2. LANDASAN TEORI
2.1 Agency Theory
Teori keagenan merupakan dasar yang sering kali digunakan untuk memahami isu corporate governance dan earning management. Teori keagenan mendiskusikan masalah perbedaan kepentingan dan tujuan individu dengan pihak lain (Kumalasari dan Sudarma, 2013). Pada dasarnya masalah keagenan muncul akibat adanya ketidaksamaan tujuan antara pemegang saham (principal) sebagai pemilik organisasi dengan management (agent) yang mengendalikan organisasi. Menurut Pepper dan Gore (2015) teori keagenan menggambarkan orang-orang sebagai pemain oportunistik yang rasional memaksimalkan kebutuhan merkea sendiri dan berfokus pada imbalan ekstrinsik, bahkan merugikan orang lain. Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepimilikan manajer atas saham perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan kepemilikan yang kurang atas saham perusahaan maka manajer akan cenderung bertindak unutk memenuhi kepentingan pribadinya dan bukan untuk memaksimalkan perusahaan. Hal ini kemudian akan mendorong munculnya informasi asimetri antara manajemen dengan pemilik yang dapat memberikan kesempatan kepada manajer untuk melakukan manajemen laba dalam rangka menyesatkan pemilik mengenai kinerja ekonomi perusahaan (Sefiana, 2009). Inti dari hubungan keagenan adalah adanya pemisahaan kepemilikan di pihak
principal dan pengendalian di pihak agen (Albuquerquw & Wang, 2007).
Bonazzi dan Sardar (2007) menulis bahwa corporate governance merupakan mekanisme yang digunakan untuk mengawasi dan mengontrol manager agar dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dan keuntungan
shareholders. Corporate governance diarahkan untuk mengatur serta membatasi
aktivitas dari semua pemangku kepentingan supaya dapat mengurangi asimetri informasi yang terjadi antara principal dan agen yang diharapkan akan mengurangi tindakan manipulasi laba. Adanya corporate governance pada dasarnya diharapkan dapat memberikan keyakinan kepada investor bahwa mereka
akan menerima return atas dana yang telah diinvestasikan (Aras & Crowther, 2008).
2.2 Signaling Theory
Teori sinyal (Signaling Theory) menjelaskan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan akibat adanya asimetri informasi (Jama’an 2008). Asimetri informasi dalam pasar modal terjadi karena informasi yang diperoleh oleh manajemen perusahaan lebih banyak dibandingkan dengan informasi yang diperoleh oleh pihak investor. Asimetri informasi dapat dikurangi melalui teori sinyal dengan cara memberikan sinyal informasi yang lebih banyak kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Morris, 1987).
Teori sinyal menjelaskan tentang bagaimana inisiatif seorang manajer dalam sebuah perusahaan secara sukarela melaporkan informasi-informasi kepada pasar modal yang akan berpengaruh reputasi baik perusahaan. Reputasi yang baik akan memberikan kemudahan bagi perusahaan dalam memperoleh modal melalui laporan keuangan. Informasi yang diberikan kepada pasar modal akan mengurangi ketidakpastian yang dihadapi pihak luar (investor) sehingga juga akan meningkatkan nilai perusahaan (Astika, 2011).
Godfrey et al. (2006) berpendapat bahwa teori sinyal membahas tentang bagaimana manajer menggunakan akun-akun dalam laporan keuangan untuk memberikan sinyal yang berpengaruh pada harapan dan tujuan masa depan perusahaan. Teori sinyal merupakan teori yang menjelaskan bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada para pengguna laporan keuangan, informasi mengenai apa saja yang telah dilakukan manajemen perusahaan untuk merealisasikan keinginan para pemilik perusahaan dan informasi-informasi lain yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari perusahaan lain.
2.3 Resources Based Theory (RBT)
Resource based theory adalah teori yang dipelopori oleh Penrose (1959).
akan memberikan kinerja yang optimal sehingga dapat menghasilkan nilai bagi perusahaan. Keunggulan kompetitif adalah sesuatu yang melekat pada perusahaan dan sulit untuk ditiru oleh perusahaan lain. Keunggulan kompetitif diperoleh dengan cara memanfaatkan dan mengelola sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dengan baik. Resource based theory meyakini bahwa perusahaan adalah tempat berkumpulnya sumber daya dan kemampuan dalam mengelola sumber daya tersebut..
Yunita (2012) mengatakan bahwa Resource Based Theory (RBT) adalah sumber daya perusahaan memungkinkan untuk menciptakan competitive advantage bagi perusahaan karena bersifat heterogen. Nothnagel (2008) berasusmsi bahwa terdapat dua kriteria dalam Resource Based Theory, yang pertama adalah resource heterogeneity yang menjelaskan tentang persamaan kapabilitas yang juga dimiliki pesaing, sehingga hal tersebut tidak dapat disebut sebagai keunggulan bersaing dan yang kedua adalah resource immobility menjelaskan kapabilitas yang tidak dimiliki pesaing atau pesaing dapat memilikinya tetapi membutuhkan biaya yang besar.
2.4 Working Capital Management (Manajemen modal kerja)
Working Capital Management (manajemen modal kerja) didefinisikan
sebagai pengelolaan aktiva lancar dan kewajiban lancar serta digunakan untuk membiayai aset lancar (Shin and Soenen, 1998 dalam Mathuva, 2015). Sehingga, dapat dikatakan juga Manajemen modal kerja adalah kegiatan yang mencakup semua fungsi manajemen atas Current asset dan short-term debt dalam perusahaan agar mampu membiayai pengeluaran atau operasi perusahan (Esra & Apriweni, 2002). Apabila perusahaan memiliki kemampuan untuk mempertahankan tingkat modal kerja yang memuaskan maka perusahaan akan memiliki kemampuan untuk membayar keajiban-kewajiban yang sudah jatuh tempo. Manajemen modal kerja merupkan salah satu faktor terpenting untuk menjalankan kegiatan oprasional yang sudah direncanakan, oleh sebab itu modal kerja harus diolah dengan baik. Berikut adalah tujuan manajemen modal kerja bagi perusahaan menurut Khasmir (2008) adalah sebagai berikut:
1. Modal kerja digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas perusahaan, artinya likuiditas perusahaan sangat tergantung kepada manajemen modal kerja.
2. Dengan modal kerja yang cukup perusahaan memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban pada waktunya. Pemenuhan kewajiban yang sudah jatuh tempo dan segera harus dibayar secara tepat waktu merupakan ukuran keberhasilan manajemen modal kerja.
3. Memungkinkan perusahaan unutk memiliki persediaan yang cukup dalam rangka memenuhi kebutuhan pelanggannya.
4. Memungkinkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana dari para kreditor.
5. Guna memaksimalkan penggunaan aktiva lancar untuk mengkatkan penjualan dan laba.
Manajemen modal kerja yang efisien merupakan komponen utama dari perusahaan untuk menciptakan nilai tambah bagi para pemegang saham (Shin dan Shonen, 1998). Faktor yang paling berpengaruh dan yang terpenting dalam
Working capital manajemen adalah cash conversion cycle (Wang-Tzu et Al.,
2016). sehingga ukuran efisiensi modal kerja yang digunakan pada penelitian ini adalah cash conversion cycle yang terdiri dari komponen modal kerja yang dihitung berdasarkan penjumlahan days of sales in inventory days dan days of
sales outstanding dikurangi days of payable outstanding.
2.4.1 Cash Conversion Cycle
Cash conversion cycle merupakan lamanya waktu membayar modal kerja
dan mengumpulkan uang tunai dari penjualan modal kerja (Brigham dan Huston, 2009: 495). Secara definitif yang dimaksudkan dengan cash conversion cycle atau siklus konversi kas adalah interval waktu antara pengeluran kas untuk pembelian bahan baku sampai dengan terkumpulnya kembali kas dari hasil penjualan barang jadi (Deloof, 2003). Konsep dari siklus perputaran kas atau cash conversion cycle menurut Horne dan Wachowicz (2000) keuntungan akan didapatkan oleh perusahaan dengan cara mempercepat penerimaan kas dan memperlambat pengeluaran kas yang digunakan untuk membayar hutang. Perusahaan
mempercepat penerimaan kas agar dapat menggunakan kas tersebut untuk kebutuhan utama yang dapat meningkatkan efisiensi yang akan meningkatkan profitabilitas dan nilai perusahaan, dan perusahaan akan berusaha untuk menunda pembayaran hutang tanpa harus menurunkan kepercayaan kreditor agar dapat meingkatkan manfaat kas yang didapat.
Secara umum cash conversion cycle berasal dari receivable days ditambah
inventory days dikurangi dengan payable days. Semakin pendek waktu yang
diperlukan maka semakin baik untuk perusahaan, sebaliknya semakin panjang waktu yang diperlukan semakin banyak modal yang harus ditanamkan. Pengukuran cahs conversion cycle menggunakan rumus (Keown, et. al, 2001:492):
𝐶𝐶𝐶 = 𝐷𝑆𝑂 + 𝐷𝑆𝐼 − 𝐷𝑃𝑂 (2.1)
Dimana :
DSO = Days Of Sales Outstanding DSI = Days Of Sales In Inventory DPO = Days Of Payable Outstanding
2.4.1.1 Days of Sales Outstanding
Menilai likuiditas suatu perusahaan sangatlah penting untuk menghitung kualitas dan likuiditas piutang (Subramarnyam and Wild, 2010). Kualitas disini dimaksudkan pada kemungkinan tertagihnya piutang tanpa menimbulkan kerugian, sedangkan likuiditas piutang mengacu pada kecepatan konversi piutang menjadi kas. Kecepatan konversi ini diatur menggunakan tingkat perputaran piutang (Subramarnyam dan Wild, 2010).
Salah satu cara untuk menganalisa piutang usaha adalah dengan menggunakan metode analisis yaitu rasio periode pengumpulan piutang rata-rata
(Days of Sales Outstanding) atau biasa di kenal juga dengan Account receivable days. Days of Sales Outstanding adalah waktu yang digunakan perusahaan untuk
piutang-piutangnya. Pengukuran account receivable days menggunakan rumus (Keown et. et. al, 2001:492):
Days of sales outstanding =Account Receivable
𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 × 365 days (2.2)
2.4.1.2 Perputaran persediaan Harian ( Days of Inventory outstanding)
Persediaan merupakan salah satu bagian dari modal kerja (Subramarnyam dan Wild, 2010). Sebagian perusahaan mempertahankan jumlah persediaan pada tingkat tertentu. Perusahaan ingin memiliki persediaan yang cukup agar proses produksi ataupun penjualan perusahaan dapat terus berjalan. Manajemen dapat menganalisa pengelolaan persediaan perusahan dengan mengukur tingkat perputaran harian (Days of Inventory outstanding). Days of Inventory outstanding merupakan rasio antara jumlah harga pokok barang yang di jual dengan nilai rata-rata yang dimiliki perusahaan (Munawir, 2007). Perhitungan Days of Inventory
outstanding menunjukan seberapa banyak perusahan membutuhkan waktu untuk
mengubah persediaan menjadi kas atau menjadi piutang. Analisis perputaran persediaan harian ini menggunakan rumus Keown et. et. al, (2001).
𝐷𝑎𝑦𝑠 𝑜𝑓 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 = Inventory
𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝐺𝑜𝑜𝑑𝑠 𝑆𝑜𝑙𝑑 × 365 days (2.3)
2.4.1.3 Days of Payable Outstanding
Account payable merupakan salah satu sumber pembiayaan perusahaan
yang bersifat jangka pendek (Gitman, 2011). Days of Payable Outstanding merupakan jangka waktu yang dibutuhkan perusahaan dalam melakukan pembayaran atas hutang-hutangnya. Apabila perusahaan mampu menunda pembayaran hutang-hutangnya tanpa meningkatkan biaya operasi maka akan meningkatkan profitabilitas perusahaan (Brigham dan Huston, 2009). Menurut Gitman (2012) Days of Payable Outstanding merupakan rata-rata waktu yang diperlukan oleh perusahaan untuk membayar hutang dagang. Secara umum perusahaan akan mendapatkan keuntungan dengan mempercepat penerimaan kas dan memperlambat pengeluaran kas atau pembayaran utang. Perusahaan berusaha untuk menunda pembayaran utang selama yang merka bias untuk meningkatkan
manfaat kas yang telah didapatkan (Horne dan Wachowicz, 2000). Pengukuran
Days of Payable Outstanding menggunakan rumus Keown et. et. al, (2001:492)
𝐷𝑎𝑦𝑠 𝑜𝑓 𝑝𝑎𝑦𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑜𝑢𝑡𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 =account payable
𝑠𝑎𝑙𝑒𝑠 × 365 days (2.4)
2.5 Good Corporate Governance (GCG)
Menurut FCGI (2001) pengertian Good Corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan esktern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.
Surya dan Yustiavandana (2006) menyatakan bahwa board diversity merupakan hal yang menarik untuk diteliti berkaitan dengan corporate
governance di Indonesia. Board diversity dianggap dapat memberikan
karakteristik yang unik untuk perusahaan (Kusumastuti, Supatmi dan Sastra, 2007.
2.5.1 Board Diversity
Board diversity sering didefinisikan sebagai pembagian personal diantara
anggota yang saling bergantung dalam unit kerja (Jackon, Joshi dan Erhardt, 2004 dalam Clarke, Thomas dan Branson, 2012). Keberagaman direksi dipercaya dapat memberikan pengaruh terhadap nilai perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, board diversity diduga dapat memberikan dampak yang positif, yaitu dapat memberikan alternatif penyelesaian terhadap suatu masalah yang semakin beragam dibandingkan dengan anggota dewan yang homogen. (Carter et. al, 2003). Menurut Clarke, Thomas dan Branson (2012) pengembangan
diversity dibagi menjadi dua, yaitu task-oriented dan relation-oriented. Task-oriented mencerminkan atribut yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan
dan kemampuan yang dibutuhkan dalam pekerjaan, sedangkan relation-oriented meliputi umur, gender dan etnis (Clarke, Thomas dan Branson, 2012). Board
2.5.1.1 Woman On Board
Wanita merupakan kelompok minoritas dalam anggota dewan atau eksekutif perusahaan. Namun, Charness dan Gneezy (2004) mengatakan adanya wanita dalam jajaran direksi dikatakan dapat membantu mengambil keputusan yang lebih tepat dan beresiko lebih rendah, dikarenakan wanita kurang menyukai resiko dibandingkan dengan pria sehingga wanita memiliki presentase resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan pria. Sihite (2012) mengatakan bahwa perempuan dalam posisi direktur memberikan pernanan yang sangat penting, mereka dapat menjadi penyeimbang dan dianggap mampu memberikan iklim kerja yang lebih baik. Selain itu adanya keberagaman akan memperluas wawasan kepada pamahaman tentang pasar, pelanggan, karyawan, dan peluang bisnis yang terus berkembang dari tahun ke tahun (Thomsen dan Coyon, 2012). Sihite (2012) mengatakan perusahaan yang memiliki jumlah perempuan dalam tingkatan tertentu dalam suatu manajemen dapat menghasilkan suatu kualitas laba yang baik. Hal ini diperjelas oleh McKinsey and Co (2007) dibutuhkan setidaknya tiga perempuan dari total sepuluh orang direksi untuk menghasilkan peningkatan kinerja perusahaan yang signifikan. Woman on board pada penelitian ini didapat dari hasil perbandingan antara total board wanita dengan total board.
2.6 Firm Size
Klasifikasi ukuran perusahaan terbagi dalam 3 kategori yaitu, large firms,
medium firms dan small firms (Mardiyah, 2001). Ukuran perusahaan (Firm size)
menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang dapat dinyatakan dengan total aktiva perusahaan atau total penjualan bersih (Kurniasih & Sari, 2013). Perusahaan yang besar memiliki profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan uang kecil dikarenakan adanya market power dan market experience sehingga dapat menjual produknya dengan harga yang lebih tinggi (Pervan, 2012). Menurut (Audretsch & Elston, 2000) perusahaan besar juga memiliki akses yang lebih mudah untuk mendapatkan pendanaan sehingga memiliki kesempatan investasi yang lebih luas. Adanya kesempatan investasi yang luas berdampak pada meningkatnya kesempatan bertumbuh perusahaan dan pada akirnya meningkatkan
nilai perusahaan. Menurut Sawir (2004) perusahaan besar memiliki kelebihan dibandingkan dengan perusahaan berukuran kecil. Kelebihan tersebut yaitu : 1. Ukuran perusahaan dapat menentukan tingkat kemudahan perusahaan
memperoleh dana dari pasar modal.
2. Ukuran perusahaan menentukan kekuatan tawar-menawar (bargaining power) dalam kontrak keuangan.
3. Adanya kemungkinan pengaruh skala dalam biaya dan return membuat perusahaan yang lebih besar dapat memperoleh lebih banyak laba.
Pada penelitian ini penulis memilih untuk menggunakan log total penjualan dibandingkan dengan log total asset, dikarenakan total sales memiliki hubungan terhadap cash conversion cycle. Ukuran yang dapat digunakan untuk menggambarkan ukuran suatu perusahaan adalah logaritma natural dari total penjualan (Margaretha dan Ramadhan, 2010). Sehingga penelitin kali ini menggunakan rumus :
𝐹𝑖𝑟𝑚 𝑠𝑖𝑧𝑒 = Ln 𝑇𝑆 (2.5)
Keterangan :
Firm size = Ukuran Perusahaan
LnTS = Logaritma natural dari Total Penjualan
2.7 Firm Value
Nilai perusahaan merupakan ukuran penting terhadap kekayaan pemegang saham (Gill & Obradovich, 2012). Firm value dapat juga didefinisikan sebagai nilai pasar karena mencerminkan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham meningkat. Menurut Husnan (2000) nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia di bayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual, Fim value juga sering dikaitkan dengan harga saham. menurut Keown et al. (2004) nilai perusahaan merupakan nilai pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar. Nilai pemegang saham akan meningkat apabila nilai perusahaan meningkat yang ditandai dengan tingkat pengembalian investasi yang tinggi kepada pemegang saham (Gill dan
Obradovich 2012). Tujuan utama perusahaan menurut theory of the firm adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (Salvatore, 2005).
Rasio-rasio keuangan digunakan investor untuk mengetahui nilai pasar perusahaan, salah satu cara menghitung nilai perusahaan adalah dengan menggunakan perhitungan Tobin’s Q yang dikembangkan oleh James Tobin (1969). Nilai Tobin’s Q menggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki perusahaan. Dapat dikatakan bahwa Tobins’Q dapat memberikan informasi yang paling baik, karena dalam Tobins’Q memasukan semua unsur hutang dan modal saham perusahaan, tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas perusahaan yang dimasukan namun semua asset perusahaan. Dengan memasukkan seluruh asset perusahaan berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada satu tipe investor saja yaitu investor dalam bentuk saham namun juga untuk kreditur karena sumber pembiayaan operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga dari pinjaman yang diberikan oleh kreditur (Sukamulja, 2004).
Tobin’s Q dihasilkan dari penjumlahan market capitalization dan total debt dibandingkan dengan total ekuitas perusahaan. Penelitian ini menggunakan
rumus Tobin’s Q yang dikembangkan oleh (Chung & Pruitt, 1994) yaitu sebagai berikut :
𝑇𝑄 =𝑀𝑉𝐸+𝑇𝐷𝑒𝑏𝑡
𝑇𝐴 (2.6)
Keterangan : TQ = Tobin’s Q
MVE = Market Value Equity (harga penutupan saham diakhiri tahun buku X jumlah saham beredar)
TA = Nilai buku total aktiva (Firm assets) TDebt = Total Debt
Nilai Tobin’s Q lebih besar dari satu menunjukan bahwa perusahaan mempunyai nilai bagi pemegang saham dan apabila nilainya kurang dari satu maka perusahaan tidak mempunyai kinerja yang baik (Kashif Rashid dan Sardar, 2008).
2.8 Kajian Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu mengenai hubungan Working capital management terhadap firm value sudah banyak diteliti sebelumnya dan menunjukan hasil yang beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Lai, Limin (2012) dan Akram et al. (2016) menunjukan bahwa hubungan antara working capital management yang diukur dari Cash Conversion Cycle berpengaruh negative terhadap firm value. Penelitian lain yang dilakukan oleh Wang-Tzu et al. (2016) yang meneliti pengaruh cash conversion cycle dengan firm value yang diukur dengan Tobin’s Q pada 539 perusahaan yang terdaftar di stock exchange of Taiwan menjukan bahwa terdapat hubungan yang negative significant antara CCC dan Tobin’s Q. Namun, penelitian lain juga yang dilakukan oleh Vural et al. (2012) dan Ademola & Kemisola (2014) mengatakan bahwa terdapat hubungan positif antara CCC dengan Tobin’s Q.
Beberapa penelitian terdahulu juga meneliti tentang hubungan antara
board diversity yang dilihat dari proporsi wanita dengan fim value yang
dilakukan oleh Nguyen dan Faff (2006-2007) menunjukan hasil yang positif. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh David A. Carter et al. (2003) dan Haldar A. et al. (2015) menunjukan adanya hubungan positif significant antara hubungan
board diversity dengan firm value. Namun, penelitian lain yang dilakukan oleh
Renee B., A., et al. (2009) dan Thuy Anh dan Nha Khanh (2017) menunjukan hasil yang negative antara hubungan women on board dengan firm value.
Penelitian terdahulu yang meneliti tentang hubungan antar firm size dengan firm value yang dilakukan oleh Suharli (2006), dan Fauzia (2015). Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Kodongo et.al (2013) menunjukan bahwa firm size memiliki pengaruh positif terhadap firm value untuk perusahaan kecil tetapi negatif untuk perusahaan besar.
2.9 Hipotesa Penelitian
2.9.1 Pengaruh Cash Conversion Cycle terhadap Firm value
Teori signaling menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar, dengan demikian diharapkan pasar dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk (Hartono,
2005). Perusahaan yang memiliki kualitas yang baik nantinya akan member signal dengan cara menyampaikan laporan keuangannya agar dapat diketahui secara publik. Siklus konversi kas atau Cash conversion cycle merupakan lamanya waktu membayar modal kerja dan mengumpulkan uang tunai dari penjualan modal (Brigham dan Huston, 2009: 495). Siklus konversi kas yang singkat menandakan bahwa perusahan tersebut merupakan perusahaan yang likuid dan perusahaan yang memiliki siklus konversi kas yang kecil menandakan perusahaan tersebut lebih efisien dalam mengelola modal mereka. Sehingga informasi yang diberikan perusahaan kepada pasar agar masyarakat atau investor mengetahui perusahaan tersebut likuid sehingga para investor mau berinvestasi pada perusahaan tersebut. Hal ini kemudian akan berdampak pada nilai pasar perusahaan.
Akram et. al (2016) dan Lai (2012) dalam penelitiannya mengatakan bahwa CCC berpengaruh negative terhadap firm value. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh dan akram et. al (2016) dan Wang-Tzu et. al yang mengatakan bahwa terdapat hubungan negative yang signifikan antara cash
conversion cycle dan Tobin’s Q. Namun, penelitian lain juga yang dilakukan oleh
Vural et al. (2012) dan Ademola & Kemisola (2014) mengatakan bahwa terdapat hubungan positif antara CCC dengan Tobin’s Q.
H1: Cash conversion cycle berpengaruh terhadap firm value.
2.9.2 Pengaruh Women on Board Terhadap Firm Value
Menurut Alvarez, Sanchez dan Dominguez (2010) peningkatan independensi dewan direksi dan kontrol yang baik akan terjadi karena konsekuensi dari keberagaman gender. Anggota dewan memegang peran Yang sangat penting yaitu sebagai mekanisme untuk mengendalikan dan memantau manager (Carter et. Al, 2003). Hadirnya wanita dalam dewan akan memperluas wawasan kepada pamahaman tentang pasar, pelanggan, karyawan, dan peluang bisnis yang terus berkembang dari tahun ke tahun (Thomsen dan Coyon, 2012). Charness dan Gneezy (2004) mengatakan adanya wanita dalam jajaran direksi dikatakan dapat membantu mengambil keputusan yang memiliki resiko lebih rendah, dikarenakan wanita kurang menyukai resiko dibandingkan dengan pria
sehingga wanita memiliki presentase resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan pria. Sifat wanita yang kurang menyukai resiko ini akan membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam pengambilan keputusan bisnis. Kehatian dalam pengambilan keputusan bisnis membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam mengelola sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan. Hal ini pada akirnya akan berhujung pada kinerja perusahaan yang baik (Alvarez, Sanchez dan Dominguez, 2010). Pihak menejemen perusahaan akan memberikan berusaha sinyal kepada para investor sesuai dengan teori signal, mengenai informasi yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut lebih baik dari perusahaan lain sehingga diharapkan hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan. Keberadaan wanita dalam jajaran komisaris dan direksi menandakan bahwa perusahaan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu (tidak diskriminasi), sehingga hal ini dapat meningkatkan reputasi (legitimasi) dan diharapkan investor akan memberikan apresiasi dengan mau berinvestasi dalam perusahaan. Menurut teori signal, keberadaan wanita dalam dewan merupakan signal bahwa perusahaan telah menerapkan tatakelola perusahaan yang baik, karena telah memenuhi syarat kesetaraan, sehingga dengan adanya tatakelola yang baik investor akan memperoleh keyakinan bahwa investasi dalam perusahaan akan dapat menghasilkan return yang baik.
Carter et. Al (2003) melakukan penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara women on board, firm value dan corporate governance dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang tercatat dalam Fortune di Amerika Serikat. Board diversity diukur melalui persentase jumlah wanita dalam dewan, ras minoritas dan proporsi outside directors. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara jumlah wanita dan ras minoritas dalam dewan dengan firm value.
Hoa Nguyen & Robert Faff (2006) mengatakan bahwa women on board` berpengaruh positif terhadap firm value. Keberadaan wanita dapat meningkatkan nilai pemegang saham sebagaimana keberadaan direktur wanita dapat meningkatkan firm value. Penelitian yang dilakukan oleh Haldar et.al (2015) menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara board diversity
yang dilihat dari proporsi wanita dengan firm value. Kehadiran wanita dalam dewan meningkat bersamaan dengan firm size dan board size.
H2: Women on board berpengaruh terhadap Firm Value.
2.9.3 Pengaruh Firm Size terhadap Firm value
Menurut resources based theory, ukuran perusahaan merupakan aspek yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan. Resource based
theory memandang perusahaan sebagai kumpulan sumber daya dan kemampuan
(Wernerfelt, 1984). Perbedaan sumber daya dan kemampuan perusahaan dengan perusahaan pesaing akan memberikan keuntungan kompetitif. Perusahaan akan mendapat keunggulan dibandingkan perusahaan lain yang lebih kecil karena memiliki modal yang lebih besar. Menurut Sujoko (2007) ukuran perusahaan yang besar membuat investor akan memberikan respon yang positif sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan
Obradovich et.al (2013) melakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nilai dari sebuah perusahaan dan menemukan bahwa salah satunya adalah firm size yang memberikan pengaruh positif terutama pada perusahaan-perusahaan Amerika. Menurut Suharli (2006) dan Noor (2015) terdapat hubungan positif antara firm size dengan firm value. Kodongo et.al (2013) berpendapat bahwa firm size memiliki pengaruh positif terhadap firm value untuk perusahaan kecil tetapi negatif untuk perusahaan besar.