BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.2 Hasil Wawancara
Nama : Arly Joane Valentine Manik
Tempat/Tanggal Lahir : Timika, 11 Februari 1999
Usia : 20 Tahun
Tempat Bekerja : Starbucks Area Merdeka Walk
No. HP : 082370209201
Peneliti melakukan wawancara dengan Arly di Coffee Crowd pada malam minggu sesuai permintaan Arly. Setelah memperkenalkan diri secara singkat dan menjelaskan tujuan dari penelitian, peneliti selanjutnya menanyakan data diri informan dan aktivitas keseharian Arly sebagai seorang barista.
Arly sudah mulai bekerja menjadi barista selama kurang lebih enam bulan di Starbucks area Merdeka Walk. Selain bekerja sebagai seorang barista Arly juga menjalani aktivitas sebagai seorang mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) Stambuk 2017.Arly sudah lama tinggal di Medan namun orangtua Arly bekerja di luar kota, sesekali orangtua Arly pulang untuk berlibur.
“Aku belajarnya langsung kak dari starbucks, diajarin langsung waktu training dari perusahaan, kalau belajar atas inisiatif sendiri pernah kak, sama kawan waktu sebelum melamar jadi barista. Temanku kerja jadi barista di cafe, jadi aku sering ke situ minta ajarin sama dia.”
Awal memulai kariernya Arly melamar menjadi seorang barista di Starbucks dan diterima bekerja pada kali keduanya mencoba. Sebelum mulai bekerja, Arly menjalani masa training selama dua puluh hari, terbilang cepat sebab Arly sudah memiliki basic dalam hal meracik kopi sebelumnya ketika ia sering mencoba alat-alat peracik kopi di sebuah cafe tempat temannya bekerja sebagai seorang barista. Selama masa training Arly mempelajari berbagai jenis
kopi dan minuman yang disajikan di Starbucks karena untuk menjadi seorang barista harus tahu semua hal mengenai kopi dari tingkat keasaman, body kopi, jenis kopi dan lainnya yang berkaitan dengan kopi.
“Aku kerja jadi barista udah enam bulan kak.”
Selama enam bulan bekerja Arly dilatih untuk memperdalam pengetahuan dan seni dalam membuat kopi. Tidak ada habisnya belajar, di tempat Arly bekerja terdapat kegiatan ―Kopi Testing‖, melalui kegiatan ini barista diajarkan mengenal semua jenis biji kopi hingga perkembangan kopi.Ada pula kegiatan yang rutin diadakan setiap minggunya di Starbucks yaitu Coffee Corner/ Coffee Talk dengan cara mengedukasi pengunjung mengenai kopi yang dijual.
“Awalnya emang aku udah tertarik untuk jadi barista kak, aku senang liat barista, pengen kayak gitu, aku sering main ke Starbucks kak, liat orang pakai apron hijau itu kayak, wah bangga gitu. Dan jarang gitu, beda orang pakai apron yang lain sama apron hijau starbucks, kayak gitu kak aku ngeliatnya. Jadi kayak tertarik gitu. Yaudah, akhirnya aku mendaftar.”
Alasan Arly memilih menjalani profesi sebagai barista adalah karena ketertarikannya ketika melihat seseorang mengenakan apron hijau barista yang menjadi ciri khas logo Starbucks, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arly.
Karena juga Starbucks merupakan salah satu coffee branded sehingga para konsumen Starbucks merupakan orang-orang yang tergolong memiliki gaya hidup kelas atas. Sehingga keinginan Arly untuk bekerja sebagai barista kopi terkenal itu semakin tinggi.
“Aku menikmati profesi jadi barista di starbucks ini, karena
„kan selama menjadi barista di starbucks ini banyak yang kudapat apalagi tentang relasi. Relasi dan buat orang bahagia,enggak tau kenapa di saat kita memberikan segelas kopi aja, disaat orang itu tersenyum bilang „makasih ya kak‟ kayanya luar biasa, dan karena aku juga sukanya dibidang service, mungkin karena itu juga,”.
Arly menjelaskan alasannya memilih bekerja di Starbucks selain karena servicenya di bidang kopi yang bagus, bekerja di Starbucks memberikan jaminan karier bagi Arly, sebab setiap baristanya diberikan sertified luar negeri dan dalam negeri yang berguna untuk jenjang karir barista. Ketika melamar pekerjaan sebagai barista di cabang Starbucks yang lain maka dengan sertified tersebut pemiliknya langsung diterima bekerja tanpa diuji lagi.
Arly sendiri mengaku lebih senang di bidang service dan mendapatkan kepuasan ketika pengunjung merasa senang dengan pelayanan di bidang kopi
yang disajikan.Bahkan hanya dengan melihat senyum dan mendengar kata ‗terima kasih‘ dari pengunjung memberikan rasa senang yang luar biasa bagi barista seperti Arly.
Setiap profesi tentunya memiliki resiko disamping kesenangan dalam menjalani profesi tersebut, tidak terkecuali barista.Adapula beberapa hal yang menjadi kendala dan hambatan bagi Arly menjalani profesi sebagai barista.
“Hambatan aku menjadi barista banyaklah, apalagi kan aku kuliah kak, kadang aku jadi enggak kuliah. Terus pulangnya malam, was-was, capek, gampang sakit,”.
Berdasarkan pengalaman yang dirasakan Arly, aktifitas kuliah di siang ditambah lagi kesibukan sebagai seorang barista di sore hingga larut malam sedikit menyulitkannya sehingga agar keduanya bisa berjalan lancar Arly harus bisa mengatur waktu dengan bijak. Pernah pula Arly tidak masuk kuliah dikarenakan sakit akibat kelelahan..
Tidak hanya itu, di awal Arly memulai bekerja sebagai barista pernah mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman dari seorang pengunjung.
“Pernah kak, ada bapak-bapak, dia menginap di Hotel Grand Aston kak, dia datang terus aku tanyak „pak, mau order apa?‟, dia langsung bilang „ih, cantik kamu ya‟, apanya maksud si bapak ini aku pikir ‟kan kak. Yaudah, aku tanyaklah mau order apa, dia bilang pesanan dia, terus aku bilang „bentar ya pak, boleh saya terima uangnya?‟.
„jangankan uang, dompet semua saya kasih sama kamu. Kamu temenin saya ya, saya lagi sendiri‟, katanya kayak gitu kak.Aku kaget kak, karena baru pertama kalinya aku ditawar kayak gitu, biasanya adapun yang godain cuman becanda aja, dia sempat minta nomorku tapi aku kasih yang salah, rupanya ditelvonnya, akhirnya aku kasih yang benar, dia bilang „saya tunggu ya‟, beneran ditungguinnya kak, masuk aku ke dalam, nangis aku ngadu aku sama bos ku kak, terus bos ku bilang, „udah enggak apa-apa itu, biasa kayak gitu, ambil uang tip nya aja‟, setelah itu kujumpain lagi,Yaudah aku nanggapinnya biasa aja, kayak jadi ngambil uang tip sih.”
Mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman seperti itu merupakan konsekuensi yang harus diterima dalam menjalankan profesi sebagai seorang barista.Selama perlakuan dari pengunjung tidak berlebihan dan masih pada tahap yang wajar tanpa ada sentuhan fisik, hal itu bisa dimaklumi bagi Arly.
“Kami paling lama pulang jam dua, cuman karena kami
Bekerja sebagai barista tentunya ada konsekuensi yang harus diterima. Di Starbucks terdapat pembagian shift kerja bagi para pegawainya.
“Kami ada tiga shift, Opening dan Closing. Sebelum masuk kerja ditanyak dulu kak, jadwal kuliahya gimana. Nah, jadi mereka pasti sesuain shift kerja sama jadwal kuliah aku, itu enaknya. Aku „kan part time di sana kak, jadi mereka sesuain sama jadwal kuliah.”
Terdapat tiga shift, yaitu opening, middle dan closing. Ketika mendapatkan shift closing Arly harus terima untuk bekerja dari petang hingga larut malam, karena juga starbucks sering digunakan untuk tempat nongkrong bagi anak muda maupun dewasa.
―Kalau khawatir ya pasti ada kak, tapi untungnya kami ada di kasih voucher taxi gitu dari prusahaan, jadi pulangnya diantarin taxi.”
Untungnya di Starbucks sendiri memberikan jaminan keselamatan bagi pegawainya yang pulang larut malam dengan memberikan vocer taxi.Sehingga mengurangi rasa khawatir bagi Arly.
“Ada kak, selain jadi barista aku juga kuliah, jadi aku kerja sebagai barista itu part time kak. Sebelum masuk kerja ditanyak dulu kak, jadwal kuliahnya gimana. Nah, jadi mereka pasti sesuain shift kerja sama jadwal kuliah aku, itu sih enaknya,”.
Aktivitas yang begitu padat secara tidak langsung mengajarkan Arly agar pandai mengatur waktu agar semua bisa berjalan seimbang.
”Orangtua aku mendukung aja kak, selama aku bisa mengatur waktu antara kuliah dan kerja, an yang aku kerjain juga halal orangtuaku enggak masalah.”
Orangtua Arly pun merespon dengan positif kegiatan yang dijalani Arly sebagai barista selama kegiatan kuliah Arly tidak terganggu.Suatu kebanggaan ketika orangtua Arly tahu bahwa anaknya bisa diterima bekerja di company besar seperti Starbucks.Namun, mereka berpesan agar Arly tetap mengutamakan kuliah.
“Aku pernah berpengalaman kerja ngajar, ngajar sempoa, ngajar semua mata pelajaran, semua udah ku coba kak.Maksudnya kyak sebelumya aku enggak terlalu mendalami kali tentang barista gitu, tiba-tiba masuk, ya bersyukur kali”.
Sebelum bekerja sebagai barista, Arly pernah memiliki pengalaman mengajar berbagai macam pelajaran.Arly merupakan orang yang tidak suka berdiam diri dan suka mencoba hal-hal baru.Arly selalu mencari kesibukan agar kegiatan sepulang kuliah tidak membosankan.
“Pertama aku sempat kehilangan kawan di kampus kak. Karena di kampus kan banyak tugas kuliah yang dibagi jadi anggota kelompok.
Cuma aku yang enggak pernah aktif, ya pasti mereka „kan mungkin merasa kecewa, jadi enggak ditulis namaku. Cuma ya enggak masalah sih.
Tapi belakangan ini karena aku ikutan gabung, mereka aku suruh „yauda datang aja ke Merdeka Walk, ke Starbucks‟. Akhirnya datang, ngobrol-ngobrol, ya sekarang sih menuutku baik-baik aja sih kak. Bahkan temanku ikut senang aku jadi barista. „kok bisa kerja di Starbucks? mantap lah‟
jadi respon teman aku juga bagus kak,”.
Kegiatan Arly yang begitu padat sedikit banyaknya berpengaruh bagi kehidupan sosial Arly. Ditengah-tengah kesibukannya ia harus bisa membagi waktu antara bekerja, bermain dengan teman-teman, mengahiskan waktu bersama kekasih dan menyisihkan waktu yang berkualitas untuk diri sendiri. Sewaktu awal bekerja menjadi barista Arly cukup kesulitan membagi waktu, tugas kuliah yang dibagikan tidak sedikit merupakan tugas kelompok, yang mengharuskan Arly untuk hadir dan berkontribusi dalam proses pengerjaan tugas tersebut.Meskipun awalnya teman-teman Arly sempat merasa Arly kurang berkontribusi, namun sekarang mereka mengerti betapa beratnya kegiatan yang dijalani Arly.
“enggak kak, harus pandai mengatur waktu juga. Aku juga menikmati semua kegiatanku, kuliah, jadi barista juga. Cuma ya itu, harus pandai mengatur waktu,”.
Arly mengaku bisa menyeimbangkan aktifitasnya ketika ditanya apakah bekerja sebagai barista mengganggu aktifitas rutinnya. Seiring berjalannya waktu Arly bisa mengatasi urusan kuliahnya dengan mengajak teman-temannya untuk datang ke tempatnya bekerja sambil mengerjakan tugas kuliah. Beberapa kali Arly
juga mentraktir teman-temannya karena ia merasa itu merupakan feedback yang wajar untuk dilakukan karena kesediaan mereka untuk tetap menerima Arly sebagai teman dengan keterbatasan waktu yang bisa Arly berikan untuk mereka.
“Sering juga dulu ada tetangga yang nyeritain kak „si Arly ini jadi perempuan enggak benar entahnya di luar sana, pulang-pulang malam‟.Tapi akhirnya aku kasih tahu.Nah, kebetulan ada tetanggaku pernah datang ke starbucks, terus dia ketemu samaku, yaudah aku cerita tentang kerjaanku.Sampai sekarang sih enggak ada aku dengar lagi cerita yang negatife tentang aku. Tetanggaku juga jadi nanya langsung „sekarang kerja di mana?‟. Aku ceritain lah kan kak. Satpamku juga tahu. Cuman dulu waktu aku awal-awal kerja pulang malam kayak baru nyampek rumah aja udah heboh satpam,”.
Tidak hanya di kalangan teman-teman kampus, sejak Arly menjalani profesi sebagai barista dan terkadang pulang larut malam menimbulkan pengaruh di kalangan tetangga sekitar tempat tinggal Arly.Arly bertempat tinggal di lingkungan komplek.Awal bekerja satpam komplek memiliki persepsi negatif terhadap Arly karena sering pulang larut malam.Tidak dipungkiri tetangga Arly juga sering berkomentar negatif ketika tahu Arly pulang larut malam sebelum mereka tahu bahwa alasan Arly karena bekerja. Namun pernah suatu ketika tanpa sengaja Arly bertemu seorang tetangganya yang hendak berkunjung ke starbucks, pada kesempatan itu Arly mengobrol dengan tetangganya tersebut dan akhirnya tetangganya pun merespon positif profesi yang dijalani Arly sehingga tidak ada lagi komentar negatif yang terdengar dari tetangga Arly.
“Aku pasti pernah lah kak mengalami kendala di kesehatan.Kami kanada namanya Call Sick, panggilan sakit.Nah, aku sering waktu itu.Kemarin pernah sampai aku ada benjolan gitu di badanku karena kecapean. Kayak kelenjar getah bening kak, karena kecapean „kan. Jadi, ya itulah efeknya. Terus kemarin sempat juga waktu mau ke tempat kerja kecelakaan ditabrak sama mobil. Wajarlahkayak gitu kak, banyaklah hambatan-hambatannya,”.
Pulang hingga larut malam juga memberikan efek yang kurang baik bagi kesehatan Arly. Pernah beberapa kali kondisi kesehatan Arly menurun akibat mengalami kelelahan yang menjadi penyebab Arly tidak bisa masuk kuliah.
Jauhnya jarak tempat tinggal Arly dengan tempat Arly bekerja juga menjadi
hambatan bagi Arly, suatu ketika pernah Arly terlibat kecelakaan yaitu ditabrak sebuah mobil ketika berangkat ke tempat kerja.
“Sebenarnya aku ngerasa kayak aku sekarang kak, aku masih sempat kerja, aku masih sempat kuliah, aku masih sempat jalan-jalan, masih sempat hedon, masih sempat semuanya kayak gitu,masih sempat pacaran. Jadi kayak enggak yang jadi kendala kak. Yang penting tahu ngatur waktu aja. Misalnya aku kan kerja lima hari, dua hari libur. Yaudah dua hari libur ini aku bisa jalan-jalan, aku bisa ngelakuin semuanya. Di lima hari kerja ya, emang betul-betul kerja gitu kak. Kerja dan istirahat. Di dua hari ini lah baru betul-betul kayak jalan sama teman, misalnya ngerayain ulang tahun teman, jalan sama pacar, kayak gitu,”.
Di usia Arly yang masih terbilang muda yaitu mengijak 20 tahun Arly merasa bangga bisa menikmati setiap kesempatan yang mungkin tidak semua orang bisa dapatkan. Menurut Arly kunci agar bisa menjalankan dan menikmati setiap momen yang ada adalah harus pandai mengatur waktu. Selama satu minggu, lima hari Arly gunakan untuk bekerja dan kuliah, sementara dua hari yang tersisa digunakan untuk menikmati waktu berkualitas bersama teman dan kekasih.
“Aku ingin lebih banyak lagi ilmu tentang kopi yang aku dapat kedepannya kak, karena belajar kopi itu enggak ada habis-habisnya, semakin kreatif juga,”.
Harapan Arly untuk kedepannya agar bisa lebih banyak lagi belajar tentang kopi. Kecintaannya terhadap kopi sydah sangat kental dan Arly merasa belajar kopi tidak ada habis-habisnya.
4.1.2.2 Informan II
Nama : Nesa Arifani
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 03 Agustus 1994
Usia : 25 Tahun
Tempat Bekerja : Starbucks Area Multatuli
No. HP : 081265469304
Nesa Arifani merupakan seorang wanita yang berprofesi sebagai barista perempuan di starbucks daerah Multatuli.Baru saja kak Nesa pindah bekerja setelah sebelumnya bekerja di starbucks daerah Merdeka Walk bersama Arly yang juga informan pertama peneliti.Peneliti juga mendapatkan kontak kak Nesa dari Arly.
“Aku udah hampir lima tahun jadi barista, sejak bulan sebelas tahun 2014Pertama kali aku kerja jadi barista itu di kaffeine Plaza CIMB Niaga Medan. Sebelumnya aku enggak ada pengalaman di bidang kopi, bekerja lebih kurang tiga setengah tahun.
“Kalau sekolah barista enggak, karena aku belajar tentang kopi itu langsung ditempat kerja yang pertama dulu, jadi di situlah diajarin cara buat kopi,”.
Pertama kali kak Nesa belajar tentang kopi adalah ketika ia masih bekerja mejaga mesin kasir dan saat tertarik ingin menjadi barista ia meminta temannya untuk mengajarkan teknik meracik kopi dan latte.
“Sebelumnya aku enggak ada pengalaman di bidang kopi, kawan ngajak join karena dia yang kelola restoran itu. Tadinya aku di bagian kasir. Jadi startnya dari situ dimulai, terus dijalani, dari situ aku mulai perhatiin profesi barista di bar dan aku mulai tertarik,‖.
Alasan kak Nesa bekerja sebagai seorang barista adalah karena teman kak Nesa mengajak untuk join di restoran yang dikelolanya. Awalnya kak Nesa tidak memiliki pengalaman di bidang kopi.Sebelum menjadi barista kak Nesa terlebih dahulu bertugas menjaga mesin kasir.Namun, ketertarikan kak Nesa terhadap minuman kopi sudah ada sejak sebelum ia menjadi barista.
“Awalnya „kan kerja jadi barista kaffeine selama lebih kurang tiga setengah tahun, terus resign. Dapat tawaran lagi di toko baru, beberapa lam kemudian resign, dengar di starbucks ada lowongan, langsung coba ngelamar,”.
Setelah beberapa kali resign dari tempat bekerja kak Nesa mencoba melamar menjadi barista di starbucks karena pada saat itu kebetulan starbucks membuka lowongan pekerjaan untuk seorang barista perempuan.
“Di Starbucks ini kita ada kenaikan tingkat kalo jadi barista.
Nah, aku sekarang julukannya coffee master. Itu tingkatannya udah tinggi. Dan sama seperti di Starbucks kami juga dapat sertified barista,”.
Sama seperti Starbucks tempat informan pertama bekerja, starbucks tempat kak Nesa bekerja juga mendapatkan sertified. Kak Nesa sudah bekerja menjadi barista di starbucks selama satu tahun sembilan bulan dan sudah mendapat julukan coffee master.
“Aku juga punya kegiatan rutin selain jadi barista di starbucks. Kegiatannya itu juga masih berkaitan sama kopi. Aku membantu adik-adik untuk belajar tentang minuman kopi. Lebih tepatnya sebenarnya sharing. Kami biasanya ada jadwalnya. Jadi kami cari tempat yang space nya bisa untuk ramai. Aku juga ikut kegiatan itu untuk mengisi waktu luangku, emang karena hobby juga jadi semuanya dinikmatin Tapi sejauh ini kegiatanku jadi barista juga enggak terganggu. Aku menikmatinya,”.
Selain bekerja menjadi barista di Starbucks kak Nesa juga memiliki kegiatan bersama pecinta kopi lainnya untuk berkumpul di jadwal yang telah mereka tentukan. Dari kegiatan taersebut juga kak Nesa bisa bercengkerama dan membagi ilmunya dengan para pecinta kopi lainnya.
“Kalau mau join jadi barista itu lebih baik kalau kita enggak punya knowledge tetang kopi sama sekali, jadinya lebih cepat nangkapnya. Dari pada kita punya partner yang udah tau tentang kopi semuanya, jadi kalau kita ajak kerja sama itu enggak bagus karena dia udah punya pendapat sendiri, dia udah punya caranya sendiri, jadi kita enggak bisa kasih tau lagi. Dia udah punya pikiran
„aku udah tau lo itu‟, jadi dia enggak menampung lagi yang diajarin beda sama yang selama ini dia biasa terima,”.
Berdasarkan pengalaman kak Nesa, lebih menyenangan mengajari orang yang dari dasar belum mengenal kopi daripada orang yang sudah punya banyak pengalaman dan pengetahuan di bidang kopi. Karena cara dan seni orang dalam membuat kopi itu berbeda-beda. Apabila dia sudah menetapkan caranya sendiri dia akan sulit menerima ajaran dari orang lain.
“Teman-teman aku mendukung, mereka ikut senang juga aku jadi barista.”
Lingkungan pertemanan kak Nesa yang juga teman-temannya hobi dengan kegiatan meracik kopi sangat mendukung profesi kak Nesa sebagai barista.
Sesekali mereka juga saling berbagi pengetahuan mengenai kopi.
“Jadi kita di sini ada tiga shift, shift opening, middle sama closing. Jadi karena bukanya enggak dua puluh empat jam kita di sini paling malam tutupnya jam sepuluh, kira-kira pulangnya jam dua belas malam karena kan beres-beres lagi,”.
Berbeda dengan starbucks area Merdeka Walk tempat informan pertama bekerja yang tutup hingga pukul dua pagi, starbucks tempat kak Nesa bekerja mengaku sedikit khawatir karena kekhawatiran pulang malam itu adalah hal yang wajar. Namun, karena pihak starbucks memberikan voucher taxi sebagai jaminan keselamatan kekhawatiran kak Nesa sedikit berkurang.
“Karena pulang malam pernah juga ada omongan-omongan tetangga yang kurang enak didengar, „itu dari mana sih, kerjanya kok pulangnya pagi terus, diantar taxi‟, ya, namanya juga tetangga.
Tapi aku tanggapinnya biasa aja, cuek aja. Kalau mikirin tetangga terus kan enggak ada gunanya juga. Kadang baik di kita buruk juga di mata mereka, ya jalani aja. Yang pastinya kita enggak berbuat aneh-aneh di luar sana,”.
Pulang kerja larut malam sudah menjadi resiko yang harus di tanggung bagi seorang barista dalam menjalankan pekerjaannya. Apalagi sewaktu bekerja di Starbucks area Merdeka Walk kak Nesa pulang hingga jam dua pagi. Namun omongan buruk tetangga tidak menjadi halangan untuk menjalankan profesi tersebut selama yang dilakukan bukanlah hal yang buruk.
“Awalnya orangtuaku enggak setuju aku jadi barista join di Starbuck, karena di tempat kerja yang sebelumnya aku dikasih izin tapi jam sepuluh malam harus udah sampai rumah. Jadi waktu join di starbucks orangtuaku enggak tau kalau pulangnya sampai malam
gitu, kadang jam dua pagi, kadang jam tiga. Ya, aku kasih pengertian aja sering-sering. Jadi lama kelamaan dapat izin,”.
gitu, kadang jam dua pagi, kadang jam tiga. Ya, aku kasih pengertian aja sering-sering. Jadi lama kelamaan dapat izin,”.