7
Universitas Kristen Petra 2. LANDASAN TEORI
2.1 Agency Theory
Agency theory pertama kali dikemukakan oleh Jensen dan Meckling pada
tahun 1976. Jensen dan Meckling mengatakan bahwa ide dasar dari agency theory adalah adanya perbedaan antara kepemilikan dan kontrol dalam perusahaan. Perbedaan ini memunculkan konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham. Secara fundamental, agency theory menjelaskan hubungan antara pemilik perusahaan dengan manajemennya. Agency theory didefinisikan sebagai sebuah kontrak satu atau beberapa orang (principal) menugaskan orang lainnya (agent) untuk melakukan beberapa jasa, didalamnya termasuk mendelegasi otoritas pengambilan keputusan (Eisenhardt, 1989).
Eisenhardt, (1989) menyatakan bahwa teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi, yaitu:
1. Human assumptions, yaitu asumsi yang menekankan bahwa manusia cenderung lebih mementingkan dirinya sendiri (self interest), memiliki keterbatasan (boundary interest), dan menghindari resiko (risk avertion). 2. Organization assumptions, yang mengasumsikan adanya tujuan yang bertentangan antar anggota organisasi, efisien sebagai kriteria produktivitas dan adanya asimetri informasi antara principal dan agent. 3. Information assumption, yaitu informasi diasumsikan sebagai komoditas
yang dapat diperjual-belikan.
Agency theory mengasumsikan bahwa antara principal dan agent memiliki perbedaan kepentingan. Principal menginginkan tingkat pengembalian (return) sedangkan agent menginginkan kompensasi dari principal yang tinggi. Manajer lebih cenderung untuk melakukan investasi pada proyek yang meningkatkan keuntungan pribadinya dibandingkan dengan meningkatkan nilai perusahaan (Jensen, 1986). Hal yang mendasar dalam agency problem adalah karena adanya pemisahan antara ownership dan control (Jensen & Meckling, 1976; Krause & Semadeni, 2013). Jensen & Meckling (1976) mengklasifikasikan agency problem menjadi konflik antara pemilik dan manajer (Agency Problem I) dan konflik ketika
8
Universitas Kristen Petra pemegang saham terbesar menggunakan posisi pengawasannya untuk kepentingan pribadi dengan mengorbankan pemegang saham minoritas (Agency Problem II). Perbedaan kepentingan dan pemisahan fungsi tersebut menimbulkan celah bagi manajemen untuk melakukan manajemen laba oportunis yang cenderung mengurangi nilai perusahaan. Pada Agency Problem I principal adalah pemegang saham, sedangkan yang menjadi agent adalah manajer (Altuner et al., 2015; Bonazzi & Islam, 2007). Kemudian, di dalam Agency Problem II principal adalah sedangkan pemegang saham non-pengendali dan agent adalah pemegang saham pengendali (Villalonga & Amit, 2006). Dalam Agency Problem II, pemegang saham pengendali bertindak sebagai agent karena pemegang saham akan mungutus perwakilannya dalam jajaran direksi atau komisaris. Sehingga pemegang saham pengendali tidak hanya dapat memonitor manajemen akan tetapi sudah menjadi bagian dari manajemen itu sendiri. Sehingga hal ini, dapat menimbulkan
enternchment effect (Sanjaya, 2010). Entenchment effect menitikberatkan pada
pemegang saham pengendali dengan hak kontrol yang kuat akan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk mendapatkan keuntungan pribadi mereka dengan mengontrol perusahaan dibandingkan dengan pemegang saham minoritas. Sehingga dapat disimpulkan, entrenchment adalah tindakan pemegang saham yang terlindungi oleh hak kontrol yang dimilikinya. Entrenchment dapat berupa pengambilalihan dan eksprorasi keuntungan perusahaan (Fan & Wong, 2002; Claessens et al., 2000). Eksprorasi adalah proses penggunaan kontrol untuk memaksimumkan kesejahteraan pribadi dengan kekayaan milik pihak lain (pemegang saham minoritas) (Claessens et al., 2000).
Konflik kepentingan antara agent dan principal mendorong timbulnya biaya keagenan (agency cost). Biaya tersebut dapat berupa: i) Monitoring expenditure, yaitu pengeluaran yang terkait dengan fungsi pemantauan terhadap agen. (contohnya: audit independen), ii).Bonding expenditure, yaitu pengeluaran yang menjamin bahwa agen akan bertindak sesuai dengan keinginan pemilik. (meningkatkan rasio deviden terhadap laba bersih, pengungkapan dalam laporan keuangan), iii) Residual loss, dampak dari tindakan yang dilakukan oleh agent yang sering kali berbeda dengan principal atau celah yang dilakukan oleh agent meskipun sudah dilakukan monitoring cost dan bonding cost.
9
Universitas Kristen Petra Dalam agency theory, corporate governance diharapkan dapat berfungsi sebagai alat yang dapat memberikan keyakinan pada investor bahwa investor akan menerima return atas modal yang ditanam pada perusahaan (Aras & Crowther, 2008). Oleh karena itu, corporate governance ini sangat penting untuk diperhatikan karena corporate governance ini sangat berkaitan dengan bagaimana meyakinkan investor bahwa manajer akan memberikan keuntungan untuk investor. Keyakinan tersebut berhubungan dengan tindakan manajer yang tidak memaksimalkan utilitasnya dalam mengelola keuangan sesuai dengan tujuan dan maksud manajer sendiri seperti menginvestasikan dana yang berkaitan dengan investor untuk proyek yang kurang menguntungkan.
2.2 Informasi Asimetri (Asymmetric Information)
Informasi asimetri adalah suatu keadaan dimana beberapa pihak yang terlibat dalam transaksi bisnis tidak memiliki informasi yang sama atau satu pihak memiliki informasi yang lebih dibandingkan dengan pihak yang lainnya (Scott, 2015). Ketidakseimbangan informasi tersebut biasanya terjadi antara inside
investor (termasuk manajer) dengan outside investor. Menurut Scott, (2015)
terdapat dua jenis asimetri infomasi, pertama adverse selection merupakan jenis asimetri informasi dimana satu pihak atau lebih yang melangsungkan transaksi usaha memiliki informasi lebih atas pihak-pihak lain. Adverse selection terjadi karena beberapa orang seperti manajer perusahaan dan para pihak dalam (insider) lainnya lebih mengetahui kondisi kini dan prospek ke depan suatu perusahaan daripada investor luar. Ketimpangan pengetahuan informasi ini dapat menimbulkan masalah dalam transaksi pasar modal karena investor tidak memiliki informasi yang cukup dalam pengambilan keputusan investasi.
Kedua, moral hazard merupakan jenis informasi asimetri dimana satu pihak atau lebih yang melangsungkan suatu transaksi usaha dapat mengamati tindakan-tindakan mereka dalam penyelesaian transaksi-transaksi mereka sedangkan pihak lainnya tidak. Moral hazard juga dapat terjadi karena adanya pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian yang merupakan karakteristik kebanyakan perusahaan besar. Adanya informasi asimetri tersebut memungkinkan terjadinya celah yang terjadi antara pihak principal dan agent untuk saling mencoba
10
Universitas Kristen Petra memanfaatkan pihak lain untuk kepentingan pribadi. Keadaan informasi asimetri memungkinkan manajemen bertindak oportunis untuk melakukan praktek manajemen laba guna memperoleh keuntungan pribadi.
2.3 Stakeholder Theory
Stakeholder theory pertama kali dikembangkan oleh Freeman pada tahun
1984. Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan tidak hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun memiliki tujuan yang lebih luas yaitu memiliki nilai dan manfaat bagi semua pemangku kepentingan baik pemegang saham, kreditur, konsumen, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak-pihak yang lainnya. Teori ini juga berpendapat bahwa seluruh stakeholder harus diperlakukan secara adil dalam sebuah organisasi, dan bahwa manajer harus mengelola oerganisasi tersebut untuk kepentingan stakeholder (Nwanji & Howel, 2007). Teori ini juga menunjukkan bahwa seluruh stakeholder berhak untuk mendapatkan dan mengetahui aktivitas perusahaan dan dampaknya terhadap mereka.
Dalam perkembangannya, kegunaan teori stakeholder dapat dikategorikan menjadi dua yaitu kegunaan strategis dan kegunaan moral (Mainardes et al., 2011). Pertama, kegunaan strategis yaitu tanggung jawab manajer atas pengambilan keputusan dan pengalokasian sumber daya perusahaan. Kedua, kegunaan moral yaitu menyeimbangkan keinginan para stakeholder. Loy (2016) mengungkapkan menyatakan bahwa informasi atas laporan keuangan merupakan hal yang penting, untuk itu apabila terdapat manajemen laba maka manajemen laba yang dilakukan harus bermanfaat bagi stakeholder.
2.4 Corporate Governance
Menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), pengertian dan definisi mengenai tata kelola memiliki cakupan yang luas dan meliputi aspek-aspek yang terkait dengan pengambilan keputusan, penjabaran ekspektasi, penggunaan kewenangan, kejelasan pengawasan, pemenuhan akuntabilitas dan pertanggungjawaban, perencanaan strategi, pemastian kinerja, kepemimpinan dan manajemen, keteraturan dan kepatuhan serta serangkaian proses, mekanisme, struktur yang berlaku.
11
Universitas Kristen Petra Menurut OECD, Principles of Corporate Governance, (2004) corporate
governance juga memberikan suatu struktur yang dapat memfasilitasi tercapainya
sasaran-sasaran perusahaan dan dapat sebagai sarana dalam menentukan teknik yang akan digunakan dalam memonitoring kerja. Sejalan dengan OECD, Todorovic (2013) juga mengemukakan hal yang serupa yaitu, corporate governance adalah suatu sistem dimana perusahaan diarahkan dan dikendalikan termasuk hubungan antara perusahaan dan semua pihak yang berkepentingan untuk menentukan tujuan strategis perusahaan dan kinerja perusahaan.
Corporate governance mengacu pada cara atau sistem di mana perusahaan
diarahkan dan dikendalikan untuk kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya (Agyei-Mensah, 2017). Peran corporate governance dalam pelaporan keuangan adalah membantu untuk memastikan kredibilitas laporan keuangan dan mengkomunikasikan laporan keuangan serta kinerja operasi yang dapat dipertanggungjawabkan (Bushman & Smith 2003). Dengan demikian, mekanisme corporate governance yang terstruktur dengan tepat diharapkan dapat mengurangi manajemen laba yang merugikan pengguna laporan keuangan karena dengan corporate governance yang terstruktur dapat menyediakan pemantauan manajemen yang efektif dalam proses pelaporan keuangan. Pada saat yang sama,
corporate governance juga memiliki tujuan untuk meningkatkan nilai jangka
panjang perusahaan dengan menetapkan mekanisme di mana para investor luar melindungi diri dari pengambilalihan oleh orang dalam, manajer, dan pemegang saham pengendali (Kamardin & Haron, 2011).
2.5 Earnings Management (Manajemen Laba) 2.5.1 Pengertian Earnings Management
Menurut Schipper, (1989) manajemen laba adalah intervensi atau campur tangan yang dilakukan oleh manajer suatu perusaaan dengan tujuan mengubah proses pelaporan keuangan perusahaan dengan metode akuntansi agar mencapai target dan juga memperoleh beberapa keuntungan pribadi. Menurut Man & Wong, (2013),” earnings management is the choice of a manager of accounting policies
or other actions including voluntory earnings forecasting, voluntary disclosure, and estimation of accrual to affect earnings intentionally.” Hal ini berarti
12
Universitas Kristen Petra manajemen laba merupakan pilihan kebijakan akuntansi atau tindakan lain yang dilakukan manajer termasuk peramalan laba, estimasi akrual untuk mempengaruhi laba secara sengaja.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk memilih kebijakan akuntansi yang dipakai oleh perusahaan yang dapat dilakukan dengan peramalan laba, dan menghitung estimasi akrual yang akan berpengaruh pada laba yang akan dilaporkan oleh perusahaan dalam memenuhi tujuan tertentu perusahaan.
Obigbemi et al., (2016) mengklasifikasikan manajemen laba menjadi tiga bagian, yaitu: fraudulent accounting, accrual management, dan real earnings
management. Fraudulent accounting melibatkan pilihan akuntansi yang melanggar
GAAP; accrual management melibatkan penggunaan kebijaksanaan dalam penyajian elemen akrual dalam laporan keuangan; sedangkan real earnings
management melibatkan penggunaan kebijaksanaan dalam mengubah kegiatan
operasional perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu sehubungan dengan perubahan dalam kegiatan bisnis normal. Manajemen laba dalam penelitian ini menggunakan pendekatan accrual management, karena accrual management cenderung menangkap adanya bukti manajemen laba karena mereka mencerminkan estimasi akuntansi dan pilihan akuntansi (Chen et al., 2007). Dalam accrual
management, perusahaan dapat melakukan manajemen laba melalui beberapa
karakteristik perusahaan (seperti: overstate earnings, loss avoidance, dan income
smoothing). Motivasi accrual management dikelompokkan menjadi dua, yaitu
motivasi opportunistic dan motivasi signaling. Motivasi opportunistic mendorong manajemen menyajikan laporan keuangan (laporan laba rugi) lebih tinggi dibandingkan keadaan sesungguhnya (Penman & Zhang, 2002). Sedangkan motivasi signaling, manajemen cenderung mengatur komponen akrual untuk mengarah pada persistensi laba ( Dechow et al., 1996; Dechow & Dichev, 2002).
Dechow, (1994) menyatakan bahwa accrual management merupakan perlakuan akuntansi yang tidak melibatkan kas masuk dan kas keluar dalam menentukan laba. Dalam praktiknya manajer dapat menambah tingkat akuntansi akrual (seperti: accounts receivable, inventory, accounts payable, depreciation
13
Universitas Kristen Petra & Wiedman, 2010). Menurut Marquardt & Wiedman, (2010), perusahaan yang akan melakukan IPO lebih suka mengelola pendapatan up-ward dengan mempercepat pengakuan pendapatan (revenue recognition) dan piutang dagang (account receivable) juga meningkat. Sedangkan untuk konteks management
buyout, piutang dagang (account receivable) menjadi negatif. Untuk perusahaan
yang mencoba menghindari pelaporan penurunan pendapatan, perusahaan akan kurang peduli dengan persistensi laba dan karena itu lebih memungkinkan untuk menggunakan item yang lebih sementara, dan lebih murah, untuk mencapai tujuan mereka (akun special item).
Dalam penelitian ini akan digunakan Model Modified Jones yang dikembangkan oleh Dechow pada tahun 1995. Model Modified Jones (Dechow et
al., 1995) adalah teknik yang paling umum untuk menganalisa accrual management
(Bartov et al., 2001; Alzoubi, 2016). Menurut Healy (1985) konsep model accrual dapat diuraikan menjadi discretionary accruals (DA) dan non-discretionary
accruals (NDA). Discretionary accruals merupakan komponen accrual yang dapat
diatur dan direkayasa sesuai dengan kebijakan manajer. Sedangkan,
non-discretionary accruals adalah komponen accrual yang tidak dapat diatur dan
direkayasa oleh manajemen. Obigbemi et al., (2016) menyatakan bahwa
non-discretionary accruals adalah biaya/aset wajib yang dicatat dalam sistem akuntansi
yang belum direalisasikan. Contoh dari ini adalah pajak gaji. Sedangkan
discretionary accrual adalah bentuk keleluasaan manajemen dalam persiapan
pelaporan keuangan. Dalam penelitian ini, akan digunakan, discretionary accruals sebagai indikator manajemen laba (Healy, 1985; Dechow et al., 1995; Bartov et al., 2001; Alzoubi, 2016; Obigbemi et al., 2016) . Perhitungan discretionary accrual diawali dengan perhitungan total accruals. Penelitian ini akan mengkombinasikan antara 3 rumus untuk mendapatkan nilai discretionary accrual.
Total accruals dihitung dengan pendekatan balance sheet approah, yaitu net income dikurangi cash flow from operation (Dechow et al., 1995).
𝑻𝑨𝒊, 𝒕 = 𝑵𝑰𝒊,𝒕− 𝑪𝑭𝑶𝒊,𝒕 (2.1)
Discretionary accrual dihitung dengan perbedaan antara total accrual
perusahaan dan non-discretionary accrualsnya. Semua variable accruals harus dibagi dengan awal total asset untuk meminimalisir heterokedastisitas dan adanya
14
Universitas Kristen Petra potensi skala bias (Chen et al., 2007). Sebelum menghitung discretionary accrual, perlu dilakukan perhitungan non-discretionary accruals melalui persamaan dibawah ini : 𝑵𝑫𝑨𝒊,𝒕 𝑨𝒊,𝒕−𝟏 = 𝒂̇𝟏( 𝟏 𝑨𝒊,𝒕−𝟏) + 𝒂̇𝟐( ∆𝑹𝑬𝑽𝒊,𝒕−∆𝑹𝑬𝑪𝒊,𝒕 𝑨𝒊,𝒕−𝟏 ) + 𝒂̇𝟑( 𝑷𝑷𝑬𝒊,𝒕 𝑨𝒊,𝒕−𝟏) (2.2) Di mana, αˆ1, αˆ2, dan αˆ3 adalah koefisien khusus industri yang menilai regresi cross sectional dalam persamaan (2.3)..
𝑻𝑨𝒊,𝒕 𝑨𝒊,𝒕−𝟏= 𝒂𝟏( 𝟏 𝑨𝒊,𝒕−𝟏) + 𝒂𝟐( ∆𝑹𝑬𝑽𝒊,𝒕−∆𝑹𝑬𝑪𝒊,𝒕 𝑨𝒊,𝒕−𝟏 ) + 𝒂𝟑( 𝑷𝑷𝑬𝒊,𝒕 𝑨𝒊,𝒕−𝟏) + 𝜺𝒊, 𝒕 (2.3) Setelah memperkirakan non-discretionary accrual di atas, besarnya
discretionary accrual dari perusahaan i dalam industri j ke tahun t dapat dihitung
dengan hasil pengurangan persamaan (2.1) dan (2.3) atau disebut juga dengan nilai sisa persamaan (2.3).
Dimana,
TA = Total Accrual
NI = Net Income sebelum discontinued segment dan extraordinary item A = Total Asset
NDA = Non-discretionary accruals ∆REV = Perubahan pendapatan ∆REC = Perubahan receivable
PPE = Gross property, plant, equipment ε = Discretionary accruals (DA) i = Perusahaan i
t = tahun n t-1 = tahun n-1
2.5.2 Tipe Earnings Management
Penelitian mengenai tipe manajemen laba pertama kali dikembangkan oleh Holtahusen pada tahun 1990. Holthausen, (1990) mengatakan terdapat dua tipe manajemen laba, yaitu ketika manajer memilih prosedur akuntansi tertentu sehingga menjadikan manajemen laba yang dilakukan dapat memaksimumkan nilai perusahaan sehingga disebut efficient earnings management/beneficial earnings
15
Universitas Kristen Petra dilakukan diperuntukkan untuk kepentingan manajer maka manajemen laba tersebut disebut opportunistic earnings management (manajemen laba oportunis). Penelitian lain, Subramanyam (1996) menyatakan manajemen laba disebut efisien ketika discretionary accrual memiliki kemampuan untuk menginformasikan profitabilitas perusahaan di masa depan. Sebaliknya, ketika
discretionary accrual tidak mampu untuk menginformasikan profitabilitas
perusahaan di masa depan manajemen laba disebut manajemen laba oportunis. Hasil penelitian Jiraporn et al., (2008) menyatakan manajemen laba dapat membahayakan perusahaan karena berhubungan dengan nilai perusahaan yang rendah dan agency cost menjadi lebih tinggi sehingga manajemen laba adalah oportunis. Sedangkan ketika manajemen laba yang dilakukan dapat menambah nilai perusahaan dan dimaksudkan memberikan beberapa informasi yang berguna serta meningkatkan kualitas informasi kepada pemegang saham maka manajemen laba adalah efisien.
Terdapat penelitian mengenai tipe manajemen laba yang diterapkan di Indonesia yang dilakukan oleh Siregar & Utama pada tahun 2008. Siregar & Utama (2008) menyatakan manajemen laba yang dilakukan di Indonesia cenderung efisien. Hal ini dikarenakan manajemen laba yang dilakukan berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahan dimasa depan. Artinya, manajemen laba yang dilakukan dapat memberikan prospek yang baik dimasa depan.
2.6 Financial Performance
Tulsian (2014) mengatakan bahwa financial performance (kinerja) dapat diartikan menjadi kemampuan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan atau laba atau profit dan memberikan return kepada investor. Menurut Dechow (1994) kinerja dapat diukur dengan net income/earnings (laba) dan cash flow from
operation (CFO). Laba merupakan ukuran atas kinerja perusahaan yang dihasilkan
dari accrual-basis accounting. Laba sendiri juga merupakan pengukuran atas kinerja perusahaan yang digunakan oleh pengguna laporan keuangan. Laba dapat digunakan dalam rencana executive compensation plans, debt covenants, dan perusahaan yang ingin melakukan go-public. Selain laba, untuk meyakinkan bahwa perusahaan masih mampu untuk melanjutkan kegiatan bisnisnya maka perusahaan
16
Universitas Kristen Petra harus mampu menghasilkan penerimaan arus kas bersih. Akan tetapi, penerimaan arus kas bersih memiliki masalah timing and matching principle. Dengan adanya
accrual-based accounting, dapat mengubah waktu penerimaan arus kas dalam
mengakui pendapatan. Dua prinsip akuntansi yang membantu dalam menghasilkan pendapatan yaitu revenue recognition dan matching principles. Revenue
recognitition adalah pengakuan pendapatan ketika perusahaan sudah menyelesaikan semua, setengah atau sebagian besar dari layanannya dan menerima kas tersebut secara pasti. Sedangkan matching principle adalah biaya beban yang harus dibebankan pada saat terjadinya, terlepas kapan adanya transfer uang kas terjadi. Hasil penelitian Dechow (1994) membuktikan bahwa cash flow operation lebih baik dalam mengurangi masalah timing and matching dalam arus kas dibandingkan investing dan financing cash flow.
Menurut Dechow (1994) laba dapat digunakan sebagai pengukuran kinerja perusahaan akan tetapi, laba memiliki kelemahan yang melekat. Hal ini disebabkan, di dalam laba terdapat discretionary accrual, dengan penggunaan change in net
income dapat mengontrol sifat stasioner dari discretionary accrual (Siregar &
Utama, 2008). Selain dengan change in net income, untuk mengurangi sifat stasioner dari discretionary accrual dapat juga digunakan NDNI atau
non-discretionary net income adalah laba yang dihasilkan tanpa adanya tindakan accrual earnings management yang dilakukan oleh perusahaan (Siregar & Utama,
2008). NDNI diukur dengan mengurangkan net income dan discretionary accrual. Siregar & Utama (2008) menyatakan dari antara change in net income, NDNI dan
cash flow from operation yang merupakan pengukuran yang dapat diandalkan
adalah NDNI dan cash flow from operation karena tidak memiliki komponen akrual didalamnya. Real performance (kinerja perusahaan sebenarnya/non-discretionary
accrual) mencerminkan prospek kinerja dan profitabilitas perusahaan yang lebih
baik (Shawtari et al., 2017). Dalam penelitian ini, kinerja perusahaan di masa depan akan diukur dengan cash flow operation, change in net income, dan
non-discretionary net income satu tahun kedepan dengan setiap variabel dibagi dengan
total aset awal untuk mengurangi nilai bias (Siregar & Utama, 2008). 𝑪𝑭𝑶 = 𝑪𝑭𝑶𝒊,𝒕+𝟏
17
Universitas Kristen Petra 𝑵𝑫𝑵𝑰 = 𝑵𝑰𝒊,𝒕+𝟏−𝑫𝑨𝒊,𝒕+𝟏
𝑨𝒊,𝒕 (2.5)
𝑫𝑬𝑨𝑹𝑵 = 𝑵𝑰𝒊,𝒕+𝟏−𝑵𝑰𝒊,𝒕
𝑨𝒊,𝒕 (2.6)
Dimana,
CFO = Cash flow from operation
NDNI = Non-discretionary accruals net income
NI = Net Income sebelum discontinued segment dan extraordinary item DA = Discretionary accrual
DEARN = Change in Net Income
A = Total Asset
i = Perusahaan i
t = tahun n
t+1 = tahun n+1
2.7 Ownership Structure
Sifat ownership structure (struktur kepemilikan) perusahaan akan mempengaruhi agency problem antara manjer dan pemegang saham luar, dan di antara pemegang saham lainnya. Ketika kepemilikan tersebar, agency problem akan berasal dari konflik kepentingan antara pemegang saham luar dan manajer yang memiliki jumlah ekuitas yang tidak signifikan di perusahaan (Jensen & Meckling, 1976). Akan tetapi ketika, ketika kepemilikan terkonsentrasi dimana satu pemiliki memiliki kontrol yang efektif terhadap perusahaan maka agency problem akan bergeser menjadi pemegang saham pengendali (controlling owner) dan pemegang saham minoritas. Ownership structure juga memiliki kesempatan, sumber daya dan kemampuan untuk mempengaruhi mekanisme pengawasan yang digunakan oleh perusahaan, termasuk didalamnya pengawasan terhadap aktivitas manajemen laba (Monks & Minow, 2004). Gedajlovic & Shapiro (2002) menyatakan bahwa
ownership structure memiliki hubungan dengan kinerja perusahaan. Menurut Fan
& Wong, (2002) dan Donnelly & Lynch, (2002) kepemilikan saham yang dominan memiliki implikasi tingkat asimetri informasi antara manajer dan investor, dan ini mempengaruhi keinformatifan laba dan pilihan akuntansi yang dilakukan oleh
18
Universitas Kristen Petra manajer. Dalam penelitian ini, ownership structure akan dijelaskan dengan indikator institutional ownership, foreign ownership dan controlling ownership.
2.7.1 Institutional Ownership
Jensen & Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peranan yang penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi diantara pemegang saham dengan manajer. Keberadaaan investor institusio-nal dianggap mampu mengoptimalkan pengawasan kinerja manajemen dengan memonitoring setiap keputusan yang diambil oleh pihak manajemen selaku pengelola perusahaan. McConnell & Servaes (1990) dan Nesbitt (1994) menemukan bukti bahwa pengawasan perusahaan yang dilakukan oleh investor institusional dapat membatasi perilaku manajer. Pengawasan yang dilakukan oleh institutional investor dapat mengurangi agency cost dan pada akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan (Gillan & Starks, 2003). Institutional ownership memainkan peran yang efektif dalam pemantauan kebijaksanaan manajemen dan meningkatkan kompetensi informasi di pasar modal (Koh, 2003). David & Kochhar (1996) menyatakan institutional ownership lebih menginginkan return dalam jangka pendek dan bukan dalam jangka panjang. Ferreira & Matos., (2008)
institutional ownership merupakan pasif investor sehingga mereka lebih memilih
menjual kepemilikannya ketika perusahaan mengalami kinerja yang buruk dan tidak mampu memberikan return dibandingkan menyediakan sumber daya dan memantau perusahaan agar mampu memiliki kinerja yang baik. Menurut Razaei (2012) lembaga institusional adalah bank, asuransi, lembaga dana pensiun, mutual
funds dan investment banks. Dalam penelitian ini, institutional ownership diukur
dengan presentase saham yang dimiliki lembaga institusional (Razaei, 2012). 𝑰𝒏𝒔𝒕𝒊𝒕𝒖𝒕𝒊𝒐𝒏𝒂𝒍 𝑶𝒘𝒏𝒆𝒓𝒔𝒉𝒊𝒑 =𝑰𝒏𝒔𝒕𝒊𝒕𝒖𝒕𝒊𝒐𝒏 𝑶𝒓𝒅𝒊𝒏𝒂𝒓𝒚 𝑺𝒉𝒂𝒓𝒆𝒔 𝑶𝒖𝒕𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈
𝑶𝒓𝒅𝒊𝒏𝒂𝒓𝒚 𝑺𝒉𝒂𝒓𝒆𝒔 𝑶𝒖𝒕𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈 (2.7)
2.7.2 Foreign Ownership
Foreign ownership (kepemilikan asing) merupakan proporsi saham biasa
perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian-bagian lainnya yang berstatus luar negeri atau proporsi saham perusahaan yang dimiliki pihak asing (Mihai & Mihai, 2013). Alzoubi (2016) menyatakan bahwa
19
Universitas Kristen Petra dengan adanya jarak geografis yang dimiliki investor asing dapat mengurangi kontrol atas proses laporan keuangan perusahaan sehingga dapat mengurangi manajemen laba yang dilakukan perusahaan. Hasil penelitian Wiranata & Nugrahanti (2013) menyatakan bahwa kepemilikan asing dapat membantu mengurangi masalah keagenan dan meningkatkan kinerja perusahaan. Karena pihak asing lebih tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan domestik yang terbaik dan perusahaan yang memiliki kinerja keuangan dan produktivitas yang baik. Dengan adanya pemegang saham asing juga lebih menguntungkan perusahaan karena pemegang saham asing memiliki insentif untuk memantau dan memonitor perusahaan (Udin et al., 2017). Sehingga mampu memperbaiki sistem proses manajemen. Dalam penelitian ini, foreign ownership diukur dengan presentase saham yang dimiliki pihak asing (Mihai & Mihai, 2013).
𝑭𝒐𝒓𝒆𝒊𝒈𝒏 𝑶𝒘𝒏𝒆𝒓𝒔𝒉𝒊𝒑 =𝑭𝒐𝒓𝒆𝒊𝒈𝒏 𝑶𝒓𝒅𝒊𝒏𝒂𝒓𝒚 𝑺𝒉𝒂𝒓𝒆𝒔 𝑶𝒖𝒕𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈
𝑶𝒓𝒅𝒊𝒏𝒂𝒓𝒚 𝑺𝒉𝒂𝒓𝒆𝒔 𝑶𝒖𝒕𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈 (2.8)
2.7.3 Controlling Ownership
Controlling shareholder terdiri atas private company, family, pemerintah,
institusi, perusahaan publik, koperasi, investor asing dan individu yang miliki hak kontrol atas perusahaan (Baoa & Lewellyn, 2017). Controlling ownership juga bisa disebut ultimate ownership (Claessens et al., 2000). Ultimate ownership adalah kepemilikan langsung maupun tidak langsung atas perusahaan publik. Kebanyakan pemegang saham pengendali akan menempatkan perwakilannya pada jajaran direksi dan komisaris. Sehingga keputusan manajer juga akan lebih banyak didominasi oleh pemegang saham pengendali. Hal ini akan menyebabkan adanya informasi asimetri antara pemegang saham pengendali dan pemegang saham luar, dan hal ini akan mempengaruhi kualitas laba yang dihasilkan dan pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer (Donnelly & Lynch 2002). Akan tetapi, dengan adanya pemegang saham pengendali juga dapat meningkatkan pengawasan perusahaan dan mendisiplinkan manajemen untuk bekerja sesuai dengan tujuan perusahan (Dai, 2016). Agency problem juga dapat menjadi sangat buruk ketika controlling
ownership (pemegang saham pengendali) memaksakan preferensi mereka pribadi
yang bertentangan dengan pemegang saham minoritas (Shleifer & Vishny, 1997). Pemegang saham pengendali juga dapat menekan manajemen untuk melakukan
20
Universitas Kristen Petra manajemen laba untuk keuntungan pribadi mereka sendiri karena mereka dapat mengontrol dan dapat campur tangan dalam proses pelaporan keuangan (Ding et
al., 2007). Hal ini dibuktikan dengan penelitian Baoa & Lewellyn (2017) yang
menyatakan controlling ownership berpengaruh dalam meningkatkan manajemen laba dengan maksud untuk menghindari informasi mengenai kinerja perusahaan yang buruk. Dengan kata lain, controlling ownership dapat mempengaruhi kinerja perusahaan (Perrini et al., 2008).
𝑪𝒐𝒏𝒕𝒓𝒐𝒍𝒍𝒊𝒏𝒈 𝑶𝒘𝒏𝒆𝒓𝒔𝒉𝒊𝒑 =𝑪𝒐𝒏𝒕𝒓𝒐𝒍𝒍𝒆𝒓𝒔 𝑶𝒓𝒅𝒊𝒏𝒂𝒓𝒚 𝑺𝒉𝒂𝒓𝒆𝒔 𝑶𝒖𝒕𝒔𝒕𝒂𝒏𝒅𝒊𝒏𝒈
21
Universitas Kristen Petra 2.8 Kajian Penelitian Terdahulu
No .
Nama dan Tahun
Variable
Populasi Hasil Penelitian Mendukung
Hipotesis Independent Control Dependent
1. Subramanyam (1996)
Earnings
Management Real Performance
2.808 perusahaan, tahun 1973-1993
di Amerika.
• Earnings Management
signifikan positif Future Profitability H1 2. Siregar & Utama (2008) Earnings Management, Controlling ownership, institutional ownership Real Performance 144 perusahaan, tahun 1995-1996; 1999-2000 di Indonesia. • Earnings Management
signifikan positif Future Profitability
• Institutional ownership tidak signifikan Future Profitability • Controlling ownership
signifikan positif Future Profitability
• Institutional ownership tidak memoderasi pengaruh
Earnings Management
terhadap Future Profitability • Controlling ownership
memperkuat pengaruh
Earnings Management
terhadap Future Profitability
22
Universitas Kristen Petra 3. Razaei (2012) Earnings Management, Institutional ownership Real Performance 167 perusahaan, tahun 2004-2009 di Iran • Earnings Management
signifikan positif Future Profitability
• Institutional ownership
signifikan positif Future Profitability
• Institutional ownership
memperkuat pengaruh
Earnings Management
terhadap Future Profitability
H1, H2,H3
4. Chan et al., 2004)
Earnings
Management Future Earnings
2.914 perusahaan tahun 1963-1996
di US
• Earnings Management
signifikan negatif Future Earnings H1 5. Rauf et al (2012) Cash Flow Operation Earnings Management 214 perusahaan tahun 2008 di Malaysia
• Cash Flow Operation
signifikan negatif Earnings
Management H1 6. Ghazali et al (2015) Net Income Earnings Management 388 perusahaan 2010-2012 di Malaysia
• Cash Flow Operation tidak signifikan Earnings Management
• Net Income signifikan positif
Earnings Management H1 7. Ajay & Madhumathi (2015) Institutional ownership Earnings Management 393 perusahaan 2008-2013 di India • Institutional ownership
signifikan negatif Earnings
Management
23
Universitas Kristen Petra 8. Ferreira & Matos (2008) Institutional Ownership Performance 6.344 perusahaan 2000-2005 Amerika Serikat • Institutional ownership
signifikan negatif signifikan
performance H2 9. Charfeddine & Abdelaziz (2007) Institutional Ownership Performance 35 perusahaan 2002-2005 Perancis • Institutional ownership
signifikan postif performance H2
10. Jiambalvo et
al., (2002)
Institution
investor Future Earnings
9.840 tahun perusahaan mulai
1989-1995 Amerika
• Institution ownership relatif merefleksikan informasi
earning masa depan.
H2 11. Wiranata & Nugrahanti (2013) Ownership structrure Performance 224 perusahaan 2010-2011 di Indonesia
• Foreign ownership signifikan positif profitability
• Institutional ownership tidak signifikan profitability H2 12. Mihai & Mihai (2013) Foreign ownership Performance 261 perusahaan 2010 di Roma
• Foreign ownership tidak
signifikan performance H2 13. Moez, et al (2015) Foreign ownership Performance 13 perusahaan 2010-2011 di Tunisia
• Foreign ownership tidak
signifikan performance H2 14. Nakano & Nguyen (2013) Foreign ownership Firm Performance 2285 perusahaan 1998-2011 di Jepang
• Foreign ownership signifikan positif performance perusahaan yang akan datang
24
Universitas Kristen Petra 15. Alzoubi (2016) Ownership structrure Earnings Management 62 perusahaan tahun 2013 di Yordania
• Foreign ownership signifikan negatif Earnings Management • Institutional ownership
signifikan negatif Earnings
Management H3 16. Ji et al., (2015) Ownership structrure Earnings Management 1.116 perusahaan 2000-2010 di China
• Foreign ownership tidak signifikan Earnings Management H3 17. Gedajlovic & Shapiro (2002) Controlling ownership Performance 334 perusahaan 1986-1991 di Jepang • Controlling ownership
signifikan positif performance H2
18. Perrini, et al (2008) Controlling ownership Performance 297 perusahaan 2000-2003 di Amerika Serikat • Controlling ownership
signifikan positif performance H2
19. Guo & Ma (2015) Ownership Structure Earnings Management 1.176 perusahaan 2004-2010 di China • Controlling ownership (family) signifikan negatif Earnings Management
• Controlling ownership (goverment) tidak signifikan Earnings Management
• Foreign ownership signifikan positif Earnings Management
25
Universitas Kristen Petra • Institutional ownership tidak
signifikan Earnings Management 20. Sanjaya (2010) Entrenchment , Alignment Earnings Management 113 perusahaan 2000-2007 di Indonesia • Entrenchment signifikan positif Earnings Management • Alignment signifikan negatif
Earnings Management H3 21. Alves (2012) Controlling ownership Earnings Management 34 perusahaan tahun 2002-2007 di Portugal • Controlling ownership
signifikan negatif Earnings
Management H3 22. Baoa & Lewellyn (2017) Controlling ownership Earnings Management 1.200 perusahaan tahun 2008-2013 di 24 negara • Controlling ownership
signifikan positif Earnings
Management H3 23. Ding et al., (2007) Controlling ownership Earnings Management 273 perusahaan tahun 2002 di China • Controlling ownership
signifikan positif Earnings
Management
26
Universitas Kristen Petra 2.9 Hipotesa Penelitian
2.9.1 Pengaruh Earnings Management terhadap Financial Performance Kinerja keuangan merupakan kemampuan perusahaan dalam memberikan
return atas investasi yang diberikan oleh investor dan juga kemampuan dalam
menghasilkan laba/keuntungan (Tulsian, 2014). Real performance merupakan kinerja perusahaan yang sebenarnya tanpa adanya pengaruh manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan (Shawtari et al., 2017).
Berdasarkan Holthausen, (1990) tipe manajemen laba dapat dibagi menjadi dua yaitu, manajemen laba efisien dan manajemen laba oportunistik. Berdasarkan penelitian terdahulu, memberikan bukti dan hasil yang beragam mengenai dampak manajemen laba terhadap real performance perusahaan dimasa depan. Subarmanyam (1996) menemukan bukti bahwa manajemen laba dianggap efisien ketika manajer menggunakan discretionary accrual tersebut untuk mengkomunikasikan private information mengenai profitabilitas perusahaan dimasa depan. Sementara itu, manajemen laba akan menjadi oportunis apabila manajer menggunakan kebijaksanaan mereka untuk memaksimalkan utilitas mereka sehingga dapat memutarbalikkan pendapatan. Hal ini sejalan dengan penelitian Razaei (2012) yang dilakukan di Iran dan Siregar & Utama (2008) yang dilakukan di Indonesia. Hasil penelitian mereka menyatakan ketika discretionary
accrual berpengaruh positif pada profitability dimasa depan, maka dapat
meningkatkan kemampuan prediftif perusahaan. Sehingga manajemen laba yang dilakukan oleh manjemen merupakan manajemen laba efisien. Sedangkan, ketika
discretionary accrual berpengaruh negatif atau tidak berpengaruh pada profitability
perusahaan dimasa depan maka manajemen laba disebut oportunis. Karena,
earnings management yang dilakukan memperburuk prospek yang dimiliki
perusahaan. Hal ini, sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Chan et al., (2004) yang menyatakan bahwa manajemen laba akrual memberikan efek negatif terhadap future earnings perusahaan. Sehingga dengan adanya accrual
management yang dilakukan perusahaan memberikan negatif bias dalam
memprediksi future earnings dan mengurangi keakuratan. Ghazali et al., (2015) menyatakan manajemen akan cenderung melakukan manajemen laba oportunis ketika kinerja perusahaan cenderung buruk dan cenderung merugi demi
27
Universitas Kristen Petra kepentingan going concern perusahaan. Dengan kata lain, manajer akan berusaha menyampaikan kepada publik bahwa mereka dapat memenuhi kewajiban mereka dan perusahaan tidak mengalami kerugian. Hal ini dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Dengan adanya penjelasan tersebut, hipotesa pertama dalam penelitian ini, yaitu:
H1: Earnings management berpengaruh terhadap financial performance
2.9.2 Pengaruh Ownership Structure terhadap Financial Performance
Ownership structure juga memiliki kesempatan, sumber daya dan
kemampuan untuk mempengaruhi mekanisme pengawasan yang digunakan oleh perusahaan (Monks & Minow, 2004). Gedajlovic & Shapiro (2002) menyatakan bahwa ownership structure memiliki hubungan dengan kinerja perusahaan. Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat bukti dan hasil yang beragam mengenai dampak kepemilikan institutional terhadap real performance perusahaan dimasa depan. Menurut Jiambalvo et al., (2002) kepemilikan institutional mampu merefleksikan earnings masa depan. Hal ini sejalan dengan penelitian Razaei (2012) yang menemukan hubungan positif antara kepemilikan institutional dan
profit dimasa depan. Charfeddine & Abdelaziz (2007) juga menyatakan bahwa
pengawasan yang dilakukan oleh investor institusional dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Namun, Ferreira & Matos (2008) yang melakukan penelitian di Amerika Serikat menyatakan institutional ownership merupakan pasif investor sehingga mereka lebih memilih menjual kepemilikannya ketika perusahaan mengalami kinerja yang buruk dan tidak mampu memberikan return dibandingkan menyediakan sumber daya dan memantau perusahaan agar mampu memiliki kinerja yang baik. Dengan kata lain, institutional investor lebih menginginkan return jangka pendek dibandingkan jangka panjang. Sedangkan, penelitian yang dilakukan oleh Siregar & Utama, (2008) dan Wiranata & Nugrahanti (2013) menyatakan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh institutional ownership tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Akan tetapi, Wiranata & Nugrahanti (2013) menyatakan bahwa kepemilikan asing dapat membantu mengurangi masalah keagenan dan meningkatkan kinerja perusahaan. Karena pihak asing memilih untuk
28
Universitas Kristen Petra berinvestasi pada perusahaan dengan perusahaan domestik terbaik. Selain itu, dengan adanya kepemilikan asing juga dapat meningkatkan kinerja perusahaan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Nakano & Nguyen (2013) yang menyatakan bahwa foreign ownership mayoritas memiliki motivasi finansial. Dengan kepemilikan asing, perusahaan akan menggunakan aset dengan lebih efektif dan melepaskan bisinis yang tidak menguntungkan. Sehingga dapat meningkatkan kinerja dan laba perusahaan dimasa yang akan datang. Hal ini tidak sejalan dengan penelitian, Mihai & Mihai (2013) dan Moez et al., (2015) yang menyatakan kepemilikan asing tidak berpengaruh terhadap profit dan kinerja perusahaan. Selain itu semakin tinggi presentase controlling ownership juga meningkatkan kinerja dan profitabilitas perusahaan di masa depan (Gedajlovic & Shapiro, 2002; Siregar & Utama, 2008; dan Perrini et al., 2008). Karena controlling
ownership akan menekan perusahaan untuk memberikan return yang tinggi di masa
depan.
H2a: Institutional ownership berpengaruh pada financial performance. H2b: Foreign ownership berpengaruh pada financial performance. H2c: Controlling ownership berpengaruh pada financial performance.
2.9.3 Pengaruh Ownership Structure dalam Memoderasi Pengaruh Earnings
Management terhadap Financial Performance
Ownership structure juga memiliki kesempatan, sumber daya dan
kemampuan untuk mempengaruhi mekanisme pengawasan yang digunakan oleh perusahaan, termasuk didalamnya pengawasan terhadap aktivitas manajemen laba (Monks & Minow, 2004). Jensen & Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peranan yang penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi diantara pemegang saham dengan manajer. Keberadaaan investor institusional dianggap mampu mengoptimalkan pengawasan kinerja manajemen dengan memonitoring setiap keputusan yang diambil oleh pihak manajemen selaku pengelola perusahaan. Ajay & Madhumathi (2015) menemukan bahwa institutional ownership mengarah pada peran pemantauan, sehingga dapat menghambat manajemen laba oportunistik. Alzoubi (2016) menjelaskan bahwa keberadaan institutional investors dapat menghambat manajer untuk melakukan
29
Universitas Kristen Petra
opportunistic earnings management. Hal ini disebabkan karena institutional investors memiliki kesempatan, sumber daya, dan kemampuan untuk mengawasi
manajer perusahaan. Razaei (2012) menyatakan dengan adanya institutional
ownership pada perusahaan akan memperkuat manajemen laba efisien dan
pengaruh discretionary accrual terhadap profitability perusahaan dimasa depan akan semakin besar. Pengawasan yang dilakukan oleh investor institusional dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dan mengurangi adanya perilaku oportunistik (Charfeddine & Abdelaziz, 2007). Institutional ownership juga menginginkan adanya return yang terbaik dari investasi yang mereka lakukan.
Dilain sisi, Ferreira & Matos (2008) menyatakan institutional ownership merupakan pasif investor sehingga mereka lebih memilih menjual kepemilikannya ketika perusahaan mengalami kinerja yang buruk dan tidak mampu memberikan
return dibandingkan menyediakan sumber daya dan memantau perusahaan agar
mampu memiliki kinerja yang baik. Sedangkan Siregar & Utama, (2008) menyatakan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh institutional ownership tidak berpengaruh terhadap profitabilitas dan kinerja perusahaan serta manajemen laba. Alzoubi (2016) menyatakan bahwa karena kepemilikan asing memiliki batasan jarak geografis maka dapat mengurangi kontrol atas proses laporan keuangan perusahaan sehingga dapat mengurangi manajemen laba oportunistik. Hal ini bertentangan dengan penelitian Guo & Ma (2015) yang meyatakan bahwa kepemilikan asing tidak dapat mengurangi adanya manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan. Ji et al., (2015) menyatakan tidak ada pengaruh antara kepemilikan asing dan kualitas laba. Selain itu, dengan adanya perwakilan dari
controlling ownership dalam jajaran direksi/komisaris dapat mempengaruhi
keputusan dan pengambilan keputusan terkait pilihan kebijakan akuntansi (Donnelly & Lynch 2002). Pemegang saham pengendali juga dapat menekan manajemen untuk melakukan manajemen laba untuk keuntungan pribadi mereka sendiri karena mereka dapat mengontrol dan dapat campur tangan dalam proses pelaporan keuangan (Ding et al., 2007). Hal ini dibuktikan dengan penelitian Baoa & Lewellyn (2017) yang menyatakan controlling ownership berpengaruh dalam meningkatkan manajemen laba dengan maksud untuk menghindari informasi mengenai kinerja perusahaan yang buruk. Disisi lain, Siregar & Utama (2008) dan
30
Universitas Kristen Petra Alves (2012) mengungkapkan hal yang berbeda. Dalam penelitian mereka,
controlling ownership memiliki hubungan negatif dengan tindakan manajemen
laba. Artinya, dengan adanya controlling ownership dapat meningkatkan kualitas
annual earnings dengan mengurangi manajemen laba.
H3a: Institutional ownership berpengaruh dalam memoderasi pengaruh earnings
management terhadap financial performance.
H3b: Foreign ownership berpengaruh dalam memoderasi pengaruh earnings
management terhadap financial performance.
H3c: Controlling ownership berpengaruh dalam memoderasi pengaruh earnings