• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

9

2. LANDASAN TEORI

2. 1. Pengertian Pajak

Pajak merupakan salah satu sumber pembiayaan bagi negara dalam menjalankan pemerintahan. Pajak ikut ambil bagian dalam pembangunan di seluruh aspek kehidupan di negara ini. Tanpa pajak, pembangunan tidak akan berjalan lancar karena besarnya pembiayaan yang diperlukan tidak akan bisa ditutupi dengan pinjaman dan bantuan luar negeri.

Menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang- Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Menurut Soemitro (1991), pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik, yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment. Dari definisi diatas disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:

a. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

b. Pajak dipaksakan. Hal ini berarti pelanggaran atas aturan perpajakan akan berakibat adanya sanksi.

c. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya timbal balik secara langsung oleh pemerintah.

d. Pajak dipungut oleh negara, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, tidak boleh dilakukan pihak swasta yang orientasinya adalah mencari laba.

(2)

e. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, maka akan dipergunakan untuk membiayai public investment.

2. 1. 2. Fungsi Pajak

Pengertian fungsi pajak adalah kegunaan pokok atau manfaat pokok pajak sebagai alat untuk menentukan politik perekonomian. Suatu negara dipastikan berharap kesejahteraan ekonomi masyarakatnya selalu meningkat dengan pajak sebagai salah satu sumber penerimaan negara, diharapkan banyak pembangunan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan negara (Rahayu, 2010:25). Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai fungsi sebagai berikut yaitu:

a. Fungsi Budgetair

Fungsi budgetair ini merupakan fungsi utama pajak, yaitu pajak dipergunakan sebagai alat untuk memasukkan dana secara optimal ke kas negara yang dilakukan sistem pemungutan berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku. Pajak berfungsi sebagai alat untuk memasukkan uang dari sektor swasta (rakyat) ke dalam kas negara atau anggaran negara berdasarkan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan fungsi inilah pemerintah sebagai pihak yang membutuhkan dana untuk membiayai berbagai kepentingan melakukan upaya pemungutan pajak ke penduduknya.

b. Fungsi Regulerend

Fungsi regulerend disebut juga fungsi mengatur, yaitu pajak merupakan alat kebijakan pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu. Merupakan fungsi lain dari pajak selain fungsi budgetair. Disamping usaha untuk memasukkan uang untuk kegunaan kas negara, pajak dimaksudkan juga sebagai usaha pemerintah untuk ikut andil dalam hal mengatur dan bilamana perlu mengubah susunan pendapatan dan kekayaan dalam sektor swasta. Fungsi regulerend juga sebagai fungsi tambahan, karena fungsi ini hanya sebagai tambahan atas fungsi utama pajak yaitu fungsi budgetair.

(3)

11 2. 1. 3. Sistem Pemungutan Pajak

Dalam sistem perpajakan dikenal official assesment system, self assesment system dan with holding system. Rahayu (2010:101) dalam bukunya menguraikan sistem tersebut sebagai berikut:

a. Official Assesment System merupakan sistem perpajakan dimana inisiatif untuk memenuhi kewajiban perpajakan berada di pihak fiskus. Jadi dalam sistem ini Wajib Pajak bersifat pasif sedangkan fiskus bersifat aktif. Menurut sistem ini utang pajak timbul apabila telah ada ketetapan pajak dari fiskus.

b. Self Assesment System adalah sistem pemungutan pajak dimana Wajib Pajak harus menghitung. Memperhitungkan, membayar, dan melaporkan jumlah pajak yang terutang. Aparat pajak hanya bertugas melakukan penyuluhan dan pengawasan untuk mengetahui kepatuhan Wajib Pajak. Untuk mensukseskan sistem tersebut dibutuhkan beberapa prasyarat dari Wajib Pajak antara lain:

1) Kesadaran Wajib Pajak

2) Kejujuran dan kedisiplinan Wajib Pajak 3) Kemauan membayar pajak dari Wajib Pajak

c. With Holding System adalah sistem pemungutan pajak yang mana besarnya pajak terutang dihitung dan dipotong oleh pihak ketiga. Pihak ketiga yang dimaksud disini antara lain pemberi kerja, dan bendaharawan pemerintah.

Sebagaimana telah diketahui bahwa dengan reformasi perpajakan tahun 1983, sistem perpajakan di Indonesia menganut self assesment system. Dari sistem tersebut yang paling utama yaitu adanya kewajiban Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, menyetor, melapor sendiri pajak yang terutang sesuai peraturan perundang-undangan perpajakan. Harapan agar sistem perpajakan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik diperlukan adanya kesadaran dan kepatuhan Wajib Pajak serta penegakan hukumnya.

(4)

2. 1. 4. Definisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah

Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ada beberapa kriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian dan kriteria Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

2. 1. 4. 1. Usaha Mikro

Pengertian dari Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Pasal 6 (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kriteria-kriteria usaha mikro ini meliputi:

1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Ciri-ciri yang dapat dilihat dari Usaha Kecil ini adalah jenis barang/komoditi usahanya tidak selalu tetap, tempat usahanya tidak selalu menetap, sewaktu-waktu dapat pindah tempat, belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun, dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha, sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai, tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah dan umumnya belum akses kepada perbankan, namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank.

Contoh usaha-usaha mikro ini adalah usaha tani pemilik dan penggarap perorangan, peternak, nelayan dan pembudidaya; industri makanan dan minuman, industri meubelair pengolahan kayu dan rotan,industri pandai besi pembuat alat- alat; usaha perdagangan seperti kaki lima serta pedagang di pasar; peternakan ayam, itik dan perikanan; usaha jasa-jasa seperti perbengkelan, salon kecantikan, ojek dan penjahit

(5)

13 2. 1 .4. 2. Usaha kecil

Pengertian dari Usaha Kecil ini adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Kriteria- kriteria mengenai Usaha Kecil ini adalah:

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

Ciri-ciri yang dapat dilihat dari usaha kecil ini adalah jenis barang/komoditi yang diusahakan umumnya sudah tetap tidak gampang berubah, lokasi/tempat usaha umumnya sudah menetap tidak berpindah-pindah, pada umumnya sudah melakukan administrasi keuangan walau masih sederhana, keuangan perusahaan sudah mulai dipisahkan dengan keuangan keluarga, sudah membuat neraca usaha, sumberdaya manusia (pengusaha) memiliki pengalaman dalam berwira usaha, dan sebagian sudah akses ke perbankan dalam hal keperluan modal.

Contoh dari usaha kecil ini adalah usaha tani sebagai pemilik tanah perorangan yang memiliki tenaga kerja; pedagang dipasar grosir (agen) dan pedagang pengumpul lainnya; pengrajin industri makanan dan minuman, industri meubelair, kayu dan rotan, industri alat-alat rumah tangga, industri pakaian jadi dan industri kerajinan tangan; peternakan ayam, itik dan perikanan dan koperasi berskala kecil.

(6)

2. 1. 4. 3. Usaha Menengah

Pengertian Usaha Menengah menurut Pasal 6 (3) Undang - Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Kriteria- kriteria untuk Usaha Menengah ini adalah :

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah)

Ciri- ciri yang biasanya dapat dilihat dari Usaha Menengah ini adalah pada umumnya telah memiliki manajemen dan organisasi yang lebih baik, lebih teratur bahkan lebih modern, dengan pembagian tugas yang jelas antara lain, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian produksi, telah melakukan manajemen keuangan dengan menerapkan sistem akuntansi dengan teratur, sehingga memudahkan untuk auditing dan penilaian atau pemeriksaan termasuk oleh perbankan, telah melakukan aturan atau pengelolaan dan organisasi perburuhan, telah ada Jamsostek, pemeliharaan kesehatan, sudah akses kepada sumber-sumber pendanaan perbankan, dan pada umumnya telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan terdidik.

Jenis atau macam usaha menengah hampir menggarap komoditi dari hampir seluruh sektor mungkin hampir secara merata, yaitu usaha pertanian, perternakan, perkebunan, kehutanan skala menengah; usaha perdagangan (grosir) termasuk ekspor dan impor; usaha jasa EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut), garment dan jasa transportasi taxi dan bus antar provinsi; usaha industri makanan dan minuman, elektronik dan logam dan usaha pertambangan batu gunung untuk kontruksi dan marmer buatan.

(7)

15 2. 1. 5. Kualitas Pelayanan

2. 1. 5. 1. Definisi Pelayanan dan Kualitas

Menurut Sumadi (2005), kualitas adalah keseluruhan ciri–ciri dan karakteristik dari suatu produk atau jasa menyangkut kemampuan untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan yang telah ditentukan atau yang telah bersifat laten. Menurut Supadmi (2009:217), secara sederhana kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pihak yang menginginkannya.

Hadiati (2003:298) mendefinisikan kualitas sebagai mana produk memenuhi spesifikasi–spesifikasinya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang. Sementara itu Pelayanan Umum menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 63/KEP/M/PAN/7/2003 diartikan: “Segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan perundang-undangan”. Boediono (2003) mengatakan pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar tercipta kepuasan dan keberhasilan.

Sedangkan pelayanan sendiri pada sektor perpajakan dapat diartikan sebagai pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk membantu Wajib Pajak memenuhi kewajiban perpajakannya.

Pelayanan pajak termasuk dalam pelayanan publik karena:

a. Dijalankan oleh instansi pemerintah.

b. Bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan undang-undang.

c. Tidak berorientasi pada profit atau laba.

Pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan dan tetap dalam batas memenuhi standar pelayanan yang dapat dipertangungjawabkan serta harus dilakukan secara terus-menerus.

Dengan demikian, yang dikatakan kualitas di sini adalah kondisi dinamis yang bisa menghasilkan:

(8)

a. produk yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

b. jasa yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

c. suatu proses yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

d. lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

Apabila jasa dari suatu instansi tidak memenuhi harapan pelanggan, berarti jasa pelayanan tidak berkualitas. Jika proses tidak memenuhi harapan pelanggan, seperti berbelit-belit (tidak sederhana), berarti mutu pelayanannya kurang.

Pelayanan kepada pelanggan dikatakan bermutu apabila memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau semakin kecil kesenjangan antara pemenuhan janji dengan harapan pelanggan adalah semakin mendekati ukuran bermutu.

2. 1. 5. 2. Ciri-Ciri Pelayanan

Ciri-ciri pelayanan menurut Kotler yang diterjemahkan oleh Aleksander Sindoro dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Pemasaran adalah sebagai berikut:

a. Intagibility, pelayanan tidak dapat dilihat, dikecap dan dirasakan.

b. Inseraperability, pelayanan yang diproduksi dan dikonsumsi pada waktu yang bersamaan dan tidak dapat dipisahkan dari penyediaannya.

c. Variability, pelayanan bervariasi tergantung pada siapa yang menyediakan pelayanan tersebut di samping waktu, tempat dan bagaimana mereka menyediakan.

d. Perishability, pelayanan tidak dapat disimpan, dijual atau dipakai kemudian.

2. 1. 5. 3. Pelayanan Petugas Pajak

Melalui Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak No. SE-84/PJ/2011 tentang Pelayanan Prima ditegaskan beberapa ketentuan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan petugas pajak kepada Wajib Pajak.

Adapun pelaksanaan pelayanan petugas pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) berpedoman pada hal berikut, yaitu:

1. Waktu pelayanan adalah pukul 08.00 sampai dengan 16.00 waktu setempat

(9)

17

2. Pegawai yang berhubungan langsung dengan Wajib Pajak harus menjaga sopan santun dan perilaku, ramah, tanggap, cermat dan cepat serta tidak mempersulit layanan, dengan cara:

a. Bersikap hormat dan rendah hati terhadap tamu.

b. Petugas selalu berpakaian rapi dan bersepatu.

c. Selalu bersikap ramah, memberikan 3S (Senyum,Sapa dan Salam) d. Mengenakan kartu identitas pegawai.

e. Mendengarkan dengan baik apa yang diutarakan oleh Wajib Pajak, tidak melakukan aktivitas lain misalnya menjawab panggilan telepon, makan dan minum atau mendengarkan musik saat memberi pelayanan.

f. Apabila masih terdapat layanan yang perlu dilakukan konfirmasi sehingga Wajib Pajak tidak menunggu terlalu lama, petugas dapat meminta nomor telepon Wajib Pajak untuk dihubungi kembali.

g. Tidak mengobrol atau bercanda berlebihan sesama petugas.

h. Menata waktu konsultasi dengan efektif dan efisien.

i. Menyerahkan dokumen atau tanda terima kepada Wajib Pajak dengan sopan.

3. Dalam merespon permasalahan dan memberikan informasi kepada Wajib Pajak, seharusnya:

a. Petugas memberikan informasi/penjelasan secara lengkap dan jelas sehingga Wajib Pajak dapat mengerti dengan baik.

b. Untuk lebih menyakinkan Wajib Pajak, petugas dapat menggunakan brosur/buku petunjuk teknis pelayanan.

c. Apabila petugas belum yakin terhadap permasalahan yang ditanganinya, segera diinformasikan ke petugas lain, supervisor atau atasan yang bersangkutan dan memberitahukan permasalahan yang disampaikan Wajib Pajak agar Wajib Pajak tidak ditanyai berkali-kali.

4. Setiap tamu yang datang,harus ada petugas keamanan yang menyambut, menanyakan keperluan dan mempersilahkan tamu dengan sopan untuk mengambil nomor antrian.

5. Akan lebih baik bila petugas dapat menjelaskan berapa lama Wajib Pajak harus menunggu.

(10)

6. Apabila terjadi aliran listrik padam atau sistem sedang rusak atau terganggu yang mengakibatkan petugas tidak dapat melayani dengan baik, sehingga Wajib Pajak menjadi tidak sabar/marah, maka yang harus diperhatikan adalah:

a. Petugas meminta maaf atas situasi tersebut.

b. Memberikan informasi bahwa listrik padam atau sistem sedang rusak.

c. Menanyakan kesediaan Wajib Pajak untuk menunggu.

d. Menanyakan nomor telepon yang bisa dihubungi apabila Wajib Pajak memilih untuk meninggalkan KPP untuk sementara waktu.

e. Memberitahu Wajib Pajak saat suasana sudah kembali normal dan proses sudah selesai.

f. Jika memungkinkan, agar disediakan minuman ringan kepada Wajib Pajak yang sedang menunggu.

7. Bila petugas terpaksa tidak dapat menerima laporan atau surat yang disampaikan oleh Wajib Pajak misalnya karena kurang lengkap, maka petugas harus menjelaskannya secara jelas dan ramah sampai Wajib Pajak memahami dengan baik.

2. 1. 5. 4. Dimensi Kualitas Pelayanan

Menurut Zeithaml (1990) terdapat 5 Dimensi kualitas pelayanan jasa yang dapat dirincikan sebagai berikut:

1. Tangibles, atau bukti fisik yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya pada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.

2. Reliability, atau keandalan yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Harus sesuai dengan harapan pelanggan berarti kinerja yang tepat waktu, pelayanan tanpa kesalahan, sikap simpatik dan dengan akurasi tinggi.

3. Responsiveness, atau ketanggapan yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas.

(11)

19

4. Assurance, atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopan santunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari komponen: komunikasi (Communication), kredibilitas (Credibility), keamanan (Security), kompetensi (Competence), dan sopan santun (Courtesy).

5. Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki suatu pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

2. 1. 6. Sanksi Perpajakan

Menurut M. Zain (2008:78) persepsi atas sanksi perpajakan adalah:

“Interpretasi dan pandangan Wajib Pajak dengan adanya sanksi perpajakan.”

Sebagaimana dimaklumi, suatu kebijakan berupa pengenaan sanksi dapat dipergunakan untuk dua maksud, yang pertama adalah untuk mendidik dan yang kedua adalah untuk menghukum. Dengan mendidik dimaksudkan agar mereka yang dikenakan sanksi akan menjadi lebih baik dan lebih mengetahui hak dan kewajibannya sehingga tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Maksud kedua adalah untuk menghukum sehingga pihak yang terhukum akan menjadi jera dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama (Mulyodiwarno, 2007).

Dalam undang-undang perpajakan dikenal dua macam sanksi, yaitu sanksi administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi dapat dijatuhkan apabila Wajib Pajak melakukan pelanggaran, terutama atas kewajiban yang ditentukan dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) dapat berupa sanksi administrasi bunga, denda dan kenaikan. Sedangkan sanksi pidana dapat hukuman kurungan dan hukuman penjara (Rahayu, 2010:13).

Menurut Resmi (2008:71), sanksi perpajakan terjadi karena terdapat pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan dimana semakin besar kesalahan yang dilakukan seorang Wajib Pajak, maka sanksi yang diberikan

(12)

juga akan semakin berat. Contoh pelanggaran yang sering dilakukan adalah keterlambatan dalam membayar pajak, kurang bayar dan kesalahan dalam pengisian SPT. Sanksi perpajakan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengikat Wajib Pajak akan tanggung jawabnya. Pemerintah sebaiknya memberikan sanksi yang tegas karena dapat meningkatkan kedisiplinan Wajib Pajak dalam hal ketepatan waktu membayar pajak, ketelitian dalam pengisian dan pelaporan SPT dan ketelitian dalam melaksanakan pencatatan dan pembukuan (Sartika dan Rini,2009).

Yadnyana (2009) dalam penelitiannya mengukur pandangan terhadap sanksi perpajakan menggunakan indikator sebagai berikut:

1. Sanksi pidana yang dikenakan bagi pelanggar aturan pajak memberatkan.

2. Sanksi administrasi yang dikenakan bagi pelanggar aturan pajak memberatkan.

3. Pengenaan sanksi yang cukup berat merupakan salah satu sarana untuk mendidik Wajib Pajak.

4. Sanksi pajak harus dikenakan kepada pelanggarnya tanpa toleransi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi atas sanksi perpajakan merupakan gambaran yang terstruktur dan bermakna pada hukuman yang dikenakan kepada Wajib Pajak yang tidak melaksanakan ketentuan peraturan perundangan- undangan perpajakan.

2. 1. 7. Biaya Kepatuhan Pajak

Sandford (1993) menyebutkan tiga macam biaya pajak (cost of taxation) yang terdiri dari sacrifice of income, distortion cost, dan running cost. Menurut Sandford, sacrifice of income adalah pengorbanan Wajib Pajak yang menggunakan sebagian penghasilan atau uang dan hartanya untuk membayar pajak, distortion cost adalah biaya yang timbul sebagai akibat perubahan- perubahan dalam proses produksi dan faktor produksi karena adanya pajak tersebut yang dapat menyebabkan perubahan pola perilaku ekonomi (sebagai contoh adalah pajak yang dapat menyebabkan disinsentif bagi individu dan badan usaha dalam berkonsumsi dan berproduksi) dan running cost yang diartikan oleh Sandford sebagai biaya-biaya yang tidak akan ada jika sistem perpajakan tidak ada yang terdiri dari administrative cost (biaya-biaya yang dikeluarkan oleh

(13)

21

compliance cost (biaya biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak dalam rangka melakukan pemenuhan kewajiban pajak). Besarnya biaya-biaya yang harus dikeluarkan Wajib Pajak dalam menyelenggarakan kewajiban perpajakannya, turut menentukan tingkat kepatuhan perpajakan. James Simon dalam studi Robert Pakpahan dan Toyomu Yuasa (2004), compliance cost adalah “the costs to the private sector of complying with the requirement of a tax”. Berdasarkan definisi tersebut compliance cost hanya meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Menurut Sanford dalam Nurmantu (2005:161), biaya kepatuhan pajak terbagi atas 3 yaitu direct money cost, time cost dan psychological cost.

2. 1. 7. 1. Direct Money Cost

Direct money cost adalah biaya-biaya cash money (uang tunai) yang dikeluarkan Wajib Pajak dalam rangka pemenuhan kewajiban pajak, seperti pembayaran kepada konsultan pajak dan biaya perjalanan ke bank untuk melakukan penyetoran pajak. Sandford mengelompokkan direct money cost sebagai biaya yang timbul sebagai dari adanya sistem pemungutan pajak self assessment. Menurut Guyton, O’Hare, Stavrianos, dan Toder (2003) sistem pemungutan pajak self assessment mengakibatkan biaya tambahan diluar pajak bagi Wajib Pajak terkait dengan pemenuhan kewajiban pajak yang dilakukan.

Biaya-biaya yang mungkin timbul dari sistem pemungutan pajak self assessment dapat meliputi antara lain pencatatan transaksi keuangan, penggunaan faktur pajak dan dokumen pajak lainnya, tax planning, biaya perjalanan ke bank atau kantor pos untuk menyetor pajak terutang atau melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) serta biaya konsultan pajak atau tax advisor.

2. 1. 7. 2. Time Cost

Time cost adalah waktu yang terpakai oleh Wajib Pajak dalam melakukan pemenuhan kewajiban pajak, antara lain waktu yang digunakan untuk membaca formulir SPT dan buku petunjuknya, waktu yang digunakan untuk berkonsultasi

(14)

dengan akuntan atau konsultan pajak dalam mengisi SPT, dan waktu yang digunakan untuk pergi dan pulang ke kantor pajak.

2. 1. 7. 3. Psychological Cost

Psychological cost meliputi ketidakpuasan, rasa frustasi, serta keresahan Wajib Pajak dalam berinteraksi dengan sistem dan otoritas pajak. Pendapat senada disampaikan oleh Sandford yang mengatakan bahwa psychological cost adalah rasa stress dan berbagai rasa takut atau cemas karena melakukan tax evasion. Pada penelitian ini, psychological cost tidak digunakan sebagai indikator yang mewakili variable biaya kepatuhan pajak, karena psychological cost mempunyai sifat berbanding terbalik dengan direct money cost dan time cost.

2. 1. 8. Kepatuhan Pajak

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, istilah kepatuhan berarti tunduk atau patuh pada ajaran atau aturan. Menurut Nurmantu dalam Rahayu (2010),

“Kepatuhan perpajakan adalah suatu keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hal perpajakannya”. Terdapat dua macam kepatuhan yaitu:

1. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan di mana Wajib Pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam undang- undang perpajakan.

2. Kepatuhan material adalah suatu keadaan di mana Wajib Pajak memenuhi semua ketentuan material perpajakan, yakni sesuai dengan isi dan jiwa undang- undang perpajakan. Kepatuhan material dapat juga meliputi kepatuhan formal.

Dalam perpajakan kita dapat memberi pengertian bahwa kepatuhan perpajakan merupakan ketaatan, tunduk dan patuh serta melaksanakan ketentuan perpajakan. Kepatuhan perpajakan yang dikemukakan oleh Nowak dalam Rahayu (2010), sebagai suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan tercermin dalam situasi dimana:

1. Wajib Pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan.

2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas.

(15)

23

3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar.

4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.

Kemudian merujuk pada kriteria Wajib Pajak patuh menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 544/KMK.04/2000, kriteria Wajib Pajak patuh adalah:

1. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam dua tahun terakhir.

2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu 10 tahun terakhir.

4. Dalam dua tahun terakhir menyelenggarakan pembukuan dan dalam hal terhadap Wajib Pajak pernah dilakukan pemeriksaan yang terakhir untuk masing-masing jenis pajak yang terutang paling banyak 5%.

5. Wajib Pajak yang laporan keuangannya untuk dua tahun terakhir di audit oleh akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba rugi fiskal

Wajib Pajak yang memenuhi kepatuhan material adalah Wajib Pajak yang mengisi dengan jujur, lengkap dan benar SPT sesuai ketentuan dan menyampaikannya ke KPP sebelum batas waktu berakhir.

Nashuca dalam Rahayu (2010) mengemukakan bahwa kepatuhan Wajib Pajak dapat diidentifikasi dari:

 kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri

 kepatuhan untuk menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan (SPT)

 kepatuhan dalam menghitung dan pembayaran pajak terutang, dan

 kepatuhan dalam pembayaran tunggakan

Dengan demikian, kepatuhan perpajakan merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang telah dilaksanakan oleh Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku berdasarkan undang-undang perpajakan.

2.2 Kajian Penelitian Terdahulu

Sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian ini akan dicantumkan beberapa hasil penelitian terdahulu oleh beberapa peneliti sebelumnya, antara lain, yaitu:

(16)

Penelitian yang dilakukan oleh Andriana (2011) di KPP Pratama Kota Bandung menguji dua variabel bebas yaitu penerapan self assesment dan kualitas pelayanan pajak terhadap peningkatan kepatuhan formal Wajib Pajak. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh kualitas pelayanan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Penelitian yang dilakukan oleh Putra untuk melihat pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepatuhan Wajib Pajak orang pribadi di KPP Pratama Blitar, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa variabel kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak orang pribadi, akan tetapi indikator empathy menunjukkan pengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib Pajak orang pribadi.

Karsimiati (2009) meneliti tentang pengaruh pelayanan fiskus, sanksi denda dan kesadaran perpajakan terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sikap Wajib Pajak terhadap sanksi denda berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Muliary dan Ery (2006) mengenai pengaruh persepsi sanksi perpajakan dan kesadaran Wajib Pajak terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak orang pribadi di KPP Pratama Denpasar Timur, hasil penelitian menunjukkan persepsi tentang sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak orang pribadi. Penelitian Yadnyana (2009) mengenai pengaruh persepsi Wajib Pajak atas sanksi perpajakan terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakan juga menunjukkan persepsi Wajib Pajak atas sanksi perpajakan memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Hal ini berarti bahwa adanya sanksi perpajakan mampu memberikan kesadaran kepada Wajib Pajak sehingga mereka bertanggung jawab dan mematuhi kewajiban perpajakannya.

Penelitian Prasetyo (2008) menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan masyarakat Indonesia dalam membayar pajak masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia Tenggara. Biaya kepatuhan pajak, yang ditanggung oleh Wajib Pajak, menurut penelitiannya berpengaruh negatif terhadap kepatuhan pajak, sehingga semakin besar biaya kepatuhan pajak, maka tingkat kepatuhan juga semakin rendah.

(17)

25 2.3 Hipotesis

Menurut Risnawati dan Suhayati (2009),Direktorat Jendral Pajak perlu meningkatkan pelayanan pajak yang baik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, agar memunjang kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, dan tercapainya tujuan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan dan roda pemerintah berjalan dengan baik. Melalui Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak No. SE-84/PJ/2011 tentang Pelayanan Prima ditegaskan beberapa ketentuan dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan petugas pajak kepada Wajib Pajak. Penelitian yang dilakukan oleh Andriana (2011) menunjukkan bahwa pengaruh kualitas pelayanan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak, namun penelitian yang dilakukan oleh Putra menunjukkan variabel kualitas pelayanan berpengaruh signifikan dengan indikator tangible, responsiveness, assurance, dan reliability berpengaruh positif dan indikator empathy berpengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib Pajak orang pribadi ke. Berdasarkan pernyataan dan penelitian sebelumnya, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H0: Kualitas Pelayanan Petugas Pajak secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

H1: Kualitas Pelayanan Petugas Pajak secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

Menurut Nugroho (2006) ,Wajib Pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya apabila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya. Di samping itu, menurut Gatot S. M Faisal (2009:37) menyatakan bahwa: “Walaupun ada potensi penerimaan Negara pada setiap sanksi, namun motivasi penerapan sanksi adalah agar Wajib Pajak patuh melaksanakan kewajiban perpajakannya”. Didukung pula dengan adanya penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muliary dan Ery (2006), dimana hasil penelitian tersebut menyatakan persepsi tentang sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak orang pribadi dan penelitian Karsimiati yang menunjukkan bahwa sikap Wajib Pajak terhadap sanksi denda berpengaruh

(18)

negatif terhadap kepatuhan Wajib Pajak, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H0: Sanksi Perpajakan secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

H2: Sanksi Perpajakan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

Biaya Kepatuhan Pajak merupakan biaya-biaya yang ditanggung oleh Wajib Pajak terkait dengan pemenuhan kewajiban pajak. Karena Wajib Pajak telah berusaha patuh untuk membayar pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku, maka Wajib Pajak berharap agar dapat mengeluarkan biaya-biaya seminimal mungkin yang terkait dengan pemenuhan kewajiban pajaknya, meliputi direct money cost maupun time cost dan psychological cost. Namun, apabila jumlah biaya kepatuhan pajak yang dikeluarkan lebih besar daripada ekspektasi Wajib Pajak, maka timbul potensi dalam diri Wajib Pajak untuk menjadi tidak patuh dalam melakukan pemenuhan kewajiban pajaknya. Berdasarkan pernyataan sebelumnya dan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo (2008) dimana hasil penelitiannya menyatakan bahwa biaya kepatuhan pajak berpengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib Pajak, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H0: Biaya Kepatuhan Pajak secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

H3: Biaya Kepatuhan Pajak secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

Dari beberapa kajian penelitian dan teori diatas, maka penelitian ini penulis menggabungkan beberapa variabel dari penelitian yang berbeda. Sehingga penulis mengambil variabel bebas kualitas pelayanan petugas pajak, sanksi perpajakan dan biaya kepatuhan pajak, sedangkan variabel tidak bebas yang digunakan adalah kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Oleh karena itu, peneliti merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H0: Kualitas Pelayanan Petugas Pajak, Sanksi Perpajakan dan Biaya Kepatuhan Pajak secara simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

(19)

27

H4: Kualitas Pelayanan Petugas Pajak, Sanksi Perpajakan dan Biaya Kepatuhan Pajak secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM.

Referensi

Dokumen terkait

Kemudian divisualisasikan dalam bentuk karya kayu tiga dimensi dan dua dimensi dengan menggabungkan beberapa macam kayu yang memiliki warna alami seperti kayu

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan sektor konstruksi dan bangunan periode 2013-2017 karena sektor ini menjadi salah satu sektor yang berpengaruh terhadap

External failure cost merupakan biaya yang terjadi setelah pengiriman produk ke konsumen atau pengguna yang mengalami ketidaksesuaian atau kecacatan seperti biaya terhadap

Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sherly Rakhmawati yang berjudul ―pengaruh kepercayaan, persepsi kegunaan, persepsi kemudahan,

Berdasarkan uraian yang telah di paparkan terdahulu maka berikut ini pe- nulis akan menguraikan inti dari bentuk kesimpulan adalah sebagai berikut bahwa dalam penerapan sangsi

yang berkembang di Jawa umumnya berarah barat-timur, maka secara teoritis dapat diinterpretasikan kelu- rusan struktur dengan arah barat- timur sebagai sesar naik

Road Map penelitian yang berjudul “Pembuatan Matriks Hidroksiapatit-Kitosan untuk Bahan Baku Filamen Tulang Buatan dari Limbah Cangkang Rajungan (Portunus Pelagicus) dengan

bank konvensional nilai minimum rasio LDR dimiliki oleh Bank Bukopin sedangkan nilai maksimum dimiliki oleh Bank Mandiri, hal ini dikarenakan nominal dari loan