27 HAK KONSTITUSIONAL PENDUDUK DALAM PERNIKAHAN YANG TIDAK
TERCATAT MENURUT HUKUM DI INDONESIA
Andrizal1, Akhbarizan2
1Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning, 2Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau
[email protected], [email protected]
ABSTRAK
Berkembangnya norma peraturan perundang-undangan di Indonesia terkait adanya ruang untuk warga negara dalam mengurus hak kependudukan terutama terkait perkawinan tidak tercatat yang selama ini berdasarkan norma hukum dalam UU Perkawinan dan KHI tidak memiliki ruang untuk diakui keberadaannya. Namun dengan lahirnya Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil dan turunannya berupa Permendagri memungkinkan bagi perkawinan tidak tercatat memperoleh akte kelahiran maupun kartu keluarga sebagi hak dasar dalam administrasi kependudukan. Pendekatan dalam penulisan ini adalah pendekatan yuridis normatif yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan pencatatan kependudukan dan nikah tidak tercatat. Penelitian ini mengungkap bahwa perkawinan yang tidak tercatat tidak memiliki kekuatan hukum meskipun boleh dicatat dalam kartu keluarga ataupun akta kelahiran. Keberadaan Perpres dan Permendagri yang mengatur pencatatan kependudukan bagi pelaku perkawinan tidak tercatat hanya untuk melindungi secara admninistratif namun tidak memberikan kekuatan hukum karena perkawinan yang berlum tercatat ini hanya bisa menjadi legal dengan cara itsbat nikah.
Kata Kunci : Pernikahan Tidak Tercatat; Administrasi Kependudukan; Pencatatan Sipil;
PENDAHULUAN
Persoalan kependudukan merupakan hak asasi yang wajib dilindungi oleh Negara. Oleh karena itu Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memberi jaminan bahwa negara berkewajiban untuk memberikan perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas setiap peristiwa kependudukan yang dialami oleh penduduk Indonesia baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk itu pemerintah menetapkan Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan sebagaimana
Jurnal Sains Sosio Humaniora
ISSN (Print) 2580-1244 (Online) 2580-2305 Volume 6, Nomor 2, Desember 2022
28 telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.
Salah satu persoalan penting dalam administrasi kependudukan yangn mencakup proses pencatatan biodata penduduk, pencatatan atas pelaporan peristiwa kependudukan dan pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan serta penerbitan dokumen kependudukan berupa kartu identitas atau surat keterangan kependudukan.1 Dalam hal ini terdapat persoalan tentang bagaimana pencatatan dalam kartu keluarga yang termasuk dalam ranah pencatatan sipil akibat perkawinan yang tidak tercatat. Selama ini Pencatatan perkawinan yang terjadi hanya terdiri dari pencatatan perkawinan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pencatatan perkawinan di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada aturan yang menjadi payung hukum bagi perkawinan yang tidak tercatat dalam dokumen kependudukan. Hal ini didasarkan pada kaidah hukum pasal 2 ayat 2 Undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang berbunyi: “ Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Dalam norma pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan tersebut menyiratkan bahwa kekuatan hukum dari perkawinan yang tidak tercatat tidak memiliki kekuatan hukum berdampak yuridis terhadap hak-hak pelayanan publik oleh instansi yang berwenang bagi pelakunya. Para pelaku pernikahan tidak tercatat tidak memperoleh perlindungan dan pelayanan hukum oleh instansi yang berwenang sebagaimana mestinya. Perkawinan mereka tidak diakui dalam daftar kependudukan dan tidak dapat memperoleh akte kelahiran bagi anak-anak dan hubungan keperdataan lainnya.
Dalam perkembangan peraturan perundang-undangan, hubungan keperdataan tersebut menjadi perhatian dari pemerintah dalam melindungi hak kependudukan dari warga negara termasuk akibat perkawinan yang tidak tercatat.
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil dalam
1 Pasal 1 angka 10 UU No. 23 Tahun 2006
29 Pasal 34 disebutkan: Penduduk dapat membuat surat pernyataan tanggung jawab mutlak atas kebenaran data dengan diketahui oleh 2 (dua) orang saksi dalam hal:
a. tidak memiliki surat keterangan kelahiran; danf atau
b. tidak memiliki buku nikah/kutipan akta perkawinan atau bukti lain yang sah tetapi status hubungan dalam KK menunjukan sebagai suami istri.
Hal ini memberi ruang untuk warga negara dalam mengurus hak kependudukan terutama terkait perkawinan tidak tercatat. keberadaan anak.
Peraturan Presiden ini lebih lanjut diatur secara teknis dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 108 Tahun 2019 Tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil. Dalam Pasal 48 ayat (1) dijelaskan : Dalam hal pencatatan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 tidak dapat memenuhi persyaratan berupa: buku nikah/kutipan akta perkawinan atau bukti lain yang sah dan status hubungan dalam keluarga pada KK tidak menunjukan status hubungan perkawinan sebagai suami istri, dicatat dalam register akta kelahiran dan kutipan akta kelahiran sebagai anak seorang ibu. (2) Dalam hal pencatatan kelahiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 tidak dapat memenuhi persyaratan berupa buku nikah/kutipan akta perkawinan atau bukti lain yang sah; dan status hubungan dalam keluarga pada KK menunjukan status hubungan perkawinan sebagai suami istri, dicatat dalam register akta kelahiran dan kutipan akta kelahiran sebagai anak ayah dan ibu dengan tambahan frasa yaitu: yang perkawinannya belum tercatat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Dengan adanya peraturan ini maka dapat dilihat bahwa negara melakukan perlindungan hukum terhadap anak yang lahir akibat perkawinan yang tidak tercatat.
Hal inilah yang menarik untuk diteliti lebih lanjut bagaimana kedudukan pencatatan kependudukan dalam perkawinan tidak tercatat menurut hukum Islam dan hukum Positif di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang yang dideskripsikan di atas, maka ada permasalahan hukum yang perlu diselesaiakan yaitu : Pertama, Bagaimana kedudukan pencatatan pernikahan menurut hukum Islam dan hukum positif? Kedua,
30 bagaimana perlindungan hukum terhadap pencatatan kependudukan menurut hukum Islamdan hukum Positif di Indonesia?
METODE PENELITIAN
Pendekatan dalam penulisan ini adalah pendekatan yuridis normatif yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori, konsep-konsep, asas-asas hukum serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan penelitian ini. Untuk itu penulis melakukan analisis terhadap norma yang terkandung dalam berbagai peraturan perundangan yaitu Undang- undang Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan , Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991, tentang Kompilasi Hukum Islam, Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil, Permendagri No. 9 tahun 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran dan Permendagri No. 109 Tahun 2019 Tentang formulir dan buku yang digunakan dalam administrasi kependudukan serta Keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46 /PUU-VIII/2010. Analisis tersebut dilakukan untuk mengkonstruksi bagaimana persoalan perlindungan hukum terhadap hak konstitusionla warga negara berupa pencatatan peristiwa kependudukan perkawinan yang tidak tercatat maupun akte kelahiran dari anak dalam perkawinan yang tidak tercatat.
PEMBAHASAN
Kedudukan Pencatatan Perkawinan dalam Hukum Islam dan Hukum Positif di Indonesia
Dalam konteks pencatatan perkawinan, banyak istilah yang digunakan untuk menunjuk sebuah perkawinan yang tidak tercatat, ada yang menyebut kawin di bawah tangan, kawin syar'i, kawin modin, dan berbagai istilah lainnya.2 Dalam hukum Islam istilah nikah tidak tercatat seringkali diidentikkan dengan istilah nikah sirri.
2 Mukhlisin Muzarie, Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil, Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2002, hlm. 110.
31 Terminologi nikah sirri (nikah yang dirahasiakan) telah dikenal di kalangan para ulama, paling tidak sejak masa Imam Malik bin Anas. Hanya saja nikah sirri yang dikenal pada masa dahulu berbeda pengertiannya dengan nikah sirri pada masa sekarang. Pada masa dahulu yang dimaksud dengan nikah sirri, yaitu pernikahan yang memenuhi syarat dan rukunnya menurut syari'at, namun tidak dipublikasikan atau tidak ada i'lanun-nikah dalam bentuk walimatul-'ursy atau dalam bentuk yang lain. Adapun nikah sirri yang dikenal oleh masyarakat Islam Indonesia sekarang ini ialah pernikahan yang dilakukan menurut hukum syariat, tetapi tidak dilakukan di hadapan Petugas Pencatat Nikah sebagai aparat resmi pemerintah dan atau tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama, sehingga tidak memperoleh akte nikah sebagai satu-satunya bukti legal formal. Perkawinan yang demikian menurut istilah hukum disebut perkawinan di bawah tangan.
Namun dalam beberapa litelatur hukum Islam terutama di era klasik, tidak dikenal adanya istilah pencatatan dalam perkawinan. Sah dan tidaknya suatu perkawinan tidak digantungkan kepada ada dan tidaknya pencatatan, tapi diukur ada dan tidaknya syarat dan rukun nikah. Perkawinan tidak tercatat, termasuk wilayah hukum Islam modern karena pembuatan akte nikah sebelumnya tidak dikenal dalam fiqh, sebab tidak termasuk ke dalam syarat dan rukun nikah. Di Indonesia saja, pencatatan perkawinan baru diwajibkan setelah dikeluarkannya Undang-undang No.
1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Demikian juga dalam Pasal 5 Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam, setiap perkawinan mesti dicatat. Sedangkan pada Pasal 6 ditegaskan bahwa perkawinan yang dilakukan diluar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah (PPN) tidak mempunyai kekuatan hukum.3
Perkawinan yang tidak tercatat dalam akte tanpa disertai pesan kepada saksi untuk merahasiakan perkawinan, maka perkawinannya sah, akan tetapi bila disertai pesan kepada saksi untuk merahasiakannya, kata Syaltut, termasuk perkawinan rahasia. Menurut Syaltut, perkawinan ‘urfi (perkawinan yang tidak tercatat dalam akte) telah memenuhi syarat dan rukun. Oleh sebab itu, akad nikah ‘urfi’ adalah akad
3Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Gema Insani Pers, 1994) hlm. 79
32 perkawinan yang sah, oleh karena itu perkawinan mengikat dan suami isteri mempunyai hak dan kewajiban menurut syara’. Secara umum, Syaltut berpendapat bahwa perkawinan perlu dilakukan pencatatan akte nikah. Sebab hal ini berkaitan dengan kemaslahatan umat. Banyak kasus terjadi laki-laki yang ingin menghindarkan diri dari kewajiabn-kewajiban perkawinan atau hendak mencari kebebasan agar pihak lain tidak dapat membuktikan perkawinannya di depan Pengadilan. Akibatnya, isteri tidak mendapat nafkah dari suaminya, sedangkan suaminya tidak berhak untuk mentaatinya.4
Menurut para pakar hukum Islam, sekurang-kurangnya ada dua alasan hukum yang dijadikan pijakan perintah pendaftaran/pencatatan nikah. Pertama, berdasarkan qiyas dan kedua atas dasar maslahah mursalah. Keharusan mencatatkan perkawinan dan pembuatan akte perkawinan, dalam hukum Islam, diqiyaskan kepada pencatatan dalam peroalan mudayanah (utang-piutang) yang dalam situasi tertentu diperintahkan untuk mencatatnya, seperti disebutkan dalam firman Allah surat al-Baqarah ayat 282:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya ...
Berdasarkan ayat diatas berlaku qiyas awlayawy dimana apabila akad hutang piutang atau hubungan kerja yang lain harus dicatatkan, mestinya akad nikah dengan akibat hukum yang ditimbulkannya sangat kompleks seharusnya lebih utama lagi untuk dicatatkan. Untuk kemaslahatan umat manusia pada zaman Rasulullah Saw.
setiap kejadian pernikahan, thalak, ruju‟ dan lain sebagainya selalu dihadapkan kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah menghukum begini dan begitu, ini menandakan bahwa setiap peristiwa perkawinan selalu diketahui oleh Rasulullah, karena kedudukan Rasulullah sebagai Ulama dan Umara. Pada masa ini kemaslahatan ini menjadi sangat penting, jika perkawinan itu tidak dicatatkan akan terjadi kekacauan dan kemadaratan yang akan menimpa umat manusia, karena
4Mahmud Syaltut, al Fatawa, (Kairo: Daar al Qalam, tth) hlm. 269
33 kemungkinan besar perkawinan itu tidak akan terkontrol, banyak orang kawin cerai- kawin cerai, atau telah berkali-kali menikah akan mengaku belum pernah menikah, yang pada akhirnya mengaki- batkan kemadaratan yang amat besar bagi anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak dicatatkan, serta tidak diketahui siapa ayah kandung yang sebenarnya, karena tidak akan bisa diingat lagi siapa yang sudah menikah dan yang belum menikah, tetapi kalau dicatatkan akan diketahui pernikahan seseorang dan akan terkontrol serta dapat diketahui pula nama orang tua seseorang.
Di samping dengan pendekatan qiyas, metode Maslahah mursalah menunjukkan urgensi pencatatan pernikahan didasarkan pada kemaslahatan yang hadir atas dasar kebutuhan masyarakat. Penetapan hukum atas dasar kemaslahatan merupakan salah satu prinsip dalam penetapan hukum Islam sehingga di beberapa negara muslim, termasuk di Indonesia, telah dibuat aturan yang mengatur perkawinan dan pencatatannya. Hal ini dilakukan untuk ketertiban pelaksanaan perkawinan dalam masyarakat, adanya kepastian hukum, dan untuk melindungi pihak-pihak yang melakukan perkawinan itu sendiri serta akibat dari terjadinya perkawinan, seperti nafkah isteri, hubungan orang tua dengan anak, kewarisan, dan lain-lain. Melalui pencatatan perkawinan yang dibuktikan dengan akte nikah, apabila terjadi perselisihan di antara sumai isteri, atau salah satu pihak tidak bertanggung jawab, maka yang lain dapat melakukan upaya hukum guna mempertahankan atau memperoleh perlindungan hukum dari negara.
Prinsip pencatatan perkawinan ini dalam hukum positif di Indonesia berkembang menjadi salah satu hal paling prinsip dalam Undang-undang Perkawinan. Kedudukan pencatatan perkawinan dapat dilihat dalam beberapa norma hukum peraturan perundangan berikut:
a. Undang-undang Dasar Negara RI Tahun 1945, pada Pasal 28-B ayat (1), yaitu: "
Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah " ;
34 b. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Pasal 2 ayat (1), yaitu : " Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu";
c. Pasal 2 ayat (2), yaitu : " Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pokok permasalahan hukum mengenai pencatatan perkawinan menurut peraturan perundang-undangan adalah mengenai makna hukum (legal meaning) pencatatan perkawinan. Mengenai permasalahan tersebut, Penjelasan Umum angka 4 huruf b UU 1/1974 tentang asas-asas atau prinsip-prinsip perkawinan menyatakan,
“... bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing- masing agamanya dan kepercayaannya itu; dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akte yang juga dimuat dalam daftar pencatatan”.
Berdasarkan Penjelasan UU 1/1974 di atas nyatalah bahwa pencatatan perkawinan bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan dan pencatatan merupakan kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Adapun faktor yang menentukan sahnya perkawinan adalah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama dari masing-masing pasangan calon mempelai. Diwajibkannya pencatatan perkawinan oleh negara melalui peraturan perundangundangan merupakan kewajiban administratif.
Makna pentingnya kewajiban administratif berupa pencatatan perkawinan tersebut dapat dilihat dari maksud diwajibkannya pencatatan yaitu dalam rangka fungsi negara memberikan jaminan perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia yang bersangkutan yang merupakan tanggung jawab negara dan harus dilakukan sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis yang diatur serta dituangkan dalam peraturan perundang-undangan. Pencatatan demikian tidak bertentangan dengan ketentuan konstitusional karena dilakukan dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai
35 dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis .
Pencatatan perkawinan merupakan ranah administratif yang dilakukan oleh negara dimaksudkan agar perkawinan, sebagai perbuatan hukum penting dalam kehidupan yang dilakukan oleh yang bersangkutan, yang berimplikasi terjadinya akibat hukum yang sangat luas, di kemudian hari dapat dibuktikan dengan bukti yang sempurna dengan suatu akta otentik, sehingga perlindungan dan pelayanan oleh negara terkait dengan hak-hak yang timbul dari suatu perkawinan yang bersangkutan dapat terselenggara secara efektif dan efisien. Artinya, dengan dimilikinya bukti otentik perkawinan, hak-hak yang timbul sebagai akibat perkawinan dapat terlindungi dan terlayani dengan baik, karena tidak diperlukan proses pembuktian yang memakan waktu, uang, tenaga, dan pikiran yang lebih banyak, seperti pembuktian mengenai asal-usul anak dalam Pasal 55 UU Perkawinan yang mengatur bahwa bila asal-usul anak tidak dapat dibuktikan dengan akta otentik maka mengenai hal itu akan ditetapkan dengan putusan pengadilan yang berwenang. Pembuktian yang demikian pasti tidak lebih efektif dan efisien bila dibandingkan dengan adanya akta otentik sebagai buktinya;
Berdasarkan ketentuan aturan hukum tersebut, terdapat perbedaan hukum tentang penetapan anak biologis berdasarkan pencatatan pernikahan dimana menurut hukum Islam baik sebagaimana yang diatur dalam KHI dan juga UU perkawinan tidak mengakui keabsahan perkawinan yang tidak dicatatkan, namun dalam kondisi ditetapkan oleh pengadilan dapat diakui berdasarkan pembuktian dan putusan pengadilan. Dalam kedudukan pencatatan perkawinan sebagai dasar keabsahan perkawinan. Berdasarkan prinsip positivisasi hukum Islam, perkawinan tidak tercatat, merupakan kewajiban setelah dikeluarkannya Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Hal ini tidak dijadikan prinsip sehingga pencatatan perkawinan bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan.
Pencatatan merupakan kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Adapun faktor yang menentukan sahnya perkawinan adalah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama dari masing-masing
36 pasangan calon mempelai. Diwajibkannya pencatatan perkawinan oleh negara melalui peraturan perundang-undangan merupakan kewajiban administratif.5
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam hukum Islam pencatatan menjadi hal yang prinsip dengan diadopsinya UU perkawinan sebagai hukum positif, namun pencatatan perkawinan merupakan kewajiban administratif dalam rangka memberikan jaminan perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia yang bersangkutan yang merupakan tanggung jawab negara dan harus dilakukan sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis yang diatur serta dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Hak Pencatatan Sipil Kependudukan terhadap Pernikahan yang tidak tercatat menurut hukum Islam dan Hukum Positif
Pada hakikatnya Negara memiliki kewajiban dalam memberikan perlindungan dan pengakuan hukum atas setiap peristiwa penting yang dialami oleh setiap warga Negara Indonesia Pelayanan administrasi negara berupa pengurusan identitas resmi yang harus dimiliki setiap masyarakat Indonesia merupakan salah satu pelayanan yang diberikan dari pemerintah kepada masyarakat termasuk hak atas status kewarganegaraan. Bentuk nyata dari kewajiban negara ini adalah
Registrasi atau pencatatan penduduk sangat penting dalam upaya menertibkan administrasi kependudukan. Pembangunan administrasi kependudukan sebagai sebuah sistem merupakan bagian dari administrasi pemerintahan dan administrasi negara dalam memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan terhadap hak-hak individu penduduk yang telah teregistrasi secara menyeluruh.
Permasalahan yang terjadi dalam era teknologi ini banyaknya masalah yang terjadi dalam masyarakat seperti keengganan dan kurangnya kesadaran penduduk untuk melaporkan setiap peristiwa kependudukan serta banyaknya penduduk yang menganggap hak dan kewajiban sudah ia peroleh seperti dalam hukum Islam yang tidak menjadikan registrasi menjadi patokan.
5 Putusan MK NO 46 /PUU-VIII/2010, H. 3
37 Dalam khazanah hukum Islam, kedudukan warga negara dipandang dari perspektif territorial dalam makna daerah yang menjadi tempat tinggalnya apakah meiliki ikatan perjanjian dengan pemerintahan Islam. Dalm perspekif ini para ulama fiqih membagi kewarganegaraan seseorang menjadi muslim dan non-muslim.
Penduduk di wilayah non-muslim terdiri dari ahl al-dzimmi, musta‟min, dan harbiyun sedangkan penduduk di wilayah Dar al-islam terdiri dari muslim, ahl al-zimmi dan musta‟min, sedangkan penduduk dar al-harb terdiri dari muslim dan harbiyun.
Mereka yang menetap di dar al-Islam dan mempunyai komitmen yang kuat untuk mempertahankan dar al-Islam termasuk kedalam kelompok muslim, sedangjkan orang Islam yang menetap sementara waktu di Negeri Islam disebut sebagai musta‟min dan tetap komitmen kepada Islam serta mengakui pemerintahan Islam.6
Sementara itu kaum muslim yang tinggal menetap di dar al-harb dan tidak berkeinginan untuk hijrah ke dar al-Islam statusnya sama dengan muslim lainnya di dar al-Islam. Harta benda dan jiwa mereka tetap terpelihara. Sedangkan Ahl al-Zimmi adalah mereka yang mempunyai jaminan perjanjian dengan kaum Muslim untuk hidup dengan rasa aman di bawah perlindungan Islam dan dalam lingkungan masyarakat Islam. Mereka (orang-orang kafir ini) berada dalam jaminan keamanan kaum Muslim berdasarkan akad dzimmah. Implikasinya adalah, mereka termasuk ke dalam warga negara Darul Islam. Akad dzimmah mengandung ketentuan untuk membiarkan orang-orang non muslim tetap berada dalam keyakinan/agama mereka, disamping menikmati hak untuk memperoleh jaminan keamanan dan perhatian kaum Muslim. Syaratnya adalah mereka membayar jizyah serta tetap berpegang teguh terhadap hukum-hukum Islam di dalam persoalanpersoalan publik.7
Sedangkan kaum Musta‟min Menurut Ahli Fiqih adalah orang yang memasuki wilayah lain dengan mendapat jaminan keamanan dari pemerintah setempat, baik ia muslim maupun harbiyun. Istilah yang mendekati dengan kaum musta`min adalah Mu‟ahid yaitu orang non muslim yang memasuki wilayah Dar al-Islam dengan memperoleh jaminan keamanan dari pemerintah Islam untuk tujuan tertentu,
6 Muhammad Iqbal ,Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama ) h. 79
7 Ibid.
38 kemudian ia kembali ke wilayah Dar al-Harb. Kategorisasi lainya yang dikenal dalam hukum Islam adalah Harbiyun atau Kafir Harbi yaituv setiap orang kafir yang tidak tercakup di dalam perjanjian (dzimmah) kaum Muslim, baik orang itu kafir mu‟ahid atau musta‟min, atau pun bukan kafir mu‟ahid dan kafir musta‟min.8
Menurut hukum positif hak kependudukan berkaitan dengan istilah penduduk dimana dalam Pasal 26 UUD Republik Indonesia disebutkan bahwa penduduk ialah warga Negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.
Dengan demikian dalam konteks hukum positif perbedaan territorial yang ada dalam masyarakat apakah dikuasai pemerintah Islam ataupun tidak bukanlah kategorisasi dari hak kependudukan karena penduduk dipandang dari perspektif warga negara Indonesia atau asing. Adapun hak warganegara terhadap negara di atur dalam UUD 1945 pasal 27-34 adalah sebagai berikut:
a. Hak warga negara dari negara
1) Hak kesamaan kedudukan dihadapan hukum dan pemetintahan.
2) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan 3) Hak berpendapat / kemerdekaan berserikat dan berkumpul
4) Kemerdekaan dalam memeluk agama 5) Hak dan kewajiban membela negara
6) Hak mendapatkan pengajaran / Pendidikan 7) Hak untuk mendapatkan keadilan social
Di samping hak warga negara ada juga Kewajiban warga negara terhadap negara yang disebutkan dalam UUD 1945 yaitu :
1) Kewajiban mentaati hukum dan pemerintah 2) Kewajiban membela negara
3) Kewajiban menghormati hak asasi manusia orang lain 4) Kewajiban usaha pertahan dan keamanan negara
Untuk menetapkan seseorang sebagai warga negara maka dibutuhkan administrasi yang memungkinkan seorang warga negara diakui dan dilindungi hak dan kewajibannya oleh negara. Administrasi kependudukan adalah rangkaian
8 Ibid.
39 kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil 39 dan pengelolaan informasi serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan.
Pendaftaran penduduk adalah proses regristrasi penduduk yang meliputi pendaftaran biodata, penduduk rentan dan pelaporan atas peristiwa kependudukan serta penerbitan dukomen penduduk berupa identitas, kartu atau keterangan yang dikeluarkan oleh instansi penyelenggara.1 Prosedur dan tata cara penyelenggaraan pendaftaran penduduk adalah rangkaian proses yang dilakukan dalam penyelenggaraan pendaftaran penduduk termasuk persyaratan, bentuk masukan dan keluaran. Peristiwa kependudukan adalah kejadian yang dialami penduduk yang harus dilaporkan karena membawa implikasi terhadap penerbitan atau perubahan KTP, KK atau Surat Keterangan Kependudukan lainnya, mengenai Pindah Datang, Perubahan Alamat.
Untuk itu dalam aspek hukum postif lahir Undang-undang no. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dimana dalam Pasal 3 membahas tentang kewajiban penduduk yaitu: setiap penduduk wajib melaporkan peristiwa kependudukan dan peristiwa pentingyang dialaminya kepada instansi pelaksana, dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Peristiwa Kependudukan yang dimaksud dalam norma hukum Undang-undang ini adalah kejadian yang dialami Penduduk yang harus dilaporkan karena membawa akibat terhadap penerbitan atau perubahan Kartu Keluarga dan/atau surat keterangan kependudukan lainnya meliputi pindah datang, perubahan alamat, serta status tinggal terbatas menjadi tinggal tetap.9 Peristiwa tersebut adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan.10
Dalam perkembangannya, terkqait dengan pencatatan pernikahan, Kementreian dalam Negeri mengeluarkan Permendagri No. 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran, yang didalamnya berisikan
9 Pasal 1 Angka 11 Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan.
10 Pasal 1 Angka 17 Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan
40 tentang pemberlakuan SPTJM (Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak), yang berguna untuk menggantikan persyaratan pembuatan kartu keluarga serta akta kelahiran, apabila pemohon tidak bisa memenuhi persyaratan berupa akta nikah dan surat keterangan lahir dari dokter atau penolong kelahiran. Apabila dalam pemenuhan persyaratan pembuatan akta kelahiran berupa surat keterangan lahir dari dokter/ bidan/ penolong kelahiran tidak terpenuhi, maka bagi pemohon untuk melampirkan SPTJM kebenaran data kelahiran. Begitupun juga ketika persyaratan berupa akta nikah/kutipan akta perkawinan tidak terpenuhi, maka bagi pemohon untuk melampirkan SPTJM kebenaran sebagai pasangan suami istri. Dan surat yang dilampirkan oleh pemohon berupa SPTJM menjadi tanggung jawab pemohon sepenuhnya.11
Pemberlakuan SPTJM serupa juga berlaku bagi suami dan istri dalam perkawinan tidak tercatat yang ingin mencantumkan status perkawinannya kedalam kartu keluarga, serta pemberlakuan SPTJM bagi pelaku perkawinan tidak tercatat yang tidak bisa memenuhi persyaratan penerbitan akta kelahiran berupa akta nikah dan surat keterangan lahir. Hal ini tercantum dalam Pasal 5 Ayat 2 Permendagri No.
109 Tahun 2019 Tentang formulir dan buku yang digunakan dalam administrasi kependudukan yang menyatakan:
a. Formulir surat pernyataan tanggung jawab mutlak perkawinan/perceraian yang belum tercatat sebagai salah satu persyaratan pencantuman status perkawinan/perceraian dalam kartu keluarga bagi penduduk yang tidak mempunyai dokumen berupa buku nikah, akta perkawinan atau kutipan akta perceraian.
b. Formulir surat pernyataan tanggung jawab kebenaran data kelahiran, untuk persyaratan pencatatan kelahiran apabila pemohon tidak dapaat menunjukan surat keterangan lahir dari dokter/bidan/penolong kelahiran.
c. Formulir surat pernyataan tanggung jawab kebenaran sebagai pasangan suami isteri, untuk persyaratan pencatatan kelahiran apabila pemohon tidak
11 pasal 1 angka 18-19 Permendagri No. 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran,
41 dapaat menunjukan buku nikah/kutipan akta perkawinan tetapi status hubungan orang tua dalam kartu keluarga menunjukan sebagai suami isteri.
Dengan demikian terdapat perbedaan antara kartu keluarga serta akta kelahiran dari perkawinan yang sah menurut agama dan tercatat oleh negara, dengan akta kelahiran maupun KArtu Keluarga perkawinan yang hanya memenuhi peraturan agama saja. Perbedaan tersebut berada pada status yang dituliskan dalam dokumen tersebut. Status “kawin” ditulis dalam akta Kelahiran dan Kartu Keluarga dari perkawinan sah dalam agama serta tercatat oleh negara, sedangkan bagi penduduk yang melakukan perkawinan menurut agamanya saja dan tidak tercatat oleh negara ditulis dalam kolom status perkawinan sebagai “status kawin tidak tercatat”. Hal ini didasarkan pada Pasal 5 Permendagri No. 9 tahun 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran: a. Dalam hal persyaratan berupa akta nikah/kutipan akta perkawinan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) huruf b tidak terpenuhi, dan status hubungan dalam keluarga pada kartu keluarga tidak menunjukan status perkawinan sebagai suami-istri, dicatat dalam register akta kelahiran dan kutipan akta kelahiran dengan elemen data sebagaimana tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan menteri ini.12
Ketentuan hukum dalam Permendagri tersebut merupakan bentuk fasilitasi dari pelaku kawin tidak tercatat dengan tetap mendapatkan kartu keluarga merupakan langkah untuk melindungi pelaku perkawinan tidak tercatat dengan mencatatkannya dalam administrasi kependudukan. Dengan demikian keberadaan perkawinan yang tidak tercatat memenuhi syarat adminitrasi kependudukan meski tidak memberikan kekuatan hukum dalam persoalan yang akan dihadapi karena persoalan keperdataan seperti waris, nafkah dan pengasuhan anak tetap harus didasarkan pada keputusan pengadilan. Kebijakan ini dilakukan hanya untuk melindungi terutama anak yang lahir dari perkawinan yang tidak tercatat dalam memperoleh haknya sebagaimana yang sudah diatur dalm UUD Republik Indonesia.
12 Pasal 5 Permendagri No. 9 tahun 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran
42 Menfasilitasi kartu keluarga serta akta kelahiran ini bukan berarti melegalkan perkawinan sirri namun hanya sebagai solusi bagi sebuah perkawinan yang memang nyatanya tidak tercatat dari semula. Jadi kebijakan ini sebagai solusi sementara karena perkawinan yang berlum tercatat ini hanya bisa menjadi legal dengan cara diisbatkan atau dicatat belakangan di pengadilan Agama. Perlindungan terhadap anak menjadi persoalan penting karena salah satu karakter maqashid syariah dari ajaran Islam hifzun nasl, yakni terpeliharanya kesucian keturunan manusia sebagai pemegang amanah khalifah di muka bumi. Hubungan darah (nasab) antara orang tua dan anak merupakan hubungan keperdataan yang paling kuat dan tidak dapat diganggu gugat oleh hubungan lain dari manapun. hubungan nasab dalam hukum Islam berimplikasi setidaknya pada beberapa aspek hukum, yakni kewajiban nafkah, perwalian, kewarisan dan larangan pernikahan. Dalam hal kewajiban nafkah, kewajiban ayah menafkahi anak selama anak kandungnya dalam keadaan membutuhkan nafkah.13
Dengan demikian Islam memiliki kepentingan hukum untuk mengatur lalu- lintas hubungan nasab manusia. Dari sudut ini, Islam pada garis besarnya membagi anak dalam dua kategori yakni Anak Syar'iy dan Anak Thabi'iy. Dikatakan anak syar'iy karena agama menetapkan adanya hubungan nasab secara hukum dengan orang tuanya dan disebut anak thabi'iy karena secara hukum anak tersebut dianggap tidak memiliki hubungan nasab dengan orang tuanya kecuali hanya ibunya. Anak syar'iy adalah anak yang dilahirkan suami isteri dari pernikahan yang sah, atau yang dilahirkan dari suami isteri yang terikat dalam pernikahan yang fasid sebelum dinyatakan kefasidannya, atau yang dilahirkan akibat hubungan syubhat (wathi syubhat). Anak yang dilahirkan dari tiga akibat di atas dinamakan anak syar'iy yang secara hukum memiliki pertalian nasab dengan orang tua laki-lakinya dan tetap berlaku bagi keduanya hak dan kewajiban selaku orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya.14
13 Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (cet-2, Kencana, Jakarta, 2004), hlm. 157-63.
14 M. Thahir Maloko, Anak Sah dan Anak Luar Nikah dalam jurnal Al-Risalah, Volume 10 Nomor 1 Mei 2010, hlm. 45
43 Di luar tiga kategori di atas, anak yang lahir disebut anak thabi'iy (anak di luar nikah) yang secara hukum tidak memiliki hubungan nasab dengan bapaknya. Ia hanya memiliki hubungan nasab dengan ibu yang melahirkan berdasarkan keumuman hadis al-Waladi lil Firasy.15 Dalam hukum Perdata juga terdapat pengelompokan anak dalam dua bagian yaitu anak sah dan anak di luar pernikahan.
Anak sah adalah anak yang dianggap lahir dari pernikahan yang sah antara ayah dan ibunya. Anak yang lahir di luar pernikahan dapat diakui oleh ayah dan ibunya.
Melalui pengakuan anak, anak di luar pernikahan memperoleh pertalian dengan orang yang mengakuinya, tapi terbatas dengan yang mengakuinya saja. Pertalian dengan keluarga ayah dan ibunya baru terjawab melalui pengesahan anak yang mengharuskan mereka berdua nikah secara sah. Hanya saja Hukum Perdata tidak mengenal pengakuan terhadap anak hasil zina.16
Pengelompokan anak dari perkawinan tidak tercatat termasuk ke dalam kategori anak syar`iy karena pada dasarnya mereka lahir dalam perkawinan yang sah namun tidak dicatatkan. Oleh karena itu hak kependudukan yang mereka miliki tidak boleh hilang sebagai kebutuhan administrative mesipun membutuhkan keputusan pengadilan untuk memperoleh hak konstitusional mereka.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan agama dan kepercayaan diakui oleh negara keabsahannya bila memenuhi ketentuan hukum yang ditetapkan agama. Hanya saja dalam persoalan kekuatan hukum tidak terlindungi karena tidak memiliki akta otentik berupa buku nikah yang meregistrasi peristiwa perkawinan yang terjadi. Untuk melindungi secara admninistratif beberapa peraturan perundangan dalam hukum positif di Indonesia telah melahirkan pengakuan dengan melakukan pencatatan dalam dokumen pendudukan berupa kartu keluarga dan akte kelahiran. Hal ini didasarkan pada ketentuan hukum dalam Presiden Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil, Permendagri No. 9 tahun
15 Ibid.
16 R. Soebekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata (Cet. XVII; Jakarta: Intermasa, 1987), hlm. 48.
44 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran dan Permendagri No. 109 Tahun 2019 Tentang formulir dan buku yang digunakan dalam administrasi kependudukan. Dalam ketiga Peraturan tersebut terdapat fasilitasi terhadap perkawinan yag tidak tercatat dengan tetap mendapatkan kartu keluarga maupun akte kelahiran namun tidak memberikan kekuatan hukum dalam berbagai persoalan hukum. Kebijakan ini hanya sebagai solusi sementara karena perkawinan yang berlum tercatat ini hanya bisa menjadi legal dengan cara diisbatkan atau dicatat belakangan di pengadilan Agama.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Gani Abdullah, Pengantar Kompilasi Hukum Islam Dalam Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Gema Insani Pers, 1994)
M. Thahir Maloko, Anak Sah dan Anak Luar Nikah dalam jurnal Al-Risalah, Volume 10 Nomor 1 Mei 2010
Mahmud Syaltut, al Fatawa, (Kairo: Daar al Qalam, tth)
Muhammad Iqbal ,Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama )
Mukhlisin Muzarie, Kontroversi Perkawinan Wanita Hamil, (Yogyakarta: Pustaka Dinamika, 2002)
Permendagri No. 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran, R. Soebekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata (Cet. XVII; Jakarta: Intermasa, 1987), hlm.
48.
Satria Effendi, Problematika Hukum Keluarga Islam Kontemporer, (cet-2, Kencana, Jakarta, 2004)
Peraturan Perundang-undangan :
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, tentang Perkawinan
Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991, tentang Kompilasi Hukum Islam
Presiden Nomor 96 Tahun 2018 Tentang Persyaratan Dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk Dan Pencatatan Sipil
45 Permendagri No. 9 tahun 2016 Tentang Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran Permendagri No. 109 Tahun 2019 Tentang formulir dan buku yang digunakan dalam
administrasi kependudukan
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46 /PUU-VIII/2010