsung :
◆
Metode USBM
◆
Metode Smith & Williams
◆
Metode Curve Fit
❑
Pada segmen ini hanya akan dibahas Metode USBM, karena dipilih sebagai standar industri
Sampel Whole Core Sampel Sidewall Core Sampel Cuttings
Metode Pengukuran Langsung (Direct Method) dapat dilakukan pada:
✓ Umumnya sampel whole core lebih dipilih karena volume gas yang dilepaskan lebih besar dan kondisi masih utuh
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas - USBM
❑
Core yang sudah diperoleh dimasukkan kedalam canister untuk kemudian diukur volume gas yang terdesorpsi [pada kondisi STP]
❑
Volume gas diukur secara periodik menggunakan pressure transducer (prinsip gas ideal)
Sumber : Diamond W.P &
Schatzel S. (1998)
Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas - USBM
Gas Hilang
[Vl]
Gas
Terdesorpsi [Vd]
Gas Residu
[Vr]
Kandungan Gas [Gc]
• Gas yang terlepas selama proses
pengambilan sampel s.d. penyimpanan
• Diestimasi berdasar ekstrapolasi pengukuran desorpsi
• Volume Gas yang diukur secara langsung dari canister [umumnya pada STP]
• Dilakukan s.d. volume gas tidak berubah siginifikan/cutoff rate (mingguan – bulanan)
• Volume Gas tersisa / ekuilibrium pada STP
• Diukur dengan sampel dihancurkan s.d. menjadi bubuk
• 10% - 50% dari total kandungan Gas (bergantung Rank)
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas - USBM
𝑮 𝒄 = (𝑽 𝒍 + 𝑽 𝒅 )
𝑴 𝒕 + 𝑽 𝒓 𝑴 𝒄
- 𝑮
𝐜= 𝐾𝑎𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐺𝑎𝑠 [𝑔/𝑐𝑐]
- 𝐕
𝐥= 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑔𝑎𝑠 ℎ𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 [𝑐𝑐]
- 𝑽
𝒅= 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑔𝑎𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑒𝑠𝑜𝑟𝑝𝑠𝑖 [𝑐𝑐]
- 𝑽
𝒓= 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑔𝑎𝑠 𝑟𝑒𝑠𝑖𝑑𝑢 [𝑐𝑐]
- 𝐌
𝐭= 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 [𝑔]
- 𝑴
𝒄= 𝑀𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑏𝑢𝑏𝑢𝑘 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔 [𝑔]
Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas - USBM
❑
Pengukuran Volume Gas Terdesorpsi
◆ Data kumulatif volume gas dari Canister harus dikoreksi pada kondisi STP
[14.7 psia & 60F]
◆ Pengukuran dilakukan sampai debit gas mencapai nilai batas, umumnya 0.05 cm3/g/hari selama seminggu
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas - USBM
❑
Perkiraan Gas Hilang (Lost Gas)
❑
Diasumsikan bahwa gas hilang hanya melalui mekanisme desorpsi
◆
Recall bahwa pada kondisi awal (Gas terdesorpsi < 20% Gas Total) :
◆ Plot volume kumulatif gas terdesorpsi pada kondisi awal terhadap akar kuadrat waktu seharusnya linear
◆ Ekstrapolasi menuju waktu nol akan memberi perkiraan volume gas hilang
◆ Waktu nol = total waktu semenjak formasi batubara terganggu dari kondisi in-situ s.d disimpan dalam canister
Lost Gas 𝑽
𝑽
𝒕= 𝟔
𝝅 𝒕
𝑫𝒔Metode Pengukuran Langsung Kandungan Gas - USBM
❑
Perkiraan Gas Residu
◆
Selain diukur pada kondisi bubuk, volume gas residu juga dapat
diestimasi secara analitik
◆
Pada kondisi late time, volume gas terdesorpsi berbanding lurus dengan 1/t
Gas Residu
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Normalisasi Basis Massa Sampel Batubara
❑
Basis massa batubara biasanya dinyatakan pada kondisi :
◆
Basis in-situ : sampel batubara hasil coring ditimbang sampai kondisi stabil (air dried) di lab sebelum dimasukkan dalam canister
◆
Basis dry, ash-free (daf) : massa dari basis in-situ dinormalisasi terhadap kandungan ash dan moisture
𝑚
𝑑𝑎𝑓= 𝑚
𝑖𝑛−𝑠𝑖𝑡𝑢× (1 − 𝑎 − 𝑤)
Referensi Lanjutan
❑
Buku Teks :
◆ Seidle, J. (2011). Fundamentals of coalbed methane reservoir engineering. PennWell Books.
◆ Thakur, P. (2016). Advanced reservoir and production engineering for coal bed methane. Gulf Professional Publishing.
❑
Makalah & Jurnal :
◆ Mavor, M. J., Owen, L. B., & Pratt, T. J. (1990, January 1). Measurement and Evaluation of Coal Sorption Isotherm Data. Society of Petroleum Engineers. doi:10.2118/20728-MS
◆ Diamond, W. P., & Schatzel, S. J. (1998). Measuring the gas content of coal: a review.
International Journal of Coal Geology, 35(1-4), 311-331.
◆ Pratt, T., & Mavor, M. (2005). An overview of coal gas reservoir properties: core holes from Western Interior coal region. In Unconventional energy resources in the southern Midcontinent, 2004
symposium (Vol. 110, pp. 83-103).
◆ Agarwal, A., Laronga, R., & Walker, L. (2013). Rotary sidewall coring-size matters. Oilfield Review, 2014(25), 4.
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
KULIAH MINGGU KE-3 SEGMEN #8 Fenomena Adsorpsi Gas pada
Batubara
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
❑ Recall pada Segmen 4 diperlihatkan bahwa mekanisme penyimpanan gas terbesar pada
batubara terjadi secara adsorpsi pada permukaan matriks
❑ Gas yang tersimpan per satuan volume batubara bahkan dapat jauh lebih besar dibanding reservoir batupasir. Hal ini karena luas permukaan matriks batubara sangat besar (2150-3150 ft2/gr)
❑ Volume gas teradsorpsi bergantung thd Tekanan &
Temperatur
❑ Pada segmen ini akan dibahas mengenai
pemodelan fenomena adsorpsi dan faktor yang memengaruhi adsorpsi pada batubara
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
❑
Langmuir Adsorption Isotherm Model
◆ Model Langmuir (Irving Langmuir,1918, Chemistry Nobel Laureate 1932) dapat memprediksi kelakuan fenomena adsorpsi GMB dengan akurasi yang sangat baik
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000
0 500 1000 1500 2000
KandunganGas (scf/ton)
Tekanan (psia)
Data
Langmuir Model
𝑉 = 𝑉 𝐿 𝑝 𝑝 + 𝑝 𝐿
- 𝐕 = 𝑘𝑎𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑔𝑎𝑠 𝑡𝑒𝑟𝑎𝑑𝑠𝑜𝑟𝑝𝑠𝑖 [𝑠𝑐𝑓
𝑡𝑜𝑛] - 𝑷 = 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
- 𝑽𝑳 = 𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑚𝑢𝑖𝑟 𝑠𝑐𝑓
𝑡𝑜𝑛
- 𝑷𝑳 = 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑚𝑢𝑖𝑟 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
1 2𝑉𝐿
𝑝𝐿
Cat. : 𝑽𝑳 adalah kapasitas maksimal gas yang dapat diadsorpsi (p → ∞ ) pada temperature tertentu
Data Fruitland Coal, San Juan Basin (Zuber, M.D. (1991))
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
❑ Adsorpsi terjadi akibat adanya gaya Van Der Waals antara molekul karbon dan metana
❑ Asumsi model Langmuir sesuai dengan kondisi yang terjadi
◆ Molekul pengadsorbsi relatif homogen (karbon)
◆ Adsorpsi terjadi secara mono-layer
◆ Tidak terjadi perubahan fasa
Peningkatan Tekanan
Ilustrasi Adsorpsi pada Skala Molekul antara CH4 dan karbon (Teo et.al., 2016)
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Pengukuran Adsorption Isotherm
❑
Prosedur [SPE 20728] :
1) Kalibrasi alat dengan He untuk hitung volume kosong sel
2) Sekitar 150 gr sampel batubara kondisi bubuk 60 mesh dimasukkan dalam sel sampel
3) Atur water bath pada temperature tertentu
4) Isi sel referensi dengan CH4 murni pada tekanan tertentu (mulai dari tekanan
rendah)
5) Buka katup antar sel, catat tekanan tiap sel secara periodik sampai stabil
6) Tutup katup, ulangi (4)-(5) sampai batas tekanan tertinggi (Pres)
Pada tiap tahap tekanan, perubahan volume gas teradsorpsi dapat dihitung dengan persamaan (Hk. Boyle) :
ΔGi = 32.0368 Vr 𝑚𝑐
1
𝐵𝑔 𝑟2− 1
𝐵𝑔 𝑟1 − Vtv 𝑚𝑐
1
𝐵𝑔 𝑡𝑣2− 1 𝐵𝑔 𝑡𝑣1
Apparatus Adsorption Isotherm (Mavor et.al (1990))
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
❑
Faktor yang Memengaruhi besar Adsorpsi
Temperatur |
Moisture Content |
Ash (mineral matter) Content |
Ranking Batubara I
Semakin tinggi temperature, semakin kecil kapasitas adsorpsi pada tekanan yang sama
Adanya air dapat menghalangi adsorpsi gas pada area matriks batubara
Adanya abu dapat menghalangi adsorpsi gas pada area matriks batubara. Gas tidak dapat diadsorpsi pada mineral
Makin tinggi ranking batubara, makin besar luas area spesifik matriks batubara
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
Moisture meningkat
Temperatur meningkat
Rank meningkat
Koreksi Volume Langmuir
❑
Agar dapat secara konsisten
dibandingkan antar sisipan batubara, volume Langmuir (V
L) yang terukur
harus “dikoreksi” terhadap kandungan ash dan vapour
Basis dry, ash-free (daf)
Basis dry, mineral-matter free (dmmf) 𝑉𝐿𝑑𝑎𝑓 = 𝑉𝐿𝑖𝑛𝑠𝑖𝑡𝑢
(1 − 𝑎 − 𝑤)
𝑉𝐿𝑑𝑚𝑚𝑓 = 𝑉𝐿𝑖𝑛𝑠𝑖𝑡𝑢 (1 − 𝑚𝑚 − 𝑤) 𝑚𝑚 = 1.08𝑎 + 0.55𝑆
- 𝐚 = 𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑎𝑠ℎ - 𝐰 = 𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑣𝑎𝑝𝑜𝑢𝑟 - 𝒎𝒎 = 𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑒𝑟𝑎𝑙
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
❑
Kondisi Undersaturated & Saturated Pada Reservoir GMB
Saturated Undersaturated
Pd
▪ Volume kandungan gas yang terukur (Gc di B) pada tekanan reservoir dapat lebih kecil dari kapasitas adsorpsi (A) akibat pelepasan gas yang terjadi selama sedimentasi, kondisi ini disebut undersaturated
▪ Agar gas dapat terdesorpsi pada reservoir undersaturated , tekanan reservoir harus diturunkan terlebih dahulu sampai tekanan desorpsi (Pd), hal ini dapat menghambat produksi
𝑃𝑑 = 𝑃𝐿 𝑉𝐵 𝑉𝐵 + 𝑉𝐴
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
❑ Kapasitas adsorpsi isotherm berbeda untuk tiap jenis molekul gas karena adanya
perbedaan afinitas adsorpsi
Adsorpsi Isotherm Multikomponen
CO2
CH4 N2
❑ Volume gas teradsorpsi untuk masing-masing komponen dapat dihitung dengan extended Langmuir Isotherm
𝑉𝑗 = 𝑉𝐿𝑗
𝑝𝑦𝑗 𝑝𝐿𝑗
1 + σ𝑘=1𝑛𝑐 𝑝𝑦𝑘 𝑝𝐿𝑘
- 𝐕𝐣 = 𝑘𝑎𝑛𝑑𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑔𝑎𝑠 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 𝑗 𝑠𝑐𝑓
𝑡𝑜𝑛
- 𝐕𝐋𝐣 = 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑚𝑢𝑖𝑟 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 𝑗 [𝑠𝑐𝑓
𝑡𝑜𝑛] -𝐩𝐋𝐣 = 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝐿𝑎𝑛𝑔𝑚𝑢𝑖𝑟 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 𝑗 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
- 𝐲𝐣 = 𝑓𝑟𝑎𝑘𝑠𝑖 𝑔𝑎𝑠 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 𝑗 - 𝐩 = 𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Fenomena Adsorpsi Gas pada Batubara
Akibat afinitas adsorpsi CO2 yang lebih besar dibanding CH4 pada metana, injeksi CO2 dianggap potensial dalam program penyimpanan karbon [akan dibahas lebih lanjut pada segmen Enhanced CBM Recovery]
Referensi Lanjutan
❑
Buku Teks :
◆ Seidle, J. (2011). Fundamentals of coalbed methane reservoir engineering. PennWell Books.
◆ Thakur, P. (2016). Advanced reservoir and production engineering for coal bed methane. Gulf Professional Publishing.
❑
Makalah & Jurnal :
◆ Mavor, M. J., Owen, L. B., & Pratt, T. J. (1990, January 1). Measurement and Evaluation of Coal Sorption Isotherm Data. Society of Petroleum Engineers. doi:10.2118/20728-MS
◆ Hall, F. E., Chunhe, Z., Gasem, K. A. M., Robinson Jr, R. L., & Dan, Y. (1994, January). Adsorption of pure methane, nitrogen, and carbon dioxide and their binary mixtures on wet Fruitland coal. In SPE Eastern Regional Meeting. Society of Petroleum Engineers.
◆ Arri, L. E., Yee, D., Morgan, W. D., & Jeansonne, M. W. (1992, January). Modeling coalbed methane production with binary gas sorption. In SPE rocky mountain regional meeting. Society of Petroleum Engineers.
◆ Harpalani, S., & Pariti, U. M. (1993, May). Study of coal sorption isotherms using a multicomponent gas mixture. In Proceedings of the International Coalbed Methane Symposium, Birmingham,
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
KULIAH MINGGU KE-2 SEGMEN #3 Permeabilitas Absolut &
Permeabilitas Relatif Reservoir
Batubara
Permeabilitas Absolut Batubara
❑
Permeabilitas cleat sampel core batubara umumnya diukur dengan metode liquid permeability (untuk menghindari adsorpsi)
❑
Tantangan :
◆
Lamanya waktu mencapai steady state karena permeabilitas yang rendah
◆
Besar permeabilitas sangat bergantung tekanan confining
𝑞 = 𝑘𝑓𝐴 𝜇𝑙
Δ𝑃 𝐿
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Permeabilitas Absolut Batubara
❑
Dengan pendekatan pemodelan system batubara seperti susunan berikut (matchstick)
❑
Permeabilitas cleat dapat
dikorelasikan sebagai berikut
𝑘 𝑓 = 1055.47𝑑 2 𝜙 𝑓 3
d-𝐤𝐟 = 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑒𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑐𝑙𝑒𝑎𝑡 [𝑚𝑑]
-𝒅 = 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑐𝑙𝑒𝑎𝑡 [𝑐𝑚]
-𝝓𝒇 = 𝑝𝑜𝑟𝑜𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑐𝑙𝑒𝑎𝑡 [%]
Model Matchstick (Reiss, 1980)
Permeabilitas Absolut Batubara
❑
Permeabilitas absolut batubara bersifat dinamik terhadap tekanan karena :
◆
tingginya kompresibilitas cleat
◆
Fenomena pengembangan/penyusutan matriks batubara akibat adsorpsi/desorpsi
❑
Terdapat beberapa model yang menjelaskan pengaruh tekanan terhadap permeabilitas
Model Seidle (1992)
𝑘 = 𝑘
0𝑒
(−3𝑐𝑓(𝜎−𝜎0))𝜎 = 𝑃
𝑐− 𝑚𝑃
𝑝-𝐤 = 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑒𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡 [𝑚𝑑]
-𝒄𝒇 = 𝑘𝑜𝑚𝑝𝑟𝑒𝑠𝑖𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑐𝑙𝑒𝑎𝑡 [ 1
𝑝𝑠𝑖] -𝝈 = 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 ℎ𝑖𝑑𝑟𝑜𝑠𝑡𝑎𝑡𝑖𝑘 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
-𝐏𝐜 = 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑐𝑜𝑛𝑓𝑖𝑛𝑖𝑛𝑔 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
-𝐏𝒑 = 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑝𝑜𝑟𝑖 [𝑝𝑠𝑖𝑎]
-𝒎 = 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛𝑡𝑎 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑏𝑟𝑎𝑠𝑖
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Permeabilitas Absolut Batubara
Tekanan efektif secara horizontal
Tekanan efektif
secara hidrostatik Tekanan efektif rata-rata
Pengaruh Tekanan terhadap Permeabilitas Absolut
Arah deplesi
Permeabilitas Absolut Batubara
❑
Karena permeabilitas absolut sulit dilakukan pada sampel core (friable) terkadang perlu dilakukan secara in-situ (mis.
dengan well test)
❑
Permeabilitas absolut sangat bervariasi terhadap
kedalaman (vertical) maupun
areal
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Permeabilitas Relatif Gas-Air
❑
Permeabilitas Relatif Gas Air penting untuk diketahui untuk meramalkan kelakuan aliran multifasa (gas & air) pada cleat & rekahan
❑
Data permeabilitas relative gas-air pada batubara
umumnya diperoleh dengan uji coreflood pada kondisi
unsteady state dan dianalisis dengan metode JBN
1 Plot kurva Gp terhadap Wi dan lakukan curve fitting dengan bentuk :
𝐺𝑝 = 𝑎0 + 𝑎1 ln 𝑊𝑖 + 𝑎2 ln 𝑊𝑖 2 2
Metode Johnson-Bossler-Naumann (JBN) - Imbibisi
Hitung fractional flow dari gas (fg) : 𝑓𝑔 = 𝑎1 + 2𝑎2 ln 𝑊𝑖
𝑊𝑖
3 Hitung injektivitas relatif air : 𝐼𝑟 = 𝑞𝑖/Δ𝑝
(𝑞𝑖/Δ𝑝)𝑖𝑛𝑖𝑡𝑖𝑎𝑙
Permeabilitas Relatif Gas-Air
4 Lakukan curve fitting Wi dan Ir dengan bentuk : 𝑊𝑖𝐼𝑟 = exp 𝑏0 + 𝑏1 ln 𝑊𝑖 + 𝑏2 ln 𝑊𝑖 2
5
Metode Johnson-Bossler-Naumann (JBN) - Imbibisi
Hitung 𝑓𝑔/𝑘𝑟𝑔 𝑓𝑔
𝑘𝑟𝑔 = 𝑏1 + 2𝑏2 ln 𝑊𝑖 𝐼𝑟
6 Hitung krglalu hitung krwdengan persamaan 𝑘𝑟𝑤
𝑘𝑟𝑔 = 1
𝑓𝑔 − 1 𝜇𝑤 𝜇𝑔
7 Hitung nilai Sw
𝑆𝑤 = 𝑆𝑤𝑖 + 𝐺𝑝 − 𝑓𝑔𝑊𝑖
Contoh hasil pengukuran (Sumber : Ham & Kantzas (2013), SPE 166995)
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Permeabilitas Relatif Gas-Air
❑
Jika hanya diperoleh nilai permeabilitas relatif end point dari sampel batubara, kurva permeabilitas relatif dapat dihitung dengan korelasi :
𝑘
𝑟𝑔= 𝑘
𝑟𝑔 𝑆𝑖𝑤
1 − 𝑆
𝑤∗ 𝑛′1 − 𝑆
𝑤∗ 2+𝜆𝜆𝑘
𝑟𝑤= 𝑆
𝑤∗ 2+3𝜆𝜆𝑆𝑤∗ = 𝑆𝑤 − 𝑆𝑖𝑤 1 − 𝑆𝑖𝑤
- 𝝀, 𝒏′ = 𝑘𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑒𝑚𝑝𝑖𝑟𝑖𝑠 - 𝑺𝒊𝒘 = 𝑆𝑎𝑡𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑎𝑖𝑟 𝑖𝑟𝑟𝑒𝑑𝑢𝑐𝑖𝑏𝑙𝑒
Perbandingan hasil pengukuran & model permeabilitas relatif gas-air sampel batubara San Juan [sumber : Mavor & Robinson (1993)]
Metode Pengukuran Permeabilitas Relatif
❑
Raj Puri (1991)
mengkombinasikan pengukuran
permeabilitas relative unsteady state dengan pengukuran saturasi air irreducible
menggunakan CT-Scan
❑
Permeabilitas relative air pada cleat (fracture)
cenderung mengikuti
tren garis lurus
Teknik Perminyakan | FTTM | ITB
Referensi Lanjutan
❑ Buku Teks :
◆ Seidle, J. (2011). Fundamentals of coalbed methane reservoir engineering. PennWell Books.
◆ Thakur, P. (2016). Advanced reservoir and production engineering for coal bed methane. Gulf Professional Publishing.
❑ Makalah & Jurnal :
◆ Mavor, M. J., & Robinson, J. R. (1993, January). Analysis of coal gas reservoir interference and cavity well tests.
In Low Permeability Reservoirs Symposium. Society of Petroleum Engineers.
◆ Ham, Y., & Kantzas, A. (2013, November 11). Measurement of Relative Permeability of Coal to Gas and Water.
Society of Petroleum Engineers. doi:10.2118/166995-MS
◆ Johnson, E. F., Bossler, D. P., & Bossler, V. O. (1959). Calculation of relative permeability from displacement experiments. Transactions of the AIME, 216(01), 370-372.
◆ Pan, Z., Connell, L. D., & Camilleri, M. (2010). Laboratory characterisation of coal reservoir permeability for primary and enhanced coalbed methane recovery. International Journal of Coal Geology, 82(3-4), 252-261.
◆ Purl, R., Evanoff, J. C., & Brugler, M. L. (1991, January 1). Measurement of Coal Cleat Porosity and Relative Permeability Characteristics. Society of Petroleum Engineers. doi:10.2118/21491-MS