1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pulau Bali sebagai daerah yang terkenal akan kebudayaannya bisa dikatakan sudah menjadi ikon pariwisata dunia. Setiap orang yang mengunjungi Bali sepakat bahwa pulau Dewata ini memiliki keunikan akan budaya dan religius yang berpadu dengan kearifan lokal yang harmonis. Hal tersebut dibuktikan dengan meningkatnya kedatangan wisatawan dari luar negeri yang mencapai 3.27 juta jiwa hingga akhir tahun 2013.1
Tingginya minat wisatawan yang berkunjung ke Bali harus diantisipasi dengan infrastruktur yang memadai sebagai penopang pariwisata. Di samping itu, sebagai salah satu daerah yang berdasarkan otonomi, maka pemerintah daerah sebagai pembuat kebijakan memiliki peran penting dalam upaya membangun iklim yang seimbang tidak hanya bagi daerah tapi juga bagi kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain, daerah memiliki hak yang lebih besar untuk menentukan arah/kebijakan pembangunan.2
1 The Jakarta Post, Bali attracts 3.27 million foreign tourist in 2013, URL : http://www.thejakartapost.com/news/2014/01/24/bali-attracts-327-million-foreign-tourists- 2013.html, diakses pada 9 Juni 2014.
2 Bidang Integrasi Pengolahan Dan Diseminasi Statistik, “Bali Dalam Angka 2014”, Katalog BPS 1102001.51, Penerbit : BPS Provinsi Bali, hlm. 371.
2
Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan pariwisata berdampak pada penggunaan tanah dan ruang sebagai pendukung pembangunan sarana pariwisata.
Oleh karena itu dalam pemanfaatan tanah untuk pembangunan diperlukan kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam rangka menjaga lingkungan hidup agar dapat digunakan secara berkesinambungan oleh generasi mendatang. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pengelolaan lingkungan hidup sebagai upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pengawasan, dan pengendalian serta pemulihan lingkungan.
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan adanya pengaturan tata ruang agar pemanfaatan dan penggunaan ruang dapat dilakukan secara maksimal, Pemerintah Daerah (Pemda) Bali kemudian menetapkan Peraturan Daerah No. 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2009 Nomor 16) selanjutnya disebut Perda RTRWP Bali. Sebelumnya Pemda Bali merupakan salah satu dari sepuluh provinsi yang telah merevisi Perda Provinsi Bali No. 3 Tahun 2005 Tentang RTRWP disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.3 Dalam ketentuan Pasal 78 ayat (4) UU 26/2007 dinyatakan, “Dengan berlakunya Undang-Undang ini:
3 I Made Arya Utama dan I Ketut Sudiarta, “Kajian Normatif Terhadap Efektifitas Perda Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009-2029 Serta Strategi Implementasinya”, disajikan dalam Seminar Nasional Membangun Bali Dalam Kerangka RTRWP Bali, diselenggarakan oleh Universitas Udayana, Denpasar, Tanggal 6 Mei 2011, hlm. 1.
3
a. Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional disesuaikan paling lambat dalam waktu 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan;
b. Semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata ruang wilayah provinsi disusun atau disesuaikan paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan; dan
c. Semua peraturan daerah kabupaten/kota tentang rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota disusun atau disesuaikan paling lambat 3 (tiga) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diberlakukan”.
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 78 ayat (4) huruf b UU No. 26/2007, maka Perda RTRWP Bali diundangkan harus sesuai dengan ketentuan dalam Undang- Undang. Dari sisi pengundangannya Perda RTRWP Bali diundangkan pada tanggal 28 Desember 2009 sementara UU No. 26/2007 diundangkan pada tanggal 26 April 2007, walaupun terlambat namun masih lebih baik jika dibandingkan provinsi lain yang belum menetapkan Perda RTRW Provinsinya.
Diberlakukannya Perda RTRWP Bali menjadi arahan bagi daerah kabupaten dalam rangka membuat rencana tata ruang wilayah kabupatennya.4 Sebagai salah satu kabupaten yang mengalami perkembangan kepariwisataan yang cukup pesat, Kabupaten Badung kemudian mengeluarkan Peraturan Daerah No. 26 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Badung Tahun 2013-2033. Kabupaten Badung selama ini mampu memberikan kontribusi dalam pembangunan provinsi Bali salah satunya diwujudkan pada terciptanya lapangan pekerjaan. Hal tersebut juga dibarengi dengan tingginya laju investasi sekaligus migrasi ke Kabupaten Badung. Dampak langsung yang juga mengiringi pertumbuhan yang kian pesat tersebut ialah timbulnya berbagai masalah
4 Pasal 78 ayat (4) huruf c UU No. 26/2007.
4
pembangunan dan lingkungan. Permasalahan yang langsung dapat dirasakan adalah meningkatnya kebutuhan lahan untuk permukiman dan sarana pariwisata, makin tingginya kecenderungan alih fungsi lahan sawah, kemacetan lalu lintas, lapangan kerja hingga kehidupan sosial budaya masyarakat.
Di sisi lain isu-isu dalam bidang penataan ruang walaupun telah diberlakukan peraturan-peraturan tentang tata ruang dalam pembangunan sarana pariwisata dalam pelaksanaannya masih terjadi pelanggaran. Beberapa pelanggaran yang terjadi khususnya di Kabupaten Badung terkait pembangunan sarana pariwisata seperti hotel dan restaurant adalah : tidak adanya jarak bangunan, kepemilikan surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), penambahan bangunan tanpa ijin, pelanggaran ketentuan tinggi bangunan gedung, batas sempadan pantai, hingga persoalan kawasan sebagai kawasan lindung dan/atau sebagai kawasan budidaya.
Point penting yang juga ada dalam pembentukan peraturan tata ruang baik
di tingkat provinsi maupun kabupaten di Bali ini ialah adanya penekanan terhadap aspek pelestarian lingkungan hidup yang berbasiskan Tri Hita Karana sebagai filosofi kearifan lokal masyarakat Bali. Adapun Tri Hita Karana pada dasarnya menyiratkan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan antara manusia dengan sesama manusia (Pawongan),
5
dan hubungan antara manusia dengan lingkungan (Palemahan) untuk menciptakan kemakmuran serta kebahagiaan spiritual.5
Dalam ketentuan Pasal 3 huruf a Perda RTRWP Bali dinyatakan,
“Penataan ruang wilayah provinsi bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah provinsi yang berkualitas, aman, nyaman, produktif, berjati diri, berbudaya Bali, dan berwawasan lingkungan berlandaskan Tri Hita Karana”. Dengan ditetapkannya tujuan penataan ruang yang menekankan pada lingkungan berdasarkan Tri Hita Karana maka seharusnya konsep tersebut ideal untuk menjaga keajegan Bali.6 Hal tersebut kemudian dipertegas kembali dalam Perda RTRWK Badung yang dinyatakan dalam Pasal 3, Penataan Ruang Wilayah Kabupaten bertujuan untuk mewujudkan Kabupaten Badung sebagai Pusat Kegiatan Nasional dan destinasi pariwisata internasional menuju kesejahteraan masyarakat sebagai implementasi dari falsafah Tri Hita Karana.
Masih banyaknya persoalan-persoalan normatif dalam Perda RTRWP Bali maupun Perda RTRWK Badung menjadikan hal tersebut menarik untuk dikaji sehubungan dengan faktor-faktor penyebab terjadinya pelanggaran tata ruang kabupaten di Badung. Selain itu, akan dibahas pula sejauh mana filososfi Tri Hita Karana dijadikan tolok ukur dalam mengatasi pelanggaran - pelanggaran sebagaimana yang terjadi di atas sebagai perkembangan industri pariwisata yang
5 Jan Hendrik Peters & Wisnu Wardana, 2013, Tri Hita Karana, The Spirit of Bali, Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, hlm. 78.
6 Ajeg Bali dimaknai sebagai cita-cita masyarakat Bali untuk menjadikan dirinya merasa berkeadilan secara sosial ekonomi maupun sosial budaya. Lihat dalam “Ajeg Bali Sebuah Cita – Cita”, Bali Post Edisi Khusus HUT Ke-55, hlm. 16.
6
apabila tidak segera ditangani akan menimbulkan dampak penurunan kualitas lingkungan hidup dan nilai-nilai kearifan lokal Bali. Menarik pula untuk diketahui tentang keterlibatan kesatuan masyarakat hukum adat di Bali dalam peran mereka ikut mengatasi persoalan-persoalan normatif pengaturan Peraturan Daerah kabupaten Badung No. 26 Tahun 2013 khususnya mengenai keikutsertaan mereka demi menjaga kearifan lokal masyarakat Bali.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk menulis lebih lanjut yang dituangkan menjadi tesis dengan mengangkat judul “Tinjauan Hukum Penataan Ruang Berbasis Filosofi Tri Hita Karana (Studi Terhadap Pelanggaran Peraturan Tata Ruang Di Kabupaten Badung)”.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah pengaturan yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Badung khususnya berkaitan dengan pelanggaran tata ruang yang terjadi di kabupaten Badung berdasarkan filosofi Tri Hita Karana ?
2. Bagaimanakah keterlibatan masyarakat desa adat atau desa Pakraman dalam upaya menyelesaikan pelanggaran-pelanggaran dalam penataan ruang di Kabupaten Badung ?
7
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian untuk tesis ini adalah : 1. Tujuan Objektif
a. Untuk mengetahui faktor-faktor timbulnya pelanggaran, upaya penyelesaian berbagai pelanggaran terkait tata ruang yang berbasis filosofi Tri Hita Karana di Kabupaten Badung sesuai dengan ketentuan peraturan
daerah yang berlaku.
b. Untuk mengetahui peran dan fungsi kontrol yang dilakukan oleh komunitas lembaga adat di Bali ketika terjadi pelanggaran tata ruang di Bali dalam rangka menjaga Ajeg Bali.
2. Tujuan Subjektif
a. Untuk memperoleh data-data yang diperlukan guna penyusunan tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Hukum (S2) di Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
b. Untuk memperluas pengetahuan dalam bidang hukum kenegaraan yang berkaitan dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang diatur dalam hukum nasional maupun peraturan daerah.
8
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat Akademis
Menambah literatur dalam bidang pengetahuan secara umum dan juga bidang hukum lebih khususnya.
2. Manfaat Teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan bagi semua pihak mengenai penegakan hukum dalam bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan yang diatur baik dalam konstitusi maupun peraturan perundang-undangan di bawahnya.
3. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam bagi pemerintah khususnya sebagai pembuat kebijakan agar dalam menciptakan peraturan mampu mengedepankan kepentingan masyarakat serta mengutamakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan sesuai Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian yang membahas mengenai penataan ruang cukup banyak dilakukan. Akan tetapi, penelitian yang khusus membahas tata ruang dalam Perda RTRWK Badung yang berbasis konsep Tri Hita Karana untuk diangkat dalam
9
bentuk tesis belum ada yang meneliti. Sedangkan untuk kajian dengan perspektif Tri Hita Karana dalam perencanaan tata ruang di sebuah daerah yang mengalami
perkembangan pariwisata semakin maju merupakan kekhasan dan keaslian penelitian ini. Untuk menunjukkan keaslian penelitian penulis, berikut disajikan penelitian-penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya, antara lain :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Dasril tahun 2006 dengan judul “Peranan Rencana Tata Ruang Dalam Menjaga Kelestarian Fungsi Lingkungan Hidup Di Propinsi Riau”. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penyusunan Rencana Tata Ruang di Propinsi Riau apakah telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, penelitian ini juga untuk mengetahui bagaimana cara pengkajian dampak tata ruang terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup di Propinsi Riau sekaligus mengetahui keterlibatan masyarakat dalam perencanaan tata ruang di Propinsi Riau.
2. Penelitian yang dilakukan oleh I Gede Astra Wesnawa tahun 2009 dengan judul “Perubahan Penerapan Konsep Tri Hita Karana Dalam Lingkungan Pemukiman Perdesaan (Kasus Kabupaten Badung Di Provinsi Bali)”. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk-bentuk perubahan yang terjadi dari penerapan konsep Tri Hita Karana dalam lingkungan permukiman pedesaan Kabupaten Badung di Provinsi Bali. Penelitian ini juga mengkaji dampak lingkungan yang timbul dengan adanya perubahan penerapan konsep Tri Hita Karana dalam lingkungan permukiman pedesaan.
10
3. Penelitian yang dilakukan oleh Priyo Akuntomo tahun 2011 dengan judul
“Kajian Penerapan Konsep Tri Hita Karana Di Lingkungan Perumnas Monang Maning Kota Denpasar Provinsi Bali”. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap konsep Tri Hita Karana dalam lingkungan permukiman di Perumnas Monang Maning. Penelitian ini juga untuk menelaah bentuk-bentuk penerapan konsep Tri Hita Karana pada unsur abiotik, biotik, maupun sosio kultur dalam lingkungan Perumnas Monang Maning.
Penelitian yang akan dilakukan peneliti berbeda dengan yang telah dilakukan sebelumnya. Penelitian ini akan memfokuskan pada analisis terhadap penyebab pelanggaran tata ruang serta pengaturannya dalam Perda RTRWK Badung yang berlandaskan Tri Hita Karana sebagai nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Bali. Dalam penelitian ini juga akan dibahas juga keterlibatan masyarakat desa pakraman yang melakukan fungsi kontrol apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran di wilayah desa adatnya.
Oleh karena itu peneliti menyimpulkan bahwa permasalahan dalam penelitian ini belum pernah dieliti. Apabila dikemudian hari terdapat tesis maupun karya ilmiah yang sama atau hampir sama maka diharapkan penelitian ini dapat mendukung dan menjadi bahan tambahan.