• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAKDIR BUKAN FATALISME

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TAKDIR BUKAN FATALISME"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TAKDIR BUKAN FATALISME

Oleh Nurcholish Madjid

Hadirin sidang Jumat yang terhormat.

Takwa tidak lain adalah suatu sikap hidup yang diliputi oleh kesadaran tentang hadirnya Tuhan dalam hidup itu sendiri.

Sehingga tingkah laku kita disadari sepenuhnya sebagai tingkah laku yang selalu dalam pengawasan Tuhan, bahkan detak hati kita pun juga dalam catatan Tuhan. Maka dalam rangka takwa seperti itu, kita harus melihat segala sesuatu di bawah sinar ajaran Tuhan atau di bawah sinar semangat ketuhanan, yang dalam bahasa al- Qur’an disebut Rabbānīyah. Digambarkan bahwa tidak seorang Rasul pun diutus oleh Allah kecuali menyeru agar umatnya menjadi Rabbānīyīn. Kūnū Rabbānīyīn, jadilah kamu orang-orang yang bersemangat ketuhanan.

Kemudian digambarkan pula bahwa tidak seorang pun dari kalangan Rasul berjuang untuk jalan Allah, kecuali mesti disertai oleh mereka yang disebut Ribbīyūn, yang artinya juga sama yaitu memiliki jiwa ketuhanan. Dalam semangat ini, maka tidak ada suatu kejadian melainkan datang dari Allah, termasuk pengalaman hidup kita sehari-hari. Pengalaman hidup yang manis maupun pahit semuanya datang dari Allah.

Dan sesungguhnya pengertian takdir dalam percakapan kita sehari-hari, tidaklah dalam arti yang sebanding dengan fatalisme.

Yaitu paham nerimo dan tidak lagi berusaha karena segala sesuatu

dipercaya sebagai nasib. Takdir ialah suatu ajaran agar kita mengem-

balikan segala sesuatu kepada Allah. Supaya kita lebih tenang kem-

bali. Seharusnya kita menjadi orang yang memiliki sikap compose

(2)

(menenangkan diri) dengan suatu penguasaan pribadi yang tetap utuh. Karena itu patut sekali kita mencoba merenungkan firman Allah berkenaan dengan ini:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah,” (Q 57:22).

Dan untuk apa Allah mengajarkan hal itu, tampak jelas disebut- kan dalam lanjutan ayat-ayat tersebut, yaitu:

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka-cita ter- hadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Q 57:23).

Tentu saja semua ini berlaku kalau sesuatu itu telah terjadi.

Jadi kalau segala sesuatu telah terjadi, maka kita harus menutup, bahwa ini adalah takdir Allah. Tapi kalau belum terjadi, maka ibarat buku yang masih satu persoalan terbuka, maka sikap kita kepada hal yang belum terjadi ialah ikhtiar.

Paham takdir tidak bisa digunakan untuk hal yang belum terjadi, tetapi bagi hal yang sudah terjadi. Ini harus kita tutup dengan paham takdir. Maka dengan begitu, kita — seperti dipesankan dalam firman di atas — bisa menerima kegagalan tanpa putus asa.

Sebaliknya, kalau suatu saat kita mengalami kesuksesan kita tidak mengklaim dengan kerdil untuk kita sendiri. Seolah-olah semua kesuksesan itu adalah berkat kita, kehebatan kita, kemampuan kita dan sebagainya, melainkan semuanya dikembalikan kepada Allah.

Dengan begitu, kita memiliki jiwa yang sehat, tidak hancur karena gagal, tidak sombong karena berhasil.

Justru inilah salah satu kelemahan manusia. Digambarkan

dalam al-Qur’an bahwa manusia diciptakan halū‘-an, mudah sekali

keluh kesah dan tidak stabil. Mudah terbanting ke kanan dan ke kiri.

(3)

Kalau menerima atau mengalami kekalahan atau kegagalan menjadi putus asa dan mengumpat ke sana dan ke mari. Egonya hancur. Tapi kalau menerima atau mengalami kesuksesan dan keberhasilan, dia menjadi sombong, mulai melihat dirinya lebih dari gambarannya.

Dia melihat dirinya lebih besar dari kenyataan hidupnya sendiri.

Oleh karena itu, kita butuh sikap istiqāmah yang artinya lurus. Dan kita harus kembalikan semuanya kepada Allah.

Rasulullah Muhammad sendiri mengalami hal itu. Begitu pula para sahabat. Misalnya ketika perang Uhud. Bagaimana pun harus dikatakan bahwa Nabi Muhammad dan sahabat waktu itu kalah, sekalipun tidak berarti kalah fatal, artinya agama Islam hancur. Tetapi kalau dilihat dari jumlah korban yang jatuh, lebih banyak pada umat Islam, pihak Nabi Muhammad, daripada kaum musyrik.

Dan orang-orang Quraisy sudah lebih dahulu mengalami eforia bahwa mereka menang. Tetapi Nabi Muhammad mempunyai akal, dengan cara meningkatkan dari perjuangan fisik-senjata kepada perjuangan psikologis (psywar). Yaitu ketika beliau mengutus bebe- rapa orang sahabat untuk mengejar orang Quraisy, hanya sekadar untuk memberikan suatu image (gambaran) bahwa mereka tetap survive, dan para sahabat dipesan agar meneriakkan kemenangan pada mereka. Maka kemudian ada suatu ungkapan dalam bahasa Arab yang artinya, “Perang itu selalu silih berganti, suatu saat untuk kita, saat yang lain terhadap kita”.

Maksudnya, satu saat kita menang, saat lain kita kalah, itu biasa. Dan itu adalah hukum (ketentuan) Allah, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut mudāwalah, hukum semacam roda nasib, bahwa nasib itu seperti roda yang selalu berputar, dan semua orang ada pada bingkai roda itu, sehingga kadang-kadang ada di atas dan kadang-kadang ada di bawah.

Nabi Muhammad dan para sahabatnya dibekali dengan satu prinsip, bahwa menderita atau menang soal giliran:

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu).

Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun mende-

rita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu

(4)

mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana,” (Q 4:104).

Dalam hubungannya dengan Muslim dan kafir, kamu mem- punyai kelebihan dari mereka, kamu sama-sama menderita, tetapi kamu mempunyai harapan kepada Allah, sedang mereka tidak.

Selanjutnya kelemahan manusia lainnya, dan merupakan penyakit hati ialah iri hati, cemburu, dan lebih sengit dari cemburu yaitu hasad (dengki). Sampai-sampai al-Qur’an mengajari Nabi Muhammad supaya memohon pertolongan kepada Allah dari kejahatan orang-orang yang hasad (dengki). Hasad adalah sikap jiwa yang tidak suka orang lain beruntung, dan sebaliknya suka kalau orang lain itu celaka.

Di dalam cerita al-Qur’an, dengki adalah pangkal dosa manusia yang kedua setelah serakah. Serakah misalnya ketika Adam me- langgar larangan Allah mendekati sebuah pohon, padahal Allah telah membolehkan Adam untuk menikmati apa saja yang ada di surga itu dengan bebas, tapi itu dilanggar. Itulah keserakahan.

Sehingga Adam harus menerima hukuman diusir dari surga dengan tidak terhormat. Kita semuanya adalah anak Adam, oleh karena itu kita punya potensi untuk jatuh seperti itu.

Cerita iri hati ialah ketika Kabil membunuh Habil. Kabil di dalam bahasa Arab juga disebut Ka’in, yang menjadi akar kata Inggris Ka’en. Ketika Ka’en mmbunuh Abel, itu adalah iri hati.

Karena waktu itu Abel atau Habil korbannya diterima oleh Allah, sedangkan korbannya Kabil tidak. Kemudian dia membunuh adiknya itu. Berdasarkan pembunuhan itu kemudian Allah mende- kritkan ketentuan-Nya dalam al-Qur’an:

“Barangsiapa membunuh satu jiwa tanpa dosa atau perusakan di

bumi, dosanya bagaikan membunuh seluruh umat manusia. Sebaliknya

barangsiapa menolong hidup satu jiwa, maka pahalanya bagaikan

menolong seluruh umat manusia,” (Q 5:32).

(5)

Itu adalah satu ajaran moral yang dikunci oleh Allah berdasar- kan kejadian pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia.

Lebih lanjut, sumber dari iri hati ialah kalau kita selalu merasa bahwa orang lain lebih beruntung dari kita, padahal belum tentu.

Semua kita mengidap penyakit seperti itu. Dan ini adalah pangkal ketidaksyukuran. Orang tidak bisa bersyukur kepada Allah, karena melihat kenapa orang lain selalu lebih beruntung dari dirinya.

Jadi janganlah melihat seolah-olah penderitaan seperti itu hanya menimpa kita. Orang lain pun ditimpa oleh penderitaan seperti itu. Berkaitan dengan itu Allah berfirman:

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa,”

(Q 3:140).

Artinya, janganlah kalau kita menerima suatu malapetaka, kemu- dian kita mengatakan kenapa Tuhan itu hanya membuat kami yang sengsara sedang mereka tidak. Padahal itu tidak betul, karena yang lain pun mengalami hal yang sama. Kemudian lanjutan ayat di atas:

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran),” (Q 3:140).

Itulah permulaan dari istilah Daulah atau dawlat-un, yang berarti giliran. Secara politik, berarti giliran berkuasa. Maka istilah Daulah Mu’awiyah, Daulah Abbasiyah, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi giliran kekuasaan Mu’awiyah, kekuasaan Abbasiyah, dan sebagainya.

Semua ini dibuat untuk menguji kita, apakah kita termasuk

mereka yang sabar atau tidak. Oleh karena itu, ketika Allah melihat

Rasul-Nya, Muhammad mencapai karier politik dan militernya,

yakni berhasil kembali menaklukkan Makkah, maka segera turun

firman Allah yang merupakan surat yang terakhir pada Nabi

Muhammad, yaitu surat al-Nashr:

(6)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat,” (Q 110:1-3).

Dalam bahasa sekarang, setelah persoalan politik dan sebagainya selesai, tingkatkan kualitas ruhani dengan tasbīh, tahmīd, dan istighfār. Sebab hal itu yang lebih penting dari semua yang telah Nabi Muhammad lakukan. Seperti menaklukkan Makkah itu untuk apa? Artinya, tidak selesai dengan penaklukan Makkah, seolah-olah sudah menjawab persoalan “what next”? Setelah penaklukan Makkah harus dilanjutkan dengan meningkatkan kualitas ruhani dengan cara tasbīh, tahmīd, dan istighfār. Kira-kira begitu jawaban dari Allah. Dan sejak itulah, menurut beberapa hadis, Nabi Muhammad mengubah bacaannya dalam ruku’ dan sujud.

Kalau semula bacaan subhān-a rabb-iya ’l-azhīm-i wa bihamd- ih maka kemudian diubah menjadi subhān-aka Allāh-umma rabb- anā wa bihamd-ika Allāhumma ‘ghfirlī. Sekalipun hadis ini masih diperselisihkan. Jadi setelah turun surat al-Nashr tadi, karena ada perintah agar supaya tasbīh, tahmīd, dan istighfār, mengultuskan Allah, memuji Allah dan memohon ampun kepada Allah, maka untuk memenuhi perintah itu, bacaan dalam sujud dan ruku’ diganti yang bacaan di atas yang artinya, “Mahasuci Engkau ya Allah (Tuhan kami) dan dengan segala puji-Mu wahai Tuhan ampunilah aku”.

Ini adalah simbolisasi dari peningkatan tauhid, peningkatan

ruhani, peningkatan spiritualitas yang mesti kita pahami. Hidup

tidak berhenti pada soal-soal ekonomi dan politik. Jawaban terha-

dap pertanyaan mengenai apa akhir dari semua ini? Hidup ini akhir-

nya untuk apa? Seluruh perbuatan kita akhirnya apa? Kalau kita

bisa menjawab itu, maka ketemunya nanti ialah tasbīh, tahmīd dan

istighfār. Membuka hubungan yang benar kepada Allah swt.

[v]

Referensi

Dokumen terkait

Karya tulis ilmiah berupa skripsi ini dengan judul “Keterkaitan Keanekaragaman Makrozoobentos Dengan Karakteristik Substrat Di Intertidal Perairan Muara Sungai

Adapun auditor syariah akan menunjukkan hasil auditnya dengan memberikan opini apakah entitas yang diaudit dinyatakan shari'a compliance atau tidak.Apabila terjadi suatu

Setelah melakukan penelitian tentang Tingkat Pengetahuan Petugas Rekam Medis Dalam Pengisian Berkas Rekam Medis Di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia Medan 2016 pada bulan

KPR BTN Indent iB adalah fasilitas pembiayaan KPR berdasarkan akad Ishtishna (pesanan), diperuntukkan bagi pemohon perorangan yang akan membeli rumah dari Bank, yang dibangun

Selain adanya peningkatan jumlah hotel dan fasilitas akomodasi lainnya, perkembangan wisata di Lampung juga memberi dampak pada perkembangan bisnis di bidang

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa kompetensi profesional guru adalah kemampuan yang dimiliki oleh guru sesuai dengan standar kompetensi

Dalam rangka mendukung pencapaian prioritas nasional sebagaimana telah ditetapkan dalam visi dan misi Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang dijabarkan dalam RPJMN periode

Pengertian di atas menun- jukkan bahwa sekalipun hubungan hukum antara dokter (atau dokter gigi) dengan pasien adalah ’upaya secara maksimal’, tetapi tidak tertutup