• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 5 Universitas Kristen Petra"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

5

Universitas Kristen Petra

2. LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian dan Sifat Konsinyasi

Penjualan konsinyasi dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan sebutan penjualan titipan. Transaksi konsinyasi merupakan transaksi penitipan atas barang consignor kepada consignee, pembayaran dilakukan setelah barang tersebut terjual dan consignee mendapat komisi atas penjualan tersebut. Barang konsinyasi merupakan kepemilikan consignor, tetapi consignee mempunyai kewajiban memelihara barang, menjual barang, dan memisahkan secara fisik antara barang konsinyasi dengan barang dagangan lainnya, serta mengirimkan laporan berkala mengenai penjualan konsinyasi berdasarkan kesepakatan yang ada. Hak milik akan berpindah dari consignor ke consignee apabila barang sudah laku terjual.

Consignor adalah pihak yang menitipkan barang sedangkan consignee adalah pihak yang dititipi barang.

2.2. Karakteristik dan Keuntungan Penjualan Konsinyasi

Karakteristik di bawah ini merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dari penjualan konsinyasi dengan transaksi penjualan biasa :

a. Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh consignor karena hak milik atas barang-barang konsinyasi masih berada ditangan consignor

b. Pengiriman barang-barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan dan tidak boleh dipakai sebagai kriteria untuk mengakui timbulnya pendapatan, baik bagi consignor maupun consignee sampai barang dagangan dapat dijual ke pihak ketiga

c. Pihak consignor sebagai pemilik barang tetap bertanggungjawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi sejak saat pengiriman sampai saat consignee berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian di antara kedua belah pihak

(2)

6

Universitas Kristen Petra

d. Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya itu. Oleh karena itu komisioner perlu menyelenggarakan administrasi yang baik dan tertib.

Salah satu karakteristik dari penjualan konsinyasi adalah harga jual eceran barang konsinyasi dapat dikendalikan oleh pihak consignor yang masih menjadi pemilik dari barang tersebut.

Transaksi penjualan secara konsinyasi juga memiliki keuntungan dibandingkan dengan transaksi penjualan biasa. Keuntungan penjualan konsinyasi bagi consignor adalah :

1) Consignor dapat menghindari resiko tertentu. Barang-barang konsinyasi tidak ikut disita apabila consignee bangkrut, sehingga resiko kerugian bisa ditekan.

2) Bagi consignor, konsinyasi dapat dijadikan sarana promosi produk, menaikkan omzet penjualan, serta memperluas daerah pemasaran

3) Harga barang tetap dapat dikontrol oleh consignor, hal ini disebabkan karena kepemilikan atas barang tersebut masih ditangan consignor sehingga harga jual barang masih dapat dijangkau oleh konsumen.

4) Jumlah barang yang dijual dan persediaan barang yang ada di gudang mudah dikontrol sehingga resiko kekurangan atau kelebihan barang dapat ditekan dan memudahkan untuk rencana produksi.

Selain menguntungkan consignor, sistem penjualan konsinyasi ini juga menguntungkan bagi pihak consignee. Keuntungannya adalah :

1) Consignee tidak dibebani kerugian oleh consignor apabila barang-barang tidak laku terjual

2) Consignee tidak mengeluarkan biaya operasi penjualan konsinyasi karena semua biaya ditanggung oleh consignor

3) Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi karena consignee hanya berfungsi sebagai penerima dan penjual barang konsinyasi untuk consignor 4) Consignee berhak mendapatkan komisi dari hasil penjualan barang

konsinyasi

(3)

7

Universitas Kristen Petra

2.3. Pajak Pertambahan Nilai

Transaksi konsinyasi atau transaksi penitipan barang termasuk dalam salah satu definisi penyerahan Barang Kena Pajak. Atas transaksi ini akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai pada saat barang tersebut dititipkan. Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT). Pajak Pertambahan Nilai diatur dalam Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1983, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang perubahan ketiga atas Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak, atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung. Dari mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN tersebut muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Hal ini karena mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau produsen, dan bukan konsumen akhir. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya.

Dari mekanisme pengkreditan pajak masukan dan pajak keluaran tersebut akan diperoleh suatu kondisi yang dinamakan kurang bayar atau lebih bayar.

Kondisi kurang bayar terjadi apabila pajak keluaran lebih besar dibandingkan dengan pajak masukan. Sedangkan kondisi lebih bayar diperoleh apabila pajak keluaran lebih kecil dibandingkan dengan pajak masukan. Apabila terjadi kondisi lebih bayar, PKP yang bersangkutan dapat mengkompensasikan pada masa pajak berikutnya atau direstitusi apabila kelebihan pajak terjadi dalam masa pajak akhir tahun buku. Sebaliknya jika hasilnya adalah kurang bayar, maka PKP tersebut harus menyetorkan kekurangannya ke Kas Negara melalui Bank Persepsi atau Kantor Pos.

(4)

8

Universitas Kristen Petra

Metode pengkreditan pajak masukan diatur dalam Undang-Undang No.42 tahun 2009, yang pada prinsipnya mengatur hal-hal sebagai berikut :

a. Pajak Masukan dalam suatu Masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran dalam masa yang sama

b. Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan

c. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, selisihnya merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang harus disetor oleh Pengusaha Kena Pajak

d. Apabila dalam suatu Masa Pajak, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan lebih besar daripada Pajak Keluaran, selisihnya merupakan kelebihan pajak yang dikompensasikan ke Masa Pajak berikutnya

e. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan, tetapi belum dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak yang sama, dapat dikreditkan pada Masa Pajak berikutnya paling lama 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya Masa Pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan

f. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan kegiatan usaha tertentu dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan

g. Dalam hal terjadi penggalihan Barang Kena Pajak dalam rangka penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, dan pengambilalihan usaha, Pajak Masukan atas Barang Kena Pajak yang dialihkan yang belum dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang mengalihkan dapat dikreditkan oleh Pengusaha Kena Pajak yang menerima pengalihan, sepanjang Faktur Pajaknya diterima setelah terjadinya pengalihan dan Pajak Masukan tersebut belum dibebankan sebagai biaya atau dikapitalisasi

h. Apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, jumlah Pajak Masukan yang dapat

(5)

9

Universitas Kristen Petra

dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak

i. Apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan

2.3.1. Penyerahan Barang Kena Pajak

Yang termasuk dalam pengertian penyerahan Barang Kena Pajak adalah : a. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian

b. Pengalihan Barang Kena Pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan/atau perjanjian sewa guna usaha (leasing)

c. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang;

d. Pemakaian sendiri dan/atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak;

e. Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan;

f. Penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang;

g. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi; dan

h. Penyerahan Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak dalam rangka perjanjian pembiayaan yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah, yang penyerahannya dianggap langsung dari Pengusaha Kena Pajak kepada pihak yang membutuhkan Barang Kena Pajak.

i. Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c

(6)

10

Universitas Kristen Petra

Dalam hal penyerahan secara konsinyasi, Pajak Pertambahan Nilai yang sudah dibayar pada waktu Barang Kena Pajak yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak yang dititipkan tersebut. Sebaliknya, jika Barang Kena Pajak titipan tersebut tidak laku dijual dan diputuskan untuk dikembalikan kepada pemilik Barang Kena Pajak, pengusaha yang menerima titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan mengenai pengembalian Barang Kena Pajak (retur) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5A Undang-undang ini.

2.3.2. Faktur Pajak

Dalam hal terjadi penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak, Pengusaha Kena Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak dan/atau menyerahkan Jasa Kena Pajak itu wajib memungut Pajak Pertambahan Nilai yang terutang dan memberikan faktur pajak sebagai bukti pungutan pajak.

Faktur pajak ini dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak atau bukti pungutan pajak karena impor Barang Kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Setiap Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak diwajibkan membuat faktur pajak, karena faktur pajak ini merupakan bukti dan sarana untuk mengkreditkan pajak masukan. Oleh karena itu, faktur pajak harus dibuat secara benar, baik secara formal maupun materiil.

Selain itu, faktur pajak juga harus ditandatangani oleh pejabat yang sudah ditunjuk oleh Pengusaha Kena Pajak. Faktur pajak hanya boleh dibuat oleh pengusaha yang sudah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Larangan bagi pengusaha non PKP untuk tidak membuat faktur pajak dimaksudkan agar pembeli terlindungi dari pungutan pajak yang tidak semestinya.

Dalam aturan Undang-Undang yang lama, ada 3 jenis faktur pajak, yaitu faktur pajak standar, faktur pajak sederhana, dan faktur pajak gabungan. Tetapi dalam aturan baru yang mulai berlaku 1 April 2010, faktur pajak hanya memiliki 2 istilah yaitu faktur pajak lengkap dan faktur pajak tidak lengkap. Faktur pajak lengkap yaitu faktur pajak yang diisi secara lengkap, jelas, dan benar sesuai dengan ketentuan atau peraturan yang berlaku (dulu dikenal dengan faktur pajak

(7)

11

Universitas Kristen Petra

standar). Faktur pajak lengkap ini wajib dibuat oleh pengusaha yang sudah dikukuhkan menjadi PKP. Sedangkan faktur pajak tidak lengkap masih dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu faktur pajak tidak lengkap bagi PKP non pedagang eceran dan faktur pajak tidak lengkap PKP pedagang eceran. Faktur pajak tidak lengkap bagi PKP non pedagang eceran yaitu faktur pajak diisi secara lengkap kecuali identitas pembeli (nama, alamat, NPWP), sedangkan faktur pajak tidak lengkap PKP pedagang eceran yaitu faktur pajak diisi secara lengkap, kecuali identitas pembeli (nama, alamat, NPWP) dan nama serta tandatangan yang berhak menandatangani faktur pajak. Kedua jenis faktur tidak lengkap ini dulunya disebut dengan faktur pajak sederhana.

Faktur pajak disebut lengkap (standar) jika paling sedikit memuat keterangan :

a. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak

b. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;

c. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;

d. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;

e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;

f. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan

g. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.

Saat pembuatan faktur pajak sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang PPN pasal 13 ayat 1a :

a. Saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak;

b. Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak;

c. Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau

d. Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

(8)

12

Universitas Kristen Petra

2.3.3. Mekanisme Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai

Yang dimaksud dengan Pengusaha Kena Pajak atau PKP adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak berdasarkan Undang-Undang PPN, tidak termasuk pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Pengusaha ini dapat berupa orang pribadi atau badan. Batasan pengusaha kecil adalah :

a. Pengusaha yang dalam satu tahun buku peredaran brutonya tidak lebih dari Rp 600 juta atas penyerahan BKP, atau

b. Pengusaha yang dalam satu tahun buku peredaran brutonya tidak lebih dari Rp 300 juta atas penyerahan JKP, atau

c. Pengusaha yang dalam satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan JKP (gabungan) tidak lebih dari Rp 600 juta dalam hal penyerahan BKP yang dilakukannya lebih dari 50% dari jumlah seluruh peredaran bruto dan penerimaan bruto, atau

d. Pengusaha yang melakukan penyerahan BKP atau JKP (gabungan) tidak lebih dari Rp 300 juta jika penerimaan JKP lebih dari 50% dari jumlah seluruh peredaran bruto dan penerimaan bruto

Pajak Pertambahan Nilai akan dipungut pada setiap mata rantai jalur distribusi sebelum Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikonsumsi pada tingkat konsumen. Nilai yang dipungut pada setiap mata rantai jalur distribusi juga berbeda nominalnya. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan atau selisih harga karena PPN yang dipungut sebesar 10% dari harga pokok yang diperoleh dari distributor. Jadi, semakin ke bawah, maka PPN yang dipungut nilainya akan semakin besar. PPN yang dipungut oleh distributor ke penjual akan menjadi pajak keluaran, sedangkan PPN yang dibayarkan ke distributor akan menjadi pajak masukan. Sehingga pada akhir periode, perhitungan PPN yang masih harus dibayar adalah pajak keluaran dikurangi dengan pajak masukan.

Apabila masih terdapat selisih lebih dari pengurangan tersebut atau dalam artian pajak keluaran lebih besar dibanding dengan pajak masukan, maka selisih lebih tersebut wajib disetorkan ke kas negara melalui bank penerima pembayaran pajak.

(9)

13

Universitas Kristen Petra

2.3.4. Perhitungan PPN

Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana tercantum dalam Undang- Undang nomor 42 tahun 2009 pasal 7 :

1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10% (sepuluh persen)

2. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas : a. Ekspor Barang Kena Pajak berwujud

b. Ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud, dan c. Ekspor Jasa Kena Pajak

3. Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pajak Pertambahan Nilai atas barang dan jasa dihitung dengan cara mengalikan tarif dasar Pajak Pertambahan Nilai dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang. Dengan demikian, besarnya Pajak Pertambahan Nilai dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

PPN = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak

Hasil yang diperoleh dari perhitungan Pajak Pertambahan Nilai ini nantinya akan menjadi pajak masukan bagi Pengusaha Kena Pajak yang berlaku sebagai pembeli dan merupakan pajak keluaran bagi Pengusaha Kena Pajak yang berposisi sebagai penjual.

2.3.5. Saat Terutang Pajak Pertambahan Nilai

Sesuai dengan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai pasal 11, terutangnya pajak terjadi pada saat :

1. Penyerahan Barang Kena Pajak

Pajak yang terutang atas penyerahan BKP ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu penyerahan BKP yang menurut sifatnya berupa barang bergerak dan barang tidak bergerak. Untuk barang bergerak, saat terutangnya pajak adalah pada saat BKP diserahkan secara langsung kepada pembei atau pihak ketiga untuk dan atas nama pembeli, atau pada saat BKP diserahkan kepada juru

(10)

14

Universitas Kristen Petra

kirim/pengusaha jasa angkutan. Sedangkan untuk barang tidak bergerak, saat terutangnya pajak terjadi pada waktu penyerahan hak untuk menggunakan/menguasai BKP baik secara hukum atau secara nyata kepada pembeli.

2. Impor Barang Kena Pajak

Terutangnya pajak atas impor BKP terjadi pada saat Barang Kena Pajak dimasukkan ke dalam Daerah Pabean.

3. Penyerahan Jasa Kena Pajak

Terutangnya pajak atas penyerahan Jasa Kena Pajak terjadi pada saat mulai tersedianya fasilitas atau kemudahan untuk dipakai secara nyata, sebagian maupun seluruhnya.

4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean Saat terutangnya pajak atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean adalah pada saat orang pribadi atau badan memanfaatkan BKP tidak berwujud tersebut di dalam Daerah Pabean. Hal ini dikarenakan orang yang menyerahkan BKP tidak berwujud tersebut tidak bisa dikukuhkan menjadi PKP karena penyerahannya dilakukan di luar Daerah Pabean. Oleh karena itu, saat terutangnya pajak bukan lagi pada saat penyerahan, tapi pada saat pemanfaatan BKP tidak berwujud tersebut. Saat pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean adalah saat yang terjadi lebih dahulu, yaitu : a. Saat harga penyerahan dinyatakan sebagai piutang oleh pengusaha Kena

Pajak

b. Saat harga penyerahan ditagih oleh Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan

c. Saat diterimanya pembayaran, baik sebagian atau seluruhnya

d. Saat ditandatangani perjanjian dalam hal ketiga kriteria di atas tidak diketahui

5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean

Saat terutangnya pajak atas pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean adalah pada saat orang pribadi atau badan memanfaatkan JKP tersebut di dalam Daerah Pabean. Hal ini dikarenakan orang yang menyerahkan JKP tersebut tidak bisa dikukuhkan menjadi PKP karena penyerahannya dilakukan di luar

(11)

15

Universitas Kristen Petra

Daerah Pabean. Oleh karena itu, saat terutangnya pajak bukan lagi pada saat penyerahan, tapi pada saat pemanfaatan JKP tersebut. Saat pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean adalah saat yang terjadi lebih dahulu, yaitu :

a. Saat JKP tersebut secara nyata digunakan oleh pihak yang memanfaatkannya

b. Saat harga perolehan dinyatakan sebagai utang oleh pihak yang memanfaatkan

c. Saat harga jual penggantian ditagih

d. Saat harga perolehan dibayar oleh pihak yang memanfaatkan

e. Saat ditandatangani kontrak dalam hal keempat kriteria tersebut tidak diketahui

6. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud

Saat terutangnya pajak untuk ekspor BKP berwujud adalah pada saat BKP dikeluarkan dari Daerah Pabean

7. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; atau 8. Ekspor Jasa Kena Pajak

Dalam hal pembayaran diterima sebelum penyerahan Barang Kena Pajak atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak atau dalam hal pembayaran dilakukan sebelum dimulainya pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar daerah pabean, saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran.

2.3.6. Surat Pemberitahuan Masa PPN

Fungsi Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN bagi PKP adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :

a. Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran

b. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh PKP dan atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, yang ditentukan oleh ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku

(12)

16

Universitas Kristen Petra

c. Bagi pemotong atau pemungut pajak, fungsi SPT adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut, dan disetorkan

Penyampaian SPT Masa PPN bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu manual dan e- filing. Penyampaian SPT secara manual berupa hard copy (bentuk kertas) atau induk SPT dalam bentuk kertas, tetapi lampirannya dalam bentuk media elektronik. Sedangkan untuk e-filing penyampaian SPT dilakukan melalui sistem on-line yang real time melalui perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (Application Service Provider), tetapi induk SPT tetap dilaporkan dalam bentuk kertas (hard copy). Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menyampaikan SPT secara manual, yaitu :

1. PKP membuat tidak lebih dari 30 (tiga puluh) Faktur Pajak

2. Bentuk lampiran SPT dapat disesuaikan dengan jumlah Faktur Pajak yang dibuat/diterima dengan tetap mencantumkan identitas dan unsur-unsur kolom yang telah ditetapkan

3. SPT dan lampiran yang disampaikan secara manual harus diisi dan disertai lampiran dengan lengkap

4. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak

Sedangkan untuk e-filing, dalam pelaporan SPT-nya, paling tidak PKP membuat lebih dari 30 faktur pajak dalam satu Masa Pajak. Untuk PKP yang dalam satu masa pajak membuat tidak lebih dari 30 faktur pajak, sistem ini bersifat opsional, dalam artian bisa dipilih atau tidak.

Bagi PKP yang semula menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas kemudian menyampaikan SPT dalam bentuk data elektronik, tidak diperbolehkan lagi untuk menyampaikan SPT dalam bentuk formulir kertas, kecuali atas SPT pembetulan dan SPT sebelumnya disampaikan dalam bentuk formulir kertas

Wajib Pajak harus mengisi dan menyampaikan SPT Masa PPN dengan lengkap, jelas, dan benar. SPT Masa PPN harus disampaikan dalam keadaan lengkap, artinya disertai lampiran yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dan yang sudah dibubuhkan tanda tangan serta nama jelas baik pada SPT induk maupun pada setiap lampiran yang telah dibakukan. Apabila SPT Masa

(13)

17

Universitas Kristen Petra

PPN yang disampaikan tidak memenuhi ketentuan ini maka dianggap PKP tidak menyampaikan SPT Masa PPN. Pengisian SPT juga harus jelas, diisi dengan bahasa Indonesia, menggunakan huruf latin, menggunakan angka Arab, dan dalam satuan mata uang rupiah (kecuali Wajib Pajak yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain rupiah, yaitu dalam mata uang US$).

Penyampaian SPT oleh Wajib Pajak yang wajib pembukuan harus dilengkapi dengan Laporan Keuangan.

2.4. Perlakuan Pajak Pertambahan Nilai atas Konsinyasi

Penyerahan barang secara konsinyasi termasuk dalam salah satu kategori penyerahan Barang Kena Pajak yang terutang Pajak Pertambahan Nilai. Dalam hal penyerahan secara konsinyasi, Pajak Pertambahan Nilai yang sudah dibayar pada waktu Barang Kena Pajak yang bersangkutan diserahkan untuk dititipkan dapat dikreditkan dengan Pajak Keluaran pada Masa Pajak terjadinya penyerahan Barang Kena Pajak yang dititipkan tersebut. Sebaliknya, jika Barang Kena Pajak titipan tersebut tidak laku dijual dan diputuskan untuk dikembalikan ke pemilik Barang Kena Pajak, pengusaha yang menerima titipan tersebut dapat menggunakan ketentuan mengenai pengembalian Barang Kena Pajak (retur) sesuai dengan pasal 5A Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.

Seperti yang kita ketahui, ada penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak tertentu yang tidak dikenai PPN serta atas impor dan atau penyerahannya ada juga yang dibebaskan. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 146 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 38 Tahun 2003 tentang Impor dan atau Penyerahan BKP Tertentu dan atau Penyerahan JKP Tertentu yang Dibebaskan dari Pengenaan PPN, ada BKP tertentu yang atas impor dan penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN, antara lain buku-buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku-buku pelajaran agama.

Adapun rincian jenis buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 353/KMK.03/2001 tentang Batasan Buku-Buku Pelajaran Umum, Kitab Suci, dan Buku-Buku Pelajaran Agama atas Impor dan atau Penyerahannya Dibebaskan dari Pengenaan

(14)

18

Universitas Kristen Petra

PPN. Yang dimaksud buku-buku pelajaran umum adalah buku-buku pelajaran pokok, penunjang dan kepustakaan yang dipergunakan oleh Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, Sekolah Luar Biasa, Perguruan Tinggi/Universitas, termasuk Sekolah Kejuruan, Lembaga Pendidikan Masyarakat di jalur Pendidikan Luar Sekolah dan Pendidikan Keagamaan mulai Tingkat Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi yang mendukung kurikulum sekolah yang bersangkutan. Kemudian dalam pasal 2 yang dimaksud kitab suci adalah kitab suci agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan kitab lainnya yang telah ditetapkan sebagai kitab suci oleh Menteri Agama atau pejabat yang ditunjuk. Dalam pasal 3 dijelaskan juga tentang buku-buku pelajaran agama yaitu buku-buku untuk keperluan pendidikan dan kepustakaan di bidang Agama yang dipergunakan pada Perguruan Umum dan Pendidikan Keagamaan dari Tingkat Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi, Pondok Pesantren dan Sekolah Kejuruan yang mendukung kurikulum sekolah yang bersangkutan.

Dalam Undang Undang Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana telah diubah terakhir Nomor 42 Tahun 2009 pasal 16B ayat 1, Pajak terutang tidak dipungut sebagian atau seluruhnya, atau dibebaskan dari pengenaan pajak, baik untuk sementara waktu maupun selamanya, untuk :

a. kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;

b. penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;

c. impor Barang Kena Pajak tertentu;

d. pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; dan

e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean, diatur dengan Peraturan Pemerintah.

2.4.1. Transaksi Penyerahan Barang Konsinyasi dari Consignor kepada Consignee

Saat terjadi penyerahan barang secara konsinyasi, saat itulah consignee terutang Pajak Pertambahan Nilai (Pajak Masukan) atas barang konsinyasi sebesar

(15)

19

Universitas Kristen Petra

10% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Yang dimaksud dengan DPP disini adalah nilai barang yang tertera pada bukti penerimaan barang saat barang diserahkan kepada consignee. Pajak Masukan atas barang konsinyasi tersebut pada akhir Masa Pajak bisa dikreditkan dengan Pajak Keluaran. Bukti dari consignee untuk mengkreditkan Pajak Masukan tersebut berasal dari faktur pajak yang dibuat oleh consignor pada saat barang konsinyasi dititipkan.

Contoh :

Tanggal 17 Maret 2011 consignor (PKP) menyerahkan barang konsinyasi kepada consignee sebesar Rp 2,000,000.00.

PPN yang terutang sebesar : 10% x Rp 2,000,000.00 = Rp 200,000.00

PPN sebesar Rp 200,000.00 tersebut merupakan Pajak Masukan bagi consignee.

Pada saat penyerahan barang, consignor membuatkan Faktur Pajak bagi consignee supaya Pajak Masukan dapat dikreditkan.

2.4.2. Transaksi Penjualan Barang Konsinyasi

Saat terjadi penjualan barang konsinyasi, consignee memungut Pajak Pertambahan Nilai atas barang yang dijual sebesar 10% dari DPP, DPP yang dimaksud disini adalah nilai penjualan barang konsinyasi.

Contoh :

Tanggal 20 Maret 2011 consignee menjual barang konsinyasi kepada pelanggan senilai Rp 135,000.00 secara tunai.

PPN yang terutang sebesar : 10% x Rp 135,000.00 = Rp 13,500.00

PPN sebesar Rp 13,500.00 tersebut merupakan Pajak Keluaran (PK) yang dipungut oleh consignee.

2.4.3. Transaksi Retur Barang Konsinyasi

Saat terjadi retur barang konsinyasi, consignee menerbitkan nota retur sehingga Pajak Masukan consignee berkurang. Pajak Masukan berkurang sebesar 10% dari nilai barang yang diretur. Apabila pada bulan tersebut tidak ada Pajak Masukan, maka Pajak Keluaran consignee akan bertambah.

Contoh :

(16)

20

Universitas Kristen Petra

Tanggal 2 April 2011 consignee mengembalikan barang konsinyasi yang tidak terjual kepada consignor senilai Rp 4,750,000.00.

Pajak Masukan berkurang sebesar : 10% x Rp 4,750,000.00 = Rp 475,000.00

2.4.4. Transaksi Penyetoran PPN Kurang Bayar

Pada saat penyetoran PPN, apabila Pajak Masukan lebih besar daripada Pajak Keluaran, maka terjadi kondisi lebih bayar. Dan sebaliknya, apabila Pajak Masukan lebih kecil dibanding dengan Pajak Keluaran, maka terjadi kondisi kurang bayar. Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai oleh Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) harus dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan.

Contoh :

- Jumlah Pajak Masukan bulan Maret sebesar Rp 1,650,000.00 dan Pajak Keluarannya Rp 600,000.00. Tanggal 30 April terjadi PPN lebih bayar sebesar Rp 1,050,000.00

- Jumlah Pajak Masukan bulan Mei sebesar Rp 0.00 dan Pajak Keluarannya sebesar Rp 700.000,00. Maka, tanggal 30 Juni consignee menyetor PPN kurang bayar sebesar Rp 700,000.00

2.5. Perlakuan Akuntansi

Pengertian perlakuan akuntansi adalah bagaimana akuntansi menanggapi dan mengimplementasikan masalah-masalah yang ada dalam beberapa transaksi akuntansi yang biasa terjadi pada aktivitas-aktivitas bisnis yang berkaitan dengan akuntansi. Tanpa terkecuali pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), pelaporan (reporting), dan definisi elemen serta pos laporan keuangan.

2.5.1. Pengakuan (recognition)

Suatu proses akuntansi yang berkaitan dengan transaksi atau kejadian yang mempunyai nilai tertentu yang dicatat kedalam sistem pencatatan, sehingga akan mempengaruhi laporan keuangan. Namun proses akuntansi tersebut berhubungan dengan masalah apakah suatu transaksi dicatat atau tidak dan kapan transaksi

(17)

21

Universitas Kristen Petra

tersebut harus dicatat. Pengakuan merupakan proses pembentukan suatu pos yang memenuhi definisi unsur serta kriteria pengakuan dalam neraca atau laba rugi.

Pengakuan dilakukan dengan menyatakan pos tersebut baik dalam kata-kata maupun dalam jumlah uang dan mencantumkannya ke dalam neraca atau laba rugi. Pos yang memenuhi kriteria tersebut harus diakui dalam neraca atau laba rugi. Kelalaian untuk mengakui pos semacam itu tidak dapat diralat melalui pengungkapan kebijaksanaan akuntansi yang digunakan maupun melalui catatan atau materi penjelasan. Pos yang memenuhi definisi suatu unsur harus diakui kalau :

a. Ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam perusahaan, dan

b. Pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.

2.5.2. Pengukuran

Pengukuran (measurement) atau penilaian (valuation) adalah penentuan jumlah rupiah atas suatu transaksi yang harus dicatat. Pengukuran lebih berhubungan dengan masalah penentuan harga yang dicatat pertama kali pada saat transaksi terjadi. Sedangkan penilaian lebih berhubungan dengan masalah penentuan berapa harga yang harus ditetapkan pada perkiraan tanggal laporan keuangan dibuat.

Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang untuk mengakui dan memasukkan setiap unsur laporan keuangan dalam neraca dan laporan laba rugi.

Proses ini menyangkut pemilihan dasar pengukuran tertentu

2.5.3. Definisi Pos

Pos laporan keuangan merupakan rincian tiap elemen laporan keuangan.

Elemen-elemen yang terdapat dalam laporan keuangan adalah harta (asset), kewajiban (liability), modal (equity), pendapatan (revenue), beban (expense), keuntungan (gain), kerugian (loss), dan laba (net income). Harta, kewajiban, dan modal terdapat dalam neraca, sedangkan pendapatan, beban,keuntungan, kerugian, dan laba terdapat dalam laporan laba rugi. Contoh Pos pada elemen harta adalah kas, piutang, persediaan barang, dan biaya dibayar dimuka.

(18)

22

Universitas Kristen Petra

Sedangkan Pos pada elemen kewajiban adalah hutang dagang, hutang pajak penghasilan diterima dimuka, obligasi.

2.5.4. Pengungkapan dan Penyajian

Pengungkapan mengacu kepada prinsip full disclosure dan bertujuan menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Agar pengambilan keputusan bisa efektif maka semua informasi yang diungkapkan dalam pelaporan keuangan dapat dimengerti dan tepat waktu.

Penyajian merupakan istilah yang digunakan dalam laporan pemeriksaan yang memuat pengungkapan yang memuaskan, perincian yang beralasan, dan tidak mempunyai bias. Pengungkapan yang memuaskan memerlukan penyajian klasifikasi laporan khusus yang luasnya tertentu, seperti aktiva yang tidak berwujud yang dibagi menjadi beberapa macam. Tidak bias berarti bahwa pemeriksaannya bebas dan tidak memihak, serta tidak melebihkan pihak yang satu dari pihak yang lainnya, contoh seperti pemegang saham yang dilebihkan dari investor.

2.6. Perlakuan Akuntansi atas Transaksi Konsinyasi

Menurut Kieso, pendapatan dari konsinyasi hanya diakui setelah consignor menerima pemberitahuan penjualan dan pengiriman kas dari consignee.

Selama barang konsinyasi belum laku terjual, maka barang tersebut tetap tercatat sebagai persediaan consignor, dan secara terpisah diklasifikasikan sebagai barang dagang atas konsinyasi. Barang tersebut juga tidak dicatat sebagai aktiva dalam pembukuan consignee. Pada saat barang itu terjual, consignee mempunyai kewajiban sebesar jumlah bersih yang terutang kepada consignor. Consignor menerima laporan secara berkala dari consignee (umumnya 1 bulan sekali) atas barang yang diterima, barang yang sudah terjual, serta beban atas pemeliharaan barang dan kas yang diterima. Saat itulah pendapatan akan diakui oleh consignor.

Consignor memberikan komisi atas penjualan barang kepada consignee sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Hak milik atas barang konsinyasi tetap berada di tangan consignor, akan tetapi consignee memiliki kewajiban untuk memelihara barang berdasarkan kesepakatan konsinyasi.

(19)

23

Universitas Kristen Petra

2.6.1. Transaksi Penyerahan atas Barang Konsinyasi

Transaksi yang berkaitan dengan Pajak Pertambahan Nilai atas penyerahan barang konsinyasi terjadi pada saat Toko Buku “A, B, C, D” melakukan penerimaan barang konsinyasi atas Barang Kena Pajak. Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan atas penyerahan barang tersebut adalah sebesar 10% dari DPP.

Pajak yang dikenakan, oleh consignee dicatat sebagai Pajak Masukan yang pada akhir Masa Pajak akan dikreditkan dengan Pajak Keluaran. PPN termasuk dalam pos pajak yang dibayar dimuka, elemen harta. Penerimaan barang konsinyasi oleh toko buku tidak diakui sebagai persediaan. Definisi dari persediaan adalah aktiva : a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal

b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau

c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.

Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali, misalnya barang dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali.

2.6.2. Transaksi Penjualan Barang Konsinyasi

Transaksi yang berkaitan dengan Pajak Pertambahan Nilai atas penjualan barang konsinyasi kepada pelanggan toko buku akan dijurnal sebagai berikut : Toko Buku “A” menjual barang konsinyasi kepada pelanggan pada tanggal 8 Mei 2011 senilai Rp150,000.00

Jurnalnya :

8/5/11 Kas Rp165,000.00

Hutang usaha Rp150,000.00 PPN Keluaran Rp 15,000.00

Barang yang terjual langsung diakui sebagai hutang usaha oleh consignee. PPN masuk dalam Pos hutang pajak, elemen Kewajiban

2.6.3. Transaksi Retur atas barang Konsinyasi

Consignee akan mengembalikan sisa barang yang tidak terjual kepada consignor. Transaksi ini disebut retur barang konsinyasi. Toko buku membuatkan nota retur atas barang konsinyasi yang dikembalikan kepada consignor. Transaksi

(20)

24

Universitas Kristen Petra

retur atas barang konsinyasi akan mengurangi Pajak Masukan dan menambah Pajak Keluaran.

Retur barang konsinyasi oleh Toko Buku “A” dijurnal sebagai berikut :

Toko Buku “A” melakukan retur barang atas barang konsinyasi kepada consignor pada tanggal 10 Maret 2011 senilai Rp 2,500,000.00.

Jurnalnya :

10/3/11 Kas/Hutang usaha Rp 250,000.00

Pajak Masukan Rp 250,000.00 Nota retur memiliki fungsi untuk mengurangi :

a. Pajak Masukan dari Pengusaha Kena Pajak pembeli, dalam hal Pajak Masukan atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan telah dikreditkan;

b. Biaya atau harta bagi Pengusaha Kena Pajak pembeli, dalam hal pajak atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut tidak dikreditkan dan telah dibebankan sebagai biaya atau telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga perolehan harta tersebut; atau Harta atau biaya dalam hal Pengusaha Kena Pajak tidak dapat mengkreditkan Pajak Masukan dan PPnBM, dan telah dibebankan sebagai biaya

c. Biaya atau harta bagi pembeli yang bukan Pengusaha Kena Pajak dalam hal pajak atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan tersebut telah dibebankan sebagai biaya atau telah ditambahkan (dikapitalisasi) dalam harga perolehan harta tersebut

Mekanisme pembuatan nota retur :

1. Nota retur dibuat apabila ada BKP yang dikembalikan, kecuali BKP tersebut diganti dengan BKP dari jenis yang sama, tipenya sama, jumlah dan harganya juga sama

2. Nota retur dibuat dan ditandatangani oleh pembeli

3. Bentuk nota retur dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan administrasi PKP, tetapi materi yang tercantum di dalamnya memenuhi ketentuan yang berlaku, yaitu :

a. Nomor urut;

b. Nomor dan tanggal Faktur Pajak dari BKP yang dikembalikan;

c. Nama, alamat, dan NPWP pembeli

(21)

25

Universitas Kristen Petra

d. Nama, alamat, NPWP, tanggal pengukuhan PKP yang menerbitkan Faktur Pajak;

e. Macam, jenis, kuantum, harga jual BKP yang dikembalikan;

f. PPN atas BKP yang dikembalikan;

g. PPnBM atas BKP yang tergolong mewah yang dikembalikan;

h. Tanggal pembuatan nota retur, dan i. Tandatangan pembeli

Gambar 2.1

Contoh Form Nota Retur

Gambar diatas adalah contoh nota retur yang benar sesuai dengan aturan yang berlaku. Apabila pembuatan nota retur tidak memenuhi persyaratan yang telah dicantumkan, maka tidak dapat diperlakukan sebagai nota retur. Nota retur harus dibuat dalam Masa Pajak pada saat terjadinya pengembalian Barang Kena Pajak.

(22)

26

Universitas Kristen Petra

2.6.4. Transaksi Pembayaran atas Barang Konsinyasi dari Consignee kepada Consignor

Transaksi yang berkaitan dengan pembayaran kepada consignor atas barang yang terjual akan dijurnal sebagai berikut :

Pada tanggal 10 April 2011 Toko Buku “B” melunasi hutang usaha atas barang konsinyasi sebesar Rp200,000.00. komisi yang diterima oleh Toko Buku sebesar Rp25,000.00.

Jurnalnya :

10/4/11 Hutang usaha Rp200,000.00

Kas Rp175,000.00

Komisi atas penjualan Rp 25,000.00 Pada saat melunasi hutang usaha, Toko Buku “B” mengeluarkan kas sebesar hutang usaha yang sudah dipotong dengan komisi atas penjualan dan PPN atas pendapatan jasa atas penjualan barang konsinyasi (komisi).

Ada berbagai macam alternatif penghitungan komisi : a. Berdasarkan presentase dari total penjualan

Misal : total penjualan buku Rp5,000,000.00 dan komisi yang didapat adalah sebesar 20%. Maka komisi yang diterima oleh consignee dari consignor sebesar Rp1,000,000.00 (20% x Rp5,000,000.00)

b. Komisi per unit barang

Misal : consignor menitipkan barang sebanyak 100 unit kepada consignee dan terjual 70 unit. Consignee mendapatkan Rp20,000.00 dari tiap unit yang terjual. Jadi jumlah komisi yang didapat sebesar Rp1,400,000.00 (70 unit x Rp20,000.00)

Komisi atas penjualan masuk dalam Pos pendapatan, sedangkan PPN masuk dalam Pos hutang pajak, elemen kewajiban.

2.6.5. Transaksi Pelunasan PPN Keluaran

Pada akhir Masa Pajak atau setiap akhir bulan akan dilakukan penyesuaian saldo akhir PPN. Apabila saldo akhir PPN berada pada posisi kredit, maka PPN yang kurang bayar tersebut harus dilunasi. Jurnal yang dibuat pada saat pelunasan PPN :

(23)

27

Universitas Kristen Petra

Pada tanggal 10 Maret 2011 Toko Buku “C” melakukan pelunasan PPN senilai Rp500,000.00. Jurnalnya :

14/5/11 PPN Kurang Bayar Rp500,000.00

Kas Rp500,000.00

Referensi

Dokumen terkait

Puji Tuhan penulis diberikan kelancaran oleh Allah SWT, sehingga mampu menyelesaikan skripsi dengan judul PENGGAMBARAN SUPERHERO PADA TOKOH DEADPOOL DALAM FILM

sehingga terkadang barang hasil produksi kurang memenuhi standar untuk dijual masih dimasukan kedalam kategori layak jual, dan belum adanya modul shipping dan

Hasil penentuan pengaruh massa adsorben terhadap adsorpsi ion Fe 2+ dikembangkan dari metode yang dilakukan oleh Dede (2010), dilakukan pada konsentrasi adsorbat

Bentuk terapi ARV/HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy) dalam upaya pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi adalah penggunaan obat antiretroviral jangka

Anda akan melihat bahwa Anda harus menggunakan literatur untuk menjelaskan penelitian Anda - setelah semua, Anda tidak menulis tinjauan literatur  hanya untuk memberitahu pembaca

Rasio ROA perusahaan manufaktur dan jasa yang melakukan merger dan akuisisi memiliki nilai t sebesar -1,415 dengan signifikan t sebesar 0,168 > yang menunjukkan bahwa

∑ skor maksimal.. Hasil perolehan yang telah didapat pada siklus I menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam menerapkan strategi Practice-Rehearsal Pairs termasuk dalam

Terkelolanya kegiatan Lingkungan Hidup yang didanai dengan Dana DAK, melalui Pengadaan Gerobak sampah 38 buah, bak sampah 300 unit, alat daur ulang sampah ( mesin jahit untuk