• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Pajak Pertambahan Nilai

Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian PPN dan PPnBM, Pajak Masukan(PM) dan Pajak Keluaran(PK) beserta cara-cara pengkreditan Pajak Masukan serta pengertian beserta penjelasan mengenai subjek pajak PPN, objek PPN, saat dan tempat terhutangnya PPN yang berdasarkan UU PPN.

2.1.1. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah

Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak penjualan yang dipungut atas dasar nilai tambah yang timbul pada setiap transaksi. Dimana nilai tambah itu sendiri adalah setiap tambahan yang dilakukan penjual atas barang atau jasa yang dijual, karena pada dasarnya setiap penjual menghendaki adanya tambahan tersebut dimana tambahan tersebut merupakan keuntungan bagi penjual.

Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah pajak yang dikenakan pada Barang Kena Pajak yang tergolong mewah dimana Barang Kena Pajak tersebut harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Barang Kena Pajak yang bukan merupakan kebutuhan pokok.

2. Barang Kena Pajak yang dikonsumsi oleh masyarakat tertentu.

3. Barang Kena Pajak yang pada umumnya dikonsumsi oleh masyarakat yang berpenghasilan tinggi.

4. Barang Kena Pajak yang dikonsumsi untuk menunjukkan status.

2.1.2. Subjek Pajak PPN

Subjek pajak PPN adalah Pengusaha Kena Pajak. Sesuai dengan UU PPN Pasal 1 angka 15 Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan UU ini, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak.

(2)

Sesuai dengan UU PPN Pasal 3A ayat (1) Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak di dalam daerah pabean dan/atau melakukan ekspor Barang Kena Pajak diwajibkan:

1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak;

2. Memungut pajak yang terutang;

3. Menyetorkan PPN yang masih harus dibayar dalam hal Pajak Keluaran lebih besar dari Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, serta menyetorkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang;

4. Melaporkan penghitungan pajak.

2.1.3. Objek PPN

Barang atau jasa sebagai objek dari Pajak Pertambahan Nilai dapat dibedakan menjadi penyerahan 1) Barang Kena Pajak 2) Jasa Kena Pajak

1. Barang Kena Pajak

Sesuai dengan UU PPN Pasal 1 angka 3 Barang Kena Pajak adalah barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN.

Penyerahan Barang Kena Pajak dari satu pihak ke pihak lainnya dapat dilakukan melalui beberapa cara meliputi:

1. Perjanjian Penjualan;

2. Perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing;

3. Penyerahan kepada pedagang perantara;

4. Penyerahan melalui juru lelang;

5. Pemakaian sendiri;

6. Pemberian cuma-cuma;

7. Persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva saat pembubaran;

8. Penyerahan dari pusat ke cabang, atau antarcabang;

9. Penyerahan secara konsinyasi;

(3)

Karena ada penyerahan Barang Kena Pajak yang terutang PPN tentu ada juga penyerahan Barang Kena Pajak yang tidak terutang PPN. Ada lima penyerahan Barang Kena Pajak yang tidak terutang PPN apabila diserahkan sesuai dengan UU PPN yang berlaku. Yang pertama adalah Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar. Dimana makelar adalah pedagang perantara yang diangkat oleh presiden atau oleh pejabat yang oleh presiden dinyatakan berwenang untuk menerima Barang Kena Pajak. Mereka menyelenggarakan perusahaan mereka dengan melakukan pekerjaan dengan mendapat upah tertentu atas amanat dan atas nama orang-orang lain yang dengan mereka tidak terdapat hubungan kerja.

Yang kedua penyerahan Barang Kena Pajak sebagai jaminan utang piutang kemudiaan yang ke tiga adalah penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya bagi Pengusaha Kena Pajak yang mempunyai izin pemusatan. Yang ke empat pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka merger dan yang terakhir adalah penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan.

2. Jasa Kena Pajak

Sesuai dengan UU PPN Pasal 1 angka 6 Jasa Kena Pajak adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan.

Karena ada Jasa yang terutang PPN tentu juga ada jasa yang tidak terutang PPN. Berdasarkan UU PPN Pasal 4A ayat 3 penetapan jenis jasa yang tidak dikenakan PPN meliputi hal-hal berikut:

1. Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik;

2. Jasa di bidang pelayanan sosial;

3. Jasa di bidang pengiriman surat dengan prangko;

4. Jasa di bidang keuangan;

5. Jasa di bidang asuransi;

6. Jasa di bidang keagamaan;

7. Jasa di bidang pendidikan;

(4)

8. Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan;

9. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;

10. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air;

11. Jasa di bidang tenaga kerja;

12. Jasa di bidang perhotelan;

13. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum;

14. Jasa penyediaan tempat parkir;

15. Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam;

16. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos;

17. Jasa boga atau katering.

2.1.4. Dasar Pengenaan Pajak

Berdasarkan UU PPN Pasal 1 angka 17, dalam mengenakan PPN ada lima dasar yang digunakan untuk menghitung pajak yang terutang, yaitu harga jual, nilai penggantian, nilai impor, nilai ekspor dan nilai lain yang ditetapkan dengan keputusan menteri keuangan.

Harga jual adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual tetapi tidak termasuk PPN yang dipungut dan potongan harga yang tercantum dalam faktur pajak. DPP yang didasarkan pada harga jual terjadi ketika ada transaksi penjualan Barang Kena Pajak antara penjual dengan pembeli. Pengertian nilai penggantian pada dasarnya sama dengan pengertian harga jual, yaitu nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena adanya penyerahan jasa tidak termasuk PPN dan potongan harga yang tercantum di faktur pajak. Nilai penggantian ini digunakan sebagai dasar pengenaan pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak.

Dalam hal pengusaha melakukan ekspor, maka dijadikan dasar pengenaan pajak adalah nilai ekspor atau semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir. Untuk transaksi impor barang juga digunakan nilai impor yaitu nilai yang dijadikan dasar penghitungan bea masuk dan pungutan lainnya tidak termasuk PPN yang dipungut. Sedangkan untuk nilai lain adalah nilai yang

(5)

ditetapkan dengan keputusan menteri keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak, antara lain:

1. Pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak 2. Pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak 3. Penyerahan media rekaman suara atau gambar

4. Penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film

5. Persediaan Barang Kena Pajak yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan

6. Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan

7. Kendaraan bermotor bekas

8. Penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata 9. Jasa pengiriman paket

10. Jasa anjak piutang

11. Penyerahan Barang Kena Pajak /Jasa Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan penyerahan Barang Kena Pajak /Jasa Kena Pajak antar cabang 12. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru

lelang adalah harga lelang

13. Untuk penyerahan hasil tembakau adalah harga banderol 14. Penjualan voucher di hotel.

2.1.5. Pengkreditan Pajak Masukan

Pajak Masukan adalah PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak hal ini sesuai dengan UU PPN Pasal 1 ayat 24. Pajak Masukan ini berkaitan dengan:

1. Perolehan Barang Kena Pajak dan/atau 2. Penerima Jasa Kena Pajak dan/atau

3. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean dan/atau

4. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean dan/atau 5. Impor Barang Kena Pajak

(6)

Sesuai dengan UU PPN Pasal 9 ayat 2 Pajak Masukan yang seharusnya sudah dibayar ketika memeperoleh Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak tersebut diperlakukan sebagai kredit pajak terhadap Pajak Keluaran. Pajak Masukan dalam suatu masa pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk masa yang sama. Jika dalam suatu masa tidak ada Pajak Keluaran maka akan terjadi lebih bayar karena Pajak Masukan memiliki nilai yang lebih besar. Jika hal ini terjadi maka Pengusaha Kena Pajak berhak untuk meminta kembali kelebihan tersebut atau yang lebih dikenal dengan nama restitusi atau dapat juga dikompensasikan untuk masa pajak berikutnya. Tetapi apabila yang sebaliknya terjadi jika Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan maka Pengusaha Kena Pajak wajib membayar kurang bayar tersebut kepada pihak yang telah ditentukan.

Pajak Masukan yang tidak boleh dikreditkan meliputi:

1. Pajak Masukan diperoleh sebelum menjadi Pengusaha Kena Pajak 2. Pajak Masukan yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan usaha 3. Pajak Masukan atas sedan, jeep, station wagon, van, dan kombi kecuali

merupakan barang dagangan atau disewakan

4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar pabean sebelum menjadi Pengusaha Kena Pajak

5. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang faktur pajaknya tidak sesuai yang ditentukan Dirjen Pajak

6. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar pabean yang faktur pajaknya tidak sesuai dokumen yang ditentukan Dirjen Pajak

7. Pajak Masukan yang ditagih dengan ketetapan pajak

8. Pajak Masukan yang tidak dilaporkan pada SPT yang ditemukan pada pemeriksaan.

9. Perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha Kena Pajak berproduksi.

2.1.6. Pajak Keluaran

(7)

Sesuai dengan UU PPN Pasal 1 angka 25, Pajak Keluaran adalah PPN terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan:

1. Penyerahan Barang Kena Pajak 2. Penyerahan Jasa Kena Pajak 3. Ekspor Barang Kena Pajak

Pada setiap masa jumlah Pajak Keluaran tersebut dilakukan perhitungan dengan mengkreditkan Pajak Masukan pada masa yang sama, dan selisihnya merupakan PPN yang Kurang Bayar atau PPN yang Lebih Bayar atau PPN nihil.

2.1.7. Saat dan tempat terutangnya PPN

Saat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan UU PPN Pasal 11 dapat dilihat pada gambar di bawah ini (Djoko 2008 ,85):

Gambar 2.1.Saat Terutangnya Pajak Pertambahan Nilai

Tempat terutangnya PPN sesuai dengan yang telah diatur dalam UU PPN Pasal 12 dapat dibedakan menjadi seperti berikut yaitu:

Terutangnya  PPN

Penyerahan BKP

Saat  Penyerahan 

BKP Saat  Pembayaran 

PKP Saat Lain

Saat Penebusan 

Cukai Rokok,Kaset,CD

Saat Pemakaian Pemakaian  Sendiri

Saat Kegiatan Bangun Sendiri

Impor BKP Saat PIB  Ditandatangani

Penyerahan JKP

Saat  Penyerahan 

JKP Pemanfaatan BKP 

Tidak Berwujud

Saat  Penyerahan 

BKP Pemanfaatan JKP 

Dari Luar

Saat  Penyerahan JKP

Ekspor BKP Saat PEB 

Ditandatangani

(8)

1. Tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha dilakukan atau tempat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.

2. Tempat Barang Kena Pajak dimasukkan.

2.1.8. Faktur Pajak

Kewajiban Pengusaha Kena Pajak adalah memungut PPN yang terhutang . Ketika Pengusaha Kena Pajak memungut pajak tersebut maka dia harus membuat bukti pungutan yang menandakan bahwa Pengusaha Kena Pajak tersebut telah melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dan telah memungut pajak. Karena itulah Pengusaha Kena Pajak wajib membuat faktur pajak sebagai bukti pungutan.

Faktur pajak adalah faktur penjualan yang memuat keterangan dan yang pengisiannya sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Sesuai dengan UU PPN Pasal 13 ayat 5 dalam faktur pajak paling sedikit memuat:

1. Nama, alamat, NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP;

2. Nama,alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP;

3. Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan potongan harga;

4. PPN yang dipungut;

5. PPnBM yang dipungut;

6. Kode nomor seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak; dan

7. Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatangani faktur pajak.

Faktur pajak wajib dibuat paling lambat pada akhir bulan penyerahan BKP. Faktur pajak terdiri dari 2 lembar dimana lembar pertama untuk pembeli BKP/ penerima JKP sebagai bukti Pajak Masukan dan lembar kedua untuk penjual BKP/ pemberi JKP sebagai bukti Pajak Keluaran.

Dokumen sebagai faktur pajak adalah dokumen-dokumen tertentu yang diperlakukan sebagai faktur pajak. Dokumen sebagai faktur pajak paling sedikit memuat:

1. Identitas yang berwenang menerbitkan dokumen 2. Nama dan alamat penerima dokumen

3. NPWP dalam hal penerima dokumen adalah sebagai WPDN

(9)

4. Jumlah satuan barang apabila ada 5. DPP

6. Jumlah pajak yang terhutang kecuali dalam hal ekspor

Contoh-contoh dokumen yang dapat diperlakukan sebagai faktur pajak standar seperti PIB, PEB, Surat Perintah Penyerahan Barang (SPPB), Paktur Nota Bon Penyerahan (PNBP), dan lain-lain.

2.2. Jasa Konstruksi

Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai pengertian jasa konstruksi, jenis usaha jasa konstruksi, penyelenggaraan pekerjaan jasa konstruksi dan PPN untuk jasa konstruksi yang didasarkan pada UU Nomor 18 Tahun 1999 tentang jasa konstruksi.

Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan konstruksi. Sedangkan pengertian pekerjaan konstruksi itu sendiri adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain.

2.2.1. Jenis Usaha Jasa Konstruksi

Ada 3 jenis usaha jasa konstruksi yaitu:

1. Usaha perencanaan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang perencanaan jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam bentuk dokumen perencanaan bangunan fisik lain.

2. Usaha pelaksanaan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan menjadi bentuk bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di dalamnya pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan

(10)

fungsi layanan dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan pembangunan serta model penggabungan perencaan dan pembangunan.

3. Usaha pengawasan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pengawasan jasa konstruksi, yang mampu melaksanakan pekerjaan pengawasan sejak awal pelaksanaan pekerjaan konstruksi sampai selesai dan diserahterimakan.

2.2.2. Karakteristik Perusahaan Jasa Konstruksi

Perusahaan jasa konstruksi memiliki banyak segi perbedaan dengan perusahaan manufaktur umumnya. Perusahaan konstruksi mulai melakukan aktivitasnya jika telah menerima tender berupa kontrak konstruksi dari pihak lain.

Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.34 (IAI 2009: 34.1),

”Kontrak konstruksi adalah suatu kontrak yang dinegosiasikan secara khusus untuk konstruksi suatu aset atau suatu kombinasi aset yang berhubungan erat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi dan fungsi atau tujuan atau penggunaan pokok”. Suatu kontruksi mungkin dinegosiasikan untuk membangun sebuah aset tunggal seperti jembatan, bangunan, dam pipa, jalan dan sebagainya. Dalam hal ini kontrak konstruksi meliputi kontrak pemberian jasa yang berhubungan langsung dengan konstruksi aset, umpamanya, pelayanan jasa untuk manajer proyek serta arsitek dan kontrak untuk penghancuran atau restorasi aset dan restorasi lingkungan setelah penghancuran aset. (IAI,2009:34.1)

2.2.3. Pendapatan Kontrak Jasa Konstruksi

Pada perusahaan kontraktor, pendapatan kontraknya terdiri dari : 1. Nilai pendapatan semula yang disetujui dalam kontrak; dan

2. Penyimpanan dalam pekerjaan kontrak, klaim dan pembayaran intensif.

(IAI,2009:34.2)

Pendapatan kontrak diukur pada nilai wajar dari imbalan yang diterima atau yang akan diterima, di mana pengukuran tersebut dipengaruhi oleh bermacam- macam ketidakpastian yang tergantung pada hasil dari peristiwa di masa yang akan datang.

(11)

2.2.4. Biaya Kontrak

Menurut PSAK No 34 biaya suatu kontrak konstruksi terdiri dari : 1. Biaya yang berhubungan langsung dengan kontrak meliputi :

a. Biaya pekerja lapangan termasuk penyelia b. Biaya bahan yang digunakan dalam konstruksi

c. Penyusutan sarana dan peralatan yang digunakan dalam kontrak tersebut

d. Biaya pemindahan sarana, peralatan dan bahan-bahan dari dan ke lokasi pelaksanaan kontrak

e. Biaya penyewaan sarana dan peralatan

f. Biaya rancangan dan bantuan teknis yang secara langsung berhubungan dengan proyek tersebut

g. Estimasi biaya pembetulan dan biaya-biaya lain yang mungkin timbul selama masa jaminan

h. Klaim dari pihak ketiga

2. Biaya yang dapat didistribusikan pada aktivitas kontrak pada umumnya dan dapat dialokasikan ke kontrak tersebut meliputi :

a. Asuransi

b. Biaya rancangan dan bantuan teknis yang secara tidak langsung berhubungan dengan kontrak tertentu

c. Biaya-biaya overhead konstruksi. (IAI,2009:34.4)

Sedangkan untuk biaya yang tidak dapat didistribusikan ke aktivitas kontrak konstruksi

a. Biaya administrasi umum yang penggantiannya tidak ditentukan dalam kontrak;

b. Biaya pemasaran umum;

c. Biaya riset dan pengembangan yang penggantiannya tidak ditentukan dalam kontrak; dan

d. Penyusutan sarana dan peralatan yang menganggur yang tidak digunakan pada kontrak tertentu. (IAI,2009:34.5)

2.2.5. Penyelenggaraan Pekerjaan Konstruksi Penyelenggaraan jasa konstruksi meliputi:

(12)

1. Tahap penyiapan yaitu kegiatan awal penyelenggaraan pekerjaan konstruksi untuk memenuhi berbagai persyaratan yang diperlukan dalam memulai pekerjaan perencanaan atau pelaksanaan fisik dan pengawasan.

2. Tahap pengerjaan yaitu:

a. Dalam tahap perencanaan merupakan serangkaian kegiatan yang menghasilkan berbagai laporan tentang tingkat kelayakan, rencana umum/induk dan rencana teknis

b. Dalam tahap pelaksanaan merupakan serangkaian kegiatan pelaksanaan fisik beserta pengawasan yang menghasilkan bangunan

3. Tahap pengakhiran yaitu kegiatan untuk menyelesaikan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi

a. Dalam tahap perencanaan dengan disetujuinya laporan akhir dan dilaksanakannya pekerjaan akhir.

b. Dalam tahap pelaksanaan dan pengawasan dengan dilakukannya penyerahan akhir bangunan dan dilaksanakannya pembayaran akhir.

2.2.6. Penyerahan Barang Kena Pajak Pada Jasa Konstruksi

Penyerahan BKP yang terjadi antara perusahaan konstruksi dengan perusahaan lain dapat dilakukan melalui beberapa cara antara lain:

1. Perjanjian penjualan mesin-mesin perusahaan 2. Perjanjian sewa mesin untuk kegiatan usaha 3. Persediaan BKP dan aktiva saat pembubaran 4. Penyerahan dari pusat ke cabang atau antarcabang.

2.2.7. Dasar Pengenaan Pajak Untuk Jasa Konstruksi

Sesuai dengan UU PPN Pasal 1 Angka 19 maka jasa konstruksi menggunakan nilai penggantian sebagai dasar pengenaan pajak. Pengertian penggantian itu sendiri adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena adanya penyerahan jasa tidak termasuk PPN dan potongan harga yang tercantum di faktur pajak.

(13)

2.2.8. Pengkreditan Pajak Masukan Untuk Jasa Konstruksi

Dalam kaitannya dengan mekanisme pengkreditan PM terhadap PK maka digunakan mekanisme sebagaimana yang telah diatur di dalam UU PPN Pasal 9 yaitu mengkreditkan PM dengan PK untuk masa pajak yang sama, karena jelas sekali bahwa perusahaan melakukan penyerahan yang terutang pajak. Apabila dalam suatu masa pajak PM lebih besar daripada PK maka selisihnya dapat diresitusikan atau dikompensasikan untuk masa pajak berikutnya. Tetapi bila PK lebih besar daripada PM maka perusahaan wajib melunasi kekurangannya.

2.2.9. Saat Terutang Pajak Atas Penyerahan Jasa Kontraktor

Berdasarkan PP Nomor 24 Tahun 2002 tentang perubahan atas PP Nomor 143 Tahun 2000 tentang pelaksanaan UU PPN, ditetapkan pada pasal 13 ayat 4 jika terutangnya pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak terjadi pada saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata baik sebagian atau seluruhnya. Atas Penyerahan jasa pemborong bangunan atau barang tidak bergerak dimana sebelum jasa pemborongan itu selesai dan siap untuk diserahkan telah diterima pembayaran di muka sebelum pekerjaan pemborongan dimulai atau pembayaran atas sebagian penyelesaian pekerjaan jasa sesuai dengan tahap atau kemajuan penyelesaian pekerjaan. Dalam hal ini PPN terutang pada saat pembayaran tersebut diterima oleh Pemborong atau Kontraktor. Selanjutnya setelah bangunan atau barang tidak bergerak tersebut selesai dikerjakan, maka jasa pemborongan seluruhnya diserahkan kepada penerima jasa. Dalam hal ini PPN terutang pada saat penyerahan Jasa Kena Pajak itu dilakukan, meskipun pembayaran lunas jasa pemborongan tersebut belum diterima oleh Pemborong atau Kontraktor.

Contoh:

1. Tanggal 1 Maret 2010, perjanjian pemborongan ditandatangani dan diterima uang muka sebesar 20%.

2. Tanggal 1 April 2010, pekerjaan selesai 20%, diterima pembayaran tahap ke-1.

(14)

3. Tanggal 1 Mei 2010, pekerjaan selesai 50%, diterima pembayaran tahap ke-2.

4. Tanggal 20 Mei 2010, pekerjaan selesai 80%, diterima pembayaran tahap ke-3.

5. Tanggal 25 Juli 2010, pekerjaan selesai 100%, bangunan atau barang tidak bergerak diserahkan.

6. Tanggal 1 Agustus 2010, diterima pembayaran tahap akhir (ke-4) sebesar 95% dari harga borongan.

7. Tanggal 1 Februari 2010, diterima pembayaran pelunasan seluruh jasa pemborongan.

Pada angka 1 sampai dengan angka 4, PPN terutang pada tanggal diterimanya pembayaran (per tahap), sedang angka 5 sampai dengan angka 7 PPN terutang pada tanggal 25 Juli 2010 atau saat jasa pemborongan bangunan selesai dilakukan dan diserahkan kepada pemiliknya.

Tanggal pembayaran yang tersebut pada angka 6 dan angka 7 tidak perlu diperhatikan, karena tidak termasuk saat yang menentukan terutangnya pajak.

Atas Jasa Pemborong atau kontraktor ini ada juga PPN yang ditanggung pemerintah, yaitu :

1. Jasa yang diserahkan oleh Kontraktor untuk pemborongan bangunan antara lain : Rumah Sederhana, Rumah Sangat Sederhana, Rumah Susun Sederhana, Pondok Boro, Asrama Mahasiswa dan Pelajar serta Perumahan lainnya yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah.

2. Jasa Kontraktor dalam rangka pembangunan tempat-tempat yang semata-mata untuk keperluan ibadah.

2.2.10. Faktur Pajak untuk Jasa Konstruksi

Jika telah diketahui dengan pasti kapan terutangnya pajak, maka perusahaan dapat menerbitkan faktur pajak sebagai bukti pungutan pajak atas

(15)

penyerahan JKP. Berdasarkan Peraturan Direktur Jendral Pajak No. PER- 159/PJ./2006 Pasal 2 paling lambat harus dibuat :

1. Pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;

2. Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal pembayaran terjadi sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak;

3. Pada saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak;

4. Pada saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau

5. Pada saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendaharawan Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.

Dalam hal bangunan atau barang tidak bergerak tersebut selesai dikerjakan dan pembayaran jasa kontraktor seluruhnya diserahkan kepada penerima jasa, pajak terutang pada saat penyerahan Jasa Kena Pajak itu dilakukan, walaupun pembayaran lunas dan jasa kontraktor tersebut belum diterima oleh pemborong atau kontraktor. Pembuatan faktur pajak dalam hal ini mengacu pada pasal 2 angka 1 huruf a di atas. Selanjutnya dalam hal pemborong atau kontraktor menerima uang muka sebelum pekerjaan dimulai, atau menerima pembayaran atas sebagian penyelesaian pekerjaan jasa dengan tahap penyelesaian pekerjaan (termin), sebelum jasa pemborong bangunan atau barang tidak bergerak lainnya selesai dan siap untuk diserahkan, maka pajak terutang pada saat pembayaran tersebut diterima oleh pemborong atau kontraktor. Pembuatan faktur pajak dalam hal ini mengacu pada pasal 2 angka 1 huruf d di atas.

(16)

2.2.11. Kualifikasi Usaha Jasa Pelaksana Konstruksi

Berdasarkan peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi ( LPJK ) pasal 10 ayat ( 1 ) No.11a tahun 2008. Kualifikasi untuk jasa Pelaksana Konstruksi ditetapkan sebagai berikut :

Tabel 2.1. Kriteria Usaha Jasa Pelaksana Konstruksi (kontraktor) 

NO  GOLONGAN  KUALIFIKASI KEKAYAAN BERSIH 

1  Perorangan  Gred 1 Rp. 0 s.d Rp.50.000.000 

2  Kecil  Gred 2 Rp. 50.000.000 s.d Rp. 100.000.000

    Gred 3 Rp. 100.000.000 s.d Rp. 800.000.000

    Gred 4 Rp. 400.000.000 s.d Rp.

1.000.000.000 

3  Menengah  Gred 5 Rp. 1.000.000.000 s.d Rp.

10.000.000.000 

4  Besar  Gred 6 Rp. 3.000.000.000 s.d Rp.

10.000.000.000 

    Gred 7 Rp. 10.000.000.000 s.d tidak terbatas

Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi No. 11a tahun 2008 tentang Registrasi Usaha Jasa Pelaksana Konstruksi menyebutkan :

Penggolongan kualifikasi usaha jasa pelaksana konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 didasarkan pada kriteria tingkat/kedalaman kompetensi dan potensi kemampuan usaha, yang selanjutnya dibagi menurut kemampuan melaksanakan pekerjaan berdasarkan kriteria risiko, dan/atau kriteria penggunaan teknologi, dan/atau kriteria besaran biaya, dapat dibagi jenjang kompetensinya dalam Gred yang dapat dilihat pada tabel 2.1.

Sedangkan menurut Pasal 10 ayat (2) Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi No. 12a tahun 2008 tentang Registrasi Usaha Jasa Perencana Konstruksi dan Jasa Pengawas Konstruksi menyebutkan :

Penggolongan kualifikasi usaha jasa perencana konstruksi dan jasa pengawas konstruksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), jenjang kompetensinya dalam Gred, dapat dibagi dalam golongan :

(17)

a. Kualifikasi usaha besar, berupa : Gred 4 b. Kualifikasi usaha menengah, berupa : Gred 3

c. Kualifikasi usaha kecil, berupa : Gred 2, Gred 1 (usaha orang perseorangan)

Penetapan atas tingkat/kedalaman kompetensi dan potensi kemampuan usaha jasa pelaksana konstruksi didasarkan pada :

a. Pengalaman

b. Sumber Daya Manusia c. Kekayaan Bersih, dan d. Peralatan

( Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi pasal 10 ayat (3) tahun 2008)

2.2.12. Risiko pada Usaha Jasa Konstruksi

Risiko – risiko yang terdapat dalam usaha jasa konstruksi umumnya tidak terlepas dari kegiatan perusahaan yaitu penyediaan jasa konstruksi. Oleh karena itu resiko – resiko pada usaha jasa konstruksi adalah sebagai berikut :

1. Terlambatnya penyelesaian pekerjaan atas kontrak konstruksi sebagai akibat faktor-faktor eksternal yang terjadi diluar kemampuan perusahaan seperti perubahan faktor politik dan makro ekonomi yang dapat berupa kenaikan tingkat suku bunga yang tinggi dan penurunan daya beli.

2. Terlambatnya pembayaran-pembayaran yang dilakukan oleh pemberi kerja atas pelaksanaan kerja yang telah selesai dilakukan. Keterlambatan ini dapat diakibatkan karena pemberi kerja mengalami kesulitan secara ekonomis untuk melakukan pembayaran secara tepat waktu.

3. Kemungkinan terjadinya perubahan di dalam kontrak dengan pihak pemberi kerja sehingga dapat menimbulkan perubahan estimasi dalam penetapan pendapatan dan biaya atas pekerjaan konstruksi.

4. Kenaikan harga bahan baku yang tidak tercantum dalam perjanjian dengan pemberi kerja dapat menimbulkan perubahan estimasi di dalam penetapan biaya atas pekerjaan konstruksi dan apabila kenaikan harga bahan baku

(18)

tersebut lebih tinggi dari estimasi pendapatan yang diperoleh maka dapat menurunkan kualitas dari hasil pekerjaan konstruksi tersebut.

5. Risiko Keamanan

Risiko menurunnya tingkat keamanan suatu areal, wilayah, negara tempat operasional industri konstruksi yang dapat berakibat terhadap rusaknya aktiva yang dipergunakan atau dibangun perusahaan.

6. Risiko Kelalaian Mitra Usaha.

Risiko terjadinya wanprestasi (cedera janji) dari mitra kerjasama operasi yang berakibat meningkatnya biaya maupun menurunnya pendapatan perusahaan secara bersama-sama.

7. Risiko Perubahan Kondisi Sosial Politik

Risiko ini berkaitan dengan dampak negatif dari perubahan kondisi sosial politik terhadap operasi perusahaan.

8. Risiko Leverage

Resiko yang terkait pada kewajiban perusahaan karena pendanaan yang berasal dari luar perusahaan (external financial) untuk operasi perusahaan konstruksi 9. Risiko Asuransi

Risiko gagalnya klaim perusahaan atas kerugian akibat bencana alam atau gangguan usaha

(Surat Edaran Ketua Badan Pengawas Pasar Modal, SE-02/PM/2002)

Berdasarkan peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi No.11a Tahun 2008 pasal 14 ayat (1) kriteria risiko pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi terdiri dari :

a. Risiko Kecil, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dan pemanfaatan bangunan konstruksinya tidak membahayakan keselamatan umum dan harta benda.

b. Risiko Sedang, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dan pemanfaatan bangunan konstruksinya dapat membahayakan keselamatan umum, harta benda, dan jiwa manusia.

(19)

c. Risiko Tinggi, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya dan pemanfaatan bangunan konstruksinya sangat membahayakan keselamatan umum, harta benda, jiwa manusia dan lingkungan.

Berdasarkan peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi No.11a tahun 2008 pasal 14 ayat (2) tentang kriteria penggunaan teknologi pada pelaksana pekerjaan jasa konstruksi berdasarkan besarnya biaya dan volume pekerjaan terdiri dari :

a. Teknologi Sederhana, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya menggunakan peralatan sederhana dan tidak memerlukan tenaga ahli.

b. Teknologi Madya, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya menggunakan sedikit peralatan berat dan memerlukan sedikit tenaga ahli.

c. Teknologi Tinggi, mencakup pekerjaan konstruksi yang pelaksanaannya menggunakan banyak peralatan berat serta banyak memerlukan tenaga ahli dan tenaga terampil.

Oleh karena itu berdasarkan peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi No.11a tahun 2008 pasal 14 ayat (3), (4), (5) dan (6) terkait dengan hubungan antara risiko pekerjaan dengan kualifikasi gred pada usaha jasa konstruksi. Berdasarkan peraturan LPJK pasal 14 ayat (3) berisi tentang badan usaha dengan kualifikasi Gred 2, Gred 3, Gred 4 dapat melaksanakan pekerjaan konstruksi dengan kriteria risiko kecil, berteknologi sederhana dan berbiaya kecil.

Sedangkan pada pasal 14 ayat (4) berisi tentang badan usaha dengan kualifikasi Gred 5, dapat melaksanakan pekerjaan dengan kriteria resiko sedang, berteknologi madya dan berbiaya sedang. Pada pasal 14 ayat (5) berisi tentang badan usaha dengan kualifikasi Gred 6, dan Gred 7 dan Badan Usaha asing yang dipersamakan dapat melaksanakan pekerjaan berisiko tinggi, berteknologi tinggi, dan berbiaya besar. Dan pada pasal 14 ayat (6) berisi tentang usaha orang perseorangan dengan kualifikasi Gred 1 dapat melaksanakan pekerjaan berisiko kecil dan berteknologi sederhana.

2.2.13. Pengadaan Barang

Pengadaan barang adalah kegiatan untuk memperoleh barang oleh kementrian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah/institusi lainnya yang

(20)

prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang. Pengadaan barang yang dilakukan oleh perusahaan terutang PPN.

Referensi

Dokumen terkait

adalah pasal 16D UU PPN tahun 2000 yang berbunyi “Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan. semula aktiva

Adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena

Adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena

Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan

melaku-kan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) yang dikenakan pajak menurut UU ini, tidak termasuk pengusaha kecil

Pajak Keluaran adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak,

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dapat dikenakan terhadap penyerahan atau impor barang kena pajak atau jasa kena pajak yang dilakukan oleh pengusaha kena

Pajak Pertambahan Nilai yang terutang atas penyerahan hasil tembakau yang dibuat di dalam negeri atau hasil tembakau yang dibuat di luar negeri dipungut dan disetor oleh