2. LANDASAN TEORI
2.1. Uncertainty Theory
Menurut Downey dan Slocum (1975) dalam review of environmental uncertainty literature, mengatakan bahwa ketidakpastian merupakan atribut lingkungan, proses kognitif individu, variasi pengalaman individu, dan harapan sosial yang setiap hari terus berubah dengan ketidakpastian. Ketidakpastian lingkungan digunakan sebagai deskriptor mengenai keadaan lingkungan organisasi dan sebagai deskriptor keadaan seseorang yang merasa dirinya kurang mendapat suatu informasi yang penting mengenai lingkungan tersebut. Terdapat tiga definisi ketidakpastian lingkungan oleh para teoretikus yaitu:
1. Duncan (1972); Pfeffer dan Salancik (1978) mengatakan bahwa ketidakpastian lingkungan menggambarkan ketidakmampuan untuk memprediksi mengenai kemungkinan kejadian masa depan.
2. Duncan (1972) dan Lawrence dan Lorsch (1967) mengatakan bahwa kurangnya informasi untuk memprediksi hubungan sebab-akibat dalam suatu penelitian.
3. Downey dan Slocum (1975), Duncan (1972), Hickson et al., (1971), Schmidt dan Cummings (1976) setuju mengatakan bahwa ketidakmampuan untuk memprediksi hasil keputusan dalam penelitian.
Ketiga pengertian ketidakpastian lingkungan tersebut dapat menggambarkan bahwa hal tersebut dapat menekan suatu perusahaan dan manajer untuk melakukan penghindaran pajak yang dipengaruhi lagi oleh teori agensi.
2.2. Ketidakpastian Lingkungan
Menurut Ghosh dan olsen (2009) ketidakpastian lingkungan adalah suatu yang selalu berubah dari perubahan karakteristik aktivitas lingkungan yang mempengaruhi kegiatan operasional suatu perusahaan. Ketidakpastian lingkungan merupakan suatu hal yang tidak dapat diprediksikan.
Chenhall dan Morris (1986) menegaskan bahwa ketidakpastian lingkungan yang dipersepsikan sebagai faktor prediksi yang penting, dimana prediksi tersebut
dapat terjadi ataupun tidak sehingga prediksi tersebut dapat menjadikan proses perencanaan dan kontrol lebih sulit. Perencanaan menjadi bermasalah dalam situasi operasi yang tidak pasti karena tidak terprediksinya kejadian masa mendatang. Oleh karena itu manajer harus mampu memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang yang dapat membawa dampat terhadap perusahaan dan dapat memberikan informasi yang bersifat timeliness, aggregate, dan intregated yang akan bermanfaat bagi manajer ketika dihadapkan pada pembuatan keputusan yang berdampak pada beberapa segmen perusahaan.
Ketidakpastian lingkungan dapat dilihat dari sales volatility suatu perusahaan. Perbedaan penjualan disetiap tahunnya dapat melihat respon pasar dimana respon pasar tersebut merupakan sikap pembeli yang menggabarkan kondisi lingkungan pada saat tertentu. Apabila fluktuasi dari penjualan sangat drastis maka dapat dikatakan bahwa pada saat tertentu mendakan bahwa kondisi lingkungan yang tidak pasti.
2.3. Managerial Ability
Menurut Robbins (2001) mengatakan bahwa manajer bekerja dengan orang lain dalam suatu organisasi. Manajer yang membuat keputusan, mengalokasikan sumber daya, dan mengarahkan kegiatan agar mencapai tujuan yang diharapkan oleh organisasi. Dengan kata lain, manajer adalah seseorang yang bekerja mengelola dan menata usaha perusahaan melalui sumber daya manusia yang ada pada perusahaan tersebut untuk mencapai tujuan organisasi.
Manajer memiliki tanggung jawab dan wewenang sebagai pengambil keputusan.
Menurut Karweti (2010) Managerial ability adalah seperangkat keterampilan teknis dalam melaksanakan tugas sebagai manajer untuk melaksanakan tugas sebagai manajer untuk menggunakan segala sumber yang tersedia untuk mencapai tujuan usaha secara efektif dan efisien. Selain itu, Managerial ability juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengelola usaha seperti perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi, pengawasan, penilaian, dan pengambilan keputusan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa managerial ability merupakan kemampuan untuk menggerakkan orang lain dalam memanfaatkan sumber-sumber yang ada dalam mencapai tujuan organisasi secara
efisien dan efektif. Efisien dan efektif seorang manajer dapat dilihat dari seberapa baik manajer tersebut dapat menetapkan rencana dalam mencapai tujuan yang memadai. Dapat dikatakan bahwa terdapat manajer memiliki tanggung jawab terhadap setiap tindakan termasuk tindakan perencanaan. Seorang manajer yang baik akan mengambil keputusan yang baik bagi organisasinya baik dalam ketidakpastian lingkungan maupun dalam lingkungan yang sudah pasti.
Ketidakpastian lingkungan menurut Daft (2002) adalah para manajer tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai faktor-faktor lingkungan untuk memahami dan meramalkan kebutuhan serta perubahan lingkungan. Menurut Miliken (1987) ketidakpastian lingkungan adalah rasa ketidakmampuan seseorang untuk memprediksi sesuatu secara akurat dari seluruh faktor sosial dan fisik yang secara langsung mempengaruhi perilaku pembuatan keputusan orang-orang dalam organisasi. Pada dasarnya ketidakpastian lingkungan merupakan kondisi eksternal yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan. Menurut Snyder dan Glueck (1982) mengatakan bahwa respon perusahaan terhadap ketidakpastian lingkungan memiliki dampak yang signifikan pada kinerjanya. Ghosh dan Olsen (2009) menunjukan bahwa meskipun lingkungan eksternal menempatkan kendala yang cukup besar pada perusahaan-perusahaan, manajer masih memiliki kesempatan untuk menanggapi secara strategis dalam menangani ketidakpastian lingkungan tersebut. Dengan kata lain, ketika menghadapi ketidakpastian lingkungan, manajer memiliki kebijaksanaan dan fleksibilitas untuk mengembangkan strategi yang berbeda untuk bertahan dan mencapai hasil yang maksimal bagi para manajer dan pemegang saham perusahaan.
Peneliti sebelumnya meneliti bagaimana para manajer menggunakan kebijaksanaan untuk mengatasi ketidakpastian lingkungan. Alexander (1991) menunjukan bahwa manajer menanggapi ketidakpastian lingkungan dengan desentralisasi. Dengan kata lain, top-level manajer mendelegasikan tanggung jawab lebih untuk low-level manajer ketika lingkungan eksternal menjadi lebih tidak stabil. Perusahaan mengalokasikan lebih banyak sumber daya pada kegiatan dalam meningkatkan efektifitas pasar eksternal di lingkungan stabil (Cheng dan Kesner, 1997). Ghosh dan Olsen (2009) meneliti dampak dari ketidakpastian lingkungan dari perspektif manajemen laba dan mendapati bahwa manajer
menggunakan akrual diskrisioner lebih untuk mengurangi laba yang dilaporkan ketika berhadapan dengan lingkungan yang lebih pasti.
2.4. Penghindaran Pajak
Pajak merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang- Undang yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum
Penghindaran pajak adalah suatu skema transaksi yang ditujukan untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan (loophole) ketentuan perpajakan suatu negara. Menurut Lim (2011) mendefinisikan penghindaran pajak sebagai penghematan pajak yang timbul dengan memanfaatkan ketentuan perpajakan yang dilakukan secara legal untuk meminimalkan kewajiban pajak.
Menurut Zain (2003) menyatakan bahwa penghindaran pajak merupakan pengaturan untuk meminimalkan atau menghilangkan beban pajak dengan mempertimbangkan akibat pajak yang ditimbulkannya. Penghindaran pajak bukan pelanggaran Undang-Undang perpajakan karena usaha wajib pajak mengurangi, menghindari, meminimalkan atau meringankan beban pajak dilakukan dengan cara yang dimungkinkan oleh Undang-Undang Pajak.
Penelitian yang dilakukan oleh Uppal (2005) mengenai penghindaran pajak di Indonesia, ditemukan bahwa di Negara berkembang banyak terjadi kasus penghindaran pajak. Hal ini dilakukan dengan cara tidak melaporkan atau melaporkan namun tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya atas pendapatan yang bisa dikenai pajak. Penghindaran pajak ini telah membuat basis pajak atas pajak pendapatan menjadi sempit dan mengakibatkan begitu besartnya kehilangan potensi pendapatan pajak yang dapat digunakan untuk mengurangi beban defisit angaran negara.
Dengan demikian dalam konteks perusahaan, penghindaran pajak in sengaja dilakukan oleh perusahaan dalam rangka memperkecil besarnya tingkat pembayaran pajak yang harus dilakukan dan meningkatkan arus kas perusahaan.
Seperti dalam penelitian McGuire, Wang, Wilson (2011), bahwa manfaat dari
adanya penghindaran pajak adalah untuk memperbesar tax saving yang berpotensi mengurangi pembayaran pajak sehingga akan menaikkan cash flow.
2.5. Peneliti Terdahulu
Berikut ini merupakan penelitian yang telah dilakukan dan menjadi dasar dalam penelitian ini, antara lain:
1. Huang, Sun, dan Zhang (2017)
Penelitian Huang, Sun, dan Zhang (2017) berjudul “Environmental Uncertainty and Tax Avoidance”. Penelitian ini menguji pengaruh ketidakpastian lingkungan dengan aktivitas penghindaran pajak dan juga meneliti managerial ability sebagai memperkuat atau memperlemah pengaruh ketidakpastian lingkungan dengan aktivitas penghindaran pajak.
Huang, Sun, dan Zhang (2017) meneliti dengan menggunakan sampel perusahaan yang terdaftar di Compustat pada tahun 1993 hingga 2013.
Penelitian ini menemukan bahwa terdapat pengaruh antara ketidakpastian lingkungan dengan aktivitas penghindaran pajak, dimana semakin tingginya ketidakpastian lingkungan akan semakin melakukan aktivitas penghindaran pajak. Sebaliknya dengan managerial ability, kemampuan manajerial yang baik mengurangi pengaruh ketidakpastian lingkungan terhadap aktivitas penghindaran pajak.
2. McGuire, Omer, dan Wilde (2014)
Penelitian ini berjudul “Investment Opportunity Sets, Operating Uncertainty, and Capital Market Pressure: Determinants of Investments in Tax Shelter Activities?” penelitian ini menguji suatu aktivitas ketidakpastian berpengaruh terhadap aktivitas investasi dalam tax shelter.
Data dari penelitian ini menggunakan 45 perusahaan yang teridentifikasi melakukan investasi dalam tax shelter yang terdaftar dalam Compustat Universe pada tahun 1981 hingga 2000. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan bahwa perusahaan dengan aktivitas ketidakpastian cenderung tidak berinvestasi di dalam tax shelter.
3. Gallemore dan Labro (2014)
Penelitian yang dilakukan oleh Gallemore dan Labro (2015) dengan judul
“The Importance of The Internal Information Environment for Tax Avoidance”. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ketidakpastian lingkungan dari kualitas informasi internal berpengaruh terhadap penghindaran pajak. Penelitian ini menggunakan sampel berdasarkan perusahaan yang terdaftar dalam compustat tahun 1994 hingga 2010. Hasil dari penelitan tersebut adalah Perusahaan yang beroperasi dalam ketidakpastian lingkungan dari kualitas informasi internal perusahaan tersebut memiliki pengaruh terhadap penghindaran pajak.
4. Desai dan Dharmapala (2006)
Penelitian ini berjudul “Corporate Tax Avoidance and High-powered Incentives”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa insentif manajer berpengaruh terhadap penghindaran pajak. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan yang terdaftar dalam Standard and Poor’s (S&P) Compustat dalam tahun 1993 hingga 2001. Hasil dari penelitian ini adalah insentif manjer berpengaruh secara signifikan terhadap aktivitas penghindaran pajak.
2.6. Hipotesis
2.6.1. Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan terhadap Penghindaran Pajak Penghindaran pajak dengan mengurangi beban pajak melibatkan ketidakpastian akan strategi perencanaan pajak dan dapat membuka perusahaan ke dalam ketidakpastian yang lebih besar mengenai pembayaran pajak di masa yang akan datang. Hal ini disebabkan oleh potensi penalti dan bunga yang dinilai oleh pihak otoritas pajak atau fiskus pajak. Oleh karena itu, ada kemungkiunan perusahaan yang berada dalam ketidakpastian lingkungan untuk mengenakan premi yang lebih besar untuk menghindari ketidakpastian pajak dengan menggunakan strategi perencanaan pajak. Berdasarkan penelitian Huang, Sun, Zhang (2017), menunjukan bahwa ketidakpastian lingkungan berpengaruh positif
terhadap penghindaran pajak. Oleh karena itu, hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah:
H1: Ketidakpastian lingkungan berpengaruh terhadap CASHETR sebagai proksi penghindaran pajak.
H2: Ketidakpastian lingkungan berpengaruh terhadap CASHETR5 sebagai proksi penghindaran pajak.
2.6.2. Pengaruh Ketidakpastian Lingkungan terhadap Penghindaran Pajak Dimoderasi oleh Managerial Ability
Ketidakpastian lingkungan adalah sesuatu hal yang selalu berubah-ubah yang tidak dapat diprediksi oleh seseorang. Ketidakpastian lingkungan tersebut membuat para manajer tidak mempunyai informasi yang cukup mengenai faktor- faktor lingkungan untuk memahami dan meramalkan kebutuhan serta perubahan lingkungan. Dari penjelasan diatas dengan ketidakpastian lingkungan membuat para manager menggunakan discretionary accruals lebih untuk mengurangi laba yang dilaporkan ketika berhadapan dengan lingkungan yang lebih pasti, dimana mengurangi laba yang dilaporkan adalah salah satu perilaku atau aktivitas penghindaran pajak. Adapun hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah:
H3: Managerial ability memperkuat pengaruh ketidakpastian lingkungan terhadap CASHETR sebagai proksi penghindaran pajak.
H4: Managerial ability memperkuat pengaruh ketidakpastian lingkungan terhadap CASHETR5 sebagai proksi penghindaran pajak.