• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI. Tabel 1: Jurnal Nasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI. Tabel 1: Jurnal Nasional"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

25 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN TEORI 2.1.Penelitian Terdahulu

2.1.1. Jurnal Nasional

Tabel 1: Jurnal Nasional No. Peneliti/Judul

Penelitian

Hasil Temuan Relevansi

1. Persepsi Pedagang Di Bojonegoro Terhadap

Kepercayaan

Adanya Klenik Sebagai Penglaris Dagangannya.

Moch. Suberi dan Tim Research and Development

STIEKIA. Sekolah

Tinggi Ilmu

Ekonomi Cendekia Bojonegoro

Hasil dari penelitian ini yaitu dari 16 informan yang sudah diteliti ternyata memiliki persepsi bahwa rizeki sudah ada yang mengatur dan mereka memiliki persepsi bahwa klenik adalah bersifat negatif, bisa berupa jimat yang berasal dari dukun, padahal kalau ditinjau dari teori yang mendasari, klenik tidak hanya dapat diartikan hanya sempit begitu saja tetapi juga berkaitan dengan keyakinan seseorang (agama) untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat

dicerna oleh akal pikiran namun dipercaya oleh banyak orang. Metode penelitian yang digunakan

adalah metode penelitian kualitatif, karena permasalahan yang akan dikaji belum jelas, berrsifat kompleks, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut dijaring dan dikumpulkan dengan metode lainnya. (Sugiyono, 2007).

Pendekatan yang digunakan pendekatan sosiologis dan psikologi,yang mengandaikan

Persamaan :

Penelitian sama- sama menggunakan metode penelitian kualitatif.

Perbedaan :

Jenis penelitian terdahulu lebih mencakup dari berbagai kalangan bukan hanya pada masyarakat saja, sedangkan

penelitian yang sekarang lebih

fokus pada

pedagang yang menggunakan ilmu penglaris.

(2)

26

penggunaan salah satu sudut pandang yang dianggap paling relevan sesuai dengan tujuan penelitian (Ratna dalam Andi, 2011:182). Jenis metode kualitatif yang digunakan adalah metode penelitian lapangan karena dilakukan ditempat atau lokasi di lapangan yang meliputi metode sejarah, kejadian yang sudah terjadi pada masa lampau) dan

metode diskriptif,

membandingkan data pada masa sekarang dan atau masih baru.(Sugiyono, 2007). Obyek (Informan) penelitian adalah pedagang di Bojonegoro yang meliputi Pedagang Mie Ayam, Pedagang Buah, Pemilik Toserba, Pemilik Toko dan Pulsa, Pedagang Perhiasan dan Jasa Salon, dll. Karena kami ingin mengetahui persepsi pedagang di Bojonegoro terhadap kepercayaan adanya klenik sebagai penglaris barang

dagangannya. Dan

menggunakan second opinion atau pendapat dari orang yang dianggap tahu tentang pedagang tersebut, bisa tetangga, keluarga atau sahabat.

2. Makna Folosofis Tradisi Syawalan (Penelitian Pada Tradisi Syawalan di Makam Gunung Jati Cirebon). Afghoni, 2017. Jurnal Studi

Agama dan

Masyarakat. Volume 13, No 01. E-ISSN :

Hasil dari penelitian ini yaitu Dalam tradisi upacara syawalan di Cirebon ini banyak simbol-simbol yang digunakan selama prosesi upacara.

Simbol-simbol tersebut digunakan sebagai pengantar

komunikasi, yang

menjadikannya sebuah tindakan simbolis. Tindakan

Persamaan :

Penelitian sama- sama melakukan observasi pada masyarakat umum (didesa yang diteliti) dan juga pada tradisi dan sejarah.

Perbedaan :

(3)

27 2540-8232, ISSN :

1829-8257. UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

simbolis adalah bagian dari sebuah ritual. Sejumlah tindakan melambangkan

makna-makna yang

menggambarkan posisi manusia dalam hubungannya dengan yang gaib, serta harapan-harapan yang ingin dicapai di balik itu. Oleh sebab itu, tindakan simbolis dapat difungsikan sebagai alat untuk memahami perilaku dalam Tradisi Syawalan di Makam Sunan Gunung Jati Cirebon.

Husserl dalam fenomenologi agama mengatakan untuk mengetahui hakikat makna dalam sebuah fenomena tradisi, haruslah diteliti cara-cara yang digunakan masyarakat untuk memberikan arti, cap (label) yang kemudian menciptakan suatu kenyataan yang tidak mereka sangsikan lagi kebenarannya. Fenomenologi mencakup usaha untuk mendeskripsikan, memaparkan gejala-gejala kesadaran, dan menunjukan bagaimana ia dibangun. Tradisi Syawalan dilaksanakan di komplek makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Desa Astana Kecamatan Gunung Djati Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Masyarakat Cirebon juga menyebut komplek makam Sunan Gunung Djati ini dengan komplek makam Gunung Sembung. Pelaksana tradisi syawalan atau grebeg syawal ini adalah keraton Kanoman. Dilaksanakan setiap setiap tanggal 8 syawal, atau

Jenis penelitian terdahulu

menggunakan fenomenologi sosial, sedangkan penelitian sekarang menggunakan konstruksi sosial.

(4)

28

seminggu setelah hari raya idul fitri. Tradisi ini diisi dengan ziarah dan do’a bersama yang dipimpin oleh Sultan. Selain itu, ada acara tambahan yang seringkali dilakukan oleh masyarakat setelah syawalan bersama Sultan berlangsung, yaitu tradisi mandi tujuh sumur yang berada di komplek Makam Sunan Gunung Jati.

3. Al-Qur’an dan Budaya Magi (Studi Antropologis

Komunitas Keraton Yogyakarta Dalam Memaknai Al- Qur’an Dengan Budaya Magi).

Abdul Ghofur, 2014.

Skripsi, UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta.

Dalam penelitian ini berisi tentang penulis yang mengungkapkan tentang pemaknaan dari sebuah komunitas terhadap kitab sucinya dengan perangkat budaya, yang mana di daerah yang diteliti masih sangat kental dengan budaya kejawen.

Namun masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam masih menggunakan Al- Qur’an sebagai sebuah dasar setaiap kegiatan yang memang sudah memnjadi budaya di tempat yang diteliti tersebut.

Persamaan :

Penelitian sama- sama melakukan analisis terhadap budaya jawa

Perbedaan :

Jenis penelitian terdahulu

melakukan

penelitian di daerah Yogyakarta

tepatnya budaya Magi di Keraton Yogyakarta,

sedangkan

penelitian sekarang melakukan

penelitian di daerah Lamongan

mengenai ilmu penglaris.

4. Hubungan Anatara Agama dan Magic Menurut Brownislaw Malinowski. Athi’ul Khoiruyah, 2008.

Skripsi Fakultas Ushuluddin,

Universitas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya.

Dalam penelitian ini berisi mengenai adanya kepercayaan suatu bangsa primitive terhadap kekuatan-kekuatan ghaib yang memang di puji oleh masyarakat tersebut.

Seperti adanya kekuatan- kekuatan yang terdapat dalam suatu benda, binatang, tumbuh- tumbuhan, dan juga kekuatan- kekuatan yang ada di alam, bahkan juga kekuatan-kekuatan

Persamaan :

Penelitian ini sama- sama melakukan penelitian pada hal- hal mistik (ghaib) yang ada di masyarakat.

Perbedaan : Penelitian terdahulu melakukan

penelitian yang

(5)

29

yang terdapat dalam diri manusia yang memang dianalisa menurut pemikiran seorang Malinowski.

lebih terkofus pada masyarakat

primitive atau masyarakat

pedalaman yang belum modern, sedangkan

penelitian sekarang lebih fokus pada masyarakat modern

yang masih

mempercayai hal- hal mistik.

5. Interaksi Sosial Masyarakat

Penganut Kejawen Dengan Penganut Islam Tradisional Di Dukuh Mandalika.

Ana Widiyanti dan Atinia Hidayah, 2015. Jurnal PPKM III (2015) 212-227.

ISSN: 2354-869X.

Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Sains Alquran.

Penelitian ini berisi mengenai bagaimanakah cara berinteraksi sosial yang terjalin antara penganut kejawen dan penganut islam tradisional yang ada di tempat penelitian tersebut. Dan juga apa yang menjadi faktor atau penyebab adanya konflik sosial yang terjadi antara kedua penganut yang berbeda tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian lapangan (field study), analisiss permasalahan

menggunakan metode

diskripstif analistik. Interaksi antar kedua kelompok masyarakat yang berbeda yang

memang mempunyai

pandangan hidup masing- masing akan lebih banyak mengalami konflik sosial daripada hidup rukun. Namun beberapa hal yang dapat lebih merekatkan interaksi kedua kelompok masyarakat tersebut akan lebih mengacu pada kondisi normatif yang memang didasari oleh suatu aturan pemerintah ataupun consensus

Persamaan : Persamaan

penelitian ini sama- sama melakukan analisis atau penelitian pada budaya kejawen.

Perbedaan : Penelitian terdahulu melakukan

penelitian tentang interaksi yang dilakukan oleh penganut kejawen

dan islam

tradisional, sedangkan

penelitian sekarang melakukan

penelitian hanya pada budaya kejawen yaitu ilmu penglaris yang ada di masyarakat dan pedagang.

(6)

30

tertentu yang ada di dalam masyarakat tersebut.

6. Budaya Spiritual Aliran Kejawen “ prasetyo Manunggal Karso” Sebagai Wujud Plurarisme Kepercayaan

Masyarakat Di Boyolal. Alan Sigit Fibrianto, 2019.

Jurnal Penelitian

Agama Dan

Masyarakat

PENAMAS. Volume 32 Nomor 1. ISSN:

0215-782 e-ISSN:

2502-78891.

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang.

Penelitian ini berisi mengenai budaya kejawen yang membahas tentang Prasetyo Manunggal Karso merupakan salah satu dari sekian banyak aliran kepercayaan kejawen di Pulau Jawa. Prasetyo Manunggal Karso merupakan sebuah aliran kepercayaan yang mengajarkan ilmu kejawen dan terletak di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Layaknya aliran kepercayaan kejawen pada umumnya, Prasetyo Manunggal Karso memiliki beberapa pakem tersendiri dalam ajarannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa, pencipta seluruh alam semesta. Tulisan ini berupaya untuk memaparkan seluk beluk ajaran aliran kepercayaan kejawen Prasetyo Manunggal Karso, mencakup latar belakang dan sejarahnya, kitab suci yang digunakan, pokok- pokok ajarannya, cara peribadatan, alat perlengkapan yang digunakan dalam ritual, tokoh pendiri, dan cara penyebaran ajaran. Analisis

hasil menggunakan teori habitus dan

reproduksi budaya Pierre Bourdieu. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji praktik budaya aliran kejawen Prasetyo Manunggal Karso, dengan metode deskriptif kualitatif, dengan informan kunci Bapak

Persamaan :

Penelitian terdalu dan penelitian sekarang sama- sama membahas tentang

kebudayaan

kejawen dan juga sama-sama

menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif.

Perbedaan : Penelitian terdahulu malakukan

penelitian yang lebih terfokus pada budaya aliran kejawen “prasetyo manunggal karso”

dan oenelitian ini dilakukan di daerah Boyolali.

Sedanglan

penelitian yang sekarang lebih terfokus pada budaya mistik kejawen dan penelitian ini dilakukan di daerah Paciran Lamongan.

(7)

31

Toto Soeharto selaku pendiri sanggar paguyuban aliran kejawen Prasetyo Manunggal Karso di Boyolali. Hasil menunjukkan bahwa hadirnya aliran kejawen Prasetyo Manunggal Karso adalah sebagai sebuah wujud kekayaan budaya Indonesia, sebuah potret keberagaman dalam keberagamaan, serta merupakan corak khas budaya spiritual masyarakat Jawa sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia. Selain itu, Prasetyo Manunggal Karso memiliki makna menyatu, setia, dan hanya menyembah kepada satu Tuhan yang maha pencipta, serta belajar untuk membersihkan jiwa dan raga yaitu, suci hati, suci pikiran, dan suci tingkah laku. Suci berarti bersih, dan bersih sendiri merupakan bagian dari bentuk taat kepada Tuhan.

7. Makna Dan Fungsi Mantra Kejawen Aji Seduluran Bagi Kehidupan Kolektif Masyarakat

Kecamatan Pager Rejo Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Shinta Emilia Ervita, Aulia Intan Dewi, Hanan Nabila.

Universitas Muhammadiyah Malang.

Peneltian ini membahas mengenai salah satu mantra Jawa yang sampai saat ini masih di yakini oleh masyarakat Desa Pager Rejo Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna dan fungsi mantra Aji Seduluran yang masih sangat diyakini oleh masyarakat di sana. Peelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan dua teori, yakni menggunakan teori Alan Dundes yang digunakan sebagai acuan untuk mengetahui fungsi dari mantra

Persamaan :

Penelitian terdaulu dan penelitian sekarang sama- sama melakukan penelitian

mengenai budaya kejawen yang sampai saat ini masih dipercayai oleh masyarakat, dan juga sama-

(8)

32

tersebut dan juga

menggunakan teori Roland Barthes yang digunakan sebagai acuan untuk mengetahui makna yang sebenarnya dari mantra tersebut. Adapun beberapa aspek yang diteliti dalam penelitian ini adalah untuk mengungkapkan fungsi-fungsi dan juga makna-makna dalam mantra yang dipercaya masyarakat tersebut berdasarkan tradisi masyarakat Desa tersebut. Data yang dikumpulkan berupa mantra dan cara pengucapan bagi masyarakat terkait, dan juga beberapa penjelasan dari masyarakat mengenai asal-usul atau sejarah dan juga kegunaan mantra tersebut bagi

masyarakat yang

mempercayainya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini ialah berupa mantra yang diyakini oleh masyarakat Desa Pager Rejo.

Hasil dari penelitian ini sendiri adalah mengunkapkan makna dan fungsi dari mantra Aji Seduluran bagi masyarakat tersebut.

sama melakukan penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.

Perbedaan : Penelitian

terdahulu lebih terfokus pada budaya kejawen yang berupa mantra-mantra yang masih di percaya oleh masyarakat

setempat, yakni masyarakat di Desa

Pger Rejo

Kabupaten

Mojokerto Jawat\

Timur. Sedangkan penelitian yang sekarang lebih terfokus pada budaya mistis kejawen yakni tentang ilmu penglaris yang sampai saat ini

(9)

33

masih sangat di percaya oleh masyarakat di Desa Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur.

2.1.2 Jurnal Internasional

Tabel 2: Jurnal Internasional No. Peneliti/Judul

Penelitian

Hasil Temuan Relevansi

8. Digging the Traces of Islam in Baritan Tradition (Menggali Jejak Islam dalam Tradisi Baritan).

Hanida Eris

Griyanti, Sunardi, Warto, 2018.

International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding (IJMMU). Vol. 5, No. 3.

Department of Teacher Training and Education, Sebelas Maret University Indonesia

Artikel ini berisi diskusi untuk mengeksplorasi jejak Islam dalam tradisi "Baritan". Data

dikumpulkan dengan

observasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur.

Di sini peneliti melakukan penelitian menggunakan teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles &

Huberman. Penelitian kualitatif dengan teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles

& Huberman dalam Sutopo (2000: 90), dimulai dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu seseorang yang benar-benar memahami dan mengetahui situasi objek penelitian. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif.

Sejak agama dan budaya Islam muncul di Indonesia, terjadi

Persamaan : Penelitian

terdahulu dan penelitian sekarang sama-sama

melakukan

penelitian yang membahas tentang budaya atau kepercayaan dari agama islam, dan juga sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif.

Perbedaan : Perbedaan penelitian

terdahulu dengan penelitian yang sekarang ialah penelitian

terdahulu melakukan

(10)

34

proses islamisasi masyarakat di Indonesia. Seiring dengan proses Islamisasi, perubahan sosial-budaya terjadi menuju pembentukan budaya baru berdasarkan Islam. Beberapa tradisi yang masih digunakan oleh beberapa komunitas Islam seperti kuburan, ziarah, amal atau upacara tradisional Jawa yang disebut sekaten juga merupakan bukti sejarah Islam di Indonesia yang tidak dapat dilupakan. Tradisi-tradisi ini lahir karena pengaruh Islam yang mengakulturasi budaya lokal masyarakat pada waktu itu. Salah satu tradisi yang masih ada sampai sekarang adalah Tradisi Baritan, yang berarti persembahan laut.

Tradisi "Baritan" ini diadakan setiap hari pertama di kalender Jawa atau tahun baru Islam.

penelitian yang lebih terfokus untuk

mengungkapakan atau menceritakan mengenai tradisi budaya baritan, dan penelitian ini menggunakan menggunakan teknik analisis data yang

dikembangkan oleh Miles &

Huberman, sedangkan

penelitian yang sekarang lebih membahas tentang budaya kejawen yang ada di Desa Paciran.

2. Coomon identity framework of cultural knowledge and practices of Javanese Islam (Kerangka kerja identitas umum pengetahuan dan praktik budaya Islam Jawa).

Sulistiono Susilo dan Ibnu Syato, 2016.

Indonesian Journal of Islam and Societies (IJIMS).

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis terhadap agama, dalam penelitian ini membahas penjelasan

kontekstualisasi nilai-nilai Islam universal di ruang lokal.

Hasil penelitian ini menunjukkan

bahwa sintesis pemikiran dan praktik ortodoks dengan tradisi pra-Islam adalah tidak diragukan lagi hasil interaksi antara Islam dan tradisi pra- Islam selama islamisasi di Jawa. Selain itu, penelitian ini

Persamaan : Persamaan penelitian

terdahulu dan penelitian sekarang ialah sama-sama membahasa tentang budaya jawa yang bersifat mistis yang sudah dipercaya oleh masyarakat Jawa.

Perbedaan : Perbedaan penelitian

(11)

35 Volume 6 Number 2.

State University of Islamic Studies of Walisongo,

Semarang.

juga menemukan

persimpangan dari Islam dan budaya Jawa itu sendiri dalam hal silsilah budaya, mistisisme Islam, orientasi ajaran Islam tradisional, dan juga konsepsi Islam kekuatan di kerajaan Jawa. Karena praktik kejawen sudah sesuai dengan agama Islam mistisisme dapat dibenarkan oleh praktik umat Islam. Demikian tipologi dari hubungan antara Islam dan

budaya Jawa tidak

bertentangan tetapi

dialektika. Akhirnya, sejumlah implikasi dan saran dibahas.

Penelitian ini menggunakan teori magnum Geertz

Opus, The Religion of Java (1960), penelitian ini mencoba menganalisis beberapa

Bias budaya terhadap teori,

dengan menggunakan

pendekatan perpustakaan penelitian melalui

identifikasi antitesis-antitesis dari berbagai teori Geertz tentang orang Indonesia

seperti Robert Hefner, Merle Ricklefs, Niels Mulders, Mark Woodward,

Martin van Bruinessen dan M.B Hooker yang relevan berisi mengenai pembahasan identitas Islam masyarakat Jawa.

terdahulu ialah membahas budaya jawa yang lebih luas antara Agama Islam dengan budaya Jawa, sedangkan

penelitian yang sekarang

membahas

mengenai budaya mistis Jawa yakni penglaris di Desa Paciran.

(12)

36 2.2.Tinjauan Pustaka

2.2.1. Konstruksi Sosial

Konstruksi social meililiki arti yang sangat luas dalam ilmu sosial. Konstruksi soial biasanya dihubungkan dengan pengaruh social dalam pengalaman hidup seseorang atau individu. Konstruksi social meiliki beberapa kekuatan. Kekuatan konstruksi sosial adalah peran bahasa, budaya sangat mempengaruhi pikiran dan tingkah laku individu.

Konstruksi social menurut Waters adalah human beings construct social reality in which subjective processes can become objectified. Konstruksi sosiala adalah konsep yang menggambarkan bagaimana realitas sosial dibentuk dan dimaknai secara subjektif oleh anggota masyarakat. Konstruksi sosial menggambarkan proses dimana melalui tindakan dan interaksi, manusia meciptakan secara terus-menerus suatu kenyataan yang dimiliki bersama yang dialami secara faktual objektif dan penuh arti secara subjektif.

Konstruksi sendiri merupakan pembuatan, rancangan bangunan, penyusunan, pembangunan (bangunan), susunan bangunan. Aktifitas untuk membangun suatu sistem. Dalam konstruksi terdapat teori konstruksi sosial yang berada diantara teori fakta sosial dan definisi sosial, dimana melihat realitas kehidupan sehari-hari memiliki dimensi- dimensi objektif dan subjektif.Istilah konstruksi sosial atas realitas (social construction of reality) didefinisikan sebagai proses sosial melalui

(13)

37

tindakan dan interaksi dimana individu menciptakan secara terus-menerus suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subyektif. Asal usul kontruksi sosial dari filsafat Kontruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif (Margareth, 1984).

Unsur terpenting dalam sebuah konstruksi sosial adalah masyarakat yang di dalamnya terkandung aturan-aturan atau norma, baik itu norma adat, agama, moral, dan lain-lain. Semua itu nantinya akan terbentuk dalam sebuah struktur sosial atau industri dan pertemuan.

Struktur sosial atau institusi merupakan suatu bentuk yang sudah mapan dan diikuti oleh masyarakat. Akibatnya institusi atau struktur sosial itu mungkin kelihatan mengkonfrontasikan individu sebagai suatu kenyataan objektif dimana individu harus menyesuaikan dirinya.

2.2.2. Pedagang

Pedagang adalah orang atau lembaga yang membeli barang hasil produksi dan produsen baik secara langsung atau lewat perantara, kemudian menjual kembali barang tersebut kepada konsumen. Untuk menjual kembali barang tersebut, umumnya pedagang memiliki tempat berdagang seperti toko, warung, atau kios. Beberapa jenis pedagang, antara lain sebagai berikut (Tedy Mulyadi, 2015).

- Pedagang besar/grosir (wholesaler)

(14)

38

Pedagang besar atau grosir adalah pedagang yang melakukan kegiatan jual beli barang dagangan dalam jumlah banyak. Pedagang besar membeli barang hasil produksinya secara langsung dalam jumlah yang banyak dan menjualnya kembali kepada pedagang kecil/eceran dalam jumlah yang banyak pula.

- Pedagang kecil/eceran (retailer)

Pedagang kecil atau eceran adalah pedagang yang melakukan kegiatan jual beli barang dagangan dalam jumlah sedikit/eceran. Pedagang kecil membeli barang dagangan dari pedagang besar dan kemudian menjualnya kembali secara eceran.

- Pedagang barang-barang khusus

Pedagang barang-barang khusus adalah pedagang yang menjual barang-barang hasil produksi tertentu saja.

- Pedagang jasa/biro jasa

Pedagang jasa atau biro jasa adalah pedagang yang memberikan pelayanan terhadap jasa-jasa yang dibutuhkan konsumen.

- Agen (dealer)

Agen (dealer) adalah orang atau badan perantara yang kegiatannya menjual produk dan produsen kepada konsumen yang membutuhkan.

Agen tidak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan barang dagangan, tetapi sekedar menerima komisi dari produsen atau konsu men (dari penjual atau pembeli). Ada dua macam bentuk kegiatan keagenan, yaitu agen penjualan adalah orang atau lembaga yang

(15)

39

kegiatannya menjual produk dari produsen tertentu kepada konsumen, dan agen pembelian adalah orang atau lembaga yang kegiatannya membelikan produk dari produsen yang dibutuhkan konsumen.

- Makelar

Makelar adalah orang atau lembaga yang kegiatannya menjualkan atau membelikan barang dagangan bukan atas nama sendiri tetapi atas nama penjual atau pembeli dari barang yang diperdagangkan. Makelar tidak memiliki barang dagangan dan tidak mendapat laba dari hasil penjualan atau membelikan barang dagangan tersebut, tetapi ia sekadar menerima komisi atau provit dari produsen atau konsumen.

- Komisioner

Komisioner adalah orang atau lembaga perantara dalam kegiatan jual bell yang bertindak atas namanya sendiri. Untuk barang milik orang lain seorang komisionen ikut bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukannya. Balas jasa yang diterima seorang komisioner disebut komisi.

- Eksportir

Eksportir adalah seseorang atau badan yang kegiatannya membeli barang dari pedagang/ produsen dalam negeri kemudian menjualnya ke luar negeri.

- Importir

Importir adalah seseorang atau badan yang kegiatannya membeli barang dari luar negeri kemudian menjualnya di dalam negeri.

(16)

40 - Koperasi

Koperasi adalah badan usaha yang salah satu tujuannya menyejahterakan anggota-anggotanya. Sesuai dengan tujuan tersebut, salah satu kegiatan yang dapat dilakukan koperasi adalah bertindak sebagai Iembaga penghubung antara produsen dan konsumen.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keuntungan pedagang antaralain (Hestanto, 2018) :

a. Modal

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan makin jauhnya spesialisasi dalam perusahaan serta makin banyaknya perusahaan- perusahaan yang menjadi besar, maka modal mempunyai arti yang lebih menonjol lagi. Masalah modal dalam perusahaan merupakan masalah yang tidak akan pernah berakhir karena bahwa masalah modal itu mengandung begitu banyak dan berbagai macam aspek. Hingga saat ini di antara para ahli ekonomi juga belum terdapat kesamaan opini tentang apa yang disebut modal (Sulistiyono, 2010).

Sumber modal, yaitu terdiri dari:

1) Sumber Intern

Modal yang berasal dari sumber intern adalah modal atau dana yang di bentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan. Alasan perusahaan menggunakan sumbar dana intern yaitu dengan dana dari dalam perusahaan maka perusahaan tidak mempunyai kewajiban untuk membayar bunga maupun dana yang di pakai,

(17)

41

setiap saat tersedia jika diperlukan, dana yang tersedia sebagian besar telah memenuhi kebutuhan dana perusahaan, dan biaya pemakaian relatif murah.

2) Sumber Ekstern

Modal yang berasal dari sumber ekstern adalah sumber yang berasal dari luar perusahaan. Alasan perusahaan menggunakan sumber dana ekstern adalah jumlah dana yang digunakan tidak terbatas, dapat di cari dari berbagai sumber, dapat bersifat fleksibel.

Menurut Sulistiyono (2009) dalam Erose Perwitasagi, 2010, sumber dari pada modal ekstern adalah pertama supplier, supplier memberikan dana kepada suatu perusahaan dalam bentuk penjualan barang secara kredit, baik untuk jangka pendek (kurang dari 1 tahun), maupun jangka menengah (lebih dari 1tahun dan kurang dari 10 tahun). Penjualan kredit atau barang dengan jangka waktu pembayaran kurang dari satu tahun terjadi pada penjualan barang dagang dan bahan mentah oleh supplier kepada langganan. Supplier atau manufaktur (pabrik) sering pula menjual mesin atau peralatan lain hasil produksinya kepada suatu perusahaan yang menggunakan mesin atau peralatan tersebut dalam jangka waktu pembayaran 5 sampai 10 tahun. Kedua, Bank adalah lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana, serta sebagai lembaga yang berfungsi

(18)

42

memperlancar lalulintas pembayaran. Ketiga, pasar modal adalah suatu pengertian abstrak yang mempertemukan dua kelompok yang saling berhadapan tetapi yang kepentingannya saling mengisi, yaitu calon pemodal (investor) di suatu pihak dan emiten yang membutuhkan dana jangka menengah atau jangka panjang di lain pihak, atau dengan kata lain adalah tempat (dalam artian abstrak) bertemunya penawaran dan permintaan dana jangka menengah atau jangka panjang. Dimaksudkan dengan pemodal adalah perorangan ataulembaga yang menanamkan dananya dalam efek, sedangkan emiten adalah perusahaan yang menerbitkan efek untuk ditawarkan kepada masyarakat. Fungsi dari pasar modal adalah mengalokasikan secara efisien arus dana dari unit ekonomi yang mempunyai surplus tabungan kepada unit ekonomi yang mempunyai defisit tabungan (Hestanto, 2018).

Modal dapat dibagi menjadi modal aktif dan modal pasif:

- Modal aktif ialah modal yang tertera di sebelah debit dari neraca, yang menggambarkan bentuk-bentuk dimana semua dana yang didapat perusahaan ditanamkan.

- sedangkan pengertian dari modal pasif adalah modal yang tertera di sebelah kredit dari neraca yang menggambarkan sumber-sumber dari mana dana diperoleh. Besar kecilnya modal yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap keuntungan usaha yang diraih

(19)

43

pengusaha. Semakin besar modal yang digunakan berarti dapat pendapatan yang diperoleh pengusaha.

Berdasarkan sumbernya, modal dapat dibedakan menjadi modal sendiri dan modal asing:

- Modal sendiri merupakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan (pengusaha).

- sedangkan modal asing adalah modal yang didapat dari hasil pinjaman atau kredit dari lembaga keuangan yang ada.

Kekuatan modal yang tertumpu pada kekuatan sendiri akan lebih baik daripada modal berasal dari luar, karena modal dari luar tentu memiliki konsekuensi biaya bunga dan ketergantungan dari pihak luar.

b. Jam Berdagang

Jam berdagang atau jam kerja adalah waktu yang dimanfaatkan seseorang untuk menjajakan barang atau jasa tertentu. Adapun waktu yang dimaksud disini adalah lamanya jam yang benar-benar digunakan seseorang untuk kegiatan berdagang. Maka ia akan menjual barang yang mereka punya, jadi semakin banyak barang yang mereka jual berarti semakin menaikan pendapatan mereka.

Otomatis keuntungan yang mereka dapat juga semakin meningkat.

c. Lama Usaha

Didalam menjalankan suatu usaha, lama usaha memegang peranan penting dalam proses melakukan usaha perdagangan (Widya

(20)

44

Utama, 2012). Lamanya suatu usaha dapat menimbulkan suatu pengalaman berusaha, dimana pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku (Asmie, 2008). Lama pembukaan usaha dapat mempengaruhi tingkat pendapatan, lama seorang pelaku bisnis menekuni bidang usahanya akan mempengaruhi produktivitasnya sehingga dapat menambah efisiensi dan menekan biaya produksi lebih kecil dari pada penjualan (Firdausa, 2013). Semakin lama menekuni bidang usaha perdagangan akan makin meningkatkan pengetahuan tentang selera dan perilaku konsumen serta semakin banyak relasi bisnis dan pelanggan (Asmie dan Wicaksono, 2011).

2.2.3. Penglaris

Pengertian penglaris menurut Ki Kusumo sendiri ialah sesuatu yang akan membuat yang awalnya tidak menarik menjadi menarik, yang awalnya tiddak bagus akan menjadi bagus, sehingga orang akan terlihat senang dan menyukai, merasa mau datang lagi dan bertemu lagi. Pada awalnya konsep penglaris sendiri dari zaman dulu telah digunakan untuk berbagai hal seperti digunakan para pedagang, digunakan oleh orang-orang yang mau berniaga naik kapal besar yang akan berlayar ke beberapa Negara agar barang dagangannya cepat laku dan habis terjual. Dalam ekonomi jawa sendiri berarti usaha dalam mencari suatu keuntungan. Namun, dalam meraih keuntungan tidak hanya disasarkan pada manajemen bisnis semata, melainkan juga tidak sedikit pula yang dilandasi atau didasari dengan ritual mistik kejawen. Dalam

(21)

45

prinsip ekonomi jawa untuk meraih kabegjan, tidak bisa dicapai hanya menggunakan sistem pasar semata. Orang jawa mencoba menerapkan manajemen batin yang secara tidak langsung akan membuat roda ekonomi lancar (Endraswara, 2014:287).

Penjelasan mengenai penglaris menurut ketua jurusan ekonomi dan studi pembangunan FEB ULM, H Ahmad Yani, penglaris dalam dunia marketing menyangkut semua aspek misalnya dari aspek produk, system penjualan, pelaku pemasaran, bauran pemasaran, penampilan, cara menjual, dan pelayanan pasca penjualan. Produk penjualan juga akan dilihat konsumen dari ketersediaan, kualitas, keberlanjutan serta harga produk. Disisi lain akan menarik pelanggan dari aspek tampilan, packazing, kreativitas, dan inovasi.

Selain itu juga kemudahan mengakses melalui online, marketing digital online berupa online shop, dan lain-lain.

Ilmu penglaris sendiri memiliki banyak cara yang digunakan oleh para penjual atau para pelaku pengguna penglaris itu sendiri. Beberapa penjual memilih untuk menggunakan penglaris dengan tujuan yang bermacam-macam, seperti bertujuan agar barang dagangan mereka laris atau cepat terjual, ada yang bertujuan untuk membuat barang dagangan mereka terlihat bagus dan menarik seingga para konsumen akan tertarik untuk membeli barang dagangan mereka. Adapun ciri-ciri yang sangat umum menurut salah seorang yang terkenal sebagai orang pintar di Desa Penelitian : 1. Makanan Sangat Lezat Tapi Ketika Dimakan di Rumah Rasanya Biasa.

Tugas jin penglaris adalah menjaga tempat usaha tuannya. Tak hanya dari

(22)

46

gangguan, tapi juga soal rasa. Jin penglaris bertugas membuat makanan- makanan yang disajikan rasanya menggoda selera Meskipun rasa yang enak ini sebenarnya imajiner. Mungkin kamu pernah mendapati sebuah pengalaman macam ini. Jadi, ketika makan di sebuah tempat mereka menyajikan makanan yang enaknya tak karuan. Tapi, begitu dibungkus lalu dimakan di rumah, rasanya jadi sangat biasa. Bahkan cenderung tidak enak dan cepat basi. Nah, yang macam begini biasanya terindikasi usaha tersebut menyewajin penglaris.

2. Berdoa Sebelum Makan, Rasanya Berubah Total. Mungkin kamu pernah mengalami hal ini. Jadi, saat makan di satu tempat dan langsung kita icip, rasanya benar-benar enak tak karuan. Lalu, sejurus kemudian ketika berdoa, rasanya pun jadi berbalik 180 derajat. Rasanya tak lagi senikmat sebelumnya. Ya, ini juga harus diwaspadai sebagai indikasi sebuah tempat itu memasang jin penglaris. Kita diajarkan sejak kecil untuk selalu berdoa sesaat sebelum makan. Alasannya salah satunya ya agar makanan yang akan kita santap terhindar dari pengaruh-pengaruh seperti ini

3. Tempat Cuci Piring Biasanya Sangat Jauh. Menurut pengalaman orang- orang, tempat yang diduga memakai jasajin penglaris biasanya punya satu tempat yang terpisah dari bangunan utama. Biasanya tempat tersebut dipakai untuk mencuci piring. Memang tak terkesan mencurigakan, tapi ini diketahui sebagai cara agar jin penglaris bisa bekerja dengan baik. Jin, kadang tak suka dengan tempat yang dipenuhi banyak orang dan ramai.

Jadi, mereka butuh ruangan khusus. Nah, konon menurut banyak orang, di

(23)

47

tempat cuci piring inilah jinbekerja menjilati semua piring-piring yang ada. Diketahui hal ini dimaksudkan agar makanan jadi makin enak dan lezat. Meskipun bisa jadi indikasi, tak semua tempat makan yang tempat cuci piringnya jauh lekat dengan jin penglaris. Mungkin saja beberapa memang karena alasan lain.

4. Ada Satu Ruang Khusus yang Tak Boleh Dibuka. Tempat makan yang memakai jasa jin penglaris, biasanya memiliki satu tempat khusus yang tidak boleh dibuka oleh siapa pun dengan alasan apa pun. Pasalnya, tempat ini biasanya bakal dipakai si jin untuk tinggal, atau mungkin sebagai ruang bagi si empunya melakukan jampi-jampi. Jadi, coba perhatikan sebuah tempat makan yang punya ruangan macam ini.

Kemungkinan mereka memakai jasa jin penglaris. Tapi, biasanya cukup susah untuk menemui tempat semacam ini. Pasalnya, letaknya sendiri memang sengaja dibikin khusus agar tidak menimbulkan kecurigaan.Memang susah dipercaya, tapi yang seperti ini sudah jadi fenomena sejak lama.

Penglaris sendiri memang sudah digunakan sejak zaman dulu, kepercayaan dan kebiasaan tersebut masih berjalan sampai pada zaman yang modern seperti sekarang ini. Penglais juga memliki cara yang bermacam- macam yang digunakan oleh para pedagang warung makan atau toko yang memang menggunakan ilmu penglaris tersebut. Hal itu bertujuan agar banyak orang yang datang untuk membeli, dan merasa ingin membeli secara terus menerus, dalam artian pedagang yang menggunakan penglaris tersebut

(24)

48

memang ingin membuat orang-orang tertarik untuk membeli dagangannya, sehingga memberikan keuntungan besar untuk usahanya. Cara kerja ilmu penglaris sendiri ialah dengan cara memberi energi positif pada tempat-tempat yang memang dipasangi atau menggunakan benda tersebut. Sehinggga begitu energi positif tersebut terpancar akan memberikan daya tarik tersendiri agar orang-orang merasa tertarik dengan dagangan tersebut.

Indonesia ialah satu Negara yang mempunyai latar belakang spiritual yang cukup kuat. Penglaris mempunyai banyak macam atau jenis dari berbagai daerah masing-masing, mempunyai aplikasi dan juga metode yang berbeda-beda pula, hal ini diungkapkan oleh Ki Kusumo. Misalnya ada penglaris yang menggunakan beras yang biasanya diletakkan pada nasi yang sudah masak, hal itu dipercaya bahwa berarapun banyaknya nasi yang dijual akan laku dan habis. Ada juga yang menggunakan penglaris dengan cara meletakkan suatu benda di tempat uang, hal itu juga dipercaya agar tempat penyimpanan uang tersebut akan terus penuh dengna uang. Ada juga syarat- syarat yang berlaku untuk menggunakan penglaris itu sendiri, hal ini di ungkapkan oleh Ki Kusumo tergantung seperti apa metode yang digunakan dan siapa pula yang memasang ilmu oenglaris tersebut. Ada yang menggunakan cara hanya dengan ditaruh dan langsung berjalan lancar seperti yang diinginkan, da nada juga ayang memang harus dipersiapkan dengan cara memotong ayam, dan juga menggunakan sesuatu yang dibungkus dengan kain putih.

(25)

49

Ketahanan suatu ilmu penglaris sendiri tergantung pada permintaan pengguna penglaris tersebut, terkadang ada yang memang meminta waktu yang tidak terlalu karena waktu kontrak atau waktu sewa pada tempat berdagang hanya satu tahun atau dua tahun, namun ada pula yang memang meminta dalam waktu selamanya atau selama hidup pedagang tersebut.

Pedagang yang memang menggunakan ilmu penglaris pasti memiliki pantangan-pantangan yang harus dituruti agar ilmu penglaris yang digunakan akan berjalan dengan baik dan lancar tanpa kegagalan, misalnya pantangan agar tidak menaruh cabai mentah sembarangan di tempat dagangannya tersebut.

Penglaris dan penangkal ialah sesuatu yang berbeda namun biasanya banyak orang yang menggunakan ilmu penglaris dan juga penangkal.

Penangkal sendiri ialah sesuatu yang digunakan dengan tujuan untuk proteksi atau menghindari serangan dari pedagang lain yang ingin menjatuhkan atau membuat tidak laku dagangannya. Penglaris yang digunakan dalam warung- warung makan sendiri tidak bisa mempengaruhi rasa agar enak, tetapi penglaris untuk memancing, yang kemudian dapat mempengaruhi otak, hati, dan juga mempengaruhi sesuatu yang berkaitan dengan sistem tubuh orang atau pembeli tersubut, sehingga pemebli merasa suka dan menikmati dnegan apa yang dijual.

2.3.Kerangka Teori

(26)

50

Teori Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman

Seorang Sosiolog mempunyai suatu kesadaran yang sistematis mengenai fakta-fakta bahwa orang awam dapat menerima begitu saja berbagai kenyataan yang berbeda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Pemikiran logika seorang sosiolog dipaksa untuk bertanya, setidaknya menanyakan apa perbedaan antara kenyataan yang berbeda untuk mendapatkan suatu keterkaitan dengan adanya banyak perbedaan yang ada diantara masyarakat tersebut agar dapat dipahami. Perhatian sosiologi terhadap banyaknya pertanyaan mengenai suatu kenyataan dan pengetahuan pada awalnya dibenarkan dengan adanya fakta relativitas sosial. Contoh kecil seperti sesuatu yang dianggap nyata bagi seorang ulama mungkin dianggap tidak nyata bagi seorang mahasiswa, pegetahuan seorang pedagang bisa jadi berbeda dengan pengetahuan seorang guru.

Hal tersebut menjelaskan bahwa kumpulan-kumpulan spesifik dari suatu kenyataan dan pengetahuan mempunyai keterkaitan dengan konteks-konteks sosial yang spesifik dan paa dasarnya hubungan-hubungan tersebut harus dimasukkan kedalam suatu analisa sosiologis yang memadai mengenai konteks-konteks tersebut.

Pemahaman sosiologis mengenai kenyataan dan juga pengetahuan terletak ditengah0tengah pemahaman orang awam engan pemahaman para filsuf.

Orang-orang awam biasanya tidak mau terlslu pusing untuk memikirkan sesuatu yang sudah nyata bermodalkan hanya dengan apa yang mereka tahu, kecuali jika secara tiba-tiba memang dihadapkan dengan semacam masalah yang diharuskan untuk menerima begitu saja kenyataannya dan pengetahuannya. Pernyataan diatas

(27)

51

mengantarkan kita pada pemahaman bahwa suatu kenyataan dan juga sutau pengetahuan yang lahir dari konstruksi sosial atas realitas sehari-hari memang sangat dipengaruhi oleh individu yang memahami sesutau berdasarkan kebiasaan (habitus) dan juga cadangan pengetahuannya (stock of knowledge).

Teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckman tentang makna kenyataan dan pengetahuan banyak melihat dari pemikiran dan juga pernyataan mengenai fenomenologi Alfres Schutz dan juga Garfinkel, terlebih dalam hal pengetahuan dan makna. Shcutz mempunyai penjelasan bahwa ada tiga unsur pengetahuan yang membentuk pengertian dari manusia tentang masyarakat, yakni dunia sehari-hari, sosialitas, dan juga makna. Dunia dan kehidupan sehari-hari merupakan orde tingkat satu dari sebuah kenyataan yang menjadi dunia paling fundamental dan esensial bagi semua manusia. Sosialitas sendiri juga berpijak pada teori tindakan sosial Max Weber. Aksi sosial atau kegiatan sehari-hari selalu memiliki makna, dan makna-makna tersebut dapat mengiringi tindakan sosial, dan dibalik tindakan sosial itu pasti terdapat berbagai makna yang tersembunyi dan melekat.

Pemikiran atau teori dan Schutz yang utama bagi gagasan fenomenologi yang mencakup tentang makna dan agaimana suatu makna terseut dapat membentuk struktur sosial ialah tentang makna dan pembentukan dari makna itu sendiri. Orde asasi dari masyarakat ialah dunia sehari-hari atau kehidupan sehari-hari, sedangkan makna dasar bagi manusia adalah dunia akal sehat, dan dunia akal sehat terbentuk dari berlangsungnya percakapan sehari-hari.

Dunia akal sehat merupakan pengetahuan yang ada pada setiap individu terutama

(28)

52

pada orang-orang dewasa yang sadar. Hal ini didapatkan individu secara sosial melalui adanya sosialisasi dari orang-orang sebelumnya, terlebih orang-orang yang memang berpengaruh dalam masyarakat tersebut. Dunia akal sehat terbentuk dari sistem yang melekat pada individu dalam kehidupan sosial (tipifikasi) yang menyangkut pandangan, tingkah laku, serta pembentukan makna. Hal ini terjadi karena individu-individu yang terlibat dalam komunikasi melalui bahasa dan juga innteraksi sosial yang kemudian membangun semacam sistem relevansi kolektif.

Teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckman terdapat 2 fokus kajian yakni dasar-dasar pengetahuan dalam kehidupan sehari- hari dan masyarakat sebagai realitas obyektif dan subyektif.

1. Dasar-dasar pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari

Kehidupan sehari-hari telah menyimpan dan menyeediakan kenyataan, sekaligus pengetahuan yang membimbing perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari menampilkan realitas obyektif yang ditafsirkan oleh indivdu, atau memiliki makna-makna subyektif. Di sisi lain, kehidupan sehari-hari merupakan suatu dunia yang berasal dari pikiran- pikiran dan tindakan-tindakan individu, dan dipeliahara sebagai yang nyata oleh pikiran dan tindakan itu. Dasar0dasar pengetahuan tersebut diperoleh melalui obyektivasi dari proses-proses (dan makna-makna) subyektif yang membentuk dunia akal sehat intersubyektif itu dibentuk (Berger & Luckman, 2013:28). Pengetahuan akal sehat merupakan pengetahuan yang dimiliki secara bersama (oleh individu dengan individu yang lain) dalam kegiatan atau rutinitas yang normal dalam kehidupan sehari-hari.

(29)

53

2. Masyarakat sebagai realitas obyektif an subyektif

Masyarakat sebagai realitas obyektif secara langsung menyiratkan adanya pelmebagaan didalamnya. Proses pelembagaan itu sendiri diawali oleh eksternalisasi yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga akan terlihat pola dan mudah dipahami yang kemudian akan menghasilkan kebiasaan (habitus). Kebiasaan yang telah berlangsung akan menciptakan suatu pengendapan dan juga tradisi. Pengendapan dan tradisi ini kemudian diwariskan pada generasi sesudahnya melalui bahasa. Masyarakat sebagai realitas obyektif juga memberikan keterlibatan legitimasi yang merupakan obyektivitas makna tingkat kedua, dan juga merupakan pengetahuan yang berdimensi kognitif dan normative karena tidak hanya menyangkut penjelasan tetapi juga mengenai nilai-nilai. Legitimasi sendiri berfungsi untuk membuat obyektivitas yang sudah memiliki lembaga menjadi masuk akal secara subyektif.

Masyarakat sebagai kenyataan subyektif memberikan keterlibatan mengenai realitas obyektif yang ditafsirkan secara subyektif oleh individu.

Dalam proses penafsiran itulah berlangsungnya suatu internalisasi yang merupakan suatu proses yang dialami manusia untuk dapat mengambil alih dunia yang sedang dihuni dengan sesame manusia. Internalisasi berlangsung seumur hidup yang langsung melibatkan sosialisasi, baik sosialisasi primer maupun sosialisasi sekunder.

(30)

54

Teori konstruksi sosial Peter L. Berger & Thomas Luckman memiliki inti gagasan tentang konstruksi sosial dimana di dalam konstruksi sosial memiliki tiga tahap penting yakni eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi.

1) Eksternalisasi

Tahapan ini merupakan tahap awal untuk mengekspresikan dan menyesuaikan diri kedalam dunia sosiologi kultural.

2) Obyektivasi

Tahapan obyektivasi merupakan tahapan hasil ddari tahapan eksternalisasi yaitu adanya kemampuan ekspresi diri saat terjadinya tatap muka secara langsung, artinya adanya interaksi sosial yang dilemabagakan atau mengalami proses instutionalisasi yakni penanaman symbol.

3) Internalisasi

Tahapan ini merupakan dasar pertama bagi pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dan kenyataan sosial yang didapat dari sutau hasil sosialisasi yakni sosialisasi primer dan juga sosialisasi sekunder.

Gambar

Tabel 1: Jurnal Nasional  No.  Peneliti/Judul
Tabel 2: Jurnal Internasional  No.  Peneliti/Judul

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu menjadi permasalahan tentang perlindungan hukum terhadap kreditur dan debitur dalam perjanjian jaminan kredit berdasarkan UUHT, dan tentang

dalam rangkaian acara yang digelar hingga 12 Februari ini juga terdapat prosesi pengangkatan jabatan yang dilakukan langsung oleh Dirut Sumber Daya Manusia

Sifat penata yang senang menyendiri, tidak percaya diri dan suka memendam perasaan merupakaan watak yang terdapat pada watak melankolis yang sempurna dan

Hasil belajar yang didapatkan pada pra siklus adalah dengan jumlah siswa yang tuntas 27 dan siswa yang belum tidak tuntas sebanyak 9 siswa, dengan persentase

Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi experiment) dengan metode Posstest-Only Control Design. Dalam rancangan ini sampel dibagi menjadi dua kelompok

Aspek assurance (kepastian) mengukur kemampuan dosen, tenaga pendidikan, dan pengelola untuk memberikan keyakinan kepada mahasiswa bahwa pelayanan yang diberikan

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Aktivitas Fisik Sehari-hari Dengan

Kegiatan pelatihan pembuatan yogurt dapat memberikan keterampilan pada mitra untuk membuat produk turunan dari rumput laut dan jagung. Dengan meningkatnya