• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Perkembangan International Financial Reporting Standards (IFRS) di Nigeria

Perkembangan standar akuntansi internasional dimulai di tahun 1973 dengan dibentuknya International Accounting Standards Committee (IASC) yang sekarang dikenal dengan nama International Accounting Standards Boards (IASB) (Sacho dan Oberholster, 2008). IASB adalah badan yang mengembangkan standar baru yang dikenal dengan nama International Financial Reporting Standards. IFRS sudah diadopsi oleh 166 negara, yang penyebarannya meliputi 44 negara di Eropa, 38 negara di Afrika, 47 negara di Asia, serta 37 negara di Amerika (IFRS Foundation, 2017).

Nigeria adalah negara yang juga mengadopsi IFRS sebagai standar akuntansi keuangan. Sebelum mengadopsi IFRS, Nigeria mempunyai dewan yang menetapkan standar akuntansi yang disebut Nigerian Accounting Standards Board (NASB). NASB didirikan pada tahun 1982 sebagai sektor swasta yang terkait dengan Institute of Chartered Accountants of Nigeria (ICAN). Pada tahun 1992, NASB menjadi bagian dari pemerintahan di Nigeria. NASB awalnya menetapkan standar akuntansi di Nigeria menggunakan Statement of Accounting Standards (SAS) dan telah menerbitkan 32 standar akuntansi. Pada tahun 2011, Financial Reporting Council of Nigeria (FRCN) yang didirikan oleh Financial Reporting Standards Act sebagai badan yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan standar akuntansi keuangan untuk semua perusahaan di Nigeria (www.ifrs.org).

Pada tahun 2012, Nigeria memutuskan untuk mulai menerapkan IFRS sebagai standar akuntansi mereka. Adopsi IFRS di Nigeria dimulai dengan adanya konferensi Abuja yang diadakan pada tahun 2010. Tujuan konferensi Abuja adalah tentang pembahasan penerapan IFRS yang dimulai pada tahun 2012, pengalaman pemerintahan negara lain yang sudah lebih awal mengadopsi IFRS, dan rekomendasi solusi untuk mengatasi tantangan bagi pemerintahan Nigeria (Okaro dan Tauringan, 2015). Tahap adopsi IFRS di Nigeria dimulai dengan perusahaan yang terdaftar di bursa efek Nigeria dan significant public interest pada Januari

(2)

tahun 2012. Dilanjutkan dengan public interest entities pada tahun 2013 dan tahap terakhir untuk perusahaan kecil dan menengah (SMES) pada tahun 2014 (IFRS Foundation, 2017). Penerapan IFRS di Nigeria diterapkan pada semua perusahaan publik termasuk perusahaan yang dikelola oleh pemerintah serta organisasi nirlaba (IFRS Foundation, 2017).

Alasan Nigeria menerapkan IFRS sebagai standar akuntansi keuangan adalah karena pertumbuhan perdagangan internasional dan bisnis global. Bisnis di Nigeria lebih banyak mengarah ke transaksi internasional dan perusahaan akuntansi di Nigeria sudah mulai mengikuti perusahaan klien yang berkembang di luar negeri (Jayeoba dan Ajibade, 2016). Bisnis membutuhkan bahasa akuntansi yang bisa dimengerti oleh masyarakat global. Standar akuntansi keuangan adalah syarat untuk menarik investor asing yang dapat dicapai dengan konvergensi standar akuntansi keuangan (Jayeoba dan Ajibade, 2016). Oleh karena itu, konvergensi IFRS dibutuhkan untuk mendukung bisnis internasional di Nigeria.

2.2 Manfaat dan Biaya Pengadopsian International Financial Reporting Standards (IFRS)

Pengadopsian IFRS memberikan manfaat bagi laporan keuangan, yang diantaranya adalah penerapan IFRS dapat meningkatkan value relevance (Garcia, Alejandro, Saenz, dan Sanchez, 2016; Uwuigbe, Uwuigbe, Durodola, Jefaro, dan Jumoh, 2017), menurunkan manajemen laba (Ismail, Kamarudin, Zijl, dan Dunstan 2013), meningkatkan komparabilitas dan tranparansi dalam laporan keuangan (Uzma, 2016; Daske, 2006), serta meningkatkan kualitas pelaporan keuangan (Kouser & Azeem, 2011). IFRS dapat meningkatkan komparabilitas karena IFRS merupakan standar global yang dapat dibandingkan antar negara maupun antar perusahaan. Terdapat juga penelitian yang dilakukan oleh Landsman, Maydew, dan Thornock, 2012 yang menyatakan bahwa manfaat IFRS terbagi menjadi tiga aspek, yaitu meningkatkan isi informasi, mengurangi kesalahan dalam melaporkan laporan keuangan, dan menambah investasi asing.

Disisi lain, penerapan IFRS juga memunculkan biaya yang cukup besar, antara lain adalah meningkatnya transition cost (Taylor, 2009), audit fee (George, 2013; Loyeung, 2016) dan biaya yang terkait dengan pelatihan karyawan serta

(3)

penggantian sistem dan software komputer. Penerapan IFRS meningkatkan biaya audit untuk mengelola resiko yang berkaitan dengan salah saji, resiko litigasi, dan lamanya proses audit yang akan berpengaruh pada fee yang dibebankan pada akuntan (George, 2013). Meskipun penerapan IFRS menimbulkan biaya, tapi manfaat yang didapatkan juga cukup banyak bagi laporan keuangan.

2.3 Perbedaan antara International Financial Reporting Standards (IFRS) dan Statement of Accounting Standards (SAS)

Statement of Accounting Standards adalah standar akuntansi yang digunakan oleh Nigeria sebelum mengadopsi IFRS. Sebelum mengadopsi IFRS, Nigerian Accounting Standard Board (NASB) adalah badan independen yang diakui oleh Nigeria untuk pengembangan dan penerbitan SAS. NASB sebagai badan yang menetapkan standar akuntansi di Nigeria telah menerbitkan 32 standar.

IFRS dan SAS memiliki beberapa perbedaan, yang antara lain adalah bentuk laporan keuangan yang dilaporkan. Bentuk laporan keuangan yang dilaporkan oleh IFRS adalah Statement of financial position, income statement, statement of other comprehensive income, statement of changes in equity, statement of cash flows, accounting policies, dan explanatory notes (Jayeoba dan Ajibade, 2016). Sedangkan laporan keuangan yang dilaporkan oleh SAS adalah Balance sheet, profit or loss account (income statement), statement of cash flows, accounting policies, explanatory notes, value added statement dan five year financial statement summary (Or&C, 2011).

Penggunaan IFRS lebih menekankan pada fair value (Ismail, Kamarudin, Zijl, dan Dunstan, 2013) yang berarti menggambarkan kondisi saat ini. Fair value dapat meningkatkan transparansi (Man, Ravas, dan Gadau, 2011). IFRS merupakan standar global yang digunakan oleh lintas negara (Bova dan Pereira, 2012) yang menyebabkan meningkatnya komparabilitas. Selain itu, IFRS juga dapat membatasi keleluasaan manajemen sehingga dapat meningkatkan transparansi dalam laporan keuangan (Bova dan Pereira, 2012). Fair value mengarah pada kejelasan dan relevansi dari pelaporan keuangan (Penman, 2007).

Sedangkan SAS menggunakan historical cost (Or&C, 2011) yang mengukur

(4)

berdasarkan transaksi yang sudah terjadi. Historical cost dianggap tidak mencerminkan realitas atau situasi pasar saat ini. Tapi, historical cost lebih mudah dimengerti karena berdasarkan pada harga tetap yang sudah diketahui (Jaijairam, 2013).

IFRS menerapakan principle based yang menyediakan pedoman umum sehingga dapat digunakan dalam berbagai situasi oleh para akuntan (Mir dan Nekoueizadeh, 2015). Selain itu, principle base juga memperbolehkan penerapan penilaian profesional dari para akuntan yang dapat membuat laporan keuangan lebih informatif untuk digunakan (Azim dan Ahmed. 2015; Mir dan Nekoueizadeh, 2015).

2.4 Kualitas Laba, Pasar Saham Nigeria, dan Value Relevance

Pasar modal Nigeria adalah pasar keuangan utama yang menyediakan fasilitas untuk memobilisasi dana jangka menengah dan jangka panjang ke perusahaan yang terdaftar untuk pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pasar modal Nigeria telah efektif mendorong kegiatan ekonomi di Nigeria sejak tahun 1960. Terdapat 170 emiten yang terdaftar pada bursa efek Nigeria. Pada pertengahan 2017, investasi asing pada pasar modal di Nigeria mengalami kenaikan karena adanya kenaikan GDP sebanyak 0,55% dari tahun sebelumnya.

Investasi domestik pada pasar modal Nigeria juga meningkat sebanyak 32,99%

(PWC, 2017). Kapitalisasi bursa efek Nigeria adalah sebesar $ 37,52 miliar dollar Amerika per Maret 2018. Peningkatan investasi berarti mencerminkan bahwa adanya ketertarikan investor untuk melakukan investasi dan berarti investor mempunyai respon positif. Indikator investor merespon atau tidak dapat dilihat dari perubahan harga saham (Tsalavoutas & Dionysiou, 2014).

Menurut akuntansi, kualitas laba adalah kewajaran dari seluruh nilai laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan (Radzi, Islam, dan Ibrahim, 2011).

Kualitas laba merupakan indikator yang penting untuk mengukur kinerja perusahaan karena semakin tinggi kualitas laba akan menggambarkan peningkatan kinerja perusahaan tersebut (Machdar, Manurung, dan Murwaningsari, 2017).

Kualitas laba sebuah perusahaan dapat dilihat dari value relevance informasi akuntansi karena kualitas laba merupakan bagian dari informasi akuntansi.

(5)

Value relevance sendiri diartikan sebagai kemampuan informasi akuntansi dalam menggambarkan nilai perusahaan sehingga informasi akuntansi tersebut dapat mempengaruhi keputusan investor yang tercermin dari perubahan stock price (Francis & Schipper, 1999). Value relevance dirancang untuk menilai apakah jumlah akuntansi tertentu dapat mencerminkan informasi yang digunakan investor dalam menilai ekuitas perusahaan (Barth, Beaver, dan Landsman, 2001).

Selain itu, value relevance digunakan untuk mengkaji apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi yang membuat investor dan pengguna laporan keuangan untuk mengambil keputusan (Outa, Ozili, dan Eisenberg, 2017). Menurut Felix dan Rebecca (2015), informasi akuntansi akan mempunyai value relevance jika menggambarkan informasi yang dapat mempengaruhi harga saham.

Penelitian ini mengacu pada model penelitian Ohlson (1995) untuk mengukur value relevance. Penelitian yang dilakukan oleh Cheebane dan Othman (2014); Okafor, Andersen, dan Warsame (2016) juga mengacu pada model Ohlson (1995) yang menyatakan bahwa value relevance merupakan hubungan antara book value of equity per share (BVPS) dan earnings per share (EPS) dengan respon investor yang dicerminkan dengan stock price. Tapi, pada penelitian ini akan ditambahkan operating cash flow per share dan leverage sebagai variabel tambahan sehingga model yang digunakan adalah

S𝑃𝑖,𝑡 = 𝛽0+ 𝛽1𝐵𝑉𝑃𝑆𝑖,𝑡 + 𝛽2𝐸𝑃𝑆𝑖,𝑡 + 𝛽3 𝑂𝐶𝐹𝑖,𝑡+ 𝛽𝐿𝐸𝑉𝑖,𝑡 + 𝜀𝑖 ,𝑡 (2.1)

SPi,t : stock price perusahaan i pada tahun t;

BVPSi,t : book value equity per share perusahaan i pada tahun t;

EPSi,t : earning per share perusahaan i pada tahun t;

OCFI,t : operating cash flow perusahaan i pada tahun t;

LEVI,t : leverage perusahaan i pada tahun t;

𝜀𝑖,𝑡 : error

2.5 Respon Investor

Ketika investor menggunakan informasi akuntansi sebagai dasar untuk pengambilan keputusan, berarti investor merespon dan mempercayai isi dari infromasi akuntansi tersebut (Murtini dan Lusiana, 2016). Indikator investor

(6)

merespon atau tidak dapat dilihat dari harga saham (Tsalavoutas & Dionysiou, 2014). Stock price adalah harga yang harus dibayarkan oleh investor untuk membeli atau menjual sebuah saham. Harga saham dapat menggambarkan penilaian investor atas informasi yang relevan yang terkait dengan perusahaan (Houlthasen dan Watts, 2001). Menurut Holthausen & Watts, 2001; Suadiye, 2012 informasi akuntansi akan dianggap memiliki value relevance jika stock price bereaksi karena informasi tersebut. Penelitian ini mengukur harga saham yang dilihat dari rata – rata harga saham selama 10 hari setelah tanggal publikasi laporan keuangan karena semakin pendek waktu rata – rata harga saham yang digunakan akan membatasi informasi lain yang dapat mempengaruhi harga saham sehingga respon investor dapat terlihat dari perubahan harga saham (Cardamone, Carnevale, dan Giunta, 2012). Harga saham dapat diukur dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

𝑆𝑃 = 10𝑡=1𝑆𝑃𝑡

10 (2.2)

2.6 Informasi Akuntansi

Informasi akuntansi yang mempunyai value relevance adalah informasi yang dapat mempengaruhi keputusan investor yang terlihat dari perubahan harga saham (Francis & Schipper, 1999). Informasi akuntansi mempunyai nilai relevansi lebih tinggi setelah pengadopsia IFRS dibandingkan dengan sebelum pengadopsian IFRS (Umoren dan Enang, 2015; Uwuigbe, Uwuigbe, Durodola, Jafaru, dan Jimoh, 2017). Value relevance informasi akuntansi dapat diukur dengan menggunakan EPS, BVPS, LEV, CFO/share (Chebaane dan Othman, 2014; Outa, Ozili, dan Eisenberg., 2017).

Earning per share (EPS) adalah ukuran yang digunakan oleh perusahaan dalam melakukan penilaian terhadap hasil kinerja perusahaan dan dapat dijadikan sebagai indikator penting dari nilai saham (Casson dan McKenzie, 2007). EPS mewakili income statement dalam pengukuran value relevance informasi akuntansi (Kargin, 2013). Earning per share (EPS) dapat diperoleh dari laba bersih dikurangi dengan dividen preferen dan dibagi dengan jumlah saham beredar (Hayati, Yurniwati, dan Putra, 2015).

(7)

EPS = 𝑁𝑒𝑡 𝑖𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 − 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑𝑠 𝑜𝑛 𝑝𝑟𝑒𝑓𝑒𝑟𝑟𝑒𝑑 𝑠𝑡𝑜𝑐𝑘

𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 (2.3) Selain EPS, book value per share (BVPS) juga merupakan indikator dalam menghitung value relevance informasi akuntansi yang dilihat dari harga saham.

Menurut (Ohlson, 1995), BVPS adalah perkiraan pendapatan masa depan yang dapat digunakan dalam menilai perusahaan karena menggambarkan kondisi sumber daya perusahaan secara tepat. Jika sebuah perusahaan dapat membuat peningkatan pada BVPS, maka investor juga dapat melihat bahwa saham itu menjadi lebih bernilai, sehingga menyebabkan perubahan harga saham. Book value per share (BVPS) dapat diperoleh dari jumlah ekuitas dibagi dengan jumlah saham beredar (Hayati, Yurniwati, dan Putra, 2015).

BVPS = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑡𝑜𝑐𝑘ℎ𝑜𝑙𝑑𝑒𝑟’𝑠 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒𝑠 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 (2.4) Operating cash flow (OCF) adalah jumlah arus kas bersih yang berasal dari aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan pendanaan (Arisdianto, 2014). OCF juga dapat digunakan sebagai indikator yang dapat menentukan keberlangsungan suatu usaha dalam jangka panjang. Akan dilihat apakah dari arus kas operasi yang dihasilkan akan cukup untuk mempertahankan kegiatan operasional perusahaan, membayar hutang, atau melakukan investasi baru (Bujana dan Yaniartha, 2015).

Operating cash flow per share (OCF) dapat diperoleh dari net cash flow from operating activities dibagi dengan number of share outstanding (Hayati, Yurniwati, dan Putra, 2015) .

CFO per share = 𝑁𝑒𝑡 𝑐𝑎𝑠ℎ 𝑓𝑙𝑜𝑤 𝑓𝑟𝑜𝑚 𝑜𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑐𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠

𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒𝑠 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 (2.5)

2.7 Karakterisitik Spesifik Perusahaan 2.7.1 Leverage

Leverage dapat diartikan sebagai rasio aset perusahaan yang didapatkan melalui hutang. Leverage dapat dianggap sebagai resiko perusahaan karena semakin tinggi leverage perusahaan maka semakin tinggi pula resiko kebangkrutan perusahaan (Lee, 1981). Perubahan rasio leverage dapat mempengaruhi resiko pada perusahaan, biaya modal, keputusan investasi, dan pada kekayaan investor (Cai dan Zhang, 2011).

(8)

Leverage dapat mempengaruhi keputusan investor yang terlihat dari perubahan harga saham. Perubahan rasio leverage berpengaruh negatif terhadap harga saham (Bahreini, Baghbani, dan Bahreini, 2013).

Hal ini berarti peningkatan rasio leverage akan membuat harga saham semakin menurun karena tingkat kepercayaan investor terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut juga menurun. Bahreini, Baghbani, dan Bahreini (2013) juga menyatakan bahwa leverage akan berpengaruh negatif terhadap investasi yang berarti semakin tinggi leverage akan menyebabkan jumlah investasi yang dilakukan oleh investor semakin menurun. Penelitian yang dilakukan Sun (2012), Eng dan Mak (2003) menyatakan bahwa penilaian tingkat leverage perusahaan dapat menggunakan debt to asset ratio.

LEV = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡 (2.6)

2.8 Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang adopsi IFRS terhadap value relevance di negara berkembang masih belum banyak dilakukan. Di Afrika sendiri sudah terdapat beberapa penelitian tentang adopsi IFRS terhadap value relevance (Outa, Ozili, dan Eisenberg, 2017; Uwuigbe, Uwuigbe, Durodola, Jafaru, dan Jimoh, 2017;

Umobong dan Akani, 2015; Chebaane dan Othman, 2014; Muhibudeen, 2018).

Beberapa penelitian yang disebutkan di atas dilakukan di Nigeria (Outa, Ozili, dan Eisenberg, 2017; Uwuigbe, Uwuigbe, Durodola, Jafaru, dan Jimoh, 2017;

Umobong dan Akani, 2015; Muhibudeen, 2018). Tapi, hasil penelitian tentang penerapan IFRS terhadap value relevance di Nigeria masih belum konsisten karena adanya perbedaan sektor yang diteliti, tahun penelitian, serta variabel yang digunakan dalam penelitian.

Penelitian yang dilakukan Chebaane dan Othman (2014) menyatakan bahwa penerapan IFRS meningkatkan value relevance di kawasan Asia dan Afrika. Penelitian ini dilakukan di perusahaan yang terdaftar pada bursa efek di kawasan Asia dan Afrika yang meliputi negara UAE, Bahrain, Jordan, Kuwait, Qatar, Turki, dan Afrika Selatan dari tahun 1998 – 2012. Earning per share dan book value of equity per share mengalami peningkatan paska adopsi IFRS. Selain

(9)

EPS dan BVPS, peningkatan value relevance pada penelitian ini juga dipengaruhi oleh tingkat leverage perusahaan. Penelitian ini menambahkan leverage sebagai variabel tambahan.

Penelitian yang dilakukan oleh Uwuigbe, Uwuigbe, Durodola, Jafaru, dan Jimoh (2017) yang menyatakan bahwa telah terjadi peningkatan value relevance terhadap informasi akuntansi pada saat adopsi IFRS. Penelitian ini dilakukan pada industri barang konsumsi pada tahun pengamatan 2010 - 2013 Laba per saham dan nilai buku mengalami peningkatan paska adopsi IFRS. Penelitian ini juga didukung dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Muhibudeen (2018) yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan value relevance informasi akuntansi pada perusahaan industri semen pada tahun pengamatan 2010-2013. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa laba per saham, nilai buku, dan harga saham perusahaan semen mengalami peningkatan yang signifikan setelah pengadopsian IFRS.

Penelitian yang dilakukan oleh Outa, Ozili, dan Eisenberg (2017) menyatakan bahwa informasi akuntansi setelah konvergensi IFRS memperlihatkan value relevance yang lebih tinggi. Selain itu, terjadi juga peningkatan hubungan antara harga saham dan nilai buku. Populasi penelitian ini adalah semua perusahaan yang terdaftar di bursa efek Nigeria pada tahun 2005- 2014. Data dalam penelitian dibagi menjadi 2, yaitu tahun 2005 – 2009 dan tahun 2010 – 2014. Peningkatan pada relevansi nilai pada informasi akuntansi akan mendorong investor untuk melakukan investasi, meningkatkan kredibilitas pada negara tersebut dan menurunkan cost of capital.

Sedangkan hasil lainnya ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Umobong dan Akani (2015) yang menyatakan bahwa value relevance informasi akuntansi di Nigeria mengalami penurunan setelah pengadopsian IFRS. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan manufaktur khusunya industri semen dan minuman beralkohol yang terdaftar di Nigeria Stock Exchange pada tahun 2009 – 2013.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa earning dan book value menjadi kurang memiliki relevansi nilai pada saat pengadopsian IFRS (2012 – 2013) dibandingkan dengan sebelum pengadopsian IFRS (2009 – 2011). Hal ini menyebabkan penuruan terhadap value relavance informasi akuntansi di Nigeria.

Penelitian ini menggunakan model Ohlson (1995) untuk mengukur value

(10)

relevance informasi akuntansi.

2.9 Pengembangan Hipotesis

Value relevance diartikan sebagai kemampuan informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi keputusan investor yang terlihat dari perubahan harga saham (Francis & Schipper, 1999; Chebaane & Othman, 2014; Felix dan Rebecca, 2015). Selain itu, value relevance digunakan untuk mengkaji apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi yang membuat investor dan pengguna laporan keuangan untuk mengambil keputusan (Outa, Ozili, dan Eisenberg, 2017;). Infomasi akuntansi yang memiliki value relevance yang tinggi dapat diukur melalui hubungan antara EPS dan BVPS dengan harga saham (Umoren dan Enang, 2015). Selain EPS dan BVPS, value relevance informasi akuntansi juga dapat diukur dengan menambahkan LEV dan CFO/share sebagai variabel tambahan (Chebaane &

Othman, 2014). Model Ohlson (1995) dimodifikasi dengan mengungkapkan bahwa value relevance dapat diukur dengan hubungan statistik antara informasi akuntansi (EPS, BVPS, LEV dan CFO / share) dengan harga saham.

Pengadopsian IFRS menekankan pada penggunaan fair value dalam menyajikan informasi akuntansi (Ismail, Kamarudin, Zijl, dan Dunstan, 2013).

Fair value dapat meningkatkan transparansi pada laporan keuangan karena dapat menggambarkan kondisi perusahaan yang sebenarnya (Man, Ravas, dan Gadau, 2011). IFRS juga dapat meningkatkan komparabilitas laporan keuangan karena IFRS merupakan standar global yang digunakan oleh lintas negara atau lintas perusahaan (Bova dan Pereira, 2012) yang menyebabkan laporan keuangan dapat dibandingkan dengan yang lain. Selain itu, IFRS juga dapat membatasi keleluasaan manajemen untuk melakukan manajemen laba sehingga dapat meningkatkan transparansi (Bova dan Pereira, 2012).

Menurut Barth, Landsman, dan Lang (2008), tujuan dari pengadopsian IFRS adalah untuk meningkatkan kualitas informasi akuntansi pada laporan keuangan. Oleh karena itu, diharapkan dengan meningkatnya transparansi dan komparabilitas dalam laporan keuangan akan menghasilkan informasi akuntansi yang berkualitas yang akan meningkatkan kepercayaan investor sehingga

(11)

mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi yang tercermin dalam perubahan harga saham. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang mengadopsi IFRS dapat meningkatkan value relevance daripada sebelum mengadopsi IFRS. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh Chebaane dan Othman (2014), Uwuigbe, Uwuigbe, Durodola, Jafaru, dan Jimoh (2017), Outa, Ozili, dan Eisenberg (2017) .

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat ditarik hipotesis

H: Value relevance informasi akuntansi meningkat sesudah pengadopsian IFRS dibandingkan sebelum pengadopsian IFRS.

Referensi

Dokumen terkait

Strategi cost leadership membuat suatu perusahaan memiliki marjin laba yang rendah (Wu et al., 2015), sehingga perusahaan akan termotivasi melakukan manajemen laba

Menurut Starnes, Truhon dan McCarthy (2010) manfaat Organizational Trust dalam sebuah organisasi yang memiliki budaya trust yang tinggi dapat menghasilkan produk

Sistem informasi akuntansi dalam siklus produksi digunakan untuk meyakinkan bahwa semua produksi dan penerimaan aktiva tetap diotorisasi dengan benar, bahwa barang

Fungsi utama lainnya dari sistem informasi akuntansi dalam siklus penggajian adalah menyediakan pengendalian yang memadai agar dapat terpenuhinya tujuan-tujuan

Mahasiswa akuntansi pria memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk memilih akuntansi sebagai karir dari pada mahasiswa wanita.. H7: Pursue accounting career berbeda

Jika kinerja lingkungan perusahaan baik maka terdapat kemungkinan kinerja keuangan juga dapat meningkat, hal ini sejalan dengan teori legitimasi karena perusahaan yang

1) Risiko usaha, atau tingkat risiko yang inheren dalam operasi perusahaan jika perusahaan tidak menggunakan utang. Makin besar risiko perusahaan makin rendah rasio utang

Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk memilih kebijakan akuntansi yang dipakai oleh perusahaan yang dapat dilakukan dengan