• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL PENELITIAN. Sumber : Data yang diolah. 42 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. HASIL PENELITIAN. Sumber : Data yang diolah. 42 Universitas Kristen Petra"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

4. HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut ini akan dideskripsikan aspek demografi dan latar belakang karyawan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

4.1.1. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berdasarkan Posisi dan Jenis Kelamin

Berikut adalah deskripsi posisi dan jenis kelamin karyawan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.1. Tabulasi Silang Antara Posisi dan Jenis Kelamin Karyawan UsahKecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Posisi

Jenis Kelamin

Total Pria Wanita

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Administrasi 1 6.3 0 0 1 6.3

Packing 0 0 1 6.3 1 6.3

Pembukuan 0 0 1 6.3 1 6.3

Produksi 6 37.5 5 31.3 11 68.8

Sales 1 6.3 0 0 1 6.3

Supervisor 0 0 1 6.3 1 6.3

Total 8 50 8 50 16 100

Sumber : Data yang diolah

(2)

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui dari 8 karyawan pria, 6 diantaranya (37.5%) menduduki posisi pada bagian produksi, sedangkan 2 diantaranya masing-masing menduduki posisi pada bagian administrasi dan sales. Dari 8 karyawan wanita, 5 diantaranya (31.3%) menduduki posisi pada bagian produksi, sedangkan 3 diantaranya masing-masing menduduki posisi pada bagian packing, pembukuan dan supervisor. Tabel di atas memberikan informasi bahwa baik karyawan pria maupun karyawan wanita, mayoritas menduduki posisi pada bagian produksi. Hasil ini menunjukkan bahwa pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, tenaga wanita maupun pria sama-sama dibutuhkan untuk proses produksi.

4.1.2. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berdasarkan Usia dan Status Perkawinan

Berikut adalah deskripsi usia dan status perkawinan karyawan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.2. Tabulasi Silang Antara Usia dan Status Perkawinan Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Usia

Status Perkawinan

Total Belum

Kawin Kawin Pernah

Kawin

Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Kurang dari 25 th 4 25 0 0 0 0 4 25

25 – 35 th 3 18.8 3 18.8 0 0 6 37.5

36 – 45 th 0 0 5 31.3 1 6.3 6 37.5

Total 7 43.8 8 50 1 6.3 16 100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.2 diketahui mayoritas karyawan berusia 25-35 tahun dan berusia 36-45 tahun yaitu masing-masing sebanyak 6 orang (37.5%). Dari 6

(3)

karyawan yang berusia 25-35 tahun, 3 diantaranya berstatus kawin, sedangkan 3 orang lainnya berstatus belum kawin. Diketahui pula sebanyak 4 karyawan yang berusia kurang dari 25 tahun, semuanya berstatus belum kawin. Hasil di atas menunjukkan bahwa karyawan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, termasuk dalam usia muda (25-45 tahun) yang menikah pada usia cukup matang (di atas 25 tahun).

4.1.3. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berdasarkan Pendidikan dan Posisi

Berikut adalah deskripsi pendidikan dan posisi karyawan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.3. Tabulasi Silang Antara Pendidikan dan Posisi Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Pendidikan

Posisi

Total Admin Packing Pembukuan Produksi Sales Supervisor

Jmlh % Jmlh % Jmlh % Jmlh % Jmlh % Jmlh % Jmlh % Tamat

Sekolah Menengah

0 0 1 6.3 1 6.3 10 62.5 1 6.3 0 0 13 81.3

Tamat Pendidikan Tinggi

1 6.3 0 0 0 0 1 6.3 0 0 1 6.3 3 18.8

Total 1 6.3 1 6.3 1 6.3 11 68.8 1 6.3 1 6.3 16 100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui mayoritas karyawan tamat sekolah menengah (SMA/sederajat) yaitu sebanyak 13 orang (81.3%), hanya 3 orang karyawan (18.8%) yang tamat pendidikan tinggi (D3, D4 atau S1). Dari 13 karyawan yang tamat sekolah menengah, sebagian besar yaitu 10 orang menduduki posisi pada bagian produksi. Sedangkan 3 karyawan yang tamat pendidikan tinggi, masing-masing menduduki posisi pada administrasi, produksi

(4)

dan supervisor. Hasil di atas menunjukkan bahwa sebagian karyawan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, menduduki posisi pada bagian produksi.

Hal ini berkaitan dengan tingkat pendidikan karyawan yang sebagian besar hanya tamat sekolah menengah. Oleh karena itu perlu diadakan training atau pelatihan kerja agar pengetahuan dan keahlian karyawan meningkat.

4.1.4. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berdasarkan Jam Kerja dan Hari Kerja

Berikut adalah deskripsi jam kerja dan hari kerja dari karyawan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.4. Tabulasi Silang Antara Jam Kerja dan Hari Kerja Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Jam Kerja

(dalam 1 hari)

Hari Kerja

(dalam 1 minggu) Total 6 hari

Jumlah % Jumlah %

6 jam 2 12.5 2 12.5

7 jam 1 6.3 1 6.3

8 jam 11 68.8 11 68.8

9 jam 1 6.3 1 6.3

10 jam 1 6.3 1 6.3

Total 16 100 16 100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.4 diketahui semua karyawan dalam 1 minggu memiliki hari kerja sebanyak 6 hari. Dengan 6 hari kerja, sebagian besar karyawan yaitu 11 orang (68.8%), bekerja selama 8 jam pada tiap hari. Hasil di atas menunjukkan bahwa sebagian besar usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di

(5)

Jawa Timur, memiliki hari dan jam kerja seperti yang diatur dalam UU. Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja.Waktu kerja yang dimaksud meliputi:

- 7 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu;

atau

- 8 jam 1 hari dan 40 jam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu Teori di atas tercantum dalam UU Ketenagakerjaan Bab X pasal 77 tentang waktu kerja.

4.1.5. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berdasarkan Pengalaman Kerja dan Hubungan dengan Pemimpin

Berikut adalah deskripsi pengalaman kerja karyawan dan hubungan karyawan dengan pimpinan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.5. Tabulasi Silang Antara Pengalaman Kerja Karyawan dan Hubungan dengan Pimpinan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Pengalaman Kerja

Hubungan dengan Pimpinan

Total Tidak Ada Ada

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Tidak Ada 13 81.3 1 6.3 14 87.5

Ada 2 12.5 0 0 2 12.5

Total 15 93.8 1 6.3 16 100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.5 diketahui mayoritas karyawan yang bekerja pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, tidak memiliki pengalaman bekerja sebelumnya yaitu sebanyak 14 orang (87.5%), hanya 2 orang (12.5%) yang sebelumnya telah memiliki pengalaman bekerja. Dari 14 orang yang tidak memiliki pengalaman bekerja, 13 diantaranya tidak memiliki hubungan keluarga

(6)

dengan pimpinan, hanya 1 orang yang memiliki hubungan keluarga. Hasil ini memberikan informasi bahwa perekruitan (penerimaan) karyawan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dilakukan secara profesional karena tidak memandang adanya hubungan keluarga antara karyawan dengan pimpinan.

Hal ini ditunjukkan dengan hanya 1 karyawan tidak berpengalaman yang direkrut karena memiliki hubungan dengan pimpinan usaha.

4.1.6. Deskripsi Demografi dan Latar Belakang Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berdasarkan Hubungan dengan Pemimpin dan Lama Bekerja

Berikut adalah deskripsi hubungan karyawan dengan pimpinan dan lama bekerja karyawan usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.6. Tabulasi Silang Antara Hubungan dengan Pimpinan dan Lama Bekerja Karyawan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan

Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Hubungan dengan Pimpinan

Lama Bekerja

Total 1-5 tahun > 10 tahun

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Tidak Ada 13 81.3 2 12.5 15 93.8

Ada 1 6.3 0 0 1 6.3

Total 14 87.5 2 12.5 16 100

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.6 diketahui mayoritas karyawan yang bekerja pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, memiliki lama kerja 1-5 tahun yaitu sebanyak 14 orang (87.5%), hanya 2 orang (12.5%) yang telah bekerja lebih dari 10 tahun. Dari 14 orang yang memiliki lama kerja 1-5 tahun, 13 diantaranya tidak memiliki hubungan keluarga dengan pimpinan, hanya 1 orang yang memiliki hubungan keluarga. Diketahui pula, 2 karyawan yang telah bekerja lebih dari 10 tahun, keduanya tidak memiliki hubungan keluarga dengan pimpinan.

(7)

Hasil ini memberikan informasi bahwa pihak manajemen pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur telah menjalankan manajemen secara profesional, tidak memandang ada atau tidaknya hubungan keluarga antara karyawan dengan pimpinan. Dengan kata lain semua karyawan diberlakukan sama, dimana lama kerja lebih ditentukan oleh kinerja dari masing-masing karyawan, semakin baik kinerja karyawan, maka semakin lama pula dia bertahan sebagai karyawan.

4.2. Deskripsi Perkembangan Berdasarkan Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut ini akan dideskripsikan perkembangan berdasarkan periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur. Perkembangan perusahaan ditinjau dari aspek keuangan, aspek pemasaran dan aspek sumber daya manusia.

4.2.1. Deskripsi Perkembangan Berdasarkan Periode Growth Ditinjau dari Aspek Keuangan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Perkembangan pada aspek keuangan diukur berdasarkan jumlah produksi, nilai omzet, modal kerja dan aset tetap.

a. Jumlah Produksi

Berikut adalah deskripsi perkembangan jumlah produksi periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

(8)

Tabel 4.7. Deskripsi Perkembangan Jumlah Produksi Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Jumlah Produksi Periode Growth (unit)

Mandiri Perkasa 2500

Tabel 4.7. Deskripsi Perkembangan Jumlah Produksi Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur (lanjutan) Bintang Terang Kopi "66" 2300

Arjuna Snack 1800

Luminto Jaya 2000

Playboy Bakery 90720

PL. Mercy 124800

Panorama 5000

Terang Jaya Food 1000

UD.Sumber Hidup 5500

Aneka Rasa 7000

Cowboy 67500

Tiga Merpati 5000

Limun Hongkong 2000

Lidya Bakery 1300

Lie Foodstuff 2000

Lenny Cakes 5000

Mean 20338.75 Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.7 diketahui rata-rata jumlah produksi periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 20338.75 unit. Perusahaan yang memiliki jumlah produksi terbanyak adalah PL.

Mercy yang memproduksi limun dan soda dengan jumlah produksi sebanyak 124800 unit. Sedangkan perusahaan yang memiliki jumlah produksi paling sedikit

(9)

adalah Terang Jaya Food yang memproduksi bihun dengan jumlah produksi hanya 1000 unit.

b. Nilai Omzet

Berikut adalah deskripsi perkembangan nilai omzet periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.8. Deskripsi Perkembangan Nilai Omzet Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Nilai Omzet Periode Growth (juta rupiah per bulan)

Mandiri Perkasa 210

Bintang Terang Kopi "66" 270

Arjuna Snack 95

Luminto Jaya 225

Playboy Bakery 181.44 PL. Mercy 87.36 Panorama 100

Terang Jaya Food 200

UD.Sumber Hidup 55

Aneka Rasa 45.5 Cowboy 135

Tiga Merpati 50

Limun Hongkong 90

Lidya Bakery 150

Lie Foodstuff 50

Lenny Cakes 60

Mean 125.27 Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.8 diketahui rata-rata nilai omzet periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 125.27 juta rupiah

(10)

per bulan. Perusahaan yang memiliki nilai omzet tertinggi adalah Playboy Bakery yang memproduksi roti dengan nilai omzet per bulan sebesar 181,44 juta rupiah.

Sedangkan perusahaan yang memiliki nilai omzet terendah adalah Tiga Merpati yang memproduksi ting-ting mente, serta Lie Foodstuff yang memproduksi manisan, yang masing-masing memiliki omzet per bulan sebesar 50 juta rupiah.

Playboy Bakery merupakan perusahaan yang memiliki nilai omzet tertinggi diantara 15 perusahaan lainnya, akan tetapi jumlah produksinya masih di bawah PL. Mercy yang merupakan perusahaan dengan jumlah produksi terbanyak. Hal ini mungkin karena Playboy Bakery memiliki segmen pembeli yang lebih luas, karena produk roti yang dihasilkan bisa dikonsumsi mulai dari anak-anak hingga dewasa. Sedangkan limun dan soda yang diproduksi oleh PL.

Mercy segmen pembelinya lebih terbatas, umumnya anak-anak jarang yang mengkonsumsi minuman bersoda. Dengan demikian meskipun jumlah produksi dari PL. Mercy terbanyak, nilai omzetnya masih di bawah Playboy Bakery. Selain itu, jumlah pembelian konsumen terhadap minuman limun dan bersoda biasanya hanya terbatas, karena beredar suatu paradigma di antara masyarakat jika menegak minuman bersoda dapat berdampak negatif terhadap kesehatan.

Sedangkan belanja terhadap roti cenderung lebih banyak, mengingat bahwa roti tidak berbahaya untuk kesehatan.

c. Modal Kerja

Berikut adalah deskripsi perkembangan modal kerja periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.9. Deskripsi Perkembangan Modal Kerja Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Modal Kerja Periode Growth (juta rupiah)

Mandiri Perkasa 200

Bintang Terang Kopi "66" 200

Arjuna Snack 120

Luminto Jaya 120

Playboy Bakery 100

(11)

PL. Mercy 50

Panorama 150

Terang Jaya Food 100

UD.Sumber Hidup 35

Aneka Rasa 30

Cowboy 60

Tiga Merpati 35

Limun Hongkong 120

Lidya Bakery 180

Lie Foodstuff 25

Lenny Cakes 50

Mean 98.44 Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.9 diketahui rata-rata modal kerja periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 98.44 juta rupiah. Perusahaan yang memiliki modal kerja tertinggi adalah Mandiri Perkasa yang memproduksi krupuk udang, serta Bintang Terang Kopi "66" yang memproduksi kopi, yang masing-masing memiliki modal kerja sebesar 120 juta rupiah. Sedangkan perusahaan yang memiliki modal kerja terendah adalah Lie Foodstuff yang memproduksi manisan, dengan modal kerja sebesar 25 juta rupiah.

Mandiri Perkasa dan Bintang Terang Kopi "66" merupakan 2 perusahaan dengan jumlah modal tertinggi, hal ini berkaitan dengan proses produksi krupuk udang dan kopi yang harus melewati banyak tahapan. Selain itu alat-alat yang dibutuhkan untuk proses produksi lebih canggih dan harganya mahal. Sehingga, modal yang dibutuhkan oleh kedua perusahaan tersebut tergolong paling tinggi.

Sedangkan, manisan yang diproduksi Lie Foodstuff proses pembuatannya tidak terlalu rumit dan tidak membutuhkan alat-alat yang canggih. Dengan demikian modal yang dibutukan tidak besar.

(12)

d. Aset Tetap

Berikut adalah deskripsi perkembangan aset tetap periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.10. Deskripsi Perkembangan Aset Tetap Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Aset Tetap Periode Growth (juta rupiah)

Mandiri Perkasa 130

Bintang Terang Kopi "66" 150

Arjuna Snack 120

Luminto Jaya 120

Playboy Bakery 364

PL. Mercy 10

Panorama 300

Terang Jaya Food 1250

UD.Sumber Hidup 10

Aneka Rasa 8

Cowboy 225

Tiga Merpati 6

Limun Hongkong 80

Lidya Bakery 100

Lie Foodstuff 2

Lenny Cakes 10

Mean 180.31 Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.10 diketahui rata-rata aset tetap periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 180.31 juta rupiah.

Perusahaan yang memiliki aset tetap terbanyak adalah Terang Jaya Food yang memproduksi bihun yaitu 1250 juta rupiah. Sedangkan perusahaan yang memiliki

(13)

aset tetap paling sedikit adalah Lie Foodstuff yang memproduksi manisan yaitu hanya 2 juta rupiah.

Terang Jaya Food merupakan perusahaan dengan jumlah aset tetap terbanyak, hal ini karena dibutuhkannya tempat yang luas untuk proses pengeringan bihun, sehingga pabrik yang dibangun membutuhkan lahan yang luas dan bangunan yang besar. Lie Foodstuff aset tetapnya hanya 2 juta rupiah, hal ini karena pembuatan manisan tidak memerlukan mesin yang besar, selain itu hanya dibutuhkan tempat untuk pengepakan saja.

4.2.2. Deskripsi Perkembangan Berdasarkan Periode Growth Ditinjau dari Aspek Pemasaran Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Perkembangan pada aspek pemasaran diukur berdasarkan jumlah pelanggan dan jumlah supplier.

a. Jumlah Pelanggan

Berikut adalah deskripsi perkembangan jumlah pelanggan periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.11. Deskripsi Perkembangan Jumlah Pelanggan Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Jumlah Pelanggan

Periode Growth

Mandiri Perkasa 55

Bintang Terang Kopi "66" 58

Arjuna Snack 58

Luminto Jaya 25

Playboy Bakery 400

Terang Jaya Food 120

UD.Sumber Hidup 4

Aneka Rasa 25

Cowboy 2

(14)

Tiga Merpati 10

Limun Hongkong 20

Lidya Bakery 15

Lie Foodstuff 50

Lenny Cakes 30

Mean 398.25

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.11 diketahui rata-rata jumlah pelanggan periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 398.25 atau sekitar 398 pelanggan. Perusahaan yang memiliki jumlah pelanggan terbanyak adalah PL. Mercy yang memproduksi limun dan soda dengan jumlah pelanggan sebanyak 4000 orang. Sedangkan perusahaan yang memiliki jumlah pelanggan paling sedikit adalah Cowboy yang memproduksi gabin dengan jumlah pelanggan hanya 2 pelanggan.

PL. Mercy merupakan perusahaan dengan jumlah produksi terbanyak, hal ini berkaitan dengan jumlah pelanggan PL. Mercy yang terbanyak diantara 15 perusahaan lainnya. Meskipun segmen pembeli dari minuman limun dan soda lebih terbatas, namun jumlah pelanggan PL. Mercy terbanyak, hal karena konsumen yang sudah terbiasa dengan minuman limun atau soda cenderung akan selalu membeli minuman tersebut, terutama apabila ada acara-acara tertentu atau sedang merayakan sesuatu (pesta, dll).

b. Jumlah Supplier

Berikut adalah deskripsi perkembangan jumlah supplier periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

(15)

Tabel 4.12. Deskripsi Perkembangan Jumlah Supplier Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Jumlah Supplier

Periode Growth

Mandiri Perkasa 7

Bintang Terang Kopi "66" 6

Arjuna Snack 2

Luminto Jaya 10

Playboy Bakery 16

PL. Mercy 5

Panorama 6

Terang Jaya Food 20

UD.Sumber Hidup 6

Aneka Rasa 5

Cowboy 4

Tiga Merpati 10

Limun Hongkong 10

Lidya Bakery 12

Lie Foodstuff 5

Lenny Cakes 10

Mean 8.38

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.12 diketahui rata-rata jumlah supplier periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 8.38 atau sekitar 8 supplier. Perusahaan yang memiliki jumlah supllier terbanyak adalah Terang Jaya Food yang memproduksi bihun dengan jumlah supplier sebanyak 20 supplier. Sedangkan perusahaan yang memiliki jumlah supplier paling sedikit adalah Arjuna Snack yang memproduksi snack dengan jumlah supplier hanya 2 supplier.

(16)

Terang Jaya Food merupakan perusahaan dengan jumlah supplier terbanyak, hal ini berkaitan dengan semakin banyaknya pesaing yang juga menawarkan berbagai merek bihun dengan harga yang bersaing. Dengan supplier yang semakin banyak, Terang Jaya Food bisa memilih harga bahan baku yang murah dengan kualitas yang tetap baik. Dengan demikian, Terang Jaya Food bisa menghasilkan produk bihun dengan harga jual yang relatif murah namun kualitasnya tetap baik, sehingga produk bihun Terang Jaya Food bisa bersaing di pasaran. Selain itu, dengan banyaknya supplier, Terang Jaya Food bisa dengan mudah mendapatkan bahan baku bihun apabila stok di salah satu supplier habis.

4.2.3. Deskripsi Perkembangan Berdasarkan Periode Growth Ditinjau dari Aspek Sumber Daya Manusia Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Perkembangan pada aspek sumber daya manusia diukur berdasarkan jumlah tenaga kerja. Berikut adalah deskripsi perkembangan jumlah tenaga kerja periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur:

Tabel 4.13. Deskripsi Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Periode Growth Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Nama Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja

Periode Growth

Mandiri Perkasa 12

Bintang Terang Kopi "66" 9

Arjuna Snack 6

Luminto Jaya 12

Playboy Bakery 32

PL. Mercy 15

Panorama 20

Terang Jaya Food 20

UD.Sumber Hidup 5

Aneka Rasa 5

(17)

Cowboy 15

Tiga Merpati 5

Limun Hongkong 20

Lidya Bakery 15

Lie Foodstuff 5

Lenny Cakes 30

Mean 14.13 Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan Tabel 4.13 diketahui rata-rata jumlah tenaga kerja periode growth dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur adalah sebesar 14.13 atau sekitar 14 orang. Perusahaan yang memiliki jumlah tenaga kerja terbanyak adalah Playboy Bakery yang memproduksi roti dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 32 orang. Sedangkan perusahaan yang memiliki jumlah tenaga kerja paling sedikit adalah UD. Sumber Hidup yang memproduksi keripik tempe, Aneka Rasa yang memproduksi carang mas, tiga Merpati yang memproduksi ting- ting mente, serta Lie Foodstuff yang memproduksi manisan, dimana masing- masing perusahaan hanya memiliki jumlah tenaga kerja sebanyak 5 orang tetapi perusahaan yang ada diatas tersebut termasuk kedalam industri padat karya.

Playboy Bakery merupakan perusahaan dengan tenaga kerja terbesar yaitu sebanyak 32 orang, Lenny Cakes sebanyak 30 orang dan diikuti oleh Panorama, Terang Jaya Food, Limun Hongkong yang masing- masing sebanyak 20 orang. Tetapi jika kita melihat dalam hal aset tetap perusahaan Terang Jaya Food memiliki aset tetap yang paling besar ini dikarenakan Terang Jaya Food memerlukan tempat yang lebih besar untuk memproses barangnya, jika dibandingkan dengan Playboy Bakery yang hanya memerlukan mesin untuk proses produksi (pengeringan, dll).

Meskipun proses produksi pada Playboy Bakery banyak yang dilakukan dengan tenaga mesin, masih tetap dibutuhkan tenaga manusia, misalnya untuk memecahkan telur, memisahkan kuning dan putih telor, serta mengukur bahan- bahan untuk adonan roti. Banyaknya pembelian yang ditunjukkan dengan jumlah

(18)

omzet terbesar, mengharuskan Playboy Bakery untuk memproduksi banyak roti, hal tersebut harus ditunjang dengan banyaknya tenaga kerja.

4.3. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Entreprenerial Orientation Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang

Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Pada bagian berikut akan dideskripsikan sikap dan penilaian karyawan tentang dimensi-dimensi kewirausahaan (entreprenerial orientation) dari usaha kecil pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur. Dimensi-dimensi entreprenerial orientation meliputi gambaran umum usaha kecil, rencana strategik, cross functional, dukungan, intelijen pasar, pengambilan resiko, kecepatan, fleksibilitas, fokus, masa depan, serta orientasi individu.

4.3.1. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Gambaran Umum Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi gambaran umum usaha kecil:

Tabel 4.14. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Gambaran Umum Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Sikap Terhadap Gambaran Umum

Usaha Kecil Min Maks Mean Std.

Dev

Pengendalian anggaran 3 5 4.00 0.516

Penghargaan untuk karyawan 1 5 3.25 1.065

Ketersediaan dana ekspansi bisinis 2 5 3.56 1.153 Tahapan dalam perolehan dana ekspansi bisnis 1 4 2.81 1.109 Mean = 3.41

Std. Deviation = 0.515

Sumber : Data yang diolah

(19)

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap gambaran umun usaha kecil pada Tabel 4.14, didapatkan bahwa pada pernyataan mengenai gambaran tentang pengendalian anggaran, gambaran tentang penghargaan untuk karyawan, gambaran tentang ketersediaan dana ekspansi dan gambaran tentang tahapan dalam perolehan dan ekspansi, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Secara keseluruhan sikap responden terhadap gambaran umum usaha kecil memiliki skor rata-rata 3.41 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal pengendalian anggaran, penghargaan untuk karyawan, ketersediaan dana ekpansi dan tahapan dalam perolehan dan ekspansi pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi gambaran umum usaha kecil yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah pengendalian anggaran. Hal ini karena pengendalian anggaran berkaitan dengan kelanjutan dari perusahaan. Jika anggaran tidak dikendalikan, perusahaan bisa bangkrut dan gulung tikar, karena itu usaha kecil melakukan pengendalian anggaran dengan baik.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi gambaran umum usaha kecil:

Tabel 4.15. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Gambaran Umum Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Penilaian Terhadap Gambaran Umum

Usaha Kecil Min Maks Mean Std.

Dev

Pengendalian anggaran 3 5 4.13 0.619

Penghargaan untuk karyawan 1 5 3.56 1.031

Ketersediaan dana ekspansi bisinis 2 5 3.94 0.772 Tahapan dalam perolehan dana ekspansi bisnis 1 4 3.00 1.095 Mean = 3.66

Std. Deviation = 0.328

Sumber : Data yang diolah

(20)

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap gambaran umun usaha kecil pada Tabel 4.15, didapatkan bahwa pada pernyataan mengenai gambaran tentang pengendalian anggaran, gambaran tentang penghargaan untuk karyawan, gambaran tentang ketersediaan dana ekpansi dan gambaran tentang tahapan dalam perolehan dan ekspansi, penilaian terbanyak responden adalah penting. Secara keseluruhan penilaian responden terhadap gambaran umum usaha kecil memiliki skor rata-rata 3.66 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal pengendalian anggaran, penghargaan untuk karyawan, ketersediaan dana ekpansi dan tahapan dalam perolehan dan ekspansi pada industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang sedang. Dimensi gambaran umun usaha kecil yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah pengendalian anggaran. Hal ini karena pengendalian anggaran memang penting untuk kelangsungan hidup perusahaan yang dibutuhkan untuk ekspansi dan juga digunakan untuk kelangsungan perusahaan kedepannya. Jika tidak maka perusahaan akan mengalami penurunan kinerja ataupun kebangkrutan.

4.3.2. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Rencana Strategik Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi rencana strategik:

Tabel 4.16. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Rencana Strategik Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Rencana Strategik Min Maks Mean Std.

Dev

Rencana strategik formal 2 5 3.56 0.964

Rencana strategik yang mengikuti market trend 2 5 3.56 0.892 Manajer yang perpedoman pada renacana dan

anggaran tahunan 1 4 3.06 0.929

Kejelasan strategi 3 5 3.50 0.632

(21)

Sikap Terhadap Rencana Strategik Min Maks Mean Std.

Dev Ketergantungan pada kosultan eksternal dalam

pengembangan strategi perusahaan 2 5 3.00 0.894

Mean = 3.34 Std. Deviation = 0.540

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap rencana strategik pada Tabel 4.16, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang rencana strategik formal dan rencana strategik mengikuti market, jawaban terbanyak dari responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang manajer berpedoman pada rencana dan anggaran, kejelasan strategi dan ketergantungan pada konsultan eksternal, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap rencana strategik perusahaan memiliki skor rata- rata 3.34 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal rencana strategik pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi rencana strategik yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah rencana strategik formal dan rencana strategik yang mengikuti market trend. Hal ini karena persaingan dalam industri makanan dan minuman semakin ketat, sehingga usaha kecil industri makanan dan minuman harus mempunyai rencana strategik yang formal dan mengikuti tren pasar yang digunakan untuk kemajuan perusahaan kedepan.

Jika tidak, maka perusahaan akan ketinggalan dengan perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman yang sejenis.

(22)

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi rencana strategik:

Tabel 4.17. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Rencana Strategik Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Rencana Strategik Min Maks Mean Std.

Dev

Rencana strategik formal 2 5 3.63 1.025

Rencana strategik yang mengikuti market trend 3 5 3.88 0.806 Manajer yang perpedoman pada renacana dan

anggaran tahunan 1 5 3.38 0.957

Kejelasan strategi 3 5 4.19 0.750

Ketergantungan pada kosultan eksternal dalam

pengembangan strategi perusahaan 1 5 3.13 0.957

Mean = 3.64 Std. Deviation = 0.581

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap rencana strategik pada Tabel 4.17, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang rencana strategik formal, manajer berpedoman pada rencana dan anggaran, dan kejelasan strategi, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang rencana strategik mengikuti market dan ketergantungan pada konsultan eksternal, penilaian terbanyak responden adalah agak penting. Secara umum penilaian responden terhadap rencana strategik perusahaan memiliki skor rata-rata 3.64 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam rencana strategik pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang sedang. Dimensi rencana strategik yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah kejelasan strategi. Hal ini karena meskipun rencana strategi sudah ada, akan tetapi jika kejelasan pelaksanaan dalam menentukan suatu strategi belum ada, maka rencana strategi tersebut tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Oleh karena itu dengan adanya rencana strategi harus diiringi dengan adanya kejelasan

(23)

dari pelaksanaan strategi supaya hasil yang dicapai bisa maksimal dan terarah.

4.3.3. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Cross Functional Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang

Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi cross functional:

Tabel 4.18. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Cross Functional Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Cross Functional Min Maks Mean Std.

Dev

Kerjasama antar bagian/fungsi 1 5 3.38 1.204

Sharing ide dan informasi antar divisi 2 5 3.25 0.931

Kegiatan diskusi 1 5 3.19 0.981

Penghargaan untuk kerjasama antar

divisi/fungsi 1 4 3.00 1.033

Mean = 3.20 Std. Deviation = 0.586

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap cross functional pada Tabel 4.18, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kerjasama antar bagian, sharing ide dan informasi antar divisi, dan penghargaan untuk kerjasama antar divisi, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang kegiatan diskusi, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap cross functional memiliki skor rata-rata 3.20 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal cross functional pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi cross functional yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah kerjasama antar bagian/fungsi. Hal ini dikarenakan bahwa dengan tanpa adanya kerjasama

(24)

antar bagian/fungsi, maka semua proses di dalam suatu perusahaan tidak akan berjalan dengan baik, semua bagian/fungsi saling berhubungan satu dengan yang lain.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi cross functional:

Tabel 4.19. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Cross Functional Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Cross Functional Min Maks Mean Std.

Dev

Kerjasama antar bagian/fungsi 2 5 3.50 0.966

Sharing ide dan informasi antar divisi 2 5 3.38 0.885

Kegiatan diskusi 1 5 3.25 1.125

Penghargaan untuk kerjasama antar

divisi/fungsi 1 5 3.31 1.250

Mean = 3.36 Std. Deviation = 0.769

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap cross functional pada Tabel 4.19, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kerjasama antar bagian, sharing ide dan informasi antar divisi, dan penghargaan untuk kerjasama antar divisi, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang kegiatan diskusi, penilaian terbanyak responden adalah agak penting. Secara umum penilaian responden terhadap cross functional memiliki skor rata-rata 3.36 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal cross functional pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang sedang. Dimensi cross functional yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah kerjasama antar bagian/fungsi. Hal ini karena semua bagian/fungsi di perusahaan saling berhubungan dan saling mendukung sehingga satu dengan yang lain harus ada kerjasama yang baik.

(25)

4.3.4. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Dukungan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi dukungan:

Tabel 4.20. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Dukungan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Dukungan Min Maks Mean Std.

Dev

Dukungan dalam mengerjakan sesuatu 3 5 4.00 0.632

Tanggung jawab dalam berinovasi 2 4 3.44 0.629 Ketersediaan sarana penyampaian ide/saran 2 4 3.25 0.775 Kritis terhadap cara-cara lama 2 4 3.38 0.619 Adanya pertemuan informal untuk diskusi ide

baru 1 5 3.25 1.125

Mean = 3.46 Std. Deviation = 0.494

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi dukungan pada Tabel 4.20, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang dukungan mengerjakan sesuatu, tanggung jawab berinovasi, ketersediaan sarana penyampaian dan adanya pertemuan informal untuk diskusi ide baru, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang kristis terhadap cara lama ide, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap dukungan memiliki skor rata-rata 3.46 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal dukungan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi dukungan yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah dukungan dalam mengerjakan sesuatu. Hal ini karena dengan adanya dukungan dari atasan atau pimpinan, maka karyawan akan lebih

(26)

termotivasi untuk bekerja lebih baik sehingga kinerja karyawan akan meningkat.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi dukungan:

Tabel 4.21. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Dukungan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Dukungan Min Maks Mean Std.

Dev

Dukungan dalam mengerjakan sesuatu 3 5 4.00 0.632

Tanggung jawab dalam berinovasi 2 5 3.56 0.629 Ketersediaan sarana penyampaian ide/saran 3 5 3.94 0.680 Kritis terhadap cara-cara lama 3 5 3.81 0.655 Adanya pertemuan informal untuk diskusi ide

baru 1 5 3.44 1.153

Mean = 3.75 Std. Deviation = 0.596

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi dukungan pada Tabel 4.21, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang dukungan mengerjakan sesuatu, tanggung jawab berinovasi, ketersediaan sarana penyampaian dan kristis terhadap cara lama ide, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang adanya pertemuan informal untuk diskusi ide baru, penilaian terbanyak responden adalah agak penting. Secara umum penilaian responden terhadap dukungan memiliki skor rata-rata 3.75 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal dukungan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Dimensi dukungan yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah dukungan dalam mengerjakan sesuatu. Hal ini karena tanpa adanya dukungan dari atasan atau pimpinan, motivasi karyawan dalam bekerja bisa menurun yang nantinya bisa menyebabkan tidak tercapainya target perusahaan.

(27)

4.3.5. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Intelijen Pasar Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi intelijen pasar:

Tabel 4.22. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Intelijen Pasar Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Intelijen Pasar Min Maks Mean Std.

Dev

Rutinitas melakukan survey 1 5 3.31 1.138

Frekuensi kunjungan ke konsumen 2 4 3.00 0.816

Informasi tentang kompetitor 2 5 3.69 0.704

Mean = 3.33 Std. Deviation = 0.584

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi intelijen pasar pada Tabel 4.22, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang rutinitas melakukan survey dan informasi tentang kompetitor, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang frekuensi kunjungan ke konsumen, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap intelijen pasar memiliki skor rata-rata 3.33 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal intelijen pasar pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi intelijen pasar yang mendapat nilai rata- rata jawaban sikap tertinggi adalah informasi tentang kompetitor. Hal ini berkaitan dengan semakin ketatnya persaingan dalam industri makanan dan minuman, sehingga dibutuhkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kompetitor, agar perusahaan bisa membuat inovasi-inovasi baru untuk memenangkan persaingan dengan perusahaan kompetitor.

(28)

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi intelijen pasar:

Tabel 4.23. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Intelijen Pasar Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Intelijen Pasar Min Maks Mean Std.

Dev

Rutinitas melakukan survey 2 5 4.06 0.854

Frekuensi kunjungan ke konsumen 2 5 3.44 0.814

Informasi tentang kompetitor 2 5 4.13 0.885

Mean = 3.88 Std. Deviation = 0.739

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi intelijen pasar pada Tabel 4.23, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang rutinitas melakukan survey, frekuensi kunjungan ke konsumen, dan informasi tentang competitor, penilaian terbanyak responden adalah penting. Secara umum penilaian responden terhadap intelijen pasar memiliki skor rata-rata 3.88 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal intelijen pasar pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Dimensi intelijen pasar yang mendapat nilai rata- rata jawaban penilaian tertinggi adalah informasi tentang kompetitor. Dengan adanya informasi tentang kompetitor, maka perusahaan bisa melakukan inovasi- inovasi terbaru agar bisa bersaing di dalam pasar yang memiliki persaingan yang semakin ketat.

(29)

4.3.6. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Pengambilan Resiko Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi pengambilan resiko:

Tabel 4.24. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Pengambilan Resiko Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Pengambilan Resiko Min Maks Mean Std.

Dev

Adanya perubahan 2 5 3.81 0.911

Investasi baru 2 5 3.44 0.892

Kebebasan dan keberanian mencoba hal-hal

baru 2 5 3.50 1.095

Toleransi terhadap kegagalan 2 4 3.06 0.854

Adaptif terhadap perubahan kondisi 2 5 3.63 0.719 Mean = 3.49

Std. Deviation = 0.602

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi pengambilan resiko pada Tabel 4.24, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang adanya perubahan, kebebasan dan keberanian mencoba hal baru, toleransi terhadap kegagalan, dan adaptif terhadap perubahan kondisi, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang investasi baru, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap pengambilan resiko memiliki skor rata-rata 3.49 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal pengambilan resiko pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi pengambilan resiko yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah adanya perubahan. Setiap perubahan selalu ada resiko, akan tetapi jika perusahaan tidak melakukan perubahan yang lebih baik,

(30)

maka perusahaan tidak akan mengalami kemajuan. Jadi perusahaan harus berani mengambil resiko untuk melakukan perubahan demi kemajuan dan kelangsungan perusahaan.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi pengambilan resiko:

Tabel 4.25. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Pengambilan Resiko Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan

Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Pengambilan Resiko Min Maks Mean Std.

Dev

Adanya perubahan 3 5 3.94 0.854

Investasi baru 3 4 3.56 0.512

Kebebasan dan keberanian mencoba hal-hal

baru 2 5 3.88 0.719

Toleransi terhadap kegagalan 3 5 4.00 0.632

Adaptif terhadap perubahan kondisi 3 5 4.06 0.854 Mean = 3.89

Std. Deviation = 0.526

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi pengambilan resiko pada Tabel 4.25, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang adaptif terhadap perubahan kondisi, penilaian terbanyak responden adalah sangat penting. Pada pernyataan tentang investasi baru, kebebasan dan keberanian mencoba hal baru, dan toleransi terhadap kegagalan, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang adanya perubahan, penilaian terbanyak responden adalah agak penting. Secara umum penilaian responden terhadap pengambilan resiko memiliki skor rata-rata 3.89 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal pengambilan resiko pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Dimensi pengambilan resiko yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah adaptif terhadap perubahan kondisi. Perusahaan harus segera bisa menyesuaikan dengan adanya

(31)

perubahan kondisi, misalnya kenaikan harga bahan baku serta kenaikan harga bahan bakar. Jika perusahaan tidak segera melakukan penyesuaian, perusahaan bisa mengalami kebangkrutan.

4.3.7. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Kecepatan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi kecepatan:

Tabel 4.26. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Kecepatan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Kecepatan Min Maks Mean Std.

Dev Kecepatan dan efisiensi bagi keluhan

konsumen 2 5 3.88 0.806

Kecepatan penyelesaian masalah 2 5 3.63 0.885 Otonomi manajer dalam membuat keputusan 2 5 3.69 1.078 Gambaran dari konsumen untuk kecepatan

perusahaan 2 5 3.63 0.806

Mean = 3.70 Std. Deviation = 0.549

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi kecepatan pada Tabel 4.26, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kecepatan dan efisensi bagi keluhan konsumen, otonomi manajer membuat keputusan, dan gambaran konsumen untuk kecepatan perusahaan, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang kecepatan penyelesaian masalah, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap kecepatan memiliki skor rata-rata 3.70 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal kecepatan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang

(32)

dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong tinggi. Dimensi kecepatan yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah kecepatan dan efisiensi bagi keluhan konsumen. Jika keluhan dari konsumen tidak ditanggapi dengan cepat, maka akan menimbulkan rasa ketidakpuasan dari konsumen, dan konsumen bisa berpindah ke produk perusahaan yang lain. Oleh karena itu setiap keluhan yang datang dari konsumen harus ditanggapi dengan cepat dan efisien.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi kecepatan:

Tabel 4.27. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Kecepatan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Kecepatan Min Maks Mean Std.

Dev

Kecepatan dan efisiensi bagi keluhan konsumen 4 5 4.50 0.516 Kecepatan penyelesaian masalah 3 5 4.19 0.655

Otonomi manajer dalam membuat keputusan 2 5 3.44 0.964 Gambaran dari konsumen untuk kecepatan

perusahaan 3 5 4.25 0.683

Mean = 4.09 Std. Deviation = 0.491

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi kecepatan pada Tabel 4.27, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kecepatan dan efisensi bagi keluhan konsumen, kecepatan penyelesaian masalah dan gambaran konsumen untuk kecepatan perusahaan, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang otonomi manajer membuat keputusan, penilaian terbanyak responden adalah agak penting. Secara umum penilaian responden terhadap kecepatan memiliki skor rata-rata 4.09 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal kecepatan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Dimensi kecepatan yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah kecepatan dan efisiensi bagi keluhan

(33)

konsumen. Adanya persaingan yang semakin ketat dalam industri makanan dan minuman, mengharuskan usaha kecil industri makanan dan minuman untuk berloma-lomba memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen, agar konsumen merasa puas dan tidak lari ke perusahaan lain. Salah satu diantaranya adalah kecepatan dalam menanggapi keluhan konsumen.

4.3.8. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Fleksibilitas Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi fleksibilitas:

Tabel 4.28. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Fleksibilitas Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Fleksibilitas Min Maks Mean Std.

Dev Ketergantungan karyawan pada team adhock

dalam problem solving 1 4 3.19 0.911

Alokasi resources untuk peluang bisnis 2 5 3.19 0.834

Frekuensi rolling karyawan 1 5 3.06 1.237

Tiadanya penggunaan tahapan formal saat bekerja 1 4 3.00 1.033 Ketidakharusan pemakaian status jabatan dan gelar 2 5 3.69 0.946 Mean = 3.23

Std. Deviation = 0.628

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi fleksibilitas pada Tabel 4.28, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang ketergantungan karyawan pada team adhock, frekuensi rolling karyawan, tiadanya penggunaan tahapan formal saat bekerja, serta ketidakharusan pemakaian status jabatan dan gelar, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang alokasi resources untuk peluang, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap fleksibilitas memiliki

(34)

skor rata-rata 3.23 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal fleksibilitas pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi fleksibilitas yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah ketidakharusan pemakaian status jabatan dan gelar. Hal ini karena mayoritas karyawan usaha kecil yang menjadi responden penelitian adalah lulusan SMA dan berada pada bagian produksi, sehingga kebanyakan dari mereka mempunyai gelar dan status jabatan yang sama.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi fleksibilitas:

Tabel 4.29. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Fleksibilitas Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Fleksibilitas Min Maks Mean Std.

Dev Ketergantungan karyawan pada team adhock

dalam problem solving 2 5 3.44 0.814

Alokasi resources untuk peluang bisnis 3 5 3.94 0.772

Frekuensi rolling karyawan 2 5 3.44 0.964

Tiadanya penggunaan tahapan formal saat bekerja 1 5 3.13 1.204 Ketidakharusan pemakaian status jabatan dan gelar 2 5 3.56 1.031 Mean = 3.50

Std. Deviation = 0.657

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi fleksibilitas pada Tabel 4.29, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang ketergantungan karyawan pada team adhock, alokasi resources untuk peluang, frekuensi rolling karyawan, tiadanya penggunaan tahapan formal saat bekerja, dan ketidakharusan pemakaian status jabatan dan gelar, penilaian terbanyak responden adalah penting. Secara umum penilaian responden terhadap fleksibilitas memiliki skor rata-rata 3.50 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal fleksibilitas pada usaha kecil industri

(35)

makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang sedang. Dimensi fleksibilitas yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah alokasi resources untuk peluang bisnis. Adanya peluang bisnis harus selalu dimanfaatkan. Untuk itu, diperlukan alokasi sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada untuk digunakan untuk mencapai hasil yang maksimum.

4.3.9. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Fokus Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi fokus:

Tabel 4.30. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Fokus Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Fokus Min Maks Mean Std.

Dev

Kejelasan visi dari top management 3 5 4.06 0.680

Perbedaan jawaban oleh orang yang berbeda 1 4 3.00 1.095 Pengetahuan level bawah pada visi UK 1 4 2.94 1.063 Mean = 3.33

Std. Deviation = 0.531

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi fokus pada Tabel 4.30, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kejelasan visi top manajemen, perbedaan jawaban oleh orang beda dan pengetahuan level bawah pada visi usaha kecil, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Secara umum sikap responden terhadap fokus memiliki skor rata-rata 3.33 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal fokus pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi fokus yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi

(36)

adalah kejelasan visi dari top management. Hal ini karena tanpa kejelasan dari visi manajemen atas, maka kinerja perusahaan tidak akan terarah dengan baik yang nantinya bisa menyebabkan target perusahaan tidak tercapai.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi fokus:

Tabel 4.31. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Fokus Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni

Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Fokus Min Maks Mean Std.

Dev

Kejelasan visi dari top management 3 5 4.13 0.719

Perbedaan jawaban oleh orang yang berbeda 1 4 2.88 0.957 Pengetahuan level bawah pada visi UK 1 5 3.38 1.310 Mean = 3.46

Std. Deviation = 0.719

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi fokus pada Tabel 4.31, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kejelasan visi top manajemen, dan pengetahuan level bawah pada visi Usaha kecil, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang perbedaan jawaban oleh orang beda, penilaian terbanyak responden adalah kurang penting. Secara umum penilaian responden terhadap fokus memiliki skor rata-rata 3.46 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal fokus pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang sedang. Dimensi fokus yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah kejelasan visi dari top management. Dengan adanya visi yang jelas dari manajemen atas, kinerja perusahaan akan berjalan dengan terarah sehingga target perusahaan bisa tercapai oleh pegawai dalam suatu perusahaan.

(37)

4.3.10. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Masa Depan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi masa depan:

Tabel 4.32. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Masa Depan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh

Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Masa Depan Min Maks Mean Std.

Dev

Kesadaran akan posisi terbaik/terdepan 2 5 3.63 0.957 Kurangnya investasi di R&D 1 5 2.75 1.183

Banyaknya inovasi produk 2 5 3.63 0.957

Tiadanya reward dalam suatu eksperimen baru 2 5 3.50 0.816 Mean = 3.38

Std. Deviation = 0.577

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi masa depan pada Tabel 4.32, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kesadaran pada posisi terbaik, banyaknya inovasi produk dan tiadanya reward dalam eksperimen baru, jawaban terbanyak responden adalah setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang kurangnya investasi pada R&D, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Secara umum sikap responden terhadap fokus memiliki skor rata-rata 3.38 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal masa depan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang. Dimensi masa depan yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah kesadaran akan posisi terbaik/terdepan dan banyaknya inovasi produk. Hal ini karena semakin banyaknya industri kecil yang bergerak dalam bidang makanan dan minuman, membuat perusahaan harus berusaha menjadi yang terdepan untuk memperoleh banyak konsumen. Dengan adanya kesadaran menjadi yang terdepan, perusahaan selalu berusaha melakukan inovasi-inovasi terbaru serta memberikan pelayanan

(38)

yang terbaik bagi konsumen, sehingga konsumen akan selalu membeli produk perusahaan.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi masa depan:

Tabel 4.33. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Masa Depan Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Masa Depan Min Maks Mean Std.

Dev

Kesadaran akan posisi terbaik/terdepan 2 5 3.94 0.998 Kurangnya investasi di R&D 1 5 3.13 0.957

Banyaknya inovasi produk 3 5 4.25 0.683

Tiadanya reward dalam suatu eksperimen baru 2 5 3.63 0.957 Mean = 3.73

Std. Deviation = 0.642

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang penilaian responden terhadap dimensi masa depan pada Tabel 4.33, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kesadaran pada posisi terbaik, banyaknya inovasi produk dan tiadanya reward dalam eksperimen baru, penilaian terbanyak responden adalah penting. Sedangkan pada pernyataan tentang kurangnya investasi pada R&D, penilaian terbanyak responden adalah agak penting. Secara umum penilaian responden terhadap masa depan memiliki skor rata-rata 3.73 termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan entreprenerial orientation dalam hal masa depan pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur, dinilai memiliki tingkat kepentingan yang tinggi. Dimensi masa depan yang mendapat nilai rata-rata jawaban penilaian tertinggi adalah banyaknya inovasi produk. Dengan adanya persaingan yang semakin ketat di industri makanan dan minuman, setiap perusahaan dituntut untuk melakukan banyak inovasi-inovasi terbaru untuk meraih pangsa pasar.

(39)

4.3.11. Deskripsi Sikap dan Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Orientasi Individu Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Berikut adalah sikap karyawan terhadap dimensi orientasi individu:

Tabel 4.34. Deskripsi Sikap Karyawan Terhadap Dimensi Orientasi Individu Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Sikap Terhadap Orientasi Individu Min Maks Mean Std.

Dev

Impian menjalankan bisnis pribadi 3 5 4.38 0.619

Pribadi pemberontak 1 5 3.06 0.998

Menuju kunci puncak melalui kerja keras 2 5 4.25 0.775 Frekuensi lamunan di tempat kerja 1 5 2.25 1.000

Keinginan merubah status quo 1 5 2.50 1.366

Kepentingan mendapatkan gaji yang adil dan pasti 4 5 4.63 0.500 Kesanggupan menukar gaji dengan kepemilikan

saham 1 5 2.88 1.360

Ketidaknyamanan dalam lingkungan yang

terstruktur 1 5 3.06 1.063

Mean = 3.38 Std. Deviation = 0.454

Sumber : Data yang diolah

Hasil analisis deskriptif tentang sikap responden terhadap dimensi orientasi individu pada Tabel 4.34, didapatkan bahwa pada pernyataan tentang kepentingan mendapatkan gaji yang adil dan pasti, jawaban terbanyak responden adalah sangat setuju. Pada pernyataan tentang impian menjalankan bisnis pribadi dan kunci puncak melalui kerja keras, jawaban terbanyak responden adalah setuju.

Pada pernyataan tentang pribadi pemberontak dan ketidaknyamanan dalam lingkungan terstruktur, jawaban terbanyak responden adalah agak setuju. Pada pernyataan tentang frekuensi lamunan di tempat kerja dan kesanggupan menukar gaji dengan kepemilikan saham, jawaban terbanyak responden adalah kurang

(40)

setuju. Sedangkan pada pernyataan tentang keinginan merubah status quo, jawaban terbanyak responden adalah tidak setuju. Secara umum sikap responden terhadap fokus memiliki skor rata-rata 3.38 termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan pelaksanaan entreprenerial orientation dalam hal orientasi individu pada usaha kecil industri makanan dan minuman yang dikelola dan didirikan oleh alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur tergolong sedang.

Dimensi orientasi individu yang mendapat nilai rata-rata jawaban sikap tertinggi adalah kepentingan mendapatkan gaji yang adil dan pasti. Tujuan seseorang bekerja adalah untuk mendapat gaji atau imbalan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Gaji atau imbalan yang diberikan harus sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan karyawan. Dengan adanya pemberian gaji yang adil serta penentuan besarnya gaji secara jelas dan pasti, maka karyawan akan lebih termotivasi untuk bekerja dengan lebih baik lagi.

Berikut adalah penilaian karyawan terhadap dimensi orientasi individu:

Tabel 4.35. Deskripsi Penilaian Karyawan Terhadap Dimensi Orientasi Individu Usaha Kecil Pada Industri Makanan dan Minuman yang Dikelola dan Didirikan

oleh Alumni Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Timur

Penilaian Terhadap Orientasi Individu Min Maks Mean Std.

Dev

Impian menjalankan bisnis pribadi 3 5 4.31 0.793

Pribadi pemberontak 1 5 3.19 1.109

Menuju kunci puncak melalui kerja keras 3 5 4.31 0.602 Frekuensi lamunan di tempat kerja 1 5 2.50 1.265

Keinginan merubah status quo 1 5 2.69 1.401

Kepentingan mendapatkan gaji yang adil dan pasti 4 5 4.75 0.447 Kesanggupan menukar gaji dengan kepemilikan

saham 1 4 2.81 1.109

Ketidaknyamanan dalam lingkungan yang

terstruktur 1 5 3.19 1.109

Mean = 3.47 Std. Deviation = 0.515

Sumber : Data yang diolah

Referensi

Dokumen terkait

Keripik singkong adalah makanan ringan yang banyak digemari oleh masyarakat. Keripik singkong banyak digemari karena harganya yang murah dan rasa yang bervariasi.

Agar petunjuk teknis ini dapat tepat guna dan sesuai dengan pencapaian indikator kinerja kegiatan DAK Bidang Sarana Perdagangan Tahun Anggaran 2011,

Bank Royal Indonesia telah memiliki kebijakan dan prosedur kerja sebagai pedoman kerja yang memungkinkan Satuan Kerja Kepatuhan dapat menetapkan langkah-langkah yang diperlukan

Diagram lingkaran di bawah menyajikan jenis ekstrakuri- kuler di suatu SMK yang diikuti oleh 500 orang siswa.. Banyak siswa yang tidak mengikuti ekstrakurikuler

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga skripsi dengan judul : Validasi Metode Identifikasi

Strategi pada produk dilakukan dengan menerapkan strategi multi produk yang disesuaikan dengan permintaan pelanggan dan strategi system of product untuk

Tujuan penelitian ini adalah (1) menemukan peningkatan hasil belajar dengan diterapkannya pendekatan Contextual Teaching and Learning berbasis inkuiri dalam

Berdasarkan hasil analisis analisis regresi dalam penelitian ini, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Variabel penelitian yang dapat mempengaruhi meningkatnya kepatuhan