• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 7 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tempat Kerja

Menurut Undang-undang Nomor 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang dimaksud tempat kerja adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya. Termasuk tempat kerja adalah semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian atau berhubungan dengan tenpat kerja tersebut.

Kebisingan di tempat kerja sering kali merupakan problem tersendiri bagi tenaga kerja. Umumnya berasal dari mesin kerja, genset serta berbagai peralatan yang bergerak dan kontak dengan logam, kompresor dan sebagainya (Anies, 2014).

Sumber kecelakaan kerja berupa kebisingan pada umumnya terjadi pada hamper semua industri, baik industry kecil, menengah maupun industri besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin atau mesin pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan yang berpotensi

(2)

commit to user

mengeluarkan suara yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan kerja (Buntarto, 2015).

2. Anatomi Telinga dan Fisiologi Pendengaran

Proses seseorang dapat mendengar sangat dipengaruhi oleh fungsi organ pendengarannya. Telinga manusia terdiri dari tiga bagian utama, yaitu:

a. Telinga Bagian Luar

Telinga bagian luar terdiri dari daun telinga dan lubang telinga (auditory canal), dibatasi oleh membran timpani. Telinga bagian luar berfungsi sebagai mokrofon yang menampung gelombang suara dan menyebabkan membran timpani bergetar. Semakin tinggi frekuensi getaran suara maka semakin cepat pula membran timpani bergetar, begitu pula sebaliknya.

b. Telinga Bagian Tengah

Telinga bagian tengah terdiri atas ossida, yaitu tiga tulang kecil (tulang- tulang pendengaran yang halus) Martil-Landasan-Sanggurdi yang berfungsi memperbesar getaran suara dari membran timpani dan meneruskan getaran tersebut ke oval window yang bersifat fleksibel. Oval window ini terletak di bagian ujung dari rumah siput (koklea).

(3)

commit to user c. Telinga Bagian Dalam

Telinga bagian dalam terdiri dari rumah siput yang disebut koklea. Koklea mengandung cairan, di dalamnya terdapat membran basiler dan organ corti yang terdiri dari sel-sel rambut sebagai reseptor rangsangan suara.

Getaran dari oval window akan diteruskan oleh cairan di dalam koklea, mengantarkan membran basiler. Getaran ini merupakan implus bagian organ corti yang selanjutnya diteruskan ke otak oleh saraf pendengaran (Buchari, 2007)

3. Pengertian Kebisingan

Kebisingan menurut Slamet (2006) dalam Sucipto (2014) bising adalah campuran dari berbagai suara yang tidak dikehendaki ataupun yang merusak kesehatan, saat ini kebisingan merupakan salah satu penyebab penyakit lingkungan. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia (bab 1, pasal 1) menyatakan

“Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan / atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran”.

Bunyi didengar sebagai rangsangan-rangsangan pada sel saraf pendengar dalam telinga oleh gelombang longitudinal yang ditimbulkan

(4)

commit to user

getaran dari sumber bunyi atau suara dan gelombang tersebut merambat melalui media udara atau penghantar lainnya, dan manakala bunyi atau suara tersebut tidak dikehendaki oleh karena mengganggu atau timbul di luar kemauan orang yang bersangkutan, maka bunyi atau suara yang demikian dinyatakan sebagai kebisingan. Dalam rangka perlindungan kesehatan tenaga kerja, kebisingan diartikan sebagai semua suara atau bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (Suma‟mur, 2014).

Kualitas bunyi ditentukan oleh 2 hal yakni frekuensi dan intensitasnya (Sucipto, 2014). Frekuensi bunyi (f) adalah merupakan banyaknya fluktuasi tekanan yang di timbulkan per satuan waktu, oleh karenanya frekuensi adalah merupakan kebalikan dari periode (T) dengan satuan Hertz (Buntarto, 2015).

Intensitas atau arus energi per satuan luas biasanya dinyatakan dalam satuan logaritmis yang disebut desibel (dB) (Sucipto, 2014). Biasanya suatu kebisingan terdiri dari campuran sejumlah gelombang-gelombang sederhana dari beraneka frekuensi. Nada-nada dari kebisingan ditentukan oleh frekuensi- frekuensi yang ada (Suma‟mur, 2014).

Menurut Suma‟mur (2014) intensitas atau arus energi per satuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritma yang disebut desibel (dB) dengan memperbandingkannya dengan kekuatan standar 0,0002 dyne (dyne)/cm2

(5)

commit to user

yaitu kekuatan bunyi dengan frekuensi 1000 Hz yang tepat dapat didengar telinga normal. Dalam rumus:

P = intensitas suatu bunyi

Po = intensitas bunyi standar (0,0002 dyne / cm2)

Menurut WHO (1995) dalam Sihar Tigor (2005), adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kebisingan antara lain:

a. Intensitas

Intensitas bunyi yang dapat didengar telinga manusia berbanding langsung dengan logaritma kuadrat tekanan akustik yang dihasilkan getaran dalam rentang yang dapat di dengar. Jadi, tingkat tekanan bunyi di ukur dengan logaritma dalam desible (dB).

b. Frekuensi

Frekuensi yang dapat didengar oleh telinga manusia terletak antara 16- 20000 Hertz. Frekuensi bicara terdapat antara 250-4000 Hertz.

c. Durasi

Efek bising yang merugikan sebanding dengan lamanya paparan dan berhubungan dengan jumlah total energi yang mencapai telinga dalam.

(6)

commit to user d. Sifat

Mengacu pada distribusi energi bunyi terhadap waktu (stabil, berfluktuasi, intermiten). Bising impulsive (satu/lebih lonjakan energi bunyi dengan durasi kurang dari 1 detik) sangat berbahaya.

Rentang frekuensi suara yang masih dapat didengar oleh manusia normal berada diantara 20 Hz-20.000 Hz, frekuensi suara kurang dari 20 Hz disebut infrasonik sedangkan frekuensi suara diatas 20 KHz disebut Ultrasonik (Sihar Tigor, 2005).

Menurut National Institute of Occupational Safety and Health/ NIOSH (dalam Tigor, 2005) telah mendefinisikan status suara atau kondisi kerja dimana suara berubah menjadi polutan secara lebih jelas, yaitu:

a. Suara-suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 104 dBA.

b. Kondisi kerja yang mengakibatkan seorang karyawan harus menghadapi tingkat kebisingan lebih besar dari 85 dBA selama lebih dari 8 jam.

4. Sumber Kebisingan

Kebisingan dapat bersumber dari alat-alat transportasi baik darat maupun udara dan mesin-mesin industri beserta proses yang ada di dalamnya.

Menurut Anies (2014) sumber kebisingan berasal dari:

a. Mengoperasikan mesin-mesin yang menimbulkan suara “rebut” karena kondisi mesin yang sudah tua dan tidak terawatt dengan baik.

(7)

commit to user

b. Sistem perawatan dan perbaikan mesin-mesin yang produksi yang sekedarnya, asal dapat berjalan.

c. Sering mengoperasikan mesin-mesin kerja pada kapasitas cukup tinggi dalam periode operasi cukup panjang.

d. Melakukan modifikasi atau penggantian komponen-komponen mesin secara parsial, termasuk menggunakan komponen mesin tiruan.

e. Pemasangan dan peletakan komponen-komponen mesin secara tidak tepat, terutama pada bagian penghubung antara model mesin (bad connection)

f. Penggunaan alat-alat yang kurang sesuai dengan fungsinya misalnya penggunaan palu (hammer) atau alat pemukul sebagai alat pembengkok benda-benda metal atau alat bantu pembuka baut.

Tabel 1. Skala intensitas Kebisingan dan Sumbernya

Intensitas (dB) Sumber Kebisingan Kerusakan alat

pendenganran

>120 (Batas dengar tertinggi) Menyebabkan tuli 100-120 Halilintar

Meriam Mesin uap Sangat hiruk 80-100 Jalan hiruk pikuk

Perusahaan sangat gadung

Pelut polisi

Kuat 60-80 Kantor bising

Jalan pada umurnya Radio

Perusahaan

Sedang 40-60 Rumah gaduh

Kantor pada umumnya Bersambung

(8)

commit to user

Percakapan kuat Radio perlahan

Tenang 20-40 Rumah tenang

Kantor perorangan Audiotorium Percakapan

Sangat tenang 0-20 Suara daun

Berbisik (batas dengan terendah)

Sumber: Suma‟mur, 2014

5. Jenis Kebisingan

Menurut Soedirman dan Suma‟mur (2014) jenis-jenis bising yang sering dijumpai dalam industri dan sektor-sektor kegiatan ekonomi lainnya dijelaskan berikut ini.

a. Bising ajek dengan spectrum frekuensi luas (steady wide-band noise) termasuk kisaran frekuensi yang lebar seperti mesin di bengkel, kipas angin, dapur peleburan dan tanur putar di pabrik semen.

b. Bising ajek dengan spektrum frekuensi yang sempit (steady state, narrow band noise), yang energinya dari suaranya sebagian besar terkonsentrasi dalam beberapa frekuensi seperti gergaji putar.

c. Bising terputus (impact noise), yaitu bunyi dalam suatu waktu yang pendek tunggal seoerti mesin tempa, pancang fondasi.

d. Bunyi impact berulang, seperti riveting.

Sambungan

(9)

commit to user

e. Bunyi berulang (intermittent noise) seperti suara lalu lintas yang terdengar di rumah atau kantor, dan suara pesawat terbang yang terdengar disekitar lapangan terbang.

6. Kategori Kebisingan

Berdasarkan frekuensi tingkat tekanan bunyi, tingkat bunyi dan tenaga bunyi maka bising dibagi dalam tiga kategori yaitu occupational noise, audible noise, dan impuls noise (Sucipto, 2014)

a. Occupational noise (bising berhubungan dengan pekerjaan), yaitu bising yang disebabkan oleh bunyi mesin ditempat kerja, missal bising dari mesin ketik.

b. Audible noise (bising pendengaran), bising ini disebabkan oleh frekuensi bunyi atau 31,5 – 8.000 Hz.

c. Impuls Noise (impact noise = bising impulsive), bising yang terjadi akibat adanya bunyi yang menyentak, misalnya pukulan palu, ledakan, meriam, tembakan bedil.

7. Pengukuran Kebisingan

Maksud pengukuran kebisingan adalah (Suma‟mur, 2014):

a. Memperoleh data tentang frekuensi dan intensitas kebisingan diperusahaan atau di mana saja.

(10)

commit to user

b. Menggunakan data hasil pengukuran kebisingan untuk mengurangi intensitas kebisingan tersebut, sehingga tidak menimbulkan gangguan dalam rangka upaya konservasi pendengaran tenaga kerja, atau perlindungan masyarakat dari gangguan kebisingan atas ketenangan dalam kehidupan masyarakat atau tujuan lainnya.

Untuk mengetahui intensitas kebisingan di lingkungan kerja dilakukan pengukuran mengguanakan Sound Level Meter (SLM). Mekanisme kerja alat ini adalah jika ada suatu benda bergetar maka getaran tersebut akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan udar yang akan ditangkap oleh alat ini, selanjutnya akan menggerakkan meter penunjuk (Buchari, 2007).

Untuk mengukur nilai ambang pendengaran digunakan Audiometer.

Audiogram adalah chart hasil pemeriksaan audiometri. Nilai ambang pendengaran adalah suara paling lemah yang masih bias didiengar oleh telinga. Sedangkan untuk menilai pajanan kebisingan terhadap tenaga kerja lebih tepat dilakukan pengukuran dengan Noise Dose Meter karena umumnya tenaga kerja tidak menetap di tempatnya bekerja secara terus-menerus selama 8 jam melainkan berpindah-pindah ke tempat lainnya (Buchari, 2007).

8. Nilai Ambang Batas Kebisingan

Nilai Ambang Batas (NAB) kebisingan sesuai pada tabel berikut:

(11)

commit to user Tabel 2. Nilai Ambang Batas Kebisingan

Batas Suara (dB) Lama Pajanan Tiap Hari

85 8 jam

88 4 jam

91 2 jam

94 1 jam

97 30 menit

100 15 menit

103 7,5 menit

106 3,75 menit

109 1,88 menit

112 0,94 menit

115 28,19 detik

118 14,06 detik

121 7,03 detik

124 3,52 detik

127 1,76 detik

130 0,88 detik

133 0,44 detik

136 0,22 detik

139 0,11 detik

Sumber: Permenakertrans No. Per 13/MEN/X/2011

Catatan: tidak boleh terpapar lebih dari 140 dB Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditentukan oleh Permenaker No. Per. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja adalah 85 dB selama 8 jam per hari.

Berdasarkan Permenaker No. Per 13/MEN/X/2011telah diatur Nilai Ambang Batas kebisingan dan waktu pajanan yang diperbolehkan. Dengan pedoman tersebut diharapkan tempat kerja yang terpapar bising melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) tidak mengganggu aktivitas tenaga kerja yang bekerja di tempat tersebut karena telah ditentukan waktu pajanan yang diperbolehkan.

(12)

commit to user 9. Gangguan Pendengaran

Menurut Sucipto (2014) bising dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi, gangguan keeseimbangan dan efek pada pendengaran.

1) Gangguan Fisiologis

Pada umumnya bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg), peningkatan nadi, kontriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebebkan pucat dan gangguan sensoris.

Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala.

Hal ini disebabkan bising dapat merangsang situasi reseptorvestibular dalam telinga dalam yang akan menimbulkan efek pusing/vertigo.

Perasaan mual, susah tidur dan sesak nafas disebabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ, kelenjar endoktrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan keseimbangan elektrolit.

2) Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, emosi dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stress, kelelahan dan lain-lain.

(13)

commit to user 3) Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara.

Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak.

Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan keselamatan seseorang.

4) Gangguan Keseimbangan

Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual-mual.

5) Efek pada Pendengaran

Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara umum dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran adalah sementara dan pemuliha terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising maka akan terjadi tuli menetap dan tidak dapat normal kembali, biasanya dumulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan.

(14)

commit to user

Sedangkan menurut Soedirman dan Suma‟mur (2014) efek bising terhadap manusia terbagi menjadi efek auditori dan efek non-auditori.

1) Efek Auditori

Terhadap tenaga kerja yang terpapar bising, ada dua tipe kehilangan daya pendengaran, yaitu:

a) Temporary Threshold Shift (TTS) atau kehilangan daya pendengaran sementara, yaitu berkurangnya kemampuan kemampuan untuk mendengar suara yang lemah.

b) Noise-Induced Permanent Threshold Shift (NIPTS) atau kehilangan daya pendengaran menetap, yaitu berkurangnya kemampuan mendengar suara, yang tidak dapat pulih.

2) Efek Non-Auditori

Efek Non-Auditori adalah semua efek terhadap kesehatan dan kesejahteraan yang disebabkan oleh pemaparan bising, kecuali efek pada organ pendengaran dan efek karena masking dari auditori informasi.

Efek Non-Auditori dari bising belum sepenuhnya diketahui. Efek tersebut sering kali terlewatkan oleh industrial hygienist saat melakukan survei dan pengkajian tentang risiko kesehatan dan pemantauan. Efek Non-Auditori sering kali hanya dianggap sebagai sesuatu yang ringan dan efek yang kurang penting, baik disebabkan oleh stresor lain maupun sebagai pilihan gaya hidup individual. Namun, sebenarnya telah

(15)

commit to user

ditemukan indikasi efek-efek efek Non-Auditori yang tidak dapat atau harus tidak diabaikan dalam melindungi tenaga kerja di lingkungan kerjanya, diantaranya dijelaskan berikut ini.

a) Insiden stres meningkat (ansietas).

b) Perubahan perilaku kejiwaan, seperti perasaan khawatir, penurunan kemampuan membaca komprehensif, penurunan luasnya perhatian dan memori, kesulitan memecahkan masalah, mudah tersinggung setelah selesai bekerja, tidak sabar, gugup, gangguan ketenangan, ketidakmampuan menurunkan ketegangan, gangguan kenyamanan, gangguan konsentrasi, gangguan yang lamban pemulihannya, dan kehilangan konsentrasi.

c) Perubahan perilaku, seperti peningkatan agresifitas, penurunan perilaku menolong, masalah dengan hubungan personal, dan gangguan komunikasi yang menimbulkan risiko keselamatan.

d) Perubahan fisiologis pada tubuh, seperti hipertensi, penyakit jantung iskemik, gangguuan peredaran darah/jantung atau kardiovaskular, gangguan pencernaan, gangguan tidur, perubahan dalam sistem imun, sakit kepala, dan cacat lahir (suspected).

Pendapat lain tentang efek Non-Auditori bising menyatakan bahwa bahaya efek Non-Auditori dari bising masih banyak diperdebatkan. Secara umum, yang dianggap sebagai efek-efek Non-Auditori adalah:

(16)

commit to user

a) Gangguan fungsi kardiovaskular termasuk hipertensi, perubahan tekanan darah dan/atau denyut jantung.

b) Perubahan pernafasan c) Annoyance

d) Gangguan tidur

e) Pengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental.

Adanya efek-efek yang demikian luas dipercaya bahwa bising mempunyai kemampuan secara umum sebagai stresor yang tidak spesifik (non-specific-stressor), walaupun sangat sukar menunjuk yang mana efek bising vs yang mana efek stresor umum lainnya. Di tempat kerja, efek Non-Auditori bising termasuk mengenai masalah komunikasi pembicaraan dan absenteisme yang tinggi.

Efek-efek tersebut tidak disimpulkan apakah pengaruh psikologis/

mental atau konsekuensi fisiologis stres bising. Efek Non-Auditori dapat dibagi menjadi 2 kategori. Efek fisiologis dapat temporer (sementara) atau permanen, yang keduanya sama dengan respons tubuh pada stresor lainnya.

a) Efek Fisiologis Temporer. Efek fisiologis temporer adalah:

(1) Respos mendadak terhadap bising yang keras dimana otot-otot dipaksa beraktifitas secara tiba-tiba, umunya dengan maksud melindungi.

(17)

commit to user

(2) Respons tegangan otot, dengan otot-otot cenderung berkontraksi dengan adanya bising keras.

(3) Refleksi respiratori, dengan ritme pernapasan cenderung berubah.

(4) Perubahan pola denyut jantung.

(5) Perubahan diameter saluran darah terutama dalam kulit.

b) Efek Fisiologis Permanen. Terdapat pendapat yang berbeda mengenai adanya pengaruh permanen tentang efek Non-Auditori bising. Ada yang berpendapat tentang adanya efek permanan, ada pula yang mengatakan bahwa efek permanen tidak ada.

10. Hearing Conservation Program

Hearing Conservation Program adalah rangkaian kegiatan sistematis, yang bertujuan untuk mencegah gangguan pendengaran pada pekerja terpajan kebisingan tinggi dalam lingkungan industri (Bashiruddin, 2009).

Hearing Conservation Program atau program pengendalian kebisingan merupakan suatu program yang diterapkan di lingkungan industri untuk melindungi dan menjamin bahwa tenaga kerja tidak mengalami kerusakan pendengaran akibat terpajan oleh kebisingan di tempat kerja.

Pajanan kebisingan yang dimaksud adalah kebisingan dengan intensitas tinggi yang dapat mengganggu persepsi pembicaraan normal dan potensial untuk menimbulkan risiko kerusakan pendengaran (Buchari, 2007).

(18)

commit to user

Sedangkan tujuan khusus pelaksanaan program tersebut adalah:

a. Mengetahui tingkat kebisingan di tempat kerja sesuai dengan karakteristik pekerjaannya.

b. Meningkatkan upaya pencegahan ketulian akibat bising di tempat kerja dengan mengurangi tingkat paparan kebisingan terhadap pekerja, baik secara administratif maupun secara teknis.

c. Mendeteksi dini adanya kasus Noise Induced Hearing Loss (NIHL) dan mencegah terjadinya Temporary Threshold Shift (TTS) yang dapat timbul menjadi permanen.

d. Meningkatkan pengetahuan karyawan tentang kebisingan dan pengaruhnya terhadap kesehatan.

e. Meningkatkan kedisiplinan dan kesadaran karyawan dalam menggunakan alat pelindung telinga di area kerja yang terpapar bising.

f. Menumbuhkan perubahan perilaku karyawan dan semua unsur terkait kea rah yang mendukung program konservasi pendengaran melalui program promosi kesehatan di tempat kerja.

Selanjutnya menurut Buchari (2007) manfaat dilaksanakannya program konservasi pendengaran bagi perusahaan adalah:

a. Perusahaan taat hukum dengan melaksanakan ketentuan perundangan yang berlaku.

b. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan.

(19)

commit to user

c. Meningkatkan moral dan kepuasan karyawan sehingga tercipta hubungan baik antara perusahaan dengan karyawannya.

d. Mengurangi angka kecelakaan, kesakitan, hilangnya hari kerja, menurunkan turn over rate dan absenteeism (lost time).

e. Menekan biaya kesehatan akibat preventable disease serta klaim kompensasi.

f. Menghindari terjadinya kehilangan karyawan yang terampil dan skilled.

Manfaat dilaksanakannya program konservasi pendengaran bagi karyawan adalah mencegah gangguan pendengaran akibat bising; gangguan pendengaran akibat bising akibat bising tidak terasa (tanpa sakit), bersifat menetap (irreversible) serta bisa mengurangi stres.

Menurut Roestam (2004) untuk melaksanakan program konservasi pendengaran diperlukan hal-hal seperti berikut:

a. Adanya dukungan manajemen perusahaan b. Ditetapkan/dibuat suatu policy statement

c. Program konservasi pendengaran harus terintegrasi dengan program K3.

d. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk secara resmi. Penanggung jawab tersebut bekerjasama dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy. Selanjutnya manajemen dan karyawan harus konsisten melaksanakan program tersebut.

e. SOP dari setiap langkah dalam plan and policy harus jelas.

(20)

commit to user

f. Kontraktor dan vendor perusahaan harus taat pada plan and policy tersebut.

Selanjutnya menurut IDKI (2002) dalam Roestam (2004) dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu:

a. Berpedoman bahwa pekerja harus tetap sehat bekerja di lingkungan bising.

b. Dilaksanakan oleh semua jajaran perusahaan, mulai dari pimpinan tertinggi sampai pekerja/karyawan pelaksana. Komitmen pimpinan dan karyawan terhadap program ini sangat penting.

c. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan melibatkan 3 unsur, yaitu pada sumber, pada transmisi, dan pada penerima.

d. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.

e. Mengutamakan pencegahan kebisingan bukan pengobatan gangguan pendengaran pada pekerja akibat bising, bersikap proaktif bukan reaktif, dan mengutamakan kesejahteraan pekerja bukan santunan.

f. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dengan sehat, tetapi merupakan pedoman. Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan di lingkungan kerja dan kesehatan pekerja.

Pelaksanaan program konservasi pendengaran di perusahaan menurut NIOSH (1996) dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

(21)

commit to user a. Memonitor paparan bising

Untuk mengukur tingkat intensitas digunakan Sound Level Meter, tetapi bila ingin pengukuran lebih detail, maka menggunakan Sound Level Meter yang dilengkapi Octave Band Analyzer atau dengan menggunakan Noise Dose Meter. Survei paparan kebisingan memiliki beberapa tujuan (NIOSH, 1996):

1) Untuk menentukan apakah bahaya pendengaran ada.

2) Untuk menentukan apakah kebisingan memiliki bahaya keamanan yang mengganggu komunikasi atau sinyal peringatan.

3) Untuk mengidentifikasi karyawan untuk dimasukkan ke dalam program pencegahan gangguan pendengaran.

4) Untuk mengklasifikasikan eksposur kebisingan karyawan untuk memprioritaskan upaya pengendalian kebisingan untuk mendefinisikan dan membuat program perlindungan pendengaran.

5) Untuk mengevaluasi sumber kebisingan spesifik untuk tujuan pengendalian kebisingan.

6) Untuk mengevaluasi keberhasilan upaya pengendalian kebisingan.

Menurut Roestam (2004) ada dua macam cara monitoring kebisingan di tempat kerja, yaitu:

1) Monitoring pendahuluan, dilakukan untuk menentukan masalah yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi pendengaran

(22)

commit to user

berdasarkan lokasi tempat kerja. Survei ini dilaksanakan jika ada karyawan yang kesulitan dalam berkomunikasi dan ada karyawan yang mengeluhkan telinga berdengung setelah bekerja.

2) Monitoring bising terperinci, dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan dengan menetapkan lokasi khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan secara lebih terperinci di setiap lokasi.

Sedangkan menurut Buchari (2007) survei kebisingan dilakukan dengan identifikasi area dimana pekerja terpapar kebisingan dengan intensitas yang berbahaya. Selanjutnya pada daerah yang telah ditetapkan sebelumnya dilakukan penelitian tingkat kebisingan. Survei kebisingan juga mencakup tes pendengaran terhadap karyawan yang bekerja di area tersebut secara berkala. Sebelum melakukan tes pendengaran, karyawan harus dibebaskan dari kebisingan di tempat kerjanya selama 16 jam.

b. Pengendalian Kebisingan

Menurut OSHA (2002) kontrol administratif dan teknik adalah metode yang biasanya digunakan untuk mencegah paparan kebisingan.

Biasanya, kontrol administratif dan teknik tidak memerlukan alat pelindung diri dan lebih protektif. Namun, tidak selalu layak untuk

(23)

commit to user

menggunakan kontrol administratif dan teknik sebagai satu-satunya cara untuk mencegah suara over-exposure. Kuncinya adalah untuk mempertahankan rata-rata tertimbang waktu 8 jam kurang dari 85 dBA sehingga alat pelindung diri tidak diperlukan. Pada tanggal 19 Oktober 2010, Departemen Perburuhan Amerika Serikat mengusulkan bahwa istilah "layak" diartikan sebagai sesuatu yang mampu dilakukan, sehingga meningkatkan kemampuan OSHA untuk menegakkan aspek standar.

Pada dasarnya pengendalian kebisingan menurut NIOSH (1996) dapat dilakuakan terhadap:

1) Terhadap sumbernya dengan cara:

a) Desain akustik, dengan mengurangi vibrasi, mengubah struktur dan lainnya.

b) Substitusi alat

c) Mengubah proses kerja

2) Terhadap perjalanannya dengan cara:

a) Jarak diperjauh b) Akustik ruangan c) Enclosure

3) Terhadap penerimanya dengan cara:

a) Alat Pelindung telinga

b) Enclosure (misal dalam control room)

(24)

commit to user

c) Administrasi dengan rotasi dan mengubah jam kerja

4) Selain dari ketiga diatas, dapat juga dilakukan dengan melakukan:

a) Pengendalian secara teknis (Engineering control) dengan cara:

(1) Pemilihan equipment/tools/peralatan yang lebih sedikit menimbulkan bising

(2) Dengan melakukan perawatan (Maintenance) (3) Melakukan pemasangan penyerap bunyi

(4) Mengisolasi dengan melakukan peredaman (material akustik) (5) Menghindari kebisingan

b) Pengendalian secara Administratif (Administratif control) dengan cara:

(1) Melakukan shift kerja (2) Mengurangi waktu kerja (3) Melakukan trainning

Langkah terakhir dalam pengendalian kebisingan adalah dengan menggunakan alat pelindung pendengaran (earplug, earmuff, dan helmet). Pengendalian kebisingan dapat dilakukan juga dengan pengendalian secara medis yaitu dengan cara pemeriksaan kesehatan secara teratur.

c. Evaluasi Audiometri

(25)

commit to user

Karyawan yang bekerja di area yang terdapat sumber bahaya kebisingan tersebut, dilakukan pemeriksaan pendengarannya secara berkala setahun sekali. Sebelum diperiksa karyawan harus dibebaskan dari kebisingan di tempat kerjanya selama 16 jam. Pemeriksaan audiometri menurut Maji (2013) bertujuan untuk:

1) Mengetahui secara dini gangguan pendengaran (hearing loss) yang diderita oleh pekerja dan untuk mencegah agar gangguan pendengaran tersebut tidak menjadi lebih parah.

2) Mengetahui keadaan pendengaran dari calon pekerja.

3) Menunjukkan kepada pimpinan perusahaan dan pekerja tentang keuntungan dari pemakaian alat pelindungan telinga.

4) Mengidentifikasi pekerja yang sensitif terhadap efek kebisingan (sensitive/ hypersensitive to noise).

Dalam usaha memberikan perlindungan secara maksimum terhadap pekerja, NIOSH (1996) menyarankan untuk melakukan pemeriksaan audiometri sebagai berikut:

1) Sebelum bekerja atau sebelum penugasan awal di daerah yang bising

2) Secara berkala (periodik/tahunan)

Pelaksana program harus melihat bahwa catatan audiometri menunjukkan:

(26)

commit to user

1) Tujuan khusus dari pemeriksaan audiometri: misalnya, dasar, tahunan.

2) Tes ulang, ambang batas konfirmasi shift, atau lainnya.

3) Peralatan khusus yang digunakan dan tanggal kalibrasi terbaru.

4) Nama tenaga kerja.

5) Tanggal dan waktu hari tes (jika ada shift kerja, pergeseran harus dicatat).

6) Informasi catatan hasil pemeriksaan pendengaran.

7) Nilai ambang batas pendengaran yang diperoleh.

8) Penghakiman tenaga kerja terhadap keandalan respon subjek.

9) Hasil pemeriksaan pelindung pendengaran dan catatan refitting apapun, penerbitan kembali, atau pelatihan ulang.

10) Respon tenaga kerja.

Pekerja yang terpapar kebisingan > 85 dB selama 8 jam sehari, pemeriksaan dilakukan setiap 1 tahun atau 6 bulan tergantung tingkat intensitas bising.

1) Secara khusus pada waktu tertentu 2) Pada akhir masa kerja.

Ada beberapa macam audiogram untuk pemeliharaan pendengaran yaitu:

(27)

commit to user

1) Audiogram dasar (Baseline Audiogram), pada awal pekerja bekerja dikebisingan.

2) Monitor (Monitoring Audiogram), dilakukan kurang dari setahun setelah audiogram sebelumnya.

3) Test Ulangan (Retest Audiogram)

4) Test Konfirmasi (Confirmation Audiogram), dilakukan bagi pekerja yang retest audiogramnya konsisten menunjukkan adanya perubahan tingkat pendengaran.

5) Test Akhir (Exit Audiogram), dilakukan bilamana pekerja brhenti bekerja.

Bila Significant Threshold Shift (STS) atau perubahan tingkat pendengaran lebih dari 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz) maka disebut positif. Jika STS positif, maka yang harus dilakukan adalah:

1) Pemeriksaan oleh dokter.

2) Pemeriksaan data kalibrasi alat.

3) Komunikasi hasil tes pendengaran tersebut karena suatu penyakit, maka harus ada pemeriksaan oleh dokter terkait Telinga Hidung Tenggorokan (THT).

4) Pemeriksaan ulang dalam waktu satu tahun (Buchari, 2007).

d. Alat Pelindung Pendengaran

(28)

commit to user

Pemakaian alat pelindung diri merupakan pilihan terkahir yang harus dilakukan dan satu-satunya cara untuk mencegah bahaya kebisingan yang dapat mengakibatkan gangguan pendengaran seseorang. Menurut NIOSH (1996), jika kontrol rekayasa tidak dapat dilakukan untuk mempertahankan waktu tertimbang rata 8 jam di bawah 85 dBA, maka alat pelindung pendengaran atau Hearing Personal Device (HPD) diperlukan. Ada dua jenis HPD, yaitu penyumbat telinga dan tutup telinga. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Pemilihan HPD yang tepat untuk dikenakan umumnya dilakukan oleh industri. OSHA mensyaratkan bahwa HPD harus diberikan secara gratis.

Ada empat kelas umum penyumbat telinga terdiri dari premolded type, formable type, dan custom-modelded type (OSHA, 2002).

1) Premolded type tidak memerlukan penyumbat untuk dimasukkan ke dalam telinga. Hal ini untuk mencegah sumbatan kotor sebelum dimasukkan kedalam telinga.

2) Formable type terbuat dari berbagai zat. Salah satu kelemahan dari ini adalah kebutuhan yang jelas bagi pengguna untuk memiliki tangan yang bersih sementara membentuk earplug ini. Alat ini memiliki keuntungan yaitu penyesuaikan bentuk telinga pengguna,

(29)

commit to user

sementara banyak penyumbat telinga premolded tidak melakukannya dengan sangat baik.

3) Custom type sumbat telinga ini dibentuk unik untuk setiap orang, karena alat tersebut dimasukan ke telinga setiap pengguna sendiri. Oleh karena itu, alat tersebut sesuai untuk digunakan perorangan.

4) Custom-modelded type umumnya earplug ini lembut pada bagian ujung band. Alat ini mudah digunakan karena dapat dengan cepat dilepaskan dan dimasukkan.

Selain itu ada juga penutup telinga. Perbedaan utama antara peyumbat telinga dan penutup telinga, adalah bahwa penutup telinga tidak dimasukkan dalam liang telinga sedangkat penyumbat telinga dimasukkan kedalam liang telinga. Penutup telinga yang mudah dipakai dan lebih efektif dari pada earplug. Namun, penutup telinga umunya tidak dipakai oleh orang-orang yang menggunakan kacamata, karena hal tersebut membuat penutup telinga menjadi tidak nyaman saat digunakan.

Amerika Serikat Environmental Protection Agency (EPA) mensyaratkan bahwa semua perangkat perlindungan pendengaran diberi label Noise Reduction Rate (NRR). NRR dapat memberikan redaman perangkat perlindungan pendengaran

(30)

commit to user

tersebut. Untuk menentukan jumlah pengurangan kebisingan diberikan oleh perangkat perlindungan pendengaran, OSHA merekomendasikan bahwa 7 dB dikurangkan dari NRR. OSHA juga merekomendasikan faktor keamanan jika alat pelindung telinga memiliki NRR maka intensitas kebisingan akan berkurang 50% (OSHA, 2002).

e. Pendidikan dan Motivasi

Menurut Roestam (2004) program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran sangat bermanfat untuk melindungi pendengaran karyawan dan untuk mendeteksi perubahan ambang pendengaran akibat paparan bising.

Semua pekerja yang berhak mengikuti progam konservasi pendengaran, harus mendapatkan pendidikan dan motivasi yang cukup setiap tahun, baik yang terlibat langsung maupun tidak pada program pemeliharaan pendengaran. Pendidikan dan motivasi pada dasarnya sasarannya adalah perilaku pekerja.

Hal–hal yang relevan dan harus ada dalam program pendidikan ini adalah sebagai berikut:

1) Standart penanganan dampak kebisingan akibat kerja yang rasional dan jelas.

2) Dampak kebisingan terhadap pendengaran

(31)

commit to user

3) Policy/kebijakan perusahaan dengan pengontrolan yang baik yang telah dilaksanakan maupun rencana kedepan

4) Audiometri yaitu menjelaskan bagaimana peranan audiometri dalam mencegah hilangnya pendengaran akibat kebisingan, bagaimana melakukan test itu sendiri interpretasinya serta implikasi yang timbul dari hasil test.

5) Tanggung jawab individual, dengan diskusi mengenai sumber kebisingan, bagaimana mengontrolnya serta usaha mencegahnya agar tidak mengganggu kesehatan dikemudian hari.

f. Pencatatan dan pelaporan

Informasi yang harus tersimpan dalam pencatatan dan pelaporan yaitu:

1) Data hasil pengukuran kebisingan

a) Departemen dan lokasi yang disurvei beserta hasilnya b) Alat yang dipakai serta kalibrasinya

c) Daftar nama karyawan yang terpapar di atas 85 dBA d) Daftar area karyawan yang terpapar di atas 85 dBA 2) Data kontrol terikat/administratif

a) Data instalasi kontrol teknik secara lengkap beserta evaluasinya

b) Data perawatan mesin secara teratur

(32)

commit to user

c) Data karyawan yang mendapatkan perlakuan secara administratif

3) Data hasil Audiometri

a) Data hasil pemeriksaan audiometri dari masing–masing karyawan lengkap dengan nama, umur, job description, tanggal pelaksanaan audiometri dsb.

b) Pre – employment atau pre – exposure audiogram c) Termination atau exit audiogram

d) Hasil review dari audiogram

e) Nama teknisi yang melaksanakan audiometri serta sertifikasi yang dimilikinya

4) Data Alat Pelindung Diri

a) Tanggal mulai pemberian APD pada karyawan b) Merk dan ukuran APD yang dipakai

c) Data pendidikan penggunaan dan perawatan APD d) Data hasil inspeksi penggunaan APD

e) Kalkulasi efek penurunan level kebisingan dari APD yang dipakai, untuk melihat efektivitas alat.

5) Data Pendidikan dan Pelatihan

a) Isi program pendidikan dan pelatihan tahunan

b) Nama presenter serta metode pelatihan yang digunakan

(33)

commit to user c) Nama–nama peserta pelatihan d) Hasil evaluasi pelatihan 6) Data Evaluasi Program

a) Dokumentasi tahunan berkenaan pengukuran kebisingan, perfomance dari APD, serta review hasil audiometri

b) Data usulan perubahan atau tambahan dalam pedoman program konservasi pendengaran (NIOSH, 1996).

g. Evaluasi Program

Menurut Roestam (2004) dan Buchari (2007) evaluasi program ditunjukan untuk mengevaluasi program-program konservasi pendengaran dengan sasaran:

1) Mereview apakah program pemeliharaan pendengaran diatas sudah dilakukan secara menyeluruh dan juga kulaitas pelaksanaan masing–masing komponennya.

2) Membandingkan baseline audiogram lainnya untuk menngukur keberhasilan usaha pencegahan tersebut.

3) Identifikasikan apakah ada daerah yang dikontrol lebih lanjut.

4) Buat check list yang spesifik untuk masing–masing daerah kerja untuk meyakinkan apakah semua komponen program telah ditindak lanjuti sesuai standart yang berlaku.

(34)

commit to user B. Kerangka Pemikiran

Identifikasi Faktor Bahaya dan Potensi Bahaya

Kebisingan Pengukuran

Melakukan Engineering Control

Melakukan Administratif Control

Alat Pelindung Telinga

Gangguan Pendengaran

Monitoring dan Meninjau Kembali Ya

Dikontrol

>NAB

Terkendali

Terkendali Tempat Kerja

Tenaga Kerja Terlindungi Dari Bahaya Kebisingan Tidak

Tidak Ada Program

Tidak Ada Program

Ya Tidak

Dieliminasi

Membuat Hearing Conservation Program

Tes Pendengaran Pendidikan dan

Pelatihan

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Keterangan:

: Komentar Tambahan

Referensi

Dokumen terkait

Batay sa kinalabasan ng isinagawang pag-aaral, inirerekomenda ng mga mananaliksik na patuloy na magsagawa ng pagsusuri o analysis ang susunod pang mga mananaliksik; maglaan ng

Upaya manajemen diperoleh dengan mengambil data melalui kuesioner yang diadaptasi dari American College of Healthcare Executives tahun 2017 yaitu (1) penetapan visi,

Subjek penelitian ini adalah masyarakat Desa Palak Hulu yang mengerti makna simbolik pada perlengkapan Manoe Pucok desa Palak Hulu Kecamatan Susoh.. Dan objek penelitian

Pengolahan data yang dilakukan adalah melakukan peramalan permintaan karet setengah masak 12 periode kedepan dengan menggunakan metode eksponensial, metode linier, metode

Film Surat Kecil Untuk Tuhan merupakan kisah Keke gadis berusia 13 tahun yang hidupnya tampak sempurna, disayang oleh orang tua dan dua orang kakak lelakinya, dalam

Metode penaksiran parameter yang biasa digunakan dalam regresi logistik adalah metode MLE (Maximum Likelihood Estimation). Selanjutnya akan dihitung turunan kedua,

Seperti pada proses pemotongan, pada proses pengemasan tangan pekerja yang tidak bersih juga merupakan titik kendali kritis karena dalam proses tersebut tidak

o Pasal 32 ayat (1) huruf c: Perusahaan asuransi atau perusahaan reasuransi yg akan mengajukan izin unit syariah wajib memiliki tenaga ahli yg memiliki keahlian di bidang asuransi