• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.44364/PP/M.II/16/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.44364/PP/M.II/16/2013"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.44364/PP/M.II/16/2013 Jenis Pajak : Pajak Pertambahan Nilai

Tahun Pajak : 2007

Pokok Sengketa : bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah pengajuan banding terhadap koreksi DPP PPN Masa Pajak Juli s.d. Desember 2007 sebesar (Rp.64.354.951.322,00) yang mengakibatkan selisih Pajak Keluaran sebesar Rp 2.346.921.283,00;

Koreksi Pajak Keluaran (PPN yang harus dipungut sendiri) sebesar Rp 2.346.921.283,00

A. PPN Keluaran sebesar Rp2.234.339.515,00 atas penyerahan Working Capital Service Fee, Coal Haulage Fuel Supply dan Price Escalation dan Recharge

Menurut Terbanding

: bahwa koreksi atas PPN yang harus dipungut sendiri dilakukan Terbanding (Pemeriksa) karena terdapat penyerahan Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, dan Price Escalation yang seharusnya dikenakan tarif PPN sebesar 10%, namun oleh Pemohon Banding dihitung dengan tarif sebesar 5%;

bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah perbedaan penafsiran apakah Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, Price Escalation dan Recharge merupakan Barang Kena Pajak yang terutang PPN dengan tarif 10% atau merupakan Jasa Kena Pajak dengan tarif 5% dengan jumlah koreksi menurut Terbanding sebesar Rp.2.234.339.515,00, namun demikian, dalam Surat Banding, atas koreksi sebesar Rp.108.772.286,00 (koreksi atas selisih faktur pajak sederhana) dan sebesar Rp.3.809.480,00 juga diajukan banding, tetapi Pemohon Banding tidak menjelaskan lebih lanjut alasan bandingnya;

Menurut Pemohon Banding

: bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi Terbanding karena Pemohon Banding telah menerbitkan faktur pajak atas penyerahan yang terutang Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan yang berlaku, justru Terbanding tidak pernah dapat menunjukkan bukti adanya penyerahan yang belum dipungut PPN-nya;

bahwa penyerahan Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, Price Escalation dan Recharge merupakan penyerahan Jasa Pertambangan ( Jasa Kena Pajak) dengan pengertian dalam Undang-undang PPN, peraturan Direktur Jenderal Pajak mengenai pemotongan pajak atas Jasa dan isi dari contract, jelas disebutkan bahwa termasuk dalam Jasa Konstruksi adalah mencakup pekerjaan untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain. Termasuk dalam nilai jasa konstruksi menurut PER-70 adalah imbalan yang dibayarkan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material/ barang;

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(2)

Menurut Majelis : bahwa koreksi atas PPN yang harus dipungut sendiri dilakukan Terbanding (Pemeriksa) karena terdapat penyerahan Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, dan Price Escalation yang seharusnya dikenakan tarif PPN sebesar 10%, namun oleh Pemohon Banding dihitung dengan tarif sebesar 5%;

bahwa menurut Pemohon Banding, Terbanding menganggap adanya penyerahan fuel yang baru dibayar sebagian PPN-nya. Hal ini tidak sesuai dengan bukti dan fakta bahwa kegiatan penyerahan Pemohon Banding yang Pemohon Banding lakukan kepada PT. FG (KPC) adalah kegiatan jasa pertambangan yang terutang PPN dan Pemohon Banding pun telah memungut PPN atas seluruh nilai penggantian jasa pertambangan. Kegiatan Pemohon Banding bukanlah kegiatan penyerahan fuel kepada KPC;

bahwa menurut Pemohon Banding, penyerahan Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, Price Escalation dan Recharge merupakan penyerahan Jasa Pertambangan (Jasa Kena Pajak) dengan pengertian dalam Undang-undang PPN, peraturan Direktur Jenderal Pajak mengenai pemotongan pajak atas Jasa dan isi dari contract tersebut di atas, jelas disebutkan bahwa termasuk dalam Jasa Konstruksi adalah mencakup pekerjaan untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain. Termasuk dalam nilai jasa konstruksi menurut PER-70/PJ/2007 tanggal 9 April 2007 adalah imbalan yang dibayarkan seluruhnya termasuk pemberian jasa dan pengadaan material/ barang;

bahwa menurut Pemohon Banding, penyerahan working capital ke KPC adalah penyerahan Jasa Kena Pajak, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari jasa pertambangan yang dilakukan oleh Pemohon Banding, dan bukan penyerahan Barang Kena Pajak sehingga tarif yang ditetapkan adalah 5%;

bahwa dalam persidangan Pemohon Banding mengajukan bukti pendukung berupa : Bengalon Operating Agreement Mining Service,

Surat Kanwil DJP WP Besar Nomor: S-185/WPJ.19/2009 tanggal 27 Februari 2009, Surat Dirjen Pajak Nomor: S-1067/PJ-53/2003 tanggal 3 November 2003,

1 set Sample Progress Claim dan tagihannya untuk periode April 2007 (invoice DH/KPC/01/05/2007 tanggal 25 Mei 2007, Faktur Pajak 0X0.000.0X.00000007 25 Mei 2007 dan Progresss Claim Confirmation),

Surat Dirjen Pajak Nomor: S-1437/PJ 51/1993 tanggal 4 Juli 19993 kepada PT FG;

bahwa Terbanding dan Pemohon Banding telah melakukan uji bukti dengan hasil sebagai berikut:

bahwa dalam persidangan Terbanding memberikan tanggapan sebagai berikut:

bahwa Pemohon Banding melakukan penagihan kepada PT. FG atas biaya yang telah dikeluarkan Pemohon Banding untuk penyediaan infrastruktur (Working Capital Service Fee), Coal Haulage Supply, Price Escalation dan Recharge;

bahwa Working Capital merupakan barang berwujud (Barang Kena Pajak) berupa prasarana fisik di wilayah tambang seperti gedung kantor, vehicle workshop, gudang, fasilitas bahan bakar dan pelumas dan lain-lain (sesuai kontrak halaman 12 dan schedule 4 working capital);

bahwa Coal Haulage Fuel Supply adalah barang berupa bahan bakar (solar). Solar ini dibeli oleh Pemohon Banding dan digunakan oleh PT. DMP untuk kegiatan pengangkutan batubara. Dalam tagihan dari Pemohon Banding ke PT. FG jelas memisahkan antara jasa angkutan dan beban solar yang digunakan oleh PT. DMP atas perintah dari PT. FG;

bahwa Price Escalation merupakan pembayaran atas penggantian bahan bakar yang digunakan untuk kegiatan pertambangan. Perhitungan tagihan dari Pemohon Banding ke PT. FG jelas memisahkan unsur bahan bakar tersebut;

bahwa berdasarkan Pasal 1 A ayat (1) huruf a dan e Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian dan persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak;

bahwa berdasarkan Pasal 1 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak dan barang tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-undang ini adalah Barang Kena Pajak;

bahwa sesuai dengan Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha;

bahwa sesuai dengan Pasal 4A ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, Working Capital Service Fee, Coal Haulage Supply, Price Escalation dan Recharge yang merupakan Barang Kena Pajak, yaitu berupa gedung kantor, vehicle workshop, fasilitas bahan bakar/pelumas, gudang, bahan bakar (solar) tidak termasuk dalam kelompok jenis barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai;

bahwa mengenai Surat Direktur Jenderal Pajak Nomor: S-1067/PJ.53/2003 tanggal 3 November 2003, sebagai bukti pendukung lainnya, Terbanding berpendapat surat tersebut hanya memberi penegasan bahwa karena telah diatur secara khusus dalam perjanjian kerja pengusahaan pertambangan batubara, maka atas penyerahan Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh PT. QQ kepada PT. XYZ terutang PPN dengan tarif 5% dikalikan biaya yang diminta seharusnya diminta oleh pemberi jasa yaitu PT. QQ.

Namun demikian dalam surat tersebut tidak menyatakan bahwa Working Capital, Coal Haulage Supply, Price Escalation merupakan Jasa Kena Pajak. Disamping itu pula Terbanding berpendapat bahwa surat tidak dapat dijadikan sebagai sebuah dasar hukum karena surat bersifat tertentu dan spesifik;

bahwa sesuai dengan Legal Character PPN diantaranya bahwa PPN merupakan pajak objektif, dimana suatu jenis pajak yang saat timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh faktor objektif, yaitu adanya taatbestand (keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak yang juga disebut dengan nama objek pajak). Sebagai pajak objektif, timbulnya kewajiban untuk membayar PPN ditentukan oleh adanya objek pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000;

bahwa sangat jelas bahwa Undang-undang sendiri telah membedakan definisi Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak sehingga objek pajaknya pun dipisahkan antara penyerahan BKP dan penyerahan JKP;

bahwa Undang-undang Perpajakan juga menganut azas substance over form dimana dalam menentukan objek pajak didasarkan pada substansi ekonominya bukan berdasarkan nama formalnya (kontrak);

bahwa dalam dokumen progress claim diketahui, bahwa tagihan yang disampaikan Pemohon Banding kepada PT. KPC merupakan tagihan atas penyerahan gedung kantor, vehicle workshop, fasilitas bahan bakar dan pelumas, gudang dan bahan bakar (solar) yang merupakan Barang Kena Pajak;

bahwa dengan demikian, Terbanding berpendapat bahwa substansi objek pajak dalam sengketa ini adalah penyerahan BKP dan bukan penyerahan JKP;

bahwa sesuai dengan penegasan Direktur Jenderal Pajak melalui surat nomor: S-1437/PJ.51/1993 tanggal 1 Juli 1993, atas penyerahan Jasa Kena Pajak dari Pengusaha Kena Pajak kepada PT. FG dikenakan PPN sebesar 5%, sedangkan atas penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak kepada PT. FG tetap sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu dikenakan PPN sebesar 10%;

bahwa Terbanding tetap berpendapat bahwa tagihan Pemohon Banding kepada PT. FG atas Working Capital Service Fee, Coal Haulage Supply, Price Escalation dan Recharge merupakan tagihan atas penyerahan Barang Kena Pajak dan bukan Jasa Kena Pajak, sehingga sesuai dengan surat Direktur Jenderal Pajak Nomor: S-1437/PJ.51/1993 tanggal 1 Juli 1993 dikenakan PPN dengan tarif 10%;

bahwa terkait dengan keputusan Keberatan Terbanding pada masa pajak sebelumnya, Terbanding berpendapat keputusan tersebut tidak dapat dijadikan yurisprudensi, karena Indonesia tidak menganut azas yurisprudensi dan juga tidak menganut azas the binding force of precedent (tidak terikat pada putusan sebelumnya);

bahwa dalam persidangan, Pemohon Banding memberikan tanggapan atas keterangan Terbanding tersebut sebagai berikut:

bahwa untuk sengketa pajak keluaran sejenis untuk Masa Pajak Juni 2007, Terbanding nyata-nyata telah setuju dan sependapat dengan Pemohon Banding bahwa atas seluruh kegiatan jasa kontraktor pertambangan berdasarkan Bengalon Operating Agreement Mining Services tertanggal 27 Mei 2004 (“BOAMS”), termasuk Working Capital dan Coal Haulage Supply, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jasa pertambangan batubara. Oleh karena itulah, kemudian Terbanding mengabulkan keberatan Pemohon Banding untuk sengketa pajak sejenis, yaitu untuk sengketa pajak keluaran Masa Pajak Juni 2007. Pendapat Terbanding ini dapat dilihat dalam Surat Kanwil DJP Wajib Pajak Besar Nomor: S-185/WPJ.19/2009 tanggal 27 Februari 2009 tentang pemberitahuan hasil penelitian keberatan beserta lampirannya;

bahwa dengan demikian, sudah sepatutnya dengan mempertimbangkan asas equal treatment dan in dubio contra fisco (dalam hal terdapat keragu-raguan, maka keputusan yang diambil harus berpihak kepada rakyat (Wajib Pajak), maka seharusnya diterapkan juga untuk sengketa pajak ini;

bahwa disamping itu, Terbanding juga mengakui bahwa atas penghasilan dari kontrak jasa pertambangan tersebut terutang PPh Pasal 23 dengan tarif 10% atas jasa. Pemotongan PPh Pasal 23 yang dilakukan oleh KPC adalah sebesar 10% sebagai pemotongan PPh Pasal 23 atas seluruh pembayaran sehubungan jasa kontraktor pertambangan (bukan jual beli barang).

Pemohon Banding justru telah selalu dipotong PPh Pasal 23 sebesar 10% atas seluruh tagihan, dan Terbanding baik saat memeriksa Pemohon Banding maupun PT. KPC sepanjang sepengetahuan Pemohon Banding tidak pernah melakukan koreksi negatif atas PPh Pasal 23 atas jasa karena diasumsikan penyerahan barang. Oleh karena itu, prinsip equal treatment seharusnya juga diterapkan oleh Terbanding dalam hal ini;

bahwa apabila Terbanding telah setuju bahwa atas suatu penghasilan merupakan objek PPh Pasal 23 atas jasa kontraktor pertambangan maka PPN yang dikenakan adalah PPN atas penyerahan jasa dengan tarif 5%;

bahwa berdasarkan penjelasan Pemohon Banding di atas tampak jelas bahwa penghasilan Pemohon Banding berasal dari jasa pertambangan batubara (kontraktor pertambangan batubara) yang Pemohon Banding serahkan seperti Coal Haulage Fuel Supply, Working Capital dan Price Escalation, bukan atas penyerahan barang;

bahwa dengan demikian maka tarif PPN atas jasa pertambangan tersebut adalah 5%. Sesuai dengan Undang-undang PPN No 18 Tahun 2000 Pasal 1 angka 5 menyatakan bahwa Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pesanan;

bahwa lebih lanjut Pasal 1 angka 17 Undang-undang PPN Nomor 18 Tahun 2000 menyatakan bahwa yang disebut Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor atau nilai lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang;

bahwa selanjutnya definisi “penggantian” menurut Pasal 1 angka 19 adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan jasa kena pajak, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak;

bahwa bukti pendukung lainnya adalah Surat Dirjen Pajak Nomor:S-1067/PJ.53/2003 tanggal 3 November 2003-PPN tarif 5% atas penyerahan JKP kepada lex specialist dimana dalam kesimpulannnya, menyatakan bahwa karena telah diatur secara khusus dalam perjanjian kerja pengusahaan pertambangan batubara antara PN batubara dengan PT XYZ (kontraktor), maka atas penyerahan Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak kepada kontraktor terutang Pajak Pertambahan Nilai dengan tarif 5% dikalikan dengan semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa;

bahwa terkait dengan Coal Haulage Fuel Supply, Terbanding seharusnya tidak mengenakan PPN sebesar 10% atas pemakaian fuel tersebut, karena tidak pernah ada penyerahan fuel dari Pemohon Banding kepada KPC, karena yang Pemohon Banding lakukan adalah penyerahan jasa pertambangan kepada KPC termasuk Coal Haulage (jasa pengiriman batubara) sesuai dengan ruang lingkup BOAMS. Perhitungan Coal Haulage Fuel Supply hanya merupakan selisih antara harga standar dan harga aktual fuel;

bahwa fuel (solar) dibutuhkan oleh Pemohon Banding untuk mengoperasikan peralatan berat (yang terdapat di schedule 5) misalnya excavator, drump truck, wheel loader, grader dan peralatan berat lainnnya yang digunakan didalam melaksanakan jasa pertambangan kepada KPC;

bahwa Fuel Supply ini bisa disediakan oleh KPC ataupun Pemohon Banding penagihan Coal Haulage Fuel Supply ini dilakukan oleh Pemohon Banding karena yang menyediakan Fuel Supply adalah Pemohon Banding;

bahwa Price Escalation adalah penyesuaian atas biaya pertambangan karena kenaikan biaya. Biaya dalam mengoperasikan jasa pertambangan dimana tertulis sebagai berikut: Escalasi (perbedaan antara harga standard dan harga aktual) atas tarif 1 s/d 3, berfluktuasi tergantung harga pasar dari biaya variable formula= Eskalasi harga X poin 1 s/d 3. Poin 1 s/d 3 yang dimaksud semuanya adalah merupakan tarif yang berkaitan dengan jasa kontraktor pertambangan batubara;

bahwa tugas Pemohon Banding adalah melakukan jasa kontraktor penambangan untuk keperluan PT.

KPC dan bukan transaksi jual beli. Oleh karena itu, menurut pendapat Pemohon Banding, koreksi Terbanding yang tidak mencerminkan prinsip equal treatment tersebut dan bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, sudah sepatutnya dibatalkan;

bahwa di Masa Pajak Juli-Desember 2007 tidak ada penyerahan barang (bangunan) milik Pemohon Banding kepada KPC. Sesuai dengan Pasal 2 Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 pengenaan PPN/Pajak Penjualan adalah tetap sesuai dengan kontrak pertambangan (KPCPertamina). Dalam hal ini, untuk jasa adalah 5% sesuai dengan yang dikonfirmasikan oleh ruliag dari Dirjen Pajak (tentang KPC) S- 1437/PJ.51/1993 tanggal 1 Juli 1993;

bahwa atas sengketa perbedaan tarif antara Pemohon Banding dengan Terbanding a quo, Majelis mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

bahwa Pasal 1 angka 5 Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai yang menyatakan sebagai berikut:

”5. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan”;

bahwa Pasal 1 angka 17 Undang-undang PPN Nomor 18 tahun 2000 menyatakan bahwa yang disebut Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Selanjutnya definisi “Penggantian” menurut Pasal 1 angka 19 adalah adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan Jasa Kena Pajak, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak;

bahwa berdasarkan Pasal 8 point 1 Variation to the Services dari “Bengalon Operating Agreement - Mining Services” (“BOAMS) halaman 46 disebutkan;

(b) ... the Company (“KPC”) may direct a change to the Services, including a direction to:

(i) Increase, decrease or omit any part of the services, (ii) Execute additional Services, or

(iii) Change the method of performing the Services;

(c) With the agreement of the Company:

(i) The Contractor (“Pemohon Banding”) to carry out Services beyond the production capacity of the Contractor, the Site Improvements, the Contractor supplied Plant and Equipment, or the Company Facilities or the Shared Facilities, or

(ii) A change in the nature of the Services to be provided or the quality or quantity of Coal to be mined, hauled and delivered to the ROM Crusher;

bahwa Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-170/PJ/2002 yang telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-178/PJ/2006 - PPh 23 atas jenis jasa lainnya dimana Pasal 1 menetapkan bahwa PPh 23 dipotong atas imbalan jasa dan material utk jasa konstruksi dan jasa catering. Lalu, untuk jasa lain selain jasa konstruksi dan catering, imbalan yang dibayarkan hanya dikenakan atas pemberian jasanya saja kecuali apabila dalam kontrak tidak dapat dipisahkan antara pemberian jasa dan material, maka akan dikenakan dari seluruh nilai kontrak;

bahwa menurut Pemohon Banding, atas penyerahan Progress Claim yang menjadi koreksi Terbanding, termasuk dalam hal ini adalah penggantian atas penyerahan working capital, tersebut KPC telah melakukan pemotongan PPh 23 atas seluruh nilai tagihan jasa pertambangan sebesar 10%;

bahwa sesuai dengan Article 11.2 (ii) huruf b perjanjian antara Perusahaan Negara Tambang Batubara dengan PT. KPC tanggal 8 April 1982 yang menyebutkan mengenai tariff PPh pemotongan yakni “other payments made by Contractor including but not limited to fees for technical services based on the prevailing laws and regulations in Indonesia at a rate of ten percent (10%)”;

bahwa pengertian dari perjanjian antara Perusahaan Negara Tambang Batubara dengan KPC tanggal 8 April 1982 tersebut, KPC berpendapat bahwa seluruh bagian dari Progress Claim bulan Juli sampai dengan Desember 2006 tersebut adalah penyerahan jasa pertambangan sehingga harus dipotong PPh 23 sebesar 10% ;

bahwa berdasarkan angka 4 Surat Direktur Jenderal Pajak Nomor : S-1437/PJ.51/1993 tanggal 1 Juli 1993 tentang Pajak Pertambahan Nilai atas Jasa dijelaskan : “Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kepada PT FG yang pada waktu pendiriannya merupakan perusahaan patungan antara Conzinc Riotinto of Australia Ltd., dan The British Petroleum Company, khusus dalam pengusahaan batu bara berlaku ketentuan perpajakan sebagaimana di atur dalam Pasal 11 Perjanjian antara PN Tambang Batu Bara dengan PT FG, yaitu atas penyerahan Jasa Kena Pajak kepada PT FG dikenakan PPN sebesar 5%, sedangkan atas penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak kepada “PT Prima Coal”

tetap sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku yaitu dikenakan PPN sebesar 10%”;

bahwa pada angka 1 lampiran Pemberitahuan Daftar Hasil Penelitian Keberatan SKPLB PPN Barang dan Jasa Nomor 00020/407/07/091/08 tanggal 31 Maret 2008 Masa Pajak Juni 2007 a.n. PT. XXX. Dari Surat Kepala Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Nomor : S-185/WPJ.19/2009 tanggal 27 Februari 2009 tentang Pemberitahuan Hasil Penelitian Keberatan dan Permintaan Tanggapan dijelaskan bahwa atas koreksi PPN Keluaran sebesar Rp.551.548.654 yang dilakukan oleh Pemeriksa tidak dapat dipertahankan oleh Peneliti Keberatan dengan dasar argumenetasi Working Capital dan Coal Heulage Fuel Supply bagian yang tidak terpisahkan dari jasa pertambangan batu bara;

bahwa berdasarkan pemeriksaan atas bukti-bukti yang diberikan oleh Pemohon Banding dalam persidangan berupa Bengalon Operating Agreement Mining Services, Agreement between Perusahaan Negara Tambang Batubara and P.T. FG, Direktur Jenderal Pajak Nomor : S-1437/PJ.51/1993 tanggal 1 Juli 1993, Surat Kepala Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar Nomor : S-185/WPJ.19/2009 tanggal 27 Februari 2009, dan sample progress claim, keterangan Terbanding dan Pemohon Banding, Majelis berkesimpulan penagihan kepada PT FG (KPC) atas biaya yang telah dikeluarkan Pemohon Banding untuk menyediakan infrastruktur (Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, Price escalation) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jasa pertambangan batu bara;

bahwa menurut Majelis, karena penagihan kepada PT FG (KPC) atas biaya yang telah dikeluarkan Pemohon Banding untuk menyediakan infrastruktur (Working Capital, Coal Haulage Fuel Supply, Price escalation) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jasa pertambangan batu bara, maka tarif PPN yang dikenakan adalah sebesar 5% sesuai dengan Surat Direktur Jenderal Pajak Nomor: S- 1437/PJ.51/1993 tanggal 1 Juli 1993 tentang Pajak Pertambahan Nilai;

bahwa dengan demikian, Majelis berkesimpulan koreksi Terbanding atas PPN Keluaran sebesar Rp2.234.339.515,00 tidak dapat dipertahankan;

B. Koreksi PPN yang harus dipungut sendiri atas selisih Faktur Pajak Sederhana sebesar Rp108.772.286,00

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(3)

Menurut Terbanding

: bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksaan Pajak Nomor: LAP-060/WPJ.19/KP.01/2009 tanggal 15 April 2009, diketahui atas omzet yang berdasarkan faktur pajak sederhana faktur pajak nomor 0000001 dan 0000002 dari KCL dan SHL telah diakui oleh Pemeriksa dalam pemeriksaan tahun pajak 2006 sebesar USD 9,572,806.79 oleh karena itu Pemeriksa hanya melakukan koreksi atas selisih sebesar USD 115,565.21 atau sebesar Rp 1.087.722.870,00;

Menurut Pemohon Banding

: bahwa dalam Surat Banding dan Surat Bantahannya Pemohon Banding tidak menjelaskan lebih lanjut alasan bandingnya;

Menurut Majelis : bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksaan Pajak Nomor: LAP-060/WPJ.19/KP.01/2009 tanggal 15 April 2009, diketahui atas omzet yang berdasarkan faktur pajak sederhana faktur pajak nomor 0000001 dan 0000002 dari KCL dan SHL telah diakui oleh Pemeriksa dalam pemeriksaan tahun pajak 2006 sebesar USD 9,572,806.79 oleh karena itu Pemeriksa hanya melakukan koreksi atas selisih sebesar USD 115,565.21 atau sebesar Rp 1.087.722.870,00;

bahwa dalam Surat Banding, Surat Bantahan dan dalam persidangan Pemohon Banding tidak menjelaskan alasan bandingnya dan tidak menyampaikan dokumen pendukung apapun;

bahwa oleh karena Pemohon Banding tidak menjelaskan alasan bandingnya, maka Majelis berpendapat bahwa koreksi PPN yang harus dipungut sendiri atas selisih Faktur Pajak Sederhana sebesar Rp108.772.286,00 tetap dipertahankan;

C. Koreksi PPN atas penjualan aktiva sebesar Rp3.809.480

Menurut Terbanding

: bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksaan Pajak Nomor: LAP-060/WPJ.19/KP.01/2009 tanggal 15 April 2009, diketahui terdapat koreksi atas penjualan aktiva yang belum dilaporkan sebesar USD 4,057.56 atau sebesar Rp 38.094.808,00;

Menurut Pemohon Banding

: bahwa dalam Surat Banding dan Surat Bantahannya Pemohon Banding tidak menjelaskan lebih lanjut alasan bandingnya;

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(4)

Menurut Majelis : bahwa berdasarkan Laporan Pemeriksaan Pajak Nomor: LAP-060/WPJ.19/KP.01/2009 tanggal 15 April 2009, diketahui terdapat koreksi atas penjualan aktiva yang belum dilaporkan sebesar USD 4,057.56 atau sebesar Rp 38.094.808,00;

bahwa dalam Surat Banding, Surat Bantahan dan dalam persidangan Pemohon Banding tidak menjelaskan alasan bandingnya dan tidak menyampaikan dokumen pendukung apapun;

bahwa oleh karena Pemohon Banding tidak menjelaskan alasan bandingnya, maka Majelis berpendapat bahwa koreksi PPN atas penjualan aktiva sebesar Rp3.809.480,00 tetap dipertahankan;

bahwa dengan demikian atas sengketa PPN Pajak Keluaran yang dipertahankan dan dibatalkan oleh Majelis adalah sebagai berikut :

No Koreksi PPN Keluaran

Nilai Sengketa (Rp)

Dipertahankan Majelis (Rp)

Dibatalkan Majelis (Rp) A PPN Keluaran atas

penyerahan Working Capital Service Fee, Coal Haulage Fuel Supply dan Price Escalation dan Recharge

2.234.339.515,00 0,00 2.234.339.515,00

B PPN Keluaran yang harus dipungut sendiri atas selisih Faktur Pajak Sederhana

108.772.286,00 108.772.286,00 0,00

C PPN Keluaran atas penjualan aktiva

3.809.480,00 3.809.480,00 0,00

Jumlah (pembulatan)

2.346.921.283,00 112.581.766 2.234.339.515,00

Sengketa mengenai Pajak Masukan sebesar Rp 907.562.180,00 Menurut

Terbanding

: bahwa Terbanding (Pemeriksa) melakukan koreksi atas Pajak Masukan sebesar Rp.907.562.180,00 dengan alasan bahwa Pajak Masukan tersebut berasal dari perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha;

Menurut Pemohon Banding

: bahwa atas koreksi sebesar Rp.907.562.180,00 terhadap PPN Masukan Masa Juli sampai dengan Desember 2007, Pemohon Banding mengajukan banding atas semua koreksi kecuali koreksi atas CV. HH sebesar Rp.6.334.700,00. Sedangkan, atas jumlah sebesar Rp.896.772.479,70 Pemohon Banding tidak setuju karena menurut Pemohon Banding biaya-biaya yang dikeluarkan terkait dengan PPN Masukan sejumlah Rp.896.772.479,70 tersebut mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha;

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(5)

Menurut Majelis : bahwa Terbanding melakukan koreksi atas Pajak Masukan sebesar Rp.907.562.180,00 dengan alasan bahwa Pajak Masukan tersebut berasal dari perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (8) huruf b Undang-ndang PPN;

bahwa atas koreksi sebesar Rp.907.562.180,00 terhadap PPN Masukan Masa Juli sampai dengan Desember 2007, Pemohon Banding mengajukan banding atas semua koreksi kecuali koreksi atas CV. HH sebesar Rp.6.334.700,00, sehingga koreksi PPN Masukan yang tidak disetujui oleh Pemohon Banding adalah sebesar Rp 901.227.480,00 dengan perincian sebagai berikut :

Deskripsi Koreksi DPP (Rp) PPN (Rp)

AA, PT BB, PT DD, PT FF, PT CC, PT

37.900.000 66.546.390 897.298.000 49.000.000 7.961.530.407

3.790.000 6.654.639 89.729.800 4.900.000 796.153.041

Pemohon Banding tidak setuju Pemohon Banding tidak setuju Pemohon Banding tidak setuju Pemohon Banding tidak setuju Pemohon Banding tidak setuju

TOTAL 9.012.274.797 901.227.480

bahwa Pemohon Banding tidak setuju dengan koreksi Terbanding atas PPN Masukan dengan total sebesar Rp901.227.480,00 karena menurut Pemohon Banding biaya-biaya yang dikeluarkan mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha;

bahwa menurut Pemohon Banding sengketa Pajak Masukan hanya terkait masalah konsep dimana menurut Terbanding tidak dapat dikreditkan sedangkan menurut Pemohon Banding dapat dikreditkan;

bahwa menurut Pemohon Banding jumlah Pajak Masukan yang Pemohon Banding ajukan banding sebesar Rp901.220.479,00 terdiri atas:

Faktur Pajak atas nama PT. CC 6 Faktur Pajak, Faktur Pajak atas nama PT. DD 102 Faktur Pajak, Faktur Pajak atas nama PT. BB 13 Faktur Pajak, Faktur Pajak atas nama PT. FF 10 Faktur Pajak,

Faktur Pajak atas nama PT. AA Indonesia Finance 5 Faktur Pajak, 136 Faktur Pajak;

bahwa atas sengketa Koreksi Pajak Masukan sesuai Pasal 9 ayat (8) huruf b Undang-undang PPN sebesar Rp901.220.479,00, Majelis mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

Transaksi dengan PT. AA

bahwa sejalan dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000 beserta penjelasannya, Majelis berpendapat bahwa sepanjang memenuhi ketentuan Faktur Pajak Masukan (PM) secara material dan formal, Pajak Masukan atas pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha yaitu pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran dan manajemen, dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, berkaitan dengan Pajak Masukan atas sewa kendaraan sebesar Rp.3.790.000,00, Majelis berpendapat bahwa pengeluaran biaya sewa kendaraan dalam rangka kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000, karena merupakan biaya dalam rangka terlaksananya kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai praktek bisnis secara wajar, sehingga Pajak Masukannya dapat dikreditkan Pemohon Banding;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian atas bukti-bukti Invoice, Faktur Pajak, dan Rekening Koran, Majelis berpendapat bahwa Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp.3.790.000,00 sehingga Majelis berkesimpulan bahwa Pemohon Banding dapat meng- kreditkan Pajak Masukan sebesar Rp. 3.790.000,00 tersebut;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, karena pengeluaran biaya sewa kendaraan untuk keperluan operasional kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding dan Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp. 3.790.000,00, Majelis berpendapat atas Pajak Masukan sebesar Rp. 3.790.000,00 secara yuridis fiskal dapat dikreditkan sebagai kredit pajak PPN, sehingga Majelis berkesimpulan koreksi Pajak Masukan oleh Terbanding sebesar Rp3.790.000,00 tidak dapat dipertahankan;

Transaksi dengan PT. BB

bahwa sejalan dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000 beserta penjelasannya, Majelis berpendapat bahwa sepanjang memenuhi ketentuan Faktur Pajak Masukan (PM) secara material dan formal, Pajak Masukan atas pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha yaitu pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran dan manajemen, dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, berkaitan dengan Pajak Masukan atas sewa kendaraan sebesar Rp.6.654.639,00, Majelis berpendapat bahwa pengeluaran biaya sewa kendaraan dalam rangka kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000, karena merupakan biaya dalam rangka terlaksananya kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai praktek bisnis secara wajar, sehingga Pajak Masukannya dapat dikreditkan Pemohon Banding;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian atas bukti-bukti Invoice, Faktur Pajak, dan Rekening Koran, Majelis berpendapat bahwa Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp. 6.654.639,00 sehingga Majelis berkesimpulan bahwa Pemohon Banding dapat meng- kreditkan Pajak Masukan sebesar Rp. 6.654.639,00 tersebut;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, karena pengeluaran biaya sewa kendaraan untuk keperluan operasional kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding dan Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp. 6.654.639,00, Majelis berpendapat atas Pajak Masukan sebesar Rp. 6.654.639,00 secara yuridis fiskal dapat dikreditkan sebagai kredit pajak PPN, sehingga Majelis berkesimpulan koreksi Pajak Masukan oleh Terbanding sebesar Rp. 6.654.639,00 tidak dapat dipertahankan;

Transaksi dengan PT. DD

bahwa sejalan dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000 beserta penjelasannya, Majelis berpendapat bahwa sepanjang memenuhi ketentuan Faktur Pajak Masukan (PM) secara material dan formal, Pajak Masukan atas pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha yaitu pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran dan manajemen, dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, berkaitan dengan Pajak Masukan atas sewa kendaraan sebesar Rp.89.729.800,00, Majelis berpendapat bahwa pengeluaran biaya sewa kendaraan dalam rangka kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000, karena merupakan biaya dalam rangka terlaksananya kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai praktek bisnis secara wajar, sehingga Pajak Masukannya dapat dikreditkan Pemohon Banding;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian atas bukti-bukti Invoice, Faktur Pajak, dan Rekening Koran, Majelis berpendapat bahwa Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp. 89.729.800,00 sehingga Majelis berkesimpulan bahwa Pemohon Banding dapat meng- kreditkan Pajak Masukan sebesar Rp. 89.729.800,00 tersebut;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, karena pengeluaran biaya sewa kendaraan untuk keperluan operasional kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding dan Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp. 89.729.800,00, Majelis berpendapat atas Pajak Masukan sebesar Rp. 89.729.800,00 secara yuridis fiskal dapat dikreditkan sebagai kredit pajak PPN, sehingga Majelis berkesimpulan koreksi Pajak Masukan oleh Terbanding sebesar Rp. 89.729.800,00 tidak dapat dipertahankan;

Transaksi dengan PT. FF

bahwa sejalan dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000 beserta penjelasannya, Majelis berpendapat bahwa sepanjang memenuhi ketentuan Faktur Pajak Masukan (PM) secara material dan formal, Pajak Masukan atas pengeluaran yang langsung berhubungan dengan kegiatan usaha yaitu pengeluaran untuk kegiatan produksi, distribusi, pemasaran dan manajemen, dapat dikreditkan sebagai Pajak Masukan;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, berkaitan dengan Pajak Masukan atas sewa kendaraan sebesar Rp.4.900.000,00, Majelis berpendapat bahwa pengeluaran biaya sewa kendaraan dalam rangka kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai dengan Pasal 9 ayat 8 (b) Undang-undang PPN Nomor 18/2000, karena merupakan biaya dalam rangka terlaksananya kegiatan usaha Pemohon Banding sesuai praktek bisnis secara wajar, sehingga Pajak Masukannya dapat dikreditkan Pemohon Banding;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian atas bukti-bukti Invoice, Faktur Pajak, dan Rekening Koran, Majelis berpendapat bahwa Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp.4.900.000,00 sehingga Majelis berkesimpulan bahwa Pemohon Banding dapat meng- kreditkan Pajak Masukan sebesar Rp. 4.900.000,00 tersebut;

bahwa berdasarkan pemeriksaan dan pembuktian tersebut, karena pengeluaran biaya sewa kendaraan untuk keperluan operasional kegiatan usaha merupakan pengeluaran yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha Pemohon Banding dan Pemohon Banding telah melakukan pembayaran atas Pajak Masukan sebesar Rp. 4.900.000,00, Majelis berpendapat atas Pajak Masukan sebesar Rp. 4.900.000,00 secara yuridis fiskal dapat dikreditkan sebagai kredit pajak PPN, sehingga Majelis berkesimpulan koreksi Pajak Masukan oleh Terbanding sebesar Rp. 4.900.000,00 tidak dapat dipertahankan;

Transaksi dengan PT. CC

bahwa dalam persidangan, Pemohon Banding menunjukkan bukti pendukung berupa:

Faktur Pajak atas nama PT. CC, Invoice PT. CC,

Rekening Koran GG Bank, Foto-foto terkait;

bahwa menurut Majelis, lokasi penambangan batu bara (site) terletak di daerah terpencil (di tengah hutan dan jauh dari masyarakat pada umumnya). Makanan dan minuman sebagai kebutuhan dasar/primer manusia harus disediakan oleh perusahaan karena tidak ada alternatif lain yang lebih efisien dalam penyediannya;

bahwa dasar Keputusan Dirjen Pajak nomor: KEP-91/WPJ.19/2007 tanggal 29 Agustus 2007 tentang penetapan lokasi pertambangan batu bara sebagai daerah terpencil untuk keperluan Pajak Penghasilan (PPh), menurut Pemohon Banding tetap relevan dengan dasar pengkreditan PPN dengan alasan sebagai berikut:

Dasar Keputusan Dirjen Pajak tersebut didasarkan atas pemeriksaan ke lokasi/site Pemohon Banding,

Setelah Keputusan diterbitkan, Dirjen pajak tetap melakukan administrasi dan pengawasan atas perkembangan kegiatan usaha di lokasi Pemohon Banding,

Dan sampai saat ini, Keputusan Dirjen Pajak bahwa lokasi/site Pemohon Banding terletak di daerah terpencil tetap tidak berubah dan tetap berlaku;

bahwa berdasarkan penelitian Majelis atas bukti pendukung yang disampaikan Pemohon Banding serta keterangan dari para pihak, diketahui bahwa Pajak Masukan yang disengketakan berhubungan dengan transaksi yang dilakukan oleh Pemohon Banding yang terkait dengan pembayaran catering dilokasi penambangan;

bahwa berdasar Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor : KEP-91/WPJ.19/2007 tanggal 29 Agustus 2007 lokasi usaha Pemohon Banding tersebut telah ditetapkan sebagai daerah terpencil, menandakan bahwa terdapat pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh Pemohon Banding untuk keperluan karyawannya yang tidak dapat dihindari atau menjadi keharusan dalam rangka proses menghasilkan barang kena pajak antara lain pengeluaran-pengeluaran yang pajak masukannya menjadi sengketa dalam perkara banding ini;

bahwa berdasar bukti-bukti sebagaimana dikemukakan oleh Pemohon Banding serta pertimbangan tersebut di atas, Majelis berpendapat bahwa Pajak Masukan yang dikoreksi oleh Terbanding yaitu PPN Masukan dari PT. CC sebesar Rp. 796.153.041,00 adalah berkaitan dengan perolehan barang/jasa kena pajak yang berhubungan langsung dengan kegiatan usaha, sehingga tidak seharusnya dikelompokkan sebagai Pajak Masukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b Undang-undang Nomor Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000;

bahwa berdasar hasil pemeriksaan dan pembuktian tersebut di atas, Majelis berpendapat bahwa karena pengeluaran tersebut juga mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha karena merupakan keharusan bagi Pemohon Banding dalam rangka terlaksananya kegiatan usaha mengingat lokasi Pemohon Banding adalah daerah terpencil, sesuai yang telah ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak dalam keputusan No. KEP-91/WPJ.19/2007 tanggal 29 Agustus 2007, maka tidak seharusnya Terbanding melakukan koreksi berdasar ketentuan Pasal 9 ayat (8) huruf b Undang-undang Nomor Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000;

bahwa berdasarkan uraian dan keterangan tersebut diatas, Majelis berpendapat terdapat cukup bukti yang mendukung penjelasan Pemohon Banding dengan demikian koreksi PPN Masukan dari PT. CC sebesar Rp. 796.153.041,00 tidak dapat dipertahankan;

bahwa berdasarkan uraian tersebut diatas, sengketa Pajak Masukan yang dipertahankan dan dibatalkan oleh Majelis adalah sebagai berikut :

No Koreksi Pajak Masukan

Nilai Sengketa (Rp)

Dipertahankan Majelis (Rp)

Dibatalkan Majelis (Rp)

1 PT AA 3.790.000,00 0,00 3.790.000,00

2 PT BB 6.654.639,00 0,00 6.654.639,00

3 PT DD 89.729.800,00 0,00 89.729.800,00

4 PT FF 4.900.000,00 0,00 4.900.000,00

5 PT CC 796.153.041,00 0,00 796.153.041,00

Jumlah 901.227.480,00 0,00 901.227.480,00

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

(6)

Menimbang : bahwa dalam sengketa banding ini tidak terdapat sengketa mengenai sanksi administrasi, kecuali bahwa besarnya sanksi administrasi tergantung pada penyelesaian sengketa lainnya;

Mengingat : Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak dan ketentuan perundang-undang lainnya serta peraturan hukum yang berlaku dan yang berkaitan dengan perkara ini;

Memutuskan : Menyatakan mengabulkan sebagian banding Pemohon Banding terhadap Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP-216/WPJ.19/BD.05/2010 tanggal 21 Mei 2010, tentang Keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PPN Barang dan Jasa Penyerahan BKP dan/atau JKP Nomor:

00004/407/07/091/09 tanggal 16 April 2009 Masa Pajak Juli sampai dengan Desember 2007, atas nama:

PT. XXX, sehingga penghitungan pajak menjadi sebagai berikut:

Pajak Keluaran yang harus dipungut/dibayar sendiri

Rp 52.632.144.231.00 Pajak Masukan yang dapat

diperhitungkan

Rp 105.429.737.326,00 PPN Kurang (Lebih) Bayar Rp (52.797.593.095,00) Kelebihan yang sudah

dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya

Rp 0,00

PPN Yang Kurang (Lebih) Bayar

Rp (52.797.593.095,00)

Dokumen ini diketik ulang dan diperuntukan secara eksklusif untuk www.ortax.org dan TaxBase, 2022

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa berkenaan dengan amar pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Pajak yang tertuang dalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor: Put.24384/PP/M.IV/16/2010 tanggal 30 Juni 2010 tersebut

Bahwa didalam Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.54710/PP/M.IIB/16/2014 tanggal 17 Juli 2014 telah terdapat kekhilafan Majelis Hakim karena dalam putusannya Majelis Hakim

bahwa dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas dapat diketahui bahwa saat terutangnya Pajak menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa

Bahwa setelah Pemohon Peninjauan Kembali (semula Terbanding) membaca, meneliti dan mempelajari lebih lanjut atas Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.36702/PP/M.I/16/2012 tanggal

bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 23 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yaitu Putusan Pengadilan Pajak Nomor Put.45933/PP/M.III/15/2013 tanggal 27 Juni 2013 diberitahukan

bahwa Terbanding menghitung nilai penyerahan atas barang yang dijual berdasarkan penurunan saldo aktiva tetap pada laporan keuangan komersial tahun 2008.. bahwa

bahwa dari hasil pemeriksaan Majelis atas data yang ada di dalam berkas banding diperoleh petunjuk bahwa penetapan nilai pabean yang dilakukan oleh Pejabat Pemeriksa Dokumen pada