10
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1 Landasan teori
Dalam pembahasan mengenai dasar-dasar teori, penulis menitikberatkan pada teori-teori yang berhubungan erat dengan variabel kesadaran membayar pajak, pemahaman dan pengetahuan,kualitas layanan dan persepsi kepatuhan membayar pajak. Sehingga teori-teori ini dapat digunakan sebagai dasar pedoman untuk membuktikan bahwa kesadaran membayar pajak, pemahaman dan pengetahuan, kualitas layanan pajak, sanksi denda pajak dan sikap rasional berpengaruh terhadap kepatuhan membayar pajak pada wpop pengusaha di pasar atom.
2.1.1 AttributionTheory
Atribusi adalah proses pembentukan kesan. Atribusi mengacu pada bagaimana orang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri . Atribusi adalah proses dimana orang menarik kesimpulan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku orang lain. Teori atribusi menganggap individu sebagai psikolog amatir yang mencoba untuk memahami alasan untuk peristiwa yang terjadi di wajah, teori atribusi mencoba untuk menemukan apa yang menyebabkan apa, atau apa yang memotivasi orang untuk melakukan apa pun . Tanggapan yang kita berikan ke acara tergantung pada interpretasi kami acara (Harold Kelley , 1973).
Teori Atribusi memandang individu sebagai psikologi amatir yang mencoba memahami sebab-sebab yang terjadi pada berbagai peristiwa yang dihadapinya. Teori atribusi mencoba menemukan apa yang menyebabkan apa, atau apa yang mendorong siapa melakukan apa. Respon yang kita berikan pada suatu peristiwa bergantung pada interpretasi kita tentang peristiwa itu (Harold Kelley, 1973).
Pada dasarnya, teori atribusi menyatakan bahwa bila individu-individu mengamati perilaku seseorang, mereka mencoba untuk menentukan apakah itu ditimbulkan secara internal atau eksternal (Robbins, 1996). Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada di bawah kendali
11
Universitas Kristen Petra
pribadi individu itu sendiri, sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal adalah perilaku yang dipengaruhi dari luar, artinya individu akan terpaksa berperilaku karena situasi dari faktor eksternal seperti peralatan atau pengaruh sosial dari orang lain, maka individu akan terpaksa berperilaku atau bertindak karena situasi, jadi merupakan atribusi eksternal.
Penentuan internal atau eksternal menurut Robbins (1996) tergantung pada tiga faktor yaitu : pertama kekhususan (kesendirian atau distinctiveness, kedua konsensus, ketiga konsistens.Penentuan internal atau eksternal tergantung dari tiga faktor, yaitu pertama kekhususan, artinya seseorang akan mempersepsikan perilaku individu lain secara berbeda dalam situasi yang berlainan. Apabila perilaku seseorang dianggap suatu hal yang luar biasa, maka individu lain yang bertindak sebagai pengamat akan memberikan atribusi eksternal terhadap perilaku tersebut. Namun jika sebalik nya maka hal itu dianggap hal yang biasa, maka akan dinilai sebagai atribusi internal. Kedua, konsensus artinya jika semua orang mempunyai kesamaan pandangan dalam merespon perilaku seseorang dalam situasi yang sama. Jika konsensus tinggi, maka termasuk atribusi internal. Jika konsensusnya rendah, maka termasuk atribusi eksternal. Faktor terakhir adalah konsistensi yaitu jika seorang menilai perilaku-perilaku orang lain dengan respon sama dari waktu ke waktu. Semakin konsisten perilaku itu, orang akan menghubungkan hal tersebut dengan sebab- sebab alasan internal (Robbins, 1996). Alasan dari teori ini adalah kesediaan wajib pajak untuk membayar pajak yang terkait dengan persepsi wajib pajak dalam membuat penilaian tentang pajak itu sendiri. Persepsi seseorang untuk membuat penilaian tentang sesuatu yang dipengaruhi oleh internal dan eksternal dari orang tersebut. Sehingga sangat relevan dengan pengaitan teori untuk menjelaskan tujuan.
2.1.2 Theory of Planned Behavior
Dalam teori perilaku terencana menjelaskan bahwa perilaku yang dihasilkan oleh individu timbul karena niat untuk berperilaku. Sementara munculnya niat untuk berperilaku ditentukan oleh tiga faktor (Fishbein, M., &
Ajzen, I. 1975), yaitu: a. Keyakinan perilaku, keyakinan individu adalah hasil dari
12
Universitas Kristen Petra
perilaku dan evaluasi hasil, b. Keyakinan normatif, yaitu keyakinan tentang harapan normatif dari orang lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut dan c. Keyakinan control, adalah keyakinan tentang adanya hal-hal yang mendukungatau menghambat perilaku yang akan ditampilkan dan persepsi seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan menghambat perilaku (dirasakan power).
Beberapa studi sebelumnya menggunakan teori ini untuk menilai tingkat kepatuhan pajak, antara lain dilakukan dengan (Kamil, 2015). Seperti studi (Kamil, 2015), penelitian ini juga akan menggunakan Teori Planned Behavior yang dianggap relevan dengan tujuan penelitian ini untuk menjelaskan perilaku wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajak mereka. Sebelum seorang individu untuk melakukan sesuatu, orang akan memiliki keyakinan tentang hasil yang akan diperoleh dari perilaku tersebut.
Ketika akan memutuskan bahwa akan melakukannya atau tidak melakukannya. Hal ini terkait dengan kesadaran wajib pajak. Wajib Pajak yang sadar pajak, akan memiliki keyakinan tentang pentingnya membayar pajak untuk membantu menjaga pembangunan negara (keyakinan perilaku). Ketika akan melakukan sesuatu, orang akan memiliki keyakinan tentang harapan normatif lain dan motivasi untuk memenuhi harapan tersebut (keyakinan normatif). Jika pernyataan ini terkait dengan pajak, bahwa adanya memuaskan layanan otoritas pajak, sistem pajak yang efisien dan efektif, dan konseling pajak untuk memotivasi wajib pajak untuk mematuhi pajak akan mendorong setiap wajib pajak memiliki kepercayaan diri dan memutuskan untuk menjadi sebuah pembayar pajak yang taat membayar kewajiban pajak. denda pajak terkait dengan keyakinan kontrol. Pajak hukuman dibuat sedemikian rupa untuk mendorong wajib pajak patuh pajak aturan yang berlaku. Tingkat wajib pajak kepatuhan akan ditentukan berdasarkan persepsi wajib pajak dari seberapa kuat pajak hukuman untuk mendukung wajib pajak pajak patuh dalam (Kamil, 2015).
Keyakinan perilaku, keyakinan normatif, dan keyakinan kontrol sebagai tiga faktor yang menentukan seseorang tingkah laku. Dengan tiga faktor ini, maka salah satu akan memasuki tahap niat, maka tahap terakhir adalah perilaku.
13
Universitas Kristen Petra
Tingkat Niat adalah tingkat di mana seseorang memiliki niat untuk berperilaku, tetapi perilaku adalah salah satu berperilaku dalam (Kamil, 2015).
Ketika wajib pajak telah membayar pajak conciousnes, termotivasi oleh layanan pemerintah memuaskan, serta denda pajak maka wajib pajak akan memiliki niat untuk membayar pajak dan kemudian menyadari niat.
2.1.3 Social Learning Theory
Menurut teori pembelajaran sosial, seseorang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung (Bandura1977) dalam Kamil, 2015, proses pembelajaran sosial meliputi: Proses perhatian, retensi, reproduksi motorik proses dan proses penguatan , proses perhatian, suatu proses dimana seseorang belajar melalui orang lain atau model akrab dan membayar perhatian pada orang lain atau model. Proses Retensi adalah proses mengingat aksi model ketika model ini tidak lagi tersedia. Proses reproduksi motor proses untuk mengubah observasi ke dalam tindakan. Sementara proses penguatan, proses dimana individu disediakan stimulus positif atau hukuman untuk berperilaku sesuai dengan model (Bandura, 1977) dalam Kamil, 2015.
Proses perhatian yaitu orang hanya akan belajar dari sesorang atau model, jika mereka telah mengenal dan menaruh perhatian pada orang atau model tersebut. Proses penahanan adalah proses mengingat tindakan suatu model setelah model tidak lagi mudah tersedia. Proses reproduksi motorik adalah proses mengubah pengamatan menjadi perbuatan. Sedangkan proses penguatan adalah proses yang mana individu-individu disediakan rangsangan positif atau ganjaran supaya berperilaku sesuai dengan model. Teori pembelajaran sosial yang relevan untuk menjelaskan perilaku wajib pajak di memenuhi kewajiban pajak mereka.
Seseorang akan mematuhi membayar kewajiban pajak tepat waktu, jika mereka percaya (berdasarkan observasi dan pengalaman) yang governement dipungut pajak berkontribusi besar terhadap perkembangan wilayah mereka. Dan juga akan obdient untuk membayar kewajiban pajak mereka jika mereka telah memperhatikan sistem jasa perpajakan , khususnya layanan yang memberikan stimulus positif atau punishment untuk berperilaku sesuai dengan model ,
14
Universitas Kristen Petra
tampaknya cukup relevan bila dikaitkan dengan efek dari denda pajak pada kepatuhan pajak (Jatmiko, 2006) .
2.1.4 Kesadaran wajib pajak
Kesadaran adalah situasi disaat keadaan mengetahui dan mengerti apa yang harus dilakukan, sedangkan perpajakan adalah perihal mengenai pajak.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesadaran perpajakan adalah keadaan mengetahui atau mengerti apa yang harus dilakukan perihal mengenai pajak.
Penilaian positi wajib pajak terhadap pelaksaan fungsi negara oleh pemerintah akan menggerakkan masyarakat untuk mematuhi kewajibannya untuk membayar pajak.
Kesadaran Wajib Pajak mengenai perpajakan amatlah diperlukan guna meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak. Sebagaimana diketahui bahwa dalam sistem perpajakan yang baru, wajib pajak diberikan kepercayaan untuk melaksanakan kegotongroyongan nasional melalui sistem menghitung, memperhitungkan, membayar, melaporkan sendiri pajak yang terutang. Besarnya pajak dihitung sendiri oleh wajib pajak, kemudian membayar pajak yang terutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku (Jatmiko, 2006). Ada pula kepatuhan WP dikemukakan Norman D.Nowak dalam (Siat dan Toly, 2013) sebagai suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercemin dalam situasi di mana:
1. WP pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas 3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar 4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya
Jadi berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan kepatuhan WP adalah sikap taat, disiplin, dan patuh yang dilakukan individu atau kelompok terhadap perundang undangan perpajakan dalam hal pemenuhan kewajiban perpajakannya.Kesadaran pajak ini tidak sama dengan sikap patuh tanpa sikap kritis. Semakin rakyat maju dan pemerintahannya juga maju, rakyat akan semakin tinggi kesadaran pajaknya namun di pihak lain rakyat akan semakin kritis, tapi
15
Universitas Kristen Petra
bukan mengritisi keberadaan pajak itu sendiri sebagai sebuah instrumen, seperti sebelumnya, melainkan kritis terhadap materi kebijakan di bidang perpajakannya, yakni tarif, dan perluasan subjek dan objeknya.
Sampai kapanpun tidak akan pernah terjadi keadaan di mana seluruh rakyat memiliki kesadaran membayar pajak, pasti akan masih tersisa sebagian kecil yang tidak mau membayar pajak, sama dengan tidak pernah ada di negara manapun, kapanpun, semua rakyatnya memiliki kesadaran tinggi untuk tertib berlalulintas, pasti ada saja yang masih selalu melanggar atau melawan hukum.
Atas pelanggaran ini pasti dikenakan sanksi sebagai hukumannya (Siat dan Toly, 2013). Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan kemungkinan masa depannya (Widayati dan Nurlis, 2010).
Terdapat tiga bentuk kesadaran utama terkait pembayaran pajak. Pertama, kesadaran bahwa pajak merupakan bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan negara. Dengan menyadari hal ini, wajib pajak mau membayar pajak karena merasa tidak dirugikan dari pemungutan pajak yang dilakukan. Pajak disadari digunakan untuk pembangunan negara guna meningkatkan kesejahteraan warga negara. Kedua, kesadaran bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak sangat merugikan negara. Wajib pajak mau membayar pajak karena memahami bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak berdampak pada kurangnya sumber daya finansial yang dapat mengakibatkan terhambatnya pembangunan negara. Ketiga, kesadaran bahwa pajak ditetapkan dengan undang-undang dan dapat dipaksakan. Wajib pajak akan membayar karena pembayaran pajak disadari memiliki landasan hukum yang kuat dan merupakan kewajiban mutlak setiap warga Negara (Rantung dan Adi, 2009).Menurut (Tjandra, 2014) Kesadaran membayar pajak adalah keadaan mengetahui atau mengerti, sedangkan kesadaran wajib pajak dalam kewajiban perpajakannya merupakan hal penting dalam penarikan pajak. Indikator kesadaran membayar yaitu :
a. Pajak merupakan bentuk partisipasi dalam menunjang pembangunan negara.
b. Penundaan pembayaran dan pengurangan beban pajak merugikan negara.
16
Universitas Kristen Petra
c. Pajak merupakan sumber penerimaan terbesar negara.
d. Membayar pajak tidak sesuai dengan yang seharusnya dibayar akan merugikan negara
2.1.5 Pengetahuan Pajak
Pengetahuan Pajak adalah informasi pajak yang dapat digunakan wajib pajak sebagai dasar untuk bertindak, mengambil keputusan, dan untuk menempuh arah atau strategi tertentu sehubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajibannya dibidang perpajakan (Veronica Carolina, 2009:7).
Pengetahuan perpajakan adalah penalaran dan makna dari penangkapan peraturan pajak. Pengetahuan perpajakan peraturan perpajakan (syarat-syarat) terkait pembayaran pajak. Syarat-syarat untuk melakukan pembayaran pajak adalah (1) wajib pajak harus memiliki NPWP dan (2) wajib pajak harusmelaporkan SPT. Syarat-syarat tersebut dapat dijadikan indikator kemauan membayar pajak oleh wajib pajak dengan dua alasan berikut. Pertama, wajib pajak baru yang mau membayar pajak akan mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP dan wajib pajak lama yang telah memiliki NPWP mau membayar pajak karena kepemilikan tersebut mewajibkan wajib pajak untuk membayar pajak secara berkelanjutan. Kedua, kepemilikan NPWP selanjutnya harus ditindaklanjuti dengan pelaporan SPT oleh wajib pajak (Rantung dan Adi, 2009).
Pengetahuan Pajak adalah suatu tindakan atau langkah dalam menuju pendewasaan pemikiran seorang wajib pajak melalui beberapa upaya pengajaran dan pelatihan (Hardiningsih dan yulianawati, 2011). Pengetahuan dapat di peroleh melalui pendidikan formal dan non formal yang dapat meningkatkan pengetahuan wajib pajak, karena pengetahuan perpajakan merupakan salah satu hal yang paling mendasar harus dimiliki wajib pajak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) disebutkan bahwa pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu. Pengetahuan itu merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu. Pengetahuan akan peraturan perpajakan bisa diperoleh wajib pajak melalui seminar tentang perpajakan, penyuluhan dan pelatihan yang dilakukan Dirjen Pajak. Pemahaman
17
Universitas Kristen Petra
berasal dari kata paham yang mempunyai arti mengerti benar, sedangkan pemahaman merupakan proses perbuatan cara.
Berdasarkan definisi diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa pengetahuan akan peraturan perpajakan adalah proses dimana wajib pajak mengetahui tentang perpajakan dan mengaplikasikan pengetahuan itu untuk membayar pajak.
Pengetahuan pertaturan perpajakan yang dimaksud mengerti dan paham tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan (KUP) yang meliputi tentang bagaimana cara menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), pembayaran, tempat pembayaran, denda dan batas waktu pembayaran atau pelaporan SPT (Christian, 2014).
Menurut (Tjandra, 2014) Pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seorang wajib pajak atau kelompok wajib pajak dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Indikator pengetahuan peraturan perpajakan, antara lain:
a. Pengetahuan dan pemahaman tentang sanksi jika melakukan pelanggaran perpajakan.
b. Pengetahuan dan pemahaman mengenai PTKP, PKP dan tarif pajak.
c. Pengetahuan dan pemahaman peraturan pajak melalui sosialisasi.
d. Pengetahuan dan pemahaman peraturan pajak melalui training.
2.1.6 Pemahaman Pajak
Pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan adalahcara wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan yang telah ada. Pemahaman Pengusaha UKM terhadap peraturan perpajakan adalah cara pengusaha UKM dalam memahami peraturan perpajakan yang telah ada (Hardiningsih, 2011).
Pemahaman wajib pajak adalah persepsi wajib pajak terhadap kesederhanaan dan daya jangkau hukum pajak yang dapat mempengaruhi perilaku wajib pajak dan menjadi faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan perpajakan (Suhardito & Sudibyo, 1992).
Pengaruh pemahaman wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dapat dijelaskan dengan teori atribusi dan teori pembelajaran sosial. Dalam teori
18
Universitas Kristen Petra
atribusi, pemahaman wajib pajak tentang peraturan perpajakan merupakan penyebab internal karena berada di bawah kendali wajib pajak sendiri. Tingkat pemahaman wajib pajak yang berbeda-beda akan mempengaruhi penilaian masingmasing wajib pajak untuk berperilaku patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Berdasarkan teori atribusi, pemahaman wajib pajak tentang peraturan perpajakan merupakan penyebab internal yang dapat mempengaruhi persepsi wajib pajak dalam membuat keputusan mengenai perilaku kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Berdasarkan teori pembelajaran sosial, wajib pajak dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsungnya mengenai peran pemahaman yang dimiliki wajib pajak tentang peraturan perpajakan dalam membantu wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan (Zulaikha, 2012). Pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan adalah cara wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan yang telah ada. Wajib pajak yang tidak memahami peraturan perpajakan secara jelas cenderung akan menjadi wajib pajak yang tidak taat. Jelas bahwa semakin paham wajib pajak terhadap peraturan perpajakan, maka semakin paham pula wajib pajak terhadap sanksi yang akan diterima bila melalaikan kewajiban perpajakan mereka. Dimana wajib pajak yang benar-benar paham, merekaakan tau sanksi adminstrasi dan sanksi pidana sehubungan dengan SPT dan NPWP (Hardiningsih, 2011).
2.1.7 Sanksi Denda Pajak
Penalti tersebut dibuat dengan tujuan agar pajak wajib pajak takut melanggar UU Pajak . Wajib Pajak akan mematuhi pembayaran pajak mereka jika pandangan bahwa hukuman akan lebih merugikan (Jatmiko, 2006). Berdasarkan teori atribusi, sanksi perpajakan merupakan penyebab eksternal yang mempengaruhi persepsi seorang wajib pajak dalam membuat penilaian mengenai perilaku kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.
Berdasarkan teori pembelajaran sosial, wajib pajak dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsungnya melalui pemberian sanksi yang dikenakan aparat pajak kepada wajib pajak yang melanggar norma perpajakan (Zulaikha, 2012).
19
Universitas Kristen Petra
Mardiasmo (2011, p.39-40) definisi sanksi perpajakan:
Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan undang-undang perpajakan (norma perpajakan) akan diikuti/diamati/dipatuhi dengan kata lain sanksi perpajakanmerupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan. Dalam undang-undang perpajakan dikenal dua macam sanksi, yaitu sanksi administrasi dan sanksi pidana. Ancaman terhadap pelanggaran suatu norma perpajakan yang diancam dengan sanksi admnistrasi saja, ada yang diancam dengan sanksi pidana saja, dan ada pula yang diancam dengan sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi dapat dijatuhkan apabila Wajib Pajak melakukan pelanggaran, terutama atas kewajiban yang ditentukan dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) dapat berupa sanksi administrasi bunga, denda dan kenaikan.
Hukuman administrasi umumnya berupa sanksi administrasi baik berupa bunga, denda, tambahan pokok pajak, maupun kenaikan, dan dijatahkan oleh fiskus. Hukuman admnistrasi umumnya berkaitan dengan masalah-masalah ketidaktaatan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban, seperti tidak menyampaikan surat pemberitahuan (SPT), atau menyampaikan SPT tetapi tidak benar dan tidak lengkap, dikarenakan alpa dan lain-lain.
Hukuman pidana dapat berupa denda pidana maupun hukuman penjara dan dijatuhkan oleh hakim. Hukuman pidana umumnya berkaitan dengan perbuatan- perbuatab yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan, seperti sengaja tidak mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, dan lain-lain Suandy, 2011).
2.1.8 Pelayanan Kualitas Fiskus/Otoritas Pajak
Pelayanan sendiri pada sektor perpajakan dapat diartikan sebagai pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk membantu Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakannya. Pelayanan pajak termasuk dalam pelayanan publik karena: dijalankan oleh instansi pemerintah, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam
20
Universitas Kristen Petra
rangka pelaksanaan undang-undang dan tidak berorientasi pada profit atau laba.
Ada lima dimensi kualitas pelayanan jasa yang dapat dirincikan sebagai berikut:
tangibles, atau bukti fisik, reliability, atau keandalan responsiveness, atau ketanggapan, assurance, atau jaminan dan empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi (Fuadi dan Mangonting, 2013).
Secara sederhana definisi kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pihak yang menginginkannya. Pelayanan perpajakan dibentuk oleh dimensi kualitas sumber daya manusia (SDM), ketentuan perpajakan dan system informasi perpajakan. Standar kualitas pelayanan prima kepada masyarakat wajib pajak akan terpenuhi bilamana SDM melakukan tugasnya secara profesional, disiplin, dan transparan. Dalam kondisi wajib pajak merasa puas atas pelayanan yang diberikan kepadanya, maka mereka akan cenderung akan melaksanakan kewajiban membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Tjandra, 2014).
Nurmantu, Safri (2003, p.33) definisi kualitas dan kuantitas petugas pajak:
Kualitas petugas pajak sangat menentukan efektivitas dan undang-undang dan peraturan perpajakan. Petugas pajak atau fiskus yang profesional tidak mudah percaya begitu saja atas keterangan/pembukuan wajib pajak. Fiskus yang profesional akan secara konsisten menggali objek-objek pajak yang menurut ketentuan perundangan harus dikenakan pajak. Di samping tingkat intelegensia yang tinngi dan trampil, fiskus juga harus mempunyai sifat pengabdian dan integritas serta moral yang tinggi. Selanjutnya kuantitas fiskus yang sesuai dengan volume pekerjaan yang makin meningkat, akan ikut memperlancar arus dana masuk ke kas negara. Kuantitas fiskus yang berlebihan akan menimbulkan ketidakefisienan, sebaliknya kekurangan tenaga akan menimbulkan kesulitan dalam optimalisasi penerimaan pajak. Jumlah petugas pajak yang memadai dan berkualitas akan lebih berhasil apabila dilengkapi dengan peralatan yang cukup seperti komputer dan alat komunikasi mutakhir seperti internet.
21
Universitas Kristen Petra
2.1.9 Pemanfaatan NPWP
Wajib pajak mempunyai kewajiban untuk memiliki NPWP apabila telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (Masruroh dan Zulaikha, 2013).
Berdasarkan teroi atribusi, kemanfaatan NPWP merupakan salah satu penyebab internal yang dapat mempengaruhi persepsi wajib pajak dalam mengambil dan membuat keputusan mengenai perilaku kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Berdasarkan teori pembelajaran sosial, wajib pajak dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsungnya mengenai manfaat yang dapat diperoleh wajib pajak atas kepemilikan NPWP. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga AtasUndang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan dalam Pasal 1 dinyatakan bahwa :
“Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.” Pasal 2 menyatakan bahwa :
“Setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manfaat berarti guna, faedah, laba, atau untung. Kemanfaatan berarti hal (ber)manfaat atau kegunaan. Jadi, kemanfaatan NPWP merupakan kegunaan yang diperoleh oleh wajib pajak atas kepemilikan NPWP.
Fungsi NPWP yang disebutkan dalam UU KUP antara lain : 1. Sebagai sarana dalam administrasi perpajakan.
2. Sebagai identitas wajib pajak.
3. Menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan pengawasan administrasi perpajakan.
4. Dicantumkan dalam setiap dokumen perpajakan.
22
Universitas Kristen Petra
Kepemilikan NPWP harus dapat memberikan manfaat yang selaras dengan kepentingan wajib pajak sehingga wajib pajak akan termotivasi untuk membayar dan melaporkan pajaknya setelah memiliki NPWP. Berbagai manfaat yang dapat diperoleh atas kepemilikan NPWP diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak (Musroh, 2013).
2.1.10 Sikap Rasional
Sikap rasional adalah pertimbangan wajib pajak atas untung ruginya memenuhi kewajiban pajaknya, ditunjukan dengan pertimbangan wajib pajak terhadap keuangan apabila tidak memenuhi kewajiban pajaknya dan resiko yang akan timbul apabila membayar dan tidak membayar pajak Menurut Hadi (2004) dalam (Siat dan Toly, 2013). Hadi (2004) mengatakan bahwa perilaku kejahatan telah dipandang oleh ilmuwan sosial sebagai tindakan yang rasional ketika seseorang mempertimbangkan keuangan yang tidak etisnya jika menganggap setiap orang yang tertib berlalulintas sekedar karena takut pada polisi.
Seseorang mengambil keputusan memakai standar pengambilan keputusan model ekonomi, mereka memaksimalkan keuangan yang diharapkan dapat menjadi alternatif, keputusan apa saja dari keuangan yang diharapkan dinilai dengan mengidentifikasi kemungkinan akibatnya atau dapat mengetahui hasilnya, kemudian dapat menilai kerugian atau keuntungan yang diperoleh dari tiap penghasilan dan mungkin menyertakan penghasilan yang tidak menentu (Santi, 2012). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia rasional yaitu menurut pikiran dan pertimbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat, cocok dengan akal.
2.1.11 Kepatuhan Pajak
Definisi patuh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online Edisi IV tahun 2008 adalah suka menurut (perintah); taat (kepada perintah, aturan);
berdisiplin. Sedangkan kepatuhan memiliki definisi sifat patuh, ketaatan. Dengan demikian, kepatuhan adalah motivasi seseorang, kelompok, atau organisasi untuk berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Perilaku patuh seseorang merupakan interaksi perilaku individu, kelompok dan organisasi.
Menurut Menteri Keuangan No.544/KMK.04/2000 menyatakan bahwa
23
Universitas Kristen Petra
“Kepatuhan perpajakan adalah tindakan WP dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang berlaku dalam suatu negara”.
Ada pula kepatuhan WP dikemukakan Norman D.Nowak dalam (Siat dan Toly, 2013). sebagai suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercemin dalam situasi di mana:
1. WP pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas 3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar 4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya
Jadi kesimpulan kepatuhan WP adalah sikap taat, disiplin, dan patuh yang dilakukan individu atau kelompok terhadap perundang-undangan perpajakan dalam hal pemenuhan kewajiban perpajakannya.
Menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 544/KMK.04/2000 sebagaimana diubah terakhir dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.03/2007 tentang tata cara penetapan dengan kriteria tertentu dalam rangka pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak terdapat beberapa kriteria tertentu untuk disebut sebagai wajib pajak patuh. Hal ini dikemukakan dalam pasal 1 di mana dapat disebut wajib pajak patuh apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan;
2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak;
3. Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut; dan
4. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.
Nurmantu, Safri (2003, p.148-149) Kepatuhan perpajakan dapat didefinisikian:
24
Universitas Kristen Petra
Sebagai suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Ada dua macam kepatuhan yakni kepatuhan formal dan kepatuhan material. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan. Sedangkan kepatuhan material adalah suatu keadaan dimana wajib pajak secara substantif/hakekat memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai isi dan jiwa undang-undang perpajakan.
Kepatuhan material dapat meliputi juga keapatuhan formal. Jadi wajib pajak yang memenuhi kepatuhan material dalam mengisi SPT Tahunan Pajak Penghasilan, adalah wajib pajak yang mengisi dengan jujur, baik dan benar SPT tersebut sesuai dengan ketentuan dalam UU PPh dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu.
Kepatuhan Wajib Pajak dapat dipengaruhi oleh dua jenis faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri Wajib Pajak sendiri dan berhubungan dengan karakteristik individu yang menjadi pemicu dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Berbeda dengan faktor internal, faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri Wajib Pajak, seperti situasi dan lingkungan di sekitar Wajib Pajak (Fuadi dan Mangonting, 2013).
2.1.12 Persepsi
Persepsi menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2005:807) persepsi didefinisikan sebagai tanggapan atau penerimaan langsung dari sesuatu, atau merupakan proses seseorang untuk mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Menurut Kotler (2004 : 193) yang menyatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses di mana seseorang dapat memilih, mengatur, dan mengartikan imformasi menjadi suatu gambar yang sangat berarti di dunia.
Persepsi merupakan proses awal dari interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Melalui persepsi manusia menerima informasi dari dunia luar untuk kemudian dimasukkan dan diolah dalam sistem pengolahan informasi dalam otak. Pada hakikatnya, persepsi adalah proses yang dialami seseorang dalam memahami informasi tentang lingkungan baik melalui penglihatan,
25
Universitas Kristen Petra
pendengaran, penerimaan dan penghayatan perasaan. Secara umum persepsi diartikan sebagai proses pemberian arti terhadap rangsangan yang datang dari luar.
Menurut Gibson et al (1997:144), persepsi berperan dalam penerimaan rangsangan, mengaturnya dan menterjemahkan atau menginterpretasikan rangsangan yang sudah teratur itu untuk mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap dengan kata lain perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh persepsi orang tersebut. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa apa yang dipersepsikan oleh seseorang dengan orang lain dapat berbeda dalam pemaknaannya. Individu menangkap informasi (realitas) yang ada disekitar dengan menggunakan inderanya, kemudian dengan persepsinya diolah dan diberi arti. Berdasarkan itulah maka individu tersebut bersikap terhadap suatu hal.
Apapun yang ada di lingkungan sekitar dan ditangkap oleh indera tidak diartikan sama dengan realitasnya. Pengertian tersebut tergantung pada orang yang mempersepsikan, objek yang dipersepsikan, serta sekelilingnya.
Menurut Robbins (2001) dalam Dewinta (2012), persepsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Kepribadian, semua corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam.
b. Motif, merupakan faktor internal yang dapat merangsang perhatian, adanya motif menyebabkan munculnya keinginan individu melakukan sesuatu dan juga sebaliknya.
c. Kepentingan, hal yang paling utama yang ingin diperoleh atau yang ingin didapatkan yang dapat berguna bagi individu.
d. Pengalaman masa lalu, suatu rangsangan yang muncul atau terjadi secara berulang-ulang akan menarik perhatian sebelum mencapai titik jenuh.
e. Harapan, yang akan menentukan pesan mana yang akan dipilih tersebut akan ditata dan diinterpretasikan.
Menurut Robbins (2003:89) dalam (Dewinta, 2012)proses pembentukan persepsi dipengaruhi:
26
Universitas Kristen Petra
1. Faktor perhatian dari luar adalah kondisi - kondisi luar yang mempermudah individu untuk melakukan keinginan, meliputi intensitas, keberlawanan, pengulangan, dan gerakan.
2. Faktor dari dalam ( internal sets factor ) adalah faktor dari dalam diri seseorang yang memiliki proses persepsi antara lain proses belajar (learning), motivasi, dan kepribadian.
Persepsi dapat dinyatakan sebagai suatu proses pengorganisasian, pengintepretasian terhadap stimulus oleh organisasi atau individu sehingga merupakan suatu yang berarti dan merupakan aktivitas integrated dalam diri individu (Widayatai dan nurlis, 2010).
Persepsi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah persepsi objek dimana stimulus yang akan dipersepsikan adalah pajak, dengan hal ini yang ingin diketahui adalah Pengaruh kesadaran wajib pajak, pengetahuan dan pemahaman pajak,sanksi denda pajak dan kualitas pelayanan fiskus terhadap Persepsi Kepatuhan pajak.
2.2 Kajian Penelitian terdahulu
Sebagai acuan dan bahan pembanding dalam penelitian ini, maka dicantumkan beberapa penelitian oleh peneliti-peneliti sebelumnya, antara lain:
Penelitian oleh Jatmiko (2006). Penelitian oleh Agus Jatmiko (2006) Pengaruh sikap wajib pajak pada pelaksanaan sanksi denda, pelayanan fiskus dan kesadaran perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak (studi empiris terhadap wajib pajak orang pribadi di kota semarang). Penelitian ini menggunakan variabel independen sikap wajib pajak terhadap pelaksanaan sanksi denda, sikap wajib pajak terhadap pelayanan fiskus, sikap wajib pajak terhadap kesadaran perpajakan. Variabel dependen yang digunakan adalah kepatuhan wajib pajak. Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Menggunakan metode proportional sampling.
Responden/sample yang digunakan WPOP di kota semarang. Hasil analisis penelitian sikap wajib pajak terhadap sanksi denda, pelayanan fiskus, dan kesadaran perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak.
27
Universitas Kristen Petra
Penelitian oleh Rantung dan Adi (2009). Penelitian oleh Tatiana Vanessa Rantung dan Priyo Hari Adi Dampak Program Sunset Policy Terhadap Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kemauan Membayar pajak. (Studi pada Wajib Pajak Orang Pribadi Pelaku Usaha di Wilayah KPP Pratama Salatiga) Penelitian ini menggunakan variabel independen Kesadaran membayar pajak, Pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan, Persepsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan. Variabel dependen kemauan membayar pajak. Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Menggunakan purposive sampling dengan kriteria sample merupakan wajib pajak yang mempunyai NPWP.
Responden/sample yang digunakan WPOP Pengusaha di kota salatiga. Hasil analisis penelitian program sunset policy berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan dan persepsi yang baik atas sistem perpajakan terhadap kemauan membayar pajak.
Penelitian oleh (Widayati dan nurlis, 2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi kemauan untuk membayar pajak wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas (Studi Kasus Pada KPP Pratama Gambir Tiga).
Variabel independen/bebas yang digunakan adalah kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan Pemahaman peraturan perpajakan, dan perserpsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan. Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kemauan membayar pajak. Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Menentukan sampel dengan Purposive sampling yaitu sampel diambil secara acak dengan kriteria Wajib Pajak yang melakukan pekerjaan bebas yang menggunakan sistem pencatatan norma dan masih aktif melakukan kewajiban perpajakan. Responden/sample yang digunakan WPOP KPP Pratama Gambir Tiga. Hasil analisis penelitian Kesadaran membayar pajak dan persepsi yang baik atas efektivitas sistem perpajakan tidak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak. sedangkan pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
Penelitian oleh Hardiningsih dan Yulianawati (2011) Faktor-faktor yang mempengaruhi kemauan membayar pajak. Variabel independen/bebas yang digunakan adalah kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan Pemahaman
28
Universitas Kristen Petra
peraturan perpajakan, dan perserpsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan kualitas layanan publik. Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kemauan membayar pajak. Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Teknik pengumpulan data menggunakan convinience random sampling.
Sample yang diambil berdasarkan kemudahan untuk penelitian.
Responden/sample yang digunakan WPOP KPP Pratama Jepara. Hasil penelitian Hardiningsih dan Yulianawatii (2011) adalah ditemukan bahwa kesadaran membayar pajak dan kualitas layanan signifikan berpengaruh positif terhadap kemauan membayar pajak sedangkan (1)Pengetahuan peraturan perpajakan, (2)Pemahaman peraturan perpajakan, (3)Persepsi efektifitas sistem perpajakan tidak berpengaruh terhadap kemauan membayar pajak.
Penelitian Santi (2012) yang berjudul Analisis Pengaruh Kesadaran Perpajakan, Sikap Rasional, Lingkungan, Sanksi Denda dan Sikap Fiskus Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak . Variabel independen/bebas yang digunakan adalah Pengaruh Kesadaran Perpajakan, Sikap Rasional, Lingkungan, Sanksi Denda dan Sikap Fiskus. Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kepatuhan wajib pajak. Metode analisis yang digunakan analisis indeks dan regresi linear berganda. Teknik pengumpulan data menggunakan incidental sampling. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menguji secara empiris dan menganalisis pengaruh kesadaran perpajakan, sikap rasional, lingkungan, sanksi denda, dan sikap fiskus terhadap kepatuhan. Hasil penelitian adalah kesadaran perpajakan, sikap rasional, lingkungan,sanksi denda, dan sikap fiskus berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan,baik secara parsial dan simultan.
Penelitian oleh jatopurnomo dan mangonting (2013) Pengaruh kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan, lingkungan wajib pajak berada terhadap keaptuhan wajib pajak orang pribadi di surabaya. Variabel independen/bebas yang digunakan adalah pengaruh kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan, lingkungan wajib pajak berada.
Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kepatuhan membayar pajak.
Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Penelitian ini menggunakan purposive sampling. Responden/sample yang digunakan WPOP KPP Sawahan Surabaya. Hasil penelitian menujukkan bahwa kesadaran wajib
29
Universitas Kristen Petra
pajak, kualitas pelayanan fiskus,sanksi perpajakan, dan lingkungan wajib pajak berada berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi di Surabaya.
Penelitian oleh Fuadi dan Mangonting (2013) yang berjudul Pengaruh kualitas pelayanan petugas pajak, sanksi perpajakan dan biaya kepatuhan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM. Variabel independen/bebas yang digunakan adalah Pengaruh kualitas pelayanan petugas pajak, sanksi perpajakan dan biaya kepatuhan pajak. Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kepatuhan wajib pajak. Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda.
Penelitian ini menggunakan probability sampling. Responden/sample yang digunakan dinas koperasi dan UMKM Jawa Timur pada bulan oktober 2012, sebanyak 45 kuesioner kembali dan dapat diolah. Hasil penelitian menunjukkan kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM. Semakin baik kualitas pelayanan petugas pajak dan semakin berat sanksi perpajakan yang dikenakan pada Wajib Pajak UMKM maka akan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Di samping itu, biaya kepatuhan pajak berpengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Semakin besar biaya kepatuhan pajak maka kepatuhan Wajib Pajak UMKM akan menurun.
Penelitian oleh (Masruroh dan Zulaikha, 2013) yang berjudul Pengaruh kemanfaatan NPWP, pemahaman wajib pajak, kualitas pelayanan, sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak (studi empiris pada wp op di kabupaten tegal). Variabel indpenden/bebas yang digunakan adalah kemanfaatan npwp, pemahaman wajib pajak, kualitas pelayanan, dan sanksi perpajakan.
Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kepatuhan membayar pajak.
Metode analisis yang digunakan regresi logistik. Responden/sample yang digunakan wp op tegal. Menggunakan convience sampling. Hasil penelitian Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menggunakan regresi logistik menunjukkan bahwa hipotesis pertama (H1) ditolak. Hal ini berarti bahwa kemanfaatan NPWP tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak, pemahaman wajib pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. kualitas pelayanan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Dan sanksi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.
30
Universitas Kristen Petra
Penelitian oleh Siat dan Toly (2013) yang berjudul Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban membayar pajak di Surabaya. Variabel independen/bebas yang digunakan adalah faktor kesadaran perpajakan, faktor petugas pajak, faktor hukum pajak, faktor sikap rasional . Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kepatuhan wajib pajak. Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Penelitian ini menggunakan metode penyebaran secara langsung. Responden/sample yang digunakan WPOP pemilik toko di daerah mulyosari sebanyak 50 kuesioner. Hasil Penelitian menunjukkan faktor kesadaran perpajakan, sikap fiskus, hukum pajak, dan sikap rasional secara simultan dan secara parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap kepatuhan wajib pajak.
Penelitian oleh Kamil (2015). Penelitian oleh Kamil (2015) The effect of taxpayer awareness, knowledge, tax penalties and tax authorities services on the tax complience. Variabel independen/bebas yang digunakan adalah kesadaran membayar pajak, pengetahuan perpajakan, denda pajak, dan otoritas pajak.
Variabel terikat/dependen yang digunakan adalah kepatuhan membayar pajak.
Metode analisis yang digunakan regresi linear berganda. Responden/sample yang digunakan WPOP jabodetabek dan bandung. Menggunakan accidental sampling technique. Hasil penelitian menunjukkan kesadaran wajib pajak memiliki efek positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Pengetahuan memiliki efek negatif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Denda pajak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Otoritas pelayanan pajak memiliki hubungan yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak.
2.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori dan kajian penelitian di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini antara lain: Pengaruh kesadaran wajib pajak terhadap persepsi kepatuhan wajib pajak Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Hasil penelitian Jatmiko (2006) menunjukkan kesadaran wajib pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Sejalan dengan itu, hasil
31
Universitas Kristen Petra
penelitian Kamil (2015) yang menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh positif dan signifikan pada kepatuhan wajib masyarkat memiliki persepsi yang baik atau positif terhadap pajak. Menurut rantung dan Priyono (2009) Terdapat empat bentuk kesadaran : Kesadaran bahwa pajak merupakan sumber penerimaan terbesar negara. Dengan mengetahui hal tersebut, maka wajib pajak menyadari pentingnya pembayaran pajak dalam usaha peningkatan penerimaan negara. Kesadaran bahwa pajak adalah bentuk keikutsertaan dalam proses pembangunan negara. Dengan menyadari hal ini, wajib pajak mau membayar pajak karena merasa tidak dirugikan dari pemungutan pajak.
Kesadaran bahwa melakukan penundaan membayar pajak merugikan negara.Wajib pajak membayar pajak karen menyadari bahwa penundaan pembayaran pajak berdampak pada kurangnya sumber dana yang dapat mengakibatkan terhambatnya pembangunan negara. Kesadaran jika membayar pajak tidak sesuai dengan jumlah yang seharusnya dibayarkan dapat merugikan negara. Sehingga, jika wajib pajak semakin sadar dan mengetahui pentingnya pajak, maka akan meningkatkan tingkat kemaua membayar pajak dari wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H1 : Kesadaran wajib pajak berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan pajak.
Pengetahuan pajak adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seorang wajib pajak atau kelompok wajib pajak dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut widayati dan nurlis (2010) Pengetahuan adalah hasil kerja fikir (penalaran) yang merubah tidak tahu menjadi tahu dan menghilangkan keraguan terhadap suatu perkara. Hasil penelitian widyati dan nurlis (2010) menunjukkan pengetahuan dan pemahaman pajak berpengaruh negatif terhadap kemauan membayar pajak. Sejalan dengan itu, hasil penelitian Kamil (2015) yang menunjukkan bahwa pengetahuan pajak berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H2 : Pengetahuan pajak berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan pajak.
Pemahaman wajib pajak terhadap peraturan perpajakan adalah cara wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan yang telah ada. Pemahaman dan pengetahuan tentang peraturan perpajakan akan meningkatkan kemauan Wajib
32
Universitas Kristen Petra
Pajak untuk membayar pajak. Karena Wajib Pajak yang sudah memahami peraturan pajak kebanyakan berpikiran lebih baik membayar daripada terkena sanksi pajak. Hasil penelitian widayati dan nurlis,2010 menunjukan bahwa pemahaman berpengaruh negatif terhadap kemauan membayar pajak sedangkan menurut Hardingsih, 2011 setiap wajib pajak yang telah memahami peraturan sangat baik, biasanya akan melakukan aturan perpajakan yang sesuai dengan apa yang tercantum di dalam peraturan yang ada. Sedangkan hasil penelitian (Masruroh dan Zulaikha, 2013) menyatakan bahwa pemahaman berpengaruh postif terhadap kepatuhan pajak. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut: H3 : Pemahaman pajak berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan pajak.
Pengaruh sanksi denda pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian jatmiko (2006) menunjukkan denda pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak. Sejalan dengan itu, hasil penelitian kamil (2015) yang menunjukkan bahwa denda pajak berpengaruh positif dan signifikan pada kepatuhan wajib pajak. Undang-undang dan peraturan merupakan aturan hak dan kewajiban, segala tindakan yang diperkenankan dan yang tidak diperkenankan oleh masyarakat diatur oleh undang-undang. Agar peraturan undang-undang dipatuhi, maka harus ada sanksi bagi pelanggarnya, demikian juga dalam hukum pajak (Jatmiko,2006). WP akan mematuhi dan memenuhi tugas nya untuk membayar pajak jika wp memandang sanksi denda akan lebi banyak merugikan. Dan semakin banyak sisa tunggakan yang harus dibayar oleh WP, maka akan membuat WP semakin berat untuk melunasi. Oleh sebab itu sikap atau pandangan WP terhadap sanksi denda diduga akan berpengaruh terhadap Tingkat Kepatuhan WP (Jatmiko,2006). Sanksi merupakan hukuman negatif kepada orang yang melanggar peraturan, sehingga dapat disimpulkan bahwa sanksi perpajakan adalah hukuman negatif kepada orang yang melanggar peraturan dengan cara membayar uang (Jatopurnomo, 2013). Pelayanan pajak termasuk dalam pelayanan publik karena: dijalankan oleh instansi pemerintah, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan undang-undang dan tidak berorientasi pada profit atau laba (Fuadi, 2013). Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut :
33
Universitas Kristen Petra
H4: Sanksi Denda pajak berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan pajak.
Pengaruh Pelayanan otoritas pajak terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian jatmiko (2006) menunjukkan pelayanan fiskus berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak. Sejalan dengan itu, hasil penelitian kamil (2015) yang menunjukkan bahwa otoritas pelayanan pajak berpengaruh positif dan signifikan pada kepatuhan wajib pajak. Fiskus diharapkan memiliki kompetensi dalam arti memiliki keahlian (skill), pengetahuan (knowledge), dan pengalaman (experience) dalam hal kebijakan perpajakan, administrasi pajak dan perundang-undangan perpajakan. Selain itu fiskus harus memiliki motivasi yang tinggi sebagai pelayan publik (Jatmiko, 2006). Menurut Hardingsih, 2011 Kualitas layanan adalah pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dan tetap dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertangggungjawabkan serta harus dilakukan secara terus-menerus. Pelayanan sendiri pada sektor perpajakan dapat diartikan sebagai pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk membantu Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakannya (Jatopurnomo,2013). Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
H5: Kualitas Pelayanan otoritas pajak/fiskus berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan pajak.
Kemanfaatan NPWP terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian yang diperoleh (Masruroh dan Zulaikha, 2013) menyatakan bahwa pemanfaatan npwp berpengaruh negatif terhadap kepatuhan pajak. Pada teori pembelajaran sosial seharusnya wajib pajak dapat belajar dan menerapkan langsung apa yang telah dialami dan mengerti manfaat yang diperoleh dari kepemilikan npwp.
Pengamatan dan pengalaman langsung dapa menjadi dasar bagi wajib pajak untuk menilai kemanfaatan npwp (Masruroh, 2013). Hasil yang diperoleh penelitian masruroh menyatakan bahwa kemanfaatan npwp belum dapat memotivasi wajib pajak agar patuh dalam membayar pajak. Kepemilikan NPWP tidak menjamin wajib pajak akan memenuhi kewajiban untuk membayar dan melaporkan pajaknya. Meskipun telah memiliki NPWP, banyak wajib pajak yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Sedangkan menurut Priantara, 2011 dalam Masruroh, 2013 berpendapat bahwa kebutuhan mempunyai NPWP bagi Wajib
34
Universitas Kristen Petra
pajak dapat dikatakan kondisi dimana wajib pajak sangat memerlukan NPWP.
Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut H6:
Pemanfaatan npwp berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan wajib pajak.
Sikap rasional terhadap kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian yang diperoleh Santi,2012 sikap rasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak sejalan dengan hasil penelitian yang diperoleh oleh Siat,2013 bahwa sikap rasional berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak di Surabaya. Sikap rasional adalah pertimbangan WP atas untung ruginya memenuhi kewajiban pajaknya, ditunjukkan dengan pertimbangan WP terhadap keuangan apabila tidak memenuhi kewajiban pajaknya dan risiko yang akan timbul apabila membayar dan tidak membayar pajak Menurtu Hadi,2004 dalam Santi,2012. Menurut exchange theory (teori pertukaran sosial), dijelaskan bahwa dalam berperilaku, manusia bersikap rasional, menghitung keuntungan dan kerugian. Dalam interaksi sosial, individu cenderung memilih berinteraksi dengan orang yang memberikan rewards (pujian, hadiah, perhitungan) menurut Prihanti, 1992 dalam Santi, 2012. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis dirumuskan sebagai berikut
H7: Sikap Rasional berpengaruh terhadap persepsi kepatuhan pajak