• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI OLEH REVI YANTI PINEM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI OLEH REVI YANTI PINEM"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, STRUKTUR MODAL, PROFITABILITAS, LEVERAGE DAN EARNING PER SHARE

TERHADAP NILAI PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN YANG

TERDAFTAR DIBURSA EFEK INDONESIA

OLEH

REVI YANTI PINEM 170521116

PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2019

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, STRUKTUR MODAL, PROFITABILITAS, LEVERAGE DAN EARNING PER SHARE

TERHADAP NILAI PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR MAKANAN DAN MINUMAN YANG

TERDAFTAR DIBURSA EFEK INDONESIA

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas, Leverage dan Earning per share terhdap Nilai Perusahaan pada perusahaan Manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif kausal dan jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data yang digunakan diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang telah diaudit pada Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi linier berganda data panel. Populasi dari penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan Manufaktur sektor makanan dan minuman periode 2014-2018, yang berjumlah 18 perusahaan. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 16 perusahaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah purposive samping.

Hasil penelitian ini secara parsial menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan, Leverage dan Earning Per Share berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan sedangkan Struktur Modal dan Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

Kata kunci: Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas, Leverage, Earning Per Share dan Nilai Perusahaan.

(6)

ABSTRACT

THE EFFECT OF COMPANY SIZES, CAPITAL STRUCTURES, PROFITABILITY, LEVERAGE AND EARNING PER SHARE

OF COMPANY VALUE IN THE FOOD SECTOR MANUFACTURING COMPANY AND

BEVERAGES ARE REGISTERED IN INDONESIA STOCK EXCHANGE

This study aims to determine the effect of Company Size, Capital Structure, Profitability, Leverage and Earning per share of Company Value in Food and Beverage manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange. This research is causal associative research and the type of data used is quantitative data. The data used was obtained from the company's audited financial statements on the Indonesia Stock Exchange during the study period. The analytical method used is descriptive analysis and multiple linear regression panel data. The population of this research is the manufacturing companies in the food and beverage sector 2014-2018, which amounted to 18 companies. The sample in this study amounted to 16 companies. Data analysis technique used is purposive sampling. The results of this study indicate that company size, leverage, and earning per share has a negative and not significant effect on firm value, capital structure and profitability has a positive and a significant effect on firm value.

Keywords: Company Size, Capital Structure, Profitability, Leverage, Earning Per Share and Firm Value.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan kasih setia yang diberikan-Nya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas, Leverage dan Earning Per Share terhadap Nilai Perusahaan pada perusahaan Manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia” Guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih yang tak terhingga peneliti sampaikan kepada kedua orang tua Bapak Rencana Pinem dan Mamak Rosmerita Ginting yang selalu mendukung dalam doa, telah memberikan semangat, motivasi, dan dukungan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dan studi dengan sebaik-baiknya.

Peneliti menyadari bahwa penulisan skripsi ini telah banyak mendapat bantuan dan dukungan baik secara moril maupun materil. Maka pada kesempatan ini, peneliti menyampaikan rasa terimakasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli Muhammad Ja’far Dalimunthe, SE, M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Departemen/Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Drs. Syahyunan, M.Si, selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan banyak waktu dan memberikan arahan, bimbingan, motivasi, dan

(8)

saran kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Dr. Khaira Amalia Fachruddin, MBA, Ak, selaku Dosen Penguji I dan Ibu Dr. Nisrul, MBA, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dan masukan untuk kesempurnaan skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu Dosen, seluruh staf serta pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.

6. Kak Icha dan Bang Edo Terimakasih untuk dukungan doa, semangat dan motivasinya dalam menyelesaikan Skripsi ini.

7. Teman seperjuangan jurusan Manajemen Ekstensi Angkatan 2017, Manajemen Keuangan dan terkhusus teman-teman satu dosen pembimbing.

8. Sahabat seperjuangan: Mira, Oddy, Aldo, Harry, Tika, Rijal dan Busra Terimakasih doanya serta yang selalu memotivasi dan memberikan semangat dalam pengerjaan skripsi ini.

9. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.

Medan, Oktober 2019 Peneliti

Revi Yanti Pinem 170521116

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 15

1.3 Tujuan Penelitian ... 16

1.4 Manfaat Penelitian ... 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 18

2.1 Landasan Teori ... 18

2.1.1 Nilai Perusahaan ... 18

2.1.2 Ukuran Perusahaan ... 20

2.1.3 Struktur Modal ... 21

2.1.4 Profitabilitas ... 24

2.1.5 Leverage ... 24

2.1.6 Earning Per Share ... 25

2.2 Penelitian Terdahulu ... 26

2.3 Kerangka Konseptual ... 34

2.4 Hipotesis ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

3.1 Jenis Penelitian ... 39

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 39

3.3 Batasan Operasional ... 39

3.4 Operasionalisasi Variabel dan Skala Pengukuran Variabel ... 40

3.4.1 Nilai Perusahaan ... 40

3.4.2 Ukuran Perusahaan ... 41

3.4.3 Struktur Modal ... 41

3.4.4 Profitabilitas... 41

3.4.5 Leverage ... 41

3.4.6 Earning Per Share ... 42

3.5 Populasi dan Sampel ... 43

3.5.1 Populasi ... 43

3.5.2 Sampel ... 43

3.6 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 45

3.7 Metode Pengumpulan Data ... 45

(10)

3.8.1 Statistik Deskriptif ... 46

3.8.2 Regresi Linier Berganda Data Panel ... 46

3.9 Uji Asumsi Klasik ... 48

3.9.1 Uji Normalitas ... 49

3.9.2 Uji Multikolinearitas ... 49

3.9.3 Uji Heteroskedstisitas ... 50

3.9.4 Uji Autokorelasi ... 50

3.10 Uji Koefisien Determinasi ... 52

3.11 Uji Hipotesis ... 52

3.11.1 Uji Simultan (Uji--f) ... 52

3.11.2 Uji Parsial (Uji-t) ... 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 56

4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 56

4.2 Analisis Statistik Deskriptif ... 62

4.3 Regresi Linier Berganda Data Panel ... 65

4.3.1 Common Effect Model ... 65

4.3.2 Fixed Effect Model ... 66

4.3.3 Random Effect Model ... 67

4.4 Pemilihan Model Regresi Linier Data Panel ... 68

4.4.1 Uji Chow ... 68

4.4.2 Uji Hausman ... 68

4.5 Uji Asumsi Klasik ... 69

4.6 Uji Hipotesis ... 69

4.6.1 Uji Simultan (Uji F) ... 69

4.6.2 Uji Parsial (Uji T) ... 70

4.7 Pembahasan ... 72

4.7.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan ... 72

4.7.2 Pengaruh Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan ... 72

4.7.3 Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan ... 73

4.7.4 Pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan ... 74

4.7.5 Pengaruh Earning per share terhadap Nilai Perusahaan ... 75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 77

5.1 Kesimpulan ... 77

5.2 Saran ... 77

DAFTAR PUSTAKA ... 80

DAFTAR LAMPIRAN ... 85

(11)

DAFTAR TABEL

No. Tabel Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 30

3.1 Operasionalisasi Variabel ... 42

3.2 Kriteria Pengambilan Sampel ... 44

3.3 Daftar Sampel Penelitian ... 44

4.1 Statiistik Deskriptif Total Aset, DER, ROA, DAR, EPS, PBV .. 63

4.2 Common Effect Model (CEM) ... 65

4.3 Fixed Effect Model (FEM) ... 66

4.4 Random Effect Model (REM) ... 67

4.5 Uji Chow ... 68

4.6 Uji Hausman ... 69

4.7 Uji T... 70

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul Halaman

1.1 Perkembangan Nilai Perusahaan Pada Perusahaan

Manufaktur ... 3

1.2 Ukuran Perusahaan Pada Perusahaan Manufaktur ... 5

1.3 Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur ... 7

1.4 Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur ... 9

1.5 Leverage Pada Perusahaan Manufaktur ... 11

1.6 Earning Per Share Pada Perusahaan Manufaktur ... 14

2.3 Kerangka Konseptual ... 37

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Judul Halaman

1. Hasil Perhitungan Tiap Variabel ... 85

2. Daftar Sampel ... 87

3. Analisis Statistik Deskriptif ... 87

4. Common Effect Model ... 88

5. Fixed Effect Model ... 88

6. Random Effect Model ... 89

7. Uji Chow ... 90

8. Uji Hausman ... 90

9. Uji t ... 90

(14)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persaingan dalam industri manufaktur membuat setiap perusahaan manufaktur semakin meningkatkan kinerja agar tujuannya tetap dapat tercapai.

Dalam laman berita kementrian perindustrian www.kemenperin.go.id (2016) terdapat 532 perusahaan yang tergabung di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perusahaan-perusahaan tersebut terbagi menjadi beberapa sektor industri, salah satunya adalah industri manufaktur. Manufaktur berarti proses membuat atau mengubah bahan mentah menjadi barang yang dapat dikonsumsi manusia dengan tangan atau mesin. Industri manufaktur di BEI dibagi menjadi tiga sektor utama, yaitu sektor industri dasar dan kimia, sektor aneka industri dan sektor industri barang konsumsi. Sektor industri barang konsumsi masih dibagi lagi menjadi lima sub sektor, salah satunya adalah sub sektor makanan dan minuman.

Perkembangan sektor perekonomian yang mendukung kelancaran aktivitas ekonomi, khususnya sektor makanan dan minuman di Indonesia sangat menarik untuk dicermati. Perusahaan makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang diminati oleh para investor, karena sektor ini merupakan salah satu sektor yang dapat bertahan di tengah kondisi perekonomian Indonesia, karena perusahaan makanan dan minuman yang semakin banyak diharapkan dapat memberikan prospek yang menguntungkan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu prospek yang dimiliki perusahaan sektor ini sangat baik karena pada dasarnya setiap masyarakat membutuhkan kebutuhan pokok dalam

(15)
(16)

kehidupan sehari-hari. Pertumbuhan perindustrian pada tahun 2015 berkontribusi sebesar 18,1% dan salah satu penyokong terbesar berasal dari sektor makanan dan minuman. Kondisi tersebut diperkuat dengan pernyataan bahwa sektor industri makanan dan minuman sudah mulai mengalami perbaikan sejak pertengahan kuartal IV/2015. Pernyataan tersebut diucapkan oleh Adhi (2016) beliau merupakan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia. Untuk menjaga agar investor tidak mengalami kerugian, perusahaan perlu menjaga kinerjanya supaya dapat terus bertahan di dalam industri.

Bagi investor, nilai perusahaan merupakan konsep penting karena nilai perusahaan merupakan indikator bagaimana pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Menurut Jusriani, Ika, & Rahardjo (2013) nilai perusahaan adalah nilai yang mencerminkan berapa harga yang bersedia dibayar oleh investor untuk suatu perusahaan. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi.

Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini namun pada prospek perusahaan di masa depan.

Namun terdapat fenomena fluktuasi pada nilai perusahaan pada perusahaan sektor makanan dan minuman. Dapat dilihat terjadi fluktuatif nilai perusahaan yang terjadi pada perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman pada tahun 2014-2018 adalah sebagai berikut:

(17)

Sumber: www.idx.co.id, 2019 (Data Diolah)

Gambar 1.1

Perkembangan Nilai Perusahaan (PBV) Pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan dan Minuman di BEI Pada tahun 2014 – 2018

Berdasarkan Gambar 1.1 dapat diketahui bahwa terjadi pergerakan yang fluktuatif pada nilai perusahaan sektor makanan dan minuman. Pada perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mengalami penurunan dan peningkatan selama periode 2014–2018. Pada tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 2,08 ,tahun 2015–2016 mengalami peningkatan sebesar 0,82, tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 0,50, tahun 2017–2018 mengalami peningkatan sebesar 0,45. Sedangkan pada perusahaan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mengalami perbedaan pada perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dimana perusahaan PT Mayora Indah Tbk mengalami kenaikan setiap tahunnya. Pada perusahaan PT Siantar Top Tbk (STTP) tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,71, tahun 2015-2016 mengalami penurunan sebesar 0,10, tahun 2016–2017 mengalami kenaikan sebesar 0,44,

2014 2015 2016 2017 2018

ICBP 2.71 4.79 5.61 5.11 5.56

MYOR 4.68 5.25 6.38 6.71 7.45

STTP 4.63 3.92 3.82 4.26 3.08

ULTJ 4.74 4.07 3.95 3.95 3.32

2.71 4.79 5.61 5.11 5.56

4.68 5.25 6.38 6.71 7.45

4.63 3.92 3.82 4.26 3.08

4.74 4.07 3.95 3.95 3.32

0 1 2 3 4 5 6 7 8

(18)

tahun 2017–20118 mengalami penurunan sebesar 1,18. Pada perusahaan Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,67, tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,12, tahun 2016–2017 nilainya menetap 3,95, tahun 2017–2018 mengalami penurunan sebesar 0,63.

Dari keempat perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman tersebut, perusahaan yang memiliki PBV tertinggi adalah PT Mayora Indah Tbk pada tahun 2018 yaitu sebesar 7,45. Menurut Husnan (2008) adalah semakin tinggi rasio PBV, semakin bertambah kesejahteraan yang dinikmati oleh pemilik perusahaan atau pemegang saham. Sedangkan perusahaan yang memiliki PBV terendah adalah perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada tahun 2014 yaitu sebesar 2,71. Terdapat banyak faktor-faktor yang dapat menentukan nilai perusahaaan.

Menurut Alfredo & Gede (2011) adalah ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan yaitu keputusan pendanaan, kebijakan deviden, keputusan investasi, struktur modal, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan.

Beberapa faktor tersebut memiliki hubungan dan pengaruh terhadap nilai perusahaan yang tidak konsisten. Menurut Rachmawati & Triatmoko (2017) ukuran Perusahaan dapat mempengaruhi nilai perusahaan (PBV) karena semakin besar ukuran perusahaan maka akan semakin mudah perusahaan dalam memperoleh sumber pendanaan dari internal maupun eksternal sehingga nilai perusahaan yang ada di perusahaan akan meningkat.

Ukuran perusahaan yang besar menunjukkan perusahaan mengalami perkembangan sehingga investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan

(19)

meningkat. Pangsa pasar relatif menunjukkan daya saing perusahaan lebih tinggi dibanding pesaing utamanya. Investor akan merespon positif sehingga nilai perusahaan akan meningkat. Perusahaan besar mempunyai lebih banyak sumber daya untuk meningkatkan nilai perusahaan karena memiliki akses yang lebih baik terhadap sumber-sumber informasi eksternal dibanding perusahaan kecil. Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang dapat dinyatakan dengan total aset atau total penjualan bersih. Semakin besar total aset maupun penjualan maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. Semakin besar aset, semakin besar pula modal yang ditanam. Sementara semakin banyak penjualan, maka semakin banyak juga perputaran uang dalam perusahaan. Dengan demikian, ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya aset yang dimiliki oleh perusahaan dan mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan (Sujoko dan Soebiantoro, 2007).

Sumber: www.idx.co.id, 2019 (Data Diolah)

Gambar 1.2

Ukuran Perusahaan (Total Aset) Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan

2014 2015 2016 2017 2018

ICBP 24,910,211 26,250,624 28,901,948 31,619,514 33,820,264 MYOR 10,291,108 11,324,716 12,922,422 14,915,850 18,018,020 STTP 1,700,402 1,919,568 2,336,411 2,342,432 2,566,953 ULTJ 2,917,084 3,539,996 4,239,200 5,186,940 5,584,546

0 5,000,000 10,000,000 15,000,000 20,000,000 25,000,000 30,000,000 35,000,000 40,000,000

(Dalam Jutaan Rupiah)

(20)

Ukuran Perusahaan yang dapat diukur dengan Total Aset (SIZE). Pada perusaahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Siantar Top Tbk (STTP), dan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) mengalami peningkatan total aset pada setiap tahunnya. Dari keempat perusahaan tersebut yang memiliki total aset tertinggi adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) senilai Rp 33,820,264 pada tahun 2018. Sedangkan perusahaan yang memiliki total aset terendah adalah PT Sintar Top Tbk (STTP) senilai Rp 1,700,402 pada tahun 2014. Ukuran perusahaan dapat dilihat dari total aset yang dipunyai oleh suatu perusahaan. Semakin tinggi tingkat ukuran perusahaan mempunyai arti bahwa aset yang dipunyai oleh suatu perusahaan semakin tinggi, hal ini juga berarti bahwa tingkat kegiatan operasional yang dibutuhkan perusahaan akan semakin meningkat. Dalam penelitian Bhekti (2013) mengatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, semakin tinggi ukuran perusahaan maka semakin tinggi pula nilai perusahaan dari perusahaan tersebut. Berbeda dengan Onasis & Robin (2016) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh negatif terhadap nilai peruahaan, berbeda dengan pendapat Suwarno, Puspito, & Nurul (2016) menyatakan bahwa secara simultan variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Struktur modal merupakan proporsi antara modal yang memiliki sendiri dengan hutang. Melalui struktur modal, investor dapat mengetahui keseimbangan risk dan return yang dimiliki perusahaan (Liem, 2013). Berdasarkan penjelasan tersebut perusahaan harus dapat memilih penggunaan sumber dana karena dari

(21)

setiap penggunaan dana terdapat biaya atau kewajiban yang harus dipenuhi yang pada akhirnya akan mempengaruhi nilai perusahaan. Nilai perusahaan dapat ditingkatkan melalui profitabilitas (Setiabudi & Dian, 2012) kebijakan dividen (Ayuningtias, 2013) serta kesempatan investasi (Rakhimsyah, Barbara, &

Gunawan, 2011).

Sumber: www.idx.co.id, 2019 (Data Diolah)

Gambar 1.3

Struktur Modal (DER) Pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan dan Minuman di BEI Pada Tahun 2014 – 2018

Struktur modal yang salah satunya dapat diukur dengan Debt to Equity Ratio. Pada perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada tahun 2014-2015 mengalami penurunan sebesar 0,04, tahun 2015-2016 mengalami penurunan DER sebesar 0,06 atau 6%, tahun 2017-2018 mengalami penurunan sebebsar 0,02 atau 2%. Pada perusahaan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,33, tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,12 atau 12%, tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 0,03 atau 3%, tahun 2017–2018 mengalami peningkatan sebesar 0,26 atau 26%.

2014 2015 2016 2017 2018

ICBP 0.66 0.62 0.56 0.56 0.54

MYOR 1.51 1.18 1.06 1.03 1.29

STTP 1.08 0.9 1 0.69 0.61

ULTJ 0.29 0.27 0.21 0.23 0.19

0.66 0.62 0.56 0.56 0.54

1.51 1.18 1.06 1.03 1.29

1.08 0.9 1 0.69 0.61

0.29 0.27 0.21 0.23 0.19

0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6

(22)

Pada perusahaan PT Siantar Top Tbk (STTP) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,18, tahun 2015–2016 mengalami kenaikan 0,1 atau 1%, pada tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 0,31 atau 31%, pada tahun 2017–

2018 mengalami penurunan sebesar 0,08 atau 8%. Pada perusahaan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,02 tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,06 atau 6%, pada tahun 2016–2017 mengalami peningkatan sebesar 0,02 atau 2%, pada tahun 2017–2018 mengalami penurunan sebesar 0,04 atau 4%. Dari keempat perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman tersebut, perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio (DER) tertinggi adalah PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada tahun 2014 yaitu sebesar 1,51 atau 15,1%. Sedangkan perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio (DER) terendah adalah PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) pada tahun 2018 yaitu senilai 0,19 atau 19%.

Menurut Syahyunan (2013) bahwa Debt to Equity Rasio (DER) ialah perbandingan utang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan apakah perusahaan tersebut lebih banyak menggunakan modalnya atau utangnya untuk mendanai kegiatan usahanya. Teori struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh perubahan struktur modal terhadap nilai perusahaan, jika keputusan investasi dan kebijakan dividen dipegang konstan. Dalam penelitian Hermuningsih (2013) menyatakan bahwa struktur modal mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, hal ini menunjukkan bertambahnya hutang untuk sumber pendanaan dari suatu perusahaan akan mempengaruhi meningkatnya nilai perusahaan yang berbanding lurus dengan meningkatnya harga saham. Berbeda

(23)

dengan hasil penelitian Ha & Le Minh Tai (2017) mereka menyatakan bahwa strutur modal mempunyai pengaruh yang negatif pada nilai perusahaan, meningkatnya hutang di struktur modal akan menyebabkan penurunan nilai saham, dan penurunan nilai saham akan menyebabkan penurunan dalam transaksi mereka.

Hasil yang berbeda juga menurut Chuong & Stevenson (2014) menyatakan bahwa tidak adanya pengaruh antara nilai perusahaan dan struktur modal.

Profitabilitas sangatlah penting untuk perusahaan dalam rangka mempertahankan kelangsungan usahanya dalam jangka panjang, hal ini dikarenakan profitabilitas menunjukkan apakah perusahaan mempunyai prospek yang bagus di masa yang akan datang atau tidak. Menurut Kasmir (2012) profitabilitas merupakan faktor yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Jika manajer mampu mengelola perusahaan dengan baik maka biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akan menjadi lebih kecil sehingga laba yang dihasilkan menjadi lebih besar. Besar atau kecilnya laba ini yang akan mempengaruhi nilai perusahaan.

Sumber: www.idx.co.id, 2019 (Data Diolah)

Gambar 1.4

Profitabilitas (ROA) Pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan

2014 2015 2016 2017 2018

ICBP 10.16 11.01 12.56 11.21 10.51

MYOR 3.98 11.02 10.75 10.93 6.26

STTP 7.26 9.67 7.45 9.22 7.78

ULTJ 9.71 14.78 16.74 13.72 11.14

10.16 11.01 12.56 11.21 10.51

3.98 11.02 10.75 10.93 6.267.26 9.67 7.45 9.22 7.789.71 14.78 16.74 13.72 11.14

02 46 108 1214 1618

(24)

Profitabilitas yang salah satunya dapat diukur dengan Return on Asset (ROA). Pada perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada tahun 2014-2015 mengalami peningkatan sebesar 0,85, tahun 2015–2016 mengalami kenaikan sebesar 1,55, pada tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 1,35, pada tahun 2017–2018 mengalami penurunan lagi sebesar 0,7. Pada perusahaan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 7,98, tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,27, pada tahun 2016–2017 mengalami peningkatan 0,18, pada tahun 2017–2018 mengalami penurunan yaitu sebesar 4,67. Pada perusahaan PT Siantar Top Tbk (STTP) pada tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 2,41, tahun 2015–

2016 mengalami penurunan sebesar 2,22 pada tahun 2016–2017 mengalami peningkatan 1,77 pada tahun 2017–2018 mengalami penurunan sebesar 1, 44.

Pada perusahaan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) pada tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 5,07, tahun 2015–2016 mengalami peningkatan sebesar 1,96 pada tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 3,02 pada tahun 2017–2018 mengalami penurunan sebesar 2,58. Dari keempat perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman tersebut, perusahaan yang memiliki ROA tertinggi adalah PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) pada tahun 2016 yaitu sebesar 16,74. Sedangkan perusahaan yang memiliki ROA terendah adalah PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada tahun 2014 yaitu sebesar 3,98.

Rasio profitabiltas adalah usaha perusahaan memperoleh laba yang berhubungan dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri (Sartono, 2010). Dalam penelitian Hermuningsih (2013) mengatakan bahwa profitabilitas

(25)

mempunyai pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, karena profitabilitas yang besar menunjukkan perkembangan perusahaan yang baik sehingga akan membuat permintaan saham oleh investor meningkat. Berbeda dengan penelitian oleh Herawati & Titin (2013) yang mengatakan bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, karena ketika profitabilitas perusahaan mengalami kenikan maka akan menyebabkan nilai perusahaan turun.

Meningkatnya nilai perusahaan yang identik dengan tinggi harga saham menjadi sebuah prestasi yang menjadi keinginan para pemilik saham. Dengan meningkatnya nilai perusahaan menjadi penting karena tingginya penilaian pada saham perusahaan akan diikuti tingginya kemakmuran pemegang saham. Nilai perusahaan dapat pula dipengaruhi oleh besar kecilnya leverage yang dihasilkan oleh perusahaan. Leverage dapat dipahami sebagai penaksir dari resiko yang melekat pada suatu perusahaan. Hal ini berarti leverage yang semakin besar menunjukkan resiko investasi yang semakin besar pula. Leverage perlu dikelola karena penggunaan hutang yang tinggi akan meningkatkan nilai perusahaan.

Sumber: www.idx.co.id, 2019 (Data Diolah)

Gambar 1.5

Leverage (DAR) Pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan dan

2014 2015 2016 2017 2018

ICBP 0.4 0.38 0.36 0.36 0.35

MYOR 0.6 0.54 0.52 0.51 0.56

STTP 0.52 0.47 0.5 0.41 0.38

ULTJ 0.22 0.21 0.18 0.19 0.16

0.4 0.38 0.36 0.36 0.35

0.6 0.54 0.52 0.51 0.560.52 0.47 0.5 0.41 0.38

0.22 0.21 0.18 0.19 0.16

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7

(26)

Leverage yang salah satunya dapat diukur dengan Debt Ratio (DAR). Pada perusahaan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,02 tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,02 pada tahun 2016–2018 mengalami penurunan kembali sebesar 0,01.

Pada perusahaan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,06 tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,02 pada tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 0,01 pada tahun 2017–2018 peningkatan sebesar 0,05. Pada perusahaan PT Siantar Top Tbk (STTP) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,05 tahun 2015–

2016 mengalami peningkatan sebesar 0,03 pada tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 0,09 pada tahun 2017–2018 juga mengalami penurunan sebesar 0,03. Pada perusahaan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) pada tahun 2014–2015 mengalami penurunan sebesar 0,01 tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 0,03 pada tahun 2016– 2017 mengalami peningkatan sebesar 0,01 pada tahun 2017–2018 mengalami penurunan sebesar 0,03. Dari keempat perusahaan tersebut perusahaan yang memiliki DAR tertinggi adalah PT Mayora Indah Tbk (MYOR) yaitu sebesar 0,56 pada tahun 2018.

Sedangkan perusahaan yang memiliki DAR terendah adalah PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) pada tahun 2018.

Nilai leverage merupakan perhitungan dimana perusahaan mampu memanfaatkan dana atau aktiva yang memiliki beban tetap yang berguna untuk meningkatkan jumlah pendapatan untuk para pemilik perusahaan (Syamsuddin, 2012). Dalam penelitian Pratama & Wiksuana (2016) leverage mempunyai

(27)

pengaruh positif terhadap nilai perusahaan, ketika perusahaan semakin sering mengambil hutang untuk melakukan pendanaan maka nilai perusahaan dari perusahaan tersebut juga akan mengalami peningkatan. Berbeda dengan penelitian Sujoko & Soebiantoro (2007) yang mengatakan bahwa leverage mempunyai pengaruh negatif terhadap nilai perusahaan, sehingga sama dengan teori struktur modal dengan trade off yang menyatakan bahwa ketika jumlah hutang mengalami kenaikan maka akan berbanding terbalik dengan nilai perusahaan yang mengalami penurunan. Sedangkan Hargiansyah (2015) mengatakan bahwa leverage tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan.

Earning Per Share adalah kemampuan setiap lembar saham dalam menciptakan laba dalam satu periode pelaporan keuangan. Besarnya EPS menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk para pemegang saham dari jumlah saham yang beredar (Tandelilin, 2001). Semakin besar nilai EPS, maka semakin besar pula laba bersih yang disediakan perusahaan untuk para pemegang saham. Dengan demikian, minat investor akan meningkat dan berpengaruh pada naiknya harga saham sehingga nilai perusahaan juga ikut meningkat.

Menurut Kasmir (2010) earning per share atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi para pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham meningkat dengan pengertian lain bahwa tingkat pengembalian yang tinggi.

(28)

Sumber: www.idx..co.id, 2019 (Data Diolah)

Gambar 1.6

Earning Per Share (EPS) Pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan dan Minuman di BEI Pada Tahun 2014 – 2018

Earning Per Share pada PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) pada tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 6.800, tahun 2015–2016 mengalami peningkatan sebesar 10.283, tahun 2016–2017 mengalami penurunan sebesar 29.190, tahun 2017–2018 juga mengalami penurunan kembali sebesar 3.572. Pada PT Mayora Indah Tbk (MYOR) tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 91.284, tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 130.355, tahun 2016–2017 mengalami peningkatan sebesar 1.071, tahun 2017–

2018 mengalami penurunan sebesar 2.211. Pada PT Siantar Top Tbk (STTP) tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar 4.751, tahun 2015–2016 mengalami penurunan sebesar 860, tahun 2016–2017 mengalami peningkatan sebesar 3.198, tahun 2017– 2018 mengalami penurunan 1. 276. Pada PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk (ULTJ) tahun 2014–2015 mengalami peningkatan sebesar

2014 2015 2016 2017 2018

ICBP 44662.00 51462.00 61745.00 32555.00 28983.00 MYOR 45131.00 136415.00 6060.00 7131.00 4920.00 STTP 9427.00 14178.00 13318.00 16516.00 15240.00 ULTJ 10089.00 17971.00 24317.00 6056.00 5278.00 0.00

20000.00 40000.00 60000.00 80000.00 100000.00 120000.00 140000.00 160000.00

Dalam Jutaan Rupiah

(29)

7.882, tahun 2015–2016 mengalami peningkatan sebebsar 6.346, tahun 2016–

2017 mengalami penurunan sebesar 18.261, tahun 2017–2018 mengalami penurunan sebesar 778. . Dari keempat perusahaan tersebut perusahaan yang memiliki EPS tertinggi adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yaitu sebesar 61.745 pada tahun 2016. Sedangkan perusahaan yang memiliki EPS terendah adalah PT Mayora Indah Tbk (MYOR) pada tahun 2018 yaitu 4.920.

Earning per share atau laba per saham adalah keuntungan bersih untuk tiap lembar sahamnya yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Earning per share adalah rasio yang menunjukkan pendapatan yang diperoleh setiap lembar saham (Gibson & Donnely, 1996). Dalam penelitian Marlina (2013) menyatakan terkait earning per share yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan (PBV), sementara menurut penelitian Sukma &

Teguh (2014) menyatakan earning per share tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan latar belakang masalah diatas penulis tertarik untuk memilih judul “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas, Leverage dan Earning Per Share terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur Sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka rumusan masalah pada penelitian ini, yaitu:

1. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

(30)

2. Apakah struktur modal berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

3. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

4. Apakah leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

5. Apakah earning per share berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk menemukan bukti empiris atas hal-hal berikut ini:

1. Untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Untuk menganalisis struktur modal terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. Untuk menganalisis pengaruh profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Untuk menganalisis leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

5. Untuk menganalisis earning per share berpengaruh terhadap nilai

(31)

perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti

Meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam bidang manajemen investasi yang sesuai dengan teori yang diperoleh dalam perkuliahan dan mewujudkannya dalam bentuk skripsi.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan referensi dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan nilai perusahaan.

3. Bagi Perusahaan

Penelitian ini dapat digunakan oleh manajemen perusahaan sebagai suatu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan nilai perusahaan.

4. Bagi Investor dan Calon Investor

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi investor maupun calon investor dalam menetapkan pilihan investasi yang tepat terkait dengan nilai perusahaan sesuai dengan apa yang diharapkan para investor maupun calon investor.

(32)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan merupakan rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan, menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan menciptakan nilai relative terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Harga saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi, dan menigkatkan kepercayaan pasar tidak hanya terhadap kinerja perusahaan saat ini namun juga pada prospek perusahaan di masa mendatang. Harga saham yang digunakan umunya mengacu pada harga penutupan (closing price) dan merupakan harga yang terjadi pada saat saham diperdagangkan di pasar (Fakhruddin & Hadianto, 2001).

Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur nilai perusahaan antara lain:

1. Price Earning Ratio

Price earning ratio menunjukkan berapa banyak jumlah uang yang rela dikeluarkan oleh para investor untuk membayar setiap dolar laba yang dilaporkan (Brigham & Houston, 2006). Kegunaan price earning ratio adalah untuk melihat bagaimana pasar menghargai kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh earning per share nya. Price earning ratio menunjukkan hubungan antara pasar saham biasa dengan earning per share.

2. Tobin’s Q

Tobin’s Q ditemukan oleh seorang pemenang hadiah nobel dari Amerika

(33)

Serikat yaitu James Tobin. Tobin’s Q adalah nilai pasar dari asset perusahaan dengan biaya penggantinya: Menurut konsepnya, rasio Q lebih unggul daripada rasio nilai pasar terhadap nilai buku karena rasio ini fokus pada berapa nilai perusahaan saat ini secara relatif terhadap berapa biaya yang dibutuhkan untuk menggantinya saat ini. Dalam praktiknya, rasio Q sulit untuk dihitung dengan akurat karena memperkirakan biaya penggantian atas aset sebuah perusahaan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah (Margaretha & Farah, 2014).

3. Price to Book Value

Komponen penting lain yang harus diperhatikan dalam analisis kondisi perusahaan adalah Price to Book Value (PBV) yang merupakan salah satu variabel yang dipertimbangkan seorang investor dalam menentukan saham mana yang akan dibeli. Untuk perusahaan-perusahaan yang berjalan dengan baik, umumnya rasio ini mencapai diatas satu, yang menunjukkan bahwa nilai pasar saham lebih besar dari nilai bukunya. Semakin besar rasio PBV semakin tinggi perusahaan dinilai oleh para pemodal relatif dibandingkan dengan dana yang telah ditanamkan di perusahaan. Price to book value yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan kedepan. Hal itu juga yang menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab nilai perusahaan yang tinggi mengindikasikan kemakmuran pemegang saham juga tinggi.

Menurut Brigham dan Houston (dalam Rehulina & Novi, 2015) nilai perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut:

Price to Book Value =

Dalam penelitian ini penulis memilih indikator dari nilai perusahaan

(34)

adalah Price Book Value (PBV) karena price book value banyak digunakan dalam pengambilan keputusan investasi. Selain itu, ada beberapa keunggulan PBV yaitu nilai buku merupakan ukuran yang stabil dan sederhana yang dapat dibandingkan dengan harga pasar.

Keunggulannya kedua adalah PBV dapat dibandingkan antar perusahaan sejenis untuk menunjukkan tanda mahal atau murahnya suatu saham.

Rasio ini dapat memberikan gambaran potensi pergerakan harga suatu saham sehingga dari gambaran tersebut, secara tidak langsung rasio PBV ini juga memberikan pengaruh terhadap harga saham (Kawito, 2010).

2.1.2 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah peningkatan dari kenyataan bahwa perusahaan besar akan memiliki kapitalisasi pasar yang besar, nilai buku yang besar dan laba yang tinggi (Ayu & Ary, 2013). Sedangkan pada perusahaan kecil akan memiliki kapitalisasi yang kecil, nilai buku yang kecil dan laba yang rendah. Ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap nilai perusahaan suatu perusahaan. Dalam hal ukuran perusahaan dilihat dari total asset yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat dipergunakan untuk operasi perusahaan.

Jika perusahaan memiliki total asset yang besar, pihak manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan asset yang ada di perusahaan tersebut. Kebebasan yang dimiliki manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran yang dilakukan oleh pemilik atas asetnya. Jumlah aset yang besar akan menurunkan nilai perusahaan jika dinilai dari sisi pemilik perusahaan. Akan tetapi jika dilihat dari sisi

(35)

manajemen, kemudian yang dimilikinya dalam mengendalikan perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan.

2.1.3 Struktur Modal

Struktur modal merupakan bagian daari struktur keuangan. Struktur keuangan merupakan kombinasi atau bauran dari segenap pos yang termasuk dalam sisi kanan neraca keuangan perusahaan, sedangkan struktur modal merupakan bauran dari segenap sumber pembelanjaan jangka panjang (utang jangka panjang, saham prefern, dan ekuitas saham biasa) yang digunakan perusahaan (Warsono, 2003).

Manajer keungan akan melakukan berbagai keputusan untuk meningkatkan nilai perusahaan, diantaranya adalah keputusan investasi dan keputusan pendanaan. Setelah melakukan keputusan investasi manajer keuangan akan berpikir bahwa keputusan investasi tersebut akan dibiayai atau didanai dari modal apa, apakah seluruhnya dengan hutang atau dengan modal sendiri atau malah kmbinasinya, sehingga diperlukan teori struktur modal untuk menetapkan keputusan yang tepat.

Berikut ini dikemukakan beberapa teori struktur modal dengan nilai perusahaan adalah sebagai berikut :

1. Modigliani-Miller (M&M) (1958)

Selama ini teori struktur modal didasarkan pada perilaku investor dan bukannya studi formal secara matematis. Franco Modigliani dan Merton Miller (MM) memperkenalkan model struktur modal secara matematis, scientific dan atas dasar penelitian yang terus menerus. Sebelum teori MM

(36)

belum ada teori struktur modal yang diterima secara umum (Frank & Goyal, 2003). Teori ini menyatakan bahwa struktur modal irrelevance atau tidak memengaruhi cost of capital, total size perusahaan tidak akan berubah meskipun terjadi perubahan proporsi antara hutang dan modal.

2. Pecking Order Theory

Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Donalson pada tahun 1961, teori ini disebut Pecking Order karena teori ini menjelaskan mengapa perusahaan akan menentukan kedudukan sumber dana yang paling disukai. Menurut Brealey & Marcus (2008) teori pecking order berbunyi sebagai berikut:

a. Perusahaan menyukai pendanaan internal, karena dana ini terkumpul tanpa mengirimkan sinyal sebaliknya yang dapat menurunkan harga saham.

b. Jika dana eksternal dibutuhkan, perusahaan menerbitkan utang lebih dahulu dan hanya menerbitkan ekuitas sebagai pilihan terakhir.

Pecking order ini muncul karena penerbitan utang tidak terlalu diterjemahkan sebagai pertanda buruk oleh investor bila dibandingkan dengan penerbitan ekuitas.

Teori pecking order didasarkan pada dua asumsi yang menonjol. Pertama, para manajer lebih mengetahui prospek perusahaan mereka sendiri daripada investor luar. Kedua, manajer bertindak dalam kepentingan terbaik pemegang saham yang ada. Dengan kondisi tersebut, perusahaan terkadang akan melupakan positif proyek net present value jika menerima mereka memaksa perusahaan untuk menerbitkan saham undervalued untuk investor baru. Hal ini pada gilirannya memberikan alasan bagi perusahaan untuk menurunkan

(37)

nilai finansial, seperti uang tunai yang besar dan kapasitas utang yang tidak terpakai. Lebih khusus lagi, teori pecking order memprediksi bahwa perusahaan lebih memilih untuk menggunakan dana internal bila tersedia dan memilih utang atas ekuitas ketika pembiayaan eksternal diperlukan.

3. Signalling Theory

Menurut Brigham & Houston (2010) adalah bentuk tindakan yang dilakukan oleh perusahaan guna menginformasikan kepada para investor perihal bagaimana manajemen berusaha untuk mencapai prospek perusahaan.

Sinyal ini berbentuk informasi tentang apa yang telah dijalani oleh para manajer untuk mewujudkan seluruh cita-cita pemilik. Seluruh informasi yang dikemukakan oleh perusahaan adalah hal yang sangat penting, karena mempunyai pengaruh besar terhadap keputusan berinvestasi pihak luar perusahaan. Hal ini sangat penting bagi para pelaku bisnis dan investor karena informasi tersebut berisi riwayat keungan perusahaan, gambaran atau catatan, baik pada saat ini maupun keadaan masa lampau dan keadaan masa depan tentang efeknya terhadap perusahaan maupun bagi kelangsungan hidup perusahaan.

4. Trade-Off Theory

Miller dan Mogdigliani (dalam Atmaja, 2008) bahwasanya teori pertukaran, ketika perusahaan akan berusaha menyeimbangkan keuttungan dari pendanaan yang didanai oleh hutang. Didalam teori pertukaran menyatakan bahwa seluruh perusahaan dengan tingkat hutang yang baik yang terdapat pada struktur modalnya karena tingkat laba dan modal atas utangnya, yang

(38)

berarti perusahaan yang mempunyai hutang akan menimbulkan pembayaran bunga atas hutang yang akan memberi dampak bagi para penanam saham.

Pajak yang berkurang ini dapat membuat nilai perusahaan meningkat serta membuat pendapatan perusahaan meningkat dan keuntungan tersebut dapat digunakan untuk berinvestasi oleh perusahaan di masa selanjutnya atau dapat memberi dividen bagi para investor.

2.1.4 Profitabilitas

Rasio profitabilitas digunakan untuk mengetahui seberapa efektif manajemen perusahaan menggunakan aktiva yang dimilikinya dalam menghasilkan laba atau seberapa efektif pengelolaan perusahaan oleh manajemen (Syahyunan, 2015). Profitabilitas perusahaan merupakan salah satu cara untuk menilai secara tepat sejauh mana tingkat pengembalian yang akan didapat dari aktivitas investasi. Jika kondisi perusahaan dikategorikan menguntungkan atau menjanjikan keuntungan di masa mendatang maka banyak investor yang akan menanamkan dananya untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Hal ini tentu saja akan mendorong harga saham naik menjadi lebih tinggi.

Rasio profitabilitas dapat diproksikan dengan: Marjin laba kotor (Gros Profit Margin), Marjin laba bersih (Net Profit Margin), Rasio pengembalian asset (ROA), Rasio pengembalian ekuitas (ROE), Rasio pengembalian penjualan (ROS), Return on Investment (ROI).

2.1.5 Leverage

Menurut Ramadhan & Shinta (2012) Leverage merupakan pengukur

(39)

besarnya aktiva yang dibiayai dengan hutang-hutang yang berasal dari kreditur, bukan bukan dari pemegang saham ataupun investor. Sedangkan menurut Prasetyorini (2013) Leverage merupakan suatu alat penting dalam pengukuran efetivitas penggunaan utang perusahaan.

Leverage biasanya dipergunakan untuk menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menggunakan aset atau dana yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar tingkat penghasilan (return) bagi pemilik/pemegang saham perusahaan (Syahyunan, 2015).

Dengan memperbesar tingkat leverage maka hal ini akan berarti bahwa tingkat ketidakpastian dari return yang akan diperoleh akan semakin tinggi pula, tetapi pada saat yang sama hal tersebut juga akan memperbesar jumlah return yang akan diperoleh. Tingkat leverage bisa saja berbeda-beda antara peusahaan yang satu dengan perusahaan lainnya, atau dari satu period ke periode lainnya didalam satu perusahaan, tetapi yang jelas, semakin tinggi tingkat leverage akan semakin tinggi risiko yang dihadapi serta semakin besar tingkat return atau penghasilan yang diharapkan.

2.1.6 Earning per share

Earning per share untuk mengukur besarnya laba yang diberikan kepada pemegang saham (Syahyunan, 2015). Besarnya EPS menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk para pemegang saham dari jumlah saham yang beredar (Tandelilin, 2001). Semakin besar nilai EPS, maka semakin besar pula laba bersih yang disediakan perusahaan untuk para pemegang saham.

Dengan demikian, minat investor akan meningkat dan berpengaruh pada naiknya

(40)

harga saham sehingga nilai perusahaan juga ikut meningkat.

Menurut Kasmir (2010), earning per share atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi para pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, maka kesejahteraan pemegang saham meningkat dengan pengertian lain bahwa tingkat pengembalian yang tinggi.

2.2 Penelitian Terdahulu

Penelitian terhadap nilai perusahaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Terdapat beberapa hal penting dari hasil penelitian sebelumnya yang menjadi dasar penelitian ini. Berikut ini akan diuraikan beberapa penelitian terdahulu mengenai nilai perusahaan, yaitu:

1. Prabowo (2018) dengan judul penelitian ―Pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas Dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan Sektor Infrastructure Utilities dan Transportation periode 2013-2017’. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas dan Leverage. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan. Metode penelitian yang digunakan peniliti adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Ukuran Perusahaan, Struktur Modal dan Leverage tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan, sedangkan Profitabilitas berpengaruh negative terhadap Nilai Perusahaan.

2. Deannes (2017) dengan judul penelitian ―Pengaruh Profitabilitas, Leverage dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan‖. Variabel Independen

(41)

penelitian ini adalah Profitabilitas, Leverage dan Ukuran Perusahaan.

Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Profitabilitas, Leverage, dan Ukuran Perusahaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan. Sedangkan secara parsial Profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

3. Ignatius (2017) dengan judul ―Pengaruh Profitabilitas, Struktur Modal dan Likuiditas Terhadap Nilai Perusahaan‖. Variabel independen penelitian ini adalah Profitabilitas, Struktur Modal dan Likuiditas. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

Struktur Modal berhubungan negatif dan tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan. Sedangkan Likuiditas berhubungan positif dan tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

4. Novari dan Lestari (2016) dengan judul penelitian ―Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan pada Sektor Properti dan Real Estate‖. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusa haan. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan, sedangkan Leverage tidak berpengaruh terhadap

(42)

Nilai Perusahaan.

5. Manoppo dan Arie (2016) dengan judul penelitian ―Pengaruh Struktur Modal, Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan Otomotif yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014‖. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Struktur Modal, Ukuran Perusahaan, dan Profitabilitas. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan.

Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Struktur Modal dan Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan, sementara Ukuruan Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

6. Rudangga dan Sudiarta (2016) dengan judul penelitian ―Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan‖. Variabel independen penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan.

Metode penelitian yang digunakan peneliti adaalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Ukuran Perusahaan, Leverage dan Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

7. Fridayan (2016) dengan judul penelitian ―Pengaruh Struktur Modal dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan‖. Variabel independen penelitian ini adalah Struktur Modal dan Ukuran Perusahaan. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan. Metode penelitian yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Struktur Modal dan Ukran Perusahaan berpengaruh secara simultan terhadap

(43)

Nilai Perusahaan.

8. Mindra dan Erawati (2014) dengan judul penelitian ―Pengaruh Earning Per Share (EPS), Ukuran Perusahaan, Profitabiltas dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan‖. Variabel independen penelitian ini adalah Earning Per Share, Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling dan polled. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Earning Per Share, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Leverage berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan melalui uji-F. Profitabilitas dan Ukuran Perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan, sementara Earning Per Share dan Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan melalu uji-t.

9. Moniaga (2013) dengan judul penelitian ―Struktur Modal, Profitabilitas, dan Struktur Biaya terhadap Nilai Perusahaan Industri Keramik, Porcelen dan Kaca periode 2007-2011‖. Variabel independen penelitian ini adalah Struktur Modal, Profitabilitas dan Struktur Biaya. Sedangkan variabel dependennya adalah Nilai Perusahaan. Metode penelitian yang digunakan peneliti ini adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Struktur Modal, Profitabilitas dan Struktur Biaya tidak memiliki hubungan dengan Nilai Perusahaan melali uji-F. Struktur Modal berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan, sementara Profitabilitas dan Struktur Biaya tidak berpengaruh melalui uji-t

10. Tri, M (2013) dengan judul ―Pengaruh Earning Per Share, Return On Equity,

(44)

Debt to Equity Ratio dan Size Terhadap Price to Book Value’. Variabel independen penelitian ini adalah Earning Per Share, Return On Equity, Debt to Equity Ratio dan Size. Sedangkan variabel dependennya adalah Price to Book Value. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah purposive sampling.Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Earning Per Share, Return On Equity, dan Debt to Ratio berpengaruh positif signifikan terhadap Price to Book Value. Sedangkan Size berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap Price to Book Value.

Tabel 2.1

Penelitian TerdahuluKerangka Konseptual

No Peneliti/

Tahun Judul Penelitian Variabel Penelitian

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian

1 Naufal Giri Prabowo

(2018)

Pengaruh Ukuran Perusahaan, Struktur Modal, Profitabilitas Dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan Sektor Infrastructure Utilities dan

Transportation periode 2013-2017

Dependen:

Nilai Perusahaan Independen:

1. Ukuran Perusahaan 2. Struktur

Modal 3. Profitabilitas 4. Leverage

Regresi linear beganda

1. Ukuran

Perusahaan tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan 2. Struktur Modal

tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan 3. Profitabilitas

berpengaruh negatif terhadap Nilai Perusahaan Profitabilitas berpengaruh negative 4. Leverage tidak

berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2 Deannes

(2017

Pengaruh Profitabiitas, Leverage dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan

Dependen:

Nilai Perusahaan Independen:

1. Profitabilitas 2. Leverage 3. Ukuran

Perusahaan

Analisis linear berganda

1. Profitabilitas secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan.

(45)

Lanjutan Tabel 2.1

No Peneliti/

Tahun Judul Penelitian Variabel Penelitian

Teknik Analisis

Data

Hasil Penelitian 2. Leverage secara

simultan berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan 3. Ukuran

Perusahaan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan 4. Profitabilitas

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan

3 Ignatius

(2019)

Pengaruh Profitabilitas, Struktur Modal dan Likuiditas terhadap Nilai Perusahaan

Dependen:

Nilai Perusahaan Independen:

1. Profitabilitas 2. Struktur Modal

3. Likuiditas

Analisis linear berganda

1. Profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan 2. Struktur Modal

berhubungan negatif dan tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan 3.Likuiditas

berhubungan positif dan tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan

4 Mikhy dan

Vivi (2016)

Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan pada Sektor Properti dan Real Estate

Dependen:

Nilai Perusahaan Independen:

1. Ukuran Perusahaan 2. Leverage 3. Profitabilitas

Regresi linear berganda

1. Ukuran Perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan 2. Profitabilitas

berpengaruh positif dan signifikan terhadap Nilai Perusahaan 3. Leverage tidak

berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan

Referensi

Dokumen terkait

ANALISA TEGANGAN PIPA PADA JALUR PEMIPAAN GAS DENGAN PENDEKATAN PERANGKAT LUNAK.. Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dalam Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana (S1) pada

Telah dilakukan deposisi lapisan tipis (CdS) tipe-N di atas lapisan tipis (CuInSe 2 ) tipe-P pada substrat kaca, yaitu bagian dari komponen untuk sel surya CIS dengan teknik

fenomena pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai. fakta dan manusia

Containment adalah fitur perangkat dari fasilitas, container atau peralatan yang digunakan untuk memantapkan integrasi fisik dari area atau item (termasuk peralatan seifgard atau

Bila digunakan secara teratur, teknologi ini menjaga sistem kekebalan tubuh pada tingkat yang sedemikian tinggi, di mana setiap dan semua gangguan yang merugikan (bahan kimia,

Pelayanan sosial yang dilakukan juga terkait dengan gangguan psikis yang rentan dialami anak saat berada dalam kondisi bencana, memulihkan kondisi anak yang mengalami trauma

dengan perbuatan cabul sesama kelamin?); bagaimana penegakan hukum terhadap pelanggaran perbuatan cabul LGBT; adakah sarana hukum lainnya yang dapat memberikan hasil yang

perkembangan di masa yang akan datang, sejumlah verba yang mempunyai makna yang sama atau mirip dengan habis, seperti selesai dan usai, mempunyai kemungkinan berkembang menjadi