• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Analisa Distribusi dan Kebutuhan Layanan Logistik Melalui Supply Chain

Untuk memenuhi tuntutan pelanggan adalah sangat penting dalam organisasi apapun. Proses ini adalah sarana produk ini dikembangkan diproduksi dan dikirim ke pelanggan terpenuhi. Konsepsi logistik adalah benang yang menghubungkan proses penting dan memberikan dasar untuk sistem biaya secara efektif memberikan nilai bagi pelanggan (Waters dan Rinsler, 2010:1). Sedangkan manajemen logistik adalah substansi proses perpaduan yang mencari mengoptimalkan aliran material-material dan penyediaan melalui organisasi dan operasi-operasi kepada konsumen. Model dari saran-saran kompentisi perusahaan- perusahaan individu bersaing tetapi agak menyediakan rantai penyediaan lawan.

Perusahaan-perusahaan yang sukses akan menyediakan rantai biaya yang lebih efektif. (Waters dan Rinsler, 2010:3)

Berdasarkan pengertian di atas pada dasarnya logistik adalah material- material dan penyedia kebutuhan yang akan digunakan. Logistik diperlukan karena untuk pemenuhan suatu perusahaan dalam menjalankan pengelolaan secara efektif. Informasi mengalir dari dari dua tujuan dan manufaktur mengirim informasi status pesanan, kemampuan materi, mode transportasi pada member mengirim informasi pada permintaan pelanggan (Vinod V. Sople, 2007:8). Kunci hubungan-hubungan diantara perusahaan manufaktur dan penyaluran logistik dapat dilakukan dengan management of supply chain..

Supply Chain Management adalah mendorong organisasi untuk memikirkan kembali bagaimana membeli dan sumber strategis cocok dengan dan mendukung lingkungan bisnis yang lebih luas dengan pemasok bahan baku atau hilir menuju pelanggan utama. Supply chain mengambil pasokan langsung dari asalnya, proses, pengemasan, dan mengirimkannya kepada pelanggan. Proses manajemen supply chain dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Monczka, et. al., 2011:14-15).

(2)

Gambar 2.1 Supply Chain Management Sumber: Monczka, et. al. (2011:14-15)

Berdasarkan gambar di atas menunjukkan bahwa dalam supply chain management terdapat Inbound logistic yang berhubungan dengan supplier.

Aktivitas dalam supply chain terdapat aktivitas penting yaitu aktivitas utama dan aktivitas pendukung. Aktivitas utama terdiri dari Inbound Logistic, Operation, Outbound Logistic, Marketing and Sales dan Customer Service.

2.2 Konsep Dasar Inbound Logistic 2.2.1 Definisi Inbound Logistic

Robinson menyatakan Inbound logistic adalah aktivitas yang berhubungan dengan pengadaan barang-barang material, bahan baku, suku cadang, barang dagangan dan perlengkapan lainnya dari pemasok seperti penyimpanan distribusi input dari pemasok, inspeksi, dan manajemen persediaan (Robinson, 2007:209).

Menurut Thompson and Martin (2005:167) Inbound Logistic adalah segala

Aktivitas Pendukung

Infrastruktur Perusahaan Manajemen Sumber Daya Pengembangan Teknologi

Pembelian

Inbound

Logistics Operation

Outbound Logistics

Marketing and Sales

Customer Service

Aktivitas Utama (Primary Activity)

Material / Supply management Channel Mangement

Total Supply Chain/Total Logistics Management Informasi Material dan

Pelayanan

Costumer s Supplier

(3)

kegiatan yang berkaitan dengan menerima, menyimpan dan mendistribusikan internal input ke produk atau layanan seperti pergudangan, kontrol stok dan sistem transportasi internal.

Kedua pendapat di atas memiliki kesamaan dalam mendifinisikan Inbound Logistic. Kesamaan definisi Inbound Logistic adalah aktivitas atau kegiatan berkaitan dengan penerimaan, penyimpanan, dan penyebaran input ke produk atau layanan yang terdapat dalam pergudangan dan pengendalian internal. Inbound Logistic memiliki langkah-langkah atau prosedur yang dijalankan untuk memperlancar dalam kegiatan bisnis.

Inbound Logistics dikonsentrasikan dengan produk (misalnya bahan mentah, suku cadang, merakit dan lain-lain) bergerak ke dalam sebuah perusahaan. Ketika produk sudah siap kemudian ada penanganan khusus untuk mendistribusikan dalam perusahaan atau luar perusahaan. Pada penelitian ini memfokuskan tiga komponen pada Inbound Logistic yaitu pengadaan logistik, penyimpanan logistik dan pengendalian penyimpanan.

2.2.2 Aktifitas Inbound Logistik

Sahaf menyatakan aktifitas utama dalam Inbound Logistic adalah efektivas rantai pasokan manajemen (hubungan vendor, kontak), Kualitas barang dan sistem pengendalian persediaan. Efisiensi aktivitas-aktivitas pergudangan barang mentah (Sahaf, 2013:83). Ada beberapa aktivititas Inbound Logistic pada perusahaan- perusahaan manufaktur, retail, jasa dan lain-lain. Menurut Thompson dan Martin (2005:167) Inbound Logistic merupakan kegiatan yang berkaitan dengan menerima, menyimpan dan mendistribusikan internal input ke produk atau layanan, termasuk pergudangan, kontrol stok dan sistem transportasi internal.

Menurut Phadtare (2011:62), aktivitas Inbound Logistic pada perusahaan manufaktur terdiri dari penerimaan atau pengadaan logistik, penyimpanan, penanganan bahan baku, pergudangan, dan pengendalian.

(4)

Gambar 2.2 Bagan Aktivitas Inbound Logistik Sumber: Diolah dari Phadtare (2011)

2.2.2.1. Penerimaan Logistik

Aktivitas logistik perusahaan yang terlibat dalam pengadaan logistik atau material, mengubahnya menjadi produk jadi atau setengah Jadi dan mendistribusikakannya kepada pelanggan. Perusahaan-perusahaan melakukan koordinasi dengan pemasok secara kontinyu untuk melakukan persediaan logistik. Pengadaan logistik menjadi unsur penting proses logistik yang masuk ke perusahaan (Cannon et. al. 2009:14).

Pengadaan terdiri dari semua aktivitas-aktivitas bermanfaat untuk memperoleh barang-barang dan konsisten dengan persyaratan pemakai.

Aktivitas pertama adalah penerimaan transaksi, yang umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna invididu atau departemen. Kebutuhan dapat didentifikasi oleh beberapa area jenis fungsi di perusahaan atau bahkan oleh seseorang di luar misalnya pelanggan. Suatu kebutuhan yang telah ditentukan dengan persyaratan harus di persentasikan oleh beberapa kriteria pengukuran. Penggunaan kriteria ini, profesional penerimaan dapat mengkomunikasikan kebutuhan-kebutuhan pengguna dan potensi pemasok- pemasok. Sebelum pemasok-pemasok di luar diminta, perusahaan harus memutuskan ya atatu tidak untuk membeli produk atau melayani kepuasan kebutuhan-kebutuhan pengguna. Tipe kebutuhan penerimaan untuk memuaskan pengguna kebutuhan akan menentukan antara waktu

Penerimaan Penyimpanan

Penanganan

Pergudangan Pengendalian

Aktivitas Pendukung

(5)

dibutuhkan untuk penerimaan proses dan kompleksitas proses. Selanjutnya aktivitas penerimaan kiriman produk terjadi dengan usaha pemasok atau pemasok untuk memuaskan pemakai kebutuhan. Pengiriman produk dari pemasok harus dievaluasi untuk menentukan pilihan kualitas produk yang dikirim pemasok (Coyle et. al. 2003:119-121).

Proses penerimaan logistik dalam perusahaan yang di atas selanjutnya disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut;

Gambar 2.3 Proses Pengadaan Logistik Perusahaan Sumber: Coyle et. al. (2003:119-121)

Analisis Kebutuhan - Identifikasi kebutuhan - Persyaratan pengguna

Keputusan pembelian Membuat

keputusan

Membeli beberapa komponen Pembelian

Produk atau pengiriman layanan Tipe penerimaan;

- Pembelian ulang - Pembelian perbaikan - Pembelian baru

Evaluasi kinerja penerimaan Suplier

(6)

2.2.2.2. Penyimpanan Logistik

Penyimpanan barang biasanya dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan gudang, baik gudang milik perusahaan maupun gudang milik umum yang disediakan untuk disewakan. Gudang merupakan tempat penyimpanan material, suku cadang, komponen pelengkap lainnya yang beroperasi pada suatu prosedur pendistribusian bagian perusahaan yang memerlukan dan mengelompokkan kembali. Praktik pergudangan yang baik adalah mengantarkan barang dari gudang sampai diproses, diolah dan disimpan (Gitosudarmo dan Mulyono, 1998:117).

Gudang penyimpanan logistik yang dibangun ukurannya harus sesuai dengan kebutuhan. Semakin banyak stok yang harus disimpan, semakin besar gudang yang diperlukan. Maka, kapasitas pendistribusian harus diketahui, agar dapat membantu penyimpanan dan penyediaan produk di gudang. Gudang yang dapat menampung barang sesuai dengan kapasitas akan membantu memperlancar pelaksanaan distribusi sebagai berikut (Royan, 2004:36);

a. Pengiriman dapat berjalan lancar dan pelanggan dapat menjual produk secara berkesinambungan.

b. Mencegah kunjungan salesman yang sia-sia, karena adanya keterlambatan pengiriman.

c. Mencegah terputusnya distribusi, karena kekurangan barang mengingat gudang tak memenuhi kapasitas.

d. Mencegah masuknya kompetitor yang disebabkan oleh kelalaian dalam penyimpanan barang misalnya barang rusak, habis berlakunya, dan produk dalam keadaan buruk.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan agar material tersimpan dengan baik. Langkah tersebut dapat digambarkan seperti di bawah ini (Wishnu, 2008:32-34);

a. Memeriksa dan melaporkan keadaan gudang sebelum difungsikan. Hal tersebut dilakukan pada saat awal gudang masih dalam kondisi kosong atau sebelum gudang diisi oleh material. Langkah ini dilakukan untuk

(7)

menghindari lokasi penyimpanan yang tidak sesuai untuk material yang disimpan pada gudang tersebut.

b. Memeriksa dan mengatur tata letak penyimpanan material di gudang.

Tata letak penyimpanan harus sesuai dengan kebutuhan untuk material.

Jika suatu material sering digunakan maka lokasi penyimpanannya sebisa mungkin tidak berada terlalu jauh dari lokasi produksi. Karena apabila meletakkan material yang sering digunakan pada lokasi yang jauh, maka akan membuang waktu dan tenaga yang banyak untuk proses pemindahan material.

c. Memeriksa dan memastikan bahwa perangkat kontrol gudang penyimpanan selalu pada kondisi baik. Koordinasi dilakukan pada departemen untuk menyediakan perangkat khusus yang dibutuhkan untuk penyimpanan. Misalnya perangkat yang dibutuhkan adalah pengukur suhu dan kelembaban udara.

d. Memeriksa kondisi gudang dan rak penyimpanan. Kondisi dan tempat penyimpanan dikontrol agar tidak mengurangi kualitas material yang disimpan. Kontrol kondisi gudang sebaiknya dilakukan secara berkala, semakin sering kontrol dilakukan akan memberikan hasil yang semakin baik. Kondisi gudang harus dikontrol antara lain, temperatur dan kelembapan.

2.2.2.3. Penanganan Logistik

Penanganan material tidak secara tepat dimasukkan dalam skema transportasi dan skema persediaan mengingat masalah penanganan material menyangkut seluruh aspek dari komponen logistik. Penanganan material atau barang harus terpadu terkait masalah penyimpanan material atau penyimpanan barang di seluruh sistem logistik. Dalam penanganan terhadap material ini merupakan suatu hal yang paling banyak memakan dan menyita tenaga kerja. Penanganan material dalam sistem logistik merupakan total biaya tertinggi (Gitosudarmo dan Mulyono, 1998:149-150).

Penanganan barang-barang merupakan hal penting untuk mengefisiensikan operasi pergudangan.

(8)

Penanganan bahan baku merupakan bagian penting dalam aktivitas inbound logistic, terutama berkaitan dengan perencanaan pergudangan, kegiatan pergudangan serta kebutuhan peralatan yang mendukung pelaksanaan aktivitas. Menurut Coyle et.al. (2003), penanganan bahan baku terdiri dari beberapa kegiatan pokok, antara lain:

a. Pemindahan bahan baku dari kendaraan yang digunakan untuk transportasi ke dalam gudang penyimpanan. Fasilitas ini banyak digunakan untuk transaksi pengiriman barang dari gudang asal ke gudang tujuan. Transportasi merupakan bagian penting dalam pengirimin bahan baku.

Transportasi dapat memudahkan pergerakan bahan baku dan produk yang masuk, keluar, dan di dalam perusahan. Transportasi difungsikan untuk memastikan bahwa bahan baku dan barang jadi dikirimkan pada waktu yang tepat dan dengan biaya yang minim (Laudon, 2008:14).

b. Penempatan bahan baku dalam gudang.

Penempatan bahan baku ke gudang disesuaikan denga kondisi material.

Untuk tembakau membutuhkan tempat yang kering. Gudang dapat dibagi berdasarkan kriteria masing-masing misalnya khusus untuk penyimpanan material B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) (Wishnu. 2008:31). Untuk gudang bahan tembakau disesuaikan dengan tembakau yang kondisinya masih kering atau lembab dan masih berwarna hijau atau sudah kering.

c. Pemindahan bahan baku dari area siap ambil ke area transportasi ke dalam kendaraan transportasi/pengiriman. Hal yang paling terpenting pada transportasi adalah seberapa cepat atau tepat waktunya pengiriman logistik sampai ke tujuan (Cateora dan Graham, 2007:193). Keputusan tranportasi yang digunakan juga tergantung pada ukuran pengiriman, rute pengiriman dan penjadwalan (Siagian, 2005:27).

2.2.2.4. Pergudangan

Dalam pergudangan penanganan barang-barang adalah aktivitas penting. Produk harus diterima, dipindah, dijual, disortir dan dikumpulkan.

Pergudangan terkait dengan penyimpanan barang. Tataletak pergudangan

(9)

yang efektif harus meminimalisir kehancuran dan kerusakan barang-barang yang ada digudang. Komponen tata letak pergudangan yang penting adalah hubungan antara wilayah penerimaan dan wilayah pemuatan. Desain fasilitasnya tergantung jenis barang atau muatan dikeluarkan. Perencanaan strategis terbaru untuk bidang pergudangan yaitu usaha untuk menghindari penempatan bahan baku atau barang-barang yang dipasok oleh pemasok dalam dalam fasilitas penyimpanan dengan cara memprosesnya pada saat diterima. Proses ini mampu melakukan penghematan uang dan waktu dengan cara memindahkan sejumlah besar barang dari satu dermaga ke dermaga lainnya, tanpa barang tersebut masuk ke gudang (Ma’arif dan Tanjung, 2003:219).

Pergudangan merupakan salah satu aktivitas inti dari kegiatan penyimpanan dalam inbound logistic selain manajemen inventori. Menurut Coyle et.al. (2003), aktivitas utama yang perlu diperhatikan dalam pergudangan antara lain:

a. Menentukan jumlah gudang yang diperlukan.

Jumlah gudang disesuaikan dengan kebutuhan penyimpanan. Namun harus ada pembagian ruang yang dapat diringkas sebagai berikut (Widyastuti, 2003:94);

1) Zona kedatangan: Tempat persediaan datang dan dibongkar

2) Zona pemilihan, klarifikasi, dan pencatan: Tempat tersebut ditujukan untuk pemilihan persediaan berdasarkan urutan prioritasnnya (Mendesak, tidak mendesak, tidak berguna).

3) Zona pengepakan dan persiapan pengantaran: Zona ini digunakan untuk menyiapkan persediaan yang akan diatan ke tujuan.

4) Area penyimpanan: area ini digunakan untuk menyimpan sumbangan dan persediaan lain yang belum memiliki tujuan yang ditetapkan.

5) Zona pengantaran: Zona ini digunakan untuk menempatkan persediaan yang sudah siap diantar.

(10)

b. Menentukan lokasi gudang.

Lokasi yang strategis dan luas untuk pemilihan gudang memudahkan transportasi pengiriman. Gudang pengantaran umum sering pemilihan letaknya pada pusat negara atau titik strategis dari suatu wilayah (Widyastuti, 2003:87).

c. Menentukan ukuran gudang.

Ukuran gudang yang dibutuhkan bergantung dengan kuantitas persediaan yang diperkirakan oleh manajemen. Dalam Operasi darurat biasanya sulit untuk memperkirakan jumlah yang akan masuk ke gudang, sebagai langkah terbaik yaitu memilih ruang atau gudang seluas mungkin (Widyastuti, 2003:89). Jadi dalam menentukan gudang sebaiknya dibuat lebih luas dari perkiraan ukuran masuknya logistik.

d. Menentukan kebutuhan peralatan gudang.

Gudang menyediakan peralatan-peralatan dapat difungsikan untuk kebutuha pergudanga, misalnya perangkat yang dibutuhkan adalah pengukur suhu dan kelembaban udara serta alat alat-alat lain yang dibutuhkan.

Bagian gudang memastikan ketersediaan ruangan. Perusahaan memilih dan memutuskan banyaknya persediaan yang harus dimiliki gudang (Hammer, 2001:62). Pembagian gudang juga didasarkan pada karakter khusus yang dimilkiki oleh material yang tersimpan didalamnya (Wishnu. 2008:31). Misalkan pada tembakau yang masih lembab atau belum kering, maka membutuhkan gudang yang berbeda-beda.

Pemilihan tipe gudang tergantung dari 4 tipe tergantung fungsinya (Widyastuti, 2003:87):

1) Gudang pengantaran umum: Gudang ini bertipe luas dan menjadi penyimpanan produk dalam jangka waktu yang lama atau hanya sampai produk itu dikirim ke gudang sekunder atau didistribusikan ke ke lapangan. Gudang pengantaran umum sering terletak pada pusat negara atau titik strategis dari suatu wilayah

2) Gudang Rotasi Lambat: Gudang tempat cadangan persediaan tidak mendesak disimpan, termasuk barang-barang yang tidak sering

(11)

diminta, seperti suku cadang, peralatan, perlengkapan, perkakas dan lain-lain.

3) Gudang Rotasi Cepat: Gudang tempat persediaan darurat yang cenderung berpindah masuk dan keluar dengan cepat, setiap harinya atau paling tidak dengan durasi yang cukup teratur. Gudang ini lebih umum berada dekat zona darurat, dan cenderung menyimpan barang- barang yang memerlukan distribusi yang segera di antara penduduk yang terkena bencana.

4) Gudang Pengumpulan Sementara: Gudang ini difungsikan dalam keadaan darurat, sudah lazim untuk menggunakan ruang apapun yang ada untuk meletakkan bantuan yang datang dari ruangan yang lebih tepat ditemukan. Gudang pengumpulan sementara dapat digunakan untuk memilah dan mengklarifikasikan sumbangan yang dikirim ke gudang hanya barang-barang yang dipandang berguna.

2.2.2.5.Pengendalian Inventory

Pengendalian persediaan (inventory) merupakan pengumpulan komoditas yang akan digunakan untuk memenuhi permintaan dari waktu ke waktu. Bentuk persediaan tersebut dapat berupa bahan mentah, komponen, spare part, barang setengah jadi dan lain-lain (Aminudin, 2005:146).

Inventory control menurut Wishnu merupakan proses inventarisasi seluruh material yang tersimpan dalam gudang atau area penyimpanan. Semua material yang tersimpan harus terdata dengan akurat. Tidak cukup menyebutkan jumlah, namun juga nam material, suplier, part number, serial number, self life, dan sebagainya. Selain itu operator yang memiliki tugas pada proses ini juga harus memastikan bahwa semua material yang akan digunakan sudah siap. Kejadian dilapangan yang sering adalah material dinyatakan dalam database, namun aktual di lapangan tidak ada. Akhirnya pada saat kondisi mendesak digunakanlah material lain yang diperkirakan memiliki fungsi dan karakter yang sama. Tahapan inventory yang sempurna dapat dilakukan sebagai berikut (Wishnu, 2008:3-8).

(12)

a. Tahapan persiapan material; Merupakan tahapan untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk penyimpanan material. Yang harus dipersiapkan adalah identifikasi material, pemeriksaan kualitas material dan kondisi penyimpanan.

b. Tahap penyimpanan material; Merupakan aturan cara menyimpan material sesuai dengan karakter material dan kondisi gudang yang ada, terutama ketika kedatangan material baru.

c. Tahap tindak lanjut Status Material; Hasil pemeriksaan untuk setiap kedatangan material akan menentukan material tersebut sesuai degan kualitas yang diharapkan atau tidak. Pemeriksaan kualitas material dilakukan secara rutin pada saat material tersebut baru tiba dan sebelum dimasukkan ke gudang penyimpanan.

d. Tahap pengeluaran material; Merupakan aturan mengenai pengeluaran material dari gudang penyimpanan. Pada proses inventory, kegiatan ini hanya terfokus pada pencataan saja.

Fungsi pengendalian persediaan menurut Aminudin terdapat dua fungsi diantaranya sebagai berikut (Aminudin, 2005:146);

a. Siklus persediaan (Inventory Cycle)

Siklus persediaan berkaitan dengan membeli atau menyediakan dalam jumlah lebih besar dari yang dibutuhkan. Dengan alasan ekonomis dengan jumlah yang besar akan mendapatkan diskon yang besar pula.

Disamping itu hambatan-hambatan berupa faktor teknologi, transportasi dan lain-lain.

b. Persediaan pengamanan (Safety Stock)

Mencegah ketidaktentuan persediaan yang artinya sebelum persediaan habis harus mempersiapkan sejumlah persediaan, jika di suatu saat ternyata persediaan habis kita harus mempersiapkan sejumlah persediaan.

Jika ternyata persediaan logistik habis sedangkan pemesanan kembali tidak dapat tersedia ketika itu. Peristiwa tersebut akan timbul stock out cost (biaya pengganti atau biaya kehabisan barang) yang tidak kecil.

Menurut Coyle et.al. (2003), pengendalian persediaan memiliki dua dimensi utama, yaitu:

(13)

a. Memastikan tingkat persediaan yang memadai.

Dimensi ini memerlukan pengontrolan atas tingkat persediaan yang ada dan pengontrolan atau pengetahuan atas jadwal penerimaan, sehingga dapat menjamin tingkat persediaan yang selalu memadai. Apabila logistik habis sudah dipersiapkan sejumlah persediaan sebelumnya untuk menghindari kehabisan barang atau logistik (Aminudin, 2005:146). Jadi perusahaan mempersiapkan logistik apabila ada barang yang ke luar atau dikirim, sehigga stok barang di gudang tersedia terus.

b. Sertifikasi akurasi persediaan.

Dimensi ini meliputi kebutuhan atas berbagai peralatan dan perlengkapan yang mendukung pelaksanaan pengontrolan persediaan. Peralatan- peralatan dengan teknologi modern akan mempermudah pengontrolan.

Teknologi informasi yang dapat memfasilitasi dan mempercepat proses pengambilan dan pengontrolan ketersediaan barang (Sujana, 2012:119).

Aktivitas-aktivitas utama dia atas perlu didukung dengan aktivitas-aktivitas pendukung. Aktivitas pendukung yang memiliki keterkaitan dengan Inbound logistic adalah sebagai berikut;

1. Strategi Pembelian

Pembelian bahan baku harus memperhatikan indikator-indikator pembelian supaya dapat efisien. Indikator-indikator tersebut adalah (Indrajit dan Djokopranoto, 2002:39);

a. Pengembangan alternatif sumber pengadaan untuk mengurangi ketergantungan

b. Efektivitas dan efisiensi pengadaan bahan baku, bahan penolong, bahan keperluan operasi, dan sebagainya dalam arti mutu, waktu, dan harga c. Efektivitas dan efisiensi prosedur pengadaan barang

d. Pengembangan kriteria pilihan antara membeli, menyewa atau sewa guna

e. Hubungan kepada para pemasok kunci.

2. Suplier atau Pemasok

Pemasok adalah perusahaan yang menyediakan barang untuk dijual.

Dalam prakteknya, terdapat kemungkinan proses pembelian baran kepada

(14)

pemasok proses pembelian barangnya secara tunai atau kredit. Jika pembelian secara kredit berarti memiliki hutang kepada suplier (Muhlis dan Anggraini, 2010:5).

3. Transportation

Tranportasi menciptakan nilai suatu produk. Kegunaan secara umum memaksimalkan sistem pergudangan dan cara pengiriman produk sampai ke konsumen dan memuaskan konsumen. Transportasi menjadi salah satu faktor penting yaitu ketepatan waktu, karen mencerminkan seberapa cepat dan tepat produk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Faktor ketepatan waktu dan ketepatan jasa jika produk dibutuhkan tersedia (Siagian, 2005:98).

4. Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen sumber manusia merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Proses ini terdapat dalam fungsi atau bidang produksi, pemasaran, keuangan, maupun kepegawaian (Rivai dan Sagala, 2009:1). Dari beberapa proses tersebut, rencana sumber daya manusia merupakan proses pertama yang menjadi dasar bagi penyusunan program kerja bagi satuan kerja yang menangani sumber daya manusia di perusahaan. Perencanaan sumber daya manusia sebagai proses mengenai pembuatan kebijakan baru, sistem, dan program yang menjamin pengolahan sumber daya manusia di bawah kondisi yang tidak pasti (cepat berubah).

Perencanaan sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat penting dalam rangka mengantisipasi perubahan staf dan keperluan perusahaan (Rivai dan Sagala, 2009:32).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan manajemen sumber daya manusia diperlukan untuk menjamin ketersediaan sumber daya manusia yang tepat untuk menduduki berbagai posisi di perusahaan dalam rangka mendukung tercapainya tujuan dan sasaran perusahaan. Menurut Rivai dan Sagala (2009:32) salah satu aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan sumber daya manusia adalah manajemen karir. Manajemen karir menyediakan suatu proses koordinasi

(15)

untuk pengangkatan, seleksi dan penempatan, promosi dan pertukaran, latihan dan pengembangan, serta kegiatan lainnya yang mempengaruhi perencanaan dan pengembangan karir seseorang.

Ada beberapa tujuan dari perencanaan karir sumber daya manusia, yaitu:

a. Meluruskan strategi dan syarat-syarat karyawan intern

Dengan membantu karyawan di dalam perencanaan karir, maka departemen sumber daya manusia dapat mengantisipasi rencana kerjanya serta mendapatkan bakat yang diperlukan untuk mendukung strategi perusahaan.

b. Mengembangkan karyawan yang dapat dipromosikan

Perencanaan karir membantu di dalam proses penyediaan internal bakat-bakat karyawan yang dapat dipromosikan guna memenuhi lowongan yang disebabkan oleh pensiun, pengunduran diri, dan pertumbuhan.

c. Mengurangi pergantian

Meningkatkan perhatian dan kesepakatan karyawan akan loyalitas terhadap perusahaan serta mengurangi tingkat pengunduran diri.

d. Menyaring potensi karyawan

Perencanaan karir mendorong karyawan untuk lebih selektif di dalam menggunakan kemampuannya karena mereka mempunyai tujuan yang lebih khusus (Rivai dan Sagala, 2009:269).

Selain pengembangan karir dalam pengelolaan manajemen sumber daya manusia ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: (Indrajit dan Djokopranoto, 2002:38);

a. Efektivitas prosedur Rekrutmen, pelatihan dan pengembangan karir b. Kelayakan Sistem penghargaan dan sanksi untuk memberikan motivasi c. Pemeliharaan lingkungan kerja

d. Hubungan dengan serikat buruh

e. Tingkat kepuasan kerja dan motivasi para karyawan

Peningkatan SDM perlu memperhatikan aspek penggajian dan kompensasi. Tujuan atau sasaran yang dicapai dalam sistem penggajian

(16)

dirancang secara tepat guna atau efektif. Cara yang terbaik yaitu dengan menggunakan Visi peruasahaan sebagai acuan utama. Pada dasarnya acuan yang dapat dijadikan perusahaan adalah sebagai berikut (Ruky, 2006:24- 25):

a. Mampu menarik tenaga berkualitas dan mempertahankanya agar tidak pindah.

b. Memberikan motivasi tenaga kerja yang baik itu untuk berprestasi tinggi. Sistem imbalan harus dirancang sedemikian rupa agar mampu merangsang atau meningkatkan gairah kerja.

c. Mendorong meningkatnya SDM

d. Membantu mengendalikan biaya imbalan tenaga kerja.

Pencapaian visi di atas pada sistem imbalan harus memenuhi persyaratan seperti keadilan, Atraktif atau kompetitif, Tepat / mudah / dan mutakhir, mematuhi ketentuan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah, dan cukup dan layak. Kelayakan penggajian bagi tiap orang berbeda maka disesuaikan denngn status ekomomi dan sosial mereka (Ruky, 2006:26-27).

Perubahan iklim perusahaan seperti penyederhanaan dapat mengakibatkan dampak secara langsung terhadap manajemen SDM terkait berkurangnya jabatan-jabatan perusahaan. Setiap pekerja dengan perubahan tingkat keahlian dan pendidikan para pekerja menginginkan peningkatan karier yang lebih tinggi, sedangkan untuk jenjang karir di perusahaan semakin semakin sempit maka dapat menyebabkan menurunnya semangat kerja karyawan dan persaingan antara perusahaan untuk menduduki posisi.

Untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan perlu membuka jenjang karir bagi karyawan yang jelas, sebab sebagai bentuk motivasi dari karyawan dalam meningkatkan kinerjanya (Hariandja, 2002:35).

Sistem kompensasi di luar penggajian serta upah yang bersifat tetap dan tunjagan-tunjangan lainya. Kompensasi dapat memicu SDM dalam meningkatkan kinerja, tetapi kompensasi bukan satu-satunya untuk memotivasi kinerja para pekerja. Dalam konteks teori dan praktek sistem insentif mempunyai beberapa bentuk. Bentuk-bentuk kompensansi yang mengacu individu atau pekerja adalah (Hariandja, 2002:266-267):

(17)

a. Peace Rate Plan: Insentif ini didasarkan pada jumlah barang yang dihasilkan seseorang.

b. Production Bonus: Tambahan yang diterima akibat hasil kerjanya melebihi standar

c. Commission: Insentif yang diberikan didasarkan pada jumlah barang yang terjual

d. Maturiy Curve: Insentif yang didapatkan dengan disesuaikan masa kerja dan tingkat profesionalitas.

5. Pengembangan Teknologi

Teknologi juga berperan penting terhadap inbound logistic. Adapun indikator-indikator dari penggunaan teknologi adalah sebagai berikut (Indrajit dan Djokopranoto, 2002.38-39);

a. Keberhasilan aktivitas

b. Kualitas hubungan kerja antara karyawan dengan karyawan yang lain c. Ketepatan waktu dalam aktivitas riset dan pengembangan

d. Mutu labotaroium dan fasilitas lainnya

e. Kualifikasi dan pengalaman kerja para teknisi

2.3 Penelitian Terdahulu

1. Roman, Paulina dan Veronika (2013)

Penelitiannya yang berjudul ”Production and Logistics Performance of Czech and Slovak Companies”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses logistik, metode industri rekayasa, metode dan evaluasi manufaktur, perangkat lunak yang digunakan untuk pengukuran dan manajemen kinerja, yang saat ini diterapkan di perusahaan manufaktur di Ceko dan Republik Slowakia. Analisis ini dilakukan dengan pemanfaatan penelitian kualitatif yang dilakukan di 80 perusahaan manufaktur yang dipilih pada tahun 2009. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa aktivitas logistik di perusahaan manufaktur mengalami peningkatan frekuensi dalam hal aktivitas pengemasan, pergudangan, transportasi, pemilihan rute distribusi, perencanaan program produksi, dan perencanaan dan pengadaan pasokan.

(18)

2. Murthy, Sankar dan Bondada (2014)

Melakukan penelitian dengan judul “Supply Chain Management Model for NFCL and Fertilizer Industry”. Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan model manajemen rantai pasokan terpadu untuk logistik inbound dan outbound dari Nagarjuna Fertilizer and Chemicals Limited (NFCL) di Andhra Pradesh, India. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem manajemen rantai pasokan NFCL dan industri pupuk pada umumnya harus dimodernisasi dengan model baru yang lebih efektif dan efisien.

3. Khabbazi, Hasan, Sulaiman, Shapi’i dan Eskandari (2013)

Penelitian yang dilakukan berjudul “Inbound Logistics Data Transaction System Modelling in SME’s: Transition From BPM to Data Modelling.

Penelitian ini berfokus pada menangkap semua sistem data transaksi- proses berbasis tingkat tertinggi abstraksi dalam kegiatan logistik masuk dalam lingkungan UKM. Sebagai alat pemodelan proses bisnis Tujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dan melihat analisis dari sistem, Data Flow Diagram (DFD) adalah dipilih karena fitur khusus yang menggambarkan gerakan informasi dan satu set lengkap diagram yang dihasilkan termasuk Konteks, Level 0 dan Level 1 diagram. DFD yang diusulkan untuk masuk logistik Sistem memberikan pemandangan transisi untuk sistem yang tidak mudah dicapai hanya melalui bisnis proses pemodelan (BPM) di identifikasi dependensi data, komponen sistem dan data bundel rincian spesifikasi yang diperlukan untuk pemodelan berorientasi objek dan berbasis modul data konseptual dan logis usaha. Berdasarkan tujuan penelitian, hasil yang didapatkan berupa identifikasi atas semua komponen sistem beserta data inbound logistic yang digunakan oleh UKM yang menjadi objek penelitian.

(19)

2.4 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan uraian rangkaian teori yang telah dijelaskan, maka kerangka pemikiran pada penelitian ini ialah sebagai berikut:

Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran Penelitian

Aktivitas Pendukung:

1. Suplier

2. Strategi pembelian 3. Transportasi 4. Manajemen SDM 5. Pengembangan

Teknologi

CV. Karya Bakti

Aktivitas Primer:

1. Penerimaan 2. Penyimpanan 3. Penanganan 4. Pergudangan 5. Pengendalian

Inventory

Implementasi Aktivitas Inbound Logistic di CV. Karya Bakti

Referensi

Dokumen terkait

Kemampuan saya menyelesaikan tugas yang lebih baik dan lebih cepat dengan menggunakan komputer.. Sangat tidak baik

Menurut Veronika Whardana (2009, p. 3), “display merupakan fasilitas untuk memamerkan sebuah produk atau tampilan yang dipamerkan dalam toko untuk membuat suatu ruangan

Sengketa pajak dapat berupa sengketa pajak formal maupun sengketa pajak material, yang dimaksud dengan sengketa pajak formal yaitu sengketa yang timbul apabila Wajib Pajak

Selain itu, value relevance digunakan untuk mengkaji apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi yang

Suatu proyek konstruksi yang berskala besar dituntut adanya manajemen yang baik agar menghasilkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, di mana proyek merupakan suatu

Penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu apakah pemberitaan konflik di Lampung Selatan dalam media online Tribun Lampung pada bulan Oktober 2012 sampai November 2012

Isochrone dapat digunakan untuk mengetahui usia gugus bintang dikarenakan anggota gugus memiliki usia yang hampir sama.Perbandingan beberapa usia isochrone dengan HR diagram

Madcoms mengemukakan bahwa PHP (Hypertext Preprocessor), merupakan bahasa pemrograman pada sisi server yang memperbolehkan programmer menyisipkan perintah-perintah