di Kota Medan
SKRIPSI
RIZKA ANANDA AULIA 150904048
Jurnalistik
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
MEDAN
2019
di Kota Medan
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata 1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
RIZKA ANANDA AULIA 150904048
Jurnalistik
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
MEDAN
2019
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:
Nama : Rizka Ananda Aulia
NIM :150904048
Judul Skripsi : Konsep Diri Perempuan Barista di Kota Medan
Dosen Pembimbing Ketua Program Studi
Dr. Iskandar Zulkarnain, M.Si Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D NIP. 196609031990031004 NIP. 196505241989032001
Dekan FISIP USU
Dr. Muryanto Amin S.Sos, M.Si NIP. 1974 0930 200501 1002
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Rizka Ananda Aulia
NIM : 150904048
Tanda Tangan :
Tanggal : 8 November 2019
Sebagai civitas akademika Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rizka Ananda Aulia
NIM : 150904048
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Sumatera Utara
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, peneliti menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non- ekslusive Royalty – Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:
“Konsep Diri Perempuan Barista di Kota Medan”.
Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan
Pada Tanggal : 8 November 2019 Yang Menyatakan,
(Rizka Ananda Aulia)
Skripsi ini ditujukan oleh:
Nama : Rizka Ananda Aulia
NIM : 150904048
Program Studi : Ilmu Komunikasi
Judul : Konsep Diri Perempuan Barista di Kota Medan
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Majelis Penguji
Ketua Penguji : ( )
Penguji : ( )
Penguji Utama : ( )
Ditetapkan di : Medan
Tanggal :
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil „alamin. Dengan segala kerendahan hati dan penuh kesadaran atas keterbatasan yang dimiliki, puji serta rasa syukur penulis panjatkan pada Allah SWT. Atas Rahmat dan Karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Konsep Diri Barista Perempuan di Kota Medan. Tidak lupa Salawat dan salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang begitu mulia dalam menjadikan umatnya manusia yang berilmu pengetahuan dan berakhlak terpuji.
Satu impian penulis telah tercapai untuk membuat karya tulis ilmiah dengan topik yang berkaitan dengan konsep diri perempuan. Karya tulis ilmiah ini didasari pada ketertarikan penulis yang ingin mengetahui bagaimana konsep diri perempuan yang menjalani pekerjaan yang biasanya ditekuni oleh laki-laki.
penulis menilai penting untuk seseorang tahu konsep diri yang dimiliki serta untuk membangun konsep diri yang positif untuk menumbuhkan rasa percaya diri di lingkungan masyarakat ketika berkomunikasi dengan orang banyak.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan lancar tanpa adanya bimbingan, bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.
Begitu banyak terima kasih penulis ucapkan atas segala dukungan, perhatian dan bimbingan yang diberikan kepada penulis selama proses pengerjaan sampai skripsi ini selesai. Pertama penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dua orang yang bagaikan malaikat tak bersayap dalam hidup penulis yaitu Ibuku Adri Layumna dan Bapakku Ahmad Suhaimi. Terima kasih sudah memberikan segala yang terbaik pada penulis selama 22 tahun penulis berada di dunia ini. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang hangat yang membuat penulis selalu merasa dicintai dan terima kasih sudah mempercayai dan mendukung setiap plihan penulis. Juga pada kakakku Rika Zulhaini Utami yang bersedia mendengar keluh kesah penulis dan selalu mengingatkan dan memantau proses pengerjaan skripsi ini tanpa lelah disela-sela kesibukannya. Juga pada Abangku yang selalu memberikan dukungan dan semangat. Terima kasih atas dukungan dan kasih sayangnya selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si, Ph.D sebagai ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Kak Emilia Ramadhani, S.Sos.,M.A sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Iskandar Zulkarnain selaku dosen pembimbing penulis yang telah memberikan bimbingan, arahan dan inspirasi selama penulis menyelesaikan karya ilmiah ini. Semoga Bapak sehat dan bahagia selalu.
5. Arly, Kak Nesa, Kak Aidah dan Kak Putri yang telah membantu penulis selama proses penelitian. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu sehingga bisa terus berkreasi meracik kopi.
6. Kak Maya dan Kak Yanti yang sudah membantu penulis dalam pengurusan keperluan administrasi dari proses awal hingga akhir perkuliahan.
7. Seluruh dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dan menambah ilmu pengetahuan untuk penulis.
8. Makhluk-makhluk baik di kehidupan penulis selama di Ilmu Komunikasi. Niki Fadillah, Qoriah Nastiti, Nurul Khairiyah Mtd, Deby Hertian Pasaribu, Fairuzziyah Salmah, Irma Syahfitri Pasaribu, Lena Susianti Hrp, dan Clara Lusiana Pangaribuan. Semoga kalian bahagia dan sukses selalu.
9. Manusia-manusia hebat, sepenanggung sebahagia-sependeritaan penulis di UKM Fotografi USU, tempat penulis menempah diri menjadi ‗manusia‘ selama satu setengah tahun belakangan. Honesty Srikandi Lingga, Elfarida Nainggolan, M. Anshory Daulay, Harry Aldiansyah, Alhidayat, Mayria Trifani Ginting. Semoga kita tetap kompak dan terus menjalin ikatan silaturahmi. Juga pada segenap
anggota UKM Fotografi lain dan narasumber yang pernah penulis temui yang telahmenjadi inspirasi dan motivasi penulis untuk menjalani hidup dengan pandangan-pandangan positif! Terima kasih.
10. Kepada Adinda Aulia Rahma dan Rajmilen yang dianggap seperti adik angkat yang selalu medukung dan mendengarkan keluh kesah saat pengerjaan skripsi.
11. Kepada alam semesta dan diri saya sendiri. Keindahan dan keramahan alam yang selalu memberikan manfaat bagi penulis.
12. Seluruh teman – teman Mahasiswa Ilmu Komunikasi Stambuk 2015 FISIP USU yang telah memberi memori menyenangkan untuk masa kuliah penulis.
Kiranya masih banyak lagi yang membantu penulis dan namanya tidak dapat di sebutkan satu persatu, namun penulis mengucapkan terima kasih banyak semoga Allah SWT memberikan balasan pahala yang setimpal. Dan penulis mohon maaf yang sebesar- besarnya atas segala kekhilafan baik yang disengaja ataupun yang tidak disengajaselama persiapan sampai skripsi ini selesai. Akhirnya penulis berharap semoga karya ilmiah ini akan membawa manfaat bagi kita semua dan bagi penulis khususnya. Aamiin.
Medan, 6 November 2019 Penulis
Rizka Ananda Aulia
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul ―Konsep Diri Perempuan Barista di Kota Medan‖.
Permasalahan penelitian ini adalah mengenai profesi barista yang pada umumnya dijalani kaum Adam namun belakangan ini banyak digandrungi kaum Hawa dengan resiko yang cukup tinggi dalam menjalankan pekerjaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat: 1) Untuk mengetahui konsep diri perempuan barista, 2) Untuk mengetahui alasan memilih menjadi perempuan barista, 3) Untuk mengetahui hambatan perempuan barista. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Komunikasi Antar Pribadi, Psikologi Komunikasi, Komunikasi Intrapersonal, Konsep Diri dan Self Disclosure. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan penelitian ini merupakan perempuan barista di Kota Medan, setelah kejenuhan data di lapangan diperoleh, didadapat sejumlah empat orang informan dengan menggunakan teknik snowball sampling. Objek penelitian ini adalah konsep diri perempuan barista. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam dan observasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan lebih kurang tiga bulan dimulai dari Mei 2019 hingga Agustus 2019. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, didapat hasil bahwa konsep diri yang dimiliki perempuan barista di Kota Medan menunjukkan konsep diri yang positif. Adapun alasan keempat informan menjadi barista diawali dengan rasa ketertarikan yang semakin dalam yang dipengaruhi oleh lingkungan, pengaruh teman yang berkecimpung di bidang kopi, interaksi dengan orang lain, serta mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun resiko yang ditanggung cukup besar para informan tetap terus ingin menjalani profesi barista.
Kata Kunci : Konsep Diri, Barista, Perempuan Barista di Kota Medan
ABSTRACT
"The Self-Concept of Barista Women in Medan" is the title of this research. The problem of this research is about the barista profession which is generally lived by men but lately much loved by women with a high enough risk in carrying out their work. The purpose of this research is: 1) To find out the self- concept of women barista, 2) To find out the reasons for choosing to be women baristas, 3) To find out the barriers of women barista. Theories used in this research are Interpersonal Communication, Communication Psychology, Intrapersonal Communication, Self Concept and Self Disclosure. This research uses descriptive method with a qualitative approach. The informants of this research were four women barista in Medan city, after the saturation of data in the field was obtained, there were four informants found by using snowball sampling techniques. The object of this research is the self-concept of women barista. The data collected in this study uses in-depth interview methods and observation. Data analysis techniques in this research are data reduction, data presentation and conclusion drawing. This research was conducted for approximately three months starting from May 2019 to August 2019. Based on the results of interviews conducted, it was found that the self-concept of a barista women in Medan showed a positive self-concept. The fourth reason informants become barista begins with a deeper sense of interest that is influenced by the environment, the influence of friends working in the coffee corner, interactions with others, and to earn money for a living. Even though the risks are large enough the informants still continue to want to undergo the barista profession.
Keywords: Self-Concept, Barista, Barista Women in Medan City
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Pedoman Wawancara Lampiran 2 Transkip Wawancara Lampiran 3 Dokumentasi Wawancara Lampiran 4 Lembar Catatan Bimbingan Lampiran 5 Biodata Peneliti
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Konteks Masalah ... 1
1.2. Fokus Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 6
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 8
2.1. Perspektif / Paradigma Kajian ... 8
2.2. Penelitian Terdahulu ... 9
2.3. KAJIAN PUSTAKA ... 14
2.3.1. Komunikasi Antarpribadi ... 14
2.3.2. Psikologi Komunikasi ... 17
2.3.3. Komunikasi Intrapersonal ... 21
2.3.4. Konsep Diri ... 23
2.3.5. Self Disclosure ... 34
2.3.6. Perempuan dan Gender ... 37
2.3.7. Barista ... 38
2.4. Model Teoritik ... 40
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 41
3.1. Metode Penelitian ... 41
3.2. Subjek dan Objek Penelitian ... 42
3.2.1. Subjek Penelitian ... 42
3.2.2. Objek Penelitian ... 43
3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 43
3.4. Teknik Analisis Data ... 44
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 46
4.1 Hasil Penelitian ... 46
4.1.1 Proses Penelitian ... 46
4.1.2 Hasil Wawancara ... 50
BAB V PENUTUP ... 84
5.1. Simpulan ... 84
5.2. Saran ... 85
Daftar Pustaka...85 LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Konteks Masalah
Perkembangan zaman memberi pengaruh yang cukup besar bagi masyarakat di dunia tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia kaya akan sumber daya alam yang bisa diolah untuk menghasilkan keuntungan jika dikelola dengan baik dan bijak. Tidak hanya bisa dinikmati warga lokal namun bisa menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi apabila diekspor ke luar negeri dan siap bersaing di pasar internasional. Beberapa produk dalam negeri diekspor ke luar negeri dan tidak kalah saing dengan produk luar negeri. Salah satu produk Indonesia yang mendapat gelar paten dikancah internasional adalah kopi.
Sejarah kopi masuk ke Indonesia hingga menyebar ke penjuru nusantara tercatat pada tahun 1696 pemerintah Belanda membawa kopi dari Malabar, sebuah kota di India, ke Indonesia melalui Pulau Jawa. Pada tahun 1707, Van Hoorn yang merupakan Gubernur Jendral Hindia Belanda yang ke 17 mendistribusikan bibit kopi ke Batavia, Cirebon, kawasan Priangan serta wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Tanaman baru itu akhirnya dibudidayakan di Jawa sejak tahun 1714 hingga 1715. Sekitar sembilan tahun kemudian, produksi kopi di Indonesia berkembang pesat dan mampu mendominasi pasar dunia. Bahkan pada saat itu, ekspor kopi dari Jawa ke Eropa melebihi ekspor dari Mocha (Yaman) ke Eropa. Lalu di tahun 1920-an, perusahaan-perusahaan kecil-menengah yang ada di Indonesia mulai menanam kopi sebagai komoditas utama dan perkebunan- perkebunan kopi eks-pemerintah kolonial Belanda yang sebagian besar berada di Pulau Jawa dinasionalisasi. Secara perlahan dan teratur, Indonesia bertransformasi menjadi sentra produksi kopi terbesar di dunia.
(Sumber: https://tanameracoffee.com/sejarah-penyebaran-kopi-di-indonesia/).
Indonesia adalah salah satu negara produsen dan eksportir kopi paling besar di dunia. Kebanyakan hasil produksinya adalah varietas robusta yang berkualitas lebih rendah. Indonesia juga terkenal karena memiliki sejumlah kopi khusus seperti kopi luwak yang dikenal sebagai kopi yang paling mahal di dunia dan kopi
Mandailing. Berkaitan dengan komoditi-komoditi agrikultur, kopi adalah penghasil devisa terbesar keempat untuk Indonesia setelah minyak sawit, karet dan kakao.
https://www.indonesiainvestments.com/id/bisnis/komoditas/kopi/item186 Menyadari semakin banyaknya penikmat kopi di Indonesia meningkatkan kepekaan bagi para pegiat bisnis. Kualitas kopi yang tinggi dilirik para pegiat bisnis lokal di bidang industri kreatif dalam sajian kuliner. Berbagai Ide kreatif dikembangkan untuk menghasilkan uang. Lapangan pekerjaan yang semakin sempit membuat para pemilik modal lebih memilih untuk membuka ladang bisnis pribadi yang dianggap lebih menjanjikan sekaligus memberi peluang kerja bagi yang lain. Medan sebagai Kota terbesar ketiga di Indonesia tidak ketinggalan memberikan gambaran betapa antusiasnya persaingan bisnis coffee shop. Hampir di sepanjang jalan perkotaan dapat dijumpai coffee shop bahkan dengan jarak yang berdekatan.
Wilayah kampus dan perkantoran biasanya menjadi target lokasi yang menjanjikan untuk mendirikan coffee shop dengan khalayak sasaran anak muda.
Dipengaruhi gaya hidup anak muda sekarang yang gemar menghabiskan waktu di coffee shop untuk mengerjakan tugas atau pun hanya sekadar nongkrong. Semakin tingginya persaingan coffee shop menuntut daya kreatifitas yang tinggi baik dari fasilitas, dekorasi, menu dan banyak hal yang menjadi daya upaya untuk menarik perhatian pengunjung. Beberapa coffee shop tidak tanggung-tanggung menyediakan live music, wifi, fasilitas bermain game, fasilitas membaca buku, dan banyak hal lainnya.
Wilayah sekitar kampus Universitas Sumatera Utara (USU) contohnya.
Menelusuri dari jalan Dr. Mansyur hingga Setia Budi banyak ditemukan coffee shop dengan berbagai konsep dan keunikan yang disajikan. Hingga malam pun beragam coffee shop tersebut banyak dikunjungi kaum muda. Mulai dari mahasiswa yang biasanya nongkrong sambil mengerjakan tugas maupun masyarakat pada umumnya yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk bersantai dan bercengkerama bersama kerabat maupun sejawat. Bersumber dari kompasiana, sejarah peradaban manusia, memperlihatkan keberadaan kedai kopi
tidak sekadar menjadi tempat berkumpul dan menyeruput kopi, tetapi kedai kopi telah menjadi tempat yang strategis dalam interaksi sosial, dimana ide dan gagasan terjalin. Bahkan setiap tetesan kopi, menghantarkan para penikmat kopi pada rasa dan aroma egalitarian, terkadang ide dan gagasan muncul serta bertransformasi menjadi pikiran-pikiran segar, revolusioner dan bahkan melampaui zaman.
Seiring dengan semakin berkembangnya bisnis coffee shop di Kota Medan, profesi barista semakin mencuat ke permukaan dan banyak diminati oleh kaum muda. Secara etimologi, barista merupakan pelayan bar atau bartender dalam bahasa Italia. Bartender adalah seorang pelayan yang punya keahlian membuat dan menyajikan berbagai minuman, bukan hanya kopi. Namun, seiring dengan maraknya budaya ngopi di penjuru dunia, barista pun mejadi sebutan bagi pembuat minuman kopi di coffee shop. Tugas wajib seorang barista di cafe adalah membuat minuman espresso dan meracik varian-varian minuman espresso sangat dibutuhkan. Tidak hanya mengoperasikan mesin espresso saja, seorang barista juga harus menguasai teknik-teknik manual brew (menyeduh kopi tanpa menggunakan mesin). Hal ini dikarenakan pelanggan memiliki selera dalam menikmati kopinya masing-masing. Jika dahulu profesi barista terdengar asing ditelinga masyarakat namun kini hal itu tidak lagi.
Bersumber dari Harian Medan Bisnis, pada tahun 2018 Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) mengadakan pelatihan utuk masyarakat dengan membuka kelas studi mengenai kopi di Kota Medan. Pelatihan tersebut berupa kelas roasting, barista dan cita rasa (taste). Meskipun biaya untuk edukasi kopi senilai tiga juta rupiah yang diselenggarakan selama dua hari namun masyarakat tetap antusias mengikuti pelatihan tersebut. Hal ini membuktikan betapa tingginya minat masyarakat Kota Medan untuk belajar kopi hingga menjadi barista.
kebanyakan dari peserta pelatihan merupakan kaum millennials.
(Sumber:http://www.medanbisnisdaily.com/m/news/read/2018/10/03/360608/aeki -sumut-cetak-puluhan-enterpreneur/)
IDN Timesmenuliskan, ketika AEKI menggelar ajang Barista Battle dengan kategori Latte Art pada Agustus 2019 terdapat puluhan orang yang mengikuti
kelas umum para barista Kota Medan. Seseorang yang berprofesi sebagai barista banyak diperlombakan di tingkat nasional maupun internasional. Karena profesi ini bukan hanya menyajikan, namun mereka juga harus mampu menerangkan apa yang mereka sajikan dan tipe dari bahan yang mereka buat.
(sumber:https://sumut.idntimes.com/news/sumut/arifin-alamudi/barista- medan-adu-keahlian-bikin-latte-art)
Umumnya masyarakat mengetahui bahwa profesi barista biasanya diduduki oleh laki-laki, namun melihat tingginya antusias kaum muda untuk menjadi barista beberapa tahun terakhir banyak dijumpai barista perempuan di Kota Medan. Hal ini cukup mencuri perhatian, mengingat utuk menjalankan profesi ini memiliki resiko yang cukup tinggi. Berbagai resiko kerja yang harus ditanggung antara lain, pulang kerja higga larut malam yang dapat mengancam keselamatan apalagi wilayah Medan yang sering terjadi begal di malam hari. Pulang hingga larut malam juga menimbulkan adanya persepsi negatif di lingkungan tempat tinggal. Masalah lain adalah lingkungan kerja barista yang mengharuskan untuk berinteraksi dengan banyak orang yang mayoritasnya merupakan lak-laki dan terkadang tidak bisa dihindari ketika ada seorang konsumen yang mencoba untuk merayu bahkan sampai melakukan tindakan yang membuat tidak nyaman seperti melakukan pelecehan verbal maupun non verbal.
Profesi barista menuntut tidak hanya pandai menggunakan mesin kopi namun juga membangun seni dari dalam diri yang membutuhan konsentrasi tinggi sehingga mengharuskan untuk jauh dari perasaan emosi negatif. Inilah juga yang menjadi alasan mengapa pada umumnya yang menjadi barista adalah laki-laki, sebab laki-laki dianggap lebih terampil mengelola emosi. Sedangkan perempuan dianggap sulit mengelola emosi dan perasaan hati sering tidak stabil sehingga dapat mengganggu konsentrasi. Untuk membuat latte contohnya, dibutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi, apabila keadaan hati sedang galau, marah, sedih atau emosi negatif lainnya dapat mengganggu konsentrasi sehingga mempengaruhi hasil pembuatan latte yang mengakibatkan kegagalan.
Perempuan yang berprofesi sebagai barista menjadi menarik karena mereka harus bisa menjaga agar emosinya tetap stabil. Hal itu menjadi suatu
keistimewaan dalam diri mereka karena bukan hal yang mudah bagi perempuan untuk bisa menjaga keadaan hati tetap baik tidak terpengaruhi emosi negatif yang datang dari berbagai hal. Apalagi ketika mengalami siklus menstruasi perempuan biasanya sangat mudah terpengaruhi emosi negatif dari kegiatan yang dilakukannya sehari-hari. Mengelola emosi merupakan sebuah seni batin.
Profesi barista yang digeluti perempuan menarik perhatian peneliti untuk melihat lebih jelas tentang cara kerja gender dalam sistem yang diaplikasikan.
Situasi seperti yang sudah dijelaskan tentunya akan mempengaruhi konsep diri dari perempuan barista, dimana lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya konsep diri perempuan.
Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Konsep diri bukan merupakan bawaan, melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus dan terus terdeferensiasi. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktuaisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Orang cenderung menolak perubahan dan salah memahami atau berusaha meluruskan informasi yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka (Rakhmat, 2005: 106). Mereka memiliki sesuatu yang berbeda dari perempuan lain. Hal yang tidak semua orang bisa lakukan dan cara mereka mempersepsikan diri mereka terbentuk dari pengalaman atau lingkungan.
Sering sekali seeorang menilai dan berfikir macam-macam tentang dirinya sendiri dan orang lain. Keyakinan tersebut menjadi alasan seseorang kurang percaya diri dan mengkritik diri sendiri.
Konsep diri berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Agar seseorang memiliki konsep diri yanng positif maka seseorang tersebut harus berada di lingkungan yang aman dan memberi pengaruh yang positif pula. Konsep diri yang positif akan melahirkan citra diri yang positif sehingga akan mewarnai pola sikap, pola pikir dan ragam perbuatan yang positif pula. Demikian pula sebaliknya, citra diri yang negatif akan menggambarkan pola sikap, pola pikir dan tingkah laku yang negatif.
Pembentukan konsep diri adalah salah satu dari fungsi komunikasi sosial.
Manusia yang tidak akan pernah berkomunikasi dengan manusia lainnya tidak akan mungkin memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah manusia. Aspek-aspek konsep diri seperti jenis kelamin, agama, suku, orientasi seksual, rupa fisik merupakan unsur penting dalam pembentukan identitas sebagai manusia. Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia (Mulyana, 2007 : 7). Konsep diri yang sudah ada sejak masih kecil dapat berubah setelah terkena pengaruh dari pengalaman dan lingkungan sekitar orang tersebut. Dari konsep diri yang terbentuk juga menjadi dasar seseorang memiliki kualitas komunikasi yang baik dengan orang lain.
Berdasarkan konteks masalah di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai konsep diri perempuan barista. lokasi penelitian ini dilakukan di coffee shop tempat barista bekerja di Kota Medan. Peneliti ingin mengetahui bagaimana konsep diri yang dimiliki perempuan barista.
1.2.Fokus Masalah
Dari penjabaran konteks masalah, peneliti memfokuskan masalah penelitian pada:
1. Untuk mengetahui konsep diri perempuan barista.
2. Untuk mengetahui alasan memilih menjadi perempuan barista.
3. Untuk mengetahui hambatan perempuan barista.
1.3.Tujuan Penelitian
Dari fokus masalah yang telah ditetapkan, peneliti menetapkan tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui konsep diri perempuan barista.
2. Untuk mengetahui alasan memilih menjadi perempuan barista.
3. Untuk mengetahui hambatan perempuan barista.
1.4.Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Secara Akademis, penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif mengenai pengetahuan dalam bidang komunikasi, bahan penelitian lanjutan, dan sumber bacaan bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU.
2. Secara Teoritis, penelitian ini dapat menambah wawasan dan memperkaya pengetahuan mengenai Ilmu Komunikasi khususnya yang berkaitan dengan bidang Psikologi Komunikasi.
3. Secara Praktik, penelitian ini dapat menjadi referensi dan memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang membutuhkan, terutama bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian sejenis selanjutnya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.Perspektif / Paradigma Kajian
Paradigma adalah pandangan mendasar mengenai pokok persoalan, tujuan, dan sifat dasar bahan kajian. Paradigma penelitian kualitatif dilakukan melalui proses induktif, yaitu berangkat dari konsep khusus ke umum, konseptualisasi, kategorisasi, dan deskripsi yang dikembangkan berdasarkan masalah yang terjadi di lokasi penelitian. Paradigma kualitatif mencanangkan pendekatan humanistik untuk memahami realitas sosial para idealis, yang memberikan suatu tekanan pada pandangan yang terbuka tentang kehidupan sosial dan paradigma kualitatif ini memandang kehidupan sosial sebagai kreatifitas bersama individu-individu. Oleh karena itu, melalui paradigma kualitatif dapat menghasilkan suatu realitas yang dipandang secara objektif dan dapat diketahui yang melakukan interaksi sosial (Ghony dan Almanshur, 2012: 73).
Paradigma, menurut Bogdan dan Biklen, adalah kumpulan longar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian. Capra (1996) mendefinisikan paradigma sebagai ‗konstelasi konsep‘, nilai-nilai persepsi dan praktek yang dialami bersama oleh masyarakat, yang membentuk visi khusus tentang realitas sebagai dasar tentang cara mengorganisasikn dirinya‘ (dalam Moleong, 2006: 49).
Menurut Maxwell (1996), kelebihan paradigma adalah pemahaman makna, dimana makna merujuk pada kognisi, afeksi, intense, dan apa saja yang berada di bawah paying perspektif partisipan. Peneliti bukan saja tertarik pada aspek fisik pada kejadian itu, melainkan bagaimana mereka memaknai semua itu, dan bagaimana makna itu mempengaruhi tingkah laku informan. Fokus pada makna seperti itu disebut intrepretif (dalam Ghony dan Almanshur, 2012: 77).
Ada berbagai macam paradigma, namun yang mendominasi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah paradigma keilmuan (scientific paradigm) atau sering juga disebut paradigma ilmiah dan paradigma alamiah (naturalistic paradigm).
Paradigma ilmiah bersumber dari pandangan positivisme sedangkan paradigma
alamiah bersumber pada pandangan fenomenologis.Paradigma yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivisme.
Paradigma konstruktivisme ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai hasil konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif. Paradigma konstruktivisme ini berada dalam perspektif interpretivisme (penafsiran) yang terbagi dalam tiga jenis, yaitu interaksi simbolik, fenomenologis dan hermeneutik. Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, seperti yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Konsep mengenai konstruksionis diperkenalkan oleh sosiolog interpretative, Peter L.Berger bersama Thomas Luckman. Dalam konsep kajian komunikas, teori konstruksi sosial bisa disebut berada diantara teori fakta sosial dan defenisi sosial (Eriyanto, 2004: 13).
2.2.Penelitian Terdahulu
Penelitian yang baik ialah penelitian yang memiliki banyak referensi terkait dengan penelitian yang dilakukan. Peneliti mencantumkan lima tinjauan dari penelitian terdahulu sebagai bahan referensi dan perbandingan terhadap penelitian yang akan dilaksanakan serta berkaitan dengan konsep diri.
Adapun beberapa literatur yang bisa dijadikan acuan antara lain:
1. ―Konsep Diri Perempuan Penari Striptis (Studi Deskriptif Konsep Diri Perempuan Penari Striptis di Kota Medan)‖, milik Dedi Kasdi dengan NIM 110904047, Mahasiswa Program Study Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, di tulis tahun 2016.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep diri perempuan penari striptis di Kota Medan, untuk mengetahui alasan seorang perempuan memilih menjadi seorang penari striptis serta untuk mengetahui hambatan perempuan penari striptis.
Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Komunikasi Antar Pribadi, di mana dari hasil penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa perempuan penari striptis mampu beradaptasi dan berbaur dengan baik di lingkungan tempat tinggal maupun sekolah begitu juga dengan teman-teman mereka tidak mempermasalahkan pekerjaan yang perempuan penari striptis jalani. Walau terkadang ada juga yang menghuna namun perempuan penari striptis tetap berprestasi dalam hal pendidikan di sekolah. Adapun alasan mereka memilih menjadi penari striptis salah satunya karena kebutuhan ekonomi dan hobi, didukung pula pergaulan dan lingkungan sebagai faktor pendorong. Adapun alasan lain adalah rasa penasaran yang berlebihan sehingga mebuat ketagihan untuk menjalani pekerjaan tersebut.
Hambatan yang dialami perempuan penari striptis adalah keterbukaan terhadap orang baru, karena anggapan bahwa profesi sebgai penari striptis bersifat negatif dan tidak disukai masyarakat, perempuan penari sriptis tidak berani berkata jujur tentang profesi yang dijalani.
Selain itu waktu juga menjadi faktor penghambat karena harus membagi waktu antara sekolah dan menjalani profesi.
Perbedaan: Penelitian yang dilakukan Dedi Kasdi pada tahun 2016 membahas mengenai Konsep diri perempuan penari striptis sedangkan penulis membahas mengenai konsep diri perempuan barista.
2. ―Konsep Diri Wanita Juru Parkir (Studi Deskriptif Kualitatif Konsep Diri Wanita Juru Parkir di Kota Medan)‖, milik M. Haris Nasution dengan NIM 120904038, Mahsiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, di tulis pada tahun 2016.
Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana konsep diri wanita yang berprofesi sebagai juru parkir di Kota Medan.
Penelitian ini menggunakan teori Psikologi Komunikasi, dari hasil penelitian ini didapat kesimpulan bahwa faktor ekonomi menjadi pendorong utama untuk wanita menerima pekerjaan sebagai seorang juru parkir. Terlepas dari itu seorang wanita juru parkir tetap
melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri dan ibu untuk anak-anaknya sebelum melakukan tugas sebagai seorang juru parkir, keluarga tetaplah yang utama. Selain itu, pandangan miring orang- orang terhadap pekerjaan yang dianggap pekerjaan pria tak melunturkan semangatnya untuk bekerja membantu ekonomi keluarga sebagai juru parkir wanita.
Perbedaan: Objek penelitian yang dilakukan M.Haris pada tahun 2016 ialah wanita juru parkir. Sedangkan penulis memilih perempuan barista sebagai objek penelitian.
3. ―Konsep Diri Mahasiswa Indekos Dalam Konteks Komunikasi Antarpribadi (Studi Kasus Tentang Proses Pembentukan Konsep Diri Mahasiswa Indekos Universitas Sumatera Utara)‖, milik Dewi Arishayanti Purba dengan NIM 090904063 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, di tulis tahun 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mahasiswa indekos Universitas Sumatera Utara dan untuk menggambarkan proses pembentukan konsep diri mahasiswa indekos Universitas Sumatera Utara setelah menjadi anak kos.
Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Komunikasi Antarpribadi. Di mana dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa karakteristik mahasiswa indekos berbeda-beda dipengaruhi oleh latar belakang, suku, budaya, keluarga dan cara orang tua mendidik anak mereka. Pada penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa semakin efektif komunikasi yang terjalin maka semakin positif konsep diri yang terbentuk, begitu pula sebaliknya.
Perbedaan: Penelitian yang dilakukan Dewi pada tahun 2014 membahas mengenai Konsep diri mahasiswa indekos dalam konteks Komunikasi Antarpribadi. Sedangkan penulis membahas mengenai konsep diri perempuan barista.
4. ―Komunikasi Antarpribadi dan Pembentukan Konsep Diri (Studi Kasus Mengenai Komunikasi Antarpribadi Orang Tua Terhadap Pembentukan Konsep Diri Remaja Pada Beberapa Keluarga di Medan)‖, milik Teguh Haryo Yudanto dengan NIM 060904086, Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, di tulis tahun 2010. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari komunikasi antarpribadi orang tua terhadap pembentukan konsep diri remaja, juga untuk mengetahui dampak dari kurangnya komunikasi antarpribadi orang tua terhadap pembentukan konsep diri remaja. Serta untuk mengetahui perbandingan sekilas mengenai pembentukan konsep diri remaja yang memiliki keluarga yang harmonis (komunikasi antarpribadi orangtuanya efektif) dan pembentukan konsep diri remaja yang memiliki keluarga yang kurang harmonis (komunikasi antarpribadi orangtuanya kurang).
Penelitian ini menggunakan teori Komunikasi Antarpribadi, di mana pada penelitian ini didapat kesimpulan bahwa komunikasi antara orang tua dan anak merupakan akar dari keharmonisan keluarga. Ketika komunikasi antar orang tua dan anak tidak berjalan dengan baik, maka akibatnya fatal karena ketika anak tidak mendapatkan kenyamanan dalam keluarga akan terbentuk konsep diri negatif dalam dirinya. Hal itu dapat terjadi terus hingga remaja tersebut dewasa dan berdampak pada pengulangan yang terjadi pada keluarga barunya. Perbedaan yang didapat antara komunikasi keluarga yang baik dengan komunikasi keluarga yang kurang baikadalah, anak yang tumbuh di keluarga yang harmonis memiliki ikatan yang kuat terhadap saudara-saudaranya, di lingkungan pertemanan pun mereka memiliki sikap keterbukaan diri.
Sedangkan anak yang dikeluarganya tidak terjalin komunikasi yang baik tidak memiliki ikatan yang kuat terhadap keluarganya bahkan terkadang acuh. Di lingkungan pertemanan pun mereka sulit menerima kritikan dari teman-temannya.
Perbedaan: Penelitian yang dilakukan Teguh pada tahun 2010 membahas mengenai Komuikasi Antarpribadi dan pembentukan konsep diri. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis membahas tentang konsep diri perempuan barista.
5. ―Konsep Diri Sales Promotion Girls (Studi Deskriptif Kualitatif Sales Promotion Girl Rokok di Kota Medan)‖, milik Habibi Wisu Darma dengan NIM 130904140 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara, di tulis pada tahun 2017.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan memilih pekerjaan sebagai sales promotion rokok dan juga untuk mengetahui konsep diri sales promotion rokok di Kota Medan.
Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Komunikasi Antarpribadi. Di mana dari hasil penelitian ini didapat kesimpulan bahwa alasan utama mereka memilih menjadi Sales Promotion Girl (SPG) adalah karena penghasilan yang bisa didapat dari pekerjaan SPG jauh diatas UMR Kota Medan. Masing-masing SPG menanggapi situasi yang terjadi pada profesinya dengan cara yang bereda-beda. Mereka tidak mempermasalahkan rayuan yang mereka dapat selama hal itu masih sebatas wajar tanpa kontak fisik, itu tidak menjadi masalah dalam hal rayuan karena tuntutan dari pekerjaannya. Mengenai stigma atau pandangan negatif yang berkembang di masyarakat tidak menjadi penghalang mereka menjalani pekerjaan sebagai SPG selagi profesi tersebut berjalan dengan lurus-lurus saja dan mendapatkan penghasilan mereka akan terus menjalani profesi sebagai Sales Promotion Girl rokok.
Perbedaan: Objek penelitian yang dilakukan Habibi pada tahun 2017 ialah Sales Promotion Girl. Sedangkan penulis memilih perempuan barista sebagai objek penelitian.
2.3.KAJIAN PUSTAKA
2.3.1. Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi (interpersoal communication) adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanyamenangkap reaksi orang lain secara langsung, baik verbal maupun nonverbal (Mulyana, 2004: 73). Komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika.
Agus M. Hardjana (dalam Suranto Aw, 2011: 3) mengatakan, komunikasi antarpribadi adalah interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung pula. Pendapat senada dikemukakan oleh Deddy Mulyana (dalam Suranto Aw, 2011: 3) bahwa komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal.
Pentingnya suatu komunikasi antarpribadi ialah karena prosesnya memungkinkan berlangsung secara dialogis. Dialog adalah bentuk komunikasi antarpribadi yang menunjukkan terjadinya interaksi. Mereka yang terlibat dalam komunikasi bentuk ini berfungsi ganda, masing-masing menjadi pembicara dan pendengar secara bergantian. Dalam proses komunikasi dialogis nampak adanya upaya dari para pelaku komunikasi untuk terjadinya pergantian bersama (mutual understanding) dan empati. Dari proses ini terjadi rasa saling menghormati bukan disebabkan status sosial melainkan didasarkan pada anggapan bahwa masing- masing adalah manusia yang berhak dan wajib, pantas dan wajar dihargai dan dihormati sebagai manusia.
Dengan melihat seluruh definisi komunikasi antarpribadi yang dikemukakan oleh berbagai ahli maka peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang berlangsung antara pengirim dan penerima pesan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dikatakan terjadi secara
langsung apabila komunikasi ini dilakukan secara tatap muka dan dikatakan tidak terjadi secara langsung apabila komunikasi ini dilakukan dengan menggunakan media tertentu. Jadi komunikasi antarpribadi tidak semata-mata terjadi hanya diantara dua orang saja, bisa terjadi antara seseorang dengan sekelompok kecil orang.
2.3.1.1.Tujuan Komunikasi Antarpribadi
Menurut Sendjaja (2005: 13-15) dalam pelaksanaannya komunikasi antarpribadi memiliki tujuan diantaranya sebagai berikut:
a. Mengenal diri sendiri dan orang lain. Maksudnya dengan membicarakan diri sendiri pada orang lain maka akan mendapat perspektif baru tentang diri sendiri. Dan dengan komunikasi antarpribadi dapat membuka diri pada orang lain yang berlanjut juga akan mengenal orang lain lebih mendalam.
b. Mengetahui dunia luar. Dengan komunikasi antarpribadi memungkinkan untuk memahami apa yang ada disekitar dengan baik.
c. Menciptakan dan memelihara hubungan menjadi bermakna. Manusia hidup sebagai makhluk sosial yang tidak dapat terlepas dari interaksi dengan lainnya. Komunikasi antarpribadi mengarahkan untuk mencari perhatian orang lain.
d. Mengubah sikap dan perilaku. Dalam komunikasi antarpribadi sering terjadi upaya mempengaruhi, merubah sikap dan perilaku orang lain.
Seseorang ingin mengikuti cara dan pola yang dimiliki.
e. Bermain dan menjadi hiburan. Komunikasi antarpribadi dapat memberi hiburan, rasa tenang, santai dari berbagai kesibukan dan tekanan.
2.3.1.2.Ciri Komunikasi Antarpribadi
Ada ciri-ciri yang menunjukkan bahwa komunikasi berjalan secara antarpribadi (Liliweri, 1991: 61), yaitu:
1. Jumlah orang yang terlibat sedikit berkisar dua hingga sepuluh orang.
2. Tingkat kedekatan fisik pada waktu berkomunikasi intim sangat pribadi.
3. Peran komunikasinya informal.
4. Penyesuaian pesan bersifat khusus yaitu pesan hanya diketahui oleh komunikator dan komunikan saja.
5. Tujuan dan maksud komunikasi tidak berstruktur tetapi sangat sosial.
2.3.1.3.Karakteristik Komunikasi Antarpribadi
Richard L. Weaver II mengemukakan karakteristik-karakteristik komunikasi antarpribadi (Budyatna, 2011: 15-21:, yaitu:
1. Melibatkan paling sedikit dua orang
Komunikasi antarpribadi melibatkan paling sedikit dua orang. Menurut Weaver, apabila kita mendefinisikan komunikasi antarpribadi dalam arti jumlah orang yang terlibat, haruslah diingat bahwa komunikasi antarpribadi sebetulnya terjadi antar dua orang yang merupakan bagian dari kelompok yang lebih besar. Apabila dua orang dalam kelompok yang lebih besar sepakat mengenai hal tertentu atau sesuatu, maka kedua orang itu nyata-nyata terlibat dalam komunikasi antarpribadi.
2. Adanya umpan balik atau feedback
Komunikasi antarpribadi melibatkan umpan balik. Umpan balik merupakan pesan yang dikirim kembali oleh penerima kepada pembicara.
Dalam komunikasi antarpribadi hampir selalu melibatan umpan balik.
Seringkali bersifat segera, nyata, dan berkesinambungan.
3. Tidak harus tatap muka
Komunikasi antarpribadi tidak harus tatap muka. Bagi komunikaasi antarpribadi yang terbentuk, adanya saling pengertian antara dua individu, kehadiran fisik tidaklah terlalu penting. Misalnya, interaksi antara dua rekan kerja, bisa melalui telepon, e-mail, dan media lainnya. Namun menurut Weaver, bentuk ideal suatu komunikasi tetap dengan adanya kehadiran secara
fisik dalam berinteraksi secara antarpribadi, walaupun tanpa kehadiran fisik masih memungkinkan.
4. Menghasilkan beberapa pengaruh atau efek
Untuk dapat dianggap sebagai komunikasi antarpribadi yang benar maka sebuah pesan harus menghasilkan atau memiliki efek atau pengaruh. Efek atau pengaruh itu tidak harus segera dan nyata, tetapi harus terjadi. Contoh komunikasi antarpribadi yang tidak menghaslkan efek, anda berbicara dengan orang yang lagi asik mendegarkan musik melalui headphones. Contoh tersebut bukanlah komunikasi antarpribadi jika pesan-pesan yang anda sampaikan tidak diterima dan tidak menghasilkan.
5. Pesan dikirim dan diterima dalam bentuk verbal dan non verbal
Untuk meningkatkan keefektifan komunikasi antarpribadi, peserta komunikasi berupaya saling meyakinkan, dengan mengoptimalkan penggunaan pesan verbal maupun non verbal secara bersamaan, saling mengisi, saling memperkuat sesuai tujuan komunikasi.
2.3.2. Psikologi Komunikasi
Menurut Berelson dan Steiner (dalam Purba, dkk 2010 :32) Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka- angka dan lain-lain. Menurut Prof. Drs. Otong Uchajana Effendy MA (Effendy, 2003:60). Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai panduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, imbauan, dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik langsung secara tatap muka maupun tak langsung melalui media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan atau perilaku.
Psikologi dan komunikasi merupakan dua ilmu yang saling berkaitan.
Komunikasi adalah kegiatan bertukar informasi yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah pendapat atau perilaku manusia lainnya, sementara perilaku manusia merupakan objek bagi ilmu psikologi. Psikologi menyebut komunikasi pada penyampaian energi dari alat-alat indera ke otak, pada peristiwa penerimaan
dan pengolahan informasi, pada proses saling mempengaruhi diantara berbagai sistem dalam diri organisme dan diantara organisme. Psikologi mencoba menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan, psikologi memberikan karakteristik manusia komunikan serta faktor- faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya (Lubis, 2015 : 5). Menurut Wolman (Dalam Rakhmat, 2007:3) kamus psikologi, Dictionary of Behavioral Science, menyebutkan ada enam pengertian komunikasi:
1)Commuication The transmission of energy change from one place to another as in the nervous system or transmission of sound waves (Penyampaian perubahan energi dari satu tempat ketempat yang lain seperti dalam sistem syaraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara).
2)The transmission or reception of signal or messages by organism (Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme).
3) The transmitted message (Pesan yang disampaikan).
4) (Communication theory). The process whereby system influence another system through regulation of the transmitted signals (Teori Komunikasi) (Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan.
5) K.Lewin the influence of one personal region on another whereby a change in one result in a corresponding change in the other region (K.Lewin pengaruh satu wilayah persona pada wilayah persona lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah lain).
6) The message of patient to his therapist in psychotherapy (Pesan pasien kepada pemberi terapi dalam psikoterapi).
Psikologi menyebut komunikasi pada penyampaian energi dari alat-alat indra ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh diantara berbagai sistem dalam diri organisme dan antar organism. (Rakhmat, 2007:4). Dalam hal ini psikologi mempunyai peran pada
saat pesan sampai kepada komunikator, psikologi berperan untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pesan tersebut.
Psikologi mencoba menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada diri komunikan psikologi memeriksa karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya. Pada komunikator, psikologi melacak sifat-sifatnya dan bertanya: apa yang menyebabkan satu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain. Psikologi bahkan meneliti lambang- lambang yang disampaikan. Psikologi meneliti proses mengungkapkan pikiran menjadi lambang, bentuk-bentuk lambang, dan pengaruh lambang terhadap perilaku manusia (Rahkhmat, 2007:5).
2.3.2.1.Penggunaan Psikologi Komunikasi
Penggunaan psikologi komunikasi berguna untuk menciptakan proses komunikasi yang lebih efektif. Komunikasi yang efektif akan memberikan pengertian atau kesamaan pemahaman, hubungan yang lebih baik, perubahan sikap serta hubungan sosial yang semakin baik. Melalui komunikasi kita menemukan diri kita, mengembangkan konsep diri, dan menetapkan hubungan kita dengan dunia disekitar kita. Komunikasi yang efektif mempengaruhi lima (dalam Rakhmat, 2007:13), yaitu:
1. Pengertian, artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication). Untuk menghindari hal tersebut kita perlu memahami psikologi pesan dan psikologi komunikator.
2. Kesenangan, tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Ketika kita mengucapkan
―selamat pagi, apa kabar?‖ kita tidak bermaksud mencari keterangan.
Komunikasi itu hanya dilakukan untuk mengupayakan agar orang lain merasa apa yang disebut analisis transaksional sebagai ―saya oke-kamu oke‖. Komunikasi ini lazim disebut komunikasi fatis (phatic communication) dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan.
Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab dan menyenangkan. Ini memerlukan psikologi tentang sistem komunikasi interpersonal.
3. Mempengaruhi sikap, paling sering kita melakukan komunikasi untuk mempengaruhi orang lain. Khatib ingin membangkitkan sikap beragama dan mendorong jemaah beribadah lebih baik. Guru ingin mengajak muridnya lebih mencintai ilmu pengetahuan. Semua ini adalah komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikator. Persuasi didefenisikan sebagai proses mempengaruhi pendapat, sikap dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri. Para psikolog memang sering bergabung dengan komunikolog justru pada bidang persuasi.
4. Hubungan sosial yang baik, manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control) dan cinta serta kasih sayang (affection). Secara singkat kita ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan serta kita ingin mencintai dan dicintai.
Kebutuhan sosial ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif.
5. Tindakan, selain membicarakan persuasi untuk mempengaruhi sikap, persuasi juga ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dihendaki.
Komunikasi untuk menimbulkan pengertian memang sukar tetapi lebih sukar lagi mempengaruhi sikap, namun jauh lebih sukar lagi mendorong orang untuk bertindak. Tetapi efektivitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan. Menimbulkan tindakan nyata memang indikator efektivitas yang paling penting, karena untuk menimbulkan tindakan kita harus berhasil lebih dahulu
menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.
2.3.3. Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication) adalahkomunikasi dengan diri-sendiri. (Mulyana, 2007 :80).Komunikasi intrapersonal merupakan proses pertukaran pesan atau informasi yang dilakukan dari, oleh dan untuk diri sendiri. Proses komunikasi Intrapersonal terjadi melalui pengiriman pesan oleh diri sendiri lalu direspon oleh diri sendiri juga. Sehingga menghasilkan umpan balik yang berkelanjutan untuk diri sendiri.
Pengetahuan mengenai diri pribadi didapat berdasarkan proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran yang terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapersonal dalam diri seseorang tersebut. Agar komunikasi berlangsung dengan baik penting untuk komunikator mengenali dirinya sendiri dan komunikan.
Karena pemahaman itu diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsi bukan pada obyek ataupun suatu ungkapan.Salah satu yang membentuk perilaku seseorang adalah konsep diri. Konsep dirilah yang menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan diri mereka sendiri.
Proses pengolahan informasi pada komunikasi intrapersonal meliputi:
sensasi, persepsi, memori dan berpikir.
a. Sensasi
Merupakan tahap paling awal dalam penerimaan pesan atau informasi.
Sensasi berasal dari kata “sense”, artinya penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu,
melalui alat inderalah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. (Rakhmat, 2007 :49).
b. Persepsi
Persepsi adalah pengalaman-pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. (Rakhmat, 2007 : 51)
c. Memori
Memori adalah sistem yang sangat terstruktur yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.
Schlessinger dan Groves (dalam Rakhmat, 2007 :62). Memori melibatkan 3 proses yaitu:
1. Perekaman (Encoding),
Perekaman adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal.
2. Penyimpanan (Storage),
Penyimpanan adalah menentukan berapa lama infomasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa, dan di mana. Penyimpanan bisa aktif atau pasif. Kita menyimpan secara aktif bila kita menambahkan informasi tambahan.
3. Pemanggilan (Retrieval)
Pemanggilan yang dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan. Menurut Mussen dan Rosenzweig (dalam Rakhmat, 2007 :6)
d. Berpikir
Proses keempat yang mempengaruhi penafsiran kita terhadap stimuli adalah berpikir. Pada proses ini melibatkan sensasi, persepsi, dan memori. (Rakmat, 2007 : 67). Berpikir menunjukkan berbagai kegiatan yang melibatkan penggunaan konsep dan lambang, sebagai pengganti objek dan peristiwa. Seorang individu berpikir dengan tujuan untuk
mengambil keputusan (Decision making), memecahkan masalah (Problem Solving), dan menghasilkan yang baru (Creativity). Secara singkat Anita Taylor et al. mendefinisikan berpikir sebagai proses penarikan kesimpulan. (Rakhmat, 2007 :68).
2.3.4. Konsep Diri
2.3.4.1.Pengertian Konsep Diri
Konsep diri adalah gagasan tentang diri sendiri yang mencakup keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang kita harapkan. Konsep diri adalah kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendiri yang terorganisasi, dengan kata lain, konsep diri tersebut bekerja sebagai skema dasar. Diri memberikan sebuah kerangka berpikir yang menentukan bagaimana mengolah informasi tentang diri sendiri, termasuk motivasi, keadaan emosional, evaluasi diri, kemampuan dan banyak hal lainnya. Konsep diri (self-concept) ialah gambaran diri sendiri yang bersifat menyeluruh terhadap keberadaan diri seseorang. Konsep diri ini bersifat multi-aspek yaitu meliputi empat aspek seperti (1) aspek fisiologis, (2) psikologis, (3) psikososiologis, (4) psiko-etika dan moral. Gambaran konsep diri berasal dari interaksi antara diri sendiri maupun antara diri dengan orang lain (lingkungan sosialnya). Oleh karena itu, konsep diri sebagai cara pandang seseorang mengenai diri sendiri untuk memahami keberadaan diri sendiri maupun memahami orang lain (Rakhmat, 2005: 105).
Konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian. Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang dibentuk oleh pengalaman pengalaman yang diperoleh dari interaksi dengan lingkungan.
Konsep diri bukan merupakan bawaan, melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus dan terus terdeferensiasi. Dasar dasar dari konsep diri individu yang ditanamkam pada saat anak-anak dan menjadi dasar yang mempengaruhi tingkah lakunya dikemudian hari. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Orang cenderung menolak perubahan dan salah memahami atau berusaha meluruskan informasi yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka. (Rakhmat, 2005: 106)
Konsep diri didefinisikan secara berbeda oleh para ahli. Seifert dan Hoffnung (Rakhmat, 2005:105), mendefinisikan konsep diri sebagai suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang diri sendiri. Sementara itu, Atwater menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya (Rakhmat, 2005:106).
Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns dalam (Rahmat 2008:108) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang dipikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai dirinya dan seperti apa diri yang diinginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu. Menurut Brooks (Rakhmat, 2008: 108), bahwa konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Sedangkan Centi (1993) mengemukakan konsep diri (self concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi menjadi manusia sebagaimana yang diharapkan. Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Desmita, 2008: 56).
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah gagasan tentang diri individu terhadap pandangan, keyakinan dan penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Konsep diri adalah tentang bagaimana seseorang melihat dan memaknai dirinya sendiri sebagai pribadi, merasakan
tentang diri sendiri dan bagaimana seseorang menginginkan diri untuk menjadi pribadi seperti yang ia harapkan. Dan dapat disimpulkan bahwa konsep diri merupakan cara pandang secara menyeluruh tentang diri individu sendiri, yang meliputi perasaan yang dialami, kemampuan yang dimiliki, pengalaman yang pernah dilewati, dan lingkungan fisik dari individu tersebut maupun sekitarnya.
2.3.4.2.Pembentukan Konsep Diri
Konsep diri tidak langsung terbentuk sejak lahir, namun berkembang seiring berjalannya waktu hingga seseorang mulai mengenal dunia. Dalam perkembangan psikologis manusia, manusia terus mengalami perubahan. Baik itu positif maupun negatif. Perkembangan psikologis mengacu pada tumbuh kembang seseorang sewajarnya pertumbuhan manusia hingga dewasa. Saat seseorang dapat kemampuan dalam berpikir dengan baik, mulai merasakan dan mengerti pribadi dirinya hingga mampu memberikan persepsi, saat itulah konsep diri mulai terbentuk. Karena saat memberikan persepsi, mempengaruhi seseorang menilai dirinya sendiri. (Rakhmat, 2008:110).
Konsep diri pada dasarnya persepsi mengenai diri sendiri. Persepsi yang dimulai dari diri sendiri lalu sejalannya kita berinteraksi dengan lingkungan maka persepsi yang tadinya dari diri sendiri mulai dipengaruhi dengan nilai-nilai yang kita peroleh setelah kita berinteraksi dengan lingkungan. Konsep diri terus berkembang melalui pemahaman sikap orang lain terhadap kita. Dapat dikatakan konsep diri adalah hasil dari proses interaksi lingkungan sosial seseorang.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan konsep diri menjadi tidak stabil atau berubah yaitu :
a) Perubahan fisik, ini akan mempengaruhi penilaian dan perasaan terhadap diri sendiri. Misalnya seseorang yang tadinya kurus berubah menjadi gendut.
b) Perubahan lingkungan, ini sudah pasti akan menimbulkan sebuah pengalaman baru, pola pikir baru, sudut pandang baru, tingkah laku yang baru dan masih banyak lagi aspek yang akan mengubah konsep diri kita. Misalnya, seseorang yang biasa hidup mewah tiba tiba harus
hidup sederhana, sudah pasti akan ada perubahan dalam diri, karena menyesuaikan keadaan .
c) Perubahan peran, maksudnya adalah peran kita di keluarga atau di masyarakat. Misalnya, seseorang yang tadinya jadi seorang adik, ternyata jadi kakak. Tentu akan membawa pengaruh terhadap orang tersebut setelah menjadi kakak. Entah menjadi lebih dewasa atau lebih dekat dengan keluarga. (Rakhmat, 2008: 113)
2.3.4.3.Dimensi Konsep Diri
a. Diri identitas (identity self)
Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, "Siapakah saya?" Dalam pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan pada diri (self) oleh individu-individu yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya, misalnya "Saya x". Kemudian dengan bertambahnya usia dan interaksi dengan lingkungannya, pengetahuan individu tentang dirinya juga bertambah, sehingga ia dapat melengkapi keterangan tentang dirinya dengan hal-hal yang lebih kompleks, seperti "Saya pintar tetapi terlalu gemuk" dan sebagainya. (Rakhmat,2008: 115)
b. Diri Pelaku (behavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya, yang berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan oleh diri. Selain itu bagian ini berkaitan erat dengan diri identitas. Diri yang kuat akan menunjukkan adanya keserasian antara diri identitas dengan diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan menerima, baik diri sebagai identitas maupun diri sebagai pelaku. Kaitan dari keduanya dapat dilihat pada diri sebagai penilai.
c. Diri Penerimaan/penilai (judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar dan evaluator.
Kedudukannya adalah sebagai perantara mediator antara diri identitas dan diri pelaku. Manusia cenderung memberikan penilaian terhadap apa yang dipersepsikannya. Oleh karena itu, label-label yang dikenal pada dirinya
bukanlah semata-mata menggambarkan dirinya tetapi juga sarat dengan nilai- nilai. Selanjutnya, penilaian ini lebih berperan dalam menentukan tindakan yang akan ditampilkannya. Diri penilai menentukan kepuasan seseorang akan dirinya atau seberapa jauh seseorang menerima dirinya. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri (self esteem) yang rendah pula dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar pada dirinya.
(Rahmat,2008: 117)
2.3.4.4.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konsep Diri
Faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan konsep diri (Devito, 2009: 55-57), yaitu :
1. Others Images
Menurut Charles Horton Cooley, others images merupakan orang yang mengatakan siapa Anda, melihat citra diri Anda dengan mengungkapkannya melalui perilaku dan aksi. Konsep diri seseorang dibentuk karena adanya orang-orang yang paling penting dalam hidup seseorang seperti orang tua. Menurut D.H. Demo menekankan pada maksud bahwa konsep diri dibentuk, dipelihara, diperkuat, dan/atau diubah oleh komunikasi para anggota keluarga. Mereka itulah yang disebut sebagai significant others. (Budyatna, 2011: 169).Significant others yang dimaksud merupakan orang tua. Orang tua adalah faktor utama yang membentuk dan mengembangkan konsep diri seorang anak. Dalam perkembangan, significant others meliputi semua orang yang mempengaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita. Mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita dan menyentuh kita secara emosional.
2. Orang lain
Gabriel Marcel menulis tentang peranan orang lain dalam memahami diri kita, ‖The fact is that we can understand our selves by starting from the other, or from others, and only by starting from them‖. Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Harry Stack Sullivan (1953) menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, dan disenangi