• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. berkembang dengan baik. Perkembangan anak usia awal sangat. perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I. berkembang dengan baik. Perkembangan anak usia awal sangat. perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus yang"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Golden age merupakan fase pertumbuhan dan Perkembangan anak dari usia lahir sampai 8 tahun. Di usia ini 80% otak anak berkembang dengan baik. Perkembangan anak usia awal sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh stimulus-stimulus yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Apabila stimulus-stimulus itu diberikan dengan baik, maka sangat mungkin dapat mendorong anak memiliki kemampuan kognitif, motorik, dan bahasa yang sangat baik. Akan tetapi ada juga anak yang memiliki permasalahan tumbuh kembang karena anak tersebuk memiliki gangguan fisik. Salah satu gangguan perkembangan yang sering dikeluhkan oleh para orang tua atau yang sering kita jumpai yaitu autis (Prasetyo, 2008).

(2)

kelompok ekonomi sosial serta empat kali lebih mungkin terjadi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Istilah spekrtum menunjukkan bahwa gejala gangguan ini bervariasi antara anak yang satu dengan anak yang lainnya. Ada anak yang gejalanya ringan sehingga sedikit membutuhkan bantuan dari lingkungan, misalnya anak mampu berkomunikasi dengan orang lain namun kontak matanya rendah. Terdapat juga anak yang intens dari lingkungan, misalnya menyakiti diri sendiri, tantrum, tidak mampu mengekpresikan atau mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan, dan beberapa individu didiagnosa autis terlibat dalam perilaku yang sangat agresif dan merugikan diri sendiri (Wolfe, 2008).

Autiss pektrum disease bukan salah satu jenis penyakit tetapi merupakan suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak. Gejala ASD dan ciri-ciri yang spesifik terdiagnosa sekitar usia dua tahun, meskipun terdapat juga anak autis terdiagnosa setelah usia lima tahun (Eckerr, 2016). Autis spektrum disease ditandai dengan gangguan sosialisasi dengan kekakuan kognitif dan perilaku, gangguan ini menyebabkan anak tidak mampu membentuk hubungan sosial atau mengembangkan komunikasi secara normal. Akibatnya perilaku dan hubungan dengan orang lain menjadi terganggu, sehingga keadaan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya (Menom, 2014).

(3)

(2009), menemukan bahwa 1% dari anak-anak yang berusia 8 tahun di Amerika Serikat memenuhi kriteria autis di tahun 2006, artinya hanya untuk anak 8 tahun sudah terdapat 40.000 indvidu yang mengalami autis. Yayasan autis Indonesia menyatakan adanya peningkatan prevalensi penyandang autis, dimana jumlah anak autis di Indonesia meningkat yang awalnya 1:5000 menjadi 1:500 anak, kemudian pada tahun 2013 menjadi 1:50 anak (Mudjito, 2014). Demikian pula jumlah anak autis di kota-kota besar di Indonesia juga mengalami peningkatan, misalnya seperti Yogyakarta yang berdasarkan data indvidu tingat SD dan SMP sekolah luar biasa tahun 2015, jumlahnya anak autis dan sindrom asperger mencapai 155 untuk siswa SD dan 42 untuk siswa SMP (Dinas Dikpora DIY, 2016).

(4)

kurang fleksibel dalam berpikir, serta kesulitan memahami perasaannya sendiri (Baron, 2011). Sebuah tes memori klinis diberikan kepada 38 anak ASD dan 38 anak normal, usia 8-16 tahun. Didapatkan data bahwa memori pada anak ASD sangat rendah dari pada anak normal yang menjadi kelompok kontrol (William, 2006).

Lobus frontalis merupakan bagian yang bertanggung jawab atas perencanaan rangkaian perilaku dan beberapa aspek ekspresi dan emosional serta memori, memori terbagi menjadi tiga berdasarkan waktunya, yaitu memori jangka pendek, memori jangka menengah dan memori jangka panjang (Hall, 2006). Memori jangka pendek merupakan penyimpanan sementara untuk mengingat stimulus dan kejadian yang baru terjadi dengan waktu yang sangat singkat (Chiras, 2011). Memori jangka pendek juga berperan penting ketika harus mengikuti dua peraturan atau lebih pada waktu yang sama (Owen, 2004). Selain itu memori jangka pendek merupakan perangkat kecepatan proses kognitif dan ruang kerja mental yang digunakan sebagai tempat penyimpanan bagian-bagian masalah serta informasi yang di ambil dari memori jangka panjang (Revlin, 2012). Para ahli juga berpendapat memori jangka pendek berperan penting dalam proses kognitif misalnya memahami bahasa serta mengerjakan tugas pemecahan masalah (Atkinson, 2011).

(5)

dapat melakukan kegiatan personal dalam kesehariannya. Jika memori jangka pendek terganggu maka akan terjadi penurunan bahasa, hilangnya fokus atau atensi sehingga individu tidak akan mampu memahami perasaannya dan akan melakukan tindakan diluar kesadaran atau hilang kendali yang bisa membahayakan kesehatan dan keselamatannya sendiri seperti yang sering terjadi pada anak ASD (Suparmi, 2010).

Autis spektrum disease memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang akan tetapi ASD tidak dapat diobati sehingga pemberian pelayanan pendidikan dan perawatan harus di optimalkan, karena semakin cepat dan tepat pelayananyang diberikan maka semakin baik prognosis untuk kognitifnya (Rimland, 2012). Kognitif tidak bisa dipisahkan dengan memori jangka pendek, karena kecepatan kognitif bergantung dengan memori jangka pendek, jika memori jangka pendek lemah maka akan mempengaruhi kecepatan proses berpikir atau kognitifnya. Memori jangka pendek pada anak ASD ditandai dengan memori yang relatif rendah, memori jangka pendek tidak berjalan dengan baik,diperlukan stimulus yang menarik untuk menjadikan anak ASD mampu fokus dan mengingat sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik (Desiningrum, 2016).

(6)

otak, sehingga dapat berfungsi optimal (Desinigrum, 2016). Menurut Dennison (2002), menyatakan bahwa anak ASD dapat berkembang dalam mengucapkan kata yang awalnya hanya bisa melontarkan dua kata menjadi lancar berpidato dengan 6-8 kali melalui penerapan brain gym. Brain gym tidak hanya digunakan untuk menstimulus anak berkubutuhan khusus, lebih tepatnya pada anak ASD, namun gerakan-gerakan brain gym juga digunakan oleh murid di Eductional Kinesiologi Foundation California (USA), untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan menggunakan keseluruhan otak (Lestarin, 2009).

Berdasarkan pemaparan di atas dan dari hasil studi pendahuluan dengan sistem wawancara pada guru SLB bahwa brain gym belum pernah diterapkan pada siwa autis disekolah tersebut dan dari pengukuran kognitif lebih tepatnya memori jangka pendek pada siswa SLB Autis laboratorium Universitas Negeri Malang ditemukan para siswa ASD mengalami gangguan-gangguan seperti konsentarsi, mengingat stimulus, dan kejadian yang baru terjadi. Sehingga, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh brain gym terhadap peningkatan memori jangka pendek pada autis di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh brain gymterhadap peningkatan memori jangka pendek anak penderita autis

(7)

C. Tujuan Umum

Memaparkan hasil pengaruh brain gym terhadap peningkatan memori jangka pendek Pada autis SLB Autis Universitas Negeri Malang.

D. Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi penderita autis di SLB Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang.

2. Menganalisa pengaruh brain gym terhadap peningkatan memori jangka pendek anak penderita autis di SLB Autis Universitas Negeri Malang.

E. Mamfaat Penelitian 1. Bagi Akademis

Dapat digunakan sebagai penambahan pengetahuan pembelajaran dalam dunia perkuliahan serta dapat dijadikan sebagai pembanding bagi pembaca, khususnya dalam menganalisis pengaruh brain gym terhadap kemampuan peningkatan memori jangka pendek pada wacana tulis.

Untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan serta pengalaman dalam mengembangkan kemampuan mengenai pengaruh brain gym terhadap peningkatan memori jangka pendek pada anak autis di SLB autsi laboratorium Universitas Negeri Malang .

2. Bagi Praktis

(8)

mempreroleh pengalaman dalam mengembangkan ilmu pada dunia kesehatan.

b. Hasil dari peneitian ini dapat memberikan informasi bagi penelitian selanjutnya mengenai bagaimana cara melatih meningkatan memori jangka pendek pada anak autis.

F. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

(9)
(10)
(11)
(12)

Gambar

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Develop Project Management Plan • Project Charter • Outputs from other process • Enterprise environmental factors • Organizational process assets Inputs • Expert judgment

Para pedagang tidak memperdulikan masalah saluran pemasaran, yang penting bagi para pedagang adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan atau membeli kubis dan

Kustodian dalam hal kewajiban untuk mengasuransikan rekening efek.. 3) Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, lembaga IPF merupakan institusi

Berdasarkan hasil Penelitian yang telah dilakukan dan pembahasan yang telah dideskripsikan terdapat peningkatan hasil belajar siswa pada keterampilan menulis surat

Anggang mempunyai warna daging yang sangat menarik, dari kuning, jingga, hingga merah. Daging buah agak tipis dengan porsi edible antara 15-30%, daging buah halus, tekstur lembut,

Untuk mengetahui aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran Deep Dialogue dan Critical Thinking dengan pendekatan

Secara kumulatif volume impor yang melalui Pelabuhan Gorontalo Januari-Juli 2015 adalah sebesar 7.809,4 ton dengan kontribusi impor terbesar adalah kelompok bahan

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, tujuan utama pembuatan tugas akhir ini yaitu mengembangkan motif pada batik dengan menggunakan metode L-system