2. LANDASAN TEORI
2.1. Kepatuhan Pajak (Tax Compliance)
Menurut kamus Merriam-Webster, definisi compliance (kepatuhan) adalah “the act or process of doing what you have been asked or ordered to do”, artinya suatu tindakan atau proses untuk melakukan sesuatu yang diminta atau diwajibkan untuk dilakukan. Beberapa definisi mengenai kepatuhan pajak (tax compliance) yang dikemukakan oleh para ahli antara lain:
1. Nurmantu (2005) mendefinisikan kepatuhan Wajib Pajak sebagai “suatu keadaan dimana Wajib Pajak dapat memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya” (p. 6).
2. James dan Nobes (2000) mendefinisikan tax compliance sebagai “the degree of compliance with tax law and administration without the need for enforcement activity” (p.138).
3. Santoso dalam Debbianita dan Carolina (2013) mendefinisikan kepatuhan pajak sebagai “suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya” (p. 10).
Mengacu pada definisi Nurmantu dan Santoso di atas, kepatuhan pajak diukur dari terpenuhinya kewajiban perpajakan. Dalam Undang-Undang perpajakan, Wajib Pajak memiliki beberapa kewajiban pajak yang secara umum harus dilaksanakan, yaitu:
1. Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
2. Kewajiban mendaftarkan diri untuk mendapatkan Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak (NPPKP),
3. Kewajiban pembayaran, pemotongan/pemungutan, dan pelaporan, 4. Kewajiban dalam hal diperiksa.
Brown dan Mazur dalam Rahayu (2010) mengemukakan tiga kriteria kepatuhan pajak yang ditetapkan oleh badan perpajakan Amerika Serikat (Internal Revenue Service) antara lain:
1. Kepatuhan penyampaian Surat Pemberitahuan (filling compliance), yaitu kepatuhan Wajib Pajak dalam menyampaikan Surat Pemberitahuannya secara tepat waktu;
2. Kepatuhan pembayaran (payment compliance), yaitu kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar pajak yang terutang secara tepat waktu;
3. Kepatuhan pelaporan pajak (reporting compliance), yaitu kepatuhan Wajib Pajak dalam melaporkan pajak terutangnya secara benar dan jujur.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka secara garis besar kepatuhan pajak terbagi menjadi dua jenis yaitu:
a. Kepatuhan Pajak Formal
Kepatuhan pajak formal adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi kewajiban secara formil sesuai dengan Undang-Undang perpajakan. Kepatuhan pajak formal lebih menekankan pada dipenuhinya ketentuan terkait pendaftaran diri dan batas waktu pembayaran maupun pelaporan pajak terkait pajak terutang maupun tunggakan. Hal ini seperti dikemukakan oleh Nashuca dalam Rahayu (2010) bahwa kepatuhan pajak formil dapat diidentifikasi dari kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk menyetorkan kembali SPT, kepatuhan untuk menghitung dan membayar pajak terutang, serta kepatuhan untuk membayar tunggakan.
Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), kewajiban mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP timbul apabila Wajib Pajak telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif.. Sedangkan batas penyetoran dan pelaporan SPT Tahunan bagi WPOP adalah akhir bulan ketiga setelah berakhirnya tahun atau bagian tahun pajak.
b. Kepatuhan Pajak Material
Kepatuhan pajak material adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yaitu sesuai dengan isi dan jiwa Undang- Undang perpajakan. Kriteria pemenuhan kepatuhan material adalah pengisian Surat Pemberitahuan secara jujur, lengkap, dan benar sesuai dengan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan. Berdasarkan penjelasan pasal tersebut, yang dimaksud dengan benar, lengkap, dan jelas dalam mengisi SPT adalah:
1. Benar adalah benar dalam perhitungan, termasuk benar dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan, dan sesuai dengan dengan keadaan yang sebenarnya;
2. Lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek pajak dan unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan; dan
3. Jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan unsur- unsur lain yang harus dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan.
2.2. Moral Pajak (Tax Morale)
Istilah moral pajak pertama kali terdengar sekitar tahun 1960-an dari Schmölders (1960) dan Strümpel (1969) dalam karyanya di “Cologne School of Tax Psychology”. Mereka menekankan bahwa moral pajak merupakan faktor krusial dalam menjelaskan kepatuhan pajak (Alm and McClelland, 2012).
Meskipun terminologi ini telah diperkenalkan sejak 1960-an, moral pajak baru menjadi titik fokus akademis di tahun 1990-an (Torgler, 2007).
Secara umum, moral pajak didefinisikan sebagai “an instrictive motivation to pay taxes” (Tekeli, 2011, p.2), yaitu motivasi intrinsik untuk membayar pajak. Moral pajak mengukur niat dan sikap seseorang dalam membayar pajak. Dengan kata lain, moral pajak berarti suatu kewajiban moral untuk membayar pajak atau suatu kepercayaan bahwa membayar pajak akan memberikan kontribusi terhadap masyarakat (Tekeli, 2011).
Penelitian-penelitian sebelumnya (Torgler, 2011, p.7) mengukur moral pajak dengan indikator-indikator antara lain:
a. World Values Survey (WVS) menggunakan indikator: “Tidak melakukan kecurangan dalam pembayaran pajak meskipun terdapat kesempatan.” (Please tell me for each of the following statements whether you think it can always be justified, never be justified, or something in between: … Cheating on tax if you have the chance.)
b. Latinobarómetro menggunakan indikator: “Melakukan perencanaan pajak dengan tujuan menghemat pembayaran pajak merupakan hal yang tidak benar.”
(How justifiable do you believe it is to: Manage to avoid paying all his tax.) c. International Social Survey Programme (ISSP) menggunakan indikator: “Rasa
bersalah apabila tidak melaporkan seluruh penghasilan dalam rangka mengurangi jumlah pembayaran pajak.” (Do you feel it is wrong or not wrong if a taxpayer does not report all of his or her income in order to pay less income taxes?)
Sebagai variabel mediasi, hubungan moral pajak sebagai niat untuk membentuk perilaku kepatuhan pajak dijelaskan melalui Theory of Planned Behaviour yang diajukan oleh Icek Ajzen (1991). Kemunculan niat untuk berperilaku ditentukan oleh tiga faktor (Mustikasari, dalam Arum, 2012) antara lain:
a. Sikap terhadap Perilaku (Behavioral Beliefs)
Sikap terhadap perilaku mencerminkan keyakinan individu akan hasil dari suatu perilaku dan evaluasi atas hasil tersebut. Individu yang memiliki keyakinan positif terhadap suatu perilaku akan cenderung untuk melakukan tindakan tersebut.
b. Norma Subjektif (Normative Beliefs)
Norma subjektif mencerminkan keyakinan tentang harapan normatif orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut. Apabila individu meyakini suatu tindakan sebagai norma kelompok, maka ia akan cenderung untuk mematuhi dan berperilaku sesuai dengan kelompoknya.
c. Kontrol Perilaku (Control Beliefs)
Kontrol perilaku mencerminkan keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan dan persepsinya tentang seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan menghambat perilakunya tersebut (perceived power). Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang bersangkutan.
Terkait dengan teori tersebut, Torgler (2003, p. 188) menggolongkan Wajib Pajak menjadi empat tipe berdasarkan tingkat moral pajaknya antara lain:
a. Wajib Pajak Sosial (Social Taxpayer)
Wajib Pajak tipe ini sangat dipengaruhi oleh norma sosial. Mereka akan merasa bersalah apabila mengecilkan jumlah pembayaran pajak dan tindakannya diketahui. Wajib Pajak ini sangat sensitif terhadap tindakan orang lain, khususnya orang-orang terdekat. Apabila mereka berpersepsi bahwa orang lain membayar pajak secara patuh, maka akan muncul niat dalam dirinya untuk turut patuh membayar pajak. Sebaliknya, ketika orang di sekitarnya berusaha mengurangi bahkan menggelapkan pajak, niat Wajib Pajak Sosial untuk membayar pajak juga ikut berkurang.
b. Wajib Pajak Intrinsik (Intrinsic Taxpayer)
Wajib Pajak tipe ini merasa memiliki kewajiban untuk berkontribusi terhadap negara tanpa perlu diberi paksaan seperti ancaman sanksi administrasi dan sanksi pidana. Wajib Pajak Intrinsik sangat sensitif terhadap faktor institusional seperti kebijakan pemerintah atau administrasi perpajakan. Kebijakan positif yang diambil oleh pemerintah akan memunculkan perilaku positif dari Wajib Pajak ini untuk berkontribusi terhadap negara melalui kepatuhan membayar pajak.
c. Wajib Pajak Jujur (Honest Taxpayer)
Wajib Pajak tipe ini bahkan tidak mencari cara untuk menggelapkan pajak.
Perilaku mereka juga tidak dipengaruhi oleh kebijakan perpajakan, seperti tarif pajak, sanksi perpajakan, atau pemeriksaan pajak.
d. Penggelap Pajak (Tax Evader)
Secara umum, Wajib Pajak tipe ini memiliki tingkat moral pajak yang paling rendah. Mereka sangat mempertimbangkan resiko terkena sanksi perpajakan atau pemerisaan pajak. Wajib Pajak ini akan menggelapkan pajak apabila manfaat yang diperoleh relatif lebih besar daripada resiko tindakannya terdeteksi oleh petugas pajak.
2.3. Kepercayaan kepada Pemerintah (Trust in Govenrment)
McKnight dan Chervany (2001, p.37) mendefinisikan kepercayaan sebagai “Institution-based Trust means one believes,with feelings of relative security,that favorable conditions are in place that are conducive to situational
success in a risky endeavor or aspect of one’s life”. Melalui kepercayaan, timbul perasaan keamanan relatif akibat bergantung terhadap institusi tertentu dalam aspek kehidupan seseorang.
Fokus utama variabel kepercayaan terhadap pemerintah adalah bagaimana hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hubungan ini berfungsi sebagai ikatan psikologis yang melibatkan emosi dan loyalitas. Lebih lanjut, Torgler dan Schaltegger (2006, p.410) menegaskan bahwa “trust is not an attitude that can be demanded by the government, taxpayers bestow trust on their government or they don’t”, yang berarti pemerintah yang harus bertindak agar tercipta rasa saling percaya di antara hubungan keduanya. Petugas pajak akan kesulitan dalam mengawasi sepenuhnya tingkat kepatuhan pajak setiap Wajib Pajak. Oleh karena itu, kepercayaan kepada pemerintah berperan penting karena fungsi pengawasan dan hukuman membutuhkan biaya tinggi. (Tekeli, 2011, p.20). Apabila warga negara mempersepsikan bahwa negara dapat dipercaya, maka tingkat kepercayaan akan meningkat, begitu pula dengan tingkat kepatuhan pajak (Smith & Stalan dalam Torgler, 2004).
Menurut Sadjiarto (2000, p.139), salah satu usaha untuk membangun kepercayaan rakyat kepada pemerintah adalah dengan mewujudkan suatu pemerintahan yang bersih dan berwibawa atau yang dikenal dengan istilah good governance. Pedoman umum yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menyebutkan terdapat 5 asas good governance antara lain:
a. Transparansi (Transparency), yaitu pemerintah mampu menyediakan informasi dan menjamin kemudahan dalam proses memperoleh informasi yang akurat dan memadai.
b. Akuntabilitas (Accountability), yaitu pemerintah harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara tranparan dan wajar.
c. Responsibilitas (Responsibility), yaitu pemerintah mematuhi peraturan perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan.
d. Independensi (Independency), yaitu pemerintah dikelola secara independen sehingga masing-masing organ pemerintah tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
e. Kewajaran dan kesetaraan (Fairness), yaitu pemerintah harus senantiasa memperhatikan kepentingan publik dan pemangku kepentingan lainnya secara wajar dan adil.
Penelitian ini akan menggunakan indikator kualitas governance untuk mengukur kepercayaan kepada pemerintah. Adapun indikator kualitas governance (Kauffman, Kraay, & Mastruzzi, 2009, p. 6) antara lain:
a. Voice and Accountability, yaitu persepsi warga negara mengenai kemampuannya untuk berpartisipasi dalam pemilihan otoritas pemerintah serta kebebasan berekspresi, kebebasan berserikat, dan kebebasan pers.
b. Political Stability and Absence of Violence, yaitu persepsi warga negara mengenai stabilitas pemerintah dalam menghadapi usaha penggulingan kekuasaan oleh kekerasan maupun terorisme.
c. Government Effectiveness, yaitu persepsi warga negara mengenai kualitas pelayanan publik, kualitas pelayanan sipil dan pengelolaannya yang secara independen, kualitas perencanaan dan implementasi kebijakan, serta kredibilitas pemerintah terhadap kebijakan tersebut.
d. Regulatory Quality, yaitu persepsi warga negara mengenai kemampuan pemerintah dalam merencanakan dan mengimplementasikan kebijakan dan peraturan yang bertujuan untuk pengembangan sektor swasta.
e. Rule of Law, yaitu persepsi warga negara mengenai penegakan hukum, polisi, pengadilan, serta kemungkinan terjadinya tindak kriminal dan kekerasan.
f. Control of Corruption, yaitu persepsi warga negara mengenai sejauh mana kekuasaan publik dilaksanakan untuk memenuhi kepentingan pribadi baik dalam jumlah kecil maupun korupsi.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menguji pengaruh kepercayaan kepada pemerintah terhadap moral pajak serta dampaknya terhadap kepatuhan pajak. Menurut Torgler dan Schaffner (2007, p.20), kepercayaan kepada pemerintah akan menimbulkan perilaku positif Wajib Pajak dan komitmen untuk membayar pajak sehingga akan berefek positif pada kepatuhan pajak. Pajak dapat dipandang sebagai imbalan atas kebijakan positif pemerintah. Penelitian oleh Scholz dan Lubell (1998) menyimpulkan bahwa apabila Wajib Pajak di Amerika Serikat percaya terhadap pemerintah, maka mereka akan bersedia untuk
membayar pajak. Hal serupa juga disimpulkan melalui penelitian Tekeli (2011) di Turki. Namun, variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan di Jepang. Di Indonesia, penelitian Cahyonowati (2011) di kota Semarang menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan juga tidak berpengaruh secara signifikan pada peningkatan moral pajak karena hanya sanksi perpajakan yang berpengaruh.
2.4. Kebanggaan Nasional (National Pride)
Kebanggaan nasional menurut Tom dan Jarkko (1998, p. 1) adalah “the positive affect that the public feels towards their country as a result of their national identity”. Kebanggaan nasional merupakan perasaan positif yang dirasakan oleh warga negara terhadap negaranya sebagai akibat dari identitas nasionalnya. Setiap warga negara dapat memiliki rasa bangga terhadap negaranya.
Rasa bangga tersebut menciptakan sebuah identifikasi kelompok, misalnya pada beberapa pertandingan internasional seperti FIFA World Cup, Sea Games, dan sebagainya.
Kebanggaan nasional diukur melalui dua indikator, yaitu rasa bangga terhadap pencapaian nasional dan General National Pride (Smith dan Jarkko, 1998). Rasa bangga diukur terhadap sepuluh domain, yaitu:
a. Cara kerja demokrasi,
b. Pengaruh politis di dunia global, c. Prestasi di bidang ekonomi, d. Sistem keamanan sosial,
e. Prestasi di bidang sains dan teknologi, f. Prestasi di bidang olahraga,
g. Prestasi di bidang seni dan literatur, h. Angkatan bersenjata,
i. Sejarah nasional, j. Keadilan sosial.
General National Pride (GNP) diukur melalui pertanyaan mengenai patriotisme, keunggulan nasional, dan kesetiaan terhadap bangsa. Pengukuran terhadap GNP meliputi:
a. Preferensi untuk menjadi Warga Negara Indonesia dibanding menjadi warga negara lain,
b. Adanya sesuatu yang memalukan mengenai Indonesia,
c. Dunia akan menjadi lebih baik apabila warga negara lain bertindak seperti Warga Negara Indonesia,
d. Secara umum, Indonesia adalah negara yang lebih baik dibandingkan negara- negara lain di dunia,
e. Masyarakat tetap mendukung Indonesia meskipun Indonesia adalah negara yang bermasalah.
Tyler dalam Tekeli (2011, p.22) berargumen bahwa “pride influences people’s behaviour in groups, organizations and societies. It gives a basis for encouraging cooperative behavior”. Kebanggaan nasional mempengaruhi perilaku kelompok sosial, organisasi, dan masyarakat. Rasa bangga tersebut mendorong timbulnya perilaku kooperatif. Selain itu, dalam menganalisa pengaruh tidak langsung kebanggaan nasional terhadap kepatuhan pajak melalui moral pajak, kita dapat mengasumsikan bahwa warga negara yang bangga terhadap negaranya akan lebih loyal dan lebih mudah diidentifikasi dalam kelompok sosial.
Penelitian Torgler di negara-negara Asia (2004) menghasilkan kesimpulan bahwa kebanggaan nasional berpengaruh positif terhadap moral pajak. Tekeli (2011) melalui penelitiannya di Turki dan Jepang menyimpulkan bahwa kebanggaan nasional berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
Sebaliknya, penelitian Cahyonowati (2011) di Semarang menunjukkan bahwa kebanggaan nasional tidak menentukan moral pajak seseorang.
2.5. Persepsi atas Penggelapan Pajak (Perceived Tax Evasion)
Persepsi atas penggelapan pajak berarti suatu keadaan dimana timbul pemikiran oleh Wajib Pajak bahwa penggelapan pajak merupakan hal yang umum untuk dilakukan (Torgler dan Schneider, 2005). Penggelapan pajak (tax evasion) sendiri didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
1. Mardiasmo (2009, p.) mendefinisikan penggelapan pajak sebagai “usaha yang dilakukan oleh Wajib Pajak untuk meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-undang.”
2. Zain (2008, p.44) mendefinisikan penggelapan pajak sebagai manipulasi secara ilegal atas penghasilannya untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.”
3. Balter dalam Zain (2008, p. 49) mendefinisikan penggelapan pajak sebagai
“usaha yang dilakukan oleh Wajib Pajak-apakah berhasil atau tidak-untuk mengurangi atau sama sekali menghapus utang pajak yang berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai pelanggaran terhadap perundang-undangan perpajakan.”
Lumbantoruan dalam Aditama (2013, p.8) menyatakan bahwa penggelapan pajak dilakukan secara sengaja dengan cara memanipulasi beban pajak dengan tidak melaporkan sebagian dari penghasilan, sehingga dapat memperkecil jumlah pajak terutang yang sebenarnya. Menurut Wallschutzki beberapa alasan yang menjadi pertimbangan Wajib Pajak untuk melakukan penggelapan pajak (Nurmantu, 2004:26) antara lain:
a. Ada peluang untuk melakukan penggelapan pajak karena ketentuan perpajakan yang ada belum mengatur secara jelas mengenai ketentuan- ketentuan tertentu,
b. Kemungkinan perbuatannya diketahui relatif kecil, c. Manfaat yang diperoleh relatif besar daripada resikonya, d. Sanksi perpajakan yang tidak terlalu berat,
e. Ketentuan perpajakan tidak berlaku sama terhadap seluruh Wajib Pajak, f. Pelaksanaan penegakan hukum yang bervariasi.
Oldman dalam Zain (2008, p. 51) menegaskan bahwa penggelapan pajak tidak hanya terbatas pada kecurangan, namun juga meliputi kelalaian memenuhi kewajiban perpajakan yang disebabkan oleh:
a. ketidaktahuan (ignorance), yaitu Wajib Pajak tidak sadar atau tidak tahu akan adanya ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersebut.
b. kesalahan (error), yaitu Wajib Pajak paham dan mengerti mengenai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, tetapi salah hitung datanya.
c. kesalahpahaman (misunderstanding), yaitu Wajib Pajak salah menafsirkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
d. kealpaan (negligence), yaitu Wajib Pajak alpa untuk menyimpan buku beserta bukti-buktinya secara lengkap.
Lebih lanjut, indikator penggelapan pajak (Zain, 2008, p.51) antara lain:
1. tidak dapat memenuhi kewajiban membayar pajak tepat pada waktunya.
2. tidak dapat memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) tepat pada waktunya.
3. tidak dapat memenuhi kewajiban pengisian SPT dengan benar dan lengkap.
4. tidak dapat memenuhi kewajiban memelihara pembukuan dan pencatatan, termasuk tidak dapat memperlihatkan atau meminjamkan pembukuan, pencatatan, dan dokumen lainnya.
5. tidak dapat memenuhi kewajiban menyetorkan pajak-pajak yang telah dipotong atau yang telah dipungut.
6. tidak mendaftarkan diri, menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
7. melakukan penyuapan terhadap aparat perpajakan dan atau tindakan intimidasi lainnya.
Persepsi atas penggelapan pajak berkaitan dengan tipe Wajib Pajak Sosial (Social Taxpayer). Seorang individu akan mematuhi setiap norma sosial sepanjang mereka percaya bahwa individu lainnya juga patuh. Begitu pula sebaliknya, ketidakpatuhan seorang individu akan mempengaruhi ketidakpatuhan individu lainnya. Wajib Pajak yang semula telah taat akan mempunyai pemikiran oportunistik, yaitu untuk ikut melakukan penggelapan pajak akibat Wajib Pajak lainnya terlebih dahulu telah melakukan penggelapan pajak dan tidak terdeteksi oleh fiskus (Torgler, 2003, p.189)
Torgler dan Schneider (2005) menekankan bahwa moral pajak seseorang sangat dipengaruhi oleh perilaku Wajib Pajak lainnya. Apabila timbul pemikiran oleh Wajib Pajak bahwa penggelapan pajak merupakan hal yang umum, maka
moral pajak akan semakin rendah. Penelitian tersebut yang dilakukan di Austria menyimpulkan bahwa persepsi atas penggelapan pajak berpengaruh negatif terhadap moral pajak.
2.6. Religiusitas (Religiosity)
Religiusitas merupakan variabel yang menarik untuk diteliti mengingat adanya keragaman agama di Indonesia. Para peneliti mendefinisikan religiusitas sebagai “both beliefs and practices relating to an organized religious affiliation or a specified divine power”, yaitu kepercayaan dan praktek yang berhubungan dengan lembaga keagamaan atau kekuatan ilahi tertentu (Pargament, Shafranske
& Malony, dalam Hernandez, 2011, p. 2). Sedangkan Suhardiyanto dalam Fauzan (2013,p.56) mendefinisikan religiusitas sebagai hubungan pribadi dengan pribadi ilahi Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang (Tuhan) yang berkonsekuensi hasrat untuk berkenan kepada pribadi yang ilahi itu dengan melaksanakan kehendak-Nya dan menjauhi yang tidak dikehendakinya (larangan- Nya). Adam Smith dalam karyanya Theory of Moral Sentiments telah menganalisa dan menyimpulkan bahwa religiusitas bertindak sebagai mekanisme penggerak moral dalam diri manusia. Torgler (2003, p.4) juga menyatakan bahwa organisasi keagamaan menyediakan norma moral sosial yang berfungsi sebagai
“polisi supernatural” sehingga pengikutnya wajib untuk mematuhi petunjuk- petunjuk agama.
Lebih jauh, Torgler (2003, p.7) mengemukakan bahwa religiusitas dapat diukur melalui beberapa indikator yang dapat diobservasi seperti kehadiran ke tempat ibadah (attendance), keaktifan dalam kegiatan keagamaan (active), atau pendidikan agama di dalam keluarga (religious education). Selain itu, juga terdapat indikator-indikator yang tidak dapat diobservasi, seperti menjadi religius (religious), petunjuk agama (religion guidance), kepercayaan terhadap lembaga agama (trust in church), dan pentingnya agama dalam kehidupan seseorang (importance of religion).
Frekuensi kehadiran ke tempat ibadah dan keikutsertaan dalam kegiatan keagamaan mengindikasikan bahwa seseorang rela untuk mencurahkan waktunya terhadap agama. Iannaccone dalam Torgler (2003, p.8) mengemukakan bahwa
kehadiran (ke tempat ibadah) memakan waktu, waktu yang menimbulkan opportunity cost untuk melakukan aktivitas lainnya. Demikian juga, menjadi anggota aktif dalam tempat ibadah turut memakan waktu serta menimbulkan interaksi dengan sesama anggota kegiatan keagamaan. Akibatnya, ketidakpatuhan akan mempengaruhi reputasi dan menimbulkan rasa malu (Grasmick et al, dalam Torgler, 2003, p.8).
Indikator-indikator lainnya seperti menjadi religius (religious), pentingnya agama (importance of religion), pendidikan agama (religious education), petunjuk agama (religious guidance), dan kepercayaan terhadap lembaga agama (trust in church) tidak mengukur waktu yang diluangkan seseorang untuk menghadiri acara keagamaan. Religius (religious) dan pentingnya agama (importance of religion) mengukur keyakinan terhadap agama dalam diri seseorang serta seberapa besar ia menonjolkan agama dalam hidupnya.
Pendidikan agama (religious education) mengukur besarnya pendidikan agama yang diperoleh seseorang pada masa kanak-kanaknya. Petunjuk agama (religious guidance) mengukur besarnya kewajiban seseorang untuk melakukan hal yang dianggap baik dan menjauhi hal yang dianggap buruk oleh agamanya.
Kepercayaan terhadap lembaga agama (trust in church) mengukur kepercayaan seseorang terhadap lembaga agamanya. Semakin tinggi kepercayaan, maka seseorang akan semakin bersedia untuk mematuhi norma-norma tertentu (Torgler, 2003).
Penelitian-penelitian di bidang kriminologi telah menunjukkan bukti bahwa terdapat korelasi negatif antara keanggotaan agama dan tindak kejahatan (Torgler dan Scheneider, 2007; Alm dan Torgler, 2006). Di bidang perpajakan, penelitian oleh Torgler (2003) yang secara khusus mencoba untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap moral pajak menghasilkan bukti bahwa religiusitas meningkatkan moral pajak.
2.7. Kajian Penelitian Terdahulu
Sebagai acuan dan bahan pembanding dalam penelitian ini, maka akan dicantumkan beberapa penelitian oleh peneliti-peneliti sebelumnya, antara lain:
1. Penelitian oleh Torgler dan Schneider (2005)
Penelitian Benno Torgler dan Friedrich Schneider (2005) yang berjudul
“Attitudes Towards Paying Taxes in Austria: An Empirical Analysis”
menganalisa tingkat moral pajak di Austria. Penelitian ini menggunakan pendekatan keperilakuan dengan menggunakan variabel independen berupa kepercayaan kepada sistem hukum (trust in the legal/justice system), kebanggaan nasional (national pride), persepsi atas penggelapan pajak (perceived tax evasion), dan kehadiran ke tempat ibadah (church attendance) untuk memprediksi moral pajak (tax morale). Penelitian ini menggunakan variabel kontrol berupa umur (age), jenis kelamin (gender), tingkat pendidikan (education), status pernikahan (marital), kelas ekonomi (ecosit), status pekerjaan (employ), aversi resiko (risk aversion), dan tahun (year).
Hipotesis dalam penelitian ini antara lain:
a. Kepercayaan warga negara terhadap sistem hukum berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
b. Kebanggaan nasional berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
c. Persepsi atas penggelapan pajak berpengaruh negatif terhadap moral pajak.
d. Kehadiran di tempat ibadah berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil empiris menunjukkan bahwa semua hipotesis diterima, khususnya kebanggaan nasional dan persepsi atas penggelapan pajak.
2. Penelitian oleh Tekeli (2011)
Penelitian oleh Recep Tekeli (2011) yang berjudul “The Determinants of Tax Morale: the Effects of Cultural Differences and Politics” dilakukan di dua negara anggota OECD, yaitu Turki dan Jepang. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui apakah kepercayaan kepada pemerintah dan sistem hukum (trust), kebanggaan nasional (pride), sikap politis (political attitudes), dan kebahagiaan (happiness) berpengaruh terhadap moral pajak. Penelitian ini juga menggunakan variabel kontrol berupa umur (age), jenis kelamin (gender),
status pernikahan (marital status), tingkat pendidikan (education), kelas ekonomi (ecosit), status pekerjaan (employ), dan religiusitas (religiosity).
Hipotesis dalam penelitian tersebut antara lain:
a. H1-1 : Kepercayaan warga negara terhadap pemerintah dan sistem hukum berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
b. H1-2 : Kebanggaan nasional berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
c. H1-3 : Sikap politis berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
d. H1-4 : Kebahagiaan berpengaruh secara signifikan terhadap moral pajak.
Desain penelitian menggunakan metode survei melalui penyebaran kuesioner yang berasal langsung dari objek penelitian. Kuesioner menggunakan daftar pertanyaan yang pernah digunakan oleh World Values Survey (WVS).
Hasil penelitian di Turki menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap pemerintah dan kebanggaan nasional berpengaruh terhadap moral pajak.
Sedangkan hasil penelitian di Jepang menunjukkan bahwa hanya kebanggaan nasional yang berpengaruh terhadap moral pajak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tingkat moral pajak warga negara Jepang lebih tinggi dibandingkan dengan warga negara Turki.
3. Penelitian oleh Cahyonowati (2011)
Penelitian oleh Nur Cahyonowati dari Universitas Diponegoro berjudul “Model Moral dan Kepatuhan Perpajakan: Wajib Pajak Orang Pribadi”. Penelitian di Semarang tersebut bertujuan untuk menguji tingkat kepatuhan pajak Wajib Pajak orang pribadi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini didorong oleh kondisi penerimaan pajak, tax ratio, dan tax coverage ratio yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.
Variabel moral pajak diprediksi dengan variabel kemasyarakatan dan variabel ekonomi. Kemudian, moral pajak diprediksi akan mempengaruhi tingkat kepatuhan pajak.
Variabel eksogen dalam penelitian ini terdiri dari variabel sosial kemasyarakatan, variabel demografi, dan deterrence factors. Variabel sosial kemasyarakatan terdiri dari kepercayaan terhadap sistem hukum, kepercayaan terhadap sistem perpajakan, kebanggaan nasional, penghindaran pajak persepsian, religiusitas, partisipasi politik, dan desentralisasi. Variabel demografi dalam penelitian ini meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan persepsi terhadap kondisi ekonomi.
Sedangkan deterrence factor terdiri dari denda pajak dan pemeriksaan pajak.
Variabel endogen dalam penelitian tersebut berupa moral pajak dan kepatuhan pajak.
Hipotesis dalam penelitian tersebut meliputi:
a. H1 : Semakin tinggi tingkat kepercayaan individu terhadap sistem hukum dan perpajakan, semakin tinggi motivasi instrinsiknya untuk membayar pajak (semakin tinggi moral pajaknya).
b. H1 : Semakin tinggi kebanggaan akan identitas nasional, semakin tinggi motivasi intrinsik individu untuk membayar pajak.
c. H1 : Semakin tinggi persepsi bahwa penggelapan pajak merupakan hal yang umum dilakukan, semakin rendah motivasi intrinsik individu untuk membayar pajak (semakin rendah moral pajaknya).
d. H1 : Semakin tinggi tingkat kepatuhan terhadap syariat agama, semakin tinggi motivasi intrinsik untuk membayar pajak.
e. H1 : Semakin luas partisipasi Wajib Pajak dalam berpolitik, semakin tinggi motivasi intrinsik untuk rnembayar pajak.
f. H1 : Semakin luas otonomi daerah yang dipersepsikan individu, semakin tinggi motivasi intrinsik individu untuk membayar pajak.
g. H1 : Terdapat hubungan positif antara umur Wajib Pajak dengan kepatuhan pajak
h. H1 : Terdapat hubungan positif antara jenis kelamin yaitu tingkat moral pajak WP wanita akan lebih tinggi daripada pria.
i. H1 : Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat kepatuhan pajak
j. H1 : Terdapat hubungan antara kondisi ekonomi dengan tingkat kepatuhan pajak
k. H1 : Pemeriksaan pajak berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan pajak
l. H1 : Denda pajak yang tinggi akan menurunkan motivasi intrinsik individu untuk membayar pajak
Penelitian tersebut menggunakan metode survei dan teknik analisis data dengan Partial Least Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya deterrence factor berupa denda pajak yang mempengaruhi moral pajak.
Sedangkan variabel sosial kemasyarakatan dan variabel demografi tidak mempengaruhi moral pajak. Motivasi instrinsik berupa moral pajak merupakan determinan positif bagi perilaku kepatuhan pajak.
Berikut ini disajikan ringkasan penelitian-penelitian di atas:
Tabel 2.1. Ringkasan Kajian Penelitian Terdahulu
Peneliti Variabel yang Digunakan Alat
Analisis Hasil Penelitian Torgler dan
Schneider (2005)
Variabel independen berupa kepercayaan terhadap sistem hukum (trust in the legal/justice system), kebanggaan nasional (national pride), persepsi atas penggelapan pajak (perceived tax evasion), dan kehadiran ke tempat ibadah (church attendance). Variabel dependen adalah moral pajak (tax morale)
Regresi Linier Berganda
Seluruh variabel independen
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, terutama kebanggaan nasional dan persepsi atas penggelapan pajak.
Recep Tekeli (2011)
Variabel independen menggunakan kepercayaan kepada pemerintah dan sistem
Ordered Probit Model
1) Kepercayaan terhadap
pemerintah dan
hukum (trust), kebanggaan nasional (pride), sikap politis (political attitudes), dan kebahagiaan (happiness).
Variabel dependen
menggunakan moral pajak (tax morale)
kebanggaan nasional berpengaruh
terhadap moral pajak di Turki 2) kebanggaan
nasional berpengaruh
terhadap moral pajak di Jepang 3) Moral pajak warga
negara Jepang lebih tinggi daripada warga negara Turki Nur
Cahyonowati (2011)
Variabel independen berupa kepercayaan terhadap sistem hukum, kepercayaan terhadap sistem perpajakan, kebanggaan nasional, penghindaran pajak persepsian, religiusitas, partisipasi politik, desentralisasi, umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, persepsi terhadap kondisi ekonomi, denda pajak, dan pemeriksaan pajak. Variabel dependen berupa kepatuhan pajak.
Variabel intervening berupa moral pajak
Partial Least Square
1) Hanya denda pajak yang berpengaruh terhadap moral pajak
2) Variabel sosial kemasyarakatan dan variabel demografi tidak mempengaruhi moral pajak.
3) Motivasi instrinsik berupa moral pajak merupakan
determinan positif bagi perilaku kepatuhan pajak.
2.8. Hipotesis
Dari landasan teori dan beberapa kajian penelitian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini antara lain:
1. Pengaruh kepercayaan kepada pemerintah terhadap moral pajak
Variabel kepercayaan kepada pemerintah mengukur hubungan antara negara dengan warga negaranya. Menurut Torgler (2004), warga negara yang mempersepsikan bahwa negara tidak dapat dipercaya akan memiliki insentif lebih besar untuk melanggar hukum. Argumen ini didukung dengan hasil penelitian Scholz dan Lubell (1998) di Amerika Serikat bahwa kepercayaan kepada pemerintah berpengaruh signifikan terhadap moral pajak. Selain itu, variabel ini sangat terkait dengan tipe Wajib Pajak Instrinsik. WP ini sangat sensitif terhadap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Oleh karena itu, hipotesis terkait variabel kepercayaan kepada pemerintah terhadap moral pajak yaitu:
H0-1: Kepercayaan kepada pemerintah tidak berpengaruh terhadap moral pajak.
H1-1: Kepercayaan kepada pemerintah berpengaruh terhadap moral pajak.
2. Pengaruh kebanggaan nasional terhadap moral pajak
Tyler dalam Tekeli (2011) berpendapat bahwa kebanggaan nasional mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok, organisasi, dan masyarakat. Rasa bangga tersebut menjadi dasar bagi seseorang untuk berperilaku kooperatif, termasuk kooperatif dengan peraturan perpajakan.
Hal in didukung oleh penelitian Torgler dan Schneider (2005) di Austria yang menemukan bahwa kebanggaan nasional berpengaruh signifikan terhadap moral pajak. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
H0-2: Kebanggaan nasional tidak berpengaruh terhadap moral pajak.
H1-2: Kebanggaan nasional berpengaruh terhadap moral pajak.
3. Pengaruh persepsi atas penggelapan pajak terhadap moral pajak
Teori kognitif sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura (1962) menjelaskan bahwa proses belajar terjadi ketika seseorang mengamati seorang model yang menampilkan suatu perilaku dan mendapatkan imbalan
atau hukuman akibat perilaku tersebut. Alm, McClelland, dan Schulze (1992, p. 22) berargumen bahwa “A purely economic analysis of the evasion gamble implies that most individuals would evade if they are ‘rational’, because it is unlikely that cheaters will be caught and penalized”. Oleh karena itu, apabila seseorang, khususnya tipe Wajib Pajak Sosial menganggap bahwa penggelapan pajak merupakan hal yang umum dan resiko terkena sanksi perpajakan kecil, maka akan muncul tendensi dalam dirinya untuk turut melakukan penggelapan pajak. Hal ini telah dibuktikan oleh Torgler dan Schneider (2005). Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H0-3: Persepsi atas penggelapan pajak tidak berpengaruh terhadap moral pajak.
H1-3: Persepsi atas penggelapan pajak berpengaruh terhadap moral pajak.
4. Pengaruh religiusitas terhadap moral pajak
Religiusitas dapat membatasi niatan individu untuk melanggar peraturan, termasuk menggelapkan pajak (Cahyonowati, 2011). Organisasi keagamaan menyediakan norma moral sosial yang berfungsi sebagai “polisi supernatural” sehingga pengikutnya wajib untuk mematuhi petunjuk- petunjuk agama. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian di Austria yang membuktikan bahwa Wajib Pajak yang lebih sering pergi ke gereja menunjukkan tingkat moral pajak yang lebih tinggi (Torgler, 2005). Oleh karena itu, hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
H0-4: Religiusitas tidak berpengaruh terhadap moral pajak.
H1-4: Religiusitas berpengaruh terhadap moral pajak.
5. Pengaruh moral pajak terhadap kepatuhan pajak
Sebagaimana dijelaskan dalam landasan teori, moral pajak adalah motivasi intrinsik untuk membayar pajak. Dengan kata lain, moral pajak mencerminkan sikap dan niat seorang individu untuk tidak melakukan penggelapan pajak meskipun ada kesempatan untuk melakukannya. Pada umumnya, manusia bertindak sesuai dengan niat atau tendensinya (Basri et al, 2013). Oleh karena itu, moral pajak sebagai niat berperilaku merupakan variabel perantara dalam membentuk perilaku kepatuhan pajak. Apabila
terdapat niat dalam diri WPOP untuk membayar pajak (moral pajak), maka akan timbul kepatuhan pajak. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
H0-5: Moral pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan pajak WPOP.
H1-5: Moral pajak berpengaruh terhadap kepatuhan pajak WPOP.