2.1. Risiko
Risiko adalah ketidakpastian yang memungkinkan lahirnya peristiwa kerugian (loss) (A. Abas Salim). Risiko muncul apabila tidak ada kepastian mengenai masa depan. Perorangan maupun perusahaan menghadapi dua macam resiko – speculative risk dan pure risk. Speculative risk (resiko sepkulatif) memiliki tiga kemungkinan hasil : rugi, untung atau tidak ada perubahan.
Contohnya anda membeli saham, anda berspekulasi bahwa nilai saham tersebut akan naik dan anda akan memperoleh laba dari investasi anda. Namun anda juga tau bahwa nilai saham tersebut dapat jatuh dan bahwa anda akan kehilangan seluruh atau sebagian uang yang anda investasikan. Terakhir anda tahu bahwa nilai saham dapat tidak berubah – anda tidak kehilangan maupun memperoleh laba dari uang yang anda investasikan.
Pure Risk (risiko murni) tidak memiliki kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan; timbul kerugian atau tidak timbul kerugian. Contoh dari risiko murni adalah kemungkinan bahwa anda mengalami cacat. Jika anda tidak bisa bekerja, anda akan mengalami kerugian finansial. Sebaliknya jika tidak pernah mengalami cacat, maka anda tidak mengalami kerugian dari risiko tersebut. Kemungkinan kerugian finansial tersebut tanpa kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan – risiko murni – adalah satu – satunya risiko yang dapat diasuransikan. Tujuan dari asuransi adalah memberikan kompensasi atas kerugian finansial, dan tidak memberikan kesempatan untuk mendapatkan finansial.
Untuk mengeliminasi atau mengurangi keterpaparan kita terhadap risiko finansial tertentu, ada empat opsi yaitu menghindari risiko tersebut, mengendalikan risiko tersebut, menerima risiko tersebut dan mengalihkan risiko tersebut.
1. Menghindari risiko
Menghindari risiko, metode risiko yang pertama, dan mungkin yang paling mudah dilakukan adalah menghindari risiko sama sekali. Kita dapat menghindari risiko. Kita dapat menghindari risiko cidera diri yang disebabkan oleh pesawat terbang yang jatuh dengan jalan tidak naik pesawat terbang.
2. Mengendalikan risiko
Mengendalikan risiko, kita dapat berusaha untuk mengendalikan risiko dengan mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan mengurangi risiko.
Misalnya, Jack dan Jean memiliki dan mengelola toko kelontong, untuk mencegah terjadinya kebakaran mereka melarang orang untuk merokok di dalam toko mereka dan tidak menyimpan kotak kardus atau kertas di sekitar toko. Di samping itu, mereka juga dapat memasang detektor asap dan sistem penyemprotan air pemadam kebakaran di dalam toko mereka guna menekan kerusakan yang ditimbulkan oleh kebakaran.
3. Menerima risiko
Menerima risiko, metode pengelolaan risiko yang ketiga, menerima atau menahan risiko. Secara sederhana dinyatakan, menerima risiko sama dengan menanggung seluruh tanggung jawab finansial atas risiko tersebut.
Misalnya Danielle dan John Peret, keduanya bekerja, adalah orang tua dari dua anak usia sekolah. Mereka punya risiko untuk menderita cacat dan tidak bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Mereka dapat memutuskan untuk tidak membeli asuransi disability income karena mereka yakin bahwa mereka dapat menurunkan standar hidup mereka jika salah satu dari mereka menderita cacat.
4. Mengalihkan risiko
Mengalihkan risiko, merupakan metode manajemen risiko yang keempat. Apabila anda mengalihkan risiko ke pihak lain, anda mengalihkan tanggung jawab finansial atas risiko tersebut ke pihak lain, yang umumnya atas dasar pemberian imbalan. Cara yang paling umum bagi perorangan, keluarga dan perusahaan untuk mengalihkan risiko adalah dengan membeli pertanggungan asuransi.
2.2. Asuransi
Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum perniagaan atau Wetbook van Koophandel memberikan definisi tentang asuransi sebagai berikut : “Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu” (Pengantar Asuransi, Drs. A. Hasymi Ali, halaman 3)
Perusahaan-perusahaan asuransi telah menyokong riset keselamatan dan lain lain. Suatu faedah penting dari asuransi adalah fungsinya pengganti kerugian.
Banyak keluarga dan perusahaan sesudah terjadi kerugian dapat hidup terus secara utuh karena kerugian itu diganti sepenuhnya atau sebagian oleh dana-dana asuransi.
Pada dasarnya asuransi adalah “janji untuk membantu menanggung beban keuangan akibat suatu malapetaka atau musibah yang dapat terjadi sewaktu- waktu”. Perusahaan asuransi berjanji apabila sesuatu mengalami kecelakaan/
musibah misalnya karena rumah terbakar, kecelakaan atau barang-barang hilang maka perusahaan asuransi akan membayar mengganti kerugian dan penggantian diberikan biasanya dalam bentuk sejumlah uang.
Tentu hal ini dapat terjadi bukan karena kebaikan hati atau belaskasihan, akan tetapi semata-mata atas dasar perjanjian asuransi yang dituangkan dalam bentuk apa yang dinamakan polis asuransi. Dengan adanya polis tersebut pihak perusahaan asuransi mengikatkan dirinya untuk memberikan penggantian bila yang diasuransikan mengalami kerugian akibat peristiwa yang disetujui sebelumnya oleh pihak perusahaan asuransi sebagai risiko yang menjadi bebannya. Perihal ini semuanya tertera didalam polis asuransi perusahaan yang bersangkutan.
Asuransi jiwa menurut Walean (1990;22) adalah:
a. Merupakan wadah atau wahana yang memberi kesempatan pada setiap orang untuk memupuk sejumlah dana secara berangsur guna mengatasi risiko keuangan yang akan terjadi kelak bila kepala keluarga meninggal dunia sebelum usia lanjut atau menjalani usia tua.
b. Asuransi jiwa menggugah manusia untuk berpikir secara benar serta mempunyai pandangan hidup jauh kedepan dengan memperhitungkan segala risiko (ekonomi) dalam kehidupan.
c. Asuransi jiwa akan mengarahkan pedoman hidup manusia menuju keselamatan dan ketentraman hidupnya didunia karena manfaat atau faedahnya baru akan dirasakan pada saat menghadapi problema keuangan yang pasti terjadi dihari esok atau setelah manusia berumur tua (tidak mampu lagi berpenghasilan).
Selanjutnya, Dani J Long (Prinsip-prinsip Asuransi, Jiwa, Kesehatan, dan Anuitas, Edisi kedua) memaparkan asuransi akan memberikan manfaat kepada : 1. Primary Beneficiary
Primary beneficiary, atau first beneficiary (beneficiary pertama), adalah pihak yang ditunjuk untuk menerima manfaat polis apabila tertanggung meninggal dunia (biasanya istri, dan anak-anak pemegang polis). Jika ada lebih dari satu pihak yang ditunjuk sebagai beneficiary maka pemegang polis dapat menentukan bagaimana pembagian manfaat polis. Jika pemegang polis tidak menyebutkan tentang pembagian manfaat polis maka perusahaan asuransi akan membagi rata manfat polis diantara para beneficiary yang masih hidup ketika tertanggung meninggal dunia.
Contoh : Pada waktu meninggal, Val Lundy memiliki sebuah polis asuransi jiwa atas dirinya. Ketiga saudara lelaki Val disebut sebagai beneficiary polis dan ketiga orang itu hidup lebih lama daripada Val. Kecuali Val menyatakan lain, manfaat polis akan dibagikan rata kepada ketiga beneficiary itu.
2. Contigent Beneficiary
Contigent beneficiary, yang terkadang juga disebut secondary beneficiary (beneficiary kedua) atau succesor beneficiary (beneficiary pengganti), dapat menerima manfaat polis hanya apabila semua primary beneficiary yang ditunjuk telah lebih dulu meninggal daripada tertanggung.
Pemegang polis dapat menunjuk berapa orangpun secondary beneficiary dan dapat menentukan cara pembagian manfaat polis diantara para beneficiary.
Contoh : Ira Shulman memiliki polis asuransi jiwa bernilai $50.000 atas dirinya. Dia menunjuk istrinya, Myrna sebagai primary beneficiary dan putra putranya, Abe dan Jacob, sebagai equal contigent beneficiary. Myrna dan Abe meninggal beberapa tahun sebelum Ira meninggal.
Sebagai satu-satunya contigent beneficiary yang masih hidup, Jacob berhak menerima manfaat sebesar $50.000 itu.
Asuransi terbagi menjadi 3 bagian yaitu asuransi term life insurance, whole life insurance dan endowment inurance.
2.3. Term Life Insurance
Term Life Insurance adalah asuransi yang memberikan manfaat kematian jika tertanggung meninggal dalam jangka waktu tertentu. Sesuai dengan definisinya, seluruh produk asuransi berjangka memberikan pertanggungan dalam jangka waktu tertentu yang disebut policy terms (jangka waktu polis). Manfaat polis dari term life ini dibayarkan hanya apabila tertanggung meninggal dalam jangka waktu yang ditetapkan dan polis yang masih inforce ketika tertanggung meninggal. Jika tertanggung masih hidup sampai berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan, polis tersebut dapat memberikan hak kepada pemegang polis untuk melanjutkan pertanggungan asuransi jiwa. Jika pemegang polis tidak melanjutkan pertanggungan itu, maka polis berakhir dan perusahaan asuransi tidak berkewajiban untuk memberikan pertanggungan selanjutnya.
Lamanya jangka waktu sangat berbeda antara satu polis dengan polis lain.
Jangka waktu dapat sesingkat waktu yang diperlukan untuk melakukan perjalanan pesawat terbang atau selama 40 tahun atau lebih. Namun, biasanya perusahaan asuransi jarang menjual asuransi jiwa berjangka untuk jangka waktu yang kurang
dari 1 tahun. Jangka waktu yang dapat ditetapkan dalam jumlah tahun tertentu - 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun - atau dapat ditetapkan dengan menentukan usia tertanggung pada akhir jangka waktu polis. Misalnya, polis asuransi berjangka yang memberikan pertanggungan hingga usia 65 tahun disebut jangka waktu hingga usia 65 tahun (term to age 65), dan pertanggungan polis berakhir pada ulang tahun polis yang jatuh pada tanggal yang terdekat atau setelah ulang tahun tertanggung yang ke 65. Pada umumnya policy anniversary (ulang tahun polis) merupakan tanggal hari ketika manfaat polis mulai berlaku efektif. Baik tanggal berakhir maupun tanggal ulang tahun polis biasanya tercantum di halaman depan polis.
Perlindungan asuransi jiwa berjangka biasanya tersedia dalam bentuk polis asuransi, namun juga dapat tersedia dalam bentuk sebuah rider (asuransi tambahan) yang ditambahkan pada polis tersebut. Policy Rider, yang disebut juga endorsement, adalah perubahan dari polis asuransi dasar yang menjadi bagian dari kontrak asuransi yang dapat diperluas atau dibatasi manfaatnya yang dapat dibayarkan menurut kontrak. Policy Rider secara hukum berlaku seperti halnya dengan bagian lain dalam kontrak asuransi. Rider pada umumnya digunakan untuk memberikan manfaat tambahan atau untuk meningkatkan manfaat kematian yang diberikan oleh suatu polis, meskipun rider juga dapat digunakan untuk membatasi atau mengubah polis.
Macam-macam term life insurance adalah Level Term Live Insurance, Decreasing Term Life Insurance, dan Increasing Term Life Insurance.
2.3.1. Level Term Live Insurance
Bentuk asuransi berjangka yang paling umum adalah level term insurance (asuransi jiwa berjangka dengan uang pertanggungan tetap) yang memberikan manfaat kematian dalam jumlah yang sama selama jangka waktu polis tersebut.
Misalnya, dengan polis berjangka tetap 5 (lima) tahun yang memberikan pertanggungan sebesar $100.000, perusahaan asuransi setuju untuk membayar
$100.000 apabila sewaktu-waktu tertanggung meninggal selama jangka waktu 5 (lima) tahun polis tersebut inforce. Besarnya masing-masing premi lanjutan yang harus dibayarkan untuk level term life insurance policy biasanya tetap sama selama jangka waktu pertanggungan yang telah ditetapkan.
2.3.2. Decreasing Term Life Insurance
Decreasing Term Life Insurance (asuransi jiwa berjangka dengan uang pertanggungan menurun) memberikan manfaat kematian yang nilainya menurun selama jangka waktu pertanggungan. Manfaat polis ini dimulai dengan sebagai suatu nilai pertanggungan yang telah dan kemudian menurun selama jangka waktu pertanggungan sesuai dengan metode yang dijelaskan dalam polis. Misalnya, anggaplah manfaat selama tahun pertama pertanggungan sebuah decreasing term policy untuk jangka waktu 5 (lima) tahun adalah $50.000 dan kemudian menurun
$10.000 pada setiap ulang tahun polis. Pertanggunggannya menjadi sebesar
$40.000 untuk tahun polis kedua; $30.000 untuk tahun ketiga; $20.000 untuk tahun keempat; dan $10.000 untuk tahun terakhir. Pada akhir tahun kelima polis, pertanggungan tersebut berakhir. Besarnya premi lanjutan yang dibayarkan untuk decreasing term insurance policy biasanya tetap selama masa pertanggungan.
Macam-macam decreasing term insurance, yaitu mortage redemption insurance (asuransi ganti rugi hipotek), credit life insurance (asuransi jiwa kredit),dan family income insurance (asuransi penghasilan keluarga)
2.3.2.1. Mortage Redemption Insurance
Mortage Redemption Insurance (asuransi ganti rugi hipotek) merupakan salah satu jenis decreasing term insurance yang dirancang untuk memberikan manfaat kematian yang nilainya sesuai dengan decreasing amount yang terhutang atas pinjaman hipotek (atau KPR / Kredit Kepemilikan Rumah). Jangka waktu polis mortage redemption insurance ditentukan berdasarkan lamanya pinjaman hipotek, yang biasanya 15 (lima belas) atau 30 (tiga puluh). Besarnya premi lanjutan yang dibayarkan untuk mortage redemption insurance umumnya tetap sama selama masa pertanggungan. Salah satu jenis mortage redemption insurance ini adalah joint mortage redemption insurance (asuransi ganti rugi hipotek gabungan). Joint mortage redemption insurance memberikan manfaat yang sama dengan polis mortage redemption, kecuali bahwa polis gabungan ini memberikan pertanggungan bagi dua orang. Apabila kedua tertanggung masih hidup sampai akhir masa polis yang telah ditetapkan, polis joint mortage ini pun berakhir.
Namun apabila pada masa polis masih inforce salah satu dari tertanggung meninggal dunia maka manfaat joint mortage ini akan diberikan kepada beneficiary yang tidak lain ada tertanggung yang masih hidup.
2.3.2.2. Credit Life Insurance
Credit Life Insurance (asuransi jiwa kredit) merupakan salah satu jenis asuransi jiwa berjangka yang dirancang untuk membayar sisa pinjaman yang jatuh tempo jika pihak peminjam meninggal dunia sebelum pinjaman tersebut lunas.
Seperti halnya mortage redemption insurance, credit life insurance biasanya juga merupakan decreasing term insurance. Berbeda dengan polis asuransi mortage redemption, polis credit life insurance selalu menyatakan bahwa manfaat polis langsung dibayarkan kepada pihak pemberi pinjaman atau kreditur jika peminjam yang menjadi tertanggung meninggal dunia dalam jangka pertanggungan polis.
Biasanya, pinjaman tersebut harus berupa jenis pinjaman yang dapat dilunasi dalam waktu 10 (tahun) tahun atau kurang. Credit life insurance tersedia untuk kredit mobil, kredit furniture, dan pinjaman pribadi lainnya.
2.3.2.3. Family Income Insurance
Family Income Insurance (pertanggungan penghasilan keluarga) merupakan salah jenis decreasing terms insurance yang memberikan manfaat penghasilan bulanan yang telah ditetapkan kepada pasangan tertanggung yang masih hidup apabila tertanggung meninggal dunia selama jangka waktu pertanggungan polis. Manfaat penghasilan bulanan terus berlangsung sampai akhir jangka waktu yang telah ditetapkan pada saat pertanggungan polis tersebut dibeli. Family income coverage merupakan salah satu bentuk decreasing terms insurance karena semakin lama tertanggung hidup selama jangka waktu pertanggungan, semakin singkat jangka waktu yang diperlukan perusahaan asuransi untuk membayar manfaat penghasilan bulanan; semakin singkat jangka waktu pembayaran manfaat polis; semakin kecil nilai manfaat yang akan dibayar oleh perusahaan asuransi.
2.3.3. Increasing Term Life Insurance
Increasing Term Life Insurance (asuransi jiwa berjangka dengan uang pertanggungan yang meningkat) memberikan suatu manfaat kematian yang dimulai pada suatu nilai dan meningkat dengan nilai atau persentase tertentu pada interval yang telah ditetapkan selama jangka waktu polis. Misalnya, sebuah
perusahaan asuransi dapat memberikan manfaat polis yang dimulai dari $100.000 dan kemudian meningkat 5% pada setiap tanggal ulang tahun polis selama jangka waktu polis. Atau, nilai pertanggungan dapat meningkat seiring dengan meningkatnya biaya hidup, sebagaimana terukur oleh indeks baku seperti Consumer Price Index (CPI) (Indeks Harga Konsumen). Premi untuk increasing terms life insurance biasanya juga meningkat sejalan dengan meningkatnya nilai pertanggungan. Pemegang polis biasanya diberikan pilihan untuk setiap saat menghentikan kenaikkan nilai pertanggungan yang diberikan oleh increasing terms life insurance. Pertanggungan ini dapat diberikan oleh polis increasing term life term atau, yang lebih umum, sebagai rider dari polis tersebut.
2.4. Whole Life Insurance
Whole Life Insurance memberikan pertanggungan seumur hidup dengan level premium rate (tarif premi tetap) yang tidak meningkat sejalan dengan bertambahnya usia tertanggung. Perusahaan asuransi menggunakan level premium system (sistem premi tetap) dalam menetapkan premi asuransi jiwa supaya tarif premi tersebut tidak mengalami kenaikan sejalan dengan kenaikan mortality rates (tingkat mortality) tertanggung. Perusahaan asuransi menginvestasikan excess premium dollars yang dikumpulkannya pada awal tahun dalam level premium system dan mengakumulasikan asset yang sekurang-kurangnya setara dengan besarnya policy reserve liability yang dibuat oleh perusahaan asuransi untuk polis tersebut. Polis whole life insurance memiliki unsur tabungan yang dikenal sebagai cash value (nilai tunai) dari polis. Polis whole life memuat suatu tabel yang mengilustrasikan bagaimana cash value tersebut dapat berkembang dari waktu ke waktu. Jika karena sesuatu hal polis tidak lagi inforce sampai tertanggung meninggal, maka perusahaan asuransi sepakat untuk membayar cash value tersebut kepada pemegang polis – dikurangi dengan biaya-biaya adminitrasi dan pinjaman polis yang tertunggak.. Karena pada umumnya pemegang polis berhak untuk menutup polis permanent life insurance untuk mendapatkan cash value-nya sewaktu ia masih hidup, maka besarnya cash value yang berhak diterima oleh pemegang polis atas penutupan polis tersebut disebut dengan cash surrender value atau surrender value.
Besarnya uang pertanggungan dalam polis pada suatu waktu tergantung dari beberapa faktor, seperti uang pertanggungan dari polis, lamanya polis telah inforce, dan lamanya jangka waktu pembayaran premi dalam polis. Cash Value yang ada didalam whole life bisa dijadikan suatu jaminan pinjaman.
Whole Life dapat dikelompokkan menurut lamanya jangka waktu pembayaran premi polis. Sebagian besar whole life policies dikelompokkan menjadi continuous-premium policies (polis premi berkelanjutan), limited- payment policies (polis pembayaran terbatas), dan single-premium policies (polis premi tunggal)
2.4.1. Continuous-premium policies
Di dalam continuous-premium whole life policy (terkadang disebut straight life insurance policy atau ordinary life insurance policy), premi dibayarkan sampai tertanggung meninggal dunia. Karena premi dapat dibayar selama berlakunya polis, maka jumlah setiap pembayaran premi yang diperlukan untuk continuous-premium whole life policy tersebut lebih rendah daripada jumlah premi yang diperlukan dalam jadwal pembayaran premi lainnya.
2.4.2. Limited-payment policies
Limited-payment whole life policy merupakan sebuah polis whole life dimana premi dibayarkan hanya sampai jangka waktu yang telah ditetapkan berakhir atau sampai tertanggung meninggal dunia, mana yang terlebih dahulu.
Jangka waktu pembayaran premi dalam polis dapat ditentukan dengan salah satu dari dua cara berikut ini:
1. Premi dapat dibayarkan selama beberapa tahun tertentu. Umpamanya, polis asuransi 20-payment whole life merupakan polis dimana premi dapat dibayarkan selama 20 (dua puluh) tahun.
2. Premi dapat dibayarkan sampai tertanggung mencapai usia tertentu.
Umpamanya, polis paid-up-at-age-65 berarti premi dapat dibayarkan dibayarkan hingga tertanggung mencapai ulang tahun polis sebelum atau sesudah ulang tahun tertanggung yang ke-65, mana yang terdekat, pada saat mana pembayaran premi tidak perlu dilakukan lagi namun pertanggungan
polis tetap berlanjut. Polis yang preminya tidak perlu dibayarkan lagi namun tetap memberikan pertanggungan disebut juga sebagai paid-up-policy (polis bebas premi).
Dalam kedua kasus tersebut, jika tertanggung meninggal sebelum jangka waktu pembayaran premi yang telah ditetapkan berakhir, maka perusahaan asuransi akan membayar manfaat kematian kepada beneficiary yang ditunjuk dan tidak ada lagi pembayaran premi selanjutnya.
2.4.3. Single-Premium Policies
Single-premium whole life policy merupakan jenis limited-payment policy yang hanya membutuhkan satu kali pembayaran premi. Perusahaan asuransi menggunakan sebagian besar dari single premium itu untuk membentuk policy reserve – meskipun seringkali agak lebih rendah dari cadangan tersebut – cash value dalam jumlah besar dapat tersedia dengan segera dalam setiap single- premium policy. Makin pendek jangka waktu pembayaran premi, makin cepat cadangan tersebut terbentuk.
2.5. Endowment Insurance
Endowment Insurance memberikan suatu jumlah manfaat tertentu apakah tertanggung hidup sampai akhir jaman waktu pertanggungan atau meninggal selama jangka waktu pertanggungan. Setiap endowment policy memiliki maturity date (tanggal jatuh tempo), yaitu tanggal pembayaran uang pertanggungan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis jika tertanggung masih hidup.
Tanggal jatuh tempo akan tercapai (1) pada akhir suatu jangka waktu yang telah ditetapkan, atau (2) ketika tertanggung mencapai usia yang telah ditetapkan.
Sebagai contoh, tanggal jatuh tempo untuk endowment policy berjangka 20 (dua puluh) tahun adalah 20 (dua puluh) tahun setelah tanggal berlakunya polis;
tanggal jatuh tempo untuk polis endowment pada usia 65 (enam puluh lima) tahun adalah ketika tertanggung mencapai usia 65 (enam puluh lima) tahun. Apabila tertanggung meninggal sebelum tanggal jatuh tempo, maka perusahaan asuransi akan membayar uang pertanggungan polis kepada beneficiary yang ditunjuk. Jadi, endowment insurance policy membayar suatu manfaat yang pasti baik apakah
tertanggung masih hidup sampai tanggal jatuh tempo polis atau meninggal sebelum tanggal jatuh tempo tersebut. Endowment policies memiliki banyak fitur yang sama dengan permanent life insurance policies. Sebagai contoh, premi biasanya tetap (level) selama jangka waktu endowment policy, meskipun pemegang polis dapat membeli sebuah endowment policy dengan single premium atau dengan beberapa premi selama jangka waktu tertentu. Seperti halnya permanent life insurance policies, endowment policies dapat menghasilkan nilai tunai.
2.6. Perbedaan antara Term Life Insurance, Whole Life Insurance dan Endowment Life Insurance
Tabel 2.1 Perbedaan Term Life, Whole Life dan Endowment Life Insurance
Term Life Whole Life Endowment Life Unsur Tidak Memiliki
Unsur Tabungan
Memiliki Unsur
Tabungan Memiliki Unsur Tabungan
Memiliki maturity date
Manfaat
Polis Manfaat
Asuransi
diberikan ketika tertanggung meninggal dunia sesuai dengan waktu yang ditetapkan atau pada saat polis masih in force
Manfaat Asuransi disini memberikan perlindungan seumur hidup kepada tertanggung.
Manfaat
diberikan ketika tertanggung meninggal dunia
Manfaat Asuransi diberikan ketika tertanggung
meninggal dunia pada saat polis in force atau hidup pada saat polis telah berakhir
waktunya.
Waktu 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun dan 20 tahun
Seumur Hidup 5 tahun,10 tahun, 20 tahun
Cash Value Tidak membentuk cash value
Membentuk
cash value Membentuk cash value
2.7. Jenis Perusahaan Asuransi
Perusahaan Asuransi diorganisasikan menjadi 2 (dua) macam bentuk yaitu: stock company dan mutual company.
• Stock company
Mayoritas perusahaan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan didirikan dan diorganisasikan sebagai stock company. Stock insurance company adalah perusahaan asuransi yang dimiliki oleh masyarakat dan organisasi/perusahaan yang membeli saham perusahaan asuransi tersebut. Para investor yang membeli stock (saham) – saham kepemillikan – di dalam perseroan disebut stockholders (pemegang saham). Dari waktu ke waktu, sebagian laba operasional perusahaan dapat dibagikan kepada para stockholders tersebut dalam bentuk stockholder dividens (dividen pemegang saham)
• Mutual company
Perusahaan asuransi juga dapat didirikan dan diorganisasikan sebagai mutual company. Mutual insurance company adalah perusahaan asuransi yang dimiliki oleh para pemegang polis dan sebagian dari laba operasional perusahaan dari waktu ke waktu dibagikan kepada para pemegang polis tersebut dalam bentuk policy dividens (dividen polis).
Untuk dapat membetuk suatu mutual company, sejumlah polis harus dijual sebelumnya agar dapat memperoleh dana yang diperlukan untuk memulai operasi.
Salah satu keunggulan mutual company adalah tidak bisa diambil alih oleh perusahaan lain karena mutual company tidak menerbitkan saham.
2.8. Premi
Untuk jasa (service) yang dilakukan ini, perusahaan asuransi menerima pembayaran yang disebut premi. Atas dasar inilah perusahaan bekerja sama dengan demikian masyarakat dapat dibantu dalam menghadapi risiko/beban keuangan dalam hal mengalami peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi sewaktu- waktu yang tidak terduga datangnya.
Premi adalah sejumlah uang tertentu yang dibebankan oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan atas janjinya untuk membayar polis ketika terjadi suatu kerugian tertentu.
Penetapan premi didasarkan atas kriteria risiko yang dialami oleh tertanggung. Apabila tertanggung dimasukkan kedalan kriteria risiko yang preffered risk maka premi yang dibayarkan akan lebih rendah daripada standard risk dan substandar risk.
Beberapa metode pembayaran premi yaitu pembayaran premi melalui debet rekening bank, pemotongan gaji pegawai, pembayaran premi secara bulanan, pembayaran premi secara tahunan dan pembayaran premi secara kuartalan.
2.8.1. Tarif Premi
Untuk dapat memperoleh perlindungan dari pihak asuransi, maka pemegang polis mempunyai tanggung jawab untuk membayar premi kepada perusahaan asuransi.
Tarif premi yang ditentukan oleh perusahaan asuransi pada setiap polis berbeda-beda tergantung berdasarkan kasus masing-masing polis. Untuk menetapkan tarif premi pada calon pemegang polis maka perusahaan asuransi menurut Gene Stone, dapat menggunakan beberapa cara, yaitu :
a) Manual rating
Adalah suatu metode yang digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menghitung tarif premi asuransi kumpulan tanpa mempertimbangkan klaim- klaim sebelumnya dan pengalaman biaya (expense experience) dari suatu kelompok. Dalam hal menggunakan manual rating perusahaan asuransi menggunakan pengalamannya sendiri di masa lalu dan kadang-kadang pengalaman perusahaan asuransi lainnya untuk memperkirakan klaim dan pengalaman biaya dari kelompok tersebut.
b) Experience rating
Adalah suatu metode yang digunakan untuk menetapkan tarif premi asuransi kumpulan dimana perusahaan asuransi mempertimbangkan klaim-klaim sebelumnya dan pengalaman biaya dari suatu kelompok tertentu.
c) Blended rating
Adalah suatu metode yang menggunakan kombinasi antara experience rating dan manual rating untuk menetapkan tarif premi kelompok. Semakin besar suatu kelompok, semakin besar kredibilitas yang akan diberikan oleh perusahaan asuransi pada pengalaman group itu sendiri dan semakan kecil perusahaan asuransi akan mengandalkan manual rating.
2.8.2. Cadangan Premi
Menurut MLC Indonesia (www.mlcindonesia.com), policy reserve (cadangan premi) adalah kewajiban yang mewakili jumlah yang menurut perkiraan perusahaan asuransi diperlukan untuk membayar manfaat ketika jatuh tempo. Juga dikenal dengan legal reserve, policy liability atau statutory reserve.
Sedangkan menurut Gene Stone, policy reserve (cadangan premi) adalah suatu kewajiban yang menunjukkan jumlah yang, bersama dengan premi yang diharapkan masih dibayar di masa depan serta asumsi tingkat suku bunga investasi, diharapkan akan diperlukan untuk membayar manfaat polis-polis inforce yang tercatat.
Dalam menetapkan harga produk-produk asuransi, perusahaan asuransi harus mengupayakan pertumbuhan cadangan premi pada tingkatan yang mencakupi untuk memenuhi persyaratan-persyaratan cadangan minimum, yaitu mencakup semua klaim yang diperkirakan akan terjadi selama setiap tahun polis.
Cadangan-cadangan premi juga harus cukup untuk memungkinkan adanya kemungkinan-kemungkinan fluktuasi pada tingkat mortalitas maupun pengalaman investasi- yaitu pengalaman mortalitas yang lebih tinggi daripada yang diharapkan dan pendapatan investasi yang lebih kecil daripada yang diharapkan.
2.9. Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Keuangan 2.9.1. Persamaan Akuntansi Dasar Perusahaan Asuransi
Aset = Kewajiban + Ekuitas Pemilik
a) Assets (aset) adalah semua barang berharga milik perusahaan. Contoh aset adalah uang tunai dan investasi. Negara-negara bagian mengatur jenis investasi yang dapat dilakukan oleh perusahaan asuransi untuk memastikan
bahwa investasi-investasi dilakukan secara konservatif dan berhati-hati.
Negara-negara bagian juga memberlakukan persyaratan mengenai cara bagaimana perusahaan asuransi harus menentukan nilai aset-aset mereka.
b) Liabilities (kewajiban) adalah utang-utang dan obligasi-obligasi masa depan perusahaan. Sebagian besar dari kewajiban perusahaan asuransi berbentuk police reserves (cadangan premi) perusahaan yang mewakili perkiraan jumlah manfaat polis yang harus dibayarkan oleh perusahaan asuransi pada saat manfaat polis tersebut jatuh tempo. Negara-negara bagian memberlakukan persyaratan mengenai metode yang harus digunakan oleh perusahaan asuransi untuk menghitung jumlah cadangan premi mereka.
c) Owners’ equity (ekuitas pemilik) adalah selisih antara jumlah aset perusahaan dan jumlah kewajiban perusahaan, dan ekuitas pemilik mewakili kepentingan keuangan para pemilik di dalam perusahaan. Di dalam stock insurance company, ekuitas pemilik terdiri dari modal dan surplus perusahaan. Dalam konteks ini, capital (modal) adalah jumlah uang yang diinvestasikan di dalam perusahaan oleh para pemiliknya. Surplus adalah jumlah dimana aset perusahaan lebih besar daripada kewajiban dan modalnya. Oleh karena mutual insurer tidak mengeluarkan saham, maka mutual insurer tidak memiliki modal, dan dengan demikian, ekuitas pemilik di dalam mutual insurer hanya terdiri dari surplus.
2.9.2. Bentuk Laporan Keuangan
Secara umum laporan keuangan terdiri dari Neraca, Laporan Laba-Rugi dan Laporan Perubahan Modal. Tetapi penulis hanya akan membahas Neraca dan Lapoaran Laba-Rugi saja sesuai dengan ruang lingkup analisa tugas akhir ini.
Adapun pengertian dan bentuk dari masing-masing laporan keuangan tersebut, yaitu:
2.9.2.1. Neraca
Neraca adalah laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Berdasarkan definisi tersebut maka neraca terdiri dari tiga bagian utama yaitu aktiva, hutang serta modal (Drs. S.
Munawir, Ak, 1995 : 13).
a) Aktiva
Aktiva adalah semua kekayaan atau aset yang dimiliki oleh perusahaan, baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Aktiva dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama, yaitu aktiva lancar dan aktiva tetap. Dalam hubungannya dengan peraturan yang terbaru mengenai penyusunan neraca untuk perusahaan jasa asuransi, pada sisi aktiva tidak lagi diadakan istilah aktiva lancar tetapi hanya non investasi, investasi, dan aktiva tetap. Tetapi pada dasarnya non investasi ini sama dengan aktiva lancar.
i. Aktiva Lancar / Non Investasi
Adalah uang tunai dan aktiva lainnya yang diharapkan dapat dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunia, dijual atau dikonsumsi dalam periode yang tidak lebih dari satu tahun atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 14). Yang termasuk dalam aktiva lancar, yaitu:
• Kas dan Bank, adalah uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan, termasuk cek yang diterima dari para langganan dan simpanan perusahaan di bank yang setiap saat dapat diambil kembali apabila diperlukan.
• Piutang Wesel (Wesel Tagih), yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan oleh sebuah perjanjian yang diatur dalam Undang-Undang. Piutang wesel ini dapat diperjual belikan.
• Piutang lain-lain, yaitu piutang yang timbul bukan dari penjualan jasa, tetapi dari hal-hal lain seperti: Piutang kepada pegawai, piutang karena penjualan aktiva tetap secara kredit, dan lain-lain.
• Piutang Penghasilan atau Penghasilan yang masih harus diterima, yaitu penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan karena perusahaan telah memberikan jasa / prestasinya sehingga merupakan tagihan.
• Piutang Premi, yaitu tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dalam hal ini adalah pihak pemegang polis asuransi yang dinyatakan oleh sebuah perjanjian yang diatur dalam Undang-Undang
• Piutang Reasuransi, yaitu tagihan perusahaan kepada pihak rasuransi (reasuradur) untuk mengganti klaim yang diajukan pemegang polis
asuransi dikarenakan tertanggung meninggal dunia, sebesar jumlah yang menjadi bagian reasuradur.
• Persekot atau Biaya yang dibayar dimuka, yaitu pengeluaran untuk memperoleh jasa / prestasi dari pihak lain, tetapi pengeluaran itu belum menjadi biaya. Jasa / prestasi pihak lain tersebut belum dinikmati oleh perusahaan pada periode ini, melainkan pada periode berikutnya.
ii. Aktiva Tetap
Adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam operasi yang mempunyai umur kegunaan bersifat permanent, yaitu lebih dari satu tahun atau tidak akan habis dipakai dalam satu kali perputaran operasi perusahaan (Drs. S. Munawir, Ak, 1995 : 16). Yang termasuk dalam aktiva tetap, yaitu:
• Tanah yang diatasnya didirikan bangunan atau digunakan untuk operasi, misalnya sebagai lapangan, halaman, tempat parker dan lain- lain.
• Bangunan, misalnya bangunan kantor.
• Inventaris
• Kendaraan, perlengkapan atau alat-alat lainnya.
• Aktiva Tetap Tidak Berwujud (Intangible Fixed Assets), yaitu kekayaan perusahaan yang tidak nampak secara fisik, tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan. Yang termasuk Aktiva Tetap Tidak Berwujud yaitu merek degang.
b) Hutang
Pengertian hutang adalah semua kewajiban keuangan perusahaan kepada pihak lain yang belum terpenuhi, dimana hutang ini merupakan sumber dana atau modal perusahaan yang berasal dari kreditur (Drs. S.
Munawir, Ak, 1995 : 18). Hutang dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu Hutang Lancar (hutang jangka pendek) dan Hutang Jangka Panjang.
i. Hutang Lancar
Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan perusahaan yang pelunasannya akan dilakukan dalam jangka pendek (tidak lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki oleh perusahaan. Yang termasuk dalam hutang lancar, yaitu:
• Hutang Wesel, hutang dengan janji tertulis yang diatur didalam Undang-Undang untuk melakukan pembayaran sejumlah tertentu pada waktu tertentu di masa mendatang
• Hutang Pajak, yaitu meliputi pajak untuk perusahaan yang bersangkutan maupun pajak pendapatan karyawan yang belum disetorkan ke Kas Negara.
• Biaya yang masih harus dibayar, yaitu biaya-biaya yang sudah terjadi tetapi belum dilakukan pembayarannya.
• Hutang jangka panjang yang segera jatuh tempo, yaitu sebagian atau seluruh hutang jangka panjang yang sudah menjadi hutang jangka pendek, karena harus segera dilakukan pembayarannya.
• Hutang deviden, yaitu pembayaran deviden yang belum diambil oleh para pemegang saham
• Hutang klaim, yaitu pertanggungan yang belum dibayar oleh perusahaan atas klaim dari pemegang polis asuransi karena terjadinya kematian, berakhirnya masa pertanggungan, pembatalan polis dan penebusan nilai tunai. Jumlah pertanggungan sesuai dengan perjanjian dan dihitung berdasarkan kasus per kasus.
• Hutang reasuransi, adalah hutang premi reasuransi yang belum dibayarkan kepada reasuradur.
• Titipan / Uang muka premi, merupakan premi yang diterima sebelum polis atas premi tersebut dikeluarkan.
• Hutang premi, yaitu premi yang belum dibayarkan oleh perusahaan kepada reasuradur.
• Hutang komisi, adalah komisi kepada para agen yang belum
ii. Hutang Jangka Panjang
Hutang Jangka Panjang adalah kewajiban keuangan yang jangka waktu pembayarannya (jatuh temponya) masih jangka panjang atau lebih dari 1 tahun sejak tanggal neraca. Walaupun pada perusahaan asuransi bisa dikatakan tidak memiliki pos untuk hutang jangka panjang tetapi cadangan premi dan hutang kepada pihak istimewa dapat dikategorikan hutang jangka panjang karena masa pelunasannya lebih dari satu tahun. Hutang kepada pihak istimewa mempunyai masa pelunasan 15 bulan, walaupun pos ini hanya terjadi pada saat tertentu saja misalnya dalam hal ini pihak perusahaan membeli saham dari pihak yang memiliki hubungan istimewa.
Sesuai dengan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan no. 7, yang dimaksud dengan Pihak-Pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah:
• Perusahaan yng memiliki satu atau lebih perantara, mengendalikan atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan perusahaan pelapor (termasuk holding companies subsidiaries, dan fellow subsidiaries);
• Perusahaan asosiasi (associated company);
• Perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di perusahaan pelapor yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksud dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan perusahan pelapor).
• Karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan perusahaan pelapor yang meliputi anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut.
• Perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan di atas, atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh
signifikan atas perusahaan tersebut. Ini mencakup perusahaan- perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari perusahaan pelapor dan perusahaan- perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan perusahaan pelapor.
c) Modal
Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan yang ditunjukan dalam pos modal (Modal Saham), surplus dan laba yang ditahan.
Atau definisi lain, modal adalah kelebihan nilai aktiva yang dimiliki oleh perusahaan terhadap seluruh hutang-hutangnya. Modal dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
i. Modal yang berasal dari setoran para pemilik perusahaan, seperti modal saham (termasuk agio saham bila ada).
ii. Modal yang berasal sari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk deviden (laba ditahan).
2.9.2.2. Laporan Laba Rugi
Perhitungan laba rugi adalah suatu laporan yang sistematis tentang penghasilan, biaya, laba rugi yang diperoleh suatu perusahaan selama periode tertentu. Prinsip-prinsip umum dalam penyusunan laporan laba rugi, yaitu:
a) Bagian yang pertama menunjukan penghasilan yang diperoleh dari usaha pokok perusahaan dalam memberikan jasa asuransi.
b) Bagian kedua menunjukan beban operasional yang terdiri dari beban asuransi dan beban usaha.
c) Bagian ketiga menunjukkan beban lain-lain yang terjadi diluar usaha pokok perusahaan.
d) Bagian keempat menunjukkan laba atau rugi sebelum pajak penghasilan dan laba bersih.
2.9.2.3. Hubungan Neraca dan Laporan Laba Rugi
Neraca dan laporan laba rugi sangat diperlukan oleh seorang penganalisa karena kedua laporan itu mempunyai hubungan satu sama lain, bukan berdiri sendiri-sendiri.
Untuk mengetahui tendensi atau trend bertambahnya modal atau kekayaan perusahaan hanya akan diketahui dari neraca, tetapi untuk mengetahui kemajuan atau sebab-sebab perubahan modal tersebut diperlukan laporan yang lain, yaitu laporan laba rugi.
2.10. Cash Value (Nilai Tunai)
Cash value (nilai tunai) polis asuransi jiwa permanen adalah jumlah dana (sebelum dikurangi faktor-faktor seperti adanya pinjaman polis) yang akan diterima oleh pemegang polis apabila polis tersebut tidak inforce lagi sampai meninggalnya si tertanggung. Nilai tunai yang diberikan oleh suatu polis harus sama atau lebih besar daripada nilai tunai yang ditentukan oleh undang-undang.
Di Amerika Serikat, undang-undang nonforfeiture standar mengharuskan perusahaan-perusahaan asuransi untuk mengkalkulasikan nilai tunai sebelum menerbitkan polis asuransi jiwa permanen dan untuk memasukkan suatu table ke dalam polis tersebut yang menunjukan nilai tunai minimum pada akhir tahun polis tertentu. Polis tersebut juga harus memuat pernyataan mengenai table moralitas dan suku bunga yang digunakan dalam mengkalkulasi nilai tunai yang disediakan oleh polis tersebut dan suatu penjelasan metode yang digunakan untuk menghitung nilai-nilai tersebut. Selama tahapan disain teknis suatu produk asuransi baru, aktuaris polis membuat asumsi-asumsi mengenai jumlah nilai tunai yang akan akumulasi antara hari sejak polis tersebut diterbitkan dan hari dimana polis tersebut diperkirakan akan jatuh tempo.
2.11. Cadangan Teknis
Cadangan Teknis merupakan gabungan dari seluruh cadangan yang telah dibuat oleh perusahaan asuransi. Di samping cadangan premi, cadangan yang dipersyaratkan lainnya yang dijaga oleh perusahaan asuransi adalah:
a. Cadangan dividen polis yang dapat dibayarkan
b. Cadangan premi yang telah dibayar di muka oleh pemegang polis c. Cadangan klaim yang telah diajukan namun belum dibayarkan
d. Dua jenis asset fluctuation reserve (cadangan fluktuasi aktiva), yang dirancang untuk menyerap laba dan rugi dalam portfolio investasi suatu perusahaan asuransi.
Berbagai contingency reserve (cadangan darurat), yang dibuat sebagai peredam terhadap risiko khusus yang dihadapi oleh perusahaan asuransi
2.12. Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap penyertaan modal saham sendiri yang berarti juga merupakan ukuran untuk menilai seberapa besar tingkat pengembalian (%) dari saham sendiri yang ditanamkan dalam bisnis yang bersangkutan.
Return On Ekuitas (ROE) , yaitu rasio yang menilai kemampuan ekuitas perusahaan untuk menghasilkan net income perusahaan, dengan persamaan :
Net Income
ROE = --- x 100%
Total Ekuitas
2.13. Return On Invesment (ROI)
Return On Investment (ROI) yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap jumlah modal (hutang dan saham) yang ditanamkan dibisnis yang bersangkutan.
Return On Invesment (ROI), yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap jumlah modal (hutang dan saham) yang ditanamkan dibisnis yang bersangkutan..
Laba Bersih
ROI = --- x 100%
Total Aset
2.14. RBC ( Risk Based Capital)
Menurut Gene Stone, untuk memantau solvabilitas perusahaan asuransi dan untuk mengidentifikasikan perusahaan yang memiliki kemungkinan untuk mengalami masalah, regulator asuransi di Amerika Serikat dan Kanada menggunakan rasio risiko modal tertimbang. Risk based capital (RBC) ratio memungkinkan regulator negara bagian untuk mengevaluasi kecukupan modal suatu perusahaan asuransi berkaitan dengan tingkat risiko pengoperasian perusahaan asuransi tersebut. Rasio RBC didasari oleh rumus risiko tertimbang yang telah ditentukan. Rasio RBC secara mendasar membandingkan jumlah modal dan surplus aktual dengan jumlah modal dan surplus yang harus dimiliki oleh perusahaan asuransi pada saat menghitung keterpaparan risikonya .
Risk Based Capital (RBC) atau Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (BTSM) adalah suatu jumlah minimum tingkat solvabilitas yang ditetapkan, yaitu sebesar jumlah dana yang dibutuhkan untuk menutup risiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban. BTSM terdiri dari komponen-komponen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan Nomor 424/KMK.06/ 2003 tanggal 30 September 2003 tentang kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.
Komponen-komponen BTSM (Risk Based Capital) terdiri dari:
1. Ketidak-seimbangan antara proyeksi arus kekayaan dan kewajiban 2. Kegagalan pengelolaan kekayaan;
3. Ketidak-seimbangan antara nilai kekayaan dan kewajiban dalam setiap jenis mata uang
4. Perbedaan antara beban klaim yang terjadi dan beban klaim yang diperkirakan 5. Ketidak-cukupan premi akibat perbedaan hasil investasi yang diasuransikan
dalam penetapan premi dengan hasil investasi yang diperoleh
6. Ketidak-mampuan pihak reasuradur untuk memenuhi kewajiban membayar klaim
Di Indonesia, Departemen Keuangan telah memberlakukan ketentuan RBC itu secara bertahap sejak tahun 2001. Ketika itu, perusahaan asuransi diwajibkan memenuhi tingkat RBC minimal 40 persen. Tahun 2002, tingkat RBC
dinaikkan menjadi 75 persen dan per akhir tahun 2003, perusahaan asuransi diwajibkan memenuhi tingkat RBC minimal 100 persen. Pada akhir tahun 2004, perusahaan asuransi harus berjuang lebih keras lagi untuk memenuhi tingkat RBC 120 persen (Investor edisi 103 .22 Juni - 5 Juli 2004).
2.15. Klaim
Menurut MLC Indonesia klaim (tuntutan hak) adalah tuntutan yang diajukan oleh pemegang polis atas kerugian yang dideritanya.
Sedangkan menurut Harriet E. Jones dan Dani L. Long, claim (klaim) adalah suatu permintaan pembayaran atas manfaat polis asuransi menyusul terjadinya suatu kerugian yang ditanggung.
Claimant merupakan orang yang mengajukan klaim ke perusahaan asuransi. Claimant dapat berupa beneficiary, pemegang polis (jika juga merupakan beneficiary), atau orang yang bertindak atas nama pemegang polis atau beneficiary. Claimant berinteraksi langsung dengan rata-rata claim analyst asuransi jiwa. Claim analyst adalah orang yang dilatih untuk meneliti setiap klaim dan menentukan besarnya kewajiban perusahaan yang timbul akibat dari klaim tersebut.
2.16. Solvabilitas
Menurut Gene Stone, istilah umum dari solvabilitas adalah keadaan dimana suatu perusahaan mampu untuk memenuhi kewajiban keuangannya secara tepat waktu. Untuk perusahaan asuransi, definisi solvency (solvabilitas) lebih spesifik, yaitu kemampuan suatu perusahaan asuransi untuk menjaga modal dan surplus di atas standar modal dan surplus minimum yang ditentukan oleh undang- undang. Karena standar minimum tersebut di atas merupakan persyaratan hukum, maka solvabilitas perusahaan kadang-kadang disebut statutory solvency.
Apabila persyaratan tersebut di atas tidak dipenuhi, maka regulator asuransi dapat mengambil alih kendali perusahaan asuransi. Ketidakmampuan perusahaan asuransi untuk menjaga modal dan surplus di atas standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang disebut insolvency
Standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang berbeda dari satu negara bagian ke negara bagian yang lainnya dan dari satu perusahaan asuransi ke perusahaan asuransi lainnya, dan didasari oleh tingkat risiko yang terkait dengan rata-rata investasi yang dilakukan oleh suatu perusahaan asuransi dan lini usaha tertentu yang dijual oleh perusahaan asuransi tersebut. Perusahaan asuransi yang memiliki investasi dengan rata-rata risiko yang lebih banyak memiliki standar modal dan surplus minimum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang yang lebih tinggi dari pada perusahaan asuransi sejenis yang memiliki investasi dengan rata-rata risiko yang lebih kecil. Dengan rata-rata menentukan standar modal dan surplus minimum berbasis risiko, ditambah dengan rata-rata konservatisme yang secara nyata dimasukkan ke dalam cadangan premi sebagaimana ditentukan oleh undang- undang, regulator asuransi berusaha untuk memastikan bahwa setiap perusahaan asuransi memiliki sumber dana yang mencukupi untuk membayar manfaat premi dan kewajiban keuangan lainnya secara tepat waktu.
Dalam melakukan kegiatan bisnis secara normal menurut Gene Stone, suatu perusahaan asuransi menghadapi kemungkinan risiko serius yang dapat mengancam keadaan statutory solvency-nya. Risiko-risiko yang dapat mempengaruhi solvabilitas tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori risiko yang luas, yang dikenal sebagai contingency risk, atau C-risk.
Untuk melindungi kemampuan keuangan perusahaan asuransi, para financial manager memusatkan perhatian mereka pada pengelolaan risiko-risiko tersebut.
• C-1 risk atau assets risk adalah risiko rugi pada suatu investasi untuk alasan selain daripada perubahan suku bunga pasar. Contoh dari C-1 risk adalah dimana saham yang dimiliki suatu perusahaan akan kehilangan nilai pasarnya dan risiko dimana penerbit obligasi melakukan wanprestasi dan tidak membuat jadual pembayaran obligasi. Perusahaan asuransi mengelola risiko asset dengan rata-rata mengevaluasi kemungkinan investasi secara hati-hati, menginvestasi kan asset mereka dengan rata-rata jumlah yang besar di dalam investasi yang bermutu tinggi, serta mengalokasikan dana untuk seluruh kategori investasi yang berbeda.
• C-2 risk atau pricing risk, disebut juga insurance risk (risiko asuransi) yaitu risiko dimana pengalaman nyata perusahaan asuransi dalam tingkat kematian atau biaya-biaya akan sangat berbeda dari perkiraan, menyebabkan perusahaan asuransi tersebut menderita kerugian material atas produk tersebut. Perusahaan asuransi jiwa mengelola C-2 risk dengan rata-rata merancang dan menetapkan harga produk secara pantas, menjaga praktek-praktek underwriting dan reasuransi yang baik, serta mengendalikan pengeluaran-pengeluaran mereka secara hati-hati.
• C-3 risk atau interest-rate risk adalah risiko kerugian yang disebabkan oleh perubahan suku bunga pasar. Contoh interest-rate risk adalah (1) kerugian penjualan suatu obligasi pada saat suku bunga pasar naik, (2) ketidakmampuan suatu perusahaan asuransi untuk memperoleh tingkat pendapatan asetnya yang sama dengan rata-rata atau lebih besar daripada suku bunga yang dijamin di dalam kontrak asuransinya, dan (3) disintermediation (disintermediasi) yang merupakan suatu fenomena dimana nasabah memindahkan uangnya dari suatu perusahaan perantara rata-rata keuangan (dalam hal ini perusahaan asuransi) ke perusahaan perantara rata-rata lain untuk menghasilkan bunga yang lebih tinggi. Perusahaan asuransi mengelola C-3 risk melalui praktek-praktek asset- liability management yang efektif.
• C-4 risk adalah general business risk, yaitu risiko kerugian yang diakibatkan oleh praktek-praktek bisnis umum yang tidak efektif atau faktor-faktor lingkungan di luar kendali perusahaan. Contoh dari general business risk adalah manajemen yang tidak efisien, kerugian karena adanya pemalsuan dan litigasi, perubahan undang-undang perpajakan, penurunan ekonomi dan bencana alam. Perusahaan mengendalikan beberapa C-4 risk dengan rata-rata menugaskan tim manajemen yang bermutu tinggi dan berpengalaman untuk mengendalikan biaya usaha, melaksanakan pertimbangan manajerial yang sesuai, mendukung perilaku etis, memantau hasil-hasil keuangan serta melakukan audit internal dan external secara teratur.
2.17. Profitabilitas
Menurut Gene Stone, laba adalah selisih antara rata-rata pendapatan yang lebih besar atas pengeluaran. Kenaikan nilai perusahaan diindikasikan oleh ukuran-ukuran kenaikan harga saham perusahaan dan pertambahan akun modal dan surplus di dalam neraca perusahaan.
Walaupun profitabilitas dapat diperoleh dan diukur dalam jangka waktu yang pendek, perusahaan asuransi biasanya berusaha untuk mendapatkan profitabilitas jangka panjang. Profitabilitas jangka panjang memungkinkan perusahaan asuransi unuk:
• Menyediakan dana untuk investasi.
• Membayar dividen polis atas participating policy.
• Membayar dividen tunai kepada para pemegang saham dan meningkatkan daya tarik saham perusahaan kepada para investor.
• Membuat pemeringkatan yang bermutu tinggi dari lembaga pemeringkatan asuransi.
• Menyediakan dana untuk mengembangkan produk, lini produk dan jalur distribusi.
• Menyediakan dana untuk ekspansi dan akuisisi.
Perusahaan asuransi menurut Gene Stone, biasanya membuat sejumlah sasaran profitabilitas. Sebagai contoh, banyak perusahaan asuransi yang menetapkan sasaran yang ditargetkan atau modal yang mereka inginkan untuk memberikan hasil; target-target tersebut ditetapkan untuk perusahaan secara keseluruhan dan untuk lini usaha setiap perusahaan asuransi. Sasaran profitabilitas umum lainnya memerincikan tingkat pertumbuhan yang ditargetkan. Sebagai contoh, suatu perusahaan asuransi dapat menetapkan tujuan untuk meningkatkan pendapatannya atau meningkatkan nilai asset-asetnya dengan rata-rata suatu persentase yang dinyatakan setiap tahun. Perusahaan asuransi persero dapat menetapkan tujuan tingkat pertumbuhan dengan rata-rata menaikkan harga saham-sahamnya.
2.18. Rasio-Rasio dalam Analisa Performance Perusahaan Asuransi a) Perbandingan Total Investasi dengan Cadangan Teknis
Kemampuan investasi yang dilakukan oleh perusahaan untuk menjamin setiap cadangan-cadangan yang dibentuk oleh perusahaan asuransi dalam menghadapi risiko-risiko khusus yang sewaktu-waktu dapat terjadi (lihat 2.10 cadangan teknis). Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
b) Perbandingan Total Ekuitas dengan Net Premi
Kemampuan modal yang ada dalam perusahaan dalam menjamin setiap premi yang telah diterima oleh perusahaan asuransi. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
c) Perbandingan Jumlah Kewajiban dengan Jumlah Ekuitas
Untuk melihat proporsi struktur modal perusahaan antara jumlah kewajiban dengan jumlah ekuitas. Rasio semakin baik jika nilainya semakin kecil rata-rata industri sejenis.
d) Perbandingan Cadangan Premi dengan Beban Klaim
Kemampuan dari cadangan premi yang dibuat oleh perusahaan asuransi dalam menjamin setiap beban klaim yang terjadi. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
e) ROI (Return On Investment)
ROI adalah kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih.
Tinggi rendahnya ROI memberikan indikasi seberapa jauh efisiensi penggunaan modal aset, dan turun-naiknya penjualan dan biaya. Diharapkan ROI yang diperoleh akan lebih besar dari Cost Of Capital dari dana yang digunakan. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
f) ROE (Return On Equity)
ROE sering juga dinamakan rentabilitas usaha yaitu perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak atau dengan kata lain ROE adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
g) Net Profit Margin
Net Profit Margin mencerminkan berapa besar laba bersih yang bisa didapatkan dari setiap pendapatan operasional sehingga semakin tinggi rasio menunjukkan semakin besar laba bersih perusahaan dibandingkan pendapatan operasionalnya. Semakin besarnya laba bersih disebabkan semakin rendahnya beban yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, baik beban asuransi sendiri, beban umum dan administrasi maupun beban lainnya, seperti hutang pajak, hutang deviden, dll. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
h) Perbandingan Gain On Investment dengan Total Investment
Menilai kemampuan perusahaan asuransi dalam menciptakan keuntungan investasi dari setiap investasi yang dilakukan oleh perusahaan. Biasanya perusahaan menginvestasikan dalam bentuk: saham, sertifikat deposito, obligasi, suku bunga Indonesia, reksadana, dan lain sebagainya. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
i) Perbandingan Beban Klaim dengan Total Premi Bruto
Dalam setiap premi bruto (yang belum dikurangi biaya-biaya) yang diperoleh perusahaan harus dapat menjamin sejumlah beban klaim yang terjadi. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
j) Perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru dengan Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse)
Dimana setiap polis yang lapse dapat disetarakan dengan sejumlah polis yang masuk sebagai pertanggungan baru pada tahun tersebut. Rasio semakin baik jika nilainya semakin besar rata-rata industri sejenis.
2.19. Cross-Sectional Analysis (CSA)
Cross-sectional Analysis berkaitan dengan laporan keuangan dari dua perusahaan yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Secara berkala, perusahaan akan membandingkan ratio value-nya dengan pesaing penting atau sekelompok pesaing. Tipe membandingkan seperti ini seringkali disebut “benchmarking”.
Pembandingan yang lain adalah membandingkan perusahaan dengan rata-rata industri (industy averages).
2.20. Time-Series Analysis (TSA)
Time-Series Analysis diaplikasikan jika analisa keuangan mengevaluasi kinerja selama kurun waktu tertentu. Membandingkan ratio perusahaan saat ini dengan masa lalu membuat perusahaan akan mengerti apakah perusahaan mengalami kemajuan atau kemunduran.
Time-Series Analysis sangat berguna untuk menyusun proyeksi laporan keuangan. Perbandingan ratio saat ini dan masa lalu disertai analisa proyeksi laporan keuangan akan mengungkapkan pertentangan (discrepancy) dan overoptimism.
Metode ini terbagi atas dua cara, yaitu Analisa Horisontal dan Analisa Vertikal.
Penulis akan menggunakan Analisa Horisontal.
i) Analisa Horisontal
Yaitu analisa yang dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode atau antara rata-rata rasio saat ini dengan rata-rata rasio waktu lampau, sehingga akan diketahui perkembangan keuangan perusahaan, dan selanjutnya dapat dibuat rencana-rencana untuk masa yang akan datang. Analisa ini disebut juga analisa dinamis.
ii) Analisa Vertikal
Yaitu analisa yang dilakukan dengan rata-rata cara membandingkan laporan keuangan untuk satu periode saja, yaitu dengan rata-rata memperbandingkan antara rata-rata pos yang satu dengan rata-rata pos yang lain dalam laporan keuangan tersebut, sehingga akan diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi perusahaan pada periode itu saja. Analisa ini disebut juga analisa statis.
2.21. Statistika Dengan Teori Uji Beda Rata-rata Dengan T Test
Teori uji beda rata-rata dengan T-Tes adalah sebuah teori dalam statistik yang digunakan untuk menguji apakah suatu nilai tertentu (yang diberikan sebagai pembanding) berbeda secara nyata ataukah tidak dengan rata-rata sebuah sample.
Untuk melakukan uji beda rata-rata dengan T-Tes data yang digunakan adalah data yang bertipe kuantitatif dengan data sample berjumlah sedikit.
Uji t untuk menguji rata-rata pada satu kelompok sample (One Sample T-test). Pengujian ini dilakukan antara lain untuk menguji homogenitas data, dan
dapat juga digunakan untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata suatu kelompok sample dengan nilai pembanding yang ditetapkan.
Untuk menguji rata-rata pada penulisan skripsi ini penulis menggunakan One Sample T-test. Penulis menggunakan One Sample T-test karena dalam skripsi ini penulis ingin menguji rata-rata pada suatu kelompok sample untuk mengetahui signifikansi perbedaan rata-rata suatu kelompok sample dengan nilai pembanding yang ditetapkan.
Dalam pengujian One Sample T-test perusahaan yang akan dibandingkan dengan industri sejenis tidak dapat dimasukkan sebagai sampel, karena industri sejenis tersebut merupakan pembanding bagi perusahaan, sehingga dapat dilihat apakah perusahaan tersebut signifikan atau tidak dengan rata – rata industri sejenis.
Rumus One Sample T-Test adalah sebagai berikut :
n t s
/ µ
−
= Χ
Keterangan :
X = rata-rata PT. MAA Life Assurance = rata-rata industri asuransi
s = standart deviasi n = jumlah sampel t = beda rata-rata
2.22. Hipotesa Penelitian Hipotesa Penelitian
Hipotesa penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
Risk Based Capital
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata RBC (Risk Based Capital) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata RBC (Risk Based Capital) industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata RBC (Risk Based Capital) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata RBC (Risk Based
Total Investasi / Cadangan Teknis
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Investasi / Cadangan Teknis PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Total Investasi / Cadangan Teknis industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Investasi / Cadangan Teknis PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Total Investasi / Cadangan Teknis industri sejenis
Total Ekuitas / Net Premi
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Ekuitas / Net Premi PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Total Ekuitas / Net Premi industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Total Ekuitas / Net Premi PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Total Ekuitas / Net Premi industrisejenis
Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Jumlah Kewajiban / Jumlah Ekuitas industri sejenis
Cadangan Premi / Beban Klaim
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Cadangan Premi / Beban Klaim industri sejenis
Return On Investment
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROI (Return On Investment) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata ROI (Return On Investment) industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROI (Return On Investment) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata ROI (Return On Investment) industri sejenis
Return On Equity
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROE (Return On Equity) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata ROE (Return On Equity) industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata ROE (Return On Equity) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata ROE (Return On Equity) industri sejenis
Net Profit Margin
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Net Profit Margin PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Net Profit Margin industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Net Income per Total Pendapatan PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Net Income per Total Pendapatan industri sejenis
Gain On Investment / Total Investment
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Gain On Investmen / Total Investment PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Gain On Investment / Total Investment industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Gain On Investmen / Total Investment PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Gain On Investment / Total Investment industri sejenis
Beban Klaim / Total Premi Bruto
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Beban Klaim / Total Premi Bruto industri sejenis
Jumlah Pertanggungan Baru / Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse)
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru dan Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) PT.
MAA Life Assurance dengan rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru dan Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru dan Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata perbandingan Jumlah Pertanggungan Baru dan Jumlah Pemutusan Kontrak (Lapse) industri sejenis
Perkembangan Jumlah Tertanggung
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata Perkembangan Jumlah Tertanggung industri sejenis
Perkembangan Jumlah Uang Pertanggungan
H0 : Tidak ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Uang Pertanggungan PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata perkembangan Uang Pertanggungan industri sejenis
H1 : Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata Perkembangan Uang Pertanggungan PT. MAA Life Assurance dengan rata-rata perkembangan Uang Pertanggungan industri sejenis
2.23. Kerangka Berpikir
PERFORMANCE PROFITABILITAS
SOLVABILITAS
REAKSI PASAR
TOTAL EKUITAS / NET PREMI
RBC
TOTAL INVESTASI / CADANGAN TEKNIS
JUMLAH KEWAJIBAN / JUMLAH EKUITAS
CADANGAN PREMI / BEBAN KLAIM
ROI
ROE
NET PROFIT MARGIN
GAIN ON INVESTMENT / TOTAL INVESTMENT
JUMLAH PERTANGGUNGAN BARU / JUMLAH PEMUTUSAN
KONTRAK (LAPSE)
PERKEMBANGAN JML TERTANGGUNG BEBAN KLAIM / TOTAL
PREMI BRUTO
PERKEMBANGAN JML UANG PERTANGGUNGAN
Gambar 2.1. Kerangka Berpikir