No. 23/05/14/Th.XVI, 4 Mei 2015
NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU
APRIL 2015 SEBESAR 96,44 ATAU TURUN 1,14 PERSEN
Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dan dinyatakan dalam persentase. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani. Semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar (term of trade) petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik.
Mulai April 2013 dilakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan NTP dari tahun dasar 2007=100 menjadi tahun dasar 2012=100. Perubahan tahun dasar ini dilakukan untuk menyesuaikan perubahan/pergesaran pola produksi pertanian dan pola konsumsi rumah tangga pertanian diperdesaan, serta perluasan cakupan subsektor pertanian dan provinsi dalam penghitungan NTP, agar penghitungan indeks dapat dijaga ketepatannya.
Perbedaan antara NTP tahun dasar 2007=100 dengan NTP tahun dasar 2012=100 adalah meningkatnya cakupan jumlah komoditas baik pada paket komoditas It maupun Ib. Penghitungan NTP (2012=100) juga mengalami perluasan khususnya pada Subsektor Perikanan. Selain NTP Perikanan secara umum yang dihitung di 33 provinsi termasuk Provinsi DKI Jakarta, Nilai Tukar Nelayan (NTN) dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) juga disajikan secara terpisah.
Pada bulan April 2015, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Riau sebesar 96,44 atau turun sebesar 1,14 persen dibanding NTP Maret 2015 sebesar 97,55. Penurunan NTP ini disebabkan oleh kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,83 persen dan penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,32 persen.
Pada bulan April 2015, di daerah perdesaan Provinsi Riau terjadi inflasi sebesar 0,78 persen.
Inflasi perdesaan disebabkan oleh naiknya indeks pada semua kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga yaitu kelompok bahan makanan naik sebesar 0,28 persen, kelompok makanan jadi naik 0,37 persen, kelompok perumahan naik sebesar 0,66 persen, kelompok sandang naik sebesar 0,26 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 0,46 persen, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga naik sebesar 0,36 persen dan kelompok transportasi dan komunikasi naik 3,38 persen.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi Riau sebesar 101,25 atau turun sebesar 1,26 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM). Dengan dikeluarkannya konsumsi dari komponen indeks harga yang dibayar petani (Ib), NTUP dapat lebih mencerminkan kemampuan produksi petani, karena yang dibandingkan hanya produksi dengan biaya produksinya.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di Provinsi Riau, NTP pada bulan April 2015 sebesar 96,44 atau turun sebesar 1,14 persen dibanding NTP bulan Maret 2015 yaitu 97,55. Hal ini disebabkan harga barang/produk pertanian yang dihasilkan oleh rumah tangga mengalami penurunan dan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian mengalami kenaikan seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1
Nilai Tukar Petani (NTP) Gabungan Provinsi Riau April 2015 (2012 = 100)
Rincian
Indeks Gabungan Riau Perubahan (%) Maret'15 April’15 April’15 thd
Mar’15
[1] [2] [3] [4]
Indeks Harga yang Diterima Petani 113.49 113.12 -0.32 Indeks Harga yang Dibayar Petani 116.33 117.29 0.83
Konsumsi Rumah Tangga 117.81 118.72 0.78
Bahan Makanan 121.89 122.23 0.28
Makanan Jadi 114.17 114.58 0.37
Perumahan 112.06 112.80 0.66
Sandang 112.65 112.94 0.26
Kesehatan 112.04 112.55 0.46
Pendidikan, Rekreasi & Olah raga 108.84 109.23 0.36
Transportasi dan Komunikasi 121.85 125.97 3.38
BPPBM 110.68 111.72 0.94
Bibit 110.71 111.03 0.28
Obat-obatan & Pupuk 108.65 109.47 0.75
Sewa Lahan, Pajak & Lainnya 104.03 104.28 0.24
Transportasi 124.63 128.80 3.35
Penambahan Barang Modal 110.99 111.47 0.43
Upah Buruh Tani 107.74 108.06 0.30
Nilai Tukar Petani 97.55 96.44 -1.14
Nilai Tukar Usaha Pertanian 102.54 101.25 -1.26
Tabel 2
NILAI TUKAR PETANI (NTP) RIAU APRIL 2015 (2012 = 100)
Subsektor Bulan
% Perub.
Maret'15 April'15
[1] [2] [3] [4]
1 Tanaman Pangan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 119.61 120.13 0.43 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.67 117.60 0.80
c Nilai Tukar Petani (NTPP) 102.52 102.16 -0.36
2 Hortikultura
a Indeks Harga yang Diterima (It) 112.03 110.98 -0.94 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.86 117.78 0.79
c Nilai Tukar Petani (NTPH) 95.87 94.23 -1.71
3 Tanaman Perkebunan Rakyat
a Indeks Harga yang Diterima (It) 111.86 111.14 -0.65 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.01 117.98 0.83
c Nilai Tukar Petani (NTPR) 95.60 94.20 -1.47
4 Peternakan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 112.58 113.12 0.48 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 112.99 113.90 0.81
c Nilai Tukar Petani (NTPT) 99.64 99.32 -0.33
5 Perikanan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 122.85 123.32 0.38 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.00 117.10 0.95
c Nilai Tukar Petani (NTNP) 105.90 105.31 -0.56
5.1. Perikanan Tangkap
a Indeks Harga yang Diterima (It) 125.79 126.06 0.21 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.62 118.05 1.23
c Nilai Tukar Petani (NTN) 107.87 106.79 -1.00
5.2. Perikanan Budidaya
a Indeks Harga yang Diterima (It) 118.41 119.17 0.64 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 115.08 115.67 0.51
c Nilai Tukar Petani (NTPi) 102.89 103.02 0.13
R i a u
a Indeks Harga yang Diterima (It) 113.49 113.12 -0.32 b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.33 117.29 0.83
c Nilai Tukar Petani (NTP) 97.55 96.44 -1.14
Seluruh subsektor penyusun NTP mengalami penurunan indeks NTP dan mengakibatkan turunnya NTP di provinsi Riau. Penurunan NTP terbesar terjadi pada subsektor tanaman hortikultura dengan penurunan NTP sebesar 1,71 persen; diikuti oleh subsektor tanaman perkebunan rakyat dengan penurunan NTP sebesar 1,47 persen; kemuadian subsektor perikanan dengan penurunan NTP sebesar 0,56 persen; subsektor tanaman pangan dengan penurunan NTP sebesar 0,36 persen dan subsektor peternakan dengan penurunan NTP sebesar
1. Indeks harga yang diterima petani (It)
Pada April 2015, indeks harga yang diterima petani (It) di Provinsi Riau sebesar 113,12. Indeks harga yang diterima ini mengalami penurunan sebesar 0,32 persen jika dibandingkan dengan It pada Maret 2015 sebesar 113,49.
Penurunan It terjadi di 2 (dua) dari 5 (lima) subsektor penyusunan NTP antara lain subsektor tanaman hortikultura sebesar 0,94 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,65 persen. Sedangkan subsektor tanaman pangan, subsektor peternakan, dan subsektor perikanan mengalami keniakan It masing- masing sebesar 0,43 persen, 0,48 persen dan 0,38 persen.
2. Indeks harga yang dibayar petani (Ib)
Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat ditunjukkan fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
Indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada April 2015 di Provinsi Riau naik sebesar 0,83 persen dibanding Ib Maret 2015, yaitu dari 116,33 menjadi 117,29. Kenaikan Ib terjadi di semua subsektor. Kenaikan Ib untuk masing-masing subsektor antara lain subsektor tanaman pangan naik sebesar 0,80 persen; subsektor tanaman hortikultura naik sebesar 0,79 persen; subsektor tanaman perkebunan rakyat naik sebesar 0,83 persen;
subsektor peternakan naik sebesar 0,81 persen dan subsektor perikanan naik sebesar 0,95 persen.
3. NTP Subsektor
a. Subsektor Tanaman Pangan/Padi & Palawija (NTPP)
Pada April 2015, NTPP mengalami penurunan sebesar 0,36 persen dibandingkan dengan NTPP bulan Maret 2015. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,43 persen, relatif lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang mencapai 0,80 persen.
Naiknya indeks harga yang diterima petani ini disebabkan oleh naiknya indeks harga kelompok padi sebesar 0,89 persen (khususnya komoditas gabah). Naikanya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,83 persen (khususnya bawang merah, bensin, beras, gula pasir, tahu mentah, bawang putih, udang laut, minyak tanah dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,58 persen (khususnya bensin, np/npk, urea, upah menuai/memanen dll).
b. Subsektor Hortikultura (NTPH)
Pada April 2015, NTPH mengalami penurunan sebesar 1,71 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan 0,94 persen , sementara indeks harga yang dibayar petani mengalami peningkatan sebesar 0,79 persen.
Penurunan indeks harga yang diterima petani disebabkan turunnya indeks harga kelompok sayur- sayuran sebesar 1,30 persen dan buah-buahan sebesar 0,59 persen (khususnya cabai merah, jeruk, babai rawit, petai, mangga dll). Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,88 persen (khususnya bawang merah, bensin, beras, gula pasir, tahu mentah, bawang putih dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,33 persen (khususnya bensin, solar, np/npk dll).
Tabel 3.
Nilai Tukar Petani Per Subsektor dan Perubahannya April 2015 (2012 = 100)
Subsektor dan Kelompok Bulan % Perub.
Maret'15 April'15
[1] [3] [4] [5
1 Tanaman Pangan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 119.61 120.13 0.43
- Padi 113.68 114.69 0.89
- Palawija 136.37 135.48 -0.65
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.67 117.60 0.80
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 117.66 118.64 0.83
- Indeks BPPBM 111.29 111.93 0.58
2 Hortikultura
a Indeks Harga yang Diterima (It) 112.03 110.98 -0.94
- Sayur-sayuran 110.05 108.61 -1.30
- Buah-buahan 114.23 113.56 -0.59
- Tanaman obat 105.01 105.19 0.17
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.86 117.78 0.79
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118.09 119.12 0.88
- Indeks BPPBM 110.94 111.30 0.33
3 Tanaman Perkebunan Rakyat
a Indeks Harga yang Diterima (It) 111.86 111.14 -0.65
- Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) 111.86 111.14 -0.65
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 117.01 117.98 0.83
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 118.07 119.02 0.80
- Indeks BPPBM 111.08 112.19 1.00
4 Peternakan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 112.58 113.12 0.48
- Ternak Besar 114.89 115.70 0.71
- Ternak Kecil 119.15 120.32 0.98
- Unggas 107.77 107.83 0.05
- Hasil Ternak 112.59 112.70 0.10
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 112.99 113.90 0.81
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 117.41 118.24 0.70
- Indeks BPPBM 106.17 107.23 1.00
5 Perikanan
a Indeks Harga yang Diterima (It) 122.85 123.32 0.38
- Tangkap 125.79 126.06 0.21
- Budidaya 118.41 119.17 0.64
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.00 117.10 0.95
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 115.64 116.03 0.34
- Indeks BPPBM 116.72 119.26 2.18
1. Perikanan Tangkap
a Indeks Harga yang Diterima (It) 125.79 126.06 0.21
- Penangkapan Perairan Umum 123.46 125.33 1.51
- Penangkapan Laut 126.54 126.30 -0.19
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 116.62 118.05 1.23
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 115.62 115.99 0.32
- Indeks BPPBM 118.67 122.28 3.04
2. Perikanan Budidaya
a Indeks Harga yang Diterima (It) 118.41 119.17 0.64
- Budidaya Air Tawar 118.41 119.17 0.64
b Indeks Harga yang Dibayar (Ib) 115.08 115.67 0.51
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 115.67 116.11 0.38
- Indeks BPPBM 113.78 114.71 0.82
c. Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)
Pada April 2015, NTPR mengalami penurunan sebesar 1,47 persen. Hal ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani yang mengalami penurunan sebesar 0,65 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani yang mengalami kenaikan sebesar 0,83 persen.
Penurunan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh turunnya indeks harga kelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,65 persen (khususnya kelapa sawit). Sementara itu, naiknya indeks harga yang dibayar petani (Ib) disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,80 persen (khususnya bawang merah, bensin, beras, gula pasir, solar, ongkos servis motor, upah tukang mandor, bawang putih dll) dan indeks BPPBM sebesar 1,00 persen (khususnya bensin, tsp.sp36, upah menuai/memanen, urea, ongkos angkut, solar, np/npk dll).
d. Subsektor Peternakan (NTPT)
Pada April 2015, NTPT mengalami penurunan sebesar 0,33 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,48 persen, relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang mencapai 0,81 persen.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok ternak besar sebesar 0,71 persen, ternak kecil sebesar 0,98 persen, unggas sebesar 0,05 persen dan hasil ternak sebesar 0,10 persen (khususnya sapi potong, ayam ras pedaging, babi, kerbau, kambing dan telur ayam buras). Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,70 persen (khususnya bawang merah, bensin, beras, gula pasir, ongkos angkutan luar kota, tahu mentah dll) dan indeks BPPBM sebesar 1,00 persen (khususnya solar, bensin, dedak, tempat makan, jagung pipilan, bibit sapi potong, konsentrat dll).
e. Subsektor Perikanan (NTNP)
Pada April 2015, NTNP mengalami penurunan sebesar 0,56 persen. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen, relatif lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,38 persen. Kenaikan It pada April 2015 disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima pada kelompok perikanan tangkap sebesar 0,21 persen dan perikanan budidaya sebesar 0,64 persen (khususnya patin, baung, udang, tenggiri, lele, gurame, gabus, pari, betutu dan senangin/kuro). Kenaikan indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,34 persen (khususnya bensin, bawang merah, ongkos angkutan dalam kota, gula pasir, udang laut, beras dll) dan indeks BPPBM sebesar 2,18 persen (khususnya solar, ikan segar/rucah, listrik, jerigen, benih nila, dedak, upah memanen, keranjang bensin dll).
1). Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)
Pada April 2015, NTN mengalami penurunan sebesar 1,00 persen jika dibandingkan dengan NTN Bulan Maret 2015. Hal ini terjadi karena Ib mengalami kenaikan sebesar 1,23 persen, relatif lebih besar dibandingkan kenaikan It sebesar 0,21 persen. Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks harga di sebagian besar ikan pada kelompok penangkapan perairan umum sebesar 1,51 persen (khususnya baung, udang, tenggiri, gabung, patin, pari, betutu dan senangin/kuro ). Naiknya Ib dikarenakan adanya kenaikan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,32 persen (khususnya bensin, bawang merah, ongkos angkutan dalam kota, gula pasir, udang laut, beras dll) dan indeks BPPBM sebesar 3,04 persen (khususnya solar, bensin, pancing, ongkos angkut dan jaring insang)
2). Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)
Pada April 2015, NTPi kenaikan sebesar 0,13 persen. Kenaikan ini dikarenakan Ib mengalami kenaikan sebesar 0,51 persen, relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan It yang mencapai 0,64 persen.
Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks harga sebagian besar ikan pada kelompok budidaya air tawar sebesar 0,64 persen (khususnya komoditi ikan patin lele, gurame dan bawal). Kenaikan Ib disebabkan oleh naiknya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,38 persen (khususnya bensin, bawang merah, ongkos angkutan dalam kota, gula pasir, udang laut, beras dll) dan indeks BPPBM sebesar 0,82 persen (khususnya ikan segar/rucah, listrik, jerigen, benih nila, dedak, upah memanen, keranjang dll).
4. Perbandingan NTP Antar Provinsi di Pulau Sumatera
Penurunan NTP terjadi di 9 (sembilan) dari 10 (sepuluh) Provinsi di Pulau Sumatera. Penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bengkulu yaitu sebesar 1,99 persen, diikuti Provinsi Kep. Riau sebesar 1,81 persen, Provinsi Sumatera Barat sebesar 1,27 persen, Provinsi Riau sebesar 1,14 persen, Provinsi Jambi sebesar 1,13 persen, Provinsi NAD sebesar 0,93 persen, dan Provinsi Lampung sebesar 0,85 persen, Provinsi Sumatera Utara sebesar 0,53 persen dan Provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,48 persen. Sementara, Provinsi Kep. Bangka Belitung menjadi satu-satunya provinsi di pulau Sumatera yang mengalami kenaikan NTP, yaitu sebesar 0,41 persen seperti terlihat pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4.
Nilai Tukar Petani 10 Provinsi Di Pulau Sumatera dan Persentase Perubahannya April 2015 (2012 = 100)
No. Provinsi
It Ib NTP
Indeks % Perubahan Indeks % Perubahan Indeks % Perubahan
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]
1 NAD 111.87 -0.08 115.96 0.86 96.48 -0.93
2 Sumatera Utara 116.52 0.08 118.22 0.61 98.57 -0.53
3 Sumatera Barat 113.47 -0.42 116.13 0.86 97.71 -1.27
4 Riau 113.12 -0.32 117.29 0.83 96.44 -1.14
5 Jambi 110.96 -0.81 117.14 0.33 94.72 -1.13
6 Sumatera Selatan 113.60 0.11 116.11 0.60 97.84 -0.48
7 Bengkulu 110.23 -1.44 116.87 0.56 94.32 -1.99
8 Lampung 117.25 -0.72 115.60 0.13 101.43 -0.85
9 Kep. Bangka
Belitung 120.63 0.86 115.21 0.45 104.70 0.41
10 Kepulauan Riau 113.86 -0.94 115.38 0.89 98.69 -1.81
5. Inflasi/Deflasi Perdesaan
Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka Inflasi/Deflasi di wilayah pedesaan. Pada bulan April 2015, di daerah perdesaan Provinsi Riau terjadi inflasi sebesar 0,78 persen. Inflasi perdesaan disebabkan oleh naiknya indeks pada seluruh kelompok pengeluaran konsumsi rumah tangga yaitu kelompok bahan makanan naik sebesar 0,28 persen, kelompok makanan jadi naik 0,37 persen, kelompok perumahan naik sebesar 0,66 persen, kelompok sandang naik sebesar 0,26 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 0,46 persen, kelompok pendidikan, rekreasi & olah raga naik sebesar 0,36 persen dan kelompok transportasi dan komunikasi naik 3,38 persen. seperti terlihat pada Tabel 5 berikut:
Tabel 5.
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Pedesaan Provinsi Riau Menurut Kelompok Pengeluaran
April 2015 (2012 = 100)
Kelompok Pengeluaran
Bulan Perubahan
Maret'15 April’15 Mar’15 thdp Feb’15
[1] [2] [3] [4]
Konsumsi Rumah Tangga 117.81 118.72 0.78
Bahan Makanan 121.89 122.23 0.28
Makanan Jadi, Rokok & Tembakau 114.17 114.58 0.37
Perumahan 112.06 112.80 0.66
Sandang 112.65 112.94 0.26
Kesehatan 112.04 112.55 0.46
Pendidikan, Rekreasi, & OR 108.84 109.23 0.36 Transportasi & Komunikasi 121.85 125.97 3.38
6. Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Subsektor
Pada April 2015, terjadi penurunan NTUP sebesar 1,26 persen. Hal ini dikarenakan indeks yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 0,32 persen, sementara indeks BPPBM mengalami kenaikan sebesar 0,94 persen (lihat Tabel 1). Penurunan NTUP terjadi di seluruh subsektor penyusun NTP antara lain subsektor tanaman pangan turun sebesar 0,15 persen; subsektor tanaman hortikultura turun sebesar 1,26 persen; tanaman perkebunan rakyat turun sebesar 1,64 persen; subsektor peternakan turun sebesar 0,51 persen dan subsektor perikanan turun sebesar 1,76 persen seperti terlihat pada Tabel 6.
Tabel 6.
Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor Dan Persentase Perubahannya
April 2015 (2012=100)
Sub Sektor Maret'15 April'15
Perubahan Mar15 thd Feb'15
[1] [2] [3] [4]
1. Tanaman Pangan 107.48 107.33 -0.15
2. Hortikultura 100.99 99.71 -1.26
3. Tanaman Perkebunan Rakyat 100.71 99.06 -1.64
4. Peternakan 106.04 105.50 -0.51
5. Perikanan 105.25 103.40 -1.76
a. Tangkap 106.01 103.10 -2.74
b. Budidaya 104.07 103.88 -0.18
Riau 102.54 101.25 -1.26