• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.4. Teknik Analisis Data

Miles dan Huberman (1984) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh (Sugiyono, 2016: 246) Analisis data dalam penelitian ini adalah:

a. Reduksi Data

Data yang didapatkan dari lapangan jumlahnya cukup banyak. Semakin lama peneliti di lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, kompleks dan rumit. Untuk itu peneliti akan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Tahapan-tahapan reduksi data meliputi: membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis memo (Pujileksono, 2015: 152).

b. Penyajian data (data display)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.

Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori dan flowchart.

c. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan melihat kembali data-data yang sudah direduksi untuk dicari jawaban atas masalah yang diteliti. Kesimpulan dalam penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah, karena rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan berkembang setelah peneliti berada di lapangan.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian

Peneliti memaparkan hasil penelitian yang berlangsung selama di lapangan. Peneliti melakukan penelitian terhadap empat informan barista perempuan yang ada di Kota Medan. Hasil penelitian yang didapat melalui proses wawancara secara langsung (tatap muka) dan mendalam, dan observasi lapangan.

Penjabaran hasil dan proses peelitian disajikan dalam bentuk narasi dan turut diikutsertakan dengan pembahasan berdasarkan tujuan yang telah ditentukan.

Adapun tahapan-tahapan penjabaran hasil temuan peneliti adalah sebagai berikut.

4.1.1 Proses Penelitian

Pada bab ini peneliti akan memaparkan hasil penelitian yang didapatkan selama di lapangan. Penelitian ini dilakukan lebih kurang tiga bulan, dimulai dari Mei 2019 hingga Agustus 2019. Teknik pengumpulan data dari penelitian ini adalah melalui observasi non partisipatif dan snow ball. Wawancara dilakukan peneliti setelah membuat janji bertemu dengan informan yang telah didapat kontaknya. Alasan peneliti membuat janji terlebih dahulu adalah karena seluruh informan peneliti hanya memiliki waktu-waktu tertentu untuk dapat diwawancarai dikarenakan informan memiliki jadwal pekerjaan yang padat dan agar wawancara yang dilakukan dapat lebih santai demi mendapatkan data nformasi yang mendalam agar tujuan penelitian ini tercapai.

Sebelum terjun ke lapangan ada hal yang harus peneliti lakukan sebagai upaya persiapan. Di antara persiapan tersebut adalah mencari informasi mengenai kontak maupun tempat bekerja barista perempuan di Kota Medan dan mempersiapkan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada informan. Dari usaha yang dilakukan peneliti berhasil mendapatkan informasi kontak Arly sebagai informan pertama yang bekerja di Cafe Starbucks area Merdeka Walk.

Peneliti menghubungi Arly dengan mengirimkan pesan singkat melalui jejaring sosial WhatsApp. Setelah menjelaskan secara singkat tujuan dari penelitian ini Arly dengan sikap ramah bersedia untuk peneliti wawancara dan

membuat janji untuk bertemu di waktu luangnya. Pada 27 Juli 2019 peneliti melakukan wawancara dengan Arly di Coffee Crowd area Merdeka Walk tempat yang ditentukan Arly untuk bertemu. Selama proses wawancara Arly sangat ramah, periang dan bersikap terbuka dengan senang hati menjawab pertanyaan peneliti dengan jawaban yang mendalam sehingga jawaban Arly dapat peneliti kembangkan lagi membentuk pertanyaan baru. Wawancara kurang lebih berlangsung selama dua puluh menit. Yang menjadi kendala saat proses wawancara Arly berlangsung adalah dikarenakan saat itu merupakan malam minggu dan kebetulan di Merdeka Walk terdapat acara musik, suasana sangat ramai sehingga ketika wawancara berlangsung terdapat gangguan kebisingan dari sekitar dan sulit untuk menemukan tempat mengobrol dikarenakan ramainya pengunjung. Bahkan Coffee Crowd merupakan tempat kedua yang ditentukan Arly setelah awalnya Arly meminta untuk bertemu di Starbucks dikarenakan tidak ada meja kosong.

Jumat, 2 Agustus 2019 peneliti menemui kak Nesa Arifani sebagai informan kedua di Starbucks daerah multatuli tempat informan bekerja, berhubung hari itu merupakan waktu luang bagi informan ketika bebas dari shiftkerja. Peneliti mendapat kontak kak Nesa dari Arly, informan pertama yang juga pernah bekerja di cafe yang sama saat kak Nesa masih ditempatkan di Starbucks daerah Merdeka Walk. Hari sabtu, 3 Agustus 2019 peneliti mendatangi cafe Papacco yang ada di carrefour untuk meminta kontak informan ketiga sambil memesan minuman. Setelah menjelaskan tujuan dari penelitian akhirnya informan mau memberikan kontaknya. Dikarenakan pada saat itu merupakan shift informan ketiga untuk bekerja, informan meminta untuk bertemu di lain waktu.

Sebelumnya peneliti mendapat informasi bahwa di Papacco terdapat barista perempuan melalui papan iklan yang terletak di depan eskalator antara lantai dua dan lantai satu yang letaknya dekat dengan Papacco. Di dalam papan iklan tersebut terdapat foto seorang perempuan dengan atribut barista sedang meracik kopi.

Peneliti menemui informan ketiga lagi pada hari kamis, 15 Agustus 2019 di Papacco setelah sepakat untuk melakukan wawancara pada jam istirahat shift kerja informan. Infoman ketiga bernama Nur Aidah. Proses wawancara bersama

kak Aida berlangsung santai, kak Aidah sangat ramah hingga mengenalkan peneliti pada teman-temannya yang kebetulan pada saat itu kak Aida sedang duduk santai bersama rekan-rekan kerjanya disela-sela jam istirahat kerjanya.

Selanjutnya pada tanggal 17 Agustus 2019 secara tidak sengaja peneliti bertemu dengan informan keempat pada saat peneliti bersama beberapa teman mampir di indomaret dekat istana maimun dengan niat awal untuk mencari minuman. Ketika membuka pintu peneliti melihat terdapat meja bar berikut alat perlengkapan untuk membuat kopi lengkap dengan barista serta meja-meja berikut kursi yang terlihat seperti cafe kecildengan logo dan nama ―Point Cafe‖

yang menggantung pada ubin di sisi kiri pintu. Berhubung haus peneliti memesan satu cup coklat dingin. Sambil menikmati minuman peneliti memperhatikan barista perempuan yang bekerja di cafe tersebut. Setelah memperhatikan, ketika barista tersebut terlihat sedang tidak sibuk peneliti meminta kontak informan.

Setelah mendengarkan tujuan dari penelitian informan mau memberikan kontak kepada peneliti.

Informan keempat peneliti temui pada tanggal 20 Agustus 2019 setelah membuat janji, namun karena informan slow respon menanggapi pesan WhatsApp dari peneliti,peneliti berinisiatif untuk datang langsung ke tempat kerja informan.

Sambil menunggu informan menyiapkan pesanan pelanggan peneliti bersama seorang teman menempati salah satu meja kosong sambil menikmati minuman yang telah dipesan. Namun, berbeda dengan rencana awal informan memilih untuk mencarikan penggantinya untuk diwawancarai dengan alasan belum terlalu paham mengenai profesi barista dikarenakan baru belajar menjadi seorang barista.

Namun itu tidak menjadi halangan bagi peneliti, informan keempat bernama kak Putri Melati Manurung yang bekerja di cafe yang sama. Kak Putri dengan senang hati mau diwawancarai bahkan memberikan semangat untuk peneliti serta do‘a agar penelitian berjalan lancar dan memperoleh hasil yang memuaskan.

Tabel 4.1

Data Perempuan Barista yang Menjadi Informan No. Nama Informan Tempat/

Tanggal Lahir

Usia Lama

Bekerja

1. Arly Joane Valentine Manik

Timika, 11 Febryari

1999

20 Tahun 6 Bulan

2. Nesa Arifani Jakarta, 3 Agustus

1994

25 Tahun 5 Tahun

3. Nur Aidah Medan, 23

Agustus 1996

23 Tahun 2 Tahun

4. Putri Melati Manurung

28 Juli 1995 24 Tahun 2 Tahun

Sumber: Hasil penelitian pada Agustus 2019

4.1.2 Hasil Wawancara 4.1.2.1 1Informan I

Nama : Arly Joane Valentine Manik

Tempat/Tanggal Lahir : Timika, 11 Februari 1999

Usia : 20 Tahun

Tempat Bekerja : Starbucks Area Merdeka Walk

No. HP : 082370209201

Peneliti melakukan wawancara dengan Arly di Coffee Crowd pada malam minggu sesuai permintaan Arly. Setelah memperkenalkan diri secara singkat dan menjelaskan tujuan dari penelitian, peneliti selanjutnya menanyakan data diri informan dan aktivitas keseharian Arly sebagai seorang barista.

Arly sudah mulai bekerja menjadi barista selama kurang lebih enam bulan di Starbucks area Merdeka Walk. Selain bekerja sebagai seorang barista Arly juga menjalani aktivitas sebagai seorang mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) Stambuk 2017.Arly sudah lama tinggal di Medan namun orangtua Arly bekerja di luar kota, sesekali orangtua Arly pulang untuk berlibur.

“Aku belajarnya langsung kak dari starbucks, diajarin langsung waktu training dari perusahaan, kalau belajar atas inisiatif sendiri pernah kak, sama kawan waktu sebelum melamar jadi barista. Temanku kerja jadi barista di cafe, jadi aku sering ke situ minta ajarin sama dia.”

Awal memulai kariernya Arly melamar menjadi seorang barista di Starbucks dan diterima bekerja pada kali keduanya mencoba. Sebelum mulai bekerja, Arly menjalani masa training selama dua puluh hari, terbilang cepat sebab Arly sudah memiliki basic dalam hal meracik kopi sebelumnya ketika ia sering mencoba alat-alat peracik kopi di sebuah cafe tempat temannya bekerja sebagai seorang barista. Selama masa training Arly mempelajari berbagai jenis

kopi dan minuman yang disajikan di Starbucks karena untuk menjadi seorang barista harus tahu semua hal mengenai kopi dari tingkat keasaman, body kopi, jenis kopi dan lainnya yang berkaitan dengan kopi.

“Aku kerja jadi barista udah enam bulan kak.”

Selama enam bulan bekerja Arly dilatih untuk memperdalam pengetahuan dan seni dalam membuat kopi. Tidak ada habisnya belajar, di tempat Arly bekerja terdapat kegiatan ―Kopi Testing‖, melalui kegiatan ini barista diajarkan mengenal semua jenis biji kopi hingga perkembangan kopi.Ada pula kegiatan yang rutin diadakan setiap minggunya di Starbucks yaitu Coffee Corner/ Coffee Talk dengan cara mengedukasi pengunjung mengenai kopi yang dijual.

“Awalnya emang aku udah tertarik untuk jadi barista kak, aku senang liat barista, pengen kayak gitu, aku sering main ke Starbucks kak, liat orang pakai apron hijau itu kayak, wah bangga gitu. Dan jarang gitu, beda orang pakai apron yang lain sama apron hijau starbucks, kayak gitu kak aku ngeliatnya. Jadi kayak tertarik gitu. Yaudah, akhirnya aku mendaftar.”

Alasan Arly memilih menjalani profesi sebagai barista adalah karena ketertarikannya ketika melihat seseorang mengenakan apron hijau barista yang menjadi ciri khas logo Starbucks, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arly.

Karena juga Starbucks merupakan salah satu coffee branded sehingga para konsumen Starbucks merupakan orang-orang yang tergolong memiliki gaya hidup kelas atas. Sehingga keinginan Arly untuk bekerja sebagai barista kopi terkenal itu semakin tinggi.

“Aku menikmati profesi jadi barista di starbucks ini, karena

„kan selama menjadi barista di starbucks ini banyak yang kudapat apalagi tentang relasi. Relasi dan buat orang bahagia,enggak tau kenapa di saat kita memberikan segelas kopi aja, disaat orang itu tersenyum bilang „makasih ya kak‟ kayanya luar biasa, dan karena aku juga sukanya dibidang service, mungkin karena itu juga,”.

Arly menjelaskan alasannya memilih bekerja di Starbucks selain karena servicenya di bidang kopi yang bagus, bekerja di Starbucks memberikan jaminan karier bagi Arly, sebab setiap baristanya diberikan sertified luar negeri dan dalam negeri yang berguna untuk jenjang karir barista. Ketika melamar pekerjaan sebagai barista di cabang Starbucks yang lain maka dengan sertified tersebut pemiliknya langsung diterima bekerja tanpa diuji lagi.

Arly sendiri mengaku lebih senang di bidang service dan mendapatkan kepuasan ketika pengunjung merasa senang dengan pelayanan di bidang kopi

yang disajikan.Bahkan hanya dengan melihat senyum dan mendengar kata ‗terima kasih‘ dari pengunjung memberikan rasa senang yang luar biasa bagi barista seperti Arly.

Setiap profesi tentunya memiliki resiko disamping kesenangan dalam menjalani profesi tersebut, tidak terkecuali barista.Adapula beberapa hal yang menjadi kendala dan hambatan bagi Arly menjalani profesi sebagai barista.

“Hambatan aku menjadi barista banyaklah, apalagi kan aku kuliah kak, kadang aku jadi enggak kuliah. Terus pulangnya malam, was-was, capek, gampang sakit,”.

Berdasarkan pengalaman yang dirasakan Arly, aktifitas kuliah di siang ditambah lagi kesibukan sebagai seorang barista di sore hingga larut malam sedikit menyulitkannya sehingga agar keduanya bisa berjalan lancar Arly harus bisa mengatur waktu dengan bijak. Pernah pula Arly tidak masuk kuliah dikarenakan sakit akibat kelelahan..

Tidak hanya itu, di awal Arly memulai bekerja sebagai barista pernah mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman dari seorang pengunjung.

“Pernah kak, ada bapak-bapak, dia menginap di Hotel Grand Aston kak, dia datang terus aku tanyak „pak, mau order apa?‟, dia langsung bilang „ih, cantik kamu ya‟, apanya maksud si bapak ini aku pikir ‟kan kak. Yaudah, aku tanyaklah mau order apa, dia bilang pesanan dia, terus aku bilang „bentar ya pak, boleh saya terima uangnya?‟.

„jangankan uang, dompet semua saya kasih sama kamu. Kamu temenin saya ya, saya lagi sendiri‟, katanya kayak gitu kak.Aku kaget kak, karena baru pertama kalinya aku ditawar kayak gitu, biasanya adapun yang godain cuman becanda aja, dia sempat minta nomorku tapi aku kasih yang salah, rupanya ditelvonnya, akhirnya aku kasih yang benar, dia bilang „saya tunggu ya‟, beneran ditungguinnya kak, masuk aku ke dalam, nangis aku ngadu aku sama bos ku kak, terus bos ku bilang, „udah enggak apa-apa itu, biasa kayak gitu, ambil uang tip nya aja‟, setelah itu kujumpain lagi,Yaudah aku nanggapinnya biasa aja, kayak jadi ngambil uang tip sih.”

Mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman seperti itu merupakan konsekuensi yang harus diterima dalam menjalankan profesi sebagai seorang barista.Selama perlakuan dari pengunjung tidak berlebihan dan masih pada tahap yang wajar tanpa ada sentuhan fisik, hal itu bisa dimaklumi bagi Arly.

“Kami paling lama pulang jam dua, cuman karena kami

Bekerja sebagai barista tentunya ada konsekuensi yang harus diterima. Di Starbucks terdapat pembagian shift kerja bagi para pegawainya.

“Kami ada tiga shift, Opening dan Closing. Sebelum masuk kerja ditanyak dulu kak, jadwal kuliahya gimana. Nah, jadi mereka pasti sesuain shift kerja sama jadwal kuliah aku, itu enaknya. Aku „kan part time di sana kak, jadi mereka sesuain sama jadwal kuliah.”

Terdapat tiga shift, yaitu opening, middle dan closing. Ketika mendapatkan shift closing Arly harus terima untuk bekerja dari petang hingga larut malam, karena juga starbucks sering digunakan untuk tempat nongkrong bagi anak muda maupun dewasa.

―Kalau khawatir ya pasti ada kak, tapi untungnya kami ada di kasih voucher taxi gitu dari prusahaan, jadi pulangnya diantarin taxi.”

Untungnya di Starbucks sendiri memberikan jaminan keselamatan bagi pegawainya yang pulang larut malam dengan memberikan vocer taxi.Sehingga mengurangi rasa khawatir bagi Arly.

“Ada kak, selain jadi barista aku juga kuliah, jadi aku kerja sebagai barista itu part time kak. Sebelum masuk kerja ditanyak dulu kak, jadwal kuliahnya gimana. Nah, jadi mereka pasti sesuain shift kerja sama jadwal kuliah aku, itu sih enaknya,”.

Aktivitas yang begitu padat secara tidak langsung mengajarkan Arly agar pandai mengatur waktu agar semua bisa berjalan seimbang.

”Orangtua aku mendukung aja kak, selama aku bisa mengatur waktu antara kuliah dan kerja, an yang aku kerjain juga halal orangtuaku enggak masalah.”

Orangtua Arly pun merespon dengan positif kegiatan yang dijalani Arly sebagai barista selama kegiatan kuliah Arly tidak terganggu.Suatu kebanggaan ketika orangtua Arly tahu bahwa anaknya bisa diterima bekerja di company besar seperti Starbucks.Namun, mereka berpesan agar Arly tetap mengutamakan kuliah.

“Aku pernah berpengalaman kerja ngajar, ngajar sempoa, ngajar semua mata pelajaran, semua udah ku coba kak.Maksudnya kyak sebelumya aku enggak terlalu mendalami kali tentang barista gitu, tiba-tiba masuk, ya bersyukur kali”.

Sebelum bekerja sebagai barista, Arly pernah memiliki pengalaman mengajar berbagai macam pelajaran.Arly merupakan orang yang tidak suka berdiam diri dan suka mencoba hal-hal baru.Arly selalu mencari kesibukan agar kegiatan sepulang kuliah tidak membosankan.

“Pertama aku sempat kehilangan kawan di kampus kak. Karena di kampus kan banyak tugas kuliah yang dibagi jadi anggota kelompok.

Cuma aku yang enggak pernah aktif, ya pasti mereka „kan mungkin merasa kecewa, jadi enggak ditulis namaku. Cuma ya enggak masalah sih.

Tapi belakangan ini karena aku ikutan gabung, mereka aku suruh „yauda datang aja ke Merdeka Walk, ke Starbucks‟. Akhirnya datang, ngobrol-ngobrol, ya sekarang sih menuutku baik-baik aja sih kak. Bahkan temanku ikut senang aku jadi barista. „kok bisa kerja di Starbucks? mantap lah‟

jadi respon teman aku juga bagus kak,”.

Kegiatan Arly yang begitu padat sedikit banyaknya berpengaruh bagi kehidupan sosial Arly. Ditengah-tengah kesibukannya ia harus bisa membagi waktu antara bekerja, bermain dengan teman-teman, mengahiskan waktu bersama kekasih dan menyisihkan waktu yang berkualitas untuk diri sendiri. Sewaktu awal bekerja menjadi barista Arly cukup kesulitan membagi waktu, tugas kuliah yang dibagikan tidak sedikit merupakan tugas kelompok, yang mengharuskan Arly untuk hadir dan berkontribusi dalam proses pengerjaan tugas tersebut.Meskipun awalnya teman-teman Arly sempat merasa Arly kurang berkontribusi, namun sekarang mereka mengerti betapa beratnya kegiatan yang dijalani Arly.

“enggak kak, harus pandai mengatur waktu juga. Aku juga menikmati semua kegiatanku, kuliah, jadi barista juga. Cuma ya itu, harus pandai mengatur waktu,”.

Arly mengaku bisa menyeimbangkan aktifitasnya ketika ditanya apakah bekerja sebagai barista mengganggu aktifitas rutinnya. Seiring berjalannya waktu Arly bisa mengatasi urusan kuliahnya dengan mengajak teman-temannya untuk datang ke tempatnya bekerja sambil mengerjakan tugas kuliah. Beberapa kali Arly

juga mentraktir teman-temannya karena ia merasa itu merupakan feedback yang wajar untuk dilakukan karena kesediaan mereka untuk tetap menerima Arly sebagai teman dengan keterbatasan waktu yang bisa Arly berikan untuk mereka.

“Sering juga dulu ada tetangga yang nyeritain kak „si Arly ini jadi perempuan enggak benar entahnya di luar sana, pulang-pulang malam‟.Tapi akhirnya aku kasih tahu.Nah, kebetulan ada tetanggaku pernah datang ke starbucks, terus dia ketemu samaku, yaudah aku cerita tentang kerjaanku.Sampai sekarang sih enggak ada aku dengar lagi cerita yang negatife tentang aku. Tetanggaku juga jadi nanya langsung „sekarang kerja di mana?‟. Aku ceritain lah kan kak. Satpamku juga tahu. Cuman dulu waktu aku awal-awal kerja pulang malam kayak baru nyampek rumah aja udah heboh satpam,”.

Tidak hanya di kalangan teman-teman kampus, sejak Arly menjalani profesi sebagai barista dan terkadang pulang larut malam menimbulkan pengaruh di kalangan tetangga sekitar tempat tinggal Arly.Arly bertempat tinggal di lingkungan komplek.Awal bekerja satpam komplek memiliki persepsi negatif terhadap Arly karena sering pulang larut malam.Tidak dipungkiri tetangga Arly juga sering berkomentar negatif ketika tahu Arly pulang larut malam sebelum mereka tahu bahwa alasan Arly karena bekerja. Namun pernah suatu ketika tanpa sengaja Arly bertemu seorang tetangganya yang hendak berkunjung ke starbucks, pada kesempatan itu Arly mengobrol dengan tetangganya tersebut dan akhirnya tetangganya pun merespon positif profesi yang dijalani Arly sehingga tidak ada lagi komentar negatif yang terdengar dari tetangga Arly.

“Aku pasti pernah lah kak mengalami kendala di kesehatan.Kami kanada namanya Call Sick, panggilan sakit.Nah, aku sering waktu itu.Kemarin pernah sampai aku ada benjolan gitu di badanku karena kecapean. Kayak kelenjar getah bening kak, karena kecapean „kan. Jadi, ya itulah efeknya. Terus kemarin sempat juga waktu mau ke tempat kerja kecelakaan ditabrak sama mobil. Wajarlahkayak gitu kak, banyaklah hambatan-hambatannya,”.

Pulang hingga larut malam juga memberikan efek yang kurang baik bagi kesehatan Arly. Pernah beberapa kali kondisi kesehatan Arly menurun akibat mengalami kelelahan yang menjadi penyebab Arly tidak bisa masuk kuliah.

Jauhnya jarak tempat tinggal Arly dengan tempat Arly bekerja juga menjadi

hambatan bagi Arly, suatu ketika pernah Arly terlibat kecelakaan yaitu ditabrak sebuah mobil ketika berangkat ke tempat kerja.

“Sebenarnya aku ngerasa kayak aku sekarang kak, aku masih sempat kerja, aku masih sempat kuliah, aku masih sempat jalan-jalan, masih sempat hedon, masih sempat semuanya kayak gitu,masih sempat pacaran. Jadi kayak enggak yang jadi kendala kak. Yang penting tahu ngatur waktu aja. Misalnya aku kan kerja lima hari, dua hari libur. Yaudah dua hari libur ini aku bisa jalan-jalan, aku bisa ngelakuin semuanya. Di lima hari kerja ya, emang betul-betul kerja gitu kak. Kerja dan istirahat. Di dua hari ini lah baru betul-betul kayak jalan sama teman, misalnya ngerayain ulang

“Sebenarnya aku ngerasa kayak aku sekarang kak, aku masih sempat kerja, aku masih sempat kuliah, aku masih sempat jalan-jalan, masih sempat hedon, masih sempat semuanya kayak gitu,masih sempat pacaran. Jadi kayak enggak yang jadi kendala kak. Yang penting tahu ngatur waktu aja. Misalnya aku kan kerja lima hari, dua hari libur. Yaudah dua hari libur ini aku bisa jalan-jalan, aku bisa ngelakuin semuanya. Di lima hari kerja ya, emang betul-betul kerja gitu kak. Kerja dan istirahat. Di dua hari ini lah baru betul-betul kayak jalan sama teman, misalnya ngerayain ulang

Dokumen terkait