• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori 1. Teori Agensi

Teori Agensi dapat didefinisikan sebagai kontrak antara satu atau beberapa orang yang memberikan wewenang kepada orang lain (agen) untuk mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Hubungan keagenan tersebut adalah ketika pemilik (prinsipal) menyewa individu (agen) untuk melakukan sejumlah jasa, tindakan dan mendelegasikan wewenangnya kepada agen dalam pengambilan keputusan. Teori keagenan merupakan sebuah teori yang menjelaskan tentang hubungan kerja antara manajemen dengan pemilik perusahaan (pemegang saham). Manajemen dapat diberi kewenangan dan tugas untuk mengelola perusahaan atas nama pemegang saham. Teori keagenan atau teori agensi muncul ketika pemegang saham mempekerjakan pihak lain untuk mengelola perusahaannya. Meskipun prinsipal adalah pihak yang memberi kewenangan kepada agen namun prinsipal tidak diperkenankan mencampuri urusan teknis dalam operasional perusahaan.

Teori agensi mengakibatkan hubungan yang asimetri antara pemilik dengan pengelola akibat dari dua kepentingan yang berbeda dalam perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha mencapai tujuan yang dikehendaki sehingga muncul informasi asimetri antara manajemen dengan pemilik yang dapat membuka peluang manajemen melakukan manajemen laba dalam rangka menyesatkan pemilik mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Sefiana, 2008). Masalah keagenan awalnya diteliti oleh Ross (1973) sedangkan penelitian secara teori mendetail dari teori keagenan pertama kali dinyatakan. Jensen dan Meckling (1976). Manajemen sebagai agen secara moral dan yuridis bertanggung jawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak.

Dalam konteks perpajakan teori agensi menjadi sorotan karena seperti diketahui bahwa pajak badan usaha yang ditanggung perusahaan

(2)

menimbulkan peluang adanya manajemen laba untuk menekan biaya pajak.

Biaya pajak badan usaha merupakan biaya yang sangat besar dan material.

Manajemen cenderung menekan biaya pajak guna menghasilkan laba bersih yang tinggi dengan harapan mendapat timbal balik berupa kebijakan strategis, remunerasi, bonus atas laba yang dihasilkan ketika laporan keuangan tahunan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pemegang saham cenderung tidak mengharapkan hal ini karena dampak yang ditimbulkan berimbas pada reputasi perusahaan. Meskipun para pemegang saham mengharapkan deviden atas laba yang dihasilkan manajemen, menjadi berbanding terbalik dengan risiko yang akan ditimbulkan jika sampai terperiksa oleh otoritas pajak. Asimetri yang ditimbulkan dari teori agensi di sektor pajak sangat besar karena dua kepentingan saling bertemu dengan risiko tinggi yang timbul jika penerapan tax planning tidak tepat. Keberadaan dewan komisaris diharapkan menjadi

kepanjangan tangan dari pemegang saham agar asimetri informasi tersebut dikelola dengan baik. Dewan komisaris merupakan bagian pengawasan perusahaan dan tidak terlibat teknis dalam menjalankan perusahaan. Dewan komisaris secara struktural berada di bawah pemegang saham sehingga komunikasi dan pertanggungjawaban langsung ke pemegang saham.

Struktural model seperti inilah memungkinkan dewan komisaris dapat memberikan saran dan intervensi ke agen jika aktifitas perusahaan dianggap tidak sesuai

Koneksi politik dapat dianggap sebagai sebuah kontrak implisit antara perusahaan dengan politisi atau birokrat, perusahaan bertugas sebagai prinsipal dan politisi atau birokrat bertugas sebagai agen (Getz, 2001).

Perusahaan berusaha menggunakan politisi atau birokrat untuk mendapatkan kebijakan yang menguntungkan dan memperoleh akses preferensi ke sumber daya pemerintah (Arifin et al., 2019). Argumen ini juga konsisten dengan teori ketergantungan sumber daya (Resource Dependence Theory) yang menunjukkan bahwa koneksi politik memungkinkan perusahaan untuk mengurangi ketidakpastian terkait dengan regulasi yang tidak menguntungkan (Kotter, 1979). Menurut pandangan ini,

(3)

perusahaan menggunakan strategi politik untuk tujuan memaksimalkan potensi manfaat ekonomi dari lingkungan politik.

2. Teori Akuntansi Positif

Peneliti positifis berfokus pada identifikasi situasi antara prinsipal dan agen seperti konflik tujuan dan mekamisme aturan yang membatasi perilaku agen melayani dirinya sendiri, lebih bersifat matematis dibandingkan peneliti prinsipal dengan agen publik (Ikhsan dan Suprasto, 2008). Peneliti positifis lebih fokus pada kasus-kasus khusus dari hubungan prinsipal dan agen antara pemilik dan manajer perusahaan, sebagai contoh positifis adalah penelitian dari Fama (1980) membahas capital efisien dan pasar tenaga kerja sebagai mekanisme informasi sebagai alat kendali dari perilaku melayani diri sendiri pada eksekutif. Jensen dan Meckling (1976) mengeksplorasi struktur kepemilikan termasuk kepemilikan ekuitas oleh manajer. Fama dan Jensen (1983) menjelaskan peran dewan direksi sebagai sistem informasi dari pemegang saham untuk memonitor perilaku oportunistik eksekutif puncak. Perspektif teori aliran positifis lebih cenderung memperhatikan masalah mekanisme governance untuk mengatasi masalah agensi. Fama dan Jensen (1983) menyatakan munculnya masalah hubungan kontraktual dengan merinci dua proposisi dapat diturunkan berdasar mekanisme governance. Proposisi pertama yaitu berdasar pada kontrak yang berguna untuk membatasi sifat oportunis agen.

Kontrak akan mengekang preferensi agen karena kompensasi yang mereduksi timbulnya konflik kepentingan antara prinsipal dan agen.

Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan naiknya kepemilikan oleh manajemen akan menurunkan oportunistik manajerial. Sebagai pembanding aliran positifis, teori prinsipal dengan agen lebih abstrak, matematis dan lebih mudah digunakan oleh peneliti organisasi (Ikhsan dan Suprasto, 2008). Teori prinsipal dengan agen berfokus lebih luas dan lebih implikatif teoritif, sedangkan positifis hanya berfokus hubungan pemilik dengan eksekutif. Demski dan Feltham (1978) menggambarkan dalam dua kasus. Kasus pertama, informasi yang lengkap sehingga prinsipal tahu apa yang dikerjakan oleh agen, prinsipal membeli perilaku agen, sehingga

(4)

kontrak berdasar perilaku menjadi lebih efisien, sedangkan kontrak berdasar keluaran tidak memerlukan transfer risiko pada agen walau agen lebih menolak risiko ketimbang prinsipal. Kasus kedua, ketika prinsipal sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan oleh agen, karena agen lebih mementingkan diri sendiri dan egois, masalah agensi akan muncul karena prinsipal dan agen memiliki tujuan yang berbeda dan prinsipal tidak dapat bertindak jika agen bertindak kurang layak.

Perrow (1986) menyatakan bahwa teori agensi berbeda dengan teori organsiasi. Teori agensi terhubung dengan beberapa perspektif aliran organisasi. Teori agensi konsisten dengan hasil kerja penelitian Bowen dan Siehl (1997) tentang sifat dasar perilaku kooperatif dan mengenai kontribusi hubungan pekerja. Teori agensi juga identic dengan model politik organisasi, baik perspektif politik maupun organisasi yang berasumsi pada pengejaran pemenuhan kepentingan diri pada setiap individu pada seluruh tingkatan organisasi. Pada kedua sudut pandang, masalah asimetri informasi terkait dengan kekuatan partisipan pada tingkatan yang lebih rendah.

Perbedaan pada model politik adalah konflik tujuan yang mampu diselesaikan melalui koalisi, tawar menawar, dan negosiasi. Manajemen sebagai agen secara moral dan yuridis bertanggungjawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik dan sebagai imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak yang telah disepakati.

3. Political Cost Hypothesis Theory

Teori positif berkembang sekitar tahun 1960 yang dipelopori oleh Watt dan Zimmerman dengan menitikberatkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku dengan munculnya hipotesis pasar efisien dan teori agensi.

Menurut Watts dan Zimmerman (1986) tujuan teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi. Penjelasan (explanation) menguraikan alas an mengapa suatu praktik dilakukan. Teori positif lebih mengacu pada penelitian empiris yang memaksimalkan keuntungan baik investor, manajer maupun masyarakat luas dalam memilih metode akuntansi yang ada. Tujuan utama teori akuntansi positif ialah mampu menjelaskan (to explain) dan memprediksi (to predict) praktik akuntansi

(5)

dikaitkan dengan perilaku individu dalam memilih metode akuntansi yang dapat memaksimisasi utilitasnya.

Hipotesa yang digunakan oleh Watt dan Zimmerman ada tiga yaitu perencanaan bonus, perjanjian hutang dan biaya proses politik. Pertama, hipotesis rencana bonus (plan bonus hypothesis), dalam ceteris paribus para manajer perusahaan dengan rencana bonus akan lebih memungkinkan untuk memilih prosedur akuntansi yang dapat menggantikan laporan earning untuk periode mendatang ke periode sekarang atau dikenal dengan income smoothing. Dengan asumsi tersebut apabila manajer dalam sistem

penggajiannya sangat tergantung pada bonus akan cenderung untuk memilih metode akuntansi yang dapat memaksimalkan gajinya, misalnya dengan metode acrual. Kedua, hipotesis perjanjian hutang (debt convenat hypothesis), dalam ceteris paribus manajer perusahaan yang mempunyai

ratio leverage (debt/equity) yang besarakan lebih senang memilih prosedur akuntansi yang dapat menggantikan laporan earning untuk periode mendatang ke periode sekarang. Dengan memilih metode akuntansi yang dapat memindahkan pengakuan laba untuk periode mendatang ke periode sekarang maka perusahaan akan mempunyai leverage ratio yang kecil sehingga menurunkan kemungkinan default technic.

Seperti diketahui bahwa banyak perjanjian hutang mensyaratkan peminjam untuk mematuhi atau mempertahankan rasio hutang atas modal, modal kerja, ekuitas pemegang saham. Selama masa perjanjian, jika perjanjian tersebut dilanggar perjanjian hutang mungkin memberikan penalti, seperti kendala dalam deviden atau pinjaman tambahan. Ketiga, hipotesis biaya proses politik (politic process hypothesis), dalam ceteris paribus semakin besar biaya politik perusahaan, semakin mungkin manajer

perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang menangguhkan laporan earning periode sekarang ke periode mendatang. Asumsi ini mendasarkan

bahwa perusahaan yang biaya politiknya besar lebih sensitif dalam hubungannya untuk mentransfer kemakmuran yang mungkin lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang biaya politiknya kecil dengan kata lain perusahaan besar cenderung lebih suka menurunkan atau mengurangi

(6)

laba yang dilaporkan dibandingkan perusahaan kecil. Tiga hipotesis tersebut menunjukkan bahwa akuntansi teori positif mengakui adanya tiga hubungan yaitu keagenan antara manajemen dengan pemilik, antara manajemen dengan kreditur, dan antara manajemen dengan pemerintah (Anis dan Imam, 2003). Masalah agency muncul disebabkan karena adanya asimetri informasi antara agen dan prinsipal, dimana agen lebih banyak mempunyai informasi dibandingkan prinsipal sehingga menyebabkan adanya moral hazard.

Teori akuntansi positif dengan political cost hypothesis digunakan untuk menjelaskan mengapa perusahaan melakukan pengungkapan sosial secara sukarela. Berdasarkan Watts dan Zimmerman (1978, 1986) beberapa studi empiris (Belkaoui dan Karnik, 1989; Ness dan Mirza, 1991; Lemon dan Cahan, 1997) secara langsung mencari bukti untuk political cost hypothesis sebagai penjelas untuk transparansi perusahaan. Beberapa studi

empiris yang terkait juga berusaha menggunakan political cost hypothesis untuk menjelaskan jenis transparansi lainnya, termasuk pernyataan nilai tambah (Deegan dan Hallam, 1991), pengungkapan oleh otoritas hukum (Lim dan McKinnon, 1993) dan pengungkapan dalam motivasi memperoleh penghargaan laporan keuangan terbaik (Deegan dan Carroll, 1993).

Menurut Watts dan Zimmerman (1978) politisi memiliki kekuatan untuk mempengaruhi distribusi kekayaan perusahaan melalui pajak perusahaan, peraturan, subsidi dan sebagainya. Selain itu kelompok pemilih tertentu memiliki peluang untuk melobi untuk menasionalisasi, pengambil alihan, merubah regulasi suatu industry atau korporasi, yang pada akhirnya bertujuan memberikan insentif atau kompensasi kepada politisi karena memberikan inisisasi atas tindakan tersebut.

Untuk menghadapi tekanan semacam itu dari para politisi Watts dan Zimmerman (1978) menyarankan agar perusahaan menggunakan sejumlah perangkat seperti kampanye corporate social responsibility di media, lobi pemerintah dan memilih prosedur akuntansi yang tepat untuk meminimalkan laba yang dilaporkan. Watts dan Zimmerman (1978) berpendapat bahwa manajer perusahaan memiliki kewenangan untuk

(7)

memilih prosedur akuntansi dan melobi para politisi serta birokrat untuk prosedur akuntansi mengurangi laba bersih yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Dengan demikian manajemen dapat mengurangi biaya-biaya seperti biaya hukum yang dikeluarkan perusahaan untuk menentang tindakan politik. Besarnya biaya politik sangat tergantung pada ukuran perusahaan. Selain besarnya biaya yang akan ditimbulkan, koneksi politik berpotensi terjadi penyalahgunaan kewenangan seperti munculnya monopoli seperti gagasan utama Watts dan Zimmerman tentang biaya politik. Pajak memiliki regulasi dengan otoritas pemerintah sebagai pemegang kendali utama. Political cost hypothesis memberikan peluang bagaimana politisi dapat masuk melalui intervensi dari media, regulasi dan kekuatan mempengaruhi keputusan sehingga manajemen perusahaan harus memilih metode akuntansi yang tepat mengelola pajak. Dengan adanya political cost hypothesis kinerja perusahaan dapat terganggu akibat

timbulnya cost politic namun disisi lain mampu mendongkrak kinerja perusahaan dengan kuatnya power politik dapat memonopoli proyek tertentu tergantung bagaimana lobi dilakukan. Political cost hypothesis bergantung pada manajemen dalam memilih metode akuntansi yang tepat agar terjadi keselarasan antara masalah keagenan dengan biaya politik.

Pemegang saham menginginkan return tinggi atas operasional menajemen namun peduli dengan reputasi yang dihasilkan atas aktivitas politik terhadap kewajiban pajak.

4. Resource Dependence Theory

Resource Dependence Theory (RDT) telah menjadi salah satu teori yang menandai perusahaan sebagai perusahaan dengan sistem terbuka dan bergantung pada kontingensi di lingkungan eksternal. Salancik dan Pfeffer (1978) menyatakan bahwa untuk memahami perilaku organisasi maka harus memahami konteks perilaku itu yaitu ekologi organisasi. RDT mengakui pengaruh faktor-faktor eksternal pada perilaku organisasi meskipun dibatasi oleh konteksnya, manajer dapat bertindak untuk mengurangi ketidakpastian dan ketergantungan lingkungan. Inti dari tindakan ini adalah konsep kekuasaan yang merupakan control atas sumber daya vital (Ulrich dan

(8)

Barney, 1984). Organisasi sering mencoba mengurangi pengaruh orang lain atas diri mereka dengan terus berupaya meningkatkan kekuatan mereka sendiri terhadap orang lain. Perusahaan tidak dapat mengurangi ketidakpastian dan saling ketergantungan pada sistemsosial yang lebih besar termasuk ketergantungan kepada pemerintah. Perusahaan melakukan cara lain untuk mengurangi ketidakpastian dan saling ketergantungan dari kontinjensi lingkungan ini.

Salancik dan Pfeffer (1978) mencatat bahwa organisasi melalui mekanisme politik berupaya untuk menciptakan sebuah lingkungan yang lebih baik demi kepentingan organisasi perusahaan. Politik berarti mengubah kondisi lingkungan ekonomi eksternal dimana perusahaan aktif berusaha menciptakan lingkungan mereka dengan bertindak atas peraturan pemerintah guna menghasilkan lingkungan yang lebih menguntungkan.

Meskipun ada pernyataan bahwa perusahaan tergantung pada pemerintah sehingga mereka akan terlibat dalam aksi politik perusahaan, namun kebanyakan akan menyangkal terlibat (Hillman et al., 2009). Meznar dan Nigh (1995) menemukan bahwa perusahaan sangat bergantung pada pemerintah lebih cenderung terlibat dalam kegiatan politik. Demikian pula Birnbaum (1985) menemukan bahwa ketika ketergantungan agen pengawas meningkat (agensi mengendalikan lebih banyak sumberdaya keuangan perusahaan) manajer lebih cenderung senang terlibat kearah aktivitas politik. Penelitian empiris yang mendukung hubungan antara ketergantungan pemerintah dan tindakan politik adalah Mullery et al., (1995) menemukan dukungan untuk RDT dengan mengamati pola yang sama antara kontribusi kampanye politik oleh perusahaan dalam lingkungan peraturan yang sama. Oleh karena itu perusahaan menghadapi ketergantungan lingkungan yang sama lebih mungkin menggunakan strategi yang sama maka tidak hanya tingkat ketergantungan absolut yang menjadi predictor untuk terlibataksi politik, tetapi dependensi lingkungan yang serupa adalah predictor dari tanggapan tegas yang serupa.

Blumentritt dan Nigh (2002) menemukan bahwa ketergantungan dalam perusahaan adalah predictor upaya politik lintas anak perusahaan,

(9)

menunjukkan bahwa ketergantungan beroperasi pada tingkat yang berbeda analisis dalam perusahaan multidivisional. Heterogenitas ketergantungan adalah tema yang dieksplorasi oleh Aharoni (1981) menemukan bahwa manajer memandang pemerintah sebagai salah satu lingkungan yang paling sulit untuk mengendalikan ketergantungan karena kepentingan heterogen dari berbagai lembaga dan pembuat keputusan politik. Salancik dan Pfeffer (1978) menyarankan agar mencari direksi yang memiliki kemampuan terbaik untuk mengelola hubungan saling ketergantungan ini. Serangkaian temuan berbicara tentang manfaat tindakan politik untuk mengelola ketergantungan lingkungan. Hillman dan Hitt (1999) menemukan bahwa pengembalian ke pemegang saham dalam kondisi abnormal dapat bertambah ke perusahaan jika manajer puncaknya dipilih atau ditunjuk oleh pemerintah federal di Amerika Serikat. Demikian pula Peng dan Luo (2000) menemukan bahwa hubungan antara manajer Cina dan pejabat pemerintah (ikatan sosial) membantu meningkatkan pangsa pasar dan hubungan ini bahkan lebih kuat untuk perusahaan dengan ketergantungan yang lebih besar pada pemerintah.

Hillman (2005) menemukan hubunga antara kinerja keuangan dan mantan politisi di dewan khususnya di perusahaan yang banyak diatur.

Dengan demikian, penelitian di bidang ini tidak hanya menemukan bahwa perusahaan yang lebih bergantung pada pemerintah akan terlibat dalam aksi politik tetapi juga manfaat finansial bertambah bagi mereka yang menciptakan keterkaitan pilihan. Penelitian di bidang ini mendukung: (a) tindakan politik berkorelasi dengan tingkat ketergantungan lingkungan yang dihadapi perusahaan, (b) perusahaan yang menghadapi lingkungan yang sama cenderung memilih bentuk perilaku politik yang sama untuk mengelolanya, dan (c) kinerja tunjangan bertambah bagi perusahaan yang menciptakan hubungan dengan lingkungan politik.

B. Tinjauan Pustaka 1. Tax Avoidance

Dalam perpajakan dikenal berbagai istilah yang merujuk tindakan untuk tidak memenuhi kewajiban pajak antara lain tax avoidance, tax

(10)

aggressiveness dan tax evasion. Dari istilah-istilah tersebut saling berkaitan

terutama ketika wajib pajak berusaha meminimalkan penghitungan pajak terutang agar dapat mengurangi beban pengeluaran. Tax avoidance atau penghindaran pajak merujuk suatu skema penghindaran pajak yang bertujuan meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan celah (loophole) ketentuan perpajakan di suatu negara. Beberapa ahli memiliki pandangan yang berbeda terkait tax avoidance salah satunya Bhushan (2012) yang mendefinisikan tax avoidance sebagai seni menghindari pajak tanpa melanggar hukum. Tax avoidance sebenarnya bersifat sah dan legal karena tidak melanggar ketentuan perpajakan namun hal tersebut dapat berdampak pada penerimaan pajak negara. Seluruh perusahaan berkewajiban melaksanakan semua aturan perpajakan dengan baik dan benar.

Tax avoidance adalah praktik yang umumnya dilakukan oleh wajib

pajak demi meminimalisir pembayaran beban pajak perusahaan atau individu yang terutang pada kas negara. Hal ini membawa dampak bagi negara karena berkurangnya pendapatan negara dari sektor pajak. Wajib pajak mempunyai berbagai cara untuk melakukan praktik tax avoidance ini misalnya dengan memanfaatkan celah pada pasal 4 ayat (3) huruf a angka 2 dalam UU No. 36 tahun 2008 menjelaskan bahwa harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah yang masih ada dalam garis keturunan lurus dan dari satu derajat akan dikecualikan dari objek pajak. Sebagai contoh, seorang kakek memberikan harta hibahan berupa tanah dan bangunan kepada cucunya. Menurut hukum yang berlaku, hibahan ini tentu saja dianggap sebagai objek pajak karena penerima hibah bukan merupakan garis keturunan lurus satu derajat. Untuk menghindari pembebanan pajak pada hibahan ini, pemberi hibahan memanfaatkan celah dari ketentuan pajak yang ada. Caranya adalah dengan terlebih dahulu menghibahkan tanah dan bangunan ke anak kandung kakek tersebut guna mematuhi bagian garis keturunan lurus satu derajat. Setelah itu, tanah dan bangunan dihibahkan sekali lagi dari anak ke cucu sang kakek yang merupakan penerima hibahan yang sebenarnya.

(11)

Selanjutnya dengan memanfaatkan pasal 6 ayat (1) huruf a dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan, bunga merupakan biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha. Saat wajib pajak menerima pinjaman dengan nominal besar, maka otomatis bunga yang diberikan akan proporsional dengan total pinjaman yang didapat. Wajib pajak kemudian membebankan bunga pinjaman tadi dalam laporan keuangan fiskal, namun pinjaman tersebut tidak tercatat menambah modal, sehingga penjualan tidak berkembang dan keuntungan tidak bertambah.

Dengan keuntungan yang kecil maka wajib pajak bisa menghindari pembebanan pajak yang signifikan. Contoh selanjutnya dengan pemanfaatan PP No. 23 tahun 2018. Keringanan yang didapatkan oleh para pengusaha UMKM Indonesia melalui ketentuan pada PP No. 23 tahun 2018 dimana para pengusaha hanya diwajibkan membayar pajak penghasilan dengan tarif 0,5% dari peredaran bruto bisnis. Untuk memanfaatkan fasilitas ini pengusaha dapat memecah laporan keuangan badan dan usaha pribadi agar peredaran bruto tidak melebihi Rp 4,8 miliar.

Salah satu contoh kasus penghindaran pajak di Indonesia adalah perusahaan dalam kelompok Coca-Cola Company, yakni PT Coca-Cola Indonesia (CCI). Dikutip dari Kompas (2014) PT CCI diduga mengakali pajak sehingga menimbulkan kekurangan pembayaran pajak senilai Rp 49,24 miliar. Sekarang kasus ini sedang dalam tahap banding di Pengadilan Pajak. PT CCI mengajukan banding karena merasa sudah membayar pajak sesuai ketentuan. Kasus ini terjadi untuk tahun pajak 2002, 2003, 2004, dan 2006. Hasil penelusuran Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Kementerian Keuangan menemukan, ada pembengkakan biaya yang besar pada tahun itu.

Beban biaya yang besar menyebabkan penghasilan kena pajak berkurang, sehingga setoran pajaknya pun mengecil. Beban biaya itu antara lain untuk iklan dari rentang waktu tahun 2002-2006 dengan total sebesar Rp 566,84 miliar. Biaya tersebut untuk iklan produk minuman jadi merek Coca-Cola yang akibatnya ada penurunan penghasilan kena pajak. Menurut DJP, total penghasilan kena pajak CCI pada periode itu adalah Rp 603,48 miliar.

Sedangkan perhitungan CCI, penghasilan kena pajak hanyalah Rp 492,59

(12)

miliar. Dengan selisih itu, DJP menghitung kekurangan pajak penghasilan (PPh) CCI Rp 49,24 miliar. Bagi DJP, beban biaya ini sangat mencurigakan dan mengarah pada praktik transfer pricing demi meminimalisir pajak.

Transfer pricing merupakan transaksi barang dan jasa antara

beberapa divisi pada suatu kelompok usaha dengan harga yang tidak wajar, sehingga beban pajak berkurang. Praktik ini bisa dideteksi jika ada kegiatan yang tak sesuai dengan bisnis perusahaan. Produk PT CCI adalah konsentrat, bukan produk minuman jadi. Namun, mereka harus mengeluarkan biaya yang besar untuk iklan. Biaya iklan yang dibebankan oleh PT CCI tidak memiliki kaitan langsung dengan produk yang dihasilkan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Edward Sianipar yang merupakan perwakilan DJP di persidangan. Biaya iklan menjadi tanggungan perusahaan Coca-Cola lainnya. Coca-Cola Indonesia terbagi pada tiga perusahaan, yakni yang fokus menangani konsentrat, pengemasan, dan distribusi.

Bagi manajemen maupun pemilik perusahaan pajak merupakan komponen biaya yang sangat signifikan, sehingga timbullah keinginan untuk mengurangi beban pajak yang dibayarkan (Hanlon dan Slemrod, 2009). Agar jumlah pendapatan yang sebenarnya tidak diketahui oleh otoritas pajak manajemen seringkali mencoba untuk menutupi atau mengaburkan informasi dalam laporan keuangan yang mengarah pada tax avoidance. Menurut Tang dan Firth (2012) perusahaan melakukan

pengaturan pajak untuk memaksimalkan pengembalian kepada para pemegang saham, mengurangi risiko pengawasan dari otoritas pajak dan biaya politik. Perusahaan melakukan manajemen laba dan manajemen pajak dengan memanfaatkan celah perbedaan peraturan tentang laba yang ditetapkan antara undang-undang perpajakan dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Kedua peraturan ini mempunyai dasar penyusunan dan tujuan yang berbeda sehingga di setiap negara memiliki perbedaan (Persada dan Martani, 2010). Perbedaan tersebut menimbulkan terjadinya temporary differences dan permanent differences yang imbasnya pada perbedaan antara tax ableincome dan bookincome atau di perusahaan

(13)

dikenal dengan istilah book tax differences. Persada dan Martani (2010) mengelompokkan perbedaan book tax differences menjadi dua yaitu perbedaan temporer dan permanen. Perbedaan yang disebabkan karena perbedaan ketentuan antara pengukuran dan pengakuan yang berbeda antara peraturan perpajakan dengan standar akuntansi keuangan disebut perbedaan temporer (temporary differences). Sedangkan perbedaan yang timbul karena pendapatan dan beban bukan obyek pajak namun dikenakan pajak final atau beban yang secara spesifik tidak dibolehkan menurut pajak disebut perbedaan permanen (permanent differences).

Book tax differences dapat terjadi karena perusahaan melakukan

proses rekonsiliasi fiskal pada akhir periode pembukuan terhadap laporan keuangan komersial yang tujuannya menentukan penghasilan kena pajak.

Rekonsiliasi fiskal merupakan serangkaian tindakan penyesuaian terhadap laporan keuangan komersial berdasarkan ketentuan perpajakan. Tang dan Firth (2012) membedakan book tax differences menjadi dua yaitu book tax differences yang berasal dari perbedaan antara pencatatan laba menurut

standar akuntansi dengan undang-undang perpajakan (normal book tax differences) dan book tax differences yang berasal dari aktivitas manajemen

laba dan manajemen pajak (abnormal book tax differences). Titik fokus penelitian ini adalah penghindaran pajak yang didasarkan pada perhitungan abnormal book tax differences atau ABTD yang berasal dari aktivitas

manajemen laba dan manajemen pajak oleh manajemen perusahaan sebagai akibat adanya unsur oportunistik yang melekat sebagai agen.

2. Koneksi Politik

Perusahaan berkoneksi politik adalah perusahaan yang dengan cara-cara tertentu mempunyai ikatan secara politik atau mengusahakan adanya kedekatan dengan politisi atau pemerintah (Purwoto, 2011). Koneksi politik dipercaya sebagai salah satu sumber yang sangat berharga bagi banyak perusahaan (Fisman, 2001). Faccio (2006) menjelaskan bahwa perusahaan dianggap memiliki koneksi politik jika setidaknya salah satu pemegang saham mayoritas (seseorang yang mengendalikan setidaknya 10% hak suara berdasarkan jumlah saham) atau salah satu pimpinan

(14)

perusahaan (CEO, presiden, wakil presiden, ketua, sekretaris atau kepala bagian) merupakan menteri, anggota parlemen atau orang yang terkait erat dengan tokoh partai politik atau politisi. Koneksi politik juga dapat dilihat dari ada atau tidaknya kepemilikan langsung oleh pemerintah pada perusahaan (Adhikari et al., 2006). Perusahaan dengan koneksi politik mampu melakukan tax planning lebih agresif karena adanya perlindungan dari otoritas yang dampaknya menurunkan transparansi laporan keuangan.

Laporan keuangan oleh perusahaan berkoneksi politik secara signifikan lebih buruk disbanding perusahaan serupa yang sama sekali tidak memiliki koneksi politik.

Buramnya laporan keuangan membawa dampak negatif bagi perusahaan seperti kebutuhan modal yang tinggi karena kurangnya minat investor atau resiko terjadinya pemeriksaan oleh otoritas pajak. Namun perusahaan dengan koneksi politik mengabaikan konsekuensi yang akan timbul karena hubungan politik yang dimiliki mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan konsekuensi negatif yang ada (Kim dan Zhang, 2016). Sulitnya mendapat investor tidak menjadi masalah besar bagi perusahaan, perusahaan dengan mudah mendapatkan pinjaman dengan batas pinjaman yang bias diperpanjang. Hal ini terjadi karena penerima dan pemberi pinjaman sama-sama memperoleh dukungan secara langsung dari pemerintah yang mana akan diberikan dana bailout saat keduanya mengalami krisis keuangan (Faccio, 2006). Perusahaan yang terkoneksi politik merupakan perusahaan atau konglomerat yang mempunyai hubungan dekat dengan pemerintah. Perusahaan yang mempunyai hubungan dekat dengan pemerintah dapat diartikan sebagai perusahaan milik pemerintah, yaitu perusahaan yang berbentuk BUMN. Pemilik yang mempunyai hubungan dekat dengan pemerintah adalah pemilik perusahaan yang merupakan tokoh politik terkemuka (Gomez, 2009). Tokoh politik tersebut merupakan anggota dewan legislatif atau merupakan bagian dari pemerintahan pusat yang berasal dari partai politik. Dengan kata lain koneksi politik dapat diartikan sebagai tingkat kedekatan hubungan antara perusahaan dengan pemerintah.

(15)

Koneksi politik dapat berdampak pada dua sisi nilai perusahaan.

Hal tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan atau justru membahayakannya. Fan et al., (2007) melaporkan hasil penelitian bahwa CEO perusahaan berkoneksi politik memiliki kinerja 37% lebih rendah disbanding dengan perusahaan yang tidak memiliki koneksi politik jika diukur menggunakan stock return perusahaan tiga tahun pasca IPO.

Keuntungan lain yang diperoleh perusahaan berkoneksi politik adalah kemudahan akses pembiayaan hutang, pangsa pasar yang lebih kuat, dan pajak yang lebih rendah. Zhang et al., (2010) memberi contoh hasil laporan penelitiannya bahwa banker sering kali dipaksa memberi pinjaman untuk proyek-proyek yang dikerjakan oleh perusahaan berkoneksi politik meskipun diperkirakan proyek tersebut tidak menguntungkan.

Beberapa studi mendokumentasikan bahwa koneksi politik berpotensi berharga bagi perusahaan di Indonesia dengan menyediakan akses istimewa ke keuangan dan sumberdaya pemerintah (Faccio et al., 2006). Kim dan Zhang (2016) menemukan bahwa perusahaan yang terhubung secara politis menjadi agresif dalam penghindaran pajak karena koneksi tersebut memberi mereka perlindungan agar tidak terdeteksi oleh regulator. Francis et al., (2016) mendokumentasikan bahwa perusahaan yang terhubung secara politis berlindung dari pajak yang lebih tinggi. Secara khusus, Faccio dan Hsu (2017) menunjukkan bahwa perusahaan yang terhubung secara politis mengubah keputusan ketenagakerjaan untuk mendukung sekutu politik mereka.

Namun demikian koneksi politik juga dapat membawa efek berbahaya bagi perusahaan dan akibatnya merusak nilai perusahaan.

Shleifer dan Vishny (1994) menjelaskan bahwa politisi dapat mempengaruhi perusahaan untuk mengambil keputusan yang tidak efisien, seperti meningkatkan lapangan kerja dengan imbalan menerima subsidi atau pengurangan pajak. Wang et al., (2015) menemukan bahwa direktur independen yang terhubung secara politis membantu pengambil alihan investor minoritas. Habib et al., (2017) melaporkan transaksi dengan pihak terkait yang digunakan oleh perusahaan untuk terhubung secara politis

(16)

dalam menggali sumber daya dapat melukai minat investor minoritas.

Chaney et al., (2011) mendokumentasikan kualitas laba yang rendah dari perusahaan yang terhubung secara politis. Fan et al., (2007) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan baru yang diprivatisasi dengan CEO yang memiliki koneksi politis mengalami kinerja jangka panjang yang buruk.

Akhirnya, Chen et al., (2017) mendokumentasikan penurunan nilai perusahaan dari perusahaan milik negara akibat dari peningkatan koneksi politik.

Dalam studi ini kami menguji skema yang ditimbulkan dari adanya koneksi politik antara perusahaan dengan politisi demi tercapainya kepentingan masing-masing pihak dan menyelidiki apakah perusahaan yang terkoneksi secara politik membayar pajak lebih tinggi atau justru lebih rendah dari pada perusahaan yang tidak terkoneksi disaat pemilihan umum diselenggarakan di Indonesia.

3. Kontestasi Politik di Indonesia

Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia mencatat sejarah dengan beberapa kali berganti kepala negara yang diikuti istilah melekat sebagai rezim yang menandai sedang berkuasa. Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia ditandai sebagai rezin Orde Lama yang diidentikkan sebagai rezim dimana negara sedang memperjuangkan kemerdekaan dan memulai dari awal sebuah negara yang terbebas dari penjajahan. Tidak banyak literatur yang mencatat perkembangan dunia bisnis dan ekonomi pada zaman ini namun pasca turunya Soekarno sebagai presiden yang digantikan Soeharto dengan rezim Orde Baru inilah mulai tumbuhnya benih koneksi politik merambah ke dunia bisnis. Rezim Orde Baru dibawah Presiden Soeharto mendominasi panggung politik di Indonesia selama lebih dari tiga puluh dua tahun. Sistem pemerintahan Presiden Soeharto yang cenderung sentralistik disekitaran elite politik, birokrat, militer, dan keluarga sering dicap sebagai pemerintahan yang otoriter (Arifin et al., 2018). Lembaga legislatif tidak lebih dari legitimasi formal yang menyetujui kebijakan dan peraturan apa pun yang diusulkan oleh eksekutif. Pemilu tidak lebih dari seremonial politik dengan hasil yang sudah dapat diprediksi.

(17)

Ketika kekuasaan terpusat pada kerabat dan relasi Soeharto, bisnis tidak punya banyak pilihan tentang siapa dan bagaimana mengembangkan koneksi politik mereka (Carney dan Hamilton-Hart, 2015). Perusahaan yang terhubung secara politis mengeksploitasi hubungan dekat mereka dengan rezim Soeharto untuk mendapatkan lebih banyak akses ke sumber daya pemerintah. Sebuah bukti yang tidak mengejutkan adalah bahwa perusahaan-perusahaan yang terkait erat dengan rezim Soeharto menerima akses istimewa untuk pembiayaan, terutama dari bank-bank milik negara (Leuz dan Gee, 2006; Matsumoto, 2007).

Sangat menarik untuk diamati bahwa proses demokratisasi yang dimulai setelah jatuhnya rezim Soeharto, khususnya desentralisasi otoritas pemerintah dan distribusi sumber daya, telah menyebabkan perubahan dalam hubungan antara bisnis dan pemerintah. Presiden harus berbagi kekuasaan dengan lembaga politik lain diberbagai tingkatan. Koneksi politik dalam rezim presidensial baru ini mungkin menjadi kurang menguntungkan karena kekuasaannya sekarang lebih tersebar di berbagai wilayah dan institusi (Arifin et al., 2018). Dengan demikian perusahaan merasa lebih rumit untuk mengembangkan hubungan dengan pemerintah.

Leuz dan Gee (2006) melaporkan bahwa Grup Salim mengalami kesulitan untuk membangun kembali koneksi ketika rezim baru mengambil alih dan mengalami kinerja yang kurang bagus. Karena itu, perusahaan perlu membentuk kembali koneksi politik mereka ketika pemerintah berubah.

Kombinasi perubahan menuju demokratisasi di era pasca Soeharto dan konteks kelembagaan baru Indonesia sebagai ekonomi baru memberikan latar yang menarik untuk menyelidiki bagaimana perusahaan mengembangkan strategi mereka untuk koneksi politik.

Beberapa rezim yang berbeda berkuasa selama era pasca Soeharto.

Presiden BJ Habibie menjabat selama sekitar satu tahun dan negara mengalami perubahan sebagai hasil dari reformasi pasca Orde Baru. Pada Oktober 1999, Presiden Abdurrahman Wahid berkuasa dengan mendapatkan dukungan dari Majelis Permusyawarakatan Rakyat (MPR).

Namun pada Juli 2001 ia digantikan oleh Wakil Presiden Megawati

(18)

Soekarno putri setelah dimakzulkan oleh MPR. Pada Oktober 2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden pertama yang dipilih langsung oleh masyarakat di Indonesia. Dia terpilih kembali setelah lima tahun dan menjabat periode kedua untuk masa jabatan 2009-2014.

Pasca era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menjabat sebagai presiden keenam di Indonesia, kekuasaan beralih ke Presiden Joko Widodo yang menjabat dari tahun 2014 hingga 2024 karena terpilih dua kali berturut-turut seperti halnya presiden sebelumnya.

Beberapa reformasi kelembagaan yang mengarah ke desentralisasi dan demokratisasi diperkenalkan setelah berakhirnya rezim Soeharto dengan Orde Barunya. Reformasi hukum birokrasi dan sistem politik memberikan struktur kekuasaan politik yang lebih tersebar dan memperbaiki peran parlemen sebagai lembaga legislatif. Rakyat lebih dilibatkan dengan pemilihan langsung tidak seperti sebelumnya yang dilakukan MPR. Pemberdayaan parlemen memungkinkan bisnis untuk menikmati akses langsung dan lebih besar ke kekuasaan politik melalui dewan legislatif (Fukuoka, 2012). Perubahan sistem politik yang signifikan dan perubahan rezim yang lebih sering di era pasca-Soeharto menyebabkan kondisi politik dan cara keterlibatan politik yang lebih beragam (Carney dan Hamilton-Hart, 2015). Pemilik bisnis dan wirausahawan diizinkan memasuki politik untuk membangun kekuatan politik mereka sendiri dan mendapatkan akses langsung ke sumber daya pemerintah. Namun, karena keterlibatan politik pribadi bisa mahal, hanya sejumlah kecil pemilik bisnis yang menyebarkan pengaruh mereka secara luas (Carney dan Hamilton- Hart, 2015). Misalnya, kekayaan Aburizal Bakrie meningkat lebih dari dua kali lipat selama masa jabatannya sebagai coordinator kementerian (Arifin et al., 2018). Kelompok bisnis Bakrie kadang-kadang diberi prioritas dan

lebih banyak peluang oleh pemerintah (Fukuoka, 2012).

Telah banyak penelitian yang mempelajari bagaimana koneksi politik di Indonesia mempengaruhi strategi dan nilai perusahaan (Fisman, 2001; Leuz dan Gee, 2006; Habib et al., 2017). Fisman (2001) mendokumentasikan bahwa nilai pasar perusahaan-perusahaan yang

(19)

terhubung secara politik di Indonesia secara signifikan menurun ketika desas-desus tentang kesehatan presiden yang memburuk diedarkan. Leuz dan Gee (2006) menemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang terkait erat dengan keluarga Soeharto cenderung tidak menerbitkan sekuritas asing yang diperdagangkan secara publik karena akses yang lebih mudah kesumber-sumber keuangan domestik. Mereka percaya bahwa strategi ini mengurangi manfaat yang dapat diperoleh perusahaan dari menerbitkan sekuritas asing. Pasca Reformasi yang ditandai turunnya Presiden Soeharto tahun 1998 kondisi politik Indonesia lebih cair dan memungkinkan semua kalangan dapat berpartisipasi di lingkungan pemerintahan melalui mekanisme pemilihan umum langsung dan terbukanya informasi dengan segala kemudahan akses termasuk media. Salah satu fenomena yang timbul pasca reformasi adalah terbentuknya kekuatan politik koalisi dan oposisi.

Koalisi diidentikkan sebagai kekuatan politik yang mendukung, menjalankan dan terlibat di pemerintahan yang sedang berkuasa. Sedangkan oposisi adalah kekuatan politik yang memilih berada diluar pemerintahan dengan kecenderungan melakukan kritik dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.

Cairnya politik pasca reformasi inilah menjadi fokus penelitian bahwa kekuatan politik di Indonesia terkutub menjadi dua kekuatan besar yaitu koalisi dan oposisi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu terpilih menjadi presiden dengan diusung beberapa partai politik otomatis berada dilingkaran koalisi sedangkan partai-partai politik yang kalah memilih menjadi oposisi. Namun menjadi menarik ketika Susilo Bambang Yudhoyono tidak maju kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden di tahun 2014. Partai-partai politik yang berada sebagai oposisi saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat, berhasil memenangkan pemilihan umun dengan mengusung Joko Widodo sebagai presiden. Secara faktual dapat dipastikan bahwa partai yang semula oposisi berhasil menjadi koalisi dengan segala kemudahan akses ke sumberdaya pemerintah.

Beberapa dinasti bisnis masih terlihat menghiasi nama-nama pejabat publik yang menjalankan roda pemerintahan seperti menteri,

(20)

legislatif dan posisi-posisi strategis lainnya. Kekuatan bisnis yang besar dan akses kepemerintahan yang mudah inilah menjadi perhatian bahwa perusahaan yang selama ini melekat dibawah kendali politisi telah mengambil berbagai manfaat ke sumberdaya pemerintah termasuk pajak.

Tahun 2016 dan 2017 adalah tahun pengungkapan skandal besar pajak yang melibatkan berbagai kalangan tokoh politik, publik dan bisnis. Panama Papers dan Paradise Papers menunjukan bahwa banyak metode yang

digunakan untuk menghindari kewajiban pajak di suatu negara termasuk Indonesia. Tokoh politik, publik dan bisnis banyak disebutkan dalam laporan yang dipublikasikan oleh pihak independen tersebut menjadi menarik karena nama-nama yang terlibat di Indonesia merupakan pihak yang familiar dimana sebelumnya di oposisi kini masuk ke dalam koalisi dan sebaliknya. Ada pula kekuatan dinasti bisnis sekaligus politik yang tidak tergoyahkan berada dalam pemerintahan meskipun rezim berganti-ganti.

Pemilihan umum yang diselenggarakan di Indonesia yang saat ini tidak lagi sebatas seremonial seperti saat rezim Orde Baru membuktikan bahwa transisi kekuatan politik besar sedang terjadi. Stabilitas kondisi politik akan menentukan kondisi iklim ekonomi dan bisnis suatu negara karena kebijakan-kebijakan yang akan diambil penguasa memiliki dampak besar ke investor, manajemen, pasar dan stakeholder lainnya. Pemilihan umum di Indonesia pasca reformasi inilah menjadi momentum peneliti yang melihat bahwa kondisi politik memiliki peranan penting dalam mempengaruhi jalannya roda ekonomi negara. Semangat desentralisasi kekuasaan yang semula berpusat di Jakarta kini menyebar ke seluruh penjuru wilayah Indonesia. Provinsi, kabupaten dan kota madya diberikan hak untuk menentukan pemimpinnya sendiri. Gubernur, bupati dan walikota merupakan jabatan strategis penentu kemajuan suatu wilayah. Investor masuk ke daerah tidak lepas dari interfensi pemimpin daerah baik melalui kebijakan maupun peraturan daerah. Pemimpin daerah cenderung lebih mengenali potensi yang dimiliki wilayahnya sehingga paham dan tahu investor seperti apa yang dibutuhkan wilayahnya. Oleh sebab itu keberadaan pemimpin daerah tidak luput dari analisa penelitian ini terkait afiliasinya

(21)

dengan pihak-pihak yang memiliki koneksi politik terkait penghindaran pajak.

Tahun politik adalah tahun dimana pemilihan umum akan diselenggarakan. Seluruh tingkatan pemerintahan melaksanakan pemilihan umum lima tahun sekali untuk menentukan siapa pemimpin daerahnya dan siapa yang akan jadi presiden. Momentum ini menjadi tonggak sejarah bagaimana sejarah lima tahun ke depan akan ditentukan. Posisi strategis untuk membuat kebijakan dan akses yang mudah ke sektor strategis akan membuat para pihak-pihak berkepentingan berjuang mengusung para calon yang terafiliasi dengannya dengan harapan imbal balik ketika calon yang didukungnya terpilih. Tahun pemilihan menjadi krusial karena seluruh sumber daya yang dimiliki oleh para calon maupun petahan akan dikerahkan demi melanggengkan kekuasaan. Tahun 2014 adalah tahun pemilihan umum yang tidak diikuti petahana karena sudah terpilih dua kali sehingga dapat diidentifikasi sebagai sebuah langkah awal pemerintahan yang benar- benar baru. Pemerintah yang bisa dikatakan segar ini menuntut para pemilik perusahaan beradaptasi yang bisa saja pemerintahan baru lebih menguntungkan mereka. Gerakan gerilya inilah yang peneliti ambil sebagai salah satu fenomena yang menentukan arah bahwa tahun pemilihan memiliki pengaruh terhadap penghindaran pajak yang tebukti para kader partai politik yang berlatar pengusaha menempati posisi strategis di pemerintahan. Tahun 2019 lebih menarik perhatian peneliti karena tahun ini diselenggarakannya pemilihan umum yang salah satu kontestannya merupakan pengusaha kenamaan di Indonesia, bahkan pernah menjabat sebagai ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Latar belakang yang cemerlang ini menarik perhatian peneliti karena jika pun telah menjadi pengusaha sukses kenapa harus masuk ke dunia politik yang notabene hasil sebagai pengusaha jauh lebih besar dari pada menjabat posisi politik. Momentum lima tahunan sekali dengan berbagai fenomena inilah menarik perhatian peneliti bahwa ada sesuatu yang para pengusaha cari saat pemilihan umum yang disinyalir ada hubungannya dengan penghindaran pajak.

(22)

C. Kerangka Berpikir

Tax avoidance atau penghindaran pajak merupakan skema yang

bertujuan meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan celah dari ketentuan perpajakan di suatu negara. Sifat tax avoidance yang sah secara hukum membuat perusahaan tidak dapat dikenakan sanksi langsung, sanksi dijatuhkan jika undang-undang telah secara jelas dilanggar. Salah satu praktik yang digunakan perusahaan untuk menurunkan kewajiban pajaknya yaitu dengan melobi pihak-pihak yang memiliki jabatan diposisi yang strategis secara politis atau dengan menempatkan kader perusahaan terafiliasi dengan partai politik di posisi strategis seperti parlemen, pemerintahan dan BUMN. Praktik seperti ini semakin kuat terjadi di Indonesia mengingat sistem politik yang mewajibkan suksesi politik harus lewat partai politik. Perusahaan dianggap memiliki koneksi politik jika setidaknya salah satu pemegang saham mayoritas atau salah satu pimpinan perusahaan (CEO, presiden, wakil presiden, ketua, sekretaris atau kepala bagian) merupakan menteri, anggota parlemen atau orang yang terkait erat dengan tokoh partai politik atau politisi.

Karena manajemen sebagai agen memiliki informasi yang lebih lengkap dan utuh dari pada prinsipal, timbullah asimetri informasi karena kepentingan masing-masing terbentur. Konflik kepentingan semakin meninggi saat prinsipal tidak dapat memonitor aktivitas keseharian CEO guna memastikan CEO telah bekerja sesuai dengan keinginan pemegang saham. Agen mempunyai lebih banyak informasi tentang perusahaan secara keseluruhan. Inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh prinsipal dan agen (Nasution dan Doddy, 2007). Political cost hypothesis bergantung pada manajemen dalam memilih metode akuntansi yang tepat agar terjadi keselarasan antara masalah keagenan dengan biaya politik. Organisasi sering mencoba mengurangi pengaruh orang lain atas diri mereka dengan terus mengupayakan kemampuan daya saing perusahaan namun ada tetap ada ketergantungan dengan pihak ekternal seperti pemerintah sebagai pemegang kendali otoritas regulasi dan situasi politik yang sulit ditebak arahnya.

(23)

Resource dependence theory mengakui pengaruh faktor-faktor eksternal

pada perilaku organisasi meskipun dibatasi oleh konteksnya, manajer dapat bertindak untuk mengurangi ketidakpastian dan ketergantungan lingkungan.

Oleh karena itu penelitian ini disusun dengan menggunakan pola kerangka berpikir sebagai berikut:

Gambar 1 Kerangka Berpikir D. Pengembangan Hipotesis

Koneksi politik adalah strategi perusahaan untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang baik dengan para politisi melalui lobi, sumbangan politik, kontribusi kampanye, atau pengangkatan politisi atau birokrat sebagai anggota dewan. Mengembangkan koneksi politik adalah taktik penting bagi perusahaan untuk mempengaruhi pemerintah dalam mendesain kebijakan yang menguntungkan. Selain itu, perusahaan dapat mengurangi ketidakpastian terkait perubahan regulasi dengan memperoleh informasi pribadi melalui koneksi mereka dengan birokrat dan politisi.

Dalam penelitian ini, kami berasumsi bahwa pajak perusahaan merupakan salah satu skema di mana koneksi politik adalah salah sumber daya perusahaan yang berharga. Ada dua penjelasan mengapa perusahaan yang terkoneksi politik bersedia membayar pajak lebih tinggi daripada perusahaan yang tidak terkoneksi.

Koneksi Politik (X1)

Penghindaran Pajak (Y)

Tahun Elektoral (moderasi) H1

H2

Variabel Kontrol

(24)

Pertama, untuk mendapatkan suara elektoral pemilih dalam pemilihan umum maka politisi petahana perlu menunjukkan kemampuan mereka untuk mencapai target pendapatan pajak dengan mempengaruhi perusahaan yang terkoneksi dengan mereka. Mereka dapat menggunakan pajak perusahaan untuk mewujudkan tujuan politik mereka, dengan sebagai gantinya perusahaan yang terkoneksi tersebut berharap menerima beberapa manfaat ekonomi seperti subsidi, lisensi, pengadaan barang dan jasa, akses keuangan seperti pembiayaan dan bailout. Kedua, perusahaan yang terhubung secara politis tidak mau mengikuti strategi penghindaran pajak karena koneksi perusahaan yang terjalin dengan pemerintah sudah meningkatkan pengawasan publik, dan tindakan penghindaran pajak tersebut akan menyebabkan rusaknya reputasi perusahaan dan juga politisinya sendiri (Dyreng et al., 2016). Penghindaran pajak juga dapat menjadi kegiatan yang berisiko jika pada akhirnya menghasilkan sanksi social seperti boikot dari konsumen. Atas dasar kedua argument tersebut kami mengemukakan hipotesis berikut:

H1: Koneksi politik berpengaruh negatif terhadap penghindaran pajak Koneksi politik relasional atau relational political connection (RPC) di kembangkan melalui kepercayaan dan niat baik. Perusahaan mempertahankan koneksi relasional jangka panjang dari waktu ke waktu bahkan hingga lintas rezim yang berbeda karena kesamaan ideology politik.

Ideologi dianggap sebagai bahan utama terjalinnya koneksi politik sehingga politisi cenderung bersifat oportunis (Arifin et al.,2018). Ketika rezim politik berubah maka menuntut pula adaptasi yang baik demi terjaganya koneksi meskipun kenyataanya akan melemahkan koneksi ketika rezim yang berkuasa tidak memiliki ideologi yang sama karena berkurangya kedekatan. Politisi dengan segala kepentinganya akan memperjuangkan untuk memenangkan kontestasi politik melalui pemilihan umum dengan mengusung ideologi yang dianggap sesuai. Politisi petahana berusaha menjaga reputasi dan meningkatkan popularitas sebagai seseorang yang taat pajak dan memiliki kontribusi kepada negara. Demi reputasi inilah kami menduga bahwa selama masa diselenggarakannya pemilihan umum para

(25)

politisi menggunakan sumber daya yang ada untuk meningkatkan perolehan suara melalui tekanan kepada perusahaan agar membayar pajak lebih tinggi.

Pembayaran pajak yang lebih tinggi akan memberikan politisi “panggung”

pencitraan bahwa selama ini memiliki kontribusi berharga kepada negara.

Oleh karena itu kami merumuskan hipotesis kedua sebagai berikut:

H2: Tahun elektoral memperkuat pengaruh negatif koneksi politik terhadap penghindaran pajak

Referensi

Dokumen terkait

Berbeda dengan bahasa Indonesia yang dapat menyingkat kata dengan satu fonem saja, bahasa Jepang berangkat dari dua fonem yang terdiri dari vokal dan konsonan,

Penju Penjualan alan prod produk uk koper koperasi asi secara tunai tidak dicatat di buku harian ini dan karena penjualan secara kredit tidak akan secara tunai tidak dicatat di

Selain penentuan awal waktu salat dengan cara melihat langsung dari fenomena Matahari dan metode hisab yang terdapat pada kitab-kitab klasik dan buku-buku falak,

Menurut Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara

DVR atau Digital Video Recorder merupakan peralatan mutlak dari perkembangan CCTV sekarang, karena fungsinya sebagai spliter (pembagi gambar) di monitor, perekaman,

Aktor kabuki memiliki ciri khas khusus yang membedakan dirinya dengan aktor lain pada saat memainkan sebuah peran di atas panggung yaitu Kata (型) yang merupakan gaya berakting

 Dalam hal ini, sumber lisan telah memainkan peranan penting kepada para pengkaji sejarah dalam melakukan kajian sejarah ke atas pelbagai tema sejarah terutamanya sejarah

Pada hasil yang telah ditunjukkan di atas, terbukti secara ilmiah bahwa tanah yang digunakan memiliki signifikansi yang baik dalam menyisihkan senyawa fosfat daripada