2. LANDASAN TEORI
2.1 Stakeholders Theory
Teori stakeholder dominan dalam literatur CSR sebagai kegiatan yang berorientasi pada keuntungan, yang dapat mempengaruhi lebih banyak kelompok pemangku kepentingan (Anas, Rashid, & Annuar, 2015). Pérez, Martínez, & Bosque, (2013) menyarankan bahwa CSR yang berbasis stakeholders memungkinkan untuk mengidentifikasi kekuatan dan area perusahaan yang perlu mendapatkan visibilitas yang lebih besar untuk menjadi sukses. Hal ini membuat perusahaan tidak hanya berfokus pada investor tetapi juga mengatasi kekhawatiran kebutuhan para pemangku kepentingan yang berorientasi nirlaba seperti regulator, karyawan dan masyarakat umum (Anas, Rashid, & Annuar, 2015).
Perusahaan harus menjaga hubungan baik dengan para pemangku kepentingan dengan mengakomodasi keinginan dan kebutuhan yang ada, terutama para pemangku kepentingan yang mempunyai kekuatan terhadap ketersediaan sumber daya yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan, seperti tenaga kerja, pelanggan dan pemilik (Ghozali dan Chariri, 2007). Hubungan perusahaan dengan pemangku kepentingan melalui CSR bergantung pada strategi komunikasi yang mempertimbangkan dampak CSR terhadap kesejahteraan para pemangku kepentingan (Kirat, 2015). Strategi komunikasi yang dilakukan adalah proses keterlibatan pemangku kepentingan dan bagaimana perusahaan dapat mendengarkan suara dan minat pemangku kepentingan. Proses keterlibatan pemangku kepentingan meliputi kegiatan melibatkan pemangku kepentingan utama dalam komunikasi, dialog dan operasi, serta mendapatkan persetujuan dari para pemangku kepentingan (O'Riordan dan Fairbrass, 2014). Meskipun tren ini relatif baru dalam prakteknya, hal ini dapat menarik perhatian dari praktisi CSR. Pada tahun 2010, keterlibatan pemangku kepentingan telah didefinisikan, dalam prinsip-prinsip International Organization for Standardization (ISO) 26000, sebagai kegiatan untuk memberikan peluang komunikasi antara perusahaan dan
pekerja dengan tujuan bertukar informasi dasar dalam membuat keputusan (ISO, 2010).
Oleh karena itu kelangsungan hidup organisasi bergantung pada dukungan para pemangku kepentingan sehingga aktivitas perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut. Salah satu strategi untuk menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan perusahaan adalah dengan mengungkapkan laporan keberlanjutan yang ada dalam dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.
Pengungkapan laporan keberlanjutan diharapkan dapat memenuhi keinginan dari para pemangku kepentingan sehingga akan menghasilkan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan para pemangku kepentingan, sehingga perusahaan dapat mencapai keberlanjutan dimasa akan datang.
2.2 Legitimacy Theory
Teori kedua yang mempengaruhi pemikiran laporan berkelanjutan adalah teori legitimasi. Jika teori stakeholders dimotivasi oleh pertanggungjawaban kepada para pemangku kepentingan, maka teori legitimasi menurut Ghozali dan Chariri (2007) dilandasi adanya “kontrak sosial” yang terjadi antara perusahaan dengan masyarakat dimana perusahaan beroperasi yang diterima secara sah. Teori legitimasi menganjurkan perusahaan untuk meyakinkan bahwa aktivitas dan kinerjanya dapat diterima oleh masyarakat. Perusahaan harus dapat berkontribusi sosial dimana kegiatan operasi yang mengikuti norma-norma yang disetujui oleh masyarakat. Jika suatu perusahaan dipandang tidak mengikuti norma - norma kemasyarakatan yang diharapkan dalam operasinya, maka akan ada kesenjangan legitimasi antara operasi perusahaan dan harapan masyarakat (Anas, Rashid, & Annuar, 2015).
Dalam hal CSR, perusahaan dapat melegitimasi operasi mereka dengan memiliki praktik CSR yang baik. Salah satu cara untuk menggambarkan praktik CSR yang baik adalah dengan mendapatkan penghargaan atas praktik-praktik CSR yang baik (Anas, Rashid, & Annuar, 2015). Jika perusahaan mencapai penghargaan untuk praktik CSR yang baik, maka kesenjangan legitimasi antara perusahaan dan masyarakat akan sangat kecil, dan perusahaan lebih bersedia untuk menjadi lebih transparan.
Teori legitimasi ini digunakan untuk lebih memahami aspek CSR dan memberikan pandangan kepada perusahaan untuk mengevaluasi setiap keputusan yang diambil (Duff, 2017). Begitupula, perusahaan dapat melegitimasi operasi mereka dengan memiliki praktik CSR yang baik. Salah satu cara untuk menggambarkan praktik CSR yang baik adalah dengan mendapatkan penghargaan atas praktik-praktik CSR yang baik (Anas, Rashid, & Annuar, 2015). Jika perusahaan mencapai penghargaan untuk praktik CSR yang baik, maka kesenjangan legitimasi antara perusahaan dan masyarakat akan sangat kecil, dan perusahaan lebih bersedia untuk menjadi lebih transparan.
2.3 Laporan keberlanjutan (sustainability report)
Menurut Borkowski, Welsh, & Wentzel, (2010), sustainability report adalah bagaimana suatu perusahaan menggabungkan faktor non finansial terkait dengan masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kinerja dan reputasi organisasi di masa depan. Selanjutnya, menurut Borkowski, Welsh, & Wentzel, (2010), peningkatan penggunaan laporan keberlanjutan menunjukkan bahwa ada permintaan yang meningkat oleh para pemangku kepentingan untuk lebih banyak akuntabilitas dan transparansi.
Saat ini implementasi pelaporan keberlanjutan di Indonesia didukung oleh sejumlah aturan seperti UU Nomor 40 Tahun 2007 mengenai Perseroan Terbatas yang menuntut investor dan perusahaan untuk menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan. UU No. 23/1997 tentang manajemen lingkungan dan aturan yang dikeluarkan Bursa Efek Indonesia mengenai prosedur dan persyaratan listing dan juga standar laporan keuangan (SAK).
Praktek laporan keberlanjutan dalam perusahaan membutuhkan pedoman pelaporan keberlanjutan yang diterima secara nasional bahkan internasional.
Tahun 1999, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)
menerbitkan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan di mana mendorong perusahaan untuk mengungkapkan kebijakan yang berkaitan dengan etika bisnis, lingkungan dan komitmen kebijakan publik lainnya kepada investor serta pemangku kepentingan lainnya (OECD, 1999). Salah satu pedoman yang dapat digunakan adalah Global Reporting Initiative (GRI) dari Belanda, pertama kali
diterbitkan tahun 2000 dimana di Indonesia lembaga yang menjadi perwakilan atas GRI adalah National Center for Sustainability Reporting (Golob, Verk, Ellerup-Nielsen, Thomsen, Wim, & Podnar, 2017). Hasil ini bisa konsisten dengan Deegan dan Carroll (1993) yang menemukan bahwa perusahaan yang lebih besar, yang menghadapi lebih banyak tekanan, cenderung menerapkan penghargaan pelaporan untuk mengurangi beberapa tekanan yang dihadapi oleh perusahaan. Pengguna utama dari laporan keberlanjutan adalah para pemangku kepentingan seperti masyarakat, investor, bank, institusi pemerintah, atau karyawan. Manfaat laporan keberlanjutan berdasarkan pada kerangka GRI (2011) adalah sebagai berikut:
1. sebagai benchmark kinerja organisasional dengan memperhatikan hukum, norma, undang-undang, standar kinerja, dan prakarsa sukarela;
2. mendemostrasikan komitmen organisasional untuk sustainable development, dan membandingan kinerja organisasional setiap waktu. Laporan keberlanjutan juga dapat digunakan oleh institusi pemerintah misalnya dari pihak kementerian lingkungan untuk membuat penilaian atas kinerja perusahaan terhadap lingkungan dalam setiap pelaporan organisasi. Seperti halnya di Indonesia, peraturan dalam pengungkapan CSR dapat ditemukan dalam aturan yang dikeluarkan oleh Bapepam dan undang-undang nomor 40/2007 tentang Perseroan Terbatas (PT).
2.4 Indonesia Sustainability Reporting Awards (ISRA)
Indonesia Sustainability Reporting Awards (ISRA) adalah penghargaan yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang telah membuat pelaporan atas kegiatan yang menyangkut aspek lingkungan dan sosial disamping aspek ekonomi untuk memelihara keberlanjutan perusahaan itu sendiri (NCSR, n.d.). ISRA diberikan kepada perusahaan yang telah menerbitkan sustainability report, CSR report, dan yang telah mengungkapkan kegiatan perusahaan dalam website (SRA, n.d.).
Haniffa dan Cooke (2005) menemukan bahwa untuk mengungkapkan lebih banyak informasi CSR, manajer termotivasi untuk memenangkan penghargaan CSR karena manajer percaya bahwa memenangkan penghargaan
dapat berfungsi sebagai strategi untuk membangun dan mempertahankan citra perusahaan yang baik. Secara praktis, temuan menunjukkan bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pengungkapan yang lebih baik dari informasi terkait CSR adalah penghargaan yang diterima untuk praktik CSR yang baik. Perusahaan yang menerima penghargaan untuk praktik CSR yang sangat baik atau bagus memiliki insentif untuk mengungkapkan informasi kualitas yang lebih baik terkait dengan kegiatan CSR.
Penghargaan yang diberikan untuk perusahaan yang telah menerbitkan sustainability report dinilai dengan indikator penilaian yang meliputi kelengkapan, kredibilitas, dan komunikasi. Adapun tujuan ISRA adalah sebagai berikut (NCSR, n.d.):
• Memberikan pengakuan terhadap organisasi-organisasi yang melaporkan dan mempublikasikan informasi mengenai lingkungan, sosial, dan informasi keberlanjutan terintegrasi.
• Mendukung pelaporan dibidang lingkungan, sosial dan keberlanjutan.
• Meningkatkan akuntabilitas perusahaan dengan menekankan tanggung jawab terhadap pemangku kepentingan utama (key stakeholders).
• Meningkatkan kesadaran perusahaan terhadap transparansi dan pengungkapan.
ISRA memiliki kategori penghargaan yang terbagi yakni : (1) Best Corporate Sustainability Report (2) Best Combine Report (3) Commendation for First Time GRI Standard Report (4) Special Commendations (by categories). Seluruh partisipan ISRA akan mendapatkan sertifikat dan kartu nilai dari penilaian para juri, laporan berkelanjutan masing – masing perusahaan akan dipublikasikan di website NCSR dan ICSP, dan laporan juga akan dipublikasikan di database website GRI (NCSR, n.d.).
Pengungkapan CSR diukur dengan Corporate Social Disclosure Index (CSDI). CSDI diukur dengan rekapan penilaian dari GRI dan NCSR. Partisipan ISRA akan dinilai dengan melihat jumlah item CSR yang diungkapkan dibandingkan dengan jumlah yang seharusnya diungkapkan. Semakin besar CSDi maka semakin banyak pengungkapan CSR yang dilakukan oleh perusahaan.
NCSR memiliki standar kriteria dalam menentukan peringkat laporan keberlanjutan se-Asia seperti berikut (NCSR, n.d.) :
Tabel 2.1 Kriteria Penilaian Rank Score Criteria 2017
Platinum 93 - 100 G4 Guideline/GRI Standards; Assured by the third party Gold 86 - 92
G4 Guideline/GRI Standards Silver 79 - 85
Bronze 72 - 78 2.5 Kinerja Keuangan dan CSR
Kinerja keuangan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu organisasi yang dianalisis dengan metode dan alat analisa kinerja keuangan seperti rasio. Informasi mengenai kondisi keuangan perusahaan sangat dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan baik yang berasal dari internal maupun eksternal. Melihat hubungan pengaruh kinerja keuangan dengan CSR yakni Chtourou & Triki (2017) menyatakan bahwa ada korelasi positif antara CSR dengan kinerja keuangan perusahaan. Sejalan dengan Platonova, Asutay, Dixon, & Mohammad, (2016) bahwa CSR akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan baik itu jangka panjang di masa depan perusahaan. Ketika perusahaan melakukan praktik CSR maka praktik tersebut akan menambah nilai positif dalam ukuran perusahaan dan kinerja keuangan perusahaan (Anas, Rashid, & Annuar, 2015). Pemangku kepentingan akan sadar ketika perusahaan melakukan praktik CSR yang positif sehingga berdampak pada kinerja keuangan perusahaan (Yinyoung, Singal, & Yoon, 2016). Khojastehpour & Johns (2014) mengungkapkan bahwa penerapan CSR akan berpengaruh pada profitabilitas perusahaan. Giannarakis (2014) menyatakan bahwa pengungkapan CSR berhubung negatif dengan koefisien leverage dan berhubungan positif dengan profitabilitas. Didukung dengan penelitian Hsu & Chen, (2015) bahwa kinerja CSR akan membantu pengurangan kredit, penyebaran obligasi, dan resiko kebangkrutan.
2.6 Sektor Usaha
Indonesia memiliki klasifikasi standard dalam industri (KBLI) yang dibentuk oleh Badan Pusat Statistics (BPS) dalam aktivitas ekonomi. Periode sebelumnya
KBLI tercatat pada peraturan nomor 57 tahun 2009 namun BPS melakukan penyempurnaan aturan terkait dengan aktivitas ekonomi yang berkembang melalui diskusi unit kerja dan instansi terkait menjadi peraturan nomor 95 tahun 2015. KBLI akan mengklasifikasikan aktivitas ekonomi ke dalam beberapa lapangan usaha berdasarkan pendekatan kegiatan, proses aktivitas, serta pendekatan fungsi yang melihat pada pelaku ekonomi dalam menggunakan input dan menciptakan output. KBLI akan mengelompokkan unit produksi menurut kelompok jenis aktivitas produktif barang dan jasa. Dari pendekatan dan pengelompokkan yang diteliti akan membentuk kelompok atau golongan usaha (BKPM, 2015).
2.7 Ukuran Perusahaan
KAP Ernst & Young yang menjelaskan nilai dari sustainability report bagi bisnis dalam perusahaan salah satunya adalah employee loyalty & recruitment dimana sustainability report dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan kemampuan perusahaan saat perekrutan. Menurut Kim, Lee, Lee, & Kim (2010) pentingnya partisipasi CSR dengan menunjukkan pengaruh langsung pada identifikasi karyawan perusahaan yang mengarah ke komitmen karyawan untuk organisasi mereka. Didukung oleh Chtourou & Triki (2017) perusahaan akan lebih memperhatikan kunci perusahaan yaitu pemangku kepentingan dan karyawan. Perusahaan harus memperhatikan indikator CSR termasuk hubungan karyawan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
2.8 Hipotesis
Berdasarkan penelitian terdahulu, Chakroun, Matoussi, & Mbirki, (2017) mengungkapkan bahwa ada hubungan positif antara kinerja keuangan dengan pengungkapan CSR. Syamni, Wahyuddin, Damanhur, & Ichsan, (2018) menemukan bukti bahwa menerapkan CSR mempengaruhi terhadap profitabilitas perusahaan yang disebabkan pemangku kepentingan merasa senang membeli hasil produk perusahaan dan menganggap keuntungan yang diterima perusahaan dari sebagian kecil akan disumbangkan untuk kegiatan peduli lingkungan. CSR sebagai sarana komunikasi dengan pemangku kepentingan (Mehralian, Nazari,
Zarei, & Rasekh, 2016). Didukung oleh Khojastehpour & Johns (2014) pelanggan akan cenderung berani membayar harga lebih tinggi kepada perusahaan yang menerapkan CSR, sehingga dapat menguntungkan perusahaan dalam membangun reputasi dan profitabilitas perusahaan. Dengan adanya perbedaan penerapan CSR terhadap profitabilitas, maka muncul hipotesis berikut :
H1 : ada perbedaan kinerja keuangan profitabilitas berdasarkan : a : partisipan ISRA yang konsisten dan tidak konsisten berpartisipasi b : sektor usaha
c : ukuran perusahaan
Bilbao-Terol, Arenas-Parra, Alvarez-Otero, & Canal-Fernandez, (2018) melakukan penelitian dengan menguji perusahaan yang menerapkan CSR terhadap market book value. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perusahan yang sustainable berada diposisi teratas dalam pasar sehingga menarik investor atau pemangku kepentingan dalam proses seleksi. Didukung oleh Kim, Li, & Li (2014) kinerja CSR dapat mempengaruhi nilai perusahaan dalam pasar. Hasil yang konsisten juga ditemukan oleh Bajic & Yurtoglu (2018) bahwa CSR kuat memprediksi nilai pasar dari dimensi sosial. Hipotesis yang akan muncul dan dikembangkan dalam penelitian ini dengan dasar penelitian terdahulu yakni :
H2 : ada perbedaan kinerja keuangan pasar berdasarkan :
a : partisipan ISRA yang konsisten dan tidak konsisten berpartisipasi b : sektor usaha
c : ukuran perusahaan
Hsu & Chen, (2015) perusahaan yang memiliki kinerja CSR positif dapat menikmati pengurangan resiko kredit, penyebaran obligasi, dan resiko kebangkrutan. Dalam penelitian Giannarakis (2014) mengungkapkan CSR berhubung negatif dengan koefisien leverage. Koefisien yang negatif menyatakan kondisi perusahaan yang baik. Chakroun, Matoussi, & Mbirki, (2017) menyatakan bahwa ada efek positif antara leverage dengan pengungkapan CSR dikarenakan CSR dapat menjadi sarana potensial pemantauan kreditor. Hal ini dapat menjadi perhatian bagi investor dan pemberi pinjaman sebagai indikator resiko keuangan karena CSR komponen kunci dari sistem pengendalian internal dan eksternal
untuk memastikan secara akurat resiko kebangkrutan dan resiko utang. Dari penelitian tersebut akan dikeluarkan hipotesis sebagai berikut :
H3 : ada perbedaan kinerja keuangan leverage berdasarkan :
a : partisipan ISRA yang konsisten dan tidak konsisten berpartisipasi b : sektor usaha
c : ukuran perusahaan
Chtourou & Triki (2017) memberikan bukti bahwa ada hubungan positif antara CSR dengan kinerja keuangan. Hal ini membuat penerapan CSR dapat meningkatkan kinerja keuangan. Nyeadi, Ibrahim, & Sare, (2018) juga menemukan bukti bahwa CSR memacu kinerja keuangan yang memberikan efek positif. Dikarenakan kurangnya penelitian terhadap kinerja keuangan yang melihat dimensi manajemen aset maka muncul hipotesis sebagai berikut :
H4 : ada perbedaan kinerja keuangan manajemen aset berdasarkan : a : partisipan ISRA yang konsisten dan tidak konsisten berpartisipasi b : sektor usaha