• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 10 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 10 Universitas Kristen Petra"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

10 2.1 Perencanaan Keuangan

2.1.1 Definisi Perencaan Keuangan

Perencanaan keuangan adalah suatu proses dalam menentukan tujuan keuangan dalam hidup dan mengembangkan sebuah sistem perencanaan yang sistematis untuk mencapai tujuan tersebut. Seperti yang dikatakan Benedict (2003) ”... to set goals that they wish to achieve in their lifetime and develop systematic plan to achieve these goals.”

Sedangkan menurut IARFC (2003) , Perencana keuangan (Financial Planner) merupakan sebuah profesi yang membantu nasabah untuk merencanakan keuangan pribadi, dengan membantu memberikan solusi perencanaan, pemilihan pengelolaan keuangan, kekayaan atau investasi nasabah, agar kebutuhan keuangan nasabah untuk jangka pendek, jangka menengah dan panjang dapat tercapai serta membantu individu-individu untuk mencapai kebebasan keuangan dan keamanan ekonomi bagi keluarga dan pribadi. Perencana Keuangan bertugas merancang suatu strategi investasi yang sesuai dengan karakter nasabah dengan tujuan untuk mencapai “Dreams” atau tujuan keuangan atau investasi nasabah.

Menurut Jeff Madura (2007, p.2), “Personal finance (also referred to as personal financial planning) is the process of planning your spending, financing, and investing to optimize your financial situation”.

2.1.2 Perlunya Memakai Jasa Perencana Keuangan (IARFC, 2003, p.2)

Ada beberapa alasan yang paling mendasar tentang dibutuhkannya seorang perencana keuangan, antara lain:

1. Keterbatasan waktu klien. Sering kali klien dihadapkan antara kesibukan dan keinginan untuk mengelola aset yang dimiliki. Dengan keterbatasan waktu yang ada sulit bagi klien untuk menemukan produk investasi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Akibatnya aset yang dimiliki belum dimanfaatkan dengan baik.

(2)

2. Kondisi pasar uang, pasar modal, serta trend investasi yang cepat berubah.

Karena hal inilah mengapa seorang perencana keuangan sangat dibutuhkan oleh klien. Perencana keuangan dapat memberikan informasi kepada klien tentang keaadaan atau trend investasi yang sedang naik daun di dunia perbisnisan di Indonesia. Dari informasi tersebut maka klien dapat memilih di mana mereka dan produk apa yang akan mereka pilih untuk menginvestasikan uang mereka agar dapat berkembang lebih baik.

3. Semakin banyaknya produk-produk keuangan dan investasi serta variasi- variasinya, sehingga diperlukan analisa untuk menentukan pilihan yang sesuai.

Perencana keuangan dapat membantu klien dalam mendapatkan informasi mengenai produk-produk investasi yang menguntungkan, resiko-resiko apa saja yang mungkin dihadapi dari pemilihan produk-produk investasi tersebut.

Dengan demikian, klien dapat mengurangi presentase kegagalan produk investasi yang bersangkutan. Pemilihan suatu produk investasi sebaiknya disesuaikan dengan karakter profil resiko klien.

4. Meningkatnya taraf pendidikan membuat kesadaran masyarakat untuk mengatur dan mengelola pendapat dan kekayaan, agar kekayaan meningkat, agar masa depan lebih terjamin. Oleh karena itu, jasa seorang perencana keuangan sangat dibutuhkan baik untuk perorangan, keluarga ataupun perusahaan (kecil atau menengah).

5. Dibutuhkan kemampuan dari seorang perencana keuangan atau financial planner untuk :

a. Membimbing nasabah dalam menentukan pengelolaan investasi.

b. Menetapkan tujuan investasi nasabah.

c. Menerapkan, mencatat, dan memonitor rencana investasi nasabah.

d. Meninjau rencana nasabah, agar kepastian seluruh rencana investasi sesuai dengan arahan.

6. Jumlah perusahaan Jasa Keuangan dan Pasar Modal sebagai pilihan investasi di Inonesia saat ini kurang lebih ada 592 institusi keuangan yang masing- masing sekitar 5-10 produk yang dikeluarkan ditambah produk turunannya, dimana berarti ada 500 produk lebih. Oleh karena itu, jasa seorang perencana keuangan amatlah penting untuk membantu nasabah dalam

(3)

merekomendasikan produk-produk keuangan yang sesuai dengan karakter nasabah.

7. Untuk memberikan One Stop Service Solution.

Gambar 2.1 One Stop Service Solution (Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow, 2003, p.6).

2.2 Neraca (Balance Sheet)

Menurut Arthur J. Keown (2004, p.30), neraca atau Balance Sheet adalah suatu keadaan yang menunjukkan posisi keuangan seseorang yaitu kekayaan yang dimilikinya serta kewajiban yang masih harus dibayarnya. Selain itu dengan mengetahui posisi neraca ini, dapat diketahui berapa besar Nilai Kekayaan Bersih atau Net Worth dari klien tersebut

2.2.1. Aset (Kekayaan)

Asset pada Balance Sheet dapat diklasifikasikan sebagai liquid asset, household asset, dan investasi.

Liqiud asset adalah financial asset yang bisa secara mudah dijual tanpa ada kerugian dalam nilai.

Household asset adalah barang yang biasanya dimiliki oleh suatu rumah tangga seperti rumah, mobil, dan perabotan.

Perencanaan Pendidikan

Warisan

Perencanaan Pensiun

Manajemen Dana

Financial Planning

Investasi

Manajemen Resiko / Asuransi

Pajak Perencanaan

Lainnya

(4)

• Investasi. Umumnya berupa obligasi, saham, dan rental property (Madura, 2007, p.35-36).

Menurut Bodie,Kane, & Marcus (2001, p.3) mengatakan bahwa :

“Real asset are assets used to produce goods and services”

“Financial assets are claims on real assets or the income generated by them”

2.2.2 Kewajiban (Hutang)

Menurut Jeff Madura (2007, p.36), kewajiban atau hutang dapat dibagi berdasarkan jangka waktu, yaitu:

Kewajiban jangka pendek (Current Liabilities)

Merupakan kewajiban yang memiliki jangka waktu pelunasan kurang dari satu tahun. Contoh: hutang kartu kredit, dan lain-lain.

Kewajiban jangka panjang (Long Term Liabilities)

Merupakan kewajiban yang memiliki jangka waktu pelunasan lebih dari satu tahun. Contoh: kewajiban pinjaman rumah, mobil, dan lain-lain yang lebih dari satu tahun.

2.3 Alur Dana

Alur Dana atau Cash Flow adalah pemasukan dan pengeluaran kas yang aktual pada waktu periode yang ditentukan. (Kapoor, 2004, p.76). Secara ideal, pada setiap akhir bulan harus terdapat dana yang tersisa, yang dapat diinvestasikan. Dana ini dikenal dengan sebutan Disposable Income atau pendapatan yang tersisa. Secara sederhana Alur Dana dapat diartikan sebagai pembayaran ataupun penerimaan secara tunai.

2.3.1. Karakteristik Alur Dana

Menurut IARFC (2003, p.2), dalam menganalisis alur dana, ada 3 karakteristik yang perlu diperhatikan, yaitu :

a. Besar atau kecil nilai dana, akan mempengaruhi perhitungan penerimaan atau pengeluaran di akhir periode analisis.

(5)

b. Arah Alur Dana, menunjukkan positif bila terjadi penambahan dana atau negatif bila terjadi pengurangan dana di akhir periode analisis.

c. Waktu, akan menentukan dalam pengaturan dana yang tepat dan benar.

Secara sederhana alur dana dapat diartikan sebagai pembayaran atau penerimaan secara tunai.

Keadaan yang ideal dalam alur dana haruslah menunjukkan keadaan sebagai berikut:

(2.1)

Namun apabila pengeluaran lebih besar dari penerimaan atau cash flownya negatif, maka perlu dilakukan penyesuaian/adjustment (IARFC, 2003, p.7)

Adjustment dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

a. Mengurangi atau menekan pengeluaran.

b. Meningkatkan penghasilan atau income, apabila tidak ingin mengurangi standard hidup dengan cara kerja tambahan atau memulai bisnis sampingan..

2.3.2. Komponen Dalam Analisa Alur Dana

Menurut IARFC (2003, p.4) terdapat 4 (empat) hal penting yang harus diperhatikan dalam melakukan analisa alur dana, yaitu :

a. Penerimaan: Berbagai sumber penerimaan dapat berupa: gaji, bonus, keuntungan usaha sendiri, pensiun, dan penghasilan lainnya,

b. Pengeluaran : Berupa seluruh pengeluaran bulanan yang terdiri dari: biaya sewa rumah, biaya makan, biaya listrik, telepon dan internet, biaya air, biaya transportasi dan bensin, gaji pembantu dan sopir, pengeluaran pribadi, hiburan, berbagai macam cicilan dan premi asuransi, dan pengeluaran lainnya c. Tabungan dan Investasi: meliputi semua jenis tabungan dan investasi yang

telah dilakukan selama ini.

b. Hutang: meliputi hutang konsumtif seperti hutang kartu kredit dan lainnya Pendapatan – Pengeluaran = Harus Positif

(6)

Gambar 2.2. Alur Dana Sebelum Menggunakan Financial Planning (Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow, 2003, p.4)

Menurut Aidil Akbar (2003, p.29), pola di atas tidak salah. Akan tetapi, sangat jarang dilakukan oleh banyak orang, karena:

1) Anda tidak ’membayar diri sendiri’ terlebih dahulu, alias menabung. Hal ini sering diungkapkan dengan istilah ’pay your self first’.

2) Sifat manusia dimana peningkatan penghasilan akan diikuti oleh peningkatan pengeluaran, sehingga tetap saja tidak terdapat kelebihan dana setiap bulannya.

Apabila tidak terdapat kelebihan dana setiap bulan, otomatis tidak ada dana yang tersedia untuk ditabung atau diinvestasikan.

Gambar 2.3. Alur Dana Setelah Menggunakan Financial Planning (Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow, 2003, p.9)

PENERIMAAN

KELEBIHAN

PENGELUARAN INVESTASI

PENERIMAAN

KELEBIHAN

PENGELUARAN

INVESTASI

(7)

Dengan pola alur dana seperti pada gambar 2.3, Aidil menyatakan bahwa Anda akan ’dipaksa’ melakukan investasi, berapapun nilainya. Langkah selanjutnya adalah mengkaji ulang pengeluaran-pengeluaran, yaitu pengeluaran yang bersifat investasi (yang memberi manfaat di masa depan) dan pengeluaran yang bersifat konsumsi semata.

2.4 Dana Darurat

Menurut IARFC (2003, p.2), dana darurat adalah suatu dana yang telah dialokasikan secara terpisah, untuk memenuhi kebutuhan yang pada sifatnya darurat. Sebelum membuat perencanaan keuangan, kebutuhan dana darurat harus disiapkan terlebih dahulu dan dialokasikan secara terpisah agar nantinya tidak mengganggu kegiatan investasi. Dana darurat dapat berupa tabungan atau aset lancar lainnya yang langsung dapat digunakan sewaktu-waktu. Dana darurat harus disediakan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berinvestasi. Ligwina Hananto (2007, p.10) menyebutkan dana darurat sebagai “dana yang teralokasi dan tak terganggu-gugat. Anda hanya mencairkan dana ini pada saat yang sungguh-sungguh darurat”.

2.4.1. Jumlah Kebutuhan Dana Darurat

Seseorang atau suatu keluarga tidak diperbolehkan berinvestasi untuk tujuan investasi lainnya yang bersifat jangka panjang sebelum orang atau keluarga tersebut memiliki sedikitnya 1-3 bulan tabungan dana darurat.

Menurut IARFC Dana Darurat/ Emergency Fund (2003, p.4) penggolongan dana darurat berdasarkan situasi perorangan / keluarga saat itu, dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

a. Kebutuhan dana darurat bagi perorangan yang belum menikah atau tidak mempunyai tanggungan, sedikitnya sebesar 3 bulan kebutuhan hidup sehari- hari.

b. Kebutuhan dana darurat untuk keluarga kecil dengan 2 orang anak, sedikitnya sebesar 6 bulan kebutuhan hidup sehari-hari.

(8)

c. Kebutuhan dana darurat untuk keluarga besar dengan 3 orang anak atau lebih, adalah sebesar 9-12 bulan kebutuhan hidup sehari-hari.

2.4.2. Kriteria Dalam Investasi Dana Darurat

Menurut IARFC (2003) kriteria investasi dana darurat dapat dibagi menjadi empat, yaitu Kriteria investasi dana darurat dapat dibagi menjadi 4 (empat), yaitu :

1. Kemudahan akses dana tersebut.

Dana mudah diambil kapan saja dan dimana saja, misalnya Bank dengan jaringan ATM yang sangat luas cocok untuk dipergunakan sebagai tempat dana darurat.

2. Kecepatan pengambilan dana tersebut.

Kecepatan dalam pengambilan dana darurat berhubungan dengan likuiditas juga ikut menentukan keputusan dalam penempatan dana untuk dana darurat 3. Keamanan dana tersebut.

Sebaiknya mencari instrumen atau produk keuangan dengan tingkat keamanan yang paling tinggi. Apabila dimungkinkan, sebaiknya mencari produk yang dijamin pemerintah.

4. Hasil investasi yang kompetitif.

Hasil investasi yang kompetitif ini hanya sebagai tambahan saja dan tidak dapat dipakai sebagai acuan utama dalam menentukan produk atau tempat menempatkan dana darurat.

2.4.3. Instrumen Investasi Dana Darurat

Beberapa instrumen investasi dana darurat, antara lain:

a. Tabungan

Keunggulannya yaitu dapat mengakses dana dengan cepat, melalui Anjungan

Tunai Mandiri (ATM). Sedangkan kekurangannya yaitu bunga yang diterima sangat rendah sekali jika dibandingkan dengan instrumen yang lain.

b. Deposito

Keunggulannya, bunga yang diperoleh sedikit lebih tinggi dibandingkan tabungan. Kekurangannya yaitu bunga deposito dikenakan pajak penghasilan yang bersifat final.

(9)

c. Reksadana Pasar Uang

Keunggulannya, bunga yang diperoleh lebih tinggi daripada kedua instrumen diatas. Kekurangannya yaitu adalah lambat dalam mengakses dana, biasanya memerlukan waktu 2-3 hari.

Tabel 2.1. Syarat Dana Darurat

Jenis Investasi Keunggulan Kelemahan

Tabungan Akses yang cepat (ATM) Bunga rendah Deposito Bunga sedikit lebih tinggi Ada penalti

Reksa Dana Pasar Uang Bunga lebih tinggi Akses lambat (2-3 hari) (Sumber: Basic Module of IARFC, Emergency Fund)

2.5 Asuransi

Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Perasuransian menyebutkan bahwa asuransi adalah :

“Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan”.

Menurut Subagyo (1998, p.78), mengatakan bahwa :

“Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi”.

(10)

Menurut IARFC (2003, p.2), asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan nama pihak penanggung mengikat diri kepada Tertanggung, dengan menerima premi asuransi. Objek asuransi adalah benda, jasa, jiwa dan raga kesehatan manusia, tanggung jawab hukum, serta semua kepentingan lainnya yang dapat hilang, rusak, rugi atau berkurang nilainya.

Asuransi mempunyai dua fungsi utama, yaitu:

 Menanggulangi resiko yang dihadapi anggota masyarakat.

 Menghimpun dana masyarakat

2.5.1 Jenis Asuransi 2.5.1.1 Asuransi Kerugian

Usaha asuransi kerugian menurut Undang-Undang No. 2 Tahun 1992, yaitu usaha yang memberikan jasa-jasa dalam penanggulangan risiko atas kerugian, kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang timbul dari peristiwa yang tidak pasti. Dalam asuransi kerugian, penanggung menerima premi dari tertanggung dan apabila terjadi kerusakan atau kemusnahan atas harta benda yang dipertanggungkan maka ganti rugi kerugian akan dibayarkan kepada tertanggung, contoh: asuransi kendaraan bermotor, asuransi kebakaran rumah, dan sebagainya.

2.5.1.2 Asuransi Jiwa

IARFC (2003) mendefinisikan asuransi Jiwa adalah suatu kesepakatan / kontrak pengalihan resiko atas kehilangan jiwa dalam bentuk ekonomi, yang kemudian resiko tersebut diambil alih oleh sebuah perusahaan asuransi jiwa.

Menurut Koh dan Fong (2003), mengatakan bahwa :

Life insurance ia a contract between you (the policyholder) and the life insurance company (the insurer) whereby you agree to pay the insurer a sum of money (premiums) in return for insurance coverage. The insurer undertakes to pay you or your beneficiary a sum of money (policy benefits) in the event of your death, permanent and total disability, critical illness or any other specified events.

(11)

Menurut Winger dan Frasca (1986, p.545), mengatakan bahwa :

A life insurance policy is a contract between you and the insurance company. As with all contracts, you should read it carefully and understand it fully before you using. This may require some tenacity on your patr, since many companies provide sample policies only with great reluctance. Furthermore, to understand the agreement you must first master the special language of the life insurance industry. However the efforts are worth the trouble. Purchasing the wrong kind of insurance of policy can prove costly.

Beberapa jenis asuransi jiwa:

a. Asuransi Berjangka (Term Insurance)

Menurut Numan A. Williams (1984, p.160) dalam buku An Introduction to Personal Risk Management, Term Life adalah asuransi perlindungan yang murni dan didalamnya tidak ada unsur menabung. Uang pertanggungan akan dibayarkan, hanya bila tertanggung meninggal dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

b. Asuransi Keseluruhan (Whole Life Insurance)

Merupakan polis yang memiliki nilai tunai yang memberikan perlindungan seumur hidup (Redja, 2007, p.238). Asuransi dimana tanggungan kematian akan berjalan sepanjang kehidupan tertanggung, selama premi dibayarkan sesuai dengan ketentuan tercantum di dalam polis.

c. Asuransi Dwiguna (Endowment Insurance)

Asuransi yang membayarkan nilai pokok asuransi kepada yang diasuransikan jika yang diasuransikan meninggal dalam periode yang telah ditentukan.

Tetapi jika yang diasuransikan tetap bertahan hidup sampai akhir periode yang telah ditentukan, maka nilai pokok asuransi akan dibayarkan kepada si pemegang polis di akhir periode (Redja, 2007, p.238)

(12)

d. Polis Special (di Indonesia dikenal dengan nama Unit Link) Polis Special terdiri dari:

1. Universal Life Insurance

Seperti halnya Whole Life Insurance, tetapi Universal Life Insuranc. Dapat ditampilkan sebagai polis dengan Flexible-premium (flexible-premium policy) yang menyediakan perlindungan seumur hidup dengan sebuah kontrak yang memisahkan antara komponen perlindungan dengan investasi (savings) (Redja, 2007, p.238).

2. Variable Life Insurance

Sebuah polis dengan fixed-income (fixed-income policy) dimana manfaat meninggal dan nilai tunainya bervariasi tergantung dari investasi di rekening terpisah yang dikelola oleh perusahaan asuransi (Redja, 2007, p.

238).

2.5.1.3 Asuransi Kesehatan

Asuransi lain yang tidak kalah penting adalah asuransi kesehatan. Saat ini biaya pengobatan maupun konsultasi kesehatan sangat mahal. Di Indonesia, asuransi kesehatan seringkali dipakai sebagai rider atau tambahan manfaat pada asuransi jiwa.

Asuransi Kesehatan adalah polis yang memberikan perlindungan dari risiko kerugian keuangan yang disebabkan oleh sakit, cidera karena kecelakaan atau keadaan cacat/tidak mampu yang diderita tertanggung (Jones, 1999, p.10).

Menurut Jeff Madura (Madura, 2007, p.336), asuransi kesehatan meliputi biaya perawatan kesehatan pemegang polis. Asuransi ini dapat “Health insurance covers health care expenses incurred by policyholders. It limits your potential liabilities and ensure that you will receive necessary medical care” (Madura, 2007, p.336).

Menurut Harriet E. Jones (1999, p.10), ada 2 bentuk pertanggungan asuransi kesehatan yang utama adalah sebagai berikut:

1. Medical Expense Coverage

Memberika manfaat pembayaran perawatan sakit dan cidera yang dialami oleh tertanggung.

(13)

2. Disability Income Coverage

Memberikan manfaat penggantian penghasilan kepada tertanggung yang tidak dapat bekerja karena sakit atau cidera.

2.5.2 Konsep Perhitungan Asuransi

Menurut IARFC (2003, p.10-14), konsep perhitungan dalam menghitung besarnya asuransi yang dibutuhkan antara lain:

1. Human Life Value

Memperhitungkan nilai kehidupan dari seseorang dimana ada orang lain yang bergantung kehidupannya dari penghasilan yang didapatkan oleh orang tersebut, pada umumnya kepala rumah tangga, eksekutif perusahaan.

Nilai pertanggungan dihitung dengan cara mengalikan penghasilan tertanggung dengan lamanya waktu perlindungan yang diinginkan.

Konsep Human Life Value ( Nilai Kehidupan dari Seseorang ), ditemukan pertama kali di Amerika. Konsep ini yang kemudian dipergunakan secara luas oleh Financial Planner / Advisor, untuk menentukan seberapa besar kebutuhan perlindungan / coverage, atau nilai pertanggungan yang dibutuhkan oleh seseorang, sebelum membeli suatu polis asuransi.

Dengan konsep dasar Human Life Value inilah, penjualan polis asuransi dilakukan benar-benar berdasarkan kebutuhan dari si klien.

Nilai pertanggungan dihitung dengan cara mengalikan penghasilan tertanggung dengan lamanya waktu perlindungan yang diinginkan.

Perhitungan:

(2.2)

2. Income Based Value

Memperhitungkan nilai kebutuhan bulanan dari seseorang yang bergantung terhadap penghasilan dari orang lain, yang apabila nilai tersebut diinvestasikan ke dalam investasi bebas atau sedikit resiko akan memberikan pendapatan yang sama besar. Nilai pertanggungan dihitung Pendapatan perbulan * 12 bulan * berapa lama perlindungan dibutuhkan

(14)

dengan cara membagi penghasilan tertanggung dengan SBI net per bulan yang berlaku saat ini.

Nilai pertangungan dihitung dengan cara membagi penghasilan tertanggung dengan SBI net per bulan yang berlaku saat ini.

Perhitungan :

(2.3)

3. Survival Based Value

Memperhitungkan berapa besar kewajiban yang harus dilindungi beserta berapa besar income yang harus dicover sampai survival dapat kembali bekerja secara penuh.

2.6 Dana Pendidikan

Menurut IARFC (2003, p.16), dana pendidikan adalah suatu dana yang telah dialokasikan secara terpisah, untuk memenuhi kebutuhan pendidikan bagi anak-anak kita di masa yang akan datang. Pendidikan sendiri berarti investasi untuk masa depan anak-anak kita. Mengingat semakin hari biaya pendidikan semakin mahal, oleh sebab itu perencanaan dana pendidikan menjadi suatu hal yang sangat penting bagi sebuah keluarga.

Menurut IARFC (2003, p.19), hal-hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan untuk membuat perencanaan pendidikan adalah:

1. Tentukan sampai sejauh mana kita ingin membiayai pendidikan anak.

2. Tentukan kira-kira kemana kita akan mengirimkan anak tersebut untuk masing-masing jenjang yang ingin kita biayai.

3. Untuk masa kuliah, tentukan apakah kita menginginkan mengirim anak kita untuk bersekolah keluar negeri (biaya sekolah di luar negeri beberapa kali lebih mahal dari sekolah di dalam negeri).

4. Mengidentifikasi berapa besar biaya sekolah tersebut dalam nominal sekarang.

Pendapatan perbulan / (SBI/12)

(15)

5. Tentukan berapa lama lagi anak-anak tersebut akan memasuki jenjang pendidikan yang ingin dibiayai (untuk pendidikan di luar negeri harus diperhitungkan biaya hidup).

6. Tentukan berapa besar rata-rata kenaikan biaya sekolah per tahun.

2.7 Dana Pensiun

Menurut Koh dan Fong (2003, p.15), Tujuan utama dari perencanaan dana pensiun adalah untuk memastikan atau menjamin bahwa anda memiliki dana atau keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama masa pensiun.

Sedangkan menurut Triandaru dan Budisantoso (2006), tujuan dari dana pensiun adalah pertama, rasa aman terhadap masa yang akan datang, mengharapkan mendapatkan jaminan ekonomis karena penghasilan yang diterima memasuki masa pensiun. Kedua, kompensasi yang labih baik, mempunyai tambahan kompensasi meskipun baru dapat dinikmati pada saat mencapai usia pensiun atau berhenti bekerja.

Menurut IARFC (2003, p.1-2), dana pensiun adalah suatu dana yang telah dialokasikan untuk diinvestasikan guna memenuhi kebutuhan hidup seseorang ketika memasuki masa pensiun. Tabungan pensiun semakin dibutuhkan, karena :

- Kebutuhan hidup semakin meningkat

- Ekspektasi kehidupan lebih panjang dari saat ini - Semakin tua maka rentan terhadap penyakit

- Tidak ingin bergantung pada anak dan sanak saudara

- Dana pensiun penting untuk mempertahankan standard hidup yang sama ketika pensiun, memberikan kesempatan kepada pensiunan untuk melakukan hal-hal yang dahulu tidak bisa mereka lakukan karena bekerja

2.8 Dana Lainnya (Other Goals)

Dana lainnya adalah suatu dana yang telah dialokasikan untuk diinvestasikan guna memenuhi tujuan-tujuan investasi apapun sesuai dengan keinginan klien, misalnya untuk mobil baru, biaya untuk berlibur, biaya renovasi rumah, biaya pernikahan, dan sebagainya.

(16)

2.9 Investasi

Menurut Bodie, Kane, dan Marcus dalam bukunya yang berjudul Essentials of Investments, investasi adalah komitmen sekarang terhadap uang atau sumber daya lainnya yang diharapkan memperoleh keuntungan di masa depan. Investasi adalah konsumsi yang ditunda sementara waktu untuk dikonsumsi lebih besar di masa mendatang. Kita perlu berinvestasi untuk melindungi kekayaan dari inflasi, untuk konsumsi dimasa depan yang lebih besar, dan pembayaran yang tidak menentu dimasa depan.

Investasi dilakukan karena :

1. Untuk melindungi kekayaan dari Inflasi

2. Untuk konsumsi dimasa depan yang lebih besar 3. Pembayaran yang tidak menentu dimasa depan

Menurut Siamat (2001), Jenis-jenis resiko investasi yang mungkin dihadapi investor dalam kegiatan investasi di pasar keuangan antara lain sebagai berikut:

a. Resiko Pasar yaitu resiko yang berkaitan dengan turunnya harga surat berharga (dan tingkat bunga naik) mengakibatkan investor mengalami capital loss.

b. Resiko reinvestment yaitu resiko terhadap penghasilan suatu aset finansial yang harus di-reinvest dalam aset yang berpendapatan rendah. Atau dapat pula dikatakan resiko yang memaksa investor menempatkan pendapatan yang diperoleh dari bunga kredit atau surat-surat berharga ke investasi yang berpendapatan rendah akibat turunnya tingkat bunga.

c. Resiko gagal bayar yaitu resiko yang terjadi akibat tidak mampunya peminjam (debitor) memenuhi kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan. Resiko ini sering juga disebut sebagai default risk atau credit risk.

d. Resiko inflasi yaitu pemberi pinjaman menghadapi kemungkinan naiknya harga-harga barang dan jasa-jasa yang akan menurunkan daya beli atas pendapatan yang diterimanya. Oleh karena itu resiko inflasi sering juga disebut sebagai resiko daya beli.

e. Resiko valuta yaitu kerugian yang terjadi akibat adanya perubahan yang tidak menguntungkan terhadap kurs mata uang asing.

(17)

f. Resiko politik adalah berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan ketentuan perundangan yang mengakibatkan turunnya pendapatan yang diperkirakan dari suatu investasi bahkan akan terjadi kerugian total dari modal yang diinvestasikan.

g. Marketability atau Liquidity risk dapat terjadi apabila instrumen pasar uang yang dimiliki sulit untuk dijual kembali sebelum jatuh tempo. Sulitnya untuk menjual kembali surat berharga tersebut memberi resiko untuk tidak dapat mencairkan kembali instrumen pasar uang dalam bentuk uang tunai pada saat membutuhkan likuiditas sebelum jatuh tempo.

2.9.1. Produk Investasi

Berikut ini adalah beberapa sarana investasi yang ada : 2.9.1.1 Tabungan

Tabungan adalah produk simpanan yang penyetoran dan penarikannya dapat dilakukan dengan cara-cara dan dalam waktu yang relatif lebih fleksibel dibandingkan dengan deposito (Triandaru dan Budisantoso, 2006, p. 98).

Tabungan dapat memberikan banyak kemudahan antara lain:

- Likuiditas yang tinggi, dapat diambil kapan saja, contoh: counter bank, ATM

- Kemudahan bertransaksi : pengiriman uang pembayaran ( telpon, kartu kredit, dll ), penukaran uang, dll

- Dijamin pemerintah

Tabungan memiliki kekurangan, antara lain:

- Suku bunga yang diberikan sangat rendah, dibawah tingkat inflasi - Bunga kena pajak 20% (untuk tabungan diatas Rp. 7.500.000,00).

-

2.9.1.2 Deposito

Deposito adalah produk simpanan yang penarikkannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai dengan tanggal yang diperjanjikan antara deposan dan bank Deposito dipergunakan untuk menabung atau menyimpan uang dalam jangka waktu tertentu.

(18)

Deposito memiliki kelebihan yang lain adalah :

- Suku bunga yang lebih tinggi daripada tabungan

- Likuiditas tinggi, dapat diambil kapan saja, meskipun ada jangka waktu tertentu

- Dapat dijaminkan : untuk mendapatkan hutang dari bank yang sama - Dijamin oleh pemerintah.

Deposito berjangka memiliki kekurangan, antara lain:

- Jika diambil sebelum jatuh tempo maka akan terkena penalti.

- Bunga kena pajak 20% (untuk nilai deposito diatas Rp. 7.500.000,00).

c. Reksa Dana

Berinvestasi di pasar modal berarti adanya nilai investasi yang besar dan kesiapan menanggung resiko besar, sejalan dengan besarnya potensi hasil investasi yang tersedia. Karena perubahan harga saham yang berfluktuatif dan cepat, sering dikatakan bahwa untuk dapat memperoleh keuntungan maksimum di pasar modal, investor saham harus meluangkan waktu khusus untuk memantau pasar. Bila kita ingin berinvestasi di saham, tetapi tidak sempat untuk memonitor secara terus- menerus, maka kita dapat memakai jasa reksadana untuk menginvestasikan uang kita di saham. Penjelasan dari reksadana akan dibahas lebih lanjut melalui subbab reksadana

2.10 Reksadana

Menurut UU No.8 Thn 1995, Reksa Dana merupakan suatu wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portfolio efek oleh manajer investasi.

Sedangkan menurut Arthur J. Keown, reksadana adalah investasi yang diraih melalui investor-investor, menelola uang tersebut dan menginvestasikannya ke saham-saham, obligasi-obligasi, dan investasi lainnya.

(19)

2.10.1. Jenis Reksadana Berdasarkan Portfolio investasi

Menurut DR. Roy Sembel (2004, p.96), reksadana terdiri dari:

1. Reksadana Pasar Uang (Money Market Fund)

Reksadana tang meneempatkan investasinya sebesar 100% pada efek Pasar Uang. Efek Pasar Uang adalah efek hutang dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun. Tujuannya untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.

Reksadana ini merupakan reksadana dengan tingkat resiko paling rendah.

Keunggulan reksadana pasar uang dibandingkan dengan deposito:

a. Portfolio investasi reksadana pasar uang lebih terdiversifikasi

Reksadana pasar uang tidak hanya berinvestasi pada instrumen deposito tapi juga dalam bentuk Deposito, SBI dan surat hutang jangka pendek yang kurang dari satu tahun, sehingga memberikan penyebaran resiko yang lebih baik dan hasil yang diperoleh lebih potensial.

b. Likuiditas reksadana pasar uang

Jika kita menempatkan dana deposito, kita harus menempatkan dana disana untuk jangka waktu tertentu misalnya satu bulan atau lebih panjang, tetapi apabila reksadana pasar uang , kita dapat mencaikannya kapan saja dan biasanya proses pencairannya hanya memakan waktu 1-3 hari kerja.

RDPU sangat cocok untuk investasi jangka pendek. Biasanya tingkat pengembalian reksadana pasar uang lebih tinggi dari jasa giro tapi lebih rendah dari Deposito.

2. Reksadana Pendapatan Tetap (Fixed Income Fund).

Reksadana yang menginvestasikan sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelolanya ke dalam efek bersifat hutang. Reksadana ini memiliki tingkat resiko yang lebih besar daripada Reksadana Pasar Uang. Tujuan dari Reksadana ini adalah menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil. Seperti halnya reksadana pasar uang, jenis ini selalu memperoleh pendapatan dari pembayaran kupon (bunga), dan memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari suku bunga. Akan tetapi nilai reksadana ini seperti halnya obligasi bisa berfluktuasi sejalan dengan perubahan bunga. Jika bunga naik harga obligasi akan turun dan sebaliknya. Investasi utama reksadana ini ada pada obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan dan pemerintah seperti Surat

(20)

Utang Negara (SUN) atau obligasi korporasi. Salah satu keuntungan dari reksadana ini adalah kebebasan pajak bagi bunga obligasi yang diperolehnya.

3. Reksadana Saham (Equity Fund).

Reksadana yang menempatkan investasi sekurang-kurangnya 80% dari dana yang dikelola dalam bentuk saham. Karena investasinya dilakukan di saham maka tingkat resikonya lebih tinggi dan berfluktuasi secara signifikan dibandingkan dua jenis reksadana di atas dan menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi pula. Efek saham memberikan potensi hasil dari capital gain, yaitu dari kenaikan perubahan harga saham. Selain itu juga memberikan hasil berupa deviden. Penghasilan berupa deviden sangat bergantung dari laba yang dihasilkan perusahaan. Bila laba tinggi, maka deviden yang dibagi juga tinggi, begitu pula sebaliknya.

4. Reksadana Campuran (Balanced Fund).

Reksadana ini mencampurkan saham dan obligasi, komposisi saham biasa berkisar antara 50-65%, sisanya pada obligasi. Reksadana ini cocok bagi investor tidak menginginkan resiko terlalu besar dari modalnya, tetapi bersedia mengambil sedikit resiko untuk tambahan pendapatan ekstra.

2.10.2. Ciri-ciri Reksadana

Menurut Adler Haymans Manurung (2003, p.2) Reksadana memiliki beberapa akrekteristik, antara lain :

• Kumpulan dana dari pemilik. Dimana pemilik reksadana adalah berbagai pihak yang menginvestasikan atau memasukkan dananya ke reksadana dengan berbagai variasi

• Diinvestasikan pada efek yang dikenal dengan instrumen investasi

• Dikelola oleh manajer investasi

• Merupakan instrumen investasi jangka pendek, menengah dan panjang.

• Reksadana merupakan produk investasi yang beresiko. Beresikonya reksa dana karena oleh instrumen investasi yang menjadi portofolio reksa dana tersebut, dan pengelola reksa dana (manager investasi) yang bersangkutan.

(21)

2.10.3. Kelebihan dari Reksadana

Menurut Arthur J. Keown (2004, p.480-482), kelebihan dari reksa dana (mutual fund), antara lain:

1. Likuiditas

Reksa dana mudah untuk dibeli dan dijual kembali. Reksa dana cukup likuid jika akan menggunakan uang tersebut (redemption).

2. Diversifikasi

Reksa dana adalah cara yang murah untuk diversifikasi investasi. jika berinvestasi dalam reksa dana, kita dapat membeli suatu bagian kecil dari berbagai macam pilihan usaha yang terdapat dalam reksa dana.

3. Manajemen Profesional

Reksa dana adalah suatu cara yang murah untuk mendapatkan akses pada manajemen yang profesional. Karena manajer investasi mengontrol jutaan dan bahkan miliaran dollar pada aktiva dan membuat transaksi sekuritas yang sangat besar jumlahnya, mereka memiliki akses untuk semua penelitian yang terbaik yang didapat dari banyak perusahaan broker. Sebagai hasilnya, manajer profesional berada pada posisi yang lebih baik untuk mengevaluasi investasi-investasi, memiliki keprofesionalan dalam mengambil langkah pertama menuju pasar.

4. Biaya yang rendah

Karena reksa dana dipasarkan dalam jumlah besar, komisi yang dibayar jauh lebih rendah.

5. Pelayanan

Reksa dana menyediakan berbagai pelayanan. Contoh, pelayanan mengecek account, pelayanan bookkeeping, sistem otomatis yang digunakan untuk menambah atau menarik dari account, dan kemampuan untuk membeli dan menjual hanya dengan melalui telepon.

6. Fleksibilitas.

Reksa dana terdiri dari lebih dari 8,200 yang harus dipilih, tetapi hal itu yang menyebabkan reksa dana melindungi berbagai tingkat risiko. Sebagai investor individual maka harus dapat menentukan mana tingkat risiko yang dapat

(22)

diterima, dan melalui hal tersebut dapat mencari dana yang dapat sesuai dengan tujuan.

7. Dapat menghindar dari broker yang kurang baik.

Dengan reksa dana maka dapat terhindar dari saran yang buruk, dan komisi yang tinggi.

2.11. Nilai Uang Terhadap Waktu (Time Value of Money)

Time Value of Money (Kieso, 2000, p.270) menunjukkan hubungan antara waktu dengan uang dimana sejumlah uang yang kita terima saat ini mempunyai nilai lebih besar dibandingkan sejumlah uang yang akan kita terima pada waktu tertentu di masa yang akan datang. Perbedaan ini disebabkan karena adanya kesempatan bagi kita untuk menginvestasikan uang yang kita miliki saat ini dan menerima bunga sebagai hasil dari investasi tersebut.

2.11.1. Future Value dan Present Value

Future Value merupakan nilai pada masa yang akan datang dari sejumlah uang yang akan diinvestasikan dengan asumsi bunga majemuk (Kieso, 2000, p.278)

Rumus : FV = PV ( 1+i )n (2.4)

Present Value merupakan nilai sekarang dari jumlah uang pada masa yang akan datang dengan asumsi bunga majemuk (Kieso 2000:279)

Rumus : PV = FV ( 1 / ( 1+i )n ) (2.5)

Keterangan :

FV = Future Value PV = Present Value i = Bunga

n = Tenor

(23)

2.11.2. Anuitas

Pengertian anuitas (Kieso, 2000, p.283) adalah sekumpulan pembayaran dalam jumlah yang sama dalam kurun waktu tertentu. Anuitas dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:

a. Ordinary Annuity; Pembayaran dilakukan pada tiap akhir periode Rumus : FVA = PMT {[( 1+i )n - 1] / i} (2.6) Rumus : PVA = PMT {[1- (( 1+i )-n )] / i} (2.7)

b. Annuity Due; Pembayaran dilakukan pada tiap awal periode

Rumus : FVA = PMT {[( 1+i )n - 1] / i} (1+i) (2.8) Rumus : PVA = PMT {[1- (( 1+i )- n )] / i} (1+i) (2.9)

Keterangan :

FVA = Future Value Annuity PVA = Present Value Annuity PMT = Payment

i = Bunga n = Tenor

2.12. Expected Return dan Standard Deviasi

Menurut Zaenal Arifin (2005, p.23), dalam kondisi ketidakpastian, jumlah hasil (outcome) dari investasi akan lebih dari satu. Dari sejumlah hasil tersebut akan dihitung satu nilai yang merupakan nilai ekspektasi hasil (expected return) dari investasi tersebut.

Formula untuk menghitung expected return adalah sebagai berikut:

E(r

i

) = ∑ r

i

p

i (2.10)

E(r

i

) = ∑ r

i

p

i

(24)

Keterangan :

E (ri) = ekspektasi return dari instrument investasi (sekuritas/reksadana) i, ri = satu outcome dari instrument investasi (sekuritas)

pi = probabilitas outcome tertentu dari instrument investasi (sekuritas) i.

Menurut Arifin (2005), dalam investasi yang bersifat pasti, cukup mempertimbangkan return ketika akan melakukan pengambilan keputusan.

Namun dalam investasi yang bersifat tidak pasti, yang perlu dipertimbangkan risiko disamping return ( p.23).

Risiko dari investasi yang bersifat tidak pasti tidak lain merupakan besar kemungkinan penyimpangan return dari perkiraan awal (ekspektasi) , yang dapat diukur dengan varian atau standar deviasi (σ) adalah sebagai berikut: (Arifin, 2005, p. 24)

Formula untuk menghitung adalah sebagai berikut:

(2.11)

2.13. Return dan Risiko Portfolio

Menurut Zaenal Arifin (2005, p.24), portfolio adalah komposisi asset yang menjadi pilihan seorang investor. Asset tersebut dapat berupa financial asset seperti saham (stock), obligasi (bond), dan opsi (option) maupun real asset seperti tanah, gedung, kendaraan, dan perusahaan.

Ekspetasi return suatu portfolio adalah rata-rata tertimbang (ditimbang berdasarkan proposi nilai modalnya dalam portfolio) dari ekspetasi return masing- masing asset yang ada dalam portfolio.

Formula untuk menghitung ekspetasi return suatu portfolio, E(rp), adalah:

(2.12)

σσσσ

i

= √√√√ ∑ [r

i

– E( r

i

)]

2

p

i

E (r

p

) = ∑ E(r

i

) X

i

(25)

Dimana Xi adalah proposi asset (sekuritas) i dalam portfolio.

Ekspektasi return suatu portfolio adalah rata-rataa tertimbang ekspetasi return dari asset-aset yang ada dalam portfolio, namun risiko portfolio tidak merupakan rata-rata tertimbang dari asset dari risiko asset-aset dalam portfolio tersebut. Risiko portfolio dipengaruhi oleh kovarian (covariance) antar asset yang ada di portfolio, dan komponen utama dari kovarian adalah koefisien (correlation coefficient).

Formula untuk menghitung standar deviasi sebuah portfolio σp, adalah;

(2.13)

dimana, Xi adalah proposi dana ke sekuritas i, Xj proposi dana ke sekurita j, dan σij adalah kovarian antara i dan j. rumus kovarian dapat diuraikan menjadi σij = σiσj rij

2.14. Rasio Keuangan Pribadi

Ada beberapa rasio keuangan pribadi (Koh dan Fong, 2003, p.18), yaitu a. Liquidity Ratio :

Rasio yang menunjukkan berapa lama klien dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan mereka apabila semua penghasilan tidak ada sama sekali.

(2.14)

b. Liquid Assets to Net Worth Ratio:

Rasio yang menunjukkan kekayaan bersih dari klien yang berbentuk kas/

tunai/ setara dengan kas.

(2.15)

m m

σσσσ

p

= √√√√ ∑ ∑ X

i

X

j

σσσσ

ij

i=1 j=1

Liqudity Ratio = Cash / Tunai / Setara Kas Pengeluaran Bulanan

Liquid Assets to Net Worth Ratio = Cash / Tunai / Setara Kas Total Kekayaan Bersih

(26)

c. Solvency Ratio : Rasio yang menunjukkan tingkat kerentanan klien terhadap resiko kebangkrutan. Apabila total kewajiban melebihi total aset, maka klien dapat dikategorikan bangkrut.

(2.16) Rasio ini dapat dikatakan baik, apabila besarnya lebih besar atau sama dengan 35%

d. Debt-to-Asset Ratio

Rasio ini digunakan untuk menghitung kemampuan klien untuk membayar kewajiban / utang-utangnya

(2.17)

Klien mampu untuk membayar kewajibannya, apabila rasio ini lebih kecil sama dengan 50%. Apabila lebih besar dari 50%, maka klien dapat dikatakan kurang mampu untuk membayar kewajibannya.

e. Debt Service Ratio

Rasio ini mengindikasikan apakah klien dapat memenuhi dan memelihara kewajiban / utang-utangnya

(2.18)

Klien dapat memenuhi atau sanggup membayar dan memelihara utang- utangnya, apabila rasio ini dibawah 35%. Jika rasio ini diatas 45%, dapat

Solvency Ratio = Total Kekayaan Bersih Total Asset

Debt-to-Asset Ratio = Total Kewajiban Total Asset

Debt Service Ratio = Total Pembayaran Utang Bulanan Penghasilan Bersih Bulanan

(27)

dikatakan klien tidak sanggup untuk membayar dan memelihara utang- utangnya.

f. Net Investment Asset to Net Worth Ratio

Rasio ini digunakan untuk membandingkan nilai aset yang diinvestasikan dengan kekayaan bersih. Ratio ini membantu untuk menunjukkan sampai sejauh mana pengetahuan klien serta akumulasi kekayaannya untuk memenuhi tujuan keuangannya.

(2.19)

Rasio ini besarnya sekitar 50%. Rasio ini harus meningkat seiring dengan usia memasuki atau mendekati usia pensiun.

g. Saving Ratio

Saving adalah kelebihan (kekurangan) dana yang disebabkan oleh aktivitas keuangan yang dilakukan oleh klien dalam kurun waktu tertentu. Rasio ini berguna untuk menunjukkan apakah klien telah cukup menabung untuk memenuhi kebutuhan keuangannya.

(2.20)

Rasio ini dikategorikan bagus, apabila diatas 10%.

Net Investment Asset to Net Worth Ratio =

Total Asset yang diinvestasikan Total Kekayaan bersih

Saving Ratio = Tabungan Bulanan Penghasilan Kotor Bulanan

Gambar

Gambar 2.1 One Stop Service Solution   (Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow, 2003, p.6)
Gambar 2.2. Alur Dana Sebelum Menggunakan Financial Planning  (Sumber: IARFC, Basic FP Cash Flow, 2003, p.4)
Tabel 2.1. Syarat Dana Darurat

Referensi

Dokumen terkait

Persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persepsi objek dimana stimulus yang akan dipersepsikan adalah pajak, dengan hal ini yang ingin diketahui adalah Pengaruh

Untuk memperhitungkan nilai kebutuhan bulanan dari seseorang yang bergantung terhadap penghasilan dari orang lain, yang apabila nilai tersebut diinvestasikan kedalam

Sedangkan dikatakan opportunistic apabila insentif manajer dan pemegang saham yang tidak terarah memicu manajer untuk menggunakan fleksibilitas yang diberikan oleh

Ada beberapa bentuk pola hubungan antara arsitektur dan struktur, Macdonald membagi pola hubungan tersebut dalam dua ekstrim, yaitu perancangan bangunan yang sama

Sehingga teori-teori ini dapat digunakan sebagai dasar pedoman untuk membuktikan bahwa intellectual capital berpengaruh terhadap competitive advantage melalui

Ditambah dengan penelitian yang dilakukan oleh Muksin dan Sunarti (2018) dengan judul “Pengaruh Motivasi Terhadap Keputusan Berkunjung wisatawan di Ekowisata Mangrove

Oleh karena itu, semakin besar kepemilikan institusional dalam sebuah perusahaan maka semakin besar tujuan investor institusional ini untuk memperoleh laba

Dengan adanya berbagai kebutuhan juga ketertarikan akan media membuat riset perilaku konsumen menjadi penting untuk dilakukan, karena dengan mengetahui media apa yang sering