ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN DENGAN PENDEKATAN ROI DAN EVA PADA PT. INDOSAT TBK, PT. BAKRIE TELECOM TBK, dan PT. SMARTFREN TBKPERIODE TAHUN 2011-2014
Oleh :
Adelia Arta Widyaningrum B11.2012.02444
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang
Email : [email protected] ABSTRACT
This research based on the importance of the financial performance measurement for the company management, investor, government and the public interest. This research aims to examine the financial performance differenciation between the telecomunication companies based on the Economic Value Added (EVA) and Return on Investment (ROI) measurements method, which has been the most usable method because of the ability of both method to determine the profit ability of investation of the companies.
The population of the research is the telecomunication companies listed on Indonesia Stock Exchange over the period 2011 to 2014, which predetermined sample of three leading telecom companies based on the purposive sampling methode. The Mann- Whitney U test being used to determine the companies financial performance differentiation.
The result proves that there is differentiation between the EVA and ROI measurement methods. Based on ROI method, it is proved that there are significance differentiation between every companies of the research. While based on the EVA methods, PT. Bakrie Telecom, Tbk considered does not have differences in financial performance compared to other companies so that the only difference that have been proved only the differentiation between the EVA financial performance of PT.
Indosat, Tbk and PT. Smartfren, tbk. This research also proves the use of EVA in measuring the financial performance is better than the use of ROI.
Keywords : differentiation, financial performance, economic value added, return on investment
PENDAHULUAN
Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dinilai dengan menggunakan beberapa alat analisis keuangan, salah satunya yaitu laporan keuangan dengan menggunakan pendekatan beberapa rasio keuangan. Menurut Hanafi (2005) kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dinilai dengan menggunakan beberapa alat analisis
keuangan, salah satunya yaitu laporan keuangan dengan menggunakan pendekatan beberapa rasio keuangan seperti rasio profitabilitas, rasio likuiditas, rasio leverage dan lain-lain. Laporan keuangan perusahaan merupakan salah satu sumber informasi yang penting disamping informasi lain seperti informasi industri, kondisi perekonomian, pangsa pasar perusahaan, kualitas manajemen dan lainnnya.
Pada umumnya dikenal metode pengukuran kinerja keuangan yaitu Return On Investment (ROI). Analisa Return On Investment (ROI) dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh (komprehensif). ROI merupakan salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi perusahaan (net operating income) dengan jumlah investasi atau aktiva yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut (net operating asset).
Setelah penilaian kinerja manajemen perusahaan dengan rasio-rasio keuangan mengalami kejenuhan, diperlukan suatu alat ukur kinerja yang menunjukkan prestasi manajemen sebenarnya yang mampu mendorong aktivitas atau strategi yang menambah nilai ekonomis (value added activities) dan menghapuskan aktivitas yang merusak nilai (non-value added activities).Dalam hal ini, Economic Value Added (EVA) sangat relevan karena EVA dapat mengukur kinerja (prestasi) manajemen berdasarkan besar kecilnya nilai tambah ekonomis yang diciptakan oleh perusahaan sebagai akibat dari aktivitas yang dijalankan selama periode tertentu.
Jika dibandingkan dengan kinerja perusahaan lainnya, EVA merupakan suatu alat yang lebih bermanfaat jika dibanding tingkat pengembalian investasi (ROI) di dalam pengawasan dan pengendalian operasi perusahaan sehari-hari. EVA pada dasarnya merupakan suatu konsep yang pada kenyataannya sama dengan Economic Profit (EP), Residual Income (RI) and Economic Value Management (EVM) namun memiliki kelebihan dalam pengukuran dan pengakuan biaya yang tidak kaku harus berpedoman pada GAAP (Generally Accepted Accounting Principle). Dalam perhitungan nilai EVA, diperlukan beberapa penyesuaian terhadap informasi akuntansi yang telah disusun oleh manajemen perusahaan berdasarkan GAAP.
Pengukuran kinerja keuangan, baik dengan menggunakan metode Return On Investment (ROI) maupun dengan pengukuran metode Economic Value Added
(EVA) masih terus menjadi bahan kajian sampai saat ini. Perbandingan kedua konsep pengukuran kinerja keuangan tersebut dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian pengukuran kinerja keuangan yang telah dilakukan.
Friske Rintjap (2015) menunjukkan bahwa pengukuran kinerja dengan Economic Value added (EVA) lebih memiliki keunggulan dibandingkan dengan pengukuran kinerja Return On Investment (ROI). Bachrul dan Sri (2015) menunjukkan bahwa pengukuran kinerja dengan EVA lebih efesien daripada ROI.
Selain itu menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sri Murni Rustandi (2015) tentang Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Pendekatan ROI Dan EVA Pada PT. Siantar Top dan PT. Ultra Jaya Milk menunjukan hasil bahwa ROI PT Siantar Top dan PT Ultra jaya milk tidak memiliki perbedaan signifikan.
EVA PT Siantar Top dan PT Ultra jaya milk memiliki perbedaan signifikan.
Manajemen PT Ultra Jaya Milk sebaiknya meningkatkan kemampuan keuangan seperti pada EVA sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Dari penelitian diatas terlihat adanya perbedaan pendapat dalam pengukuran kinerja perusahaan, yang diduga disebabkan perbedaan penggunaan indikator pengukuran variabel, waktu dan keterbatasan data penelitian sehingga menimbulkan suatu gap sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut. Selain itu, juga masih sedikit ditemukan penelitian terdahulu yang menguji perbandingan metode ROI dan EVA untuk menilai kinerja keuangan perusahaan.
Subsektor industri Telekomunikasi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia, karena sektor industri telekomunikasi di Indonesia selalu berkembang dari tahun ke tahun. Dalam penelitian ini, sektor industri Telekomunikasi dipilih sebagai objek penelitian karena sektor ini telah lama menjadi pilihan para investor untuk berinvestasi selain sektor lainnya, ini disebabkan karena ada beberapa perusahaan yang berada disektor ini memiliki kinerja manajemen yang baik dan juga diyakini bahwa keberadaan dari perusahaan disektor industri jasa telekomunikasi selular ini akan tetap eksis karena merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Perusahaan jasa telekomunikasi yang terdaftar sebagai perusahaan publik (emiten) di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk kurun waktu tahun 2011 sampai dengan tahun 2014 ada 5 (lima) perusahaan yaitu:
Indosat Tbk (ISAT), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), XL Axiata Tbk
(EXCL), Bakrie Telecom Tbk (BTEL), dan Smartfren Tbk (FREN).
(http://www.sahamok.com/)
Tabel 1.
Laba Usaha Perusahaan Sektor Jasa Telekomunikasi Tahun 2011-2014
No Nama
Perusahaan
Tahun RATA-
RATA 2011 2012 2013 2014
EBIT EBIT EBIT EBIT EBIT
1 PT BAKRIE -174 -500 3,614 -947 498
2 PT INDOSAT 3,164 3,190 1,509 672 2,134 3 PT FREN -2,221 -1,602 -1,611 -968 -1,601 4 PT TELKOM 21,958 25,698 27,846 29,377 26,220
5 PT XL 4,443 4,352 1,658 428 2,720
Dari tabel 1 perolehan ROI sektor jasa telekomunikasi beberapa tahun terakhir, yaitu tahun 2011 sampai dengan 2014, penulis melihat fluktuasi ROI yang cukup signifikan. Adapun dari 5 (lima) perusahaan jasa telekomunikasi yang mengalami fluktuasi ROI yang cukup signifikan adalah Indosat, Bakrie Telecom, dan Smartfren. Perusahaan pada sektor jasa telekomunikasi memiliki tingkat resiko yang relatif tinggi karena memiliki tingkat laba yang cenderung berfluktuasi.Keadaan tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan investor dalam pengambilan keputusan investasi. Hal ini akan menyebabkan perusahaan yang bergerak pada sektor telekomunikasi dituntut untuk memberikan “kepastian” bagi investor dengan menunjukkan kinerja dan posisi keuangan yang baik. Salah satu faktor yang dijadikan bahan analisis oleh investor maupun perusahaan adalah laporan keuangan.
Dari uraian tersebut, maka peneliti melakukan penelitian dengan judul
“Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Pendekatan Roi Dan Eva Pada PT. Indosat Tbk, PT. Bakrie Telecom Tbk, Dan PT. Smartfren Tbk Periode Tahun 2011-2014”.
TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Dalam mengukur kinerja keuangan perlu dikaitkan antara organisasi perusahaan dengan
pusat pertanggungjawaban. Dalam melihat organisasi perusahaan dapat diketahui besarnya tanggungjawab manajer yang diwujudkan dalam bentuk prestasi kerja keuangan. Namun demikian mengatur besarnya tanggungjawab sekaligus mengukur prestasi keuangan tidaklah mudah sebab ada yang dapat diukur dengan mudah dan ada pula yang sukar untuk diukur.
Tujuan dari penilaian kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah diterapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan. Pada saat ini terdapat berbagai alat ukur kinerja yang kadang berbeda dari satu industri dengan industri yang lain.
Return on Investment
“Return On Investment (ROI) dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan dalam menghasilkan keuntungan dengan keseluruhan dana yang tersedia dalam aktiva perusahaan” (Munawir, 2014:89).
Menurut Sumarsan (2011:130) analisis ROI merupakan salah satu dari rasio profitabilitas yang berfungsi untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang diinvestasikan dalam aktiva yang digunakan dalam operasional perusahaan untuk menghasilkan laba.
Tinggi rendahnya tingkat ROI dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
a. Operational Asset Turnover
Operasional aset ini merupakan jumlah keseluruhan aktiva dikurangi dengan investasi jangka panjang dan aktiva lainnya yang tidak digunakan dalam kegiatan usaha pokok perusahaan atau jumlah dari modal kerja kotor dan aktiva tetap. Dengan rumusnya sebagai berikut:
Operational Asset Turnover =
b. Profit Margin
Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan yang dihubungkan dengan tingkat penjualan dalam suatu periode.
Profit Margin =
Kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva merupakan tolok ukur dari kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan keuntungan.
ROI =
Ecconomic Value Added
Istilah Economic Value Added (EVA) pertama kali dikembangkan oleh Stewart & Stern seorang analis keuangan pada tahun 1993. Penggunaan metode EVA merupakan tujuan dari perusahaan untuk meningkatkan nilai atau Value Added dari modal yang telah ditanamkan pemegang saham dalam operasi perusahaan. Maka dari itu arti dari Economic Value added (EVA) adalah laba usaha yang dikurangi dengan biaya seluruh modal yang dipakai sehingga menghasilkan pendapatan.
Pendekatan Economic Value Added (EVA) telah memasukan semua unsur dalam laporan laba rugi dan neraca perusahaan. Definisi Economic Value Added menurut Sawir (2001:48) menjelaskan bahwa Economic value added (EVA) salah satu cara untuk menilai kinerja keuangan.
Definisi Economic Value Added menurut Tunggal (2001:1) EVA adalah metode manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta manakala perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi dan biaya modal.
Kerangka Penelitian
Penelitian terkait dengan kinerja keuangan selalu dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan tersebut, dan oleh karenanya pengungkapan yang ada didalam laporan keuangan menjadi kunci dalam meneliti kinerja keuangan perusahaan-perusahaan tersebut. Penelitian pada kinerja keuangan perusahaan sangat menarik terutama untuk mengetahui perusahaan yang memiliki kinerja keuangan tertinggi dan terendah. Namun, penelitian tersebut menjadi sangat sulit dilakukan manakala perusahaan yang diteliti merupakan sektor perusahaan yang tidak banyak dijalankan oleh banyak pengusaha.
Salah satu jenis perusahaan yang saat ini menjadi sektor perusahaan khusus yang dimonopoli oleh sedikit perusahaan adalah perusahaan sektor telekomunikasi dengan kurang dari 20 perusahaan yang beroperasi dan kurang dari 10 perusahaan tersebut yang merupakan perusahaan nasional. Oleh karenanya, melakukan penelitian kinerja keuangan pada perusahaan sektor telekomunikasi banyak dilakukan untuk mengetahui perbedaan kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan telekomunikasi tersebut.
Gambar 1. Kerangka Analisis
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan, namun diantara metode-metode tersebut penggunaan EVA (Economic Value Added) dan ROI (Return on Investment) banyak dilakukan karena kemampuan kedua metode tersebut dalam mengidentifikasi kemampuan perusahaan untuk dapat memperoleh laba dengan memanfaatkan aset dan investasi dari
Perusahaan Telekomunikasi
Laporan Keuangan 2011-2014
Teknik Analisa Laporan Keuangan
ROI
(Return On Investment)
Metode EVA (Economic Value added)
Analisis Perbandingan Hasil Penilaian Kinerja Perusahaan
Interprestasi
perusahaan itu sendiri. ROI banyak dipergunakan karena kemampuannya untuk mengidentifikasi operasi dari aset yang investasinya terlalu berlebihan, sementara EVA dipergunakan karena kemampuannya untuk mengetahui berapa the true cost of capital dari bisnis sebuah perusahaan sehingga tingkat pengembalian bersih dari modal yang merupakan hal yang sesungguhnya menjadi perhatian para investor dapat diperlihatkan secara jelas.
Kedua metode tersebut dalam penelitian ini akan dipergunakan untuk mengukur kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang merupakan monopoli dari beberapa perusahaan saja, dan kemudian dengan menggunakan metode analisis tertentu akan diketahui perbedaan kinerja keuangan dari perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel dari penelitian.
METODOLOGI PENELITIAN Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan obyek (satuan-satuan / individu- individu) yang karakteristiknya hendak diduga (Djarwanto, PS, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2011 sampai 2014. Alasan pemilihan periode ini karena pada tahun tersebut keadaan ekonomi cukup baik dan stabil. Perusahaan dalam sampel penelitian ini berjumlah 3 (tiga) perusahaan, yaitu PT. Indosat Tbk, PT. Bakrie Telecom Tbk, dan PT. Smartfren Tbk.
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Return on Investment
Return On Investment (ROI) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (tingkat pengembalian), yang akan digunakan untuk menutupi investasi. (Sutrisno : 2000)
Diukur dengan menggunakan rumus perhitungan : ROI =
Ecconomic Added Value
EVA merupakan estimasi laba ekonomi usaha yang sebenarnya untuk tahun tertentu, dan sangat jauh berbeda dari laba bersih akuntansi dimana laba akuntansi tidak dikurangi dengan biaya ekuitas sementara dalam perhitungan EVA biaya ini akan dikeluarkan. (Brigham dan Houston : 2013)
Metode perhitungan EVA cukup rumit dan harus dilakukan tahap demi tahap untuk dapat mengetahui keluarannya. Metode tersebut diukur dengan menggunakan rumus perhitungan :
EVA = NOPAT – Capital Charges Dimana :
NOPAT = Laba bersih setelah pajak + Biaya bunga Capital Charges = WACC x Invested Capital
Invested Capital (IC) = Hutang Jk. Pendek + Hutang Jk. Panjang + Ekuitas Weighted Average Cost of Capital (WACC) = {D x rd (1-T)} + (E x re) Tingkat hutang (D) =
Cost Of Debt (rd) =
Tingkat Pajak (T) =
Tingkat Modal (E) =
Cost of Equity (re) =
Hipotesis
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah untuk membuktikan apakah terdapat perbedaan yang signifikan dari kedua variabel. Hipotesis nol (Ho) pada umumnya diformulasikan untuk ditolak. Apabila ditolak, maka hipotesis pengganti (Ha) dapat diterima.
Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara metode ROI dan Metode EVA sebagai alat untuk menilai kinerja keuangan pada perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di BEI.
Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan antara metode ROI dan Metode EVA sebagai alat untuk menilai kinerja keuangan pada perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di BEI.
Metode Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Uji Mann Whitney yaitu teknik uji yang merupakan bagian dari statistik non parametrik yang bertujuan untuk membantu peneliti di dalam membedakan hasil kinerja kelompok yang terdapat dalam sampel ke dalam dua kelompok dengan dua kriteria yang berbeda (Sujarweni, 2007:40).
Pengambilan keputusan dilakukan dengan taraf signifikansi 0,05 (5%) dengan kriteria Ha diterima apabila Zhitung > Ztabel. Untuk proses perhitungan uji Mann Whitney, peneliti menggunakan bantuan software IBM SPSS statistics 20.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Hipotesis
1. Perbandingan Rasio EVA dan ROI untuk PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Indosat, tbk
Tabel 2.
Uji Mann-Whitney untuk ROI dan EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Indosat, tbk
Test Statisticsa
EVA ROI
Mann-Whitney U 6,000 ,000
Wilcoxon W 16,000 10,000
Z -,577 -2,309
Asymp. Sig. (2-tailed) ,564 ,021 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,686b ,029b a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.
Sumber : data sekunder yang diolah, 2016
Hasil yang didapat dari tabel diatas memperlihatkan nilai-nilai sebagai berikut :
a. Besaran Z score Mann-Whitney yang didapat untuk komparasi antara rasio EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Indosat, tbk adalah
sebesar 0,577 yang tidak memenuhi syarat. Sehingga disimpulkan EVA kedua perusahaan tidak ada perbedaan.
b. Besaran Z score Mann-Whitney yang didapat untuk komparasi ROI PT.
Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Indosat, tbk sebesar 2,309 yang memenuhi syarat. Sehingga disimpulkan bahwa untuk ROI kedua perusahaan tersebut ada perbedaan.
2. Perbandingan Rasio EVA dan ROI untuk PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk
Hasil yang didapat dari tabel 3. memperlihatkan nilai-nilai sebagai berikut : a. Besaran Z score Mann-Whitney komparasi EVA PT. Bakrie Telecom, tbk
dengan PT. Smartfren, tbk sebesar 1,443 tidak memenuhi syarat, sehingga disimpulkan EVA kedua perusahaan tidak ada perbedaan.
b. Besaran Z score Mann-Whitney komparasi ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk sebesar 2,309 memenuhi syarat, sehingga disimpulkan ROI kedua perusahaan tersebut ada perbedaan.
Tabel 3.
Uji Mann-Whitney untuk ROI dan EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Smartfren, tbk
Test Statisticsa
EVA ROI
Mann-Whitney U 3,000 ,000
Wilcoxon W 13,000 10,000
Z -1,443 -2,309
Asymp. Sig. (2-tailed) ,149 ,021 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,200b ,029b a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.
3. Perbandingan Rasio EVA dan ROI untuk PT. Indosat, tbk dengan PT.
Smartfren, tbk
Tabel 4.
Uji Mann-Whitney untuk ROI dan EVA PT. Indosat, tbk dan PT. Smartfren, tbk
Test Statisticsa
EVA ROI
Mann-Whitney U 1,000 ,000
Wilcoxon W 11,000 10,000
Z -2,021 -2,309
Asymp. Sig. (2-tailed) ,043 ,021 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] ,057b ,029b a. Grouping Variable: Kelompok
b. Not corrected for ties.
Hasil dari tabel diatas memperlihatkan nilai-nilai sebagai berikut :
a. Besaran Z score Mann-Whitney untuk komparasi antara EVA PT.
Indosat, tbk dengan PT. Smartfren, tbk sebesar 2,021 yang memenuhi syarat, sehingga disimpulkan EVA kedua perusahaan berbeda.
b. Besaran Z score Mann-Whitney untuk komparasi antara ROI PT. Indosat, tbk dengan PT. Smartfren, tbk sebesar 2,309 yang memenuhi syarat, sehingga disimpulkan ROI kedua perusahaan tersebut ada perbedaan.
Pembahasan
1. Perbedaan ROI pada PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Indosat, tbk
Hipotesis pertama (H1) penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan kinerja ROI PT.
Indosat, tbk. Hasil uji komparasi dengan menggunakan teknik uji Mann-Whitney yang membandingkan ROI kedua perusahaan memperlihatkan bahwa besaran Z score Mann-Whitney yang didapat adalah sebesar 2,309 sehingga memenuhi syarat perbedaan dari uji perbedaan (Z score > Z tabel) sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan antara rasio ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan rasio ROI PT. Indosat, tbk. Dengan demikian, berdasarkan hasil ini maka Ha diterima.
Hal yang paling mendasar yang menjadi alasan utama adanya perbedaan ROI dari masing-masing perusahaan adalah dikarenakan perbedaan trend pertumbuhan ROI dari ketiga perusahaan selama periode pengamatan yang memiliki kecenderungan pertumbuhan yang berbeda, seperti terlihat pada gambar 2.
Mengacu pada gambar 2. tampak bahwa trend pertumbuhan ROI antara PT.
Bakrie Telecom, tbk dengan ROI dari PT. Indosat, tbk berbeda satu sama lain.
Berdasarkan gambar diatas terlihat pada Tahun 2013 PT. Bakrie Telecom, tbk mengalami peningkatan ROI sementara PT. Indosat, tbk mengalami penurunan.
Sedangkan pada Tahun 2014 dimana tingkat ROI dari PT. Bakrie Telecom, tbk mengalami penurunan sebaliknya rasio ROI dari PT. Indosat, tbk justru mengalami peningkatan. Perbedaan trend pertumbuhan dari kedua perusahaan menyebabkan kesimpulan terjadinya perbedaan yang signifikan pada ROI kedua perusahaan.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan kinerja ROI antara PT. Bakrie Telecom, tbk dengan rasio ROI dari PT.
Indosat, tbk mendukung hasil penelitian dari Pai, Nangoy dan Jan (2014) serta
penelitian Cendrawati dan Haryanto (2011) yang membuktikan adanya perbedaan signifikan rasio ROI antara sampel-sampel perusahaan yang ditelitinya.
Gambar 2.
Fluktuasi ROI Perusahaan Sampel Penelitian
2. Perbedaan ROI pada PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk
Hipotesis kedua (H2) penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan kinerja ROI PT.
Smartfren, tbk. Hasil uji komparasi dengan menggunakan teknik uji Mann-Whitney yang membandingkan ROI kedua perusahaan memperlihatkan bahwa besaran Z score Mann-Whitney yang didapat adalah sebesar 2,309 sehingga memenuhi syarat perbedaan dari uji perbedaan (Z score > Z tabel) sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan antara rasio ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan rasio ROI PT.
Smartfren, tbk. Dengan demikian, berdasarkan hasil ini maka Ha diterima.
Seperti terlihat pada gambar 2, tampak kecenderungan pertumbuhan ROI PT.
Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk memiliki perbedaan. Pada saat PT.
Bakrie Telecom, tbk mengalami peningkatan ROI di tahun 2012, PT. Smartfren mengalami penurunan. Pada tahun 2013 PT. Bakrie Telecom, tbk mengalami penurunan ROI namun PT. Smartfren, tbk mengalami peningkatan dan di Tahun 2014 terjadi peningkatan pada ROI PT. Bakrie Telecom, tbk namun sebaliknya penurunan pada PT. Smartfren, tbk. Perbedaan trend pertumbuhan dari kedua perusahaan menyebabkan ROI dari kedua perusahaan berbeda secara signifikan.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan kinerja ROI antara PT. Bakrie Telecom, tbk dengan rasio ROI dari PT.
-0.45 -0.4 -0.35 -0.3 -0.25 -0.2 -0.15 -0.1 -0.05 0 0.05 0.1
2011 2012 2013 2014
ROI.Bakrie ROI.Isat ROI.Smartfren
Smartfren, tbk yang mendukung hasil penelitian dari Pai, Nangoy dan Jan (2014) serta penelitian Cendrawati dan Haryanto (2011) yang membuktikan adanya perbedaan signifikan rasio ROI antara sampel-sampel perusahaan yang ditelitinya.
3. Perbedaan ROI pada PT. Indosat, tbk dengan PT. Smartfren, tbk
Hipotesis ketiga (H3) penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja ROI PT. Indosat, tbk dengan kinerja ROI PT. Smartfren, tbk.
Hasil uji komparasi memperlihatkan bahwa besaran Z score Mann-Whitney yang didapat sebesar 2,309 memenuhi syarat perbedaan sehingga disimpulkan ada perbedaan rasio ROI PT. Indosat, tbk dengan rasio ROI PT. Smartfren, tbk. Dengan demikian, berdasarkan hasil ini maka Ha diterima.
Mengacu pada gambar 2, dapat dilihat bahwa trend pertumbuhan kedua perusahaan berbeda pada periode 2011 – 2013, dimana pada periode tersebut pertumbuhan ROI dari PT. Indosat, tbk terus mengalami penurunan sementara PT.
Smartfren, tbk mengalami fluktuasi peningkatan pada Tahun 2012 dan penurunan pada Tahun 2013. Perbedaan kecenderungan pertumbuhan ROI pada periode tersebut menyebabkan kedua perusahaan disimpulkan memiliki ROI yang berbeda.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan kinerja ROI antara PT. Indoesat, tbk dengan rasio ROI dari PT. Smartfren, tbk yang mendukung hasil penelitian dari Pai, Nangoy dan Jan (2014) serta penelitian Cendrawati dan Haryanto (2011) yang membuktikan adanya perbedaan signifikan rasio ROI antara sampel-sampel perusahaan yang ditelitinya.
4. Perbedaan EVA pada PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Indosat, tbk
Hipotesis keempat (H4) penelitian ini menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Indosat, tbk. Hasil uji komparasi memperlihatkan bahwa besaran Z score Mann-Whitney yang didapat adalah sebesar 0,577 sehingga tidak memenuhi syarat perbedaan dari uji perbedaan (Z score > Z tabel) sehingga disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan antara rasio EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan rasio EVA PT. Indosat, tbk. Berdasarkan hasil ini maka H0 ditolak.
Tabel 5.
Hasil Perhitungan EPS PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Indosat, tbk
PERUSAHAAN Earning per Share
2011 Ket. 2012 Ket. 2013 Ket. 2014 Ket.
BAKRIE -0,23 rugi -0,86 rugi -0,73 rugi -0,79 rugi INDOSAT 1,72 untung 0,90 untung -4,91 rugi -3,42 rugi
Berdasarkan data pada tabel diatas, PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Indosat memiliki kecenderungan nilai ekonomis saham yang sama dimana kedua perusahaan mengalami penurunan nilai saham secara berturut dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013. Nilai ekonomi PT. Bakrie Telecom, tbk menurun dari -0,23 pada tahun 2011 menjadii -0,86 di tahun 2012 dan kembali menurun pada tahun 2013.
Sementara nilai ekonomis saham PT. Indosat, tbk menurun dari 1,72 pada tahun 2011 menurun menjadi 0,90 di tahun 2012 dan kembali menurun menjadi -4,91 di tahun 2014. Trend pertumbuhan nilai ekonomis kedua perusahaan memperlihatkan kesamaan, dan karena nilai ekonomis perusahaan memperlihatkan kinerja ekonomi dari perusahaan tersebut, maka disimpulkan bahwa trend pertumbuhan kemampuan ekonomis perusahaan (EVA) juga sama. Disamping mengacu pada nilai ekonomis saham, tidak berbedanya EVA antar kedua perusahaan banyak disebabkan oleh penggunaan biaya modal perusahaan sebagai dasar perhitungan EVA. Mengacu pada data yang didapatkan, maka dapat dilihat bahwa besaran biaya modal kedua perusahaan yaitu PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Indosat, Tbk selama periode penelitian memiliki besaran biaya modal yang hampir sama. Besaran biaya modal yang hampir sama akan menciptakan kondisi dimana kemampuan kedua perusahaan dalam menciptakan nilai tambah ekonomis tidak memiliki perbedaan yang berarti, hal tersebut yang menyebabkan EVA – yang merupakan ukuran kinerja keuangan yang didasarkan atas biaya modal perusahaan – dari kedua perusahaan tidak berbeda.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan kinerja EVA antara PT. Indosat, tbk dengan rasio EVA dari PT.
Smartfren, tbk yang mendukung hasil penelitian dari Funashor (2014) yang membuktikan tidak adanya perbedaan rasio EVA dari perusahaan-perusahaan yang ditelitinya.
5. Perbedaan EVA pada PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk
Hipotesis kelima (H5) penelitian menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan kinerja EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk. Hasil uji komparasi memperlihatkan besaran Z score Mann-Whitney sebesar 1,443 sehingga tidak memenuhi syarat perbedaan dari uji perbedaan sehingga disimpulkan tidak ada perbedaan antara EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan EVA PT. Smartfren, tbk.
Dengan demikian, berdasarkan hasil ini maka H0 ditolak.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan kinerja EVA antara PT. Bakrie Telecom, tbk dengan rasio EVA dari PT.
Smartfren, tbk yang mendukung hasil penelitian dari Funashor (2015) yang membuktikan tidak adanya perbedaan rasio EVA dari perusahaan-perusahaan yang ditelitinya. Tidak adanya perbedaan EVA antara kedua perusahaan yaitu PT. Bakrie Telecom, tbk dengan PT. Smartfren, tbk banyak disebabkan oleh trend pertumbuhan EVA kedua perusahaan yang memiliki kecenderungan serupa. Kondisi tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini
Gambar 3.
Perbandingan EVA Bakrie – Smartfren
Mengacu pada grafik diatas, meskipun sepintas terlihat berbeda namun apabila diperhatikan terdapat kemiripan trend pertumbuhan EVA dari kedua perusahaan tersebut. Tahun 2012 EVA Bakrie mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, kondisi serupa juga dialami oleh EVA dari Smartfren. Sementara pada
tahun 2013 EVA Bakrie mengalami peningkatan dimana hal serupa juga dialami oleh EVA Smartfren. Meskipun pada Tahun 2014 kedua perusahaan memiliki trend yang berbeda, namun kemiripan trend pertumbuhan EVA pada periode 2011 sampai dengan 2013 menyebabkan kondisi EVA dari kedua perusahaan memiliki kemiripan, dan oleh karenanya disimpulkan bahwa hasil komparasi EVA dari kedua perusahaan tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Disamping mengacu pada trend pertumbuhannya, kesamaan EVA dari kedua perusahaan juga dapat ditinjau dari trend pertumbuhan nilai ekonomis saham kedua perusahaan yang juga merupakan indikator kemampuan ekonomi perusahaan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6.
Perhitungan EPS PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Smartfren, tbk
PERUSAHAAN Earning per Share
2011 Ket. 2012 Ket. 2013 Ket. 2014 Ket.
BAKRIE -0,23 rugi -0,86 rugi -0,73 rugi -0,79 rugi SMARTFREN -0,35 rugi -0,19 rugi -0,31 rugi 0,17 untung Sumber : data sekunder yang diolah, 2016
Berdasarkan data pada tabel diatas, tampak bahwa PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Smartfre, tbk memiliki kecenderungan nilai ekonomis saham yang sama dimana kedua perusahaan memiliki nilai ekonomis saham yang sama dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013. Selama masa periode tersebut PT. Bakrie, tbk mengalami kerugian dimana hal yang sama juga terjadi pada PT. Smartfren, tbk. Kecenderungan nilai ekonomis saham yang sama dari kedua perusahaan tersebut menyebabkan disimpulkannya trend pertumbuhan kemampuan ekonomis perusahaan (EVA) dari PT. Bakrie Telecom, tbk dan PT. Smartfren, tbk tidak memiliki perbedaan yang signifikan.
6. Perbedaan EVA pada PT. Indosat, tbk dengan PT. Smartfren, tbk
Hipotesis keenam (H6) penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja EVA PT. Indosat, tbk dengan kinerja EVA PT. Smartfren, tbk. Hasil uji komparasi dengan menggunakan teknik uji Mann-Whitney yang membandingkan EVA kedua perusahaan memperlihatkan bahwa besaran Z score
Mann-Whitney yang didapat adalah sebesar 2,021 sehingga memenuhi syarat perbedaan dari uji perbedaan (Z score > Z tabel) sehingga disimpulkan bahwa ada perbedaan antara rasio EVA PT. Indosat, tbk dengan rasio EVA PT. Smartfren, tbk.
Dengan demikian, berdasarkan hasil ini maka Ha diterima.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan kinerja EVA antara PT. Indosat, tbk dengan rasio EVA dari PT.
Smartfren, tbk yang dibuktikan dengan besaran signifikansi Mann-Whitney sebesar 0,043 yang lebih kecil dari 0,05. Adanya perbedaan kinerja EVA kedua perusahaan ini mendukung hasil penelitian dari Pai, Nangoy dan Jan (2014) serta penelitian Rintjap dan Rustandi (2015) yang juga membuktikan bahwa rasio EVA antara dua perusahaan yang ditelitinya memiliki perbedaan.
Tabel 7.
Hasil Perhitungan EPS PT. Indosat, tbk dan PT. Smartfren, tbk
PERUSAHAAN Earning per Share
2011 Ket. 2012 Ket. 2013 Ket. 2014 Ket.
INDOSAT 1,72 untung 0,90 untung -4,91 rugi -3,42 rugi SMARTFREN -0,35 rugi -0,19 rugi -0,31 rugi 0,17 untung Sumber : data sekunder yang diolah, 2016
Berdasarkan data pada tabel diatas, tampak bahwa kecenderungan pertumbuhan nilai ekonomis saham PT. Indosat, tbk dengan trend nilai ekonomis saham PT. Smartfren, tbk memiliki kecenderungan yang berbeda. Pt. Smartfren, tbk selama 3 tahun berturut-turut dari tahun 2011 sampai dengan 2013 terus mengalami kerugian, sementara nilai ekonomis saham PT. Indosat, justru mengalami keuntungan. Trend pertumbuhan nilai ekonomis saham yang berbeda dari kedua perusahaan memperlihatkan menjadi penyebab disimpulkannya bahwa trend pertumbuhan kemampuan ekonomis perusahaan (EVA) berbeda.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan terhadap seluruh data yang diperoleh, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan yang signifikan antara ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan ROI PT. Indosat, tbk.
2. Terdapat perbedaan yang signifikan antara ROI PT. Bakrie Telecom, tbk dengan ROI PT. Smartfren, tbk
3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara ROI PT. Indosat, tbk dengan ROI PT. Smartfren, tbk
4. Tidak terdapat perbedaan yang siginifikan antara EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan EVA PT. Indosat, tbk
5. Tidak terdapat perbedaan yang siginifikan antara EVA PT. Bakrie Telecom, tbk dengan EVA PT. Smartfren, tbk
6. Terdapat perbedaan yang signifikan antara EVA PT. Indosat, tbk dengan EVA PT. Smartfren, tbk.
7. Metode perhitungan kinerja keuangan EVA lebih baik dibandingkan dengan ROI dimana penggunaan elemen biaya modal menjadi keunggulan yang lebih nyata dibanding metode ROI yang tidak mempergunakan biaya modal sebagai faktor perhitungannya.
Saran
1. Bagi Investor, Hasil perbandingan ROI dan EVA memperlihatkan ROI mampu menggambarkan perbedaan kinerja keuangan dari sisi investasi, sehingga disarankan bagi para investor untuk memakai ROI.
2. Bagi Perusahaan, rasio EVA terbukti memperlihatkan kinerja perusahaan secara lebih riil, sehingga disarankan menggunakan metode perhitungan EVA sebagai meode pengukuran kinerja keuangan perusahaan.
3. Bagi Kreditur, kinerja keuangan perusahaan secara riil diperllihatkan metode EVA, maka ada baiknya bagi bank untuk memakai metode tersebut dalam menilai kinerja keuangan perusahaan.
4. Bagi Akademik, Hasil dari penelitian ini telah membuktikan hipotesis perbedaan yang signifikan antara perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian, baik dengan memakai metode ROI maupun memakai metode EVA. Hasil tersebut dapat dijadikan sebagai referensi yang berguna untuk menambah khasanah pengetahuan terkait kinerja keuangan perusahaan.
5. Bagi Peneliti, untuk kelayakan hasil yang lebih tepat disarankan untuk menambah jumlah sampel penelitian serta mempergunakan EVA
DAFTAR PUSTAKA
Agnes Sawir. 2001. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan.PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Amin, Widjaja Tunggal. 2001. Economic Value Added/ EVA Teori, Soal, dan Kasus.
Harvindo. Jakarta.
Friske Rintjap dan Sri Murni Rustandi. 2015. Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Dengan Pendekatan ROI Dan EVA Pada PT. XL AXIATA TBK dan PT. INDOSAT TBK. Jurnal EMBA. Vol. 3 No. 3 Sept 2015. Hal.180- 188.
Hanafi, Mamduh M. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.Yogyakarta.
Munawir. 2014. Analisis Laporan Keuangan. Edisi keempat. Penerbit Liberty.
Yogyakarta.
Sumarsan, Thomas. 2011. Sistem Pengendalian Manajemen: Konsep, Aplikasi, dan Pengukuran Kinerja.PT. Indeks Permata Puri Media Jakarta. Jakarta.