• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

2.1.1. International Financial Reporting Standards di Indonesia

Pada tahun 1973-1984, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) membentuk Komite Prinsip-Prinsip Akuntansi Indonesia untuk menetapkan standar-standar akuntansi, yang kemudian dikenal dengan Prinsip-Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI). Pada tahun 1984-1994, Komite PAI melakukan revisi pada PAI 1973 dan kemudian menerbitkan PAI 1984. Menjelang akhir 1994, Komite PAI memulai revisi besar yang menghasilkan 35 pernyataan standar akuntansi keuangan, dimana sebagian besar harmonis dengan International Accounting Standards (IAS) yang dikeluarkan oleh International Accounting Standard Board (IASB).

Pada tahun 1994-2004 terjadi perubahan kiblat dari United States Generally Accepted Accounting Principles (US GAAP) ke International Financial Reporting Standards (IFRS). Dan pada tahun 1995, IAI melakukan revisi besar yang kebanyakan konsisten dengan IAS, beberapa standar diadopsi dari US GAAP, dan lainnya dibuat sendiri oleh IAI (Saputra & Hermawan, 2012).

Tahun 2006-2008 merupakan konvergensi IFRS Tahap 1. Konvergensi ini merupakan suatu bentuk komitmen Indonesia melalui DSAK IAI dalam memainkan perannya selaku salah satu anggota G20 di kawasan Asia Tenggara.

Dalam kongres IAI X tahun 2006 di Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS akan diselesaikan pada tahun 2008, tetapi ternyata tidak mudah dilakukan.

Sampai akhir tahun 2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari total 33 standar, sehingga diputuskan implementasi pada tahun 2012 (www.iaiglobal.or.id).

Tabel 2.1 Tahapan Konvergensi IFRS di Indonesia

No Tahap Keterangan

1 Tahap adopsi (2008-2010) •Adopsi seluruh IFRS ke PSAK

•Persiapan infrastruktur yang diperlukan

•Evaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlaku

(2)

2 Tahap persiapan (2011) •Penyelesaian persiapan infrastruktur yang diperlukan

•Penerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRS

3 Tahap implementasi (2012) •Penerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahap

•Evaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensif

Sumber: Saputra & Hermawan (2012)

Pendekatan bertahap adopsi IFRS memberi lebih banyak waktu dan kesempatan bagi perusahaan untuk mengevaluasi dan menerapkan IFRS secara hati-hati (Krismiaji et al.; 2016). Konvergensi di Indonesia sebenarnya berlaku secara efektif 1 Januari 2015. DSAK IAI telah berhasil meminimalkan perbedaan antara kedua standar (SAK dan IFRS), selama tiga tahun dari 1 Januari 2012 hingga 1 Januari 2015. Diharapkan dengan semakin sedikitnya perbedaan antara SAK dan IFRS dapat memberikan manfaat bagi pemangku kepentingan di Indonesia (www.iaigolbal.or.id).

Saputra & Hermawan (2012) menyatakan manfaat mengadopsi IFRS antara lain: memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan SAK yang dikenal secara internasional, meningkatkan arus investasi global melalui transparansi, menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara global, menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan, dan meningkatkan kualitas laporan keuangan. Adopsi IFRS merupakan salah satu upaya Indonesia untuk membuka peluang pasar modal internasional dan meningkatkan value relevance (Murtini & Lusiana, 2016). Ball, Robin & Wu (2003) menyatakan bahwa penerapan IFRS akan menghasilkan pelaporan keuangan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan value relevance, salah satu penyebabnya karena IFRS menganut principle base yang menekankan pada fair value sehingga dapat menggambarkan kondisi saat ini.

Berbeda dengan standar yang dianut Indonesia sebelumya, US GAAP menganut rule base. Principle base hanya mengatur konsep / prinsip saja, tetapi rule base mengatur teknik secara detail. Dengan menggunakan principle base, dapat

(3)

menyebabkan pengungkapan yang luas dalam laporan keuangan dan memperjelas area yang tidak jelas (Saputra & Hermawan, 2012). Okafor et al. (2016) menyatakan principle base memberikan ruang lingkup penilaian dan penekanan lebih besar pada fair value. Di sisi lain, rule base menggunakan historical cost.

Basis penilaian yang mendasarkan pada historical cost telah kehilangan relevansinya dalam mengukur realita ekonomi, karena historical cost hanya mengukur transaksi yang sudah selesai, tidak bisa mengakui perubahan nilai riil yang terjadi.

2.1.2. Value Relevance

IFRS dianggap berkualitas tinggi karena IFRS mewakili kumpulan praktik akuntansi terbaik di dunia dan diakui, serta lebih berorientasi pada pasar modal daripada standar akuntansi domestik (Ding, Hope, Jeanjean & Stolowy, 2007).

Menurut Saputra & Hermawan (2012) laporan keuangan yang disusun dengan IFRS diharapkan akan menciptakan data-data yang berkualitas yang dapat digunakan untuk membuat keputusan. Ball et al. (2003) menyatakan bahwa penerapan IFRS akan menghasilkan pelaporan keuangan yang berkualitas sehingga dapat meningkatkan value relevance.

Francis & Schipper (1999) mendefinisikan value relevance sebagai kemampuan informasi akuntansi dalam menggambarkan nilai perusahaan sehingga informasi akuntansi tersebut mempengaruhi keputusan investor yang tercermin dari perubahan stock price. Value relevance merupakan tingkat asosiasi antara informasi akuntansi berupa earning per share (EPS), book value equity per share (BVPS), cash flow from operating per share (CFO / share) dengan stock price, dimana semakin tinggi tingkat asosasinya berarti semakin tinggi value relevance (Barth, Beaver & Landsman, 2001). Menurut Holthausen & Watts (2001) informasi akuntansi akan dianggap memiliki value relevance jika stock price bereaksi karena informasi tersebut. IFRS mengungkapkan informasi yang relevan karena lebih fokus pada pendekatan fair value, itulah sebabnya pasar akan bereaksi terhadap rekonsiliasi IFRS dan informasi akuntansi akan ditanggapi oleh investor yang tercermin lewat stock price (Horton & Serafeim, 2010). Value relevance dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi (Lev & Zarowin, 1999).

(4)

Kualitas informasi akuntansi yang tinggi diindikasikan dengan adanya hubungan yang kuat antara EPS, BVPS, CFO / share dengan stock price, karena ketiga informasi akuntansi tersebut mencerminkan kondisi ekonomik perusahaan (Barth et al., 2008).

Suadiye (2012) mengungkapkan bahwa value relevance dapat diukur dengan hubungan statistik antara informasi akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share) dengan stock price. Penelitian ini mengacu pada penelititian Ohlson (1995) untuk mengukur value relevance dengan cara meneliti kandungan informasi akuntansi EPS, BVPS, dan CFO / share yang dihubungkan dengan respon investor berupa stock price, modelnya adalah:

P i,t = α0 + α1 BV i,t + α2 EPS i,t + α3 CFO/share i,t + ε i,t (2.1) Dimana P i,t adalah stock price perusahaan i pada tahun t; BV i,t adalah book value equity per share perusahaan i pada tahun t; EPS i,t adalah earning per share i pada tahun t; CFO/share i,t adalah cash flow from operating per share i pada tahun t; dan ε i,t adalah istilah kesalahan nol rata-rata. Berdasarkan penelitian Ohlson (1995) EPS, BVPS, dan CFO/share dikatakan memiliki value relevance jika mampu mengubah stock price, karena stock price adalah salah satu bentuk respon investor.

2.1.3. Informasi Akuntansi

Informasi akuntansi akan dianggap memiliki value relevance jika stock price bereaksi karena informasi tersebut (Holthausen & Watts, 2001). Tumbol, Poputra & Runtu (2014) menyatakan informasi akuntansi adalah proses pengukuran, analisis, pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh kejadian ekonomi yang mempengaruhi aktiva suatu perusahaan, dimana informasi tersebut diperlukan untuk mengambil keputusan. Dalam banyak penelitian, termasuk penelitian Ohlson, 1995; Barth, Landsman & Lang, 2008; Suadiye, 2012 informasi akuntansi yang sering digunakan untuk mengukur value relevance adalah EPS, BVPS, dan CFO/share.

Earning per share (EPS) adalah tingkat keuntungan bersih untuk tiap lembar saham yang mampu diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya (Kusumo & Subekti, 2013). EPS diperoleh dari pendapatan yang tersedia bagi

(5)

pemangku kepentingan dibagi dengan rata-rata jumlah saham yang beredar (Prihatni, Subroto, Saraswati & Purnomosidi, 2016; Elbakry et al., 2017).

Menurut Negakis (2013) EPS didapatkan dengan cara mengurangkan laba bersih dengan deviden preferen lalu dibagi dengan saham yang beredar.

EPS = 𝑁𝑒𝑡 𝑖𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 − 𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑𝑠 𝑜𝑛 𝑝𝑟𝑒𝑓𝑒𝑟𝑟𝑒𝑑 𝑠𝑡𝑜𝑐𝑘

𝑊𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡𝑒𝑑 𝑎𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑜𝑓 𝑐𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒𝑠 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 (2.2) Ohlson (1995) membuktikan book value equity per share (BVPS) adalah perkiraan pendapatan masa depan dan bermanfaat dalam menilai perusahaan karena menggambarkan kondisi sumber daya perusahaan secara tepat. Menurut Beisland & Knivsfla (2015) BVPS didapat dengan cara membandingkan total ekuitas dengan jumlah saham yang beredar.

BVPS = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑡𝑜𝑐𝑘ℎ𝑜𝑙𝑑𝑒𝑟’𝑠 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒𝑠 (2.3)

Cash flow from operating perusahaan merupakan satu-satunya sumber keberlanjutan operasi dan pembayaran deviden (Jackson & Briley, 2015). Menurut Janjani (2015) cash flow from operating mencerminkan pendapatan dan pengeluaran operasional (misalnya: penerimaan dari pelanggan, pembayaran tunai untuk bahan, penjualan barang, dan pembayaran dalam bentuk uang tunai dari biaya operasional). Menurut Ricquebourg, Clacher & Hodgson (2011) cash flow from operating per share dapat diukur dengan membandingkan net cash flow from operating activities dengan weighted average of common shares outstanding.

CFO per share =

𝑁𝑒𝑡 𝑖𝑛𝑐𝑜𝑚𝑒 + 𝐷𝑒𝑝𝑟𝑒𝑐𝑖𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 & 𝑎𝑚𝑜𝑟𝑡𝑖𝑧𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 + 𝑂𝑡ℎ𝑒𝑟 𝑛𝑜𝑛𝑐𝑎𝑠ℎ 𝑎𝑑𝑗𝑢𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡𝑠 + 𝐶ℎ𝑎𝑛𝑔𝑒𝑠 𝑖𝑛 𝑛𝑜𝑛 𝑐𝑎𝑠ℎ 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑒𝑖𝑔ℎ𝑡𝑒𝑑 𝑎𝑣𝑒𝑟𝑎𝑔𝑒 𝑜𝑓 𝑐𝑜𝑚𝑚𝑜𝑛 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒𝑠 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔

(2.4)

Suadiye (2012) mengungkapkan bahwa EPS, BVPS, dan CFO / share merupakan informasi akuntansi yang digunakan untuk mengevaluasi value relevance. Berdasarkan penelitian Ohlson (1995) EPS, BVPS, dan CFO / share dikatakan memiliki value relevance jika stock price bereaksi karena informasi akuntansi tersebut.

Chebaane & Othman (2014) membuktikan bahwa penerapan IFRS yang diwajibkan di negara-negara berkembang di wilayah Afrika dan Asia menyebabkan informasi akuntansi lebih memiliki value relevance. Hal ini dilihat dari respon positif investor yang tercermin melalui stock price. Sama halnya dengan penelitian Anderson & Warsame (2016) pada periode pasca adopsi IFRS,

(6)

perusahaan yang mengadopsi IFRS mencatat EPS, BVPS, dan CFO / share yang lebih memiliki value relevance daripada perusahaan yang tidak mengadopsi IFRS.

Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya stock price untuk perusahaan yang mengadopsi IFRS. Menurut Kajuter & Neinhaus (2017) variabel EPS, BVPS, dan CFO / share memiliki hubungan positif dan signifikan dengan stock price, maka dapat disimpulkan bahwa EPS, BVPS, dan CFO / share memiliki value relevance.

2.1.4. Respon Investor

Respon investor adalah reaksi investor atas suatu informasi akuntansi yang berhubungan dengan kinerja suatu perusahaan (Tjiasmanto & Juniarti, 2015).

Indikator investor merespon atau tidak dapat dilihat dari stock price (Tsalavoutas

& Dionysiou, 2014). Stock price adalah nilai nominal dari harga penutupan pada penyertaan atau kepemilikan individu atau entitas di perusahaan / perseroan terbatas yang berlaku secara reguler di pasar modal (Pranata & Pujiati, 2015).

Barth et al., 2008 membuktikan bahwa EPS, BVPS, dan CFO / share yang memiliki value relevance akan direspon positif oleh investor. Menurut Holthausen

& Watts, 2001; Suadiye, 2012 informasi akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share) akan dianggap memiliki value relevance jika stock price bereaksi karena informasi tersebut.

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu

Seperti yang sudah dijelaskan di Bab 1 bahwa penelitian tentang adopsi IFRS dan value relevance pada negara berkembang masih belum banyak dilakukan, dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan pada negara maju. Di Indonesia sendiri, penelitian yang dilakukan masih sangat jarang dan belum ada penelitian dari jurnal-jurnal terindeks. Hanya ada satu penelitian yang terdapat dari jurnal terindeks, yaitu penelitian Krismiaji et al. (2016). Namun, variabel dependen yang digunakan Krismiaji et al. (2016) adalah kualitas laba akuntansi;

dimana itu belum menjelaskan apakah adopsi IFRS meningkatkan value relevance atau tidak.

Penelitian tentang adopsi IFRS dan value relevance pada negara berkembang dilakukan oleh Chebaane & Othman (2014) yang menyimpulkan

(7)

bahwa value relevance EPS, BVPS, dan CFO / share meningkat setelah penerapan IFRS pada negara berkembang di wilayah Afrika dan Asia. Hal ini dilihat dari respon positif investor yang tercermin melalui stock price. Menurut Chebaane &

Othman (2014) value relevance ini juga dipengaruhi secara positif oleh sistem hukum. Negara dalam ekonomi yang sedang berkembang dengan tingkat keterbukaan ekonomi eksternal yang tinggi, perlindungan investor yang kuat, perlindungan penuh pemegang saham minoritas, dan dengan pasar modal yang canggih; maka akan meningkatkan value relevance.

Penelitian Chebaane & Othman (2014) didukung oleh penelitian Ismail et al. (2013) yang membuktikan EPS, BVPS, dan CFO / share yang dilaporkan saat pasca adopsi IFRS lebih memiliki value relevance dibanding saat pra adopsi IFRS, hal ini terlihat dari respon positif investor yang tercermin melalui perubahan stock price Selain itu, penerapan IFRS dapat menurunkan manajemen laba. Menurut Chamisa et al. (2012), di bawah IFRS, informasi akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share) lebih memiliki value relevance dan lebih memiliki hubungan dengan stock price dibandingkan di bawah CAS (Chinese Accounting Standards). Kargin (2013) menemukan bahwa adanya hubungan positif antara adopsi IFRS terhadap value relevance informasi akuntansi. Hal serupa juga dinyatakan oleh Kingwara (2015) bahwa EPS, BVPS, dan dan CFO / share lebih memiliki value relevance setelah adopsi IFRS. Penelitian Mironiuc et al. (2015) mengungkapkan bahwa value relevance meningkat setelah penerapan IFRS di Romania. Outa et al. (2017) menemukan bahwa pasca adopsi IFRS, EPS, BVPS, dan CFO / share dengan stock price memiliki hubungan yang positif dan memiliki value relevance. Sama halnya dengan hasil penelitian Vardia et al. (2016) yang menemukan value relevance EPS, BVPS, dan CFO / share meningkat pasca adopsi IFRS, hal ini terlihat dari respon positif investor yang tercermin melalui perubahan stock price.

Berbeda dengan hasil penelitian di atas yang menunjukkan bahwa value relevance meningkat setelah adopsi IFRS, penelitian Khanaga (2011) membuktikan bahwa penerapan IFRS di Uni Emirat Arab tidak memperbaiki value relevance informasi akuntansi. Hal ini, dudukung oleh Umobong & Akani (2015) yang menyatakan EPS, BVPS, dan CFO / share kurang bernilai relevan

(8)

pasca adopsi IFRS, sehingga kurang direspon oleh investor.

2.3. Hipotesis Penelitian

2.3.1. Adopsi IFRS terhadap Value Relevance Informasi Akuntansi

Francis & Schipper (1999) mendefinisikan value relevance sebagai kemampuan informasi akuntansi dalam menggambarkan nilai perusahaan sehingga informasi akuntansi tersebut mempengaruhi keputusan investor yang tercermin dari perubahan stock price. Value relevance merupakan tingkat asosiasi antara informasi akuntansi berupa EPS, BVPS, dan CFO / share dengan stock price, dimana semakin tinggi tingkat asosasinya berarti semakin tinggi value relevance (Barth et al., 2001). Menurut Holthausen & Watts (2001) informasi akuntansi akan dianggap memiliki value relevance jika stock price bereaksi karena informasi tersebut. Value relevance dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi (Lev & Zarowin, 1999). Kualitas informasi akuntansi yang tinggi diindikasikan dengan adanya hubungan yang kuat antara EPS, BVPS, dan CFO / share dengan stock price (Barth et al., 2008). Ohlson (1995) mengungkapkan bahwa value relevance dapat diukur dengan hubungan statistik antara informasi akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share) dengan stock price.

IFRS lebih menekankan pada pendekatan fair value sehingga informasi akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share) perusahaan yang mengadopsi IFRS lebih menggambarkan kondisi saat ini. Selain itu, laporan keuangan yang menggunakan IFRS memiliki keterbandingan yang tinggi karena standar penyusunan laporan keuangan yang digunakan sama sehingga dapat menghasilkan informasi akuntansi yang dapat dibandingkan dengan perusahaan lain. Kedua hal ini menyebabkan informasi akuntansi punya kandungan nilai sehingga kepercayaan investor meningkat; selanjutnya akan mempengaruhi keputusan investor yang tercermin dari perubahan stock price, dimana stock price merupakan salah satu bentuk respon investor. Ketika informasi akuntansi mempengaruhi respon investor yang tercermin lewat perubahan stock price, maka informasi akuntansi dikatakan memiliki value relevance.

Dengan demikian diharapkan perusahaan yang mengadopsi IFRS akan memiliki value relevance yang lebih tinggi dari pada sebelum mengadopsi IFRS.

(9)

Hal ini didukung oleh penelitian (Chebaane & Othman, 2014; Kargin, 2013;

Ismail et al., 2013; Chamisa et al., 2012; Kingwara, 2015; Mironiuc et al., 2015;

Vardia et al., 2016; Anderson & Warsame, 2016) yang menemukan value relevance informasi akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share) meningkat pasca adopsi IFRS, hal ini terlihat dari respon positif investor yang tercermin melalui perubahan stock price.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat ditarik hipotesis

H1: Adopsi IFRS meningkatkan Value Relevance Informasi Akuntansi (EPS, BVPS, dan CFO / share)

Gambar

Tabel 2.1 Tahapan Konvergensi IFRS di Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Zakat yang diperuntukkan bagi mustahiq dapat digunakan sebagai modal usaha dimana usaha yang dikembangkan oleh mustahiq pada umumnya masih berskala kecil, yang

Penelitian ini memiliki rumusan masalah yaitu apakah pemberitaan konflik di Lampung Selatan dalam media online Tribun Lampung pada bulan Oktober 2012 sampai November 2012

Isochrone dapat digunakan untuk mengetahui usia gugus bintang dikarenakan anggota gugus memiliki usia yang hampir sama.Perbandingan beberapa usia isochrone dengan HR diagram

Madcoms mengemukakan bahwa PHP (Hypertext Preprocessor), merupakan bahasa pemrograman pada sisi server yang memperbolehkan programmer menyisipkan perintah-perintah

Peternak mengetahui dengan baik waktu yang tepat untuk pelaksanaan IB 55% yaitu ketika berahi sapi diketahui pagi hari maka inseminasi dilakukan sore hari dan jika

diharapkan adalah bahwa kita semua menjadi orang yang bertengang rasa. Akan tetapi, hasil yang dicari ini tidak diperoleh lagi. Kenakalan remaja merupakan bukti bahwa

Bauder (1976) juga memberikan contoh Soil Conditioner yang cukup populer yaitu Leonardite, Sawdust, Planter II, dan Krilium. Beberapa Soil Conditioner dinyatakan dapat

PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA TERHADAP PPM SAMPAI DENGAN OKTOBER 2010.. SULAWESI TENGGARA NO URAIAN KKP