5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sleep hygiene
2.1.1 Definisi Sleep hygiene
Sleep hygiene adalah berbagai macam perilaku, kondisi
lingkungan, dan berbagai faktor lain yang berhubungan dengan tidur yang dapat digunakan sebagai pengobatan insomnia (Stepanski &
Wyatt, 2003). Sleep hygiene juga diartikan sebagai perilaku atau kebiasaan yang dapat meningkatkan kualitas tidur, durasi tidur yang cukup, dan meningkatkan kesiapan menjalani hari (Kor K, & Mullan BA, 2011).
2.1.2 Rekomendasi Sleep hygiene
1. Menghindari Konsumsi Kafein
Kafein adalah substansi psikoaktif yang paling banyak digunakan di dunia. Kafein menyebabkan sulit tidur karena stimulasi sususan saraf pusat, meningkatkan denyut jantung, produksi adrenalin, dan juga mensupresi produksi melatonin (Zhang, 2006). Dalam level molecular, efek waspada yang didapat dari kafein di fasilitasi oleh blokade dari reseptor adenosin di bagian basal otak depan dan hipotalamus. Kadar kafein di dalam plasma mencapai puncaknya sekitar 30 menit setelah pemberian secara oral, dan waktu paruh dari satu dosis kafein adalah 3-7 jam, tetapi hal ini dapat dipengaruhi oleh perbedaan sensitivitas, metabolisme, serta penumpukan (Irish LA
et al., 2014). Waktu paruh kafein dinyatakan meningkat seiring bertambahnya usia dan senyawa kafein tetap aktif dalam waktu yang cukup lama pada orang dewasa (Polasek TM et al., 2013).
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kafein dengan dosis yang cukup besar saat mendekati waktu tidur memiliki efek yang akut dalam mengganggu tidur, sedangkan dalam dosis kecil efeknya menjadi kurang konsisten (Irish LA et al., 2014).
2. Menghindari Nikotin
Seperti kafein, nikotin juga meningkatkan gairah dan kondisi terjaga, terutama melalui saraf kolinergik di bagian basal otak depan. Penggunaan nikotin baik dari rokok, pil, atau patch akan berhubungan dengan terganggunya tidur. Nikotin berefek pada sistem saraf pusat dengan menstimulasi reseptor nikotin- asetilkolin. Reseptor tersebut tersebar pada neuron presinap di area seperti hipotalamus rostral dan formasio retikularis pada batang otak. Aktivasi reseptor nikotin menyebabkan pelepasan beberapa neurotransmitter, termasuk asetilkolin, dopamin, serotonin, norepinefrin, dan GABA(Zhang, et al., 2006). Untuk lebih spesifik, penggunaan nikotin berhubungan dengan meningkatnya SOL (Sleep Onset Latency), menurunnya TST (Total Sleep Time), lebih sering terbangun di pagi hari dan penekanan pada tidur tipe REM (Rapid Eye Movement) serta tidur tipe SWS (Slow Wave Sleep) (Jaehne A et al., 2009). Tetapi jika melakukan pemberhentian konsumsi nikotin untuk
meningkatkan kualitas tidur, sangat penting untuk mengevaluasi efek langsung yang timbul saat pemberhentian konsumsi nikotin terhadap tidur itu sendiri (Irish LA et al., 2014).
Pada tahap awal pembatasan konsumsi rokok, keluhan terhadap tidur adalah hal yang sering terjadi. Hal ini mengacu pada pembatasan nikotin yang berujung pada peningkatan gairah dan hasrat. Gejala dari pemberhentian ini akan mencapai puncak beberapa hari setelah dilakukannya pemberhentian dan bertahan hingga 3-4 minggu (Hughes JR, 2007). Sebuah studi membandingkan kualitas tidur dari bukan perokok, mantan perokok, dan perokok. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan bahwa mantan perokok tidak jauh berbeda dengan bukan perokok, yang berarti gangguan tidur akibat merokok dapat diatasi setelah penghentian dan perbaikan tidur jangka panjang dapat dicapai setelah penghentian merokok, namun hal ini juga tergantung metodologinya (Irish LA et al., 2014).
3. Menghindari Alkohol
Konsumsi alkohol adalah perilaku yang tidak dianjurkan dalam praktik sleep hygiene, mulai dari pembatasan hingga pemberhentian konsumsi sesaat sebelum tidur. Penggunaan alcohol mendekati waktu tidur berkaitan dengan penurunan SOL (Sleep Onset Latency) dan peningkatan SWS (Slow Wave Sleep).
Meskipun demikian, ketika alkohol dimetabolisme dalam beberapa jam pertama setelah tidur, tidur selanjutnya menjadi
lebih ringan dengan peningkatan tahap 1 tidur dan tidur tipe REM (Rapid Eye Movement) (Ebrahim IO, 2013). Setelah menyelesaikan program edukasi sleep hygiene yang dirancang untuk mengurangi asupan alkohol pada waktu tidur, Morita dan rekannya menemukan bahwa pengurangan asupan alkohol pada waktu tidur berefek pada berkurangnya kantuk di siang hari.
Namun, masih belum jelas apakah perubahan dalam tidur harus dikaitkan dengan perubahan konsumsi alkohol karena data tidak disajikan terpisah antara konsumer alkohol dan bukan konsumer (Morita E, Miyazaki S, Okawa M, 2012). Efek dari alkohol biasanya ringan dan kurang konsisten di dosis yang kecil, yang menunjukkan bahwa konsumsi yang tidak terlalu sering (1-3 minuman standar) memiliki kemungkinan yang kecil untuk mengganggu tidur dibandingkan dengan dosis sedang atau tinggi (Ebrahim IO, 2013). Tetapi pada individu yang tidak tergantung atau tidak terbiasa dengan alkohol, konsumsi alkohol dalam jumlah kecil dapat mempengaruhi ataupun mengganggu tidur.
Efektivitas dari praktik rekomendasi sleep hygiene terhadap individu yang bergantung pada konsumsi alkohol atau pecandu alkohol masih belum jelas. Penelitian tambahan perlu mempertimbangkan pengaruh pemberhentian konsumsi alkohol dan tidur untuk berbagai pola atau variasi penggunaan alkohol untuk lebih memastikan pola konsumsi seperti apa yang meningkatkan resiko gangguan tidur (Irish LA et al., 2014).
4. Olahraga
Olahraga ringan adalah salah satu rekomendasi sleep hygiene, akan tetapi olahraga yang mendekati waktu tidur
sebaiknya dihindari. Melakukan olahraga yang cukup berat mendekati waktu tidur dapat meningkatkan aktivitas fisiologis menjelang tidur yang berdampak pada terganggunya permulaan (onset) tidur. Peningkatan denyut jantung lebih dari +20 bpm dapat menjadi sebuah acuan untuk menentukan apakah onset tidur akan terganggu (Oda S, 2014). Penelitian sebelumnya yang meneliti mengenai pengaruh olahraga terhadap pengidap insomnia menyatakan bahwa intensitas olahraga yang cukup dapat sedikit memperbaiki gangguan tidur, tetapi hal ini harus di konfirmasi dengan individu yang tidak memiliki gangguan tidur sebagai sampel (Passos GS et al., 2010).
Secara keseluruhan, akumulasi dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi pendekatan yang berguna untuk mengurangi gangguan tidur. Namun, olahraga merupakan perilaku yang cukup kompleks dengan banyak hal untuk dipertimbangkan ( tipe, durasi, intensitas, waktu) dan faktor-faktor ini belum diperiksa secara mendalam untuk memberikan rekomendasi perilaku terkait dengan dampak olahraga terhadap tidur pada populasi umum. Penting untuk mengetahui hubungan dua arah antara olahraga dan tidur, karena
data menunjukkan bahwa tidur dapat menjadi prediktor untuk aktivitas fisik keesokan harinya (Dzierzewski JM et al.,2014) 5. Manajemen Stres
Stres sebenarnya bukan merupakan komponen inti dari sleep hygiene, beberapa rekomendasi telah bermunculan selama beberapa tahun yang menyarankan untuk mengurangi kekhawatiran dan melakukan aktivitas yang dapat memberikan efek rileks terutama menjelang tidur (Stepanski & Wyatt, 2003).
Stres mengacu pada kejadian atau peristiwa yang berujung pada perubahan fisiologis secara akut atau kronik seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah serta perubahan respon psikologis. Kedua hal tersebut berlawanan dengan inisiasi dan pemeliharaan tidur. Stres psikologis meningkatkan gairah atau kewaspadaan psikofisiologis yang dianggap sebagai mekanisme utama stress dalam mengganggu tidur, terutama ketika gairah atau kewaspadaan itu hadir saat tidur (Irish LA et al., 2014).
Paparan terhadap stres akut mendekati waktu tidur mengakibatkan peningkatan aktivitas simpatis, terjaga sepanjang malam, dan berkurangnya efek restoratif tidur yang diukur dengan PSG (Polisomnografi) (Hall M et al.,2004). Teknik yang diketahui untuk mengurangi stress, seperti relaksasi dan MBSR (Mindfulness-based stress reduction) telah diuji mengenai pengaruhnya terhadap tidur yang dimana hal tersebut
memberikan pengaruh positif dalam manajemen tidur sebagai rekomendasi yang efektif (Irish LA et al., 2014).
6. Cahaya
Cahaya yang terlalu terang dapat menghambat proses tidur karena mempengaruhi kadar melatonin. Saat manusia terpapar cahaya gelap tubuh menghasilkan neurohormon spesifik yang mengatur siklus tidur bangun, temperatur tubuh, tekanan darah, metabolisme, dan reproduksi (Veitch, et al., 2004). Saat cahaya masuk kedalam mata, sinyal cahaya ditangkap oleh melanopsin di retina. Ketika malam hari, cahaya berada dalam nilai yang rendah dan melanopsin mengirimkan sinyal pada suprachiasmatic nucleus (SCN) menandakan cahaya tidak ada.
SCN kemudian mengeluarkan melatonin yang menyebabkan rasa kantuk (Roberts, 2010).
7. Mengatur Jadwal Tidur
Mengatur jadwal tidur dan atau jadwal bangun tidur berguna untuk memaksimalkan sinkronisasi antara tidur nyenyak fisiologis, ritme sirkadian, dan episode tidur malam hari (Stepanski & Wyatt, 2003). Selain itu, jadwal tidur dan bangun yang tidak teratur meningkatkan variabilitas dalam pengaturan waktu tidur yang pada akhirnya berakibat pada disinkronisasi antara waktu tidur-bangun dan ritme sirkadian (Buysse DJ et al., 2011). Disisi lain, terapi tidur klinis saat ini (control stimulus, CBT-I) memberlakukan pengaturan waktu bangun, tetapi
memungkinkan variabilitas pada waktu tidur karena individu diinstruksikan untuk tidak tidur ataupun menuju ke kamar tidur sebelum mereka mengantuk. Perawatan ini efektif pada populasi klinis, namun manfaat yang terisolasi dari komponen pengaturan waktu tidur masih belum diketahui (Morin CM, 2011). Beberapa studi pada populasi nonklinis mengenai hubungan pengaturan jadwal tidur terhadap tidur menemukan bahwa jadwal tidur yang tidak teratur berpengaruh pada rasa kantuk di siang hari dan kualitas tidur yang dilaporkan juga buruk (Monk TH et al., 2011).
8. Menghindari Tidur Siang
Tidur di siang hari diketahui dapat mengganggu homeostasis tidur, dan sleep hygiene merekomendasikan untuk menghindari tidur siang lebih dari 30 menit (Stepanski & Wyatt, 2003). Disisi lain, sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak tidur siang selama seminggu, semakin tinggi peningkatan tahap 1 dan 2 tidur dan terjadi penurunan SWS (Slow Wake Sleep). Tidur siang tidak memiliki efek langsung terhadap
tidur malam hari, namun frekuensi tidur siang memiliki korelasi yang positif dengan rasa kantuk yang subjektif (McDevitt EA, Alaynick WA, Mednick SC, 2012). Namun penelitian mengemukakan bahwa pada orang dewasa yang lebih tua, tidur di siang hari berkaitan dengan banyak laporan mengenai gangguan tidur, peningkatan WASO (Wake After Sleep Onset), fragmentasi tidur, dan efisiensi tidur yang rendah. Tidur siang
pada peserta ini lebih dari 30 menit , dan data ini tidak mendukung hubungan yang kuat antara tidur siang dan tidur malam hari pada populasi umum (Foley DJ et al.,2007, Goldman SE et al.,2008). Kesimpulannya, penelitian yang mendukung untuk menghindari tidur siang masih terbatas, yang menunjukkan bahwa rekomendasi ini masih belum berlaku untuk populasi nonklinis (Irish LA et al., 2014).
2.2 Tidur
2.2.1 Definisi Tidur
Tidur adalah suatu proses aktif, bukan sekedar hilangnya keadaan terjaga. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak berkurang saat tidur (Sherwood L, 2011). Tidur merupakan bentuk fisiologis yang berulang dari penurunan kesadaran secara reversibel dimana terjadi penurunan fungsi kognitif secara luas sehingga otak tidak merespon secara penuh terhadap stimulus sekitar. Tidur merupakan peristiwa yang kompleks, oleh karena itu untuk dapat menggambarkannya biasa digunakan alat elektroencephalografi (EEG), untuk merekam aktivitas gelombang otak, elektro-okulografi (EOG) untuk merekam pergerakan bola mata, elektromyografi (EMG) untuk merekam aktivitas elektrikal otot (Stickgold.R, 2009).
2.2.3 Fisiologi Tidur
Siklus tidur-bangun meliputi sirkuit neural internal yang kompleks. Pada orang dewasa normal siklus ini dibagi menjadi 5 fase, yaitu fase 1-4 yang disebut Non Rapid Eye Movement Sleep (NREM) dan fase ke 5 yang di sebut dengan Rapid Eye Movement Sleep (REM).
Ke lima siklus ini dapat berulang beberapa kali dalam suatu periode tidur. Fase 1-2 disebut light NREM sedang Fase 3-4 disebut deep NREM atau juga dapat dikenali Slow-Wave Sleep (SWS) (Stickgold R, 2009, Kryger.M, 2005, Posner J, 2007).
Siklus tidur normal dimulai dari fase 1 NREM ,yang kemudian diikuti oleh fase 2, kemudian diikuti dengan SWS, kemudian kembali ke fase 2 dan dilanjutkan dengan siklus REM. Pada orang dewasa normal, siklus ini dapat terjadi 5-7 kali setiap periode tidur yang berlangsung kurang lebih 90 menit dan biasanya siklus pertama terjadi paling singkat dibandingkan siklus lainnya. Pada 1/3 dari periode tidur, slow wave sleep mendominasi, sedangkan proporsi dari REM meningkat beberapa jam terahkir dari periode tidur. Periode REM yang pertama terjadi sekitar 70-90 menit setelah tidur dimulai. Pada masa hidupnya manusia mengalami 2%-5% dari periode tidurnya pada fase 1 NREM, 45-55% pada fase 2 , 13-23% pada fase SWS dan 20-25%
pada fase REM.
Reticular Activating System (RAS) berfungsi mengatur kondisi saat tidur REM. RAS mengatur rangsang kortikal. Saat terbangun, aktifitas pada ascending RAS menstimulasi otak menjadi beberapa
sistem neurologis pada korteks. Nuclei Gigantocellular Tegmental Field (GTF) yang berlokasi di pons atas berfungsi membentuk
gelombang otak. GTF aktif secara spontan membentuk aktifitas tingkat tinggi. Saat tidur tahap 1 dan 2, nucleus ceruleus (NC) menjadi aktif dan bertindak sebagai penghambat GTF. Aktivasi kortikal melambat selama tahap 3 dan 4. Selanjutnya, saat tidur REM, NC melepaskan inhibisi terhadap GTF, sehingga GTF menjadi aktif kembali.Sinyal yang dikirimkan GTF menuju korteks disebut PGO karena berjalan dari Pons menuju Nucleus Geniculatus Lateral (NGL) di thalamus lalu menuju korteks di daerah occipital. Walaupun pada kondisi terbangun gelombang PGO muncul, gelombang ini lebih aktif saat tidur REM.
Stimulasi yang sudah sampai pada korteks oksipital menciptakan gambaran mimpi dan berkoresponden terhadap kondisi REM sendiri.
Beberapa peneliti berpikir bahwa pons juga menstimulasi neuron okulomotor, yang menghasilkan gerakan mata cepat (Zilmer et al., 2008).
Tidur terjadi karena adanya pengeluaran serotonin dari sel tertentu dalam sistem tidur yakni raphe pada pons dan otak depan bagian tengah di daerah sinkronisasi bulbar (bulbar synchronizing region, BSR). Ketika orang mencoba tertidur, mereka akan menutup
mata dan berada dalam keadaan rileks, stimulus ke RAS pun menurun.
Jika ruangan gelap dan tenang, maka aktivasi RAS selanjutnya akan menurun, BSR mengambil alih yang kemudian akan menyebabkan tidur (Agustin, 2012).
Irama sirkadian adalah pola biologis yang berulang selama rentang waktu 24 jam (Potter & Perry, 2005). Irama sirkadian diatur oleh hipotalamus. Irama sirkadian mengatur siklus tidur bangun, sekresi hormon, pengaturan suhu tubuh, suasana hati dan performa. Siklus tidur bangun muncul karena pelepasan hormon tertentu. Melatonin disintesis kelenjar pineal saat waktu gelap, lalu dilepaskan ke dalam darah (Agustin,2012). Proses sirkadian diawali dari paparan cahaya eksternal.
Saat cahaya masuk kedalam mata, sinyal cahaya ditangkap oleh melanopsin di retina. Ketika malam hari, cahaya berada dalam nilai yang rendah dan melanopsin mengirimkan sinyal pada suprachiasmatic nucleus (SCN) menandakan cahaya tidak ada. SCN kemudian
mengeluarkan melatonin yang menyebabkan rasa kantuk (Roberts, 2010). Melatonin diduga mempengaruhi aktivasi Ventrolateral Pre- optic Nucleus (VLPO) (Saper, 2005).
Durasi dan distribusi fase tidur berbeda-beda pada tiap tahap usia kehidupan manusia. Pada bayi baru lahir, durasi tiap siklus berlangsung selama kurang lebih 60 menit, sedangkan pada dewasa muda kurang lebih 90 menit. Durasi tidur menurun sesuai dengan pertambahan usia seseorang. Bayi baru lahir dapat tidur sampai 16 jam per harinya sedangkan pada usia bayi beranjak 6 bulan, waktu tidur berkurang menjadi 12 jam perharinya. Pada usia dewasa normal durasi tidur berlangsung antara 7,5 sampai 8 jam tiap harinya. Fase REM pada bayi baru lahir lebih panjang dibandingkan pada anak-anak dan dewasa.
Fase REM pada bayi baru lahir meliputi 50% dari periode tidurnya.
Ketika usia bayi beranjak 3 bulan, fase ini secara bertahap berkurang sampai usia nya menginjak masa kanak-kanak dan dewasa. Sebaliknya, lama fase SWS akan mulai berkurang saat seseorang menginjak usia 30an dan akan menghilang saat menginjak usia dekade ke 9 (LeeChiong T, 2008, Stickgold R, 2009).
2.2.4 Fungsi Tidur
Secara keseluruhan fungsi tidur adalah restoratif (memperbaiki) kembali organ – organ tubuh. Kegiatan memperbaiki kembali tersebut berbeda saat Rapid Eye Movement (REM) dan Nonrapid Eye Movement (NREM). Nonrapid Eye Movement akan mempengaruhi proses anabolik dan sintesis makromolekul ribonukleic acid (RNA).
Rapid Eye Movement akan mempengaruhi pembentukan hubungan baru pada korteks dan sistem neuroendokrin yang menuju otak. Tidur dapat juga digunakan sebagai tanda terdapatnya kelainan pada tubuh yaitu terdapatnya gangguan tidur yang menjadi peringatan dini keadaan patologis yang terjadi di tubuh (Tarwoto dan Wartonah, 2006). Tidur juga berpengaruh terhadap fungsi otak. Tidur yang cukup membantu meningkatkan daya ingat, meningkatkan daya fokus dan kreativitas, serta membantu dalam membuat keputusan (Gina R et al, 2010).
2.2.5 Kualitas Tidur
Kualitas tidur adalah kepuasan seseorang terhadap tidur, sehingga seseorang tersebut tidak memperlihatkan perasaan lelah, mudah terangsang, dan gelisah, lesu, apatis, kehitaman disekitar mata, kelopak mata bengkak, konjungtiva merah, mata perih, perhatian terpecah-
pecah, sakit kepala, dan sering menguap atau mengantuk (Brick, Seely, dan Palermo, 2010).
Remaja usia 12-18 tahun memerlukan waktu tidur 8-9 jam per hari. Waktu tidur masih berperan penting bagi kesehatan seperti pada masa kanak-kanak mereka. Walaupun ditemukan bahwa banyak remaja memerlukan waktu tidur yang mungkin lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, tuntutan sosial membuat mereka sulit mendapatkan waktu dan kualitas tidur yang sesuai. Saat seseorang mencapai tahap dewasa, mereka cenderung memerlukan waktu 6-7 jam per hari dengan tidur yang lebih sering pada siang hari (Robotham, Chakkalackal, dan Cyhlarova, 2011)
2.2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Tidur
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tidur antara lain (Alimul A, 2006 dalam Ibrahim, 2013) :
1. Penyakit
Sakit yang menyebabkan nyeri dapat menimbulkan masalah tidur. Seseorang yang sedang sakit membutuhkan waktu tidur lebih lama dari pada keadaan normal. Penyakit medis menyebabkan gangguan substrat neuroanatomi yang mengatur siklus tidur bangun dengan secara tidak langsung mempengaruhi neuron pencetus tidur melalui toksin dan metabolik. Berikut kondisi medis yang sering diasosiasikan dengan keluhan gangguan tidur: hipertensi, chronic obstrutive pulmonary disease, bronchitis, asma, gangguan muskuloskeletal, diabetes mellitus,
obesitas, epilepsi, angina, aritmia, gastroesophageal reflux, hipertiroid, hipotiroid, gagal ginjal kronis, African sleeping sickness (trypanosomiasis), dan kanker (Chokroverty, 2009).
2. Lingkungan
Lingkungan dapat mendukung atau menghambat tidur, temperatur, ventilasi, penerangan ruangan, dan kondisi kebisingan sangat berpengaruh terhadap tidur seseorang.
Kebisingan adalah suara atau bunyi yang dapat mengganggu tidur. Bunyi bising dapat menyebabkan tertundanya tidur dan juga dapat membangunkan seseorang dari tidur.
3. Kelelahan
Kelelahan akan berpengaruh terhadap pola tidur seseorang.
Kelelahan yang didapatkan dari kerja yang melebihi batas kemampuan seseorang, dapat menyebabkan terganggunya proses tidur. Apabila proses tidur sudah terganggu, maka kualitas tidur yang diharapkan baik tidak akan tercapai. Semakin lelah seseorang akan semakin pendek tidur REMnya.
4. Gaya hidup
Orang yang bekerja shift dan sering berubah shift nya harus mengatur kegiatannya agar dapat tidur pada waktu yang tepat.
Keadaan rileks sebelum istirahat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kemampuan seseorang untuk dapat bisa tidur. Selain orang yang bekerja shift, kebiasaan berolahraga juga dapat mempengaruhi sinkroniasi irama sirkadian dari hari ke hari.
5. Stres emosi
Depresi dan kecemasan seringkali mengganggu tidur.
Seseorang yang dipenuhi dengan masalah mungkin tidak bisa rileks untuk bisa tidur. Teori menyebutkan gangguan tidur pada pasien depresi disebabkan kurangnya neurotransmiter seperti serotonin, histamin, noradrenalin, atau asetilkolin menyebabkan gangguan pada ritme tidur (Nutt, et al., 2008).
6. Obat-obatan
Beberapa obat-obatan berpengaruh terhadap kualitas tidur.
Obat-obatan yang mengandung diuretic menyebabkan insomnia, anti depresan akan memsupresi REM.
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur.
Hipnotik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM. Obat- obatan beta blocker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga saat malam hari (Agustin, 2012).
Kortikosteroid juga diketahui dapat menurunkan tidur REM dan tidur gelombang lambat, membuat mudah terbangun, dan meningkatkan tidur NREM tahap II (Machado, et al.,2013).
Antihistamin klasik meningkatkan kantuk di siang hari dan menurunkan kualitas tidur. Generasi antihistamin baru menurunkan sleep latency dan kecemasan saat tidur, dan dapat meningkatkan kantuk di siang hari (Ozdemir, et al., 2014).
2.3 Hubungan Sleep hygiene Dengan Kualitas Tidur
Sleep hygiene mempengaruhi pada proses pembentukan melatonin dan
kadar serotonin-asetilkolin dalam darah (Zhang, 2006). Sleep hygiene dapat dinilai dengan cara mengukur tingkah laku dan variabel lingkungan yang menyebabkan kualitas tidur yang relative buruk menggunakan Sleep hygiene Index (SHI). SHI terdiri dari 13 pertanyaan yang ditujukan untuk menilai
tingkah laku yang termasuk dalam komponen sleep hygiene (Mastin, 2006).
Kualitas tidur dapat diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) yang terdiri dari tujuh komponen yang mempengaruhi kualitas tidur (Buysse, 1989).