• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Rasio Keuangan Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Polewali Mandar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis Rasio Keuangan Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Polewali Mandar"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 20

Analisis Rasio Keuangan Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Polewali Mandar

Maskur Hasan1*, Anastasia D’Ornay2, Rohman3 STIE Amsir Parepare

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Wai Tipalayo Kabupaten Polewali Mandar. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan berdasarkan Keputusan Mendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Analisis Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data aspek keuangan berupa Laporan Neraca dan Laporan Laba Rugi, dimana aspek keuangan ini memiliki 10 rasio dan 2 rasio perbaikan indikator. Berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum dari aspek keuangan pada tahun 2014 diperoleh nilai 21 dengan kategori cukup baik, pada tahun 2015 diperoleh nilai 24,75 dengan kategri cukup baik, pada tahun 2016 diperoleh nilai 27,75 dengan kategori baik dan pada tahun 2017 diperoleh nilai 21 dengan kategori cukup baik.

Kata Kunci : Kinerja Keuangan, Perusahaan Daerah Air Minum

I. PENDAHULUAN

Untuk mencatat pengeluaran dan penerimaan setiap akhir periode akuntansi, perusahaan membuat laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas. Laporan keuangan merupakan suatu alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan, dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.

Dengan mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca dapat diketahui atau akan diperoleh gambaran tentang posisi keuangan, sedangkanan analisa terhadap laporan laba rugi akan memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.

Pada mulanya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dari pekerjaan bagian pembukuan, tetapi untuk selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja tetapi juga sebagai dasar untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang berkepentingan mengambil keputusan.

Nilai yang tercantum dalam laporan keuangan selalu berubah-ubah setiap periodenya, atau selalu mengalami penambahan dan pengurangan. Perubahan nilai yang ada dalam laporan keuangan akan berpengaruh di dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu laporan keuangan sangat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan misalnya pemilik perusahaan, pemasok, investor, pegawai, pemerintah (pajak).

Agar laporan keuangan dapat berarti bagi pihak-pihak yang berkepentingan maka perlu mengadakan analisa hubungan dari berbagai pos-pos dalam suatu laporan keuangan yang sering disebut analisis laporan keuangan. Dalam hal ini analisa rasio dapat dipakai dalam memberikan gambaran keadaan keuangan yang sebenarnya mengenai perkembangan perusahaan dan sehat tidaknya perusahaan tersebut melakukan usahanya. Analisa rasio adalah menggambarkan suatu perbandingan antara

(2)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 21 jumlah tertentu (dari neraca atau rekening laba rugi) dengan jumlah yang lain. Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat kinerja keuangan perusahaan.

Berdasarkan dasar pemikiran tersebut serta didasarkan kenyataan bahwa di lapangan sering terjadi banyak penyimpangan-penyimpangan didalam mengolah data keuangan sehingga menyajikan laporan keuangan yang tidak wajar dan terjadi kesalahan dalam melakukan pembukuan. Sehingga Penulis mengambil objek penelitian terhadap laporan keuangan pada Perusahaan Daerah Air Minum Wai Tipalayo Kabupaten Polewali Mandar. Penulis ingin mengetahui kondisi keuangan PDAM tersebut yaitu ingin mengetahui tingkat rasio keuangan, yaitu kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva yang ada untuk menghasilkan laba selama empat tahun terakhir.

Mengacu pada laporan keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Wai Tipalayo Kabupaten Polewali Mandar. Aktiva produktif yang dimiliki cukup besar yakni pada tahun 2014 sebesar 81.666.147.321, tahun 2015 sebesar 81.925.995.032, tahun 2016 sebesar 74.433.651.302 dan tahun 2017 sebesar 73.128.454.984 namun pengelolaannya kurang maksimal dimana pada tahun 2014 mengalami defisit sebesar 11.032.507.156, pada tahun 2015 defisit sebesar 9.539.400.216, pada tahun 2016 defisit sebesar 7.683.190.538, dan pada tahun 2017 defisit lagi sebesar 8.843.700.234. Dari ketidak berhasilan Perusahaan Daerah Air Minum Wai Tipalayo Kabupaten Polewali Mandar untuk menghasilkan laba selama empat tahun terakhir, penulis ingin mengetahui kinerja keuangan pada empat tahun terakhir dalam kondisi baik atau kurang baik.

Rumusan masalah yang diambil adalah apakah kinerja keuangan Perusahan Daerah Air Minum Kabupaten Polewali Mandar dikategorikan baik, ditinjau dari Pedoman Penilaian Kinerja PDAM berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999?

II. TINJAUAN PUSTAKA

Laporan keuangan meliputi bagian dari proses keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya sebagai laporan arus kas/ laporan arus dana, catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian dari laporan keuangan.

Menurut Kasmir (2015:7) Laporan keuangan merupakan laporan yang menunjukkan kondisi keuangan pada saat ini atau dalam periode tertentu. Menurut Munawir (2014:26), laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan adalah para pemilik perusahaan, manager perusahaan yang bersangkutan, para kreditur, bankers, para investor dan pemerintah dimana perusahaan tersebut berdomisili, buruh serta pihak lainnya (Fisu dkk, 2020).

Menurut Farid dan Siswanto yang dikutip oleh Fahmi (2015: 21), mengatakan Laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial”. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 1 Tahun 2015, Laporan Keuangan adalah penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas.

Laporan ini menampilkan sejarah entitas yang dikuantifikasi dalam nilai moneter . Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya laporan arus kas, atau laporan arus dana) (Widyawati, 2019).

Menurut Kasmir (2015:10-11) ada beberapa tujuan laporan keuangan, yaitu:

(3)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 22 1. Memberika informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki

perusahaan pada saat ini.

2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan saat ini.

3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh dalam suatu periode tertentu.

4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.

5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan

6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.

7. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan 8. Informasi keuangan lainnya.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (Ikatan Akuntansi Indonesia 2002:4), tujuan laporan keuangan adalah:

1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

2. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum mengambarkan pengaruh keuangan dan kejadian di masa lalu.

3. Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Pengertian Rasio Keuangan

Rasio keuangan merupakan cara yang paling umum digunakan dalam menganalisis laporan keuangan. Analisis rasio menggambarkan hubungan sitematis antara suatu jumlah dengan jumlah lainnya dalam laporan keuangan.

Rasio keuangan menurut James C Van Horne yang dikuti oleh Kasmir (2015: 104), mengatakan “rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya”

Menurut Fahmi (2012:107) secara sederhana rasio (ratio) keuangan adalah perbandingan jumlah dari satu jumlah dengan jumlah yang lainnya kemudian dilihat perbandingannya dengan harapan nantinya akan ditemukan jawaban yang selanjutnya dijadikan bahan untuk dianalisis dan diputuskan.

Menurut Kasmir (2015:104) rasio keuangan merupakan kegiatan membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan cara membagi satu angka dengan angka lainnya.

Menurut Munawir (2014: 64) rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa ratio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar.

Menurut Kasmir (2015:103-214), ada beberapa bentuk rasio keuangan, yaitu sebagai berikut:

1. Rasio Likuiditas (Liqudity Ratio), yang terbagi atas:

a. Rasio Lancar (Current Ratio)

b. Rasio Sangat Lancar Quick Ratio atau Acid Test Ratio)

(4)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 23 c. Rasio Kas (Cash Ratio)

d. Rasio Perputaran Kas (Cash Turn Over e. Inventori to Net Working Capital

2. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio), yang terbagi atas:

a. Rasio Total Utang terhadap Total Aktiva (Debt to Asset Ratio/Debt Ratio) b. Rasio Total Utang terhadap Modal Sendiri (Debt to Equity Ratio)

c. Rasio Utang Jangka Panjang terhadap Modal Sendiri (Long Term Debt to Equity Ratio)

d. Rasio Jumla Kali Perolehan Bunga (Times Interest Eraned Ratio) e. Rasio Lingkup Biaya Tetap (Fixed Charge Coverage Ratio)

f. Tangible Assets Debt Converter g. Current Liabilities to Net Worth

3. Rasio Aktivitas (Avtivity Ratio) terbagi atas:

a. Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)

b. Hari Rata-Rata Penagihan Piutang (Days of Receivable) c. Perputaran Sediaan (Inventory Turn Over)

d. Hari Rata-Rata Penagihan Sediaan (Days of Inventory) e. Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over) f. Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Asset Turn Over) g. Perputaran Aktiva (Assets Turn Over)

4. Rasio Profitabilitas (Profitabilitas Ratio)

a. Margin laba penjualan (Profit Margin on Sales)

b. Hasil Pengembalian Investasi (Return on Investmen/ROI) c. Hasil Pengembalian Ekuitas (Return on Equity/ROE)

d. Laba Per Lembar Saham (Eraning per Share of Common Stock)

Sedangkan rasio keuangan berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999 untuk menilai kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) aspek keuangan, sebagai berikut:

1. a. Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif

b. Peningkatan Rasio Laba Terhadap Aktiva Produktif 2. a. Rasio Laba terhadap Penjualan

b. Peningkatan Rasio Laba terhadap Penjualan 3. Rasio Aktiva Lancar terhadap Utang Lancar 4. Rasio Utang Jangka Panjang terhadap Ekuitas 5. Rasio Total Aktiva terhadap Total Utang

6. Rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi

7. Rasio Laba Operasi Sebelum Biaya Penyusutan terhadap Angsuran Pokok Bunga

8. Rasio Aktiva Produktif terhadap Penjualan Air 9. Jangka Waktu Penagihan Piutang

10. Ekuitas Penagihan Data penelitian

Data penelitian berupa data sekunder yang diperoleh dari lapoan keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Polewali Mandar selama tahun 2014- 2017

a. Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif

Rasio laba terhadap aktiva produktif digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari jumlah asset produktif yang dikelola. Standar penilaian berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

(5)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 24

>10% = 5

> 7% - 10% = 4

> 3% - 7% = 3

> 0% - 3% = 2

<= 0% = 1 Rumus:

Laba Sebelum Pajak

Aktiva Produktif x 100%

Tahun Rasio Laba terhadap

Aktiva Produktif Bobot

2014 -14% 1

2015 -12% 1

2016 -10% 1

2017 -12% 1

Tabel 4.2 Penilaian Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif

Dari tabel diatas menunjukkan rasio laba terhadap aktiva pruduktif sangat kurang baik dimana tahun 2014 sebesar -14% dengan nilai 1, tahun 2015 sebesar 12% dengan

nilai 1, tahun 2016 sebesar -10% dengan nilai 1 dan pada tahun 2017 sebesar -12%

dengan nilai 1.

No Rekening 2014 2015 2016 2017

1 Laba Sebelum Pajak

(11.032.507.156)

(9.539.400.216)

(7.683.190.538) (8.843.700.234)

2 Aktiva Produktif 81.666.147.321 81.925.995.032 74.433.651.302 73.128.454.984 3 Penjualan Produk 4.247.393.388 5.683.042.744 6.682.536.376 6.973.171.308 4 Aktiva Lancar 865.071.034 985.318.000 1.846.016.216 1.679.750.179 5 Utang Lancar 1.528.406.675 1.185.175.192 1.458.459.389 263.674.674

6 Utang Jk Panjang 89.780.663 59.874.776 29.937.388

7 Ekuitas 80.524.103.483 81.209.620.064 73.526.429.525 73.524.705.310 8 Biaya Operasional 15.281.049.615 15.225.004.433 14.370.907.744 15.826.228.202 9 Pendapatan Operasional 4.247.393.388 5.683.042.744 6.682.536.376 6.973.171.308

10 Laba Operasi Sebelum Penyusutan

394.834.769 1.178.036.577 1.320.184.633 247.346.173

11 (Angs. Pokok + Bunga) Jatuh Tempo

781.842.733 824.862.760 449.060.813

(6)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 25 b. Peningkatan Rasio Laba Terhadap Aktiva Produktif

Rumus : Rasio Laba Terhadap Aktiva Produktif tahun ini - Rasio Laba Terhadap Aktiva Produktif tahun lalu.

Penilaian : > 12% = 5, > 9% - 12% = 4, > 6% - 9% = 3 > 3% - 6% = 2, > 0% - 3% = 1

Tahun

Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif

Thn ini

Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif

Thn lalu

Peningkatan Nilai

2014 -14% 0% 1

2015 -12% -14% 2% 1

2016 -10% -12% 2% 1

2017 -12% -10% -2% 1

Tabel 4.3 Peningkatan Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif

Dari tabel diatas menunjukan peningkatan rasio laba terhadap aktiva produktif pada tahun 2014-2015 sebesar 2% dengan nilai 1, pada tahun 2015-2016 masi sama yaitu 2% dengan nilai 1, dan dari tahun 2016-2017 menurun dari tahun sebelumnya menjadi -2% dengan nilai 1. Penurunan nilai pada tahun 2017 disebabkan meningkatnya defisit/rugi yang dialami perusahaan dari tahun sebelumnya.

a. Rasio Laba terhadap Penjualan

Rasio laba terhadap digunakan untuk mengukur laba yang dapat diperoleh dari jumlah penjualan dalam tahun berjalan. Standar penilaian berdasarkan Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

Penilaian : >20% = 5, > 14% - 20% = 4, > 6% - 14% = 3,

> 0% - 6% = 2, <= 0% = 1 Rumus:

Dari tabel di atas menunjukkan rasio laba terhadap penjualan kurang baik dimana pada tahun 2014 sebesar -260% dengan nilai 1, tahun 2015 sebesar -168% dengan nilai 1, tahun 2016 sebesar – 115% dengan nilai 1 dan tahun 2017 sebesar -127% dengan nilai 1.

b. Peningkatan Rasio Laba terhadap Penjualan Tahun Rasio Laba terhadap

Penjualan Bobot

2014 -260% 1

2015 -168% 1

2016 -115% 1

2017 -127% 1

Tabel 4.5 Indikator Rasio Laba terhadap Penjualan

Laba Sebelum Pajak

Penjualan Produk x 100%

(7)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 26 Aktiva Lancar

Utang Lancar

Rumus: Rasio Laba terhadap Penjualan tahun ini – Rasio Peningkatan Laba tahun lalu Penilaian : > 12% = 5, > 9% - 12% = 4, > 6% - 9% = 3

> 3% - 6% = 2, > 0% - 3% = 1

Tahun Rasio Laba terhadap Penjualan Thn ini

Rasio Laba terhadap

Penjualan Thn ini Peningkatan Nilai

2014 -260% 0% 1

2015 -168% -260% 92% 5

2016 -115% -168% 53% 5

2017 -127% -115% -12% 1

Tabel 4.6 Peningkatan Rasio Laba terhadap Penjualan

Dari tabel diatas menunjukan peningkatan rasio laba terhadap penjualan pada tahun 2014-2015 sebesar 92% dengan nilai 5, pada tahun 2015-2016 turun menjadi 52%

dengan nilai 5, dan dari tahun 2016-2017 menurun menjadi -12% dengan nilai 1.

Penurunan nilai pada tahun 2017 disebabkan meningkatnya defisit yang dialami perusahaan dari tahun sebelumnya.

Rasio Aktiva Lancar terhadap Utang Lancar

Rasio aktiva lancar terhadap utang lancar (Current Ratio atau Rasio Likuditas merupakan tolak ukur untuk menilai ketersediaan asset-asset likuid untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dalam rangka membiayai kegiatan operasi maupun penbayaran hutang dan bunga yang jatuh tempo jika ada.

Standar penilaian berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

> 1,75 – 2,00 = 5, > 1,50 – 1,75 atau > 2,00 – 2,30 = 4

>1,25 – 1,50 atau > 2,30 – 2,70 = 3, >1,00 – 1,25 atau > 2,70 – 3,00 = 2

<= 1,00 atau > 3,00 = 1

Rumus:

Tabel 4.8 Penilaian Rasio Aktiva Lancar terhadap Utang Lancar

Tahun Rasio Aktiva Lancar

terhadap Utang Lancar Bobot

2014 0,57 1

2015 0,83 1

2016 1,27 3

2017 6,37 1

(8)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 27 Dari tabel diatas menunjukkan rasio aktiva lancar terhadap utang lancar tidak baik pada tahun 2014 yaitu sebesar 0,57 dengan nilai 1 dan tahun 2015 sebesar 0,83 dengan nilai 1. Pada tahun 2016 kondisi cukup baik dengan peningkatan rasio menjadi 1,27 dengan nilai 3, tetapi pada tahun 2017 kembali menjadi tidak baik karena meningkat terlalu tinggi menjadi 6,37 dengan nilai 1.

Rasio Utang Jangka Panjang terhadap Ekuitas

Rasio utang jangka panjang terhadap equitas (Long Term Debt to Equity Ratio atau Rasio Leverage) digunakan untuk menilai keseimbangan antara dua sumber pendanaan yang digunakan untuk membiayai asset perusahaan, yaitu modal dan utang.

Standar penilaian berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

> 0,5 = 5, > 0,5 – 0,7 = 4, > 0,7 – 0,8 = 3, > 0,8 – 1,0 = 2

> 1,0 = 1 Rumus:

Utang Jangka Panjang Ekuitas

Tahun Rasio Utang Jangka

Panjang terhadap Ekuitas Bobot

2014 0,001 5

2015 0,001 5

2016 0,0004 5

2017 0 5

Tabel 4.10 Penilaian Rasio Utang Jangka Panjang terhadap Ekuitas

Dari tabel diatas menunjukkan rasio utang jangka panjang terhadap ekuitas sangat baik dengan rasio pada tahun 2014 sebesar 0,001 nilai 5, tahun 2015 sebesar 0,001 nilai 5, tahun 2016 sebesar 0,004 nilai 5 dan tahun 2017 sebesar 0 dengan nilai 5.

Rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi

Rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi merupakan tolak ukur untuk menilai efisiensi/penghematan dalam menggunakan sumber dana dan sumber daya untuk menjalankan kegiatan operasional perusahaan.

Standar penilaian berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

<= 0,50 = 5, > 0,50 – 0,65 = 4, > 0,65 – 0,85 = 3, > 0,85 – 1,00 = 2, dan > 1,00 = 1

Rumus:

Biaya Operasi Pendapatan Operasi

(9)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 28 Penilaian dari hasil perhitungan Rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi sebagai berikut:

Tahun Rasio Biaya Operasi terhadap

Pendapatan Operasi Bobot

2014 3,60 1

2015 2,68 1

2016 2,15 1

2017 2,27 1

Tabel 4.14 Penilaian Rasio Biaya Operasi terhadap Pendapatan Operasi

Dari tabel diatas menunjukkan rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi tidak dimana pada tahun 2014 sebesar 3,60 dengan nilai 1, tahun 2015 turun menjadi 2,68 dengan nilai 1, tahun 2016 turun lagi menjadi 2,15 dengan nilai 1 dan tahun 2017 meningkat menjadi 2,27 masi dengan nilai 1. Rendahnya rasio ini diakibatkan biaya operasi selama empat tahun tersebut lebih tinggi dari pendapatan operasi.

Rasio Laba Operasi Sebelum Biaya Penyusutan terhadap Angsuran Pokok Bunga

Rasio laba operasi sebelum biaya penyusutan terhadap angsuran pokok dan bunga jatuh tempo digunakan untuk mengukur potensi dari laba yang dihasilkan dapat memenuhi pembayaran angsuran pokok dan bunga yang jatuh tempo.

Standar penilaian berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

> 2,0 = 5, > 1,7 – 2,0 = 4, > 1,3 – 1,7 = 3

> 1,0 – 1,3 = 2, <= 1,00 = 1 Rumus:

Laba Operasi sebelum Biaya Penyusutan (Angsuran Pokok + Bunga) Jatuh Tempo

Tahun

Rasio Laba Operasi Sebelum Biaya Penyusutan terhadap

Angsuran Pokok Bunga

Bobot

2014 0,51 1

2015 1,43 3

2016 2,94 5

2017 0 1

Tabel 4.16 Penilaian Rasio Laba Operasi Sebelum Biaya Penyusutan terhadap Angsuran Pokok Bunga

Dari tabel diatas menunjukkan rasio laba operasi sebelum biaya terhadap angsuran pokok bunga tidak baik pada tahun 2014 yaitu sebesar 0,51 dengan nilai 1, pada tahun

(10)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 29 2015 meningkat menjadi 1,43 dengan nilai 3, pada tahun 2016 dalam keadaan sangat baik dengan rasio sebesar 2,94 dengan nilai 5, dan tahun 2017 turun menjadi 0 dengan niali 1. Penuruna rasio pada tahun 2017 dikarenakan PDAM Wai Tipalayo tidak memiliki angsuran pokok dan bunga sehingga menghasilkan rasio nol.

Rasio Aktiva Produktif terhadap Penjualan Air

Rasio aktiva produktif terhadap penjualan digunakan untuk mengukur produktivitas/pendayagunaan dari asset-aset yang tertanam, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan pendapatan dalam rangka mengembalikan investasi bagi pemegang saham dan pembayaran bunga kepada kreditor.

Standar penilaian berdasarkan Surat Keputusan Mendagri Nomor 47 Tahun 1999:

<= 2,0 = 5, >2,0 – 4,0 = 4, >4,0 – 6,0 = 3

>6,0 – 8,0 = 2, >8,0 = 1 Rumus:

Aktiva Produktif Penjualan Air

Tahun Rasio Aktiva Produktif Bobot

2014 21,99 1

2015 17,10 1

2016 17,10 1

2017 11,33 1

Tabel 4.18 Penilaian Rasio Aktiva Produktif terhadap Penjualan Air

Dari tabel diatas menunjukkan rasio aktiva produktif terhadap penjulan dalam keadaan tidak baik dimana pada tahun 2014 sebesar 21,99 dengan nilai 1, tahun 2015 sebesar 17,10 dengan nilai 1, tahun 2016 sebesar 17,10 dengan nilai 1 dan tahun 2017 sebesar 11,33 dengan nilai 1.

III. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan analis data yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan secara umum bahwa kinerja Perusahaan Daerah Air Minum Wai Tipalayo Kabupaten Polewali Mandar berdasarkan Keputusan Mendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum adalah sebagai berikut:

1. Tahun 2014 nilai kinerja keuangannya adalah 21 berarti kinerja keuangan dikategorikan cukup baik.

2. Tahun 2015 nilai kinerja keuangannya adalah 24,75 berarti kinerja keuangan dikategirikan cukup baik.

3. Tahun 2016 nilai kinerja keuangannya adalah 27,75 berarti kinerja keuangan dikategorikan baik.

4. Tahun 2017 nilai kinerja keuangannya adalah 21 berarti kinerja keuangannya dikategorikan cukup baik.

(11)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 30 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis kinerja keuangan PDAM Wai Tipalayo yang dilakukan, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut:

1. PDAM Wai Tipalayo Kabupaten Polewali Mandar hendaknya melakukan efisiensi biaya operasi sehingga rasio biaya operasi terhadap pendapatan operasi dapat turun dan agar dilakukan penekanan pada biaya-biaya umum dan administrasi serta disipsin terhadap anggaran.

2. PDAM Wai Tipalayo Kab. Polewali Mandar hendaknya memaksimalkan penggunaan Aktiva Produktif untuk menurunkan rasio aktiva produktif terhadap penjualan air menurun dengan meningkatkan penjualan air sehingga dapat menghasilkan laba.

DAFTAR PUSTAKA

Dahyar, N. (2019). Pengaruh Sistem Internal Kontrol, Kompetensi Manajerial Terhadap Tata Kelola Dan Kinerja Perbankan Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), 2(2), 96-107

Eddy, Soegiarto K. (2014), Kinerja Keuangan Perusahaan Daerah Air Minum Kota Samarinda. Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda.

Fisu, A. A., Didiharyono, D., & Bakhtiar, B. (2020). Economic & Financial Feasibility Analysis of Tarakan Fishery Industrial Estate Masterplan. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 469, No. 1, p. 012002). IOP Publishing.

Hajar M, S. (2019). Analisis Rentabilitas Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Pada Koperasi Pegawai Republik Indonesia Kantor Departemen Agama Di Kabupaten Gowa (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR).

Hasyboni, C. M. (2013). Evaluasi Kinerja Aspek Keuangan Berdasarkan Kepmendagri No. 47 Tahun 1999 Pada Pdam Kota Samarinda Periode 2008-2011. EJournal Administrasi Bisnis, 1(1), 17-29.

Henny Indrawati. (2012), Skripsi, Analisis DU Pont System dalam Mengukur Kinerja Keuangan PDAM Kota Parepare. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Amsir Parepare.

Irham, F. (2012). Analisis laporan keuangan. Bandung: Alfabeta.

Ikatan Akuntansi Indonesia. (2016), Penyajian Laporan Keuangan. Amandemen PSAK No. 1 Tahun 2015. Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntansi Keuangan Indonesai. Jakarta.

Kasmir. (2015), Analisis Laporan Keuangan, PT. Raja Grafindon Persada, Jakarta 2015, edisi 1,-8

Mendagri R.I, Keputusan Mendagri No. 47 Tahun 1999 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Perusahaan Daerah Air Minum, Depdagri. Jakarta.

Daerah, P. P. P. K., & Selatan, W. K. D. K. L. (2004). Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah. Kalianda: Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan.

Indonesia, R. (2004). Undang-Undang no 33 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Jakarta. Sekretariat Negara.

Munawir. (2015), Analisis Laporan Keuangan, Liberty, Yogyakarta, edisi 4

Doni, M. (2017). Analisis Efektivitas Kinerja Keuangan PDAM di Provinsi Lampung.

Lampung

Subramanyam, (2017). Analisis Laporan Keuangan, Salemba Empat, Jakarta 2017, edisi 11

Sugiyono, (2015). Metode Analisis Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Alfabeta, Bandung

(12)

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), Vol 3, No 1, Januari 2020| 31 STIE Amsir Parepare, Buku Panduan Penulisan Skripsi STIE Amsir Parepare.

Widyawati, W. (2019). Analisis Kinerja Keuangan Bank Dengan Menggunakan Rasio Camel pada PT. Bank Central Asia, Tbk Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro (JMPKN), 2(1), 38-55.

Gambar

Tabel 4.2 Penilaian Rasio Laba terhadap  Aktiva Produktif
Tabel 4.3 Peningkatan Rasio Laba terhadap Aktiva Produktif
Tabel 4.6 Peningkatan Rasio Laba terhadap Penjualan
Tabel 4.16 Penilaian Rasio Laba Operasi Sebelum  Biaya Penyusutan terhadap Angsuran Pokok Bunga

Referensi

Dokumen terkait

• 1992 Michaelangelo virus pertama yang menyebabkan kapanikan media, dirancang untuk mengoverwrite bagian-bagian harddisk yang terinfeksi pada 6 Mei, tanggal lahir dari seniman

Deskripsi Jabatan dibuat guna memberikan informasi yang jelas mengenai suatu jabatan / pekerjaan, tugas dan tanggung jawabnya serta hal-hal yang berkaitan dengan jabatan

Bagi Pengawas Sekolah di lingkungan Kabupaten/Kota yang telah menduduki golongan IV/b yang akan naik pangkat setingkat lebih tinggi sampai dengan golongan ruang IV/e, usul

3) Kombinasi ekstruder bihun dengan Meat Crushing Machine atau Meat Chopper Extruder CZ 112. Alat penggorengan yang dipakai adalah alat penggorengan kontinu untuk mi instan

Berdasarkan latar belakang penelitian, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah perilaku wirausaha dan lingkungan keluarga berpengaruh positif dan

Dapat ditarik kesimpulan dari beberapa kutipan diatas bahwa dengan berberapa media yang paling mengena dimata masyarakat sekarang adalah media online sangat berperan penting

Unduh JBL QuantumENGINE dari jblquantum.com/engine untuk mendapatkan akses penuh ke teknologi headset JBL Quantum Anda: mulai dari kalibrasi headset hingga menyesuaikan audio

Dari berbagai definisi di atas dapat di katakan bahwa manajemen pemasaran adalah seluruh kegiatan yang bersangkutan dengan terciptanya suatu produk atau jasa dan meningkatkan