• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

41

Penelitian dilakukan di tiga SMK Negeri di Kota Surakarta yaitu SMK Negeri 1 Surakarta, SMK Negeri 3 Surakarta, SMK Negeri 6 Surakarta.

a. SMK Negeri 1 Surakarta

SMK Negeri 1 Surakarta terletak di Jalan Sungai Kapuas No. 28 Surakarta, Kedung Lumbu, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah. SMK Negeri 1 Surakarta memiliki 4 program keahlian yaitu Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran, Bisnis Daring dan Pemasaran, dan Multimedia. Pada tahun ajaran 2021/2022 SMK Negeri 1 Surakarta memiliki 61 guru, yang terdiri dari 48 guru PNS, 13 guru non PNS serta 16 tenaga pendidik (4 PNS dan 12 non PNS). SMK Negeri 1 Surakarta memiliki 30 kelas dan total keseluruhan peserta didik Tahun Pelajaran 2021/2022 sebanyak 1.061 siswa. Berikut rincian jumlah siswa pada setiap kelas:

Tabel 4.1. Data Siswa SMKN 1 Surakarta

Jurusan X XI XII

Multimedia 36 35 35

Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran 107 108 106 Bisnis Daring dan Pemasaran 107 106 105 Akuntansi dan Keuangan Lembaga 108 108 100

TOTAL SISWA 1061

(Sumber: Data Siswa SMKN 1 Surakarta)

SMK Negeri 1 Surakarta sebagai lembaga Pendidikan formal yang mengusung visi dan misi sebagai berikut:

a. Visi

“Menuju SMK yang berbudaya, berprestasi, dan berlingkungan nyaman”.

b. Misi

(2)

1) Mewujudkan tamatan yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;

2) Mewujudkan tamatan yang berbudi pekerti luhur dan berkepribadian unggul;

3) Mewujudkan tamatan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian fungsi lingkungan hidup, mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan serta memanfaatkan sumber daya alam secara efektif dan efisien;

4) Mewujudkan tamatan yang profesional sesuai dengan program keahlian dan menjadi wirausaha yang tangguh.

SMK Negeri 1 Surakarta telah terakreditasi A dan dipimpin oleh kepala sekolah Bernama Drs. Siaga Purnomo. Struktur organisasi SMK Negeri 1 Surakarta sebagai berikut:

(3)

Gambar 4.1. Struktur Organisasi SMK Negeri 1 Surakarta

(4)

b. SMK Negeri 3 Surakarta

SMK Negeri 3 Surakarta terletak di Jl. Brigjend Sudiarto 34 Danukusuman, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

SMK Negeri 3 Surakarta memiliki akreditasi sekolah A dan memiliki 5 program keahlian yaitu Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran, Bisnis Daring dan Pemasaran, Multimedia dan Tata Busana. SMK Negeri 3 Surakarta memiliki 86 guru, yang terdiri 65 guru PNS, 21 guru non PNS, 30 tenaga pendidik (4 PNS dan 26 non PNS). Sekolah ini memiliki 36 kelas. Total keseluruhan peserta didik Tahun Angkatan 2021/2022 sebanyak 1.160 siswa. Berikut rincian jumlah siswa pada setiap kelas:

Tabel 4.2. Data Siswa SMKN 3 Surakarta

Jurusan X XI XII

Multimedia 72 67 68

Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran 108 106 105 Bisnis Daring dan Pemasaran 108 104 104 Akuntansi dan Keuangan Lembaga 72 72 72

Tata Busana 72 71 65

TOTAL SISWA 1160

(Sumber: Data Siswa SMKN 3 Surakarta)

SMK Negeri 3 Surakarta sebagai Lembaga Pendidikan formal yang mengusung visi dan misi sebagai berikut:

a. Visi

“Mewujudkan sekolah vokasi yang unggul, berkarakter, berdaya saing tinggi, dan berbudaya lingkungan”.

b. Misi

1) Meningkatkan pengamalan ajaran agama sebagai sumber kearifan dalam bersikap dan bertingkah laku;

2) Meningkatkan kuantitas dan kualitas guru dan tenaga kependidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan;

3) Meningkatkan kuantitas dan kualitas fasilitas Pendidikan yang menunjang proses belajar mengajar sesuai Standar Nasional Pendidikan;

(5)

4) Memberikan layanan Pendidikan dan pelatihan sesuai standar Industri Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA);

5) Menghasilkan tamatan yang kompeten berkarakter, berjiwa wirausaha, dan berbudaya agar mampu bersaing di era disrupsi;

6) Meningkatkan kesadaran dan menjaga konsistensi berbudaya ramah lingkungan seluruh warga sekolah.

Struktur organisasi sebagai berikut:

(6)

Gambar 4.2. Struktur Organisasi SMK Negeri 3 Surakarta

(7)

c. SMK Negeri 6 Surakarta

SMK Negeri 6 Surakarta terletak di Jalan Adi Sucipto No.38, Kerten, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Sekolah ini memiliki akreditasi A. SMK Negeri 6 Surakarta memiliki program keahlian terbanyak daripada SMK N 1 Surakarta dan SMK N 3 Surakarta, terdapat tujuh program keahlian antara lain Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran. Bisnis Daring dan Pemasaran, Usaha Perjalanan Wisata, Multimedia, Rekayasa Perangkat Lunak, Produksi Film dan Program Televisi. Pada tahun ajaran 2021/2022 SMK Negeri 6 Surakarta memiliki 86 guru, yang terdiri dari 65 guru PNS, 21 guru non PNS serta 30 tenaga pendidik (4 PNS dan 26 non PNS).

Sekolah ini memiliki 45 kelas dan keseluruhan peserta didik tahun ajaran 2021/2022 sebanyak 1.561 siswa. Berikut rincian jumlah siswa setiap angkatan:

Tabel 4.3. Data Siswa SMK Negeri 6 Surakarta

Jurusan X XI XII

Multimedia 71 64 64

Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran 107 105 105 Bisnis Daring dan Pemasaran 72 66 66 Akuntansi dan Keuangan Lembaga 108 107 107

PFPT 35 32 32

Rekaya Perangkat Lunak 36 34 34

Usaha Perjalanan Wisata 108 102 102

TOTAL SISWA 1557

(Sumber: Data Siswa SMK N 6 Surakarta)

Visi SMK Negeri 6 surakarta adalah menjadi sekolah unggul dan bermartabat dengan mengedepankan penguatan kompetensi dan kemandirian lulusan, dan misi SMK Negeri 6 Surakarta yaitu : (1) Melaksanakan pendidikan dan pelatihan yang terstandar dan berwawasan mutu; (2) Menghasilkan lulusan yang berkepribadian unggul, berwawasan luas dan terampil di bidangnya. SMK Negeri 6 Surakarta dipimpin oleh kepala sekolah Bernama Tenang Pranata, S.Pd., M.Pd. Struktur organisasi SMK Negeri 6 Surakarta sebagai berikut:

(8)

Gambar 4.3. Struktur Organisasi SMK Negeri 6 Surakarta

(9)

2. Deskripsi Data

Data penelitian diperoleh dari jawaban responden SMK Negeri jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga di Kota Surakarta kelas XII. Jumlah responden masing-masing sekolah yaitu 59 siswa di SMK Negeri 1 Surakarta, 42 siswa di SMK Negeri 3 Surakarta, dan 63 siswa di SMK Negeri 6 Surakarta. Data penelitian diperoleh dari hasil penyebaran instrumen kuesioner dan tes dengan menggunakan google form. Variabel dalam penelitian ini yaitu motivasi belajar (X1), keaktifan belajar (X2), dan prestasi belajar (Y). Data dihitung dan dianalisis menggunakan statistic deskriptif dengan bantuan software IBM SPSS for Windows Version 25.0.

Berikut uraian lengkap deskripsi data pada penelitian ini:

a. Variabel Motivasi Belajar

Angket ini terdiri dari 18 item pernyataan kuesioner menggunakan skala likert dengan skor 1-5. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan software IBM SPSS for Windows Version 25.0 diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.4. Deskripsi Data Motivasi Belajar

Variabel N Range Minimum Maximum Mean Std.

Deviation Motivasi

Belajar

164 49.00 41.00 90.00 67.7439 9.59526 (Sumber: Data diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.4 menunjukan bahwa responden penelitian berjumlah 164 siswa yang dapat dilihat pada kolom N. Range menunjukan rentang antara skor minimum dan skor maksimum sebesar 49. Minimum menunjukkan skor terendah yang diperoleh siswa sebesar 41. Maximum menunjukkan skor tertinggi yang diperoleh siswa 90. Mean menunjukan rata-rata skor yang diperoleh dari seluruh sampel sebesar 67,74. Std. Deviation menunjukan rata-rata penyimpangan masing-masing skor terhadap rata-rata sebesar 9,59526.

Perhitungan distribusi frekuensi variabel motivasi belajar diperoleh menggunakan rumus sebagai berikut:

1) Jumlah kelas

K = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 164

= 1 + 3,3 (2,21484384805)

(10)

= 1 + 7,30898469856

= 8,30898469856 (dibulatkan menjadi 8) 2) Panjang kelas interval

Panjang kelas = jangkauan (range) : banyak kelas

= 49 : 8,308

= 6,125 (dibulatkan menjadi 6,5) Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar

Interval Frekuensi Percent Valid Percent Cumulative Percent

41-47,5 3 1,8 % 1,8 % 1,8 %

48-54,5 9 5,5 % 5,5 % 7,3 %

55-61,5 29 17,7 % 17,7 % 25%

62-68,5 53 32,3 % 32,3 % 57,3 %

69-75,5 35 21,3 % 21,3 % 78,7%

76-82,5 22 13,4 % 13,4 % 92,1%

83-89,5 9 5,5 % 5,5 % 97,6 %

90-96,5 4 2,4 % 2,4 % 100 %

Total 164 100 % 100%

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.5 menjelaskan bahwa variabel motivasi belajar terbagi menjadi 8 kelas interval dengan Panjang interval 6,5. Modus data berada pada kelas interval 4 dengan frekuensi sebanyak 53 siswa. Data motivasi belajar dapat dikategorikan menjadi tiga kriteria menurut Azwar (2016: 19) yaitu tinggi, sedang, dan rendah.

Berdasarkan data pada tabel 4.4 dan 4.5 distribusi frekuensi dapat dikategorikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.6. Kategorisasi Data Motivasi Belajar

Interval Frekuensi Presentase Kategori

X < 58,15 23 14 % Rendah

58 ≤ X < 77,33 115 70,1 % Sedang

77,33 ≤ X 26 15, 9 % Tinggi

Jumlah 164 100 %

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.6 menunjukan bahwa sebanyak 23 siswa (14%) memiliki motivasi belajar dengan kategori rendah, sebanyak 115 siswa (70,1%) berada pada kategori sedang, dan sejumlah 26 siswa (15,9%) berada pada kategori tinggi, Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Sebagian besar siswa akuntansi SMK Negeri di Surakarta memiliki motivasi belajar pada kategori sedang.

(11)

b. Variabel Keaktifan Belajar

Angket ini terdiri dari 18 item pernyataan kuesioner menggunakan skala likert dengan skor 1-5. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan software IBM SPSS for Windows Version 25.0 diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.7. Deskripsi Data Keaktifan Belajar

Variabel N Range Minimum Maximum Mean Std.

Deviation Keaktifan

Belajar

164 50,00 40,00 90,00 65,8354 8,38658 (Sumber: Data diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.7 menunjukan bahwa responden penelitian berjumlah 164 siswa yang dapat dilihat pada kolom N. Range menunjukan rentang antara skor minimum dan skor maximum sebesar 50. Minimum menunjukkan skor terendah yang diperoleh siswa sebesar 40. Maximum menunjukkan skor tertinggi yang diperoleh siswa 90. Mean menunjukan rata-rata skor yang diperoleh dari seluruh sampel sebesar 65,83. Std. Deviation menunjukan rata-rata penyimpangan masing-masing skor terhadap rata-rata sebesar 8,38658.

Perhitungan distribusi frekuensi variabel keaktifan belajar diperoleh menggunakan rumus sebagai berikut:

1) Jumlah kelas

K = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 164

= 1 + 3,3 (2,21484384805 = 1 + 7.30898469856

= 8.30898469856 (dibulatkan menjadi 8) 2) Panjang kelas interval

Panjang kelas = jangkauan (range) : banyak kelas

= 50 : 8

= 6,25 (dibulatkan menjadi 6,5)

(12)

Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Keaktifan Belajar Interval Frekuensi Percent Valid

Percent

Cumulative Percent

40-46,5 2 1,2 % 1,2 % 1,2 %

47-53,5 6 3,7 % 3,7 % 4,9 %

54-67,5 35 21,3 % 21,3 % 26,2 %

61-67,5 57 34,8 % 34,8 % 61 %

68-74,5 44 26,8 % 26,8 % 87,8 %

75-81,5 13 7,9 % 7,9 % 95,7 %

82-88,5 6 3,7 % 3,7 % 99,4 %

89-95,5 1 0,6 % 0,6 % 100 %

Total 164 100 % 100%

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.8 menjelaskan bahwa variabel keaktifan belajar terbagi menjadi 8 kelas interval dengan Panjang interval 6,5. Modus data berada pada kelas interval 4 dengan frekuensi sebanyak 57 siswa. Data keaktifan belajar dapat dikategorikan menjadi tiga kriteria menurut Azwar (2016: 19) yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Berdasarkan data pada tabel 4.7 dan 4.8 distribusi frekuensi dapat dikategorikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.9. Kategorisasi Data Keaktifan Belajar

Interval Frekuensi Presentase Kategori

X < 57,45 24 14,6 % Rendah

57,5 ≤ X < 74,22 120 73,2 % Sedang

74,22 ≤ X 20 12,2 % Tinggi

Jumlah 164 100 %

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.9 menunjukan bahwa sebanyak 24 siswa (14,6%) memiliki keaktifan belajar dengan kategori rendah, sebanyak 120 siswa (73,2%) berada pada kategori sedang, dan sejumlah 20 siswa (12,2%) berada pada kategori tinggi,.Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Sebagian besar siswa akuntansi SMK Negeri di Surakarta memiliki keaktifan belajar pada kategori sedang.

c. Variabel Prestasi Belajar

Angket ini terdiri dari 17 item pernyataan kuesioner menggunakan skala likert dengan skor 1-5 dan menggunakan tes berjumlah 20 butir soal pilihan ganda.

Penilaian tes apabila jawaban benar, maka memperoleh skor 1 dan jika jawaban

(13)

salah memperoleh skor 0. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan software IBM SPSS for Windows Version 25.0 diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.10. Deskripsi Data Prestasi Belajar

Variabel N Range Minimum Maximum Mean Std.

Deviation Prestasi

Belajar

164 112.00 63.00 175.00 133,9634 24,49813 (Sumber: Data diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.10 menunjukan bahwa responden penelitian berjumlah 164 siswa yang dapat dilihat pada kolom N. Range menunjukan rentang antara skor minimum dan skor maximum sebesar 112. Minimum menunjukkan skor terendah yang diperoleh siswa sebesar 63. Maximum menunjukkan skor tertinggi yang diperoleh siswa 175. Mean menunjukan rata-rata skor yang diperoleh dari seluruh sampel sebesar 133,96. Std. Deviation menunjukan rata-rata penyimpangan masing-masing skor terhadap rata-rata sebesar 24,49.

Perhitungan distribusi frekuensi variabel prestasi belajar diperoleh menggunakan rumus sebagai berikut:

1) Jumlah kelas

K = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 164

= 1 + 3,3 (2,21484384805 = 1 + 7.30898469856

= 8.30898469856 (dibulatkan menjadi 8) 2) Panjang kelas interval

Panjang kelas = jangkauan (range) : banyak kelas

= 112 : 8

= 14

Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar Interval Frekuensi Percent Valid

Percent

Cumulative Percent

63-77 4 2,4 % 2,4 % 2,4 %

78-92 8 4,9 % 4,9 % 7,3 %

93-107 18 11 % 11 % 18,3 %

108-122 18 11 % 11 % 29,3 %

123-137 25 15,2 % 15,2 % 44,5 %

138-152 41 25 % 25 % 69,5 %

153-167 42 25,6 % 25,6 % 95,1 %

168-182 8 4,9 % 4,9 % 100 %

(14)

Total 164 100 % 100%

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.11 menjelaskan bahwa variabel prestasi belajar terbagi menjadi 8 kelas interval dengan Panjang interval 14. Modus data berada pada kelas interval 7 dengan frekuensi sebanyak 42 siswa. Data prestasi belajar dapat dikategorikan menjadi tiga kriteria menurut Azwar (2016: 19) yaitu tinggi, sedang, dan rendah.

Berdasarkan data pada tabel 4.10 dan 4.11 distribusi frekuensi dapat dikategorikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.12. Kategorisasi Data Prestasi Belajar

Interval Frekuensi Presentase Kategori

X < 109,47 30 18,3 % Rendah

109,47 ≤ X < 158,46 106 64,6 % Sedang

158,46 ≤ X 28 17,1 % Tinggi

Jumlah 164 100 %

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Tabel 4.12 menunjukan bahwa sebanyak 30 siswa (18,3%) memiliki prestasi belajar dengan kategori rendah, sebanyak 106 siswa (64,6%) berada pada kategori sedang, dan sejumlah 28 siswa (17,1%) berada pada kategori tinggi.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Sebagian besar siswa akuntansi SMK Negeri di Surakarta memiliki prestasi belajar pada kategori sedang.

3. Hasil Uji Prasyarat a. Uji Normalitas

Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan Teknik One Sample Kolmogorov Smirnov dengan bantuan program software IBM SPSS for Windows Version 25.0. Berikut hasil uji normalitas penelitian ini:

Tabel 4.13. Hasil Uji Normalitas

N Asymp.Sig. (2-tailed)

164 0,101

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS V 25.0, 2021)

Tabel 4.13 menunjukan nilai Asymp.Sig. (2-tailed) sebesar 0,101 maka disimpulkan data berdistribusi normal karena nilai signifikansi 0,101 > 0,05.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui hubungan yang linier variabel motivasi belajar dan keaktifan belajar dengan variabel prestasi belajar. Uji

(15)

linearitas pada penelitian ini menggunakan test of linearity dengan taraf signifikansi 0,05. Berikut hasil uji linearitas penelitian ini:

Tabel 4.14. Hasil Uji Linearitas

ANOVA Tabel Sig. Deviation From

Linearity

Kesimpulan Prestasi Belajar * Motivasi

Belajar

0,809 Linier

Prestasi Belajar * Keaktifan Belajar

0,327 Linier

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.14 dapat diketahui bahwa setiap variabel motivasi belajar dan keaktifan belajar dengan variabel prestasi belajar memiliki hubungan yang linier ditunjukkan dengan nilai Sig. Deviation From Linearity > 0,05.

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas pada penelitian ini menggunakan metode Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance. Uji multikolinearitas untuk mengetahui hubungan yang kuat antar variabel motivasi belajar dan keaktifan belajar.

Apabila nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Berikut hasil uji multikolinearitas penelitian ini:

Tabel 4.15. Hasil Uji Multikolinearitas

Variabel Bebas VIF Tolerance

Motivasi Belajar 3,375 0,296

Keaktifan Belajar 3,375 0,296

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Berdasarkan tabel 4.15 dapat diketahui bahwa untuk variabel motivasi belajar memiliki nilai VIF sebesar 3,375 < 10 dan Tolerance 0,296 > 0,10.

Variabel keaktifan belajar memiliki nilai VIF sebesar 3,375 < 10 dan Tolerance 0,296 > 0,10. Berdasarkan variabel bebas memiliki nilai VIF < 10 dan Tolerance > 0,10 sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap variabel tidak terjadi multikolinearitas.

d. Uji Heteroskedastisitas

(16)

Uji heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan uji Glejser.

Berikut hasil uji heteroskedastisitas penelitian ini:

Tabel 4.16. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Variabel Bebas Nilai Signifikansi

Motivasi Belajar 0,851

Kekatifan Belajar 0,296

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Berdasarkan tabel 4.16 bahwa variabel bebas memiliki nilai signifikansi >

0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas.

4. Hasil Uji Hipotesis

a. Analisis Regresi Linier Ganda

Analisis regresi linier ganda bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen motivasi belajar dan keaktifan belajar secara parsial maupun simultan terhadap variabel dependen prestasi belajar. Pengolahan data menggunakan software IBM SPSS for Windows Version 25.0 diperoleh hasil perhitungan estimasi angka konstanta dan koefisien regresi sebagai berikut:

Tabel 4.17. Hasil Analisis Regresi Linier Ganda Coefficients

Variabel Bebas

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients t Sig.

B Std. Error Beta

(Constant) 14,338 11,953 1,200 0,232

Motivasi Belajar

0,853 0,287 0,334 2,965 0,008

Keaktifan Belajar

0,940 0,329 0,322 2,859 0,005

a. Variabel Terikat: Prestasi Belajar

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2921) 1) Pengujian Hipotesis I

Berdasarkan tabel 4.17 nilai signifikansi pada variabel motivasi belajar sebesar 0,008 < 0,05 dan nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 2,965 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 0,1358, dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yang berarti variabel motivasi belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan

(17)

bahwa motivasi belajar semakin tinggi, maka semakin tinggi prestasi belajar siswa.

2) Pengujian Hipotesis II

Berdasarkan tabel 4.17 nilai signifikansi pada variabel keaktifan belajar sebesar 0,005 < 0,05 dan nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 2,859 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 0,1358, dapat disimpulkan bahwa H2 diterima yang berarti bahwa variabel keaktifan belajar berpengaruh terhadap prestasi belajar. Berdasarkan hal tersebut disimpulkan bahwa keaktifan belajar semakin tinggi, maka semakin tinggi prestasi belajar siswa.

3) Pengujian Hipotesis III

Berdasarkan tabel 4.17 dapat diperoleh persamaan regresi linier ganda sebagai berikut:

Y = 14, 338 + 0,853 𝑋1 + 0,940 𝑋2 Keterangan:

Y = Prestasi Belajar 𝑋1 = Motivasi Belajar 𝑋2 = Keaktifan Belajar

Berdasarkan persamaan di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Angka 14,338 adalah konstanta dari persamaan yang berarti jika tidak terdapat motivasi belajar dan keaktifan belajar maka tingkat prestasi belajar sebesar 14,338.

2) Angka 0,853 adalah koefisien regresi dari motivasi belajar (X1) dan bernilai positif. Hal ini berarti jika setiap peningkatan 1 angka motivasi belajar, maka prestasi belajar juga akan meningkat sebesar 0,853 dengan asumsi variabel bebas yang lainya nilainya tetap konstan.

3) Angka 0,940 adalah koefisien regresi keaktifan belajar (X2) dan bernilai positif. Hal ini berarti jika setiap peningkatan 1 angka keaktifan belajar, maka prestasi belajar juga akan meningkat sebesar 0,940 dengan asumsi variabel bebas yang lainya tetap konstan.

(18)

c. Uji F

Uji F digunakan untuk melihat pengaruh variabel bebas motivasi belajar dan keaktifan belajar terhadap variabel terikat prestasi belajar. Berikut hasil pengolahan data:

Tabel 4.18. Hasil Uji F

Model Df Mean Square F Sig.

Regression 2 19331,332 52,606 ,000

Residual 161 367,473

Total 163

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Berdasarkan tabel 4.19 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi untuk pengaruh motivasi belajar dan keaktifan belajar secara simultan terhadap prestasi belajar sebesar 0,000 < 0,005 dan nilai 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔52,606 > 𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙3,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H3 diterima yang berarti terdapat pengaruh motivasi belajar dan keaktifan belajar secara simultan terhadap prestasi belajar.

d. Analisis Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh variabel bebas menentukan variabel terikat. Berikut nilai koefisien determinasi yang dihitung menggunakan software IBM SPSS for Windows Version 25.0:

Tabel 4.19. Hasil Perhitungan Koefisien Determinasi Model Summary

Model R R square Adjusted R Square

1 0,629 0,395 0,388

a. Predictors: (Constans), Motivasi Belajar, Keaktifan Belajar b. Variabel Terikat: Prestasi Belajar

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021)

Berdasarkan tabel 4.20 menunjukan nilai koefisien determinasi atau R Square (𝑅2) sebesar 0,395. Hal ini menunjukan motivasi belajar dan

(19)

keaktifan belajar secara bersama-sama menentukan prestasi belajar sebesar 39,5% sedangkan yang 60,5% ditentukan oleh faktor-faktor lain.

e. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif

Sumbangan relatif dan sumbangan efektif variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dihitung menggunakan data sebagai berikut:

Tabel 4.20. Data Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif

Variabel bebas Sumbangan Relatif Sumbangan Efektif

Motivasi Belajar 51% 20,1%

Keaktifan Belajar 49% 19,4%

(Sumber: Data yang diolah menggunakan SPSS v.25, 2021) 1) Sumbangan Relatif

Berdasarkan tabel 4.20 diketahui bahwa variabel motivasi belajar menentukan prestasi belajar yang paling besar yaitu sebesar 51%.

Variabel keaktifan belajar menentukan prestasi belajar sebesar 49%.

2) Sumbangan Efektif

Berdasarkan tabel 4.20 diketahui bahwa variabel motivasi belajar menentukan tingkat prestasi belajar yang paling besar yaitu sebesar 20,1% dan variabel keaktifan belajar menentukan tingkat prestasi belajar yaitu sebesar 19,4%.

B. Pembahasan 1. Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prestasi Belajar

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukan bahwa motivasi belajar memiliki pengaruh yang positif dan signifikansi terhadap prestasi belajar siswa Program Keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga pada SMK Negeri di Kota Surakarta. Pernyataan tersebut dibuktikan berdasarkan hasil analisis regresi linier sederhana antara motivasi belajar dengan prestasi belajar hasil penelitian ini sebesar 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (2,965 > 0,1358) dengan nilai signifikansi sebesar 0,008 kurang dari taraf signifikansi yang ditetapkan sebesar 0,05.

(20)

Motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam proses belajar, karena tidak adanya motivasi belajar akan melemahkan semangat belajar sehingga kecil kemungkinan seorang siswa dapat berhasil dalam belajar. Motivasi belajar yang tinggi akan berdampak pada keinginan untuk belajar sehingga mencapai prestasi belajar yang sesuai harapan. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan bekerja keras baik dalam diri sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa lain. Kamaluddin (2017) menyatakan motivasi ekstrinsik merupakan sebuah faktor penting dalam menentukan prestasi belajar. Motivasi belajar memegang peranan penting dalam praktik pendidikan dan meningkatkan efektivitas proses pembelajaran. Motivasi belajar salah satu hal yang mendasari performa optimal siswa yang berpengaruh terhadap kualitas perilaku dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar supaya tujuan yang dikehendaki siswa dapat tercapai. Motivasi belajar dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan tingkat kehadiran siswa dalam pembelajaran.

Indikator dalam variabel motivasi belajar pada penelitian ini ada empat yang termuat dalam kuesioner. Indikator yang paling dominan adalah pilihan atau ketertarikan terhadap tugas/kegiatan (Choice of task) memiliki persentase sebesar 34,8%, dan indikator ketekunan atau kegigihan waktu yang digunakan untuk sebuah tugas memiliki persentase yang paling rendah yaitu sebesar 10%. Skor perolehan kuesioner jawaban responden untuk indikator pilihan atau ketertarikan terhadap tugas/kegiatan (Choice of task) memiliki skor perolehan sebesar 3.863, sedangkan indikator ketekunan atau kegigihan waktu yang digunakan untuk sebuah tugas memiliki skor perolehan sebesar 1.171. Indikator ketertarikan terhadap tugas/kegiatan (Choice of task) menjadi indikator dominan karena siswa merasa senang dalam mengikuti pembelajaran di kelas sehingga siswa memperhatikan penjelasan guru dengan seksama sehingga motivasi yang dimiliki siswa tinggi untuk mencapai tujuan belajar yang ingin dicapai. Indikator ketekunan dan kegigihan waktu yang digunakan untuk sebuah tugas menjadi indikator yang paling rendah karena ketika siswa menemukan kesulitan dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru siswa mudah putus asa.

(21)

Hasil penelitian ini.mendukung teori belajar konstruktivisme yang menyatakan bahwa dalam kegiatan belajar mengajar seorang guru tidak mengajarkan kepada siswa bagaimana menyelesaikan permasalahan, namun mendorong siswa untuk menemukan secara mandiri dalam menyelesaikan permasalahan. Siswa berpeluang untuk membina pengetahuan baru dari hasil aktivitas yang dilakukan siswa sehingga pembelajaran bermakna. Siswa dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan belajar sehingga mereka dapat lebih mandiri dalam belajar dan memberi serta menerima pendapat orang lain. Hasil penelitian ini juga relevan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Darmawati (2017); Rizkiana (2017);

Sa’diah dan Sholeh (2018); Gani (2018); Khumaidah (2018); Pranata, Firman dan Neviyarni (2019); Winata dan Friantini (2019); Sunarti (2019); Mulya dan Lengkana (2020); Prianti (2020); Kholisna dan Widiyanti (2020) yang menyatakan bahwa motivasi belajar memiliki pengaruh positif dan signifikansi terhadap prestasi belajar.

2. Pengaruh Keaktifan Belajar terhadap Prestasi Belajar

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukan bahwa keaktifan belajar memiliki pengaruh yang positif dan signifikansi terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi dan keuangan Lembaga pada SMK Negeri di Kota Surakarta. Pernyataan tersebut dibuktikan berdasarkan hasil analisis regresi linier sederhana antara keaktifan belajar dengan prestasi belajar hasil penelitian ini sebesar 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (2,859 > 0,1358) dengan nilai signifikansi sebesar 0,005 kurang dari taraf signifikansi yang ditetapkan sebesar 0,05.

Keaktifan belajar dapat menunjang keberhasilan dalam belajar, dengan hasil belajar berupa nilai yang baik maka akan menghasilkan prestasi belajar yang tinggi.

Keaktifan belajar ditandai adanya keterlibatan siswa secara optimal, baik intelektual, emosi, dan fisik. Siswa mampu mencari, menemukan, dan menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Keaktifan belajar dapat dilihat melalui sikap siswa mengajukan ide atau bertanya kepada guru, memberikan tanggapan atau komentar terhadap siswa lain, dan menyanggah atau menyetujui ide dalam tugas kelompok. Peningkatan pada keaktifan belajar akan diikuti dengan perkembangan kemampuan berkomunikasi, percaya diri, kerjasama, dan tanggung jawab. Aktivitas

(22)

sikap yang timbul dari siswa akan membentuk pengetahuan dan keterampilan sehingga prestasi belajar akan meningkat.

Indikator dalam variabel keaktifan belajar pada penelitian ini ada lima yang termuat dalam kuesioner. Indikator yang paling dominan adalah melatih diri dalam memecahkan masalah memiliki persentase sebesar 28,5%, sedangkan indikator melakukan diskusi memiliki persentase yang paling rendah sebesar 6,24%. Skor perolehan kuesioner jawaban responden untuk indikator melatih diri dalam memecahkan masalah memiliki skor perolehan sebesar 3.079, sedangkan indikator melakukan diskusi memiliki skor perolehan sebesar 674. Indikator melatih diri dalam memecahkan masalah menjadi indikator dominan karena siswa dalam menemukan permasalahan dalam pembelajaran berusaha menemukan jawaban melalui berbagai sumber seperti buku, internet, bertanya kepada guru, sehingga siswa aktif dalam kegiatan belajar dan mencapai tujuan pembelajaran mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Indikator melakukan diskusi menjadi indikator yang paling rendah karena siswa dalam melakukan diskusi kelompok belum bisa bertukar pikiran dalam memecahkan masalah kelompok.

Hasil penelitian ini mendukung teori belajar konstruktivisme menyatakan pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif tekanan dalam proses pembelajaran terletak pada siswa untuk mencapai tujuan dalam belajar. Siswa terlibat secara aktif dengan materi pelajaran melalui interaksi sosial di dalam kelas (Cawas dan Hidayat, 2015). Proses pembelajaran merangsang keaktifan belajar siswa akan lebih optimal dalam meningkatkan pengetahuan siswa pada mata pelajaran serta didapatkan prestasi belajar yang tinggi. Pengetahuan dibangun oleh siswa sedikit demi sedikit kemudian dikembangkan sehingga menjadi pengalaman. Hasil penelitian ini juga relevan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hanafi dan Pranata (2017); Gunawan (2018); Dewangga (2019); Achmad, Dinar dan Bernard (2020);

Haryanti (2020); Prasetyo dan Iftitah (2020); Amelia (2021) yang menyatakan bahwa keaktifan belajar memiliki pengaruh positif dan signifikansi terhadap prestasi belajar.

3. Pengaruh Motivasi Belajar dan Keaktifan Belajar terhadap Prestasi Belajar

(23)

Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukan bahwa motivasi belajar dan keaktifan belajar memiliki pengaruh positif dan signifikansi terhadap prestasi belajar siswa program keahlian akuntansi dan keuangan Lembaga pada SMK Negeri di Kota Surakarta. Pernyataan tersebut dibuktikan dari hasil analisis uji F sebesar 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 >

𝐹𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 (52,606 > 3,05) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 kurang dari taraf signifikansi yang ditetapkan sebesar 0,05. Hasil hipotesis ketiga menggunakan analisis uji regresi linier ganda dengan hasil Y = 14, 338 + 0,853 𝑋1 + 0,940 𝑋2.

Hasil belajar yang diperoleh menjadi acuan dalam siswa meningkatkan prestasi belajar baik melalui faktor internal dan faktor eksternal menurut Ahmadi dan Supriyono (2013: 138). Variabel motivasi belajar dan keaktifan belajar termasuk dalam faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar. Siswa berusaha meningkatkan prestasi belajar dengan mengetahui hasil belajar siswa berupa angka yang telah diperoleh. Siswa akan memiliki motivasi belajar dalam mencari pengetahuan untuk keberhasilan dalam belajar sehingga prestasi belajar meningkat.

Keaktifan belajar ditunjukkan dengan keterlibatan siswa dalam mencari atau mendapatkan informasi dari sumber buku, internet, guru atau teman sebaya sehingga siswa termotivasi untuk mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang dimiliki secara penuh.

Variabel motivasi belajar dan keaktifan belajar menentukan variabel prestasi belajar sebesar 39,5%. Kontribusi variabel motivasi belajar sebesar 20,1% dan variabel keaktifan belajar sebesar 19,4%. Sisanya 60,5% merupakan pengaruh efektif dari variabel lain yang menentukan prestasi belajar yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil deskripsi data prestasi belajar siswa Program Keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga di Kota Surakarta berada dalam kategori sedang dengan persentase sebesar 73,2% dengan meneliti ranah kognitif dan ranah afektif.

Hasil penelitian ini mendukung teori belajar konstruktivisme memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya (Azizzah, 2019: 28). Proses belajar yang aktif merupakan pengalaman dalam memahami makna dalam belajar. Pemahaman dibangun melalui partisipasi, mendorong motivasi, dan keterlibatan aktif dalam setiap langkah dalam proses

(24)

pembelajaran (Sugrah, 2019: 129). Siswa dalam proses pembelajaran diharuskan untuk aktif sehingga prestasi belajar siswa meningkat. Siswa memiliki keaktifan belajar tinggi merupakan siswa yang berani mengungkapkan gagasan dengan menggunakan bahasa sendiri.

4. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan prosedur ilmiah namun masih terdapat beberapa keterbatasan antara lain:

a. Peningkatan prestasi belajar siswa dalam penelitian ini hanya menggunakan dua variabel yang terdiri motivasi belajar dan keaktifan belajar, sedangkan masih banyak faktor lain yang dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

b. Pada penelitian ini prestasi belajar hanya meneliti ranah kognitif dan ranah afektif, sedangkan ranah psikomotorik tidak diteliti dalam penelitian ini karena adanya pandemi COVID-19 tidak memungkinkan untuk diteliti.

c. Responden penelitian mengambil dari SMK Negeri di Surakarta yang terdapat kompetensi keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga, sehingga belum mewakili pendapat siswa dari SMK swasta yang terdapat kompetensi keahlian Akuntansi dan Keuangan Lembaga.

Gambar

Gambar 4.1. Struktur Organisasi SMK Negeri 1 Surakarta
Gambar 4.2. Struktur Organisasi SMK Negeri 3 Surakarta
Gambar 4.3. Struktur Organisasi SMK Negeri 6 Surakarta
Tabel 4.5 menjelaskan bahwa variabel motivasi belajar terbagi menjadi 8  kelas interval dengan Panjang interval 6,5
+2

Referensi

Dokumen terkait

a) Guru pembimbing harus mempunyai pengetahuan yang cukup luas, baik dari segi teori maupun segi praktik. Segi teori merupakan hal yang penting karena segi

Bentuk ini memiliki kelebihan, antara lain: (a) Opsi saham mengaitkan imbalan kepada karyawan dengan keberhasilan yang akan datang karena opsi tersebut hanya menjadi

According to research finding in writing procedure text, there are 1 student who get excellent level, 20 students who get good level,10 students who get moderate, 1 student who

4 : siswa mengajukan pertanyaan/ menjawab pertanyaan dengan mengangkat tangan terlebih dahulu 3 : siswa mengajukan pertanyaan/ menjawab pertanyaan ditunjuk oleh guru 2 :

Pertunjukan merupakan sebuah tontonan untuk diperlihatkan kepada khalayak umum dengan memiliki beberapa unsur seperti tempat pertunjukan, konten pertunjukan, dan penonton

Validasi desain, merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk baru secara rasional akan lebih efektif daripada produk lama (dalam hal ini belum

1) Reksa dana tertutup (Closed-End Fund), yaitu reksa dana yang tidak dapat membeli saham-saham yang telah di jual kepada pemodal. Artinya, pemegang saham tidak dapat memjual

Berdasarkan beberapa definisi yang telah di kemukakan oleh beberapa penulis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja adalah suatu keadaan yang