(The Effectiveness of Deep Breathing and Slow Stroke Back Massage to Decrease the Blood Pressure on A Patient with Hypertension)
Maria Anita Yusiana, Heru suwardianto STIKES RS Baptis Kediri E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pendahuluan: Banyak pasien hipertensi yang belum mendapatkan penatalaksanaan yang tepat dalam mengontrol tekanan darah (TD). Tujuan penelitian ini menganalisis efektivitas deep breathing (DB) dan slow stroke back massage (SSBM) dalam penurunan TD pada pasien hipertensi. Metode: Desain penelitian adalah True Experiment The Solomon Three-Group Design. Sampling dengan teknik rancangan acak kelompok sebanyak 60 orang. Perlakuan yang diberikan yaitu DB dan SSBM. Pengambilan data tekanan darah menggunakan spigmomanometer air raksa. Hasil: Penelitian nilai ρ DB (sistolik) 0,000, sedangkan nilai ρ (diastolik) 0,000. Sedangkan nilai ρ SSBM (sistolik) 0,000 sedangkan nilai ρ (diastolik) 0,001. Hasil statistik efektivitas penurunan TD sistolik terdapat perbedaan signifikan pada kedua perlakuan dengan kelompok kontrol dengan ρ = 0,000 dan yang paling efektif adalah DB dibandingkan SSBM ρ = 0,05 (4,0 mmHg).
Sedangkan penurunan TD diastolik terdapat perbedaan signifikan pada kedua perlakuan dengan kelompok kontrol dengan ρ = 0,000 dan yang paling efektif adalah deep breathing dibandingkan SSBM ρ = 0,01 (6,6 mmHg). Diskusi: Disimpulkan DB dan SSBM efektif menurunkan TD (selisih mean sistolik deep breathing 9,3 mmHg dan SSBM 5,3 mmHg, sedangkan mean diastolik DB 11,2 mmHg dan SSBM 4,6 mmHg) dan Deep breathing lebih efektif menurunkan TD.
Kata kunci: breathing, slow stroke back massage, tekanan darah, hipertensi ABSTRACT
Introduction: Many patients with hypertension have not got the proper treatment in controlling blood pressure (BP). The purpose of this study was to analyze the effectiveness of deep breathing (DB) and slow-stroke back massage (SSBM) in BP reduction to patients with hypertension. Method: The design was a True Experiment the Solomon Three-Group Design.
Sampling technique was group randomized plan as many as 60 people. The treatment given was BP and SSBM. Blood pressure data retrieval used mercury spigmomanometer. Results: The results were ρ of BP values (systolic) was 0,000, while the value of ρ (diastolic) was 0,000. The value ρ of SSBM (systolic) was 0.000 while the value of ρ (diastolic) was 0.001. The statistical results of the effectiveness BP systolic reduction was the significant difference in both interventions with a control group with ρ = 0.000 and the most effective was the DB compare to SSBM with ρ = 0.05 (4.0 mmHg). While there are differences in BP diastolic reduction significantly in both interventions with the control group with ρ = 0.000 and the most effective was DB than SSBM with ρ = 0.01 (6.6 mmHg). Discussion: It can be concluded DB and SSBM are effective to lower BP (systolic mean difference of 9.3 mm Hg of DB and SSBM 5.3 mmHg, while diastolic mean DB 11.2 mmHg and SSBM.
Keywords: deep breathing, slow stroke back massage, blood pressure, hypertension
PENDAHULUAN
Hipertensi merupakan tekanan tinggi di dalam arteri-arteri (Muhammadun, 2010).
Menurut ISH/WHO dan JNC 7 Report 2009, Seseorang dikatakan hipertensi apabila memiliki tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg. Hipertensi merupakan penyakit akibat gangguan sirkulasi darah yang masih menjadi masalah dalam kesehatan di masyarakat (Muttaqin, 2009). Banyak pasien hipertensi belum mendapatkan penatalaksanaan yang tepat dalam mengontrol tekanan darah,
sehingga angka morbiditas akan semakin meningkat dan masalah kesehatan dalam masyarakat semakin sulit untuk diperbaiki.
Prevalensi hipertensi di Indonesia yang berdasarkan pengukuran dan riwayat penyakit adalah 32,2% (Rahajeng, 2009).
Prevalensi hipertensi di Pulau Jawa adalah 41,9% (Setiawan, 2011). Data pasien hipertensi Dinas Kesehatan Kota Kediri di Puskesmas Kota Wilayah Selatan pada tahun 2011 terdapat 4805 orang, tahun 2012 terdapat 4807 orang, pada bulan Januari 2013 terdapat 540 orang penderita hipertensi. Data tersebut
memperlihatkan bahwa begitu besar prevalensi pasien hipertensi yang masih memerlukan penatalaksanaan yang tepat.
Hipertensi dapat terjadi karena peningkatan kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup akibat aktivitas susunan saraf simpatis (Corwin, 2009). Sehingga mengakibatkan peningkatan kontraktilitas serat-serat otot jantung dengan cara vasokontriksi selektif pada organ perifer (Muttaqin, 2009). Apabila hal tersebut terjadi terus menerus maka otot jantung akan menebal (hipertrofi), fungsi jantung sebagai pompa menjadi terganggu, akibatnya bisa terjadi kerusakan pembuluh darah otak, mata (retinopati), dan gagal ginjal (Muhammadun, 2010). Jika tekanan darah pada pasien hipertensi dapat dipertahankan dalam nilai normal maka pasien hipertensi dapat memperoleh kesehatan yang optimal, terhindar dari risiko komplikasi penyakit kardiovaskuler, dan kualitas hidup pasien meningkat.
Peran perawat adalah membantu pasien hipertensi mempertahankan tekanan darah pada tingkat optimal dengan cara memberi intervensi asuhan keperawatan, yaitu terapi relaksasi nafas dalam (deep breathing) (Izzo, 2008). Mekanisme relaksasi nafas dalam (deep breathing) berupa suatu keadaan inspirasi dan ekspirasi pernapasan dengan frekuensi pernapasan menjadi 6-10 kali permenit sehingga terjadi penurunan curah jantung, kontraksi serat-serat otot jantung, dan volume darah membuat tekanan darah menjadi menurun (Muttaqin, 2009). Mekanisme slow stroke back massage (pijat lembut pada punggung) yaitu meningkatkan relaksasi dengan menurunkan aktivitas saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas saraf parasimpatis sehingga terjadi vasodilatasi diameter arteriol.
Hasil penelitian Meek didapatkan bahwa implikasi keperawatan masase punggung dengan pijatan lambat dapat menurunkan tekanan darah, frekuensi jantung dan suhu tubuh (Smeltzer, 2008). Maka peneliti tertarik untuk meneliti efektivitas deep breathing dan slow stroke back massage terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri.
BAHAN DAN METODE
Pada penelitian ini desain atau rancangan penelitian yang digunakan adalah berdasarkan rancangan penelitian True Experiment The Solomon Three-Group Design di mana semua kelompok dilakukan pretest dan 2 kelompok diberi perlakuan eksperimen setelah diberi perlakuan semua kelompok dilakukan post test, dan 1 kelompok kontrol. Variable pada penelitian ini adalah tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, penurunan tekanan darah sistolik, dan penurunan tekanan darah diastolik. Populasi dalam penelitian adalah semua pasien dengan hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota.
Kediri. Rata-rata populasi penelitian pasien hipertensi Januari tahun 2013 sejumlah 540 pasien. Sampel penelitian ini berjumlah 60 responden. Pengumpulan data untuk menganalisis variabel penelitian (tekanan darah) dengan menggunakan alat spigmomanometer air raksa. Data hasil perlakuan deep breathing diuji statistik menggunakan wilcoxon (sistolik) dan Paired T-test (diastolik), sedangkan data slow stroke back massage diuji statistik menggunakan Paired T-test (sistolik) dan wilcoxon (diastolik).
Untuk melihat perlakuan yang paling efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dilakukan uji statistik Post Hoc Mann Whitney.
HASIL Data Umum
Karakteristik pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri yang menjadi responden dalam penelitian ini dibedakan: Jenis Kelamin berdasarkan Umur, Tingkat Pendidikan, Kemungkinan Penyebab Hipertensi dan karakteristik Keluhan.
Pasien hipertensi dengan prevalensi 50% paling banyak berjenis kelamin perempuan (76,7%) sedangkan yang berusia
> 55 tahun sebanyak 58,3%. Perbandingan jumlah penderita hipertensi pada usia > 55 tahun menurut jenis kelamin laki-laki dan perempuan yaitu 9:35 atau 1: 4, yang berarti pada usia > 55 tahun seseorang yang berjenis
kelamin perempuan 4 kali lebih berisiko terkena hipertensi.
Tingkat Pendidikan pasien hipertensi paling banyak tidak tamat SD sebanyak 36,7%
dan sebagian besar mempunyai pendidikan di bawah SMP sebanyak 70%, dapat disimpulkan bahwa pasien hipertensi paling banyak mempunyai pendidikan rendah.
Riwayat pencetus pasien hipertensi dengan prevalensi kejadian > 50% pada pasien hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri, berdasarkan persentase terbesar adalah genetik (71,7%), asupan garam (58,3%) konsumsi jelantah (66,7%) dan riwayat menggunakan kontrasepsi pil (54,3%).
Keluhan pasien dengan prevalensi >
50% pada pasien hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri berdasarkan persentase terbesar adalah pusing (90,0%) dan kaku leher (73,3%).
Data Khusus
Hasil uji analisis Wilcoxon (sistolik) dan uji analisis Paired T-test (diastolik)
sebelum dan sesudah perlakukan ρ deep breathing adalah 0,000 dengan mean sistolik awal = 153,9 mmHg, mean sistolik akhir 144,2 mmHg, dengan mean diastolik awal = 95,1 mmHg, mean diastolik akhir 84,3 mmHg dengan mean penurunan sistolik 9,7 mmHg dan diastolik 10,8 mmHg. Jadi pemberian deep breathing dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri dengan penurunan rata-rata sistolik 9,7 mmHg dan diastolik 10,8 mmHg.
Hasil uji analisis Paired T-test (sistolik) dan uji analisis Wilcoxon (diastolik) sebelum dan sesudah perlakukan ρ slow stroke back massage adalah 0,000 dan 0,001 dengan mean sistolik awal = 160,9 mmHg, mean sistolik akhir 155,7 mmHg, dengan mean diastolik awal = 98,2 mmHg, mean diastolik akhir 93,6 mmHg dengan mean penurunan sistolik 5,25 mmHg dan diastolik 4,6 mmHg. Jadi pemberian slow stroke back massage dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Tabel 1. Jenis Kelamin Berdasarkan Umur pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan
Kota Kediri pada Tanggal 10 Juni–10 Agustus 2013
Umur Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah
∑ % ∑ % ∑ %
35 – 39 Tahun 1 1.6 1 1.7 2 3.3
40 – 44 Tahun 0 0.0 2 3.3 2 3.3
45 – 49 Tahun 0 0.0 4 6.7 4 6.7
50 – 54 Tahun 4 6.7 4 6.7 8 13.3
> 55 Tahun 9 15.0 35 58.3 44 73.3
Jumlah 14 23.3 46 76.7 60 100
Tabel 2. Karakteristik Pendidikan pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri pada Tanggal 10 Juni–10 Agustus 2013
Pendidikan Jumlah
∑ %
Tidak Sekolah 11 18,3
Tidak tamat SD 22 36,7
Tamat SD/sederajat 9 15,0
Tamat SMP/sederajat 9 15,0
Tamat SMA/sederajat 8 13,3
Tamat PT 1 1,7
Total 60 100
Kota Kediri dengan penurunan rata-rata sistolik 5,25 mmHg dan diastolik 4,6 mmHg.
Hasil uji statistik terhadap perubahan tekanan darah sistolik terhadap ketiga kelompok perlakuan didapatkan ρ = 0,000, ρ<α menunjukkan bahwa ketiga perlakuan tersebut memiliki perbedaan tekanan darah sistolik yang signifikan.
Hasil uji Post Hoc Mann Whitney untuk melihat perlakuan yang paling efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik didapatkan bahwa:
1. Deep breathing dan slow stroke back massage ρ = 0,005
2. Deep breathing dan kelompok kontrol ρ = 0,000
3. Slow stroke back massage dan kelompok kontrol ρ = 0,000. Semua nilai ρ menunjukkan kurang dari α dan lebih khusus melihat efektivitas deep breathing dan slow stroke back massage menunjukkan deep breathing lebih efektif daripada
slow stroke back massage dengan selisih penurunan lebih rendah yaitu 4 mmHg.
Hasil uji statistik terhadap perubahan tekanan darah diastolik terhadap ketiga kelompok perlakuan didapatkan ρ = 0,000, ρ < α menunjukkan bahwa ketiga perlakuan tersebut memiliki perbedaan tekanan darah diastolik yang signifikan. Hasil uji Post Hoc Mann Whitney untuk melihat perlakuan yang paling efektif dalam menurunkan tekanan darah sistolik didapatkan bahwa:
1. Deep breathing dan slow stroke back massage ρ = 0,001
2. Deep breathing dan kelompok kontrol ρ = 0,000
4. Slow stroke back massage dan kelompok kontrol ρ = 0,001
Semua nilai ρ menunjukkan kurang dari α dan lebih khusus melihat efektivitas deep breathing dan slow stroke back Tabel 3. Karakteristik Pencetus Hipertensi pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan
Kota Kediri pada Tanggal 10 Juni–10 Agustus 2013
Kemungkinan Penyebab Hipertensi Ya Hasil Tidak Jumlah
∑ % ∑ % ∑ %
Riwayat Keluarga Hipertensi 43 71,7 17 28,3 60 100
Riwayat Gangguan Ginjal 9 15,0 51 85,0 60 100
Konsumsi Pil KB (Perempuan) 25 54,3 21 45,7 46 100
Riwayat Peminum alkohol 2 3,3 58 96,7 60 100
Suka makan makanan rasa asin (garam) 41 68,3 19 31,7 60 100
Sering banyak pikiran (stress) 22 36,7 38 63,3 60 100
Konsumsi makanan yang diolah dengan jelantah 40 66,7 20 33,3 60 100
Riwayat/Perokok 12 20 48 80 60 100
Rutin Olahraga 43 71,7 17 28,3 60 100
Tabel 4. Karakteristik Keluhan pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri pada Tanggal 10 Juni–10 Agustus 2013
Keluhan Kejadian KeluhanYa Tidak Jumlah
Frek % Frek % Frek %
Pusing 54 90,0 6 10,0 60 100
Leher Kaku 44 73,3 16 26,7 60 100
Pandangan Kabur 13 21,7 47 78,3 60 100
Gangguan BAK 6 10 54 90 60 100
Rasa tidak nyaman di dada 22 36,7 38 63,3 60 100
Nyeri dada 17 28,3 43 71,7 60 100
Nyeri/panas menjalar ke lengan kiri dan raham 9 15,0 51 85 60 100
massage menunjukkan deep breathing lebih efektif daripada slow stroke back massage dengan selisih penurunan lebih rendah yaitu 6,6 mmHg. Nilai perbandingan nilai mean penurunan tekanan darah antara deep breathing dengan slow stroke back massage menggunakan rumus (Suwardianto, 2011);
Hasil penelitian menunjukkan bahwa deep breathing 2 kali lebih efektif menurunkan tekanan darah dari pada slow stroke back massage selama 15 menit perlakuan pada responden hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri.
PEMBAHASAN
Pengaruh Deep breathing terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri
Hasil penelitian didapatkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Hasil pengukuran tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah deep breathing pada penderita hipertensi semua mengalami penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Setelah dilakukan analisis menggunakan uji berpasangan Wilcoxon pada tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah dilakukan deep breathing dan uji berpasangan Paired T-test pada tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah dilakukan deep breathing didapatkan hasil ρ (sistolik) = 0,000, dan ρ (diastolik) = 0,000. Karena hasil ρ < α yang berarti ada pengaruh yang signifikan yaitu sebuah penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah dilakukan
deep breathing pada penderita hipertensi kelompok eksperimen di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri. Mean TD sistolik awal= 153,9 mmHg, mean TD sistolik akhir 144,2 mmHg, mean TD diastolik awal=
95,1 mmHg, mean TD diastolik akhir 84,3 mmHg).
Deep breathing merupakan kecepatan pernapasan diman ipulasi kira-kira menjadi 6 kali pernapasan per menit (0,1 Hz), hal ini akan membebani secara fluktuasi spontan di dalam perjalanan saraf simpatis dan pembuluh darah perifer. Pernapasan pada 0,1 Hz (satu kali pernapasan setiap 10 detik atau 6 kali pernapasan per menit) dapat menunjukkan penyamaan keadaan secara spontan keadaan tekanan darah dan frekuensi detak jantung, deep breathing (4-6 atau maksimal 10 kali pernapasan per menit) biasanya terjadi pembebanan dan juga dapat berhubungan dengan suatu penurunan PO2 dan meningkatkan PCO2, yang mana akan mengaktif kan kemoreseptor untuk akselerasi frekuensi pernapasaan. Baroreseptor aktivitasnya meningkat bila kecepatan pernapasan 3–12 kali pernapasan per menit di pertinggi selama ekspirasi. Pada pernapasan yang frekuensinya 6 kali pernapasan per menit, amplitudo dari pernapasan mempengaruhi perubahan tekanan darah yang menyesuaikan agar sebanding dengan kecepatan pernapasan. Terapi nafas dalam akan merespons meningkatkan aktivitas baroreseptor dan dapat mengurangi aktivitas keluarnya saraf simpatis dan terjadinya vasodilatasi sistemik (Izzo, 2008).
Penurunan transmisi impuls akan menurunkan Perbandingan perbedaan = Mean penurunan tekanan darah kelompok x1
Mean penurunan tekanan darah kelompok x2 Tekanan darah sistolik = 9,3 (Deep breathing)
5,3 (Slow Stroke Back Massage)
= 1,8 atau (2: 1) 1
Tekanan darah diastolik = 11,2 (Deep breathing)
4,6 (Slow Stroke Back Massage)
= 2,4 atau (2: 1) 1
denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung. Terapi nafas dalam (deep breathing) selama 15 menit dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan mean (minimum-maxmum) penurunan yaitu 9,0 (6,0–16,0) mmHg dan 10,0 (4,0-20,0) mmHg (Suwardianto, 2011). Jadi dalam proses fisiologi terapi nafas dalam (deep breathing) akan merespons meningkatkan aktivitas baroreseptor dan dapat mengurangi aktivitas keluarnya saraf simpatis dan terjadinya penurunan kontraktilitas, kekuatan pada setiap denyutan berkurang, sehingga volume sekuncup berkurang, terjadi penurunan curah jantung dan hasil akhirnya yaitu menurunkan tekanan darah (Muttaqin, 2009).
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan deep breathing pada penderita hipertensi di Puskesmas Kota wilayah Selatan Kota Kediri. Perubahan tekanan darah dipengaruhi oleh dinding- dinding arteri yang dapat bervasodilatasi dan respons stimulasi baroreseptor Deep breathing memanipulasi frekuensi pernapasan yaitu 6 kali per menit. Dengan frekuensi pernapasan kira-kira 6 kali per menit dapat meningkatkan aktivitas baroreseptor dan merangsang peregangan atau tekanan yang berlokalisasi di arkus aorta dan sinus karotis, peningkatan aktivitas baroreseptor akan merangsang aktivitas parasimpatis dan melepaskan asetilkolin sehingga meningkatkan permeabilitas ion kalium di SA node akibat menurunkan denyutan di SA node. Tekanan darah berubah sejalan dengan perubahan sistem pernapasan yang mempengaruhi pada kecepatan detak jantung. Perubahan kecepatan detak jantung mengidentifikasikan terjadinya penurunan curah jantung dan hasil akhirnya adalah penurunan tekanan darah, hasil penelitian didapatkan terjadi penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan mean (minimum-maximum) penurunan tekanan darah yaitu 9,3 (4,0–20,0) mmHg dan 11,2 (4,0–20,0) mmHg.
Pengaruh Slow Stroke Back Massage terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 2 hasil yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik. Hasil pengukuran tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah slow stroke back massage pada penderita hipertensi semua mengalami penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik. Setelah dilakukan analisis menggunakan uji berpasangan Paired T-test pada tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah dilakukan slow stroke back massage dan uji berpasangan Wilcoxon pada tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah dilakukan slow stroke back massage didapatkan hasil ρ (sistolik) = 0,000, dan ρ (diastolik) = 0,001. Karena hasil ρ < α yang berarti ada pengaruh yang signifikan yaitu sebuah penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah dilakukan slow stroke back massage pada penderita hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri. Hasil penelitian nilai ρ slow stroke back massage adalah 0,000 (mean TD sistolik awal = 160,9 mmHg, mean TD sistolik akhir 155,7 mmHg, mean TD diastolik awal = 98,2 mmHg, mean TD diastolik akhir 93,6 mmHg).
Stimulasi pada kulit ataupun tekanan pada kulit membuat otot, tendon, dan ligamen menjadi rileks. Vasodilatasi perifer pada area yang dimasase membuat peredaran darah menjadi baik, respons massage juga dapat meningkatkan aktivitas parasimpatis untuk mengeluarkan neurotransmiter asetilkolin untuk menghambat aktivitas saraf simpatis di otot jantung yang bermanifestasi pada penurunan tekanan darah. Masase memberi keuntungan pada organ seperti organ muskuloskeletal dan kardiovaskuler yang memberi efek positif pada organ. Slow stroke back massage dapat membuat vasodilatasi pembuluh darah dan getah bening, dan meningkatkan respons refleks baroreseptor
yang mempengaruhi penurunan aktivitas sistem saraf simpatis dan meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis. Mekanisme ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi sistemik dan penurunan kontraktilitas otot jantung, selanjutnya mempengaruhi terjadinya penurunan kecepatan denyut jantung, curah jantung, dan volume sekuncup dan pada akhirnya terjadi perubahan tekanan darah yaitu penurunan tekanan darah (Healey, 2011).
Pengaruh slow stroke back massage terbukti dan sesuai dengan teori bahwa slow stroke back massage juga dapat meningkatkan level dari serotonin, mengurangi efek psikis dari stres dan mengurangi risiko seperti hipertensi.
Terapi masase membuat jaringan otot menjadi rileks, menurunkan kesakitan, dan spasme pada otot. Masase juga dapat menurunkan respons saraf kompresi. Mekanisme ini dapat dijelaskan ketika jaringan otot kontraksi saat masase akan membuat sistem saraf di sekitar area yang dimasase juga ikut tertekan, dan jaringan otot rileks maka saraf juga akan teregang dan dapat menjalankan aktivitas kerja dengan normal melalui respons yang dihasilkan ke otak.
Hasil penelitian menyatakan ada pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan slow stroke back massage terhadap perubahan tekanan darah dengan semua klasifikasi tahap hipertensi pada penderita hipertensi, hal tersebut sesuai dengan teori bahwa penatalaksanaan slow stroke back massage dapat digunakan sebagai terapi nonfarmakologi hipertensi dengan meningkatkan aliran darah, limfe dan dapat meningkatkan aktivitas baroreseptor sebagai prosesnya memberi impuls aferen mencapai pusat jantung, selanjutnya meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatis dan melepaskan hormon asetilkolin sehingga terjadi penurunan transmisi impuls akan menurunkan denyut jantung, volume sekuncup dan curah jantung. Selain melakukan terapi farmakologi dapat melakukan terapi nonfarmakologi yaitu slow stroke back massage. Slow stroke back massage merupakan cara yang sederhana, murah, dapat dilakukan sewaktu-waktu dan dapat dilakukan oleh keluarga, sehingga dapat meningkatkan relaksasi.
Efektivitas Deep breathing dan Slow Back Massage terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada responden. Efektivitas penurunan tekanan darah sistolik terdapat perbedaan signifikan pada kedua perlakuan dengan kelompok kontrol dengan ρ = 0,000 dan deep breathing lebih efektif dibandingkan slow stroke back massage (mean penurunan deep breathing 9,3 mmHg dan slow stroke back massage 5,3 mmHg). Efektivitas penurunan tekanan darah sistolik terdapat perbedaan signifikan pada kedua perlakuan dengan kelompok kontrol dengan ρ = 0,000 dan deep breathing lebih efektif dibandingkan slow stroke back massage (mean penurunan deep breathing 11,2 mmHg dan slow stroke back massage 0,6 mmHg).
Kejadian hipertensi pada usia kurang dari 50 tahun lebih banyak ditemukan pada laki-laki dari pada perempuan karena pada perempuan mempunyai hormon estrogen yang mencegah hipertensi dan setelah 55 atau 60 tahun (menopausal stage) hipertensi lebih banyak ditemukan pada perempuan (kehilangan hormon estrogen yang bersifat mencegah hipertensi) dari pada laki-laki.
Hipertensi esensial 90% penyebab hipertensi belum diketahui secara pasti, sedang kan hipertensi sekunder disebabkan oleh proses penyakit lain seperti penyakit ginjal, kelainan hormonal, karena obat-obatan misalnya pil KB, penyalahgunaan alkohol. Faktor dilihat dari cepat atau lambatnya terjadinya penyakit hipertensi di antaranya adalah, makanan yang berlebih, merokok, terlalu banyak minum alkohol, kelainan pada ginjal, konsumsi garam, stres, penggunaan jelantah, lain-lain (konsumsi kafein, pil KB, dan pola hidup pasif) (Muhammadun, 2010). Deep breathing merupakan teknik memanipulasi pernapasan kira-kira menjadi 6 kali pernapasan per menit. Pada pernapasan yang frekuensinya 6 kali pernapasan permenit, mempengaruhi amplitudo dari pernapasan dan merujuk pada perubahan tekanan darah dengan penyesuaian agar sebanding dengan kecepatan pernapasan. Respons ini juga mengurangi
aktivitas keluarnya saraf simpatis dan terjadinya vasodilatasi sistemik (Izzo, 2008).
Depresi saraf simpatis menurunkan sekresi neurotrasmiter norepineprin dan meningkatkan sekresi neurotrasmiter asetilkolin sehingga terjadi penurunan kecepatan denyutan pada jantung dan terjadi penurunan tekanan darah. Terapi nafas dalam (deep breathing) selama 15 menit dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan mean (minimum-maksimum) penurunan yaitu 9,0 (6,0–16,0) mmHg dan 10,0 (4,0–20,0) mmHg (Suwardianto, 2011). Pengaruh slow stroke back massage meningkatkan level dari serotonin, mengurangi efek psikis dari stres dan mengurangi risiko seperti hipertensi.
Terapi masase membuat jaringan otot menjadi rileks, menurunkan kesakitan, dan spasme pada otot. Masase juga dapat menurunkan respons saraf kompresi. Mekanisme ini dapat dijelaskan ketika jaringan otot kontraksi saat masase akan membuat sistem saraf di sekitar area yang dimasase juga ikut tertekan, dan jaringan otot rileks maka saraf juga akan teregang dan dapat menjalankan aktivitas kerja dengan normal melalui respons yang dihasilkan ke otak (Retno, 2011).
Hasil penelitian terdapat perbedaan selisih perubahan (penurunan) tekanan darah sistolik dan diastolik pada responden pada kelompok eksperimen deep breathing dan slow stroke back massage dan kelompok kontrol (kelompok pembanding). Untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai perbedaan maka dilakukan analisis Post Hoc menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada selisih perubahan (penurunan) tekanan darah pada kelompok responden yang dilakukan deep breathing dengan slow stroke back massage, kelompok responden yang dilakukan deep breathing dengan kelompok kontrol, dan kelompok responden yang dilakukan slow stroke back massage dengan kelompok kontrol. Dapat disimpulkan bahwa intervensi keperawatan deep breathing dan slow stroke back massage efektif dilakukan untuk menurunkan tekanan darah. Untuk mengetahui mana yang lebih baik dilakukan antara deep breathing atau
slow stroke back massage dapat dilihat dari mean penurunan slow stroke back massage 2 kali lebih baik dari pada slow stroke back massage. Deep breathing lebih mudah dilakukan secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Deep breathing dapat dilakukan tanpa biaya, dapat dilakukan di mana saja, saat kapan saja berbeda dengan slow stroke back massage yang harus dilakukan oleh orang lain dan membutuhkan biaya walaupun relative terjangkau dan membutuhkan tempat yang tertutup (privasi). Namun deep breathing tidak dapat dilakukan pada pasien yang mempunyai gangguan pernapasan sehingga slow stroke back massage merupakan alternative yang dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan darah. Responden sejumlah 60 orang yang menderita hipertensi dapat diidentifikasi yaitu paling banyak berjenis kelamin wanita berusia > 55 tahun. Pada wanita usia > 55 tahun yang berada pada masa menopause mempunyai arteri yang relatif sempit dan kaku karena terjadi penurunan hormone estrogen yang mempunyai efek metabolik yang menurunkan kadar LDL sehingga pada wanita usia > 55 tahun mempunyai kemungkinan peningkatan progresifitas plak aterosklerosis.
Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan usia >55 tahun di mana pada usia > 55 tahun 4 kali lebih berisiko dari pada laki-laki pada umur yang sama. Faktor pendidikan dapat mempengaruhi seseorang untuk menghindari pencetus atau penyebab dari hipertensi dibuktikan dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar responden mempunyai pendidikan yang rendah (tidak sekolah 18,3%
dan tidak taman SD 36,7%). Jika seseorang mengetahui penyebab dan bahaya dari hipertensi maka dapat dimungkin seseorang dapat mengendalikan tekanan darahnya dan tidak sampai terjadi kerusakan yang bermakna seperti gangguan pada jantung, ginjal, bahkan mata, dibuktikan hasil penelitian bahwa ada beberapa responden yang mempunyai riwayat gangguan pada ginjal (15,0% responden), gangguan buang air kecil (10% responden), pandangan kabur (15,0% responden). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden hipertensi mengalami gangguan seperti kepala
pusing (90% responden), leher terasa kaku (73,3% responden), rasa tidak nyaman di dada (36,7% responden), rasa nyeri atau panas di dada (28,3% responden), bahkan nyeri yang menjalar dari dada ke lengan kiri dan raham (15,0% responden).
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Penelitian yang dilakukan pada 60 responden tanggal 10 Juni–10 Agustus 2013 di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri dapat disimpulkan bahwa: pemberian deep breathing terbukti efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi dengan mean penurunan sistolik dan diastolik 9,3 mmHg dan 11,2 mmHg, pemberian slow stroke back massage terbukti efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada pasien hipertensi dengan mean penurunan sistolik dan diastolik 5,3 mmHg, dan 4,6 mmHg, perlakuan pemberian deep breathing terbukti lebih efektif dibandingkan pemberian slow stroke back massage dengan selisih penurunan lebih besar (4 mmHg).
Saran
Hasil penelitian ini dapat menjadi rekomendasi dalam meningkatkan pelayanan di posyandu lansia serta dapat menjadi input dalam mengembangkan bahan ajar Keperawatan Gerontik, Keperawatan Medikal Bedah dan Keperawatan Komunitas, melalui pemberian deep breathing pada pasien hipertensi mampu menurunkan tekanan darah sehingga menjadi metode alternative unggulan sebagai kompetensi khusus dalam keperawatan.
KEPUSTAKAAN
Corwin, Elizabeth J., 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran Healey, Dale DC. 2011. How Daes Massage EGC.
Work?.http://takingcharge.csh.umn.
edu/explore-healing-practices/massage- therapy/how-does-massage-work.
Tanggal 8 April 2013. Jam 14.20 WIB.
Izzo, Joseph L,. Sica, Domenic,. & Black, Hendry R., 2008. Hypertension Primer:
The essentials of High Blood Pressure Basic Science, Population Science, and Clinical Management, Edisi ke-4. Philadelphia. USA. Lippincott Williams & Wilkins.
Muhammadun AS, 2010. Hidup Bersama Hipertensi: Serangan Darah Tinggi Sang Pembunuh Sekejap. Yogyakarta.
In-Books.
Muttaqin, Arif, 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi.
Jakarta: Salemba Medika.
Rahajeng, Ekowati & Sulistyowati Tuminah, 2009. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia.
RINKESDAS 2007.pdf. Diakses Tanggal 8 April 2013, Jam 20:15 WIB.
Retno, Anastasi Widyo, 2012. Tindakan Slow Stroke Back Massage dalam Menurunkan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi. Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri, Volume 5. No. 2 Desember 2012, hal. 133–142.
Setiawan, Zamhir, 2011. Prevalensi dan Determinan Hipertensi di Pulau Jawa.
volume 1. Hal 56
Smeltzer, Suzanne C & Brenda G Bare, 2008.
Buku Ajar Keperawatan Medikal- Bedah, Edisi 8, Volume 1. Jakarta: Buku Kedokteran EGD.
Suwardianto, Heru, 2011. Pengaruh Terapi Relaksasi Napas Dalam (Deep breathing) terhadap Perubahan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Kota Wilayah Selatan Kota Kediri. Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri Volume 4, No 1, Juli 2011, l 38–49.