19 A. Upaya Pengurus Pesantren
1. Sejarah Pesantren
Kehadiran kerajaan Bani Umayyah menjadikan pesatnya ilmu pengetahuan, sehingga anak-anak masyarakat Islam tidak hanya belajar dimasjid tetapi juga pada lembaga-lembaga yaitu “kuttab” (pondok pesantren). Kuttab, dengan karakteristik khasnya, merupakan wahana dan lembaga pendidikan Islam yang semula sebagai lembaga baca dan tulis dengan sistem halaqah (sistem wetonan). Pada tahap berikutnya kuttab mengalami perkembangan yang sangat pesat karena dengan didukung oleh dana dari iuran masyarakat serta adanya rencana-rencana yang harus dipatuhi oleh pendidik dan peserta didik. (Abdul mujib. 2006: 234-235)
Di Indonesia istilah kuttab lebih dikenal dengan istilah “pondok pesantren”, yaitu suatu lembaga pendidikan Islam yang di dalamnya
terdapat seorang kiyai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (peserta didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang sudah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Di lembaga inilah diajarkan ilmu dan nilai-
nilai agama kepada santri. Pada tahap awal pendidikan di pesantren tertuju semata-mata mengajarkan ilmu-ilmu agama saja lewat kitab-kitab klasik atau kitab kuning. Ilmu-ilmu agama yang terdiri dari berbagai cabang diajarkan di pesantren dalam bentuk wetonan, sorogan, hafalan ataupun musyawarah (Muzakarah) . (Haidar Putra Daulay. 2012: 63) Adapun sistem pendidikan di pesantren dapat dikelompokkan ke dalam dua tipe yaitu pesantren salaf (tradisional) dan pesantren khalaf (modern).
Pondok pesantren salaf yang lebih dikenal sebagai pondok pesantren tradisional adalah pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab kuning salaf sebagai inti pendidikannya. Pembelajaran yang dilakukan kiyai adalah halaqah berlangsung di masjid/mushalla dan metode yang digunakannya adalah metode bandongan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa, proses pembelajaran kitab kuning yang berlangsung di pondok pesantren salaf tidak mencerminkan sistem kelas sebagaimana yang terjadi pada lembaga pendidikan madrasah ataupun sekolah umum.
Dan yang kedua Pondok pesantren khalaf. Pondok pesantren khalaf disebut juga pondok pesantren modern, lantaran dalam penyelenggaraan pendidikannya telah memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkannya atau pondok pesantren yang telah mendirikan beberapa lembaga pendidikan sekolah, baik pendidikan keagamaan, pendidikan umum, maupun pendidikan kejuruan. Karena itu sistem pendidikan yang menggunakan kelas yaitu proses pembelajarannya
berlangsung di dalam kelas sesuai dengan jadwal pelajaran dan perjenjangan masing-masing. (Taqiyuddin. 2013: 134)
Jadi pesantren tradisional adalah Pesantren salafi yaitu jenis pesantren-pesantren yang mempertahankan kemurnian identitas asli sebagai tempat mendalami ilmu-ilmu agama bagi para santrinya. Semua materi yang diajarkan di pesantren ini sepenuhnya bersifat keagamaan yang bersumber dari kitab-kitab Klasik Islam atau Kitab Kuning dengan huruf Arab gundul (tanpa baris apapun) yang ditulis oleh para ulama’ abad pertengahan. Walaupun kadang-kadang sistem madrasah dipraktekkan sekedar untuk memudahkan sistem sorogan (individual) yang menjadi sendi utama yang diterapkan.
Sedangkan pesantren modern adalah pesantren khalaf yaitu jenis pesantren yang di dalamnya menganut sistem pendidikan yang diadopsi dari sistem pendidikan modern dan materi yang diajarkan dua bentuk ilmu pengetahuan, antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan umum. Ciri khas pondok pesantren modern adalah penekanannya pada kemampuan berbahasa asing secara lisan.
Adapun elemen-elemen pondok pesantren adalah : pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik dan kiyai. Sebagai berikut :
a. Pondok Pesantren
Pondok pesantren merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata pondok dan pesantren. Karenanya, kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Pondok dalam bahasa Arab Funduk yang berarti
tempat singgah, sedangkan pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang dalam pelaksanaan pembelajarannya tidak dalam bentuk klasikal. Jadi, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam nonklasikal yang peserta didiknya disediakan tempat singgah atau pemondokan. (Taqiyuddin. 2013: 109)
Sedangkan Pesantren berasal dari kata pe-santri-an. Santri ialah mereka yang mempelajari Agama Islam. Menurut Nurcholis Madjid (dalam Raharjo, 1985) dari segi historis pesantren tidak hanya blembaga yang serupa sudah terdapat pada masa kekuasaan Hindu Buddha. Umat Islam hanya meneruskan dan mengislamkannya.
Jadi pondok pesantren adalah lembaga pendidikan dan kemasyarakatan yang memiliki masa depan yang sangat menentukan keberadaan setiap individu santri dan masyarakat lingkungannya pondok pesntren sebagai lembaga pendidikan yang memberikan materi keislaman, mampu merubah sikap dan karakter pribadi setiap santri yang memiliki pengetahuan agama yang luas, serta menjadikan santri mampu beradaptasi dan membangun daerahnya dengan keilmuagamaan yang dimilikinya. Dan Allah akan meninggikan derajat bagi para santri yang mentaati syariat Islam.
Berdasarkam Firman Allah dalam Q.S Mujadalah ayat 11 :
اَء َنيِ لَّٱ اَهُّي ذ َ أَٰٓ َي ِح َسۡفَي ْاوُحَسۡفٱَف ِسِلَٰ َجَمۡلٱ ِفِ ْاوُحذسَفَت ۡمُكَل َليِق اَذِإ ْآوُنَم
َنيِ لَّٱَو ۡمُكنِم ْاوُنَماَء َنيِ ذ لَّٱ ُ ذللَّٱ ِعَفۡرَي ْاوُ ُشُنٱَف ْاوُ ُشُنٱ َليِق اَذوَإِ ۡۖۡمُكَل ُ ذللَّٱ ذ ٞيرِبَخ َنوُلَمۡعَت اَمِب ُ ذللَّٱَو ٖۚ تَٰ َجَرَد َمۡلِعۡلٱ ْاوُتوُأ ١١
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang- lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang- orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Mujadalah : 11) ). (Departemen Agama RI. 2009 : 543)
Jelaslah bahwa menuntut ilmu adalah merupakan perintah langsung dari Allah. karena orang yang menuntut ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat, oleh karena itu untuk meningkatkan dan mensyiarkan tentang pengetahuan ilmu agama Islam maka didirikanlah tempat-tempat yang disebut pondok pesantren.
Pondok pesantren merupakan sistem pendidikan yang terpadu antara pendidikan luar sekolah dan pendidikan sekolah yang mempunyai ciri khas yang berbeda, ciri khas tersebut dapat dilihat dari kualitas manusianya ketika berada di lingkungan masyarakat yaitu : kemandirian, ketangguhan, kesederhanaan, tanggung jawab, pantang putus asa, kesabaran, kerja keras, penghargaan terhadap waktu,disiplin diri, kemampuan bergaul dengan baik, kreatif dan inovatif, beretos kerja, dan lain-lain.
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, maka dapat dikemukakan bahwa ada tujuh ciri yang dimiliki pondok pesantren sehingga termasuk lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki nilai- nilai yaitu sebagai berikut :
1. Pondok pesantren tempat menanamkan nilai-nilai yang berwujud keserasian antara iman, ilmu dan amal.
2. Tempat membina akhlak karimah
3. Sumber ilmu yang menjadi pusat latihan para santri agar bersikap dan bertindak sesuai ajaran Islam.
4. Merupakan tempat santri menjalani proses pengembangan dirinya jadi anggota masyarakat yang lebih mengutamakan kepentingan umum dari kepentingan diri sendiri.
5. Tempat mendidik manusia untuk dapat berdiri sendiri dan percaya pada kemampuan sendiri.
6. Tempat memelihara nilai-nilai nama yang baik, dan mengambil serta mengamalkan nilai-niai baru yang lebih baik.
7. Kiyai adalah pemimpin utama yang karisma dalam mendidik santri.
Melalui ketujuh ciri khas pondok pesantren tersebut di atas, dimungkinkan bagi remaja yang mesantren di pondok pesantren akan terkontrol oleh kiyai dan selalu dalam pengawasan pembina yakni orang yang sangat berpegang teguh terhadap nilai-nilai al-qur’an dan al-sunnah baik dalam berbicara, berperilaku ataupun dalam berpakaian.
Sehingga mereka akan memiliki akhlaq yang baik sesuai dengan ajaran Islam yang dianutnya. (Taqiyuddin. 2013:134-136)
Untuk itu, bisa kita ketahui bahwa seorang Kiyai akan menjadi tauladan di manapun ia berada, karena sifat dan tingkah lakunya akan
ditiru oleh para santri. Sehingga menjaga gelar tersebut tidaklah mudah.
b. Masjid
Masjid diartikan secara harfiah adalah tempat sujud, karena di tempat ini setidak-tidaknya seorang muslim lima kali sehari semalam melaksanakan shalat. Fungsi masjid tidak saja untuk shalat, tetapi juga mempunyai fungsi lain seperti pendidikan dan lain sebagainya. Di zaman Rasulallah masjid berfungsi sebagai tempat ibadah dan urusan- urusan sosial kemasyarakatan serta pendidikan.
Masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dengan pesantren dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khutbah dan sembahyang Jum’ah, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. (Zamakhsyari Dhofier. 1982 : 49)
Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam pondok pesantren merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional, sebab sejak zaman lahirnya Islam (Nabi Muhammad), masjid telah menjadi pusat pendidikan Islam.
Para kiyai selalu mengajar murid-muridnya (santri) di masjid dan menganggap masjid sebagai tempat yang paling tepat untuk menanamkan disiplin kepada santri dalam mengerjakan sholat lima waktu, memperoleh pengetahuan agama dan kewajiban agama yang
lain. Oleh karena itu, masjid merupakan elemen penting dari sebuah pondok pesantren.
c. Santri
Menurut penelitian Johns, istilah kata “santri” berasal dari bahasa tamil yang berarti “guru mengaji”. Sedangkan C.C Berg berpendapat bahwa istilah santri berasal dari kata “shastri”, yang dalam bahasa India berarti “orang yang mengetahui buku-buku suci agama hindu”. Pendapat ini didukung oleh Karel. A. Steenbrink, yang menyatakan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, memang mirip dengan pendidikan ala Hindu di India.
Ada juga yang berpendapat bahwa kata “santri” berasal dari kata sastri, sebuah kata dari bahasa Sansekerta yang artinya “melek huruf” alias bisa membaca. Pendapat ketiga mengatakan bahwa perkataan santri sesungguhnya berasal dari bahasa jawa, dari kata cantrik, yang berarti “seseorang yang selalu mengikuti gurunya kemana pun gurunya pergi/menetap.” (Nurcholis Madjid. 1999: 19-20)
Sedangkan menurut Dr. KH. M.A Sahal Mahfud, yang menilai kata santri berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “santaro”, yang berarti “menutup”. Kalimat ini mempunyai bentuk jamak (plural) sanaatir (beberapa santri).
Sementara KH. Abdullah Dimyathy (alm) dari Pandeglang Banten, berpendapat bahwa kata santri mengimplementasikan fungsi manusia, dengan 4 huruf yang dikandungnya : sin = “satrul al aurah”
(menutup aurat), Nun = “na’ibul ulama” (wakil dari ulama), Ta’ =
“tarkul al ma’ashi” (meninggalkan kemaksiatan), Ra’ = “ra’isul ummah” (pemimpin ummah). (Dewa. 2009: 23-25)
Dari berbagai definisi santri tersebut maka dapat dipahami bahwa santri adalah seseorang yang mendalami ilmu pendidikan agama Islam di suatu tempat yang dinamakan pesantren. ia juga akan ditanamkan nilai-nilai yang akan membentuk karakter santri, nilai-nilai itu tercermin dalam panca jiwa yang dimiliki semua santri yaitu:
keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah islamiyah dan kebebasan. Dalam tradisi pesantren dapat ditemukan dua macam status santri, yaitu santri mukim dan santri kalong.
Santri di pesantren mengemban amanah untuk belajar mendalami ajaran agama (tafaqquh fiddin) guna memperoleh bekal ilmu yang mencukupi sebagai modal untuk berjuang menyebarkan ajaran agama islam.
Santri adalah siswa yang belajar di pesantren, santri ini dapat digolongkan kepada dua kelompok yaitu :
1) Santri mukim, yaitu santri yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh yang tidak memungkinkan dia untuk pulang kerumahnya, maka dia mondok (tinggal) di pesantren. Sebagai santri mukin mereka memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
2) Santri kalong, yaitu siswa-siswi yang berasal dari daerah sekitar yang memungkinkan mereka pulang ke tempat kediaman
masing-masing. Santri kalong ini mengikuti pelajaran dengan cara pulang pergi antara rumahnya dan pesantren. (Zamakhsyari. 1982:
51) d. Kiyai
Kiyai adalah tokoh sentral dalam suatu pesantren, maju mundurnya suatu pesantren ditentukan oleh wibawa dan karisma sang kiyai. Perkataan Kiyai dalam bahasa jawa dipakai untuk tiga jenis gejala yang saling berbeda :
1) Sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat, umpamanya “Kiyai garuda kencana” dipakai untuk sebutan kereta emas yang ada di keratonan Yogyakarta.
2) Gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya.
3) Gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki pesantren dan mengajarkan kitab-kitab Islam klasik kepada santrinya.
e. Pengajian Kitab-kitab Islam Klasik
Kitab-kitab Islam klasik yang lebih populer dengan sebutan
“kitab kuning”. Kitab-kitab ini ditulis oleh para ulama Islam pada zaman pertengahan. Kepintaran dan kemahiran seorang santri diukur dari kemampuannya membaca serta mensyarahkan (menjelaskan) isi kitab-kitab tersebut.
Kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat digolongkan kepada delapan kelompok, yaitu: Nahwu/sharaf, fikih,
ushul fikih, hadis, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika. (Haidar Putra Daulay. 2012: 18-23)
Jadi pondok pesantren tidak bisa lepas dengan elemen-elemen tersebut, karena antara elemen-elemen tersebut saling keterkaitan. Di mana santri yang berasal dari luar daerah tentunya membutuhkan pondokan atau tempat tinggal sementara selama para santri belajar ilmu agama di sebuah pesantren. Dalam mencari ilmu, santri juga memerlukan seorang pengajar yaitu Kiyai atau ustadz, dan dalam proses pembelajaran santri dan Kiyai tentunya memerlukan ruangan di mana para santri belajar. Biasanya tempat yang dijadikan untuk tempat belajar adalah masjid, masjid selain digunakan untuk tempat belajar, masjid juga dijadikan tempat ibadah dan perkumpulan ketika diadakam musyawarah bersama. Selain tempat yaitu sumber pengetahuan yaitu kitab-kitab kuning yang dilengkapi oleh buku-buku tentang agama.
2. Fungsi Pesantren
Dimensi fungsional pondok pesantren tidak bisa di lepas dari hakekat bahwa dasarnya bahwa pondok pesantren tumbuh berawal dari masyarakat sebagai lembaga informal desa dalam bentuk yang sangat sederhana, oleh karena itu perkembangan masyarakat sekitarnya temtang pemahaman keagamaan (Islam) lebih jauh mengarah kepada nilai-nilai ajaran agama Islam. Fungsi pondok pesantren sebagai berikut :
a) Pesantren sebagai lembaga pendidikan
Dalam masyarakat yang dinamis, pendidikan memegang peranan yang menentukan eksistensi dan perkembangan masyarakat tersebut, oleh karena pendidikan merupakan usaha melestarikan, dan mengalihkan serta mentransformasikan nilai-nilai kebudayaan dalam segala aspeknya dan jenisnya kepada para generasi penerus, demikian pula halnya dengan pendidikan Islam.
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menyelenggarakan pendidikan formal (madrasah, sekolah umum dan perguruan tinggi) dan pendidikan nonformal yang secara khusus mengajarkan agama yang sangat kuat dipengaruhi oleh pemikiran- pemikiran, baik itu ulama-ulama fiqih, hadist, tafsir, tauhid dan tasawuf yang hidup diantara abad 7-13 masehi. Kitab-kitab yang di pelajarinya meliputi: tauhid, tafsir, hadist, fiqih, tasawuf, bahasa arab (nahwu, sharaf, balagah, dan tajwid) mantiqdan akhlak.
b) Pondok pesantren sebagai lembaga dakwah
Di tengah komplek pesantren dapat dipastikan ada bangunan masjid, masjid tersebut berfungsi sebagai masjid umum.
Selain sebagai tempat bagi masyarakat umum untuk beribadah.
Masjid seringkali digunakan untuk menyelenggarakan majlis ta’lim (pengajian) diskusi-diskusi keagamaan dan sebagainya oleh masyarakat umum dan para santri.
c) Pondok pesantren sebagai lembaga sosial.
Sebagai lembaga sosial, pesantren menampung anak dari berbagai lapisan masyarakat muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat status sosial, ekonomi dan latar belakang orangtua mereka.
3. Tujuan Pesantren
Tujuan pendidikan pesantren menurut Mastuhu adalah menciptakan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia. Idealnya pengembangan kepribadian yang ingin di tuju ialah kepribadian mukhsin, bukan sekedar muslim. (Arifin. 2003: 92-93)
Sedangkan menurut M. Arifin bahwa tujuan didirikannnya pendidikan pesantren pada dasarnya terbagi pada dua yaitu:
a. Tujuan Khusus
Yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang ‘alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh Kiyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
b. Tujuan Umum
Yakni membimbing anak didik agar menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi mubaligh Islam dalam masyarakat sekitar dan melalui ilmu dan amalnya. (Arifin. 1991:248)
Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, pesantren menyelenggarakan proses pembelajaran kitab yang dikenal dengan kitab kuning (kitab-kitab agama Islam klasik). Dalam penggunaan kitab kuning di pesantren tidak ada ketentuan yang harus mewajibkan kitab-kitab tertentu, biasanya hal ini disesuaikan dengan sistem pendidikan yang digunakan, ada yang hanya menggunakan sistem pengajian, tanpa sistem madrasah, ada yang sudah menggunakan sistem madrasah klasikal. Ada pula pesantren yang menggabungkan sistem pengajian dan sistem madrasah secara non klasikal.
Penulis bisa menarik kesimpulan bahwa pesantren menyelenggarakan proses pembelajarannya menggunakan kitab kuning. Namun, setiap pesantren tidak memiliki ketentuan untuk mempelajari kitab-kitab tertentu, akan tetapi pesantren biasanya menyesuaikan dengan sistem yang digunakan atau yang dipakai oleh tiap-tiap pesantren itu sendiri.
Pelaksanaan pengajaran kitab dilakukan secara bertahap, dari kitab-kitab yang dasar yang merupakan kitab-kitab pendek dan sederhana, kemudian ketingkat lanjutan menengah dan baru setelah
selesai menginjak kepada kitab-kitab takhasus, dan dalam pengajarannya dipergunakan metode-metode seperti, sorogan, bandongan, hafalan, mudzakaroh dan majlis ta‟lim.
Untuk lebih jelasnya akan penulis paparkan masing-masing metode tersebut sebagaimana berikut :
1) Metode Hafalan
Metode hafalan adalah metode pengajaran dengan mengharuskan santri membaca dan menghafalkan teks-teks kitab yang berbahasa arab secara individual, biasanya digunakan untuk teks kitab nadhom, seperti aqidat al-awam, awamil, imriti, alfiyah dan lain-lain.
Dan untuk memahami maksud dari kitab itu guru menjelaskan arti kata demi kata dan baru dijelaskan maksud dari bait-bait dalam kitab nadhom. Dan untuk hafalan, biasanya digunakan istilah setor, yang mana ditentukan jumlahnya, bahkan kadang lama waktunya.
2) Metode Bandongan
Secara etimologi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bandongan diartikan dengan “pengajaran dalam bentuk kelas (pada sekala agama).” Secara terminologi ada beberapa definisi yang dipaparkan oleh para pakar, antara lain adalah menurut Zamakhsyari Dhofier, metode bandongan adalah sekelompok murid (antara 5-500) mendengarkan seorang guru yang membaca,
menerjemahkan, menerangkan dan serng kali mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab.
Sedangkan menurut Imran Arifin dalam bukunya
”Kepemimpinan Kiyai”, metode bandongan adalah kiyai membaca
suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri membawa kitab yang sama, kemudian santri mendengarkan dan menyimak tentang bacaan kiyai tersebut.
Jadi, metode bandongan adalah dalam memaknai, membaca, dan menerangkan isi kitab kalimat demi kalimat kiyai menggunakan bahasa daerah setempat, dan santri mencatat makna atau penjelasan kiyai pada kitabnya masing-masing dengan kode- kode tertentu. Sehingga kitabnya disebut dengan kitab jenggot karena banyknya catatan yang menyerupai jenggot seorang kiyai.
3) Metode Sorogan
Metode sorogan adalah metode individual di mana murid mendatangi guru untuk mengkaji suatu kitab dan guru membimbingnya secara langsung. Metode ini dalam sejarah pendidikan Islam dikenal dengan sistem pendidikan “Kuttai”.
Sementara di dunia barat dikenal dengan metode Tutorship dan mentorship. Pada prakteknya si santri diajari dan dibimbing
bagaimana cara membacanya, menghafalnya, atau lebih jauh lagi menerjemahkan atau menafsirkannya. Semua itu dilakukan oleh guru, sementara santri menyimak penuh perhatian dan ngesahi
(mensahkan) dengan memberi catatan pada kitabnya atau mensahkan bahwa ilmu itu telah diberikan kepadanya.
Sebagaimana metode-metode lainnya, metode sorogan juga memiliki kelebihan-kelebihan di samping kelemahan-kelemahan.
Oleh karena itu sebagai pendidik hendaknya lebih cermat memilih situasi dan kondisi yang tepat dalam mengaplikasikan metode ini agar memperoleh hasil sebagaimana yang diinginkan.
4) Metode Mudzakaroh / Musyawarah.
Metode mudzakarah ialah suatu cara yang dipergunakan dalam menyampaikan bahan pelajaran dengan jalan mengadakan suatu pertemuan ilmiah yang secara khusus membahas persoalan- persoalan yang bersifat keagamaan.
Menurut Kiyai Sarief, metode mudzakarah ini disebut juga majma’ al-buhuts, dan biasanya metode ini digunakan untuk
memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan yang berhubungan dengan konteks masa sekarang ditinjau dari analisa kitab-kitab Islam klasik.
Adapun tujuan dari penggunaan metode mudzakarah adalah untu melatih santri agar lebih terlatih dalam memecahkan masalah- masalah dengan menggunakan kitab-kitab klasik yang ada.
5) Metode Majlis ta’lim
Metode ini biasanya bersifat umum, sebagai suatu media untuk menyampaikan ajaran Islam secara terbuka, diikuti oleh
jamaah yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, juga berlatar belakang pengetahuan bermacam-macam dan tidak dibatasi oleh tingkatan usia atau perbedaan kelamin. Pengajian ini dilakukan secara rutin atau waktu-waktu tertentu. (Arief Armai. 2002:152- 157)
Dari pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa di pesantren juga dapat menerapkan berbagai metode belajar ketika proses pembelajaran kajian kitab kuning seperti metode hafalan, bandongan, sorogan, mudzakarah/musyawarah dan majlis ta’lim.
Karena pada dasarnya pesantren juga sama seperti pendidikan formal lainnya yang memiliki tujuan tertentu. Dan untuk mencapai tujuan, maka pesantren berupaya untuk menerapkan proses belajar dengan menggunakan berbagai metode.
4. Upaya Pengurus
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III tahun 2003 yang dimaksud dengan “Upaya adalah usaha; ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar)”.
Menurut Poerwadarminta “Upaya adalah usaha untuk menyampaikan maksud, akal dan ikhtisar. Upaya merupakan segala sesuatu yang bersifat mengusahakan terhadap sesuatu hal supaya dapat lebih berdaya guna dan berhasil guna sesuai dengan maksud, tujuan dan fungsi serta manfaat suatu hal tersebut dilaksanakan”.
Upaya sangat berkaitan erat dengan penggunaan sarana dan prasarana dalam menunjang kegiatan tersebut, agar berhasil maka digunakanlah suatu cara, metode dan alat penunjang yang lain.
Dari beberapa pengertian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian dari upaya adalah suatu kegiatan atau usaha dengan menggunakan segala kekuatan yang ada dalam mengatasi suatu masalah.
Kemudian, Menurut Kamus Besar Bahass Indonesia pengurus adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga (mengurusi) apapun yang ada dalam kawasan pesantren sesuai dengan fungsi dan kewenangan masing-masing.
Pengurus pondok pesantren dalam hal ini adalah keluarga pemilik pondok pesantren atau yang biasa disebut dengan keluarga dalem.
Keluarga dalem adalah pihak yang mempunyai otoritas tertinggi yang mana merupakan pemilik dan penanggung jawab pondok pesantren serta mengarahkan gerak dan langkah santri dalam suatu sistem. Dan dalam hal ini keluarga dalem mempunyai 3 tugas di dalamnya yaitu sebagai pengasuh atau pengurus, pemimpin dan penasehat.
Jadi, upaya pengurus adalah suatu usaha yang harus dilakukan oleh pengurus agar santri itu menjadi pribadi yang disiplin. Sebelum mengetahui tentang upaya pengurus dalam menumbuhkan kedisiplinan peserta didik. pengurus harus mengetahiu pribadi peserta didik, di mana peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan
keberhasilan proses pendidikan. Boleh dikatakan hampir semua kegiatan di pesantren pada akhirnya ditujukan untuk membantu peserta didik mengembangkan potensi dirinya.
Dapat penulis simpulkan bahwa suatu upaya itu akan optimal jika peserta didik sendiri secara aktif berupaya mengembangkan diri sesuai dengan program-program yang dilakukan oleh pesantren. Oleh karena itu, sangat penting untuk menciptakan kondisi agar peserta didik dapat mengembangkan diri secara optimal.
B. Pembinaan Etika Bertutur Kata 1. Pengertian Pembinaan
Dalam rangka meningkatkan akhlak, perlu diciptakan suatu iklim yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya pembentukan akhlak anak. Untuk itu diperlukan pembinaan secara terus menerus dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari agar anak tetap merasa akan pentingnya akhlak.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa pembinaan berarti usaha, tindakan dan kegiatan yang diadakan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil yang lebih baik. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1990:37)
Pembinaan juga dapat berarti suatu kegiatan yang mempertahankan dan menyempurnakan apa yang telah ada sesuai dengan yang diharapkan.
(Hendyat Soetopo dan Wanty Soemanto. 1982: 43)
Secara umum pembinaan diartikan sebagai usaha untuk memberi pengarahan dan bimbingan guna mencapai suatu tujuan tertentu.
Pembinaan merupakan hal umum yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, kecakapan dibidang pendidikan, ekonomi, sosial, kemasyarakatan dan lainnya. Pembinaan menekankan pada pendekatan praktis, pengembangan sikap, kemampuan dan kecakapan.
Salah satu definisi, pembinaan adalah suatu proses atau pengembangan yang mencakup urutan-urutan pengertian, diawali dengan mendirikan, menumbuhkan, memelihara pertumbuhan tersebut yang disertai usaha-usaha perbaikan, menyempurnakan, dan mengembangkannya.
Permasalahan yang dapat diajukan adalah titik berat dari makna pembinaan itu sendiri yang dapat diartikan sebagai proses atau materi upaya pembinaan. Dari penjelasan di atas, menggambarkan bahwa pembinaan merupakan suatu proses untuk mempertahankan, menyempurnakan dan mengembangkan berbagai tindakan. Sedangkan materi pembinaan hanyalah salah situ bagian dari proses. Hal ini dapat dipahami sebab pembinaan juga merupakan sebuah cara atau prosedur yang ditempuh dalam pencapaian tujuan.
Dari berbagai pembahasan mengenai pembinaan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembinaan adalah suatu kegiatan dan usaha-usaha mengenai perbaikan, penyempurnaan, pengembangan, pengawasan dalam rangka untuk meningkatkan pengetahuan dengan
kecakapan baru untuk mencapai tujuan dengan hasil yang lebih baik agar tidak lagi terjadinya dekadensi moral.
2. Etika
a. Pengertian Etika
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Pengertian etika sering disamakan dengan pengertian akhlak dan moral dan ada pula ulama yang mengatakan bahwa akhlak merupakan etika Islam. Sedangkan, kata etika sendiri berasal dari kata latin ethics, dalam bahasa Gerik: Ethikos is a bidy of moral principlesor values. Ethic arti sebenarnya adalah kebiasaan. Namun,
lambat laun pengertia etika berubah, seperti sekarang. Etika ialah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia. (Burhanuddin Salam. 2000:3)
Pengantar Studi Akhlak, Asmaran As menulis, etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Dalam ensiklopedi Pendidikan diterangkan bahwa etika adalah filsafat tentang nilai, kesusilaan tentang baik dan buruk. Di dalam New Master Pictorial Encyclopedia dikatakan, yang artinya etika ialah ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia, tetapi tentang idenya.
Dalam bukunya Akhlak Tasawuf, M. Sholihin menuliskan beberapa arti etika secara istilah yang dikemukakan oleh para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda. Soegarda Poerbakawatja mengartikan etika sebagai filsafat nilai, kesusilaan tentang baik buruk, serta berusaha mempelajari nilai-nilai dan merupakan juga nilai-nilai itu sendiri. Pendapat ini hampir sama dengan yang menjelaskan baik dan buruk dan menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus ditempuh oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia itu sendiri.
Masih senada dengan yang dikatakan Ahmad Amin, Ki hajar Dewantara menjelaskan bahwa etika merupakan ilmu yang mempelajari soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak gerik pikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai tujuan yang dapat merupakan perbuatan.
Dari beberapa pengertian tentang etika tersebut, dapat disimpulkan bahwa objek pembahasan dari etika ini adalah tingkah laku manusia untuk menetapkan nilai, baik atau buruk. Di sini dapat dipahami bahwa objek pembahasan etika adalah tindakan-tindakan seseorang yang dapat diberikan nilai baik atau buruk, yaitu perkataan dan perbuatan yang termasuk ke dalam kategori etika.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kita untuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita. (Burhanuddin Salam. 2000:5)
b. Tujuan Etika
Tujuan etika yang dimaksud merupakan tujuan akhir dari setiap aktivitas manusia dalam hidup dan kehidupannya yaitu untuk mewujudkan kebahagiaan. Tujuan utama etika yaitu menemukan, menentukan, membatasi dan membenarkan kewajiban, hak, cita-cita moral dari individudan masyarakatnya, baik masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat profesi. Jadi tujuan etika diharapkan
untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat bagi pelakunya.
(Istighfarotur Rahmaniyah. 2010: 54) c. Fungsi Etika
Etika (Istighfarotur Rahmaniyah. 2010: 57-64) sebagai suatu ilmu, merupakan salah satu cabang dari filsafat. Sifatnya praktis, normatif dan fungsional, sehingga dengan demikian merupakan suatu ilmu yang langsung berguna dalam pergaulan hidup sehari-hari. Etika juga dapat menjadi asas dan menjiwai norma-norma dalam kehidupan, disamping sekaligus memberi penilaian terhadap corak perbuatan seseorang sebagai manusia.
Dari pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika berfungsi untuk membantu menginterprestasikan ajaran agama yang saling bertentangan serta membantu dalam menerapkan ajaran moral agama terhadap masalah baru dalam kehidupan manusia. Jadi pembinaan etika sangat penting diterapkan di kalangan remaja sebagai antisipasi terjadinya penyimpangan dalam lingkungan sosial.
3. Bertutur Kata
a. Pengertian Bertutur Kata
Dalam komunikasi lisan, informasi disampaikan secara lisan, melalui apa yang diucapkan atau yang dikatakan dan bagaimana cara mengatakannya. Arti kata-kata yang diucapkan akan lebih jelas apabila ucapan itu akan diikuti dengan tekanan suara melalui tinggi rendahnya suara, lemah lembutnya suara dan perubahan nada suara.
Penyampaian informasi yang dilakukan secara lisan melalui ucapan kata-kata atau kalimat itulah yang dinamakan bertutur kata. Dapat pula dikatakan bahwa Bertutur kata adalah suatu usaha untuk mengungkapkan suatu perasaan, gagasan, ide dengan ucapan, kata atau kalimat.
Etika bertutur kata termasuk etika sosial yang patut mendapatkan perhatian secara khusus dari para pendidik adalah mengajarkan tatakrama dalam berbicara, di samping diajarkan tentang bahasa dan dasar-dasar dalam percakapan kepada anak sejak kecilnya.
Sehingga jika anak telah mencapai usia baligh, ia telah mengetahui tata cara berbicara dengan orang lain, mendengarkan pembicaraan dan bercakap-cakap dengan mereka, termasuk cara-cara yang dapat menggembirakan mereka. (Abdullah Nashih Ulwan. 2007 : 563)
Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan adiluhung. Penduduknya ramah tamah, sopan santun, tutur katanya halus dan terbuka pada pendatang. Hal ini menunjukkan sejak dulu bahasa memiliki kedudukan yang tinggi dalam pergaulan. Warisan nenek moyang kita ini harus kita jaga dan kita lestarikan. Sebab, didalamnya mengandung ajaran yang sarat dengan budi pekerti.
Saat ini pelajaran budi pekerti sepertinya kembali digalakkan oleh pemerintah karena manfaatnya sangat besar dalam mendidik anak didik memiliki pribadi yang berkualitas. Merosotnya moral di
kalangan generasi muda sekarang ini salah satu penyebabnya adalah dangkalnya pemahaman akan budi pekerti.
Kita harus menjaga lisan kita untuk senantiasa bicara yang benar dan penuh hikmah. Tetapi kebenaran dan hikmah itu hanya akan sampai pada para pendengar manakala kita sampaikan dengan tutur kata yang halus dan sopan. Kata-kata yang diucapkan dengan kasar walaupun benar akan menyakitkan hati. Tiada kebenaran dalam kekasaran, sebab yang kasar itu biasanya tidak mujarab sebagai hikmah. Benar tetapi menyakitkan hati seperti air minum yang diberikan dengan bentakan.
Bertutur kata halus dan sopan tidak semua orang bisa, ini termasuk bekal menjadi manusia yang utama. Seorang biasanya sejak awal dapat diduga akan berhasil atau gagal dalam hidupnya dari tutur katanya. Orang yang terbiasa bertutur kata halus dan sopan akan terbiasa pula untuk menghadapi setiap persoalan dengan penuh ketenangan dan kesabaran. (Mafri Amir. 1999: 82)
Sebab, di dalam tutur kata yang halus dan sopan itu mengandung pelajaran tingkah laku yang benar dan baik.
Kedengarannya tidak masuk akal. Bertutur kata yang halus dan sopan itu bukan perkara mudah, khususnya bagi orang yang sejak kecil tidak memiliki budaya yang adiluhung. Bagi kita, bertutur kata yang halus dan sopan itu mudah karena sejak kecil kita sudah dibiasakan untuk berbicara seperti itu. Tetapi bagi orang lain, memerlukan latihan dan
praktik yang tidak sekali jadi. Karena itu begitu berhasil, otomatis tingkah lakunya akan berubah mengikuti langgam tutur katanya yang baru itu.
Kalau kita kaji lebih mendalam di balik ucapan yang kita keluarkan dari mulut kita, mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.
Kalau bahasa menunjukkan bangsa, maka kata-kata menunjukkan pribadi kita. Seseorang akan sulit mengelak dari dirinya sendiri pada saat ia berbicara.
Manusia adalah makhluk sosial, itu berarti, manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sebagai makhluk sosial, tentu manusia tidak akan pernah lepas dari interaksi sosial. Karena mustahil suatu kehidupan dapat berjalan tanpa adanya suatu interaksi sosial. Itu semua merupakan fitrah manusia sebagai makhluk sosial.
Interaksi sosial sendiri adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu atau individu dengan kelompok atau bisa juga kelompok dengan kelompok, disebabkan oleh suatu kebutuhan dan hubungan tersebut dapat mempengaruhi satu sama lain.
Bentuk dari interaksi sosial sangat beragam, yang paling mudah dan paling sering dilakukan adalah berbicara. Menurut pakar komunikasi, 70% dari waktu bangun manusia digunakan untuk berbicara. Berbicara bukan hanya mengeluarkan suara/bunyi, tapi berbicara merupakan salah satu bentuk interaksi yang bertujuan untuk
bertukar pikiran, ide, gagasan, atau untuk menyampaikan suatu pesan tertentu. Berbicara yang baik adalah yang efektif, sesuai etika, dan tidak menimbulkan interpretasi ganda antara kedua belah pihak.
Islam, sebagai agama yang sempurna, telah mengatur semua hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial manusia. Mulai dari hal yang kecil seperti etika makan, minum, atau berpakaian termasuk etika berbicara, sampai hal yang besar seperti bermuamalah antar sesama umat, dan sebagainya. (Mafri Amir. 1999: 84)
Seperti firman Allah swt dalam Q.S Al-Hujurat Ayat 13
َلِئ ٓاَبَقَو اٗبوُعُش ۡمُكََٰنۡلَعَجَو َٰ َثَنُأَو رَكَذ نِ م مُكََٰنۡقَلَخ اذنِإ ُساذلنٱ اَهُّي َ أَٰٓ َي ٞيرِبَخ ٌميِلَع َ ذللَّٱ ذنِإ ْۚۡمُكَٰىَقۡت َ
أ ِ ذللَّٱ َدنِع ۡمُكَمَرۡك َ
أ ذنِإ ْۚ ْآوُفَراَعَِلِ
١٣
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
Al Hujurat :13). (Departemen Agama RI. 2009 : 517).
Ditafsirkan oleh Hamka bahwasannya segala manusia sejak dahulu sampai sekarang terjadi dari seorang laki-laki dan perempuan, yaitu bapak dan ibu. Manusia pada hakikatnya ialah dari asal keturunan yang satu.
Meskipun telah jauh berpisah, namun di asal-usul adalah satu.
Tidaklah ada perbedaan di antara yang satu dengan yang lain dan tidaklah ada perlunya membangkit-bangkit perbedaan, melainkan menginsafi adanya persamaan keturunan, dan kemuliaan sejati yang
dianggap bernilai oleh Allah tidak lain adalah kemuliaan hati, kemuliaan budi, kemuliaan perangaidan ketaatan kepada Illahi.
Peringatan lebih dalam lagi bagi manusia yang silau matanya karena terpesona oleh urusan kebangsaan dan kesukuan. (Hamka.
1982: 201).
Jadi pada Q.S Al-Hujurat ayat 13 Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan-Nya bermacam-macam bangsa dan suku supaya saling mengenal dan saling menolong dalam kehidupan bermasyarakat dan tidak ada kemuliaan seseorang di sisi Allah kecuali dengan ketakwaannya.
Dan di ayat ini pula Allah menyebutkan wanita secara khusus sebagai peringatan terhadap kebiasaan tercela kaum wanita dalam bergaul.
Allah menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan, perbedaan suku, bangsa, ras, warna kulit, karakter, dan watak dimaksudkan agar terjalin interaksi diantara mereka.
Karena berbicara merupakan bentuk interaksi yang paling mudah dan paling sering dilakukan, tidak sedikit orang yang melakukannya tanpa memperhatikan etika dan pada akhirnya banyak yang celaka atau tersandung masalah karenanya. Berbicara tanpa etika juga dapat menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Islam telah mengingatkan umatnya agar hati-hati dan memperhatikan etika dalam berbicara.
b. Etika Bertutur Kata Yang Baik Menurut Islam 1) Bertutur Kata Baik atau Diam
Berkata yang baik harus disertai dengan kerendahan hati, kepada yang tua menghormati tanpa sombong, kepada yang lebih muda tawadhu tanpa merasa terhina.
Integritas seseorang salah satunya dapat dilihat dari perkataannya yang benar. Berbicara yang benar juga merupakan salah satu kunci keberhasilan da’wah Rasulullah SAW. Selain itu, kualitas dari perkataan seseorang juga mencerminkan tingkat ilmu yang dimiliki orang tersebut.
Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia tidak menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata-kata yang baik atau hendaklah ia diam." (HR Bukhari & Muslim)
Allah memerintahkan kita untuk berkata-kata yang baik, karena inilah aturan dasar dalam berbicara dengan orang lain. Allah berfirman :
ذنِإ ْۚۡمُهَنۡيَب ُ
غَنزَي َنَٰ َطۡي ذشلٱ ذنِإ ْۚ ُن َسۡح َ
أ َ ِهِ ِتِ ذلٱ ْاوُلوُقَي يِداَبِعِ ل لُقَو اٗنيِبُّم اٗ وُدَع ِنَٰ َسنِ لِۡل َن َكَ َنَٰ َطۡي ذشلٱ ۡ ٥٣
Artinya : “Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).
Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS. Al-Isra’ : 53). (Departemen Agama RI. 2009 : 287)
Allah yang Mahasuci lagi Mahatinggi memerintahkan hamba dan Rasul-Nya, Muhammad supaya beliau menyuruh hamba-hamba-Nya yang beriman agar dalam perbincangan dan omongan mereka selalu mengucapkan kata-kata yang benar dan kata-kata yang baik, karena jika mereka tidak melakukan hal itu, niscaya syaitan akan mengacaukan (di antara) mereka dan mengantarkan mereka kepada kejahatan, perselisihan dan pertikaian. Sesungguhnya syaitan itu merupakan musuh Adam dari anak cucunya, yaitu sejak ia menolak bersujud kepada Adam. Dan permusuhan syaitan itu tampak jelas dan nyata.
Oleh karena itu Allah melarang seorang muslim menunjuk saudaranya dengan besi, karena syaitan akan melepaskan besi itu dari tangannya sehingga mungkin raja akan mengenai saudaranya tersebut.
Allah juga berfirman :
يِ ذ
لَّٱ اَذِإَف ُن َسۡح َ أ َ ِهِ ِتِذلٱِب ۡعَفۡدٱ ُْۚةَئِ يذسلٱ َلََو ُةَنَسَۡلۡٱ يِوَتۡسَت َلََو ٞميِ َحَ ٌّ ِلَِو ۥُهذن َ
أَك ٞةَوََٰدَع ۥُهَنۡيَبَو َكَنۡيَب ٣٤
ْاوُ َبَ َص َنيِ لَّٱ ذ ذ
لَِإ ٓاَهَٰىذقَلُي اَمَو
ميِظَع ٍّ ظَح وُذ ذ
لَِإ ٓاَهَٰىذقَلُي اَمَو ٣٥
Artinya : “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”. (QS. Fushshilat : 34-35).
(Departemen Agama RI. 2009 : 480)
Yakni tidaklah sama antara mengerjakan kebaikan untuk mencari ridha Allah dengan mengerjakan keburukan yang mendatangkan kemurkaan-Nya, dan tidak sama antara berbuat baik kepada manusia dengan berbuat buruk kepada mereka, baik secara zat(perbuatan)nya, sifatnya maupun balasannya.
Selanjutnya Allah memerintahkan secara khusus untuk berbuat ihsan, di mana ia memiliki kedudukan yang besar. Ihsan di sini adalah berbuat ihsan kepada orang yang berbuat buruk kepadanya.
Misalnya marah disikapi dengan sabar, sikap bodoh dihadapi dengan santun, sikap mengganggu dengan memaafkan, pemutusan silaturrahmi dengan disambung, jika ia membicarakan kita di hadapan kita atau tidak di hadapan kita, maka kita tidak membalasnya, bahkan memaafkannya dan menyikapinya dengan kata-kata yang lembut. Ketika mereka menjauhi kita dan tidak mau berbicara dengan kita, maka kita mengucapkan kata-kata yang baik kepadanya serta mengucapkan salam.
Kata-kata yang baik akan mengubah musuh menjadi teman yang baik dan mengubah kedengkian menjadi cinta dan kasih sayang. Selain dari itu, kata-kata yang baik juga merupakan sedekah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. (Musthafa Al-
‘Adawy. 2007 : 159) Kata-kata yang baik akan membuka pintu- pintu langit dan diterima oleh Allah. Allah berfirman :
َٰذصلٱ ُلَمَعۡلٱَو ُبِ ي ذطلٱ ُمِ َكَۡلٱ ُدَع ۡصَي ِهۡ َلَِإ ۥُهُعَفۡرَي ُحِل
Artinya : “Perkataan-perkataan yang baik dan amal yang baik pasti akan sampai kepada Allah dan diangkat-Nya” (QS. Fathir : 10). (Departemen Agama RI. 2009 : 435)
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa yang dimaksud dengan perkataan-perkataan yang baik ialah zikrullah, ia dibawa naik ke hadapan Allah SWT. Dan amal saleh ialah menunaikan ibadah fardu, maka barang siapa yang salehnya membawa naik zikrullah kehadapan Allah SWT. Dan barang siapa yang berdzikir menyebut nama Allah tanpa menunaikan amal-amal fardunya, maka perkataan-perkataannya dikembalikan kepada amalnya, dan amalnyalah yang berhak menerimanya (sedangkan pelakunya tidak mendapat apa-apa).
Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, yaitu bahwa amal yang saleh mengangkat kalimah-kalimah yang baik. Al-Hasan bin Qatadah mengatakan bahwa perkataan baik diterima kecuali bila dibarengi dengan amal saleh. (Musthafa Al-‘Adawy. 2007 : 159)
Kemudian kata-kata yang baik menjadi salah satu penyebab masuk surga, Rasullah saw bersabda :
ٌماَيِن ُساذلناَو ِلْي ذللاِب ْمُقَو َماَحْرَ ْلْا ْلِصَو َم َ َكَلْلا ْبِطَأَو َم َلَذسلا ِشْفَأ ٍّم َلََسِب َةذنَلجا ْلُخْدَت
“Sebarkanlah salam (kedamaian), berbicaralah dengan baik, jalinlah persaudaraan dan sholatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya engkau akam masuk surga dengan damai (HR. Ahmad)
Kata-kata yang baik merupakan indikasi kebaikan hati pengucapnya dan kata-kata yang buruk mengindikasikan keburukan pengucapnya. Kata-kata yang baik melindungi kita dari api neraka kata Nabi :
ٍّةَبِ ي َط ٍّةَمِ َكَِبَف ْدِ َتَ ْمَل ْنِأَف ٍّةَرْمذت ِ قِشِب ْوَلَو َراذلنا اوُقذتا
“Hidarilah api neraka, walaupun dengan (mendermakan) sepotong kurma. Jika kalian tidak menemukannya, maka dengan kata-kata baik.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Banyak ahli tafsir yang memahami bahwa yang dimaksud dengan al-kalimah ath-thayyibah (kata-kata yang baik) adalah la ilaha illalah. Walau demikian, secara umum semua kata-kata yang
baik masuk dalam kandungan al-kalimah ath-thayyibah.
Yang dimaksud dengan kata-kata yang baik bukan kata- kata basa-basi yang sering menipu. Tapi yang dimaksud adalah kata-kata yang benar dan diucapkan karena mengharap keridhaan Allah. Kata-kata seperti inilah yang akan memperbaiki perbuatan pengucapnya dan menjadi sebab pengampunan akan dosa-dosanya.
Dan kata-kata yang baik itu akan menurun kepada anak-cucunya.
Allah SWT bahkan menjadikan etika bertutur kata atau berbicara sebagai 'perintah' yang wajib untuk dilakukan oleh setiap hamba-Nya, di manapun dan kapanpun, bahkan terhadap siapapun.
Artinya bahwa bertutur kata yang baik, seharusnya menjadi jati diri bagi setiap muslim. Apabila diibaratkan dengan sebuah pohon,
maka bertutur kata yang baik adalah seperti buahnya, yang memberikan manfaat kepada siapa pun.
Allah Berfirman :
ا ٗديِدَس لَۡوَق ْاوُلوُقَو َ ذللَّٱ ْاوُقذتٱ ْاوُنَماَء َنيِ ٗ لَّٱ اَهُّي ذ َ أَٰٓ َي ٧٠
ۡمُكَل ۡحِل ۡصُي
ۡۗۡمُكَبوُنُذ ۡمُكَل ۡرِفۡغَيَو ۡمُكَلََٰمۡعَأ ٧١
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa- dosamu”. (QS. Al-Ahzab :70-71) (Departemen Agama RI. 2009 : 427)
Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tetap bertakwa kepada-Nya dan menyembah- Nya dengan penyembahan sebagaimana seseorang yang melihat- Nya, dan hemdaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar, yang jujur, tidak bengkok, tidak pula menyimpang. Lalu Allah menjanjikan kepada mereka jika mereka melakukan perintah- perintah-Nya ini. Dia akan memberi mereka pahala dengan memperbaiki amal perbuatan mereka. Yakni Allah memberi mereka taufik untuk mengerjakan amal-amal yang saleh, dan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang terdahulu.
Sedangkan dosa yang akan mereka lakukan di masa mendatang, Allah akan memberi mereka ilham untuk bertobat dari-Nya.
Jadi, kata-kata yang benar akan memperbaiki perbuatan, dengan izin Allah. Adapun kata-kata yang penuh dengan basa-basi, pasti akan merusak perbuatan, menyebabkan kebencian dan
menebarkan kerusakan dan kejahatan. (Musthafa Al-‘Adawy. 2007 : 162)
2) Bertutur Kata dengan Lemah Lembut
Intonasi dan retorika atau gaya bahasa dalam berbicara juga perlu diperhatikan. Intonasi dan retorika yang tidak tepat akan menimbulkan kesalahpahaman bagi lawan bicara dan bisa menyulut emosi. Bahkan, dalam menegur sekalipun, berbicara harus tetap lembut agar yang ditegur menerima teguran yang diberikan
Panduan Al-Qur’an dalam soal komunikasi juga ada dalam istilah qawlan layyinan. Secara harfiyah berarti komunikasi yang lemah lembut. Dalam ayat 44 surat Thaha/20:
َٰ َشَۡ َيَ ۡو َ
أ ُرذكَذَتَي ۥُهذلَعذل اٗنِ لَ ذ لَۡوَق ۥُ ٗ لَ َ لَوُقَف َ ٤٤
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS.
Thaha : 44) (Departemen Agama RI. 2009 : 314)
Di dalam ayat ini terdapat pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa Fir’aun benar-benar berada di puncak keangkuhan dan kesombongan, sedangkan pada saat itu Musa merupakan makhluk pilihan Allah. Berdasarkan hal tersebut, Allah Ta’ala memerintahkan Musa untuk berbicara kepada Fir’aun dengan lemah lembut.
Dapat dihasilkan kesimpulan bahwa seruan keduanya (Musa dan Harun) kepada Fir’aun disampaikan dengan lemah
lembut, agar hal itu bisa menyentuh jiwa, lebih mendalam, dan mengenai sasaran. dan mudah-mudahan dia mau meninggalkan kesesatan dan kehancuran yang digelutinya, atau dia takut, atau dia memperoleh ketaatan dari rasa takut kepada Rabbnya. Dengan demikian, mengingat di sini berarti berpaling dari larangan, sedangkan takut berarti tercapainya ketaatan.
Berkata lemah lembut adalah perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun agar pergi menemui Fir’aun untuk menyampaikan ayat-ayat Allah, karena ia telah menjalani kekuasaan melampaui batas.
Allah sebetulnya bisa memerintahkan rasul-rasulnya untuk berkata kepada raja yang dzalim itu dengan instruktif atau keras.
Tetapi itu bukan cara terbaik dalam mencapai hasil komunikasi terhadap seseorang. Allah hanya memerintahkan agar Musa dan Harun berdialog dengan Fir’aun secara lemah lembut. Inilah kiat berkomunikasi efektif yang diajarkan Islam. berkomunikasi harus dilakukan dengan lembut, tanpa emosi, apalagi mencaci-maki orang yang ingin dibawa kejalan yang benar.
Allah benci pada orang yang bicara dengan nada keras atau intonasi meninggi. Luqman mengingatkan anaknya,
ِيرِمَ ۡ
لۡٱ ُتۡو َصَل ِتََٰو ۡص َ ۡ لْٱ َرَكن َ أ ذنِإ ْۚ َكِتۡو َص نِم ۡض ُضۡغٱَو َكِيۡشَم ِفِ ۡدِصۡقٱَو ١٩
Artinya : “Kalau bicara dengan manusia lunakkan suaramu, karena seburuk-buruk suara adalah suara keledai”. (Q.S Luqman 31:19) (Departemen Agama RI. 2009 : 412)
Di dalam sikap menahan suara terdapat adab dan keyakinan terhadap diri sendiri,serta ketenangan terhadap diri sendirikebenaran pembicaraan dan kekuatannya. Seseorang tidak akan berteriak atau mengeraskan dalam pembicaraannya, melainkan dia adalah orang yang buruk adabnya, ragu terhadap nilai perkataannya atau nilai kepribadiannya, dan dia berusaha untuk menutupi keraguannya itu dengan bahasa yang pedas, keras, dan berteriak yang mengejutkan (Sayyid Quthb, 2004:
176-178).
Lunak tentu tidak berarti tidak jelas. Kata ag-dhudh itu mengandung pengertian berbicara dengan suara jelas, mata yang tidak melotot, serta berbicara dengan wajah simpatik. “kurangi nada suara dan bicara dengan ringkas. Jangan tinggikan intonasi kalau tidak diperlukan karena menghabiskan energi. Allah juga tidak mencintai orang-orang yang mengucapkan ucapan buruk.
Allah berfirman dalam surat al-Nisa’/4:148:
اًميِلَع اًعيِمَس ُ ذللَّٱ َن َكََو َْۚمِل ُظ نَم لَِإ ِلۡوَقۡلٱ َنِم ِءٓوُّسلٱِب َرۡهَۡلجٱ ُ ذللَّٱ ُّبِ ُيُ ذلَ۞ ذ ١٤٨
Artinya : “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa : 148) (Departemen Agama RI. 2009 : 102)
Mujahid mengatakan, bahwa makna yang dimaksud ialah seorang laki-laki turun istirahat (bertamu) kepada seseorang, lalu pemilik rumah tidak menjamunya dengan baik. Setelah keluar, si
laki-laki mengatakan, “Dia menjamuku dengan buruk dan tidak menjamu dengan baik.”
Menurut riwayat lain, makna yang dimaksud berkenaan dengan seorang tamu yang memindahkan rahl (barang-barang bawaan)nya. sesungguhnya hal tersebut sama dengan mengatakan ucapan buruk terhadap temannya.
Dengan demikian, tidak selamanya kita bicara lunak dan hal-hal yang baik. Ada waktunya kita dibolehkan bicara dengan keras dan terus terang, serta membeberkan keburukan orang yang menganiaya kita, yaitu kepada Hakim dalam forum sidang pengadilan atau aparat yang bermaksud untuk menyelesaikan persoalan.
Allah juga tidak mengijinkan untuk bicara keras dan nada tinggi kepada nabi dan pimpinan. Lihat ayat 2 surat al-Hujurat :
ْاوُرَهۡ تَ َ َ
لََو ِ ِبذلنٱ ِتۡو َص َقۡوَف ۡمُكَتََٰو ۡصَأ ْآوُعَفۡرَت َلَ ْاوُنَماَء َنيِ ذلَّٱ اَهُّيَأَٰٓ َي
َ لَ ۡمُتن َ
أَو ۡمُكُلَٰ َمۡع َ
أ َطَبۡ تَ ن َ َ
أ ٍّضۡعَ ِلِ ۡمُك ِضۡعَب ِرۡهَج َك ِلۡوَقۡلٱِب ۥَُلَ
َنوُرُع ۡشَت ٢
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS.
Al-Hujurat : 2) (Departemen Agama RI. 2009 : 515)
Ini merupakan etika lainnya yang melaluinya Allah mendidik hamba-hamba-Nya yang beriman agar mererka jangan
meninggikan suaranya di hadapan Nabi Saw, lebih daripada suaranya.
Dari ayat ini terlihat, bicaan dengan nada tinggi dan keras kepada nabi menghilangkan pahala amalan. Bila dianalogkan pada bicara dengan pimpinan kita sekarang, agaknya yang akan hilang adalah kesempatan atau simpatik dari atasan. Sekali lagi teknik komunikasi memerlukan etika tertentu dalam Islam. (Mafri Amir.
1999: 85-96)
Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Islam melarang umatnya untuk bertutur kata dengan nada dan suara yang keras dan kasar, karena dengan itu akan menghilangkan pahala ibadah. Islam memerintahkan kepada umatnya untuk selalu bertuturkata dengan nada dan suara yang lembut dan lembut.
3) Menjaga Lisan
Islam merupakan agama fitrah yang menjunjung tinggi nilai dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dan demikian pentingnya etika dalam Islam, hingga Rasulullah SAW mengkategorikan etika sebagai 'faktor' yang paling banyak untuk dapat mengantarkan orang ke dalam surga, "Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang yang paling banyak masuk surga, beliau menjawab, 'Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.' Kemudian beliau ditanya tentang yang paling banyak memasukkan manusia
ke dalam neraka, beliau menjawab, 'Lisan dan kemaluan'." (HR Turmudzi)
Dalam islam bisa dikatakan bahwa etika bicara itu merupakan menjaga lisan dalam mengkomunikasikan sesuatu, karena setiap kata-kata yang diucapkan kita bisa mendapat pahala apabila perkataan itu baik. Ajaran Islam amat sangat serius memperhatikan soal menjaga lisan sehingga Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda :
“Barangsiapa yang memberi jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada antara dua janggutnya (lisan) dan apa yang ada antara dua kakinya (kema-luannya) maka aku menjamin Surga untuknya.” (HR. Al-Bukhari)
Perhiasan seseorang itu adalah kefasihannya di dalam berbicara, dan keindahan seseorang itu adalah manisnya budi bahasa.
Di dalam Al-Mustadrak, Hakim meriwayatkan dari Ali bin Husein r.a. :
Al-Abbas r.a. menghadap Rasulallah Saw.dengan mengenakan dua pakaian baru, dengan mengepan rambut menjadi dua, sedang rambut itu sudah putih. Ketika beliau melihatnya, beliau tersenyum. Maka Al-Abbas berkata, “Apa yang membuatmu tertawa, hai Rasulallah?” tanya Abbas. “Allah menertawakan usiamu.” Beliau bersabda, “Aku dikagumkan oleh keindahan paman Nabi Saw.” Al-Abbas bertanya, “Keindahan itu apa?”
Beliau menjawab, “Lisan”
Dalam riwayat Al-Asykari, “Apa letak keindahan pada seorang laki-laki itu?” Beliau menjawab, “Kefasihan Lisannya”.
Asy-Syirazi dan Ad-Dailami meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa ia berkata, Kami berkata, “Wahai Rasulallah Saw”., tidak pernah kami melihat seseorang yang lebih fasih daripada engkau, Beliau bersabda:
ِم َ َكَل ْ
لاَ ْيرَخ ْ ِلَ َراَتْخِا ، اًناذ َ
لۡ ْ ِنِ ْقُلْ َيَ ْمَل َلَاَعَت َللَّا ذنِإ َنآْرُق ْ لا ُهَباَتِك :
( ميليلداوزايرشلا هاور )
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan aku sebagai orang yang selalu berbicara salah. Dia telah memilihkan untukku ucapan yang terbaik, yaitu Kitab-Nya, Al-Qur’an.” (Abdullah Nashih Ulwan. 2007 : 563)
4) Tenang dalam Bertutur Kata
Hal ini dimaksudkan agar orang yang mendengar dapat memahami maksud yang dibicarakannya. Di samping itu, orang- orang yang berada di dalam majelis dapat memikirkan isi pembicaranya. Hal ini sesuai dengan prilaku di dalam mendidik umatnya.
Asy-Syaikhani meriwayatkan dari Aisyah r.a. :
َمُكِدْ ُسَْك َثْيِدَ ْ
لۡا ُدَ ْسُْي َمذلَسَو ِهْيَلَع ُللَّا ذلَّ َص ِللَّا ُلْوُسَر َن َكَ اَم ُها َصْح َ َ لْ ُّداَع ْ لا ُهذدَع ْوَل اًثْيِدَح ُثِ دَ ُيُ ، اَذه ( .
ملسمو يراخلِا هاور )
“Tidak pernah Rasulallah Saw. Berbicara cepat seperti kalian ini.
Beliau berbicara dengan kata-kata yang apabila orang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya.”
Al-Ismaili menambahkan :
ُبْوُلُق ْ
لا ُهُمَهْفَي َمذلَسَو ِهْيَلَع ُللَّا ذلَّ َص ِللَّا ِلْوُسَر ُثْيِدَح َن َكَ اَمذنِإ .
“Sesungguhnya perkataan Rasulallah Saw., itu tidak lain adalah suatu ucapan yang dapat dipahami oleh kalbu.”
Abu Dawud meriwayatkan dari Aisyah r.a., bahwa ia berkata :
ُهَعِمَس ْنَم ُّ ُكُ ُهُمَهْفَي ًلَ ْصَف َمذلَسَو ِهْيَلَع ُللَّا ذلَّ َص ُهُم َ َكَل َنَكَ
( . دواد وبأ هاور )
“Perkataan Rasulallah Saw. Itu terperinci, sehingga dapat dipahami oleh setiap orang yang mendengarnya”. (Abdullah Nashih Ulwan. 2007 : 565)
5) Pembicaraan Harus Dapat dipahami
Cara berbicara yang baik di antaranya adalah dengan menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan tingkat budaya suatu kaum, sesuai dengan akal, pemahaman dan usia mereka.
Untuk itu, dalam berbicara dianjurkan untuk menyajikan bahasa yang mudah dicerna. Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah qawlan maysuran yang merupakan tuntunan untuk melakukan berbicara dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan melegakan perasaan. Berikut surat al-Isra’ ayat 28 :
و ُسۡيذم لَۡوَق ۡمُهذل لُقَف اَهوُجۡرَت َكِ بذر نِ م ةَ ۡحََر َءٓاَغِتۡبٱ ُمُهۡنَع ذن َضِرۡعُت اذموَإِ ٗ اٗر
٢٨
“Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas”. (QS. Al-Isra’ : 28) (Departemen Agama RI. 2009 : 285)
Maksud dari Q.S Al-Isra’ ayat 28 adalah bahwa Allah s.w.t memberi petunjuk bagaimana caranya menolak permintaan orang- orang yang minta pertolongan,baik kaum kerabat, miskin, ataupun
ibnussabil. Penolakan ini mungkin disebabkan karena memang di saat mereka minta, kitapun sedang tidak memiliki yang mereka perlukan.
Diharapakan manusia tidak memutuskan harapan orang yang minta pertolongan, tapi hendaknya diberi janji yang baik dengan ungkapan kata yang manis yang tidak melukai hati mereka.
(Shaleh, Dahlan, H.M.D Dahlan. 1993:212-213)
Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat hadits mauquf dari sahabat ‘Ali r.a berbunyi :
ُ َ
لَْوُسَرَو َللَّا ُبِ ذَكُي ْن َ
أ َنْوُّبِ تَ ُ َ
أ ،َنْوُفِرْعَي اَمِب َساذلنا او ُثِ دَح ( .
يراخلِا هاور )
“Ajaklah manusia berbicara dengan bahasa yang mereka pahami.
Apakah kalian suka mereka mendustakan Allah dan Rasul-Nya ?”.
(HR. Bukhori)
Dalam pendahuluan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan :
ًةَنْتِف ْمِه ِضْع ِلِ َن َكَ ذلَِإ ْمُهُلْوُقُع ُهُغُلْبَت َلَ اًثْيِدَح اًمْوَق ٍّثِ دَحُمِب َتْنَأ اَم ( .
ملسم هاور )
“Engkau tidak akan berbicara pada suatu kaum dengan sebuah pembicaraan yang tidak dapat terjangkau oleh akal mereka, melainkan akan menimbulkan fitnah bagi mereka.” (HR. Muslim)
Ad-Dailami meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. secara marfu’ :
ُكَيَف ْمُهُلْوُقُع ُهُلِمْ تَ اَم َ ذ
لَِا ْ ِثَْيِداَح َ
أ ْنِم ْ ِتِذم ُ
أ اْوُثِ دَ تَ ُ لَ َ ْمِهْي َلَع ًةَنْتِف َنْو
( . هاور
ميليلدا )
“Janganlah kalian sampaikan kepada umatku sebagian hadits- haditsku, kecuali yang dapat dicerna oleh mereka, sehingga tidak terjadi fitnah bagi mereka.” (HR. Ad-Dailami) (Abdullah Nashih Ulwan. 2007 : 564-567)
Bila dilihat pengertian akar kata maysuran, yakni yasara, maka secara etimologis pengertiannya adalah mudah. Al-maraghy dalam tafsirnya memberikan pengertian dengan mudah lagi lemah lembut. Qawlan maysuran, menurut jalaluddin, sebenarnya lebih tepat diartikan “ucapan yang menyenangkan”, lawannya adalah ucapan yang menyulitkan.
Salah satu prinsip etika berkomunikasi dalam Islam ialah setiap komunikasi harus dilakukan untuk mendekatkan manusia dengan Tuhannya dan hambanya yang lain. Islam mengharamkan setiap komunikasi yang membuat manusia terpisah apalagi membenci hamba-hamba Allah yang lai, termasuk dosa paling besar dalam Islam adalah memutuskan ikatan kasih sayang (qathi’at al-rahim). (Mafri Amir. 1999 : 89)
C. Remaja Putri Usia 12-15 Tahun 1. Remaja Putri
Remaja menurut pandangan Piaget mengatakan bahwa: secara psikologis, masa remaja adalah usia di mana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak Integrasi dalam masyarakat (dewasa) mempunyai aspek-aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber, Termasuk perubahan yang mencolok.
Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang