• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP KOMITMEN KARYAWAN DAN KINERJA KARYAWAN PADA DEALER DUNIA HONDA SURABAYA.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP KOMITMEN KARYAWAN DAN KINERJA KARYAWAN PADA DEALER DUNIA HONDA SURABAYA."

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

KARYAWAN PADA DEALER DUNIA HONDA

SURABAYA

SKRIPSI

Diajukan Oleh :

Iwan Setiawan

0912010052 / FE / EM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL

“VETERAN”

(2)

SURABAYA

Diajukan Oleh : Iwan Setiawan 0912010052 / FE / EM

Telah Dipertahankan Dihadapan Dan di Terima Oleh Tim Penguji Skripsi

Jurusan Managemen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “ Veteran “

Pada Tanggal 31 Oktober 2013

Pembimbing Utama : Tim Penguji

Ketua

Dra. Ec. Mei Retno A,Msi Dra. Ec. Kustini. Msi Sekr etaris

Dr s. Ec. Supriono,MM Anggota

Dra. Ec. Mei Retno A,Msi

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ekonomi

Univer sitas Pembangunan Nasional “Veter an” J awa Timur

(3)

SURABAYA

Yang diajukan

Iwan Setiawan

0912010052/FE/EM

Telah disetujui utuk ujian skripsi oleh :

Pembimbing Utama

Dra.Ec.Mei Retno, MSi Tanggal :………

Mengetahui

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran”

J awa Timur

(4)

SURABAYA

Yang diajukan

Iwan Setiawan

0912010052/FE/Em

Telah diseminarkan dan disetujui untuk menyusun skripsi oleh :

Pembimbing Utama

Dra.Ec.Mei Retno, MSi Tanggal :………

Mengetahui

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Univer sitas Pembangunan Nasional “Veteran”

J awa Timur

(5)

rahmat dan karunia-Nya, skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik yang berjudul

“PENGARUH KOMPENSASI TERHADAP KOMITMEN KARYAWAN DAN

KINERJ A KARYAWAN PADA DEALER DUNIA HONDA SURABAYA”

Dalam penyelesaian skripsi ini, penyusun banyak mengalami kesulitan,

terutama disebabkan oleh jadwal serta waktu yang disediakan. Namun, berkat

bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak dan berkat kemauan yang cukup keras

disertai dengan ketabahan dan kesabaran, maka skripsi ini dapat di selesaikan.

Penulis menyadari tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak tidaklah mungkin

skripsi ini dapat diselesaikan, sehingga dalam kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan rasa terima kasih yang paling dalam kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. R. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas

Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM selaku Dekan Universitas Pembangunan

Nasional “Veteran” Jawa Timur.

3. Bapak Dr. Muhadjir Anwar, MM selaku Ketua Jurusan Manajemen Fakultas

Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Ibuk Dra. Ec. Mei Retno, MSI selaku Dosen Pembingbing Utama yang telah

mengorbankan dan sabar memberikan waktu, tenaga dan pikiran untuk

membimbing, mengarahkan dan memberikan dorongan kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

5. Segenap staff Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional

“Veteran” Jawa Timur yang telah memberikan pelayanan dan memberikan

pengetahuan selama masa perkuliahan.

6. Segenap staff dealer Honda yang telah membantu, melayani dalam penyusunan

skripsi ini.

7. Orang tua tercinta dan saudaraku yang telah memberikan dorongan motivasi dan

(6)

8. Kekasihku yang tersayang yang senantiasa membantu dan memberikan semangat

dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. Rekan – rekan dekat penulis yang tidak dapat saya sebutkan satu – persatu yang

telah banyak memberikan dorongan dan bantuan selama penyusunan skripsi ini.

Mengingat keterbatasan kemampuan yang ada pada penulis, maka skripsi ini

tidak lepas dari kesalahan – kesalahan. Karena itu segala kritik dan saran kepada

penulis sangat di harapkan guna meningkatkan mutu dari penulisan skripsi ini. Penulis

juga berharap, penulisan skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi acuan bagi peneliti

lain yang tertarik untuk mendalaminya di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Surabaya, Agustus 2013

(7)

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ………. ... iii

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

ABTRAKSI ... ix

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 6

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB II. TINJ AUAN PUSTAKA 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu ………. . 8

2.2 Landasan Teori ... 12

2.2.1 Manajemen Sumber Daya Manusia………. . 12

2.2.2 Kompensasi ... 14

2.2.3 Komitmen Karyawan ... 17

2.2.4 Kinerja ... 21

(8)

2.2.5.1 Indikator Kompensasi ... 23

2.2.5.2 Indikator Komitmen Karyawan ... 24

2.2.5.3 Indikator Kinerja ... 25

2.2.6 Pengaruh Kompensasi Terhadap Komitmen Organisasi ... 26

2.2.7 Pengaruh Kompensasi Terhadap Kinerja ... 26

2.2.8 Pengaruh Komitmen Karyawan Terhadap Kinerja Karyawan ... 27

2.3 Kerangka Konseptual ... 29

2.4 Hipotesis ... 29

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 31

3.2 Populasi dan Sampel ... 35

3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 36

3.4 Teknik Analisis Data ... 37

3.4.1 Inner Model ... 38

3.4.2 Outer Model ... 39

BAB IV. Hasil ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ... 41

4.1.1. Sejarah Penelitian ... 41

(9)

4.1.3 Struktur Organisasi Perusahaan ... 42

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ... 45

4.2.1 Deskripsi Responden ... 45

4.2.2 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden ... 48

4.2.3 Hasil Analisis Data ... 53

4.2.31 Hasil Uji Model Pengukuran dan Validitas Indikator ... 53

4.2.3.2 Hasil Uji Validitas Variabel ... 54

4.2.3.3 Hasil Uji Reliabilitas ... 55

4.2.3.4 Hasil Inner Model ( Pengujian Model Struktural ) ... 57

4.2.3.5 Hasil Results For Inner Weights ... 58

4.3 Pembahasan ... 59

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 63

5.2 Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA

(10)

Oleh : Iwan Setiawan 0912010052/FE/MM

ABSTRAKSI

Dunia Honda merupakan salah satu dealer sepeda motor honda merupakan perusahaan yang sudah beroperasi lebih dari 15 tahun. Perusahaan yang merupakan dealer dan service sepeda motor merek Honda mengalami permasalahan pada kurangnya pemenuhan target produksi. Target produksi dibuat oleh perusahaan dalam periode 5 tahunan, akan tetapi perusahaan tidak mampu memenuhi target tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah : a)Untuk mengetahui pengaruh kompensasi terhadap komitmen karyawan Dunia Honda Surabaya. b)Untuk mengetahui pengaruh kompensasi terhadap kinerja karyawan Dunia Honda Surabaya. c) Untuk mengetahui pengaruh komitmen karyawan terhadap kinerja karyawan Dunia Honda Surabaya.

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah karyawan Dunia Honda Surabaya di Surabaya sebanyak 200 orang. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 133orang karyawan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan ciri-ciri khusus yaitu

karyawan yang telah bekerja lebih dari 2 tahun. Tehnik analisis data yang digunakan dalam penelitian analisis PLS.

Beradarkan hasil pengujian hipotesis diatas dapat diuraikan sebagai berikut: a)Kompensasi berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi. Artinya semakin tinggi dan adil kompensasi yang diterima oleh karyawan akan menyebabkan peningkatan komitmen organisasi. b)Kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Artinya semakin besar dan adil kompensasi yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan mempengaruhi kinerja karyawan, yaitu semakin tinggi dan adil kompensasi yang diterima karyawan semakin tinggi pula kinerja dari karyawan tersebut. c) Komitmen organisasi tidak berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Artinya tingginya komitmen organisasi tidak mampu meningkatkan kinerja karyawan. Komitmen organisasi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan disebabkan karena individu yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya cenderung untuk tidak memenuhi komitmen terhadap organisasi, sehingga tidak dapat menyebabkan loyalitas pegawai terhadap organisasi, yang akhirnya menyebabkan pegawai tersebut tidak memiliki rasa ketergantungan dan tanggung jawab pada organsasi.

(11)

1.1.Latar Belaka ng

Dalam suatu perusahaan, sumber daya manusia memgang peranan yang

sangat penting karena faktor manusia (man) menentukan kelangsungan hidup

daripada suatu perusahaan sehingga tidak ada satupun perusahaan yang tidak

melibatkan manusia dalam merealisasi tujuannya.manusia merupakan salah satu

dari beberapa faktor produksi yang sangat sulit dikendalikan hal ini disebabkan

oleh adanya ciri dan sifat khusus dari faktor produksi terebut sehingga seringkali

menimbulkan kesulitan-kesulitan apabila tidak dipahami dengan baik.

Orang-orang yang bekerja dalam organisasi peusahaan, mereka adalah

para anggota organisasi yang diharapkan berperan serta dalam mensukseskan

tujuan organisasi tersebut. Namun demikian mereka juga merupakan

individu-individu yang mempunyai tujuan tertentu untuk memuaskan

kebutuhann-kebutuhannya. Mereka bertindak dan berperilaku karena didorong oleh

serangkaian kebutuhan, dimana hal itu merupakan pernyataan dalam diri

seseorang yang menyebabkan ia berbuat sesuatu untuk mencapainya sebagai

tujuan atau hasil. Kebutuhan manusia banyak ragamnya dan masing-masing

manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda dan dapat berubah dalam masa

(12)

yaitu kebutuhan fisiologi, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan sosial,

kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri.

Suatu organisasi akan berjalan lancar bila semua jasa yang akan

diseumbangkan individu organisasi mendapat perhatian dan imbalan yang

seimbang. Allen mengatakan bahwa “betapapun sempurnanya rencana,

organisasi dan pengawasan, bila mereka tidak menjalankan tugasnya dengan

minat dan gembira maka suatu perusahaan tidak akan mencapai hasil sebanyak

yang sebenarnya dapat dicapai” (As`ad, 2007:103). Ungkapan tersebut

memperlihatkan bahwa manusia beserta kepuasan kerja berperan dala mencapai

prestasi yang diharapkan. Tingkat kepuasan yang rendah pada karyawan dapat

mengakibatkan ketidak lancaran operasional perusahaan dan proses produksi

yang disebabkan oleh tingginya tingkat keterlambatan (kesengajaan atau sakit),

tindakan sabotase dan kesengajaan memperlambat kerja. Sebaliknya orang yang

memperoleh kepuasan dalam bekerja akan menimbulkan motivasi diri untuk

bertindak mencapai prestasi yang lebih besar daripada orang yang tidak

terpuaskan.

Pada umumnya karyawan akan bersemangat dan bergairah kerja apabila

aspek-aspek dalam pekerjaannya seperti kompensasi, kondisi lingkungan kerja,

sikap pimpinan kepada bawahan, jaminan sosial dan jamninan keselamatan kerja

seseuai dengan harapan karyawan. Hal - hal dalam pekerjaan yang sesuai dengan

harapan karyawan akan menuju pada suatu kondisi dimana akan tercipta

(13)

pekerjaannya, ini nampak dalam sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan

segala sesuatu yang dihadapi dilingkungan kerjanya. Semakin tinggi kepuasan

inilah yang dapat menimbulkan prestasi kerja karyawan.

Dunia Honda merupakan salah satu dealer sepeda motor honda

merupakan perusahaan yang sudah beroperasi lebih dari 15 tahun. Perusahaan

yang merupakan dealer dan service sepeda motor merek Honda mengalami

permasalahan pada kurangnya pemenuhan target produksi. Target produksi

dibuat oleh perusahaan dalam periode 5 tahunan, akan tetapi perusahaan tidak

mampu memenuhi target tersebut. Berikut ini data target produksi yang

ditentukan oleh perusahaan beserta realisasiya

Tabel 1: Data target penjualan unit sepeda motor periode tahun 2009-2012

Periode Target

2009 Triwulan 2 100 70 -30

Triwulan 3 100 63 -37

Triwulan 4 100 60 -40

Triwulan 1 100 44 -56

2010 Triwulan 2 100 55 -45

Triwulan 3 100 60 -40

Triwulan 4 100 80 -20

Triwulan 1 100 65 -35

2011 Triwulan 2 100 90 -10

Triwulan 3 100 99 -1

Triwulan 4 100 95 -5

Triwulan 1 100 65 -35

2012 Triwulan 2 100 80 -20

Triwulan 3 100 75 -25

Triwulan 4 100 75 -25

(14)

Dari tabel diatas terlibat bahwa karyawan tidak mampu memenuhi target

produksi yang ditentukan oleh perusahaan. Target perusahaan dibuat berkala

dalam periode lima (5) tahunan. Dari data diatas terlihat bahwa pada periode

tahun 2009 - 2012 seluruh periode tidak mampu memenuhi target, terutama pada

periode tahun 2010 triwulan pertama menunjukkan bahwa hanya 44% realisasi

target produksi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan karyawan memenuhi

target produksi sangat rendah. Rendahnya kemampuan karyawan memenuhi

target produksi juga diduga karena karyawan kurang maksimal melakukan

pekerjaannya.

Tabel 2: Data absensi karyawan periode tahun 2009-2012

Periode Alpha Ijin Terlambat Cuti Total Jumlah

karyawan

Absensi (%)

2009 15 25 15 54 109 60 0,007

2010 17 32 23 50 122 62 0,008

2011 19 27 19 60 125 63 0,008

2012 18 25 19 65 127 60 0,008

Sumber : internal perusahaan

Jika dilihat dari total absensi rata-rata tiap tahun periode tahun 2009 - 2012

diperoleh nilai 7-8%. Yang artinya bahwa tingkat absensi karyawan baik dengan

demikian kedisiplinan karyawan dinilai cukup baik. Akan tetapi berdasarkan data

komplain yang masuk di perusahaan, yang terutama adalah keluhan terhadap

waktu penyelesaian service/perbaikan serta keluhan terhadap lamanya waktu

pengiriman sepeda motor. Jumlah keluhan yang disampaikan oleh perusahaan

(15)

bulan Desember 2012 turun menjadi 14 orang dan bulan Januari 2013 naik lagi

menjadi 20 orang. Banyaknya keluhan yang disampaikan oleh pembeli

menunjukkan bahwa kinerja karyawan kurang baik. Karena kerja karyawan telah

diatur dalam Standar Operasional Perusahaan. Dan pembuatan SOP tersebut

dimaksudkan agar karyawan bekerja sesuai dengan standar yang dibuat oleh

perusahaan. Pada kenyataannya terdapat beberapa penyelewengan yang

dilakukan oleh karyawan, sehingga berdampak pada pekerjaan yang mereka

hasilkan. Keadaan ini menjadikan sumberdaya manusia sebagai aset yang harus

ditingkatkan efisiensi dan produktivitasnya tidak maksimal memberikan

kontribusi bagi perusahaan. Untuk mencapai hal tersebut, maka perusahaan harus

mampu menciptakan kondisi yang dapat mendorong dan memungkinkan

karyawan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan serta

ketrampilan yang dimiliki secara optimal.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh oleh perusahaaan untuk

menciptakan kondisi tersebut adalah dengan memberikan kompensasi yang

memuaskan. Menurut Handoko (1994:156) dalam Djati dan Khusaini (2003),

suatu cara meningkatkan prestasi kerja, motivasi dan kepuasan kerja karyawan

adalah dengan memberikan kompensasi. Pentingnya kompensasi sebagai salah

satu indikator kepuasan dalam bekerja sulit ditaksir, karena

pandangan-pandangan karyawan mengenai uang atau imbalan langsung nampaknya sangat

subyektif dan barangkali merupakan sesuatu yang khas dalam industri

(16)

dugaan adanya ketidakadilan dalam memberikan upah maupun gaji merupakan

sumber ketidakpuasan karyawan terhadap kompensasi yang pada akhirnya bisa

menimbulkan perselisihan dan semangat rendah dari karyawan itu sendiri

(Strauss dan Sayles, 2004 321) dalam Djati dan Khusaini (2003). Kompensasi

penting bagi karyawan sebagai individu karena besarnya kompensasi

mencerminkan ukuran nilai karya mereka di antara karyawan itu sendiri,

keluarga dan masyarakat.

Mengingat pentingnya peranan tenaga kerja bagi perusahaan, maka

aspek-aspek yang berorientasi pada kepuasan kerja perlu mendapat perhatian

serius dari perusahaan, karena dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi

keinginan pegawai maka akan lebih mudah bagi perusahaan untuk mencapai

tujuannya sebagai dampak dari prestasi kerja yang tinggi.

1.2.Per umusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

a. Apakah kompensasi berpengaruh terhadap komitmen karyawan Dunia Honda

Surabaya?

b. Apakah komitmen karyawan berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan

Dunia Honda Surabaya?

c. Apakah kompensasi berpengaruh terhadap komitmen karyawan dan prestasi

(17)

1.3.Tujua n Penelitian

Tujuan dilakukan penelitian adalah

a. Untuk mengetahui pengaruh kompensasi terhadap komitmen karyawan Dunia

Honda Surabaya

b. Untuk mengetahui pengaruh komitmen karyawan terhadap prestasi kerja

karyawan Dunia Honda Surabaya.

c. Untuk mengetahui pengaruh kompensasi terhadap komitmen karyawan dan

prestasi kerja karyawan Dunia Honda Surabaya.

1.4.Manfaa t Penelitian

a. Bagi perusahaan, kiranya penelitian ini dapat memberikan manfaat tentang

pentingnya kompensasi untuk meningkatkan komitmen dan prestasi kerja

karyawan.

b. Bagi pembaca, kiranya penelitian ini dapat dipergunakan sebagai tambahan

informasi dan referensi khususnya yang berkaitan dengan pentingnya

peningkatan kompensasi dalam rangka meningkatkan komitmen dan prestasi

kerja karyawan.

c. Bagi peneliti. Penelitian ini dipergunakan sebagai wadah khasanah ilmu

pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan dibangku kuliah

(18)

2.1.Hasil Penelitian Ter dahulu

Penelitian terdahulu yang dipakai dalam penelitian ini antara lain adalah:

Hudiwinarsih dan Wurti (2013) dengan judul “Pengaruh Kompensasi,

Motivasi Dan Komitmen Oorganisasional Terhadap Kinerja Karyawan Bagian

Akuntansi (Studi Kasus Pada Pperusahaan Manufaktur Di Surabaya)”.

Penelitian ini mencoba untuk mengetahui apakah kompensasi berpengaruh

terhadap kinerja karyawan, apakah motivasi berpengaruh terhadap kinerja

karyawan dan apakah Komitmen organisasioanl berpengaruh terhadap kinerja

karyawan. Dari hasil uji secara bersama-sama menunjukkan bahwa bahwa

model regresi atau persamaan faktor Kompensasi (X1), Motivasi (X2), dan

Komitmen (X3) terhadap Kinerja Karyawan (Y) dapat dikatakan signifikan.

Dari hasil uji parsial menunjukkan bahwa hipotesis pertama yaitu kompensasi

secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan.

Hipotesis kedua yaitu motivasi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap

kinerja karyawan, hipotesis ketiga yaitu komitmen organisasional secara

parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap kinerja karyawan. Dari hasil

penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam menilai tinggi rendahnya

kinerja karyawan bagian akuntansi, dapat dilihat dari seberapa besar motivasi

(19)

motivasi yang tinggi terhadap pekerjaannya cenderung untuk melakukan

pekerjaannya dengan baik dan maksimal.

Ratnawati dan Suprana (2012) dengan judul “ANALISIS PENGARUH

KEPUASAN KOMPENSASI DAN KOMITMEN ORGANISASIONAL

TERHADAP KINERJA KARYAWAN (Studi Pada Kantor Pusat Bank Jateng

Semarang)”. Berdasarkan hasil analisis jalur (path analysis) dapat disimpulkan

bahwa variabel yang memiliki pengaruh terbesar terhadap kinerja karyawan

adalah variabel komitmen organisasional, dalam hal ini dapat disimpulkan

bahwa komitmen dari karyawan Bank Jateng adalah modal utama dalam

kemajuan kinerja karyawan itu sendiri. Dari hasil penelitian karyawan kator

pusat Bank Jateng Semarang perlu melakukan upaya untuk meningkatkan

kepuasan kompensasi dengan cara : 1) Pemberian bonus yang diberikan sesuai

dengan apa yang dikerjakannya dengan pemberian bonus yang sesuai dengan

apa yang dikerjakannya, maka karyawan akan merasa dihargai dalam

melakukan pekerjaannya di perusahaan, hal ini bisa dimaksudkan bahwa pihak

manajemen diharapkan lebih menyesuaikan beban kerja karyawan dengan

pemberian bonus. 2) Kesejahteraan karyawan melalui jaminan kesehatan yang

layak maka karyawan dalam melakukan pekerjaannya akan fokus dan tenang

tanpa memikirkan hal hal diluar diluar pekerjaanya karena karyawan

diharapkan untuk terus fokus dan tenang gunan menunjang produktivitas

perusahaan. 3) Penghargaan yang diberikan oleh pihak manajemen kepada

karyawan diharapkan sesuai dengan pengorbanannya agar karyawan lebih

(20)

penyesuaina ini diharapkan mampu memberikan stimulus bagi karyawan

untuk lebih meningkatkan kinerjanya. 4) perusahaan diharapkan mampu

dalam memberikan promosi jabatan kepada karyawan yang memiliki kualitas,

karena dengan promosi jabatan diharapkan karyawan dapat bekerja lebih keras

dan lebih termotivasi dalam melakukan tujuan perusahaan.

Muljani (2002) dengan judul “Kompensasi Sebagai Motivator Untuk

Meningkatkan Kinerja Karyawan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

bagi perusahaan, karyawan adalah salah satu sumber daya yang amat

dibutuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Sebaliknya, bagi karyawan

yang mempunyai berbagai macam kebutuhan, perusahaan juga merupakan

salah satu tempat yang dapat memuaskan kebutuhannya. Kompensasi

merupakan imbalan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan, atas

jasanya dalam melakukan tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang

dibebankan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Ada dua

hal yang perlu diingat oleh perusahaan dalam pemberian kompensasi.

Pertama, kompensasi yang diberikan harus dapat dirasakan adil oleh karyawan

dan kedua, besarnya kompensasi tidak jauh berbeda dengan yang diharapkan

oleh karyawan. Apabila dua hal ini dapat dipenuhi, maka karyawan akan

merasa puas. Kepuasan akan memicu karyawan untuk terus meningkatkan

kinerjanya, sehingga tujuan perusahaan maupun kebutuhan karyawan akan

tercapai secara bersama. Untuk mencapai keadilan sebagaimana diharapkan

oleh karyawannya, maka perusahaan harus mempertimbangkan kondisi

(21)

sebanding dengan kondisi di luar perusahaan, khususnya perusahaan yang

menjalankan bisnis sejenis, juga harus disesuaikan dengan kondisi pekerjaan

yang dibebankan kepada karyawan, seperti tanggung jawab, dan risiko.

Kompensasi juga harus memperhatikan kondisi individu, sehingga tidak

memberikan kompensasi dengan pertimbangan subyektif dan diskriminatif.

Untuk memenuhi harapan karyawan, hendaknya kompensasi yang diberikan

oleh perusahaan dapat memuaskan berbagai kebutuhan karyawan secara

wajar. Kompensasi yang diberikan berdasarkan pekerjaan atau senioritas tanpa

memperhatikan kemampuan dan keterampilan seringkali membuat karyawan

yang mempunyai keterampilan dan kinerja baik menjadi frustasi dan

meninggalkan perusahaan, sebab kompensasi yang diberikan oleh perusahaan

dirasakan tidak adil dan tidak sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya

kompensasi ini akan membuat karyawan yang tidak berprestasi menjadi

benalu bagi perusahaan. Kompensasi yang diberikan berdasarkan kinerja dan

keterampilan karyawan nampaknya dapat memuaskan karyawan, sehingga

diharapkan karyawan termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan

mengembangkan keterampilannya. Hal ini disebabkan karena karyawan yang

selalu berusaha untuk meningkatkan kinerja dan keterampilannya akan

(22)

2.2.Landasan Teori

2.2.1.Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen personalia diperlukan untuk meningkatkan efektifitas

sumber daya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah untuk

memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif. Untuk mencapai

tujuan ini, studi tentang manajemen personalia akan menunjukkan

bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan,

menggunakan, mengevaluasi dan memelihara karyawan dalam jumlah

(kuantitas) dan tipe (kualitas) yang tepat. Beberapa ahli mendefinisikan

manajemen sumber daya manusia. Manullang (2004:11) `mendefinisikan

manajemen sumber daya manusia sebagai seni dan ilmu memperoleh dan

memanfaatkan tenaga kerja sehingga tujuan dapat tercapai secara berdaya

guna serta sebagai gairah bekerja bagi karyawan.

Sedangkan Handoko (2007:4) mendefenisikan `manajemen sumber

daya manusia sebagai suatu proses penarikan, seleksi, pengembangan,

pemeliharaan, dan penggunaan seumber daya manusia untuk mencapai baik

tujuan individu maupun organisasi. Sedangkan Cahyono (2006:1)

mendefinisikan Manajemen Sumber Daya manusia sebagai suatu

pendekatan terhadap menejemen manusia, yang berdasarkan tiga prinsip

dasar yaitu:

1) Sumber daya manusia adalah harta yang paling penting yang dimiliki

oleh suatu organisai, sedangkan manajemen yang efektif adalah kunci

(23)

2) Keberhasilan ini sangat mungkin dicapai jika peraturan atau

kebijaksanaan dan prosedur yang bertalian dengan manusia dari

perusahaan tersebut saling berhubungan dan memberikan sumbangan

terhadap pencapaian tujuan perusahaan dan perencanaan strategis.

3) Kultur dan nilai perusahaan suasana organisasi dan perilaku manajerial

yang berasal dari kultur tersebut akan memberikan pengaruh yang besar

terhadap hasil pencapaian yang terbaik. Karena itu, kultur ini harus

ditegakkan, dari upaya yang terus menerus mulai dari puncak, sangat

diperlukan agar kultur tersebut dapat diterima dan dipatuhi.

Banyak istilah yang dipakai untuk menyebut MSDM, seperti

manajemen kepegawaian, manajemen daya insani, dan manajemen

personalia. Persamaan manajemen sumber daya manusia dengan manajemen

personalia (MP) adalah bahwa keduanya merupakan ilmu yang mengatur

unsur manusia dalam suatu organisasi, agar mendukung terwujudnya tujuan

organisasi secara keseluruhan.

Pada dasarnya MSDM merupakan suatu gerakan pengakuan terhadap

pentingnya unsur manusia sebagai sumber daya yang cukup potensial, yang

perlu dikembangkan sehingga mampu memberikan kontribusi yang

maksimal bagi organisasi maupun bagi pengembangan dirinya. Tugas dari

MSDM sendiri seputar pada usaha untuk mengelola manusia (tenaga kerja)

dengan segala potensi yang dimilikinya seefektif mungkin sehingga dapat

(24)

Lingkup MSDM meliputi semua aktivitas yang berhubungan dengan

sumber daya manusia dalam organisasi.

2.2.2. Kompensasi

Mondy dan Noe (1993: 320) dalam Djati dan Kusnaini (2003)

kompensasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kompensasi finansial

dan kompensasi non finansial. Kompensasi finansial terdiri dari

kompensasi finansial langsung (direct financial compensation) dan

kompensasi finansial tidak langsung (indirect financial compensation).

Kompensasi finansial langsung terdiri dari gaji, upah, bonus dan komisi.

Sedangkan kompensasi finansial tidak langsung disebut juga dengan

tunjangan, yakni meliputi semua imbalan finansial yang tidak tercakup

dalam kompensasi langsung. Sedangkan kompensasi non finansial

(nonfinancial compensation) terdiri dari kepuasan yang diterima baik dari

pekerjaan itu sendiri, seperti tanggung jawab, peluang akan pengakuan,

peluang adanya promosi, atau dari lingkungan psikologis dan atau fisik

dimana orang tersebut berada, seperti rekan kerja yang menyenangkan,

kebijakan-kebijakan yang sehat, adanya kafetaria , sharing pekerjaan,

minggu kerja yang dipadatkan dan adanya waktu luang. Dengan demikian

kompensasi tidak hanya berkaitan dengan imbalan-imbalan moneter

(ekstrinsik) saja, akan tetapi juga pada tujuan dan imbalan intrinsik

(25)

Sedangkan Michael dan Harold (1993 : 443) dalam Djati dan

Kusnaini (2003)membagi kompensasi dalam tiga bentuk, yaitu material,

sosial dan aktivitas . Bentuk kompensasi material tidak hanya berbentuk

uang, seperti gaji, bonus, dan komisi, melainkan segala bentuk penguat

fisik (phisical reinforcer), misalnya fasilitas parkir, telepon dan ruang

kantor yang nyaman, serta berbagai macam bentuk tunjangan misalnya

pensiun, asuransi kesehatan. Sedangkan kompensasi sosial berhubungan

erat dengan kebutuhan berinteraksi dengan orang lain. Bentuk kompensasi

ini misalnya status, pengakuan sebagai ahli di bidangnya, penghargaan

atas prestasi, promosi, kepastian masa jabatan, rekreasi, pembentukan

kelompok-kelompok pengambilan keputusan, dan kelompok khusus yang

dibentuk untuk memecahkan permasalahan perusahaan. Sedangkan

kompensasi aktivitas merupakan kompensasi yang mampu

mengkompensasikan aspek-aspek pekerjaan yang tidak disukainya dengan

memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas tertentu. Bentuk

kompensasi aktivitas dapat berupa “kekuasaan” yang dimiliki seorang

karyawan untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan rutinnya sehingga

tidak timbul kebosanan kerja, pendelegasian wewenang, tanggung jawab

(otonomi), partisipasi dalam pengambilan keputusan, serta training

pengembangan kepribadian. Ketiga bentuk kompensasi tersebut akan dapat

memotivasi karyawan baik dalam pengawasan, kinerja maupun komitmen

terhadap perusahaan. Dalam pemberian kompensasi tersebut, tingkat atau

(26)

kompensasi akan menentukan gaya hidup, harga diri, dan nilai perusahaan.

Kompensasi mempunyai pengaruh yang besar dalam penarikan karyawan,

motivasi, produktivitas, dan tingkat perputaran karyawan (Benardin dan

Russel, 1993 : 373) dalam Djati dan Kusnaini (2003).

Kompensasi merupakan “istilah luas berkaitan dengan

imbalan-imbalan financial (financial reward) yang diterima oleh orang-orang

melalui hubungan kepegawaian mereka dengan sebuah organisasi”

(Simamora, 2004:541). Kompensasi akan mempuyai arti berbeda bagi

orang yang berbeda. Kompensasi dasar diperlukan untuk mempertahankan

karyawan dengan standar hidup yang layak. Akan tetapi kompensasi juga

menyediakan suatu pengukuran berwujud mengenai nilai individu bagi

organisasi. Pemberian kompensasi merupakan fungsi strategik sumber

daya manusia yang mempunyai imbas signifikan atas fungsi-fungsi sumber

daya manusia lainnya.

Menurut Hasibuan (2005:119), Kompensasi adalah semua

pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung

yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada

perusahaan. Sedangkan Menurut William B. Werther dan Keith Davis

dalam Hasibuan (2005:119), Kompensasi adalah apa yang seorang pekerja

terima sebagai balasan dari pekerjaan yang diberikannya. Baik upah per

jam ataupun gaji periodik yang didesain dan dikelola oleh bagian

(27)

Menurut Sikula, dalam Hasibuan (2005:119), Kompensasi adalah

segala sesuatu yang dikonstruksikan atau dianggap sebagai suatu balas jasa

atau ekuivalen. Selain itu kompensasi adalah harga yang dibayarkan

kepada para pekerja atas jasanya dalam produksi kekayaan seperti faktor

produksi lainnya. Kompensasi atau upah adalah hak pekerja atau buruh

yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari

pengusaha atau pemberi kerja kepada buruh atau pekerja yang ditetapkan

dan dibayar menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan

perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi buruh atau pekerja dan

keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan

dilakukan. (Kep Men. No.49. Pasal 1/2004.)

Menurut Schuler dalam Ninuk (2002:111) mengemukan bahwa

kompensasi dapat digunakan untuk:

a. Menarik orang-orang yang potensial atau berkualitas untuk bergabung

dengan perusahaan. Dalam hubungannya dengan rekrutmen, program

kompensasi yang baik dapat membantu untuk mendapatkan orang yang

potensial atau berkualitas sesuai dengan yang dibutuhkan oleh

perusahaan.

b. Mempertahankan karyawan yang baik. Jika program kompensasi dirasa

adil secara internal dan kompetitif secara eksternal, maka karyawan yang

baik (yang ingin dipertahankan oleh perusahaan) akan merasa puas.

(28)

menimbulkan rasa kecewa, sehingga karyawan yang baik akan

meninggalkan perusahaan.

c. Meraih keunggulan kompetitif. Adanya program kompensasi yang baik

akan memudahkan perusahaan untuk mengetahui apakah besarnya

kompensasi masih merupakan biaya yang signifikan untuk menjalankan

bisnis dan meraih keungulan kompetitif.

d. Memotifasi karyawan dalam meningkatkan produktifitas atau mencapai

tingkat produktivitas yang tinggi.

e. Memudahkan sasaran strategis. Suatu perusahaan mungkin ingin menjadi

tempat kerja yang menarik, sehingga dapat menarik pelamarpelamar

terbaik.

f. Mengokohkan dan menentukan struktur. Sistem kompensasi dapat

membantu menentukan struktur organisasi, sehingga berdasarkan hierarki

statusnya, maka orang dalam suatu posisi tertentu dapat mempengaruhi

orang-orang yang ada diposisi lainnya.

Tujuan dari pemberian kompensasi tersebut saling terkait, artinya

apabila pemberian kompensasi tersebut mampu mengundang orang-orang

yang potensial untuk bergabung dengan perusahaan dan membuat karyawan

yang baik untuk tetap bertahan diperusahaan, serta mampu memotivasi

karyawan untuk meningkatkan kinerjanya, berarti produktivitas juga akan

meningkat dan perusahaan dapat menghasilkan dengan harga yang

(29)

sasaran strategis yaitu mempertahankan kelangsungan hidup dan

mengembangkan usaha.

2.2.3.Komitmen Karyawan

Konsep tentang komitmen karyawan terhadap organisasi ini (disebut

pula dengan komitmen kerja), yang mendapat perhatian dari manajer

maupun ahli perilaku organisasi, berkembang dari studi awal mengenai

loyalitas karyawan yang diharapkan ada pada setiap karyawan. Komitmen

kerja atau komitmen organisasi merupakan suatu kondisi yang dirasakan

oleh karyawan yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap

organisasi kerja yang dimilikinya. Menurut Steers dan Porter (1983 : 520))

dalam Djati dan Kusnaini (2003), suatu bentuk komitmen kerja yang

muncul bukan hanya bersifat loyalitas yang pasif, tetapi juga melibatkan

hubungan yang aktif dengan organisasi kerja yang memiliki tujuan

memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi kerja yang

bersangkutan. Mowday (1982 : 64)) dalam Djati dan Kusnaini (2003)

mendefinisikan komitmen kerja sebagai kekuatan relatif dari identifikasi

individu dan keterlibatannya dengan organisasi kerja. Sementara Mitchell

(1982 :136)) dalam Djati dan Kusnaini (2003) memandang komitmen kerja

sebagai suatu orientasi nilai terhadap kerja yang menunjukkan bahwa

individu sangat memikirkan pekerjaannya, pekerjaan memberikan kepuasan

hidup, dan pekerjaan memberikan status bagi individu. Selanjutnya Steers

(30)

adanya tiga karakteristik yang bisa digunakan sebagai pedoman telah

komitmen kerja, yaitu :

a. Adanya keyakinan yang kuat dan penerimaan tujuan serta nilai-nilai

yang dimiliki organisasi kerja.

b. Terdapatnya keinginan untuk mempertahankan diri agar tetap dapat

menjadi anggota organisasi tersebut.

c. Adanya kemauan untuk berusaha keras sebagai bagian dari organisasi

kerja.

Dalam kerangka perilaku organisasi terdapat sejumlah sikap yang berkaitan

dengan pekerjaan. Kebanyakan riset dalam ilmu perilaku organisasi

memperhatikan ketiga sikap yang meliputi : kepuasan kerja, keterlibatan

kerja, dan komitmen organisasi (Brooke, Russel, Price, 1988 : 139-145))

dalam Djati dan Kusnaini (2003). Disamping itu Chrles O’Reilly (1989,

9-25) dalam Djati dan Kusnaini (2003) menyatakan bahwa komitmen

organisasi secara umum dipahami sebagai ikatan kejiwaan individu terhadap

organisasi termasuk keterlibatan kerja, kesetiaan dan perasaan percaya pada

nilai-nilai organisasi.

Faktor-faktor Komitmen Kerja. Faktor-faktor komitmen kerja dapat

dilihat dari kajian David (1994 : 474)) dalam Djati dan Kusnaini (2003)

dengan membagi faktor-faktor komitmen kerja menjadi empat karakteristik

yang meliputi :

a. Faktor Personal

(31)

b. Karakteristik struktur

c. Pengalaman Kerja

Komitmen organisasional menurut Gibson et al (2010) dapat diartikan

sebagai “identifikasi, loyalitas, dan keterlibatan yang dinyatakan oleh

karyawan oleh organisasi atau unit dari organisasi”. Menurut William dan

Hazer (1996) dalam Rivai (2005), komitmen organisasional merupakan”

respon afektif pada organisasi secara menyeluruh, yang kemudian

menunjukkan suatu respon afektif pada aspek. Khusus pekerjaan sedangkan

kepuasan kerja merupakan respon afektif individu didalam organisasi

terhadap evaluasi masa lalu dan masa sekarang, serta penilaian yang bersifat

individual bukan kelompok atau organisasi. Sedangkan menurut Mowday et

al (1992) komitmen organisasional sebagai “derajat seberapa jauh karyawan

mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi dan keterlibatannya dalam

organisasi tertentu”.

Dalam dunia kerja, akan sering kita jumpai orang yang merasa

sangat dekat dan mencintai pekerjaannya tetapi tidak merasa cocok dengan

organisasi atau perusahaan dimana ia bekerja. Sebaliknya, banyak pula

kenyataan bahwa seseorang yang merasa tidak cocok terhadap pekerjaannya

tetapi sangat loyal dan memiliki dedikasi yang tinggi terhadap perusahaan

atau organisasinya. Sikap-sikap seperti ini disebut dengan komitmen

organisasi yang menurut Mobley (2006:137) adalah kekuatan relatif dari

(32)

penting untuk menciptakan komitmen organsasi karena merekalah yang

menentukan sebagian besar keberhasilan organisasi.

Menurut Robbins (2007:140) komitmen pada organisasi

merupakan suatu keadaan dimana seorang karyawan memihak pada suatu

organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan

dalam organisasi itu. Jadi komitmen organsasi yang tinggi berarti

pemihakan pada organsasi yang mempekerjakan.

2.2.4.Kinerja

Kinerja merupakan istilah yang berasal dari kata Job Performance

atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya dicapai

seseorang). Kinerja (prestasi kerja) adalah “hasil kerja secara kualitas dan

kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya

sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya” (Mangkunegara,

2005:9). Kinerja merupakan hasil kerja baik kualitas maupun kuantitas yang

dihasilkan karyawan atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai dengan

tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Kinerja karyawan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam

suatu organisasi untuk mencapai tujuannya, sehingga berbagai kebijakan

harus dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerja karyawannya. Salah

satu diantaranya adalah melalui penilaian kinerja. Handoko (2010:135),

mendefinisikan penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah

(33)

prestasi kerja karyawan”. Prawisentono (1999:221) dalam Hudiwinarsih dan

Murtini (2012) berpendapat bahwa, “manfaat penilaian kinerja karyawan

yang dilakukan secara objektif, tepat dan didokumentasikan secara baik

cenderung menurun potensi penyimpangan yang dilakukan karyawan,

sehingga kinerjanya diharapkan harus bertambah baik sesuai dengan kinerja

yang dibutuhkan perusahaan”. Disamping itu penilaian kinerja karyawan

merupakan sarana untuk memperbaiki karyawan yang tidak melakukan

tugasnya dengan baik dan membuat karyawan mengetahui posisi dan

perannya dalam menciptakan tercapainya tujuan perusahaan. Hal tersebut

akan menambah motivasi karyawan untuk berkinerja lebih baik lagi, karena

masing-masing dapat bekerja lebih baik dan benar sesuai dengan tanggung

jawabnya.

Kinerja merupakan suatu konstruksi multidimensi yang mencakup

banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut terdiri atas

faktor instrinsik dan ekstrinsik. Uraiana faktor-faktor tersebut adalah

sebagai berikut (Sjafri Mangkuprawira dan Aida Vitalaya, 2006:155) dalam

Hudiwinarsih dan Murtini (2012): Faktor personal, meliputi unsur

pengetahuan, ketrampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi dan

komitmen yang dimiliki oleh tiap individu karyawan. Faktor kepemimpinan,

meliputi aspek kualitas manajer, dan team leader dalam memberikan

dorongan, semangat, arahan dan dukungan kerja kepada karyawan. Faktor

tim, meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan

(34)

keeratan anggota tim. Faktor sistem, meliputi sistem kerja, fasilitas kerja

atau infrastruktur yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi, dan

kultur kinerja dalam organisasi. Faktor kontekstual (situasional), meliputi

tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.

2.2.5. Indikator kompensasi, komitmen dan kinerja

2.2.5.1. Indikator kompensasi

Jackson dan Mathis berpendapat, bahwa pada dasarnya kompensasi

dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu “kompensasi langsung

dan kompensasi tidak langsung“ (Jackson dan Mathis,2002:119) dalam

Hudiwinarsih dan Murti (2012). Selanjutnya kompensasi langsung ada

yang gaji pokok dan gaji variabel. Sedangkan kompensasi tidak langsung

berupa tunjangan.

1. Gaji pokok. Kompensasi dasar yang diterima karyawan biasanya

sebagai gaji atau upah, disebut gaji pokok. Gaji adalah imbalan

finansial yang dibayarkan kepada karyawan secara teratur, seperti

tahunan, caturwulan,bulanan atau mingguan. Upah merupakan

imbalan fianasial langsung yang dibayarkan kepada para pekerja

berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya

pelayanan yang diberiakn. Pada dasarnya gaji atau upah diberikan

untuk menarik calon pegawai agar mau masuk menjadi karyawan.

2. Gaji variabel. Jenis lain dari gaji bersifat langsung adalah gaji

(35)

pencapaian kinerja. Jenis yang paling umum dari gaji jenis ini untuk

karyawan adalah program pembayaran bonus dan insentif. Untuk

eksekutif adalah umum untuk mendapatkan imbalan yang sifatnya

jangka panjang seperti kepemilikan saham.

3. Tunjangan. Banyak organisasi memberikan sejumlah imbalan

ekstrintik dalam bentuk yang tidak langsung. Dengan kompensasi

yang bersifat tidak langsung ini, karyawan menerima nilai terukur dari

imbalan tanpa benar-benar menerimanya secara tunai. Tunjangan

karyawan adalah imbalan tidak langsung, seperti asuransi kesehatan,

uang cuti atau uang pensiun, yang diberikan kepada karyawan sebagai

bagian dari keanggotaannya di organisasi.

2.2.5.2. Indikator komitmen

Tiga komponen utama mengenai komitmen organisasi (Arfan

Ikhsan,2010:55) Hudiwinarsih dan Murti (2012) yaitu:

1. Affective commitmen (komitmen afektif), terjadi apabila karyawan

ingin menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan emosional

atau psikologis terhadap organisasi.

2. Continuance commitmen (komitmen berkelanjutan) muncul apabila

karyawan tetap bertahan pada suatu organisasi karena membutuhkan

gaji dan keuntungan-keuntungan lain, atau karyawan tersebut tidak

(36)

tinggal di organisasi tersebut karena dia membutuhkan organisasi

tersebut.

3. Normative commitmen (komitmen normatif) timbul dari nilai-nilai diri

karyawan. Karyawan bertahan manjadi anggota suatu organisasi

karena mamiliki kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi

tersebut merupakan hal memang harus dilakukan. Jadi, karyawan

tersebut tinggal di organisasi itu karena ia merasa berkewajiban untuk

itu.

2.2.5.3. Indikator kinerja

Kinerja merupakan suatu konstruksi multidimensi yang mencakup

banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut Bernadine (1998) dalam

Suryoadi (2013) ada 6 (enam) kriteria penting kinerja yaitu :

1. Kualitas (Quality). Adalah hal yang menunjukkan proses atau hasil dari

penyelesaian suatu kegiatan yang mendekati sempurna dan memenuhi

tujuan kegiatan.

2. Kuantitas (Quantity). Sejumlah hasil atau keluaran yang dinyatakan

dalam nilai satuan, jumlah unit atau jumlah kegiatan.

3. Ketepatan waktu (Timeliness). Adalah berapa lama waktu yang

dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan atau suatu keluaran dapat

dihasilkan pada awal waktu yang diinginkan, serta memaksimalkan

(37)

4. Efektivitas biaya (Cost Effectiveness). Adalah hal yang menunjukkan

penggunaan sumber daya organisasi seperti manusia, dana, tehnologi

dan material secara maksimal untuk mendapatkan keuntungan yang

sebesar-besarnya.

5. Kebutuhan akan Supervisi (Need for Supervision). Suatu aktifitas

pengawasan terhadap karyawan bagaimana mereka dapat menjalankan

fungsi pekerjaan.

6. Pengaruh hubungan personal (Interpersonal Impact). Mengembangkan

rasa penghargaan diri, berbuat baik dan bekerja sama dengan sesama

pekerja maupun dengan atasan.

2.2.6. Pengaruh kompensasi terhadap komitmen organisasi

Menurut pendapat Pndja Djati. Et al. (2003) bahwa komitmen

organisasi merupakan suatu kondisi yang dirasakan oleh karyawan dan dapat

menimbulkan perilaku positif yang kuat terhadap organisasi kerja yang di

milikinya.

Sedangkan munurut Buchanan (1975) dalam Dessler (2000:319)

mengungkapkan bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan komitmen

karyawan adalah dengan cara memenuhi apa yang menjadi harapan

karyawan. Siagian (1995) menyatakan bahwa menyebutkan tingkat

kompensasi dengan istilah harapan.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat di simpulkan bahwa dengan

(38)

karyawan pada organisasi. Dengan adanya komitmen ini maka karyawan

akan setia, mau bangga pada organisasi.

2.2.7. Pengaruh kompensasi terhadap kinerja

Anoki (2010) menyatakan bahwa kompensasi berpengaruh positif

terhadap kinerja karyawan. Dalam penelitian tersebut mengemukakan

bahwa pemberian kompensasi akan meningkatkan kinerja karyawan.

Penelitian tersebut sejalan dengan yang dilakukan oleh Bayu (2010) dalam

Murty dan Hudiniwarsih (2012) yang menyatakan bahwa ada pengaruh

kompensasi terhadap kinerja karyawan. Kompensasi merupakan imblan

yang di berikan oleh perusahaan kepada karyawan atas jasanya dalam

melaksanakan tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang dibebankan

kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan.

2.2.8. Pengaruh komitmen karyawan Ter hadap kinerja karyawan

Beberapa factor ketidakpuasaan kerja karyawan adalah kompensasi

yang tidak sesuai dengan harapan sehingga dapat menimbulkan perilaku

negative karywan terhadap perusahaan dan dampak job involment yang bisa

di lihat dari menurunnya komitmen pada akhirnya akan menurunkan prestasi

kerjanya (Noe, 1994:135). Karyawan yang mempunyai komitmen yang

rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah pula.

Oleh karena itu sikap karyawan yang menitikberatkan pada adanya

kompensasi dan komitmen pada organisasi telah menjadi kepentingan yang

(39)

sumber daya manusia hal itu membawa dampak bagi perilaku karyawan

pada perusahaan dan prestasi kerjanya (Robbins,1993).

Dengan pernyataan tersebut bisa di pahami jika dalam kesetiaan

karyawan. Kemauan dan kebanggaan karyawan pada organisasi sangat

berpengaruh jika mereka di beri imbalan yang menarik. Dan untuk

mengantisipasi adanya perilaku negative karyawan terhadap perusahaan,

maka perusahaan memberikan kompensasi yang dapat memuaskan para

karyawan, sehingga tercipta komitmen dan prestasi kerjanya yang tinggi.

2.3.Kerangka Konseptual

2.4.Hipotesis

Hipotesis sebagai pendugaan sementara dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Kompensasi berpengaruh terhadap komitmen karyawan Dunia Honda

Surabaya. Kompensasi

(X1)

Komitmen organisasi

(X2)

(40)

b. Kompensasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan Dunia Honda

Surabaya.

c. Komitmen karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan Dunia

(41)

3.1.Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Definisi operasional untuk masing-masing variable tersebut antara lain

adalah:

a. Kompensasi sebagai variable X1

Merupakan merupakan kompensasi yang diberikan oleh perusahaan

kepada karyawannya baik berupa kompensasi material maupun non

material sebagai imbalan balas jasa atas kemampuan, pengetahuan dan

keahlian yang diberikan oleh karyawan kepada perusahaan untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan Hudiwinarsih dan Murti (2012).

Indikator kompensasi menurut Hudiwinarsih dan Murti (2012) adalah

sebagai berikut:

1. Gaji pokok (X1.1). Kompensasi dasar yang diterima karyawan

biasanya sebagai gaji atau upah, disebut gaji pokok. Gaji adalah

imbalan finansial yang dibayarkan kepada karyawan secara teratur,

seperti tahunan, caturwulan,bulanan atau mingguan. Upah merupakan

imbalan fianasial langsung yang dibayarkan kepada para pekerja

berdasarkan jam kerja, jumlah barang yang dihasilkan atau banyaknya

pelayanan yang diberiakn. Pada dasarnya gaji atau upah diberikan

(42)

2. Gaji variabel (X1.2). Jenis lain dari gaji bersifat langsung adalah gaji

variabel, di mana kompensasi berhubungan langsung dengan

pencapaian kinerja. Jenis yang paling umum dari gaji jenis ini untuk

karyawan adalah program pembayaran bonus dan insentif. Untuk

eksekutif adalah umum untuk mendapatkan imbalan yang sifatnya

jangka panjang seperti kepemilikan saham.

3. Tunjangan (X1.3). Banyak organisasi memberikan sejumlah imbalan

ekstrintik dalam bentuk yang tidak langsung. Dengan kompensasi

yang bersifat tidak langsung ini, karyawan menerima nilai terukur dari

imbalan tanpa benar-benar menerimanya secara tunai.

b. Komitmen karyawan sebagai variable X2

Didefinisikan sebagai suatu sifat hubungan seorang individu

karyawan dengan pihak perusahaan yang memungkinkan seseorang

memperlihatkan keinginan kuat untuk tetap menjadi karyawan perusahaan,

kesediaan untuk berusaha sebaik mungkin demi kepentingan perusahaan,

dan kepercayaan akan peneriaan kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan

perusahaan. Indikator komitmen karyawan menurut Hudiwinarsih dan

Murti (2012) yaitusebagai berikut:

1. Affective commitmen (komitmen afektif) (X2.1), terjadi apabila

karyawan ingin menjadi bagian dari organisasi karena adanya ikatan

emosional atau psikologis terhadap organisasi.

2. Continuance commitmen (komitmen berkelanjutan) (X2.2), muncul

(43)

membutuhkan gaji dan keuntungan-keuntungan lain, atau karyawan

tersebut tidak menemukan pekerjaan lain. Dengan kata lain, karyawan

tersebut tinggal di organisasi tersebut karena dia membutuhkan

organisasi tersebut.

3. Normative commitmen (komitmen normatif) (X2.3), timbul dari

nilai-nilai diri karyawan. Karyawan bertahan manjadi anggota suatu

organisasi karena mamiliki kesadaran bahwa komitmen terhadap

organisasi tersebut merupakan hal memang harus dilakukan. Jadi,

karyawan tersebut tinggal di organisasi itu karena ia merasa

berkewajiban untuk itu.

c. Kinerja sebagai variable Y

Merupakan tindakan-tindakan atau pelaksanaan tugas yang telah

diselesaikan oleh seorang karyawan dalam kurun waktu tertentu dan dapat

diukur Suryoadi (2013). Indikator kinerja menurut Bernadine (1998) dalam

Suryoadi (2013) adalah sebagai berikut :

1. Kualitas ( Quality ) (Y1). Adalah hal yang menunjukkan proses atau

hasil dari penyelesaian suatu kegiatan yang mendekati sempurna dan

memenuhi tujuan kegiatan.

2. Kuantitas ( Quantity ) (Y2). Sejumlah hasil atau keluaran yang

dinyatakan dalam nilai satuan, jumlah unit atau jumlah kegiatan.

3. Ketepatan waktu ( Timeliness ) (Y3). Adalah berapa lama waktu yang

(44)

dihasilkan pada awal waktu yang diinginkan, serta memaksimalkan

waktu untuk kegiatan lain.

4. Efektivitas biaya ( Cost Effectiveness ) (Y4). Adalah hal yang

menunjukkan penggunaan sumber daya organisasi seperti manusia,

dana, tehnologi dan material secara maksimal untuk mendapatkan

keuntungan yang sebesar-besarnya.

5. Kebutuhan akan Supervisi ( Need for Supervision ) (Y5). Suatu aktifitas

pengawasan terhadap karyawan bagaimana mereka dapat menjalankan

fungsi pekerjaan.

6. Pengaruh hubungan personal ( Interpersonal Impact ) (Y6).

Mengembangkan rasa penghargaan diri, berbuat baik dan bekerja sama

dengan sesama pekerja maupun dengan atasan.

Pengukuran dari kesepuluh (10) variabel tersebut adalah skala interval dengan

pengukuran semantic diferensial, merupakan metode pengukuran sikap

dengan menggunakan skala penelitian tujuh butir yang menyatakan secara

verbal dua kutub atau bipolar (Indriyanto dan Supormo, 2002:105). Dua kutub

ekstrim yang dinyatakan dalam metode ini dengan jawaban yang sangat positif

terletak di sebelah kanan, jawaban negative terletak di sebelah kiri atau

sebaliknya. Tuk setiap pilihan responden di beri skor 1-7, dalam skor tersebut

mempunyai pengukuran interval. Dalam metode ini santara lain dapat berupa

penilian mengenai buruk dengan nilai skor 1-3, ragu – ragu atau netral dengan

(45)

Cara pengukuran menggunakan Semantic Differensial Scale

Populasi adalah kelompok subyek/obyek yang memiliki ciri-ciri atau

karakteristik-karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok

subyek/obyek yang lain (Sumarsono,2002:44). Yang menjadi populasi

dalam penelitian ini adalah karyawan Dunia Honda Surabaya di Surabaya

sebanyak 200 orang.

b. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan karakteristik

yang sama dengan populasi tersebut (Sumarsono, 2002;44). Teknik

pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan ciri-ciri

khusus yaitu karyawan yang telah bekerja lebih dari 2 tahun. Sampel yang

digunakan dalam penelitian ini adalah 133orang karyawan. Jumlah ini

berdasarkan teori Yamane (Rakhmat, 2002:82) dengan rumus sebagai

berikut:

(46)

N =jumlah populasi

d2 =presisi/tingkat error 5% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Dengan menggunakan rumus diatas, maka jumlah sampel yang

dipergunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1

Jenis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah data primer

yaitu data kualitatif yang diperoleh berdasarkan tanggapan responden. Alat

pengumpul data yang diperlukan dalam penelitian adalah kuisioner yaitu

kumpulan/daftar pertanyaan yang dituangkan dalam angket.

b. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer

untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang

amat penting dalam metode ilmiah karena pada umumnya data yang

dikumpulkan harus valid untuk digunakan dalam penelitian ini digunakan

beberapa metode dalam membantu pengumpulan data yang lengkap

sehingga dapat mendukung landasan teori, memudahkan analisa dalam

(47)

1) Metode Kuisioner, yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan

daftar pertanyaan (angket) kepada responden untuk memperoleh

informasi langsung.

2) Metode Wawancara, yaitu mewawancarai secara langsung kepada

responden untuk keterangan yang lebih mendalam mengenai hal-hal

yang diperlukan dalam penelitian.

3) Metode Observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung pada obyek

penelitian.

3.4.Teknik Analisis Data

SEM yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan

Partial Least Square (PLS)(Ghozali,2006). PLS merupakan salah satu metode

untuk melaksanakan model Structural Equation Modelling (SEM). Untuk

tujuan penelitian ini metode ini dirasa lebih baik dibandingkan software SEM

yang lain, misalnya AMOS dan LISREL. Model PLS ini digunakan pada saat

dasar teori perancangan model lemah dan indikator pengukuran tidak

memenuhi model pengukuran yang ideal. PLS dapat digunakan dengan

jumlah sampel yang tidak besar dan dapat diterapkan pada semua skala data

(Ghozali,2006).

PLS selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat

digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan teorinya

atau untuk pengujian preposisi. PLS juga merupakan pendekatan yang lebih

(48)

bersifat formatif, atau ketika penelitian ini masih tidak pasti karena variabel

seharusnya termasuk pada sebuah model atau berhubungan diantara variabel

dengan model atau berhubungan diantara variabel dengan model

miss-specified akan menghasilkan perkiraan inferior varians sesuai yang

dijelaskan PLS. Missing variables dan miss-specification lain hanya

memiliki sedikit efek estimasi yang dibuat oleh PLS (Ghozali, 2006).

Estimasi parameter yang didapat dengan PLS dapat dikategorikan menjadi

tiga. Pertama, adalah weight estimate yang digunakan untuk menciptakan

skor variabel laten. Kedua, mencerminkan estimasi jalur (path estimate) yang

menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan indikatornya

(loading). Ketiga, berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai

konstanta regresi) untuk indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh

ketiga estimasi ini, PLS menggunakan proses iterasi 3 tahap dan setiap tahap

iterasi menghasilkan estimasi. Tahap pertama, menghasilkan weight

estimate, tahap kedua menghasilkan estimasi untuk inner model dan outer

model, dan tahap ketiga menghasilkan estimasi means dan lokasi (Ghozali,

2006).. Model analisis jalur semua variabel laten dalam PLS terdiri dari 2

model, yaitu inner model dan outer model.

3.4.1. Inner Model

Inner model (inner relation, structural model dan substantive theory)

menggambarkan hubungan antara variabel laten berdasarkan pada teori

(49)

konstruk dependen, Stone-GeisserQ-square test untuk predictive relevance

dan uji t serta signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural.

Dalam menilai model dengan PLS dimulai dengan melihat R-square

untuk setiap variabel laten dependen. Interpretasinya sama dengan interpretasi

pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai

pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen

apakah mempunyai pengaruh yang substantif (Ghozali, 2006). Di samping

melihat nilai R-square, model PLS juga dievaluasi dengan melihat Q-square

prediktif relevansi untuk model konstruktif. Qsquare mengukur seberapa

baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya.

3.4.2. Outer Model

Convergent validity dari model pengukuran dengan model reflektif

indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item score/component score

dengan construct score yang dihitung dengan PLS. Ukuran reflektif

dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang ingin

diukur. Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari pengembangan

skala pengukuran nilai loading 0,50 sampai 0,60 dianggap cukup (Chin,

1998 dalam Ghozali, 2006). Discriminant validity dari model pengukuran

dengan reflektif indikator dinilai berdasarkan cross loading pengukuran

dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar

daripada ukuran konstruk lainnya, maka akan menunjukkan bahwa konstruk

(50)

lainnya. Metode lain untuk menilai discriminant validity adalah

membandingkan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE)

setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk lainnya dalam model. Jika

nilai akar AVE setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antar

konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki

nilai discriminant validity yang baik. Pengukuran ini dapat digunakan untuk

mengukur reabilitas component score variabel laten dan hasilnya lebih

konservatif dibandingkan dengan composite reability. Direkomendasikan

nilai AVE harus lebih besar 0,50 (Fornnel dan Larcker, 1981 dalam Ghozali,

2006). Composite reability yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi

dengan dua macam ukuran yaitu internal consistency dan Cronbach’s Alpha

(51)

4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian

4.1.1. Sejar ah Perusahaan

Dunia Honda adalah sebuah dealer motor Honda yang menjual

berbagai jenis motor honda, spare part motor honda dan juga oli. Di Dunia

Honda tidak hanya menjual barang tetapi juga ada service khusus motor

Honda oleh mekanik yang sudah di uji keahlianya itu semua untuk

memudahkan customer bila mengalami kerusakan pada motor honda.

Dunia Honda juga mempunyai beberapa cabang di Surabaya.

4.1.2. Tujuan Perusahaan (Visi dan Misi Perusahaan)

Visi

Visi kita ingin memberi yang tebaik kepada customer agar bisa mencapai

prestasi yang memuaskan untuk menjadi dealer yang terbaik.

Misi

Misi kami adalah:

a. bersemangat

b. ramah dan bersahabat

c. bersikap jujur dan komitmen

d. customer oriented

(52)

f. kerjasama tim

4.1.3. Struktur Organisasi Perusahaan

Dengan adanya struktur organisasi perusahaan, maka pimpinan

perusahaan dapat mengetahui penjabaran dari fungsionaris mana yang

bertanggungjawab untuk suatu kegiatan tertentu yang terjadi di perusahaan

tersebut, Selain itu setiap fungsionaris dapat mengetahui dengan pasti

wewenang dan tanggungjawab dalamn susunan organisasi perusahaan,

sehingga para pelaksana dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan lebih

terarah.

Gambar 2. Struktur Organisasi Dunia Honda

Keterangan:

Berdasarkan struktur organisasi di atas maka Deskripsi Jabatan Dunia

(53)

A. Shop Manager

1. Penanggung jawab kegiatan personal dealer.

2. Buat report bulanan.

3. Membuat perencanaan penjualan dan perencanaan order.

B. Supervisor

1. Sebagai penanggung jawab masalah penjualan.

2. Mengkoordinir semua kordinator.

3. Membuat rencana penjualan di cabang.

4. Membuat rencana promosi.

5. Mengakomodir masalah lising.

C. Adm Head

1. Penanggung jawab admin

2. Mengurus masalah keuangan

3. Mengurus perpajakan

4. Mengontrol pelunasan piutang lising

5. Pengurusan masalah ketenaga kerjaan

6. Mengurus masalah pengkajian

D. Adm Penjualan

1. Membuat laporan penjualan

2. Mengurus BBN

3. Mencetak Surat Servis

E. Gudang

(54)

2. Menyiapkan unit barang yang akan di kirim

3. Bertanggung jawab kelengkapan barang

F. Faktur BBN

1. Open fuktur

2. Mengontrol penerimaan faktur

G. Keuangan

1. Mengurus masalah penagihan lising

2. Mengontrol purches order yang belum di terima

3. Menghubungi lising mengenai pencairan lising

H. Chif Mekanik

1. Bertanggung jawab atas bengkel

2. Membuat laporan bengkel

3. Mengurus klaim sperpart

I. Counter Servis

1. Menerima konsumen bengkel

2. Membuat kwitansi bengkel

3. Menerima pembayaran

4. Membuat laporan harian bengkel

J. Mekanik

1. Menerima intruksi dari chif mekanik

2. Membantu penyiapan motor sebelum dikirim

K. Driver

(55)

2. Cek kelengkapan surat kirim barang

3. Serah terima Unit barang ke konsumen

4. Menarik dan mengirim unit barang dari/ke cabang

5. Melaksanakan moving sebagai aktivitas promosi

L. Umum

1. Membantu Operasional kantor

2. Membantu pengiriman dokumen ke lising

3. Mengirim BPKB

4.2. Deskr ipsi Hasil Penelitian

4.2.1. Deskr ipsi r esponden

1. Deskripsi responden berdasarkan umur

Tabel 4.1: Deskr ipsi responden berdasar kan umur

Umur

Frek (orang)

Prosentase (%)

Kurang dari 25th 4 3,01

25th s/d 30th 18 13,53

30th s/d 45th 70 52,63

Lebih dari 45th 41 30,83

133 100

Sumber : hasil kuisioner, diolah

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa deskripsi responden

berdasarkan umur dapat diuraikan sebagai berikut: umur responden kurang

dari 25th terdapat 4 orang atau sebesar 3,01% dari total responden.

Gambar

Tabel 1: Data target penjualan unit sepeda motor periode tahun 2009-2012
Tabel 2: Data absensi karyawan periode tahun 2009-2012
Gambar 2. Struktur Organisasi Dunia Honda
Tabel 4.1: Deskripsi responden berdasarkan umur
+7

Referensi

Dokumen terkait

menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara suhu udara dengan keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti di Kelurahan Wonokusumo.. Rata-rata suhu optimum untuk

Adapun pengaturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 33 Tahun 2012, yang secara khusus mengatur tentang Bahan Tambahan Pangan. Dan peraturan ini menjadi

Alhamdulillahira bbil’alamin, tiada untaian kata yang lebih indah yang dapat penulis ucapkan selain pujian atas nama Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-nya

Dan semua ini ketika perkembangan tubuh dan akal seorang anak telah mencapai kesempurnaan Namun, ketentuan ini berlaku apabila seorang anak sudah sempurna akalnya, jika

Informasi minggu ketiga bulan September 2020 dari pengusaha poultry shop di Sidrap, jika dalam masa pandemi ini peternak sudah saatnya melakukan afkir terhadap ayam

Struktur program bimbingan karir sama dengan struktur program bimbingan konseling pada umumnya yaitu mengacu pada program bimbingan dan konseling komprehensif yang

Suryani (2008) menyatakan bahwa jumlah dan panjang akar perpengaruh terhadap tinggi dan jumlah daun pada tanaman dimana dengan banyak dan panjangnya akar maka

Kurasi diukur dengan adanya ketrampilan responden penelitian untuk melakukan penyaringan informasi yang akan diterima, serta melakukan penyimpanan informasi jurnalisme