Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
MASA PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA
DI S U S U N OLEH:
A F D A L KELAS : X, UPW
SMK NEGERI 3 LHOKSEUMAWE
TAHUN 2022
Kedatangan Jepang ke Indonesia
A. Sikap Pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang
Seperti yang kita ketahui bahwa Jepang pertama kali masuk ke Indonesia melalui penyerbuan ke Tarakan pada tanggal 11 Januari 1942. Akan tetapi, serangan tersebut tidak terjadi begitu saja karena pada saat itu, wilayah Asia Tenggara dikuasai oleh tiga negara yang seluruhnya merupakan musuh Jepang saat itu, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda. Indonesia atau Hindia Belanda pada saat itu merupakan pusat penghasil minyak bumi terbesar setelah Amerika Serikat dan ketika Amerika melakukan embargo pada tanggal 25 Mei 1939, Jepang mulai merasa kekurangan akan stok minyak yang sangat dibutuhkan untuk kepentingan armada militer Jepang.
Selain itu, pemerintah Hindia Belanda menghadapi ancaman yang serupa di Eropa, yaitu ketika Belanda berhasil diduduki oleh pasukan Nazi Jerman pada tanggal 10 Mei 1940. Awalnya Belanda menyatakan bersikap netral atas serangan Jerman ke Polandia, namun Hitler memutuskan untuk menginvasi negara tersebut.1
1 Werner Warmbrunn. The Dutch Under German Occupation, 1940-1945 (Palo Alto: Stanford University Press 1963) halaman 5–7.
Pasca penyerangan Jepang ke Pearl Harbor, Hawaii pada tanggal 7 Desember 1941, Amerika Serikat secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang, diikuti juga dengan Inggris dan Belanda yang memiliki wilayah jajahan di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, pemerintah kolonial telah mengasingkan dua sosok penggerak kemerdekaan Indonesia, yakni Muhammad Husni Thamrin dan Douwes Dekker (Danudirdja Setiabudi).
Thamrin dijebloskan ke penjara kota hingga wafat pada tanggal 11 Januari 1941, sedangkan Douwes Dekker diasingkan ke Suriname hingga tahun 1945. Sejak saat itu, Hindia Belanda yang berada di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal A.W.L. (Alidius Warmoldus Lambertus) Tjarda van Starkenborgh Stachouwer mulai merasa bahwa Jepang adalah ancaman terbesar dalam pemerintahan mereka dan pengasingan tokoh-tokoh pergerakan adalah salah satu cara untuk menghindari adanya upaya pembebasan yang dilakukan oleh para tentara Jepang. Selain pengasingan- pengasingan tersebut, pemerintah kolonial juga membekukan seluruh aset milik Jepang yang disimpan di Indonesia.
Ketika Jepang pertama kali menginvasi Indonesia, pihak pemerintah belum siap untuk menghadapi serangan tersebut walaupun pemerintah mengetahui tentang serangan di Pearl Harbor dan menyatakan perang terhadap Jepang. Akan tetapi, secara militer Hindia Belanda tidak memiliki kemampuan untuk membalas serangan sehingga saat Tarakan diserang pada tanggal 11 Januari 1942, seluruh perusahaan minyak di sana memutuskan untuk melakukan evakuasi besar-besaran dan meledakkan seluruh kilang minyak agar tidak diketahui oleh pihak Jepang. Taktik ini dinilai cukup berhasil walaupun pada masa pendudukan Jepang, seluruh kilang minyak yang telah dihancurkan berhasil dibangun kembali. Serangan ini berhasil membuka celah bagi tentara Jepang untuk mencaplok wilayah-wilayah strategis lainnya di Indonesia, seperti Sumatera dan Jawa. Untuk menghadapi Jepang, pernah dibentuk sebuah aliansi yang dinamakan ABDACOM (American British Dutch Australian Command) pada tanggal 15 Januari
1942.2 Namun, persiapan militernya masih kalah cepat dan terbukti tepat pada tanggal 27 Februari 1942, Jepang kembali melancarkan invasi menuju Laut Jawa yang pernah dianggap sebagai pertempuran permukaan terbesar setelah Pertempuran Jutland pada masa Perang Dunia I. Pertempuran ini melibatkan banyak armada kapal dari aliansi militer tersebut walaupun pada akhirnya aliansi tersebut mengalami kekalahan telak dan tentara Jepang berhasil mendarat di pulau Jawa. Invasi terus berlanjut hingga pada tanggal 8 Maret 1942, Jenderal Hein ter Poorten yang merupakan perwakilan Belanda bersama dengan perwakilan Jepang Jenderal Imamura menandatangani Perjanjian Kalijati yang merupakan puncak dari runtuhnya Hindia Belanda.
Setelah perjanjian tersebut, Tjarda dan ter Poorten diasingkan ke Taiwan hingga berakhirnya perang pada tahun 1945 dan kembali ke Belanda.
2 Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), halaman 4
Kesimpulan
Keruntuhan Hindia Belanda pada tahun 1942 timbul karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi keruntuhan adalah pemerintah yang kurang siap menghadapi kemungkinan terjadinya perang dan pengaruh dari para tokoh pergerakan yang tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu perjuangan mulai bersifat kooperatif atau bekerja sama melalui keterlibatan para anggota Volksraad (dewan pemerintah). Selain itu, pemerintah sejak era 1930-an berusaha untuk memulihkan keadaan ekonomi negara yang terpuruk akibat pengaruh malaise yang ditimbulkan oleh jatuhnya harga saham Wall Street tahun 1929. Sementara faktor eksternal yang mempengaruhi keruntuhan Hindia Belanda adalah upaya mata-mata orang Jepang yang dinilai sangat canggih pada saat itu. Banyak orang yang menyamar menjadi tukang sepatu, pekerja kebun, pemilik toko, dan sebagainya sambil melakukan pengintaian terhadap penduduk sekitar dan pada saatnya kembali ke Jepang, hasil pengintaian dilaporkan dan menjadi bahan bagi pihak militer Jepang untuk merencanakan invasi. Invasi yang akhirnya terjadi pada awal tahun 1942 semakin memperkuat bukti bahwa pemerintah kolonial tidak siap menghadapi serangan-serangan Jepang yang sudah dilakukan sebelumnya di Malaya, Singapura, dan Indocina serta Pearl Harbor, Hawaii. Walaupun demikian, namun para tokoh penggerak kemerdekaan seperti Soekarno dan Hatta akhirnya bekerja sama dengan pemerintah pendudukan Jepang pasca keruntuhan Hindia Belanda yang membuka lembaran baru bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA