73
Pengaruh Pemberian Shortwave Diathermy (SWD) Dan Streching Untuk
Mengurangi Nyeri Terhadap Pasien Syndrome Myofascial Upper
Trapezius
Riri Segita¹, Melsi Duwi Utary²
Program Studi D-III Fisioterapi, Fakultas Kesehatan, Universitas Fort De Kock Jalan Soekarno Hatta No.11, Manggis Ganting, Kota Bukittinggi, Sumatera
Barat
Email:[email protected]
Abstrak : Syndrome myofascial adalah suatu kondisi nyeri hebat yang terjadi pada area-area
trigger point, yang umumnya terjadi di dalamototatau fascial, secara abnormal menjadiaktif dan menghasilkannyeri lokal dan referred pain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari swd dan stretching untuk mengurangi nyeri terhadap pasien syndrome myofascial upper trapezius. Penelitian ini menggunakan desain Quasi Eksperimen yaitu pretest-posttes. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Accidental Sampling. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan analis Paired Sample Test. Hasil dari penelitian menunjukan rata-rata pasien sebelum diberikan intervensi SWD dan Streching adalah 28,80 dan rata-rata pasien sesudah diberikan intervensi SWD dan Streching adalah 22,10. Berdasarkan hasil penelitian diketahui adanya pengaruh pemberian SWD dan Streching terhadap penurunan nyeri pada pasien syndrome myofascial upper trapezius di RSUD Pariaman. Disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pemberian SWD dan streching terhadap penurunan nyeri pada pasien syndrome myofascial upper trapezius di Rumah Sakit Umum Daerah Pariaman.
Kata Kunci: Syndrome myofascial upper trapezius, SWD,Streching
Abstract : Myofascial syndrome is a severe pain condition that occurs in areas of the trigger point, which generally occurs in the muscles or fascial, abnormally becomes active and produces local pain and referred pain.This study aimed to determine the effect of swd and streching to reduce pain in patients with myofascial upper trapezius syndrome. This study uses a Quasi Experiment design namely pretest-posttes. The sampling technique used in this study is accidental sampling. Data analysis was performed computerized using the Paired Sample Test analyst. The results of this study showed the average patient before being given the SWD and Streching intervention was 28.80 and the average patient after being given the SWD and Streching intervention was 22.10. Based on the results of the study note the effect of giving SWD and Streching on pain reduction in patients with myofascial upper trapezius syndrome in Pariaman District Hospital. In short, it can be concluded that there was a significant effect on the administration of SWD and streching on pain reduction in patients with myofascial upper trapezius syndrome in the General Hospital of Pariaman.
Keywords: Myofascial upper trapezius syndrome, SWD, streching Pendahuluan
Myofascial pain syndrome merupakan salah satu keluhan nyeri musculoskeletal
74
spasme, keterbatasan gerak merupakan keluhan yang seringdialami oleh pasien.
Myofascial pain syndrome ini timbul akibat aktivitas sehari-hari yang dilakukan secara
terus-menerus, kebiasaan postur yang jelek, kerjaotot yang berlebihan (overuse) dan sering memberikan pembebanan pada otot Upper Trapezius, sehingga dapat menyebabkan otot menjadi spasme, tightness dan stiffness. Pemeriksaan secara objektif didapatkan hasil bahwa pasien mengalami nyeri,spasme dan keterbatasan gerak. Biasa
Myofascial Pain Syndrome ditemukan pada pekerja kantoran, musisi, dokter gigi dan
jenis profesi lainnya yang aktifitas pekerjaannya banyak menggunakan low level muscle (Kannan P, 2012). Kemajuan teknologi pada era globalisasi saat ini berkembang pesat dan membawa dampak besar terhadap gaya hidup manusia. (Moraska AF, 2017).
Salah satunya adalah semakin banyaknya penggunaan komputer atau laptop di kalangan anak sekolah, mahasiswa, maupun pekerja. Kebanyakan pengguna komputer tidak memperhatikan ergonomi yang baik saat menggunakan komputer, dan jika itu berlangsung lama dan terus menerus akan terjadi ketegangan pada otot disekitar leher dan bahu sehingga akan menimbulkan nyeri sindrom amiofasial. (Gerber LH,2015).
Myofascial pain syndrome merupakan salah satu keluhan nyeri musculoskeletal
yang dapat terjadi akibat adanya myofascial trigger point. Adanya nyeri menjalar atau reffered pain, tightness, stiffness, spasme, keterbatasan gerak merupakan keluhan yang sering dialami oleh pasien. (Atmaja:2016)
Myofascial pain syndrome ini timbul akibat aktifas sehari-hari yang dilakukan
secara terus-menerus, kebiasaan postur yang jelek, kerja otot yang berlebihan (overuse) dan sering memberikan pembebanan pada otot Upper Trapezius, sehingga dapat menyebabkan otot menjadi spasme, tightness dan stiffness. Otot yang mengalami ketegangan terus-menerus dapat menurunkan mikro sirkulasi sehingga dapat terjadi iskemik dalam jaringan. Pada serabut otot terdapat ikatan tali yang abnormal sehingga membentuk taut band pada otot skeletal yang kemudian mencetuskan nyeri.( Hurtling-Randolph, 2005)
Metode Penelitian
Jenis penelitian eksperimen (Quasi Eksperiment) dengan rancangan one group pre
75 Unit fisioterapi di instalasi rehabilitasi medik. Instrument dalam penelitian ini adalah mengukur nyeri dengan menggunakan Visual analoque scale (VAS). Teknik pengambilan sampelnya Accidental Sampling atau Non Probability Sampling. Uji statistic pada penelitian ini dilakukan dengan uji sample paired test. Penelitian ini di tujukan kepada pasien yang mengalami miofascial upper trapezius dan bersedia menjadi responden.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tabel 1. Hasil rata-rata frekuensi nyeri pada kasus syndrome myofascial upper trapezius sebelum
diberikan intervensi SWD dan Streching
Berdasarkan hasil tabel 1, rata-rata nyeri sebelum diberikan intervensi pada 10 orang responden adalah 28,80 dengan standar deviasi 2,150
Tabel 2. Hasil rata-rata frekuensi nyeri pada kasus syndrome myofascial upper trapezius sesudah
diberikan intervensi SWD dan Streching
Berdasarkan hasil tabel 2, rata-rata nyeri sesudah diberikan intervensi pada 10 orang responden adalah 22,10dengan standar deviasi 3,348
Tabel 3. Pengaruh Pemberian SWD dan Streching Untuk Mengurangi Nyeri Pada Kasus
Syndrome Myofascial Upper Trapezius
Variabel Mean SD Mean
Different N p-Value
Pre test 28.80 2.150
6.7 10 0.005 Post test 22.10 3.348
Berdasarkan tabel 3, di atas menunjukan bahwa Rata-rata Nyeri Sebelum Intervensi SWD dan Streching Terhadap Kasus Syndrome Myofascial Upper Trapezius adalah 28,80 dengan Standar Deviasi 2,150. Sedangkan Rata-rata Nyeri Sesudah Intervensi adalah 22,10 dengan Standar Deviasi 3,348. Perbedaan kedua variabel yaitu 6,7. Hasil uji
Variabel Min Maks SD Mean N
Pre test 25 32 2,150 28,80 10
Variabel Min Maks SD Mean N
76
statistic menunjukkan bahwa P-Value = 0,005. Artinya Ho ditolak Ha diterima yang berarti bahwa ada perngaruh antara nyeri untuk pretest dan posttest. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh Intervensi SWD dan Streching Terhadap Kasus
Syndrome Myofascial Upper Trapezius.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 10 orang responden yang merasakan nyeri pada otot upper trapezius sebelum dan sesudah diberikan intervensi SWD dan Streching didapatkan nilai rata nyeri sebelum adalah 28,80 dan nilai rata-rata nyeri sesudah adalah 22,10. Dari uji statistic paired sample didapatakan P-Value adalah 0,005 dimana nilai P ≤ (0,05) artinya terdapat pengurangan signifikan nyeri sebelum dan sesudah pemberian intervensi SWD dan Streching.
Pemberian intervensi SWD dengan menggunakan metoda circuplode untuk menurunkan nyeri akibat sindroma nyeri miofasia lotot trapezius maka pasien akan mendapatkan keuntungan yang besar dari efek terapeutik SWD sebab pada electrode kumparan circuplode dipasang suatu filter yang menyerap medan listrik sehingga yang keluar medan magnet saja. Hasilnya pemanasan superficial diturunkan dan efek pada jaringan miofasial trapezius yang letaknya dalam dapat dioptimalkan. (Sugijanto:2006).
Akibatnya akan terjadi perbaikan kondisi local jaringan karena terbukanya spinkter
pre kapiler dan metar teriole, bersamaan dengan itu pula akan terjadi vasodilatasi dan
peningkatan aliran darah sebesar 30ml/100 gram jaringan sehingga akan meningkatkan suplay nutrient kejaringan myyofascial yang mengalami gangguan dan akan membuang zat-zat iritan penyebab nyeri sehingga spasme atau ketegangan jaringan fasia dan serabut otot upper trapezius akibat penumpukan zat-zat sisa metabolisme dan zat iritan hasil proses radang ini dapat diturunkan. Dengan menurunya ketegangan pada jaringan ini maka nyeri juga akan berkurang. (Werenski, 2011).
Stretching adalah suatu teknik manipulasi jaringan lunak menggunakan penekanan searah dengan serabut otot. Stretching dikenal juga dengan sebagai parallel atau linear stretching, yang merupakan jenis pasif starching (pergangan pasif) yang dilakukan oleh fisioterapi. Penempatan kedua tangan atau kedua jaringan pada otot dan group otot dapat mengurangi myofascial restriksi. Penekanan dengan menggunakan kedua tangan secara pelan atau perlahan akan meningkatkan penekanan dengan menggunakan kedua tangan
77 secara pelan atau perlahan akan meningkatkan penekanan proksimal pada otot yamg kemudian akan terjadi penguluran (stretching) pada serabut otot(sugijanto, 2008).
Stretching pada serabut otot dimulai dari sarkomer yang merupakan unit dasar dari
kontraksi otot. Ketika sarkomer berkontraksi, area yang saling tumpah-tindih menurun mengikuti serabut otot untuk elongasi atau memanjang. Ketika salah satu serabut otot berada pada panjang istirahat maksimum dan seluruh sarkomer penuh, tambahan
stretching berpengaruh pada jaringan ikat yang ada disekitarnya. Oleh karena itu pada
saat dilakukan stretching, serabut serabut otot yang mengalami ketegangan ditarik.(Arisyandi,2001).
Penelitian ini sejalan dengan yang dilakuakn oleh Rina Triyani yang berjudul “Perbedaan Contra Relax Streching dan Myofascial Release Technique pada Nyeri Tringger Point Syndrome Otot Upper Trapezius” diperolehnilai p: 0,043 ataunilai p < 0.005 sehingga adanya pengaruh pemberian perbedaan contra relax streching dan myofascial release technique pada nyeri tringger point syndrome otot upper trapezius. Pada hipotesis 1 dan hipotesis 2 diperoleh p : 0,000 ataunilai p <0,005 yang berarti ada perbedaan signifikan pemberian perbedaan contra relax streching dan myofascial release technique pada nyeritringger point syndrome otot upper trapezius.(Chaitow, 2000 dalam Makmur, 2010)
Penurunan rata-rata nyeri karena SWD dan Streching menggunakan stressor fisik berupa energy elektromagnetik, dihasilkan oleh harus bolak-balik berfrekuensi. Energi elektromagnetik pada jaringan menjadi pembangkit panas. Panas akan menimbulkan kenaikan aktivitas sel, vasodilatasi sehingga pendarahan darah meningkat. Sehingga oksigen dan sari-sari makan bertambah serta sisa metabolisme dan radang cepat dibuang dan membantu proses penyembuhan maka akan mempermudah pemberian SWD dan
Streching berfungsi untuk mengurangi ketegangan otot dan vosodilatasi darah dan
merileksasikan otot yang ada dileher.(Potter & Perry, 2005).
Menurut asumsi peneliti, pemberian SWD dan Streching pada pasien Syndrome
Myofascial Upper Trapezius sebelum penelitian ini dilakukan didapatkan 10 orang
responden dengan keluhan nyeri sedang dan setelah penelitian terjadi penurunan nyeri pada beberapa pasien. Kondisi seperti ini disebabkan oleh kerja dari SWD, penurunan nyeri dengan pemberian SWD pada kasus ini didapatkan modulasi nyeri pada level
78
sensori dimana dengan pemberian intervensi SWD akan meningkatkan aktivitas metabolisme sebesar 18% yang diikuti dengan perubahan PO2, PCO2, perubahan Ph jaringan dan serta terjadi vasodilatasi dan peningkatan aliran darah sebesar 30ml/100 gram jaringan sehingga akan meningkatkan suplay nutrisi ke jaringan myofascial yang mengalami gangguan dan akan membuang zat-zat iritan penyebab nyeri,sehingga spasme atau ketegangan jaringan fasia dan serabut otot upper trapezius yang disebabkan penumpukan zat-zat sisa metabolisme dan zat iritan hasil proses nyeri ini dapat diturunkan.
Sedangkan Pemberian Streching dapat mengurangi iritasi terhadap saraf yang menimbulkan nyeri. Stretching pada serabut otot dimulai dari sarkomer yang merupakan unit dasar dari kontraksi otot. Ketika sarkomer berkontraksi, area yang saling tumpah-tindih menurun mengikuti serabut otot untuk elongasi atau memanjang. Ketika salah satu serabut otot berada pada panjang istirahat maksimum dan seluruh sarkomer penuh, tambahan stretching berpengaruh pada jaringan ikat yang ada disekitarnya. Oleh karena itu pada saat dilakukan stretching, serabut otot yang mengalami ketegangan ditarik.(Shapiro. S, 2009)
Kesimpulan
Rata-rata nyeri pasien pada MyofascialototUpper Trapezius Sebelum dan sesudah Pemberian SWD dan Streching adalah 6,7. Hasil uji statistic menunjukkan bahwaP-Value = 0,005< (0,05 = Alpha). Artinya Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti bahwa ada perbedaan antara nyeri untuk pretest dan posttest. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh untuk pengurangan nyeri terhadap Syndrome Myofascial Upper Trapezius. Terima Kasih
Terimakasih pada responden yang telah ikut berpartisipasi dalam melakukan penelitian ini. Selanjutnya, terima kasih kepada Institusi dan rekan-rekan yang telah memberi saran dan masukan atas penelitian ini dan dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.
79
Daftar Pustaka
Cummings TM, White AR. 2001. Needling therapies in the management of myofascial
trigger point pain: A systematic review. Arch Phys Med Rehabil.
Gerber LH, Shah J, Rosenberger W, Armstrong K, Turo D, Otto P, et al. 2015. Dry
needling alters trigger points in the upper trapezius muscle and reduces pain in subjects with chronic myofascial pain. PM R.
Jehaman I-, Berasa SM, Berampu S, Siahaan T, Zannah M. 2020. Pengaruh Pemberian
Ischemic Compression Dan Contractrelax Stretching Terhadap Intensitas Nyeri Myofascial Trigger Point Syndrome Otot Upper Trapezius. J Keperawatan Dan Fisioter.
Kannan P. 2012. Management of myofascial pain of upper trapezius: a three group
comparison study. Glob J Health Sci.
Moraska AF, Schmiege SJ, Mann JD, Butryn N, Krutsch JP. 2017. Responsiveness of
Myofascial Trigger Points to Single and Multiple Trigger Point Release Massages: A Randomized, Placebo Controlled Trial. Am J Phys Med Rehabil.
Prianthara IMD, Winaya IMN, Muliarta IM. 2014. Kombinasi Contract Relax Stretching
Dan Infrared Terhadap Penurunan Nyeri Myofascial Pain Syndrome Otot Upper Trapezius Pada Mahasiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Fisioter Fak Kedokt Univ Udayana.
Rickards LD. 2006. The effectiveness of non-invasive treatments for active myofascial
trigger point pain: A systematic review of the literature. International Journal of
Osteopathic Medicine.
Santoso I, Satriyasa BK, Munawaroh M, Sandi IN, Muliarta M, - W. 2018. Kombinasi
Ultrasound Dan Dry Needling Lebih Menurunkan Disabilitas Leher Dari Pada Kombinasi Ultrasound Dan Hold Relax Pada Myofascial Pain Syndrom Otot Upper Trapezius. Sport Fit J.
Santoso N, Gessal J. 2014. Efek Terapi Spray And Stretch Terhadap Nyeri Pada Sindrom
Nyeri Miofasial Otot Trapesius Atas. J Biomedik.
Sugijanto S, Army H. 2015. Efektifitas Latihan Koreksi Postur Terhadap Disabilitas Dan
Nyeri Leher Kasus Sindroma Miofasial Otot Upper Trapezius Mahasiswa Wanita Universitas Esa Unggul. Fisioter J Ilm Fisioter.
Tri Buana NMI, Purnawati S, - S, Satriyasa K, Sandi N, Imron MA. 2017. Perbedaan
Kombinasi Myofascial Release Technique Dengan Ultrasound Dan Kombinasi Ischemic Compression Technique Dengan Ultrasound Dalam Meningkatkan Kekuatan Otot Leher Akibat Sindroma Miofasial Pada Penjahit Pakaian Di Kabupaten Gianyar. Sport Fit J.