• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Hubungan kontrak satu atau lebih pemilik (principal) yang memanfaatkan pihak lain atau manajer (agent) untuk memimpin perusahaan disebut dengan teori keagenan (Jensen dan Meckling, 1976). Pemegang saham atau pemilik dalam teori keagenan berlaku sebagai principal. Sedangkan manajemen berlaku sebagai agent dan mempunyai kewajiban untuk mengatur perusahaan yang telah dipercayakan oleh principal.

Teori keagenan mempunyai anggapan bahwa setiap orang mempunyai suatu motivasi untuk melaksanakan kontrak demi keinginan masing-masing orang. Kontrak dilakukan oleh pihak principal yang disebabkan dorongan motivasi untuk mendapatkan kesejahteraannya melaluinaiknya harga saham.

Sedangkan kontrak yang dilakukan agent yang disebabkan dorongan motivasi untuk mendapatkan kesejahterannya melalui kompensasi yang meningkat.

Ketika principal tidak mempunyai informasi terkait kinerja agent menyebabkan semakin konflik. Sedangkan informasi yang lebih lengkap mengenai kinerja perusahaan dimiliki oleh agent. Akibatnya muncul ketidakseimbangan dari informasi yang biasa disebut asimetri informasi.

Agent terdorong untuk menghilangkan beberapa informasi yang tidak diketahui oleh principal dan menyajikan informasi yang yang tidak sebenarnya, terutama informasi yang berkaitan dengan pengukuran kinerja agent akibat dari permasalahan konflik kepentingan yang terjadi.

Teori keagenan menunjukkan adanya kaitan dari sisi ekuitas dalam

penelitian ini. Pemilik sebagai principal dan manajer sebagai agent memiliki

kepentingan masing-masing demi mencapai tujuannya. Pihak principal

menginginkan pendapatan perusahaan dapat meningkat. Sedangkan pihak agent

menginginkan pendapatannya juga meningkat dengan membuat laporan keuangan

perusahaan sedemikian rupa tanpa sepengetahuan pemilik perusahaan terhadap

setiap informasi yang ada sehingga pendapatan perusahaan dapat meningkat.

(2)

Meningkatnya pendapatan perusahaan akan meningkatkan jumlah ekuitas perusahaan dan membuat principal mencapai kepentingannya.

2.2. Teori Akuntansi Positif (Positive Accounting Theory)

Faktor-faktor ekonomi dapat disambungkan dengan perilaku manajer (Watts dan Zimmerman, 1986). Teori akuntansi positif adalah bagian dari teori keagenan (Anis dan Imam, 2016). Hal tersebut disebabkan teori akuntansi positif terdapat tiga kontrak keagenan yaitu agent-principal (the bonus plan hypothesis), antara agent-kreditur (the debt to equity hypothesis), antara agent dengan pemerintah (the political hypothesis).

Tiga hipotesis utama dalam teori akuntansi positif yaitu the bonus plan hypothesis, the debt to equity hypothesis, the political hypothesis (Watts dan Zimmerman, 1986).

1. The Bonus Plan Hypothesis

Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, manajer akan cenderung menggunakan metode-metode akuntansi yang dapat memanipulasi besar kecilnya angka akuntansi dalam laporan keuangan. Manajer melakukan hal tersebut untuk memperoleh bonus yang maksimal setiap tahun, karena keberhasilan kinerja manajer diukur dengan besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan.

2. The Debt to Equity Hypothesis

Hipotesis ini berkaitan dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi perusahaan di dalam perjanjian utang. Ketika perusahaan mulai terancam melanggar perjanjian utang, maka manajer perusahaan akan berusaha untuk menghidari terjadinya perjanjian utang tersebut dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan atau laba. Pelanggaran terhadap perjanjian utang dapat diakibatkan sanksi yang pada akhirnya akan membatasi tindakan manajer dalam mengelola perusahaan. Oleh karena itu, manajemen akan meningkatkan laba untuk menghindari atau menunda pelanggaran perjanjian.

3. The Political Hypothesis

(3)

Perusahaanakan melakukan rekayasa dengan menurunkan laba ketika bertemu dengan biaya politik. Hal itu dilakukan untuk membuat biaya politik yang ditanggung menjadi minimal.

Teori akuntansi positif dengan political hypothesis menunjukkan adanya kaitan dari sisi pajak dalam penelitian ini. Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara manajemen dan pemerintah, di mana manajer bersepakat dengan pemilik perusahan sebagai agent dan pemerintah sebagai principal dalam hal pajak. Pemerintah menginginkan pendapatan melalui pajak meningkat. Sedangkan manajer dan pemilik perusahaan ingin berusaha mengurangi pembayaran pajak dengan melakukan perencanaan pajak. Hal ini dikarenakan semakin besar pendapatan suatu perusahaan, maka pajak yang dikenakan atas pendapatan suatu perusahaan tersebut juga semakin besar. Pemilik perusahaan tentunya tidak menginginkan hal tersebut terjadi karena dapat mengurangi pendapatan perusahaan sehingga pemilik perusahaaan menyetujui manajer untuk melakukan perencanaan pajak.

2.3. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan adalah nilai yang dihasilkan dari kinerja suatu perusahaan yang dicerminkan melalui harga saham. Tingginya harga saham membuat tinggi juga nilai perusahaan dan akan membuat pasar menjadi percaya terhadap prospek kinerja perusahaan saat ini dan saat yang akan datang (Harmono, 2009).

Nilai perusahaan memiliki arti penting bagi suatu perusahaan dan perlu untuk dimaksimalkan. Maksimalnya nilai perusahaan dapat berarti tujuan utama dari suatu perusahaan menjadi maksimal. Nilai perusahaan yang meningkat adalah sebuah keinginan yang diharapkan oleh pemilik. Nilai perusahaan yang meningkat akan meningkatkan juga kesejahteraan para pemilik.

Nilai perusahaan juga mungkin dipengaruhi oleh profitabilitas dan

perencanaan pajak. Terdapat banyak cara yang dapat digunakan untuk

menghitung nilai perusahaan. Nilai perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan

menggunakan nilai pasar ekuitas yang didapat dari nilai saham perusahaan

dikalikan dengan jumlah total saham yang beredar. Nilai pasar ekuitas merupakan

(4)

cerminan nilai modal yang dipunyai perusahaan melalui penilaian yang didapatkan dari para pelaku pasar.

2.4. Profitabilitas

Profitabilitas merupakan cara untuk mengukur yang digunakan untuk melihat seberapa perusahaan mampu mendapatkan laba. Nilai profitabilitas dituliskan dalam bentuk persen.

Keputusan investasi investor dipengaruhi oleh profitabilitas perusahaan.

Nilai profitabilitas yang baik akan membuat investor percaya kepada perusahaan dan membuat investor bersedia untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan.

Sebaliknya, apabila nilai profitabilitas tidak baik artinya perusahaan tidak mampu mendapatkan laba, maka investor akan tidak percaya kepada perusahaan dan menarik dananya yang telah diinvestasikan ke perusahaan.

Profitabilitas perusahaan adalah penilaian dasar dari kondisi suatu perusahaan. Maka dari itu, alat analisis dibutuhkan untuk dapat mengukurnya.

Rasio profitabilitas digunakan untuk melihat seberapa efektif manajemen yang dilihat melalui hasil yang didapatkan dari penjualan dan investasi (Kasmir, 2015).

Selain itu, profitabilitas sangat berarti bagi perusahaan terutama dalam menjaga kehidupan perusahaan di masa mendatang. Hal tersebut dikarenakan profitabilitas dapat memperlihatkan sejauh mana perusahaan tersebut memiliki masa depan yang baik. Setiap perusahaan selalu berupaya untuk menaikan profitabilitasnya. Semakin tinggi tingkat profitabilitas perusahaan, maka kehidupan perusahaan di masa mendatang menjadi lebih terjaga.

Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan menggukan return on

asset. Return on asset merupakan sebuah ukuran rasio untuk melihat seefisien apa

perusahaan mengatur aset, di mana aset tersebut digunakan untuk mendapat laba

yang dituliskan dalam bentuk persen. Manajer dan investor sangat terbantu

dengan adanya return on asset sehingga dapat mengukur sebaik apa perusahaan

dapat menggunakan aset yang dimiliki menjadi keuntungan. Tingginya nilai

return on asset memiliki arti perusahaan tersebut dapat mengatur aset dengan

efektif sehingga mendapat laba bersih.

(5)

2.5. Perencanaan Pajak

Perencanaan pajak adalah tahapan pertama dalam melakukan manajemen pajak. Manajemen pajak didefinisikan sebagai sebuah cara yang dilakukan untuk melaksanakan kewajiban pajak dengan benar, di mana pajak yang dibayarkan berada dalam keadaan minimal sehingga laba yang diharapkan dapat diperoleh (Suandy, 2016). Tahap berikutnya adalah tahap implentasi dan tahap pengendalian pajak. Pada tahap ini, aturan pajak dikumpulkan dan diteliti sehingga dapat menentukan hal apa yang akan dilakukan untuk menghemat pajak.

Fokus dari perencanaan pajak sebenarnya adalah untuk membuat kewajiban pajak menjadi minimal oleh karena hasil dari melakukan penghematan pajak, bukan karena melakukan penggelapan pajak.

Perencanaan pajak tidak berarti penggelapan pajak. Ada tiga unsur yang harus diketahui dalam perencanaan pajak, yaitu tidak menyalahi aturan pajak, rasional secara bisnis, dan layaknya bukti pendukung. Pada dasarnya, usaha penghematan pajak adalah u paya mengecilkan pajak dan upaya memperlambat waktu pembayaran yang tidak menyalahi aturan perpajakan.

Pohan (2016:18) mengemukakan bahwa perencanaan pajak adalah proses mengatur pajak yang menggunakan segala celah (loopholes) yang ada sehingga jumlah pajak yang dibayarkan perusahaan menjadi minimal. Suandy (2016:7) mengemukakan bahwa kewajiban pajak dapat diminimalkan dengan melakukan dua macam cara, bisa dengan melakukan yang sesuai dengan aturan perpajakan dan bisa dengan melakukan yang menyalahi aturan perpajakan. Namun dari definisinya, dapat diketahui bahwa sesungguhnya perencanaan pajak adalah hal yang sah karena merupakan usaha penghindaran pajak dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

2.5.1. Penghindaran Pajak dan Penggelapan Pajak

Penggelapan pajak adalah perencanaan pajak yang menyalahi aturan

undang-undang, Sebaliknya, penghindaran pajak merupakan upaya untuk

mengecilkan pajak dan tidak menyalahi peraturan perpajakan.

(6)

Berbagai macam sanksi terdapat dalam perpajakan, dalam praktiknya perusahaan membayar sanksi yang tidak seharusnya. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, misalnya kesalahan teknis maupun ketidaktahuan pihak perusahaan akan peraturan tertentu.

Pembayaran sanksi yang tidak seharusnya merupakan pemborosan dan menimbulkan kerugian bagi pihak perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus bekerja secara cerdas agar tidak terjadi hal demikian. Hal ini salah satu yang menjadi dasar diperlukan perencanaan pajak dalam suatu perusahaan.

Penghindaran pajak dengan cara perencanaan pajak dan penggelapan pajak memiliki kesamaan dalam tujuan yaitu untuk dapat mengecilkan beban pajak. Namun secara konsep, penggelapan merupakan hal yang ilegal, di mana biasanya terjadi manipulasi atas penghasilan untuk memperkecil jumlah pajak terhutang dengan kata lain perusahaan menyimpan hal yang sesungguhnya. Hal tersebut juga tidak terjamin karena cara tersebut menyalahi aturan undang-undang dan peraturan perpajakan. Penggelapan pajak sangat beresiko karena merupakan pelanggaran hukum. Sedangkan penghindaran pajak dengan perencanaan pajak adalah hal yang sah karena tidak menyalahi peraturan perundang-undangan pajak (Pohan, 2016:23).

2.5.2. Book Tax Difference

Laba yang dihasilkan perusahaan merupakan ukuran untuk melihat seberapa berhasil suatu perusahaan. Kinerja dan masa depan dari suatu perusahaan dinilai melalui laba. Bagi investor, laba merupakan informasi yang digunakan dalam pembagian dividen, penentuan kebijakan investasi, dan pembayaran pajak.

Pajak merupakan sumber pemasukan terbesar negara. Pajak yang dibayarkan wajib pajak digunakan untuk membangun negara Indonesia.

Perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia memiliki peranan pajak yang sangat besar. Sebelumnya, laba fiskal harus dicari untuk digunakan mengetahui seberapa besar pajak yang dibayarkan.

Penyebab terjadinya perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal

adalah adanya perbedaan cara pengukuran dan prinsip dalam akuntansi dan aturan

(7)

pajak yang berlaku. Rekonsiliasi fiskal merupakan sebuah proses dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian atas laba akuntansi yang hasilnya akan mendapatkan laba yang tidak menyalahi aturan perpajakan.

Tujuan dari dilakukannya rekonsiliasi fiskal adalah menyesuaikan laba akuntansi yang nantinya diolah dalam laporan keuangan yang akan dimasukkan dalam SPT Tahunan. Perbedaaan cara pengukuran dan prinsip dalam akuntansi dan aturan pajak yang berlaku membuat rekonsiliasi fiskal perlu untuk dilaksanakan. Hal ini dikarenakan laba kena pajak dan pajak penghasilan terutang dipengaruhi oleh koreksi fiskal yang dihasilakn dari rekonsiliasi fiskal (Zdulhiyanov, 2015).

Perhitungan laba fiskal yang berlaku sesuai peraturan perpajakan di Indonesia adalah menggunakan metode akuntansi yaitu metode akrual.

Dampaknya adalah perusahaan tidak butuh membuat pembukuan rangkap dalam hal menyusun laporan keuangan perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan diharuskan untuk mengadakan rekonsiliasi fiskal pada akhir tahun, di mana yang hasilnya akan memunculkan koreksi fiskal atas laba akuntansi. Penghasilan kena pajak dapat dihasilkan dari koreksi fiskal atas laba akuntansi (Djamaludin, Wijayanti, & Rahmawati, 2008).

Penyebab terjadinya perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal

adalah adanya perbedaan cara pengukuran dan prinsip dalam akuntansi dan aturan

pajak yang berlaku (Wijayanti, 2006). Perbedaan tersebut ada dua sifat yaitu

sementara (temporary difference) dan tetap (permanent difference). Book Tax

Difference pada penelitian ini digunakan untuk melihat indikasi perencanaan

pajak di sebuah perusahaan. Laba perusahaan akan rendah jika memiliki

perbedaan laba yang banyak. Sedangkan laba perusahaan akan tinggi jika

memiliki perbedaan laba yang sedikit. Artinya, semakin besar perbedaan laba

yang terjadi, maka perusahaan semakin dicurigai telah merekayasa laba

perusahaan yang menggunakan cara membesarkan angka laba perusahaan tersebut

(Zdulhiyanov, 2015).

(8)

2.6. Hubungan Antar Variabel

2.6.1. Hubungan Perencanaan Pajak Terhadap Nilai Perusahaan

Perencanaan pajak memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal tersebut dikarenakan perusahaan yang melaksanakan upaya perencanaan pajak dapat melakukan kewajiban pajak yang tidak menyalahi ketentuan peraturan perpajakan. Laba bersih yang didapatkan oleh perusahaan yang melaksanakan perencanaan pajak akan menghasilkan laba yang lebih banyak daripada perusahaan yang tidak melaksanakan perencanaan pajak sama sekali. Laba bersih yang meningkat yang dikarenakan melaksanakan perencanaan pajak, akan membuat nilai perusahaan juga meningkat. Hal ini dikarenakan perusahaan yang melaksanakan perencanaan pajak dalam usaha memperkecil beban pajak dengan tujuan membuat perusahaan memperoleh laba bersih meningkat.

2.6.2. Hubungan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan

Profitabilitas memiliki pengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal tersebut dikarenakan profitabilitas merupakan cara untuk mengukur yang digunakan untuk melihat seberapa perusahaan mampu mendapatkan laba. Keputusan investasi investor dipengaruhi oleh profitabilitas perusahaan. Nilai profitabilitas yang baik akan membuat investor percaya kepada perusahaan dan membuat investor bersedia untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan. Sebaliknya, apabila nilai profitabilitas tidak baik artinya perusahaan tidak mampu mendapatkan laba, maka investor akan tidak percaya kepada perusahaan dan menarik dananya yang telah diinvestasikan ke perusahaan.

2.7. Penelitian Terdahulu

2.7.1. Penelitian Wahab dan Holland (2012)

Penelitian ini meneliti tentang pengaruh tax planning terhadap ekuitas

yang berjudul “Tax Planning, Corporate Governance, and Equity Value”. Tujuan

penelitian ini adalah melihat bagaimana pengaruh dilakukannya perencanaan

pajak pada suatu perusahaan terhadap nilai perusahaan, di mana dengan adanya

perencanaan pajak berarti ada asimetri informasi dan akan berakibat berkurangnya

nilai suatu perusahaan bagi investor. Berkurangnya minat investor untuk

(9)

berinvestasi, membuat semakin rendah pula ekuitas suatu perusahaan. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan yang berada di Inggris dari tahun 2005 sampai dengan 2007 dan data diambil dari Standar Akuntansi Internasional 12 Pajak Penghasilan. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tax planning dapat membuat asimetri informasi dan kebanyakan justru bermotif moral hazard. Ada beberapa bukti yang menunjukkan sumber hubungan negatif menjadi perbedaan permanen, di mana pendapatan dimasukkan dalam laba akuntansi tetapi berada di luar definisi penghasilan kena pajak. Meskipun aktivitas ini membawa manfaat pajak potensial tertinggi, juga berpotensi menghasilkan tingkat risiko dan biaya tertinggi.

2.7.2. Penelitian Hanlon dan Slemrod (2009)

Penelitian ini berjudul “What does tax aggressiveness signal? Evidence

from Stock Price Reactions to News about Tax Shelter Involvement”. Penelitian

tersebut bercerita tentang reaksi harga saham terhadap berita tentang agresivitas

pajak perusahaan. Penelitian ini menemukan bahwa untuk membuat nilai

perusahaan menjadi maksimal, pemegang saham berharap pajak yang dibayarkan

perusahaan dibuat menjadi minimal, dalam kata lain mereka berharap perusahaan

untuk menjadi agresif secara optimal. Ada sedikit analisis empiris yang ketat

tentang manfaat dan biaya kepada perusahaan-perusahaan yang menjadi agresif

pajak. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba untuk mengisi kekosongan ini,

dengan menyelidiki reaksi pasar terhadap pers awal menyebutkan bahwa sebuah

perusahaan terlibat dalam perlindungan pajak perusahaan. Kami menemukan

bahwa, rata-rata, harga saham perusahaan menurun ketika ada berita tentang

keterlibatannya di tempat penampungan pajak. Peneliti juga menemukan beberapa

bukti variasi cross-sectional dalam pengembalian. Sebagai contoh, penurunan

harga saham lebih negatif untuk perusahaan di sektor ritel, menunjukkan bahwa

bagian dari reaksi mungkin merupakan reaksi konsumen/pembayar pajak. Reaksi

tampaknya kurang negatif bagi perusahaan dengan tingkat pajak efektif tunai yang

lebih tinggi, konsisten dengan pasar yang menafsirkan berita sebagai sinyal positif

agresivitas pajak. Dalam hal tata kelola, kami menemukan bahwa ketentuan-

ketentuan yang tidak terkait dengan entrenchment manajemen berhubungan

negatif dengan reaksi pasar.

(10)

2.7.3. Penelitian Ulfah (2014)

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Beban Pajak Tangguhan dan Perencanaan Pajak Terhadap Praktek Manajemen Laba”. Purposive sampling merupakan teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari kriteria yang dipenuhi terdapat 26 perusahaan dengan tahun observasi sebanyak tiga tahun sehingga jumlah sampel yang diobservasi terdapat 78 data. Persamaan regresi berganda dan t-test merupakan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa beban pajak tangguhan secara parsial berpengaruh terhadap praktek manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011 dengan nilai signifikansi kurang dari 5% (pada 0,001%). Selain itu, hasil penelitian juga menunjukan bahwa perencanaan pajak tidak berpengaruh terhadap praktek manajemen laba.

2.8. Hipotesis

2.8.1. Hubungan Perencanaan Pajak Terhadap Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan adalah nilai yang dihasilkan dari kinerja suatu perusahaan yang dicerminkan melalui harga saham. Tingginya harga saham membuat tinggi juga nilai perusahaan dan akan membuat pasar menjadi percaya terhadap prospek kinerja perusahaan saat ini dan saat yang akan datang. Perencanaan pajak dapat berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini terjadi karena dengan melakukan upaya perencanaan pajak, perusahaan dapat melaksanakan kewajiban pajak dengan benar, di mana pajak yang dibayarkan berada dalam keadaan minimal sehingga laba yang diinginkan dapat tercapai. Meningkatnya laba bersih yang diakibatkan perusahaan melakukan perencanaan pajak, akan menimbulkan asimetri informasi dan berakibat minat investor untuk berinvestasi berkurang dan membuat semakin rendah nilai perusahaan. Artinya, perencanaan pajak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

H0

1

: Perencanaan pajak tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

H1

1

: Perencanaan pajak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

(11)

2.8.2. Hubungan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan

Return on asset merupakan sebuah ukuran rasio untuk melihat seefisien apa perusahaan mengatur aset, di mana aset tersebut digunakan untuk mendapat laba yang dituliskan dalam bentuk persen. Manajer dan investor sangat terbantu dengan adanya return on asset sehingga dapat mengukur sebaik apa perusahaan dapat menggunakan aset yang dimiliki menjadi keuntungan. Tingginya nilai return on asset memiliki arti perusahaan tersebut dapat mengatur aset dengan efektif sehingga mendapat laba bersih. Keputusan investasi investor dipengaruhi oleh profitabilitas perusahaan. Nilai profitabilitas yang baik akan membuat investor percaya kepada perusahaan dan membuat investor bersedia untuk menginvestasikan dananya ke perusahaan. Sebaliknya, apabila nilai profitabilitas tidak baik artinya perusahaan tidak mampu mendapatkan laba, maka investor akan tidak percaya kepada perusahaan dan menarik dananya yang telah diinvestasikan ke perusahaan. Artinya, profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

H0

2

: Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

H1

2

: Profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Referensi

Dokumen terkait

Sangat penting bagi perusahaan untuk mengukur learning karena tidak akan ada perubahan behavior yang terjadi jika tujuan dari learning tidak tercapai.. Demikian

Motivasi perencanaan pajak berkaitan dengan dorongan keinginan dari dalam diri seseorang yang menimbulkan perilaku atau tindakan dalam bentuk usaha-usaha mencari

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fernandez, Bonillo, Diaz, Torres (2010) para mahasiswa membuat konklusi tentang keseluruhan brand perguruan tinggi

Perusahaan asuransi menurut Gene Stone, biasanya membuat sejumlah sasaran profitabilitas. Sebagai contoh, banyak perusahaan asuransi yang menetapkan sasaran yang

Dalam perspektif ini, perusahaan melakukan pengukuran terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan baik manajer maupun karyawan untuk menciptakan suatu produk

Yang dimaksud dengan subjek pajak bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia

Oleh karena itu, dalam menentukan baik atau tidaknya Corporate Governance suatu perusahaan tidak hanya dilihat dari pendapatan ataupun laba perusahaan, melainkan juga

Berdasarkan UU PPN pasal 1 angka 15, Pengusaha Kena Pajak (PKP) didefinisikan sebagai pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan atau penyerahan Jasa Kena