• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH CITRA TOKO DAN KEPUASAN TERHADAP LOYALITAS PADA CIRCLE K (Studi Kasus pada Circle K Semolowaru Surabaya).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH CITRA TOKO DAN KEPUASAN TERHADAP LOYALITAS PADA CIRCLE K (Studi Kasus pada Circle K Semolowaru Surabaya)."

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

9

PENGARUH CITRA TOKO DAN KEPUASAN

TERHADAP LOYALITAS PADA CIRCLE K

(Studi Kasus pada Circle K Semolowaru Surabaya)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Oleh :

MOCH. OKTOFIYANTO

0612010214 / EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

SKRIPSI

PENGARUH CITRA TOKO DAN KEPUASAN

TERHADAP LOYALITAS PADA CIRCLE K

SEMOLOWARU SURABAYA

Yang diajukan

MOCH. OKTOFIYANTO

0612010214 / EM

disetujui untuk Ujian Lisan oleh

Pembimbing Utama

Drs. Ec. Supriyono MM Tanggal………

Mengetahui Wakil Dekan I

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

ABSTRAKSI... viii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 7

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu ... 9

2.2. Landasan Teori ... 10

2.2.1. Pemasaran... 10

2.2.1.1. Pengertian Pemasaran ... 10

2.2.1.2. Pengertian Manajemen Pemasaran ... 11

2.2.1.3. Konsep Pemasaran ... 12

2.2.2. Citra Toko ... 15

2.2.3. Kepuasan Pelanggan ... 17

(4)

2.2.6. Pengaruh Citra Toko terhadap Loyalitas Pelanggan ... 28

2.2.7. Kepuasan Pelanggan terhadap Loyalitas Pelanggan ... 30

2.3. Kerangka Konseptual ... 31

2.4. Hipotesis... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel... 33

3.2. Teknik Penentuan Sampel... 33

3.2.1. Populasi ... 35

3.2.2. Sampel ... 36

3.3. Teknik Pengumpulan Data... 37

3.3.1. Jenis Data ... 37

3.3.2. Sumber Data... 37

3.3.3. Pengumpulan Data ... 38

3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan... 46

4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan... 46

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 48

4.3. Hasil Penelitian ... 49

(5)

4.3.2. Evaluasi Reliabilitas ... 50

4.3.3. Evaluasi Validitas ... 51

4.3.4. Evaluasi Construct Reliability dan Variance Extracted ... 51

4.3.5. Evaluasi Normalitas ... 51

4.3.6. Analisis Model One – Step Approach to SEM ... 53

4.3.7. Uji Kausalitas ... 56

4.4. Pembahasan... 57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 60

5.2. Saran... 60

DAFTAR PUSTAKA

(6)

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin... 48

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan ... 49

Tabel 4.3. Outlier Multivariate ... 49

Tabel 4.4. Pengujian Reliability Consistency Internal... 50

Tabel 4.5.Standardize Faktor Loading dan Construct dengan Confirmatory Faktor Analysis... 51

Tabel 4.6. Construct Reliability dan Variance Extracted... 52

Tabel 4.7. Assessment of normality... 53

Tabel 4.8. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices ... 54

Tabel 4.9. Evaluasi Kriteria Goodness of Fit Indices ... 55

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1. Model Pengukuran & Struktural Citra Toko dan Loyalitas Pelanggan, Model: One Step Approach – Base Model... 54 Gambar 4.2. Model Pengukuran & Struktural Citra Toko dan Loyalitas

(8)

(Studi Kasus pada Circle K Semolowaru Surabaya)

Oleh :

Moch. Oktofiyanto

ABSTRAKSI

Persaingan bisnis ritel terus berkembang dengan pesat. Berkembangnya konsep budaya belanja di pasar modern yang semakin kuat menyebabkan banyak peritel pasar modern terus mengembangkan diri. Begitu antusiasnya setiap peritel menjadikan persaingan yang ketat antar peritel dan akhirnya diantara peritel juga saling bersaing. Hal ini juga dilakukan Circle K, tetapi pihak Circle K mengalami penurunan omset perusahaan dari 2007 sampai 2010. Tidak terpenuhinya target penjualan ini diindikasikan oleh menurunnya loyalitas pelanggan akan citra atau reputasi Circle K. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh citra toko dan kepuasan terhadap loyalitas pada Circle K.

Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian dari populasi, yaitu sebagian dari pelanggan yang berkunjung ke Circle K Semolowaru. Metode pengambilan sampel dengan metode non probability sampling dengan teknik Purposive

Sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan oleh

peneliti. jumlah sampel yang digunakan sebanyak 120 responden. Teknik analisis yang digunakan adalah SEM (Struktural Equation Model)

Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan analisis SEM, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Faktor citra toko berpengaruh positif terhadap Faktor loyalitas pelanggan, dapat diterima, Faktor citra toko berpengaruh positif terhadap Faktor kepuasan pelanggan dapat diterima, Faktor kepuasan pelanggan berpengaruh positif terhadap Faktor loyalitas pelanggan, dapat diterima

(9)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH CITRA TOKO DAN KEPUASAN TERHADAP LOYALITAS (Studi Kasus pada Circle K Semolowaru Surabaya)” dapat diselesaikan dengan baik.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi satu syarat penyelesaian Program Studi Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya.

Dalam penyusunan skripsi, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai dengan baik tanpa adanya dari berbagai pihak. Untuk itu penulis menghaturkan rasa terima kasih yang mendalam kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM, selaku Ketua Progdi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

(10)

ilmunya kepada penulis.

6. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih banyak..

Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata penulis berharap, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surabaya, September 2011

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sekarang ini perkembangan bisnis ritel atau eceran mengalami peningkatan cukup pesat, hal ini ditandai semakin banyaknya bisnis ritel tradisional yang membenahi diri menjadi bisnis modern maupun munculnya bisnis ritel modern yang baru. Perubahan dan perkembangan kondisi pasar juga menuntut para peritel untuk mengubah paradigma lama pengelolaan ritel tradisional menuju pengelolaan paradigma ritel modern. Kondisi ini memantik minat para pelaku usaha melakukan ekspansi secara agresif untuk memperluas wilayah usahanya, terutama dalam bidang ritel modern. Banyak sekali perusahaan yang berusaha memenangkan persaingan dengan cara memanfaatkan peluang bisnis yang ada dan berusaha menerapkan strategi pemasaran yang tepat dalam rangka menguasai pasar. Penguasaan pasar (market share) merupakan salah satu kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk mempertahankan usahanya, berkembang, dan mendapatkan laba semaksimal mungkin. Mengacu pada kecenderungan kondisi yang berkembang saat ini, prospek industri ritel modern masih menjanjikan pertumbuhan yang cukup baik.

(12)

kekuatan yang ada pada suatu perusahaan melalui differensiasi dan keunikan yang dimiliki suatu perusahaan tersebut dibandingkan perusahaan pesaing dan berusaha mencapai tujuan untuk menciptakan respon positif masyarakat dan mempertahankan pelanggan dengan membuat citra yang baik dimata pelanggan itu sendiri yang nantinya akan menimbulkan loyalitas yang berkelanjutan. Ketentuan tersebut bisa dicapai oleh suatu perusahaan melalui upaya menghasilkan dan menyampaikan barang serta jasa yang diinginkan oleh pelanggan. Kondisi persaingan untuk memberikan yang terbaik kepada pelanggan tersebut, telah menempatkan pelanggan dalam proses pengambil keputusan untuk membeli (Engel, 1994:251).

Oleh karena itu, sama pentingnya dengan Citra Toko, salah satu upaya untuk meningkatkan referensi konsumen dalam mengingat sebuah merek adalah dengan menciptakan Loyalitas Pelanggan, yaitu dengan memanfaatkan karakteristik manusia kedalam produknya agar memudahkan konsumen mengingat merek tersebut serta memberikan hubungan yang lebih emosional, sehingga diharapkan dapat meningkatkan preferensi mereka dalam memilih suatu produk. Pada saat merek sudah merupakan cerminan

personality, maka fungsi merek tidak hanya sekedar gambaran tentang

(13)

3

Selain itu kepuasan pelanggan juga merupakan factor penting dalam menentukan loyalitas pelanggan. Menurut Kotler ( 1997 : 36 ) kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja produk ( atau hasil ) yang ia rasakan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan merupakan fungsi dari kesan kinerja dan harapan. Jika kinerja dibawah harapan, pelanggan akan tidak puas. Kalau kinerja sesuai dengan harapan, pelanggan akan puas. Apabila kinerja melampaui harapan, pelanggan akan sangat puas, senang, atau bahagia. Kepuasan pelenggan merupakan suatu tingkatan dimana kebutuhan, keinginan dan harapan dari pelenggan dapat terpenihi yang akan mengakibatkan terjadinya pembelian ulang atau kesetiaan yang berlanjut (Band, 1991). Faktor yang paling penting untuk menciptakan kepuasan konsumen adalah kinerja dari agen yang biasanya diartikan dengan kualitas dari agen tersebut (Mowen, 1995).

(14)

penurunan omset Circle K yang terlihat pada penurunan yang terjadi pada Circle K pada 2007 sampai dengan 2010.

Penurunan Omset Circle K dari 2007 sampai 2010

Tahun Omset Toko

(Rp)

Total Customer

2007 6.450.721.000 84.988 2008 5.900.469.230 84.577 2009 5.456.926.099 78.119 2010 4.272.775.914 56.623 Sumber : Circle K

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa terjadi penurunan omset toko dari 2007 sampai 2010. Pada tahun 2008 total omset 5.900.469.230 turun pada tahun 2009 dengan total omset 5.456.926.099 dan pada tahun 2010 kembali turun menjadi 4.272.775.914. Dalam hal ini dihubungakan dengan kepuasan pelanggan dan citra toko yang akan mempengaruhi kesetiaan pelanggan. Hal ini dapat dilihat dari komplain pelanggan, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 1.2. Data Keluhan Circle K Dari 2008 Sampai 2010

(15)

5

Berdasarkan data komplain diatas menunjukkan bahwa banyaknya komplain diatas menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan mengalami penurunan yang juga berakibat pada penurunan citra toko. Berdasarkan keadaan ini, maka perlu disadari bahwa untuk menjadikan Circle K menjadi ritel yang besar maka harus memperhatikan perilaku pembeli yang sangatlah penting dalam menunjang pemasaran. Untuk dapat menciptakan loyalitas yang terus berkelanjutan, maka Citra Toko mutlak terus dijaga dan ditingkatkan. Ikatan jangka panjang inilah yang nantinya akan menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik bagi bisnis usaha retail maupun bagi pelanggan. Karena pada dasarnya, penilaian konsumen didapat dari kepuasan yang diperoleh saat ia berkunjung ke suatu toko. Pengalaman yang menyenangkan akan menimbulkan minat untuk berkunjung atau membeli ulang ke toko yang sama di kemudian hari, bahkan tak jarang dari mereka merekomendasikan (word-of-mouth) kepada orang lain untuk berkunjung dan membeli produk di tempat yang sama.

(16)

beberapa tahun ke depan adalah pentingnya membentuk kepuasan yang total bagi pelanggan.

Steenkamp dan Wedel dalam Reardon et al (1995) mengatakan bahwa citra toko merupakan salah satu dari asset berharta yang dimiliki oleh retailer. Citra merupakan salah satu dasar yang digunakan oleh konsumen untuk menentukan seberapa cook kepribadian konsumen dengan citra toko tersebut. Citra mempengaruhi perilaku belanja dan pilihan toko yang akan dipilih sebagai tempat belanja.

Pada kelompok Minimarket, hanya terdapat 2 pemain besar yaitu Indomaret dan Alfamart. Indomaret merupakan pemain terbesar dengan pangsa omset sekitar 43,2% dari total omset Minimarket di Indonesia. Sementara Alfamart membuntuti dengan pengumpulan omset sebesar Rp7,3 triliun atau sekitar 40,8% dari total omset Minimarket di Indonesia. Sedangkan Circle K hanya menduduki peringkat kelima dengan omset 386 dengan persentase sebesar 2, 17%. Circle K sudah lama brandnya tidak terdengar. Untuk kelas hypermarket, awam lebih banyak mengenal Carefour, Hypermart atau Giant. Sedangkan untuk kelas minimarket, umumnya orang lebih familiar dengan Indomaret atau Alfamart.

(17)

7

Melihat kondisi tersebut, mau tak mau Circle K harus agresif melancarkan program edukasi komunikasi kepada masyarakat supaya awareness yang pernah dicapai tahun 80-an dulu kembali terdongkrak. Ini bisa dengan pasang iklan di media atau progam promo. Banyak cara dalam berpromosi, misalnya memberikan gratis secangkir kopi panas kepada pengunjung yang datang di atas jam 01.00 WIB malam atau promo lain untuk menggaet pelanggan.Saat ini, konsep kenyamanan dan pelayanan memuaskan belum cukup untuk mencapai target menggaet banyak customer tanpa dibarengi embel-embel benefit yang bisa dinikmati pelanggan. Cara ini mungkin efektif untuk mengimbangi harga produk Circle K yang lebih mahal ketimbang minimarket lain

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian tentang pengaruh citra toko terhadap perilaku konsumen, khususnya loyalitas konsumen yang terwujud dalam keinginan untuk membeli dan merekomendasikan toko, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “Pengaruh Citra Toko dan Kepuasan Terhadap Loyalitas Pada Circle K”

1.2. Perumusan Masalah

Perumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah ada pengaruh Citra Toko terhadap Kepuasan Pelanggan pada Circle K?

(18)

3. Apakah ada pengaruh Citra Toko terhadap Loyalitas Pelanggan pada Circle K?

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk menganalisis pengaruh Citra Toko terhadap Kepuasan Pelanggan pada Circle K

2. Untuk menganalisis pengaruh kepuasan pelanggan terhadap Loyalitas Pelanggan pada Circle K

3. Untuk menganalisis pengaruh Citra Toko terhadap Loyalitas Pelanggan pada Circle K

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi, serta bahan pertimbangan untuk evaluasi dalam menentukan strategi bisnis yang tepat dan efektif di masa yang akan datang bagi pengelola distro.

2. Bagi Fakultas Ekonomi

Untuk menambah khasanah perpustakaan dan referensi bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian lanjutan terhadap kajian dan pembahasan yang lebih mendalam dan lebih baik lagi di masa yang akan datang. 3. Bagi Penulis

(19)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh pihak lain, yang dapat

digunakan sebagai bahan pengkajian berkaitan dengan penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1.Penelitian oleh Astuti (2007) dengan judul “ Analisis Pengaruh Citra Toko

Terhadap Loyalitas Pelanggan Hypermarket Carrefour ITC Surabaya

Mega Grosir“.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh citra toko terhadap

loyalitas pelanggan. Hasil kesimpulannya yaitu besarnya pengaruh Citra

Toko terhadap brand personality adalah sebesar 43%. Hal ini

menunjukkan bahwa Citra Toko mampu mempengaruhi persepsi

konsumen terhadap Carrefour ITC Surabaya Mega Grosir sebesar 43%,

sedangkan 57% lainnya dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel Citra

Toko. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif antara

Citra Toko terhadap brand personality.

2. Musanto (2004) dengan judul Faktor-Faktor Kepuasan Pelanggan dan

Loyalitas Pelanggan: Studi Kasus pada CV. Sarana Media Advertising

(20)

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kepuasan

pelanggan mempunyai pengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan

Iklan Jitu surat kabar Jawa Pos. Dalam penelitian ini mengunakan empat

variabel untuk mewakili keppuasan pelanggan yang meliputi :

reliability,response to and remedy of problems, sales experience dan

convenience of acquisition. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa sales

experience memberikan kontribusi terbesar terhadap loyalitas pelanggan.

2.2. Landasan Teori

2.2.1. Pemasaran

2.2.1.1. Pengertian Pemasaran

Menurut Swastha (2002:179), pemasaran adalah sistem

keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk

merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan

mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan

kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

Pengertian pemasaran menurut Stanton (1984:7) adalah

suatu sistem dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk

merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan

mendistribusikan barang-barang dan jasa yang dapat memenuhi

keinginan baik konsumen saat ini maupun konsumen potensial.

Pengertian pemasaran menurut Kotler (2005:10),

(21)

11

kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan

dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas

mempertukarkan produk dengan pihak lain.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang bergerak

dibidang yang sama, akan mengakibatkan semakin beragamnya

pilihan barang dan jasa yang ada, sehingga timbullah persaingan

diantaranya. Oleh karena itu, tiap perusahaan harus dapat

menawarkan barang dan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan

dan keinginan konsumen.

2.2.1.2. Pengertian Manajemen Pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu ujung tombak untuk

mencapai tujuan perusahaan, apabila suatu perusahaan ingin

berhasil dalam kegiatan pemasaran, maka pihak pemasaran

dalam perusahaan hendaknya menerapkan suatu manajemen

pemasaran yang baik, sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai

sesuai dengan visi dan misi perusahaan.

Kotler (1996:11) berpendapat bahwa manajemen

pemasaran merupakan analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan

pengawasan program-program yang dirancang untuk

menciptakan, membuat dan menangani pertukaran yang

(22)

agar meraih tujuan perusahaan, seperti keuntungan, laju

penjualan, bagian pasar dan sebagainya.

2.2.1.3. Konsep Pemasaran

Pemasaran akan berhasil mencapai tujuannya apabila

pemasaran menitik-beratkan pada pemuasan kebutuhan dan

keinginan konsumen. Kepuasan konsumen tersebut baru akan

diperoleh apabila barang atau jasa yang dibeli sesuai dengan

persyaratan yang ditetapkan konsumen.

Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat tentunya

membawa dampak pada situasi persaingan yang semakin ketat

pula. Untuk mengatasi persaingan tersebut salah satunya dengan

menggunakan konsep pemasaran, karena konsep pemasaran

bertujuan untuk memberikan kepuasan terhadap keinginan dan

kebutuhan konsumen. Disinilah pemasaran berperan untuk

menjembatani permasalahan yang ada sehingga memungkinkan

bagi konsumen untuk membuat pilihan yang nantinya akan coba

dipenuhi oleh penjual.

Sedangkan Kotler dan Amstrong (2001:23), berpendapat

bahwa konsep pemasaran bertujuan untuk mencapai tujuan

organisasi tergantung pada penentuan kebutuhan dan keinginan

pasar serta memuaskan pelanggan secara lebih efektif dan efisien

(23)

13

Konsep pemasaran merupakan suatu kunci atau

keseluruhan sistem untuk meraih tujuan perusahaan yang

berhubungan dengan kegiatan-kegiatan usaha dalam

merencanakan, menentukan hingga melaksanakan kegiatan

pemasaran.

Tiga faktor penting yang dipakai sebagai dasar konsep

pemasaran menurut Swastha dan Handoko (2006:6-8), meliputi:

a. Orientasi Konsumen

Perusahaan yang benar-benar memperhatikan konsumen

maka harus:

1. Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan

dilayani dan dipenuhi.

2. Menentukan kelompok pembeli yang akan dijadikan

sasaran penjualan.

3. Menentukan produk dan program pemasarannya.

4. Mengadakan penelitian pada konsumen untuk mengukur,

menilai, dan menafsirkan keinginan, sikap, serta tingkah

laku mereka.

5. Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik,

apakah pada mutu yang tinggi atau pada harga yang

murahserta model yang menarik.

b. Penyusunan kegiatan secara integral

Untuk memberikan kepuasan yang optimal, semua

(24)

juga berusaha untuk menghindari adanya pertentangan

didalam maupun diluar perusahaan dengan pasar. Semua

bagian yang ada dalam perusahaan harus menyadari bahwa

bahwa setiap perilaku dan pola pikir mereka sangat

mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam menciptakan

dan mempertahankan pelanggan, jadi dapat dikatakan bahwa

setiap orang dan setiap bagian dalam perusahaan harus

mampu berkoordinasi untuk memberikan kepuasan kepada

konsumen sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai.

c. Kepuasan Konsumen

Faktor yang menentukan apakah dalam jangka panjang

perusahaan akan mendapatkan laba adalah tingkat kepuasan

konsumen yang dapat terpenuhi. Laba merupakan

pencerminan dari usaha perusahaan yang berhasil

memberikan kepuasan kepada konsumen, dimana perusahaan

dapat menyediakan atau menjual barang atau jasa yang paling

baik, yang sesuai dengan keinginan konsumen dan dengan

harga yang layak.

Berdasarkan pengertian diatas, konsep pemasaran

merupakan orientasi perusahaan yang menekankan bahwa tugas

pokok perusahaan adalah menentukan kebutuhan dan keinginan

(25)

15

tercapai tingkat kepuasan yang melebihi dari kepuasan yang

diberikan oleh para pesaing.

2.2.2. Citra Toko

Citra Toko merupakan salah satu aset yang berharga bagi sebuah

usaha. Seperti produk, sebuah toko juga mempunyai kepribadian. Dengan

kata lain Citra Toko adalah kepribadian sebuah toko yang dapat menjadi

daya tarik konsumen untuk berkunjung ke toko yang bersangkutan.

Menurut Mason, Mayer, dan Ezell (1988:142), Citra Toko adalah

cara konsumen merasakan tentang suatu toko, merasakan apa yang orang

percaya tentang suatu toko dan sebesar apa kepercayaan atau reputasi toko

tersebut tepat dengan apa yang orang pikirkan.

Konsumen yang memasuki toko tentunya memiliki kesan terhadap

toko tersebut, kesan terhadap penataan ruang dan barang, variasi produk

yang dijual, atau pelayanan yang diberikan oleh toko. Setiap toko berusaha

menciptakan citra yang baik dimata konsumen. Karena melalui

pengalaman belanja yang dimiliki, konsumen akan menilai keberadaan

toko tersebut. Citra positif sebuah toko akan menarik banyak minat

konsumen untuk berkunjung.

Peter dan Olson (2002:485) mendefinisikan citra toko sebagai apa

yang dipikirkan, dipersepsikan dan disikapi oleh konsumen atas suatu

toko. Citra toko didasarkan pada pengalaman konsumen saat mengunjungi

(26)

Martineau (1958:47) menekankan bahwa Citra Toko merupakan

suatu cara dimana suatu toko didefinisikan dalam pikiran pembeli, sesuai

dengan apa yang ada dalam pikiran pembeli, dimana sebagian pemikiran

kualitas, dan sebagian lagi dari atribut psikologi.

Menurut Bellenger dan Goldstruckter (1983:70), “A store can be

defind as the customer’s perception of the store versus competitive

store’s”. Maksud pernyataan tersebut adalah bagaimana pesepsi konsumen

terhadap suatu toko dibandingkan dengan toko lainnya, karena persepsi

konsumen terhadap suatu toko tentu berbeda dengan toko lainnya.

Variabel store image menjelaskan berbagai factor yang

mempengaruhi konsumen secara langsung saat berbelanja di sebuah toko,

dengan indikator (Lindquist:1974),:

1. Interior, yang meliputi disain interior toko

2. Merchandise,yang meliputi kelengkapan dan kualitas produk yang ada

di toko serta keragaman produk di toko.

3. Excellent Customer Service , yang meliputi pelayanan kasir yang

memuaskan serta pelayanan pramuniaga toko yang memuaskan.

4. Price Range , adanya kebijakan diskon dan promo-promo pada waktu

tertentu.

(27)

17

2.2.3. Kepuasan Pelanggan

Menurut Kotler, (2002 : 298) (dalam Herizon, dkk, 2003),

kepuasan pelanggan adalah sejauh mana kinerja yand diberikan oleh

sebuah produk sepadan dengan harapan pembeli. Shermerhorn

berpendapat bahwa pada dasarnya tujuan dari suatu organisasi bisnis

adalah memproduksi barang atau jasa yang memuaskan kebutuhan

pelanggannya. Dengan kata lain perusahaan berusaha untuk menciptakan

pelanggan yang merasa puas, manajemen perusahaan harus mengetahui

hal – hal yang menyebabkan terciptanya kepuasan pelanggan.

Tse dan Wilton ( dikutip oleh nasution; 2004 : 104 ) menyatakan,

bahwa kepuasan atau ketidakpuasan pelanggan adalah respons pelanggan

terhadap evaluasi ketidaksesuaian/diskormasi yang dirasakan antara

harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah

pemakaiannya.

Engel, et al. ( dikutip oleh Nasution; 2004 : 104 ) mengungkapkan,

bahwa kepuasan pelanggan merupakan evaluasi pembeli, dimana alternatif

yang dipilih sekurang – kurangnya memberikan hasil ( outcome ) sama

atau melampaui Kepuasaan Pelanggan, sedangkan ketidakpuasan timbul

apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi Kepuasaan Pelanggan.

Tjiptono ( 1995 : 28 ) Konsep kepuasan pelanggan pada dasarnya

menyangkut komponen dari kepuasan pelanggan tersebut, antara lain

adalah harapan dan kinerja / hasil yang dirasakan. Umumnya Kepuasaan

(28)

yang akan diterimanya bila ia membeli atau mengkonsumsi suatu produk

(barang atau jasa).Sedangkan kinerja yang dirasakan adalah Kualitas

Layanan terhadap apa yang ia terima setelah mengkonsumsi produk yang

dibeli.

Untuk menentukan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang

akan dipuaskan bukanlah hal yang mudah, hal ini disebabkan karena

kebutuhan dan keinginan pelanggan selalu mengalami perubahan dari

waktu ke waktu. Jika pelanggan merasa puas, maka ada kecenderungan

untuk melakukan pembelian ulang.

Kotler (2000) menyebutkan kepuasan adalah perasaan senang

atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya

terhadap kinerja (hasil) sesuatu produk dengan harapannya. Kepuasan

adalah semacam langkah perbandingan antara pengalaman dengan hasil

evaluasi, dapat menghasilkan sesuatu yang nyaman secara rohani, bukan

hanya nyaman karena dibayangkan atau diharapkan. Puas atau tidak puas

bukan merupakan emosi melainkan sesuatu hasil evaluasi dari emosi.

Penelitian mengenai kepuasan konsumen menjadi topik sentral dalam

dunia riset pasar dan berkembang pesat. Konsep berpikir bahwa kepuasan

konsumen akan mendorong meningkatnya profit adalah bahwa konsumen

yang puas akan bersedia membayar lebih untuk “produk” yang diterima

dan lebih bersifat toleran akan kenaikan harga. Hal ini tentunya akan

meningkatkan margin perusahaan dan Loyalitas konsumen pada

(29)

19

oleh perusahaan, sekaligus menjadi “pemasar” yang efektif melalui Word

of mouth yang bernada positif. Hal ini dapat membantu meningkatkan

penjualan dan kredibilitas perusahaan, namun perlu diingat bahwa

ternyata peningkatan market share tidak selamanya sesuai dengan

peningkatan kepuasan konsumen, bahkan dalam banyak hal atau kasus

yang terjadi adalah justru kebalikannya, semakin besar market share

sebuah perusahaan justru kepuasan konsumen semakin menurun.

Meningkatnya market share, paling tidak sampai pada titik tertentu,

memang dapat mencapai economies of scale (biasanya perusahaan

mencapai titik paling optimal) dan sebagai hasilnya perusahaan dapat

memberikan “harga yang relatif murah” pada konsumen yang menjadi

salah satu faktor kepuasan, namun pada sisi lain, meningkatnya jumlah

konsumen atau perluasan segmen dapat mengakibatkan turunnya kualitas

pelayanan yang diberikan. Konsep ini sangat menentukan bagi perusahaan

yang bergerak dibidang usaha jasa.

Atribut-atribut dari kepuasan konsumen secara universal menurut

Dutka (1994:41) adalah: “(1) Attributes related to the product, meliputi:

(a) value-price relationship, merupakan faktor sentral dalam menentukan

kepuasan konsumen, apabila nilai yang diperolah konsumen melebihi apa

yang dibayar, maka suatu dasar penting dari kepuasan konsumen telah

tercipta; (b) product quality, merupakan penilaian dari mutu suatu produk;

(c) product benefit, merupakan manfaat yang dapat diperoleh konsumen

(30)

dan kemudian dapat dijadikan dasar positioning yang membedakan

perusahaan tersebut dengan perusahaan lainnya; (d) product features,

merupakan ciriciri tertentu yang dimiliki oleh suatu produk sehingga

berbeda dengan produk yang ditawarkan pesaing; (e) product design,

merupakan proses untuk merancang gaya dan fungsi produk yang menarik

dan bermanfaat; (f) product reliability and consistency, merupakan

keakuratan dan keterandalan produk yang dihasilkan oleh suatu

perusahaan dalam jangka waktu tertentu dan menunjukkan pengiriman

produk pada suatu tingkat kinerja khusus; (g) Range of product or service,

merupakan macam dari produk/jasa layanan yang ditawarkan oleh

perusahaan. (2) Attributes related to service meliputi: (a) guarantee or

warranty, merupakan jaminan yang diberikan oleh suatu perusahaan

terhadap produk yang dapat dikembalikan bila kinerja produk tersebut

tidak memuaskan; (b) delivery, merupakan kecepatan dan ketepatan dari

proses pengiriman produk dan jasa yang diberikan perusahaan terhadap

konsumennya.; (c) complaint handling, merupakan penanganan terhadap

keluhan yang dilakukan oleh konsumen terhadap perusahaan; (d)

resolution of problem, merupakan kemampuan perusahaan dengan serius

dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh konsumen. (3) Attributes

related to purchase, meliputi: (a) courtesy, merupakan kesopanan,

perhatian, pertimbangan, keramahan yang dilakukan karyawan dalam

melayani konsumennya; (b) communication, merupakan proses

(31)

21

konsumennya; (c) ease or convenience acquisition, merupakan

kemudahan untuk mendapatkan pengetahuan tentang produk dari

perusahaan; (d) company reputation, adalah reputasi yang dimiliki

perusahaan dapat mempengaruhi pandangan konsumen terhadap

perusahaan tersebut; (e) company competence, adalah kemampuan suatu

perusahaan untuk mewujudkan permintaan yang diajukan oleh konsumen

dalam memberikan pelayanan.

2.2.3.1. Indikator Kepuasan Pelanggan

Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah

membandingkan hasil yang ia rasakan dengan harapannya :

a) Service: Merupakan kepuasan dengan peayanan yang diberikan toko

b) Expectation : apa yang diinginkan atau diharapkan pelanggan untuk

.ada. di suatu tempat perbelanjaan, terutama saat sedang berbelanja.

c) Price : merupakan kepuasan dengan perbandingan harga dan kualitas

yang ada di toko

d) Overall Satisfaction : kepuasan total terhadap kinerja toko

2.2.4. Loyalitas

Assael (1998: 130) mendefinisikan Loyalitas sebagai “a favorable

attitude toward a brand resulting in consistent purchase of the brand over

time.” Literatur-literatur pemasaran menyatakan bahwa Loyalitas dapat

(32)

1. Loyalty is behavioral, artinya Loyalitas dapat dipahami sebagai

konsep yang menekankan pada runtutan pembelian, proporsi

pembelian, probabilitas pembelian (Dick dan Basu, 1994).

Pemahaman ini sering disebut pendekatan keperilakuan (behavioral

approach).

2. Loyalty as an attitude, artinya Loyalitas dipahami sebagai

komitmen psikologis pelanggan terhadap obyek tertentu

(Dharmmesta, 1999). Pemahaman ini sering disebut sebagai

pendekatan attitudinal (attitudinal approach).

Loyalitas akan berkembang mengikuti tiga tahap, yaitu tahap

kognitif, afektif, dan konatif. Pelanggan akan loyal lebih dulu pada aspek

kognitifnya, kemudian pada aspek afektif, dan akhirnya pada aspek konatif

(Oskamp, 1991 seperti dikutip olehDharmmesta, 1999). Pendapat tersebut

sejajar dengan ilmu perilaku pelanggan, bahwa pelanggan akan melalui

tahap learning perception attitude behavior.

Sikap sendiri terdiri dari 3 komponen, yaitu kognitif, afektif, dan

konatif. Komponen kognitif berkaitan dengan proses pembelajaran

pelanggan, sedangkan komponen afektif berkaitan dengan sikap, dan konatif

berkaitan dengan perilaku. Hal ini berarti sebelum mencapai aspek konatif,

(33)

23

Dharmmesta (1999) dan Oliver (1999) mengemukakan 4 tahap

Loyalitas sebagai berikut:

a. Tahap pertama: Loyalitas Kognitif

Pada tahap ini, pelanggan akan menggunakan basis informasi

yang secara memaksa menunjuk pada satu merek atas merek lainnya.

Jadi, Loyalitasnya hanya didasarkan pada kognisi saja. Karena

Loyalitas ini hanya didasarkan atas kognisi saja, makaLoyalitas ini

tidak cukup kuat untuk membuat pelanggan tetap loyal.

b. Tahap kedua: Loyalitas Afektif

Pada tahap ini, Loyalitas pelanggan didasarkan atas aspek

afektif pelanggan. Sikap merupakan fungsi dari kognisi (pengharapan)

pada periode awal pembelian (masa pra konsumsi) dan merupakan

fungsi dari sikap sebelumnya plus kepuasan di periode berikutnya

(masa pasca konsumsi). Loyalitas afektif muncul akibat dorongan factor

kepuasan. Tetapi, kepuasan belum menjamin adanya Loyalitas, karena

kepuasan pelanggan berkorelasi tinggi dengan niat membeli ulang di

masa mendatang. Niat, bahkan pembelian ulang belum menunjukkan

adanya Loyalitas, hanya dapat dianggap tanda awal munculnya

Loyalitas. Loyalitas pada tahap ini jauh lebih sulit dirubah, karena

Loyalitasnya sudah masuk ke dalam benak pelanggan sebagai afek dan

bukan sebagai kognisi yang mudah berubah. Afek memiliki sifat yang

(34)

evaluasi pelanggan secara keseluruhantentang suatu merek (Oskamp,

1991 seperti dikutip oleh Dharmmesta, 1999).

c. Tahap Ketiga: Loyalitas Konatif

Konasi menunjukkan suatu niat atau komitmen untuk

melakukan sesuatu ke arah suatu tujuan tertentu. Oleh karena itu,

Loyalitas konatif merupakan suatu kondisi loyal yang mencakup

komitmen mendalam untuk melakukan pembelian. Komitmen sepertiini

sudah melampaui afek. Afek hanya menunjukkan kecenderungan

motivasional,sedangkan komitmen melakukan menunjukkan suatu

keinginan untuk menjalankan tindakan. Tahap Keempat: Loyalitas

Tindakan

Aspek konatif atau niat melakukan adalah kondisi yang mengarah

pada kesiapan bertindak dan pada keinginan untuk mengatasi hambatan

untuk mencapai tindakan tersebut. Artinya, tindakan merupakan hasil

pertemuan dua kondisi tersebut. Dengan kata lain, tindakan mendatang

sangat didukunh oleh pengalaman mencapai sesuatu dan penyelesaian

hambatan. Hal ini menunjukkan bagaimana Loyalitas itu dapat menjadi

kenyataan: Loyalitas kognitif Loyalitas afektif Loyalitas konatif

Loyalitas tindakan (Loyalitas yang ditopang dengan komitmen dan

(35)

25

2.2.4.1. Membangun Loyalitas Pelanggan

Pada saat situasi krisis, perusahaan harus memperhatikan untuk

mempertahankan pelanggan yang sudah ada (existing customer) daripada

harus mencari pelanggan baru terus-menerus yang memerlukan biaya

cukup besar. Perusahaan seharusnya mulai mengembangkan budaya

Loyalitas agar pelanggan tetap setia, diantaranya dengan (Widjaja, 1999:

135) :

a. Mengukur tingkat Loyalitas pelanggan. Perusahaan dapat melakukan

hal ini dengan melihat data yang dimiliki oleh setiap wiraniaga atau

supervisor penjualan.

b. Mengevaluasi tingkat Loyalitas setiap bulan. Ini dimaksudkan untuk

memberikan penghargaan (reward) kepada pelanggan yang sangat

loyal.

c. Menggunakan berbagai taktik pemasaran. Hal ini dilakukan untuk

menarik pelanggan agar tetap loyal.

d. Mengingatkan pentingnya Loyalitas pelanggan kepada para bawahan

sehingga mereka selalu berusaha untuk menomersatukan pelanggan.

e. Mengkaitkan tujuan membangun Loyalitas pelanggan terhadap prestasi

dan rencana kompensasi bawahan.

f. Mengajak bawahan terlibat dalam pengembangan dan

(36)

g. Mengidentifikasikan faktor-faktor yang menyebabkan pelanggan

pindah ke pesaing. Misalkan, faktor harga, pelayanan, atau kualitas dan

setelah itu dicoba untuk diperbaiki.

Menurut Lele dan Sheth (1996: 47) Loyalitas pelanggan dapat

dijabarkan oleh produsen dalam bentuk :

a. Sikap dan perilaku berkelanjutan mempersembahkan karya produk dan

pelayanan bermutu terbaik demi kepuasan pelanggan.

b. Fleksibilitas menyesuaikan mutu produk ke kebutuhan pelanggan yang

nyata.

c. Antusias menyambut dan memperhatikan customer complaint, bukan

menghindarinya.

d. Berupaya tulus memperhatikan kepentingan setiap pelanggan sebagai

insan manusia, bukan sekedar data, nomer atau sumber siap

dieksploitasi demi kepentingan profit produsen.

e. Kesadaran bahwa itu harus didukung suasana employees satisfaction.

Loyalitas pelanggan atau customer loyalty merupakan tiket menuju

sukses semua bisnis. Strategi pemasaran yang sukses, termasuk mass

marketing yang didukung oelh customer oriented drive seyogyanya

menghasilkan pelanggan-pelanggan yang loyal. Mereka yang

dikategorikan sebagai pelanggan setia ialah mereka yang sangat puas

dengan produk tertentu sehingga mempunyai antusiasme untuk

(37)

27

2.2.4.3. Indikator Loyalitas Pelanggan

Loyalitas pelanggan, merupakan bentuk Loyalitas terhadap

pengecer secara keseluruhan dengan indicator (Japarianto, 2007:36):

1. Word of mouth, yang meliputi berkata positif tentang toko tertentu

kepada orang lain, serta mendorong teman dan orang lain untuk

berbelanja ke toko tersebut.

2. Repurchase intention, yang meliputi keinginan untuk berbelanja di

toko tersebut diwaktu yang akan datang, serta menempatkan toko

tersebut sebagai prioritas utama tempat berbelanja

3. Price insensitivy yaitu keinginan untuk mengurangi kegiatan belanja

jika harga-harga di toko tersebut dirasa lebih mahal.

2.2.5. Pengaruh Citra Toko terhadap Kepuasan Pelanggan

Variabel citra toko berhubungan dengan variable kepuasaan

pelanggan, citra toko yang baik akan mendorong perasaan puas sesesorang

konsumen. (Singgih, 2007 : 36). Sedangkan Tarblanche dan Boshoff (2006)

menguji hubungan citra toko dengan kepuasan konsumen, citra toko dibagi

menjadi lima dimensi dimana variable merchandize value dan store

environment mempunyai hubungan yang positif, namun sesungguhnya

hubungan tersebut lemah. Keduanya berkorelasi dibawah 0,5 yakni 0,315

untuk variable merchandize value dengan kepuasan.

Konsumen yang memasuki toko tentunya memiliki kesan terhadap

(38)

yang dijual, atau pelayanan yang diberikan oleh toko. Setiap toko berusaha

menciptakan citra yang baik dimata konsumen. Karena melalui pengalaman

dan kepuasan belanja yang dimiliki, konsumen akan menilai keberadaan

toko tersebut. Citra positif sebuah toko akan menciptakan kepuasan

pelanggan. (Singgih, 2007 : 37)

Jadi hubungan antara citra toko dan kepuasan adalah positif, maka citra

toko yang tinggi akan meningkatkan kepuasan pelanggan

2.2.6. Pengaruh Citra Toko terhadap Loyalitas Pelanggan

Mo Koo (2003:46) mengatakan bahwa sesungguhnya citra toko

mempunyai dampak atau pengaruh di dalam membangun loyalitas

pelanggan terhadap toko. Chang dan Yoo (2005:27) there have been two

kinds of views on the relationship between store image and store loyalty.

The first view is that store image attributes directly influences store loyalty.

The other is that store image itself affects store loyalty. Yang artinya ada

dua macam pandangan mengenai keterkaitan antara citra toko dengan

loyalitas pelanggan. Yang pertama adalah bahwa atribut citra toko

berpengaruh secara langsung terhadap loyalitas pelanggan. Dan yang kedua

bahwa citra toko secara sendiri mempengaruhi loyalitas pelanggan.

Osman (1993) dalam Bloemer and Ruyter (1998:503) “Customers’

patronage behaviour towards a particular store is dependent on their image

(39)

29

valence of the store to the customer”. Yang mempunyai arti perilaku

belangganan dari pelanggan pada suatu toko tertentu tergantung dari

pandangan mereka terhadap citra yang diberikan suatu toko. Semakin baik

citra toko yang diberikan, semakin tinggi pula tingkat kunjungan yang

dilakukan pelanggan ke toko tersebut. Bloemer and Ruyter (1998:505)

mengatakan bahwa store image berpengaruh positif terhadap store loyalty.

Setiap toko berusaha menciptakan citra yang baik dimata konsumen,

karena citra yang dimiliki konsumen terhadap toko pada akhirnya akan

menimbulkan penilaian konsumen akan keberadaan toko tersebut. Citra

yang positif dari suatu toko akan mampu menarik lebih banyak konsumen

dan dapat meningkatkan penjualan, sebaliknya penjualan produk akan jatuh

atau mengalami penurunan jika citra tokonya dipandang negatif oleh

masyarakat. Berdasarkan keadaan ini, maka perlu disadari bahwa perilaku

pembeli sangatlah penting dalam menunjang pemasaran. Untuk dapat

menciptakan loyalitas pelanggan yang berkelanjutan, maka citra toko harus

terus dijaga dan ditingkatkan. Ikatan jangka panjang inilah yang nantinya

akan menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik bagi bisnis usaha ritel

atau hypermarket maupun bagi pelanggan. Karena pada dasarnya, penilaian

konsumen didapat saat berkunjung di suatu toko. Pengalaman yang

menyenangkan akan menimbulkan minat untuk berkunjung atau membeli

ulang ke toko yang sama dan akhirnya akan menjadi pelanggan yang loyal.

(40)

word-of-mouth) toko kepada orang lain untuk berbelanja ke toko atau hypermarket

yang sama.

2.2.7. Kepuasan Pelanggan terhadap Loyalitas Pelanggan

Menurut Jones dan Sasser (1994: 745) menyatakan bahwa

loyalitas pelanggan merupakan suatu variable endogen yang disesbabkan

oleh kombinasi dari kepuasan sehingga loyalitas pelanggan merupakan

fungsi dari kepuasaan, jika hubungan antara kepuasaan dengan loyalitas

pelanggan adalah positif, maka kepuasaan yang tinggi akan meningkatkan

loyalitas pelanggan.

Dalam pasar yang tingkat persaingan cukup tinggi, kepuasan

pelanggan dan loyalitas pelanggan saling berhubungan. Hal ini dapat

disebabkan karena dalam kondisi ini banyak badan usaha yang menawarkan

produk dan jasa sehingga konsumen mempunyai banyak pilihan produk

pengganti dan cost switching sangat rendah, dengan demikian produk atau

jasa menjadi tidak begitu berarti bagi konsumen. Hubungan antara kepuasan

pelanggan dan loyalitas pelanggan tersebut diatas digambarkan garis lurus dan

searah, yang artinya adalah bila badan usaha meningkatkan kepuasan kepada

pelanggan maka loyalitas pelanggan juga akan meningkat begitu pula

sebaliknya bila badan usaha menurunkan kepuasan pelanggan maka secara

otomatis loyalitas pelanggan juga akan menurun. Jadi dalam hal ini kepuasan

pelanggan merupakan penyebab terjadinya loyalitas pelanggan sehingga

kepuasan pelanggan sangat mempengaruhi loyalitas pelanggan (Musanto,

(41)

31

2.3. Kerangka Konseptual

Citra Toko (X)

Loyalitas (Z)

Kepuasan (Y)

Gambar 1. Kerangka Konseptual

2.4. Hipotesis Penelitian

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : “

1. Diduga Citra Toko berpengaruh positif terhadap Kepuasan Pelanggan

pada Circle K”.

2. Diduga kepuasan pelanggan berpengaruh positif terhadap Loyalitas

Pelanggan pada Circle K”.

3. Diduga Citra Toko berpengaruh positif terhadap Loyalitas Pelanggan

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.1.2. Definisi Operasional

Definisi operasional dalam variabel ini adalah segala sesuatu

yang dapat digunakan menjadi obyek penelitian berdasarkan atas

sifat-sifat atau hal-hal yang dapat diamati atau diobservasi.

Adapun variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Citra Toko (X)

Citra Toko merupakan kumpulan berbagai sikap yang dimiliki

konsumen tentang toko yang dihubungkan dengan harapan

mereka.Dimensi beserta indikator yang diajukan untuk mengukur

Citra Toko (Lindquist:1974), adalah.

a) Interior, yang meliputi disain interior toko

b) Merchandise,yang meliputi kelengkapan dan kualitas

produk yang ada di toko serta keragaman produk di toko.

c) Excellent Customer Service , yang meliputi pelayanan kasir

yang memuaskan serta pelayanan pramuniaga toko yang

memuaskan.

d) Price Range , adanya kebijakan diskon dan promo-promo

pada waktu tertentu.

(43)

33

2. Kepuasan pelanggan (Y)

Adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja yang

ia rasakan dibandingkan dengan harapannya (Samuel, 2006 : 55)

a) Service: Merupakan kepuasan dengan peayanan yang diberikan toko

b) Expectation : apa yang diinginkan atau diharapkan pelanggan untuk

.ada. di suatu tempat perbelanjaan, terutama saat sedang berbelanja.

c) Price : merupakan kepuasan dengan perbandingan harga dan kualitas

yang ada di toko

d) Overall Satisfaction : kepuasan total terhadap kinerja toko

3. Loyalitas pelanggan (Z)

Merupakan bentuk Loyalitas terhadap pengecer secara keseluruhan

dengan indicator (Japarianto, 2007:36) :

a) Word of mouth, yang meliputi berkata positif tentang toko tertentu

kepada orang lain, serta mendorong teman dan orang lain untuk

berbelanja ke toko tersebut.

b) Repurchase intention, yang meliputi keinginan untuk berbelanja di

toko tersebut diwaktu yang akan datang, serta menempatkan toko

tersebut sebagai prioritas utama tempat berbelanja

c) Price insensitivy yaitu keinginan untuk mengurangi kegiatan belanja

(44)

3.1.3. Pengukuran Variabel

Skala pengukuran yang digunakan ialah Skala Likert, yaitu

skala jarak antara data satu dengan data yang lain sama tetapi tidak

merupakan nilai nol absolut (Indriantoro dan Supomo, 2002 : 105).

Analisis dilakukan dengan meminta responden untuk menyatakan

pendapatnya tentang serangkaian pertanyaan yang berkaitan obyek

yang diteliti dalam bentuk nilai yang berada dalam 2 (dua) sisi.

Responden diminta untuk menilai suatu konsep atau obyek

pada suatu skala yang mempunyai dua kata adjektif yang

bertentangan, yaitu rentang skala yang terdiri dari tujuh kriteria yang

diwakili dengan angka, dimana angka 1 menyatakan sangat tidak

setuju sampai angka 7 yang menyatakan sangat setuju, gambarannya

sebagai berikut:

1 7

Sangat tidak setuju Sangat setuju

3.2. Teknik Penentuan Sampel

3.2.1. Populasi

Menurut Sugiyono (2001:72) populasi adalah wilayah

generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai

kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dari

penelitian ini adalah seluruh pelanggan yang berkunjung ke Circle K

(45)

35

3.2.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan

karakteristik yang sama dengan populasi tersebut. Karena itu sample harus

representative dari sebuah populasi (Sumarsono, 2002 : 45). Sampel dalam

penelitian ini adalah sebagian dari populasi, yaitu sebagian dari pelanggan

yang berkunjung ke Circle K Semolowaru. Metode pengambilan sampel

dengan metode non probability sampling dengan teknik Purposive

Sampling yaitu sampel dipilih berdasarkan kriteria yang sudah ditetapkan

oleh peneliti. Dengan kriteria antara lain :

- Melakukan pembelian lebih dari satu kali

- berumur 17 tahun keatas, karena dianggap telah dewasa dan

mengetahui isi kuesioner tersebut

Teknik penentuan sampel yang dipergunakan adalah berdasarkan

pedoman pengukuran sampel menurut Augusty (2002:48), antara lain :

1. 100 – 200 sampel untuk teknik maximum likelihood estimation.

2. Tergantung pada jumlah parameter yang diestimasi. Pedomannya adalah

5 – 10 kali jumlah parameter yang diestimasi.

3. Tergantung pada jumlah indikator yang digunakan dalam seluruh

variabel laten. Jumlah sampel adalah jumlah indikator dikali 5-10. bila

(46)

Ukuran sampel dalam penelitian ini adalah Maximum Likehood

Estimation (antara100-200) yang diambil dari seluruh pengunjung yang

datang ke Circle K. Dengan demikian jumlah sampel yang digunakan yaitu

12 x 10, jadi sampel yang digunakan sebanyak 120 responden.

3.3. Teknik Pengumpulan Data

3.3.1. Jenis Data

a. Data Primer

Merupakan data yang diperoleh secara langsung dari para

responden melalui pengisisan kuesioner yang diberikan kepada

responden, berkaitan dengan variabel penelitian.

b. Data Sekunder

Merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari objek

penelitian dimana data tersebut merupakan data yang sudah jadi.

3.3.2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari jawaban

responden mengenai variabel yang berkaitan dengan penelitian dan

data dari Circle K serta sumber data lainnya yang berhubungan

(47)

37

3.3.3. Pengumpulan Data

Terkait dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan,

berikut disajikan metode pengumpulan data terkait dengan penelitian

yang dilakukan:

a. Dokumentasi

Yaitu data yang diperoleh dari hasil dokumentasi yang

berhubungan dengan penelitian ini, yakni data internal yang

diperoleh dari pihak Circle K.

b. Interview

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan

wawancara atau tanya jawab secara langsung kepada pihak

reponden.

c. Observasi

Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati

secara langsung pengunjung di Circle K.

d. Kuesioner

Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan daftar

pertanyaan, dimana responden diminta memberikan penilaian

atas pertanyaan yang diberikan oleh peneliti sehubungan dengan

permasalahan yang diteliti.

e. Studi Kepustakaan

Data-data teoritis yang berupa literatur maupun bentuk lainnya

(48)

3.4. Teknik Analisis dan Uji Hipotesis

Ketepatan pengujian suatu hipotesa tentang pengaruh antara variabel

dalam penelitian sangat tegantung pada kualitas data yang diperoleh dan

digunakan dalam pengujian tersebut. Kualitas data yang diperoleh sangat

ditentukan oleh kesungguhan konsumen dalam menjawab semua pertanyaan

penelitian dan alat pengukur (berupa kuesioner) yang digunakan untuk

mengumpulkan data tersebut, apakah memiliki validitas dan reliabilitas yang

tinggi. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Citra Toko terhadap brand

personality, maka digunakan model persamaan Structural Equation

Modelling (SEM). Dalam menguji analisis dan uji hipotesis peneliti

menggunakan program aplikasi AMOS dengan pertimbangan lebih praktis

dan mudah digunakan, selain itu peneliti menggunakan model confirmatory

factor analysis.

3.4.1. Asumsi Model Structural Equation Modeling

1. Uji Normalitas Sebaran dan Linieritas

1) Normalitas dapat diuji dengan melihat gambar histogram data

atau dapat diuji dengan metode-metode statistik.

2) Menggunakan Critical Ratio yang dipeoleh dengan membagi

koefisien sampel dengan standart errornya dan skewness

value yang biasanya disajikan dalam statistik deskriptif

dimana nilai statistik untuk menguji normalitas itu disebut

(49)

39

lebih besar dari nilai kritis, maka dapat diduga bahwa

distribusi data tidak normal.

3) Normal Probability Plot (SPSS 10.1).

4) Linearitas dengan mengamati scatter plots dari data yaitu

dengan memilih pasangan data dan dilihat pola

penyebarannya untuk menduga ada tidaknya linearitas.

2. Evaluasi atas Outlier

1) Mengamati nilai Z-score : ketentuannya diantara ± 3,0 non

outlier.

2) Multivariate outlier diuji dengan kriteria jarak mahalanobis

pada tingkat p < 0,001. Jarak diuji dengan Chi-square ( χ )

pada df sebesar jumlah variabel bebasnya.

Ketentuan : bila mahalanobis > dari nilai χ adalah

multivariate outlier.

Outlier adalah observasi atau data yang memiliki

karakteristik unik yang terlihat sangat berbeda jauh dari

observasi-observasi lainnya dan muncul dalam bentuk nilai

ekstrim untuk sebuah variabel tunggal atau variabel

kombinasi (Hair, 1998).

3. Multicolinerity dan Singularity

Multikolinearitas dapat dideteksi dengan mengamati

(50)

determinan sample matrix mendekati angka 0 (kecil) , maka

terjadi multikolinearitas atau singularitas (Ferdinand, 2002:108).

4. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas menyangkut tingkat akurasi yang dicapai oleh

sebuah indikator dalam menilai sesuatu atau akuratnya

pengukuran atas apa yang seharusnya diukur. Sedangkan

reliabilitas adalah ukuran mengenai konsistensi internal dari

indikator-indikator sebuah konstruk yang menunjukkan derajad

sampai dimana masing-masing indikator itu mengindikasikan

sebuah konstruk yang umum.

Karena indikator multidimensi, maka uji validitas dari setiap

latent variabel construct akan uji dengan melihat loading faktor

dari hubungan antara setiap observed variable dan latent

variable. Sedangkan reliabilitas diuji dengan construct reliability

dan variance-extracted. Construct reliability dan Variance

extracted dihitung dengan rumus berikut :

( ∑ standardize Loading )2 Construct Reliability =

( ∑ standardize Loading )2 + ∑εj

( ∑ standardize Loading 2 ) Variance Extracted =

( ∑ standardize Loading 2 )+ ∑εj

Sementara εj dapat dihitung dengan formula εj = 1 – (

(51)

41

yang dapat diterima adalah ≥ 0,7 dan variance extracted ≥ 0,5 (

Hair et.al.,1998). Standardize Loading dapat diperoleh dari

output AMOS 4.01, dengan melihat nilai estimasi setiap

construct standardize regression weights terhadap setiap butir

sebagai indikatornya.

3.4.2. Pengujian Hipotesis dan Hubungan Kausal

Pengaruh langsung diamati dari bobot regresi terstandar,

dengan pengujian signifikasi pembanding nilai CR (Critical Ratio)

atau p (probability) yang sama dengan nilai t hitung. Apabila t hitung

lebih besar daripada t tabel berarti signifikan.

3.4.3. Evaluasi Model

Hair et.al., 1998 menjelaskan bahwa pola “confirmatory”

menunjukkan prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi utilitas

hipotesis-hipotesis dengan pengujian fit antara model teoritis dan

data empiris. Jika model teoritis menggambarkan “good fit” dengan

data, maka model dianggap sebagai yang diperkuat. Sebaliknya,

suatu model teoritis tidak diperkuat jika teori tersebut mempunyai

suatu “poor fit” dengan data. Amos dapat menguji apakah model

“good fit” atau “poor fit”. Jadi, “good fit” model yang diuji sangat

penting dalam penggunaan structural equation modelling. Pengujian

terhadap model yang dikembangkan dengan berbagai kriteria

Goodness of Fit, yakni Chi-Square, Probality, RMSEA, GFI, TLI,

(52)

data maka model dikembangkan dengan pendekatan two-step

approach to SEM.

1. X2 – Chi Square Statistic

Merupakan alat paling fundamental untuk mengukur overail fit

adalah likelihood ratio chi-square statistic. Chi-square ini

bersifat sangat sensitif terhadap besarnya sampel yang

digunakan. Model yang diuji akan dipandang baik atau

memuaskan bila nilai Chi- Squarenya rendah. Semakin kecil nilai

(x2 = 0), berarti tidak ada perbedaan. Karena tujuan analisis

adalah mengembangkan dan menguji sebuah model yang sesuai

dengan data atau yang fit terhadap data, maka yang dibutuhkan

justru sebuah nilai x2 yang tidak signifikan. Penggunaan

chi-square hanya sesuai bila ukuran sampel antara 100 dan 200. Bila

ukuran sampel ada diluar rentang itu uji signifikan akan menjadi

kurang reliable. Oleh karena itu pengujian ini perlu dilengkapi

dengan alat uji yang lainnya.

2. RMSEA – The Root Mean Square of Approximation

RMSEA adalah sebuah indeks yang dapat digunakan untuk

mengkompensasi chi-square statistic dalam sample yang besar.

Nilai RMSEA menunjukkan goodness-of-fit yang dapat

diharapakan bila model diestimasi dalam populasi. Nilai RMSEA

(53)

43

dapat diterimanya model yang menunjukkan sebuah close fit dari

model itu berdasarkan degress of freedom.

3. GFI - Goodness of Fit Indeks

GFI adalah analog dari R2 dalam regresi berganda. Indeks

kesesuaian ini akan menghitung proporsi tertimbang dari varians

dalam matriks kovarians sample yang dijelaskan oleh matriks

kovarians populasi yang diestimasikan. GFI adalah sebuah

ukuran non-statistikal yang mempunyai rentan nilai antara 0

(poor fit) sampai dengan 1.0 (perfectfit). Nilai yang tinggi dalam

indeks ini menunjukkan sebuah ”better fit”.

4. AGFI – Adjusted Goodness of Fit Indeks

AGFI / GFI / df tingkat penerimaan yang direkomendasikan

adalah AGFI yang mempunyai nilai sama dengan atau lebih

besar dari 0,90. GFI maupun AGFI adalah kriteria yang

memperhitungkan proporsi tertimbang dari varians dalam sebuah

matriks kovarians sample. Nilai sebesar 0,905 dapat

diinterpretasikan sebagai nilai antara 0.90-0.95 menunjukkan

tingkat cukup – adequate fit (Hulland et al., 1996).

5. CMIN / DF

The minimum sample discrepancy function (CMIN) dibagi

dengan degree of freedomnya akan menghasilkan indeks CMIN /

(54)

mengukur tingkat fit-nya sebuah model. Dalam hal ini CMIN /

DF tidak lain adalah statistic Chi-square, X2 dibagi Df-nya.

6. TLI - Tucker

TLI adalah alternatif incremental fit index yang membandingkan

sebuah model yang diuji terhadap sebuah baseline model. Nilai

yang direkomendasikan sebagai acuan untuk diterimanya sebuah

model adalah penerimaan 0,95 dan nilai yang sangat mendekati 1

menunjukkan a very good fit.

7. CFI – Comperative Fit Index

Besaran nilai ini pada rentang nilai sebesar 0 – 1, dimana

semakin

mendekati 1, mengindikasikan tingkat fit yang paling tinggi (a

very good fit). Nilai yang direkomendasikan adalah CFI > 0,9.

Keunggulan dari indeks ini besarannya tidak dipengaruhi oleh

ukuran sample, karena itu sangat baik untuk mengukur tingkat

penerimaan sebuah model. Indeks CFI adalah indentik dengan

(55)

45

Tabel 2 : Goodness Of Fit Indices

Goodness of

Index KETERANGAN CUT-OFF VALUE

X2-Chi-square Menguji apakah covariance yang diestimasi

sama dengan covariance sample (apakah model sesuai dengan data).

Diharapkan kecil, 1 s.d 5 atau paling baik diantara 1 & 2.

Probability Uji signifikasi terhadap perbedaan matriks

covariance data dan matriks covariance yang diestimasi.

Minimum 0,1 atau 0.2

atau ≥ 0,05

RMSEA Mengkompensasi kelemahan chi square pada

sampel besar. ≤ 0,08

GFI Menghitung proporsi tertimbang varians dalam

matriks sampel yang di jelaskan oleh matriks covariance populasi yang diestimasi (analog

dengan R2 dalam regresi berganda).

≥ 0,90

AGFI GFI yang disesuaikan terhadap DF. ≥ 0,90

CMIN / DF Kesesuain antara data dan model. ≤ 2,00

TLI Pembanding antara model yang diuji terhadap

baseline model. ≥

0,95

CFI Uji kelayakan model yang tidak sensitive

terghadap besarnya sampel dan kerumitan model.

(56)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Obyek Penelitian

4.1.1. Sejarah singkat Perusahaan

Pada tahun 1951, Fred Harvey membeli 3 toko bahan makanan

Kay's Foodstore di El Paso, Texas, setelah pembelian tersebut, Fred Harvey

mengubah nama kay's Foodstore menjadi Circle K. Sejak saat itu dengan

perlahan Circle K mulai membesar melalui berbagai akuisisi minimarket

lain dan akhirnya pada tahun 1979, Circle K terjun ke pasar internasional

dengan mengadakan lisensi pembukaan gerai internasional pertamanya di

Jepang. Hal inilah yang menjadi batu loncatan bagi perusahaan ini

berkembang menjadi salah satu jaringan waralaba minimarket yang terbesar

di dunia. Itulah cikal bakal merek Circle K yang kita kenal sampai saat ini.

Sampai saat ini Jaringan minimarket Circle K memiliki lebih dari 4000 gerai

internasional yang terletak di luar Amerika dan 2100 gerai yang tersebar di

seluruh Amerika.

Pada tahun 2003 Alimentation Couche-Tard (ACT) sebuah

perusahaan retail convenience store terbesar dari Kanada mengakuisisi

brand/merk Circle K. Gerai Circle K saat ini dapat dijumpai hampir di

berbagai belahan dunia seperti di Amerika Serikat, Meksiko, Jepang, Macau,

(57)

47

hadir di Indonesia pada tahun 1986 di kota Jakarta, tepatnya di Jalan

Panglima Polim, Jakarta Selatan. Circle K lalu merambah keluar Jakarta

dengan membuka store luar jakarta pertamanya di Bali pada tahun 1996,

Circle K Yogyakarta menyusul pada tahun 2000, Circle K Bandung juga

menyusul tahun 2001. Saat ini Circle K memiliki gerai di hampir setiap kota

besar di seluruh Indonesia dan mempekerjakan lebih kurang 700 tenaga

kerja di Indonesia, Circle K memiliki jaringan di Jakarta (23 gerai),

Bandung (7 gerai), Yogyakarta (8 gerai), and Bali (42 gerai).

Circle K Indonesia

Circle K adalah sebuah minimarket yang beroperasi 24 jam

penuh. Hal ini menjadikannya popular di berbagai belahan dunia, termasuk

di Indonesia dimana konsep minimarket seperti ini masih jarang. Circle K

menjadi trend-setter bagi banyak minimarket sejenis yang muncul kemudian

hari. Saat ini Circle K populer di kalangan remaja kota besar di Indonesia.

Di mata remaja, Circle K dicitrakan sebagai minimarket zaman sekarang,

mereka menyediakan berbagai minuman alkohol dan rokok yang cukup

lengkap dan beroperasi 24 jam, sebuah hal yang diminati oleh remaja

Indonesia masa kini. Pembeli dari gerainya juga diijinkan untuk duduk di

depan gerainya sambil menikmati belanjaannya sehingga secara tidak

langsung Circle K menjadi kawasan berkumpulnya remaja di kala malam

(58)

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian

Kuisioner disebarkan untuk mendapatkan sampel yaitu anggota

populasi yang dijumpai selama periode pengumpulan data yang dijadikan

sebagai sampel penelitian, sampel diambil sebanyak 120 responden.

4.2.1. Deskripsi Karakteristik Responden

Data mengenai keadaan responden dapat diketahui melalui jawaban

responden dari pernyataan-pernyataan yang diajukan di dalam kuesioner

yang telah diberikan. Dari jawaban-jawaban tersebut diketahui hal-hal

seperti dibawah ini.

a. Jenis Kelamin

Dari 120 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

diketahui jenis kelamin dari responden yakni pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Prosentase (%)

1 Laki-laki 84 75

2 Perempuan 36 25

Total 120 100

Sumber: Data diolah

b. Pekerjaan

Dari 120 responden yang menjawab kuesioner yang telah diberikan dapat

(59)

49

Tabel 4.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah Prosentase(%)

1 Pelajar/Mahasiswa 52 46

2 Pegawai Negeri 12 11

3 Pegawai Swasta 38 27

4 Wiraswasta 18 16

Total 120 100,00

Sumber : Data diolah

4.3. Hasil penelitian

4.3.1. Uji Outlier Multivariate

Tabel 4.3. Outlier Multivariate

Standard Error of Predicted

Value 6.111 19.373 10.744 2.605 120

Adjusted Predicted Value 23.355 101.473 60.013 14.851 120

Residual -63.273 65.395 0.000 31.842 120

Std. Residual -1.884 1.947 0.000 0.948 120

Stud. Residual -1.999 2.008 0.007 1.009 120

Deleted Residual -71.245 82.299 0.487 36.139 120

Stud. Deleted Residual -2.028 2.038 0.006 1.014 120

Mahalanobis Distance [MD] 2.949 38.617 11.900 6.593 120

Cook's Distance 0.000 0.154 0.011 0.018 120

Centered Leverage Value 0.025 0.325 0.100 0.055 120

(a) Dependent Variable : NO. RESP

Sumber : Lampiran

Terdapat outlier multivariat [antar variabel], karena MD

(60)

4.3.2. Uji Reliabilitas

Koefisien Cronbach’s Alpha dihitung untuk mengestimasi

reliabilitas setiap skala [variabel atau indikator observasian]. Sementara itu

item to total correlation digunakan untuk memperbaiki ukuran-ukuran dan

mengeliminasi item-item yang kehadirannya akan memperkecil koefisien

Cronbach’s Alpha yang dihasilkan.

Tabel 4.4. Pengujian Reliability Consistency Internal

Konstrak Indikator Item to Total Correlation

Proses eleminasi diperlakukan pada item to total correlation pada

indikator yang nilainya < 0,5 [Purwanto,2003]. Terjadi eliminasi karena

nilai item to total correlation indikator belum seluruhnya ≥ 0,5. Indikator

yang tereliminasi tidak disertakan dalam perhitungan cronbach's alpha.

Perhitungan cronbach's dilakukan setelah proses eliminasi.

'Hasil pengujian reliabilitas konsistensi internal untuk setiap

construct di atas menunjukkan hasil kurang baik dimana koefisien

Cronbach’s Alpha yang diperoleh belum seluruhnya memenuhi rules of

Gambar

Tabel 1.2. Data Keluhan Circle K Dari 2008 Sampai 2010
Gambar 1. Kerangka Konseptual
Tabel 2 : Goodness Of Fit Indices
Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perilaku merokok adalah perilaku yang telah umum di jumpai.Perilaku merokok berasal dari berbagai kelas sosial, status, serta kelompok umur yang berbeda, hai ini

Penulisan ilmiah ini berisi tentang pembuatan animasi bahasa Mandarin dengan menggunakan Macromedia Flash MX yang menampilkan animasi gambar yang disertai musik dan efek suara

Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan analisis deskriptif , yang dilakukan denga n cara m engumpulkan data p rimer seca ra jela s, yang be rsifat as li d an dilakuk

Abstrak — Pada wireless body area network (WBAN), propagasi radio dari node sensor yang berada di permukaan tubuh manusia sangat kompleks dan unik bila

Sasaran program strategi pencapaian target RPJMN tahun 2015 – 2019 antara lain adalah meningkatnya kompetensi guru dilihat dari Subject Knowledge dan Pedagogical

Perkembangan Bank syariah yang sangat pesat sudah terlihat dari data statistik Bank Indonesia dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2013 yang sangat singnifikan, jika pada

Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai variabel independen yang dipakai, variabel laba ditahan, jaminan obligasi, profitabilitas, reputasi auditor memiliki

Hasil yang didapat dari penelitian berupa Aplikasi BKU (Buku Kas Umum) pada Pegawai BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) Perwakilan Provinsi Sumatera