2. TINJAUAN LITERATUR
2.1. Tinjauan Mengenai Pusat Seni Kriya Secara harafiah kata “Pusat” berarti :
a. Tempat yang menjadi pokok pangkal atau yang menjadi tumpuan berbagai urusan , hal, dan sebagainya (K.B.B.I 1990).
b. Suatu tempat pemusatan aktivitas / pokok pangkal berbagai urusan (WJS.Poerwodarminto, 1991).
c. Sebuah area yang memiliki luasan tertentu yang merupakan ruang yang fleksibel dan dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
(Chiara 384).
Dengan demikian pusat seni kriya adalah :
Suatu tempat yang menjadi pokok pangkal, yang menjadi tumpuan hal-hal yang berhubungan dengan seni kriya, seperti informasi-informasi dan produk- produk seni kriya, pelatihan, seminar dan sebagainya.
2.2. Tinjauan Mengenai “ Nusantara”.
Kata Nusantara yang dikenal saat ini merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan wilayah kepulauan di Indonesia yang membentang dari Sumatera sampai Papua. Pada awalnya istilah Nusantara digunakan untuk menggambarkan konsep kenegaraan yang dianut Majapahit.
Kata Nusantara tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa pada abad ke-12 hingga ke-16, dan digunakan dalam konsep kenegaraan Jawa (abad 13-15). Satu kerajaan yang diapaki menjadi teladan adalah Kerajaan Majapahit.
Negara dibagi menjadi tiga bagian wilayah:
a. Negara Agung b. Mancanegara
c. Nusantara Berarti pulau lain (di luar pulau Jawa), yang diklaim sebagai daerah taklukan. Dalam Kitab Negarakertagama tercantum wilayah-wilayah
"Nusantara", pada masa sekarang (abad 21) mencakup sebagian besar wilayah modern Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi
dan pulau-pulau di sekitarnya, sebagian kepulauan Maluku, Papua Barat) ditambah wilayah Malaysia, Singapura, Brunei dan sebagian kecil Filipina bagian selatan.
Gambar 2.1. Wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit
Sumber : (http://id.wikipedia.org/wiki/Wilayah_taklukan_Majapahit)
Setelah sempat terlupakan, pada awal abad ke-20 ketika Indonesia merdeka, istilah ini diperkenalkan kembali oleh Ki Hajar Dewantara\ dalam usulan mejadikan kata Nusantara sebagai salah satu nama alternatif untuk negara yang telah merdeka. Pada akhirnya ketika nama Indonesia terpilih sebagai nama negara, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk kepulauan Indonesia, dan pengertian ini sampai sekarang dipakai di Indonesia.
Dapat disimpukan bahwa kata Nusantara berarti :
a. Sinonim dari seluruh daerah kepulauan Indonesia ( 33 provinsi dari Sabang- Merauke)
b. Daerah dibawah kekuasan Kerajaan Majapahit (Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya, sebagian kepulauan Maluku, Papua Barat, Wilayah Malaysia, Singapura, Brunei, dan sebagian kecil wilayah Filipina.
2.3. Tinjauan Mengenai Seni Kriya 2.3.1. Pengertian Seni Kriya
Berikut merupakan pengertian seni kriya menurut beberapa pakar seni kriya Indonesia :
a. Prof. Dr. Timbul Haryono : seni kriya adalah cabang seni yang menekankan pada ketrampilan tangan yang tinggi dalam proses pengerjaannya. Dalam arti khusus adalah mengerjakan sesuatu untuk menghasilkan benda atau obyek yang bernilai seni” (Prof. Dr. Timbul Haryono: 2002).
b. Prof. Dr. I Made Bandem : kata “kriya” dalam bahasa indonesia berarti pekerjaan (ketrampilan tangan). Di dalam bahasa Inggris disebut craft berarti energi atau kekuatan. Pada kenyataannya bahwa seni kriya sering dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang”. (Prof. Dr. I Made Bandem, 2002)
c. Menurut John A Walker , kriya dan desain adalah dua konsep berbeda, namun saling terkait erat, sebab para pengrajin ktiya terlibat dalam proses desain dan produksi barang barang hasil desain tersebut bergantung pada proses kriya , kriya disini berarti ketrampilan, khususnya ketrampilan manual, karena itu disebut kriya tangan.
d. Menurut Harry Sulastianto, seni kriya merupakan istilah yang dipopulerkan untuk menggantikan kata kerajinan atau seni kerajinan yang dianggap tidak lagi sesuai. Seni kriya memiliki ciri-ciri seperti diproduksi secara massal, memanfaatkan keterampilan tangan dalam produksinya, bahannya alami, bersifat tradisional dan turun temurun, dan harganya relatif terjangkau. Ada istilah lain yang berbeda, yakni kriya seni yang bermakna nilai seni amat dipentingkan pada karya kriya ini. Produksinya pun terbatas dan umumnya ditujukan kepada konsumen yang memiliki selera seni dan kemampuan ekonomi yang tinggi.
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa seni kriya adalah seni yang menghasilkan barang yang bernilai estetis, dan memiliki fungsi khusus dalam kehidupan tradisional masyarakatnya, namun yang menjadi batasan atara barang/
produk umum dengan kriya adalah, seni kriya menitikberatkan pada ketrampilan tangan seorang pengrajin dalam membuat kriya tersebut, mengandung unsur seni murni yang diadaptasi seperti memahat, serta adanya kandungan nilai / unsur kultural yang terkandung didalamnya, yang berasal dari daerah asal kriya tersebut.
Seni kriya :
a. Memiliki nilai seni & estetis, karena mengadaptasi seni murni b. Membutuhkan Ketrampilan tangan pengrajin
c. Orientasi sebagai benda seni, pebuatannya dekat dengan pola pola kerja seni murni
d. Sebagian memiliki fungsi tertentu dalam budaya tradisional daerah asalnya.
e. Turun temurun
f. Bahan / material alami
2.3.2. Pembagian Seni Kriya Indonesia 2.3.2.1. Berdasarkan Sifat
Seni kriya terbagi berdasarkan sifat ( Bahtiar 14) a. Seni Kriya Tradisional Klasik :
Gambar 2.2 Contoh seni kriya tradisional klasik
Sumber : (http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._SENI_RUPA)
Kaidah seni dibakukan dalam pedoman seni oleh empu atau seniman.
Mutu seni, yang bersifat teknik maupun estetik dilandasi oleh pemikiran falsafah hidup dan pandangan agama Hindu, Budha, Islam
Seni kriya pada zaman ini adalah batik, pandai emas dan perak, ukiran kayu, keris, wayang kulit dan wayang golek, dan kerajinan topeng
b. Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah):
Ciri-ciri dari kebudayaan etnik menghasilkan corak kesenian tradisional sesuai dengan watak masyarakat, adab kehidupan, dan lingkungan alamnya
Pembuatan dan jenis seni kriya tradisional ditentukan oleh bahan yang tersedia di lingkungan tempat tinggal.
Karya seni kriya tradisional rakyat anyaman, gerabah, logam, topeng yang masih bertahan
Gambar 2.3. Contoh Seni Kriya Tradisional Rakyat (Daerah)
Sumber : Sumber : (http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._SENI_RUPA)
c. Seni Kriya Indonesia Baru :
Gambar 2.4. Contoh Seni Kriya Indonesia baru
Sumber : (Sumber : (http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._SENI_RUPA)
Pada jaman kolonial pendidikan mementingkan nilai-nilai rasional dan kehidupan jasmaniah
Kesadaran nilai-nilai luhur terhadap nilai-nilai tradisional seni kriya menjadai lemah, baik yang klasik maupun kriya rakyat.
Beberapa karya kriya indonesia baru yang dipadukan dengan seni tradisi dan bahan industri
kehilangan nilai tradisi dan nilai klasik
komersialisasi yang melanda para kriyawan. keahlian para seniman klasik tidak diwariskan
2.3.2.2. Berdasarkan Bahan/Material
Sejak 4000 tahun yang lalu, penduduk di Indonesia telah belajar menggunakan elemen –elemen yang dapat ditemukan disekitar mereka. Para manusia purba berbeda dengan manusia modern, manusia purba berusaha belajar bertahan hidup dari alam bebas. Seperti Homo Erectus yang membuat berbagai
senjata dari batu yang sederhana yang digunakan pada masanya untuk bertahan hidup.
a. Earth
Kerajinan tembikar atau keramik merupakan salah satu dari kerajinan tangan terkemuka yang diketahui oleh manusia. Kemampuan keramik yang dapat dibentuk, menjadi sebuah bejana tak berpori yang keras, menjadikan keramik salah satu kerajinan tangan yang abadi dan awet.
Gambar 2.5. Kriya Tembikar
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
b. Cloth
Siapapun yang mengunjungi Indonesia , pertama kali pasti akan terkagumi oleh keindahan, kekreatifitasan , dan keanekaragaman tekstil yang dibuat di Indonesia. Tekstil –tekstil tersebut berada diantara yang terindah yang pernah ada.
Material :
pembuat kain memiliki banyak akses menuju berbagai range jenis kain yang dapat digunakan dalam memproduksi tekstil, termasuk daun pisan liar, serat nanas, dan batang bunga anggrek, sebagai contohnya. Bark material pernah dibuat berpusat di Kalimantan, dan sebagian daerah Sulawesi. Sekarang material yang paling sering ditemui adalah kapas dan sutra
Teknik :
Menenun merupakan salah satu teknik tua yang digunakan dan dikenal
di Indonesia. Selain menenun Indonesia terkenal dengan teknik batik, yang mana merupakan teknikk yang menggunakan wax sebagai pelindung / dye resistant. Di beberapa daerah , para pengrajin menggunakan teknik baru dalam pembuatan kain , yaitu menggunakan manik, kerang-kerangan , biji- bijian dan juga sulaman.
Gambar 2.6. Kain Batik
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
Gambar 2.7. kain Tenun
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
c. Grass & reed
Keranjang keranjang adalah barang kerajinan yang jarang diperhatikan, terbuat dari bahan bahan natural alam yang ditemukan dimana saja. Keranjang bernilai sebagai alat pembawa barang di setiap rumah, untuk digunakan di ladang, dan berbagai keperluan lain dalam hidup sehari hari membuatnya menjadi kerajinan tangan Indonesia yan paling bernilai dan berharga. Material yang sering digunakan adalah rotan dan bambu yang mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia.
Gambar 2.8. Anyaman serat pohon
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
Gambar 2.9. Hasil anyaman
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
d. Metal
Sangat disyukuri bahwa kerajianan metal telah berhasil selamat melewati waktu ke waktu, karena di Indonesia ditemukan kerajian metal yang paling imaginative dan ekxquisite , sebagai contoh kegeniusan para pandai besi/
metal di jamannya dahulu. Tembaga merupakan saah satu matrial metal pertama yang digunakan di Indonesia. Metal di Indonesia sering digunaan sebagai alat alat senjata, patung para dewa, perhiasan, dsb.
Gambar 2.10. Perhiasan tradisional dari perak
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
Gambar 2.11. Patung dewi dari perunggu
Sumber : (http://blog-senirupa.blogspot.com/2013/05/karya-seni-kriya-nusantara.html)
e. Kayu
Dari dabang sampai merauke pasti ditemukan adanya para pengrajin kayu/
pengukir kayu. Setiap daerah menampilkan keunikan stylennya tersendiri dan karakternya tersendiri. Kerajinan kayu dibuat untuk berbagai alasan fungsional. Sumatra merupakan salah satu daerah di Indonesia yang paling tua dalam membuat ukir kayu, selain itu daerah Sumatra juga menggunakan kayu ukir sebagai hiasan rumah dalam skala besar, da banyak, menjadikannya unik dan paling diingat. Selain Sumatra , jawa juga merupakan daerah yang memiliki kebudayaan yang kental akan kayu ukiran, salah satu yang terkenal
adlah kayu sebagai wayang , sebagian besar daerah di jawa juga memiliki kebudayaan yang menggunakan kayu ukir sebagai interior atau eksterior rumah.
Gambar 2.12. Kriya Ukir Jepara Sumber : (www.srimebeljepara.com)
Gambar 2.13. Kriya ukir tradisional Sumatera
Sumber : (http://zmpotopoto.wordpress.com/2012/12/08/ukiran-dan-bagonjong)
2.3.2.3. Beradasarkan Teknik
Ada beberapa teknik pembuatan benda-benda kriya yang disesuaikan dengan bahan. Alat dan cara yang digunakan antara lain cor atau tuang, mengukir, membatik, menganyam, menenun, dan membentuk.
a. Teknik cor (cetak tuang)
Ketika kebudayaan perunggu mulai masuk ke Indonesia, maka mulai dikenal teknik pengolahan perunggu. Terdapat beberapa benda kriya dari bahan perunggu seperti gendering perunggu, kapak, bejana, dan perhiasan.
Teknik cetak pada waktu itu ada dua macam:
Teknik Tuang Berulang (Bivalve)
Teknik Tuang Sekali Pakai (A Cire Perdue)
Gambar 2.14. Teknik Cor
Sumber : (http://rodagigi.blogspot.com/2010/01/pengecoran-logam.html)
Disamping teknik cor ada juga teknik menempa yang bahan-bahannya berasal dari perunggu, tembaga, kuningan, perak, dan emas. Bahan tersebut dapat dibuat menjadi benda-benda seni kerajinan, seperti keris, piring, teko, dan tempat lilin. Saat ini banyak terdapat sentra-sentra kerajinan cor logam seperti kerajinan perak. Tempat-tempat terkenal itu antara lain kerajinan perak di Kota Gede Yogyakarta dan kerajinan kuningan yang terdapat di Juwana dan Mojokerto.
Gambar 2.15. Teknik menempa Sumber : (http://www.kratonpedia.com/)
b. Teknik Ukir
Alam Nusantara dengan hutan tropisnya yang kaya menjadi penghasil kayu yang bisa dipakai sebagai bahan dasar seni ukir kayu. Mengukir adalah kegiatan menggores, memahat, dan menoreh pola pada permukaan benda yang diukir.
Di Indonesia, karya ukir sudah dikenal sejak zaman batu muda. Pada masa itu banyak peralatan yang dibuat dari batu seperti perkakas rumah tangga dan benda-benda dari gerabah atau kayu. Benda- benda itu diberi ukiran bermotif geometris, seperti tumpal, lingkaran, garis, swastika, zig zag, dan segitiga. Umumnya ukiran tersebut selain sebagai hiasan juga mengandung makna simbolis dan religius.
Dilihat dari jenisnya, ada beberapa jenis ukiran antara lain ukiran tembus (krawangan), ukiran rendah, Ukiran tinggi (timbul), dan ukiran utuh. Karya seni ukir memiliki macam-macam fungsi antara lain:
Fungsi hias, yaitu ukiran yang dibuat semata-mata sebagai hiasan dan tidak memiliki makna tertentu.
Fungsi magis, yaitu ukiran yang mengandung simbol-simbol tertentu dan berfungsi sebagai benda magis berkaitan dengan kepercayaan dan spiritual.
Fungsi simbolik, yaitu ukiran tradisional yang selain sebagai hiasan juga berfungsi menyimbolkan hal tertentu yang berhubungan dengan spiritual.
Fungsi konstruksi, yaitu ukiran yang selain sebagai hiasan juga berfungsi sebagai pendukung sebuah bangunan.
Fungsi ekonomis, yaitu ukiran yang berfungsi untuk menambah nilai jual suatu benda.
Gambar 2.16. Teknik ukir
Sumber : (http://carvingart77.blogspot.com/2013/03/tehnik-ukiran-kayu_1855.html)
c. Teknik membatik
Kerajinan batik telah dikenal lama di Nusantara. Akan tetapi kemunculannya belum diketahui secara pasti. Batik merupakan karya seni rupa yang umumnya berupa gambar pada kain. Proses pembuatannya adalah dengan cara menambahkan lapisan malam dan kemudian diproses dengan cara tertentu atau melalui beberapa tahapan pewarnaan dan tahap nglorod yaitu penghilangan malam.
Alat dan bahan yang dipakai untuk membatik pada umumnya sebagai berikut:
Kain polos, sebagai bahan yang akan diberi motif (gambar). Bahan kain tersebut umumnya berupa kain mori, primissima, prima, blaco, dan baju kaos.
Malam, sebagai bahan untuk membuat motif sekaligus sebagai perintang masuknya warna ke serat kain (benang).
Bahan pewarna, untuk mewarnai kain yaitu naptol dan garam diasol.
Canting dan kuas untuk menorehkan lilin pada kain.
Kuas untuk nemboki yaitu menutup malam pada permukaan kain yang lebar.
Sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini dikenal beberapa teknik membatik antara lain sebagai berikut:
Batik celup ikat, adalah pembuatan batik tanpa menggunakan malam
sebagaia bahan penghalang, akan tetapi menggunakan tali untuk menghalangi masuknya warna ke dalam serat kain. Membatik dengan proses ini disebut batik jumputan.
Batik tulis adalah batik yang dibuat melalui cara memberikan malam dengan menggunakan canting pada motif yang telah digambar pada kain.
Batik cap, adalah batik yang dibuat menggunakan alat cap (stempel yang umumnya terbuat dari tembaga) sebagai alat untuk membuat motif sehingga kain tidak perlu digambar terlebih dahulu.
Batik lukis, adalah batik yang dibuat dengan cara melukis. Pada teknik ini seniman bebas menggunakan alat untuk mendapatkan efek-efek tertentu.
Seniman batik lukis yang terkenal di Indonesia antara lain Amri Yahya.
Batik modern, adalah batik yang cara pembuatannya bebas, tidak terikat oleh aturan teknik yang ada. Hal tersebut termasuk pemilihan motif dan warna, oleh karena itu pada hasil akhirnya tidak ada motif, bentuk, komposisi, dan pewarnaan yang sama di setiap produknya.
Batik printing, adalah kain yang motifnya seperti batik. Proses pembuatan batik ini tidak menggunakan teknik batik, tetapi dengan teknik sablon (screen printing). Jenis kain ini banyak dipakai untuk kain seragam sekolah.
Daerah penghasil batik di Jawa yang terkenal diantaranya Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Rembang dan Cirebon.
Gambar 2.17. Teknik batik
Sumber : (http://bayatku.wordpress.com/2010/01/29/sejarah-teknik-batik)
d. Teknik Anyam
Benda-benda kebutuhan hidup sehari-hari, seperti keranjang, tikar, topi dan lain-lain dibuat dengan teknik anyam. Bahan baku yang digunakan untuk membuat benda-benda anyaman ini berasal dari berbagai tumbuhan yang diambil seratnya, seperti bambu, palem, rotan, mendong, pandan dan lain-lain.
Gambar 2.18. Teknik menganyam
Sumber : ( http://kerajinananyamanbambu.blogdetik.com/cara-membuat-anyaman-bambu/)
e. Teknik Tenun
Teknik menenun pada dasarnya hamper sama dengan teknik menganyam, perbedaannya hanya pada alat yang digunakan. Untuk anyaman cukup dengan tangan (manual) dan tanpa menggunakan alat bantu, sedangkan pada kerajinan menenun menggunakan alat yang disebut lungsi dan pakan.
Gambar 2.19. Teknik tenun
Sumber : (http://www.tenunindonesia.com/teknik_tenun.php)
f. Teknik membentuk
Pengertian teknik membentuk di sini yaitu membuat karya seni rupa dengan media tanah liat yang lazim disebut gerabah, tembikar atau keramik.
Keramik merupakan karya dari tanah liat yang prosesnya melalui pembakaran sehingga menghasilkan barang yang baru dan jauh berbeda dari bahan mentahnya.
Teknik yang umumnya digunakan pada proses pembuatan keramik diantaranya:
Teknik coil (lilit pilin)
Teknik tatap batu/pijat jari
Teknik slab (lempengan)
Teknik putar
Teknik cetak
Disamping cara-cara pembentukan diatas, para pengrajin keramik tradisonal dapat membentuk keramik dengan teknik cetak pres, seperti yang dilakukan pengrajin genteng, tegel dinding maupun hiasan dinding dengan berbagai motif seperti binatang atau tumbuh-tumbuhan.
Gambar 2.20. teknik membentuk
Sumber : (http://www.studiokeramik.org/2011/03/membuat-keramik-dengan-teknik- putar.html)
2.3.2.4. Berdasarkan daerah
Dalam buku exguisite Indonesia , kriya nusantara nan elok, terdapat pembagian daerah –daerah di Indonesia beserta art & craft yang ada di daerah tersebut. (Exquisite Indonesia , 2004)
a. Sumatra :
kebudayaan di pesisir Sumatra bernafaskan islam. Kerajinan tangannya banyak menggunakan ragam hias tanaman, dan jarang menggambarkan hewan dan manusia, hanya terdapat kupu-kupu sesekali, kebudayaan melayu ini banyak menggunakan benang emas dalam karya tenun dan sulam. Di daerah pedalaman Sumatra , dapat ditemukan ragam yang berbeda, ragam hias kriya bersifat lebih geometris dan kokoh, karena kebudayaan pedalaman berakar langsung dari budaya kuno setempat, karya pahat kayu dan batunya banyak memperlihatkan wujud manusia dan hewan.
Nangro aceh Darussalam : kain tenun aceh, tas jinjing, perangkat perak untuk sirih,pot bertutup bulat untuk menyimpan air, siwaih / pisau kuno, hiasan di busana aceh kalung , bros, anting, gelang dari emas asli.
Sumatra Utara dan Riau : kain tenun dan ikat kepala dari batak dengan ciri khas warna merah hitam dan putih, kain hitam dank rem, terdapat pula suuku sedum yang memiliki kain tenun dengan warna cerah. Kriya pahat kayu dengan tiga dimensi menggambarkan hewan atau leluhur. Peralatan music dengan dua senar. Anyaman bambu atau rotan di riau dibentuk menjadi keranjang, topi petani, dan gasing khas riau terbuat dari pohon nangka
Sumatra Barat : perhiasan perhiasan dari emas dan perak asli buat perempuan, sebab perempuan dianggap tinggi. Kriya border tenun emas.ukiran rumah dari kayu, berhiaskan motif bunga. Renda putih untuk bantal merupakan salah satu pengaruh eropa.selendang tusuk suji, selendang bajai.songket .
Sumatra selatan dan jambi: kalung kalunagn, rumah kayu berukir, kotak sirih,selendang biru dan emas, slendang merah dan emas.
Bangka Belitung : gesper dari emas, padanan sarung dan selendang, perhiasan , perangkat teko teh dari timah.
Bengkulu : batik basurek.
Lampung : keranjang bermanik manik, sulaman berbenang emas, kain kapal.
b. DKI Jakarta :
Sebagai ibukota Indonesia memiliki corak nusantara , dari segala daerah.
Tas jinjing , perhiasan seperti peniti gelang. Material logam, gantungan dinding, terbuat dari pola batuk yang dijahitkan pada kain katun yang tebal.
Dompet dan tas kulit. material kayu, kotak perhiasan , kapal buah. Material tekstil, batik lycra.
c. Jawa dan Madura:
Jawa merupakan daerah dengan jenis batik terbanyak:
Jawa barat dan Banten : selendang sutra, selendang , kebaya border, batik cirebo yang paling dikenal, wayang cepak.
Jawa Tengah: merupakan daerah / provinsi dengan jenis batik terbanyak di Indonesia. Terdapat pula kebaya sutra, batik pekalongan, batik Jogjakarta, batik solo, lurik , dinding kayu berukir kudus merupakan daerah yang dikenal memiliki ukiran kayu yang bagus.keris sebagai senjata bangsa Indonesia,seperangkan alat minum the dari perak, wayang kulit, wayang klitik.
Jawa timur : mangkuk keramik,dan beragam keramik, batik tuban dengan pola titik, meja rias, congklak dari kayu berkepala ular.
Madura : beragam selendang, sarung-sarng modern, batik Madura dengan ciri khas warna cerah, dan corak yang tidak serumit batik lainnya.
d. Kalimantan :
Kalimantan memiliki sifat budaya pesisir yang banyak menyerap budaya lain, terutama islam. Kerajianan tangan pohon kehidupan bertabur hiasan, songket benang emas.
Kalimantan selatan : sarung-sarung , kain sasirangan teknik tritik, tikar anyaman.
Kalimantana timur : Mandau adalah senjata utama suku dayak, kotak anyaman dnegan manik-manik,dinding ruma dengan corak aso, kalung kayu dan kain bermanik-manik.
Kalimantan barat dan tengah: keranjang anyaman rotan, tenun iban.
e. Sulawesi :
Sulawesi terkenal dengan kemasyuran para pelaut bugisnya. Gesper emas suku bugis, sarung bugis dan kalungnya.
Sulawesi utara: sulam terawang dari gorontalo.
Sulawesi tengah: sarung donggala dari suku bugis.
Sulawesi selatan dan barat: tas ragam hias timbul , terbuat dari bahan campuran logam-perak,aneka perhiasan perempuan, pajangan kayu berukir, wadah berbentuk rumah, golok dan kotak sirih.
Sulawesi tenggara : perhiasan filigri, tas dari anyaman / gulungan kawat.
f. Bali :
Bali merupakan daerah dengan kebudayaan yang menakjubkan dan unik, perhiasan perhiasann perempuan ningrat di bai, berhiasakan berlian , zamrud, dan permata lainnya. Hiasan Mutiara dan perak, keranjang ata yang kuat, serat alami dan kayu bali, patung ukiran kayu yang kental dengan agama hindu nya.
Logam bali, pisau khas bali. Keramik bali, wastra bali: songket dengan benang metalik berwarna, ikat pinggang perempuan dan kain endek dari katun.
g. Nusa Tenggara :
Nusa tenggara terdiri dari ribuan pulau yang beraneka ragam. Produk kriyanya seperti dompet kayu sumba, wastra atau tekstil kain songket motif burung merak dan kupu-kupu, mangkok dan pot terakota.
Lombok : kotak benda berharha dari kayu ukiran, kain subhanale adalah kain songket tenun katun.
Sumba : bandul mamuli sebagai alat ritual , wastra sumba dengan hiasan dari kerang dan manik manik, kain kain besar, kolase kain nusa tenggara timur.
Flores: kain flores kain tenun yang berbeda tiap kabupatennya.
h. Maluku dan Papua:
Maluku dan Papua dominan dengan kriya gelang-gelang kerang. Wadah batok kelapa.
Maluku : mutiara dan kulit mutiara, meja persembahan , patung tanimbar, kerang kerangan.
Papua: keranjang dari anyaman lidi daun sagu dan rotan tahan air dan berfungsi sebagai koper. Tas noken, dari anyaman yang digunakan sebagai bagian dari busana, dan Pahatan kayu
2.4. Tinjauan Mengenai Galeri/ Ruang Pamer.
Galeri adalah ruang atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni.
Tujuan dari pendirian sebuah galeri adalah untuk memberikan informasi mengenai benda-benda dan hasil karya seni, baik yang merupakan hasil karya para seniman maupun hasil produk industri terhadap para pengunjung atau konsumen, dengan cara memamerkan dalam suatu peragaan yang sesungguhnya (Departemen Pendidikan Nasional 328).
Dibawah ini merupakaan ciri yang dimiliki museum dan galeri seni ( Matthews, 31-1):
Gambar 2.21. karakter / ciri museum
Sumber : (Matric handbook : Museums, art galleries and temporary exhibition spaces, 2008)
2.4.1. Fungsi Galeri / Ruang Pamer
a. Sebagai wadah yang mengumpulkan, mendokumentasikan, merawat, dan memamerkan karya seni.
b. Sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat luas.
c. Sebagai sarana dalam usaha pengembangan kebudayaan.
d. Sebagai objek rekreasi bagi masyarakat.
e. Sebagai wadah yang dapat menghubungkan masyarakat dengan seniman.
Menurut miles , ada 3 fungsi galeri :
a. Fungsi Komunikatif : merupakan media penyampaian secar atidak langsung kepada konsumen atau pengunjung galeri mengenai produk
b. Fungsi Apresiatif : merupakan tepat beraprisiasi bagi para seniman dalam meningkatkan ide-ide dan karyanya
c. Fungsi Estetis : sebagai tempat untuk mengemas produk-produk yang akan dijual.
2.4.2. Kriteria Perancangan Galeri
Desain ruang-lantai dan sirkulasi pengunjung. Ruang pamer pada museum/galeri seni harus memiliki kondisi visual sekitar yang bersih dan tertata.
Hal yang harus diperhatikan dalam penanganan ruang dalam adalah luas ruangan, dinding, plafon, lantai, kusen, langit-langit, pintu, dan jendela. Pada umumnya, tinggi minimum dinding display pada museum/galeri seni adalah 3,7 meter, untuk kefleksibelan bagi pameran seni temporer, tinggi yang dibutuhkan hingga plafon adalah mencapai 6 meter.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendesain ruang pamer karya yang terkait dengan display, antara lain:
Estetika peletakan
Penulisan teks dan peletakan label (labelisasi) keterangan karya,seperti ukuran, judul, perupa dll.
Jenis pencahayaan dalam area pamer / galeri : A. Sistem Lighting Primer
a. General Lighting (Downlighting) : sistem pencahayaan umum, merata di semua ruangan.
b. Localized Lighting (Free Standing Up Lighter) : menyerupai general lighting, tetapi sistem ini mempunyai penataan khusus untuk mendukung aktivitas tertentu di area tertentu.
c. General Lighting dan Localized Lighting : sistem ini merupakan gabungan dari sistem general lighting dan localized lighting. Sistem ini biasanya diterapkan pada ruangan yang membutuhkan intensitas cahaya dengan lux tertentu.
Gambar 2.22. Sistem Penerangan General Localized Lighting Sumber : (Philips Lights Catalogue)
B. Sistem Lighting Sekunder
a. Ambient Light : sistem penerangan yang sinarnya dibuat merata (difuse).
Cahaya yang merata mengurangi kepekaaan plastisitas (penglihatan 3D) dan tidak memberikan bayangan sehingga ruangan menjadi lebih terang.
Gambar 2.23. Penggunaan Ambient Light Pada Interior
Sumber : (Selasar Sunaryo, Tempat 'Pamer' Para Seniman _ Bandung Citizen Magazine)
b. Accent Light : penerangan yang sinarnya berfungsi sebagai aksen.
Gambar 2.24. Pencahayaan dengan lampu sorot / Accent lighting Sumber : ( Philips Accent Light Catalogue)
c. Task Light : penerangan yang sinarnya bertujuan fungsional, seperti untuk membaca.
Gambar 2.25. Penggunaan task light pada interior Sumber : ( Philips Accent Light Catalogue)
d. Effect Light : sistem penerangan yang menyerupai accent light, tetapi obyek dan cahaya itu sendiri menjadi pusat perhatian.
Gambar 2.26. Penggunaan Effect Light Pada Karya Seni Sumber : Philips Effect Light Catalogue
e. Decorative Light : sistem penerangan yang mempunyai bentuk sekaligus sebagai unsur dekoratif interior dengan intensitas dan warna cahaya tersendiri untuk menciptakan suasana.
Gambar 2.27. Penggunaan Decorative Light Pada Interior Sumber : Philips Decorative Light Catalogue
Standar yang direkomendasikan untuk tingkat pencahayaan dalam ruang pamer, antara lain: untuk koleksi pamer dengan tingkat kesensitifan tinggi 500 lux, tingkat kesensitifan sedang 300 lux, kesensitifan rendah 150-200lux. Dengan berdasar pada standar di atas, maksimum memakai lampu 75 watt/ lumen.
(Hedy C Indrani, sistem tata cahaya)
2.4.3. Sarana Galeri / Ruang Pamer
a. Panil : merupakan sarana pokok pameran yang digunakan untuk menggantungkan / menempel koleksi, terutama yang bersifat 2D dan cukup dilihat dari sisi depan. Jika koleksi yang digantung di panil memiliki koleksi tinggi, maka diperlukan pengamanan khusus.
Gambar 2.28. panil kayu Sumber : ( DPK, 1994 : 34)
b. Vitrin: merupakan salah satu jenis sarana pokok pameran yang diperlukan untuk tempat meletakkan benda - benda koleksi yang umumnya 3D, relatif bernilai tinggi, serta mudah dipindahkan.
Vitrin memiliki fungsi sebagai pelindung koleksi baik dari gangguan manusia, maupun dari gangguan lingkungan yang berupa kelembaban udara ruangan, efek negatif cahaya, serta perubahan suhu udara ruang.
Gambar 2.29. Vitrin Sumber : ( DPK, 994)
c. Pedestal (alas koleksi): merupakan tempat meletakkan koleksi, biasanya berbentuk 3D. Jika koleksi yang diletakkan di pedestal bernilai tinggi dan berukuran besar, perlu diberi jarak cukup aman dari jangkauan pengunjung.
Alas koleksi yang berukuran kecil diletakkan di vitrin sebagai alat bantu agar benda dalam vitrin dapat disajikan dengan baik.
.
Gambar 2.30. Pedestal Sumber : ( DPK , 1994)
d. Label: merupakan bentuk informasi verbal, terdiri dari 5 jenis (label judul, label sub judul, label pengantar, label kelompok, label individu)
e. Sarana Penunjang Koleksi: Koleksi penunjang dibuat untuk memudahkan pengunung memperoleh gambaran lengkap dan jelas. Koleksi ini berupa peta, denah, foto, grafik, miniatur, patung peraga, dan lainnya
f. Sarana Pengaman: Sarana ini dapat berbentuk sederhana seperti pagar
pembatas, rambu petunjuk dan larangan, serta peralatan canggih CCTV, alarm, dan lainnya.
g. Sarana Publikasi: Bentuk sarana ini berupa poster, spanduk, lembaran lepas, folder, brosur, iklan, dan lainnya.
h. Sarana Pengaturan Cahaya: Merupakan sarana yang berpengaruh pada keberhasilan pameran. Pengadaan cahaya buatan akan membutuhkan banyak biaya, maka desainer perlu memanfaatkan cahaya alam yang masih mungkin digunakan dalam pameran. Selain itu perlu diperhatikan efek negatif dengan penggunaan filter / reflektor yang me-nyerap sinar UV. Sarana ini umumnya berupa instalasi lampu listrik di dalam dan di luar vitrin.
i. Sarana Pengaturan Udara: Untuk ruangan yang tidak menggunakan AC, perlu adanya ventilasi udara yang cukup atau menggunakan kipas angin untuk membantu pemasukan dan pengedaran udara segar ke dalam ruang.
j. Sarana Audiovisual: Digunakan untuk menambah informasi tentang benda koleksi yang dipamerkan dan memudahkan pengunjung mendapat informasi.
Biasanya berupa rekaman video dengan monitor atau penanyangan slide.
( Departemen Pendidikan Nasional 328)
2.4.4. Standar Umum Penyajian di Area Pamer.
a. Ukuran Vitrin dan Panil :
Ukuran vitrin dan panil tidak boleh terlalu tinggi / rendah. Tinggi rendah- nya disesuaikan dengan tinggi rata - rata pengunjung. Misalnya tinggi orang Indonesia 160 - 170 cm dengan kemampuan gerak leher 300 maka tinggi vitrin seluruhnya 210 cm. Alas terendah 65 - 70 cm dengan tebal 50 cm.
Gambar 2.31. ukuran Vitrin dan panil Sumber : ( DPK, 1994)
b. Jarak Pengamatan
Jarak pengamatan mencakup batasan rentang pergerakan kepala. Geometri daerah pengamatan merupakan hal yang penting, karena aspek mata menetapkan kerucut penglihatan pengamat dan sudut pandangnya.
Gambar 2.32. Jarak pengamatan Sumber : ( Julius Panero, 2003)
c. Jarak Jangkauan Pengunjung
Salah satu kebiasaan pengunjung adalah ingin menyentuh dan mengetahui benda koleksi saat mereka mengamatinya. Untuk itu perlu diperhatikan dan diperhitungkan peletakkan vitrin dan benda lainnya agar aman dari jangkauan, terutama untuk koleksi yang bernilai tinggi dan butuh keamanan ekstra
Gambar 2.33. Jarak jangkauan pengunjung Sumber : ( Julius Panero, 2003)
Gambar 2.34. Jarak jangkauan pengunjung Sumber : ( Julius Panero, 2003)
d. Jarak Jangkauan dan Pengamatan Pengunjung Berkebutuhan Khusus
Gambar 2.35. Jarak jangkauan pengunjung berkebutuhan khusus Sumber : ( Julius Panero, 2003)
Gambar 2.36. Jarak jangkauan pengunjung berkebutuhan khusus Sumber : ( Julius Panero, 2003)
2.4.5. Pola Sirkulasi Galeri
Dalam perancangan sebuah galeri perlu diperhatikan mengenai sirkulasi barang dan sirkulasi pengunjung. Dalam diagram dibawah ini dijelaskan mengenai sirkulasi benda koleksi, dalam maintenance benda koleksi, namun beberapa aspek operasional dibawah ini tidak harus memiliki sebuah area bereda.
Gambar 2.37. pola sirkulasi barang
Sumber : (Matric handbook : Museums, art galleries and temporary exhibition spaces, 2008)
Sebisa mungkin sirkulasi benda koleksi dan sirkulasi pengunjung haruslah terpisah . pada diagram dibawah ini menggambarkan sebuah contoh sirkulasi yang membedakan sirkulasi pengunjung dan benda koleksi
Gambar 2.38. Sirkulasi pengunjung dan sirkulasi benda koleksi
Sumber : (Matric handbook : Museums, art galleries and temporary exhibition spaces, 2008)
Pada diagram dibawah ini menggambarkan contoh sirkulasi untuk jenis bangunan yang kecil.
Gambar 2.39. sirkulasi pada bangunan kecil
Sumber : (Matric handbook : Museums, art galleries and temporary exhibition spaces, 2008)
Jenis Pola Sirkulasi Pengunjung : a. Pola Radial :
Gambar 2.40. Pola sirkulasi radial
Keuntungan dari sirkulasi ini adalah :
Cocok untuk galeri besar
Pengunjung bebas untuk mrmilih koleksi yang ingin dilihat
Pembagian koleksi jelas
Sedangkan kerugiannya adalah :
Membutuhkan ruang yang luas
b. Pola Linear :
Gambar 2.41. Pola sirkulasi linear
keuntungan dari sirkulasi ini adalah :
Sirkulasi Ber-sequent
Pemisahan koleksi jelas
Sedangkan kerugiannya adalah :
Pengunjung tidak bebas memilih koleksi mana yang diinginkannya c. Pola Linear Bercabang :
Gambar 2.42. Pola sirkulasi linear bercabang
Keuntungan dari sirkulasi ini adalah :
Sirkulasi tidak terganggu
Pembagian koleksi jelas
Pengunjung bebas memilih Sedangkan kerugiannya adalah :
Ruang yang dibutuhkan panjang
d. Pola Random :
Gambar 2.43. Pola sirkulasi random
Keuntunganya adalah :
Cocok digunakan untuk galeri dengan skala kecil
Pengunjung dapat memilih sneidir koleksi yang ingin dilihatnya Kerugiannya adalah :
Kemungkinan terjadi penumpukan pengunjung
Pemisaahan kolesi tidak jelas
2.5. Retail/ Toko
2.5.1. Tinjauan Tentang Retail /Toko
Ruang penjualan merupakan ruangan untuk memamerkan dan menjual hasil karya seni dan budaya. Ruang penjualan harus benar-benar terlindungi dari perusakan, pencurian dan kebakaran serta pengaruh perubahan suhu.
Kualitas dan kuantitas pencahayaan sangat penting dalam ruang penjualan, kualitas pencahayaan sangat berdampak pada barang-barang yang didisplay, sedangakan kuantitas pencahayaan memberikan pengaruh kepada kenyamanan pengguna ruang atau pembeli.
a. Prinsip Perancangan Toko
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam merencanakan tata letak (layout) pada ruang penjualan:
Calon pembeli diusahakan agar mengunjungi atau melewati seluruh bagian toko yang menyediakan barang-barang dagangannya.
Pada bagian display yang paling belakang atau pojok dibutuhkan
pencahayaan khusus dengan tingkat penerapan yang lebih tinggi untuk dapat menarik perhatian pengunjung.
Peletakan satu pintu masuk dan keluar yang sama dalam perencanaan harus dihindarkan.
Barang-barang yang didisplay atau dijual harus diklasifikasikan menurut jenisnya, sehingga lebih jelas dalam penempatannya.
Barang-barang yang dianggap penting atau mahal seharusnya diletakkan dengan kasir, karena barang-barang tersebut harus diawasi secara terus- menerus.
Pelayaanan dan tata letak ruang yang fleksibel dapat mempermudah pergantian dan perubahan secara bervariasi.
Penjual tidak perlu menjelaskan semua model atau jenis barang-barang yang sudah terdapat pada papan gambar.
Mengetahui dengan jelas apa saja yang dijual oleh toko
Toko harus dapat menarik perhatian pengunjung untuk masuk
Tata Layout dapat membuat pengunjung merasa nyaman dan betah dengan cera mengelompokan barang yang dijual sesuai dengan karateristiknya sehingga pengunjung dapat dengan mudah dijangkau oleh pembeli
b. Sirkulasi Toko
Dalam merancang sebuah toko, juga harus memperhatikan sirkulasi toko itu sendiri.
Terdapatnya ruang yang cukup untuk meletakkan objek yang akan dipajang/dijual.
Terdapatnya ruang bagi pengunjung untuk berjalan dan melewati objek- objek yang dipajang/dijual.
Terdapat ruang yang cukup bagi pengunjung untuk dapat menghindar dari keramaian, sehingga dapat mengamati objek lebih jelas dan lebih detail.
c. Sistem Pelayanan Pada Toko
Sistem pelayanan didalam toko dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan Servise Store dan Self Servise. Service Store, dimana pengunjung
dapat menjalin komunikasi dengan pegawai. Disini pengunjung tidak perlu repot mencari barang yang diinginkan. Self Service, biasanya sistem ini dilakukan pada toko yang besar. Disini pengunjung diberi kebebasan untuk memilih barang yang diinginkannya.
d. Display Pada Toko
Display merupakan suatu kebutuhan yang perlu diperhatikan dalam sebuah toko. Display berkaitan dengan menarik atau tidaknya suatu toko untuk dikunjungi, oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mendesain display ( Addler 133) :
Objek dan dimensi yang akan ditampilkan
Fungsi dan maksud yang akan disampaikan
Besaran area yang tersedia
efek yang ingin dicapai
pemeliharaan yang dibutuhkan
window display yang menonjolkan barang yang akan dijual
Pada sebuah toko terdapat istilah window display yaitu merupakan sarana promosi serta sarana menunjukan identitas toko kepada khalayak. Penataan window display yang kreatif merupakan salah satu cara menarik minat pengunjung untuk masuk ke dapam toko. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menata window display, yaitu:
Sesuatu yang bergerak digunakan untuk menarik mata pengunjung
Penggunaan tema yang sama pada window display dengan display lainnya yang terletak didalam toko
Menggunakan pencahayaan dengan warna terang
Window display harus selalu tampak bersih
Mengganti display secara berkala agar selalu nampak fresh
Window display harus simple. Jangan mencoba meletakan berbagai macam barang sekaligus
Penggunaan bentukan dan warna yang diulang dapat digunakan untuk menarik perhatian pengunjung
Benda yang memeiliki perbedaan massa dan kedalaman akan menarik mata untuk terus-menerus melihat.
e. Sistem Pencahayaan Pada Toko
Pencahayaan pada display merupakan salah satu unsur utama pada display, yang dapat memberikan keran menarik pada objek yang dipajang. Unsur pencahayaan pada display biasanya menggunakan teknik pencahayaan yang dibuat-buat dan memberikan efek yang dapat menambah objek yang dipajang menjadi menarik. Pencahayaan buatan dibutuhkan untuk menambah kenyamanan pengunjung.Pencahayaan buatan digunakan untuk mengatur intensitas cahaya pada area tertentu. Pencahaayaan terbukti memegang peranan penting pada sebuah toko karena:
Dapat membantu menduga kualitas toko dan barang dengan teliti dan cepat
Dapat membantu dalam menarik perhatian ketoko dan barang dagangan
Interior toko yang kreatif dapat menyenagkan dan menghasilkan atmosfer yang nyaman untuk pembeli dan penjual.
f. Sistem Penghawaan Pada Toko
Penghawaan buatan digunakan untuk menambah kenyamanan pengunjung.
g. Sistem Akustik Pada Toko
Tingkat kebisingan pada area ini relatif tinggi sehingga tidak diperlukan adanya sistem akustik khusus.
h. Sistem Keamanan
a) Sistem Pencegah Kebakaran
Sistem Sprinkler
Hampir semua toko di gedung besar memiliki perlindungan terhadap kebakaran yang berupa sprinkler.Beberapa gedung menyediakan sistem yang lengkap meliputi jaringan dari sprinkler. Kepala sprinkler akan menyemprotkan air dan memadamkan api jika terjadi kebakaran.
Desain sprinkler umumnya ditentukan oleh standar dari National Fire Protection Association. Sistem sprinkler pada sebuah gedung biasanya didesain oleh kontraktor gedung.
Lampu darurat
Kekhasan perlengkapan tetap yang digunakan untuk penerangan darurat adalah baterai yang ada didalamnya dengan 2 lampu halogen yang dibuat pas dengan desain toko.Kabel lampu harus dipasang secara benar.Perlengkapan tetap harus diletakkan kira-kira 10 feet dari pintu keluar, dengan satu lampu di kaki pintu dan satu lagi di gang keluar di arah berlawanan. Perlengkapan tetap yang lain harus diletakan sepanjang jalan keluar gang untuk menyediakan pencahayaan yang diperlukan.
Pemadam Kebakaran
Komunitas departemen kebakaran mungkin membutuhkan penyewa untuk memasang alat pemadam kebakaran.Alat pemadam kebakaran harus diletakkan ditoko atau area yang tidak untuk umum.
Sistem Alaram
Tambahan untuk sistem sprinkler adalah alaramkebakaran.
b) Sistem Pencegah Kriminalitas1
Sistem keamanan sangat dibutuhkan oleh sebuah kafe dan toko agar terhindar dari pencuri, terdapat sistem keamanan, yaitu:
Gates
Menggunakan tralis pada jendela. Teralis harus diletakkan pada frame jendela dengan mesin atau baut sehingga tidak dapat dilepaskan dari luar. Pintu gerbang dorong merupakan proteksi yang sangat bagus.Pintu gerbang digunakan agar tidak dapat dibongkar dari luar.Pintu gerbang direkomendasikan untuk tempat-tempat komersial, seperti kafe dan toko.
Selecting Alarm System
Sistem ini dapat disebutkan dan dapat juga diperlihatkan keberadaannya. Diperlihatkan dengan tujuan dapat menghalangi usaha
pencurian, sedangkan jika diperlihatkan dengan tujuan menjebak pencuri. Sistem ini untuk menyeleksi agar jika ada pencuri yang membawa barang keluar dari wilayah akan ketahuan.
Alarm Reporting System
Alarm reporting system ini terbagi menjadi dua macam, yaitu lokal alarm (memiliki bel yang disambungkan ke alat yang dapat memproduksi suara yang keras ketika alaram diaktifkan, ini adalah tipe alaram yang sederhana yang dapat diprogram dengan mudah) dan Central Alarm (Sistem laporan jika diaktifkan, pencuri tidak tahu kalau alarm peringatan telah dikirim ke pusat sehingga meningkatkan kemungkinan penangkapan pencuri).
CCTV (Closed Circuit Television)
Ini adalah sistem menggunakan kamera yang merekam gambar kegiatan di area yang diberi CCTV, gambarnya dikirim dan diamati melalui monitor yang telah dipasang disebuah ruangan.
2.5.2. Sirkulasi Gift shop/ Toko
Pola sirkulasi yang jelas dapat mengarahkan dan membimbing perjalanan atau tampak yang terjadi pada ruang. Sirkulasi dapat memberi kesinambungan pada pengunjung terhadap fungsi ruang, antara lain dengan penggunaan tanda- tanda pada ruang sebagai petunjuk arah jalan tersendiri.
Dalam proses perancangan toko harus memperhatikan beberapa hal berikut:
a. Karakteristik sirkulasi keluar- masuk pada interior toko.
Dalam menentukan sirkulasi sebuah ruang seharusnya ditinjau dari segi psikologi pemakai atau pengguna, dengan cara mengamati gerak lalu-lalang pengguna dari suatu tempat ke tempat lain dalam toko, adapun pembagian pola sirkulasi sebagai berikut:
Pintu masuk dan pintu keluar
Dari depan kebelakang
Dari satu sisi kesisi yang lain
Dari sudut ke sudut yang lain
b. Menentukan peletakan barang penjualan
Pengunjung biasanya langsung mengunjungi tempat barang- barang atau produk yang dibutukan. Pemilik toko cenderung merencanakan dan mengarahkan sirkulasi pengunjung dengan menempatkan barang- barang terlaris dan barang- barang pokok pada bagian yang paling belakang toko, dimaksudkan untuk menunjukan barang- barang lain yang dijual, sehingga dapat merangsang minat pengunjung untuk membeli barang- barang tersebut.
2.5.2.1. Jenis Sirkulasi Pengunjung Berdasarkan Jenis Toko.
Pada perkembangannya ada tiga jenis toko ( Hill 594), yaitu : a. Toko yang terbuka (open space shop), cirinya:
Tanpa pintu
Pengunjung bebas masuk dari arah manapun
Membuat pengunjung lebih tertarik untuk masuk ke dalam toko
Gambar 2.44.Open space shop Sumber : ( Suptandar, 1999, p.113)
b. Toko yang tertutup kaca (close – non massive space), cirinya:
Bagian depan toko tertutup kaca secara keseluruhan
Pintu juga menggunakan bahan kaca
Pengunjung hanya bisa masuk dan keluar dari arah pintu
Pengunjung yang berada didalam toko menjadi merasa eksklusif dan memiliki privasi
Gambar 2.45. Close-non massive space Sumber : (Suptandar, 1999)
c. Toko yang tertutup kaca sebagian (semi closed non massif space), cirinya:
Bagian depan toko yang tertutup kaca hanya sebagian saja
Pintu toko adalah bagian depan toko yang tidak tertutup oleh kaca
Gambar 2.46. Semi closed non massive space
2.5.2.2.Penataan Pintu Masuk Berkaitan Dengan Display
Pada umunya ada dua jenis penataan display toko berkaitan dengan pintu masuk toko, yaitu:
a. Pintu masuk berhadapan langsung dengan display.
Gambar 2.47. Pintu menghadap display Sumber : Suptandar (1999, p.114)
b. Letak pintu masuk saling berhadapan, sedangkan letak display berada disekeliling pintu masuk.
Gambar 2.48. Pintu berhadapan pintu Sumber : Suptandar (1999, p.114)
2.5.3. Tinjauan Toko Kecil/ Small Shop
Jenis toko ini adalah toko yang memiliki luasan area penjualan kurang dari 280m2, tidak memiliki lebih dari 20 orang karyawan.
Untuk toko yang memiliki spesialisai tertentu, baik digabungkan berkelompok dengan toko sejenis , untuk meningkatkan daya tarik market. Untuk ukuran besaran: lebar yang disarankan sekitar 5.4-6.0m, dengan minimum 4.0. panjang yang disarankan sekitar 15.0.-36.0m, dengan minimum 10m
2.6. Tinjauan Tentang WorkShop
Workshop secara teknis adalah sebuah bengkel, dimana berupa bengkel industri(pabrik), atau bengkel sebagai tempat kerja/ tempat praktek untuk sebuah pelatihan. Workshop sering juga dikenal sebagai sebuah acara pembelajaran yang singkat dan intensif, dengan topik yang relatif sempit, dan biasanya menekankan pertukaran informasi, interaksi antar peserta, dan pembahasan yang sering bersifat tutorial dan cenderung teknis. Karena sifatnya yang lebih teknis, sering diberikan setelah ada pemberian informasi yang lebih menekankan teori, misalnya yang berbentuk seminar ataupun konferensi.
2.6.1. Karakteristik Workshop
a. Pembelajaran yang intensif dalam waktu relatif singkat b. Interaksi dalam kelompok kecil
c. Keterlibatan yang aktif
d. Penerapan dari informasi/pembelaran yang diberikan
e. dirancang dengan tujuan pembelajaran yang spesifik dan sempit
f. Tujuan pembelajaran adalah perubahan tingkah laku terutama keterampilan yang baru
2.6.2. Persyaratan Bagi Perencana Dan Fasilitator Workshop
a. dapat mengenali kebutuhan peserta yang bermacam-macam dan menemukan jawaban yang sesuai konteks dalam perencanaan dan pemaparan sesi
b. fleksibel dan dapat beradaptasi dalam memberikan strategi pembelajaran
c. memiliki bermacam alat dan metode pembelajaran yang dapat digunakan secara tepat guna sesuai konteks peserta
d. memiliki dan memahami secara jelas tujuan workshop 2.6.3. Pengertian Pelatihan
Berikut ini ada beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian pelatihan, antara lain sebagai berikut :
a. Menurut Nitisemito (1994) “ Pelatihan adalah suatu kegiatan dari perusahaan yang bermaksud untuk dapat memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku, ketrampilan dan pengetahuan dari para karyawan yang sesuai dengan keinginan perusahaan yang bersangkutan.”
b. Menurut Simamora (1997) “Pelatihan adalah proses sistematik pengubahan perilaku para karyawan dalam suatu arah guna meningkatkan tujuan-tujuan organisasional.”
c. Menurut Armstrong (1991) “ Training is A planned process to modify attitude, knowledge or skill behavior through learning experience to achieve ef ective peformance in an activity or of activities”
Dari berbagai pendapat di atas kesimpulannya adalah :
Pelatihan bukanlah merupakan suatu tujuan, tetapi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan suatu kemampuan, baik tanggung jawab maupu ketrampilan. Pelatihan merupakan
proses keterampilan kerja timbal balik yang bersifat membantu, oleh karena itu dalam pelatihan seharusnya diciptakan suatu lingkungan di mana para peserta dapat memperoleh atau mempelajari sikap, kemampuan, keahlian, pengetahuan dan perilaku yang spesifik yang berkaitan dengan topic pelatihan.